Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Februari 2018

Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali

Denpasar,? Hari Santri 2019?

Apel Kebangsaan yang diadakan Pimpinan Wilayah GP Ansor Provinsi Bali di Lapangan Lumintang Denpasar, Ahad (14/5) dihadiri Kasatkornas Banser H. Alfa Isnaini. Di hadapan seribu kader Ansor dan Banser dari sembilan kabupaten dan kota se-Bali itu, Alfa merasa bangga karena banom NU itu bisa eksis di pulau dewata, pulau dengan Muslim minoritas. ?

Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali

Meski demikian, ia berpesan agar GP Ansor dan Banser terus menjunjung tinggi keharmonisan, kedamaian dan menjalin komunikasi kepada semua pihak. Dengan cara seperti itu, rajutan kebinekaan di negeri ini, termasuk di Bali, bisa seiring sejalan dengan cita cita pendiri bangsa.

"Para perumus negeri ini sepakat untuk menjadikan negeri ini sebagai negara kesatuan yang mengakui perbedaan, menggapai kesejahteraan bersama berdasarkan Pancasila. Ini sudah final, karena yang menyepakatinya juga adalah para kiai-kiai NU," tegasnya.

Jadi, lanjutnya dengan suara lantang, siapa pun yang ingin mengutak-atik NKRI dan Pancasila, maka GP Ansor dan Banser siap berhadap-hadapan dengan mereka.

“Apakah kalian siap?” tanya Alfa.

Hari Santri 2019

"Siap!" seru peserta apel menjawab serentak.

Menyoal kelompok yang anti-Pancasila, ia terang-terangan menyebut HTI sebagai organisasi gerakan politik, bukan gerakan dakwah keagamaan. Mereka jelas ingin menggantikan Pancasila sebagai dasar negara.

"Kebebasan berpendapat boleh, tapi kalau sudah ingin mengubah dasar dan bentuk negara, maka langkah pemerintah sudah tepat untuk membubarkan HTI yang kerap mempropagandakan pemerintahan model khilafah Islamiyah," paparnya.

Namun, ia juga menegaskan bahwa langkah pemerintah untuk membubarkan HTI merupakan keputusan politik, jadi ini belum cukup. Ansor Banser menginginkan yang lebih dari itu.

Hari Santri 2019

"Kita ingin semua gerakan pemahaman dan ajaran HTI, harus dilarang di seluruh tumpah darah Nusantara ini. Jika masih mereka ada, maka selama itu juga Banser dan Ansor akan tetap melakukan perlawanan," paparnya yang langsung disambut tepuk tangan peserta apel.

Terakhir, ia berpesan agar kader Ansor dan Banser agar tidak gampang terprovokasi oleh oknum-oknum yang menginginkan terpecahnya kesolidan Nahdlatul Ulama. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Kyai, Pemurnian Aqidah Hari Santri 2019

Jumat, 02 Februari 2018

Lakmud Pelajar Garut Ciptakan Generasi Cerdas

Garut, Hari Santri 2019. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kabupaten (PC IPNU IPPNU) Garut kembali gelar Latihan Kader Muda (Lakmud).

Lakmud Pelajar Garut Ciptakan Generasi Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakmud Pelajar Garut Ciptakan Generasi Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakmud Pelajar Garut Ciptakan Generasi Cerdas

Pelaksanaan Lakmud yang kali ini merupakan angkatan ketiga berlangsung di Kecamatan Cibiuk dengan perolehan peserta yang teregistrasi sebanyak 38 IPNU dan 32 IPPNU. Lakmud ini bertemakan Transformasi Anggota Menuju Kader yang Militan dan Profesional. 

Ketua Pelaksana, Ahmad Zakaria menyampaikan laporan persiapan yang dilakukan menghadapi tantangan tidak mudah.

"Tapi alhamdulillah bisa terlaksanakan tepatnya selama 3 hari. Panitia tidak kenal lelah. Kami rela korbankan tenaga, pikiran, waktu, dan materi untuk menyukseskan acara ini," tutur Ahmad Zakaria dalam pembukaan Lakmud di kantor MWCNU Cibiuk (24/11).

Hari Santri 2019

Turut hadir pula Ketua PW IPNU Jawa Barat, Ziyad Ahmad.

"Garut ini sudah masuk di grade A. Pimpinan Cabang yang sudah sangat baik dalam berorganisasi dan sangat serius dalam pengkaderannya. Garut luar biasa sampai bisa terlaksana Lakmud yang ketiga. Apresiasi besar buat PC IPNU Garut," ungkap Ziyad Ahmad. 

Hari Santri 2019

Latihan Kader Muda kali ini diikuti oleh banyak peserta dari setiap zona baik Utara maupun Selatan, diantaranya PAC Malangbong, Selaawi, Limbangan, Cibiuk, Banyuresmi, Karangpawitan, Sukaresmi, Cisurupan, Singajaya, Pendeuy, dan Bungbulang, bahkan ada yang berasal dari Kabupaten Bandung Barat.

Peserta dari berbagai daerah tersebut merupakan wujud semangat mereka dalam ber-IPNU dan ber-IPPNU.

"Perlu diketahui bahwa NU tetap mengedepankan kesederhanaan, maka ini sudah cukup maksimal, cukup aja sudah segini apalagi sangat," kata Ketua PCNU Garut KH. Aceng Wahid.

Ia berpesan IPNU IPPNU haruslah menjadi generasi NU yang cerdas, berwawasan, dan beradab. 

Lakmud juga diharapkan menjadi mesin penggerak kader-kader muda yang militan dan profesional.

"Tujuan Lakmud ini yang pertama untuk menerapkan teori yang telah dibekali yakni pengejawantahannya dalam kehidupan sehari-hari sesuai ajaran aswaja dan NU baik dalam amaliyah, fikr, ghirah, dan harakah-nya. Kedua sebagai wujud generasi agar berkompeten dalam masuk ke jenjang kepengurusan yang lebih atasnya," ujar Ketua IPNU Garut Ridwan Pamungkas. (Salim/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Habib, Halaqoh, Ahlussunnah Hari Santri 2019

Senin, 22 Januari 2018

Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara

Jakarta, Hari Santri 2019. Pemandangan agak berbeda tampak pada acara Istighotsah dan Pengajian Bulanan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama, Rabu (27/2) malam. Jika biasanya kiai NU yang mengaji kitab, kini ulama asal Lebanon yang tampil fasih menerangkan isi kitab.

Syaikh Khalil ad-Dabbagh, ulama asal lebanon itu, membawa sedikitnya tiga kitab karangan ulama Nusantara, antara lain, at-Tanbihat al-Wajibat karya pendiri NU, Hadaratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Sirajuth Thalibin (Syaikh Muhammad Ihsan Jampes dari Kediri), dan Qathrul Ghaits (Syaikh Imam Nawawi dari Banten).

Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara

Dosen Universitas Global Lebanon ini menjelaskan konsep tauhid menurut paham ahlus sunnah wal jamaah (Aswaja). Allah, katanya, bersifat suci dari seluruh kriteria kemakhlukan, seperti bentuk dan arah sebagaimana pandangan mutajassim (antropomorfis).

Hari Santri 2019

”Allah tidak dapat dikonseptualisasikan atau dibayangkan. Lantas, kenapa kita menengadah ke atas saat berdoa? Itu bukan karena Allah bertempat di atas, melainkan langit merupakan kiblat untuk doa. Kita dapat temukan keterangan tersebut dari kitab ini,” kata Syaikh Khalil dalam bahasa Arab sambil memperlihatkan kitab Sirajuth Thalibin.

Hari Santri 2019

Menurut dia, pandangan ini ditemukan dasarnya pada ayat suci al-Qur’an yang mengatakan bahwa tak ada satupun yang menyerupai Allah. Dia mahasempurna dalam segala hal, tidak membutuhkan apapun atau siapapun.

Syaikh Khalil menambahkan, sebagaimana manusia, arah dan bentuk juga termasuk makhluk Allah. Tuhan terlalu luas untuk digambarkan oleh indra dan pikiran manusia yang terbatas. ”Dan kita tidak akan dapat mengetahui hakikat Allah,” ujarnya.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Anti Hoax, Ahlussunnah, Ubudiyah Hari Santri 2019

Rabu, 17 Januari 2018

Kemenpora: Ansor Harus Terdepan Jadi Agen Perubahan

Jakarta, Hari Santri 2019. Mengucapkan terima kasih atas sejumlah kegiatan positif dilakukan Gerakan Pemuda Ansor beserta tenaga intinya Barisan Ansor Serbaguna (Banser), pejabat Kementerian Pemuda Dan Olahraga meminta kader pemuda Nahdlatul Ulama (NU) untuk terus terdepan dalam menjadi agen perubahan.

Kemenpora: Ansor Harus Terdepan Jadi Agen Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenpora: Ansor Harus Terdepan Jadi Agen Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenpora: Ansor Harus Terdepan Jadi Agen Perubahan

"Revolusi mental dicanangkan Presiden Joko Widodo membutuhkan peran serta pemuda karena keterlibatannya memang penting," ujar Kepala Bidang Kepemudaan Kemenpora Agus Dwi Susilo, di Jakarta Timur, Selasa (21/11).

Kemenpora melalui Pusat Pembentukan Pemuda dan Olahraga Nasional (PPON) menggelar Fasilitasi Pelatihan Revolusi Mental Bagi Pemuda di Pesantren Al Hamid, Cipayung, Jakarta Timur mulai hari ini hingga Kamis (23/11).

Hari Santri 2019

Sesuai tujuannya, demikian Agus menambahkan, ialah membentuk revolusi mental pemuda.

Ia berharap agar Ansor dan Banser selalu jadi agen perubahan mental seperti sudah sering dilakukan.

Hari Santri 2019

Sejak berdiri 24 April 1934, Ansor telah banyak melakukan kegiatan positif, dari menjaga ribuan ulama berikut pengajiannya.

Ansor berikut badan semi otonomnya, Banser terus berkomitmen menjaga NKRI, dari menjaga gereja sebagai peneguhan komitmen kebhinekaan dan Islam Rahmatan Lil Alamin, hingga kegiatan sosial kemasyrakatan.

Menjelang dan paska pembukaan kegiatan diikuti ratusan kader Banser dari berbagai provinsi di Indonesia, Kepala PPON Kemenpora Hendry Ridwan meneriakkan NKRI  disambut dengan jawaban Harga Mati berkali-kali oleh puluhan Banser berikut pengurus Satkornas. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Kyai, Ubudiyah Hari Santri 2019

Selasa, 16 Januari 2018

Mbah Wahab Layak Disebut Bapak Koperasi

Jombang, Hari Santri 2019. Tidak banyak yang mengungkap bahwa ulama besar pendiri NU KH Wahab Chasbullah telah menggelorakan gerakan koperasi jauh sebelum kemerdekaan. Sejarawan Anhar Gonggong bahkan mengusulkan KH Wahab Chasbullah layak mendapat gelar Bapak Koperasi.

Mbah Wahab Layak Disebut Bapak Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Wahab Layak Disebut Bapak Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Wahab Layak Disebut Bapak Koperasi

Dalam Sarasehan dan Launching Buku KH Wahab Chasbullah yang digelar di Aula Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Rabu (3/9), nara sumber lain Choirul Anam membeberkan, KH Wahab bersama KH Hasyim Asyari, pada 1918 sudah membentuk syirkah tijariah atau semacam kerjasama dagang bernama Nahdlatut Tujjar.

"Dalam waktu singkat, setelah berdirinya Nahdlatut Tujjar ini, tumbuh ratusan syirkah tijarian di berbagai kota, dengan nama Cooperatie Kaoem Moeslimin (CKM)," tegas Cak Anam, sejarawan NU dari Surabaya ini.

Hari Santri 2019

Adapun Syirkah tijariyah sitem  yang digunakan, lanjutnya adalah setiap anggota menginvestasikan modal 25- 50 golden.

“Seuntunganya setiap tahun dibagi fifty fifty. 50 persen pertama dibagi atas besarnya modal setor, 50 persen kedua dikembalkan untuk memperbesar modal," beber mantan ketua GP Ansor Jawa Timur ini menambahkan.

Hari Santri 2019

Dikatakan Cak Anam, panggilan akrab Choirul Anam, pendirian Nahdhatut Tujjar juga merupakan respon atas diskriminasi penjajah Belanda terhadap umat muslim dalam bidang ekonomi.  

"Ada sebanyak 45 anggota dari kalangan pedagang awalnya. Dari sinilah terbentuk puluhan bahkan ratusan koperasi kaum muslim," tandasnya seraya mengatakan koperasi itu menjual kebutuhan pokok sehari hari beras, gula dan lain lain.

Sejarawan Anhar Gonggong lantas mendorong pihak NU untuk melakukan penelitian lebih mendalam lagi, guna memperkuat landasan ilmiah, bahwa KH Wahab sudah menggelorakan koperasi jauh sebelum kemerdekaan. Jadi sangat layak KH Wahab Chasbullah mendapat gelar bapak koperasi.

"Dokumen yang dipegang Pak Anam otentik. Saya dorong NU melakukan penelitian dan kajian lebih jauh lagi. Kalau ada sumber yang secara ilmiah lebih punya otoritas ketimbang sebelumnya, bisa saja gelar bapak koperasi itu milik KH Wahab," tandas sejarawan berambut gondrong itu.   

Cak Anam menyampaikan, bahwa paparan yang disampaiakan terkait kepeloporan KH Wahab dalam koperasi, hanyalah untuk mengungkapkan fakta sejarah. Yakni, selain mantan proklamator Mohammad Hatta (yang bergelar Bapak Koperasi), masih ada KH Wahab yang juga tak kalah giat menggelorakan koperasi di tanah air.

"Soal mengusulkan bapak kopersi itu ya PBNU, yang jelas, fakta sejarah bangsa Indonesia tidak lepas dari pergerakan umat  dan tokoh tokoh islam seperti KH Wahab, Saya hanya meluruskan sejarah saja yang selama ini tidak terungkap karena ada kepentingan tertentu," ujarnya.

Dalam kesempatan itu juga diluncurkan buku bertajuk “Kaidah Berpolitik dan Bernegara”. Buku berisi kumpulan ceramah KH Wahab Chasbullah itu disunting oleh Wakil Sekjen PBNU H Abdul Mun’im DZ yang juga hadir dalam sarasehan itu. (Muslim Abdurrahman/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Ulama Hari Santri 2019

Minggu, 07 Januari 2018

NU Bersatu Susah Dipecah-belah

Jepara, Hari Santri 2019. Nahdlatul Ulama memasuki usianya yang ke-92 tahun menurut kalender Hijriyah. Di usianya yang kian senja menurut KH Asyhari Syamsuri, Ketua PCNU Jepara harus semakin bersatu. Jika bersatu kelompok lain akan susah memecah belah jamiyyah yang bermakna kebangkitan ulama ini.

Demikian disampaikan dalam pengajian Haul Massal dan Harlah NU ke-92 yang diadakan MWCNU Kalinyamatan bertempat di gedung MWCNU Kalinyamatan, Jum’at (08/05/15) siang.

NU Bersatu Susah Dipecah-belah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bersatu Susah Dipecah-belah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bersatu Susah Dipecah-belah

Kiai Asyhari meyakini jika NU bersatu, rukun susah apabila ada kelompok lain memecah-belah keutuhan NU. “Jika kita bersatu, kita susah diintervensi kelompok lain,” pesannya kepada ribuan jamaah yang memadati gedung MWCNU.

Hari Santri 2019

Apa yang dikatakan dia tentu sejalan dengan penggalan syair KH Ahmad Fauzan, tokoh NU Jepara tempo dulu. Mlakune NU Koyo Slender/ Senajan Nyrangap Merohi Klenyer/ Duwe Dalan Dewe Ora Keno Nabrak/ Seng Sopo Nabrak Merohi Kelenger.

Dijelaskan Kepala SMKN 3 Jepara ini NU mempunyai jalan sendiri. Kelompok lain tidak boleh ikut campur. Yang ikut campur akan tahu sendiri akibatnya.

Hari Santri 2019

Hal lain dikemukakan Muhsinin. Menurut Ketua MWCNU Kalinyamatan ini NU wajib menjunjung tinggi hasil musyawarah. “Apapun keputusan musyawarah NU harus diikuti dan dijalankan dengan sebaik-baiknya,” terangnya.

Dalam kegiatan yang dihadiri ribuan jamaah ini menghadirkan penceramah asal Grobogan, KH Mahyan Ahmad. (Syaiful Mustaqim//Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Tokoh, Doa Hari Santri 2019

Kamis, 04 Januari 2018

Pemimpin NU Harus Familiar dan Komunikatif dengan Negara Sahabat

Jakarta, Hari Santri 2019. Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Agustus 2015 mendatang, sejumlah kalangan berharap adanya peningkatan peran dan kapasitas Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam membawa bangsa ini menghadapi perkembangan geopolitik global dan regional. Terlebih, saat ini Indonesia telah menandatangani kerja sama terbuka kawasan melalui Masyarakat Ekonomi Asean, maupun kerja sama multilateral dengan negara-negara besar seperti Amerika, China dan lain-lain.

“Pimpinan PBNU ke depan harus familiar dan mampu berkomunikasi dengan negara-negara yang bisa meng-upgrade kapasitas kader NU. NU harus banyak mengirim kadernya untuk belajar ke negara-negara besar, tidak hanya ke negara di timur-tengah saja,” ujar Pengamat Kajian Eropa Universitas Indonesia, Mahmud Syaltut, Jumat (8/5).

Pemimpin NU Harus Familiar dan Komunikatif dengan Negara Sahabat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemimpin NU Harus Familiar dan Komunikatif dengan Negara Sahabat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemimpin NU Harus Familiar dan Komunikatif dengan Negara Sahabat

Dikatakan Syaltout, PBNU juga harus memperkuat peran Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di berbagai negara yang dibentuk dan dikelola oleh kader-kader NU yang menjadi mahasiswa dan pekerja migran? di luar negeri.

Hari Santri 2019

“Diaspora kader NU harus dimenej lebih matang. Banyak kader-kader NU yang bagus, perlu dirangkul dan diberdayakan. Identifikasi kader NU di Negara-negara yang menjadi pusat Iptek.? Jadi ke depan, NU tidak hanya berperan di wilayah agama, pendidikan dan budaya. Tapi juga harus bergerak di wilayah vital, seperti pertanian, energi, industri, ekonomi, wisata dan lainnya,” papar Syaltout.

Lebih lanjut ia mengungkapkan sekarang era multitrack diplomacy dan kerja sama yang dilakukan antar negara saat ini tidak lagi berbentuk bilateral, tetapi sudah multilateral, yang mensyaratkan kesetaraan dan keseimbangan kapasitas maupun perolehan manfaat.

Hari Santri 2019

“NU juga harus mulai berinvestasi di wilayah ekonomi. Sekarang era inovatif advantage dan mulai masuk ke era prediktif advantage. Siapa yang mampu meriset melakukan prediksi atau ramalan masa depan yang bisa diuji secara empirik,dia yang menang, NU harus mengambil ruang itu,” paparnya.

Isi Sektor Strategis

Hal sama diharapkan Pakar Hubungan Internasional UI,? Edy Prasetyono.? Menurut Edy, PBNU harus serius menyiapkan kader-kader ideologis dengan kapasitas keilmuan dan keterampilan yang lebih beragam. “Harus mampu memanfaatkan dan mentransformasi sektor-sektor strategis di bidang maritim. Yakni bidang industri kreatif, teknologi pertanian dan pangan, teknologi transportasi khususnya perkapalan dan kader yang ahli di bidang energi dan teknologi informasi,” ujarnya.

Edy menyesalkan, sejumlah sektor tersebut justru banyak digarap secara serius oleh kelompok-kelompok muslim berpaham ekstrem. Padahal menurut Edy, jika sektor-sektor strategis itu dikuasai kelompok ekstrem, akan sangat berbahaya bagi masa depan Indonesia. Karena, selain akan menghancurkan budaya toleransi, kebhinnekaan dan demokrasi yang sudah terbangun di Indonesia, mereka juga bisa memicu perang saudara di Indonesia, seperti yang terjadi di negara-negara Timur Tengah. Dan dengan posisi Indonesia yang dianggap vital oleh negara-negara besar, khususnya dengan jalur sutra? yang dimiliki Indonesia, konflik di Indonesia bisa meletupkan perang dunia.

“Ada kekhawatiran luar biasa atas kehadiran kelompok Islam agresif di Indonesia. Mereka tak hanya melakukan radikalisasi dan terorisme tetapi juga memicu perang di mana-mana. Mereka ini serius mengeskploitasi sumber dayanya. Mengirim kadernya untuk belajar teknologi, bisnis dan energi ke berbagai negara maju,” paparnya.

Karena itu, menurut Edy, PBNU harus menjalin kerja sama lintas sektor dengan negara, inetelektual dan para pengusaha untuk mengantisipasi ancaman ekstremisme tersebut. Sebab kehadiran mereka selain mampu menguasai sektor vital juga memengaruhi bahkan mencuci otak masyarakat dengan segala sumber daya yang dimiliki. Sehingga, masyarakat Indonesia menjadi rentan konflik, sulit bersatu dan kehilangan karakter saling menghargai, toleransi dan gotongroyongnya.

“Perlu ada kerja sama serius yang kuat antara Negara dengan ormas semacam NU ini, untuk menghadapi perang asimetris yang bakal makin marak terjadi. Perang asimetris itu berupa perang ide, kreatifitas, perang gagasan dan ideology yang berujung pada konflik fisik dan perang saudara,” tambahnya. (Malik/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh, Ahlussunnah, Syariah Hari Santri 2019

Rabu, 27 Desember 2017

MTs Maarif Tembarak Juara Umum Porsema Temanggung 2017

Temanggung, Hari Santri 2019. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maarif Tembarak di Selopampang Temanggung kembali menjadi juara umum dalam ajang Pekan Olahraga dan Seni Maarif (Porsema) tingkat Kabupaten Temanggung Jawa Tengah 2017.?

Porsema yang digelar Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU Temanggung itu terpusat di MAN Kowangan berlangsung selama dua hari, akhir pekan lalu.

MTs Maarif Tembarak Juara Umum Porsema Temanggung 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Maarif Tembarak Juara Umum Porsema Temanggung 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Maarif Tembarak Juara Umum Porsema Temanggung 2017

"Porsema tahun ini, kita meraih prestasi yang cukup membanggakan. Kita mendapat 14 emas, ? 3 perak 3 dan 1 perunggu, dinobatkan menjadi juara umum," ucap Kepala MTs Maarif ? Tembarak M Rohmatullah usai menyerahkan tropi, piagam penghargaan dan uang pembinan kepada siswa ? berprestasi dikemas dalam upacara bendera di halaman madrasah, Senin (6/2) kemarin.

Aktivis muda NU itu merinci , 14 emas itu diantaranya; juara I Olimpiade Matematika diraih oleh Virda Agustina, juara I Olimpiade IPA (Avita Khilyatul Hafni), juara I Olimpiade Ke-NU-an (Laelatul Azizah), juara I pidato bahasa jawa (M. Azza Iqdam M), juara I pidato bahasa Indonesia (Umi Nur Haeni), juara I pidato bahasa arab (Linainil Muna).

Hari Santri 2019

Selanjutnya, juara I puisi religi siswa putra (M. Adip Fauzi Hidayat), juara I puisi religi putri (Linda Listyani), juara I cerdas tangkas Ke-NU-an (Team siswa MTs Maarif Tembarak), juara I lari marathon 5 km putra (M. Husein Basri), juara I lari marathon 5 km putri (Ani Roudhotussarifah), juara I catur putri (Rema Wahyu Sari).

Adapun 3 perunggu, diantaranya; juara 2 lomba karya ilmiah IPA ? oleh ? tim terdiri 3 orang siswa (Laeli, Nela dan Mujib), juara 2 lomba poster (Fajar Pramudiyo), juara 2 Bulu Tangkis Putri (Saparyatun) dan terakhir 1 perunggu, yakni; juara 3 Olimpiade IPS (Maulidya Syifa Annisa).

Hari Santri 2019

"Prestasi ini, akan tetap kita pertahankan dalam Porsema yang akan datang. Saat ini, kami fokus menyiapkan diri ? untuk berlaga dalam Porsema tingkat Jawa Tengah yang akan digelar di Kabupaten Jepara 18-21 Mei mendatang," ungkapnya. ?

Wakil Kepala MTs Maarif Tembarak Mukhtar Hadi Purwanto menambahkan, untuk menyongsong Porsema tingkat Jateng, supaya mendapat prestasi yang membanggakan sebagai wakil Temanggung, saat ini siswa-siswa yang kini menjadi juara umum tingkat Kabupaten terus digembleng dan dilatih secara intensif dengan bimbingan para pelatih, selain pelatih, juga melibatkan alumni.

"Prestasi yang kita capai ini, bukti kami sungguh-sungguh dalam mengelola madrasah. Kami berharap sekolah yang berlokasi di Jalan Simpang Empat Desa Kacepit Selopampang ini bisa tambah maju, makin dipercaya dan menjadi idola masyarakat," harapnya. (Ahsan Fauzi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara, Ahlussunnah Hari Santri 2019

Selasa, 26 Desember 2017

Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi

Surabaya, Hari Santri 2019. Hampir dapat dipastikan pada akhir bulan September, selalu ramai dibicarakan peritiwa pemberontakan Gerakan 30 September/PKI. Berbagai kalangan mengingatkan bahaya bangkitnya kembali PKI, dan pada saat yang sama mengemukakan sebaliknya. Lantas apa yang bisa dilakukan warga NU?

Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi

Bagi Muhammad Al-Fayyadl, kalangan NU (khususnya yang lahir belakangan, red) serta warga bangsa untuk segera melakukan rekonsiliasi horisontal. "Dengan demikian ketegangan yang pernah terjadi dapat segera diurai serta menemukan titik temu," katanya, Ahad (1/10).

Dan media yang dapat dijadikan sarana untuk rekonsiliasi tersebut adalah shalawat. "Karena shalawat adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari warga NU," ungkap alumni magister di Universite Paris 8 pada jurusan Filsafat dan Kritik Kontemporer Kebudayaan tersebut.

Mencari solusi dengan shalawat rekonsiliasi baginya bisa menjadi salah satu jalan tengah. "Akan baik kalau ada bacaan atau amalan shalawat yang mengarah kepada rekonsiliasi," terang alumnus Pondok Pesantren An-Nuqayah, Guluk-guluk Sumenep tersebut.

Hari Santri 2019

Pria yang kini tinggal di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo ini tidak menampik kalau peristiwa berdarah G30S PKI terus menjadi perdebatan. "Lantaran selama ini, peristiwa tersebut ditutup-tutupi," katanya. 

Bagaimana mungkin kekuasaan Soeharto dengan Orde Barunya telah mendesain sedemikian rupa kejadian tersebut sehingga yang mengemuka hanya versi pemerintah. 

Hari Santri 2019

"Sehingga kalau sebagian masyarakat mempersoalkan dan ujungnya menjadi pro dan kontra seperti selama ini, hal tersebut adalah hal yang wajar," ungkapnya.

Bagi Al-Fayyadl, kejadian ini memberikan banyak pelajaran kepada bangsa. "Anak bangsa harus bisa memilih dan mempelajari fase hubungan antar golongan yang pada akhirnya untuk bersama mendiskusikan perjalanan yang terjadi," katanya. 

Mereka yang terlibat dalam sebuah peristiwa masa lalu, lanjutnya, dapat bertemu untuk mendiskusikan peristiwa yang pernah terjadi secara lebih terbuka.

Di ujung penjelasannya, Al-Fayyadl mengajak kalangan terpelajar di NU untuk banyak menulis buku sejarah. Ini untuk melengkapi buku dan catatan yang sudah ada. "Yang diwariskan jangan semata sejarah lisan," sergahnya. 

Manfaat dari menulis buku adalah agar semakin banyak sudut pandang yang bisa dijadikan rujukan dalam menilai sebuah peristiwa. "Dengan demikian akan semakin banyak misteri yang bisa diungkap," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ulama, Fragmen, Ahlussunnah Hari Santri 2019

Rabu, 20 Desember 2017

Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Tidak diragukan lagi bahwasanya dalam syariat Islam, selain puasa wajib di bulan Ramadhan, kaum muslim pun diperintahkan untuk menjalankan ibadah puasa sunah selama 6 hari di bulan Syawal. Puasa sunah ini memiliki banyak keutamaan,sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Qudsi, Allah Swt berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: (? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?) ? ? ?

? "Setiap amal manusia adalah untuk dirinya kecuali puasa, ia (puasa) adalah untuk-Ku dan Aku memberi ganjaran dengan (amalan puasa itu)." Kemudian, Rasulullah melanjutkan, "Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dibandingkan wangi minyak kasturi .

Salah satu keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal - Puasa Enam hari di bulan Syawal memiliki dalil yang shahih.

Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal (Sumber Gambar : Nu Online)
Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal (Sumber Gambar : Nu Online)

Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ?

“Barangsiapa yang telah melaksanakan puasa Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan berpuasa selama 6 (enam) hari pada bulan Syawal, maka dia (mendapatkan pahala) sebagaimana orang yang berpuasa selama satu tahun.?

Sebagian orang meragukan hadits berpuasa enam hari di bulan Syawal, akan tetapi keraguan itu terbantahkan oleh bukti-bukti periwayatan hadits. Perhatikan ungkapan Syeikh Abdullah bin Abdulal- Bassam berikut.

Hari Santri 2019

“Hadits berpuasa Enam hari di bulan Syawal merupakan hadits yang shahih, hadits ini memiliki periwayatan lain di luar hadits Muslim. Selain hadits Muslim yang meriwayatkan hadits berpuasa Enam hari di bulan Syawal antara lain; Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi.” Oleh karena itulah Hadits berpuasa Enam hari di bulan Syawal ini tergolong hadits mutawatir.

Hukum berpuasa enam hari di bulan Syawal adalah sunah yang boleh dilaksanakan mulai tanggal dua Syawal. Apabila melaksanakan puasa sunah Enam hari ini pada tanggal satu ? Syawal maka hukumnya tidak sah dan haram. Dalam hadits disebutkan, dari Abu Said al-Khudri, dia berkata,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hari Santri 2019

? “Nabi Muhammad Saw., melarang berpuasa pada dua hari raya; idul fitri dan idul adha.(maksudnya tanggal satu Syawal atau sepuluh bulan Dzulhijjah . ?

Praktik berpuasa 6 hari di bulan Syawal sama dengan berpuasa di bulan Ramadhan, boleh bersahur dan berhenti sahur saat waktu imsak. Perbedaannya, pada saat melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal, boleh dilakukan secara berurutan atau berselang hari yang penting masih di bulan Syawal. Namun apabila merujuk pada firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 133, sebaiknya dilaksanakan sesegera mungkin.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allah berfirman, “Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”.

Demikian saja sekilas tentang Berpuasa Enam Hari di Bulan Syawal. Ingat, tidak ada lagi hari raya selain Idul Fitri dan Idul Adha, jadi pembaca setelah melaksanakan puasa Enam hari di bulan Syawal tak usah lagi merayakannya dan mengucapkan selamat hari raya.

?

Guslik An-Namiri, Ketua Umum Forum Silaturrahim Warga Negara Indonesia Riyadh, aktivis NU Arab Saudi

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Santri, Ahlussunnah, Tegal Hari Santri 2019

Selasa, 19 Desember 2017

Raih Doktor Setelah Kupas Kepemimpinan Perempuan di Pesantren

Pamekasan, Hari Santri 2019. Kualitas dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan, Jawa Timur, terus dipertajam. Saat ini, jumlah doktor yang mengabdi di dalamnya sudah 22 orang. Menyusul doktor ke-23, Dr. Hj. Mariatul Qibtiyah Harun AR.

Raih Doktor Setelah Kupas Kepemimpinan Perempuan di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Raih Doktor Setelah Kupas Kepemimpinan Perempuan di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Raih Doktor Setelah Kupas Kepemimpinan Perempuan di Pesantren

Dosen tetap program studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah STAIN Pamekasan tersebut, menjalani ujian terbuka disertasi, Kamis (4/12) di UIN Sunan Ampel Surabaya. Bu Maria, begitu ia akrab disapa, mampu mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji yang diketuai Prof. Dr. H. Abd. A’la Basyir.

Dalam disertasinya, Bu Maria mengupas tuntas seputar kepemimpinan perempuan. Ia menggali peran perempuan dalam jejaring kekuasaan di pondok pesantren Aqidah Usymuni Tarate, desa Pandian, kecamatan/kabupaten Sumenep.

Hari Santri 2019

Dalam penelitiannya, Bu Maria menggunakan pendekatan kualitatif yang mengungkap dan menformulasikan data lapangan dalam bentuk narasi verbal yang utuh dan mendiskripsikan realitas aslinya untuk kemudian data tersebut dianalisis. Jenis penelitiannya, berkatagori penelitian kasus.

Bu Maria, dalam disertasinya, mengetengahkan peran dua perempuan yang mampu memimpin serta memajukan pesantren secara baik, yaitu Aqidah Usymuni dan Dewi Kholifah. Keduanya dapat menunjukkan jejaring kuasa perempuan untuk menembus ruang yang didominasi laki-laki. Dua sosok perempuan tersebut mempunyai kekuatan (power) dan strategi atau taktik yang tidak banyak dimiliki perempuan lain.

Hari Santri 2019

Tak hanya itu, peran kepemimpinan Aqidah Usymuni dan Dewi Khalifah juga diungkap secara gamblang. Peran keduanya cukup inovatif: mengembangkan manajemen pesantren; mengembangkan pendidikan baik formal, informal, dan non formal; pemberdayaan perempuan melalui NGO; dan aktif dalam politik praktis.

Tipologi dan hasil kepemimpinan perempuan di pesantren Aqidah Usymuni, tidak luput dari bidikan Bu Maria. Diketahui, kepemimpinan Aqidah Usymuni dan Dewi Khalifah adalah kepemimpinan kharismatik dan kolektif.

Sedangkan hasil atau dampak kepemimpinan perempuan, dalam penelitian Bu Maria, mengarah pada tiga hal:? kesadaran masyarakat tentang keadilan gender, membentuk sikap dan perilaku mandiri, dan membentuk keharmonisan sosial masyarakat.

Penelitian yang kemudian diterjemahkan ke dalam wujud disertasi oleh Bu Maria tersebut, tampak sangat ‘matang’. Sebab, selain keasliannya sudah teruji, juga diperkuat dengan 228 referensi. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Pemurnian Aqidah, Lomba Hari Santri 2019

Selasa, 12 Desember 2017

Kisah Guru MI Melawan Ketidakadilan Birokrasi (1)

Guru Madrasah Ibtidaiyah Thoriqotul Islamiyah Desa Luwang, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati ini tergolong pemberani. Pasalnya, ketika terjadi ketidakadilan menimpa salah satu anak didiknya, ia tanpa ragu mendobrak birokrasi. Dengan  percaya diri, guru muda ini menghadapi pejabat yang melakukan diskriminasi.

Siapa gerangan guru muda pemberani itu? Dialah Ratih Agnityas Wulandari, guru yang selama 12 tahun telah jatuh bangun dalam mendidik anak bangsa. Perempuan kelahiran Pati, 5 Agustus 1983 ini mengajar di MI tersebut sejak 2004 hingga kini. Bagaimana kisah ibu guru yang menginspirasi ini melawan tindak diskriminasi?

Kisah Guru MI Melawan Ketidakadilan Birokrasi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Guru MI Melawan Ketidakadilan Birokrasi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Guru MI Melawan Ketidakadilan Birokrasi (1)

Ratih, sapaan akrabnya, memulai kisahnya melawan ketidakadilan sejak tahun 2013. Ketika itu, ia memiliki anak didik yang hobi berolahraga. Saking rajinnya berlatih, siswi ini sejak usia dini berprestasi di cabang bulutangkis tunggal putri. Beberapa kali ia menggondol piala juara pertama. Dialah, Faza Mantasya.

“Saat itu, siswi kami yang hobi main badminton ini ingin ikut serta di ajang POPDA dan O2SN. Lalu, saya cari tau untuk bisa daftar lomba tersebut. Ketika kami mau mendaftar, kami ditolak panitia,” ujar Ratih saat dihubungi Hari Santri 2019 pekan ini.

Alasannya, lanjut Ratih, siswa MI tidak bisa ikut lomba lantaran tidak tertera dalam petunjuk teknis (juknis) dari pemerintah, dalam hal ini Dinas Pemuda dan Olahraga. “Kami pun diam,” ujarnya pilu.

Setahun kemudian, tepatnya pada 2014, Ratih mendaftarkan kembali anak didiknya tersebut. Rupanya, aral masih saja melintangi langkahnya. Pegawai Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan (UPT Disdik) Kecamatan Tayu mengatakan, jika ingin ikut POPDA harus membayar iuran terlebih dahulu.

Hari Santri 2019

“Kami pun bayar kepada Ketua K3S Kecamatan Tayu sebesar 550.000 rupiah. Lagi-lagi kami kaget. Sebab, begitu sampai di ruang seleksi, kami tidak diperbolehkan ikut lomba. Mereka bilang, MI belum iuran. Lalu kami tunjukkan kuitansi. Mereka berkilah lagi, ini khusus SD katanya,” ungkap Ratih.

Ia bersama timnya pun pulang dengan tangan hampa. Tahun ketiga, tepatnya pada Mei 2015, Ratih kembali mendaftar pada seleksi O2SN. Meski ditolak panitia, tetapi Kepala UPT Disdik Kecamatan Tayu, Diyono, memberi kesempatan kepadanya untuk mendaftar.

Lalu, pada Oktober 2015, panitia POPDA Kecamatan Tayu mengadakan seleksi POPDA tingkat kecamatan. “Kami pun mendaftar kembali dengan membawa uang iuran. Tapi ditolak. Kali ini dengan alasan harus bayar 12.000 rupiah kali jumlah siswa kali seluruh MI se-kecamatan,” paparnya.

Jika MI-nya saja yang membayar, kata Ratih, maka tidak boleh. Harus se-kecamatan. “Tentu, itu membebani kami dan sulit dipenuhi. Akhirnya gagal lagi. Tapi saya nggak putus asa. Saya lobby terus. Saya memohon kepada ketua panitia lomba, tapi saya tetap ditolak,” ujarnya tegar. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Ahlussunnah Hari Santri 2019

Minggu, 10 Desember 2017

Ja’far Hasibuan Berlatih Istiqamah, Melawan Malas dan Bosan

Jakarta, Hari Santri 2019. Sepuluh ayat awal surah Nun dilantunkan Ja’far Hasibuan di aula PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Jumat malam (17/2). Kontan hadirin sekira 50 orang yang ada di ruangan lantai 5 itu terdiam. Telinga mereka menyimak suara emas pemenang? M TQ tingkat internasional yang berlangsung di kota Qum, Iran (3-15/2).

?

Ja’far didaulat membacakan ayat suci Al Quran dalam acara penyambutan PBNU kepada delegasi yang dikirim Jam’iyyatul Qurra’ wal-Hufaz (JQH-NU). Hadir pada kesempatan itu, Katib Aam Syuriyah PBNU KH Malik Madany, Ketua Umum JQH-NU KH Muahaimin Zen, anggota JQH dan sejumlah pengurus lembaga, lajnah, dan banom PBNU.

Ja’far Hasibuan Berlatih Istiqamah, Melawan Malas dan Bosan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ja’far Hasibuan Berlatih Istiqamah, Melawan Malas dan Bosan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ja’far Hasibuan Berlatih Istiqamah, Melawan Malas dan Bosan

Sejak usia tujuh tahun, Ja’far memang sudah bercita-cita menjadi seorang qori. Tapi sayang, di tanah kelahirannya kampung Silanggatab, Kabupaten Labuhan Batu Utara, Sumatera utara, tak satu orang pun guru seni baca Al-Quran. Tapi, karena terlanjur suka, ia belajar dengan cara sendiri, mendengarkan suara emas qori masyhur Muammar ZA melalui kaset.

Hari Santri 2019

“Saya sering mendengarkan Muammar ZA, kemudian meniru-nirukan suaranya,” ungkapnya, ketika berbincang dengan Hari Santri 2019, selepas acara.

Usia sebelas tahun, Ja’far ikut kejuaraan MTQ kecamatan kategori anak-anak. Tapi belum berhasil. Kemudian tahun berikutnya ikut lagi, gagal juga. Menginjak remaja, ia sempat ikut MTQ kabupaten, kali ini pun juara tak diraihnya.

Hari Santri 2019

Setamat SLTP, Ja’far melanjutkan sekolah di Madarasah Aliyah Al-Washliyah Medan. Kecintaanya kepada seni baca Al-Quran, mulai menemukan titik terang. Ia bertemu guru yang mumpuni, faham tajwid, dan fasih bacaannya. Ia bersama adiknya, Darwin Hasibuan, belajar kepada guru tersebut.

Usaha keras bertahun-tahun kakak beradik itu membuahkan hasil. Ja’far mendapat? juara III? MTQ nasional 2011 di Banjarmasin. Di tahun yang sama, Darwin Hasibuan, malah? juara I MTQ internasional di Iran.

Baru di tahun 2012, Pengurus Wilayah JQH-NU Sumatera Utara ini, menyusul prestasi sang adik. Ia juara I pada MTQ internasional yang juga diselenggarakan di Iran, menyisihkan peserta dari 30 negara lain.

Menurut Ja’far, kendala seorang qori itu adalah malas dan bosan, “Kadang-kadang kita timbul rasa bosan dan malas. Karena lagu itu kan terus berulang,? rasanya kok ini-ini aja, sering dialami. Malas itu biasa. Tapi harus dipaksakan,”? ujar salah pengajar qori di pesantren Darul Arofah Medan ini.

Selain itu, lanjut lulusan Universitas Islam Sumatera Utara jurusan Pendidikan Islam ini, seorang qori tidak boleh makan sembarangan. Untuk menjaga kualitas suara,? Ja’far selalu? makan teratur, menghindari rokok dan makanan berminyak. Juga rajin berolah raga.

Pria kelahiran 1980 ini belum puas dengan hasil yang dicapai. “Nggak puas. Itu ilmu, kan? Insya Allah kalau ada peluang di negara lain, apakah di Mesir atau di Arab Saudi, saya akan ikut lagi,” ungkapnya.?

Ia menyarankan kepada qori-qoriah pemula di Indonesia untuk tetap semangat berlatih dan penuh kesabaran, “Menjadi seorang qori itu memerlukan waktu yang panjang. Kemudian memerlukan pengorbanan, dan melawan rasa malas dan bosan. Kemudian istiqomah latihan. Dan kegagalan itu biasa. Jangan menyerah. Perbanyak guru!” sarannya.?

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis? ? : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah Hari Santri 2019

Senin, 27 November 2017

“Kiswah” KMNU UGM Adakan Talkshow Islam Kontemporer

Yogyakarta, Hari Santri 2019. Tim Kajian Islam Ahlusunnah wal Jama’ah (Kiswah) Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Gadjah Mada mengadakan acara Talkshow Islam Kontemporer, Sabtu (21/2). Talkshow kali ini membahas bagaimana cara seorang Muslim tinggal dan hidup dalam negara yang sebagian non-Muslim.?

“Kiswah” KMNU UGM Adakan Talkshow Islam Kontemporer (Sumber Gambar : Nu Online)
“Kiswah” KMNU UGM Adakan Talkshow Islam Kontemporer (Sumber Gambar : Nu Online)

“Kiswah” KMNU UGM Adakan Talkshow Islam Kontemporer

Acara tersebut diadakan di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya dan dihadiri sedikitnya 141 peserta. Tema talkshow yang diusung yaitu “Life and Live in Different Countries” dengan pembicara Rangga Almahendra (Penulis novel 99 Cahaya di Langit Eropa) dan Dini Astika Sari (Mahasiswi exchange Nanyang Technological University, Singapore).?

Rangga Almahendra yang juga penulis novel 99 Cahaya di Langit Eropa ini mengatakan, “Islam kontemporer itu Islam yang dapat bertahan di dalam kondisi saat ini. Maka, jadilah Muslim yang peka dengan kondisi Islam pada zaman sekarang. Seperti apa yang telah Allah perintahkan, iqro ‘bacalah’, sudah selayaknya kita membaca tanda-tanda zaman dan alam, dan jangan terjebak dalam simbol belaka, tetapi lihatlah maknanya”.

Hari Santri 2019

Selain itu, Dini Artika Sari juga menambahkan “Dengan toleransi, kita akan mampu survive dengan keislaman kita. Percaya diri dan yakin teman-teman non-Muslim disana justru akan respek”.

Hari Santri 2019

Talkshow Islam Kontemporer ini dimeriahkan oleh penampilan Ahmad Dhani music school, stand Bulan Terbelah di Langit Amerika, stand Al-Batul KMNU UGM, stand Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan stand Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB) UGM.

Sementara itu ketua KMNU UGM, Ahmad Musyaddad berharap “Pemuda tidak hanya intelektual, tetapi dapat mensinergikan akal dan hati. Mengangkat Islam kontemporer, menjadikan Islam baik di setiap zaman, waktu dan tempat.” (sofwatul ulya/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Lomba, Quote Hari Santri 2019

Kamis, 23 November 2017

Tugas NU Hanya Mengajak Bukan Menjadikan

Jepara, Hari Santri 2019. Tugas kita sebagai warga NU ialah mengajak amar makruf nahi munkar. Jika yang diajak tidak berkenan kita tidak boleh marah dan jangan bosan untuk mengajaknya kembali.

Tugas NU Hanya Mengajak Bukan Menjadikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tugas NU Hanya Mengajak Bukan Menjadikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tugas NU Hanya Mengajak Bukan Menjadikan

Pernyataan ini diuraikan KH Mustamir Wildan dalam halal bihalal keluarga Besar MWCNU Kalinyamatan berlangsung di gedung MWCNU Kalinyamatan, Jalan Raya Banyuputih desa Banyuputih, Kalinyamatan Jepara, Jum’at (31/7) siang.

Jika kita menemui orang yang tidak berpuasa, tugas kita hanya mengingatkan. “Kang, kok ora poso? Lha emang urusanmu opo?,” tutur ketua pondok pesantren Balekambang Jepara ini sembari menyontohkan.

Hari Santri 2019

Ingat, tugas kita hanya mengingatkan bukan marah-marah dan jangan pernah bosan. Misal lain, seorang yang kita ajak untuk mengikuti NU tetapi tidak direspon juga harus diterima dengan lapang dada. Serta jangan bosan-bosan untuk terus mengajak.

Hari Santri 2019

“Ayo kang melu kumpulan NU? Entuk opo melu kumpulan NU,” contohnya lagi.

Berkaitan dengan cerita ini, lanjut Kiai Mustamir dulu ada Ulama Mesir yang dirundung galau karena kitab suci orang Islam, Al-Qur’an dijadikan orang kafir untuk meratakan jembatan. Karena kejadian ini Ulama menjadi galau. Sebab kegalauannya itu ia mendapat petunjuk dari Allah SWT agar urusan itu dikembalikan kepada sang pencipta. Ulama ini, imbuhnya malah mendapat petunjuk agar mendoakan yang baik-baik kepada mereka. Meski berbuat keji sekali pun.  

Kegiatan yang dihadiri Ketua PCNU Jepara, KH Asyhari Syamsuri juga diramaikan ratusan Banom NU se-kecamatan Kalinyamatan. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah Hari Santri 2019

Rabu, 22 November 2017

PMII Keluarkan Petisi Politik Untuk Caleg Terpilih

Purworejo, Hari Santri 2019. Ratusan kader dari region PMII Danyang Sumbing yang meliputi cabang Purworejo, Wonosobo, Temanggung, dan Magelang menggelar aksi damai di depan kantor DPRD Purworejo, Kamis (17/4) malam. Mereka mengajukan empat poin petisi yang ditujukan untuk para caleg terpilih dalam pileg beberapa pekan lalu.

Koordinator aksi Muhammad Arifin mengatakan, aksi damai di depan gedung DPRD ini dilandasi atas keprihatinan mahasiswa terhadap maraknya politik uang yang terjadi pada pileg beberapa waktu lalu.

PMII Keluarkan Petisi Politik Untuk Caleg Terpilih (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Keluarkan Petisi Politik Untuk Caleg Terpilih (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Keluarkan Petisi Politik Untuk Caleg Terpilih

“Hampir seluruh caleg kemarin menggunakan uang untuk membeli suara agar menang,” kata Arifin yang memandu ratusan kader PMII berkumpul di trotoar jalan protokol depan gedung DPRD.

Hari Santri 2019

Keadaan itu, menurutnya, sangat memprihatinkan. Karena, politik transaksional rawan membuka keran kejahatan korupsi. Jika keadaan ini dibiarkan tanpa pengawalan aktifis mahasiswa, kami khawatir rakyat akan semakin sengsara.

Hari Santri 2019

Empat poin petisi berisi tuntutan DPRD untuk bekerja maksimal bagi masyarakat, tuntutan agar produk-produk DPRD harus prorakyat, menentang segala bentuk kejahatan korupsi, kolusi, dan nepotisme, dan komitmen PMII untuk mengawal anggota dewan lima tahun ke depan,  terus Arifin.

Petisi yang telah ditandatangani empat ketua pimpinan cabang PMII itu akan diserahkan kepada anggota dewan periode 2014-2019 usai mereka dilantik.

Tepat di depan plang DPRD, mereka membentuk barisan melingkar di mana di tengah barisan dinyalakan 54 buah lilin dan tumpeng sebagai penanda 54 tahun PMII.

Sementara itu, Ketua PC PMII Wonosobo Saman dalam orasinya mengatakan, komitmen PMII untuk mengawal birokrasi tersebut merupakan roh perjuangan dan komitmen pergerakan sebagai wujud kesetiaan terhadap rakyat.

“Refleksi 54 perjalanan PMII yang harus selalu dibenamkan dalam benak kader pergerakan adalah semangat menemani rakyat tertindas karena kesewenang-wenangan para penguasa. Semangat itu yang harus senantiasa membara dalam benak kita,” tandas Saman.

Aksi damai ini ditutup dengan doa untuk anggota dewan yang baru terpilih. (Lukman Hakim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah Hari Santri 2019

Selasa, 21 November 2017

Pesantren Minhajuth Tholabah Adakan Pelatihan Simapes

Purbalingga, Hari Santri 2019

Bertempat di aula Madrasah Tsanawiyah pesantren Minhajuth Tholabah sebanyak 49 santriwan-santriwati dari 20 pesantren se-Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah mengikuti program pelatihan peningkatan mutu pesantren. Pelatihan Sistem Manajemen Pesantren (Simapes) ini diinisiasi pengurus wilayah Rabithah Maahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) bekerjas ama dengan kantor Kementrian Agama Jawa Tengah. 

Inspirasi untuk melakukan administrasi bisa menilik al-Baqarah ayat 282. Di sana harus memperhatikan proses pencatatan dalam masalah utang-piutang, terdapat seorang katib yang mengurusi masalah penulisan administrasi. “Kita bisa melihat pesantren Minhajuth Tholabah ini menghabiskan 1 kuintal beras dalam satu hari. Maka kita harus mengetahui pemasukan dan pengeluaran agar bisa terkontrol dengan baik. Administrasi di pesantren sudah ada agar kita tingkatkan," ungkap Kepala Kementrian Agama Kabupaten Purbalingga, Abdurrohim.

Pesantren Minhajuth Tholabah Adakan Pelatihan Simapes (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Minhajuth Tholabah Adakan Pelatihan Simapes (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Minhajuth Tholabah Adakan Pelatihan Simapes

Dengan memperhatikan administrasi, tambah Abdurrohim, kita perlu mengarsip surat-menyurat baik keluar atau masuk, rencana kegiatan dalam satu tahun ke depan di pesantren supaya kegiatan kita terukur. Memang perlu orang yang tekun untuk mengelola administrasi tidak semua orang mau dan mampu untuk menjalankan kegiatan ini. Semoga kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan bisa menerapkannya di masing-masing pesantren.

"Trasi wae kudu ana administrasine (penjual trasi harus ada administrasine) saya mendukung sekali kegiatan ini, " ungkap KH Anwar Idris selaku pengasuh pesantren Minhajuth Tholabah dalam sambutan pembukaan pelatihan.

Simapes ini sudah diluncurkan mulai tahun kemarin, sekarang sudah mencapai versi 1.2 dan akan terus dikembangkan untuk menunjang administrasi pesantren. Selain pelatihan Simapes acara ini juga terdapat materi sosialisasi pemutihan izin operasional pondok pesantren dan Program Indonesia Pintar (PIP). (Zulfa/Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Habib, Ahlussunnah, Ulama Hari Santri 2019

Warga dan Aktivis PMII Kentingan Shalawat Bersama

Solo, Hari Santri 2019 - Komunitas Kentingan Bershalawat bersama PMII Kentingan bekerja sama dengan Takmir Masjid Nurul Huda menyelenggarakan kegiatan pembacaan shalawat di selasar utara Masjid Nurul Huda, UNS Solo, Kamis (25/2).

Acara yang berlangsung mulai dari jam 20:00 WIB itu merupakan kegiatan rutinan dari Komunitas Kentingan Bershalawat yang dilaksanakan satu kali dalam satu bulan di Masjid Kampus UNS.

Warga dan Aktivis PMII Kentingan Shalawat Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga dan Aktivis PMII Kentingan Shalawat Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga dan Aktivis PMII Kentingan Shalawat Bersama

Pada kegiatan ini panitia pelaksana menghadirkan tim hadrah Kentingan Bershalawat sebagai pengiring pembacaan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Hadir juga salah satu ulama dari Pasar Kliwon sebagai pengisi materi pada acara Habib Muhammad bin Husein Alhabsyi.

Hari Santri 2019

Cucu Habib Anis Al-Habsyi ini menjelaskan tentang keutamaan cinta terhadap Nabi dan hakikat tugas manusia terutama pemuda di muka bumi ini. Ia menjelaskan bahwa cinta nabi merupakan salah satu tanda dalam kesempurnaan iman.

Hari Santri 2019

“Kita diciptakan oleh Allah SWT di muka bumi ini untuk menjadi khalifah atau pemimpin, sudah seharusnya bagi kita apalagi sebagai pemuda harus mengetahui dan mempelajari apa saja yang menjadi tugas kita, yakni masing-masing adalah memakmurkan bumi, mengurus manusia dan membentuk manusia yang berakhlakul karimah,” terang Habib Muhammad.

Di kesempatan terakhir ia mengajak seluruh jamaah yang hadir dalam kegiatan tersebut untuk selalu menjaga akidah yang telah diyakini bersama.

“Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi jalan kita untuk mendapatkan pemahaman agama yang baik dan benar mari untuk selalu dipertahankan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain jangan menimbulkan singgungan, gesekan dan perpecahan antarsesama,” pungkas dia.

Sementara itu Ketua PMII Kentingan Tsaniananda menerangkan, kegiatan rutinan malam Jumat ini akan terus dilakukan sebagai salah satu wadah bagi mahasiswa yang berlandaskan Ahlussunnaah wal Jama’ah dalam menambah wawasan dan pengetahuan mengenai agama.

“Bagi teman-teman semua, kegiatan rutinan yang dilaksanakan di dalam kampus UNS jadwalnya satu kali dalam sebulan. Semisal ada teman-teman yang berminat PMII Kentingan juga mempunyai kegiatan rutinan kajian di luar itu antara lain yaitu rutinan malam Jumat di Masjid Nurul Amal, Jebres dan rutinan kajian di Yayasan Omah Ngaji, Mojosongo”, kata mahasiswi program studi Sastra Arab UNS ini. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah Hari Santri 2019

Senin, 20 November 2017

Muhammad Syaifudin Pimpin GP Ansor Yogyakarta

Yogyakarta,Hari Santri 2019. Pada Konferwil ke-XV PW GP Ansor DIY, Pimpinan Pusat melakukan verifikasi terhadap para kader. Ada tiga syarat untuk menjadi ketua GP Ansor wilayah, yakni usia maksimal 40 tahun, aktif di pengurus wilayah atau cabang minimal tiga tahun dan memiliki sertifikat Pendidikan Kader Nasional

Demikian disampaikan Salah satu Ketua GP Ansor Pusat Ramli menjelang acara pemilihan ketua PW GP Ansor DIY, di Asrama Haji, Ahad Sore (19/1)

Muhammad Syaifudin Pimpin GP Ansor Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Muhammad Syaifudin Pimpin GP Ansor Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Muhammad Syaifudin Pimpin GP Ansor Yogyakarta

“Dari syarat itu, yang lolos verifikasi di DIY hanya satu orang, yakni Muhammad Syaifudin atau yang akrab dipanggil Kang Udin. Maka dengan itu, Kang Udin yang akan pimpin PW Ansor DIY untuk empat tahun ke depan,” tegas Ramli yang kemudian diamini oleh para peserta Konferwil.

Hari Santri 2019

Usai terpilih secara aklamasi, Kang Udin lalu memberikan sambutan pertama sebagai ketua terpilih. Dalam sambutannya, Ia menegaskan bahwa PW Ansor DIY memiliki potensi yang luar biasa.

‘Rata-rata SDM yang kita punya memiliki potensi yang bagus. Maka dalam empat tahun kepemimpinan nanti, saya akan mengawal kader-kader DIY untuk bangkit, baik dalam perekonomian maupun untuk profesi pemberdayaan yang lain,” ujar Kang Udin.

Hari Santri 2019

Pada kesempatan tersebut, Kang Udin juga mengingatkan kepada para peserta agar menegurnya jika salah rel. “Tidak ada yang perlu dimeriahkan karena ini amanah. Kalau nanti saya ganti rel, tolong diingatkan. Kalau nanti keluar dari rel, tolong diberhentikan,” tandas Kang Udin yang disambut tepuk tangan para peserta. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, IMNU Hari Santri 2019

Jumat, 17 November 2017

Belajar dari Kisah Uwais Al-Qarni

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Belajar dari Kisah Uwais Al-Qarni (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Kisah Uwais Al-Qarni (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Kisah Uwais Al-Qarni

? ? ?

Hari Santri 2019

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Allah SWT berfirman dalan Surah Al-Hujurat, Ayat 13:

Hari Santri 2019

? ? ? ? ?

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa.”

Dalam ayat di atas terdapat 3 (tiga) kata kunci. Pertama “mulia”, kedua “Allah”, dan ketiga “takwa”. Ayat ini mengandung maksud bahwa mulia tidaknya seseorang sesungguhnya bergantung pada ketakwaannya kepada Allah SWT dan bukan kepada hal-hal yang bersifat duniawi. Dengan kata lain, yang disebut orang mulia sesunguhnya adalah mereka yang senantiasa berbuat kemuliaan berupa ketakwaaan. Definisi ini bersifat teologis karena bersumber pada keyakinan akan kebenaran firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an.

Berdasar pada pandangan teologis tersebut, kita bisa membedakan antara orang mulia dengan orang yang dimuliakan. Orang mulia adalah mereka yang dimuliakan Allah karena senantiasa berbuat kemuliaan dengan melaksanakan hal-hal yang diperintahkan Allah SWT, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Sedangkan orang yang dimuliakan adalah mereka yang secara sosiologis dihormati masyarakat karena memiliki latar belakang tertentu seperti: jabatan, keturunan, kekayaan, keilmuan atau keahlian, dan sebagainya.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Lewat khutbah ini, saya ingin mengajukan pertanyaan apakah orang mulia di sisi Allah itu sekaligus orang yang dimuliakan di dunia ini? Dengan kalimat lain, apakah orang-orang mulia karena ketakwaannya kepada Allah selalu dimuliakan juga oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya?

Jawabnya, “tidak selalu” karena secara faktual ada beberapa orang mulia di sisi Allah keberadaannya diremehkan oleh masyarakat disebabkan tidak memiliki latar belakang tertentu yang bersifat duniawi seperti jabatan penting, kekayaan melimpah, nasab tinggi, dan lain sebagainya. Tentu saja ada banyak orang mulia di sisi Allah yang juga dihormati dalam masyarakat karena memiliki kriteria-kriteria tertentu yang berlaku di masyarakat seperti tersebut di atas.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Salah satu contoh orang mulia di sisi Allah tetapi tidak dihormati oleh masyarakat adalah Uwais Al-Qarni - seorang pemuda miskin penduduk desa Qaran di Yaman. Dia menjalani kehidupan yang sulit bersama ibunya yang seorang janda. Ia pernah menderita penyakit kusta. Pakaiannya hanya ada dua helai. Uwais Al-Qarni bekerja hanya sebagai penggembala hewan ternak dengan upah tak seberapa. Dengan keadaan Uwais yang seperti itu ia sering ditertawakan, diolok-olok, dihina, dan dituduh mencuri ini mencuri itu. Tetapi semua perlakuan masyarakat seperti itu ia terima dengan sabar.

Ketika pada suatu hari ada seseorang yang bermaksud memberikan sedekah berupa dua helai pakaian, Uwais Al-Qarni menolaknya. Kepada orang tersebut, Uwais Al-Qarni mengatakan:

“Saya khawatir kalau pakaian ini saya terima, nanti orang-orang mengintrogasi saya dari mana saya mendapatkan pakaian ini. Mereka pasti tidak percaya dengan jawaban saya. Mereka akan menuduh saya kalau pakaian ini saya dapat kalau tidak dengan membujuk ya mencuri”.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Sungguhpun Uwais Al-Qarni hidup dalam kemiskinan, ia menjalani kehidupannya dengan penuh ketakwaan. Bahkan ketakwaannya diakui oleh Rasulullah SAW meskipun diantara mereka belum pernah saling bertemu. Hal yang sangat menonjol dari ketakwaan Uwais Al-Qarni sebagaimana diceritakan Rasulullah SAW adalah baktinya kepada sang ibu yang luar biasa. Sejak kecil Uwais Al-Qarni selalu taat dan hormat kepada ibunya. Ketika sang ibu telah tua dan lumpuh, bakti Uwais kepada sang ibu semakin bertambah.

Suatu hari sebenarnya ia sangat rindu untuk bertemu Rasulullah SAW, namun ia selalu mengurungkan niatnya karena tak tega meninggalkan sang ibu sendirian di rumah tanpa ada yang merawatnya. Ketika pada suatu hari ia melihat ibunya cukup sehat, ia mendekat padanya untuk menyampaikan isi hatinya, yakni ingin bertemu atau sowan kepada Rasululullah SAW di Madinah. Uwais Al-Qarni memohon ijin kepada ibunya agar diperkenankan. Sang Ibu sangat terharu dengan keinginan Uwais untuk bertemu Rasululllah SAW. Sang ibu menjawab:

“Pergilah wahai anakku! Temuilah Nabi Muhammad SAW di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.

Akhirnya berangkatlah Uwais Al-Qarni ke Madinah yang jaraknya dari Yaman sekitar 400 kilometer. Tibalah Uwais Al-Qarni di kota Madinah dan segera menuju rumah Nabi Muhammad SAW. Diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Tak ada jawaban dari Rasulullah SAW. Ia hanya mendapat jawaban dari istri beliau Aisyah RA yang mengatakan Rasulullah SAW sedang berada di medan perang dan belum diketahui kapan beliau kembali. Uwais Al-Qarni teringat pesan ibunya untuk segera pulang. Maka segeralah ia pulang ke Yaman meski dengan hati yang hampa karena gagal bertemu Rasulullah SAW yang sangat dirindukannya. Namun sebelum pulang, Uwais Al-Qarni sempat menitipkan salam untuk Rasulullah SAW lewat Aisyah RA.

Ketika Rasulullah SAW pulang ke rumah, Aisyah RA memberitahukan tentang kedatangan seorang laki-laki tak dikenalnya beberapa waktu sebelumnya. Rasulullah SAW menjelaskan kepada Aisyah bahwa laki-laki itu bernama Uwais Al-Qarni meski beliau belum pernah bertemu secara langsung. Ia adalah anak yang sangat taat kepada ibunya. Ia tak populer di kalangan penduduk bumi karena miskin sekali, tetapi ia sangat terkernal di kalangan penduduk langit.

Sedemikian istimewa Uwais Al-Qarni hingga Rasulullah SAW menceritakannya kepada Umar bin Khattab RA dan Ali bin Abi Thalib RA:

? ? ? ? ? ? ? ? ? , ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Kelak akan datang seorang laki-laki bernama Uwais. Ia memiliki belang putih. Ia berdoa agar Allah menghilangkan belang itu, maka Allah menghilangkannya (kecuali di lengannya). Barang siapa diantara kalian bertemu dia, maka termuilah dia dan mintalah padanya untuk memintakan ampunan kepada Allah.”

Pesan tersebut akhirnya benar-benar dilaksanakan oleh Ali bin Abi Thalib RA dan Umar bin Khattab RA ketika Rasulullah SAW telah wafat. Kepada Uwais Al-Qarni, kedua sahabat besar Rasulullah SAW tersebut mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Hai Uwais sesungguhnya Rasulullah SAW telah memerintahkan kami agar engkau memintakan ampunan kepada Allah agar dosa-dosa kami diampuni-Nya.”

Mendengar apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab RA tersebut, Uwais Al-Qarni hanya bisa menangis, tetapi kemudian memberikan jawaban bisa jadi orang yang dimaksudkan Rasulullah SAW itu bukan dirinya. Tetapi Ali bin Abi Thalib RA terus mendesak agar ia mau mendoakan bagi Umar bin Khattab RA dan Ali bin Abi Thalib RA karena sangat menyakini bahwa dialah orang yang dimaksudkan Rasulullah SAW. Akhirnya Uwais Al-Qarni bersedia memenuhi permintaan tersebut dengan memanjatkan doa ampunan kepada Allah bagi keduanya.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Dari kisah Uwais Al-Qarni di atas, ada beberapa hal yang dapat kita petik sebagai pelajaran berharga. Pertama, orang mulia karena ketakwaannya kepada Allah SWT akan tetap mulia dan taat kepada-Nya meski seperti apapun kondisi sosial ekonominya. Ia akan tetap sabar dan istiqamah menjadi hamba-Nya yang saleh tanpa terpengaruh oleh hal-hal duniawi seperti tidak dihormati oleh masyarakat karena miskin.

Kedua, janganlah kita memandang seseorang dari sisi duniawinya, lalu merendahkannya karena bisa jadi ia memiliki sisi ukhrawi yang jauh lebih baik dari pada kita. Bisa jadi kita membutuhkan pertolongannya di akherat kelak berupa syafaat karena orang-orang mulia di sisi Allah seperti Uwais Al-Qarni dapat memberikan syafaat kepada orang-orang tertentu. Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa Uwais Al-Qani kelak ketika memasuki pintu surga diberhentikan langkah kakinya oleh Allah SWT. Allah menghendaki agar Uwais Al-Qarni berhenti sebentar untuk memberikan syafaat terlebih dahulu kepada orang-orang dari kabilah Rabiah dan Mudhar yang membutuhkan pertolongannya.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Semoga kita semua dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dari kisah Uwais Al-Qarni. Barangkali di sekitar kita, ada orang-orang yang keadaannya mirip dengan Uwais Al-Qarni meski tidak sama persis, yakni tidak populer di masyarakat karena status sosialnya yang rendah. Orang seperti ini bisa jadi sangat poluler di kalangan penduduk langit jika terbukti memang selalu hidup dalam ketakwaan yang tinggi kepada Allah SWT dan selalu istiqamah dalam kebaikan-kebaikannya. Tidak selayaknya kita meremehkan orang seperti ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Cerita, Ahlussunnah, News Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock