Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2018

Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri

Kudus, Hari Santri 2019. Para tokoh dari berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Kudus, mendukung penguatan Kabupaten Kudus sebagai Kota Santri. Dukungan itu mengemuka dalam diskusi publik yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kudus bekerja sama dengan STAIN Kudus dan PC. Fatayat NU Kudus.

Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri

Diskusi itu dihadiri antara lain KH Hamdani (Ketua Majelis Ulama Indonesia/ MUI Kudus), H Abdul Hadi (Ketua PCNU Kudus), HA. Hilal Majdi (Ketua PD Muhammadiyah), Akhwan Sukandar (DPRD Jateng), Sri Hartini (DPRD Jateng), Ilwani (DPRD Kudus), Ulwan Hakim (DPRD Kudus), Umar Ali (pengusaha), dan Saekan Muchit (STAIN Kudus).

Penanggung jawab kegiatan, H Kisbiyanto, Kudus merupakan kabupaten dengan beragam julukan yang melekat. Mulai dari sebutan Kota Wali karena keberadaan dua makam anggota Walisongo, yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria, hingga Kota Jenang.

Kudus itu unik. Satu kabupaten yang menyandang banyak julukan. Selain dikenal sebagai Kota Wali dan Kota Jenang, juga dikenal dengan Kota Santri, Kudus Kretek, Kota Dagang, dan lainnya, katanya.

Hari Santri 2019

Akan tetapi dalam pertemuan dengan tokoh lintas sektoral itu, lebih menekankan Kudus sebagai Kota Santri. Menurut Kisbiyanto, Santri merujuk pada religiusitas dan berbasis pada nilai-nilai keagamaan.

Religiusitas dan nilai-nilai keagamaan ini, termasuk ciri menonjol hingga Kabupaten Kudus menyandang predikat Kota Santri. Kudus jadi jujugan para generasi muda untuk memperdalam agama, dengan banyaknya pesantren yang berdiri. Sehingga predikat Kudus Kota Santri menjadi penguat atas berbagai predikat lain yang melekat, paparnya. (Red: Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Makam, Budaya, Halaqoh Hari Santri 2019

Minggu, 21 Januari 2018

Janganlah Engkau Menodai Agama!

Dalam kitab suci Al-Quran, istilah pelecehan agama memang tidak ada. Namun dalam konteks yang sama, ada istilah-istilah tertentu yang bisa dipahami sebagai padanan dari pelecehan. Adapun bahaya tindakan melecehkan itu bukan cuma mengancam mereka yang melecehkan, namun juga merugikan objek, pihak, atau orang yang dilecehkan.

Dalam buku ini, Imanuddin dan Zaenal mengidentifikasi adanya tiga kata atau istilah dalam Al-Quran yang bisa dipadankan dengan kata pelecehan. Tiga kata itu bukan cuma berkaitan dengan ajaran agama Islam secara langsung. Namun juga kisah-kisah dari berbagai zaman yang mengeksplorasi tindakan pelecehan berikut bahaya dan bencana yang mengiringinya.

Ketiga kata itu meliputi Huzuw, Laib, dan Sakhira (hlm.71). Kata Huzuw bisa dipadankan dengan kata mengolok-olok. Namun bisa juga diartikan sebagai gurauan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dengan tujuan melecehkan.

Janganlah Engkau Menodai Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)
Janganlah Engkau Menodai Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)

Janganlah Engkau Menodai Agama!

Kata Laib bisa diartikan dengan kata bermain atau bermain-main. Namun dalam konteks pelecehan, kata ini bisa diartikan segala aktifitas yang dilakukan bukan pada tempatnya atau untuk tujuan yang tidak benar. Sementara Sakhira adalah mengejek ? (hlm.78-86). Yaitu, menjadikan suatu agama berikut ajaran dan pemeluknya sebagai bahan ejekan yang berorientasi merendahkan atau meremehkan.

Bentuk-bentuk pelecehan agama memang banyak ragamnya. Ada pelecehan yang dinyatakan secara verbal, ada pula yang non-verbal. Pelecehan yang berbentuk verbal, cenderung mudah diketahui oleh pihak yang menjadi korban pelecehan secara langsung. Namun tidak demikian pada pelecehan berbentuk non-verbal. Terkadang, malah pihak atau orang ketigalah yang justru mengetahui lebih dahulu adanya tindak pelecehan agama.

Buku ini bukan hanya menyajikan bahasan seputar pelecehan agama secara langsung. Namun juga membahas pelecehan agama yang bermula dari pelecehan terhadap ajaran, pemeluk, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan suatu agama. Karena buku ini berangkat dari wawasan Al-Quran, maka secara tidak langsung, buku ini menitik-tekankan bahasan pada larangan keras bagi umat Islam yang ingin melecehkan agama Islam maupun agama lain.

Hari Santri 2019

Sebagai bangsa Indonesia yang di dalamnya terdapat berbagai pemeluk agama dan keyakinan, sudah semestinya bagi kita untuk tetap saling menghormati dan tenggang-rasa. Khususnya seputar keberagamaan dan keberagaman. Sebab dengan menahan diri dan minat dari melecehkan agama lain, kedamaian akan mudah terbentuk dan terjaga dengan sendirinya. Selanjutnya, kita bisa beribadah dengan tenang dan nyaman sesuai agama dan keyakinan masing-masing.?





Hari Santri 2019

Info Buku

Judul ? ? ? ? ? ? ? : Jangan Nodai Agama: Wawasan Al-Quran tentang Pelecehan Agama

Penulis ? ? ? ? ? : Imanuddin bin Syamsuri, Lc. MA dan M. Zaenal Arifin, MA

Penerbit ? ? ? ? : Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Cetakan ? ? ? ? : I (pertama), 2015

Tebal ? ? ? ? ? ? ? : xviii+190 halaman

ISBN ? ? ? ? ? ? ? : 978-602-229-457-3





Peresensi

Muhammad Ghannoe

Aktif di komunitas Nandha, Bantul.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, PonPes, Pertandingan Hari Santri 2019

Jumat, 19 Januari 2018

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya

Indonesia memiliki jumlah masjid paling banyak di dunia. Ada sekitar delapan ratus ribuan masjid yang tersebar dari Sabang hingga Merauke (Kemenag RI, 2014). Uniknya, sembilan puluh sembilan persen dari keseluruhan masjid di Indonesia dibangun dan dikelola masyarakat, sementara sisanya dibangun pemerintah. Hal ini berbeda dengan masjid-masjid yang ada di beberapa negara Islam. Di Arab Saudi, Kuwait, Iran, dan lainnya, masjid dibangun pemerintah. Tidak hanya itu, imam dan marbotnya diatur dan digaji oleh pemerintah.

Pada zaman Rasulullah, masjid menjadi pusat peradaban. Masjid dijadikan sebagai tempat untuk dakwah, pendidikan, pengembangan ekonomi, dan pelayanan sosial. Bahkan, para sahabat melakukan latihan perang pun di depan masjid. Masjid benar-benar dijadikan sebagai pusat kegiatan umat Islam. 

Saat ini, sebagian besar masjid di Indonesia hanya difungsikan sebagai tempat salat saja, tidak lebih. Jika ada masjid yang dijadikan sebagai tempat pemberdayaan masyarakat, itu pun jumlahnya tidak banyak. Kenapa bisa demikian? Sesuai dengan buku Pedoman Muharrik dan Ta’mir Masjid yang disusun Lembaga Ta’mir Masjid PBNU, ada tiga hal yang menyebabkan kondisi masjid di Indonesia seperti itu. Pertama, pengelola masjid yang tidak kompeten. Untuk mengembalikan fungsi masjid sebagaimana seperti zaman Rasulullah, maka dibutuhkan pengelola masjid yang inovatif, kreatif, dan memiliki kemampuan untuk memimpin dan mengelola masjid. 

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya

Kedua, tidak dikelola dengan serius. Pengelola dan pengurus masjid belum memiliki semangat yang tinggi untuk mengurusi masjid secara optimal. Biasanya mereka disibukkan dengan aktifitas kerja masing-masing sehingga kurang begitu memperhatikan masjidnya. Sehingga ada yang menyebut kalau sebagian besar masjid di Indonesia itu la yamutu wa la yahya (tidak hidup, mati pun segan), terutama dalam hal program kegiatannya. 

Ketiga, konflik antar pengelola. Biasanya, konflik antar pengelola disebabkan oleh perbedaan pendapat dalam mengurus masjid. Yang satu menginginkan seperti itu, sementara yang satunya lagi menginginkan seperti itu. Sehingga tidak ada titik temu antar keduanya karena mementingkan ego dan keinginannya masing-masing. Kalau konflik seperti itu dibiarkan, maka masjid akan terbengkalai dan program-programnya tidak jalan.

Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy menyebutkan bahwa masjid merupakan asas utama dan terpenting dalam pembentukan masyarakat Islam. Masyarakat Islam tidak akan terbentuk secara kukuh dan rapi kecuali dengan komitmen terhadap Islam. Hal ini tidak akan bisa ditumbuhkan kecuali dengan cara memakmurkan masjid.

Memakmurkan Rumah Allah

Hari Santri 2019

Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi-Ku adalah masjid-masjid. Dan sesungguhnya yang mendatangi-Ku adalah yang memakmurkannya. Maka beruntunglah orang-orang yang bersuci di rumahnya kemudian mendatangi-Ku di rumah-Ku, maka hak-Ku adalah memberi kemuliaan kepada orang yang datang ke rumah-Ku. (Hadist Qudsi)

Berbicara tentang kemakmuran masjid, maka ada tiga hal yang seharusnya menjadi fokus perhatian. Pertama, jamaah. Seperti hadist qudsi di atas, bahwa salah satu cara untuk mengukur suatu masjid makmur atau tidak adalah dengan cara melihat jamaahnya. Jika jamaahnya banyak, maka masjid tersebut makmur. Begitupun sebaliknya. 

Kedua, program kegiatan. Kemakmuran masjid juga bisa dilihat dari variasi kegiatan yang ada. Dalam hal ini, Lembaga Ta’mir Masjid PBNU memiliki tujuh program kegiatan untuk memakmurkan masjid. (a) Menjadikan masjid sebagai pusat penyebaran paham Aswaja. (b) Tempat penyuluhan kesehatan seperti mendirikan klinik di sekitar area masjid, khitanan masal, dan lainnya. (c) Pusat keilmuan seperti pengadaan Madrasah Diniyah, Taman Pendidikan Al-Qur’an, majelis ta’lim, dan lainnya. (d) Pusat pengembangan ekonomi umat seperti pendirian koperasi. (e) Pusat dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin seperti menyelenggarakan kajian dan pengajian. (f) Pusat kepedulian sosial seperti memberikan beasiswa bagi anak yang kurang mampu. (g) Mendoakan orang wafat seperti menyelenggarakan tahlil dan istighotsah bersama.   

Hari Santri 2019

Ketiga, finansial atau keuangan. Untuk memakmurkan masjid, setidaknya harus memiliki pendanaan yang cukup. Program-program masjid yang sudah disusun tersebut bisa terlaksana dengan baik jika ada anggaran yang memadahi. Kebutuhan, sarana dan prasarana masjid juga memerlukan bujet. 

Untuk itu, harus ada langkah yang tepat untuk mewujudkan kemandirian keuangan masjid. Salah satu cara menggalang dana adalah dengan mengaktifkan Gerakan Infak Sedekah Masjid (Gismas) sebagaimana yang digagas LTM PBNU. Pengurus masjid bisa menitipkan celengan di setiap rumah di sekitar masjid dan meminta pemilik rumah untuk mengisinya minimal seribu rupiah. Kalau seandainya ini berjalan dan misalnya ada tiga ratus celengan yang disebar pengurus masjid, maka akan terkumpul sembilan juta rupiah dalam waktu satu bulan. Tentu ini tidak mudah, butuh ketekunan, keuletan, dan konsistensi daripada pengurus masjid dan warga yang dititipi celengan Gismas tersebut.

 

Muchlishon Rochmat

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Nusantara, Pertandingan Hari Santri 2019

Jumat, 12 Januari 2018

Rakernas V Lakpesdam Diakhiri dengan Pembacaan Deklarasi

Batam, Hari Santri 2019. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia NU di Asrama Haji Batam diakhiri dengan pembacaan Deklarasi Lakpesdam, Kamis (16/4) sore.

Rakernas berlangsung sejak Selasa (14/4) yang diikuti oleh 70 Pengurus Cabang Lakpesdam NU dari 21 provinsi di Indonesia. Rakernas ditutup oleh Sekretaris PWNU Kepulauan Riau Muhammad Zainuddin.

Berikut ini bunyi deklarasi yang dibacakan oleh Sekretaris PW Lakpesdam NU Kepulauan Riau Abdul Jamil:

Rakernas V Lakpesdam Diakhiri dengan Pembacaan Deklarasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas V Lakpesdam Diakhiri dengan Pembacaan Deklarasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas V Lakpesdam Diakhiri dengan Pembacaan Deklarasi

?

DEKLARASI RAKERNAS LAKPESDAM NU

Hari Santri 2019

Asrama Haji Batam, 14-16 April 2015

Lakpesdam NU sebagai lembaga pelaksana PBNU dalam bidang kajian dan pengembangan sumber daya manusia diberi mandat untuk melaksanakan kaderisasi dan pemberdayaan, kajian strategis dalam lingkungan NU. Mandat ini dihadapkan pada tantangan-tantangan ke depan yang semakin kompkeks. Liberalisasi ekonomi dan perdagangan bebas di tingkat ASEAN yang telah merambah bangsa, tak terkecuali warga Nahdliyyin, masalah-masalah keagamaan yang dihadapi komunitas Nahdliyyin dan Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) dari kelompok-kelompok intoleran dan radikal, hingga berlakunya UU Desa telah meneguhkan Khittah Lakspedam NU sebagai organisasi pengkaderan dan pengkajian dan pemberdayaan yang berkiprah di tengah masyarakat bawah dalam bidang keagamaan dan sosial (diniyah ijtima’iyyah). Oleh karena itu, Lakpesdam NU seluruh Indonesia mendeklarasikan:

Lakpesdam NU menyatakan komitmennya untuk memposisikan sebagai garda depan pengkaderan NU dengan mengukuhkan Lakpesdam NU sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat sekaligus sebagai pusat kajian strategis ke-Aswaja-an dan ke-NU-an untuk mengawal Indonesia yang berdaulat dan bermartabat demi tercapainya kesejahteraan dan kemaslahatan bangsa. Lakpesdam NU berupaya menggerakkan organisasi NU dimulai dari bawah, dari tingkat ranting dan desa-desa untuk melaksanakan agenda-agenda NU dalam bidang keagamaan maupun dalam bidang sosial-kemasyarakan dan kebangsaan. Lakpesdam NU menyatakan kesungguhan tekad untuk memperkukuh komitmen kebangsaan yang berorientasi pada kemaslahatan umat (faqih fi mashalih al-khalq) untuk memperkuat relasi masyarakat warga terhadap kepentingan berbagai pihak. Lakpesdam NU dituntut untuk menjaga kewaspadaan, membangun kepeloporan, menumbuhkan harapan, dan menjadi pemberi inspirasi dan solusi dalam mengatasi masalah-masalah agama, sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat, sekaligus mampu mempengaruhi masyarakat untuk menumbuhkan etos kerja dan semangat yang tinggi dalam meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya, baik di bidang material maupun spiritual, untuk mencapai keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara dimensi ruhiyah dan waqi’iyah. Lakpesdam NU bertekad menyiapkan kader-kader yang mengawal negara agar merevitalisasi nilai-nilai kearifan lokal dalam upaya membangun harmoni sosial yang selaras dengan pencapaian harkat kemanusiaan yang sesungguhnya dalam rangka peneguhan nilai-nilai tawassuth (moderat) dan tasamuh (toleran). Lakpesdam NU bergerak untuk mobilisasi potensi kader dan warga dalam rangka penyiapan posisi-posisi strategis untuk pencapaian politik kebangsaan yang berdaulat dan bermartabat. Lakpesdam NU berkomitmen kembai ke desa dengan bergerak memperkuat kapasitas masyarakat desa demi pencapaian nilai-nilai luhur kebersamaan dalam rangka membangun dan mensejahterakan masyarakat desa yang bermartabat,berdaulat, dan berkeadilan. Batam, 16 April 2015

Hari Santri 2019

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Nusantara, Makam Hari Santri 2019

Jumat, 05 Januari 2018

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun

Demak, Hari Santri 2019 - Anggota maupun pengurus NU dituntut untuk selalu komitmen serta eksis memperjuangkan dan mempertahankan ideologi organisasi dalam kondisi apapun dan di manapun. Mereka juga bertanggung jawab untuk menggerakkan organisasi.

“Kita sebagai warga NU wajib memperjuangkan ajaran Ahlus Sunah wal jamaah di manapun dan sampai kapan. Kita harus melestarikan ajaran yang ditinggalkan para ulama NU,” kata pengurus LDNU Demak KH Imam Ghozali saat memberikan taushiyah pada halal bihalal yang diselenggarakan Muslimat NU di halaman Masjid Jami Ploso Desa Temuroso Kecamatan Guntur Kabupaten Demak, Ahad (14/8).

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun

Kiai Ghozali mengingatkan anggota Muslimat NU sudah sewajarnya bila dalam keseharian mengamalkan ajaran Aswaja dan menyebarkannya. Hanya saja di dalam memperjuangkan itu semua harus disesuaikan dengan kemampuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam keluarga masing-masing.

“Anggota Muslimat itu wajib memperjuangkan Aswaja di tengah masyarakat, namun perjuangan panjenengan semua itu harus disesuaikan dengan kemampuan yang perlu izin dan dukungan dari keluarga terutama suami,” tegas kiai Ghozali.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Sementara itu Ketua Muslimat NU Guntur Hj Isfinadhiroh di sela-sela acara kepada Hari Santri 2019 mengatakan, pihaknya sengaja mengundang ulama NU pada acara tersebut untuk memberikan pencerahan dan motivasi pada pengurus dan anggota Muslimat NU agar semakin giat dalam berorganisasi.

“Mumpung pengurus dan anggota Muslimat NU sekecamatan ini kumpul, sengaja pak kiai rawuh-kan untuk memberikan motivasi dan pencerahan pada anggota akan kesadaran membesarkan NU,” tutur Isfinadhiroh.

Hahal bihalal ini diikuti oleh pengurus anak cabang dan ranting Muslimat NU sekecamatan Guntur. Tampak hadir pengurus MWCNU, lembaga dan banom NU tingkat kecamatan serta dihadiri warga sekitar. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Pesantren, Kyai Hari Santri 2019

Habis Lantunkan Al-Qur’an, Kening Ais Dicium Khofifah

Jakarta, Hari Santri 2019?

Namanya Nafisah Almais Aidiniyah. Usianya 13 tahun, tapi hadir di Kongres ibu-ibu Muslimat. Ia bukan mengikuti kongres memang, melainkan melantunkan surah An-Nisa ayat 125 di penutupan kongres di Aula Serba Guna Asrama Haji Embarkasi, Jakarta pada Sabtu (26/11).?

Ia melantunkan Al-Qur’an di hadapan Wakil Presiden RI H. Jusuf Kalla, Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, anggota Dewan Pertimbangan Presiden KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa dan ribuan pengurus Muslimat NU. ? ?

Habis Lantunkan Al-Qur’an, Kening Ais Dicium Khofifah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habis Lantunkan Al-Qur’an, Kening Ais Dicium Khofifah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habis Lantunkan Al-Qur’an, Kening Ais Dicium Khofifah

Selepas, melantunkan Al-Qur’an, ia melanjutkannya dengan mendendangkan Shalawat Nabi. Dendangannya diikuti seluruh penghuni aula.?

Ketika penutupan usai, ketika sesi foto-foto, Ais turut berfoto dengan Khofifah Indar Parawansa. Mensos RI tersebut menyempatkan diri anak siswi MTs Pembangunan UIN Jakarta kelas VII. Tak hanya Khofifah, ibu-ibu yang lain menghampirinya, memeluknya, kemudian meminta berpotret dengan Ais.

Hari Santri 2019

Seorang ibu mengungkapkan keinginannya memiliki putri sebagaimana Ais, bisa melantunkan Al-Qur’an dengan baik dan fasih.?

Nafis adalah anak sulung dari empat bersaudara. Semuanya perempuan. Ia adalah putri dari pasangan Abi Juhar seorang PNS Kanwil Kemenag Bali dan Umi Nur Hamidah, kepala sekolah TK. Keluarga mereka berlatar belakang Nahdliyin.?

Nafis bercerita, ia belajar mengaji sejak usia tiga tahun oleh ayahnya. Kemudian memperdalam ilmu bacaannya di pesantren Baitul Qurro, milik qoriah internasional, Hj. Maria Ulfa.?

Karena suaranya yang merdu dan fasih, ia kerap diundang dalam berbagai kegiatan. Ia pernah tampil di depan Menteri Agama H. Lukman Hakim Saifuddin di Bali tahun 2015. Bahkan ia pernah tampil di sebuah acara yang dihadiri menteri iagama empat negara yaitu Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia dan Indonesia. Hari ini ia tanpil di depan Wakil Presiden RI.?

Hari Santri 2019

“Nafis merasa deg-degan saat tampil,” katanya sambil tertunduk malu.?

Dalam bidang baca Al-Qur’an, prestasinya sampai di tingkat nasional. Debutnya ? ketika di Bengkulu 2010, ia tidak mendapat prestasi apa-apa. Namun ia bisa membuktikannya menjadi yang terbaik di MTQ Batam 2014 sebagai juara pertama.?

Di bidang seni suara, ia juga berprestasi dalam menyenandungkan kasidah. Ia ? menjadi juara pertama sebagai vokalis pada kejuaraan tingkat nasional yang diselenggarakan Lembaga Seni Qasidah Indonesia (Lasqi) di Kendari, Sulawesi Tenggara. Prestasinya menurun menjadi juara harapan dua pada Musabaqoh Hifzdil Qur’an di Mataram, Nusa Tenggara Barat tahun 2016.

Prestasi itu tidak membuatnya berbangga diri, tapi tetap rendah hati. Meskipun sudah level nasional, ia tidak memilih undangan mengaji. (Nelly Korabe/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam Hari Santri 2019

Minggu, 24 Desember 2017

Keberhasilan Pembelajaran, Guru Berkualitas Jadi Syarat Mutlak

Jakarta, Hari Santri 2019?

Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kemenag menemukan dalam risetnya, untuk mencapai keberhasilan pembelajaran di kelas unggulan, dibutuhkan guru-guru berkualitas. Kualitas guru dilihat tidak hanya dari aspek gelar akademik yang dimiliki maupun sebagai transformer pembelajaran.

Selain kedua syarat di atas, standarisasi persyaratan lain juga harus dimiliki, yaitu guru di sekolah unggul mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikannya, memiliki pengalaman mengajar di kelas reguler dengan prestasi yang baik, memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang karakteristik peserta didik yang memilki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Keberhasilan Pembelajaran, Guru Berkualitas Jadi Syarat Mutlak (Sumber Gambar : Nu Online)
Keberhasilan Pembelajaran, Guru Berkualitas Jadi Syarat Mutlak (Sumber Gambar : Nu Online)

Keberhasilan Pembelajaran, Guru Berkualitas Jadi Syarat Mutlak

Berikutnya guru memiliki karakteristik adil, demokratis, fleksibel, humoris, menghargai, memiliki minat yang luas, perhatian pada masalah yang dihadapi anak, memiliki penampilan dan sikap yang menarik. Guru memiliki pengetahuan tentang sifat dan kebutuhan anak, memiliki keterampilan dan kemampuan berfikir tingkat tinggi.

Selanjutnya guru memiliki pengetahuan tentang kebutuhan kogintif, afektif, dan psikomotorik anak cerdas dan berbakat, ? memilikikemampuan untuk memecahkan masalah secara kreatif, memiliki kemampuan dalam menggunakan strategi mengajar, memiliki kemampuan untuk menggunakan teknik mengajar yang sesuai, dan memiliki kemampuan utnuk melakukan penelitian.

Untuk ? menjamin ? kualitas ? dan ? ketersediaan guru ? dengan ? standarisasi di ? atas, lembaga secara institusional memberlakuan sistem penilaian pada proses perekrutan guru pada kelas unggul.?

Hari Santri 2019

Proses perekrutan dilakukan baik secara tertulis (test) dan lisan (wawancara). Perekrutan juga dilakukan secara simultan, terprogram, dan terencana sehingga diperoleh hasil maksimal. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Makam Hari Santri 2019

Rabu, 20 Desember 2017

LPTNU Gagas Gerakan Santri Kuliah di Peringatan Hari Santri

Jakarta, Hari Santri 2019. Menyambut Hari Santri Nasional yang di peringati 22 Oktober, Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) menggagas sekaligus meluncurkan Gerakan Santri Kuliah. Kegiatan ini diselenggarakan di halaman Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jakarta, Jumat (21/10).

LPTNU Gagas Gerakan Santri Kuliah di Peringatan Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
LPTNU Gagas Gerakan Santri Kuliah di Peringatan Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

LPTNU Gagas Gerakan Santri Kuliah di Peringatan Hari Santri

Sekretaris Pimpinan Pusat LPTNU Lukmanul Khakim mengatakan, Hari Santri Nasional merupakan peringatan hari dimana santri sangat berperan dalam memperjuangkan, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan.

“Sejarah mencatat bahwa kontribusi santri dalam rangka memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan begitu besar, sehingga saat ini tugas santri yang paling penting dari pada itu adalah mengisi kemerdekaan,” ujar Lukmanul Hakim dalam keterangan tertulisnya kepada Hari Santri 2019, Jumat (20/10).

Pria yang akrab disapa Lukman ini menilai, di dalam mengisi kemerdekaan saat ini ternyata masih banyak santri di Indonesia yang belum bisa melanjutkan kuliah, dan itu jumlahnya cukup besar.

Hari Santri 2019

“Realitas saat ini menyebutkan masih banyak santri yang selesai sekolah belum mampu melanjutkan kuliah. Dari angka partisipasi kasar dari total jumlah yang lulus sekolah menengah atas hanya 30 persen yang melanjutkan kuliah. Itu artinya 70 persen tidak melanjutkan kuliah,” ungkap Lukman

Dengan di luncurkannya Gerakan Santai Kuliah, Lukman berharap nantinya tidak ada lagi santri yang berhenti melanjutkan kuliah karena faktor biaya. “Maka dari itu LPTNU tidak mau berdiam diri. dengan meluncurkan Gerakan Santri Kuliah diharapkan tidak boleh ada lagi santri yang tidak melanjutkan kuliah karena tidak punya biaya,” jelasnya.

Hari Santri 2019

Lukman menambahkan, kedepannya LPTNU akan memberikan 1000 beasiswa bagi santri yang mempunyai latar belakang ekonomi kurang mampu agar terus bisa menimba ilmu.

“Tahun 2017 LPTNU punya komitmen akan memberikan 1000 beasiswa bagi anak-anak NU yang belum bisa melanjutkan kuliah karena faktor ekonomi. Maka silahkan laporkan ke kami kalo ada anak NU yang belum bisa kuliah,” terangnya.

Oleh sebab itu, imbuhnya, santri akan mampu berkompetisi dalam menghadapi era dimana daya saing dan kualitas diri menjadi harga mati.

“Saat ini NU sudah punya beberapa kampus UNU yang siap untuk dijadikan pusat pengembangan keilmuan. Di era MEA saat ini merupakan era kompetisi. Maka, kompetisi harus disadari tidak lagi terjadi di internal, namun lebih pada kompetisi eksternal. Sehingga hadirnya UNU bisa melahirkan anak-anak NU yang punya kualitas diri dan berdaya saing,” tuturnya.

Acara peluncuran Gerakan Santai Kuliah ini ditandai dengan pelepasan balon oleh Lukmanul Khakim didampingi oleh Mastuki HS (Bendahara Umum LPTNU), Agus Jui Purmawan (Wakil Sekretaris LPTNU), dan Ahmad Nurul Huda (Dosen UNU Indonesia). Dalam kesempatan ini, juga diadakan bedah buku Kebangkitan Santri Cendekia karya Mastuki HS. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Hikmah, Halaqoh, Makam Hari Santri 2019

Minggu, 10 Desember 2017

Ringkasan Perjanjian Rahasia Nuklir Iran Dibagikan

Washington, Hari Santri 2019. Gedung Putih mengumumkan ringkasan dari rincian teknis pakta nuklir dengan Iran dan kemudian menjabarkan rencana penerapannya kepada anggota kongres Amerika Serikat (AS). Ini dilakukan di tengah adanya konflik dengan sejumlah anggota Kongres yang menentang pendekatan AS ke Teheran.

Ringkasan Perjanjian Rahasia Nuklir Iran Dibagikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ringkasan Perjanjian Rahasia Nuklir Iran Dibagikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ringkasan Perjanjian Rahasia Nuklir Iran Dibagikan

Kepada Kongres di Capitol Hill, Kamis, pemerintah AS membagikan rencana implementasi pakta nuklir dengan Iran setebal 30 halaman dengan syarat hal ini tetap dirahasiakan dari publik, demikian keterangan sejumlah pejabat Kongres. Demikian dilansir oleh wall street journal.

Ringkasan kesepakatan nuklir ini berisi rencana mendetail penerapan pakta yang berjangka waktu enam bulan tersebut. Kesepakatan ini dibuat guna membatasi kemajuan program nuklir Iran untuk ditukar dengan kelonggaran sanksi ekonomi oleh Barat.

Hari Santri 2019

Sementara itu, sebuah koalisi Republik dan Demokrat ingin memberlakukan sanksi ekonomi baru untuk menjamin Teheran tidak membeli senjata nuklir.

Pemerintah AS mengatakan sanksi baru ini dapat merugikan upaya diplomasi penyusunan kesepakatan jangka panjang dengan Iran. Presiden AS Barack Obama telah mengatakan ia akan memveto setiap undang-undang sanksi baru.

Hari Santri 2019

“Hari ini kami memang membagikan dokumen yang berisi pemahaman teknis terkait penerapan Rencana Aksi Gabungan,” ujar kepala humas Gedung Putih, Jay Carney. “Jenis dokumen seperti ini tidak selalu dirilis ke publik.”

Sejumlah staf anggota Kongres mengatakan dirilisnya dokumen rahasia kepada Kongres –dan perilisan ringkasannya — tidak akan mampu membendung perdebatan mengenai kebijakan AS terhadap program nuklir Iran. Beberapa staf Kongres yang membaca dokumen rahasia yang lebih mendetail menyayangkan bagaimana dokumen ini tidak menjabarkan bagaimana komunitas internasional menyimpulkan bahwa Iran telah melanggar kesepakatan tersebut.

Mereka juga mengkhawatirkan bahwa, menurut dokumen itu, Iran akan meneruskan beberapa riset dan pengembangan nuklir dalam periode enam bulan tersebut. Kesepakatan ini akan mulai berlaku pada 20 Januari nanti.

Dokumen ini juga tidak menjabarkan cara pelucutan reaktor nuklir besar Iran di kota Arak. Jika diaktifkan, reaktor ini diyakini mampu menghasilkan plutonium, yang dapat digunakan dalam perakitan senjata nuklir.

Menurut ringkasan yang disusun Gedung Putih, sebuah “Komisi Gabungan” telah didirikan oleh Iran dan negara besar dunia guna mengawasi penerapan kesepakatan tersebut.

Komisi Gabungan akan bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa, “untuk menyusun sebuah resolusi bagi program nuklir Iran, dengan mempertimbangkan kecemasan di masa lalu dan masa sekarang.”

Dokumen ini juga menjabarkan periode pembayaran pendapatan minyak sebesar US$ 4,2 milyar untuk Iran, selama enam bulan, yang dibekukan di bank-bank luar negeri. Pembayaran ini tergantung pada komitmen Iran dalam membuang semua cadangan uraniumnya, dengan tingkat kemurnian 20%, yang menjadi bahan bakar senjata nuklir. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Cerita, Berita Hari Santri 2019

Sabtu, 09 Desember 2017

Pelajar NU Kerahkan Relawan ke Longsor Banjarnegara

Banjarnegera, Hari Santri 2019. Pelajar-pelajar NU dari Pekalongan, Kedu dan Banyumas turut berpartisipasi mencari korban bencana longsor yang menerjang Dusun Jemblung, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah pada 12 Desember 2014 lalu.

Corp Brigade Pembangunan (CBP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Korp Kepanduan Putri (KKP) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama dari tiap kabupaten tersebut mengirimkan 10 relawan. Disusul kemudian cabang IPNU lain, yaitu Purbalingga, Batang.

Pelajar NU Kerahkan Relawan ke Longsor Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kerahkan Relawan ke Longsor Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Kerahkan Relawan ke Longsor Banjarnegara

“Kami sangat senang karena banyak rekan-rekan IPNU dari cabang-cabang sekitar yang peduli terhadap bencana longsor di kabupaten kami. Alhamdulillah, mereka juga mengirimkan anggota CBP-nya untuk menjadi relawan,” ungkap Mad Solihin, Ketua Pimpinan Cabang IPNU Banjarnegara, kepada NU Onlline Rabu (17/12).

Hari Santri 2019

Ahmad Yusuf, Ketua PC IPNU Kabupaten Batang yang juga turun sebagai relawan bersama anggotanya menerangkan, bahwa kondisi lokasi longsor masih sangat memperihatinkan.

Hari Santri 2019

Bahkan, tambah dia, dalam proses evakuasi jenazah pada hari Senin pagi kemarin, ia bersama relawan CBP lainnya berhasil menemukan jenazah seorang wanita di dalam mobil yang tertimbun material longsoran.

Melihat kerja keras dari seluruh kader IPNU yang turut serta dalam kegiatan kemanusiaan tersebut, Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat H. Muhammad Nahdhy menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya.

“Kami sangat mengapresiasi kerja keras dari seluruh kader CBP dan IPNU pada umumnya yang telah ikut serta dalam kegiatan kemanusiaan ini,” ungkapnya saat terjun ke lokasi bencana  Rabu (17/12).

Selain dalam bentuk bantuan tenaga untuk pencarian korban longsor, beberapa cabang IPNU juga melakukan penggalangan dana di berbagai daerah untuk membantu para korban longsor.

Kota Pekalongan misalnya, PC IPNU-IPPNU menginstruksikan kepada seluruh PAC IPNU-IPPNU untuk terjun ke komisariat-komisariat dan tempat umum untuk menggalang dana. Begitu pula dengan PC IPNU-IPPNU Banjarnegara dan Batang yang juga melakukan hal yang sama untuk meringankan penderitaan korban longsor. (Slamet Ng/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Pesantren, Kyai Hari Santri 2019

Rabu, 06 Desember 2017

Jama’ah Masjid Darussalam Pati Tahlilkan Ribuan Arwah

Pati, Hari Santri 2019. Ada yang menarik menjelang Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW yang dihelat di Masjid Darussalam Grogolan-Dukuhseti-Pati, Jawa Tengah, Selasa (19/5) malam. Pasalnya, sejak usai jamaah dzuhur terdengar nama ribuan arwah dibacakan oleh panitia.

Jama’ah Masjid Darussalam Pati Tahlilkan Ribuan Arwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jama’ah Masjid Darussalam Pati Tahlilkan Ribuan Arwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jama’ah Masjid Darussalam Pati Tahlilkan Ribuan Arwah

Menurut Ketua Panitia Isra’ Mi’raj M Anwar Syafi’i, pembacaan nama arwah dilakukan bergantian oleh sejumlah anggota panitia. “Nama-nama arwah tersebut sengaja kami bacakan pakai pengeras suara demi syiar. Paling tidak, ahli waris juga bahagia nama keluarganya yang telah wafat disebut dalam majlis tahlil ini,” ujarnya.

Tiap nama yang ditahlilkan, lanjut Anwar, keluarga menitipkan uang sebesar 2000 rupiah kepada panitia. “Hingga sore ini, dana yang masuk sudah 8 juta lebih. Kalau 2000 perorang, berarti ada empat ribuan arwah yang ditahlilkan. Seperti tahun lalu, menjelang Maghrib masih ada saja warga mengirim nama leluhurnya,” ungkap Anwar.

Hari Santri 2019

Anwar Syafii menambahkan, tahlil akbar ini telah dimulai sejak tiga tahun silam. “Ini tahun keempat. Tiap tahun selalu naik jumlahnya, baik arwah maupun keluarga yang mendaftarkannya,” ujar Anwar.

Selain tahlil akbar, lanjut Anwar, kegiatan tahunan tersebut juga memberikan santunan kepada para yatim piatu yang dikemas dalam pengajian umum. “Pengajian malam ini akan dihadiri KH Mahrus Ali dari Jepara,” katanya.

Hari Santri 2019

Di tempat terpisah, Imam Masjid Darussalam KH Ali Makhtum Salam menyatakan, kegiatan Isra Mi’raj diinisiasi Majlis Ta’lim Al-Istiqomah yang beranggotakan jamaah masjid Darussalam.

“Majlis ta’lim ini merupakan organisasi pengajian kitab tiap malam Selasa yang dirintis oleh Bapak (KH Abdussalam-red). Lalu, diteruskan Kiai Suyuthi A Hannan, kakak sepupu saya. Setelah beliau sakit-sakitan, saya diminta melanjutkan,” ujar Kiai Makhtum.

Pengajian kitab kuning, lanjutnya, telah dimulai saat Almaghfurlah KH Abdussalam masih hidup. Mbah Salamun, sapaan akrab Kiai Abdussalam, biasa memimpin pengajian dengan berbagai macam kitab, antara lain Majmuah al-Syariah al-Kafiyah li al-Awam karya KH Sholeh Darat Semarang.

Sementara itu, Koordinator Majlis Ta’lim Al-Istiqomah Masjid Darussalam Ahmad Ahsin mengatakan, nanti malam ada 35 anak yatim piatu yang akan diberi santunan. “Dana santunan, diambil dari sumbangan para donatur. Bukan dari dana pemasukan tahlil akbar,” tandasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Nahdlatul Ulama, Hadits Hari Santri 2019

Gus Ipul Berikan Penjelasan Terkait Meroketnya Harga Cabai

Sidoarjo, Hari Santri 2019. Harga cabai terutama cabai rawit masih dikeluhkan masyarakat, karena hingga saat ini masih mahal, jauh dari harga normal. Seperti di Kabupaten Sidoarjo harga cabai rawit rata-rata masih mencapai 130 ribu rupiah per kilogramnya.

Gus Ipul Berikan Penjelasan Terkait Meroketnya Harga Cabai (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ipul Berikan Penjelasan Terkait Meroketnya Harga Cabai (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ipul Berikan Penjelasan Terkait Meroketnya Harga Cabai

Menyikapi hal itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur bersama Badan Usaha Logistik (Bulog) divisi regional Jawa Timur, sudah melakukan operasi pasar cabai murah di sejumlah kota dan kabupaten sejak pekan lalu.?

Namun, operasi pasar ini belum mampu menekan kenaikan harga cabai yang saat ini masih menembus angka 130 ribu rupiah per kilo.

"Sementara ini kami berharap masyarakat bisa menggunakan cabai yang ditanam sendiri atau yang olahan itu. Karena memang cuaca dan pasokannya kurang. Kita sudah berusaha mendatangkan pasokan dari provinsi lain, tapi memang sangat berkurang," kata Wakil Gubernur Jawa Timur, H Saifullah Yusuf disela-sela acara dzikir akbar di Masjid Agung Sidoarjo, Ahad (12/2).?

Operasi pasar tidak bisa menekan harga karena jumlah cabai yang dijual, tidak sebanding dengan kebutuhan cabai masyarakat. Pemprov dan Bulog Jatim juga kesulitan mendapatkan, stok cabai dari para petani dalam jumlah besar.

Hari Santri 2019

Wakil Gubernur Jawa Timur, H Saifullah Yusuf berharap, akan ada panen cabai dari sentra produksi pada bulan Januari ini. "Stoknya yang belum ada, harapan kami Januari dan Februari ini sudah ada panen 7 hektar atau 15 hektar, itu sangat menolong pasokan yang ada," tegas pria yang akrap disapa Gus Ipul itu.

Hari Santri 2019

Ketua PBNU itu juga menyayangkan pemerintah pusat yang tidak segera melakukan impor, pada saat stok cabai lokal anjlok drastis dan harganya meroket. Gus Ipul juga mengimbau ibu-ibu untuk berinisiatif mulai menanam cabai sendiri di rumah.

"Kelangkaan ini masih bisa diatasi, meskipun kenaikannya disamping memberatkan masyarakat dan mempunyai pengaruh inflasi. Kita lagi usaha terus, kita sebenarnya mencukupi, di beberapa tempat ada yang masih 120 ribu, 130 ribu, tapi intinya kita melakukan operasi pasar dan dan memperbanyak stok, membangun kesadaran masyarakat," pungkasnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Pendidikan, Fragmen Hari Santri 2019

Jumat, 01 Desember 2017

Dua Kesebelasan ini Perebutkan Tiket 32 Seri Nasional Zona Sumbar

Jakarta, Hari Santri 2019 - Pertandingan final Liga Santri Nusantara Regional Sumatera IV yang meliputi Sumatera Barat dan Bengkulu akan berlangsung di Stadion Semarak Bengkulu pada 5 Oktober 2016. Pada laga final Regional Sumatera IV ini, tim Pesantren Darul Ulum sebagai pemanang zona Padang bertemu dengan tim Pesantren Hidayatullah sebagai pemenang zona Bengkulu.

Sebelumnya kesebelasan Pesantren Hidayatullah berhasil menyingkirkan kesebelasan Pesantren Darun Naja dalam babak penyisihan di Stadion Semarak Bengkulu dengan skor 1-0, Sabtu (24/9).

Dua Kesebelasan ini Perebutkan Tiket 32 Seri Nasional Zona Sumbar (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Kesebelasan ini Perebutkan Tiket 32 Seri Nasional Zona Sumbar (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Kesebelasan ini Perebutkan Tiket 32 Seri Nasional Zona Sumbar

Sedangkan kesebelasan Pesantren Darul Ulum berhasil lolos ke babak final setelah melakoni pertandingan semi kompetisi pada pertandingan pertama tim Darul Ulum melawan tim kesebelasan Pesantren Tanjung Barulak dengan skor 2-0.

Hari Santri 2019

Pada pertandingan kedua kesebelasan Darul Ulum melawan tim Darul Maruf dengan skor 0-0 dengan menang agregat 1 poin.

Hari Santri 2019

Pertandingan yang berlangsung di lapangan Elang Dirgantara AURI Padang Selasa (27/09) itu berjalan cukup ketat. Kedua tim tampil saling menekan. Namun sampai babak turun minum tidak ada gol terjadi.

Pada babak babak kedua kesebelasan Pesantren Darul Maruf hampir memenangi permainan. Pada menit ke-66 peluang gol terjadi setelah hendrik, pemain depan Darul Maruf lepas dari pengawalan pemain belakang Darul Ulum dengan posisi yang bebas berhadapan dengan kipper. Namun tendangan kerasnya masih dapat ditangkap dengan baik.

Saat peluit panjang dibunyikam bertanda kesebelasan Pesantren Darul Ulum dinyatakan sebagai pemenang. Pendukung fanatiknya langsung memenuhi lapangan dengan meluapkan kegembiraan.

Penanggung jawab Zona Padang Pebby Dato Bangso segera menenangkan massa dengan menginformasikan prosesi penutupan. Juara Zona padang mendapat uang pembinaan sebesar 1.500.000.

"Uang pembinaan ini untuk persiapan melakukan pertandingan final region melawan pemenang Zona Bengkulu," kata Pebby.

Menurut Koordinator Region Sumatera IV Herliando, kesebelasan Pesantren Hidayatullah Bengkulu dan kesebelasan Pesantren Darul Ulum Padang akan bertanding untuk memperebutkan juara Region VI Sumatera Barat.

"Yang dinyatakan sebagai pemenag, akan diutus mengikuti seri LSN nasional," kata Herli. Herli memberikan bocoran bahwa Liga Santri Nusantara seri 32 nasional rencananya akan berlangsung di DI Yogyakarta. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Khutbah Hari Santri 2019

Kamis, 30 November 2017

Manuskrip Matematika Islam Nusantara Karya Syekh Khatib Minangkabau

Ini adalah halaman terakhir dari manuskrip kitab “Raudhah al-Hussâb fî ‘Ilm al-Hisâb” karangan seorang ulama Nusantara asal Minangkabau (Sumatera Barat) yang berkarir sebagai guru besar, imam, dan khatib di Masjidil Haram Makkah, yaitu Syekh Ahmad ibn ‘Abd al-Lathîf ibn ‘Abdullâh al-Mankabâwî al-Jâwî tsumma al-Makkî (dikenal dengan Ahmad Khatib Minangkabau, w. 1916).

“Raudhah al-Hussâb” memuat kajian ilmu hitung atau matematika. Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab. Keberadaan kitab ini menjadi istimewa, karena terbilang sebagai khazanah intelektual Islam Nusantara yang mengkaji ilmu sains, dalam hal ini adalah matematika, yang sangat langka ditemui, karena rata-rata literatur karya ulama Nusantara kebanyakan mengkaji bidang agama.

Manuskrip Matematika Islam Nusantara Karya Syekh Khatib Minangkabau (Sumber Gambar : Nu Online)
Manuskrip Matematika Islam Nusantara Karya Syekh Khatib Minangkabau (Sumber Gambar : Nu Online)

Manuskrip Matematika Islam Nusantara Karya Syekh Khatib Minangkabau

Dalam “Raudhah al-Hussâb”, kepakaran Syekh Ahmad Khatib Minangkabau di bidang ilmu sains tampak dengan sangat jelas. Hal ini sekaligus menegaskan kapasitas intelektual beliau yang ensiklopedis dan lintas disiplin ilmu, yang mampu memadukan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu sains. Dalam bidang sains, selain menulis dalam bidang matematika, Syekh Ahmad Khatib juga menulis dalam bidang astronomi (‘ilm al-falak).

Hari Santri 2019

Syekh Ahmad Khatib juga menulis karya lain dalam bidang ilmu matematika, selain kitab “Raudhah al-Hussâb” ini, yaitu “Ma’âlim al-Hussâb fî ‘Ilm al-Hisâb”, yang ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi).

Manuskrip kitab “Raudhah al-Hussâb” tersimpan di Perpustakaan Makkah al-Mukarramah, KSA, dengan nomor kode (?). Syekh Ahmad Khatib Minangkabau menyelesaikan karya ini pada hari Ahad, 19 Zulkaedah 1307 Hijri (bertepatan dengan 8 Juli 1890 M). Manuskrip tersebut adalah manuskrip salinan, yang ditulis oleh murid Syekh Ahmad Khatib, yaitu Syekh Jâdullâh ibn Muhammad Badawî. Jâdullâh menyalin karya gurunya itu di Makkah pada 15 Shafar 1308 Hijri (25 September 1890 M), atau sekitar dua bulan dari masa pengarangannya.

Hari Santri 2019

Kondisi manuskrip secara umum bagus dan teks (tulisan) di dalamnya dapat dibaca dengan baik. Bahasa pada naskah adalah bahasa Arab yang ditulis dengan aksara model “naskhî”. Tinta yang digunakan berwarna hitam dan merah. Jumlah keseluruhan naskah 134 halaman, minus halaman pertama.

Dalam katalog Perpustakaan Nasional King Fahd, KSA, disebutkan bahwa “Raudhah al-Hussâb” karya Syekh Ahmad Khatib Minangkabau telah dicetak pada tahun 1310 Hijri (1892 M). Kemungkinan karya ini dicetak oleh Maktabah al-Taraqqî al-Mâjidiyyah yang berbasis di Makkah. Teks “Raudhah al-Hussâb” dicetak bersama teks-teks ilmu matematika berbahasa Arab lainnya, yaitu “Syarh Fath al-Rabb al-Bariyyah ‘alâ Matn al-Sakhâwiyyah” karangan Husain Muhammad al-Mahallî (w. 1757 M).

Saya tidak bisa mengutip pembukaan kitab “Raudhah al-Hussâb” dikarenakan halaman pertama manuskrip ini hilang. Yang bisa dilacak dari keterangan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau dalam karyanya ini pada manuskrip ini hanya pada kata penutup. Beliau menulis;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 1307 ? ? ? ? ?

(Aku berkata, aku seorang hamba yang faqir kepada Allah Ta’ala, Ahmad Khatib anak Abdul Lathif Khatib dari Jawi [Nusantara], salah satu pengajar di Masjidil Haram di Makkah, juga salah satu murid dari seorang yang alim allamah dan bahr fahhamah Syekh Sayyid Abu Bakar Syatha, semoga Allah memanjangkan usianya dan memberikan kita manfaat dengan keberkahannya. Bahwa aku telah selesai menulis karya ini, yang dinamakan “Raudhah al-Hussâb fî A’mâl al-Hisâb” pada hari Ahad, tanggal Sembilan belas bulan Zulkaedah tahun 1307 Hijri).

Syekh Ahmad Khatib lalu melanjutkan;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

(Saya berharap dari orang-orang yang menemukan kesalahan di dalam karya ini, atau mendapati keluputan di sana, agar sudi kiranya ia membetulkannya setalah menelitinya dengan seksama, dan agar ia sudi memaklumi uzurku atas kesalahan itu. Karena akupun mengakui akan kedangkalan pemahamanku dan sedikitnya penguasaanku dalam bidang ini, juga dalam bidang-bidang keilmuan lainnya. Sesungguhnya yang memberanikan diriku untuk menulis dalam bidang yang agung ini, meskipun aku bukan seorang yang ahli di dalamnya, adalah harapanku yang besar akan pengampunan dan pemaafan dari Tuhanku, seraya aku terus berjalan di atas jalur para ahli keutamaan dan ilmu pengetahuan).

Bidang keilmuan sains (matematika dan astronomi) yang dikuasai oleh Syekh Ahmad Khatib pun “menurun” kepada beberapa muridnya dari Nusantara, di antaranya adalah Syekh Ahmad Dahlan Falak (Tremas lalu Semarang, adik kandung Syekh Mahfuzh Tremas dan menantu Kiai Soleh Darat Semarang), Syekh Ahmad Dahlan Darwis (pendiri Muhammadiyyah), Syekh Thahir Jalaluddin Falak (Minangkabau lalu Singapura), Haji Rosul (Abdul Karim Amrullah, ayah HAMKA), dan lain-lain. (A. Ginanjar Sya’ban)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Quote, Makam, Ubudiyah Hari Santri 2019

Minggu, 26 November 2017

Hukum Baca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas 7 Kali Setelah Jumatan

Assalamu’alaikum wr. wb

Redaksi Bahtsul Masail Hari Santri 2019 yang terhormat. Langsung saja, saya mau menanyakan tentang hukum membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas setelah shalat Jumat sampai tujuh kali dan apa fadhilahnya? Mohon penjelasannya sesegera mungkin. Terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Taufik/Makassar)

Jawaban

Hukum Baca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas 7 Kali Setelah Jumatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Baca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas 7 Kali Setelah Jumatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Baca Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas 7 Kali Setelah Jumatan

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Hari Jumat merupakan sayyidul ayyam (penghulu hari), hari di mana kaum muslimin yang berkumpul bersama di masjid untuk menjalankan shalat Jumat. Karena itu hari Jumat merupakan salah satu hari raya umat Islam. Pada hari itu kita dianjurkan untuk memperbanyak pelbagai kebajikan seperti sedekah dan lain-lain.

Hari Santri 2019

Sedangkan mengenai hukum membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Nas setelah imam salam sebanyak tujuh kali menurut para ulama dari kalangan madzhab Syafi’i adalah sunah.

Kesunahan ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan al-Hafizh al-Mundziri dari Anas bin Malik RA. Hal ini sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab Tuhfatul Habib karya Sulaiman al-Bujairimi.

Hari Santri 2019

? ? ? ? ? ? ? ? :? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Al-Hafizh al-Mundziri meriwayatkan dari Anas RA bahwa Nabi SAW bersabda, ‘Barang siapa yang membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlash, Al-Falaq dan surat An-Nas (al-mu`awwidzatain) masing-masing sebanyak tujuh kali ketika imam selesai membaca salam shalat Jumat, sebelum melipat kakinya, Allah akan mengampuni dosanya yang lalu dan sekarang, dan diberi pahala sebanyak orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,” (Lihat Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khathib, Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyah, cet ke-1, 1417 H/1996 M, juz, II, h. 422).

Hadits yang dikemukakan di atas dengan sangat gamblang menunjukkan bahwa membaca surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing tujuh kali setelah shalat Jumat memiliki keutamaan yang sangat luar biasa, yaitu bisa menjadi sebab turunnya ampunan Allah SWT. Bahkan selain ampunan, Allah juga memberikan pahala besar bagi orang yang melakukannya. Dari sini lah kemudian kesunahan atau ajuran membaca surat-surat tersebut setelah shalat Jumat dapat dimengerti.

Lebih lanjut Sulaiman al-Bujairimi juga mengutip hadits lain yang diriwayatkan Ibnus Sunni dari hadits riwayat Aisyah RA.

? ? ? ? ? ? ? ? ? : ( ? ? ? ? ? ) ? ? ? ? (?) ? ? ? ? (?) ? ? ? ? (?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Ibnus Sunni meriwayatkan dari hadits riwayat Aisyah ra bahwa Nabi saw bersabda: ‘Barang siapa yang membaca surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing tujuh kali, maka Allah akan melindunginya dari kejelekan sampai hari Jumat yang lain,” (Lihat Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib ‘ala Syarh al-Khathib, juz, II, h. 422)

Lebih jauh, Sulaiman al-Bujairimi mengemukakan pendapat Abu Thalib al-Makki—seorang sufi besar, penulis kitab Qutul Qulub fi Mu’amalah al-Mahbub—yang menganjuran membaca ‘Ya ghaniyyu ya hamid, ya mubdi’u ya mu’id, ya rahimu ya wadud, aghnini bi halalika ‘an haramika wa bi tha’athika ‘an ma’shiyatika wa bi fadhlika ‘amman siwaka’, setelah shalat Jumat sebanyak empat kali.

? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Abu Thalib al-Makki berkata, ‘Dan dianjurkan bagi orang yang telah selesai melaksanakan shalat Jumat untuk membaca ‘Ya ghaniyyu ya hamid, ya mubdi`u ya mu’id, ya rahimu ya wadudu, aghnini bi halalika ‘an haramika wa bi tha’athika ‘an ma’shiyatika wa bi fadhlika ‘amman siwaka’, sebanyak empat kali,” (Lihat Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khathib, juz, II, h. 422).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Perbanyak lah amal kebajikan dan dzikir pada hari Jumat karena memiliki keutamaan yang agung dan bermanfaat kelak di akhirat. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu’alaikum wr. wb


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, Makam, RMI NU Hari Santri 2019

Minggu, 19 November 2017

Pesantren Maritim, Belajar Agama Sekaligus Jaga Batas Negara

Jakarta, Hari Santri 2019. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Mohsen mengatakan, pondok pesantren mempunyai andil besar dalam menjaga wilayah perbatasan dan kepulauan serta bahari.

“Saatnya pesantren maritim menunjukkan eksistensinya di republik ini,” kata Mohsen kepada wartawan di Jakarta, Rabu (11/5) seperti dilansir oleh situs kemenag.go.id. ? Menurut dia, Kemenag kini sedang mengembangkan ? pesantren kemaritiman.

Pesantren Maritim, Belajar Agama Sekaligus Jaga Batas Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Maritim, Belajar Agama Sekaligus Jaga Batas Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Maritim, Belajar Agama Sekaligus Jaga Batas Negara

Dikatakan Mohsen, pesantren menjadi salah satu opsi bagi orang tua untuk menyekolahkan anaknya agar lebih paham ilmu agama Islam. Kini, pesantren tak hanya menawarkan pendidikan agama namun sedang dikembangkan untuk pesantren kemaritiman.

Hari Santri 2019

“Penyelenggaran pesantren merupakan respon pemerintah pada pembangunan nasional. Pesantren maritim ini juga membangun masyarakat terpinggir, terpencil, yang berada di kepulauan,” ujarnya.

Saat ini ada sekitar 80 pesantren yang akan difokuskan ke bidang kemaritiman. Hal ini dinilainya sejalan dengan konsep nawacita yang diusung Presiden Jokowi untuk me?nonjolkan Kelautan Indonesia di mata dunia.

Hari Santri 2019

“Laut juga penting bagi kebangsaan. Ini sesuai dengan nawacita presiden yang mengutamakan kedaulatan di laut. Ada tol laut yang akan dikembangkan dan sebagainya. Inilah argumen mengapa kita mengajukan bahari penting untuk ditonjolkan,” lanjutnya.

Peluncuran program pemberdayaan ekonomi umat melalui pondok pesantren ini akan dilakukan 18 Mei nanti di Palu, Sulteng. Program ini terkait dengan program Sail Tomini yang akan dilaksanakan September mendatang di Sulteng.

Di wilayah ini ? sudah ada 20 pesantren yang akan dibuat menjadi pesantren maritim, salah satunya di kabupaten Parimo, Sulteng.

Selain Parimo, ada juga pesantren di daerah Karimunjawa, Jepara dan kecamatan Bonang, Demak, Jawa Tengah. Ada juga pesantren di wilayah Kep. Riau, Kalimantan dan Sulawesi Selatan. Sebagian besar jenjang pesantren ini adalah MI/MTS Aliyah.

Dijelaskan Mohsen, konsep pembelajaran kemaritiman ini akan sejalan dengan pembelajaran agama di pesantren tersebut. Saat ini, pihaknya terus menyempurnakan konsep pembelajaran yang juga disesuaikan dengan konsep pelajaran kemaritiman di Kementerian Kelautan Perikanan (KKP).

Adanya spesifikasi pesantren seperti ini diharapkannya bisa membuat santri pesantren lebih banyak bergelut dengan hal-hal kemasyarakatan. “Di sinilah fungsi dan peran strategis pondok pesantren yang diharapkan perannya menjadi mitra pemerintah dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan,” jelas Mohsen.

Menurut Direktur Pendidikan Tinggi Islam Amsal Bachtiar, maritim tidak bisa dilepaskan dari proses penyebaran agama di Indonesia, karena negara kita sebagai negara kelautan. Untuk itu pihaknya berencana akan membuka kajian kebaharian di perguruan tinggi keagamaan.(mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News, Makam, Kiai Hari Santri 2019

Rabu, 15 November 2017

Full Day School Tinggalkan Semangat Multikultural

Oleh Irham Yuwanamu

Selepas hari libur Lebaran ini topik full day school (FDS)—sekolah 5 hari dan 8 jam perhari—makin hangat diperdebatkan. Pasalnya, hingga kini belum ada titik temu antara pemerintah dan masyarakat yang kontra.

Full Day School Tinggalkan Semangat Multikultural (Sumber Gambar : Nu Online)
Full Day School Tinggalkan Semangat Multikultural (Sumber Gambar : Nu Online)

Full Day School Tinggalkan Semangat Multikultural

Sejak awal terlontarkan pada tahun 2016 ide ini sudah menuai kritik dan penolakan dari masyarakat. Walupun begitu pemerintah melalui Mendikbud tetap ingin menerapkan ide tersebut dengan membuat Permendikbud nomor 23 tahun 2017 tentang hari sekolah. Kritik dan penolakan pun datang dari berbagai pihak.

Karena kontroversi yang sangat keras, Presiden Jokowi akhirnya membatalkan Permendikbud itu, dan akan dikaji ulang. Menurut Mendikbud, FDS akan diperlakukan melalui aturan yang lebih tinggi melalui Perpres.

Hari Santri 2019



Akar Masalah


Hari Santri 2019

Mendikbud keukeuh untuk menerapkan ide yang digagasnya sejak awal menjadi menteri pendidikan tanpa mempertimbangkan aspirasi yang ada. Keributan di luar dianggap angin lalu. Sebenarnya apa argumentasi yang paling mendasar dari Mendikbud ini? Mencermati dari Permendikbud nomor 23 itu tujuannya untuk menghadapi era globalisasi dengan penguatan karakter dengan restorasi pendidikan karakter. Untuk itu alternatifnya adalah waktu sekolah dibuat 5 hari dan perharinya 8 jam.

?

Sebelumnya tak terdengar ada kajian yang mendalam tentang bentuk restorasi pendidikan karakter yang tepat seperti apa, kemudian mengapa solusinya FDS, apa hubungannya. Dugaan penulis jangan jangan ini masih sebatas asumsi Mendikbud bahwa FDS sebagai jawaban tepat.

Mendikbud tak melihat kesiapan di bawah seperti apa. Faktanya banyak forum guru dan orang tua murid menolak, warga NU protes keras yang secara resmi disampaikan oleh PBNU, dan juga MUI dengan berbagai alasan yang mendasar. Ini menunjukkan ketergesaan Mendikbud dan abai atas aspirasi rakyat. Kebijakan tanpa melihat aspirasi dari bawah yang niatnya baik bisa menjadi tidak baik hasilnya. Mengapa fakta dari bawah tidak diindahkan.

Persoalan karakter sudah menjadi sorotan oleh menteri pendidikan sebelum era Presiden Jokowi, yaitu pada saat Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang menteri pendidikannya waktu itu pak Nuh. Dengan berbagai kajian yang dilakukan terwujudlah kurikulum 2013 (K-13) sebagai kurikulum yang terintegrasi dan berbasis karakter. Tentu kurikulum ini disertai kritik tajam dari masyarakat dan para pakar. Kurikulum ini pun nasibnya belum jelas karena sebelum diimplementasikan sepenuhnya sudah diberhentikan. Namun begitu, pendidikan di lingkungan Kemenag saat ini telah menerapkan K-13. Artinya penguatan karakter melalui kurikulum pendidikan belum rampung sudah beralih pada penentuan hari sekolah.

Kemudian tepatkah FDS untuk? penguatan karakter? Pertanyaan ini perlu dilontarkan, mengingat klausul utama dalam Permendikbud itu adalah penguatan karakter dan jawabannya tidaklah cukup berangkat dari asumsi, tetapi harus dari hasil riset yang mendalam.

Asumsi FDS adalah membatasi jam main anak di luar kontrol orang tua sepulang sekolah. Dengan demikian agar anak didik terjaga di sekolah dan karakternya menjadi baik. Benarkah demikian! Apakah kalau tidak FDS anak didik merosot karakternya, jangan jangan hanya kasuistik saja hal itu terjadi. Ini butuh kajian lapangan yang serius.

Setelah presiden Jokowi meminta agar permendikbud dibatalkan dan dikaji kembali, Mendikbud menjelaskan sebenarnya ide sekolah 8 jam sehari berawal dari problem tunjangan guru (detik, 8/6). Jika Hal ini benar,? maka Permendikbud yang lahir tersebut atau yang akan dibuat perpres tak jelas landasan dasarnya untuk penguatan karakter.

Pengelolaan pendidikan tidak boleh asal, sebab pendidikan sebagai strategi membangun peradaban dan kebudayaan bangsa. Dari pendidikan juga sosio-kultural terbentuk. Jadi dampaknya ini sangat besar, apakah sudah diperhitungkan semua itu?



Kebijakan Multikultural


Indonesia adalah negara yang berbhineka. Tidak Indonesia kalau tak beragam dan majemuk. Untuk mengatasi persoalan pendidikan nasional di Indonesia khususnya tentang FDS, kebijakan yang menghargai perbedaan dan kemajemukan lah yang bisa menjadi solusi.

Sejarah era orde baru dapat menjadi pelajaran penting. Kebijakan yang sifatnya terpusat, dari atas ke bawah tanpa melihat keragaman dan perbedaan yang ada, terbukti gagal. Indonesia yang berbhineka alias multikultural tidak bisa disamaratakan. Di era reformasi jangan sampai kembali pada masa kelam.

Kebijakan multikultural dalam pendidikan nasional perlu diterapkan. Kebijakan yang seperti ini yang menghargai keragaman dan kemajemukan yang tepat untuk Indonesia. Kontroversi tentang kebijakan FDS hemat saya karena tidak melihat aspirasi masyarakat dan tak berdasar dari riset yang kuat. Sementara masyarakat ada yang pro dan kontra karena kebutuhan dan konteks sosial yang berbeda. Mungkin bagi masyarakat perkotaan dengan kondisi orang tua murid yang sibuk bekerja akan setuju, walaupun tidak semuanya. Dan ini berbeda pada kondisi yang ada di daerah. Situasi pendidikan yang masih kurang memadai baik sarana prasarana maupun SDM-nya juga menjadi salah satu faktornya. Belum lagi tradisi lainnya seperti adanya sekolah sore (sekolah ngaji). Mendikbud setidaknya mengajak bicara pada semua kalangan yang memiliki kepentingan. Dengan seperti ini akan tahu aspirasi yang disampaikan yang berbeda-beda pula.

Perbedaan yang ada itu perlu diperhatikan sehingga kebijakan yang ditetapkannya tidak harus seragam tapi dapat beragam sesuai konteks masalah yang dihadapi. Inilah semangat dari UU Sisdiknas tahun 2003 yaitu otonomi pendidikan. Jika FDS masih diberlakukan dengan pendekatan seragam dari atas ke bawah, ini bertentangan dengan UU Sisdiknas tersebut, alih-alih untuk meningkatkan moralitas, malah bisa-bisa membuat karakter anak makin merosot karena kebijakan yang tanpa didukung dengan riset yang mendalam.

Kebijakan multikultural dapat diberlakukan pada kurikulum, sistem evaluasi, dan yang terkait dengan pendidikan. Semestinya hal-hal yang seperti ini diurus oleh organisasi profesi keguruan yang merupakan ahlinya. Level kementerian mengurus yang sifatnya besar-besar saja misalnya soal pendanaan, dan pengembangan SDM. Dengan seperti ini proyek pendidikan dengan visi ke depan jangka panjang tetap terjaga. Sementara ini visi pendidikan nasional kita masih jangka pendek, ganti menteri ganti kebijakan. Kapan unggulnya?

Penulis adalah dosen FAI UNISMA Bekasi, dan UNU Indonesia serta peneliti di Pusat Riset Pendidikan Indonesia



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kiai, Pahlawan, Makam Hari Santri 2019

Sabtu, 11 November 2017

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan

Tidak terasa, sudah dua tahun lebih kita ditinggalkan sosok kiai kharismatik, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh. Selasa (17/5), suasana kawasan Mergosono Kota Malang tampak ramai dengan ‘luberan’ jamaah yang hadir di acara Haul Masayikh dan Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Nurul Huda. Kiai Masduqi, demikian ia biasa disapa, wafat pada 1 Maret 2014 sebelum purna tugas sebagai Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015.

Kiai yang lahir di Desa Saripan (Syarifan) Jepara, Jawa Tengah pada 1 Juli 1935 ini dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana namun sangat dermawan. Ketika ada pedagang keliling, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono ini biasanya membeli dagangannya, meski tidak membutuhkan. Hal ini dilakukan semata-mata agar pedagang tersebut senang mendapatkan rezeki untuk keluarganya.

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan

Tak hanya peduli dengan orang lain, Kiai Masduqi juga termasuk orang yang sangat berhati-hati (wira’i) dan sangat teguh pada syariat Islam. “Abah itu hidupnya sangat sederhana, tapi punya sifat loman (dermawan). Beliau memang lebih mengutamakan orang lain. Selain itu, beliau sangat berpegang teguh pada syariat Islam. Mantan Rais Syuriyah PBNU ini dikenal anti menggunakan dan menerima uang yang tidak jelas sumbernya atau uang syubhat,” tutur Gus Isroqunnajah tentang sosok abahnya, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh, saat ditemui penulis, beberapa waktu lalu.

Dilahirkan dari keluarga yang kokoh dan fanatik terhadap ajaran agama, Kiai Masduqi kecil dikenal sebagai pribadi anak yang mandiri. Hal ini tidak lepas dari didikan kedua orang tuanya, Kiai Machfudh dan Nyai Chafsoh. Tidak heran, karena bila ditelusuri dari nasab ibunya, mantan Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini masih dalam garis keturunan seorang waliyullah, Syaikh Abdullah al-Asyik bin Muhammad. Yakni, jogoboyo dari kerajaan Mataram. Alkisah, salah satu keampuhan Syaikh Abdullah al-Asyik adalah setiap ada marabahaya yang akan mengancam kerajaan, beliau memukul bedug untuk mengingatkan penduduk. Meski cukup dari rumahnya, suara bedug ini terdengar ke seantero kerajaan Mataram.

Hari Santri 2019

KH Masduqi Machfudz dikenal sebagai sosok sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Corak kehidupan keluarga sama sekali jauh dari citra kemewahan. Kesederhanaan yang sudah dibiasakan Kiai Machfudh ayahnya, sangat membias pada keluarga Kiai Masduqi. Terlebih sejak kecil, kiai yang juga sahabat dekat presiden RI ke-4 Gus Dur ini, sangat gigih dalam menekuni bidang keilmuan terutama ilmu agama. Salah satu prinsip hidupnya adalah kalau kita sudah meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan dunia pun akan tercapai.

Hari Santri 2019

Karena ayah dan ibunya sangat religius, sehingga sikap dan pandangan hidupnya juga ala santri. Kiai Masduqi kecil sebenarnya tidak diperbolehkan oleh sang ayah untuk belajar di sekolah umum, cukup di pesantren saja. Tetapi larangan itu tidak mematahkan semangat Kiai Masduqi mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan secara komprehensif. Bahkan, dengan semangat yang berapi-api, Kiai Masduqi menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri.? Kiai yang memiliki 9 anak ini menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan lain untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Hal ini dilakukannya selama bertahun-tahun, mulai 1945 ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Jepara yang diasuh Kiai Abdul Qodir, hingga? saat sudah menjadi santri di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Ketika menuntut ilmu di pesantren, Kiai yang juga mantan Ketua MUI Jatim ini memang terlihat kapasitas keilmuan yang melebihi santri-santri lain seusianya. Mulai dari dari ilmu nahwu, sharaf, fiqih, tauhid dan ilmu lainnya. Hal ini juga diakui oleh Sang Guru ketika mondok di Krapyak, KH. Ali Ma’shum. Berbeda dengan santri-santri lain yang membutuhkan waktu hingga belasan tahun, namun Kiai Masduqi hanya perlu 3 tahun untuk menguasai semua bidang keilmuan tersebut.

Sejak lulus dari Krapyak, tahun 1957 Kiai Masduqi mulai mengajar di berbagai sekolah di Tenggarong, Samarinda dan Tarakan Kalimantan. Kemudian 1964 melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang (sekarang UIN Maliki), sekaligus sebagai dosen Qiroatul Qutub, bahasa Arab, akhlak dan tasawuf. Di tengah kesibukan sebagai dosen dan pengasuh pesantren, kiai yang juga ayah dari Direktur Ma’had Sunan Ampel Aly KH. Dr Isroqunnajah ini masih sempat melayani pengajian di berbagai masjid di daerah Jawa Timur, terutama yang sulit dijangkau oleh kebanyakan dai, mubaligh dan kiai lainnya.

Pesantren Nurul Huda yang dirintis Kiai Masduqi, bermula dari mushala kecil yang berada di Mergosono gang III B. Mushala yang sebelumnya sepi oleh aktivitas ibadah ini mulai digalakkan sejak Kiai Masduqi berdomisili di daerah tersebut. Karena keahliannya dakwah, banyak mahasiswa yang akhirnya nyantri kepadanya hingga mushala kecil tersebut berubah menjadi pesantren sesungguhnya.

Uniknya, dalam pendirian pesantren yang saat ini berlantai tiga itu, KH. Masduqie Machfudh belum pernah meminta sumbangan dari masyarakat sedikitpun. Kiai yang masih memiliki ikatan saudara dengan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) ini hanya mengandalkan amalan shalawat sebanyak sepuluh ribu kali. Dengan berkah shalawat itulah, Kiai Masduqi berharap kepada Allah SWT untuk pesantren dan keselamatan keluarganya. Terbukti, sekarang Pondok Pesantren Nurul Huda bisa berdiri megah. (Baca juga: Kisah Keajaiban Shalawat yang Dialami Kiai Masduqie Machfudh)

Kiai yang terkenal sangat teguh prinsip ini merupakan salah satu ulama yang mumpuni dalam memberikan materi dalam tiap mauidhohnya. Bukan hanya ilmu agama, namun juga pemahamannya terkait masalah teknologi, sosial dan budaya. Sehingga, audiensnya pun merasa puas karena cara penyampaiannya mengikuti tingkat kemampuan jamaahnya. Tidak heran, banyak santrinya yang sekarang menjadi kiai besar panutan umat. Di antaranya, KH Marzuki Mustamar (Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim/Imam Besar Densus 26), KH Chamzawi (Rais Syuriyah PCNU Kota Malang), KH. Dahlan Thamrin (Mantan Ketua PCNU Kota Malang), Prof Dr Ali Shidiqie (Mantan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi RI), Prof Dr KH. Khusnul Ridho (mantan ketua STAIN Jember), Dr Habib MA (dosen senior Universitas Muhammadiyah Malang), KH. Dr Muzakki MA (Tanfidziah PCNU Kota Malang), dan Kiai Abdullah Syam (Pendiri Pesantren Rakyat, Posdaya).



Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Internasional, Makam, Halaqoh Hari Santri 2019

Selasa, 07 November 2017

Andik Vermansyah Anak NU Senang Bersosialisasi

Jember, Hari Santri 2019 - Nama Andik Vermansyah belakangan? kian meroket seiring penampilannya yang impressif di piala AFF 2016. Tapi siapakah lelaki bertubuh mungil itu? Ternyata anak dari pasangan Saman dan Jumiati tersebut adalah orang Jember. Rumahnya terletak di Desa Semboro, Kecamatan Semboro, 50 kilometer ke arah barat daya kota Jember.

“Ibunya cukup aktif di pengajian muslimat NU. Bu Jum selalu datang di pengajian atau acara muslimat NU,” ujar Sekretaris Ranting Muslimat NU Semboro, Sri Mustofiah kepada Hari Santri 2019 melalui sambungan telepon seluler, Jumat (16/12).

Menurut Mustofiah, dari sisi ekonomi, orang tua Andik tergolong sederhana. Pekerjaannya adalah buruh tani. Namun beberapa tahun terakhir ini, keluarga Andik tinggal di Surabaya. Sedangkan rumahnya di Semboro ditempati mbah-nya. Meski tinggal di Surabaya, namun dalam moment-moment tertentu, Andik pulang ke Semboro dan bersosialiasi dengan masyarakat sebagaimana biasa.

Andik Vermansyah Anak NU Senang Bersosialisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Andik Vermansyah Anak NU Senang Bersosialisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Andik Vermansyah Anak NU Senang Bersosialisasi

“Kalau pulang, Andik selalu main-main ke teman-temannya dan masyarakat. Sekarang bapaknya sudah dihajikan oleh Andik,” lanjutnya.

Selain Andik, punggawa tim nasional (timnas) Indonesia di piala AFF asal Jember adalah Bayu Gatra Sanggiawan. Lajang ini memang belum pernah diturunkan selama piala AFF berlangsung. Namun jam terbangnya sebagai pemain tim nasional sudah cukup tinggi. Bayu adalah anak dari pasangan Untung dan Khofifah, warga Ledokombo, sekitar 20 kilometer ke arah timur laut kota Jember.

“Ibu dan bapaknya sama-sama aktif di NU. Bahkan sering kalau Bayu mau tanding di event tertentu, ayahnya minta ia didoakan,” tukas Ketua Ranting Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, Nur Fadilah kepada Hari Santri 2019 melalui sambungan telepon seluler.

Hari Santri 2019

Andik dipastikan absen di leg 2 final piala AFF karena cedera otot. Namun capaian timnas Indonesia hingga mencapai final, tak lepas dari kontribusi Andik. Gerakannya lincah dengan kecepatan lari yang mumpuni, dan tak jarang tiba-tiba merangsek ke kotak pinalti lawan, itulah ciri khas Andik. (aryudi a. razaq/abdullah alawi)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Sejarah Hari Santri 2019

Sabtu, 04 November 2017

Lagi, PBNU Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2017 di Jepang

Jakarta, Hari Santri 2019. Pemerintah Jepang melalui kedutaan besarnya kembali menggelar pertukaran pelajar dalam Program Jenesys 2017. Program serupa sebelumnya dilakukan tahun 2016 lalu.

Para pelajar dan pemuda NU kembali mendapatkan kesempatan program yang bertujuan memperkuat kebudayaan masing-masing negara selain hubungan diplomatik di bidang pendidikan.

Lagi, PBNU Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2017 di Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, PBNU Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2017 di Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, PBNU Lepas Delegasi NU untuk Program Jenesys 2017 di Jepang

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA. Helmy Faishal Zaini melapas perwakilan atau delegasi NU untuk mengikuti program tersebut. Helmy berharap, anal-anak muda NU dapat mengambil banyak ilmu dan pengalaman selama sepekan di Jepang.

“Saya berharap delegasi yang berangkat mendapatkan banyak ilmu dan belajar dari cara Jepang memajukan negara, baik dari sisi kedisiplinan, perkembangan teknologi, dan transportasi umum di sana,” ujar Helmy, Senin (2/10) saat melepas delegasi NU di Gedung PBNU Jakarta.

Hari Santri 2019

Helmy menjelaskan, program pertukaran ini sebetulnya sudah dirintis ketika dirinya aktif sebagai pelajar NU tahun 1997 silam. Setelah itu program ini belum berlanjut lagi untuk perwakilan pelajar dan anak muda NU.

“Sebagai calon para pemimpin, anak-anak muda NU harus mempunyai wawasan yang luas, baik nasional maupun internasional. Program ini sangat baik sebagai langkah meningkatkan kapasitas diri dari people to people dengan negara lain,” jelas pria kelahiran Cirebon ini.

Di antara pihak-pihak yang mengikuti program Jenesys 2017 ini yaitu dari unsur IPNU dan IPPNU, pesantren, dan para dai muda. Rombongan delegasi NU dipimpin oleh Ustadz Bukhori Muslim, salah satu pengurus di LDNU.

Hari Santri 2019

Dalam sepekan menjalani program tersebut, para delegasi NU akan mengunjungi tiga kota di Jepang salah satunya Tokyo. Mereka mulai berangkat pada Senin (2/10) hingga pada akhir kegiatan pada Selasa (10/10). (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Berita, Makam Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock