Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2018

Pagar Nusa Trucuk Gelar Atraksi di Arena Bebas Kendaraan

Klaten, Hari Santri 2019 - Mentari pagi tampak masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Meski demikian, suasana di area bebas kendaraan atau Car Free Day (CFD) di jalanan seputar alun-alun daerah Klaten, Ahad (24/1) pagi, sudah terlihat ramai.

Lalu lalang para pengendara sepeda dan pejalan kaki membuat suasana pagi itu terasa begitu bergairah. Begitu juga dengan para pedagang kaki lima yang menawarkan aneka makanan dan minuman.

Pagar Nusa Trucuk Gelar Atraksi di Arena Bebas Kendaraan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Trucuk Gelar Atraksi di Arena Bebas Kendaraan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Trucuk Gelar Atraksi di Arena Bebas Kendaraan

Dari sebagian kerumunan warga tersebut, terdapat para bocah berpakaian hitam. Dengan berjalan kaki menyusuri jalanan area bebas kendaraan, sesekali mereka menampilkan berbagai jurus pencak silat dan atraksi yang menarik para pengunjung lainnya.

Hari Santri 2019

Rupannya puluhan bocah itu adalah para pendekar cilik Pencak Silat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama SDIT Ma’arif Babad, Trucuk, Klaten. Anak-anak ini memeragakan jurus-jurus yang membuat mereka tampak lucu dan menggemaskan di mata pengguna jalan.

Menurut keterangan koordinator lapangan Rifai, penampilan para siswa SDIT Ma’arif Babad Trucuk ini atas permintaan dari pihak UPTD Klaten.

“Dari anak-anak kali ini menampilkan berbagai atraksi pencak silat Pagar Nusa seperti koreografi flashmob, seni ganda, dan beregu,” kata Rifai.

Hari Santri 2019

Ditambahkan salah satu pelatih Pagar Nusa Klaten Ibnu Fajar, untuk penampilan di CFD ini, para siswa hanya berlatih selama 3 hari karena terbentur padatnya KBM.

“Meski demikian, alhamdulillah penampilan siswa-siswi ini terbilang sukses dan meriah, terlihat dari banyaknya ratusan masyarakat yang mengerumuni dan memberikan apresiasi kepada kami,” papar Ibnu Fajar. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Hikmah, Jadwal Kajian Hari Santri 2019

Sabtu, 03 Februari 2018

Politik Maslahat Berlandaskan Kaidah Fiqih

Kita kini dihadapi pada sebuah kenyataan–sebagai anak kandung sejarah manusia–bahwa teks yang mati selamanya tidak akan mampu membendung arus perubahan kehidupan manusia yang terus-menerus bergerak.

Sementara ini kita hanya bisa mengamini bahwa an-nusush tatanaha wal waqa’i’ la tatanaha merupakan gambaran nyata yang tak bisa dielak, yang menunjukkan satu tantangan besar bagi seluruh doktrin keagamaan khususnya Islam dalam menghadapi ancaman stagnansi dan status quo. Dan sampai detik ini ancaman itu masih mewujud gelombang yang seringkali gagal dibendung lantas menimbulkan kekacauan.

Di sisi lain, fakta pertama yang harus kita terima adalah, bahwa seluruh doktrin keislaman bersumber pada teks. Al-Qur’an dan Hadis adalah teks dan keduanya tak bergerak. Teks, dengan sifatnya yang diam, secara tidak langsung memiliki kemampuan untuk menerima kemungkinan-kemungkinan penafsiran yang beragam dari para pembacanya. Selain itu, teks juga memungkinkan untuk ditekuk dan dipelintir menjadi alat legimitasi kekuasaan serta kepentingan sebuah kelompok, yang menyimpang dari maksud syariat sebagai visi awalnya.

Politik Maslahat Berlandaskan Kaidah Fiqih (Sumber Gambar : Nu Online)
Politik Maslahat Berlandaskan Kaidah Fiqih (Sumber Gambar : Nu Online)

Politik Maslahat Berlandaskan Kaidah Fiqih

Untuk menutup penyelewengan tersebut, dirumuskanlah kaidah-kaidah yang menjadi pagar bagi segenap kerja penafsiran teks. Dalam tradisi pesantren, kaidah ushul dan kaidah fiqih, menjadi diskursus utama yang harus dipelajari sebagai metodologi pemahaman serta penafsiran dan hidup sebagai karakter berpikir kaum pesantren yang analitik dan kritis. 

Maka, dibandingkan dengan ayat al-Qur’an ataupun hadis Nabi, kaum santri lebih akrab dengan kaidah-kaidah fiqih. Keakraban yang lantas membentuk pola berpikir inilah yang kemudian melahirkan daya kontekstual yang begitu luar biasa dari kaum santri. Bukan hanya pada tataran ritual keagamaan, namun mereka juga mampu berpikir dan memberikan solusi atas berbagai problematika kehidupan umat atas dasar kaidah fiqih yang mereka pelajari dan hidupi tersebut.

Hari Santri 2019

Buku ini menunjukkan satu sisi ketika kaidah-kaidah fiqih, yang awalnya ditujukan hanya sebagai metode pengambilan hukum Islam, diimplementasikan ke dalam gerak perpolitikan dan dijadikan dasar pengambilan kebijakan. Dengan mengingatkan kembali akan patahan-patahan fakta sejarah dibangunnya republik ini, buku ini secara tidak langsung juga mengingatkan kita bahwa ia dibangun dari pola berpikir dan identitas yang berkarakter. 

Dengan mempertautkan antara subyektifitas dan tradisinya sebagai orang Nusantara, berikut konsep dan kaidah fikih yang menjadi warna berpikirnya, para kiai kita dengan canggih mampu membangun serta merumuskan format kebangsaan yang independen, berketuhanan dan mempu menopang keragaman.

Produk pemikiran seperti Indonesia sebagai Darul Islam, pengangkatan Presiden Soekarno sebagai waliyyu-l-amri ad-dharuri bis syaukah hingga pembentukan Trikora sebagai solusi Papua Barat, merupakan bukti bahwa para kiai memegang peranan penting sebagai aktornya dan kaidah fikih sebagai senjatanya. Al-ashlu baqa’u ma kana ‘ala ma kana, yang awalnya dirumuskan guna menyelesaikan problem praduga tak bersalah dalam hukum Islam, di tangan para kiai, menjadi cara pandang visioner yang melegitimasi Indonesia sebagai Darul Islam. 

Kaidah-kaidah fiqih ini pun bergerak, menyatu dan seringkali menjadi sarana pembentuk jalan tengah bagi persoalan-persoalan yang menyentuh isu kedaulatan, integritas politik dan kesatuan bangsa Indonesia.

Hari Santri 2019

Fakta sejarah yang paling jelas dari cara kerja kaidah fiqih dalam lokus perpolitikan di Indonesia juga bisa kita lihat dalam diri Gus Dur. Dalam tulisan-tulisannya, sulit atau bahkan mustahil menemukan langsung kutipan-kutipan ayat al-Qur’an ataupun hadis. Yang banyak ditemukan justru kaidah-kaidah fiqih. 

Tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manuthun bil maslahah adalah satu dari sekian banyak kaidah yang sering Gus Dur kutip. Melalui kaidah tersebut, Gus Dur mampu merumuskan relasi antara agama, negara dan kebudayaan. Melalui kaidah itu juga, Gus Dur rajin mengritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang mendiskriminasi kaum minor dan lain sebagainya.

Ketika duduk di kursi kepresidenan, jalan pedang perpolitikan Gus Dur banyak dinilai sebagai jalan politik kontroversial. Bagi kalangan yang tidak terbiasa dengan mekanisme kerja kaidah fiqih, sulit untuk memahami jalan pikiran dan strategi politik Gus Dur. Maka orang-orang ribut ketika di tahun 2000 Gus Dur setuju untuk menjadi anggota Simon Peres Foundation Israel di tengah konflik berkepanjangan Palestina-Israel. 

Karena bagi Gus Dur, percuma berusaha mendamaikan kedua negara yang sedang konflik jika juru damainya menjadi musuh bagi salah satu dari keduanya. Jalan pikiran Gus Dur ini tidak berbeda misalnya ketika Mbah Wahab Chasbullah dengan Partai NU-nya selalu berada dalam kabinet bentukan Soekarno. Bahkan, konon Mbah Wahab banyak disindir sebagai Kiai Nasakom karena apapun kebijakan Soekarno, NU dipastikan ada.

Dari sini muncul tunduhan-tunduhan oportunisme atau politik plin-plan yang dimainkan oleh para ulama, inkonsistensi dan lain sebagainya. Seluruhnya disematkan untuk ketidakpahaman kelompok lain atas jalan politik para kiai dan ulama yang didasarkan pada kaidah-kaidah fiqih. 

Dan sampai saat ini, mana generasi Islam yang belajar politik lalu mendapat matakuliah kaidah fiqih sebagai salah satu piranti politik paling menentukan dalam sejarah kebudayaan di Indonesia? Tidak ada! Ada sekat yang saat ini dibangun bahwa kaidah fikih harus dikembalikan, dipuritanisasi ke dalam tetek bengek masalah ritual peribadatan saja. Sehingga politik Islam, lagi-lagi, kehilangan tajinya dan kerangka epistemologisnya yang khas.

Sekali lagi, buku ini menjadi dokumen penting yang mengingatkan serta berusaha mengembalikan kaidah fiqih sebagai basis perpolitikan Islam dan pertimbangan dalam mengambil kebijakan. 

Buku ini juga memperlihatkan bagaimana kaidah fiqih menjadi landasan bagi sikap tegas sekaligus lentur sebagaimana yang diperlihatkan ulama kita, baik kaitannya dengan agama, budaya maupun kebangsaan. Kata Kiai Wahab Chasbullah, “pekih iku lek rupek yo diokeh-okeh!”… idza dhaqa ittasa’a wa idza-ttasa’a dhaqa. (*)

 

Identitas buku

Judul Buku: Kaidah Fikih Politik: Pergulatan Pemikiran Politik Kebangsaan Ulama

Penulis: Syaikhul Islam Ali

Editor: M. Khairul Huda dan Abdurro’uf

Jumlah: xxviii+260 halaman

Penerbit: Bumi Shalawat Progresif

Peresensi: Hilmy Firdausy, Dosen Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Aktif di Komunitas Saung Jakarta dan al-Jabiri Institute Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Hikmah Hari Santri 2019

Kamis, 25 Januari 2018

Kemenpora Apresiasi Turnamen Futsal GP Ansor Tangerang

Tangerang, Hari Santri 2019

Sebagai upaya meningkatkan semangat olahraga dan menggali potensi pemuda, Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Tangerang menyelenggarakan kompetisi futsal di Sport Club Citra Raya, Tangerang, Banten. Acara ini digelar dalam rangka menyambut hari lahir ke-82 GP Ansor.

Kemenpora Apresiasi Turnamen Futsal GP Ansor Tangerang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenpora Apresiasi Turnamen Futsal GP Ansor Tangerang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenpora Apresiasi Turnamen Futsal GP Ansor Tangerang

Kali ini GP Ansor Kabupaten Tangerang mengangkat tema “Mewujudkan Soliditas dengan Menjungjung Tinggi Sportivitas”. Tujuan utamanya adalah sebagai sarana konsolidasi dan koordinasi di antara kader GP Ansor Kabupaten Tangerang.

Acara tersebut dibuka Teguh Raharjo selaku Deputi 3 bidang Pengelolaan Pembinaan Sentra dan Sekolah Khusus Olahraga Kemenpora, Ahad (17/4), mewakili Menpora Imam Nahrawi yang berhalangan hadir.

Hari Santri 2019

Dalam sambutanya Teguh Raharjo memberikan apresiasi yang tinggi kepada GP Ansor yang telah menginisiasi kegiatan tersebut. Ia berharap ke depan GP Ansor mampu membuat turnamen profesional dalam skala provinsi atau bahkan nasional.

“Kemenpora menyambut baik dan siap bekerjasama dengan GP Ansor untuk mengelar kompetisi-kompetisi olahraga dengan skala yang lebih besar,” tuturnya.

Hari Santri 2019

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Tangerang Khoirun Huda menyampaikan bahwa turnamen futsal ini digelar dalam rangka mencari bibit-bibit kader yang memiliki keterampilan dalam olahraga futsal.

“Saya akan dorong agar ini bisa menjadi kegiatan rutin dan semoga kita dapat menggelar turnamen profesional,” imbuh pria yang pernah menjadi Direktur Sekolah Demokrasi ini.

Turnamen yang diikuti 32 tim futsal GP Ansor se-Kabupaten Tangerang berlangsung semarak. Selain ratusan kader GP Ansor dan Banser, turut hadir juga anggota DPRD Provinsi Banten H. Ade Awaludin, Ketua PW GP Ansor Banten H Imron, Ketua DPD KNPI Cucu Abdurrosyid, dan Kabid Olahraga Disporabudpar Kabupaten Tangerang Iratmoko.

Sementara anggota DPRD Banten Ade Awaludin menyampaikan, GP Ansor mesti menjadi organisasi pemuda yang dinamis, senantiasa hadir dalam setiap momentum pembangunan. “Saya kira turnamen futsal ini menjadi bagian ikhtiar GP Ansor menggali dan menyalurkan bakat anak-anak muda Tangerang,” ucapnya.

Senada dengan Ade, Ketua DPD KNPI Cucu Abdurrosid yang juga Kabid Pemuda Disporabudpar Kabupaten Tangerang menegaskan pentingnya menggali potensi dan mengarahkan pemuda Tangerang untuk menjadi pemuda-pemuda yang memiliki keahlian, karakter kedisiplinan, dan sportivitas yang tinggi. “Pemuda Tangerang harus memiliki daya saing dan skill yang andal agar dapat berkhidmat dan membawa nama baik Tangerang,” jelasnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Hikmah, Sejarah, Lomba Hari Santri 2019

Sabtu, 13 Januari 2018

Tiga Hal Ini yang Perlu Diperkuat PMII

Sukabumi, Hari Santri 2019 - Di tengah arus globalisasi dan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus memperkuat tiga hal. Diantaranya, memperkuat karakter yang jelas yaitu Ahlusunnah wal-Jamaah (Aswaja).

“Jika karakter pondasi Aswaja kita tidak diperkuat maka kita akan mudah tergusur,” ungkap Sekretaris Pengurus Besar PMII Rizavan Shufi Thoriqi pada pelantikan Pengurus Cabang PMII Kabupaten Sukabumi di gedung Baznas Cisaat, Sukabumi,? Jawa Barat Rabu (27/4).

Tiga Hal Ini yang Perlu Diperkuat PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Hal Ini yang Perlu Diperkuat PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Hal Ini yang Perlu Diperkuat PMII

Supaya memiliki karakter yang jelas tersebut, kata dia, PMII melakukan penguatan kebijakan organisasi di bidang Aswaja. Diantaranya yaitu PMII mengisi ruang-ruang kegiatan keagamaan di kampus, masjid, mushala dan juga pesantren.

Hari Santri 2019

Sebagai upaya menghadapi MEA, lanjut dia, kader PMII harus berdaya saing, mampu menguasai teknologi dan informasi, serta harus mempunyai kreativitas yang tinggi.

Ketua Cabang PMII Sukabumi Ade Opa Mustopa mengatakan, PMII adalah organisasi yang konsisten dalam menjalankan Islam Ahlusunnah wal-Jama’ah yaitu ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW, diteruskan para sahabatnya, ulama-ulama yang terjaga sanadnya sampai sekarang.

Hari Santri 2019

“PMII menjadi generasi penerus para ulama, penerus untuk melestarikan ajaran Ahlusunnah wal-Jamaah,” tegasnya.

PMII, kata dia, akan selalu melakukan gerakan untuk perubahan dan mengkritik kebijakan pemerintah atas ketidakadilan, korupsi dan perusakan alam. “Maka dari itu PMII akan menjadi garda terdepan untuk memberikan spirit moralitas kepada bangsa ini,” tambahnya.

Pengurus Cabang dilantik Ketua Mabincab Kabupaten Sukabumi KH Hamdun Ahmad. Ia berpesan kepada kepengurusan yang baru supaya bekerja untuk menjalankan amanat dan bekerja yang lebih baik.

Selain pelantikan, dilanjutkan dengan rapat kerja cabang (Rakercab) dengan tema "Membangun keutuhan dan kekuatan elemen bangsa demi mewujudkan kehidupan yang berdaulat”.

Hadir pada kesempatan itu perwakilan dari PB PMII, PKC PMII Jawa Barat, PC Kabupaten Bogor, PC Kota Sukabumi, dan PC Kabupaten Cianjur. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 RMI NU, Hikmah Hari Santri 2019

Jumat, 12 Januari 2018

Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB

Mataram, Hari Santri 2019. Pondok Pesantren Abhariyah Jerneng ? Asuhan Rais Syuriyah PCNU Lombok Barat TGH Ulul Azmi keluar sebagai juara Group A setelah mengungguli Pesantren Qomarul Huda Bagu Lombok Tengah dengan skor 2-0 di Stadion Kediri Lombok Barat, Senin (21/9).

Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Abhariyah Juara Grup A LSN Zona NTB

Babak penyisihan Liga Santri Nusantara (LSN) Zona NTB sudah berjalan dua hari dengan jadwal tiga kali pertandingan setiap hari. Pagi satu kali pertandingan dan sore dua kali pertandingan.

Jalannya pertandingan

Hari Santri 2019

Kemenangan Abhariyah diraih setelah Hariadi, pemain dengan nomor punggung 6 menjebol gawang Qomarul Huda dari Bagu di babak pertama.

Hari Santri 2019

Kemudian di babak kedua, pemain lini tengah, Lalu Zainul Hafidz dari Abhariyah melepaskan tendangan dari luar kotak penalti hingga kembali menjebol gawang lawan. Kedudukan 2-0 bertahan hingga pluit panjang berbunyi tanda pertandingan telah selesai.

Suharto, Pelatih Abhariyah ? menargetkan, timnya bisa meraih kemenangan pada semi final yang akan dihelat Jum’at (25/9).

Guru senior Abhariyah ini juga berspesan kepada pemain asuhannya agar tetap menjaga nama baik pesantren dengan bermain sportif. "Saya berpesan kepada semua pemain dan para suporter agar tetap menjaga nama baik pesantren dengan tetap mejaga sportivitas," katanya. (Hadi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Hikmah, Kajian Sunnah Hari Santri 2019

Rabu, 03 Januari 2018

Optimalisasi Penggunaan, Fasilitas Gedung NU Pringsewu Ditambah

Pringsewu, Hari Santri 2019. Kabar gembira bagi warga Pringsewu baik perorangan maupun lembaga dan instansi bahwasanya Aula Gedung NU Kabupaten Pringsewu sudah bisa dipakai untuk berbagai macam kegiatan umum seperti seminar, pertemuan, resepsi dan lain sebagainya.?

Optimalisasi Penggunaan, Fasilitas Gedung NU Pringsewu Ditambah (Sumber Gambar : Nu Online)
Optimalisasi Penggunaan, Fasilitas Gedung NU Pringsewu Ditambah (Sumber Gambar : Nu Online)

Optimalisasi Penggunaan, Fasilitas Gedung NU Pringsewu Ditambah

Hal ini disampaikan oleh Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Pringsewu, Fathurrahman di Gedung NU, Rabu 18/03/15.

Menurutnya sampai dengan saat ini sudah banyak instansi dan lembaga yang sudah mulai mengadakan kegiatan di Gedung NU yang terletak di Jl. Lintas Barat Kecamatan Pagelaran ini.?

Hari Santri 2019

"Dua ? Minggu di bulan Maret ini saja sudah ada 4 kegiatan yang dilaksanakan di Gedung NU seperti Kegiatan HIMPAUDI Kabupaten Pringsewu, ? Musrenbang Kabupaten Pringsewu, ? Kegiatan PMII dan 2 hari ini MTQ KORPRI Kabupaten Pringsewu," jelasnya.

Fathurrahman menambahkan bahwa untuk menyikapi semakin tingginya minat masyarakat untuk menggunakan gedung, kepengurusan PCNU melalui Badan Pengembangan dan Pengelolaan Gedung NU sudah menambah beberapa fasilitas. Diantaranya pengadaan sound system, penambahan perlengkapan kursi dan meja, ? pemasangan LCD proyektor, penambahan dan renovasi toilet, serta pengadaan beberapa peralatan untuk memperlancar dan mendukung kegiatan.

Hari Santri 2019

Penambahan fasilitas di gedung yang berlantai 3 ini juga ditujukan untuk memperlancar kegiatan kegiatan intern NU dan badan otonom serta lembaga lembaga NU yang juga berkantor di gedung tersebut. Menurutnya kantor Banom seperti Muslimat, ? Ansor, IPNU dan IPPNU berada di lantai 2 dan 3 yang sekarang sudah aktif digunakan.

"Sesuai dengan peraturan penggunaan, kami mempersilahkan kepada masyarakat untuk memanfaatkan gedung NU untuk kegiatan kegiatan positif dan tidak menimbulkan keresahan bagi masyarakat khususnya warga sekitar," jelasnya. Fathurrahman juga menjelaskan bahwa gedung NU tidak diperkenankan digunakan bagi kegiatan kegiatan partai politik. Menurutnya, hal ini untuk menjaga netralitas NU sebagai organisasi kemasyarakatan yang tidak berpolitik praktis. (m faizin/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian Sunnah, Quote, Hikmah Hari Santri 2019

Minggu, 24 Desember 2017

Gerakan 1000 Microfon, Ansor Jombang Peduli Musholla

Jombang, Hari Santri 2019

Hampir sepekan ini, Gerakan Pemud Ansor Jombang keliling musholla dan masjid. Banom NU tertua ini memberikan bantuan Microfon dan speaker melalui "Gerakan Berbagi 1000 Microfon untuk Musholla”.

Gerakan 1000 Microfon, Ansor Jombang Peduli Musholla (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan 1000 Microfon, Ansor Jombang Peduli Musholla (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan 1000 Microfon, Ansor Jombang Peduli Musholla

"Minggu ini kita sudah memberikan sebanyak 4 Microfon untuk musholla yang membutuhkan, ? dan masih ada 4 lagi akan kita bagi," ujar Hamid Hamdah Koordinator gerakan Sosial 1000 Michofon untuk musholla usai penyerahan bantuan, Ahad (17/1/2016) di Ngoro Jombang.

Hamid mengatakan, gerakan sosial berbagi Microfon ini sebagai upaya Ansor peduli terhadap syiar Islam yang lebih banyak dilakukan masyarakat di masjid dan Musholla. Karena setiap hari kita mendengar adzan dari musholla dan masjid untuk mengingatkan kita akan sholat.?

"Disamping itu banyak musholla yang menjadi kegiatan khotmil Quran. Jangan sampai seruan ibadah ini tidak menarik didengar, makanya alat pengerasnya harus bagus," ujarnya menambahkan.

Hari Santri 2019

Dari mana modalnya, Hamid mengatakan, modal untuk pengadaan Microfon ini awalnya murni dari bantuan pengurus Ansor. "Dan kini setelah banyak yang tahu, gerakan sosial 1000 Microfon untuk musholla ini akhirnya banyak yang datang sendiri, kami memang tidak menolak untuk menyalurkan, demi kepentingan umat," tandasnya.

Agus Mulyono salah satu Takmir Musholla Ngoro Jombang yang menerima bantuan Microfon mengatakan Ansor sangat peka tehadap kebutuhan umat di bawah yang tidak tersentuh berbagai kalangan.?

"Dan ini salah satu bentuk untuk menjaga masjid dan musholla dari paham di luar Aswaja NU. Karena gerakan ini nyata di lapangan," katanya. (Muslim Abdurrahman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Habib, Nahdlatul, Hikmah Hari Santri 2019

Rabu, 20 Desember 2017

LPTNU Gagas Gerakan Santri Kuliah di Peringatan Hari Santri

Jakarta, Hari Santri 2019. Menyambut Hari Santri Nasional yang di peringati 22 Oktober, Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) menggagas sekaligus meluncurkan Gerakan Santri Kuliah. Kegiatan ini diselenggarakan di halaman Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jakarta, Jumat (21/10).

LPTNU Gagas Gerakan Santri Kuliah di Peringatan Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
LPTNU Gagas Gerakan Santri Kuliah di Peringatan Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

LPTNU Gagas Gerakan Santri Kuliah di Peringatan Hari Santri

Sekretaris Pimpinan Pusat LPTNU Lukmanul Khakim mengatakan, Hari Santri Nasional merupakan peringatan hari dimana santri sangat berperan dalam memperjuangkan, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan.

“Sejarah mencatat bahwa kontribusi santri dalam rangka memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan begitu besar, sehingga saat ini tugas santri yang paling penting dari pada itu adalah mengisi kemerdekaan,” ujar Lukmanul Hakim dalam keterangan tertulisnya kepada Hari Santri 2019, Jumat (20/10).

Pria yang akrab disapa Lukman ini menilai, di dalam mengisi kemerdekaan saat ini ternyata masih banyak santri di Indonesia yang belum bisa melanjutkan kuliah, dan itu jumlahnya cukup besar.

Hari Santri 2019

“Realitas saat ini menyebutkan masih banyak santri yang selesai sekolah belum mampu melanjutkan kuliah. Dari angka partisipasi kasar dari total jumlah yang lulus sekolah menengah atas hanya 30 persen yang melanjutkan kuliah. Itu artinya 70 persen tidak melanjutkan kuliah,” ungkap Lukman

Dengan di luncurkannya Gerakan Santai Kuliah, Lukman berharap nantinya tidak ada lagi santri yang berhenti melanjutkan kuliah karena faktor biaya. “Maka dari itu LPTNU tidak mau berdiam diri. dengan meluncurkan Gerakan Santri Kuliah diharapkan tidak boleh ada lagi santri yang tidak melanjutkan kuliah karena tidak punya biaya,” jelasnya.

Hari Santri 2019

Lukman menambahkan, kedepannya LPTNU akan memberikan 1000 beasiswa bagi santri yang mempunyai latar belakang ekonomi kurang mampu agar terus bisa menimba ilmu.

“Tahun 2017 LPTNU punya komitmen akan memberikan 1000 beasiswa bagi anak-anak NU yang belum bisa melanjutkan kuliah karena faktor ekonomi. Maka silahkan laporkan ke kami kalo ada anak NU yang belum bisa kuliah,” terangnya.

Oleh sebab itu, imbuhnya, santri akan mampu berkompetisi dalam menghadapi era dimana daya saing dan kualitas diri menjadi harga mati.

“Saat ini NU sudah punya beberapa kampus UNU yang siap untuk dijadikan pusat pengembangan keilmuan. Di era MEA saat ini merupakan era kompetisi. Maka, kompetisi harus disadari tidak lagi terjadi di internal, namun lebih pada kompetisi eksternal. Sehingga hadirnya UNU bisa melahirkan anak-anak NU yang punya kualitas diri dan berdaya saing,” tuturnya.

Acara peluncuran Gerakan Santai Kuliah ini ditandai dengan pelepasan balon oleh Lukmanul Khakim didampingi oleh Mastuki HS (Bendahara Umum LPTNU), Agus Jui Purmawan (Wakil Sekretaris LPTNU), dan Ahmad Nurul Huda (Dosen UNU Indonesia). Dalam kesempatan ini, juga diadakan bedah buku Kebangkitan Santri Cendekia karya Mastuki HS. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Hikmah, Halaqoh, Makam Hari Santri 2019

Kamis, 14 Desember 2017

Asosiasi Rumah Sakit Islam NU Se-Jateng Dikukuhkan

Demak, Hari Santri 2019. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah Abu Hafsin mengukuhkan Asosiasi Rumah Sakit Islam NU (Arsinu) seprovinsi Jateng di hotel Amantis jalan Lingkar Jogoloyo, Demak. Peresmian pada Rabu (29/7) pagi ini, dimaksudkan utnuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan mengonsolidasikan antarpengelola RS NU.

Asosiasi Rumah Sakit Islam NU Se-Jateng Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Asosiasi Rumah Sakit Islam NU Se-Jateng Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Asosiasi Rumah Sakit Islam NU Se-Jateng Dikukuhkan

Abu Hafsin mengapresiasi langkah positif pihak rumah sakit yang muaranya peningkatan khidmat bagi masyarakat.

“Kami ucapkan selamat pada pengurus menunjukkan kinerja dalam melayani umat. Perlu diketahui ini adalah organisasi NU terbaru,” kata Abu Hafsin.

Hari Santri 2019

Sementara Ketua Arsinu yang juga direktur RSI NU Demak dr H Abdul Azis menyebutkan tujuan dibentuknya asosiasi juga untuk mendorong kabupaten atau cabang lain mulai merintis dan mendirikan pelayanan kesehatan.

Hari Santri 2019

Pengukuhan ini diharapkan merangsang daerah lain untuk membangun Rumah Bersalin (RB), Balai Pengobatan (BP), klinik kesehatan bahkan terlebih lagi dengan pendirian Rumah Sakit.

“Kami membentuk asosiasi ini untuk mensosialisasikan program dan kinerja Rumah Sakit milik NU termasuk penguatan jaringan sehingga kiprah NU kelihatan khidmahnya di bidang kesehatan. Syukur-syukur daerah lain juga bikin rumah sakit,” tutur dr Azis.

Kepengurusan Arsinu, kata dr Azis, memprorioritaskan program dengan peningkatan pelayanan kesehatan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). “Nanti kita akan fokuskan JKN dalam pelayanan kesehatan ini dikarenakan bisa meringankan umat,” tegasnya.

Sebelum pelantikan, pengurus Arsinu melakukan deklarasi yang dipimpin Ketua LKNU Jateng dr H Mashudi yang dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman.

Anggota Arsinu yang ikut deklarasi selain RSI NU Demak ialah pengelola RS Kudus, Pati, Rembang, rumah sakit baru dari Sumpyuh Banyumas, RS Amanu Cilacap, dan RS NU Batang. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Hikmah, Santri Hari Santri 2019

Rabu, 13 Desember 2017

Peringati Hari Santri, GMNU Ajibarang Bakal Gelar Perkemahan Santri

Banyumas, Hari Santri 2019 

Untuk memperingati hari santri nasional, 22 Oktober 2017. Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas akan menggelar perkemahan santri Nahdlatul Ulama. 

Kegiatan tersebut rencananya akan digelar pada tanggal 20 - 22 Oktober 2017, bertempat di Lapangan Desa Pandansari, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. 

Peringati Hari Santri, GMNU Ajibarang Bakal Gelar Perkemahan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Santri, GMNU Ajibarang Bakal Gelar Perkemahan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Santri, GMNU Ajibarang Bakal Gelar Perkemahan Santri

Slamet Ibnu Ansori, Kordinator Generasi Muda NU Ajibarang mengatakan, selain perkemahan santri NU, pada kesempatan tersebut juga akan diadakan bakti sosial, pengajian akbar serta apel hari santri. 

"Lazimnya pramuka atau perkemahan pasti ada lomba-lomba, namun untuk sedikit membedakan dengan perkemahan yang biasa, kita akan mengadakan pengajian akbar, bakti sosial, festival hadrah, dan apel hari santri," katanya ketika ditemui usai rapat pembentukan panitia kegiatan, Rabu (20/9). 

Pada rapat yang digelar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Maarif NU Kulon tersebut, turut hadir pula Ketua MWCNU Ajibarang Kiai Amrudin Maruf, Ketua badan otonom serta Kepala Sekolah NU se-Kecamatan Ajibarang. (Kifayatul Ahyar/Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Hikmah, Anti Hoax, Ubudiyah Hari Santri 2019

Selasa, 05 Desember 2017

Aminuddin Ma’ruf Ketum PB PMII 2014-2016

Jakarta,Hari Santri 2019. Aminuddin Ma’ruf terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia periode 2014-2016 pada Kongres Jambi yang berlangsung 30 Mei sampai 10 Juni 2014.

Amin, kader PMII yang diusung Cabang Jakarta Timur tersebut menyelesaikan S1 di Universitas Negeri Jakarta dan melanjutkan S2 di Universitas Trisakti. Di PB PMII sebelumnya ia dipercaya sebagai Ketua Biro Pemberdayaan Ekonomi.

Aminuddin Ma’ruf Ketum PB PMII 2014-2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Aminuddin Ma’ruf Ketum PB PMII 2014-2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Aminuddin Ma’ruf Ketum PB PMII 2014-2016

Salah seorang pengurus PB PMII, Abdul Malik, menceritakan proses pemilihan di kongres tersebut. Menurut dia, awalnya yang mencalonkan diri menjadi ketua umum sekitar 15 orang. Setelah beberapa calon mengundurkan diri, 5 kandidat maju pada putaran pertama.

Hari Santri 2019

Kata Malik, pada putaran pertama itu Muammarullah Umam mendapat 51 suara, Aminuddin Ma’ruf 38,? Abdul Aziz 7, Zaini Mustakim 41, Jabidi Ritonga 35, Miftahul Aziz 45. Sementara pada putaran kedua Aminuddin 102, Muammarullah Umam 74, Miftahul Aziz 64.? ?

Hari Santri 2019

“Aminuddin terpilih secara demokratis pada kongres tersebut,” kata Abdul Malik melalui telpon Selasa (10/6). (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Hikmah, Nahdlatul Ulama Hari Santri 2019

Sabtu, 02 Desember 2017

IPNU Probolinggo Sosialisasikan Cegah Kawin Dini

Probolinggo, Hari Santri 2019 - Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Probolinggo untuk mencegah perkawinan dini. Mereka melakukan sosialisasi Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) di lembaga pendidikan yang berada di wilayah MWCNU Tongas, Sabtu (12/3).

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala BPPKB Probolinggo dr Hj Endang Astuti, Ketua MWCNU Tongas, Ketua IPNU Probolinggo Babussalam, Kepala KUA Tongas, Sekretaris Tongas dan Ketua MWCNU Tongas Abdul Hamid.

IPNU Probolinggo Sosialisasikan Cegah Kawin Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Probolinggo Sosialisasikan Cegah Kawin Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Probolinggo Sosialisasikan Cegah Kawin Dini

Sosialisasi ini diikuti oleh 100 orang peserta yang merupakan siswa SMA dan sederajat yang ada di wilayah Kecamatan Tongas. Dalam sosialisasi PUP ini mereka mendapatkan materi tentang pentingnya menikah pada usia yang ideal dan matang sehingga mampu membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Babussalam mengatakan bahwa IPNU sebagai organisasi pelajar sangat antusias dalam membangun sinergi yang pada hakikatnya memiliki kesamaan tujuan dengan BPPKB Probolinggo meskipun berbeda dalam proses saja.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

“Dengan kegiatan ini, IPNU ingin mewujudkan program wajib belajar 12 tahun melalui proses kaderisasi dan pengembangan organisasi. Sedangkan BPPKB ingin menurunkan angka pernikahan dini melalui sosialisasi dan semacamnya,” katanya.

Ia berharap sosialisasi tidak hanya sampai di sini. Ia berharap kader yang memperoleh informasi menyampaikan kembali informasi yang didapat baik melalui teman sebaya maupun melalui tetangga di lingkungan sekitarnya.

Sedangkan dr Hj Endang Astuti mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan Indek Pembangunan Manusia (IPM) Probolinggo.

“Di samping itu untuk mengurangi angka pernikahan dini dengan cara mewujudkan program wajib belajar 12 tahun. Tetapi upaya ini tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari orang tua dan lingkungan sekitar,” katanya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Hikmah, AlaSantri, Internasional Hari Santri 2019

Selasa, 28 November 2017

Menpora Buka Kejuaraan Dunia dan Festival Pencak Silat Ke-17

Jakarta, Hari Santri 2019 - Menpora Imam Nahrawi bersama Ketua PB IPSI Prabowo Subianto berupaya membawa pencak silat agar dapat dipertandingkan di Olimpiade. Imam Nahrawi secara jelas mengemukakan hal ini saat membuka Kejuaraan Dunia dan Festival Pencak Silat ke-17 sekaligus membuka Munas Ke-14 PB IPSI di Gelanggang Olahraga Lila Bhuana Denpasar, Bali, Sabtu (3/12) malam.

Menurut Menpora, memasukan pencak silat ke Olimpiade memerlukan proses panjang dan tidak mudah, salah satunya harus mendapatkan dukungan sedikitnya dari 70 negara anggota IOC yang memiliki federasi cabang pencak silat.

Menpora Buka Kejuaraan Dunia dan Festival Pencak Silat Ke-17 (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora Buka Kejuaraan Dunia dan Festival Pencak Silat Ke-17 (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora Buka Kejuaraan Dunia dan Festival Pencak Silat Ke-17

"Konsen Presiden Persilat Prabowo agar pencak silat road to UNESCO harus kita seriusi kembali agar jatidiri dan eksistensi pencak silat semakin jelas. Pencak silat bukan hanya urusan olahraga melainkan juga urusan kebudayaan. Pencak silat adalah olahraga asli Indonesia. mengampanyekan dan mengembangkannya adalah konsen kita semua tidak hanya IPSI dan pemerintah tetapi kita semua, melalui film salah satunya," tambahnya.

Kejuaraan yang digelar hingga 9 Desember mendatang ini akan mempertandingkan 24 nomor yang terdiri atas 18 nomor olahraga dan 6 nomor seni. Pertandingan ini diikuti ratusan atlet dari 40 negara di dunia, antara lain dari Perancis, Italia, Belanda, Jerman, Belgia, Australia, Arab Saudi, Palestina, Brasil, Kanada, dan Amerika Serikat.

Hari Santri 2019

Ketua Pelaksana Eddy Prabowo menyampaikan, dalam kejuaraan ini Indonesia menjadi tuan rumah kelima kalinya. "Pencak silat adalah budaya dan olahraga asli Indonesia yang semakin bertambah penggemarnya di seluruh dunia. Dalam kejuaraan ini sebanyak 40 negara akan ikut berpartisipasi dengan 533 atlet dan ofisial bersaing menjadi yang terbaik dari 24 cabang olahraga," kata Eddy.

Kontingen tuan rumah sendiri diperkuat sebanyak 30 atlet yang akan unjuk prestasi dan membela timnas Pencak Silat Indonesia dalam ajang yang bertajuk Pencak Silat Menembus Dunia, tambahnya.

Hari Santri 2019

Pembukaan ini berlangsung sangat menarik dengan memadukan unsur kebudayaan, kesenian, tari-tarian, dan olahraga-olahraga tradisional.

Hadir dalam pembukaan ini Asdep Pengembangan Olahraga Tradisional dan Layanan Khusus Bayu Rahadian, Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta, Ketua PB IPSI selaku Presiden Persilat Prabowo Subianto, Ketua Pelaksana Eddy Prabowo, dan Wakil Ketua KONI Pusat Suwarno. (Ben/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tegal, Hikmah, AlaNu Hari Santri 2019

Senin, 20 November 2017

Hukum Berobat Kepada Non-Muslim

Setiap orang pasti butuh pengobatan. Tidak ada manusia di dunia ini yang terbebas dari penyakit. Sebagian besar orang pasti pernah sakit, apakah itu penyakit ringan atau berat. Dengan kemajuan teknologi dan pengetahuan, alternatif pengobatan pun semakin banyak: bisa datang kepada pengobatan tradisional atau pengobatan modern. Tinggal pilih saja mana yang dirasa nyaman dan biayanya terukur.

Pengobatan yang ada di Indonesia tidak semua tabib atau dokternya Muslim. Malah bagi sebagian orang, mereka lebih percaya dan nyaman berobat dengan non-Muslim ketimbang dokter Muslim. Ada banyak hal yang membuat mereka tertarik dengan dokter non-Muslim, bisa jadi pengobatannya lebih bagus, profesional, dan lain-lain.

Hukum Berobat Kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Berobat Kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Berobat Kepada Non-Muslim

Ibnu Hajar Al-Haitami pernah ditanya soal ini, bagaimana hukum Muslim berobat kepada non-Muslim atau sebaliknya. Dalam Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra, ia menjelaskan:

Hari Santri 2019

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Muslim dibolehkan mengobati orang kafir, meskipun kafir harbi sebagaimana dibolehkan bersedekah kepada mereka, atas dasar perkataan Rasulullah SAW bahwa setiap kebaikan ada balasan. Sebaliknya, Muslim dibolehkan berobat kepada orang kafir dengan syarat tidak ada orang Islam yang mampu mengobati penyakitnya dan orang yang mengobatinya dapat dipercaya, serta tidak akan berbuat jahat.”

Hari Santri 2019

Ibnu Hajar membolehkan Muslim mengobati non-Muslim secara mutlak. Sementara Muslim yang berobat kepada non-Muslim dibolehkan bila tidak ada dokter Muslim dan bisa dipercaya. Persyaratan ini dibuat untuk kehati-hatian. Kalau memang dokter non-Muslimnya baik dan sudah berpengalaman dalam mengobati banyak orang, termasuk Muslim, tidak ada masalah untuk berobat dengannya.

Apalagi dalam konteks Indonesia, setiap pengobatan atau rumah sakit harus minta izin dulu kepada negara sebelum buka praktiknya. Izin ini bertujuan agar pemerintah bisa menilai apakah pengobatan tersebut memenuhi standar ilmiah, kesehatan, dan tidak merugikan publik. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Hikmah, Sholawat Hari Santri 2019

Rabu, 15 November 2017

Berguru ke Mbah Hasyim, "Luru Ilmu Kanthi Lelaku"

Nama Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) di kalangan nahdliyyin tidak asing lagi. Di samping sebagai pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926, Mbah Hasyim juga didaulat sebagai Ra’is Akbar NU hingga wafat di tahun 1947. Sebuah posisi tertinggi dalam organisasi NU.?

Buku baru berjudul Berguru Ke Sang Kiai; Pemikiran Pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari yang ditulis Mukani ini sebagai sebuah bentuk pengakuan terhadap kehebatan sosok Mbah Hasyim. Buku ini pada awalnya adalah hasil penelitian tesis di IAIN/UIN Sunan Ampel Surabaya. Karya ini menjadikan 23 tulisan Mbah Hasyim sebagai sumber primer. Baik dalam bentuk kitab ataupun risalah.

Sebagai sosok asli Jombang, nama Mbah Hasyim sudah ditulis dengan tinta emas dalam sejarah perjuangan Indonesia meraih kemerdekaan. Tidak hanya mampu mendirikan NU, juga mendirikan Pesantren Tebuireng. Kedua “warisan” ini sampai sekarang masih eksis dalam berkontribusi demi pembangunan Indonesia.?

Berguru ke Mbah Hasyim, Luru Ilmu Kanthi Lelaku (Sumber Gambar : Nu Online)
Berguru ke Mbah Hasyim, Luru Ilmu Kanthi Lelaku (Sumber Gambar : Nu Online)

Berguru ke Mbah Hasyim, "Luru Ilmu Kanthi Lelaku"

Tidak heran jika sudah puluhan buku ditulis untuk mengkaji sosok kakek Gus Dur ini. Termasuk juga puluhan penelitian. Baik skripsi, tesis ataupun disertasi. Itu semua membuat nama Mbah Hasyim semakin dikenal luas di masyarakat. Tidak hanya Indonesia, tapi juga dunia internasional.?

Hal ini tidak berlebihan. James J. Fox, guru besar antropologi di Australian National University (ANU), adalah orang yang pertama kali menyebut bahwa Mbah Hasyim layak diberi gelar waliyullah. Jadi, gelar itu bukan warga NU yang pertama kali memberikan.?

Hari Santri 2019

Begitu juga dengan “tuduhan” bahwa Mbah Hasyim seorang tradisionalis. Pendapat ini sangat tidak tepat. Karena menurut Howard M. Federspiel, guru besar di McGill University Kanada, Mbah Hasyim termasuk orang yang tidak menolak modernisasi. Tetapi, agaknya, sebagai seorang yang tertarik kepada modernisasi, meski dalam sistem di komunitasnya sendiri (hal. 14).

Pembelajaran Aplikatif

Hari Santri 2019

Di samping berhasil menjadi pendidik yang perlu diteladani, Mbah Hasyim juga menulis puluhan kitab dan risalah. Karya-karya itu hingga sekarang masih dijadikan referensi dalam berbagai pengajian-pengajian kitab kuning di dunia pesantren seluruh Nusantara. Karya kelima Mukani ini mampu merekam dengan baik butiran-butiran pemikiran Mbah Hasyim dalam bidang pendidikan.

Dalam khazanah pengembangan dunia intelektual, buku ini mampu hadir sebagai salah satu referensi utama bagi pengelola, pengambil kebijakan, pendidik, peserta didik dan stakeholders di Indonesia dalam memajukan pendidikan. Terutama pendidikan yang berorientasi pada aspek religius-etis dan afinitas ilmiah dengan kajian Islam.?

Dalam buku ini dipaparkan kunci sukses Mbah Hasyim dalam mengkonsep pendidikan Indonesia adalah model luru ilmu kanthi lelaku. Berdasar pendekatan ini, seorang pendidik dan peserta didik tidak sekedar berteori. Namun langsung belajar secara aplikatif di masyarakat. Itu semua harus dimulai dari diri sendiri (hal. 52).

Sebagai contoh adalah dalam menanamkan nilai nasionalisme dalam jiwa peserta didik. Tidak sekedar melalui penataran, seminar, workshop ataupun acara formal lainnya. Fatwa jihad untuk mengadakan perlawanan kepada bangsa penjajah sebagai aksi nyatanya. Bahwa, umat Islam dalam radius 60 kilometer wajib hukumnya untuk mengangkat senjata melawan kolonialisme Belanda yang hendak merebut kemerdekaan Indonesia. Jika gugur di medan perang, dihukumi mati syahid.

Fatwa ini kemudian yang mengilhami Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Justru dari resolusi yang dikeluarkan para ulama NU inilah meletus pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang sangat heroik itu. Meski, banyak sejarah belum menulisnya secara proporsional.?

Dalam membentengi keimanan umat Islam di Indonesia sebagai contoh kedua. Mbah Hasyim tidak sekedar menulis teori dalam kitab yang tebal. Ketegasan Mbah Hasyim dalam menolak saikere kolonialisme Jepang sebagai bukti nyatanya. Meski Mbah Hasyim harus menerima siksaan fisik di penjara Jombang, Mojokerto dan lalu dipindah ke Kalisosok Surabaya.?

Melalui buku ini, sebenarnya Mbah Hasyim memberikan kerangka konsepsional yang fundamental bagi pendidikan Indonesia. Langkah lebih teknis operasional memang harus tetap dikaji ulang untuk mengimplementasikan pemikiran pendidikan Mbah Hasyim ini.?

Mbah Hasyim, dalam buku ini, digambarkan sebagai sosok yang menghargai keberagaman. Pendidikan tidak boleh melakukan diskriminasi. Motivasi peserta didik dalam mencari ilmu juga harus bersih dari unsur materialisme. Karena mencari ilmu adalah perintah agama (hal. 127).

Sebagai seorang pendidik, guru dan dosen dituntut untuk selalu mengembangkan kompetensi yang dimiliki. Terutama dalam tradisi literer. Artinya, guru dan dosen dituntut mampu menulis materi pembelajaran. Karya ini yang akan dijadikan pedoman bagi peserta didik dalam pembelajaran (hal. 138).?

Pada tataran kurikulum, Mbah Hasyim menekankan tidak sekedar kecerdasan intelektual (IQ). Namun juga sikap baik dan keterampilan dibenahi dari diri peserta didik. Keseimbangan IQ, EQ dan SQ menjadi sebuah keniscayaan. Materi yang dibelajarkan tidak sekedar ilmu agama, namun juga ilmu-ilmu umum.?

Lingkungan pendidikan juga harus dikelola dengan baik. Keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan tiga lingkungan pendidikan yang sangat berpengaruh bagi keberhasilan peserta didik. Namun, ketiganya tetap berpangkal kepada proses pendidikan dalam keluarga. Terutama pentingnya sosok ibu dalam mendidik anak-anaknya (hal. 155).?

Melalui buku ini, sebenarnya Mbah Hasyim memberikan kerangka konsepsional yang fundamental bagi pendidikan Indonesia. Langkah lebih teknis operasional memang harus tetap dikaji ulang untuk mengimplementasikan pemikiran pendidikan Mbah Hasyim ini.?

Sosok pendiri NU ini pada titik tertentu hendak melakukan balancing terhadap dunia pendidikan di Indonesia. Tidak sekedar aspek formalitas, tetapi juga subtansi dari makna pendidikan harus diinternalisasikan dan diimplementasikan dalam kehidupan peserta didik. Pada ujungnya, diharapkan pendidikan Indonesia mampu melahirkan “produk” yang tidak hanya memiliki intelektual (pinter), tetapi juga memiliki integritas moral yang baik (bener).

Info Buku

Judul? : Berguru Ke Sang Kiai, Pemikiran Pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari

Penulis: Mukani

Prolog: Prof. Dr. Nur Ahid, M.Ag.

ISBN : 978-602-6827-08-1

Cet: I, Mei 2016

Tebal : 271 + xvi ? ? ? ? ?

Penerbit: Kalimedia, Yogyakarta

Peresensi:? Jumari, Dosen Fakultas Tarbiyah, Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh, Hikmah Hari Santri 2019

Selasa, 14 November 2017

Santri Surga Budayakan Kepedulian Sosial

Pamekasan,Hari Santri 2019. Sumber Gayam (Surga), Kadur, Pamekasan selama ini memang dikenal sebagai pesantren yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Di samping menyantuni masyarakat yang kurang mampu, pembudayaan kepedulian sosial juga dilabuhkan dalam kehidupan para santri yang menempa ilmu di dalamnya. Salah satunya itu ditunjukkan tradisi ta’ziyah ke kediaman santri yang sedang ditimpa musibah kematian.

Santri Surga Budayakan Kepedulian Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Surga Budayakan Kepedulian Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Surga Budayakan Kepedulian Sosial

Jumat (6/4) pagi, belasan pengurus dan santri Surga pergi ke desa Tampung, Larangan, Pamekasan. Mereka hendak menghibur salah satu santri yang sedang berkabung, salah satu orangtuanya meninggal dunia.

“Kami memang membudayakan hal ini. Setiap ada santri yang kena musibah, kami pasti selalu berusaha menghiburnya,” tutur alumnus Surga Baitiyah yang juga ikut ta’ziyah. “Ta’ziyah adalah salah satu cara untuk mewujudkan hal itu.”

Hari Santri 2019

Ta’ziyah merupakan salah satu tradisi NU di Madura. Ia bahasa lain bersilaturahmi ke rumah keluarga yang meninggal dunia dengan tujuan menghibur keluarga yang meninggal sembari mendoakan yang meninggal. Sekalipun berjarak jauh, orang Madura rela meluangkan waktu dan biaya demi membudayakan tradisi tersebut.

Hari Santri 2019

Dalam pantauan Hari Santri 2019, santri Surga juga mempertimbangkan hemat BBM. Mereka rela berdesakan mengendarai pick up. Tidak mau bersenang-senang dengan mobil mewah yang konon menghabiskan banyak BBM. 

 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor: Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Hikmah, Meme Islam Hari Santri 2019

Tak Sabar Lagi, Kiai NU Jatim Desak Pemerintah Tetapkan Status Darurat

Jakarta, Hari Santri 2019. Para ulama Nahdlatul Ulama (NU) benar-benar sudah tak sabar lagi dengan kelambanan penanganan pemerintah atas bencana lumpur panas Lapindo di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim). Setelah beberapa waktu lalu menemui Wakil Preseden Jusuf Kalla, kali ini para kiai NU Jatim menemui anggota DPR untuk meminta dukungan agar pemerintah menetapkan situasi darurat di Porong.

"Sekarang tidak penting lagi berdebat. Apakah mau dibuang ke laut atau di mana. Yang utama masyarakat harus diselamatkan apalagi sebentar lagi mau musim hujan," kata Ketua Pengurus Wilayah (NU) Jawa Timur Ali Maschan Moesa. Pernyataan itu disampaikannya saat meminta dukungan kepada Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (4/9)

Rombongan diterima Wakil Ketua FKB DPR Ali Masykur Musa dan anggota FKB asal daerah pemilihan Sidoarjo, Ario Wijanarko.

Tak Sabar Lagi, Kiai NU Jatim Desak Pemerintah Tetapkan Status Darurat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Sabar Lagi, Kiai NU Jatim Desak Pemerintah Tetapkan Status Darurat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Sabar Lagi, Kiai NU Jatim Desak Pemerintah Tetapkan Status Darurat

Menurut dia, penetapan situasi darurat dilahirkan melalui keputusan presiden atau peraturan presiden dan ditunjuk ketua yang bertanggungjawab untuk mengatasi dan menyelesaikan problem sosial yang terjadi di sana.

Ali juga meminta Lapindo memberikan ganti rugi atas kerusakan aset masyarakat serta membeli aset masyarakat dengan harga yang wajar.

Atas tuntutan kiai, Wakil Ketua FKB DPR RI Ali Masykur Moesa berjanji siap mendukung langkah para kiai.

Hari Santri 2019

Di tempat berbeda, hal senada diungkapkan Ketua PBNU Rozy Munir. Menurutnya, saat ini pemerintah dituntut keberaniannya untuk segera mengambil langkah kongkrit mengatasi kasus Lumpur yang sudah berlangsung sekitar empat bulan tersebut.

“Pemerintah harus tegas. Harus berani ambil risiko walaupun tidak populis. Kalau solusinya mau dibuang ke laut dan itu dianggap solusi terbaik, ya segera dilakukan,” tegas mantan Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN di era pemerintahan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Habib, Hikmah, Halaqoh Hari Santri 2019

Senin, 13 November 2017

Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah

Jakarta, Hari Santri 2019. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar Wisuda IV (Ke-4), Selasa (29/9) di Gedung Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta Timur. Dengan jumlah total lulusan yang sudah mencapai 1033 orang, Perguruan Tinggi yang berada di bawah naungan PBNU ini akan terus berkomitmen menjaga tanggung jawab Nahdliyah.

Demikian disampaikan oleh Kepala Badan Pelaksana dan Penyelenggara Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (BP3TNU), Drs KH Mujib Qulyubi, MH saat menyampaikan sambutan di depan 386 wisudawan dan wisudawati, serta para tamu undangan yang memadati Gedung Sasono Langen Budoyo.

Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah

“Tanggung jawab Nahdliyah ini akan terus melekat kepada para lulusan STAINU Jakarta dengan selalu memegang teguh dan mengamalkan ajaran-ajaran Aswaja ala NU,” terang pria yang juga menjabat Katib Syuriyah PBNU itu sesaat setelah Ketua STAINU Jakarta, dr H Syahrizal Syarif, MPH, PhD menyampaikan sambutan.

Hari Santri 2019

Kiai Mujib juga menegaskan, lulusan STAINU Jakarta jelas statusnya dan jelas sanad kelimuannya. Hal ini ditegaskan dengan hadirnya beberapa pejabat tinggi di lingkungan Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI serta Ketua Umum PBNU beserta jajaran ketua lainnya.

“Hal ini saya sampaikan terkait informasi wisuda ilegal sebuah perguruan tinggi yang tersebar di media beberapa waktu lalu,” jelas mantan Ketua STAINU Jakarta ini.

Hari Santri 2019

Dia melanjutkan, sanad kelimuan yang terbangun secara akademik di STAINU Jakarta juga sangat jelas. Karena kelimuan yang berasal dari Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, tegas Kiai Mujib, dijamin menyambung hingga kepada Nabi Muhammad saw.

Dalam kegiatan wisuda ini, hadir Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU, KH Abdul Manan Ghani dan Dr H Marsudi Syuhud, serta Wakil Ketua Kopertais I DKI Jakarta, Dr Abdul Wahid Hasyim. Hadir juga menyampaikan orasi ilmiah, Dirjen Pendidikan Islam, Kemenag RI, Prof Dr Kamaruddin Amin, beserta jajaran pejabat Kemenag lainnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Hikmah, Aswaja Hari Santri 2019

Kamis, 09 November 2017

500 Warga Ikuti Buka Bersama Sinta Nuriyah

Bandung, Hari Santri 2019 

Lebih dari 500 orang dari berbagai kelompok agama dan sosial mengikuti acara Dialog Kemanusiaan dan Buka Bersama Dra. Sinta Nuriyah Wahid, M. Hum. di halaman SD Santo Yusup Jln. Jawa Bandung, Selasa (16/7) sore. 

Dalam dialog bertema "Puasa: Sekolah untuk Kesabaran dan Kejujuran", Sinta mengatakan bahwa Indonesia merupakan sebuah negara kesatuan yang terdiri dari berbagai suku, agama, golongan, dan kelompok. 

500 Warga Ikuti Buka Bersama Sinta Nuriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
500 Warga Ikuti Buka Bersama Sinta Nuriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

500 Warga Ikuti Buka Bersama Sinta Nuriyah

Sebagai saudara sebangsa dan setanah air, kata istri KH Abdurrahman Wahid tersebut, segala perbedaan itu seharusnya tidak menjadi alasan bangsa Indonesia untuk saling menyakiti satu sama lain. Sebaliknya, sebagai saudara seharusnya bangsa Indonesia hidup rukun dan saling menghargai.

Hari Santri 2019

"Ramadhan merupakan momen tepat untuk menunjukkan toleransi kita terhadap umat beragama lain. Terbukti sekarang kita bisa berkumpul di sini, dengan perbedaan kita masing-masing, untuk mendukung saudara kita muslim yang sedang beribadah puasa," ungkapnya.

Pastor Yohanes Surono, OSC dari Tim Pastores Gereja Katedral – Bandung mengaku sangat bersyukur atas berlangsungnya acara ini. Ini merupakan acara kumpul "keluarga" dalam bentuk yang lebih luas. Tim pastoris pastor suwono berharap kegiatan ini dapat mempererat persaudaraan antarumat beragama, sehingga tercipta kedamaian bagi semua di manapun mereka berada.

Hari Santri 2019

Sekretaris GP Ansor Kota Bandung yang menjadi salah seorang panitia, Ujang Miftahudin mengutarakan, kegiatan yang digelar secara rutin di berbagai daerah di Bandung ini dihadiri oleh perwakilan dari lintas agama, yaitu Islam, Katholik, Protestan, Hindu, serta penganut aliran kepercayaan. 

Lintas statuta sosial kelompok masyarakat yang datang juga sangat beragam, dari mulai anak jalanan, tukang parkir, pemulung, pejabat publik, akademisi, aktifis lintas agama, komunitas otomotif, hingga perwakilan kampung adat. 

“Acara ini diharapkan terciptanya toleransi, humanisasi, ini sebagai wujud pengamalan nilai-nilai ajaran Aswaja seperti tasammuh (toleransi), tawasuth (moderat), tawazun (seimbang) dan i’tidal (keadilan). Mari kita ciptakan Bandung yang damai, bandung yang plural,” pungkasnya. 

Redaktur: Abdullah Alawi 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Hikmah, Daerah, Kajian Hari Santri 2019

Senin, 06 November 2017

Tuhan yang Jauh

Oleh? Ali Usman

Jalaluddin Rumi (604-672 H/1207-1275 M) dalam kitabnya, Masnawi, bercerita: Dahulu, ada seorang muazin bersuara jelek di sebuah negeri kafir. Ia memanggil orang untuk shalat, tetapi umat muslim lainnya justru menegur, "janganlah kamu memanggil orang untuk shalat. Kita tinggal di negeri yang mayoritas bukan beragama Islam. Bukan tidak mungkin suaramu itu akan menyebabkan terjadinya kerusuhan dan pertengkaran antara kita dan orang-orang kafir."?



Namun muazin tersebut menolak nasihat banyak orang. Ia merasa bahagia dengan melantunkan azannya yang tidak bagus itu di negeri orang kafir. Ia merasa mendapat kehormatan untuk memanggil shalat di satu negeri di mana orang tak pernah shalat.

Tuhan yang Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuhan yang Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuhan yang Jauh



Kekhawatiran itu berwujud nyata. Seorang kafir datang kepada mereka (orang muslim) suatu pagi, dengan membawa jubah, lilin, dan manisan. Berulang-ulang dia bertanya, "katakan kepadaku di mana sang muazin itu? Tunjukkan padaku, siapa dia, muazin yang suara dan teriakannya selalu menambah kebahagiaan hatiku?" Seorang muslim bertanya, "kebahagiaan apa yang engkau peroleh dari suara muazin yang jelek itu?"

Hari Santri 2019



Lalu orang kafir itu bercerita, "suara muazin itu menembus ke gereja dan tempat kami tinggal. Aku mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan berakhlak mulia. Ia berkeinginan sekali untuk menikahi seorang muslim. Ia mempelajari agama dan tampaknya tertarik untuk masuk Islam. Aku tersiksa, gelisah, dan terus-menerus dilanda kerisauan memikirkan anak gadisku itu. Aku khawatir dia akan masuk Islam. Sampai suatu saat anak perempuanku mendengar suara azan. Ia bertanya, suara apakah yang terdengar jelek dan mengganggu telingaku itu? Belum pernah dalam hidupku mendengar suara sejelek itu di tempat-tempat ibadah atau gereja."



Orang kafir melanjutkan ceritanya, “anak gadisku itu hampir tidak percaya. Dia bertanya lagi kepadaku, "apakah benar suara yang jelek itu adalah suara untuk memanggil orang sembahyang?" Namun ketika dia sudah diyakinkan bahwa betul suara itu adalah azan, wajahnya berubah pucat pasi. Dalam hatinya tersimpan kebencian pada Islam. Begitu aku menyaksikan perubahan itu, aku merasa dilepaskan dari segala kecemasan dan penderitaan.

Hari Santri 2019



Singkat cerita, ketika orang kafir itu bertemu dengan si muazin, dia berkata, "terima kasih hadiah ini karena engkau telah menjadi pelindung dan juru selamatku. Berkat kebaikan yang telah engkau lakukan, kini aku terlepas dari kegelisahan. Sekiranya aku memiliki kekayaan dan harta benda yang banyak, akan aku isi mulutmu dengan emas."

?

Hikmah parodi



Rumi mengajari kita sebuah cerita yang berisi parodi, sebuah sindiran yang sangat halus. Azan yang dikumandangkan dengan buruk bukan hanya dapat menghalangi orang untuk masuk Islam, tetapi ini juga soal metode komunikasi—atau dalam bahasa agama "metode dakwah"—yang kurang tepat. Bahwa betul apa yang disampaikan itu suatu kebenaran Ilahi, tetapi jika caranya salah, seperti orang memberikan makanan lezat kepada orang lain dengan cara melemparnya, tidak dengan yang lazim/sopan sebagaimana menjadi aturan adat atau norma agama, orang lain akan enggan ? nerimanya.



Jalaluddin Rakhmat (2007) menyebut model keberagamaan seperti yang ditunjukkan oleh muazain di atas sebagai "kesalehan pulasan", yaitu orang yang meletakkan nilai pada segi lahiriah. Seperti orang yang berazan, ia merasa azannya betul-betul melaksanakan perintah agama. Karena azan itu, seperti disebutkan dalam hadits, adalah suatu kewajiban yang mulia. Dengan berpegang pada teks itu, maka orang berlomba-lomba mengumandangkan azan, apalagi dilakukan dengan menggunakan pengeras suara bersahut-sahutan. Ini juga berlaku kepada amalan ibadah lain yang cenderung—meminjam istilah wakil presiden Jusuf Kalla melakukan "polusi udara" pada kasus pemutaran kaset ngaji.



Apakah hal itu salah? Tentu saja tidak, tetapi mungkin perlu mempertimbangkan aspek substansi (batiniah) selain aspek lahiriah ibadah. Apakah dengan berazan atau bahkan mengaji menggunakan pengeras suara dapat melipatgandakan pahala di sisi-Nya? Bagaimana jika dengan lantunan ayat atau azan itu justru mengganggu masyarakat lain yang non-muslim karena bising yang ditimbulkannya? Atau jangan-jangan kita menganggap bahwa Tuhan itu jauh (padahal Dia sendiri mengatakan (Q.S al-Baqarah: 186) bahwa diri-Nya sangat dekat dengan kita, fainni qarib) dan tidak mendengar (padahal Dia adalah sami, Maha Mendengar) sehingga perlu dipanggil lewat pengeras suara?

?

Gus Dur dan Gus Mus



Jadi ingat humor berikut ini. Tokoh agama Islam, Kristen, dan Budha sedang berdebat. Gus Dur mewakili dari agama Islam. Kala itu yang diperdebatkan mengenai agama manakah yang paling dekat dengan Tuhan? Seorang biksu Budha langsung menjawab, "Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap kami beribadah ketika memanggil Tuhan kami mengucapkan Om. Nah kalian tahu sendiri, begitu dekatnya hubungan keluarga antara paman dengan ponakannya?"



Seorang pendeta dari agama Kristen menyangkal. "Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan", ujar pendeta. "Lah kok bisa?", sahut biksu penasaran. "Kenapa tidak, agama Anda kalau memanggil Tuhan hanya Om, tetapi kalau di agama saya memanggil Tuhan itu Bapa. Nah kalian tahu sendiri, lebih dekat mana anak dengan bapaknya daripada keponakan dengan pamannya?" jawab pendeta.



Gus Dur yang belum mengeluarkan argumen masih tetap tertawa malah terbahak-bahak setelah mendengar argumen dari pendeta. "Loh kenapa Anda kok tertawa terus?" tanya pendeta penasaran. "Apa Anda merasa bahwa agama Anda lebih dekat dengan Tuhan?" sahut biksu bertanya pada Gus Dur.



Gus Dur masih saja tertawa sambil mengatakan "Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat justru agama saya malah paling jauh sendiri dengan Tuhan." Jawab Gus Dur dengan masih tertawa. "Lho kok bisa?" tanya pendeta dan biksu makin penasaran. "Bagaimana tidak, lah wong kalau di agama saya itu kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa (pengeras suara)," jawab Gus Dur.



Karena itulah, tidak berlebihan, jika KH Musthafa Bisri atau Gus Mus menulis puisi Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana, yang penggalannya berbunyi, "... Aku harus bagaimana/Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara tiap saat/Kau bilang suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai."

?

Penulis adalah Dosen Filsafat dan Tasawuf pada Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA) Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Halaqoh, Aswaja, Hikmah Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock