Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Bebaskan Koruptor dari Tanggungan Akhirat!

Jakarta, Hari Santri 2019. Selain merekomendasikan hukuman mati bagi koruptor kambuhan dan koruptor kelas kakap, Musyarawah Nasional (Munas) Alim Ulama NU 2012 di Cirebon (14-18 September) juga mengingatkan agar dana hasil korupsi dikembalikan kepada negara, meskipun pelakunya telah meniggal dunia.

Bebaskan Koruptor dari Tanggungan Akhirat! (Sumber Gambar : Nu Online)
Bebaskan Koruptor dari Tanggungan Akhirat! (Sumber Gambar : Nu Online)

Bebaskan Koruptor dari Tanggungan Akhirat!

Pada komisi bahtsul masail diniyyah al-waqiiyyah, para kiai dan ahli fikih dari berbagai daerah membahas pertanyaan dari masyarakat mengenai ”bagaimanakah hukum memeriksa kekayaan yang diduga hasil korupsi, sedangkan tersangka pelaku telah meninggal dunia?”

Berdasarkan berbagai penjelasan dan argumentasi yang dikutip dari para ulama madzab dalam berbagai referensi kitab kuning, Munas memutuskan bahwa memeriksa kekayaan yang diduga hasil korupsi adalah wajib, meskipun tersangka pelaku telah meninggal dunia.

Hari Santri 2019

Mengutip penjelasan dari kitab Az-Zawajir Aniqtirafil Kabair yang antaralain menjelaskan mengenai dosa-dosa besar, disebutkan bahwa dosa-dosa manusia (anak Adam) tidak akan terampuni jika dia masih mempunyai tanggungan di dunia atas hak-hak orang lain (haqqul adami), dalam hal ini berkaitan dengan harta korupsi.

Hari Santri 2019

Pesan ini terutama ditujukan kepada para ahli waris. Bukan saja pewaris yang meninggal dunia tersebut masih mempunyai beban dosa di akhirat, namun harta benda yang akan diwarisi oleh para ahli waris juga merupakan harta yang haram. 

”Apabila terpenuhi bukti bahwa harta tersebut adalah hasil korupsi, maka wajib dikembalikan kepada negara dan untuk membersihkan harta warisan dari harta haram,” demikian keputusan Munas.

Para ahli waris bukan saja diingatkan untuk mendoakan agar dosa-dosa yang meninggal dunia terampuni, tetapi harus menyelesaikan tanggungannya selama ia hidup.

Dalam bahtsul masail itu, para kiai juga membahas, ”apakah hasil korupsi wajib dikembalikan seluruhnya meskipun telah ditetapkan hukuman bagi pelakunya?”

Jawabannya: Seluruh harta hasil korupsi wajib dikembalikan ke negara meskipun pelaku telah menjalani hukuman.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam Hari Santri 2019

Sabtu, 10 Februari 2018

Haul Sewindu, PWNU Jatim Sebut Ciri Kewalian Gus Dur

Surabaya, Hari Santri 2019 - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur memperingati Haul Gus Dur ke delapan. Acara dikemas dengan ngaji bareng Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar. Ngaji bareng ini selalu diadakan setiap malam Ahad.

"Ngaji bareng ini diadakan setiap malam ahad di Mushalla PWNU Jatim bakda Magrib yang diasuh Kiai Marzuki Mustamar," kata Wakil Ketua PWNU Jatim H Ahsanul Haq yang turut hadir memperingati Haul Gus Dur, (30/12).

Haul Sewindu, PWNU Jatim Sebut Ciri Kewalian Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Sewindu, PWNU Jatim Sebut Ciri Kewalian Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Sewindu, PWNU Jatim Sebut Ciri Kewalian Gus Dur

Ahsanul Haq mengatakan, sewindu sama dengan delapan tahun Gus Dur meninggalkan kita. Sekian lama ditinggal maka semakin nampak kewaliannya di hadapan kita. "Semasa hidupnya, Gus Dur tidak pernah takut kepada siapapun termasuk pada Presiden Soeharto. Tidak ada seorangpun yang ditakuti kecuali Allah," terang Ahsan.

Hari Santri 2019

Para wali Allah, seperti wali sanga dalam dakwahnya menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa tidak pernah takut sama siapapun. "Inilah yang patut kita contoh dan kita tiru. Saya yakin semua yang hadir rindu kepada Gus Dur. Insya Allah Gus Dur hadir di malam ini," lanjutnya.

Selain itu, ciri seorang waliyullah tidak mau dengan harta duniawi. Saat Gus Dur menjabat Presiden RI ke empat, gaji pertamanya langsung diberikan kepada Alwi Shihab tanpa melihat ataupun menghitungnya terlebih dahulu. "Begitu lengser dari jabatan Presiden, Gus Dur kembali seperti rakyat biasa," pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh KH Marzuki Mustamar, setiap kali Gus Dur diundang ceramah di berbagai daerah. Gus Dur langsung menghampiri pengurus cabang setempat dan amplopnya dikasihkan semua tanpa dilihat isinya berapa. "Itulah Gus Dur, apakah kita seperti ia?" tanya Kiai Marzuki kepada para peserta.

Hari Santri 2019

Kiai Marzuki kembali mengisahkan Gus Dur semasa hidupnya. Kiai Pengasuh Pesantren Sabilul Rosyad Gasek Malang ini, mengaku pernah diberi sarung oleh Gus Dur, setelah 40 hari wafatnya Gus Dur. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Humor Islam Hari Santri 2019

Senin, 29 Januari 2018

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror

Jakarta, Hari Santri 2019

Suasana kerukunan beragama di Indonesia kembali diuji. Ahad (28/8), Kota Medan dikagetkan dengan upaya teror berupa percobaan "bom bunuh diri" dengan pelaku seorang pemuda, IAH, berusia 17 tahun. Meskipun bom gagal meledak dan tidak ada korban jiwa, peristiwa ini patut dijadikan bahan pelajaran.

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, dalam rilisnya, menyebutkan bahwa kini gerakan terorisme telah menyasar beragam usia. Gerakan ini telah berhasil merekrut anak-anak muda untuk dicuci otaknya, kemudian diproyeksikan menjadi "pengantin".

Lebih jauh Gus Yaqut, panggilan akrabnya, mengatakan, "GP Ansor mengutuk keras upaya bom bunuh diri ini. Juga mendorong kepolisian mengusut tuntas pihak-pihak yang terlibat dan yang memerintah IAH."

Hari Santri 2019

Melihat realitas ini, lanjutnya, GP Ansor mengimbau kepada segenap elemen bangsa terutama ormas keagamaan untuk tidak menoleransi tumbuhnya benih-benih terorisme. Menurutnya, upaya bom bunuh diri di Medan secara jelas menunjukkan betapa kelompok-kelompok teror telah melebarkan sayapnya dengan merekrut anak-anak muda untuk dikorbankan.

Hari Santri 2019

“Oleh karena itulah, ormas harus menjadi pelindung bagi generasi muda. Dengan demikian, harus berperan pula sebagai benteng pertahanan yang melawan segenap upaya menumbuhkan benih-benih terorisme," tegas Ketua Umum PP GP ansor. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara, Humor Islam Hari Santri 2019

Minggu, 28 Januari 2018

Tiga Jenis Jenggot

Pada sebuah forum, Kiai Masdar berkali-kali menyebut jenggot dengan kesan negatif. Jenggot adalah aksesoris orang-orang kolot. Jenggot adalah tren pencitraan kaum salafi yang tidak keren.

Di sela kerumunan jamaah, samar-samar terlihat kiai NU berjenggot menatapnya serius. Khusyuk menyimak. Tapi sorot matanya ganjil.

Tiga Jenis Jenggot (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Jenis Jenggot (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Jenis Jenggot

Kiai Masdar akhirnya sadar, pernyataannya soal ”jenggot” masih butuh syarah. Segera ia menyusuli ceramahnya, ”Jenggot itu tsalatsatu anwa’in (jenggot terdiri dari tiga jenis).”

Hari Santri 2019

”Pertama, jenggot biologis. Jenggotnya orang-orang yang memang dari sono-nya ditakdirkan berjenggot,” katanya.

”Kedua, jenggot ideologis. Itu jenggot paksaan. Karena keyakinan, meski cuma tiga helai juga dipaksa tumbuh. Terus terakhir, jenggot gabungan idiologis-biologis,” tambah Kiai Masdar.

”Nah, jenggot yang saya maksud tadi itu jenggot kedua dan ketiga ini. Kalau jenggotnya NU itu sih biologis. Jadi nggak termasuk!” ujar Kiai Masdar yang tidak berjenggot ini sembari tersenyum. (Mahbib Khoiron)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam, Budaya, Amalan Hari Santri 2019

Jumat, 05 Januari 2018

Perjuangan Kader IPNU Banyuwangi Belajar Menulis

Banyuwangi, Hari Santri 2019. Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Banyuwangi melatih puluhan kader-kadernya menulis. Semangat belajar secara serius diperlihatkan oleh peserta. 

Yusri Nurdian Muslim, misalnya, tetap memaksakan diri untuk menulis dengan modal telepon pintar miliknya. Dalam momen latihan ini, ia menuliskan  masalah pendidikan, khususnya rotasi sistem berjalannya pendidikan yang ada di daerah.

Perjuangan Kader IPNU Banyuwangi Belajar Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Kader IPNU Banyuwangi Belajar Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Kader IPNU Banyuwangi Belajar Menulis

Kesulitan dalam menuliskan paragraf awal tak bisa dihindarkan oleh pemuda asal Kecamatan Blimbingsari ini. Namun, ia tak sungkan menanyakan kepada teman-teman yang ada di samping kanan-kirinya, tentang kebingungan apa yang harus dituliskan, bagaimana menentukan angle cerita, dan berbagai hal teknis tulis-menulis lainnya.

"Karena ini kan masih pertama kali ikut pelatihan menulis. Banyak teman-teman saya yang sudah mahir. Tapi saya akan terus coba. Wajar jika banyak tanya sana-sini. Maklumlah," tuturnya, saat dimintai keterangan di tengah-tengah acara pelatihan bertajuk IPNU Ngaji Jurnalistik Bareng Kumparan, di Aula Lantai Dua kantor PCNU Banyuwangi, Selasa (22/08/2017) pagi.

Hari Santri 2019

Didampingi para pemateri yang hadir, Yusri tak segan-segan menunjukkan hasil tulisannya kepada teman dan narasumber. Meski hasil hanya beberapa paragraf saja, Editor Kumparan Rina Nurjanah memberikan apresiasi atas tekadnya belajar menulis.

"Meski ide pokok antarparagraf kurang sinkron dan banyak typo. Tapi tak mengapalah. Karena masih proses tahap awal ia belajar. Saya sangat mengapresiasi sekali tekadnya belajar menulis," ungkap Rina.

Hal yang tidak disangka Yusri memiliki harapan dan cita-cita yang terlampau tinggi, bagi kalangan penulis tingkat awal. "Saya juga memiliki cita-cita ingin jadi penulis buku best seller yang setara dengan Andrea Hirata," tutup Yusri.

Hari Santri 2019

Di acara ini mereka juga diajak untuk membuat akun baru di Media Kumparan. Para peserta dipersilahkan untuk membuat tulisan apapun di sana. "Karena misi kami adalah memberikan edukasi kepenulisan dan sekaligus memberikan motivasi penulis baru tetap menulis dalam wadah Media Kumparan," jelas Rina. (M. Sholeh Kurniawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam Hari Santri 2019

Kamis, 28 Desember 2017

Visi dan Misi, Pertimbangan Utama dalam Memilih Gubernur

Jakarta, Hari Santri 2019. Usep S Ahyar dari Populi Center, lembaga survey dan kebijakan Publik menyampaikan, hasil survey yang dilakukan pada September lalu menghasilkan temuan bahwa faktor yang paling dominan dalam memilih pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dalam pilkada DKI Jakarta adalah kesukaan calon pemilih terhadap visi dan misi, serta program yang diusung pasangan calon.?

“Sedangkan faktor kesamaan agama hanya memberi kontribusi sebesar 5 persen,” kata Usep dalam diskusi Perspektif Jakarta yang digelar di Gedung PBNU, Rabu (12/10).

Visi dan Misi, Pertimbangan Utama dalam Memilih Gubernur (Sumber Gambar : Nu Online)
Visi dan Misi, Pertimbangan Utama dalam Memilih Gubernur (Sumber Gambar : Nu Online)

Visi dan Misi, Pertimbangan Utama dalam Memilih Gubernur

Dalam survey yang melibatkan 400 orang ini, juga ditemukan bahwa 48 persen pemilih berpendapat bahwa gubernur dan wakil gubernur boleh beragama apa saja. Yang menginginkan gubernur dan wakil gubernur harus satu agama mencapai 40 persen.

Temuan lain adalah, 49.8 persen pemilih di Jakarta tidak keberatan jika dipimpin oleh gubernur non-Muslim sedangkan yang keberatan mencapai 46 persen.?

Hari Santri 2019

Mengingat dalam Pilgub Jakarta ini ada bakal calon yang berasal dari etnis Tionghoa, yaitu Basuki Cahaya Purnama, Populi Center juga menanyakan kepada responden, apakah mereka keberatan jika dipimpin oleh gubernur beretnis Tionghoa, 53.2 persen tidak keberatan sedangkan yang keberatan mencapai 40.7 persen.?

30.2 persen publik Jakarta menginginkan pasangan calon gubernur-wakil gubernur bebas dari korupsi. Karena itu, jika selama masa pilkada ini ada pasangan calon yang terbukti korupsi, maka 55.5 persen pemilih akan merubah pilihannya.?

Hal yang menjadi perhatian kami ini termasuk kampanye hitam. Usep menjelaskan kampanye hitam adalah kampanye untuk menjatuhkan lawan politik pada isu-isu yang tidak berdasar. Hal ini berbeda dengan kampanye negatif yang menyampaikan kelemahan-kelemahan lawan politik melalui isu-isu negatif, tetapi dengan fakta yang benar, baik itu track record atau kasus-kasus yang dilaluinya.

“Berbeda dengan kampanye hitam, kampanye negatif justru menghidupkan demokrasi dan pendidikan politik yang dikandungnya. Mengapa demikian? Dalam kampanye negatif, informasi yang dikemukakan adalah suatu kenyataan dan mampu dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Dari temuannya dalam survey yang menunjukkan bahwa masyarakat lebih mengutamakan visi dan misi pasangan calon, ia mengambil kesimpulan bahwa masyarakat pemilih di Jakarta sudah menuju pada pemilih yang lebih rasional.?

Hari Santri 2019

Namun demikian, kampanye hitam juga akan memunculkan ketegangan politik dan kebencian yang tak berujung. “Stigma negatif terus disematkan pada kelompok tertentu dan pihak-pihak yang mendukung. Pada akhirnya aapriori masyarakat pada pemilu dan demokrasi,” imbuhnya. ?

Ia berharap agar ada penyikapan secara serius dari penyelenggara pemilu. “Celah-celah yang memungkinkan kampanye hitam ini muncul harus segera dicarikan solusinya, disertai dengan pengawasan yang lebih ketat,” tegasnya. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Cerita, RMI NU, Humor Islam Hari Santri 2019

Minggu, 24 Desember 2017

Takbir Menggema, Takabur (Seharusnya) Sirna

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Takbir Menggema, Takabur (Seharusnya) Sirna (Sumber Gambar : Nu Online)
Takbir Menggema, Takabur (Seharusnya) Sirna (Sumber Gambar : Nu Online)

Takbir Menggema, Takabur (Seharusnya) Sirna

Di antara kalimat yang paling mencolok dan berkumandang di mana-mana begitu Ramadhan berakhir adalah takbir. Takbir secara bahasa berasal dari kata kabbara-yukabbiru yang berarti membesarkan atau mengagungkan. Siapa yang diagungkan? Tentu saja Dzat Yang Mahabesar, Allah subhanallah wataala.

Hari Santri 2019

Takbir betul-betul mewarnai peralihan masa dari Ramadhan menuju Syawal. Umat Islam di berbagai tempat menghidupkan malam hari raya dengan takbir. Ruas jalan di banyak daerah juga dipenuhi pawai takbir. Dalam shalat id pun kita dianjurkan menambah takbir tujuh kali usai takbiratul ihram dan lima kali saat memasuki rakaat kedua. Para khatib idul fitri disunnahkan memulai khutbah pertama dengan takbir sembilan kali dan tujuh kali pada khutbah kedua. Sementara dzikir yang paling dianjurkan bagi jamaah dalam momen-momen tersebut adalah melafalkan takbir.

Hari Santri 2019

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Takbir tentu lebih dari sekadar ucapan dan kata-kata. Di balik anjuran menggemakan takbir ada perintah untuk menganggap setara, kecil, rendah apa pun yang ada di alam fana ini karena yang Mahabesar hanya Allah. Dialah penguasa jagat raya ini. Tak ada satu urusan atau keberadaan pun yang luput dari genggaman-Nya. Ini pula makna dari rabbul alamin. Allah bukan saja Tuhan bagi manusia melainkan Tuhan bagi seluruh eksistensi selain diri-Nya, termasuk hewan, tumbuhan, jin, malaikat, planet-planet, atmosfer, bumi, langit, surga, neraka, dan lain sebagainya.

Konsekuensi dari keyakinan semacam itu adalah timbulnya sikap rendah hati. Mengecilkan segalanya, tak terkecuali kekayaan dan jabatan, untuk semata-mata mengagungkan-Nya. Sikap ini sangat sulit dilakukan karena musuh terberatnya bukan saja setan, melainkan juga nafsu diri sendiri. Orang mungkin saja terbebas dari keraguan mengimani keberadaan Allah seyakin-yakinnya tapi belum tentu ia berhasil membesarkan-Nya seagung-agungnya. Orang bisa saja sangat alim, rajin ibadah, mengklaim membela agama, namun apakah ia sudah benar-benar bersih dari menganggap lebih rendah orang lain--menganggap diri sendiri lebih selamat dari yang lain?

Kita tahu, Iblis terjerumus bukan karena ia ingkar atas keberadaan Allah. Iblis tidak ateis. Mungkin soal ini keimanan Iblis melebihi manusia biasa. Iblis terhempas ke neraka dan menjadi makhluk terkutuk selamanya sebab menolak menghormati Nabi Adam lantaran takabur. Sebagaimana terekam dalam Surat al-Baqarah ayat 34:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur/sombong dan adalah ia termasuk golongan makhluk yang kafir".

Takabur atau kesombongan telah menggelapkan Iblis untuk mengakui Adam sebagai makhluk Allah yang juga harus dihormati. Ketika Allah mengeluarkan perintah sujud penghormatan tersebut lalu Iblis menyambutnya dengan penolakan, maka saat itulah Iblis sedang mengingkari Kebesaran Allah. Iblis membesarkan diri di hadapan Dzat Yang Mahabesar. Ia hanya melihat kepada siapa ia hormat tapi tidak mempertimbangkan dari siapa perintah hormat itu keluar. Di ayat lain, Allah berfirman, "walaqad karramnâ banî âdam (dan sungguh telah kami muliakan Bani Adam [manusia])."

Dalam hadits Qudsi Rasulullah pernah menyampaikan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? . ? ? ? ? ? ? . ? ? ? .

"Kemahabesaran adalah selendang-Ku dan Kemahagungan adalah Sarung-Ku. Siapa saja yang menandingi-Ku Aku masukkan dia ke dalam neraka".

Jamaah shalat jumat hadakumullah,

Apa yang diperbuat Iblis bisa juga menimpa kita meski dalam skala dan konteks yang berbeda. Allah, misalnya, telah memerintahkan kita memuliakan manusia (QS al-Isra: 70) dan tidak merusak lingkungan (QS al-Araf: 56). Saat kita berlaku sebaliknya maka sejatinya kita sedang meneladani jejak Iblis yang durhaka. Kita hanya percaya akan keberadaan Allah tapi "tidak percaya" akan kebesaran dan kekuasan-Nya. Atau mungkin percaya namun berhenti di mulut atau dalam kadar angan-angan belaka.

Buah dari takbir adalah mengecilkan diri sendiri untuk semata membesarkan Allah. Dampak lazim dari suasana batin ini adalah tidak menganggap remeh hal-hal di luar dirinya karena menyadari bahwa semua ini tak lain adalah hamba Allah rabbul alamin. Rasulullah pernah menegur sahabat yang mempermainkan anak burung hingga induknya merasa terganggu. Sikap mengasihi binatang seperti ini hanya bisa dilakukan ketika seseorang tak lagi sibuk membandingkan dirinya dengan binatang tapi memandang lebih dalam: siapa yang menciptakan binatang. Itu pula yang menjadi alasan mengapa Nabi begitu pemaaf dan murah hati terhadap orang-orang kafir yang pernah memusuhi, bahkan berupaya membunuh beliau; dan kisah-kisah teladan lainnya.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Takbir Idul Fitri seyogianya mengantarkan kita pada introspeksi diri tentang sejauh mana kita membesarkan Allah, sejauh mana pula kita mengenal-Nya. Sebuah takbir yang melunakkan hati kita untuk senanriasa berbuat baik kepada siapa saja atau apa saja. Memandang orang lain dengan kacamata kasih sayang. Berhenti menghinakan pihak lain. Dan menolak perbuatan merusak di lingkungan kita.

Di Indonesia kita beruntung memiliki tradisi halal bihalal yang menjadi momen penguatan hubungan baik sesama manusia. Setelah tak hanya digembleng untuk memenuhi hak-hak Allah selama Ramadhan tapi juga menuntaskan berbagai persoalan hak-hak manusia (haq adami) dengan saling bermaaf-maafan. Dengan demikian semoga takbir kita tidak hanya menggaung ke angkasa tapi juga membumi dalam wujud cinta kepada sesama. Wallahu alam.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Alif Budi Luhur



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Sholawat, Humor Islam Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock