Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Bebaskan Koruptor dari Tanggungan Akhirat!

Jakarta, Hari Santri 2019. Selain merekomendasikan hukuman mati bagi koruptor kambuhan dan koruptor kelas kakap, Musyarawah Nasional (Munas) Alim Ulama NU 2012 di Cirebon (14-18 September) juga mengingatkan agar dana hasil korupsi dikembalikan kepada negara, meskipun pelakunya telah meniggal dunia.

Bebaskan Koruptor dari Tanggungan Akhirat! (Sumber Gambar : Nu Online)
Bebaskan Koruptor dari Tanggungan Akhirat! (Sumber Gambar : Nu Online)

Bebaskan Koruptor dari Tanggungan Akhirat!

Pada komisi bahtsul masail diniyyah al-waqiiyyah, para kiai dan ahli fikih dari berbagai daerah membahas pertanyaan dari masyarakat mengenai ”bagaimanakah hukum memeriksa kekayaan yang diduga hasil korupsi, sedangkan tersangka pelaku telah meninggal dunia?”

Berdasarkan berbagai penjelasan dan argumentasi yang dikutip dari para ulama madzab dalam berbagai referensi kitab kuning, Munas memutuskan bahwa memeriksa kekayaan yang diduga hasil korupsi adalah wajib, meskipun tersangka pelaku telah meninggal dunia.

Hari Santri 2019

Mengutip penjelasan dari kitab Az-Zawajir Aniqtirafil Kabair yang antaralain menjelaskan mengenai dosa-dosa besar, disebutkan bahwa dosa-dosa manusia (anak Adam) tidak akan terampuni jika dia masih mempunyai tanggungan di dunia atas hak-hak orang lain (haqqul adami), dalam hal ini berkaitan dengan harta korupsi.

Hari Santri 2019

Pesan ini terutama ditujukan kepada para ahli waris. Bukan saja pewaris yang meninggal dunia tersebut masih mempunyai beban dosa di akhirat, namun harta benda yang akan diwarisi oleh para ahli waris juga merupakan harta yang haram. 

”Apabila terpenuhi bukti bahwa harta tersebut adalah hasil korupsi, maka wajib dikembalikan kepada negara dan untuk membersihkan harta warisan dari harta haram,” demikian keputusan Munas.

Para ahli waris bukan saja diingatkan untuk mendoakan agar dosa-dosa yang meninggal dunia terampuni, tetapi harus menyelesaikan tanggungannya selama ia hidup.

Dalam bahtsul masail itu, para kiai juga membahas, ”apakah hasil korupsi wajib dikembalikan seluruhnya meskipun telah ditetapkan hukuman bagi pelakunya?”

Jawabannya: Seluruh harta hasil korupsi wajib dikembalikan ke negara meskipun pelaku telah menjalani hukuman.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam Hari Santri 2019

Sabtu, 10 Februari 2018

Haul Sewindu, PWNU Jatim Sebut Ciri Kewalian Gus Dur

Surabaya, Hari Santri 2019 - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur memperingati Haul Gus Dur ke delapan. Acara dikemas dengan ngaji bareng Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar. Ngaji bareng ini selalu diadakan setiap malam Ahad.

"Ngaji bareng ini diadakan setiap malam ahad di Mushalla PWNU Jatim bakda Magrib yang diasuh Kiai Marzuki Mustamar," kata Wakil Ketua PWNU Jatim H Ahsanul Haq yang turut hadir memperingati Haul Gus Dur, (30/12).

Haul Sewindu, PWNU Jatim Sebut Ciri Kewalian Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Sewindu, PWNU Jatim Sebut Ciri Kewalian Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Sewindu, PWNU Jatim Sebut Ciri Kewalian Gus Dur

Ahsanul Haq mengatakan, sewindu sama dengan delapan tahun Gus Dur meninggalkan kita. Sekian lama ditinggal maka semakin nampak kewaliannya di hadapan kita. "Semasa hidupnya, Gus Dur tidak pernah takut kepada siapapun termasuk pada Presiden Soeharto. Tidak ada seorangpun yang ditakuti kecuali Allah," terang Ahsan.

Hari Santri 2019

Para wali Allah, seperti wali sanga dalam dakwahnya menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa tidak pernah takut sama siapapun. "Inilah yang patut kita contoh dan kita tiru. Saya yakin semua yang hadir rindu kepada Gus Dur. Insya Allah Gus Dur hadir di malam ini," lanjutnya.

Selain itu, ciri seorang waliyullah tidak mau dengan harta duniawi. Saat Gus Dur menjabat Presiden RI ke empat, gaji pertamanya langsung diberikan kepada Alwi Shihab tanpa melihat ataupun menghitungnya terlebih dahulu. "Begitu lengser dari jabatan Presiden, Gus Dur kembali seperti rakyat biasa," pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh KH Marzuki Mustamar, setiap kali Gus Dur diundang ceramah di berbagai daerah. Gus Dur langsung menghampiri pengurus cabang setempat dan amplopnya dikasihkan semua tanpa dilihat isinya berapa. "Itulah Gus Dur, apakah kita seperti ia?" tanya Kiai Marzuki kepada para peserta.

Hari Santri 2019

Kiai Marzuki kembali mengisahkan Gus Dur semasa hidupnya. Kiai Pengasuh Pesantren Sabilul Rosyad Gasek Malang ini, mengaku pernah diberi sarung oleh Gus Dur, setelah 40 hari wafatnya Gus Dur. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Humor Islam Hari Santri 2019

Senin, 29 Januari 2018

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror

Jakarta, Hari Santri 2019

Suasana kerukunan beragama di Indonesia kembali diuji. Ahad (28/8), Kota Medan dikagetkan dengan upaya teror berupa percobaan "bom bunuh diri" dengan pelaku seorang pemuda, IAH, berusia 17 tahun. Meskipun bom gagal meledak dan tidak ada korban jiwa, peristiwa ini patut dijadikan bahan pelajaran.

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, dalam rilisnya, menyebutkan bahwa kini gerakan terorisme telah menyasar beragam usia. Gerakan ini telah berhasil merekrut anak-anak muda untuk dicuci otaknya, kemudian diproyeksikan menjadi "pengantin".

Lebih jauh Gus Yaqut, panggilan akrabnya, mengatakan, "GP Ansor mengutuk keras upaya bom bunuh diri ini. Juga mendorong kepolisian mengusut tuntas pihak-pihak yang terlibat dan yang memerintah IAH."

Hari Santri 2019

Melihat realitas ini, lanjutnya, GP Ansor mengimbau kepada segenap elemen bangsa terutama ormas keagamaan untuk tidak menoleransi tumbuhnya benih-benih terorisme. Menurutnya, upaya bom bunuh diri di Medan secara jelas menunjukkan betapa kelompok-kelompok teror telah melebarkan sayapnya dengan merekrut anak-anak muda untuk dikorbankan.

Hari Santri 2019

“Oleh karena itulah, ormas harus menjadi pelindung bagi generasi muda. Dengan demikian, harus berperan pula sebagai benteng pertahanan yang melawan segenap upaya menumbuhkan benih-benih terorisme," tegas Ketua Umum PP GP ansor. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara, Humor Islam Hari Santri 2019

Minggu, 28 Januari 2018

Tiga Jenis Jenggot

Pada sebuah forum, Kiai Masdar berkali-kali menyebut jenggot dengan kesan negatif. Jenggot adalah aksesoris orang-orang kolot. Jenggot adalah tren pencitraan kaum salafi yang tidak keren.

Di sela kerumunan jamaah, samar-samar terlihat kiai NU berjenggot menatapnya serius. Khusyuk menyimak. Tapi sorot matanya ganjil.

Tiga Jenis Jenggot (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Jenis Jenggot (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Jenis Jenggot

Kiai Masdar akhirnya sadar, pernyataannya soal ”jenggot” masih butuh syarah. Segera ia menyusuli ceramahnya, ”Jenggot itu tsalatsatu anwa’in (jenggot terdiri dari tiga jenis).”

Hari Santri 2019

”Pertama, jenggot biologis. Jenggotnya orang-orang yang memang dari sono-nya ditakdirkan berjenggot,” katanya.

”Kedua, jenggot ideologis. Itu jenggot paksaan. Karena keyakinan, meski cuma tiga helai juga dipaksa tumbuh. Terus terakhir, jenggot gabungan idiologis-biologis,” tambah Kiai Masdar.

”Nah, jenggot yang saya maksud tadi itu jenggot kedua dan ketiga ini. Kalau jenggotnya NU itu sih biologis. Jadi nggak termasuk!” ujar Kiai Masdar yang tidak berjenggot ini sembari tersenyum. (Mahbib Khoiron)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam, Budaya, Amalan Hari Santri 2019

Jumat, 05 Januari 2018

Perjuangan Kader IPNU Banyuwangi Belajar Menulis

Banyuwangi, Hari Santri 2019. Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Banyuwangi melatih puluhan kader-kadernya menulis. Semangat belajar secara serius diperlihatkan oleh peserta. 

Yusri Nurdian Muslim, misalnya, tetap memaksakan diri untuk menulis dengan modal telepon pintar miliknya. Dalam momen latihan ini, ia menuliskan  masalah pendidikan, khususnya rotasi sistem berjalannya pendidikan yang ada di daerah.

Perjuangan Kader IPNU Banyuwangi Belajar Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Kader IPNU Banyuwangi Belajar Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Kader IPNU Banyuwangi Belajar Menulis

Kesulitan dalam menuliskan paragraf awal tak bisa dihindarkan oleh pemuda asal Kecamatan Blimbingsari ini. Namun, ia tak sungkan menanyakan kepada teman-teman yang ada di samping kanan-kirinya, tentang kebingungan apa yang harus dituliskan, bagaimana menentukan angle cerita, dan berbagai hal teknis tulis-menulis lainnya.

"Karena ini kan masih pertama kali ikut pelatihan menulis. Banyak teman-teman saya yang sudah mahir. Tapi saya akan terus coba. Wajar jika banyak tanya sana-sini. Maklumlah," tuturnya, saat dimintai keterangan di tengah-tengah acara pelatihan bertajuk IPNU Ngaji Jurnalistik Bareng Kumparan, di Aula Lantai Dua kantor PCNU Banyuwangi, Selasa (22/08/2017) pagi.

Hari Santri 2019

Didampingi para pemateri yang hadir, Yusri tak segan-segan menunjukkan hasil tulisannya kepada teman dan narasumber. Meski hasil hanya beberapa paragraf saja, Editor Kumparan Rina Nurjanah memberikan apresiasi atas tekadnya belajar menulis.

"Meski ide pokok antarparagraf kurang sinkron dan banyak typo. Tapi tak mengapalah. Karena masih proses tahap awal ia belajar. Saya sangat mengapresiasi sekali tekadnya belajar menulis," ungkap Rina.

Hal yang tidak disangka Yusri memiliki harapan dan cita-cita yang terlampau tinggi, bagi kalangan penulis tingkat awal. "Saya juga memiliki cita-cita ingin jadi penulis buku best seller yang setara dengan Andrea Hirata," tutup Yusri.

Hari Santri 2019

Di acara ini mereka juga diajak untuk membuat akun baru di Media Kumparan. Para peserta dipersilahkan untuk membuat tulisan apapun di sana. "Karena misi kami adalah memberikan edukasi kepenulisan dan sekaligus memberikan motivasi penulis baru tetap menulis dalam wadah Media Kumparan," jelas Rina. (M. Sholeh Kurniawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam Hari Santri 2019

Kamis, 28 Desember 2017

Visi dan Misi, Pertimbangan Utama dalam Memilih Gubernur

Jakarta, Hari Santri 2019. Usep S Ahyar dari Populi Center, lembaga survey dan kebijakan Publik menyampaikan, hasil survey yang dilakukan pada September lalu menghasilkan temuan bahwa faktor yang paling dominan dalam memilih pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dalam pilkada DKI Jakarta adalah kesukaan calon pemilih terhadap visi dan misi, serta program yang diusung pasangan calon.?

“Sedangkan faktor kesamaan agama hanya memberi kontribusi sebesar 5 persen,” kata Usep dalam diskusi Perspektif Jakarta yang digelar di Gedung PBNU, Rabu (12/10).

Visi dan Misi, Pertimbangan Utama dalam Memilih Gubernur (Sumber Gambar : Nu Online)
Visi dan Misi, Pertimbangan Utama dalam Memilih Gubernur (Sumber Gambar : Nu Online)

Visi dan Misi, Pertimbangan Utama dalam Memilih Gubernur

Dalam survey yang melibatkan 400 orang ini, juga ditemukan bahwa 48 persen pemilih berpendapat bahwa gubernur dan wakil gubernur boleh beragama apa saja. Yang menginginkan gubernur dan wakil gubernur harus satu agama mencapai 40 persen.

Temuan lain adalah, 49.8 persen pemilih di Jakarta tidak keberatan jika dipimpin oleh gubernur non-Muslim sedangkan yang keberatan mencapai 46 persen.?

Hari Santri 2019

Mengingat dalam Pilgub Jakarta ini ada bakal calon yang berasal dari etnis Tionghoa, yaitu Basuki Cahaya Purnama, Populi Center juga menanyakan kepada responden, apakah mereka keberatan jika dipimpin oleh gubernur beretnis Tionghoa, 53.2 persen tidak keberatan sedangkan yang keberatan mencapai 40.7 persen.?

30.2 persen publik Jakarta menginginkan pasangan calon gubernur-wakil gubernur bebas dari korupsi. Karena itu, jika selama masa pilkada ini ada pasangan calon yang terbukti korupsi, maka 55.5 persen pemilih akan merubah pilihannya.?

Hal yang menjadi perhatian kami ini termasuk kampanye hitam. Usep menjelaskan kampanye hitam adalah kampanye untuk menjatuhkan lawan politik pada isu-isu yang tidak berdasar. Hal ini berbeda dengan kampanye negatif yang menyampaikan kelemahan-kelemahan lawan politik melalui isu-isu negatif, tetapi dengan fakta yang benar, baik itu track record atau kasus-kasus yang dilaluinya.

“Berbeda dengan kampanye hitam, kampanye negatif justru menghidupkan demokrasi dan pendidikan politik yang dikandungnya. Mengapa demikian? Dalam kampanye negatif, informasi yang dikemukakan adalah suatu kenyataan dan mampu dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Dari temuannya dalam survey yang menunjukkan bahwa masyarakat lebih mengutamakan visi dan misi pasangan calon, ia mengambil kesimpulan bahwa masyarakat pemilih di Jakarta sudah menuju pada pemilih yang lebih rasional.?

Hari Santri 2019

Namun demikian, kampanye hitam juga akan memunculkan ketegangan politik dan kebencian yang tak berujung. “Stigma negatif terus disematkan pada kelompok tertentu dan pihak-pihak yang mendukung. Pada akhirnya aapriori masyarakat pada pemilu dan demokrasi,” imbuhnya. ?

Ia berharap agar ada penyikapan secara serius dari penyelenggara pemilu. “Celah-celah yang memungkinkan kampanye hitam ini muncul harus segera dicarikan solusinya, disertai dengan pengawasan yang lebih ketat,” tegasnya. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Cerita, RMI NU, Humor Islam Hari Santri 2019

Minggu, 24 Desember 2017

Takbir Menggema, Takabur (Seharusnya) Sirna

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Takbir Menggema, Takabur (Seharusnya) Sirna (Sumber Gambar : Nu Online)
Takbir Menggema, Takabur (Seharusnya) Sirna (Sumber Gambar : Nu Online)

Takbir Menggema, Takabur (Seharusnya) Sirna

Di antara kalimat yang paling mencolok dan berkumandang di mana-mana begitu Ramadhan berakhir adalah takbir. Takbir secara bahasa berasal dari kata kabbara-yukabbiru yang berarti membesarkan atau mengagungkan. Siapa yang diagungkan? Tentu saja Dzat Yang Mahabesar, Allah subhanallah wataala.

Hari Santri 2019

Takbir betul-betul mewarnai peralihan masa dari Ramadhan menuju Syawal. Umat Islam di berbagai tempat menghidupkan malam hari raya dengan takbir. Ruas jalan di banyak daerah juga dipenuhi pawai takbir. Dalam shalat id pun kita dianjurkan menambah takbir tujuh kali usai takbiratul ihram dan lima kali saat memasuki rakaat kedua. Para khatib idul fitri disunnahkan memulai khutbah pertama dengan takbir sembilan kali dan tujuh kali pada khutbah kedua. Sementara dzikir yang paling dianjurkan bagi jamaah dalam momen-momen tersebut adalah melafalkan takbir.

Hari Santri 2019

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Takbir tentu lebih dari sekadar ucapan dan kata-kata. Di balik anjuran menggemakan takbir ada perintah untuk menganggap setara, kecil, rendah apa pun yang ada di alam fana ini karena yang Mahabesar hanya Allah. Dialah penguasa jagat raya ini. Tak ada satu urusan atau keberadaan pun yang luput dari genggaman-Nya. Ini pula makna dari rabbul alamin. Allah bukan saja Tuhan bagi manusia melainkan Tuhan bagi seluruh eksistensi selain diri-Nya, termasuk hewan, tumbuhan, jin, malaikat, planet-planet, atmosfer, bumi, langit, surga, neraka, dan lain sebagainya.

Konsekuensi dari keyakinan semacam itu adalah timbulnya sikap rendah hati. Mengecilkan segalanya, tak terkecuali kekayaan dan jabatan, untuk semata-mata mengagungkan-Nya. Sikap ini sangat sulit dilakukan karena musuh terberatnya bukan saja setan, melainkan juga nafsu diri sendiri. Orang mungkin saja terbebas dari keraguan mengimani keberadaan Allah seyakin-yakinnya tapi belum tentu ia berhasil membesarkan-Nya seagung-agungnya. Orang bisa saja sangat alim, rajin ibadah, mengklaim membela agama, namun apakah ia sudah benar-benar bersih dari menganggap lebih rendah orang lain--menganggap diri sendiri lebih selamat dari yang lain?

Kita tahu, Iblis terjerumus bukan karena ia ingkar atas keberadaan Allah. Iblis tidak ateis. Mungkin soal ini keimanan Iblis melebihi manusia biasa. Iblis terhempas ke neraka dan menjadi makhluk terkutuk selamanya sebab menolak menghormati Nabi Adam lantaran takabur. Sebagaimana terekam dalam Surat al-Baqarah ayat 34:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur/sombong dan adalah ia termasuk golongan makhluk yang kafir".

Takabur atau kesombongan telah menggelapkan Iblis untuk mengakui Adam sebagai makhluk Allah yang juga harus dihormati. Ketika Allah mengeluarkan perintah sujud penghormatan tersebut lalu Iblis menyambutnya dengan penolakan, maka saat itulah Iblis sedang mengingkari Kebesaran Allah. Iblis membesarkan diri di hadapan Dzat Yang Mahabesar. Ia hanya melihat kepada siapa ia hormat tapi tidak mempertimbangkan dari siapa perintah hormat itu keluar. Di ayat lain, Allah berfirman, "walaqad karramnâ banî âdam (dan sungguh telah kami muliakan Bani Adam [manusia])."

Dalam hadits Qudsi Rasulullah pernah menyampaikan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? . ? ? ? ? ? ? . ? ? ? .

"Kemahabesaran adalah selendang-Ku dan Kemahagungan adalah Sarung-Ku. Siapa saja yang menandingi-Ku Aku masukkan dia ke dalam neraka".

Jamaah shalat jumat hadakumullah,

Apa yang diperbuat Iblis bisa juga menimpa kita meski dalam skala dan konteks yang berbeda. Allah, misalnya, telah memerintahkan kita memuliakan manusia (QS al-Isra: 70) dan tidak merusak lingkungan (QS al-Araf: 56). Saat kita berlaku sebaliknya maka sejatinya kita sedang meneladani jejak Iblis yang durhaka. Kita hanya percaya akan keberadaan Allah tapi "tidak percaya" akan kebesaran dan kekuasan-Nya. Atau mungkin percaya namun berhenti di mulut atau dalam kadar angan-angan belaka.

Buah dari takbir adalah mengecilkan diri sendiri untuk semata membesarkan Allah. Dampak lazim dari suasana batin ini adalah tidak menganggap remeh hal-hal di luar dirinya karena menyadari bahwa semua ini tak lain adalah hamba Allah rabbul alamin. Rasulullah pernah menegur sahabat yang mempermainkan anak burung hingga induknya merasa terganggu. Sikap mengasihi binatang seperti ini hanya bisa dilakukan ketika seseorang tak lagi sibuk membandingkan dirinya dengan binatang tapi memandang lebih dalam: siapa yang menciptakan binatang. Itu pula yang menjadi alasan mengapa Nabi begitu pemaaf dan murah hati terhadap orang-orang kafir yang pernah memusuhi, bahkan berupaya membunuh beliau; dan kisah-kisah teladan lainnya.

Jamaah shalat jumat rahimakumullah,

Takbir Idul Fitri seyogianya mengantarkan kita pada introspeksi diri tentang sejauh mana kita membesarkan Allah, sejauh mana pula kita mengenal-Nya. Sebuah takbir yang melunakkan hati kita untuk senanriasa berbuat baik kepada siapa saja atau apa saja. Memandang orang lain dengan kacamata kasih sayang. Berhenti menghinakan pihak lain. Dan menolak perbuatan merusak di lingkungan kita.

Di Indonesia kita beruntung memiliki tradisi halal bihalal yang menjadi momen penguatan hubungan baik sesama manusia. Setelah tak hanya digembleng untuk memenuhi hak-hak Allah selama Ramadhan tapi juga menuntaskan berbagai persoalan hak-hak manusia (haq adami) dengan saling bermaaf-maafan. Dengan demikian semoga takbir kita tidak hanya menggaung ke angkasa tapi juga membumi dalam wujud cinta kepada sesama. Wallahu alam.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Alif Budi Luhur



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Sholawat, Humor Islam Hari Santri 2019

Sabtu, 23 Desember 2017

Gus Sholah: Berilah NU Manfaat, Bukan Memanfaatkan NU

Jombang, Hari Santri 2019. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) mengatakan, bahwa setiap Nahdliyin harus memberi NU manfaat, bukan sebaliknya, memanfaatkan NU untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Hal ini disampaikannya dalam konferensi pers di Media Centre Muktamar Ke-33 NU yang terletak di SMA N 1 Jombang, Ahad (2/8).

Gus Sholah: Berilah NU Manfaat, Bukan Memanfaatkan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Berilah NU Manfaat, Bukan Memanfaatkan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: Berilah NU Manfaat, Bukan Memanfaatkan NU

“Ini saya sampaikan terkait dengan proses Muktamar yang sedari awal terjadi pemaksaan kehendak dan diskriminasi kepada para muktamirin soal Ahwa,” jelas Gus Sholah.

Hari Santri 2019

Dia mengungkapkan, bahwa Kiai Said dalam sambutan pembukaan Muktamar NU menekankan akhlakul karimah. “Biarkan semua muktamirin ikut bermuktamar, tanpa syarat apapun, tanpa diskriminasi. Kalau hal itu terjadi, berarti sudah tidak berakhlak karimah,” jelasnya.

Dalam pernyataannya, Gus Sholah sebenarnya tidak menolak mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa). Tetapi menurutnya, Ahwa yang ditentukan oleh panitia ini tidak sesuai prosedur organisasi.

Hari Santri 2019

“Di mana logikanya kalau Ahwa ditetapkan dalam Munas. Ahwa harus ditetapkan melalui Konbes. Keputusan Konbes itu juga tidak serta merta bisa diterapkan, harus diputuskan melalui forum tertinggi, yaitu Muktamar,” paparnya.

Jadi menurutnya, mekanisme Ahwa sangat tepat jika diterapkan untuk periode ke depan. Karena harus diputuskan melalui Muktamar terlebih dahulu.

“Jangan sampai NU ini kehilangan ruh jihadnya karena mental pragmatisme yang dimunculkan oleh orang-orangnya,” tuturnya di hadapan puluhan wartawan dari berbagai media.

Sementara itu, salah satu Ketua PBNU era KH Hasyim Muzadi, Andi Jamaro Dulung yang mendampingi Gus Sholah mengatakan, bahwa panitia harus bekerja secara profesional. “Jangan sampai Muktamar NU ini ditunggangi oleh oknum-oknum tertentu secara politik praktis,”  ujarnya menandaskan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam, Nahdlatul Hari Santri 2019

Minggu, 17 Desember 2017

Pesantren DU Kepuhdoko Miliki Rusun Santri Mewah

Jombang, Hari Santri 2019

Pesantren Darul Ulum Kepuhdoko, Tembelang, Jombang, Jawa Timur kini memiliki Rumah Susun (Rusun) Santri. Rusun Santri yang dibangun dari APBN 2015 senilai Rp 7,6 milar, Sabtu (20/2), diresmikan langsung oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimulyono.

Pesantren DU Kepuhdoko Miliki Rusun Santri Mewah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren DU Kepuhdoko Miliki Rusun Santri Mewah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren DU Kepuhdoko Miliki Rusun Santri Mewah

"Saya kalau berada di kawasan pesantren seperti ini adem, selama dinas di Kementerian PU sering mengunjungi pesantren semacam ini," ujar Menteri Basuki sesaat sebelum peresmian.

Basuki mengatakan, pembangunan Rusun Santri diharapkan membuat santri nyaman dalam menimba ilmu.  Di zaman sekarang, katanya, pintar itu penting namun juga harus berakhlakul karimah. "Dan pesantren mengajarkan itu, yakni santri belajar agar pinter dan pesantren juga mengajarkan tata krama akhlakul karimah," imbuhnya.

Hari Santri 2019

Pembangunan Rusun Santri dikerjakan oleh kontraktor PT Adhi Karya, dan konsultan perencana Indo Consultan. Pengerjaan berlangsung selama 180 hari, sejak 26 Juni hingga 31 Desember 2015.

Pengasuh Pesantren Darul Ulum Kepuhdoko Tembelang Jombang, KH Mustain Hasan mengatakan, Rusun santri tiga lantai yang dibangun di atas tanah pesantren seluas 1.520 meter persegi sudah dilengkapi dengan furnitur, almari dan juga tempat MCK (mandi, cuci, kakus). "Ada 6 kamar besar dan 6 kamar kecil, setiap kamar yang sudah dilengkapi tempat tidur ini akan dihuni sebanyak 20-32 santri, jadi yang menempati sebanyak 348 santri," katanya.

Hari Santri 2019

KH Mustain menjelaskan, Pesantren Darul Ulum Kepuhdoko dibangun sejak 1940, kini telah memiliki sebanyak 2.236 santri. Mereka belajar di lembaga pendidikan mulai PAUD, TK, SMP, MTs, SMK dan MAN. "Rata rata dari keluarga menengah ke bawah, maka tidak mungkin untuk meminta sumbangan kepada mereka. Alhamdulillah, dapat bantuan dari Kementrian PU untuk pembangunan Rusun Santri," bebernya.

Karenanya, KH Mustain mendoakan Menteri PU Basuki agar dalam menjalankan amanah sebagai menteri diberi keselamatan dan berhasil. "Karena banyak pejabat atau menteri yang tersandung masalah usai menjabat bahkan saat menjabat. Kita doakan Pak Menteri selamat dan menjadi orang baik," pungkasnya.

Tampak hadir dalam peresmian Rusun Santri Anggota DPR RI Komisi V Sadarestuwati, Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko, dan juga Ketua MUI Jatim Abdusshomad Bukhori. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam, Pemurnian Aqidah, Meme Islam Hari Santri 2019

Sabtu, 09 Desember 2017

Guru Besar UPI Nilai Pola Pendidikan Pesantren Sudah Tepat

Mojokerto, Hari Santri 2019. Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Asep Kadarusman menilai pola pendidikan yang dikembangkan di pondok pesantren dan madrasah NU sangat sesuai dengan pola pendidikan yang dianjurkan.

Ia menyampaikan hal tersebut pada ajang Forum Silaturahim Kongres Pergunu II di Ponpes Amanatul Ummah, Pacet Mojokerto, Kamis (27/10) pagi.

Guru Besar UPI Nilai Pola Pendidikan Pesantren Sudah Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Besar UPI Nilai Pola Pendidikan Pesantren Sudah Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Besar UPI Nilai Pola Pendidikan Pesantren Sudah Tepat

Menurut Asep, ketepatan pada pola pendidikan pesantren adalah dengan dibiasakannya para santri untuk membaca. Ia mengatakan kemampuan membaca menunjukkan kemampuan aktual peserta didik yang bersangkutan.

Selanjutnya untuk menguji hasil dari kegiatan membaca, siswa dapat diajak berdiskusi. Hal ini bermanfaat untuk menguatkan konsep yang belum pahami.

Asep memandang positif pola pendidikan pesantren lainnya yang juga sangat sesuai adalah para santri diajarkan untuk berkomunikasi yang baik dan efektif. Ia mengatakan di era globalisasi saat ini di mana kerja manusia dimudahkan oleh adanya teknologi, potensi besar yang harus dikembangkan (dan bisa dijual) selain berpikir kritis, adalah kemampuan berkomunikasi.

Hari Santri 2019

“Saya mengamati sepanjang acara ini pembawa acara (yang merupakan santri atau orang NU) dapat berkomunikasi secara lancar dan sistematis. Ini komunikasi yang baik yang perlu diteruskan,” kata Asep.

Oleh karena itu, bila berpegangan pada ICT (Information and Communication Technology), kemampuan akan bahasa asing tidak bisa ditawar-tawar dalam menghadapi era ini. Apalagi bila dihadapkan pada tantangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Sebelum menutup paparan, Asep memuji bahwa tradisi tahlilan yang dikembangkan NU, walau banyak yang tak sependapat, membuktikan bahwa tahlilan menarik hati kecil dan merupakan kebutuhan yang tak bisa dibohongi. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Nasional, Humor Islam, Tegal Hari Santri 2019

Jumat, 08 Desember 2017

Teks dan Karakter Islam Nusantara

Oleh Mahrus eL-Mawa* Fenomena kekerasan atas nama agama, baik secara personal maupun institusional, hingga saat ini tidak dapat diterima umat manusia, terutama umat yang beragama dengan cinta, damai, dan kearifan (love, peace and wisdom). Islam sebagai agama yang mengedepankan rahmatan lil alamin dimanapun, sudah pasti menolak kekerasan tersebut.

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang dilahirkan sejak 1926 untuk memberikan kedamaian umat Islam Indonesia, terutama dalam menjalankan tradisi dan ritual keagamaan, hingga saat ini. NU telah merumuskan beberapa prinsip dalam hal mengantisipasi persoalan sosial keagamaan, yaitu tasamuh (toleran), tawazun (seimbang/harmoni), tawasut (moderat), ta’adul (keadilan), dan amar ma’ruf nahi munkar.

Teks dan Karakter Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Teks dan Karakter Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Teks dan Karakter Islam Nusantara

Seiring dengan fenomena kekerasan atas nama agama oleh kelompok Islam tertentu tersebut, dan merasa dirinya yang paling benar pemahaman keislamannya, dimanapun, menjadikan NU yang akan melaksanakan Muktamarnya ke-33 perlu menegaskan kembali jati diri Islam Nusantara.

Hari Santri 2019

Gagasan Islam Nusantara merupakan salah satu pemikiran yang khas untuk Indonesia dari dulu dan saat ini. Secara historis, berdasarkan data-data filologis (naskah catatan tulis tangan), keislaman orang Nusantara telah mampu memberikan penafsiran ajarannya sesuai dengan konteksnya, tanpa menimbulkan peperangan fisik dan penolakan dari masyarakat.

Contohnya, ajaran-ajaran itu dikemas melalui adat dan tradisi masyarakat, makanya

terdapat ungkapan di Minangkabau adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Lalu, pada saat itu di Buton terdapat ajaran martabat tujuh dari tasawuf menjadi bagian tak terpisahkan dari undang-undang kesultanan Buton. Hal serupa di Jawa, baik melalui ajaran Walisongo ataupun gelar seorang raja dengan menggabungkan tradisi lokal dan tradisi Arab, seperti Senopati ing Alogo Sayyidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa.

Hari Santri 2019

Dengan demikian, praktik Islam Nusantara mampu memberikan kedamaian umat manusia. Pada saat itu di Nusantara, baik kepulauan Jawa, Sumatera, Sulawesi dan sekitarnya para ulama dalam hal menuliskan ajarannya juga mempunyai tradisi akulturatif dan adaptif. Strategi dakwah tersebut tertulis dalam berbagai aksara dan bahasa sesuai dengan wilayahnya. Di Jawa terdapat aksara carakan, dan pegon dengan bahasa Jawa, Sunda, atau Madura, yang diadaptasi dari aksara dan bahasa Arab. Di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, terdapat aksara Jawi dengan bahasa Melayu, dan aksara/bahasa lokal sesuai sukunya, Bugis, Batak, dst.

Jelas sekali, ada kekhasan dalam Islam Nusantara pada soal adaptasi dan akulturasi aksara/bahasa. Hal serupa juga dalam hal sosialisasi ajaran Islam yang disampaikan secara praktis di masyarakat, terdapat adaptasi seni dan budaya lokal.

Wacana Islam Nusantara untuk saat ini acapkali diadaptasikan sebagai Islam Asia Tenggara (rumpun Melayu), dan belakangan menjadi Islam Indonesia. Beberapa buku menunjukkan hal itu, Azyumardi Azra (Edisi Revisi, 2004), Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII [The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle Eastern and Malay Indonesia ‘Ulama in the Seventeeth and Eighteenth Centuries (KITLV, 2004)],? L.W.C. van den Berg (1989), Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara [terjemahan dari Le Hadhramaut Et. Les Colonies Arabes Dans L’Archipel Indien], Ahmad Ibrahim, dkk. (1989), Islam di Asia Tenggara [Readings on Islam in Southeast Asia], Slamet Muljana (2005), Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara; Kedua buku terakhir tersebut merupakan beberapa bukti bahwa Islam Asia Tenggara itu Islam Nusantara dengan rumpun Melayu, dan Islam Nusantara itu Islam Indonesia. Baru belakangan muncul beberapa karya dengan Islam Indonesia, seperti Michael Laffan (2011), The Makings of Indonesian Islam (Orientalism and the Narraration of a Sufi Past).? ?

Membicarakan Islam Nusantara bukan sekadar mengungkap kesejarahan Islam sebelum kaum asing menjajah (mempengaruhi) sejumlah wilayah di Nusantara, tetapi juga mengungkap kaitan ajaran Islam dengan tradisi lokal yang berbeda dengan tradisi Islam mainstream dari asalnya, Arab, terutama di Indonesia. Berkaitan dengan itu, jurnal Tashwirul Afkar edisi no. 26 Tahun 2008 tentang Islam Nusantara barangkali dapat menjadi bacaan awalnya.

Islam Nusantara juga dikenal dengan Islam Sufistiknya, hal itu bisa dilihat dalam karya Alwi Shihab, Akar Tasawuf di Indonesia (2009) dan buku Miftah Arifin, Sufi Nusantara: Biografi, Karya Intelektual dan Pemikiran Tasawuf (2013). Tentu saja, Islam Nusantara bukan hanya tasawuf, tetapi semua aspek ajaran Islam, seperti fiqh, tauhid, al-Qur’an, al-Hadis, dst.

Para ulama Nusantara dan karya-karyanya juga sudah dibuat daftarnya secara ringkas oleh Nicholas Heer (2008) dengan judul A Concise Handlist of Jawi Authors and Their Works. Diantara ulama Nusantara yang dikenal dengan Ahlussunah wal jamaah itu Syekh Ihsan ibn Muhammad Dahlan al-Jamfasi al-Kadiri dengan judul kitab Irsyad al-Ikhwan fi Bayan Ahkam Syurb al-Qahwah wa al-Dukhan, dan Siraj al-Talibin fi Syarh Minhaj al-Abidin; Muhammad As’ad ibn Hafid al-Jawi, an-Nubzah al-Saniyah fi al-Qawaid al-Nahwiyah (1304/1886); Muhammad Sa’id ibn Muhammad Tahir Riau, Kitab ‘Iqd al-Jawhar fi Mawlid al-Nabi al-Azhar (1327/1909); Muhammad ibn (?) Salih ibn ‘Umar al-Samarani, Hadis al-Mi’raj, dst.

Adapun ulama-ulama yang sudah masyhur lainnya juga tercatat dengan baik, seperti Hamzah al-Fansuri al-Jawi, Syekh an-Nawawi al-Bantani al-Jawi, Syekh Abd ar-Rauf al-Singkili al-Jawi, Abd al-Samad al-Falimbani al-Jawi, Kiai Bisri Mustofa dengan Tafsir Pegon, al-Ibriz, dst.

Islam Nusantara, diakui atau tidak, masih dianggap sebagai Islam pinggiran (periferal) oleh para orientalis. Sekalipun bantahan terhadap anggapan seperti itu sudah dilakukan juga oleh islamolog, seperti A.H. Johns. Bahkan Johns (1965) pernah meneliti karya ulama tasawuf Nusantara Tuhfatul Mursalah ila ruh al-nabi dalam salinan bahasa dan aksara Jawa, dengan judul The Gift Addressed to the Spirit of the Prophet.

Karya-karya ulama Nusantara dalam bahasa lokal tersebut untuk penyebaran Islam merupakan salah satu dari kelebihan dan kekhasan Islam Nusantara, selain dari pemahaman moderatnya. Moderasi itu dengan cara akomodasi tradisi lokal dalam pemahaman keislamannya, seperti tahlilan, muludan, sedekah laut, mitoni, dst. yang selama ini hanya milik Islam tradisional Indonesia. Tradisi Islam Nusantara yang sudah berkembang tersebut ternyata juga berkembang di negara Timur Tengah, seperti Maroko, Yaman dan sekitarnya.

Moderasi Islam Nusantara ternyata dapat dilihat bukan hanya pada pengembangannya melalui akulturasi budaya semata, tetapi juga ketika Islam awal masuk ke Nusantara melalui suatu proses kooptasi damai yang berlangsung selama berabad-abad. Tidak banyak terjadi penaklukan secara militer, pergolakan politik, atau pemaksaan struktur kekuasaan dan norma-norma masyarakat dari luar negeri (Ahmad Ibrahim, dkk: 2).

Dengan demikian, melalui Islam Nusantara tidak perlu dengan gerakan paramiliter, kekerasan, penindasan, atau bentuk radikalisme lainnya, seperti yang dikembangkan organisasi Islam tertentu yang sedang marak belakangan ini.

Dengan demikian pribumisasi Islam Gus Dur sungguh sangat tepat untuk Islam Nusantara. Salah satu warisan Islam Nusantara, selain pesantren adalah naskah kuno (manuskrip). Naskah kuno ini dapat menjadi ciri khas lain dari Islam Nusantara, terutam pada aspek bahasa dan aksaranya. Pegon dan Jawi tidak pernah digunakan oleh orang Islam dimanapun, kecuali bangsa kepulauan Nusantara.

Karena itu, apabila terdapat naskah kuno berbahasa Jawa dengan aksara Arab di perpustakaan Jerman, Belanda, Perancis, Italia, dst, dapat dipastikan naskah itu berasal dari Nusantara (lihat, Henri Chamberl-Loir dan Oman Fathurrahman (1999), Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia. Adapun di dalam negeri, berbagai katalog naskah dari daerah-daerah seperti Buton, Yogyakarta, Jawa Barat, Aceh, dst. Secara khusus, terdapat sebuah buku tentang Direktori Edisi Naskah Nusantara (1999).

Kajian terhadap naskah kuno tersebut saat ini sedang berkembang pesat, tidak hanya di perguruan tinggi umum (UI, UGM, UNPAD, dst) tetapi juga lembaga kementerian agama RI (Litbang, UIN, IAIN, dst.). Bahkan, beberapa pesantren dan keluarga keraton sebagai pemilik naskah kuno tersebut sudah dilibatkan menjadi peneliti, pengkaji, dan pemelihara naskah secara professional. Pengkaji naskah Nusantara ini bahkan menyebut studinya dengan nama filologi Nusantara.

Studi naskah di Nusantara memang tidak dapat disamakan dengan filologi di Eropa, Barat, atau latin dimana asal usul filologi berkembang. Begitupun kajian naskah Nusantara tidak dapat disamakan dengan studi filologi di Arab (ilmu tahqiq). Karena itu, Nusantara mempunyai kekhasannya sendiri, termasuk naskah-naskah di daerah. Kajian naskah di wilayah yang besar cakupannya, seperti Jawa, Melayu atau Batak, ternyata juga memunculkan filologi tersendiri, maka lahirlah filologi Jawa, filologi Melayu, dan filologi Batak.

Kajian naskah semacam itu, terutama naskah keagamaan Islam, mengingatkan penulis pada gagasan Gus Dur tentang pesantren sebagai sub-kultur dan pribumisasi Islam. Pesantren sebagai warisan Islam Nusantara hari ini juga mempunyai kontribusi besar terhadap dinamika filologi Nusantara, karena di pesantren juga mempunyai kekhasan sendiri yang berbeda dengan filologi Jawa dst. Karena itu, penulis juga pernah mengusulkan perlunya kajian filologi pesantren. Terlebih lagi, apabila dikaitkan dengan pribumisasi Islam dari Gus Dur, maka semakin lengkaplah kajian Islam Nusantara itu.

Berangkat dari catatan-catatan tersebut, kiranya, “Mengapa Islam Nusantara”, baik dari sisi historis maupun untuk kepentingan saat ini, dapat disingkat sebagai berikut:

1. Ajaran Islam Nusantara, baik dalam bidang fikih (hukum), tauhid (teologi), ataupun tasawuf (sufism) sebagian telah diadaptasi dengan aksara dan bahasa lokal. Sekalipun untuk beberapa kitab tertentu tetap menggunakan bahasa Arab, walaupun substansinya berbasis lokalitas, seperti karya Kyai Jampers Kediri.

2. Praktik keislaman Nusantara, seperti tahlilan, tujuh bulanan, muludan, bedug/kentongan sesungguhnya dapat memberi kontribusi pada harmoni, keseimbangan hidup di masyarakat. Keseimbangan ini menjadi salah satu karakter Islam Nusantara, dari dulu dan saat ini atau ke depan.

3. Adat yang tetap berpegang dengan syari’at Islam itu dapat membuktikan praktik hidup yang toleran, moderat, dan menghargai kebiasaan pribumi, sehingga ajaran Ahlus sunnah wal jamaah dapat diterapkan.? Tradisi yang baik tersebut perlu dipertahankan, dan boleh mengambil tradisi baru lagi, jika benar-benar hal itu lebih baik dari tradisi sebelumnya.

4. Manuskrip (catatan tulisan tangan) tentang keagamaan Islam, baik babad, hikayat, primbon, dan ajaran fikih, dst. sejak abad ke-18/20 merupakan bukti filologis bahwa Islam Nusantara itu telah berkembang dan dipraktikkan pada masa lalu oleh para ulama dan masyarakat, terutama di komunitas pesantren.

5. Tradisi Islam Nusantara, ternyata juga trdapat keserupaan dengan praktik tradisi Islam di beberapa Negara Timur Tengah, seperti Maroko dan Yaman, sehingga Islam Nusantara dari sisi praktik bukanlah monopoli NU atau umat Islam Indonesia semata, karena jejaring Islam Nusantara di dunia penting dilakukan untuk mengantisipasi politik global yang terkesan bagian dari terorisme global.

6. Karakter Islam Nusantara, seperti disebut sebelum ini, tidaklah berlebihan jika dapat menjadi pedoman berfikir dan bertindak untuk memahami ajaran Islam saat ini, sehingga terhindar dari pemikiran dan tindakan radikal yang berujung pada kekerasan fisik, dan kerusakan alam.

7. NU sebagai organisasi yang dilahirkan untuk mengawal tradisi para ulama Nusantara, terutama saat keemasannya, Walisongo, penting kiranya untuk tetap mengawal dan menegaskan kembali tentang Islam Nusantara, yang senantiasa mengedapkan toleran, moderat, kedamaian dan memanusiakan manusia.

Selamat dan Sukses Muktamar NU ke-33, semoga benar-benar dapat merumuskan secara teoritis dan praktis tentang Islam Nusantara, sehingga dapat diaktualisasikan secara nyata di tengah masyarakat, dan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, khususnya bagi umat Islam Indonesia.

Catatan pendek ini sebagai pengantar diskusi Halaqah pra-Muktamar NU ke-33 di PBNU, “Mengapa Islam Nusantara?”, diselenggarakan kerja sama Gus Durian, Panitia Muktamar dan Pasca Sarjana STAINU Jakarta, 10 April 2015. Draft only.

*Mahrus eL-Mawa, teman Belajar Mahasiswa Pasca Sarjana STAINU Jakarta dan IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Saat ini, sedang menulis disertasi tentang filologi naskah Cirebon di FIB UI.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh, Nahdlatul Ulama, Humor Islam Hari Santri 2019

Selasa, 21 November 2017

Forum Rembuk untuk Evaluasi Jamuro Agar Lebih Baik

Jepara, Hari Santri 2019. Jamiyyah Muji Rosul (Jamuro) Ar Robbaniyyin Unisnu Jepara mengadakan Forum Rembug Jamuro (Forjam) untuk anggotanya untuk memberikan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) pengurus Jamuro dalam satu periodenya, sekaligus untuk rapat evaluasi bersama anggota untuk masa depan Jamuro menjadi tambah baik lagi.?

Forjam diadakan di basecamp Jamuro, Masjid Kampus Unisnu Jepara pada Senin 13 Juli 2015.?

Forum Rembuk untuk Evaluasi Jamuro Agar Lebih Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Forum Rembuk untuk Evaluasi Jamuro Agar Lebih Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Forum Rembuk untuk Evaluasi Jamuro Agar Lebih Baik

"Jamuro harus bisa menjadi inspirasi bagi anggotanya untuk lebih semangat dalam berjamiyyah dan bershalawat sehingga barokahi kepada mahasiswa serta masyarakat luas, sehingga Jamuro tidak hanya bisa memainkan hadrah/rebana saja tapi giat dalam segala kegiatan serta menginspirasi orang lain untuk berdakwah mensyiarkan,” tutur KH Noor Rohman Fauzan.

Jamuro merupakan jamiyyah sekaligus organisasi yang berada dibawah naungan Masjid Kampus Unisnu Jepara. Organisasi ini berusaha untuk terus berkembang menjadi tambah baik lagi dengan visi utama memasyarakatkan shalawat dan menshalawatkan masyarakat yang mengedepankan akhlakul karimah dan bercendekia untuk selangkah lebih maju dan bertambah baik, kata Muhammad MS, ketua Jamuro periode 2011 - 2014.

Hari Santri 2019

Forjam yang diikuti oleh seluruh anggota Jamuro sekaligus untuk memilih ketua periode mendatang, setelah melalui mekanisme voting dalam sidang pemilihan ketua Jamuro, maka forum sepakat menjadikan Udvi untuk melanjutkan kepemimpinannya di Jamuro pada periode berikutnya yaitu 2015 - 2016.?

Hari Santri 2019

"Dengan bersama-sama dan komitmen yang kuat, insya Allah usaha kita untuk mensyiarkan shalawat melalui Jamuro pasti selalu diberikan keberkahan. Karena dengan bershalawat, kita selalu memuji kepada makhluk paling utama yaitu Nabi Muhammad Saw dan itu merupakan dinilai ibadah," kata Udvi ketua terpilih secara aklamasi untuk periode 2015-2016

Acara ditutup dengan pembagian reward dari Jamuro untuk anggotanya berupa bingkisan dan kostum baru.?

"Ini memberikan semangat kami untuk terus berjuang dan bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw, serta bertambah gembira untuk meraih kemenangan di hari raya Idul Fitri 1436 H setelah puasa Ramadhan selama 1 bulan penuh," tambah Nur Faid, wakil ketua Jamuro terpilih 2015 - 2016. (Miqdad Syaroni/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Cerita, Humor Islam Hari Santri 2019

Senin, 13 November 2017

Jika untuk Perdamaian, Parlemen Israel akan Diterima

Jakarta, Hari Santri 2019. Ketua PBNU KH Said Agil Siroj? berpendapat kedatangan parlemen Israel yang akan mengikuti sidang organisasi parlemen sedunia? (Inter Parliamentary Union/IPU) di Bali pada 29 April hingga 4 Mei 2007 bisa diterima masyarakat Indonesia jika tujuannya untuk perdamaian.

“Kita akan menerimanya jika tujuannya kedatangannya untuk menciptakan perdamaian di Palestina.,” tuturnya, Kamis.

Menurut Direktur Biro Urusan Kerjasama Beasiswa Timur Tengah ini, salah satu syarat perdamaian yang harus dipenuhi oleh Israel adalah keharusan mengembalikan tanah milik bangsa Arab yang diduduki semenjak tahun 1967.

Jika untuk Perdamaian, Parlemen Israel akan Diterima (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika untuk Perdamaian, Parlemen Israel akan Diterima (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika untuk Perdamaian, Parlemen Israel akan Diterima

Kang Said menuturkan bahwa diantara bangsa Arab sendiri, sebagian sudah menerima eksistensi negara Israel dan ada yang sudah membuka hubungan diplomatik. Yang masih menjadi persoalan bagi negara-negara Arab memang tanah-tanah yang diduduki Isreal.

‘Pada masa lalu, dalam siaran televisi selalu disebutkan “musuh Israel” pada berbagai berita. Namun sebutan “musuh” tersebut sudah hilang dan tinggal Israel saja. Ini menunjukkan adanya perubahan paradigma dikalangan bangsa Arab sendiri,” tuturnya.

Hari Santri 2019

?

Meskipun demikian, Lulusan Universitas Ummul Qura Makkah ini menganggap belum perlu untuk menjalin hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel. “Nanti malah menimbulkan banyak pertentangan dan belum ada urgensinya,” imbuhnya.

Menlu Hassan Wirajuda di Istana Merdeka Jakarta, Kamis mengatakan, kehadiran anggota parlemen Israel itu diundang oleh IPU dan bukan oleh parlemen Indonesia.

Hari Santri 2019

"Parlemen Israel diundang oleh IPU, bukan DPR. Sejauh ini kami belum mendengar ada informasi apakah delegasi Israel hadir atau tidak. Sejauh ini beritanya baru akan hadir. Tapi hadir dalam tingkat apa juga masih kami tunggu," katanya.

Ketika ditanya mengenai tidak adanya hubungan diplomatik Pemerintah RI dengan Israel, Menlu mengatakan, dalam standar konferensi internasional tuan rumah tidak boleh menolak kehadiran semua anggotanya.

"Sebagai satu standar konferensi internasional yang diadakan oleh organisasi internasional, maka biasanya ada perjanjian antara organisasi penyelenggara dengan pemerintah. Dengan cacatan kita sebagai tuan rumah tidak boleh menolak kehadiran semua anggotanya terlepas kita punya hubungan diplomatik atau tidak," katanya.

Sidang IPU akan dilakukan pada 29 April hingga 2 Mei 2007 di Bali dan rencananya akan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pemurnian Aqidah, Humor Islam Hari Santri 2019

Minggu, 12 November 2017

Muslimat NU Pertanyakan Jaminan Sosial di Pesantren, Madrasah, dan Panti Asuh

Jakarta, Hari Santri 2019. Ketua Umum Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa membuka diskusi terbatas perihal implementasi perlindungan sosial oleh pemerintah di komunitas pesantren, madrasah, serta panti asuhan. Muslimat NU menilai layanan sosial terutama pendidikan dan kesehatan pemerintah selama ini belum menyasar tiga lembaga pendidikan potensial tersebut.

Pada diskusi yang terselenggara atas kerja sama Muslimat NU dan Network For Education ? Watch (NEW) Indonesia, Hj Khofifah mengutip pembukaan UUD 1945 dan sejumlah pasal yang menyebut negara sebagai penjamin hak-hak pendidikan dan pelayan kesehatan bagi warganya.

Muslimat NU Pertanyakan Jaminan Sosial di Pesantren, Madrasah, dan Panti Asuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Pertanyakan Jaminan Sosial di Pesantren, Madrasah, dan Panti Asuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Pertanyakan Jaminan Sosial di Pesantren, Madrasah, dan Panti Asuh

“Peserta didik madrasah sebagai satuan pendidikan berciri khas agama Islam baik MI, MTS, maupun MA lebih didominasi penduduk berstatus sosial ekonomi rendah. Demikian halnya dengan pesantren. Sementara panti asuh menampung, membimbing, dan mendidik anak yatim, yatim piatu, serta anak terlantar,” kata Khofifah, Rabu (1/10).

Hari Santri 2019

Mereka secara umum tidak mendapatkan berbagai program perlindungan sosial, baik kesehatan, pendidikan maupun bantuan sosial lainnya. Sementara UUD 1945 menyebut segenap warga indonesia berhak mendapatkan layanan sosial baik pendidikan maupun kesehatan.

Hari Santri 2019

“Sejumlah program bantuan sosial ? pemerintah seperti BOS, BSM, CSR dari perusahaan BUMN maupun swasta, atau pos bantuan sosial yang melekat di beberapa kementerian seperti Pendidikan, Kemenag, Sosial, UKM, Daerah Tertinggal, Kesehatan, BUMN, perlu dialihkan untuk kebutuhan kemajuan pendidikan di pesantren, madrasah dan panti asuh,” terang Khofifah di lokasi diskusi Hotel Sofyan, Jakarta.

Perlindungan dan bantuan sosial pemerintah selama ini, kata Khofifah, masih belum mencakup seluruh penduduk Indonesia. Semua itu masih terbatas diakses pekerja sektor formal seperti PNS, TNI, dan POLRI. (HM Misbahus Salam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Halaqoh, Khutbah, Humor Islam Hari Santri 2019

Jumat, 10 November 2017

Jelang Pembangunan Gedung Khusus, Remaja Hobi Shalawat Ini Gelar Riungan

Pringsewu. Hari Santri 2019 - Remaja Pecinta Sholawat (Repshol) Kabupaten Pringsewu menggelar Riungan Rajab di sekretariat ini di Desa Fajar Baru Pagelaran Utara, Selasa (4/4) malam. Kegiatan yang dihadiri oleh anggota jamiyyah dan warga sekitar ini dikemas dalam bentuk shalawatan dan ambengan.

Ketua sekaligus pendiri Repshol Pringsewu Muhammad Subhan mengatakan, jamiyyah yang dibentuknya itu bertujuan untuk mengoordinir para remaja pecinta sholawat dan grup sholawat yang ada di Kabupaten Pringsewu.

Jelang Pembangunan Gedung Khusus, Remaja Hobi Shalawat Ini Gelar Riungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pembangunan Gedung Khusus, Remaja Hobi Shalawat Ini Gelar Riungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pembangunan Gedung Khusus, Remaja Hobi Shalawat Ini Gelar Riungan

"Alhamdulillah Repshol hadir untuk menyatukan para pecinta Rasulullah dalam bingkai syafaat Rasul yang kita harapkan di dunia dan di akhirat," katanya di sela-sela kegiatan riungan yang juga dibacakan Shalawat Nariyah, Maulid dan Aurod Wirdul Lathif.

Subhan menambahkan, kegiatan itu juga dilaksanakan untuk berbagai hajat di antaranya dalam rangka Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. "Riungan ini juga sekaligus dijadikan momentum Peringatan Harlah Kabupaten Pringsewu ke-8 dan doa bersama untuk NKRI," jelasnya.

Hari Santri 2019

Gus Subhan juga memohon doa kepada seluruh umat Islam khususnya warga NU agar cita-cita Repshol memiliki gedung sholawat di Kabupaten Pringsewu segera terwujud.

"Saat ini pembangunan Gedung Kanzus Shalawat sudah memasuki tahap pencoran bagian pondasi. Riungan ini juga ditujukan untuk doa bersama mudah-mudahan pembangunan cepat rampung," katanya.

Hari Santri 2019

Gedung Kanzus Shalawat itu ke depan akan dijadikan pusat untuk lebih mensyiarkan Shalawat di Kabupaten Pringsewu khususnya dan di Provinsi Lampung pada umumnya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, Humor Islam Hari Santri 2019

Jumat, 27 Oktober 2017

Ketika Seorang Sahabat Menjadi Presiden

Menyaksikan seorang sahabat menjadi presiden, tentu memberikan perasaan tersendiri bagi pengasuh Pesantren Al-Qur’aniyy Solo, KH Abdul Karim.

Saat diwawancarai salah satu stasiun TV swasta, Senin (20/10), kiai yang akrab disapa Gus Karim itu menceritakan kisah mereka, ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) hendak mencalonkan diri menjadi menjadi presiden, beberapa bulan silam.

“Sesaat sebelum pengambilan nomor urut, Jokowi sempat bertanya melalui SMS kepada saya, tentang wiridan apa yang perlu dibaca,” kata Gus Karim yang pernah menjadi ketua tanfidziyah PCNU Kota Surakarta,.

Ketika Seorang Sahabat Menjadi Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Seorang Sahabat Menjadi Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Seorang Sahabat Menjadi Presiden

“Gus, apakah wiridannya itu perlu dibaca? Saya jawab, ya perlu dibaca wiridan itu,” kata Gus Karim tanpa menyebut wirid apa yang diijazahkannya ke Jokowi.

“Esoknya beliau kembali menghubungi saya , Gus saya dapat nomor dua. Saya jawab, ya itu, salah sendiri cuma tanya lewat SMS, tidak sowan langsung,” ujar Gus Karim menirukan pembicaraanya dengan Jokowi.

Pengasuh Majelis Dzikir dan Shoalwat Jamuro itu juga memiliki panggilan tersendiri kepada Jokowi. “Dari dulu saya memanggilnya dengan sebutan ‘Pak Wali’. Bahkan, ketika sudah menjadi Gubernur. Tapi ndak tahu kalau sudah jadi presiden sekarang,” katanya sembari terkekeh.

Kata Gus Karim, Jokowi itu punya tiga nama panggilan, “Pertama yoqowiyu, ini panggilan dari mereka yang terlalu mengidolakan. Adapula yang memanggilnya dengan biasa Jokowi, seperti saya. Lain lagi dengan yang tidak senang, memanggilnya dengan jo kui (jangan yang itu).”

Hari Santri 2019

Jokowi dan Jamuro

Pada kesempatan lain, Gus Karim juga pernah mengungkapkan, sosok Jokowi yang ikut membesarkan jamaah Sholawat di Solo bersama Jamaah Muji Rosul (Jamuro). Menurutnya, Jamuro tak lepas dari Jokowi.

“Saat Jokowi naik, mulai saat itulah Jamuro naik. Akhirnya kami pun meminta Jokowi untuk menjadi penasihat Jamuro.”

Gus Karim menceritakan “ledakan” jemaah Jamuro terjadi seusai mereka berkegiatan di Lodji Gandrung, Rumah Dinas Walikota Solo. “Sebelum Pak Jokowi ngunduh Jamuro di Lodji Gandrung jemaah sekitar 100- 200 orang setelah itu semakin banyak. Sekarang jemaah bisa mencapai 2.000-3.000 orang jika Jamuro mengadakan pengajian,” ucapnya. (Ajie Najmuddin/Anam)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam, Fragmen, Meme Islam Hari Santri 2019

Kurban Sempurnakan Nilai-nilai Kemanusiaan

Padangpariaman, Hari Santri 2019. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten  Padang Pariaman Dr Zainal Tuanku Mudo, SAg, Mag, mengatakan, ibadah kurban merupakan salah satu ibadah untuk  menyempurnakan nilai-nilai  kemanusiaan. Karena dengan berkurban, dapat mengembalikan umat manusia menjadi hamba yang bertauhid.

Kurban Sempurnakan Nilai-nilai Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurban Sempurnakan Nilai-nilai Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurban Sempurnakan Nilai-nilai Kemanusiaan

Zainal mengatakan hal itu ketika bertindak sebagai Khatib Shalat Idul Adha 1436 H/2015, di halaman Kantor Bupati Padangpariaman, Paritmalintang, Kamis (24/9).

Mantan Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Propinsi Sumatera Barat ini menyebutkan, tujuan dari ibadah kurban untuk meningkatkan kebersamaan, karena di dalam pelaksanakan kurban, ada berbagi dengan sesama umat yang dirasakan  dengan penuh keindahan dan berkah.

Hari Santri 2019

Menurut Zainal, berawal dari mimpi Nabi Ibrahim Alaihi Salam, yang disuruh untuk menyembilih anak, oleh Sang Khaliq, menyembelih anaknya Nabi Ismail, karena Ibrahim yakin, bahwa yang menyuruh itu Allah swt, dia tidak ragu-ragu untuk melaksanakannya.

Sementara itu, Bupati Padang Pariaman, Drs H Ali Mukhni dalam sambutannya menuturkan, Idul Adha merupakan hari raya istimewa bagi umat muslim sedunia karena dilaksanakannya dua ibadah agung yaitu ibadah haji dan ibadah kurban.

Hari Santri 2019

"Kedua ibadah itu disebut dalam  Al-Quran sebagai salah satu dari syiar-syiar agama Isalam  yang harus dihormati dan diangungkan oleh hamba-hambanya," ucapnya 

Ali Mukhni menambahkan,  Idul Adha banyak mengandung hikmah bagi kehidupan manusia sekarang dan masa depan (now and future). Salah satunya, aspek kesepakatan antara Nabi Ibrahim AS dan anaknya Nabi Ismail AS. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Sejarah, IMNU, Humor Islam Hari Santri 2019

Jumat, 20 Oktober 2017

Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19

Solo, Hari Santri 2019 -

Ribuan jamaah membanjiri serambi Masjid Agung Surakarta, Jawa Tengah pada acara peringatan Hari Lahir (Harlah) Majelis Ahbabul Musthofa yang ke-19, Sabtu (24/12) malam. Pantauan Hari Santri 2019, kehadiran mereka bahkan ikut meluber hingga ke halaman masjid.

Dalam sambutannya, Pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa, Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf, mengatakan sangat bergembira atas terselenggaranya peringatan ini.

“Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya acara ini. Ini merupakan Harlah yang ke-19, sedangkan untuk penyelenggaraan di Masjid Agung, ini yang ke-7,” kata dia.

Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Jamaah Hadiri Harlah Ahbabul Musthofa ke-19

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Gubernur Jateng, Pangdam Diponegoro, Kapolda Jateng, dan para tokoh ulama dan pemerintahan di lingkup Kota Surakarta. “Terima kasih kepada bapak Gubernur, dalam kesibukannya, masih sempat ikut keliling shalawat, semoga Jateng tambah berkah dengan shalawat,” ujar Habib Syech.

Dalam kesempatan itu, Habib Syech juga berpesan kepada segenap jamaah untuk menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan. “Kalau ingin mulia, siapapun manusia di muka bumi ini, ikutilah Nabi Muhammad,” tutur dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam, Internasional Hari Santri 2019

Rabu, 18 Oktober 2017

Kisah Tebuireng, dari Mbah Hasyim hingga Gus Dur

PESANTREN TEBUIRENG, bukan pesantren tertua. Tapi pesantren yang berada di Jombang ini sangat dikenal karena menjadi pusat perjuagan sejak pertengahan abad ke-19.

Tebuireng sendiri lahir sebagai respon terhadap tumbuhnya kapitalisme liberal yang tubuh bersamaan tumbuhnya industri gula di kawasan itu. Pabrik gula itu membawa ekses ketidakadilan sosial, pemiskinan, dan berbagai macam kriminalitas yang sengaja dilestarikan oleh penjajah guna melemahkan mental masyarakat jajahan.

Sebagai seorang aktivis muda, Hasyim asy’ari yang telah mendapatkan pendidikan paripurna dari seluruh peantren terkemuka di Jawa yang kemudian berpuncak mendapatkan pendidikan agama di Tanah Suci. Ia tergerak untuk mengatasi tantangan struktural itu, maka pada tahun Rabiul Awal 1317/1899 M didirikanlah sebuah pesantren di Tebuireng? di Cukir. Berhadapan persis dengan pabrik Gula Cukir.

Kisah Tebuireng, dari Mbah Hasyim hingga Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Tebuireng, dari Mbah Hasyim hingga Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Tebuireng, dari Mbah Hasyim hingga Gus Dur

Sejak awal berdirinya, pesantren tersebut tidak mengenakkan kalangan kolonial yang bercokol di situ, maka gangguan demi gangguan dilakukan oleh sekelompok preman dan jagoan yang dipelihara oleh? Belanda.

Ketika posisi Kiai dan segenap santri yang jumlanya hanya beberapa orang itu sangat terancam, maka Mbah Hasyim Asy’ari meminta bantan pada kiai-kiai dari Cirebon yang dikenal memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Kiai Abbas beserta beberapa kiai yang lain dari Buntet Cirebon datang memberikam bantuan. Semua jagoan yang ada di situ bisa dikalahkan sehingga mereka tidak berani lagi menggangu pesantren. Tetapi tidak dengan sendirinya pengawasan Belanda berhenti, sebaliknya terus diintensifkan.

Dengan berkurangnya gangguan itu, jumlah santri yang datang semakin bertambah. Ada sekitar 28 orang yang berasal dari berbagai tempat di Jawa Timur. Sebagai pesantren Salafiyah, ? Tebuireng mengajarkan berbagai kitab penting baik dalam fiqih, tauhid dan akhlaq.

Keahlian Mbah Hasyim Asy’ari dalam bidang hadits dan tafsir, menjadi daya tarik utama pesantren yang dirintisnya itu. Semua kitab diajarkan sesuai dengan tradisi pesantren Salaf, yaitu dengan metode bandongan, dan sorogan, bahkan saat itu metode halaqah juga sudah diterapkan, sehingga kehidupan akademis para santri menjadi dinamis dalam mengasah diri. Banyak santri senior dari pesantren juga dating, nyantri di Tebuireng baik sekadar mencari barokah maupun sengaja melibatkan diri dalam perjuangan politik yang gerakan dari pesantren itu.

Hari Santri 2019

Saat itu santri sudah datang dari Jawa tengan dan Jawa Barat sehingga jumlahnya kemudian meningkat hingga 200 orang. Apalagi sikap kiai yang sangat tegas pendiriannya dalam menghadapi berbagai persoalan kolonial, menjadi daya tarik tersendiri bagi para santri untuk berguru kepadanya. Melihat perkembangan pesantren Tebuireng yang semakin tidak terbendung itu, pemerintah Kolonial Belanda akhirnya terpaksa mengakui pesantren ini tahun 1906. Namun, Mbah Hasyim ini tetap waspada. Sebab, dia tahu bahwa pengakuan ini tidak lebih merupakan bagian dari Politiek Etis, sebuah tipu muslihat Belanda untuk membelandakan bangsa Indonesia dan umat Islam melalui pendidikan.

Ternyata, Tebuireng tetap pada pendiriannya, tidak mau tunduk pada Belanda dan tidak mau menerima bantuannya, bahkan semakin intensif menyardarkan bangsanya. Pesantren itu dituduh sebagai sarang ekstrimis Islam, karena itu pada tahun 1913 pesantren Tebuireng dihancurkan dan berbagai kitab penting dibakar oleh Belanda.

Menghadapi tantangan yang semakin berat itu tiada lain bagi peasantren ini untuk menyiapkan pejuang yang selain mendalam ilmu agamanya tetapi juga memiliki bekal ilmu pengetahuan umum yang memadai sebagai modal perjuangan nasional.

Walaupun Mbah Hasyim murni berpendidikan Salaf, tetapi sangat menghargai kemajuan yang terjadi di lingkungannya. Sebab itu, tahun 1919? telah diselenggarakan pendidikan formal yang bersifat klasikal yang dinamakan Madrasah Salafiyah Syafiiyah. Pelopor pembaruan di tebuireng ini adalah seorang Kiai Muda Muhamamad Ilayas yang sangat dipercaya oleh K Hasyim Asy’ari, sehingga berani memulai mengajarkan mata pelajaran umum yang selama ini belum dikenal di pesantren salafiyah.

Hari Santri 2019

Kalau semua kitab agama dipelajari dengan menggunakan bahsa Arab, tetapi saat itu, mulai diperkenalkan huruf latin, bersamaan dengan diterapkannya mata pelajaran bahasa Melayu, berhitung, sejarah, ilmu bumi dan sebagainya.

Tawaran baru ini sangat menarik kalangan santri yang sedang bangkit dan bergejolak saat itu. Sehingga Tebuireng menjadi pesantren idaman di kalangan pemuda tidak hanya dari Jawa, tetapi dikenal di seluruh Nusantara.

Para santri dari Tebuireng ini kemudian menjadi ulama besar yang memimin berbagai pesantren penting di Nusantara, antara lain KH Wahab hasbullah memimpin Pesantren ambakberas, KH Abdul Karim pendiri peantren Lirboyo dan sebagainya, termasuk ? K Ahmad Shiddiq adalah murid K Hasyim yang disegani.

Kiai Hasyim dikenal sebagai tokoh yang sangat giat bekerja mencari harta dan selalau menganjurkan orang untuk bercocok tanam yang dianggapnya sebagai pekerjaan sangat mulia. Demikian pula untuk mengembangkan pendidikan. Kedua dirasa sangat perlu untuk memperkuat basis perekonomian dan basis moral. Karena itu pada tahu 1919 itu juga didirikanlah Nahdlatut Tujjar yang dipimpin sendiri kemudian bendaharanya adalah Kiai Wahab Chasbullah.? Sejak saat itu Tebuireng menjadi simpul utama dari pergerakan nasional.

DI TENGAH gigihnya perlawan tehadap Belanda itu, kelompok Wahabi menguasai Masjidil Haram yang hendak menerapkan satu madzhab, yaitu Wahabi. Tingkah kelompok ini macam-macam, di antaranta mereka hendak membongkar makam Nabi Muhammad.

Para ulama pesantren tidak setuju dengan tingkah pola dan pemirikan agama kaum Wahabi. ? Lantas, Kiai Wahab usul kepada Mbah Hasyim agar dibentuk kepanitiaan untuk memprotes tindakan raja Ibnu Saud. Terbentuklah panitia bernama Komite Hejaz.

Dikirimlah delegasi Komite Hejaz itu. Setelah mendapat persetujuan dari pemimpin pesantren Terbuireng itu maka pada 31 Januari 1926 NU didirikan dan K Hasyim sendiri sebagai Rais Akbar.

Dengan menggunakan jaringann ulama yang dimiliki kiai, maka dengan cepat NU menyebar menjadi organisiasi besar. Dengan sendirinya Tebuireng menjadi sentral perjuangan kaum santri Nusantara saat itu. Ataa restu Mbah Hasyim, kiai Wahab dan kiai muda lain semakin leluasa dan giat bergerak membangkitkan umat.

Dengan lahirnya NU, daya tarik Pesantren Tebuireng semakin memuncak. Seiring dengan naiknya pamor pesantren itu, maka santri berdatangan dari seluruh Nusantara. Demikian juga para pemimpin pergerakan Nasional berdaatangan ke Pesantren itu sekedar untuk meminta restu dan memberikan dukungan moril atas kiprahnya.

Mereka itulah yang kemudian menjadi perintis NU di daerah masing-masing. Perlawanan terhadap penjajah juga semakin meluas di kalangan kiai dan santri pesantren setelah mendapat spirit baru perjuangan. Melihat gelagat semacam itu maka? pesantren ini selalu mendapatkan perhatian bahkan kunjunga dari berbagai pejabat Belanda terutama menteri urusan pribumi.

Untuk mempercepat perkembangan pesantren dalam penyadaran masyarakat, maka pada tahun 1934, ? putra Mbah Hasyim, Kiai Wahid Hasyim, merintis pendidikan khusus yang diberi nama Madrasah Nidzomiyah, sebuah langkah spektakular, sebabab pendidikan yang hanya bisa diikuti santri senior dan pilihan ini mengajarkan 70 persen mata pelajaran umum.

Di situ juga disediakan perpustakaan yang berisi sekitar 1000 judul buku, serta tidak ketinggalan disediakan berbagai majalah dan surat kabar, sehingga peroduk dari perguruan ini menjadi organisator yang tertib dan piawi serta pejuang yang militant.

Hingga tahun 1940-an, jumlah kiai yang dilahirkan dari Pesantren Tebuireng terdata sebanyak 25.000 orang tersebar di seluruh Nusantara. Dalam penyelidikan Jepang semua kiai yang militant tersebut ditengarai sebagai fabrikaat Tebuireng (gemblengan Tebuireng).

Karena itu ketika melihat Mbah Hasyim tetap membangkang tidak mau melakukan Saikere (penghormatan) pada bendera dan kaisar jepang, maka pada april 1942 kiai ini ditangkap dan dipenjarakan oleh Jepang.

Setelah dipenjara sekitar setahun beliau dibebaskan tanpa syarat, bahkan kemdian diberi jabatan Tinggi sebagai ketua Jawa Hokakai, menjadi Ketua MIAI dan ketua Masyumi.

Melihat posisi strategis dan keamana di pesantren ini maka ketika laranagn terhadap pegibaran bendera merah putih serta melagkan Indonesia raya diberlakukan keduanya masih bisa berkibar dan dinyanyikan di Pesantren Tebuireng.

Pada masa menjelang kemerdekaan dan masa awal kemerdekaan dalam mempertahankan kemerdekaan, posisi Pesantren Tebuireng sangat sentral. Bersamaan dikeluarkannya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, para pimpinan Nasional baik Bung Karno, Tan malaka dan Bung Tomo selalu berkordinasi ke Tebuireng untuk menghadapi sekutu.

Para sntri ulama dan keluarga Pesantren Tebuireng semuanya turun ke medan laga menjadi tentara seperti KH Wahid Hasyim, KH Chaliq, KH Hasyim, KH Yusuf Hasyim dan sebagainya. Seusai kemerdekaan banyak di antara mereka yang kembali mengajar di pesantren dan yang meneruskan perjuangan di parlemen dan di berbagai lembaga eksekutif.

Dengan peran politiknya yang besar, melahirkan tokoh-tokoh besar, Tebuireng menjadi semakin dikenal, apalagi pendirinya yakni KH Hasyim Asy’ari dan kemudian puteranya KH Wachid Hasyim mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional sehingga namanya menghiasi sejarah perjuangan nasional.

Pamor ini dengan sendirinya menyedot minat masyarakat belajar ke pesantren besar ini, karena itu pendidikan semakin dikembangkan baik secara materi dan fisik bangunannya.

Sejak tahun 1965 pesantren ini dipimpin oleh KH Yusuf Hasyim, yang kemudian pada tahun 1969 merintis pendirian pendidikan tinggi dengan membangun Universitas Hasyim Asy’ari.

Sepeninggal KH Yusuf Hasyim epemimpinan Pesantren Tebuireng dilanjutkan oleh KH Salahuddin Wahid. Saat ini pesantren Tebuireng semakin ramai dikunjungi orang dari berbagai kalangan semenjak KH Abdurrahman Wahid putera dari KH Wahid Hasyim dimakamkan bersama dengan kakeknya KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim.

Setiap hari ribuan penziarah dari kalangan muslim maupun non Muslim menziarahi makam KH Abdurrahman Wahid, sebagai tokoh pemersatu bangsa yang sangat dihormati oleh semua kalangan, sehingga pesantren Tebuireng yang semula surut saat ini kembali dikenal dan menjadi pusat perhatian. (Abdul Mun’im DZ.)

?

Sumber:

H . Aboebajar Aceh, Sejarah Hidup KH Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar, Diterbitkan Panitia Peringatan KH Wahid Hasyim, Jakarta 1957.,

Choirul Anam Pertumbuhan dan Perkembangan NU, Penerbit Bisma Satu, Surabaya, 1999.

Departemen Agama RI, Enskilopedi Islam, Penerbit Depag RI, Jakarta, 1987.

?

?

?

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam Hari Santri 2019

Minggu, 20 Agustus 2017

IPNU Apresiasi Bupati Anas Anulir Aturan Diskriminatif di Sekolah Negeri

Banyuwangi, Hari Santri 2019



Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Banyuwangi segera melakukan kroscek terkait dengan merebaknya pemberitaan kasus aturan diskriminatif di salah satu SMP Negeri di Banyuwangi. Kasus yang berbau SARA tersebut, menelan korban seorang siswi berinisial NWA yang ditolak masuk sekolah karena tidak mengenakan jilbab.

"Kami telah melakukan penelusuran kasus ini. Ternyata laporan yang kami dapat, anak tersebut, non-Muslim, sehingga menolak aturan memakai jilbab di sekolah," ungkap Ketua PC IPNU Banyuwangi Yahya Muzakki saat ditemui di base camp IPNU, di Genteng, Ahad (16/7).

IPNU Apresiasi Bupati Anas Anulir Aturan Diskriminatif di Sekolah Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Apresiasi Bupati Anas Anulir Aturan Diskriminatif di Sekolah Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Apresiasi Bupati Anas Anulir Aturan Diskriminatif di Sekolah Negeri

Mendapat laporan yang bernuansa diskriminatif tersebut, lanjut Yahya, pihaknya langsung melakukan konfirmasi kepada Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. "Melalui Dispendik, kita mengkonfirmasi hal tersebut. Informasi yang kami dapat, Bupati Anas telah menganulir aturan itu," terangnya.

Langkah cepat Bupati Anas menganulir aturan yang berawal dari inisiatif kepala sekolah tersebut, diapresiasi oleh IPNU. "Kami mengapresiasi respon cepat Bupati Anas. Ini penting untuk menjaga keharmonisan antar umat beragama di Banyuwangi yang selama ini, telah terjalin baik," papar Yahya.

Hari Santri 2019

Selain itu, Yahya juga mendesak kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi untuk memberikan teguran keras kepada kepala sekolah bersangkutan. "Ini jelas mencoreng nama Banyuwangi yang dikenal sebagai kota welas asih, bahkan baru-baru ini dapat Harmony Award sebagai daerah dengan kerukunan umat beragama yang baik. Ini harus diberikan teguran agar tidak terulang lagi kasus seperti ini," harapnya.

Lebih lanjut, Yahya menerangkan, IPNU Banyuwangi siap mengawal pendampingan terhadap kasus-kasus yang menimpa pelajar. Sebagai badan otonom NU yang segmentasinya pelajar, IPNU memiliki badan khusus bernama Student Crisis Center (SCC) yang fungsinya melakukan advokasi kepelajaran.

"Prinsipnya, IPNU ingin memberikan kontribusi kepada para pelajar seluas-luasnya. Tidak hanya kepada anggota saja, tapi kepada semua pelajar lainnya," pesannya (Ayung/Awang/Mukafi Niam)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock