Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Tim Robot MA Unggulan Nuris Raih Juara 3 dan Best Design

Jember, Hari Santri 2019 - Tim robot MA Unggulan Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember kembali mengukir prestasi dalam kompetisi robotika se-Jawa Timur di kampus Universitas Narotama, Surabaya, belum lama ini. Dalam kompetisi yang bertajuk Robot Line Follower tersebut, tim robot MA Unggulan Nuris digawangi oleh Miftahul Ulum dan M Firman? Muhaimin. Keduanya mengikutkan dua robot sekaligus dalam lomba tersebut. Robot pertama berhasil meraih juara tiga. Sedangkan robot kedua menyabet kategori best design.

Alhamdulillah, kami bangga bisa meriah prestasi, walaupun cuma juara tiga,” ujar Firman di sela-sela kegiatan sekolah di Jember, Sabtu (11/2).

Tim Robot MA Unggulan Nuris Raih Juara 3 dan Best Design (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Robot MA Unggulan Nuris Raih Juara 3 dan Best Design (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Robot MA Unggulan Nuris Raih Juara 3 dan Best Design

Kebanggaan yang dirasakan Firman bisa dimafhumi. Sebab, MA Ungguan Nuris merupakan satu-satunya madrasah yang meraih juara dalam ajang tersebut. Kompetisi itu sendiri diikuti oleh 21 tim dari SMA dan yang sederajat se-Jawa Timur.

Hari Santri 2019

Menurut Firman, dalam lomba tersebut robot harus disusun dengan dimensi tak melebihi 20 sentimeter dengan bobot maksimal 2 kilogram. Robot dilarang menggunakan bahan bakar minyak dan tegangan baterai maksimal 12 volts. “Jadi merancangnya harus benar-benar pas,” ucap siswa kelas X IPA-A MA Unggulan Nuris itu.

Ia menambahkan, lomba itu cukup sulit. Semua robot harus mampu melewati medan lintasan berupa garis (line-follower) berwarna hitam dengan dasar putih dalam waktu tiga menit. Garis putus-putus di lintasan merupakan kesulitan tersendiri bagi robot. “Sebab, sensor robot bisa-bisa tidak bekerja dengan baik karena bingung. Penilaian dilihat dari desain, kecepatan, dan ketepatan robot berjalan di garis yang telah disediakan panitia,” lanjutnya.

Hari Santri 2019

Secara terpsiah, Kepala MA Unggulan Nuris Jember Ning Balqis Al-Humairo mengapresiasi capaian yang diraih anak didiknya itu. “Saya bersyukur atas prestasi anak-anak kami yang telah mampu menorehkan prestasi robotika ini. Semoga ke depan anak-anak terus terpacu untuk meningkatkan prestasi di segala bidang yang mereka kuasai. Amin,” katanya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News, Tokoh Hari Santri 2019

Minggu, 11 Februari 2018

Novelisasi Sejarah, antara Sastra dan Pelecehan Sejarah

Setelah genre fiksi islami hampir ‘habis’, dunia sastra kita belakangan sedang kebanjiran sastra sejarah, juga sastra biografi. Sampai-sampai helatan sastra genre ini secara khusus digelar secara akbar; Borobudor Writers % Cultural Festival di Magelang, belum lama.

Sebenarnya, menulis cerita rekaan atau fiksi yang gagasan dasarnya diambil dari catatan sejarah, bukanlah barang baru di negeri ini, setidaknya itu bisa ditelisik dalam hampir semua karya-karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, sebutlah salah satu karya besarnya; Arus balik. Tetapi genre penulisan sastra sejarah tidaklah berjubal dan semencolok akhir-akhir ini.

Novelisasi Sejarah, antara Sastra dan Pelecehan Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Novelisasi Sejarah, antara Sastra dan Pelecehan Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Novelisasi Sejarah, antara Sastra dan Pelecehan Sejarah

Dan, problem yang masih ditinggalkan dalam perhelatan akbar itu adalah; sejauh mana seorang penulis bisa  mengeksplorasi sejarah itu ke dalam dunia fiksi? Atau sejauh mana batas-etik antara penuturan ulang fakta sejarah itu, sehingga tidak berdampak pada kemungkinan pelecehan pada fakta sejarah? 

Hari Santri 2019

Pertanyaan tersebut penting diajukan. Sebab, kebanyakan penulis masih meyakini bahwa dunia novel-sejarah adalah dunia bebas berimajinasi dan suka-suka dalam menuangkan idenya. Tetapi dampak dari sikap gegebah ini sungguh tidak sepele, yaitu hak anak bangsa mendapatkan fakta sejarah tercidrai, dan sebaliknya mereka akan mendapatkan sejarah palsu dan menyesatkan.

Kegelisahan ini patut disebut disini, jika misalnya kita menelisik novel sejarah Wali Songo, karya Damar Shasangka, sang penulis mendedahkan sejarah versi baru dengan berkesimpulan. Misalnya, Sunan Giri menitahkan pembakaran lontar-lontar agama leluhur, Siwa Budha, yang masih banyak disimpan penduduk Jawa. Kemudian oleh penerbit dibuatlah atas sinopsis yang mencengangkan kesadaran ilmiah ini dikatakan secara besar-besaran sebagai Novel Sejarah Terbaik tahun Ini! Tetapi, benarkah demikian?

Sejarawan Thomas Stamford Raflles, dalam bukunya The History of Java, menuturkan bahwa drama penyebaran Islam di tanah Jawa oleh Wali Songo misalnya, sama sekali tidak seperti yang dituturkan penulis novel tersebut. Tetapi prosesnya dilakukan dengan cara damai dan inkulturasi, dan itu sama sekali tidak menghakimi sesat atau bid’ah tradisi masyarakat Jawa, apalagi sampai membakar khazanah intelektual, sekalipun tradisi tersebut berbau animistik-Hinduistik. 

Hari Santri 2019

Misalnya, mereka tidak menghancurkan candi-candi, tidak pula menganjurkan pribumi untuk memakai gamis, memelihara jenggot dan lain sebagainya. Tapi, Wali Songo malah mengarifi budaya lokal setempat dengan menjadikannya sebagai instrumen penyebaran Islam, disinilah peran pesantren sangat siginifikan. Misalnya pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya dan Sunan Giri di Giri yang terus mengajarkan ajaran guru bhakti sebagai etika islam-Jawa, padahal guru bhakti berasal dari kearifan lokal (hindu).

Selanjutnya, keluaran pesantren Giri ini banyak yang diundang ke Maluku Untuk mengajarkan agama Islam. Pada saat itu Pesantren (bisa disebut Padepokan) tidak saja digunakan untuk mengaji dalam pengertian an-sich, akan tetapi juga  dipergunakan sebagai alat kebudayaan, sebagaimana telah dipraktikkan oleh Sunan Kalijaga yang memanfaatkan wayang dan tembang untuk menarik masa agar masuk Islam. 

Sunan Kalijaga adalah pencipta wayang kulit dan tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang, dan kini kesenian itu menjadi kesenian tradisional Jawa yang paling popular hingga saat ini. 

Sunan Kalijaga tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, namun telah dipangkasi akar-akar hinduisme di dalamnya. Di dalam cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam. 

Kesenian-kesinian lain juga dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad, dan sebagainya), seni bangunan dan seni ukir. Masih terawatnya candi-candi bangunan hindu-budha hinga kini (bahkan masjid yang berarsitektur candi seperti di Masjid Kudus, Masjid Giri dan lain sebagainya), juga populernya cerita Ramayana di kalangan Islam-Jawa, sebagai bukti, bahwa para Wali Songo, sungguh begitu merawat khazanah lokal.

Selain Raflles, masih banyak sejarawan ahli yang berpendapat serupa, beberapa bisa disinggung disini: PA van der Lith, dalam ‘Ajaib al-Hind, (Leiden, Brill, 1883), WP. Groeneveld, dalam “Notes on The Malay Archipelogo and  Malacca Compiled from Chines Sources”, (VBG, 39, 1880), Syed M. Naquib Al-Attas dalam Historical Fact and Fiction,  UTM-CASIS, (Kuala Lumpur, 2011), Marshal Hodgson dalam The Venture of Islam, (The University of Chicago Press, 1974), Nikii Keddie dalam Islam and Society in Minangkabau and in the Middle East: Coparative Reflections, dalam Sojourn,  Volume 2, No. 1 Tahun 1987). Sartono Kartodirdjo, Protest Movement in Rural Java, (Kuala Lumpur: Oxford University  Press, 1978) dan lain sebagainya. 

Tidak hanya itu, novel Wali Songo juga menyebutkan data kontroversial yang belum bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah dan banyak cela yang bisa kita perdebatkan; katanya Nyo Lay Wa, adalah seorang muslim China yang ditahbiskan menjadi raja Majapahit. 

Kembali ke genre sastra sejarah. Perbincangan sastra jenis ini semakin kuat sejak munculnya buku The Mirror and The Lamp karya M.H. Abrams. Buku Abrams ini kemudian menjadi induk teori pendekatan terhadap kajian karya sastra yang menjadi pegangan utama para kritikus dan pencipta. 

Abrams menyebutkan ada empat pendekatan terhadap karya sastra, satu di antaranya adalah cermin sejarah, atau yang biasa disebutnya sebagai teori mimesis. Artinya dalam teori ini fakta sejarah ditulis ulang dengan pendekatan sastra. Tetapi bagi Abrahams, jika penulis memilih jalan ini, secara etika haruslah ia berpedoman pada data-data ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Karena dalam genre ini mengikutkan refrensi sebagai sumber cerita atau mendahuluinya dengan penelitian adalah keharusan secara etik. 

Oleh karena itu layak bagi kita kemudian mengajukan sebuah pertanyaan, ada misi apa dengan penulisan novel sejarah Wali Songo versi Damar itu? Benarkah penulisnya hanya sekadar cari sensasi, dan memosisikan dirinya hanya sebagai pabrik cerita yang asal saja tulis, karena kehidupan ekonominya benar-benar sulit, sebagaimana yang disinyalir oleh Yudhi Aw (salah seorang peserta festival itu), penulis novel Diponegoro, bahwa seorang penulis baru seperti Damar mungkin hanya mendapatkan honor 3 sampai 4 juta perjudul buku, dan untuk hidup selanjutnya ia harus menulis lagi, karenanya tak mungkin melakukan riset secara serius. 

Kalau demikian adanya, celaka benar nasib generasi muda yang mewarisi karya asal jadi seperti ini? Wallahu Alam Bishawab. (Penulis adalah aktivis Lesbumi D.I.Y dan Dosen Filsafat di STAIS Al-Muhsin Yogyakarta)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh, Ubudiyah, Quote Hari Santri 2019

Minggu, 28 Januari 2018

Doa Embus Air dari Hidung saat Wudhu

Air yang dihirup ke dalam hidung saat berwudhu, dihembuskan kembali. Doa ini dibaca sesaat sebelum pengembusan air dari hidung. Doa ini dibaca dengan harapan air membawa kotoran, setan, dan penyakit yang bersarang di dalam hidung.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa Embus Air dari Hidung saat Wudhu (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Embus Air dari Hidung saat Wudhu (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Embus Air dari Hidung saat Wudhu

Allâhumma innî a‘ûdzubika min rawâ’ihin nâri wa min sû’id dâri

Hari Santri 2019

Artinya, “Hai Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bau api neraka dan dari kejahatan neraka itu sendiri,” (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta). (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Kajian Islam, Tokoh Hari Santri 2019

Jumat, 26 Januari 2018

Bupati Probolinggo: Santri Harus Mampu Terapkan Ilmunya

Probolinggo, Hari Santri 2019. Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari menyampaikan agar santri jangan hanya mampu menghafal Al-Qur’an atau kitab kuning namun harus mampu menerapkan ilmunya dalam kehidupan bermasyarakat dan menegakkan kebenaran.

Bupati Probolinggo: Santri Harus Mampu Terapkan Ilmunya (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Probolinggo: Santri Harus Mampu Terapkan Ilmunya (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Probolinggo: Santri Harus Mampu Terapkan Ilmunya

Hal tersebut disampaikan Bupati Probolinggo ketika menghadiri Haflatul Imtihan Santriwati Pondok Pesantren Zainul Hasan (Zaha) Genggong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo, Kamis (11/5).?

“Santri jangan hanya pandai membaca kitab namun juga harus pintar berkreasi dan berinovasi,” katanya.

Kepada para orang tua, Tantri menyampaikan ucapan selamat karena telah mampu mengantarkan anaknya berhasil lulus serta berharap agar menghantarkannya ke jenjang pendidikan berikutnya. Dengan harapan agar ilmu yang telah didapat oleh para santri menjadi ilmu yang barokah dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama orang tua dan guru.

Hari Santri 2019

“Saya yakin semua lulusan Pesantren Zainul Hasan sudah dibekali ilmu dan akhlakul karimah. Semoga dengan itu semua mereka mampu mengarungi segenap tantangan zaman ke depan yang semakin komplek. Semoga apa yang menjadi cita-cita para santriwan dan santriwati dikabulkan oleh Allah dan mereka para santri mampu menerapkan ilmu dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.

Tantri sangat miris terhadap kondisi zaman saat ini yang generasi mudanya makin tipis akhlaknya dan arogan dengan segala kemampuan intelektualitas dan intelegensia yang dimilikinya.?

“Pondok Pesantren Zaha bersama yayasan pendidikan yang dimilikinya adalah tempat yang paling terpercaya dan sarana paling tepat untuk menitipkan putra dan putri kita selama masa pendidikan dan pembangunan karakter mereka,” terangnya.

Menurut Tantri, kegiatan haflatul imtihan ini membawa kebarokahan bagi rakyat kecil di sekitar pesantren. Dampak ramainya kehadiran pengunjung kepada para pengusaha kecil maupun pengusaha tempat parkir dadakan merupakan kebarokahan tersendiri dari peringatan Haflatul Imtihan Pondok Pesantren Zaha Genggong.?

Hari Santri 2019

Haflatul Imtihan yang selalu mampu menyedot kehadiran umat Islam ini tentu memiliki peran penting dalam memperkenalkan peran dan kualitas pendidikan madrasah untuk masyarakat luas, khususnya masyarakat Kabupaten Probolinggo sendiri.?

Setiap acara baik malam pertama maupun malam kedua selalu dibalut dalam suguhan-suguhan hiburan modern namun tetap bernuansa Islami dengan menampilkan kreatifitas dan keterampilan dari para santri sendiri. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh Hari Santri 2019

KMNU Unila Punya Ketua Baru

Bandarlampung, Hari Santri 2019

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Lampung (Unila) secara resmi memilih Ahmad Nur Fuadi sebagai ketua baru periode 2016-2017 dalam Musyawarah Anggota yang digelar di Kantor Kesekretariatan KMNU Unila, Bandarlampung, Lampung.



KMNU Unila Punya Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU Unila Punya Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU Unila Punya Ketua Baru



Fuad, begitu ia biasa dipanggil, menggantikan ketua periode sebelumnya, Ahmad Saroji El-Shirozy. Fuad adalah mantan Kepala Departemen SKD KMNU Unila.?



Hari Santri 2019



Setelah terpilih menjadi Ketua Umum pada Ahad (17/01/16) malam itu, Fuad menyatakan bahwa amanah yang diembannya sangat berat. Mahasiswa FKIP Unila Jurusan Fisika ini berharap bisa menunaikannya dengan baik. Ia mendasarkan niatnya pada usaha mencari ridha Allah, bentuk cinta kepada Nabi Muhammad, serta cinta terhadap tanah air NKRI.





Hari Santri 2019

Pemuda berkacamata yang merupakan alumni MAN 1 Pringsewu ini meyakini bahwa berorganisasi, lebih-lebih di KMNU, merupakan sebuah cara lain untuk mencari Ilmu dan pengalaman yang tidak didapatkan di pelajaran atau materi kuliah.?





"Berorganisasi itu cari ilmu dengan aktif di organisasi. Kalau berorganisasi di KMNU insyallah tidak cuma ilmu yang didapat. Kalau aktif dan ikhlas berkhidmah maka kita juga akan dapat barokah doanya para ulama, masyayikh, dan muasis NU," ungkapnya. (Muhammad Faizin/Mahbib). Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, Tokoh, Pesantren Hari Santri 2019

Selasa, 23 Januari 2018

Lintang Cahyaningsih, Kader NU yang Gusur Pemred Tempo

Jakarta, Hari Santri 2019. Namanya Lintang Cahyaningsih. Dia adalah putri bungsu Wakil Ketua Umum PBNU H Maksum Mahfoedz.

Tidak sekadar putri tokoh NU, Lintang tentu saja juga seorang kader muda NU.

Lintang Cahyaningsih, Kader NU yang Gusur Pemred Tempo (Sumber Gambar : Nu Online)
Lintang Cahyaningsih, Kader NU yang Gusur Pemred Tempo (Sumber Gambar : Nu Online)

Lintang Cahyaningsih, Kader NU yang Gusur Pemred Tempo

Sebagai kader muda NU, Lintang ternyata dapat pula berkiprah secara luas. Terbukti mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM itu terpilih dalam Kompetisi Rebut Kursi Pemred Tempo akhir November lalu.





Hari Santri 2019

Mengutip Tempo.co, sebagai pemenang kompetisi, Lintang berhak memimpin redaksi Koran Tempo selama lima hari kerja di Gedung Tempo.

Awalnya Lintang mempresentasikan gagasan yang akan dia terapkan di Koran Tempo. Diantaranya soal desain layout yang lebih berwarna dan variatif di versi digital, dan ide personalisasi jurnalis-jurnalis Tempo.

“Dengan menampilkan identitas dan pengalaman jurnalis di Koran Tempo membuat pembaca dapat mengetahui jalan cerita suatu peliputan berdasarkan sudut pandang jurnalisnya,” kata Lintang.

Ia mengatakan berfokus pada desain dan pengembangan produk.

Hari Santri 2019

“Bagaimana (agar) pembaca tempo bisa mendapatkan pengalaman membaca yang maksimal,” Lintang menambahkan.

Tugas Lintang sebagai pemenang kompetisi adalah memimpin rapat perencanaan konten Koran Tempo, memantau perolehan bahan, memimpin rapat checking redaksi, mengikuti rapat editorial dan opini setiap Rabu, serta merencanakan visual halaman.

Selama menjalankan tugasnya, Lintang didampingi langsung oleh Pemimpin Redaksi Koran Tempo Budi Setyarso.

Untuk program tersebut Lintang mendapatkan biaya transportasi dan akomodasi, berhak mengikuti gala dinner dan berdiskusi bersama seluruh jajaran Pemimpin Redaksi Tempo Media Group, serta mendapatkan tiket pesawat pulang pergi dari daerah asal ke Toraja.

Keberhasilan lintang bukan sesuatu yang datang serta merta. Ia memang pernah menjadi Pimpinan Redaksi Balairung, koran kampus mahasiswa UGM. Pernah pula ia menjadi peserta pertukaran pelajar Indonesia- Amerika, untuk bidang antaragama.





Kiranya kiprah dan prestasi Lintang dapat menginspirasi kader muda NU lainnya di mana pun berada. (Kendi Setiawan). Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Meme Islam, Tokoh Hari Santri 2019

Minggu, 14 Januari 2018

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat

Salah satu hal yang luar biasa dari sosok kiai adalah kearifannya dalam berdakwah. Sebagaimana yang dicontohkan oleh KHR. Asad Syamsul Arifin pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah Situbondo, Jawa Timur saat menyuruh para preman di daerah Bondowoso untuk ikut shalat Jumat.

Cerita yang disampaikan oleh salah seorang santrinya, H Ikrom Hasan kepada penulis ini bermula dari kehebatan ilmu kanuragan Kiai Asad. Tak hanya ilmu agama yang dikuasai oleh kiai yang baru saja ditetapkan sebagai pahlawan Nasional itu, tapi juga ilmu bela diri dan sejenisnya.

Berkat reputasinya dalam dunia persilatan tersebut, banyak preman, jawara, bromocorah wa alaa alihi wa ashabih yang segan kepada Kiai Asad. Jadi, tidak heran jika apa yang diucapkan oleh Kiai Asad menjadi semacam perintah yang wajib untuk dipatuhi. Bagi mereka, mematuhi perintah Kiai Asad adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat

Meski demikian, Kiai Asad tidak serta merta memaksa mereka untuk melakukan shalat, misalnya. Pemaksaan dalam hal beragama, bagi Kiai Asad, bukanlah cara yang tepat untuk diterapkan dalam berdakwah. Apalagi bagi kalangan yang awam dari ilmu agama.

Kiai Asad punya cara tersendiri untuk mendakwahi mereka. Dalam suatu kesempatan, Kiai Asad mengumpulkan para preman tersebut. Di pertemuan itu, Kiai Asad minta tolong kepada kepala preman itu untuk menjagakan sandal para jamaah shalat Jumat yang kerap hilang.

Hari Santri 2019

"Sandal jamaah di maajid ini sering hilang kalau sholat Jumat, saya bisa minta tolong untuk menjagakannya agar tidak hilang?" pinta Kiai Asad.

Seketika dedengkot para preman itu, menyanggupinya. "Gampang itu, Kiai. Paling yang mencuri ya anak buah saya. Biar saya yang akan menjaga," tanggapnya dengan bangga.

Hari Santri 2019

Pertemuan pun diakhiri dengan kesepakatan sebagaimana di atas. Kiai Asad berpamitan seraya mengucapkan terima kasih kepada para preman tersebut.

Hari Jumat pun tiba. Si dedengkot preman itu tampak berjaga di dekat masjid. Berkat pengawasannya tersebut, tak ada sepasang sandal pun yang hilang. Begitupun jumat berikutnya.

Hingga pada Jumat keempat, si dedengkot preman yang menjaga sandal itu merasa ada yang aneh. Sebagai sosok yang disegani dan ditakuti banyak orang, ia merasa tidak kelasnya untuk melakukan tugas tersebut.?

"Masak sih saya menjaga sandal tukang becak, penjual kacang dan orang-orang remeh itu," gugatnya. "Seharusnya saya juga sholat dan sandal saya yang dijaga," imbuhnya.

Persoalan itu, lantas ia adukan ke Kiai Asad. Dengan tenang Kiai Asad balik bertanya. "Kalau sampean ikut sholat, lantas siapa yang menjaga sandalnya?"

"Tenang, Kiai," jawab si dedengkot preman. "Saya punya banyak anak buah. Biar mereka yang menjaga, saya yang sholat," tegasnya.

Kiai Asad pun menyetujuinya sembari mengucap syukur dalam hati atas hidayah yang tak langsung diberikan kepada si preman tersebut.

Proses itu pun berlanjut ke preman lainnya. Saat disuruh menjaga sandal, ia pun merasa aneh. "Masak, preman suruh menjagakan sandal preman," gugatnya balik. Akhirnya, mereka satu per satu pun ikut sholat Jumat.

Demikianlah cara Kiai Asad mendakwahkan ajaran-ajaran Islam. Penuh kearifan, tanpa ada pemaksaan yang terkadang berujung pada pemberontakan.

Namun, lanjut H Ikrom, selama proses dakwah tersebut, Kiai Asad tak pernah berhenti bertaqarub kepada Allah. Ia bermunajat meminta kepada Sang Kholik untuk memberikan hidayah kepada para preman tersebut. Berkat kekuatan doa Kiai Asad itulah, para preman mendapatkan hidayah.?

(Barrur Rohim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh, Halaqoh Hari Santri 2019

Minggu, 07 Januari 2018

NU Bersatu Susah Dipecah-belah

Jepara, Hari Santri 2019. Nahdlatul Ulama memasuki usianya yang ke-92 tahun menurut kalender Hijriyah. Di usianya yang kian senja menurut KH Asyhari Syamsuri, Ketua PCNU Jepara harus semakin bersatu. Jika bersatu kelompok lain akan susah memecah belah jamiyyah yang bermakna kebangkitan ulama ini.

Demikian disampaikan dalam pengajian Haul Massal dan Harlah NU ke-92 yang diadakan MWCNU Kalinyamatan bertempat di gedung MWCNU Kalinyamatan, Jum’at (08/05/15) siang.

NU Bersatu Susah Dipecah-belah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bersatu Susah Dipecah-belah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bersatu Susah Dipecah-belah

Kiai Asyhari meyakini jika NU bersatu, rukun susah apabila ada kelompok lain memecah-belah keutuhan NU. “Jika kita bersatu, kita susah diintervensi kelompok lain,” pesannya kepada ribuan jamaah yang memadati gedung MWCNU.

Hari Santri 2019

Apa yang dikatakan dia tentu sejalan dengan penggalan syair KH Ahmad Fauzan, tokoh NU Jepara tempo dulu. Mlakune NU Koyo Slender/ Senajan Nyrangap Merohi Klenyer/ Duwe Dalan Dewe Ora Keno Nabrak/ Seng Sopo Nabrak Merohi Kelenger.

Dijelaskan Kepala SMKN 3 Jepara ini NU mempunyai jalan sendiri. Kelompok lain tidak boleh ikut campur. Yang ikut campur akan tahu sendiri akibatnya.

Hari Santri 2019

Hal lain dikemukakan Muhsinin. Menurut Ketua MWCNU Kalinyamatan ini NU wajib menjunjung tinggi hasil musyawarah. “Apapun keputusan musyawarah NU harus diikuti dan dijalankan dengan sebaik-baiknya,” terangnya.

Dalam kegiatan yang dihadiri ribuan jamaah ini menghadirkan penceramah asal Grobogan, KH Mahyan Ahmad. (Syaiful Mustaqim//Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Tokoh, Doa Hari Santri 2019

Kamis, 04 Januari 2018

Pemimpin NU Harus Familiar dan Komunikatif dengan Negara Sahabat

Jakarta, Hari Santri 2019. Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Agustus 2015 mendatang, sejumlah kalangan berharap adanya peningkatan peran dan kapasitas Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam membawa bangsa ini menghadapi perkembangan geopolitik global dan regional. Terlebih, saat ini Indonesia telah menandatangani kerja sama terbuka kawasan melalui Masyarakat Ekonomi Asean, maupun kerja sama multilateral dengan negara-negara besar seperti Amerika, China dan lain-lain.

“Pimpinan PBNU ke depan harus familiar dan mampu berkomunikasi dengan negara-negara yang bisa meng-upgrade kapasitas kader NU. NU harus banyak mengirim kadernya untuk belajar ke negara-negara besar, tidak hanya ke negara di timur-tengah saja,” ujar Pengamat Kajian Eropa Universitas Indonesia, Mahmud Syaltut, Jumat (8/5).

Pemimpin NU Harus Familiar dan Komunikatif dengan Negara Sahabat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemimpin NU Harus Familiar dan Komunikatif dengan Negara Sahabat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemimpin NU Harus Familiar dan Komunikatif dengan Negara Sahabat

Dikatakan Syaltout, PBNU juga harus memperkuat peran Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di berbagai negara yang dibentuk dan dikelola oleh kader-kader NU yang menjadi mahasiswa dan pekerja migran? di luar negeri.

Hari Santri 2019

“Diaspora kader NU harus dimenej lebih matang. Banyak kader-kader NU yang bagus, perlu dirangkul dan diberdayakan. Identifikasi kader NU di Negara-negara yang menjadi pusat Iptek.? Jadi ke depan, NU tidak hanya berperan di wilayah agama, pendidikan dan budaya. Tapi juga harus bergerak di wilayah vital, seperti pertanian, energi, industri, ekonomi, wisata dan lainnya,” papar Syaltout.

Lebih lanjut ia mengungkapkan sekarang era multitrack diplomacy dan kerja sama yang dilakukan antar negara saat ini tidak lagi berbentuk bilateral, tetapi sudah multilateral, yang mensyaratkan kesetaraan dan keseimbangan kapasitas maupun perolehan manfaat.

Hari Santri 2019

“NU juga harus mulai berinvestasi di wilayah ekonomi. Sekarang era inovatif advantage dan mulai masuk ke era prediktif advantage. Siapa yang mampu meriset melakukan prediksi atau ramalan masa depan yang bisa diuji secara empirik,dia yang menang, NU harus mengambil ruang itu,” paparnya.

Isi Sektor Strategis

Hal sama diharapkan Pakar Hubungan Internasional UI,? Edy Prasetyono.? Menurut Edy, PBNU harus serius menyiapkan kader-kader ideologis dengan kapasitas keilmuan dan keterampilan yang lebih beragam. “Harus mampu memanfaatkan dan mentransformasi sektor-sektor strategis di bidang maritim. Yakni bidang industri kreatif, teknologi pertanian dan pangan, teknologi transportasi khususnya perkapalan dan kader yang ahli di bidang energi dan teknologi informasi,” ujarnya.

Edy menyesalkan, sejumlah sektor tersebut justru banyak digarap secara serius oleh kelompok-kelompok muslim berpaham ekstrem. Padahal menurut Edy, jika sektor-sektor strategis itu dikuasai kelompok ekstrem, akan sangat berbahaya bagi masa depan Indonesia. Karena, selain akan menghancurkan budaya toleransi, kebhinnekaan dan demokrasi yang sudah terbangun di Indonesia, mereka juga bisa memicu perang saudara di Indonesia, seperti yang terjadi di negara-negara Timur Tengah. Dan dengan posisi Indonesia yang dianggap vital oleh negara-negara besar, khususnya dengan jalur sutra? yang dimiliki Indonesia, konflik di Indonesia bisa meletupkan perang dunia.

“Ada kekhawatiran luar biasa atas kehadiran kelompok Islam agresif di Indonesia. Mereka tak hanya melakukan radikalisasi dan terorisme tetapi juga memicu perang di mana-mana. Mereka ini serius mengeskploitasi sumber dayanya. Mengirim kadernya untuk belajar teknologi, bisnis dan energi ke berbagai negara maju,” paparnya.

Karena itu, menurut Edy, PBNU harus menjalin kerja sama lintas sektor dengan negara, inetelektual dan para pengusaha untuk mengantisipasi ancaman ekstremisme tersebut. Sebab kehadiran mereka selain mampu menguasai sektor vital juga memengaruhi bahkan mencuci otak masyarakat dengan segala sumber daya yang dimiliki. Sehingga, masyarakat Indonesia menjadi rentan konflik, sulit bersatu dan kehilangan karakter saling menghargai, toleransi dan gotongroyongnya.

“Perlu ada kerja sama serius yang kuat antara Negara dengan ormas semacam NU ini, untuk menghadapi perang asimetris yang bakal makin marak terjadi. Perang asimetris itu berupa perang ide, kreatifitas, perang gagasan dan ideology yang berujung pada konflik fisik dan perang saudara,” tambahnya. (Malik/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh, Ahlussunnah, Syariah Hari Santri 2019

Jumat, 22 Desember 2017

Gus Ali: Istighotsah Bukan Sekadar Wirid dan Dzikir

Sidoarjo, Hari Santri 2019 - Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat Progresif Sidoarjo KH Agoes Ali Masyhuri mengatakan, doa adalah tiang agama, penerang langit dan bumi. Jika umat ini mempunyai khazanah spiritual yang diwujudkan dengan doa, insyaallah solusi dari Allah akan turun, bencana akan diangkat. Karena senjata orang mukmin adalah doa.

Apabila seseorang mau berdoa, lanjut kiai yang akrab disapa Gus Ali ini, hal itu menunjukkan bahwa tiang-tiang agama yang di ada hati orang tersebut masih berdiri tegak. Semakin kuat keimanan seseorang, semakin kuat istiqamah dalam berdoa. Itulah kekayaan bangsa Indonesia yang sulit ditandingi bangsa-bangsa lain.

?

Gus Ali: Istighotsah Bukan Sekadar Wirid dan Dzikir (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ali: Istighotsah Bukan Sekadar Wirid dan Dzikir (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ali: Istighotsah Bukan Sekadar Wirid dan Dzikir

"Kita banyak mengalami ketimpangan, bencana melanda di mana-mana, tapi di sisi lain, manusia mempunyai hubungan vertikal yang kuat kepada Allah, sehingga di sana banyak rentetan jalan keluar dan keberkahan senantiasa diberikan kepada manusia," kata Gus Ali saat memberikan keterangan kepada awak media usai istighotsah kubro, di stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sidoarjo, Jawa Timur, Ahad (9/4).

?

Gus Ali berharap, melalui momen istighotsah ini mampu menjadi sebuah langkah cerdas dan positif bagi siapa pun yang hadir dan menyaksikan bahwa kekuatan doa dan kekuatan umat Islam tidak bisa dipandang sebelah mata. Jaya dan tidaknya Republik Indonesia, katanya, sangat ditentukan dengan jaya dan tidaknya Islam di Indonesia. Jaya dan tidaknya Islam di Indonesia sangat ditentukan dengan jaya atau tidaknya Nahdlatul Ulama.

Hari Santri 2019

?

Hari Santri 2019

"Kalau di Indonesia ini saya contohkan seperti bus, penumpang terbesar adalah umat Islam. Bila bus ini berjalan lancar dan aman, yang menikmati adalah umat Islam. Apabila bus ini jalannya oleng sampai nabrak dan terbakar, korban terbesar adalah umat Islam dan korban kedua adalah jamiyah Nahdlatul Ulama," katanya.

?

Gus Ali menyatakan bahwa kegiatan istighotsah ini jangan dipandang sekadar wirid dan dzikir. Akan tetapi sebuah upaya merangkul umat, menyatukan umat dalam satu barisan mengawal NKRI agar tetap utuh, mengawal ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), basyariyah (persaudaraan kemanusiaan), nahdlyiyah (persaudaraan ke-NU-an), dan Islamiyah (persaudaraan keislaman). Semuanya itu tetap dikawal dengan semangat, gairah dan kesadaran baru. (Moh Kholidun/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh, Sejarah Hari Santri 2019

Rabu, 20 Desember 2017

Pentas Seni Nusantara Tutup Ngaji Pasanan di Pesantren Al-Fattah

Pacitan, Hari Santri 2019. Pondok Pesantren Al-Fattah Kikil Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, menutup rangkaian Program Kajian Ramadhan (PKR) atau Ngaji Pasanan dengan mengadakan khataman dan pagelaran pentas seni nusantara, Sabtu malam (4/7) di aula pesantren.

Menurut Ustadz Hammam Fathulloh HB atau yang kerap disapa Gus Hammam mengatakan, bahwa kegiatan pentas seni yang digelar di pesantrennya dalam rangka turut menjaga dan memperkenalkan kekayaan kesenian khas nusantara kepada para santri.

Pentas Seni Nusantara Tutup Ngaji Pasanan di Pesantren Al-Fattah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentas Seni Nusantara Tutup Ngaji Pasanan di Pesantren Al-Fattah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentas Seni Nusantara Tutup Ngaji Pasanan di Pesantren Al-Fattah

"Sejak beberapa tahun terakhir ini, kami fokus mengembangkan potensi kesenian nusantara kepada santri agar mereka semakin bangga dengan kekayaan seni Indonesia," ungkapnya kepada Hari Santri 2019 disela-sela berlangsungnya acara.

Hari Santri 2019

Pada malam khataman yang digelar meriah tersebut, beberapa kesenian ditampilkan seperti seni hadrah dari Jamaah Pengajian Sanggar Jubah dan tari tarian khas nusantara diantaranya Tari Aceh dan Tari Papua.

Sementara itu pengasuh Pesantren Al-Fattah Kikil KH Moch Burhanuddin HB dalam sambutanya menyampaikan tentang makna keagungan bulan suci ramadhan yang dipenuhi dengan rahmat dan ampunan Allah SWT. Ia berharap kepada seluruh santri untuk dapat memanfaatkan bulan suci ramadhan dengan melakukan ibadah dan berbuat kebajikan.

Hari Santri 2019

"Ramadhan adalah momentum menguatkan hati dan pikiran. Jika bisa selaras dan seimbang maka santri akan benar benar menjadi pribadi yang rahmatan lil alamin," ujar Kiai Burhan.

Program Kajian Ramadhan tahun 1436 H di Pesantren Al Fattah Kikil dimulai sejak tanggal 1-17 Ramadhan dan diikuti oleh ratusan santri, beberapa kitab kuning dibacakan oleh para assatidz seperti kitab Hujjah Ahlussunnah Wal Jamaah Karya KH Ali Maksum Krapyak. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh Hari Santri 2019

PCNU Solo Kupas Paham Aswaja bersama Idrus Ramli

Solo, Hari Santri 2019. Ribuan jamaah memadati ruangan Masjid Al-Wustho Mangkunegaran Surakarta, Sabtu (28/11) malam. Mereka menghadiri acara bertajuk “Kupas Tuntas Aswaja” yang diselenggarakan PCNU Solo bekerja sama dengan Ta’mir Masjid Assegaf Solo.

Ketua pelaksana kegiatan Sofwan Faisal Sifyan menjelaskan, acara ini bertujuan untuk mengupas tuntas tentang ajaran Aswaja. “Kami akan saling berdialog mengenai bagaimana sesungguhnya paham yang dikenal dengan sebutan Sunni,” terang pengurus PCNU Sukoharjo itu.

PCNU Solo Kupas Paham Aswaja bersama Idrus Ramli (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Solo Kupas Paham Aswaja bersama Idrus Ramli (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Solo Kupas Paham Aswaja bersama Idrus Ramli

Dalam kesempatan tersebut, sebelum diadakan sesi dialog, para jamaah yang hadir mendengarkan penjelasan dua narasumber Ustadz H M Idrus Ramli dari pesantren Sidogiri dan Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi.

Hari Santri 2019

Keduanya sama-sama menjelaskan pentingnya sanad dalam mata rantai ilmu agama. “Kalau bukan karena sanad, orang akan berkata seenaknya. Sanad ini harus bersambung dari seorang guru kepada gurunya terus hingga kepada Nabi Muhammad saw,” papar Habib Alwi.

Hari Santri 2019

Sedangkan Ustadz Idrus menegaskan pentingnya keberadaan seorang guru dalam mempelajari ilmu agama. “Dalam soal ilmu agama, harus mempunyai guru serta wajib bermazhab. Sanad guru inilah yang menjadi salah satu ciri dari ajaran Aswaja,” terangnya.

Di akhir acara, dalam sesi dialog para jamaah dipersilakan untuk bertanya mengenai persoalan Aswaja. Ketua PCNU Solo A Helmy Sakdillah berharap penyelenggaran acara ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat untuk lebih mengenal ajaran Aswaja. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen, Tokoh, Kajian Hari Santri 2019

Jumat, 08 Desember 2017

Teks dan Karakter Islam Nusantara

Oleh Mahrus eL-Mawa* Fenomena kekerasan atas nama agama, baik secara personal maupun institusional, hingga saat ini tidak dapat diterima umat manusia, terutama umat yang beragama dengan cinta, damai, dan kearifan (love, peace and wisdom). Islam sebagai agama yang mengedepankan rahmatan lil alamin dimanapun, sudah pasti menolak kekerasan tersebut.

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang dilahirkan sejak 1926 untuk memberikan kedamaian umat Islam Indonesia, terutama dalam menjalankan tradisi dan ritual keagamaan, hingga saat ini. NU telah merumuskan beberapa prinsip dalam hal mengantisipasi persoalan sosial keagamaan, yaitu tasamuh (toleran), tawazun (seimbang/harmoni), tawasut (moderat), ta’adul (keadilan), dan amar ma’ruf nahi munkar.

Teks dan Karakter Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Teks dan Karakter Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Teks dan Karakter Islam Nusantara

Seiring dengan fenomena kekerasan atas nama agama oleh kelompok Islam tertentu tersebut, dan merasa dirinya yang paling benar pemahaman keislamannya, dimanapun, menjadikan NU yang akan melaksanakan Muktamarnya ke-33 perlu menegaskan kembali jati diri Islam Nusantara.

Hari Santri 2019

Gagasan Islam Nusantara merupakan salah satu pemikiran yang khas untuk Indonesia dari dulu dan saat ini. Secara historis, berdasarkan data-data filologis (naskah catatan tulis tangan), keislaman orang Nusantara telah mampu memberikan penafsiran ajarannya sesuai dengan konteksnya, tanpa menimbulkan peperangan fisik dan penolakan dari masyarakat.

Contohnya, ajaran-ajaran itu dikemas melalui adat dan tradisi masyarakat, makanya

terdapat ungkapan di Minangkabau adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Lalu, pada saat itu di Buton terdapat ajaran martabat tujuh dari tasawuf menjadi bagian tak terpisahkan dari undang-undang kesultanan Buton. Hal serupa di Jawa, baik melalui ajaran Walisongo ataupun gelar seorang raja dengan menggabungkan tradisi lokal dan tradisi Arab, seperti Senopati ing Alogo Sayyidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa.

Hari Santri 2019

Dengan demikian, praktik Islam Nusantara mampu memberikan kedamaian umat manusia. Pada saat itu di Nusantara, baik kepulauan Jawa, Sumatera, Sulawesi dan sekitarnya para ulama dalam hal menuliskan ajarannya juga mempunyai tradisi akulturatif dan adaptif. Strategi dakwah tersebut tertulis dalam berbagai aksara dan bahasa sesuai dengan wilayahnya. Di Jawa terdapat aksara carakan, dan pegon dengan bahasa Jawa, Sunda, atau Madura, yang diadaptasi dari aksara dan bahasa Arab. Di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, terdapat aksara Jawi dengan bahasa Melayu, dan aksara/bahasa lokal sesuai sukunya, Bugis, Batak, dst.

Jelas sekali, ada kekhasan dalam Islam Nusantara pada soal adaptasi dan akulturasi aksara/bahasa. Hal serupa juga dalam hal sosialisasi ajaran Islam yang disampaikan secara praktis di masyarakat, terdapat adaptasi seni dan budaya lokal.

Wacana Islam Nusantara untuk saat ini acapkali diadaptasikan sebagai Islam Asia Tenggara (rumpun Melayu), dan belakangan menjadi Islam Indonesia. Beberapa buku menunjukkan hal itu, Azyumardi Azra (Edisi Revisi, 2004), Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII [The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle Eastern and Malay Indonesia ‘Ulama in the Seventeeth and Eighteenth Centuries (KITLV, 2004)],? L.W.C. van den Berg (1989), Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara [terjemahan dari Le Hadhramaut Et. Les Colonies Arabes Dans L’Archipel Indien], Ahmad Ibrahim, dkk. (1989), Islam di Asia Tenggara [Readings on Islam in Southeast Asia], Slamet Muljana (2005), Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara; Kedua buku terakhir tersebut merupakan beberapa bukti bahwa Islam Asia Tenggara itu Islam Nusantara dengan rumpun Melayu, dan Islam Nusantara itu Islam Indonesia. Baru belakangan muncul beberapa karya dengan Islam Indonesia, seperti Michael Laffan (2011), The Makings of Indonesian Islam (Orientalism and the Narraration of a Sufi Past).? ?

Membicarakan Islam Nusantara bukan sekadar mengungkap kesejarahan Islam sebelum kaum asing menjajah (mempengaruhi) sejumlah wilayah di Nusantara, tetapi juga mengungkap kaitan ajaran Islam dengan tradisi lokal yang berbeda dengan tradisi Islam mainstream dari asalnya, Arab, terutama di Indonesia. Berkaitan dengan itu, jurnal Tashwirul Afkar edisi no. 26 Tahun 2008 tentang Islam Nusantara barangkali dapat menjadi bacaan awalnya.

Islam Nusantara juga dikenal dengan Islam Sufistiknya, hal itu bisa dilihat dalam karya Alwi Shihab, Akar Tasawuf di Indonesia (2009) dan buku Miftah Arifin, Sufi Nusantara: Biografi, Karya Intelektual dan Pemikiran Tasawuf (2013). Tentu saja, Islam Nusantara bukan hanya tasawuf, tetapi semua aspek ajaran Islam, seperti fiqh, tauhid, al-Qur’an, al-Hadis, dst.

Para ulama Nusantara dan karya-karyanya juga sudah dibuat daftarnya secara ringkas oleh Nicholas Heer (2008) dengan judul A Concise Handlist of Jawi Authors and Their Works. Diantara ulama Nusantara yang dikenal dengan Ahlussunah wal jamaah itu Syekh Ihsan ibn Muhammad Dahlan al-Jamfasi al-Kadiri dengan judul kitab Irsyad al-Ikhwan fi Bayan Ahkam Syurb al-Qahwah wa al-Dukhan, dan Siraj al-Talibin fi Syarh Minhaj al-Abidin; Muhammad As’ad ibn Hafid al-Jawi, an-Nubzah al-Saniyah fi al-Qawaid al-Nahwiyah (1304/1886); Muhammad Sa’id ibn Muhammad Tahir Riau, Kitab ‘Iqd al-Jawhar fi Mawlid al-Nabi al-Azhar (1327/1909); Muhammad ibn (?) Salih ibn ‘Umar al-Samarani, Hadis al-Mi’raj, dst.

Adapun ulama-ulama yang sudah masyhur lainnya juga tercatat dengan baik, seperti Hamzah al-Fansuri al-Jawi, Syekh an-Nawawi al-Bantani al-Jawi, Syekh Abd ar-Rauf al-Singkili al-Jawi, Abd al-Samad al-Falimbani al-Jawi, Kiai Bisri Mustofa dengan Tafsir Pegon, al-Ibriz, dst.

Islam Nusantara, diakui atau tidak, masih dianggap sebagai Islam pinggiran (periferal) oleh para orientalis. Sekalipun bantahan terhadap anggapan seperti itu sudah dilakukan juga oleh islamolog, seperti A.H. Johns. Bahkan Johns (1965) pernah meneliti karya ulama tasawuf Nusantara Tuhfatul Mursalah ila ruh al-nabi dalam salinan bahasa dan aksara Jawa, dengan judul The Gift Addressed to the Spirit of the Prophet.

Karya-karya ulama Nusantara dalam bahasa lokal tersebut untuk penyebaran Islam merupakan salah satu dari kelebihan dan kekhasan Islam Nusantara, selain dari pemahaman moderatnya. Moderasi itu dengan cara akomodasi tradisi lokal dalam pemahaman keislamannya, seperti tahlilan, muludan, sedekah laut, mitoni, dst. yang selama ini hanya milik Islam tradisional Indonesia. Tradisi Islam Nusantara yang sudah berkembang tersebut ternyata juga berkembang di negara Timur Tengah, seperti Maroko, Yaman dan sekitarnya.

Moderasi Islam Nusantara ternyata dapat dilihat bukan hanya pada pengembangannya melalui akulturasi budaya semata, tetapi juga ketika Islam awal masuk ke Nusantara melalui suatu proses kooptasi damai yang berlangsung selama berabad-abad. Tidak banyak terjadi penaklukan secara militer, pergolakan politik, atau pemaksaan struktur kekuasaan dan norma-norma masyarakat dari luar negeri (Ahmad Ibrahim, dkk: 2).

Dengan demikian, melalui Islam Nusantara tidak perlu dengan gerakan paramiliter, kekerasan, penindasan, atau bentuk radikalisme lainnya, seperti yang dikembangkan organisasi Islam tertentu yang sedang marak belakangan ini.

Dengan demikian pribumisasi Islam Gus Dur sungguh sangat tepat untuk Islam Nusantara. Salah satu warisan Islam Nusantara, selain pesantren adalah naskah kuno (manuskrip). Naskah kuno ini dapat menjadi ciri khas lain dari Islam Nusantara, terutam pada aspek bahasa dan aksaranya. Pegon dan Jawi tidak pernah digunakan oleh orang Islam dimanapun, kecuali bangsa kepulauan Nusantara.

Karena itu, apabila terdapat naskah kuno berbahasa Jawa dengan aksara Arab di perpustakaan Jerman, Belanda, Perancis, Italia, dst, dapat dipastikan naskah itu berasal dari Nusantara (lihat, Henri Chamberl-Loir dan Oman Fathurrahman (1999), Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia. Adapun di dalam negeri, berbagai katalog naskah dari daerah-daerah seperti Buton, Yogyakarta, Jawa Barat, Aceh, dst. Secara khusus, terdapat sebuah buku tentang Direktori Edisi Naskah Nusantara (1999).

Kajian terhadap naskah kuno tersebut saat ini sedang berkembang pesat, tidak hanya di perguruan tinggi umum (UI, UGM, UNPAD, dst) tetapi juga lembaga kementerian agama RI (Litbang, UIN, IAIN, dst.). Bahkan, beberapa pesantren dan keluarga keraton sebagai pemilik naskah kuno tersebut sudah dilibatkan menjadi peneliti, pengkaji, dan pemelihara naskah secara professional. Pengkaji naskah Nusantara ini bahkan menyebut studinya dengan nama filologi Nusantara.

Studi naskah di Nusantara memang tidak dapat disamakan dengan filologi di Eropa, Barat, atau latin dimana asal usul filologi berkembang. Begitupun kajian naskah Nusantara tidak dapat disamakan dengan studi filologi di Arab (ilmu tahqiq). Karena itu, Nusantara mempunyai kekhasannya sendiri, termasuk naskah-naskah di daerah. Kajian naskah di wilayah yang besar cakupannya, seperti Jawa, Melayu atau Batak, ternyata juga memunculkan filologi tersendiri, maka lahirlah filologi Jawa, filologi Melayu, dan filologi Batak.

Kajian naskah semacam itu, terutama naskah keagamaan Islam, mengingatkan penulis pada gagasan Gus Dur tentang pesantren sebagai sub-kultur dan pribumisasi Islam. Pesantren sebagai warisan Islam Nusantara hari ini juga mempunyai kontribusi besar terhadap dinamika filologi Nusantara, karena di pesantren juga mempunyai kekhasan sendiri yang berbeda dengan filologi Jawa dst. Karena itu, penulis juga pernah mengusulkan perlunya kajian filologi pesantren. Terlebih lagi, apabila dikaitkan dengan pribumisasi Islam dari Gus Dur, maka semakin lengkaplah kajian Islam Nusantara itu.

Berangkat dari catatan-catatan tersebut, kiranya, “Mengapa Islam Nusantara”, baik dari sisi historis maupun untuk kepentingan saat ini, dapat disingkat sebagai berikut:

1. Ajaran Islam Nusantara, baik dalam bidang fikih (hukum), tauhid (teologi), ataupun tasawuf (sufism) sebagian telah diadaptasi dengan aksara dan bahasa lokal. Sekalipun untuk beberapa kitab tertentu tetap menggunakan bahasa Arab, walaupun substansinya berbasis lokalitas, seperti karya Kyai Jampers Kediri.

2. Praktik keislaman Nusantara, seperti tahlilan, tujuh bulanan, muludan, bedug/kentongan sesungguhnya dapat memberi kontribusi pada harmoni, keseimbangan hidup di masyarakat. Keseimbangan ini menjadi salah satu karakter Islam Nusantara, dari dulu dan saat ini atau ke depan.

3. Adat yang tetap berpegang dengan syari’at Islam itu dapat membuktikan praktik hidup yang toleran, moderat, dan menghargai kebiasaan pribumi, sehingga ajaran Ahlus sunnah wal jamaah dapat diterapkan.? Tradisi yang baik tersebut perlu dipertahankan, dan boleh mengambil tradisi baru lagi, jika benar-benar hal itu lebih baik dari tradisi sebelumnya.

4. Manuskrip (catatan tulisan tangan) tentang keagamaan Islam, baik babad, hikayat, primbon, dan ajaran fikih, dst. sejak abad ke-18/20 merupakan bukti filologis bahwa Islam Nusantara itu telah berkembang dan dipraktikkan pada masa lalu oleh para ulama dan masyarakat, terutama di komunitas pesantren.

5. Tradisi Islam Nusantara, ternyata juga trdapat keserupaan dengan praktik tradisi Islam di beberapa Negara Timur Tengah, seperti Maroko dan Yaman, sehingga Islam Nusantara dari sisi praktik bukanlah monopoli NU atau umat Islam Indonesia semata, karena jejaring Islam Nusantara di dunia penting dilakukan untuk mengantisipasi politik global yang terkesan bagian dari terorisme global.

6. Karakter Islam Nusantara, seperti disebut sebelum ini, tidaklah berlebihan jika dapat menjadi pedoman berfikir dan bertindak untuk memahami ajaran Islam saat ini, sehingga terhindar dari pemikiran dan tindakan radikal yang berujung pada kekerasan fisik, dan kerusakan alam.

7. NU sebagai organisasi yang dilahirkan untuk mengawal tradisi para ulama Nusantara, terutama saat keemasannya, Walisongo, penting kiranya untuk tetap mengawal dan menegaskan kembali tentang Islam Nusantara, yang senantiasa mengedapkan toleran, moderat, kedamaian dan memanusiakan manusia.

Selamat dan Sukses Muktamar NU ke-33, semoga benar-benar dapat merumuskan secara teoritis dan praktis tentang Islam Nusantara, sehingga dapat diaktualisasikan secara nyata di tengah masyarakat, dan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, khususnya bagi umat Islam Indonesia.

Catatan pendek ini sebagai pengantar diskusi Halaqah pra-Muktamar NU ke-33 di PBNU, “Mengapa Islam Nusantara?”, diselenggarakan kerja sama Gus Durian, Panitia Muktamar dan Pasca Sarjana STAINU Jakarta, 10 April 2015. Draft only.

*Mahrus eL-Mawa, teman Belajar Mahasiswa Pasca Sarjana STAINU Jakarta dan IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Saat ini, sedang menulis disertasi tentang filologi naskah Cirebon di FIB UI.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh, Nahdlatul Ulama, Humor Islam Hari Santri 2019

Kamis, 23 November 2017

Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras

Seandainya pemuda ini berhenti belajar, yaitu dalam pengertian menerima begitu saja terhadap doktrin dan pemahaman Islam yang diajarkan para ustadznya di sebuah lembaga pendidikan Islam yang bercorak garis keras tempatnya dahulu menimba ilmu, dan tanpa mencari perbandingan pemahaman dari sumber yang lain, besar kemungkinan saat ini dia menjadi sosok ekstremis yang sinis pada dasar negara Pancasila dan bentuk NKRI serta tetap meyakini bahwa pengertian jihad dalam Al-Quran adalah melulu berarti perang fisik melawan non-Muslim.

Orang itu sebutlah Yanto (bukan nama sebenarnya). Lelaki asal Lamongan Jawa Timur ini pernah selama empat tahun dididik dan belajar di suatu lembaga pendidikan yang terletak di salah satu daerah di Salatiga, Jawa Tengah, yang berpaham tidak kompromis dengan tradisi lokal. Walau di lembaga pendidikan yang semula berbasis di Solo tersebut dia tempuh sampai lulus bahkan sempat menjalankan masa pengabdian selama kurang lebih satu tahun tapi kini pemikiran, sikap dan perilaku Yanto tidak ekstrem sebagaimana umumnya kelompok garis keras aliran Islam tertentu.

Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras

Padahal selama Yanto belajar di instansi pendidikan tersebut ia tidak lepas pula mendapatkan doktrin yang kontra dengan Pancasila bahkan Pancasila itu dianggap bagian dari taghut. Begitu pula pengertian tentang jihad yang ditekankan oleh guru-gurunya adalah berarti qitaal atau perang fisik, tanpa memberi alternatif tafsiran lain beserta konteks-konteks lapangan jihad yang lebar.

Tapi beruntung Yanto termasuk pelajar yang memiliki kebiasaan bertafakkur atau berefleksi pada waktu-waktu tertentu. Sehingga ada beberapa hal yang ia dapatkan di lembaga itu dirasanya janggal, terutama interpertasi makna jihad yang ekstrem. Dia pun coba membuka refrensi lain di luar yang diajarkan di lembaganya. Salah satunya ia membuka Tafsir Al-Azhar karangan Buya Hamka. Ternyata di kepustakaan yang ia telaah didapatinya bahwa arti jihad tidak sesempit yang diajarakan ustadznya. Ia memperoleh tafsiran jihad lebih luas.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Pada suatu hari sekitar tahun 2001 untuk lebih memantapkan keyakinannya, Yanto berinisiatif menemui kiai di luar madrasahnya yang sudah dikenal kealimannya. Akhirnya dia dengan mengajak salah satu temannya memutuskan sowan kepada KH. Maimun Zubair? Rembang untuk mengutarakan kebingungannya. Salah satu nasihat taktis yang sampai saat ini? tetap membekas di hati Yanto dari ucapan Mbah Maimun saat dia sowan adalah kalimat:? ? ? ?

"Islam dan kafir itu sama-sama Allah yang menciptakan. Kalau di dunia tidak ada yang kafir buat apa Allah menciptakan neraka segala, kok tidak cuma surga saja? Coba kenapa pula Allah menciptakan babi padahal babi diharamkan?"

Jawaban filosofis Mbah Maimun Zubair itu begitu mengena di benak Yanto dan makin menyadarkan akan kesalahan pemahaman term “jihad" yang selama ini ia peroleh dari ustadznya. Pun Yanto menjadi sadar jika ajarannya yang dahulu diserap tidak relevan diterapkan dalam kehidupam masyarakat yang plural seperti Indonesia ini.? ? ? ?

Usai sowan mencari perbandingan pemahaman jihad dari pada Mbah Maimun, Yanto tiap kali ada acara halaqoh atau diskusi kelompok di kelasnya sering berseberangan pendapat dengan kebanyakan kawan-kawannya yang umumnya tetap bersiskukuh pada anti Pancasila dan pro jihad perang. Meski Yanto tidak dikucilkan, tapi sejak dia sering berseberangan pendapat kemudian ia dianggap melakukan bughat.

Ketika Yanto? sudah dianggap bughat dalam komunitasnya, teman-temannya itu tidak menyerah untuk terus mempengaruhi Yanto agar kembali seideologi lagi sebagaimana semula. Bahkan kendati sudah pulang di rumah, lewat berbagai cara kawan-kawannya selalu berusaha mengajak supaya kembali berhalun "Islam ala Arab".

Pernah ia memutuskan kontak dengan teman-tema lamanya tersebut, ternyata ada saja orang baru dan nama asing yang mencoba menghubunginya, yang ujung-ujungnya mengajak berpaham Islam garis keras tersebut. Bahkan Ketika dia menikah dan ada salah satu kawan lamanya yang seangkatan dulu mengetahui dirinya akan menikah, ternyata temannya tersebut datang dan memberi kado. Isi kado itu tak lain adalah buku-buku dan majalah yang topik-topik isinya termasuk propaganda atau penyebaran semacam gerakan transnasional. Begitulah mereka memakai seribu satu modus demi menarik kembali anggota seideologinya yang sudah dicap melakukan bughat. (M. Haromain)

Ditulis berdasarkan penuturan informan yang bertemu penulis beberapa bulan lalu saat Lebaran.



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri, Fragmen, Tokoh Hari Santri 2019

Senin, 20 November 2017

Shalawat Nariyah untuk Keselamatan Bangsa

Oleh HA Helmy Faishal Zaini

Sayyid Muhammad Haqqi An-Nazili dalam kitab Khazinatul Asrar mengatakan bahwa salah satu shalawat yang mustajab (dikabulkan) adalah Shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah, yang disebut orang Maroko dengan Shalawat Nariyah. Dinamakan Nariyah karena jika umat Islam mengharapkan apa yang dicita-citakan dan juga diinginkan, atau ingin menolak yang tidak disukai, sebagaimana dituturukan dalam buku tersebut, mereka berkumpul dalam satu majlis untuk membaca shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah ini sebanyak 4.444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat.

Soal pendapat sebagian orang yang berkata bahwa Sholawat Nariyah adalah Sholawat orang yang ‘merindukan neraka’ sesungguhnya hal itu tidaklah tepat sama sekali. Menyitir pendapat Abdullah al-Ghummari, sesungguhnya penamaan nariyah itu terjadi karena adanya tashif atau perubahan dari muasal kata yang sebenarnya taziyah. Keduanya, Nariyah dan Taziyah memiliki kemiripan dalam tulisan Arab. Perbedaan hanya terletak pada titik huruf. Di Maroko sendiri—tempat Shalawat ini berasal-- shalawat ini dikenal dengan shalawat Taziyah, sesuai nama kota pengarangnya.

Shalawat Nariyah untuk Keselamatan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Nariyah untuk Keselamatan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawat Nariyah untuk Keselamatan Bangsa





Untuk keselamatan Bangsa

Hari Santri 2019

Tidak syak lagi, sebagaimana tertera dalam banyak kitab terkait kemujaraban Shalawat Nariyah, maka dengan mengharap keberkahan yang ditimbulkan darinya, segenap Nahdliyin berbondong-bondong secara serentak membaca Shalawat Nariyah yang tujuan utumanya adalah untuk mengharap keselamatan bangsa.

Krisis yang sedang melanda berbagai sektor, utamanya ekonomi, politik, dan keamanan, membuat kita semakin prihatin. Hidup menjadi sangat mencekam. Ancaman kerusuhan dan demonstrasi yang cenderung mengarah kepada anarkisme muncul di mana-mana.?

Hari Santri 2019

Kondisi yang seperti itu sesungguhnya mengingatkan kita pada penyair besar WS. Rendra yang pernah mengatakan bahwa masyarakat Indonesia tak ubahnya rumput kering. Tersulut api sedikit saja, ia akan dengan mudah terbakar. Seperti itulah kita hari ini. Kondisi kita memang senyampang dengan yang dikatakan WS Rendra. Masyarakat menjadi mudah tersulut emosinya. Masyarakat menjadi mudah terpancing amarah. Dengan begitu benih pertikaian dan permusuhan menjadi merajalela. Lalu di mana Tuhan akan menurunkan rahmat jika masyarakatnya sedemikian amarah?

Shalawat Nariyah, pada titik tertentu, ia bisa dimaknai sebagai sebuah upaya untuk ‘mendinginkan’ hati dan nurani masyarakat Indonesia. Pada masyarakat yang ‘dingin’ akal dan nuraninya, rahmat dan berkah Tuhan diharapkan akan berlimpah.

Dalam banyak kesempatan kita sering medengar istilah baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Di sanalah sesungguhnya cita-cita membangun negeri yang aman dan tenteram itu digantungkan. Dalam istilah di atas negeri yang ideal adalah negeri yang bukan saja baik (walfare), namun lebih dari itu juga diampuni Tuhan.

Kalimat wa rabbun ghafur ini menarik untuk dikaji mengingat kebanyakan kita diam-diam banyak yang berpemahaman bahwa membangun negara tidak ada hubungannya sama sekali dengan Tuhan. Negara adalah urusan duniawi, sementara Tuhan adalah urusan privat yang biasanya menyangkut hal-ihwal ubudiyah. Pandangan seperti ini sesungguhnya tidak tepat. Sebab jelas membangun negara itu pararel dengan urusan ilahiyah. Hal ini sama persis dengan kekurangtepatan kita yang diam-diam memisahkan antara konsep hablum minannas dengan hablum minallah sebagai dua konsep yang berdiri sendiri-sendiri. Padahal dua konsep tersebut paralel dan berhubungan satu sama lainnya.

Dalam pada itu penting untuk diingat sejarawan Edward Gibbon dalam bukunya yang bertajuk The History of the Decline and Fall of the Roman Empire pernah mengungkapkan bahwa adanya degradasi moralitas yang salah satunya ditandai dengan semakin menjamurnya gejala hidup mewah dan juga berlebihan merupakan penyebab utama dari kehancuran sebuah negara. Lebih jauh, Gibbon berkesimpulan bahwa tanda utama kemunduran sebuah peradaban adalah ketika terjadi disparitas yang begitu tinggi antara kaum elite dan rakyat biasa. Gejala itu nampaknya sudah kita temui akhir-akhir ini. Jika melihat pola hidup para elite negeri ini, tentu yang terbayang di benak kita adalah citra kemewahan yang sangat serta gaya hidup yang lebih mementingkan ”libido duniawi”.

Kita sangat berharap krisis yang demikian ini tidak berkelanjutan. Ia harus kita amputasi. Meminjam bahasa KH. A Musthofa Bisri, agar kita selamat hidup di dunia ini nampaknya bagi manusia seperti kita terlalu muluk untuk diajak mempraktikkan hidup zuhud. Manusia sekarang ini, bisa hidup sederhana saja sudah sangat luar biasa. Dan Shalawat Nariyah kita jadikan sebagai alas utama sekaligus tonggak awal bagi kita semua untuk bertekad menuju kehiduan yang lebih baik, yang lebih sederhana, dan lebih optimis menatap masa depan.

Alakullihal, menarik merenungkan surat yang dikirim oleh KHR Cholil As’ad Syamsul Arifin dari Sitibondo kepada PBNU beberapa tempo lalu. Dalam surat panjang tersebut Kiai Kharismatik tersebut menulis seperti ini dan kutipan ini sangat menarik perhatian penulis:?

“Sungguh Al-Faqir merasa sangat antusias ketika mengetahui bahwa PBNU telah mengistruksikan pembacaan 1 Miliar Saolawat Nariyah secara serentak. Al-Faqir ikut berdoa semoga kegiatan dimaksud, selain diterima oleh Allah SWT juga bisa menjadi salah satu solusi bagi persoalan yang menimpa kita, warga NU dan Indonesia secara keseluruhan.?

Bukan tanpa alasan kalau Al-Faqir merasa antusias dan ikut bergembira. Sejak belasan tahun silam, Guru Al-Faqir, Alm. Kyai Ahmad Sufyan, sudah mencita-citakan bahwa Sholawat Nariyah bisa merata secara nasional dan, yang paling penting, dilakukan dengan penuh kesungguhan. Sekalipun, katakanlah, belum benar-benar mencicipi manisnya bershalawat.”

Surat tersebut dikirim langsung oleh putra almarhum KHR As’ad Syamsul Arifin dalam rangka merespon positif program pembacaan Shalawat Nariyah sebanyak 1 Miliar yang diselenggarakan sebagai rangkaian peringatan Hari Santri tahun 2016. Pembacaan Shlawat Nariyah tersebut akan dilaksanakan serentak dari Sabang sampai Merauke pada tanggal 21 Oktober mendatang.?

Selamat memabaca Shalawat Nariyah dan semoga kiat diberi kekuatan dan keberkahan yang melimpah. Wallahu a’lam bis showab?

H A Helmy Faishal Zaini, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ubudiyah, Tokoh, Pendidikan Hari Santri 2019

Sabtu, 18 November 2017

PWNU Sulsel Serahkan SK Pengurus Baru Yayasan PT Al-Ghazali

Makassar, Hari Santri 2019. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Selatan mengadakan penyerahan Surat Keputusan tentang Susunan Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi (PT) Al-Ghazali Makassar masa khidmat 2015-2020, Selasa (22/9) bertempat di Auditorium KH Muhyiddin Zain Universitas Islam Makassar (UIM).

Dr A Majdah M Zain selaku Rektor UIM dalam sambutannya mengapresiasi atas dilantiknya pengurus yayasan untuk masa khidmat 2015-2020, semoga ke depan konsep tri matra yaitu Pengurus NU Sulsel, Yayasan PT Al-Gazali, dan Rektorat akan senantiasa terjalin untuk membangun lembaga pendidikan tinggi yang kita cintai ini.

PWNU Sulsel Serahkan SK Pengurus Baru Yayasan PT Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Sulsel Serahkan SK Pengurus Baru Yayasan PT Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Sulsel Serahkan SK Pengurus Baru Yayasan PT Al-Ghazali

"Di sisi lain keberadaan UIM ke depan, semoga mampu memberikan kontribusi nyata untuk masyarakat Sulawesi Selatan dan tentunya masyarakat Indonesia secara umum," ujarnya.

Hari Santri 2019

Ketua Umum Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar Prof Dr H Iskandar Idy dalam sambutannya mengungkapkan latar belakang keberadaan Yayasan yang dibentuk oleh Nahdlatul Ulama Sulsel. Sedianya pengurus yayasan ini berakhir Agustus 2015 lalu. Setelah dikonsultasikan kepada Rais Syuriyah NU Sulsel Anregurutta KH M Sanusi Baco selaku pimpinan tertinggi di NU dan Yayasan PT Al-Ghazali, akhirnya disepakatilah Pengurus Yayasan yang baru untuk masa khidmat 2015-2020.

Hari Santri 2019

Dalam tausiahnya, Rais Syuriyah NU Sulsel Anregurutta KH M Sanusi Baco menjelaskan tentang hidayah, dimana ada Hidayah Dilalah yaitu hidayah yang diberikan oleh Allah kepada seluruh hambanya tentang pengetahuan Agama. Lalu Hidayah Taufiq yakni hidayah yang diberikan oleh Allah kepada hambanya tentang ajaran agama Islam sekaligus kekuatan untuk melalukan amalan-amalan Agama.

“Semoga seluruh pengurus yayasan diberikan hidayah dilalah sekaligus hidayah taufiq untuk mengembang amanah dalam mengurus yayasan, demi kemajuan lembaga pendidikan tinggi milik NU yakni Universitas Islam Makassar,” harapnya.

Adapun susunan pengurus Yayasan PT Al-Gazali, sebagai Ketua Dewan Pembina Anregurutta Dr KH M Sanusi Baco, Lc, didampingi Prof Dr H A Rahman Idrus selaku Sekretaris, Prof Zainuddin Thaha, Anregurutta KH Bustani Syarief, KH Abdurrahman K, KH Zain Irwanto, Prof Abd Rahim Yunus, Prof Nasaruddin Umar masing-masing sebagai anggota.

Kemudian untuk Dewan Pengurus Prof Iskandar Idy sebagai Ketua Umum, dibantu Dr HM Arfah Shiddiq, Dr H Ruslan masing-masing sebagai Ketua, Sekretaris Umum Drs H Abd Kadir Saile, M.Th.I, Sekretaris Dr Musdalifah Mahmud, Bendahara Umum Drs H Muh Said. M.Pd, Bendahara Nurhaedah Kahar.?

Kemudian Dewan Pengawas H Andi Muiz Tahir, MM selaku Ketua, Sekretaris Dr Nurtaufiq Sanusi, Drs H Naharuddin Tinulu, Drs HM Ridwan AR, Drs HM Alwi Gani, dan Dr Darmawan masing-masing sebagai anggota. (Andy Muhammad Idris/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh Hari Santri 2019

Rabu, 15 November 2017

Berguru ke Mbah Hasyim, "Luru Ilmu Kanthi Lelaku"

Nama Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) di kalangan nahdliyyin tidak asing lagi. Di samping sebagai pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926, Mbah Hasyim juga didaulat sebagai Ra’is Akbar NU hingga wafat di tahun 1947. Sebuah posisi tertinggi dalam organisasi NU.?

Buku baru berjudul Berguru Ke Sang Kiai; Pemikiran Pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari yang ditulis Mukani ini sebagai sebuah bentuk pengakuan terhadap kehebatan sosok Mbah Hasyim. Buku ini pada awalnya adalah hasil penelitian tesis di IAIN/UIN Sunan Ampel Surabaya. Karya ini menjadikan 23 tulisan Mbah Hasyim sebagai sumber primer. Baik dalam bentuk kitab ataupun risalah.

Sebagai sosok asli Jombang, nama Mbah Hasyim sudah ditulis dengan tinta emas dalam sejarah perjuangan Indonesia meraih kemerdekaan. Tidak hanya mampu mendirikan NU, juga mendirikan Pesantren Tebuireng. Kedua “warisan” ini sampai sekarang masih eksis dalam berkontribusi demi pembangunan Indonesia.?

Berguru ke Mbah Hasyim, Luru Ilmu Kanthi Lelaku (Sumber Gambar : Nu Online)
Berguru ke Mbah Hasyim, Luru Ilmu Kanthi Lelaku (Sumber Gambar : Nu Online)

Berguru ke Mbah Hasyim, "Luru Ilmu Kanthi Lelaku"

Tidak heran jika sudah puluhan buku ditulis untuk mengkaji sosok kakek Gus Dur ini. Termasuk juga puluhan penelitian. Baik skripsi, tesis ataupun disertasi. Itu semua membuat nama Mbah Hasyim semakin dikenal luas di masyarakat. Tidak hanya Indonesia, tapi juga dunia internasional.?

Hal ini tidak berlebihan. James J. Fox, guru besar antropologi di Australian National University (ANU), adalah orang yang pertama kali menyebut bahwa Mbah Hasyim layak diberi gelar waliyullah. Jadi, gelar itu bukan warga NU yang pertama kali memberikan.?

Hari Santri 2019

Begitu juga dengan “tuduhan” bahwa Mbah Hasyim seorang tradisionalis. Pendapat ini sangat tidak tepat. Karena menurut Howard M. Federspiel, guru besar di McGill University Kanada, Mbah Hasyim termasuk orang yang tidak menolak modernisasi. Tetapi, agaknya, sebagai seorang yang tertarik kepada modernisasi, meski dalam sistem di komunitasnya sendiri (hal. 14).

Pembelajaran Aplikatif

Hari Santri 2019

Di samping berhasil menjadi pendidik yang perlu diteladani, Mbah Hasyim juga menulis puluhan kitab dan risalah. Karya-karya itu hingga sekarang masih dijadikan referensi dalam berbagai pengajian-pengajian kitab kuning di dunia pesantren seluruh Nusantara. Karya kelima Mukani ini mampu merekam dengan baik butiran-butiran pemikiran Mbah Hasyim dalam bidang pendidikan.

Dalam khazanah pengembangan dunia intelektual, buku ini mampu hadir sebagai salah satu referensi utama bagi pengelola, pengambil kebijakan, pendidik, peserta didik dan stakeholders di Indonesia dalam memajukan pendidikan. Terutama pendidikan yang berorientasi pada aspek religius-etis dan afinitas ilmiah dengan kajian Islam.?

Dalam buku ini dipaparkan kunci sukses Mbah Hasyim dalam mengkonsep pendidikan Indonesia adalah model luru ilmu kanthi lelaku. Berdasar pendekatan ini, seorang pendidik dan peserta didik tidak sekedar berteori. Namun langsung belajar secara aplikatif di masyarakat. Itu semua harus dimulai dari diri sendiri (hal. 52).

Sebagai contoh adalah dalam menanamkan nilai nasionalisme dalam jiwa peserta didik. Tidak sekedar melalui penataran, seminar, workshop ataupun acara formal lainnya. Fatwa jihad untuk mengadakan perlawanan kepada bangsa penjajah sebagai aksi nyatanya. Bahwa, umat Islam dalam radius 60 kilometer wajib hukumnya untuk mengangkat senjata melawan kolonialisme Belanda yang hendak merebut kemerdekaan Indonesia. Jika gugur di medan perang, dihukumi mati syahid.

Fatwa ini kemudian yang mengilhami Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Justru dari resolusi yang dikeluarkan para ulama NU inilah meletus pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang sangat heroik itu. Meski, banyak sejarah belum menulisnya secara proporsional.?

Dalam membentengi keimanan umat Islam di Indonesia sebagai contoh kedua. Mbah Hasyim tidak sekedar menulis teori dalam kitab yang tebal. Ketegasan Mbah Hasyim dalam menolak saikere kolonialisme Jepang sebagai bukti nyatanya. Meski Mbah Hasyim harus menerima siksaan fisik di penjara Jombang, Mojokerto dan lalu dipindah ke Kalisosok Surabaya.?

Melalui buku ini, sebenarnya Mbah Hasyim memberikan kerangka konsepsional yang fundamental bagi pendidikan Indonesia. Langkah lebih teknis operasional memang harus tetap dikaji ulang untuk mengimplementasikan pemikiran pendidikan Mbah Hasyim ini.?

Mbah Hasyim, dalam buku ini, digambarkan sebagai sosok yang menghargai keberagaman. Pendidikan tidak boleh melakukan diskriminasi. Motivasi peserta didik dalam mencari ilmu juga harus bersih dari unsur materialisme. Karena mencari ilmu adalah perintah agama (hal. 127).

Sebagai seorang pendidik, guru dan dosen dituntut untuk selalu mengembangkan kompetensi yang dimiliki. Terutama dalam tradisi literer. Artinya, guru dan dosen dituntut mampu menulis materi pembelajaran. Karya ini yang akan dijadikan pedoman bagi peserta didik dalam pembelajaran (hal. 138).?

Pada tataran kurikulum, Mbah Hasyim menekankan tidak sekedar kecerdasan intelektual (IQ). Namun juga sikap baik dan keterampilan dibenahi dari diri peserta didik. Keseimbangan IQ, EQ dan SQ menjadi sebuah keniscayaan. Materi yang dibelajarkan tidak sekedar ilmu agama, namun juga ilmu-ilmu umum.?

Lingkungan pendidikan juga harus dikelola dengan baik. Keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan tiga lingkungan pendidikan yang sangat berpengaruh bagi keberhasilan peserta didik. Namun, ketiganya tetap berpangkal kepada proses pendidikan dalam keluarga. Terutama pentingnya sosok ibu dalam mendidik anak-anaknya (hal. 155).?

Melalui buku ini, sebenarnya Mbah Hasyim memberikan kerangka konsepsional yang fundamental bagi pendidikan Indonesia. Langkah lebih teknis operasional memang harus tetap dikaji ulang untuk mengimplementasikan pemikiran pendidikan Mbah Hasyim ini.?

Sosok pendiri NU ini pada titik tertentu hendak melakukan balancing terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Tidak sekedar aspek formalitas, tetapi juga subtansi dari makna pendidikan harus diinternalisasikan dan diimplementasikan dalam kehidupan peserta didik. Pada ujungnya, diharapkan pendidikan Indonesia mampu melahirkan “produk” yang tidak hanya memiliki intelektual (pinter), tetapi juga memiliki integritas moral yang baik (bener).

Info Buku

Judul? : Berguru Ke Sang Kiai, Pemikiran Pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari

Penulis: Mukani

Prolog: Prof. Dr. Nur Ahid, M.Ag.

ISBN : 978-602-6827-08-1

Cet: I, Mei 2016

Tebal : 271 + xvi ? ? ? ? ?

Penerbit: Kalimedia, Yogyakarta

Peresensi:? Jumari, Dosen Fakultas Tarbiyah, Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh, Hikmah Hari Santri 2019

Jumat, 10 November 2017

Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh

Jakarta, Hari Santri 2019. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mendoakan mereka yang masih lajang pada tahun ini agar mendapatkan jodoh pada 2017.

"Teman-teman semua selamat tahun baru, sukses semuanya. Yang belum ada jodoh mudah-mudahan cepat dapat jodoh," ujar Mensos di Jakarta, Sabtu.

Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh

Doa Mensos tersebut disambut ucapan amin yang riuh dari awak media yang tengah meliput kunjungan Mensos menjenguk korban selamat dari peristiwa penyekapan Pulomas di RS Kartika Pulomas.

Mensos juga mendoakan bagi mereka yang belum mendapatkan keturunan agar segera mendapatkan anak.

"Pokoknya bahagia, sukses semua. Terima kasih," ucap Mensos.

Hari Santri 2019

Mensos direncanakan akan memberikan ceramah pada kegiatan Dzikir Nasional yang digelar harian Republika di Masjid At Tin, TMII, Jakarta Timur.

Kemudian, Mensos akan menghabiskan malam pergantian tahun di kampung halamannya di Jawa Timur. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Tokoh, Bahtsul Masail, Kyai Hari Santri 2019

Meski Geram Karena Dihujat, Kepala Banser Batam Tetap Dingin

Batam, Hari Santri 2019

Sejumlah anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau meradang atas ujaran kebencian dilontarkan YD, seorang jurnalis perempuan di daerah itu melalui akun media sosialnya.

YD dalam statusnya mempertanyakan Banser pernah mengaji atau tidak. Ia juga mempertanyakan apakah Banser kumpulan preman yang menjual agama. Dalam statusnya itu pula, perempuan berasal dari Provinsi Riau tersebut menuding Banser ialah kumpulan orang menyebalkan sehingga pantas dibubarkan.

Meski Geram Karena Dihujat, Kepala Banser Batam Tetap Dingin (Sumber Gambar : Nu Online)
Meski Geram Karena Dihujat, Kepala Banser Batam Tetap Dingin (Sumber Gambar : Nu Online)

Meski Geram Karena Dihujat, Kepala Banser Batam Tetap Dingin

“Pernyataan yang bersangkutan karena reaksi spontan menanggapi isu pembubaran pengajian Khalid Basalamah oleh GP Ansor Sidoarjo, Jawa Timur. Namun kita giring terus untuk fokus pada subtansi masalah,” papar Alumni Susbanpim II PP GP Ansor, Khoirul Anam, di Batam, Senin (6/3).

Pertemuan dengan YD bisa dilakukan atas mediasi mantan Ketua GP Ansor Kota Batam yang merupakan general manager tempat YD bertugas.

Hari Santri 2019

“Insya Allah, kami mengedepankan rasa kekeluargaan dengan YD kendati awalnya alot dan menolak didokumentasikan. Bahkan yang bersangkutan sempat akan meninggalkan lokasi mediasi. Kami tegaskan, jika tidak mau menyelesaikan secara kekeluargaan, kami akan membawanya ke ranah hukum,” papar Anam.

YD akhirnya mengurungkan niat meninggalkan lokasi mediasi dan selanjutnya membuat surat pernyataan permohonan maaf dan tidak akan mengulangi ujaran kebencian. Pernyataan itu ditandangani yang bersangkutan serta bermaterai.

Hari Santri 2019

Penolakan terhadap Khalid Basalamah tak hanya terjadi di Sidoarjo. Tapi juga di beberapa tempat seperti di Gresik, Surabaya, dan Mojokerto, Jawa Timur.

Kapolresta Sidoarjo Kombespol Anwar Nasir, sebagaimana dilansir Republika menegaskan pihaknya sudah menyarankan agar Khalid tak berceramah pada pengajian Sabtu (5/3) pagi di Masjid Shalahudin Sidoarjo.

Saran itu disampaikan kepolisian kepada panitia karena adanya penolakan dari GP Ansor Sidoarjo.

“Ketegangan memang ada. Tapi tidak ada pembubaran jamaah pengajian. Jamaah tetap di masjid karena panitia hanya meminta Khalid menghentikan ceramah,” tegas Kapolresta.

Ketua PC GP Ansor Sidoarjo, Riza Ali Faizin menyayangkan informasi beredar di sejumlah media tidak sesuai fakta di lapangan.

“Berita yang beredar di media kita melakukan pembubaran dan bentrok bahkan merusak masjid. Masya Allah, tidak ada satu pun aset rumah Allah yang dirusak dan dikotori oleh Ansor dan Banser NU,” kata Riza menegaskan. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tegal, Tokoh Hari Santri 2019

Rabu, 30 Agustus 2017

Kitab Tafsir Berbahasa Arab Terlengkap Pertama Karya Ulama Nusantara

Ini adalah halaman sampul dari kitab “Marâh Labîd li Kasyf Ma’na al-Qur’ân al-Majîd” atau yang dikenal juga dengan “al-Tafsîr al-Munîr” karangan seorang ulama besar dunia Islam di abad ke-19 M asal Nusantara, yaitu Syaikh Abû ‘Abd al-Mu’thî Muhammad Nawawî ibn ‘Umar al-Bantaî al-Jâwî tsumma al-Makkî (dikenal dengan Syaikh Nawawi Banten, w. 1316 H/ 1897 M).

Kitab “Marâh Labîd” atau “al-Tafsîr al-Munîr” terhitung sebagai kitab tafsir yang sangat istimewa, karena karya ini adalah karya tafsir al-Qur’an yang pertama yang ditulis dalam bahasa Arab secara lengkap oleh seorang ulama asal Nusantara. Selain itu, karya ini juga tercatat sebagai salah satu karya tafsir yang ditulis pada abad ke-19 M di dunia Islam (selain "Tafsîr al-Manâr" karangan Muhammad Abduh dari Mesir, w. 1323 H/ 1905 M).

Kitab Tafsir Berbahasa Arab Terlengkap Pertama Karya Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Tafsir Berbahasa Arab Terlengkap Pertama Karya Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Tafsir Berbahasa Arab Terlengkap Pertama Karya Ulama Nusantara

Dalam kolofon, didapati informasi jika karya ini selesai ditulis di Makkah pada malam Rabu, 5 Rabiul Akhir tahun 1305 Hijri (bertepatan dengan 20 Desember 1887 Masehi). Syaikh Nawawi menulis di halaman terakhir karyanya ini;

Hari Santri 2019

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 1305 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Dan aku telah menyelesaikan karya ini …. pada tanggal lima bulan Rabiul Akhir, malam Rabu, tahun 1305, Seribu Tiga Ratus Lima [Hijri] oleh seorang yang fakir kepada Allah, yaitu Muhammad Nawawi, semoga Allah memberikan pengampunan kepadanya dan kedua orang tuanya juga pada guru-gurunya ….).

Hari Santri 2019

Karya ini kemudian dicetak untuk pertamakalinya oleh al-Mathba’ah al-‘Utsmâniyyah (al-Amîriyyah) di Kairo beberapa bulan kemudian (1305 Hijri/ 1888 Masehi), dan mengalami cetak ulang berkali-kali hingga saat ini oleh pelbagai penerbit lainnya, baik di Timur Tengah ataupun di Nusantara.

Dalam kata pengantarnya, Syaikh Nawawi Banten mengatakan bahwa dirinya menulis kitab tafsir ini dikarenakan adanya dorongan dari salah seorang gurunya. Pada awalnya, beliau merasa segan untuk menuliskan sebuah karya tafsir, karena bidang ilmu ini terhitung berat. Namun kemudian, demi misi lestarinya sebuah tradisi penulisan ilmu pengetahuan, maka beliau pun mulai menuliskan karya tafsir ini. Syaikh Nawawi Banten menulis;

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: «? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?: «? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Ammâ ba’du. Maka berkatalah hamba yang paling hina, Muhammad Nawawi namanya. Bahwa telah memerintahkan kepadaku sebahagian guru yang aku muliakan, agar aku menulis sebuah tafsir al-Qur’an. Aku mengurungkan untuk tidak memenuhi perintah itu selama bertahun-tahun lamanya, karena takut akan hadits Nabi yang mengatakan bahwa “barangsiapa yang menafsirkan al-Qur’an dengan pendapatnya, dan itu adalah benar, maka sejatinya ia telah melakukan kekeliruan”. Juga takut akan hadits Nabi lainnya, yang mengatakan bahwa “barangsiapa yang menafsirkan al-Qur’an dengan pendapat (hawa nafsu)nya, maka hendaklah ia menyediakan tempat di neraka”. [Namun setelah itu,] aku pun menyanggupi permintaan tersebut, karena hendak mengikuti para generasi terdahulu yang salih dalam upaya melestarikan tradisi penulisan ilmu pengetahuan, agar ia tetap berkembang di antara manusia. Tidak ada sesuatu yang baru yang aku lakukan, namun setiap zaman mestilah terdapat pembaharuan. Dan hendaklah karya ini menjadi penolong bagiku, juga bagi orang-orang yangbodoh semisalku [guna memahami kandungan al-Qur’an]).

Dalam menulis karya ini, Syaikh Nawawi Banten pun merujuk kepada beberapa kitab tafsir, sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kata pengantarnya. Beberapa rujukan tersebut adalah; (1) al-Futûhât al-Ilâhiyyah” atau yang dikenal dengan “Hâsyiah al-Jamal” karya Syaikh Sulaimân ibn ‘Umar al-Jamal (w. 1204 H/ 1789 M), (2) “Mafâtih al-Ghaib” atau yang dikenal dengan “al-Tafsîr al-Râzî” karangan Fakhr al-Dîn al-Râzî (w. 606 H/ 1209 M), (3) “al-Sirâj al-Munîr” karangan Syaikh Syams al-Dîn Muhammad al-Syarbînî (w. 977 H/ 1569 M), dan (4) “Tafsîr Abî Sa’ûd” atau “Irsyâd al-‘Aql al-Salîm” karya Abû Sa’ûd al-‘Imâdî (w. 982 H/ 1574 M).

Syaikh Nawawi Banten menulis;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? «? ? ? ? ? ?» ? ? ? ? ? ? ? ?

(Aku telah merujuk pada kitab-kitab tafsir seperti “al-Futûhât al-Ilâhiyyah”, “Mafâtih al-Ghaib”, “al-Sirâj al-Munîr”, “Tanwîr al-Miqbâs”, dan “Tafsîr Abû Su’ûd”. Aku menamai karyaku ini dengan nama yang sesuai dengan masanya,yaitu “Marâh Labîd li Kasyf Ma’nâ al-Qur’ân al-Majîd”. Kepada Allah yang Karim dan Fattah lah aku bersandar, kepadaNyalah aku menyerahkan segala urusan).

Dalam menulis karya tafsir ini, Syaikh Nawawi Banten cenderung menggunakan metode “tahlîlî” (analitik), yaitu mengkaji dan menafsirkan al-Qur’an berdasarkan sistematika urutan ayat dan surat. Syaikh Nawawi Banten juga menuliskan asbâb al-nuzûl, yaitu konteks dan kausa sebuah ayat diturunkan, menguraikan varian bacaan al-Qur’an (qirâ’ât) dan implikasi hukum yang ditimbulkan olehnya.

Pada konteks sejarah penulisan karya tafsir al-Qur’an ke-Islam Nusantaraa-an, karya ini sezaman (meski lebih senior) dengan karya-karya tafsir al-Qur’an yang ditulis oleh ulama Nusantara dengan menggunakan bahasa lokal, seperti tafsir “Nûr al-Ihsân” dalam bahasa Melayu karangan Syaikh Muhammad Sa’id Kedah, tafsir “Faidh al-Rahmân” berbahasa Jawa karangan Syaikh Soleh Darat, dan “Tafsir al-Qur’an” berbahasa Sunda karangan Haji Hasan Mustapa Garut. (Ahmad Ginanjar Syaban)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh, Pendidikan, IMNU Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock