Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Januari 2018

Refleksi Utuh Sesepuh dan Sejarawan NU

Judul Buku : NU dalam Perspektif Sejarah & Ajaran (Refleksi 65 tahun ikut NU)

Penulis : KH. Abdul Muchith Muzadi

Penerbit : Khalista Surabaya

Edisi : 2006

Refleksi Utuh Sesepuh dan Sejarawan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Refleksi Utuh Sesepuh dan Sejarawan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Refleksi Utuh Sesepuh dan Sejarawan NU

Tebal : 173 + x halaman

Peresensi : Rijal Mumazziq Z (Alumnus PP. Mabdaul Maarif Jember)



Hari Santri 2019

DALAM satu kesempatan (yang dinukil kembali dalam salah satu halaman buku ini), KH. Abdul Muchith Muzadi melontarkan parikena yang cukup mengundang senyum namun juga telak menyindir warga NU: “Justru karena besarnya jumlah anggota pengikut, maka NU tidak dapat bergerak maju dengan cepat.”

Itulah sekilas ungkapan khas Kiai Muchith dalam menyampaikan kritikannya, melalui humor cerdas namun telak menyindir obyek kritikan. Begitu pula saat Kiai sepuh ini menyampaikan gagasan-gagasannya, adakalanya dilontarkan dengan gaya parikena, melalui kiasan, maupun secara reflektif-konstruktif, baik melalui lisan maupun tulisan.

Hari Santri 2019

Model penyampaian ide Kiai Muchit seperti amsal di atas, dapat ditemui dalam buku “NU dalam Perspektif Sejarah & Ajaran; (refleksi 65 tahun Ikut NU)”, yang merefleksikan pengalaman kiai Muchith selama 65 tahun mengabdi NU. Salah seorang Mustasyar PBNU ini cukup sistemastis dalam mengolah dan menyajikan beberapa pokok pemikirannya.

Kakak kandung Ketua Umum PBNU ini membagi rangkaian tulisannya ke dalam dua bab; Memahami NU Lebih Utuh serta Sinergi Ajaran dan Pemahaman Agama. Sebagai “Sejarawan NU”, Mbah Muchith tampak begitu mahir dalam mengolah benak pembaca menerobos ruang dan waktu sejarah yang memayungi NU. Adapun sebagai “Sesepuh NU”, Mbah Muchith begitu semangat mengupas jatidiri dan esensi NU. Inilah yang menyebabkan buku ini layak dilahap dengan pikiran cerdas dalam memahami jeroan NU.

Selama 65 tahun bergabung NU, kiai asal Jember ini mengalami pahit-manisnya bersama NU sejak zaman penjajahan Belanda, Jepang, Revolusi fisik, Orde Baru hingga Reformasi. Sebuah pengalaman berharga yang banyak mempengaruhi pemikiran kiai kelahiran Tuban ini saat mengemukakan gagasannya. Sebagai salah satu tokoh NU yang dituakan, beliau terlihat cukup rancak dan luwes “menjaga gawang NU”, baik saat digoyang maupun saat NU dalam posisi mapan.

Pendidikan dan pengalaman berorganisasi kaum nahdliyyin masih sangat minim. Sebagai ormas terbesar di Indonesia alangkah eman-nya jika NU tidak mampu mempengaruhi corak dan arah pendidikan Indonesia. Organisasi yang secara kuantitatif menjadi mayoritas, namun belum mampu menjadi kekuatan dominan, secara kualitatif. Begitulah salah satu kritiknya.

Kritik yang dilontarkan Kiai Muchith, tentunya merupakan salah satu wujud kecintaan beliau pada NU. Sebab, sebagai ormas yang memiliki basis massa kuat, NU seharusnya malu jika kuantitasnya tidak diiringi dengan kualitas yang bagus. Atau saat Kiai Muchith mencermati proses kaderisasi di NU, beliau cukup prihatin. Mengapa sebagai ormas yang sudah menapak usia 80 tahun, NU masih amburadul, dari segi administrasi-organisasi. Lebih lanjut, beliau menyebut bahwa kebiasaan ber-paguyuban di kalangan pengurus NU, tidak berorganisasi secara tertib, disiplin dan profesional merupakan beberapa faktor penghambat keprofesionalan jamiyyah NU. Hingga kemudian kebiasaan ini mendarah daging di kalangan NU, salah satu sebabnya adalah “warga yang diurus” terlalu banyak, namun yang “mengurusi” terlalu minim.

Sebagai sesepuh, Kiai Muchith cukup apresiatif saat mengemukakan ide bahwa NU jam’iyyah (organisasi) dan NU jamaah (warga nahdliyyin) haruslah terjadi proses interaksi yang cukup berimbang. Sebab, keduanya adalah kekuatan riil NU. NU jam’iyyah tanpa NU jamaah adalah impossible. Namun, jamaah NU tanpa jamiyyah NU akan menjadi golongan manusia yang dapat diombang-ambingkan kelompok lain. Bagaimana kemudian mengatur dan mengawinkan kedua wajah NU tersebut, tentu membutuhkan semangat, tekad dan kerja keras dari seluruh warga NU.

Saat membahas butir khittah 1926, Kiai Muchith menyentil kelahiran PKB, yang kemudian memunculkan interpretasi baru atas khittah, terutama terkait dengan butir 8 alinea 6 naskah Khittah NU, yaitu “NU sebagai jamiyyah, secara organisatoris tidak terikat dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan yang manapun juga.” Nah, inilah yang kemudian menimbulkan kekhawatiran dan pro-kontra dari kalangan nahdliyyin sendiri. Apakah NU harus terseret ke politik praktis lagi? Bagaimana kedudukan PKB di tubuh NU? Apakah malah tidak merugikan gerak NU sendiri? Apakah tidak “menghianati” khittah 1926 itu sendiri? Semua jawaban dirangkai dengan bahasa cukup arif dan sederhana oleh Kiai Muchith dalam buku ini.Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Ulama, Aswaja Hari Santri 2019

Jumat, 26 Januari 2018

KMNU Unila Punya Ketua Baru

Bandarlampung, Hari Santri 2019

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Lampung (Unila) secara resmi memilih Ahmad Nur Fuadi sebagai ketua baru periode 2016-2017 dalam Musyawarah Anggota yang digelar di Kantor Kesekretariatan KMNU Unila, Bandarlampung, Lampung.



KMNU Unila Punya Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU Unila Punya Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU Unila Punya Ketua Baru



Fuad, begitu ia biasa dipanggil, menggantikan ketua periode sebelumnya, Ahmad Saroji El-Shirozy. Fuad adalah mantan Kepala Departemen SKD KMNU Unila.?



Hari Santri 2019



Setelah terpilih menjadi Ketua Umum pada Ahad (17/01/16) malam itu, Fuad menyatakan bahwa amanah yang diembannya sangat berat. Mahasiswa FKIP Unila Jurusan Fisika ini berharap bisa menunaikannya dengan baik. Ia mendasarkan niatnya pada usaha mencari ridha Allah, bentuk cinta kepada Nabi Muhammad, serta cinta terhadap tanah air NKRI.





Hari Santri 2019

Pemuda berkacamata yang merupakan alumni MAN 1 Pringsewu ini meyakini bahwa berorganisasi, lebih-lebih di KMNU, merupakan sebuah cara lain untuk mencari Ilmu dan pengalaman yang tidak didapatkan di pelajaran atau materi kuliah.?





"Berorganisasi itu cari ilmu dengan aktif di organisasi. Kalau berorganisasi di KMNU insyallah tidak cuma ilmu yang didapat. Kalau aktif dan ikhlas berkhidmah maka kita juga akan dapat barokah doanya para ulama, masyayikh, dan muasis NU," ungkapnya. (Muhammad Faizin/Mahbib). Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, Tokoh, Pesantren Hari Santri 2019

Sabtu, 20 Januari 2018

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan

Jombang, Hari Santri 2019 - Pengurus Fatayat NU Kabupaten Jombang membahas sejumlah masalah perempuan yang berkembang di kota santri ini. Mereka berupaya keras untuk menyelesaikan sejumlah masalah seperti KDRT, meningkatnya perceraian, narkoba, HIV/AIDS, pendidikan dan pengembangan perekonomian perempuan.

Ketua Fatayat NU Jombang Ema Umiyyatul Chusnah mengatakan, sejumlah persoalan itu kini sudah menjadi bahan kajian bersama pengurus Fatayat NU Jombang. Sehingga sebagian besar persoalan tersebut dapat diatasi dengan baik.

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan

Terkait persoalan HIV/AIDS atau kesehatan, pihaknya telah melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada warga setempat terutama pada ibu-ibu dan remaja. Mereka diajak untuk mengetahui bahaya penyakit HIV/AIDS dan pentingnya menjaga kesehatan.

Hari Santri 2019

Demikian juga pada persoalan pendidikan. Mereka telah menyiapkan kelompok khusus untuk melakukan pengembangan kapasitas SDM para guru dengan giat pelatihan-pelatihan. Kelompok ini mencoba mengentaskan buta aksara di kalangan ibu-ibu yang belum bisa baca tulis di Jombang.

"Ada beberapa kelompok yang telah berupaya mengajak masyarakat untuk melek aksara, terutama ibu-ibu yang belum bisa baca tulis. Mereka sudah mulai bisa baca tulis, menghitung dan ngaji," katanya kepada Hari Santri 2019 di Rumah Dinas Jombang, Kamis (21/4).

Hari Santri 2019

Tidak kalah penting, banyaknya problem yang tengah dihadapi oleh masyarakat Jombang yang berada di pedalaman. Menurut cucu dari Mbah Wahab itu, di sana terdapat banyak persoalan yang juga harus diselesaikan.

"Kita juga harus memikirkan mereka untuk mengangkat derajat dan martabatnya sehingga anak-anak mereka menjadi generasi harapan bangsa," tandasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Doa, Kyai Hari Santri 2019

Selasa, 16 Januari 2018

MWCNU Tiris Barat Gencarkan Lailatul Ijtima dan Kitab Kuning

Probolinggo, Hari Santri 2019 - Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Tiris Barat (Tiba) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan pengurus Ranting NU se-Tiba menggencarkan program Langkah Kakiku (Lailatul Ijtima dalam rangka berjuang mengharap berhah dengan Kajian Kitab Kuning).

Di setiap acara lailatul ijtima’ Ranting NU, jajaran Syuriah dan LBM MWCNU Tiris Barat menyempatkan untuk berkunjung ke acara tersebut dengan jadwal pembina kitab MWCNU yang telah ditentukan. Setelah acara istighotsah selesai, giliran pembina kitab dari MWCNU untuk membaca kitab Kajian Fiqih atau Aswaja, selanjutnya digelar dialog-dialog hukum atau ke-Aswaja-an.

MWCNU Tiris Barat Gencarkan Lailatul Ijtima dan Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Tiris Barat Gencarkan Lailatul Ijtima dan Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Tiris Barat Gencarkan Lailatul Ijtima dan Kitab Kuning

“Kegiatan ini dimaksudkan untuk membekali pengurus ranting dengan kajian hukum dan Aswaja. Karena merekalah yang berinteraksi langsung dengan warga NU. Jadi dalam satu bulan pengurus MWCNU turun ke ranting dalam acara Langkah Kakiku tersebut sebanyak delapan kali, mengingat jumlah ranting yang ada sebanyak 8 ranting,” kata Ketua MWCNU Tiris Barat Imron Hamzah, Rabu (22/3).

Langkah Kakiku ini memang diprioritaskan pada pengurus ranting NU, namun juga terbuka bagi masyarakat yang berkenan mengikutinya. “Karena tujuan acara itu diadakan adalah memberi bekal pengurus Ranting NU dan mempererat serta memperkuat organisasi NU di level ranting,” jelasnya.

Hari Santri 2019

Melalui program Langkah Kakiku ini Imron Hamzah mengharapkan agar ke depannya pengurus ranting lebih memiliki kualitas dibidang keagamaan, keorganisasian dan ke-NU-an dalam menjalankan roda organisasi NU ditingkat ranting. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Pesantren, Pertandingan Hari Santri 2019

Selasa, 09 Januari 2018

Tampung Aspirasi Pelajar, IPPNU Probolinggo Mantapkan Kepengurusan Dulu

Probolinggo, Hari Santri 2019. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Probolinggo melakukan upgrading atau penyegaran pengurus sekaligus untuk memantapkan kepengurusan Kabupaten Probolinggo periode 2013-2015, Sabtu (10/1).

Wakil Ketua PC IPPNU Kota Probolinggo Yayuk Hasanah mengungkapkan pemantapan pengurus ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan kualitas dan profesionalitas para pengurus dalam memberikan pemahaman terkait tupoksi (tugas pokok dan fungsi) jabatan masing-masing dalam kepengurusan.

Tampung Aspirasi Pelajar, IPPNU Probolinggo Mantapkan Kepengurusan Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Tampung Aspirasi Pelajar, IPPNU Probolinggo Mantapkan Kepengurusan Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Tampung Aspirasi Pelajar, IPPNU Probolinggo Mantapkan Kepengurusan Dulu

“Kami berharap supaya kegiatan ini bisa menambah semangat juang para pengurus untuk menyusun dan menjalankan program kerja sesuai dengan kebutuhan para pelajar NU. Sebab pada dasarnya kita bergabung dengan IPPNU adalah untuk membesarkan dan menampung seluruh aspirasi pelajar NU,” ujarnya.

Hari Santri 2019

Menurut Yayuk, penyegaran sekaligus pemantapan kembali kepengurusan ini sangat penting dilakukan. Sebab selain untuk bisa memperbaiki kualitas diri, pengurus juga harus lebih semangat dalam mengembangkan organisasi IPPNU di Kota Probolinggo.

Hari Santri 2019

“Perjuangan itu sangat penting dilakukan dibarengi dengan semangat dalam memperjuangkan dan melestarikan ajaran Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di kalangan pengurus dan pelajar di Kota Probolinggo,” terangnya.

Demi tetap menjaga eksistensi organisasi jelas Yayuk, maka semua pengurus PC IPPNU Kota Probolinggo harus selalu menjaga kekompakan agar program kerja yang sudah dirancang bisa berjalan sesuai dengan harapan para pengurus dan pelajar di Kota Probolinggo.

“Kekompakan ini penting agar apa yang sudah kita programkan bisa berjalan dengan baik dan tepat sasaran. Pemantapan ini merupakan salah satu upaya penguatan SDM di jajaran kepengurusan sebagai langkah mempertajam program kerja yang akan ditetapkan dalam Rakercab mendatang,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Pendidikan, Nahdlatul Hari Santri 2019

Minggu, 07 Januari 2018

Kebrobrokan Bathin Merusak Urusan Dhahir

Rasulullah saw pernah bersabda قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ ØŒ وَهَوًى مُتَّبَعٌ ØŒ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بÙ? فْسِهِ? ? “Tiga perkara yang merusak yaitu, menuruti kebakhilan, mengikuti hawa nafsu dan megagumi diri sendiri”. Sesungguhnya ketiga perkara itu adalah urusan bathiniyah tetapi jika dibiarkan ketiganya dapat merusak urusan lahiriyah, mulai dari merusak tatanan keluarga, budaya hingga tataran ekonomi.

Ø¥Ù? الحمد لله الذى أرسل رسوله بالهدى ودÙ? Ù? الحق Ù„Ù? ظهره على الدÙ? Ù? كله. أرسله بشÙ? را ÙˆÙ? ذÙ? را وداعÙ? ا الى الله باذÙ? Ù‡ وسراجا Ù…Ù? Ù? را. أشهد اÙ? لا اله الا الله وحده لا شرÙ? Ùƒ له. شهادة اعدها للقائه ذخرأ. واشهد اÙ? محمدا عبده Ùˆ رسوله. ارفع البرÙ? Ø© قدرا. اللهم صل وسلم وبارك على سÙ? دÙ? ا محمد وعلى أله وأصحابه وسلم تسلÙ? ما كثÙ? را. أما بعد. فÙ? اأÙ? ها الÙ? اس اتقوالله حق تقاته ولاتموتÙ? الا وأÙ? تم مسلموÙ? . Pada kesempatan ini pertama-tama khatib ingin mengajak diri sendiri dan jama’ah semua untuk meningkatkan taqwa. Sesungguhnya taqwa itu Bermuda dari mengihdar larang-larangannya. Seperti halnya menghindar berbagai keburukan yang yang dijabarkan dalam salah satu hadits pendek:

Kebrobrokan Bathin Merusak Urusan Dhahir (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebrobrokan Bathin Merusak Urusan Dhahir (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebrobrokan Bathin Merusak Urusan Dhahir

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ ØŒ وَهَوًى مُتَّبَعٌ ØŒ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بÙ? فْسِهِ?

Tiga perkara yang dapat merusak yaitu, menuruti kebakhilan, mengikuti hawa nafsu dan megagumi diri sendiri.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Hari Santri 2019

Jika kita baca sekilas saja, hadits ini seolah hanya berfungsi sebagai hadits motifasi, semacam golden ways, yang memebri tips bagaimana tata cara hidup yang sukses dan benar. Padahal tidak demikian, karena sesungguhnya teks ini adalah hadits Rasulullah saw yang kadar kebenarannya seratus persen. Hadits Rasulullah saw bukan sekedar motifasi yang member janji, tetapi hadits itu berbicara bukti.

Marilah kita ungkap bersama, bahwa ada tiga hal yang merusak hidup manusia yaitu menuruti kebakhilan, mengikuti hawa nafsu dan megagumi diri sendiri. Memang ketiga hal ini sangatlah bersifat bathiniah, karena ketiganya beroperasi dalam hati. Sehingga ketiganya sangat bersifat individualis dan sangat pribadi sekali.

Tetapi jika dibiarkan, ketiga masalah tersebut yang bathiniah dan privasi itu akan merusak tatanan dhahir dan social. Kita akan melihat bagaimana penyakit hati yang tersimpan rapat dan sangat rahasia ini dapat merusak kehidupan nyata, kehidupan bermasyarakat, bahkan juga berbangsa dan bernegara. Jika ketiga penyakit itu menjalar kesebagian besar bangsa ini, maka hadits ini akan berlaku bagi bangsa Indonesia.

Jama’ah Jum’ah yang Dirahmati Allah

Hari Santri 2019

Perkara pertama yang dapat merusak adalah شخ مطاع syukkhun mutha’un (kikir yang dituruti). Kata syukkun, meskipun memiliki padanan dalam bahasa Arab bakhil, tetapi kata syukhkhun menunjukkan tingkat kebakhilan yang lebih tinggi, tidak sekedar pelit atau kikir biasa. Karena jika bakhil itu bermakna orang yang mempertahankan miliknya jangan sampai kepada orang lain. Namun sykhkhun lebih dari itu, ia adalah orang yang memepertahakan dan tidak rela, kalau ada kenikmatan Allah swt yang diberikan kepada orang lain. Walaupun ia sadari bahwa rahmat dan nikmat itu milik Allah swt dan bukan miliknya.

Secara tidak langsung, sifat inilah akar dari sifat madzmumah yang terkenal dan berbahaya yaitu hasud. Hasud adalah perasaan iri dan dengki dengan kenikmatan dan rahmat yang diterima orang lain serta menginginkan rahmati itu berpindah kepadanya. Sungguh inilah karakter terburuk manusia. Kebrobrokan moral yang paling tinggi, dibandingkan dengan kenakalan remaja dan praktik kekerasan dimanapun juga. Karena tindak kekerasan hanyalah kembangan dari sifat hasud ini.

Karena itu pantaslah jika Rasulullah saw berpesan dengan sangat ‘mewanti-wanti’ dalam haditsnya:

Ø£Ù? الÙ? بÙ? صلى الله علÙ? Ù‡ وسلم قال ? Ø¥Ù? اكم والحسد فإÙ? الحسد Ù? أكل الحسÙ? ات كما تأكل الÙ? ار الحطب?

Jagalah dirimu dari hasud, akan hasud akan meruntuhkan amal kebajikan sebagaimana api membakar kayu bakar’

Meski demikian para Jama’ah yang berbahagia, karena begitu seringnya kita mendengar dan membaca hadits ini, sehingga telinga terasa familier dan hatipun tidak tergugah. Akibatnya seringkali kita menganggap hadits ini sebagai intimidasi tak berkelanjutan, atau sekedar surat peringatan yang tidak pernah ditindak lanjuti. Na’udzubillah min dzalik, sungguh itu bisikan syaitan yang terkutuk.

Andaikata syukhkhun yang mengembang menjadi hasud itu berdampak pada hilangnya amal baik, dan perkara amal itu urusan nanti diakhirat, terus dimanakah bahaya syukhkhun muthoun ? dalam kehidupan nyata ini? ada sebuah hadits tentang kekikiran? yang ? sangat beroreintasi pada kehidupan bermasyarakat ijtimaiyyah yaitu

قال رسول الله صلى الله علÙ? Ù‡ وآله : السخÙ? قرÙ? ب Ù…Ù? الله قرÙ? ب Ù…Ù? الÙ? اس ØŒ قرÙ? ب Ù…Ù? الجÙ? Ø© ØŒ والبخÙ? Ù„ بعÙ? د Ù…Ù? الله بعÙ? د Ù…Ù? الÙ? اس قرÙ? ب Ù…Ù? الÙ? ار? . Bahwasannya Rasulullah saw bersabda: orang yang dermawan dekat dengan Allah swt, dekat dengan manusia dan dekat dengan surga. Sedangkan orang kikri itu jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dekat dengan neraka.

Pemahaman yang baik atas hadits ini adalah betapa ragam dalam kehidupan merupakan sunnatullah maka kaya-miskin, ada-tiada, adalah kenyataan. Dan semua itu dapat berjalan saling harmoni jika mereka yang kaya dan ada suka berbagi. Begitu pula sebaliknya, jika mereka kelompok yang kaya, yang mampu malah melakukan monopoli dan dominasi. Maka perputaran ekonomi tidak akan normal dan sehat lagi. Karena yang kaya akan makin kaya dan yang melarat akan tambah sekarat. Bukankah itu namanya sykhiyyun jika dia berekonomi dengan kaedah ‘memperoleh untung sebesar-besanya dengan modal sedikit-dikitnya?’

Bukankah ini yang terjadi dengan perekonomian di Negara kita. Ketika modal asing yang sangat kuat menggempur ekonomi mandiri masyarakat kecil dan menengah. Maka pemilik modal itulah yang sekarang menguasai pasar ekonomi negeri ini. Dengan berkedok investasi mereka ingin menguasai perdagangan dalam negeri dan anehnya mereka diberi jalan oleh penguasa atau pemerintah dengan dalih mengatur hajat-hidup bangsa ini.

Pertanyaannya kemuddian, bagaimanakah bisa para pejabat, penguasa dan pemerintah itu member jalan kepada para investor/pemilik modal dan para syakhiyyun itu?

Saudara-saudara Jama’ah Jum’ah yang dilindungi Allah swt. jawabnya ada dalam penyakit keduaوهوى متبع ? wa hawan muttaba’ (nafsu yang selalu dituruti). Nafsu atau kesenangan memang urusan pribadi, daftar keinginan dan kesenanga itu berderet dalam hati. Mungkin jika dituliskan dalam kertas akan menghabiskan berlembar-lembar.

Jika seseorang telah bertekad untuk menuruti segala keinginan memenuhi kesenangannya, maka apapun akan dilakukan. Tidak perduli kelakuannya akan mengorbankan masyarakat yang di dalam masyarakat itu ada keluarganya, ada orang-orang yang berjasa padanya. Inilah yang dalam Negara ini tergambar dalam tindakan korupsi.

Korupsi adalah contoh termudah dari penurutan hawa nafsu, nafsu memiliki rumah yang mewah-mewah, mobil baru-baru, dan perempuan canti-cantik. Maka ketika para syakhiyyun itu menawarkan kerja sama dengan keuntungan yang memikat dan para pemilik kebijakan menuruti hawa nafsunya, maka terjadilah tindak korupsi. Membeli Sapi dari luar negeri, membeli buah dari luar negeri, membeli kedelai dari luar negeri, member songkong dari luar negeri, membeli gula dari luar negeri. Semua dilakukan demi keuntungan pribadi, demi memenuhi keinginan pribadi tanpa merasa iba kepada petani sapi, petani bauah, petani singkong dan petani tebu. Bukankah ini merusak tatanankehidupan berbangsa dan bernegara.

Sekali lagi memang syakhiyy dan nafsu adalah masalah bathin adanya terselubung jauh dalam hati, tapi jika ia telah bergerak dan menguasai badan ini, ia mampu merusak tatanan kehidupan nyata, mengotak-ngoyak tatanan ekonomi riil dan mempercuram jenjang social kehidupan. Na’udzubillah min dzalik

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Katiga, adalah إعجاب المرء بÙ? فسه ? I’jabul mar’I binafsih mengagumi diri sendiri yang terkenal dengan ‘ujub. ‘ujub adalah satu penyakit hati paling akut yang susah sekali mengobatinya. Dokter sekaliber apapun tidak sanggup mengobati. Pada praktiknya penyakit ini akan membawa penderita menganggap dirinya paling baik, paling pintar, paling cantik, paling berwibawa dan lain seterusnya.

Ingatkah kita dengan perkataan Iblis ketika diperintah untuk tunduk kepada Nabi Adam as. dalam al-A’raf 12 disebutkan:

قَالَ Ø£ÙŽÙ? َا خَÙ? ْرٌ مِÙ? ْهُ خَلَقْتَÙ? ِÙ? مِÙ? Ù’ Ù? َارٍ وَخَلَقْتَهُ مِÙ? Ù’ طِÙ? Ù? ٍ

Saya lebih baik dari padanya, Engkau ciptakan saya dari api sedangkan ia, Engkau ciptakan dari tanah

Biasanya ‘ujub akan melahirkan penyakit laian yaitu ‘thulul amal’ angan-angan yang panjang. Mereka yang merasa diri lebih dari orang lain selanjutnya akan mengangan-angan dalam lamuanan. “Karena aku orang paling berwibawa di kampung ini, maka jika ada pejabat datang pastilah nanti akan menemuiku, jika menemuiku pastilah aku jadi banyak relasi, jika banyak relasi, maka aku akan…” dan terus tidak ada ujungnya. Jika penyakit ini telah menyergap pada diri seseorang, maka ia akan menjadi serang penghayal yang malas untuk bertindak dan berkreasi, karena lamunan yang panjang. Seperti malasnya pemasang lotre menunggu nasib.

Maka sudah seharusnya, jika kita ingin menyelamatkan diri, keluarga, lingkungan bahkan juga bangsa tercinta ini, marilah kita bersama-sama berusaha dan melatih diri menghindari ketiga penyakit itu. Dan tidak lupa berdo’a kepada Allah swt agar memberikan petunjukNya mempermudah jalan kita menghindari dari penyakit tersebut. Bukankah sesungguhnya iman dan taqwa yang ada dalam diri kita merupakan anugrah dari-Nya?

Demikianlah khotbah Jum’ah kali ini, meskipun sekelumit semoga bermanfaat.

? بَارَكَ اللهُ لِÙ? Ù’ وَلَكُمْ فِÙ? Ù’ اْلقُرْآÙ? ِ اْلعَظِÙ? ْمِ ÙˆÙŽÙ? َفَعَÙ? ِÙ? ÙˆÙŽØ¥Ù? َّاكُمْ ِبمَا ِفÙ? ْهِ مِÙ? ÙŽ اْلآÙ? اَتِ وَالذكْر ِالْحَكِÙ? ْمِ وَتَقَبَّلَ مِÙ? ِّÙ? وَمِÙ? ْكُمْ تِلاَوَتَهُ Ø¥Ù? َّهُ هُوَ السَّمِÙ? ْعُ اْلعَلِÙ? ْمُ

Khutbah II

? اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَاÙ? ِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِÙ? ْقِهِ وَاِمْتِÙ? َاÙ? ِهِ. وَاَشْهَدُ اَÙ? Ù’ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِÙ? ْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَÙ? ÙŽÙ‘ سَÙ? ِّدَÙ? َا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَاÙ? ِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِÙ? ْمًا كِثÙ? ْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَÙ? اَ اَÙ? ُّهَا الÙ? َّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِÙ? ْمَا اَمَرَ وَاÙ? ْتَهُوْا عَمَّا Ù? ÙŽÙ‡ÙŽÙ‰ وَاعْلَمُوْا اَÙ? ÙŽÙ‘ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِÙ? ْهِ بِÙ? َفْسِهِ وَثَـÙ? ÙŽÙ‰ بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ Ù? ُصَلُّوْÙ? ÙŽ عَلىَ الÙ? َّبِى Ù? Ø¢ اَÙ? ُّهَا الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ آمَÙ? ُوْا صَلُّوْا عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِÙ? ْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَÙ? ِّدِÙ? اَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَÙ? ْبِÙ? آئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَارْضَ اللّهُمَّ عَÙ? ِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِÙ? Ù’Ù? ÙŽ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَاÙ? وَعَلِى وَعَÙ? Ù’ بَقِÙ? َّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَتَابِعِÙ? التَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ لَهُمْ بِاِحْسَاÙ? ٍ اِلَىÙ? َوْمِ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَارْضَ عَÙ? َّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ Ù? َا اَرْحَمَ الرَّاحِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِÙ? ِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُؤْمِÙ? َاتِ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْÙ? آءُ مِÙ? ْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاÙ? ْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِÙ? َّةَ وَاÙ? ْصُرْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ Ù? َصَرَ الدِّÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاخْذُلْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ خَذَلَ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ ÙˆÙŽ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى Ù? َوْمَ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَÙ? َّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ وَسُوْءَ اْلفِتْÙ? َةِ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ مَا ظَهَرَ مِÙ? ْهَا وَمَا بَطَÙ? ÙŽ عَÙ? Ù’ بَلَدِÙ? َا اِÙ? ْدُوÙ? ِÙ? ْسِÙ? َّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَاÙ? ِ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ عآمَّةً Ù? َا رَبَّ اْلعَالَمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. رَبَّÙ? َا آتِÙ? اَ فِى الدُّÙ? Ù’Ù? َا حَسَÙ? َةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَÙ? َةً وَقِÙ? َا عَذَابَ الÙ? َّارِ. رَبَّÙ? َا ظَلَمْÙ? َا اَÙ? ْفُسَÙ? َاوَاِÙ? Ù’ لَمْ تَغْفِرْ Ù„ÙŽÙ? َا وَتَرْحَمْÙ? َا Ù„ÙŽÙ? َكُوْÙ? ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ مِÙ? ÙŽ اْلخَاسِرِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. عِبَادَاللهِ ! اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ Ù? َأْمُرُÙ? َا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَاÙ? ِ وَإِÙ? ْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ ÙˆÙŽÙ? ÙŽÙ? ْهَى عَÙ? ِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُÙ? ْكَرِ وَاْلبَغْÙ? Ù? َعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْÙ? ÙŽ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِÙ? ْمَ Ù? َذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ Ù? ِعَمِهِ Ù? َزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

?

Red: Ulil Hadrawy

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Habib, Pesantren, Aswaja Hari Santri 2019

Jumat, 05 Januari 2018

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun

Demak, Hari Santri 2019 - Anggota maupun pengurus NU dituntut untuk selalu komitmen serta eksis memperjuangkan dan mempertahankan ideologi organisasi dalam kondisi apapun dan di manapun. Mereka juga bertanggung jawab untuk menggerakkan organisasi.

“Kita sebagai warga NU wajib memperjuangkan ajaran Ahlus Sunah wal jamaah di manapun dan sampai kapan. Kita harus melestarikan ajaran yang ditinggalkan para ulama NU,” kata pengurus LDNU Demak KH Imam Ghozali saat memberikan taushiyah pada halal bihalal yang diselenggarakan Muslimat NU di halaman Masjid Jami Ploso Desa Temuroso Kecamatan Guntur Kabupaten Demak, Ahad (14/8).

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun

Kiai Ghozali mengingatkan anggota Muslimat NU sudah sewajarnya bila dalam keseharian mengamalkan ajaran Aswaja dan menyebarkannya. Hanya saja di dalam memperjuangkan itu semua harus disesuaikan dengan kemampuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam keluarga masing-masing.

“Anggota Muslimat itu wajib memperjuangkan Aswaja di tengah masyarakat, namun perjuangan panjenengan semua itu harus disesuaikan dengan kemampuan yang perlu izin dan dukungan dari keluarga terutama suami,” tegas kiai Ghozali.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Sementara itu Ketua Muslimat NU Guntur Hj Isfinadhiroh di sela-sela acara kepada Hari Santri 2019 mengatakan, pihaknya sengaja mengundang ulama NU pada acara tersebut untuk memberikan pencerahan dan motivasi pada pengurus dan anggota Muslimat NU agar semakin giat dalam berorganisasi.

“Mumpung pengurus dan anggota Muslimat NU sekecamatan ini kumpul, sengaja pak kiai rawuh-kan untuk memberikan motivasi dan pencerahan pada anggota akan kesadaran membesarkan NU,” tutur Isfinadhiroh.

Hahal bihalal ini diikuti oleh pengurus anak cabang dan ranting Muslimat NU sekecamatan Guntur. Tampak hadir pengurus MWCNU, lembaga dan banom NU tingkat kecamatan serta dihadiri warga sekitar. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Pesantren, Kyai Hari Santri 2019

Rabu, 20 Desember 2017

Gus Sholah Berikan Tausiyah di Maroko

Kenitra, Hari Santri 2019. Dalam rangka kunjungan muhibah, segenap rombongan KH Sholahudin Wahid ? yang tiba di Maroko pada hari Jumat (5/4) langsung disambut hangat oleh Duta Besar Republik Indonesia Untuk ? Kerajaan Maroko H. Tosari Widjaja dan sebagian besar mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Maroko.

Dalam acara penyambutan ini juga diisi dengan acara diskusi atau tausiyah bersama KH Sholahudin Wahid pengasuh pondok pesantren Tebuireng yang bertempat di Wisma Duta Indonesia.?

Gus Sholah Berikan Tausiyah di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Berikan Tausiyah di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Berikan Tausiyah di Maroko

Sebelum acara dibuka H. Husnul Amal selaku sekretaris pribadi Dubes RI H. Tosari Widjaja sekaligus pembawa acara menyampaikan bahwa kunjungan rombongan Gus Sholah (panggilan akrab KH Sholahudin Wahid ) tidak bisa lepas dari peran almarhumah Mahsusoh Ujiati istri Dubes H. Tosari Widjaja yang semasa hidupnya pernah meminta Gus Sholah untuk berkunjung ke Maroko, hanya saja baru saat ini Gus Sholah baru bisa meluangkan waktunya.

Hari Santri 2019

Dubes RI Untuk Kerajaan Maroko H. Tosari Widjaja dalam sambutannya berharap semoga kedatangan rombongan ini mampu memperkuat hubungan kerjasama antara Indonesia dan Maroko khususnya dalam pendidikan Islam.?

Di dalam tausiyahnya Gus Sholah banyak sekali memberikan motifasi kepada para mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Perhimpunan Pelajar Indoensia (PPI) Maroko agar bisa memanfaatkan waktunya sebaik mungkin serta belajar untuk berfikir secara luas. Agar cakrawala berfikir mahasiswa tidak jumud.?

Hari Santri 2019

Di sisi lain Gus Sholah juga berbicara mengenai keadaan yang sedang terjadi di Indonesia, mulai dari ? kemasyarakatan, keekonomian, kepemerintahan, dan yang sangat menarik adalah ketika beliau berbicara mengenai pendidikan yang ada di Indonesia.

"Penyebab ? dari kemunduran pendidikan yang ada di indonesia ? dikarenakan oleh pihak pengajar yang tidak memahami konsep pendidikan secara benar, karena makna pendidikan yang sebenarnya adalah transfer of knowledge yang di bungkus dengan nilai-nilai sopan santun bukan hanya menyalurkan ilmu saja lalu lepas tangan."

Gus Sholah juga berpendapat bahwa ada tiga factor yang harus diperhatikan dalam metode pendidikan. Yang pertama guru menguasai dan benar-benar mendalami materi, yang ke dua guru sudah pernah mendapatkan pelatihan pengajaran dan yang ke tiga guru harus mampu memilki akhlak yang baik dan harus di salurkan ke siswa didik.

Ia juga menambahkan bahwa masyarakat muslim di Indonesia, khususnya para santri, jangan pernah mendikotomikan antara ilmu agama dan ilmu umum.?

“Jangan ? pernah mengatakan bahwa ilmu agama adalah ilmu ukhrowi dan ilmu umum adalah ilmu duniawi, karena semuanya adalah sama dan wajib untuk dipelajari, semisal ketika ilmu umum ? di orientasikan untuk menolong orang lain maka itu juga di sebut dengan ilmu ukhrowi, jadi saya pesankan ? bahwa santri harus mempelajari kedua-duanya.”

? Acara ini juga dimeriahkan dengan group sholawat rebana yang dibawakan oleh mahasiswa STAINU Jakarta yang sedang mengikuti program kelas internasional di Univ. Ibnu Tofail Kenitra, Maroko.

Hadir pula segenap jajran home staf dan lokal staf KBRI Rabat, para mahasiswa Indonesia dan masyarakat Indonesia yang ada di maroko.

Kontributor: Nizar Presto

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren Hari Santri 2019

Minggu, 17 Desember 2017

Doa Setelah Aktivitas Ngaji Ilmu

Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim dan muslimah, terlebih lagi menuntut ilmu agama yang kerap disebut aktivitas “ngaji ilmu”. Sebelum dan sesudah mengaji, kita dianjurkan berdoa agar Allah SWT membuka dan memudahkan pemahaman kepada kita.

Kita juga berharap Allah SWT menjaga ingatan atas ilmu yang telah kita hafal dan pahami. Berikut ini doa yang dianjurkan dibaca usai mengaji ilmu.

Doa Setelah Aktivitas Ngaji Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Setelah Aktivitas Ngaji Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Setelah Aktivitas Ngaji Ilmu

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hari Santri 2019

Subhânallâh walhamdu lillâhi wa lâ ilâha illallâh wallâhu akbar ‘adada kulli harfin kutiba aw yuktabu abadal âbidîn wadahrad dâhirîn.

Artinya, “Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan yang disembah selain Allah, Allah Tuhan Maha Besar sebilangan huruf dari huruf-huruf yang telah tertulis atau lagi akan tertulis selama-lamanya dan bertahun-tahun adanya,” (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta). (Alhafiz K)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Pesantren, Sholawat Hari Santri 2019

Sabtu, 16 Desember 2017

Iman STAN Terbitkan 5.000 Eksemplar Buku USM 2016

Tangerang Selatan, Hari Santri 2019

Desember 2015 merupakan akhir tahun yang menantang bagi Ikatan Mahasiswa Nahdliyin (Iman) Politeknik Keuangan Negara STAN Tangerang Selatan, Banten. Pada bulan ini bidang Dana Usaha Iman tengah mengerjakan finalisasi buku Ujian Saringan Masuk (USM) Politeknik Keuangan Negara STAN.

Iman STAN Terbitkan 5.000 Eksemplar Buku USM 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Iman STAN Terbitkan 5.000 Eksemplar Buku USM 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Iman STAN Terbitkan 5.000 Eksemplar Buku USM 2016

Buku yang diberi nama “Siap USM PKN-STAN 2016” ini merupakan buku edisi yang ke 15, lebih unggul dari 14 edisi sebelumnya. Dalam buku yang terbit sejak 18 Januari ini, telah ditambahkan 1 konten baru yakni Tabel Pengembangan Pembelajaran. Dengan adanya tabel tersebut pengguna akan lebih mudah dalam memantau hasil belajarnya.

“Berdasarkan pengalaman tahun lalu, serta dengan mempertimbangkan beberapa hal, manajemen akhirnya memutuskan mencetak dengan jumlah yang lebih banyak daripada tahun sebelumnya, yakni yang biasanya sebanyak 3.000 buku, sekarang kami mencetak sebanyak 5.000 buku,” ujar Achmad Nofrizal selaku manajer buku beberapa waktu lalu.

Hari Santri 2019

Pihaknya berharap penerbitan buku tersebut mampu memenuhi permintaan pasar untuk menyongsong USM PKN STAN tahun ini. Buku USM Siap STAN terbitan Iman, kata Achmad, memang selalu habis dan bahkan seringkali kewalahan dalam memenuhi permintaan pelanggan. Hal inilah yang akhirnya membuat manajemen optimis menerbitkan 5.000 eksemplar buku.

Hari Santri 2019

Wujud Kemandirian

Achmad juga mengatakan, penerbitan buku ini merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan kemandirian finansial Iman PKN STAN. Hampir 70 persen kegiatan operasional Iman bersumber dari profit buku ini. Di sisi lain, penerbitan buku juga menjadi sarana belajar bagi anggota IMAN. Mulai dari pembuatan konten, pembahasan soal, sampai editing dilakukan langsung jamaah ngaji Iman yang juga merupakan masiswa aktif PKN STAN.

Iman Education, subidang Dana Usaha Iman yang menginisiasi penerbitan buku ini, juga memiliki program unggulan lain, yakni Bimbingan Belajar Jarak Jauh dan Bimbingan Belajar Reguler. Achmad menyayangkan bahwa dalam beberapa tahun belakangan Iman Education hanya melaksanakan Bimbel Jarak Jauh saja dan belum mampu melaksanakan Bimbel Reguler. Ia berharap dan terus mengupayakan, agar tahun depan Bimbel Reguler dapat berjalan lagi sesuai dengan yang telah direncanakan. (Arum R Ristanti/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren Hari Santri 2019

NU Temanggung Usul Kiai Subchi Bambu Runcing Jadi Pahlawan Nasional

Temanggung, Hari Santri 2019. Peringatan hari Santri di Temanggung kemarin berlangsung semarak. Sekitar 15 ribu santri tumplek blek memadati halaman Gedung Pemuda Temanggung. Mereka mengikuti apel akbar dalam rangka peringatan hari santri (HSN) 2017 dengan inspektur apel Bupati Temanggung Bambang Sukarno dan komandan apel sahabat Puryawanto (Banser Ansor Temanggung).

NU Temanggung Usul Kiai Subchi Bambu Runcing Jadi Pahlawan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Temanggung Usul Kiai Subchi Bambu Runcing Jadi Pahlawan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Temanggung Usul Kiai Subchi Bambu Runcing Jadi Pahlawan Nasional

Apel akbar kemarin, dikemas layaknya upacara kenegaraan, meskipun para santri tetap mengenakan sarung dan peci atau almamater pondok pesantrenya masing-masing, begitu pula dengan santriwatinya. 

Selain diikuti santriwan-santriwati dari pondok pesantren se-Temanggung, para ulama dan kyai serta siswa-siswi dari lembaga pendidikan Maarif NU, peserta apel merupakan seluruh kader badan otonom (banom) NU, seperti Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU-IPPNU, juga PMII.

Pembacaan teks Pancasila dipimpin oleh Bupati Bambang Sukarno, petugas pembaca ikrar santri indonesia oleh Jakfar Shodiq (Sekretaris Lakpesdam NU Temanggung), pembaca amanat PBNU oleh KH Muhammad Furqon atau Gus Furqon (Ketua PCNU Temanggung) dan pembaca teks resolusi jihad oleh KH Yacub Mubarok (Rais Syuriyah PCNU Temanggung).

Ketua Tanfidz PCNU Temanggung KH Muhammad Furqon menuturkan, hari ini (kemarin, red) keluarga besar NU Temanggung bersama santri memperingati hari santri. Dengan peringatan hari santri ini, isi resolusi jihad 22 ktober 1945 silam, bisa menyemai dan memberi semangat para santri sebagaiamana yang telah dilakukan oleh sang pendiri  NU KH Hasyim Asyari.  

Hari Santri 2019

"Santri bisa tetap mencintai NKRI dan bisa memberi kenyamanan untuk lingkungan atau masyarakat. Saya berharap, santri bisa meneladai perjunagan KH Hasyim Asyari," harapnya.

KH Yacub Mubarok menuturkan, dirinya bersama Bupati Temanggung Bambang Sukarno dalam waktu dekat ingin menghadap Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan dan mengusulkan KH Subchi Parakan Temanggung bisa menjadi pahlawan nasisional.

Menurutnya, KH Subchi tidak hanya terkenal di Temanggung dan Indonesia saja, namun juga terkenal sampai Belanda dan Jepang. Beliau merupakan penggerak hebat untuk NKRI, sehingga bisa menghantarkan bangsa dan negara ini ke gerbang kemerdekaan. 

"Atas jasa dan perjuanganya itu, sudah selayaknya negara memberikan pengahargaan. Beliua seorang  patriotis, berjuang untuk kedaimaan, kenyamana dan kemerdekaan. Beliau merupakan aset bangsa dan idola kita semua," ucapnya.

Hari Santri 2019

Sementara itu, Bupati Bambang Sukarno mengaku siap mengawal dan mengantarkan Yacub Mubarok ke Istana negara untuk menghadap presiden. Menurut Bambang, jasa KH. Subchi saat besar untuk bangsa ini, beliau tidak hanya milik Temanggung, Bangsa Indonesa, tapi juga dunia internasional.

"Sudah sepatnya, belaiu (almarhum KH Subchi) mendapat gelar pahlawan. Dengan momentum hari santri tahun ini, saya berharap santri dan warga Temanggung pada umumnya tetap cinta NKRI, setia terhadap pancasila, UUD 1945 dan bhineka tunggal ika," pungkasnya. (Ahsan Fauzi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Khutbah, Aswaja Hari Santri 2019

Sabtu, 09 Desember 2017

Pelajar NU Kerahkan Relawan ke Longsor Banjarnegara

Banjarnegera, Hari Santri 2019. Pelajar-pelajar NU dari Pekalongan, Kedu dan Banyumas turut berpartisipasi mencari korban bencana longsor yang menerjang Dusun Jemblung, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah pada 12 Desember 2014 lalu.

Corp Brigade Pembangunan (CBP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Korp Kepanduan Putri (KKP) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama dari tiap kabupaten tersebut mengirimkan 10 relawan. Disusul kemudian cabang IPNU lain, yaitu Purbalingga, Batang.

Pelajar NU Kerahkan Relawan ke Longsor Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kerahkan Relawan ke Longsor Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Kerahkan Relawan ke Longsor Banjarnegara

“Kami sangat senang karena banyak rekan-rekan IPNU dari cabang-cabang sekitar yang peduli terhadap bencana longsor di kabupaten kami. Alhamdulillah, mereka juga mengirimkan anggota CBP-nya untuk menjadi relawan,” ungkap Mad Solihin, Ketua Pimpinan Cabang IPNU Banjarnegara, kepada NU Onlline Rabu (17/12).

Hari Santri 2019

Ahmad Yusuf, Ketua PC IPNU Kabupaten Batang yang juga turun sebagai relawan bersama anggotanya menerangkan, bahwa kondisi lokasi longsor masih sangat memperihatinkan.

Hari Santri 2019

Bahkan, tambah dia, dalam proses evakuasi jenazah pada hari Senin pagi kemarin, ia bersama relawan CBP lainnya berhasil menemukan jenazah seorang wanita di dalam mobil yang tertimbun material longsoran.

Melihat kerja keras dari seluruh kader IPNU yang turut serta dalam kegiatan kemanusiaan tersebut, Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat H. Muhammad Nahdhy menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya.

“Kami sangat mengapresiasi kerja keras dari seluruh kader CBP dan IPNU pada umumnya yang telah ikut serta dalam kegiatan kemanusiaan ini,” ungkapnya saat terjun ke lokasi bencana  Rabu (17/12).

Selain dalam bentuk bantuan tenaga untuk pencarian korban longsor, beberapa cabang IPNU juga melakukan penggalangan dana di berbagai daerah untuk membantu para korban longsor.

Kota Pekalongan misalnya, PC IPNU-IPPNU menginstruksikan kepada seluruh PAC IPNU-IPPNU untuk terjun ke komisariat-komisariat dan tempat umum untuk menggalang dana. Begitu pula dengan PC IPNU-IPPNU Banjarnegara dan Batang yang juga melakukan hal yang sama untuk meringankan penderitaan korban longsor. (Slamet Ng/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Pesantren, Kyai Hari Santri 2019

Rabu, 06 Desember 2017

Hari ini Haul Mbah Ali Maksum

Yogyakarta, Hari Santri 2019. Keluarga besar Pesantren Krapyak mengadakan acara haul ke-24 KH Ali Maksum. Sejak 19 Maret rangkaian acara sudah dilakukan, seperti majlis sesamaan Al-Quran. Acara puncaknya adalah malam ini, di halaman Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Menurut Humaidy As, salah satu pembimbing komplek Sakan di Pesantren Ali Maksum, acara haul ini menjadi sangat penting bagi santri Krapyak untuk mengenang perjuangan dan keteladanan KH Ali Maksum.

Hari ini Haul Mbah Ali Maksum (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari ini Haul Mbah Ali Maksum (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari ini Haul Mbah Ali Maksum

“Haul para kiai menjadi media refleksi santri untuk makin rajin dalam mengaji. KH Ali Maksum adalah inspirasi keteladanan santri, sehingga santri mendapatkan bekal untuk bermasyarakat dan bangsa” tegasnya.

Kiai Sederhana

KH Munawir AF, salah satu santri KH Ali Maksum, dalam akun facebooknya memberi kesaksian bahwa KH Ali Maksum terkenal dengan kesederhanannya, baik di kala dahar (makan), atau di kala berpakaian, sangat terasa sekali KH Ali Maksum dengan kesederhanaannya.

Hari Santri 2019

“Kalo makan ada tempe dan sambel, oke. Atau adanya nasi goreng ala Ibu Nyai Hasyimah dan krupuk, juga oke. Demikian juga kalau mengajar ke IAIN, pakaian yang licin strikan, oke. Suatu ketika tidak setrikan, juga oke.” kenangnya. ? “Sederhana, tetapi tetap berkesan anggun dan wibawa.” Lanjutnya.

Hari Santri 2019

Di samping itu, KH Ali Maksum juga dikenal sangat tawadlu’. Ia tidak mau dipanggil "Kiai", tetapi dipanggil "Pak".

Semua santrinya memanggil Pak Ali. Bukan itu saja, KH Ali Maksum juga sangat akrab dengan santrinya, sehingga santri merasa menjadi santri kesayangannya. Ini dibuktikan dengan hafalnya KH Ali Maksum dengan nama santrinya, padahal santrinya saat itu sekitar 2000.

“Santri 2000, ya kenal nama sebanyak itu. Seblum mengaji, beliau mengabsen tanpa buku absen. Yang tidak kelihatan, itulah yang dipanggil.” Tegas KH Munawir AF.?

KH Ali Maksum adalah Rais ‘Aam PBNU periode 1982-1984. Ia menggantikan kedudukan KH Bisyri Syansuri yang wafat pada tanggal 19 Jumadil Akhir 1400 H (25 April 1980 M). ?

KH Ali Maksum dilahirkan di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa tengah pada tanggal 2 Maret 1915 dari ayah KH Maksum (pendiri/pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayat Lasem) dan ibu Siti Nuriyah. Sejak kecil Ali belajar agama pada sang ayah. Pada usia 12 tahun setelah mempelajari beragam kitab termasuk menghafalkan Alfiyah Ibn Malik, Ali kecil dikirim sang ayah untuk belajar di Pesantren Termas, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur yang waktu itu diasuh oleh KH Dimyati dan dilanjutkan KH Hamid Dimyati.

?

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Rokhim Bangkit, Supriyadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Pendidikan, Nahdlatul Hari Santri 2019

Rabu, 22 November 2017

Laku Spiritual KH Wahid Hasyim

Di balik kiprah dalam karir politiknya yang cemerlang, pemikirannya yang progresif, dan sebagai tokoh ulama yang alim, pada diri KH Abdul Wahid Hasyim (1914-1953) menyimpan pula kepribadian yang terpuji dan karakter yang mulia. Salah satu di antara kesukaan yang telah menjadi kebiasaan yang melekat pada putra Hadhratussyekh KH M Hasyim Asyari ini adalah gairahnya dalam membaca dan menghafal Al-Quran.

Ayahanda Gus Dur ini selain suka berpuasa sunah yang sering dilakukannya adalah membaca Al-Quran dan berdzikir di malam hari. Kegemaran membaca dan menghafal Al-Quran membuatnya secara tetap menyisihkan sebagian waktunya untuk membaca atau menghafal Al-Quran di tengah-tengah kesibukannya sebagai seorang pemimpin nasional. Kesibukannya sepanjang hari yang penuh dengan acara-acara politik, perjuangan, dan kemasyarakatan tidak menghalanginya untuk mencari celah waktu agar dapat membaca dan menghafal Al-Quran. 

Laku spiritual tersebut selalu dilakukannya, baik ketika sedang menghadiri persidangan kabinet, berdiskusi, atau sedang menyetir mobil sekalipun. Dengan demikian setiap hari selalu ada waktu yang disempatkannya untuk untuk meneruskan hafalan Al-Qurannya.  Bila sudah khatam seluruh Al-Quran, maka diulangi lagi dari permulaan.  Selain itu bacaan Al-Quran yang hendak dihafal dibacanya pula dalam tiap kali shalat. Meskipun beliau bukan seorang hafiz, tetapi boleh dikatakan hampir hafal seluruh isi Al-Quran.

Laku Spiritual KH Wahid Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Laku Spiritual KH Wahid Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Laku Spiritual KH Wahid Hasyim

Dalam kaitan dengan Al-Quran ini, ada satu hal yang menarik pada diri KH Wahid Hasyim. Telah menjadi kebiasaannya apabila sedang sakit, ia tak cuma diobati dengan obat-obatan dari dokter, melainkan seringkali mendengarkan bacaan-bacaan Al-Quran. Kebetulan yang menjadi salah satu juru tulisnya adalah seorang yang bernama Khairi Abdurrahman yang tinggal di daerah Kebon Manggis, Matraman, Jakarta Timur. 

Suatu waktu Khairi ini ditanya Kiai Wahid siapa kiranya yang bisa dipanggil untuk membaca Al-Quran ketika beliau menderita sakit. Kemudian Khairi Abdurrahman bertanya kepada istrinya yang berasal dari Serang. Ketika itu kebetulan di sana banyak terdapat ahli dalam membaca Al-Quran. Ternyata salah seorang di antara kerabatnya sendiri  adalah seorang tokoh qiraat yang kemudian menjadi sangat terkenal di Jakarta, yaitu KH Tubaghus Manshur Mamun.  Maka dipanggilkah kiai tersebut ke Jakarta untuk membacakan Al-Quran kepada KH Wahid Hasyim yang sedang sakit. Itulah awal mula kedatangan ahli Al-Quran terkemuka ini ke ibu kota. Jadi kedatangannya terkait dengan kehidupan KH Wahid Hasyim.    

Hari Santri 2019

Kecintaan membaca  dan mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran yang telah mengakar kuat pada karakter KH Wahid Hasyim ini bila ditelusuri merupakan salah satu kebiasaan yang dahulu juga telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.  Dalam sejarahnya, Rasulullah senang mendengarkan bacaan Al-Quran dari orang lain sebagaimana beliau juga senang membacanya sendiri.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Masud, ia berkata, Rasulullah bersabda, "Bacakanlah Al-Quran untukku. Abdullah bin Masud menjawab, "Ya Rasululluah, haruskah aku membacakannya kepada Anda, sedangkan Al-Quran sendiri diturunkan kepada Anda?"

Rasulullah menjawab, "Benar aku ingin mendengarkannya darimu”. Maka Abdullah bin Masud membacakan Surat An-Nisa. (M. Haromain)

Hari Santri 2019

Disarikan dari: Ali Yahya, Sama Tapi Berbeda: Potret Keluarga Besar KH A Wahid Hasyim, penerbit: Yayasan KH A Wahid Hasyim, 2007.  

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Amalan, Pesantren Hari Santri 2019

Banser Subang Rekrut 150 Anggota Baru

Subang, Hari Santri 2019 - Sedikitnya 150 orang digembleng dalam kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) serta Pendidikan dan Pelatihan (Diklatsar) Barisan Ansor Serbaguna (Serbaguna) di Pesantren Al-Ishlah, Desa Jatireja, Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang. Selama tiga hari, Jumat-Ahad (28-30/10), mereka mengikuti tahap pertama kaderisasi GP Ansor Subang masa khidmat 2016-2020.

Ketua GP Ansor Subang Asep Alamsyah Heridinata mengatakan, kegiatan PKD dan Diklatsar Banser ini merupakan jenjang kaderisasi GP Ansor yang rutin digelar secara berkala.

Banser Subang Rekrut 150 Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Subang Rekrut 150 Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Subang Rekrut 150 Anggota Baru

"Kita targetkan kaderisasi GP Ansor di Subang periode ini sebanyak 20 kali selama satu periode (4 tahun, red) ke depan," ujar Asep usai penutupan PKD dan Diklatsar Banser, Ahad (30/10).

Hari Santri 2019

Ratusan peserta yang digembleng dengan semi militer ini telah diberikan sejumlah materi yang erat kaitannya dengan peningkatan sumber daya manusia, ke-NUan, ke-Ansoran, ke-Banser an, Ahlussunnah Wal Jamaah,? hingga organisasi dan manajemen.

"Beberapa instruktur sudah kami datangkan baik dari Kepolisian maupun Kodim 0605 Subang. Di samping beberapa narasumber yang ahli dan mumpuni di bidangnya," katanya.

Hari Santri 2019

Ratusan peserta ini, kata Asep, merupakan delegasi dari sejumlah pimpinan anak cabang? GP Ansor di seluruh Kabupaten Subang.

Ketua GP Ansor Jawa Barat Deni Ahmad Haidar menegaskan, GP Ansor dan Banser terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca-Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan.

"Untuk itu, dengan semangat perjuangan Sumpah Pemuda inilah kemudian harus diaktualisasikan dalam bentuk pemikiran dan sikap GP Ansor dalam konteks kekinian, yakni sebagai pengawal ulama, semangat bela negara, serta cinta tanah air dan bangsa," tegasnya. (Ade Mahmudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren Hari Santri 2019

Senin, 20 November 2017

Gandeng BNPT, IPNU Cegah Ektremisme di Kalangan Pelajar

Jakarta, Hari Santri 2019. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) menggandeng Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) untuk memberikan pemahaman dan pencegahan paham ektremisme di kalangan pelajar Islam se-Jabodetabek.

Gandeng BNPT, IPNU Cegah Ektremisme di Kalangan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng BNPT, IPNU Cegah Ektremisme di Kalangan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng BNPT, IPNU Cegah Ektremisme di Kalangan Pelajar

"Pelajar perlu pemahaman pencegahan paham ISIS (Negara Islam Suriah dan Irak) dan ideologi transnasional lainnya karena para teroris sudah melirik kalangan pelajar untuk dijadikan pengantin. Terutama kalangan Rohis dan LDK sekolah negeri," kata Ketua Umum PP IPNU Khairul Anam Harisah.

Ia mengatakan? hal itu saat memberikan kata sambutan pada “Workshop dan Komitmen Bersama Pencegahan Paham ISIS di kalangan pelajar Islam se-Jabodetabek antara PP IPNU dengan BNPT” di Jakarta Selatan, Rabu (12/8).

Hari Santri 2019

Dalam acara bertema “Pelajar Damai Cinta Indonesia” itu, Anam mengatakan pelajar sebagai generasi penerus bangsa perlu menanamkan dalam dirinya cinta tanah air. Selain itu, lanjutnya, mengetahui sejarah kemerdekaan dan masuknya Islam ke Indonesia tidak kalah penting, agar tidak mudah terpengaruh dengan paham ISIS.

"Jangan lupa penyebaran Islam di Indonesia itu tanpa pertumpahan darah dan tanpa peperangan. Hari ini masak kita mau disuruh perang dengan saudara sesama muslim, untung saja yang jadi nabi bukan orang ISIS pasti kita masih dalam kegelapan," imbuh Anam semangat.

Hari Santri 2019

Ia menambahkan agar pelajar bersyukur ada di Indonesia karena ulamanya moderat dan berhasil merumuskan hubungan negara dengan agama melalui ideologi bangsa yakni Pancasila. Sementara, lanjutnya, di Timur Tengah ada ribuan ulama, tiap bulan ratusan kitab diterbitkan, tapi karena tidak punya nasionalisme yang kuat, muncullah gerakan Negara Islam Suriah dan Irak seperti sekarang.

"Mari kita sebagai generasi penerus bangsa dan agama menjadikan Islam rahmatan lil alamin bukan Islam yang marah, apalagi Islam yang tidak toleran. Jika ada yang mengajak bergabung dengan ISIS tolak dan segera lapor ke pihak berwenang," tegasnya.

Dalam workshop ini hadir sebagai pembicara Deputi I BNPT Agus Surya Bakti, Perwakilan Kemenag Hilmi Muhammadiyah, KPAI Asrorun Niam dan Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Prof. Dr. Bambang Pranowo.

PP IPNU dengan BNPT rencananya akan melakukan roadshow pencegahan ISIS di 7 wilayah yang masih dianggap subur gerakan radikal seperti Cirebon, Solo, Lamongan, Mataram, Banjarmasin dan Makassar. PP IPNU dalam kesempatan yang sama akan mendeklarasikan gerakan Pelajar Islam Nusantara (Pintar) di 7 wilayah tersebut. (Red: Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren Hari Santri 2019

Senin, 13 November 2017

Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah

Jakarta, Hari Santri 2019. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar Wisuda IV (Ke-4), Selasa (29/9) di Gedung Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta Timur. Dengan jumlah total lulusan yang sudah mencapai 1033 orang, Perguruan Tinggi yang berada di bawah naungan PBNU ini akan terus berkomitmen menjaga tanggung jawab Nahdliyah.

Demikian disampaikan oleh Kepala Badan Pelaksana dan Penyelenggara Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (BP3TNU), Drs KH Mujib Qulyubi, MH saat menyampaikan sambutan di depan 386 wisudawan dan wisudawati, serta para tamu undangan yang memadati Gedung Sasono Langen Budoyo.

Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah

“Tanggung jawab Nahdliyah ini akan terus melekat kepada para lulusan STAINU Jakarta dengan selalu memegang teguh dan mengamalkan ajaran-ajaran Aswaja ala NU,” terang pria yang juga menjabat Katib Syuriyah PBNU itu sesaat setelah Ketua STAINU Jakarta, dr H Syahrizal Syarif, MPH, PhD menyampaikan sambutan.

Hari Santri 2019

Kiai Mujib juga menegaskan, lulusan STAINU Jakarta jelas statusnya dan jelas sanad kelimuannya. Hal ini ditegaskan dengan hadirnya beberapa pejabat tinggi di lingkungan Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI serta Ketua Umum PBNU beserta jajaran ketua lainnya.

“Hal ini saya sampaikan terkait informasi wisuda ilegal sebuah perguruan tinggi yang tersebar di media beberapa waktu lalu,” jelas mantan Ketua STAINU Jakarta ini.

Hari Santri 2019

Dia melanjutkan, sanad kelimuan yang terbangun secara akademik di STAINU Jakarta juga sangat jelas. Karena kelimuan yang berasal dari Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, tegas Kiai Mujib, dijamin menyambung hingga kepada Nabi Muhammad saw.

Dalam kegiatan wisuda ini, hadir Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU, KH Abdul Manan Ghani dan Dr H Marsudi Syuhud, serta Wakil Ketua Kopertais I DKI Jakarta, Dr Abdul Wahid Hasyim. Hadir juga menyampaikan orasi ilmiah, Dirjen Pendidikan Islam, Kemenag RI, Prof Dr Kamaruddin Amin, beserta jajaran pejabat Kemenag lainnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Hikmah, Aswaja Hari Santri 2019

Sabtu, 11 November 2017

Rutinitas Ramadhan di Kota Konya Turki

Turki, Hari Santri 2019. Tidak terasa kita telah menyelesaikan separuh bulan Ramadhan. Tiga hal yang selalu mengiringi bulan Ramadan adalah puasa, tadarus Al-Qur’an dan salat tarawih. Dengan berbagai macam ibadah, Muslim di seluruh belahan dunia berlomba-lomba mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Kontributor Hari Santri 2019, Hari Pebriantok mencatat beberapa rutinitas selama bulan suci Ramadhan di Kota Konya, Turki.?

Rutinitas Ramadhan di Kota Konya Turki (Sumber Gambar : Nu Online)
Rutinitas Ramadhan di Kota Konya Turki (Sumber Gambar : Nu Online)

Rutinitas Ramadhan di Kota Konya Turki

1. Mukabele di Masjid Kap? Camii

Mukabele adalah kegiatan membaca atau menghafal Al-Quran yang dilakukan secara bergantian. Di masjid yang dibangun oleh ? salah satu keturunan Maulana Jalaluddin Rumi-- Hasano?lu ?eyh Hüseyin Çelebi pada tahun 1658 ini tradisi mukabele sudah berlangsung selama 50 tahun. Kegiatan mukabele bisa kita ikuti selepas shalat dzuhur. Para hafiz secara bergantian menghafal Al-Qur’an di mimbar masjid sambil disimak oleh para jemaah. Posisi masjid Kap? Camii tidak jauh dari makam Maulana Jalaluddin Rumi. Letaknya yang strategis membuat masjid ini selalu penuh oleh para insan yang beribadah.



Hari Santri 2019

2. Ziarah Makam Wali

Hari Santri 2019

Masyarakat Turki masih akrab dengan tradisi ziarah kubur para wali. Orang Turki tidak ada yang membidahkan ziarah kubur. Pada bulan Ramadhan jumlah peziarah di makam para wali semakin meningkat. Di Konya, salah satu tujuan peziarah selain ke makam Maulana Jalaluddin Rumi adalah makam Sadruddin Konevi, seorang ulama tasawuf abad ke-13.

? ?

3. Tarawih di pelataran Masjid Selimiye

Salah satu ibadah sunah pada bulan Ramadhan adalah shalat tarawih. Masyarakat Konya setiap malam berduyun-duyun memadati halaman Masjid Selimiye, salah satu masjid peninggalan Kesultanan Osmani. Masjid Selimiye mulai dibangun pada zaman kekuasan Sultan Selim II (1558-1567). Letak masjid ini di komplek makam Maulana Jalaluddin Rumi. Salat tarawih di tempat ini berjumlah 20 rekaat, setiap dua rekaat salam, dan setelah salam para jemaah membaca salawat atau kalimat tasbih bersama-sama.

4. Minum teh di kedai-kedai

Setelah melaksanakan ibadah shalat tarawih, masyarakat Konya biasa bercengkerama sambil menyesap çay, teh Turki di kedai-kedai yang bersebaran di sekitar masjid. Sebagaimana kita tahu setiap ibadah yang diperintahkan Allah adalah untuk meningkatkan hubungan vertikal dan horizontal secara seimbang. Hubungan vertikal antara makhluk dengan Sang Pencipta, hubungan horizontal yaitu hubungan sesama makhluk Allah SWT. ? Minum teh sambil bercengkrama yang bermanfaat adalah salah satu cara menyeimbangkan hubungan vertikal dan horizontal masyarakat Konya dan Turki pada umumnya. Obrolan-obrolan di kedai teh ini mengalir hingga larut malam.



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ubudiyah, Pesantren Hari Santri 2019

Minggu, 05 November 2017

NU dan Serangan Paham Keagamaan Negara Kaya Minyak

Oleh Syarif Hidayat Santoso

---Disadari atau tidak, Indonesia adalah lahan penyebaran petroreligiositas. Petroreligiositas adalah lahirnya transformasi keberagamaan negara-negara kaya minyak. Di dunia Islam, negara yang gencar menyebarkan petroreligiositas adalah Arab Saudi dan Iran. Arab Saudi dengan paham salafi-wahabinya dan Iran dengan syiahnya. Melalui dana miyak yang melimpah, mereka menyebarkan pahamnya ke seluruh dunia. Bahkan antar keduanya telah terjadi semacam kontestasi yang saling menegasikan.

Melalui kekuatan Rabitah Alam Islami dan buku-buku gratis yang dibagikan kepada para jamaah haji, arab Saudi menyebarkan pahamnya. Arab Saudi juga aktif memobilisasi dan mendanai gerakan jihad internasional seperti di Afghanistan waktu invasi Sovyet dan perang Bosnia. Iran pun juga sama. Mereka mengekspor Revolusi Islamnya ke seluruh dunia, salah satunya melalui organisasi Jamaah Dakwah. Iran juga berperan aktif di Irak, Afghanistan, Lebanon, Bahrain, Yaman ? melalui ? partai-partai dan milisi lokal.

Jihad pun tak lagi murni sebuah ibadah. Jihad internasional telah menjadi pertaruhan perebutan kuasa politik antara Iran dan Arab Saudi. Semasa perang Bosnia (1992-1995), ditemukan dua kelompok mujahidin internasional yang berafiliasi baik dengan Iran maupun Saudi. Ada mujahidin syiah bentukan Hezbollah dukungan Iran. Kesatuan mujahidin ini berasal dari kombinasi pejuang Palestina, Lebanon, syiah Afghan dan Iran. Di sisi lain, Arab Saudi melatih dan mendanai veteran perang Afghan dalam jihad di Bosnia. Poros mujahidin pro Saudi ini terdiri dari kombinasi para pejuang sunni Turki, Albania, Arab Saudi, Afghanistan dan sukarelawan Eropa.

NU dan Serangan Paham Keagamaan Negara Kaya Minyak (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Serangan Paham Keagamaan Negara Kaya Minyak (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Serangan Paham Keagamaan Negara Kaya Minyak

Petroreligiositas juga merambah Indonesia. Bentuknya berupa transformasi pemikiran melalui buku-buku, yayasan, pesantren dan sekolah Islam yang berafiliasi dengan keduanya. Kaum Wahabi-Salafi juga pernah berjihad di Ambon. Salafi dan syiah juga saling berkontestasi dalam ruang religiositas Indonesia. keduanya saling berseteru dan menjadikan kaum sunni tanah air sebagai basis massa untuk diperebutkan.

NU dengan kekuatan basis massa tradisionalnya merupakan sasaran empuk gerakan petroreligiositas. Basis massa NU digerogori sedikit demi sedikit. Jika puluhan tahun lalu, basis NU di Jawa adalah sepenuhnya NU, kini tidak lagi. Di Madura, telah bersemi gerakan Syiah dan Salafi. Syiah dan salafi juga muncul dengan ambisius di basis terkuat NU mulai Bangil, Pekalongan, Jember, Bondowoso, Kediri, Jombang, Gresik, Banyuwangi, Cirebon dan Surabaya. ?

Hari Santri 2019

Salafi dan syiah bergerak dengan dua titik. Pertama, ruang urban di perumahan-perumahan di kota, kedua di pedesaan terpencil. Ini merupakan taktik kaum petroreligiositas. Di perumahan-perumahan modern, kaum transnasional bisa dengan mudah mendapat kader. Sebab sosiologisnya karena ikatan warga penghuni perumahan relatif longgar. Warga perumahan pada dasarnya merupakan kalangan terpelajar kelas menengah keatas namun minim ilmu agama. Gerakan petroreligiositas dengan gigih berupaya merebut massa kalangan profesional. Mereka dengan bangga akan mengatakan ke hadapan publik bahwa kader dan simpatisannya merupakan kalangan terpeelajar dan profesional.

Kalangan awam di pedesaan terpencil juga merupakan sasaran empuk. Taktik yang dipakai mirip misionaris. Menyantuni kaum miskin sambil menyebarkan pahamnya. Baik di perumahan maupun kawasan terpencil NU relatif bergerak. Di perumahan kaum urban, NU relatif sulit didekati karena longgarnya basis soliditas antar warga. Kaum urban juga terkadang sinis terhadap para kiai dan ustadz NU yang dianggap konservatif dan tradisional. Di kawasan terpencil, NU terkena stigma sebagai pelindung kaum abangan. Posisi NU di kawasan terpencil kadang kalah gesit dengan ormas lokal Hidayatullah dan DDII. Dalam beberapa kasus sering dijumpai kalau gerakan Islam transnasional bisa berkembang karena memanfaatkan massa Islam modernis yang lebih dulu ada.

Hari Santri 2019

Bagi kalangan urban, para tokoh NU yang berstatus akademisi atau mereka yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi wajib didayagunakan. Kombinasi antara kiai salaf dengan kiai universitas wajib dilakukan demi dakwah di kota-kota. Tanpa dukungan akademisi, dakwah NU akan diminorkan kaum urban. Di desa terpencil, NU harus lebih kreatif dalam melindungi kaum abangan diantaranya dengan perbaikan syariat secara perlahan. Sebabnya, Kaum transnasional sering mendudukkan kaum abangan sebagai sasaran dakwah. Simpati terhadap Dakwah salafi-wahabi sebenarnya lebih banyak berasal dari kalangan abangan, bukan nahdliyyin. Kaum abanganlah penyumbang terbesar kader salafi-wahabi di Indonesia.

Petroreligiositas adalah fakta global abad ini. Meskipun terlihat kuat dan tangguh, namun petroreligiositas rapuh di dalam karena digerakkan berdasar uang. Petroreligiositas juga rapuh karena berdasar kombinasi antara dakwah dan politik.

?

Syarif Hidayat Santoso, alumni hubungan internasional FISIP UNEJ, warga NU Sumenep.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Cerita, Pesantren Hari Santri 2019

Sabtu, 04 November 2017

Implementasi Perpres Pendidikan Karakter

Oleh Ai Maryati Sholihah

Akhirnya Permendikbud Nomor 23 tahun 2017 tentang sekolah lima hari telah dianulir dengan hadirnya Perpres tentang Penguatan Pendidikan Karakter Nomor  87/2017. Dalam Perpres tersebut tidak disinggung soal sekolah harus apalagi mewajibkan lamanya sekolah atau berapa hari sekolah dalam seminggu. 

Implementasi Perpres Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)
Implementasi Perpres Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)

Implementasi Perpres Pendidikan Karakter

Ini artinya argumentasi Penguatan Karakter dengan lama di sekolah tidak menjadi satu kausalitas yang otomatis seperti yang diramalkan orang-orang sebelumnya pada Permendikbud tersebut. Apa yang perlu dikawal?

Pertama, ntuk membangun Karakter yang baik, anak didik perlu diberikan teladan yang baik. Keteladanan berawal dari pengamatan, observasi, proses dan hasil-hasil evaluasi. Itu artinya sekolah sebagai satuan pendidikan, penting mengutamakan figur pendidik dan membangun lingkungan kondusif dalam menciptakan keteladanan.

 

Hari Santri 2019

Bagaimana mungkin pendidikan karakter diterapkan tanpa hadirnya contoh dan keteladanan? Apakah karakter yang dimaksud buat anak didik saja? Tentu tidak, karena anak didik justru lebih mudah menyerap contoh yang sehari-hari ia temukan. 

Figuritas guru di sekolah lebih menginternal bagi mereka ketimbang orang tua di rumah. Oleh sebab itu, pendidikan karakter menjadi tantangan kematangan kualitas kompetensi Guru sebagaimana dalam UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Kematangan kompetensi tersebut meliputi, pertama, Kompetensi Pedagogik, meliputi perencanaan langkah pembelajaran dan penguasaan Guru terhadap tugas pembelajaran yang sehari-hari dilaksanakan. 

Kedua, kompetensi Kepribadian yang menitikberatkan pada pendewasaan bersikap, mengelola emosi dan memberikan pelayanan yang baik kepada anak didik dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai pendidik. Seorang Guru yang menjunjung nilai, etika, norma dan ajaran agama sehingga karakternya memiliki kepribadian yang luhur menjadi kunci keberhasilan proses pendidikan.

Hari Santri 2019

Ketiga, Kompetensi Profesional merupakan tolak ukur seorang Guru dalam menguasai materi secara utuh dalam menjalankan profesi Guru. Ia bertindak kreatif, mampu membangun peningkatan kapasitas dirinya sehingga sesuai dengan tuntutan zaman. Seorang Guru dituntut menguasai materi pembelajaran sekaligus memahami relasi-relasi pada tugas pokoknya agar membangun penguasaan kompetensi Guru secara profesional. 

Keempat, kompetensi kompetensi sosial, yakni Guru sebagai komunikator ulung yang bertindak secara efektif baik kepada anak didik, sesama rekan sejawat, wali murid bahkan secara sosial kemasyarakatan. Sikapnya yang empatik, berkomunikasi yang baik dan memiliki jiwa moderat dengan menyadari bahwa kita semua berada dalam keragaman dan perbedaan serta corak budaya masyarakat yang beraneka.

Kedua, Karakter yang penting ditumbuhkan dalam ranah pendidikan adalah national character building, yakni sekolah memiliki totalitas peran dalam membangun kecintaan anak pada tanah air dan bangsa. Hal ini untuk membangun semangat kebangsaan dan keindonesiaan di atas kesadaran sebagai seorang manusia yang memiliki keterikatan dengan yang Maha Kuasa. 

Jika penguatan karakter kebangsaan sudah menjadi tujuan besar dalam pendidikan, maka integritas sikap jujur, mandiri, gotong royong, kasih sayang dan persaudaraan akan menjadi bagian tak terpisahkan. 

Karakter nasionalisme menghargai seluruh capaian pembangunan bangsa sejak zaman nenek moyang, sebelum merdeka dan pasca kemerdekaan dengan menghormati jasa-jasa founding fathers serta mengembangkan sikap patriotisme yang dikembangkan dan bersumber dari sekolah.

Nilai nasionalisme bukanlah faktor tunggal dalam membangun karakter manusia seutuhnya, ia harus selaras dan saling menyempurnakan dengan sikap ketaatan beragama dan sesuai dengan local wisdom yang dimiliki bangsa indonesia.

Ketaatan beragama tentu bersumber dari ajaran agama-agama yang sudah lebih dulu membangun karakter bangsa ini untuk mampu hidup rukun dan bersatu, saling menjaga dan menghormati keberagaman dalam menjalankan aktivitas keagamaan. 

Dan kearifan lokal bersumber dari adat dan budaya yang menuntun pada terselenggaranya kehidupan yang kian beradab, harmonis dan memiliki tujuan yang sama dalam menciptakan kehidupan yang adil, makmur dan sejahtera.

Dengan demikian jalan panjang penguatan pendidikan karakter akan sedemikian jelas terbentang dalam memandu anak-anak bangsa kian tumbuh dan berkembang dalam pusaran zaman yang kian ganas. 

Inilah peluang sekaligus tantangan yang penting untuk kita isi bersama. Beragam kemudahan di sekolah yang anak didik dapatkan hari ini selalu bersanding dengan bahayanya bagi mereka. Internet dan media merupakan ujung kemudahan fasilitas di sekolah, namun apakah kita arif menyikapinya? Tugas sekolahlah mentransformasikan ilmu tersebut kepada anak didik dengan baik.

Penulis adalah Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock