Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2018

Taman Komik Nusantara Ciptakan 70 Komik Bertema HUT RI

Jakarta, Hari Santri 2019. Taman Komik Nusantara mengadakan kegiatan “Mencipta Karya 70 Komik Bertema Hari Kemerdekaan RI ke-70” dengan bertutur tentang “Memaknai Bhinneka Tunggal Ika dan Hakikat Kemerdekaan” di Halaman Gedung Teater Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu (15/8) pukul 15.00-17.30 WIB lalu.

Taman Komik Nusantara Ciptakan 70 Komik Bertema HUT RI (Sumber Gambar : Nu Online)
Taman Komik Nusantara Ciptakan 70 Komik Bertema HUT RI (Sumber Gambar : Nu Online)

Taman Komik Nusantara Ciptakan 70 Komik Bertema HUT RI

Dengan disuguhkan atraksi Gambar Wayang Punakawan tentunya menambah antusias peserta yang hadir yakni para pelajar muda Kota Bekasi dan para remaja yang terbiasa melakukan kegiatan komunitas di jalanan sekitar wilayah Kali Pasir, Cikini, Jakarta Pusat.

“Dari kegiatan ini diharapkan para pelajar berlatih berimajinasi kreatif menggambar dan menemu kenali sejarah bangsa dengan baik, belajar mencintai dengan kesungguhan, merawat dan memelihara rasa kebangsaan. Mereka belajar untuk tidak mudah menebar kebencian namun saling menjaga persatuan di negeri Nusantara tercinta ini,” ujar Pendiri Taman Komik Nusantara, Endah Priyanti lewat rilis yang dikirimkan ke Hari Santri 2019, Senin (17/8).

Hari Santri 2019

Kegiatan diawali dengan pelatihan public speaking yang mengulas tentang sumbangan pemikiran dan perjuangan para tokoh pahlawan nasional seperti Tan Malaka, Soekarno, M Hatta, Sutan Sjahrir, dan sebagainya yang ditampilkan oleh para pelajar muda secara komunikatif di depan publik. Dengan demikian diharapkan para pelajar muda memiliki wawasan kebangsaan dan meneladani sikap positif para tokoh pemimpin bangsa di masa lampau yang telah berjasa bagi Republik ini. 

Kegiatan yang tak kalah menarik adalah apresiasi seni pertunjukan dan narasi kitab sastra klasik bersejarah seperti Arjunawiwaha, Bharatayuda, Gatotkacasraya, Sutasoma dan Negarakertagama. Selanjutnya kegiatan diakhiri dengan workshop pembuatan komik sejarah yang bertema tentang “Memaknai Bhinneka Tunggal Ika dan Hakikat Kemerdekaan”. 

Hari Santri 2019

“Kegiatan bersama Taman Komik Nusantara ini juga menjadi ajang silaturahmi anak-anak jalanan terutama memperkenalkan Budaya Wayang Nusantara melalui media komik. Acara ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada mereka tentang makna kebhinekaan yang sudah menjadi suatu keniscahyaan namun tetap menghormati antar pertemanan yang berbeda baik agama, suku maupun latar belakang budayanya,” terang Endah yang juga Guru di SMA Negeri 12 Kota Bekasi.

Merawat Budaya Nusantara

Gerakan kebudayaan berupa Taman Komik Nusantara ini sudah dimulai sejak awal Januari 2015 dan peluncurannya sudah dilakukan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei 2015 lalu. Menurut Endah, gerakan ini penting ketika makna pendidikan hadir dalam bentuk gerakan sadar budaya di akar rumput sehingga masyarakat memandang bahwa pendidikan berbasis kebudayaan juga bisa diciptakan di ruang-ruang publik yang sederhana. 

“Taman Komik Nusantara ini memiliki visi merawat Budaya Nusantara melalui komik kreatif anak bangsa. Dalam wahana ini, kami merayakan Hari Kemerdekaan RI ke-70 dengan penuh suka-cita menciptakan taman belajar yang menyenangkan dan humanis sesuai Tut Wuri Handayani,” paparnya.

Melalui wadah ini, Endah mengajak para pelajar muda mengumpulkan serpihan peristiwa sejarah yang terbuang, terlupakan, tersimpan, tersembunyi dan terselip di belantara kekayaan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Mereka serasa diajak menelusuri mesin waktu ke tahun-tahun awal terbentuknya jaringan Nusantara. 

Dia mengungkapkan, penelusuran mesin waktu ini secara pribadi menghentak kesadarannya dan kesadaran para pelajar muda tentang hal yang paling hakiki akan makna bernegara dan berbangsa Indonesia yang selama ini mungkin perlahan mati suri karena melihat situasi dan kondisi bangsa dirusak oleh tercerabutnya akar budaya luhur di segala bidang kehidupan. 

“Kesadaran ini menggelitik nalar kita bahwa sebagai bangsa kita sebenarnya sudah berusia yang cukup untuk bisa menyebut diri sebagai bangsa merdeka jika kita mau menemukan bentuk kemerdekaan yang hakiki yaitu merdekalahir batin dalam pikiran, sikap dan perbuatan,” pungkasnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tegal, Amalan Hari Santri 2019

Sabtu, 24 Februari 2018

Pasca Teror Cikokol, Mahasiswa NU Tengerang Tuntut Bebas Khilafah

Tangerang,Hari Santri 2019

Pasca kejadian teror pos polisi Cikokol dengan terduga simpatisan Islamic State of Iraq an Syiria (ISIS), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang menggelar aksi cinta tanah air dan NKRI Harga mati. Aksi dimulai dari depan kampus, dilanjutkan dengan berjalan kaki ke tugu Akhlakul Karimah dan berakhir di depan Kantor Pemerintah Kota Tangerang. Pada aksi Jumat (21/10) tersebut, mereka menuntut Tangerang Raya bebas ideologi Khilafah Islamiyah.

Pasca Teror Cikokol, Mahasiswa NU Tengerang Tuntut Bebas Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasca Teror Cikokol, Mahasiswa NU Tengerang Tuntut Bebas Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasca Teror Cikokol, Mahasiswa NU Tengerang Tuntut Bebas Khilafah

Koordinator aksi Aflahul Mumtaz mengatakan, aksi ini adalah bentuk keperihatinan mahasiswa NU Tangerang atas hilangnya rasa cinta tanah air, dan hilangnya rasa cinta terhadap falsafah bangsa Pancasila disebagian generasi muda. Mereka lupa, bahwa bangsa ini dibentuk dengan darah yang menginginkan Indonesia damai, nyaman dan sejahtera. Bukan malah melakukan teror, dan men thogut-kan hasil capaian Ulama dan founding father bangsa ini.

"Kita akan tuntut Pemerintah Kota Tangerang mendeklarasikan diri sebagai garda terdepan membebaskan Kota Tangerang dari ideologi Khilafah Islamiyah," ujar Ketua Komisariat PMII STISNU ini melalui siaran pers.

Hari Santri 2019

Mahasiswa Nahdlatul Ulama akan menjadi garda terdepan untuk mengawal pancasila dan UUD 1945. Dahulu 22 Oktober Hadrotussyekh KH Hasyim Asy’ari menggelorakan jihad mengusir penjajah, puncaknya gerakan 10 November para santri berjuang mempertahankan bangsa dan negara.

Hari Santri 2019

“Maka pada momentum ini tugas kami melawan siapa saja yang akan merusak integrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.

Hasanudin Petoy, koordinator aksi dari BEM STISNU mengkritik pemerintah daerah yang bungkam dan diam atas kejadian ini. Ia juga menyesalkan bahwa kampus NU Tangerang sudah memperingatkan tentang minimnya pemahaman pelajar atas pilar kebangsaan yang sejatinya sudah sesuai dengan ajaran agama. Sehingga banyak di antara pelajar yang tertipu pemahamannya dalam beragama, berbangsa dan negara, dengan formalisasi syariat.

"Kami hadir di sini, untuk mendorong pemerintah Kota Tangerang peka atas perubahan pemahaman keagamaan dan nasionalisme di kalangan pelajar. Sebab itu, kita menuntut Pemerintah membuat kurikulum muatan lokal wawasan kebangsaan dalam perspektif agama agama. Tujuannya, agar mereka diideologisasi bahwa Pancasila? dan NKRI sah dalam kacamata agama manapun," ujarnya.

Petoy menambahkan, kita sangat perihatin sekolah sekolah? dan kampus kampus tidak pernah mengajarkan atau menumbuhkan penanaman ideologi kebangsaan, mereka seakan diberikan kebebasan tanpa adanya pengarahan untuk berbuat dan berkehendak.

"Kami anak pesantren, oleh kiai kami sudah disumpah setia cinta tanah air dan NKRI adalah harga mati. Termasuk kampus NU Tangerang, membaiat kami sumpah setia pada bangsa dan negara. Kenapa di sekolah tidak...?" tanyanya menggebu gebu.

Kita ingin, semua tunduk dan mengamalkan nilai nilai luhur pancasila sebagai identitas bangsa. Siapa pun itu, mulai dari pejabat, rakyat jelata, orang kaya, orang miskin, muslim atau nonmuslim bersatu atas nama bangsa dan negara. Mengamalkan Pancasila, berati menjauhkan diri prilaku korup, hedon, acuh dan tak peduli. Mengamalkan Pancasila berarti mengajarkan semua peduli, berbhineka tunggal ika, dan saling menjaga serta menghormati satu sama lainnya. Tidak ada lagi yang dikafir-kafikan, tidak ada lagi yang thogut thoguthkan. (Red. Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Habib, Tegal Hari Santri 2019

Minggu, 18 Februari 2018

Pembukaan Munas-Konbes NU, Penyandang Disabilitas Baca Al-Quran dan Shalawat Badar

Mataram, Hari Santri 2019



Ustadz Ilhamudin, penyandang tunanetra diminta panitia untuk membaca Al-Quran pada acara pembukaan Munas-Konbes NU 2017 di alun-alun Islamic Center, Kota Mataram, Kamis (23/11) siang. Pada pembukaan yang dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo, ia membaca ayat yang menerangkan sifat-sifat ulama.

Pembukaan Munas-Konbes NU, Penyandang Disabilitas Baca Al-Quran dan Shalawat Badar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembukaan Munas-Konbes NU, Penyandang Disabilitas Baca Al-Quran dan Shalawat Badar (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembukaan Munas-Konbes NU, Penyandang Disabilitas Baca Al-Quran dan Shalawat Badar

Sebagaimana diketahui, Ustadz Ilhamudin adalah juara ketiga MTQ Nasional 2012. Ia dilahirkan di Lombok Tengah.

Ustadz Ilhamudin setelah membaca ayat Al-Quran mengajak para hadirin untuk bersama-sama membaca Shalawat Badar.

"Pembukaan acara kita menghadirkan qari tunanetra. Ini menunjukkan bahwa NU memang care dengan penyandang disabilitas, sejalan dengan pembahasan masalah disabilitas di forum Bahtsul Masail Munas Alim Ulama NU 2017 di Pesantren Darul Falah Lombok," kata panitia Munas-Konbes NU 2017 dalam jumpa pers, Kamis (23/11) pagi.

Hari Santri 2019

Menurut Robikin, penyandang disabilitas adalah juga karunia Allah. Disabilitas bukan keterbatasan. Penyandang disabilitas dapat menggali potensi diri dan dapat kesempatan yang sama dalam meraih prestasi.

Masalah disabilitas ini diangkat sebagai salah satu pembahasan di forum Munas NU 2017 dalam sidang Komisi Bahtsul Masail Diniyah al-Maudhuiyah. Masalah ini akan dibahas secara serius terutama terkait fasilitas peribadatan bagi penyandang disabilitas. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Tegal, Anti Hoax Hari Santri 2019

Kamis, 25 Januari 2018

Guru Pun Dilatih Cara Gosok Gigi yang Benar

Banyumas, Hari Santri 2019. Sekolah merupakan tempat strategis dalam mengenalkan dan menanamkan pola hidup bersih kepada anak. Guru berperan signifikan dalam menciptakan kebiasaan positif tersebut kepada peserta didiknya untuk disebarluaskan di lingkungan keluarga.

Cara pandang ini menjadi dasar Lembaga Pendidikan Maarif NU Jawa Tengah menggelar Workshop Healthy Living di Hotel Queen Garden dan Moroseneng kawasan wisata Baturaden Banyumas, Jawa Tengah. Sejak Ahad sampai Selasa (5/11), sebanyak 85 guru MI dan MTs di bawah LP Maarif NU se-Kabupaten Banyumas dan Cilacap mengikuti pelatihan hidup bersih ini.

Guru Pun Dilatih Cara Gosok Gigi yang Benar (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Pun Dilatih Cara Gosok Gigi yang Benar (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Pun Dilatih Cara Gosok Gigi yang Benar

Selama tiga hari guru-guru yang mengampu bidang studi olah raga dan kepala Unit Kesehatan Sekolah (UKS) tersebut menerima materi seputar pengelolaan UKS, pola makan sehat, sanitasi, penyakit menular dan berbahaya, imunisasi, narkoba, bahaya rokok, dan materi kesehatan lainnya.

Hari Santri 2019

Selain itu peserta juga memperoleh materi manajemen keterampilan membuat keputusan terkait kesehatan dan membangun komunikasi yang efektif untuk mendukung gaya hidup sehat. Kegiatan ini merupakan bagian dari Australia’s Education Partership with Indonesia yang digagas LP Maarif NU Jateng dan Pemerintah Australia.

?

Salah seorang peserta, Yayuk Sulistiyowati, mengaku mendapat banyak pengetahuan baru tentang kesehatan. “Materinya sangat bagus. Tutornya juga sangat berkompeten, menguasai materi, dan tidak membosankan,” kata guru Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Kroya ini.

Hari Santri 2019

“Di samping itu banyak praktiknya. Seperti tadi misalnya, kami guru-guru diminta praktik cara menggosok gigi yang benar. Kemudian ada materi penyakit menular dan cara penangannya.? Ini bekal bagi kami untuk mensosialisasikan kepada murid-murid di sekolah,” ungkapnya.

Ketua LP Maarif NU Jawa Tengah H Agus Sofwan Hadi berharap para guru peserta workshop bisa menularkan semangat pola hidup sehat di lingkungan sekolah masing-masing. Suasana hidup sehat, lanjutnya, termasuk standar pelayanan minimal yang harus disediakan sekolah. Masih banyak madrasah-madrasah yang belum? menyadari pentingnya hal ini.

“Jumlah dan kondisi toiletnya tidak memenuhi standard, sanitasinya buruk,? dan ketersediaan air bersihnya minim. Padahal hidup sehat adalah modal awal terbentuknya generasi yang berkualitas. Jika? pola hidup sehat diterapkan di? madrasah-madrasa insyaallah sekolah kita juga sehat. Sekolah yang sehat dapat menghasilkan generasi yang? berkualitas,” ungkapnya.

Sebelum Banyumas dan Cilacap Workshop Healthy Living yang dimotori SNIP LP Ma’arif NU Jateng ini juga dilaksanakan di Kebumen pertengahan Oktober lalu. (Muslihudin el Hasanudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Cerita, Tegal, Bahtsul Masail Hari Santri 2019

Buya Leter, Sosok Pemegang Teguh Agama dengan Adat

Tidak banyak ulama yang mampu memahami pertautan agama dengan adat Minangkabau di Sumatera Barat. Di tengah mencuatnya Islam Nusantara yang mengakar dan tumbuh di tengah masyarakat Indonesia, di Sumatera Barat dikenal ungkapan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK).?

Ungkapan ini menempatkan bagaimana adat Minangkabau yang sudah ada di tengah masyarakat Minangkabau dapat diselaraskan dengan nilai-nilai agama Islam. Adat yang sudah duluan ada di tengah masyarakat, tidak dipertentangkan dengan Islam. Namun bagaimana ? adat tersebut dapat dijiwai dengan nilai-nilai agama. Buya Leter adalah sosok pemegang teguh perpaduan tersebut.?

Buya Leter, Sosok Pemegang Teguh Agama dengan Adat (Sumber Gambar : Nu Online)
Buya Leter, Sosok Pemegang Teguh Agama dengan Adat (Sumber Gambar : Nu Online)

Buya Leter, Sosok Pemegang Teguh Agama dengan Adat

Sosok Awan PBNU Buya Drs. H. Tuanku Bagindo Mohammad Leter, yang masuk dalam daftar 39 ulama yang diusulkan sebagai calon anggota Ahlul Halli wal Aqdi merupakan ulama Minang yang mampu memadukan adat Minang dengan nilai-nilai Islam yang ada di Sumatera Barat. ? Buya Leter kelahiran Pakandangan 16 April 1934, diangkat menjadi tuanku di Surau (Pesantren) Mato Aia, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat tahun 1971. Itu artinya ? Leter sudah diakui sebagai tamatan pesantren dan memiliki pengetahuan agama.

Sebelumnya, Buya Leter sudah belajar di Madrasah MIT Pakandangan tahun 1948. Melanjutkan pendidikan ke SMP Persatuan Guru Indonesia Bukittinggi (1948) dan menamatkannya di SMP IPP Bukittinggi tahun 1953. Masuk Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA) Negeri tahun 1956 di Yogyakarta. Dari sana, Leter menamatkan sarjana muda IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1964 Fakultas Tarbiyah. Sedangkan sarjana lengkap diselesaikan tahun 1970 di tempat yang sama.

Hari Santri 2019

Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari kolonial Belanda, tahun 1947-1948 Leter bekerja di bengkel senjata Mobil Brigade (sekarang Brimob) di Bukittinggi. Dari sana, menjadi Tentara Pelajar (1948-1949) di Bukittinggi. Tamat SGHA, Leter diangkat menjadi PNS di Kabupaten Bengkalis, ditempatkan di Bagansiapi-api menjabat Kepala Sekolah Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) Alwashliyah (1957-1961).

Hari Santri 2019

Ketika di Yogyakarta tahun 1954, Leter turut aktif dalam pendirian Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama bersama Prof.Dr. KH Chatibul Umam (sekarang salah seorang pengurus PBNU). Di tengah sibuk menyelesaikan kuliah tahun 1966, dipanggil mengikuti wajib militer untuk SEPACAD-AD di Bandung. Setelah mengikuit latihan 6 bulan, muncul kebimbingan antara ingin meneruskan karir militer, menyelesaikan sarjana lengkap IAIN dengan kembali ke PNS. Akhirnya, melalui SK Menteri Agama, 31 Agustus 1967 ditugaskan menjadi Penilik Pendidikan Agama di Kabupaten Padangpariaman. Hanya dua bulan kemudian, Bupati Padangpariaman Mohammad Noer memintanya jadi anggota DPRDGR Padangpariaman dari Partai Nahdlatul Ulama, terpilih menjadi Wakil Ketua I DPRDGR Padangpariaman hingga 1971.

Dari Padangpariaman, Leter pindah bertugas ke Departemen Agama Sumatera Barat. Sebagai ulama, dipercaya sebagai Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar (1975-1991). Tahun 1979 Leter diminta menjadi pengurus Golkar. Leter menolak karena semua orang tahu ia dari Partai NU dulunya.

"Kalau Buya tidak masuk, tidak ada ulama di Golkar. Siapa yang akan memberikan nasehat jika dibutuhkan. Jangan-jangan orang lain yang tidak jelas keulamaannya. Setelah berkonsultasi dan restu dari tokoh NU di Sumatera Barat, saya pun bersedia. Karena tujuannya juga untuk berdakwah, menegakkan Islam Ahlussunnah Waljamaah. Ternyata langsung ditempatkan di jajaran Wakil Ketua DPD Golkar Sumatera Barat," kenang Buya Leter, yang dua periode menjadi anggota DPRD Sumatera Barat, kepadaHari Santri 2019 Selasa (14/7/2015) di kediamannya, kawasan Ulakkarang Padang.

Setelah tidak di politik, aktifitas Leter tidak pernah sepi. Berdakwah ke berbagai masjid, surau, ? majelis taklim. Belum lagi berbagai pertemuan ilmiah, seminar, pelatihan, workshop dan diskusi. Sebagai Wakil Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) periode 2005-2010, Leter semakin memiliki ruang memadukan adat Minangkabau dengan agama Islam. Leter paham betul bagaimana perpaduan adat Minang ? dan Islam sebagaimana ? ungkapan ? Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK). Dengan jejak rekam itu, nyaris tidak ada masyarakat di Sumatera Barat yang tak kenal dengan Buya Leter ini. Banyak tokoh nasional yang datang ke Sumatera Barat, Buya Leter turut mendampinginya.

Penulis buku, Tuntutan Rumah Tangga Muslim dan Keluarga Berencana ini, belakangan sering mengisi dakwah di Stasiun TVRI. "Materi yang disampaikan Buya Leter menarik, simpel dan mudah dipahami. Saya senang dan sering nonton," tutur Pengurus PP Lesbumi M. Dinal kepada Hari Santri 2019 ? beberapa waktu lalu di Jakarta.

Aktivitas organisasi yang dilalui ? Leter diantaranya, Sekretaris ? Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia Bukittinggi (1950-1952), Ketua Umum Persatuan Pelajar Sekolah Guru (PPSG) Daerah Istimewa Yogyakarta (1955-1957), Pengurus Cabang PII (Pelajar Islam Indonesia) Cabang Yogyakarta ? (1954-1956), Sekretaris Dewan Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1964-1966), Wakil Ketua Presiden MMI (Majelis Mahasiswa Indonesia) Yogyakarta (1965-1967), Ketua Koordinator Dema/Sema Universitas dan Perguruan Tinggi Islam ? DI. Yogykarta ( 1965 - 1967), Pengurus Ex. Tentara Pelajar/ Pelajar Pejuang Sumatera Tengah Komisaris Daerah Sumatera Barat (1980), Anggota LAKSUSDA Penanggulangan Bahaya Komunis Kodam III/ 17 Agustus (1981-1983), Wakil Ketua PKBI Prop. Sumatera Barat (1981-1989), Wakil Sekretaris Panitia MTQ tingkat Nasional ke XIII ? di Sumatera Barat (Padang) (1982-1983), Wakil Ketua PDK Kosgoro Prop. Sumatera Barat (1986-1991), Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Propinsi Sumatera Barat (1988-1993), Ketua Satkar Ulama Prop. Sumatera Barat ? (1994-1999), Wakil Ketua I PMI ? (Palang Merah Indonesia) Prop. Sumatera Barat ? (1994-sek.), Wakil Ketua LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran) Prop. Sumatera Barat ( 1999-sek.), Ketua Umum Ikatan Mubaligh Sumatera Barat (2002-sek.), Musytasar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatera Barat (2003 – 2004), Wakil Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatera Barat (2005 – 2010) dan sekarang Awan PBNU (2010-2015). (armaidi tanjung)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tegal, Pertandingan Hari Santri 2019

Kamis, 18 Januari 2018

Rasulullah Baca Doa Ini Tiga Kali Sebelum Tidur

Di antara doa-doa yang dibaca Rasulullah adalah lafal di bawah ini:

? ? ? ? ? ?

Rasulullah Baca Doa Ini Tiga Kali Sebelum Tidur (Sumber Gambar : Nu Online)
Rasulullah Baca Doa Ini Tiga Kali Sebelum Tidur (Sumber Gambar : Nu Online)

Rasulullah Baca Doa Ini Tiga Kali Sebelum Tidur

Allâhumma qinî ‘adzâbaka yauma tab‘atsu ‘ibâdaka

Hari Santri 2019



Artinya: “Ya Allah, lindungilah aku dari siksa-Mu pada hari saat Engkau bangkitkan para hamba-Mu.”

Hari Santri 2019

Doa ini dapat dirujuk dalam hadits shahih riwayat At-Turmudzi dari Sayyidah Hafshah yang mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah apabila hendak tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya lalu mengucapkan Allâhumma qinî ‘adzâbaka yauma tab‘atsu ‘ibâdaka sampai tiga kali. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 PonPes, Tegal Hari Santri 2019

Kamis, 11 Januari 2018

Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan

Oleh Achmad Sahri ?





Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan



Sebuah koran pada tanggal 7 Oktober 2016 memberitakan tujuh dari 25 santri Pondok Pesantren Langitan, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur hilang setelah perahu yang mereka tumpangi terbalik di Bengawan Solo. Sebelumnya, sejak Januari 2016, koran Tempo telah memuat dua berita tentang santri tenggelam, yaitu: Hanyut Setelah Cuci Jeroan Kurban, 3 Santri Ditemukan Tewas (14 September 2016) dan Lima Santri Tewas Tenggelam di Sungai Waduk Cangklik (20 Januari 2016).

Kabar tentang kurangnya jaminan keamanan santri saat mereka beraktivitas di lingkungan luar pondok pesantren seperti ini bisa menjadi pertimbangan yang memberatkan di tengah gencarnya gerakan “Ayo-Mondok” yang digalakkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan diamini oleh Kementerian Agama agar orang tua mau mengirimkan anaknya untuk belajar di pondok pesantren.

Hari Santri 2019

Kurikulum pondok pesantren saat ini sebenarnya sudah jauh lebih variatif daripada pesantren zaman dulu. Selain ilmu agama, santri kontemporer juga dibekali dengan ilmu dunia yang diharapkan dapat bermanfaat untuk masa depan mereka. Beberapa pesantren, sejak beberapa dekade terakhir juga membuka sekolah kejuruan atau memiliki kegiatan ekstra-kulikuler yang memungkinkan santri mereka belajar ilmu non-agama dan ketrampilan praktis lainnya seperti otomotif, tata boga, tata busana, bela diri dan sebagainya.?

Namun ketrampilan bertahan hidup di alam terbuka seperti renang dan search and rescue (SAR) di perairan (seperti bagaimana mencari dan menyelamatkan orang tenggelam) sangat minim diajarkan di pesantren, jika tidak boleh dikatakan tidak ada.

Hari Santri 2019

Anjuran tentang renang

Benarkah renang merupakan sunnah Nabi? Kalau kita telusuri, memang ada beberapa hadits Nabi SAW yang menyinggung perihal renang ini, salah satunya adalah hadits dari Jabir bin Abdillah r.a yang redaksionalnya kurang lebih: "Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah (mengingat Allah) merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang” (HR. An-Nasa’i).

Kalau kita perhatikan teks hadits tersebut, mengajarkan renang bukan termasuk perbuatan yang sia-sia. Hanya saja Rasulullah SAW tidak secara langsung memerintahkan, apalagi mencontohkan dalam bentuk perbuatan. Para ulama umumnya menyebut perintah belajar berenang merupakan perintah dari Umar bin Al-Khattab r.a yang berbunyi: “Ajari anak-anakmu berenang, memanah dan naik kuda", sehingga umumnya para ulama sampai kepada kesimpulan bahwa pada dasarnya hukum berenang adalah sesuatu yang mubah (dibolehkan).

Butuh praktik

Tidak seperti ilmu-ilmu agama yang umumnya dipelajari, dikaji dan didiskusikan dengan membedah kitab tertentu, renang apalagi search and rescue (SAR) di perairan, karena merupakan ketrampilan praktis, tidak hanya selesai pada tataran dipelajari atau dikaji di majelis atau ruang kelas. Renang dan SAR perairan memerlukan praktik dan latihan yang disiplin dan terjadwal untuk dapat dikuasai.?

Sebagai bagian dari kurikulum, jika ke depan akhirnya perlu diajarkan di pesantren, materi ajar seperti buku atau referensi juga perlu diformulasikan. Tentunya yang sejalan dengan lingkup lingkungan pesantren. Tak ketinggalan, guru ‘ngaji’ tentang renang dan SAR perairan ini juga perlu disiapkan. Guru ngaji ini selain harus memahami teknik praktis tentang renang dan SAR perairan, mereka juga harus memahami ketentuan syar’i agar berenang tidak menyalahi ketentuan syariat, seperti misalnya bagaimana menyikapi aurat.

Sulitnya realisasi praktik renang islami

Memang agak sulit untuk menerapkan praktek renang islami, dimana laki-laki dan perempuan tidak boleh bercampur dalam satu tempat, apalagi jika proses pembelajaran renang dilakukan di kolam renang umum yang tidak membedakan pengunjung berdasarkan jenis kelamin, sebab konsepnya memang dibuat untuk umum, dimana laki-laki dan perempuan dibiarkan berenang dalam satu kolam renang. Kalaupun harus dipisah, pengadaan infrasutruktur kolam renang menjadi berlipat biayanya.

Saat ini, sebagian kalangan sudah mulai sepakat paling tidak sampai ke level memisahkan tempat antara laki-laki dan perempuan sebagai syarat kebolehan. Pengaturan waktu berenang antara laki-laki dan perempuan juga sempat menjadi usulan. Tujuannya bukan sekadar terjaganya aurat, tetapi juga agar tidak terjadi campur baur antara laki-laki dan perempuan.

Satu hal lain yang juga penting adalah belajar berenang diutamakan dilakukan sejak usia dini. Setidaknya ada dua alasan yang melatarbelakanginya. Pertama, karena belajar menguasai sesuatu akan menjadi lebih mudah bila dikerjakan saat usia kanak-kanak, sehingga nasehat Umar bin Al-Khattab r.a untuk mengajarkan anak-anak kita berenang sejak kecil menjadi sangat tepat. Kedua, anak yang masih kecil belum terikat dengan aturan membuka aurat dan keharusan menjaga pandangan.

Jadi, apakah sudah saatnya santri juga perlu ‘ngaji’ renang dan search and rescue perairan? Hanya waktu yang akan menjawabnya.





Penulis adalah calon PhD Student di Marine Animal Ecology Wageningen University & Research Belanda, Alumnus Ponpes Kyai Galang Sewu, Jurang Blimbing, Tembalang, Kota Semarang, Jamaah PCI-NU Belanda, tinggal di Wageningen-Belanda

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Olahraga, Sunnah, Tegal Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock