Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Usai Gelar Apel Kesetiaan Pancasila, Ansor Bondowoso Konsolidasikan Kekuatan

Bondowoso, Hari Santri 2019. Setelah pagi harinya menggelar apel kesetiaan Pancasila dan NKRI di Lapangan Sekarputih Kecamatan Tegalampel, Bondowoso, Pimpanan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bondowoso kembali mengadakan acara sarasehan Kopi Darat bersama aparat pemerintah setempat di Aula PCNU Bondowoso Jalan KH Agus Salim No. 85 Belindungan Kabupaten Bondowoso Jawa Timur, Rabu (1/06) malam.

Usai Gelar Apel Kesetiaan Pancasila, Ansor Bondowoso Konsolidasikan Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Gelar Apel Kesetiaan Pancasila, Ansor Bondowoso Konsolidasikan Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Gelar Apel Kesetiaan Pancasila, Ansor Bondowoso Konsolidasikan Kekuatan

Acara bertema "Mengejawantahkan Komitmen Kesetiaan Pemuda kepada Pancasila dan NKRI" ini juga diikuti Pimpinan Cabang, Pimpinan Anak Cabang, Satkorcab Banser, Ormas Kepemudaan (OKP) dan OSIS SMA/MA se-Bondowoso.

Hari Santri 2019

Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil menjelaskan, saat ini ada berbagai kelompok, baik dari dalam maupun luar negeri yang ingin mengubah dasar NKRI. Karena itu ia meminta semua elemen bersatu melawan setiap upaya-upaya yang merongrong Pancasila dan NKRI.

Hari Santri 2019

"Bagi kami (GP Ansor) Pancasila itu adalah harga mati, NKRI adalah harga mati bagi Gerakan Pemuda Ansor dan Banser," tegasnya.

Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir mengatakan hal senada. Menurutnya, lahirnya bangsa Indonesia tidak lepas dari peranan tokoh-tokoh NU. Tak hanya menjadi penggerak dalam mempertahankan kemerdekaan, lanjut Dhafir, NU lah organisasi massa pertama yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal Bangsa Indonesia.

" Kesimpulannya, negeri ini sudah bersertifikat atas nama Pancasila dan NKRI. Dan itu sudah final," tandasnya.

Hadir pada acara sarasehan Kopi Darat Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir, Kasdim 0822 Bondowoso, Mayor Mohammad Tohir, Kasat Binmas, AKP Heru Wahyudi. (Ade Nurwahyudi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Aswaja, Nasional, AlaNu Hari Santri 2019

Selasa, 13 Februari 2018

Manfaat dan Mudarat Internet Sama Besar, Santri Harus Berperan!

Jakarta, Hari Santri 2019. Pada momen hari santri 2017 ini, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengingatkan para santri untuk kian peka terhadap perkembangan zaman di sekitarnya, termasuk teknologi informasi. Ia mendorong mereka untuk aktif memberikan manfaat di dunia digital.

Manfaat dan Mudarat Internet Sama Besar, Santri Harus Berperan! (Sumber Gambar : Nu Online)
Manfaat dan Mudarat Internet Sama Besar, Santri Harus Berperan! (Sumber Gambar : Nu Online)

Manfaat dan Mudarat Internet Sama Besar, Santri Harus Berperan!

“Hari ini santri juga hidup di tengah dunia digital yang tidak bisa dihindari. Internet adalah bingkisan kecil dari kemajuan nalar yang menghubungkan manusia sejagat dalam dunia maya. Ia punya aspek manfaat dan mudarat yang sama-sama besar,” ujarnya saat menyampaikan pidato pada apel akbar hari santri yang digelar di pelataran Tugu Proklamasi, Jakarta, Ahad (22/10).

Ia mengatakan, internet telah digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan dakwah Islam, tetapi juga digunakan untuk merusak harga diri dan martabat seseorang dengan fitnah dan berita hoaks.

Santri, tambahnya, perlu ‘memperalat’ teknologi informasi sebagai media dakwah dan sarana menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan serta mereduksi penggunaannya yang tidak sejalan lima filosofi syariat Islam.

Hari Santri 2019

“Yakni untuk menjaga agama (hifdhuddin), jiwa (hifdhun nafs), nalar (hifdhul aql), harta (hifdhul mal), keluarga (hifdhun nasl), dan martabat (hifdhul ‘aradl) seseorang. Kaidah fikih: al-muhâfadhah ala-l qadîmis shâlih wa-l akhdzu bi-l jadîdi-l ashlah senantiasa relevan sebagai bekal kaum santri menghadapi tantangan zaman yang terus berubah,” papar Kiai Said.

Kiai asal Cirebon ini juga mengimbau para santri untuk mentransformasikan momentum Hari Santri sebagai ajang gerakan penguatan paham kebangsaan yang bersintesis dengan keagamaan. “Spirit “nasionalisme bagian dari iman”, hubbul wathan minal iman, perlu terus digelorakan di tengah arus ideologi fundamentalisme agama yang mempertentangkan Islam dan nasionalisme,” katanya.

Apel diikuti ribuan santri dan pelajar dari berbagai daerah di Jabodetabek. Usai pembacaan teks Pancasila yang dipimpin Ketua PBNU Robikin Emhas, deklarasi ikrar santri diteriakkan secara serentak yang dipandu oleh Sekjen PBNU Ishfah Abidal Aziz.

Hadir dalam kesempatan tersebut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan sejumlah pejabat tinggi negara. (Mahbib)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Cerita Hari Santri 2019

Kamis, 01 Februari 2018

Libur Idul Fitri 2004 Menjadi Sembilan Hari

Jakarta, Hari Santri 2019
Pemerintah menetapkan hari libur nasional dan cuti bersama pada Idul Fitri 2004 menjadi sembilan hari, karena hari besar Islam itu jatuh pada tanggal 14 dan 15 November 2004, atau hari Minggu dan Senin.

Dalam kondisi demikian pemerintah memundurkan hari libur menjadi 15 dan 16 November atau Senin dan Selasa, ditambah cuti bersama selama tiga yakni 17-19 November 2004 (Rabu, Kamis dan Jumat) dan ditambah libur Sabtu dan Minggu dan Sabtu dan Minggu sebelumnya, menjadikan libur Idul Fitri 2004 menjadi sembilan hari.

Menko Kesra Jusuf Kalla mengatakan di Jakarta, Kamis, seusai menyaksikan menandatanganan surat keputusan bersama Menag, Menakertrans, dan Menpan tentang Libur Nasional dan Cuti Bersama Selama 2004 di Jakarta.

Dikatakan bahwa libur sembilan hari itu sebenarnya efektif lima hari, yakni dua hari libur resmi, tiga hari cuti bersama, dan empat hari libur Sabtu Minggu yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta swasta di seluruh Indonesia.

Sedangkan libur hari besar di luar hari Sabtu dan Minggu untuk tahun 2004, jumlahnya tetap 14 hari kerja dengan catatan hari libur yang jatuh pada Minggu, Selasa, Rabu, dan Kamis dipindahkan ke hari Senin, sehingga tidak mengurangi jumlah hari libur nasional yang sudah ada. Contohnya, tahun baru hijriah yang jatuh pada tanggal 22 Februari (Minggu) dipindah menjadi Senin (23/2).  

Menurut Menko Kesra, tujuan pemindahan hari libur itu agar masyarakat memiliki libur akhir pekan lebih panjang dan memberi kesempatan bersilaturahmi dengan keluarga. 

Selain itu untuk mengefisienkan agar tidak banyak karyawan yang membolos karena adanya hari kerja yang terjepit pada hari libur. Begitui pula untuk meningkatkan kunjungan wisatawan domestik.

Sementara Menpan Feisal Tamin, meminta instansi pemerintah untuk menindak atau menjatuhkan sanksi bagi karyawan yang masih membolos. Ia mengatakan bahwa dipercepatnya pengumuman hari libur tersebut untuk memudahkan para penerbit kalender  memberi tanda khusus pada hari-hari libur yang dipindahkan, sehingga tidak membingungkan masyarakat.

Pihak swasta tidak mempermasalahkan pemindahan hari libur itu karena sudah dilaksanakan sejak lama.(ant/mkf)


 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Warta, Berita Hari Santri 2019

Libur Idul Fitri 2004 Menjadi Sembilan Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Libur Idul Fitri 2004 Menjadi Sembilan Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Libur Idul Fitri 2004 Menjadi Sembilan Hari

Kamis, 25 Januari 2018

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran

Jember, Hari Santri 2019. Konflik berujung bentrokan berdarah di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Jember  yang mengakibatkan satu orang meninggal, mendapat perhatian dari Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH. Mutawakkil Alallah. 

Pengasuh Pesantren Genggong, Kraksaan, Probolingo ini langsung mengunjungi rumah duka di Puger Kulon, Kamis dini hari (12/9). Diantar Sekretaris PCNU Jember, KH. Misbahussalam, Kiai  Mutawakkil, menyatakan ikut berbela sungkawa. Selain itu ia sempat menggelar tahlilan di rumah duka. 

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran

Tidak banyak keterangan yang keluar dari lisan sang Kiai Mutawakkil, kecuali hanya himbauan agar semua pihak tenang dan tidak terpancing provokasi serta tidak boleh dendam. “Tidak perlu dendam. Tapi ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak, termasuk kepolisian,” tukasnya kepada sejumlah wartawan di Puger. 

Di tempat yang sama, KH. Misbahussalam  menyatakan bahwa PCNU Jember akan segera mengadakan rapat untuk mencari jalan keluar dari perseteruan yang telah berlangsung cukup lama itu. 

Hari Santri 2019

Menurutnya, bentrokan itu bisa dihindari jika masing-masing pihak bisa menahan diri dan tidak terprovokasi satu sama lain. “Kuncinya saling menghormati satu sama lain. Masak dengan sesama Islam tidak rukun. Wong dengan umat nonmuslim kita damai,” ujarnya. 

Kiai Misbah menambahkan, aroma bentrokan itu sebenarnya sudah tercium beberapa hari sebelum kejadian. Sebab, salah satu pihak, mengajukan izin kepada aparat untuk menggelar karnaval. Namun aparat tidak memberikan izin karena khawatir ditolak atau mendapat perlawanan dari kelompok yang kontra syi’ah. 

Hari Santri 2019

“Tapi nyatanya mereka ngotot karnaval, bahkan barikade polisi diterobos. Akhirnya terjadilah peristiwa itu,” tukasnya. 

Sementara itu, MUI Jember masih terus mengadakan pendalaman terhadap kasus itu. Menurut Wakil Ketua MUI Jember,  KH Abdullah Syamsul Arifin,  pihaknya masih mencari tahu secara detil penyebab timbulnya kerusuhan berdarah itu. “Apakah ini murni konflik internal (di Puger), ataukah memang jangan-jangan ada intervensi dan provokasi dari luar," katanya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Sunnah, Kajian Hari Santri 2019

Selasa, 23 Januari 2018

Bom Kampung Melayu, Khofifah: Warga Harap Tenang, Jangan Terpancing

Probolinggo, Hari Santri 2019. Ledakan bom di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur dinilai Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa sepertinya ada yang tidak ingin kalau negeri ini aman. Karena itu, dia berharap agar semua pihak tetap tenang, tidak terpancing secara berlebihan atas kejadian tersebut.?

Bom Kampung Melayu, Khofifah: Warga Harap Tenang, Jangan Terpancing (Sumber Gambar : Nu Online)
Bom Kampung Melayu, Khofifah: Warga Harap Tenang, Jangan Terpancing (Sumber Gambar : Nu Online)

Bom Kampung Melayu, Khofifah: Warga Harap Tenang, Jangan Terpancing

"Jangan terpancing dan jangan memancing-mancing," katanya saat menghadiri Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Rabu (24/5) malam.

Mensos menjelaskan, saat ini masyarakat begitu mudah terpancing menanggapi sesuatu hal sehingga membuat suasana semakin keruh. Menurutnya, peristiwa bom di Kampung Melayu adalah tindakan memancing respons berlebihan masyarakat oleh kelompok tertentu. "Makanya jangan terpancing," pintanya.

Selain itu, peristiwa ini semakin menguatkan peran penting ulama maupun tokoh agama untuk mengingatkan masyarakat dan generasi kita agar tak mudah terpengaruh ajakan orang atau kelompok yang ingin mengganggu ketenangan bangsa.

Hari Santri 2019

"Peran ulama, kalangan pesantren dibutuhkan untuk mengingatkan kalau ada yang mau mengganggu negeri ini, misalnya mengganti Pancasila dengan sistem khilafah. Saya mau tanya, apakah di pesantren ini ada ingin mengganti Pancasila dengan sistem khilafah?" tanya Khofifah yang dijawab "Tidak!" secara serentak oleh para santri dan hadirin.?

"Ini PR kita karena gangguan ini sering kali muncul," tegas Ketua Umum PP Muslimat NU ini.?

Terlebih, kata Khofifah, ulama maupun pesantren berperan besar atas pendirian NKRI. Dia mencontohkan KH Wahid Hasyim, salah seorang anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Hari Santri 2019

"Saya ingin sampaikan kalau Kiai Wahid Hasyim yang anggota BPUPKI dan PPKI yang akhirnya mendeklarasikan kemerdekaan, memproklamirkan kemerdekaan Indonesia," katanya.

"Kiai Wahid Hasyim adalah putra Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, ayahanda KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kalau kemudian ada anak-anak muda yang mengaku trahnya NU lalu ingin mengubah dasar negara, bentuk negara, sistem pemerintahan ini, tolong diingatkan. Inilah tugas kita."

Khofifah berharap Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani ini menjadi penguatan muhasabah untuk menjaga keutuhan NKRI. "Tonggak-tonggak penguatan NKRI adalah pesantren-pesantren yang dikomandani para kiai NU. Salah satunya pesantren ini," katanya.

Apalagi usia pesantren jauh lebih tua dari Indonesia. Khofifah merujuk banyak pesantren yang berusia 100 tahun bahkan lebih. "Tiga hari lalu saya mendatangi imtihan ke-100 pesantren Sukamiskin. Kalau imtihan ke-100 berarti usia pesantren lebih dari 100 tahun," katanya.?

Begitu juga saat ada pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan para kiai di Jatim di sela pengukuhan Rais Aam PBNU yang juga Ketua Umum MUI, KH Maruf Amin sebagai guru besar ilmu ekonomi muamalat syariah oleh UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang. Dalam pertemuan terbatas itu ada pengasuh pesantren yang pesantrennya didirikan dari tahun 1700.

"Artinya inilah pilar-pilar yang membangun semangat juang melawan penjajahan, apakah Belanda maupun Jepang pada saat itu. Hanya saja para kiai ini perannya tidak ingin di-publish. Maka banyak sekali kiai yang tidak mengajukan sebagai apakah calon pahlawan, bintang mahaputra dan seterusnya karena keikhlasannya begitu luar biasa," papar Khofifah. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu Hari Santri 2019

Sabtu, 20 Januari 2018

Urgen, Amaliah NU Dibukukan dengan Argumen Ilmiah

Surabaya,Hari Santri 2019. Sebagai organisasi sosial kegamaan terbesar di tanah air bahkan di dunia, Nahdlatul Ulama harus meningkatkan kewaspadaan dengan banyaknya aliran yang bertentangan dengan manhaj NU. Tak hanya itu, mereka gencar memojokkan berbagai amaliah NU.

Menurut Rais PCNU Jember, Jawa Timur KH Muhyyiddin Abdusshomad kalangan tersebut sudah berani mengkafirkan bahkan membunuh mereka yang dianggap sesat. “Sekarang mereka berada di sekeliling kita," katanya ketika tampil sebagai pemateri pada acara Daurah Aswaja Nasional yang diselenggarakan PW Aswaja NU Center Jatim, Kamis (25/12).

Urgen, Amaliah NU Dibukukan dengan Argumen Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Urgen, Amaliah NU Dibukukan dengan Argumen Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Urgen, Amaliah NU Dibukukan dengan Argumen Ilmiah

Melihat kenyataan ini, kiai yang juga sebagai pengasuh Pondok Pesantren Nuris Jember ini mengingatkan peserta untuk tidak mengangap remeh persoalan ini. "Kita harus memikirkan bagaimana melawan dengan argumentasi dan memahami NU secara mendalam," kata Kiai Muhyidin. Bukan hanya memahami NU dalam tataran luar atau kulit saja, namun juga esensi dari ajaran dan amaliah yang selama ini dijalankan secara teguh kalangan NU.

Hari Santri 2019

"Lawan kita ini sudah pakai rudal, sedangkan kita masih memakai ketapel, bila kita tidak segera berkemas, kita akan sangat mudah dihancurkan," tandas Kiai Muhyiddin.

Dalam pandangannya, kelemahan NU sekarang ada di bidang kepenulisan. Karena ajaran-ajaran NU dan berikut amaliah yang telah mentradisi hanya dijalankan melalui warisan keturunan dan budaya setempat, dan sangat jarang yang menuliskannya dalam sebuah naskah akademis. Padahal menuliskan landasan hukum atas amalan yang telah mendarah dan mendaging tersebut sangat mendesak untuk dilakukan.

Hari Santri 2019

Karena dengan menuliskan argumentasi amaliyah tersebut sangat penting untuk menangkal pandangan kalangan yang menkafirkan. "Dengan buku pegangan tersebut nantinya akan dengan mudah mematahkan berbagai tuduhan kalangan yang membidahkan atau mengkafirkan amaliyah warga NU," katanya.

Sebagai ilustrasi, Kiai Muhyiddin mempersilahkan peserta untuk melakukan pengecekan sejumlah buku Wahabi yang beredar di sejumlah toko buku kenamaan. "Coba kita lihat misalnya buku-buku yang dibuat oleh kalangan Wahabi, sekarang banyak terpajang di toko-toko buku bertaraf  nasional seperti Togamas, Gramedia dan toko-toko lain," katanya dengan mimik serius. Baginya, hal ini sebagai bukti bahwa kalangan NU telah ketinggalan start, lanjutnya.

Lebih lanjut, Kiai Muhyiddin mengingatkan kepada seluruh peserta untuk menjadi pioner  di daerahnya masing-masing baik dengan menulis maupun dakwah bil lisan dan bila mampu mendirikan percetakan yang khusus mencetak buku-buku seputar NU.

Jumlah penerbit buku di NU, lanjut dia, sangat jarang bila dibandingkan dengan kelompok yang berseberangan. NU, masih mencoba merintis penerbitan. “Kalau sudah besar sering konflik dan bubar," katanya yang disambut tawa peserta.

Untuk itu, Kiai Muhyiddin berpesan kepada seluruh kalangan untuk bangkit mengawal Aswaja NU. Kebangkitan ini harus diawali dari generasi muda yang notabene sebagai kader penerus. "Sehingga ke depan Aswaja NU tetap berdiri tegak di bumi Nusantara," ungkapnya.

Di akhir sesi penyampaian materi, Kiai Muhyiddin membagikan beberapa tips yang harus dijalankan untuk membentengi NU yang di antaranya;  pertama, memperluas dan memperdalam pengetahuan tentang Aswaja serta meningkatkan penghayatan dan pengamalannya juga mensosialisasikannya kepada umat. Kedua, Meningkatkan keluhuran citra ajaran Ahlussunnah wal Jamaah dengan meningkatkan mutu pelaksanaan.

Ketiga, membuktikan keunggulan ajaran Aswaja dengan memperbanyak membaca dan mengkaji Kutub al-Turats. Bermusyawarah serta berdiskusi untuk menjawab persoalan yang muncul, kemudian menjadikan ajaran Aswaja sebagai solusi. Dan terakhir, perlu adanya pembagian tugas yang jelas di antara kader NU yang bertugas di wilayah politik praktis dan yang menjadi pengayom umat. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Kajian Hari Santri 2019

Selasa, 09 Januari 2018

Prof Rahman: Yakinlah Akan Lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal Baru

Hingga hari ke-40 pascawafatnya Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh, berbagai kesaksian dari berbagai elemen masyarakat terus mengalir. Para kiai, pengurus NU, dan tokoh masyarakat telah memberikan komentar, kini testimoni mengemuka dari seorang akademisi yang lahir dari tradisi NU:Prof H Abdurrahman Mas’ud, MA PhD (54). Doktor lulusan University of California Los Angeles (UCLA) ini menceritakan pengalamannya kepada Musthofa Asrori dari Hari Santri 2019 di kantornya.

Pria kelahiran Kudus, 16 April 1960, yang sekarang menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Kapuslitbang Penda) Balitbang Kementerian Agama RI ini memiliki cerita menarik seputar perkenalannya dengan kiai yang akrab disapa Mbah Sahal itu. Berikut petikan wawancara beberapa hari lalu.

Prof Rahman: Yakinlah Akan Lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Rahman: Yakinlah Akan Lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Rahman: Yakinlah Akan Lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal Baru

Apa yang terbentuk dalam pemikiran Prof Abdurrahman Mas’ud tentang sosok Mbah Sahal?

Perkenalan dan ketertarikan saya kepada Mbah Sahal, pertama ya, saat saya mulai mengaji kepada beliau ketika kelas dua aliyah dulu. Tepatnya tahun 1978 dan 1979 di Pesantren Maslakul Huda Kajen. Dua tahun berturut-turut tiap bulan puasa saya mengaji pasanan di sana. Beliau itu ulama kharismatik, terbuka, dan juga seorang faqih. Saya masih ingat waktu itu ngaji Fathul Wahab kepada beliau. Mbah Sahal juga cepat dekat kepada santrinya, termasuk saya. Saking percayanya, misalnya, beliau memberikan ijazah kepada saya. Jadi, mula-mula saya tunjukkan kepada beliau kitab nadzaman Tsamratul Hajainiyah. Tanpa pikir panjang, beliau langsung memberikan ijazah bahwa saya sudah diakui mengaji kepada beliau. Padahal belum ngaji. Saya sampai beliau meninggal selalu berhubungan baik. Minimal setahun sekali saya sowan ke kediaman beliau. Saya merasa lebih dekat dengan beliau daripada santrinya yang lain. Padahal tidak nyantri di pondoknya. Dugaan saya, tapi Insya Allah bener, banyak santri yang nyantri di sana.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Nyantri di mana, Prof?

Saya justru mondok di pesantren Kiai Muzayyin Ngemplak (sebelah barat Kajen-red), setiap ngaji pasanan di Kajen.

Waktu mendapat gelar profesor di IAIN Semarang?

Iya, saya undang beliau. Usai penganugerahan langsung saya hampiri beliau, saya cium tangan beliau.

Bagaimana perasaan Prof saat mengetahui bahwa Mbah Sahal telah meninggal?

Saya sangat kehilangan sekali, bukan soal material tetapi moral. Ya, kita memang berhubungan dengan beliau secara moral ya. Apalagi tidak bisa memberikan penghormatan terakhir kepada beliau. Itu yang paling merasa kehilangan. Padahal biasanya, minimal tiap tahun silaturrahim ke beliau. Saya sering merasa jika ada kiai yang wafat, saya pasti sangat prihatin. Bahkan, paman saya sendiri, Kiai Ma’ruf Irsyad Kudus juga tidak bisa mengantar.

Pasca-Mbah Sahal, bagaimana NU ke depan? Tanggapan Bapak..

Suasananya mirip ketika NU dan bangsa ini ditinggal wafat Gus Dur. Di NU kan betapapun kiai itu masih menjadi tokoh sentral. Dalam penelitian saya, kiai saya sebut sebagai elite culture (kultur elit) yang menjadi imam keagamaan. Jadi, Mbah Sahal tidak diragukan lagi. Tapi, yakinlah bahwa ke depan akan lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal baru.

Beliau dalam riset saya dikategorikan sebagai kiai yang ensiklopedis. Saya merasa tidak bisa terlepas dari bayang-bayang Mbah Sahal. Beliau itu tidak bisa diintervensi oleh pemerintah. Posisi beliau sedejarat dengan pemerintah. Jadi, pendapat beliau selalu didengar oleh pemerintah, bukan saja oleh gubernur, tetapi hingga tingkat nasional.

Artinya apa?

Sebagaimana kita tahu, dalam hadis, pemimpin yang adil dan ulama yang tidak korup maka umat akan aman.

Sekarang Mbah Sahal digantikan Gus Mus dalam kapasitasnya sebagai rais aam. Bagaimana Prof melihatnya?

Sangat pas dan tepat sekali. Saya kira Gus Mus orang yang sangat paham Mbah Sahal. Artinya, pemikiran kedua ulama ini cukup linier dan relevan dengan konteks kekinian. Saya pribadi sangat bersyukur bahwa Gus Mus bisa menggantikan beliau. Insya Allah perdamaian dan moderasi ala NU akan aman dalam kendali Gus Mus.

Berbicara tentang pendidikan Islam di Indonesia, khususnya bagi warga Nahdliyin, problem mendasarnya menurut Bapak?

Ada beberapa masalah tipikal dunia pendidikan Islam. Pertama, dikotomi keilmuan yang sudah menyejarah. Kedua, hilangnya spirit  of inquiry yang termasuk di dalamnya memudarnya tradisi rihlah fi thalabil ilmi, penelitian empiris, membaca, dan menulis. Ketiga, certificate-oriented (orientasi ijazah). Keempat, tidak mengacu pada problem solving. Kelima, common sense terlupakan. Dampaknya, kreativitas tidak menonjol. Keenam, akhlaq terbatas pada moralitas dosa, halal-haram, akhlaq sosial (social ethics) terabaikan.

Apa tawaran pemikiran prof terhadap persoalan ini?

Saya kira, perlu ditekankan adanya humanisme dalam pendidikan. Humanisme dalam pendidikan di sini adalah proses pendidikan yang lebih memerhatikan aspek potensi manusia sebagai makhluk religius dan makhluk sosial (abdullah dan khalifatullah), serta sebagai individu yang diberi kesempatan Tuhan untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya sekaligus bertanggung jawab terhadap amal perbuatannya di dunia dan akhirat. Humanisme dimaknai sebagai kekuatan atau potensi individu yang senantiasa mengembangkan diri di bawah petunjuk ilahi, untuk bertanggung jawab mengurai aneka persoalan sosial. Individu dalam pandangan ini selalu aktif dalam status proses becoming menyempurnakan diri (istikmal).

Apa pesan penting humanisme dalam pendidikan?

Humanisme mengajarkan, tidaklah etis untuk sepenuhnya menunggu Tuhan bertindak untuk menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan dan keindonesiaan dengan karut-marutnya persoalan yang tak pernah kunjung selesai. Manusia Indonesia sebagai khalifatullah fil ardl harus bertindak dengan tetap memohon petunjuk dari Allah untuk merespons dengan tepat berbagai musibah.

Bagaimana hubungan humanisme dalam pendidikan dan humanisme dalam beragama?

Tentu sangat erat hubungannya. Lihat saja, realitas kesejarahan bangsa kita menunjukkan bahwa Islam yang berkembang di Indonesia hingga hari ini adalah Islam kultural. Artinya, Islam mampu berkembang dan menjadi tradisi baru sejalan dengan dinamika budaya masyarakat. Pendekatan kultural merupakan strategi pengembangan keberagamaan yang memerhatikan keharmonisan dan kekayaan budaya lokal sebuah komunitas masyarakat.

Salah satu budaya bernuansa islami yang berkembang luas di masyarakat adalah budaya selametan atau syukuran. Budaya ini sering diidentikkan dengan masyarakat Jawa. Penyelenggaraannya pun nyaris berlangsung setiap hari, setiap even, dan searah tarikan nafas. Ketika orang akan memulai hidup baru, memasuki rumah baru, punya jabatan baru, atau sesuatu yang baru, dapat dipastikan mereka menggelar selametan itu. Termasuk juga selametan atas anugerah kehamilan mulai empat bulan, mitoni, hingga puputan,selapanan, lalu medon lemah.

Bahkan, ada lagi budaya selametan yang masih bersifat polemis di sebagian umat Islam sendiri, yakni selametan untuk orang-orang yang meninggal (3, 7, 40, 100, dan 1000 hari) yang kerap disebut tahlilan. Namun, kini sepertinya tahlilan telah menjadi milik Indonesia, bukan hanya warga Nahdliyin. Muhammadiyah pun sudah nyaman dengan ritual ini. Ketuanya saja (Din Syamsudin) sudah tahlilan kok. 

Nah, keberhasilan mengembangkan budaya lokal bernuansa Islam tersebut tidak hanya bergantung kepada kadar keimanan dan konsistensi anggota masyarakat terhadap ajaran agama, baik individu maupun kelompok. Akan tetapi, faktor pendidikan amat berpengaruh dalam pembentukan tradisi dan budaya islami tersebut.

Berbicara soal pendidikan di kalangan warga Nahdliyin, apa yang menjadi keprihatinan Bapak?

Kita tahu bahwa Nahdliyin yang tergabung dalam wadah jam’iyah NU itu lahir dari pesantren. Sementara peranan lembaga pendidikan pesantren di negeri ini sangat besar dalam membina generasi muda. Sayangnya, perhatian kepada institusi ini belum memadai. Begitu juga pada level internasional, studi mengenai dunia pesantren bisa dihitung dengan jari. Sejauh pengamatan saya, sampai detik ini baru ada tiga disertasi berbahasa Inggris yang membahas topik dunia pesantren. Pertama, The Pesantren Tradition yang ditulis pada 1980 oleh Dr Zamakhsyari Dhofier (Departement of Anthropology and Sosiology Australian National University, Canberra). Kedua, disertasi yang muncul 17 tahun kemudian, tepatnya pada Maret 1997 berjudul The Pesantren Architects and Their Socio-Religious Teachings yang saya tulis untuk mengambil gelar doktor di UCLA. Ketiga, Peaceful Jihad, disertasi sarjana AS, Prof Roland Alan Lukens-Bull dari North Florida University AS.

Artinya apa itu, Prof?

Artinya bahwa doktor di NU itu masih minim. Apalagi dibandingkan Muhammadiyah.

Tawaran konkret seorang Abdurrahman Mas’ud PhD?

Satu hal yang sejak lama saya pikirkan bahkan pernah saya tulis: "Mendoktorkan NU sekaligus Mengkiaikan Muhammadiyah". Tulisan-tulisan saya dibukukan dengan judul “Menuju Paradigma Islam Humanis.” Selama ini kan ramai soal pandangan yang mengisyarakatkan bahwa NU lebih kaya dengan pesantren berikut kiai-kiai ampuhnya, MD (Muhammadiyah, red) bangga dengan stok doktornya dari dalam maupun luar negeri. MD lebih berkualitas dan rapi dalam kinerja organisasi dan kelembagaan, sementara NU lebih solid dalam kohesi dan solidaritas sosialnya. Soal kekuasaan, jika MD lebih berhasil menjabat negara, maka NU lebih erat menjabat tangan karena tradisi musafahah begitu tinggi. Jika NU leading dengan rekayasa kulturalnya, MD leading dengan lembaga pendidikannya.

Pada tahun 1990-an, saya punya pengalaman berharga tentang hubungan dengan tokoh MD. Ya, waktu itu, Din Syamsuddin yang menjabat Ketua Pemuda Muhammadiyah Pusat, adalah roommate (teman sekamar) saya saat kuliah di UCLA Amerika Serikat. Meski kami beda secara sosio-kultural dan organisasi, kami tidak pernah terlibat dalam diskusi emosional, apalagi sampai debat kusir. Dialog kami lakukan di mana saja, mulai di kamar hingga di kantin, dengan materi beragam. Kadang juga mencakup persoalan khilafiyah NU-MD. Diskusi sering dihiasi academic-joke, yang penekanannya lebih kepada upaya mencari solusi dari perbedaan paradigma keislaman. Salah satu kesimpulan yang masih penulis ingat adalah kami tidak pernah menyangsikan status Aswaja ala NU dan MD. Mengidentifikasi diri sebagai kaum Aswaja yang sekian tahuh kuliah di Barat, kadang kami mempertanyakan adalah pengaruh cross culture (lintas budaya) terhadap pola pandangan keagamaan kami. Sungguh kami merasa masih seperti yang dulu, hanya saja selain Aswaja kami juga punya identitas tambahan: Ahlul Jam’i wal Qasri (tukang jama’ qasar shalat) lantaran waktu shalat sering bentrok jam kuliah. Hahaha... (Prof Rahman tertawa terbahak-bahak).

Dalam hati sanubari Bapak, apa ada keinginan untuk menjadi pengurus Nahdlatul Ulama? 

Pada saatnya nanti, waktu yang akan menjawabnya. Meski saya waktu kuliah di Amerika aktif di ICMI, namun saya tetap menggunakan tradisi NU dalam aktivitas ibadah maupun sosial. Pada waktu itu memang belum ada PCINU seperti sekarang ini.

Generasi muda NU yang sekarang tentu ingin seperti Bapak hingga memperoleh gelar doktor. Saran dan nasehat Prof..

Terus belajar dan belajar. Jika ingin keluar negeri, tingkatnya kemampuan Bahasa Inggris, khususnya TOEFL-nya itu. Apalagi ditambah kemampuan bahasa asing lain akan semakin membantu.

Terima kasih Prof atas wawancara dan nasehatnya.

Sama-sama. Semoga sukses. (Red: Mahbib)

 

 

Foto: Prof H Abdurrahman Masud MA PhD mencium tangan KH MA Sahal Mahfudh usai dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Sejarah dan Kebudayaan Islam IAIN Walisongo (sumber: Suara Merdeka)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, AlaNu, Warta Hari Santri 2019

Jumat, 29 Desember 2017

NU Gelar Halaqah, Bahas Pemanasan Global

Jakarta, Hari Santri 2019

Nahdlatul Ulama (NU) tampaknya juga prihatin atas kondisi alam yang seakan semakin tidak bersahabat. Hal itu ditandai dengan terjadinya berbagai bencana alam, seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, kebakaran hutan, gelombang pasang tsunami, dan lain-lain. Tak hanya itu, korban yang diakibatkan pun tak sedikit.

Karena itu, organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu akan menggelar halaqah untuk membahas, salah satunya adalah fenomena pemanasan global (global warming) yang merupakan satu di antara bagian dari sebab terjadinya berbagai bencana alam.

NU Gelar Halaqah, Bahas Pemanasan Global (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Gelar Halaqah, Bahas Pemanasan Global (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Gelar Halaqah, Bahas Pemanasan Global

“Meningkatnya suhu permukaan bumi, di atas daratan, lautan atau kombinasi keduanya secara menyeluruh atau pemanasan global. Situasi ini ditandai dengan meningkatnya cuaca secara ekstrim seperti musim panas yang panjang dan pendeknya musim hujan,” terang Avianto Muhtadi, Project Manager Community Based Risk Disaster Risk Management(CBDRM) NU kepada wartawan di Jakarta, Selasa (17/7)

Kegiatan yang digagas CBDRM NU atau Tim Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat itu akan diselenggarakan di Hotel Gren Alia, Cikini, Jakarta, pada 23-25 Juli mendatang. Sejumlah pakar lingkungan hidup dan para ulama NU itu akan dilibatkan dalam pembahasannya.

Secara umum, kata Avianto, halaqah tersebut dilakukan untuk membuat konsep penanggulangan dan pengurangan risiko bencana alam ala NU. Pasalnya, ujarnya, selama ini penanggulangan bencana, apalagi di kalangan NU, lebih bersifat umum.

“CBDRM NU ingin mengembangkan konsep penanggulangan bencana berbasis masyarakat dalam perspektif NU. Nuansa NU dan Islam ingin ditonjolkan dalam upaya mencari bentuk khusus, sehingga berbeda dengan kelembagaan dan konsep bencana yang dilakukan organisasi lain,” terang Avianto.

Hari Santri 2019

Ia menambahkan, target khusus yang ingin dicapai melalui halaqah tersebut adalah terciptanya rumusan-rumusan tentang penanganan bencana dengan pendekatan Islam dan NU. Rumusan itu kemudian akan diwujudkan dalam sebuah buku panduan yang dapat dijadikan sandaran pengetahuan, pemahaman, dan konsep dasar operasional penanggulangan bencana yang akan dilakukan masyarakat NU.

Perspektif Islam dan NU, lanjutnya, adalah dengan menjadikan teks suci agama (nash) sebagai sandaran utama, sekaligus menjadi kekuatan tradisi NU dan khazanah lokal sebagai sandaran operasional. “Penanggulangan bencana dalam perspektif Islam dan NU, selama ini belum ada. Kalau pun ada hanya bersifat konsep dan belum operasional,” tandasnya. (rif)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen, AlaNu, Tegal Hari Santri 2019

Minggu, 24 Desember 2017

Mendes: Kiai Kampung Miliki Peran Strategis Membangun Desa

Palembang, Hari Santri 2019. Peran kiai kampung dan? tokoh NU di pedesaan sangat dibutuhkan untuk turut serta mendorong kebijakan terkait pembangunan desa agar bisa berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Mendes: Kiai Kampung Miliki Peran Strategis Membangun Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes: Kiai Kampung Miliki Peran Strategis Membangun Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes: Kiai Kampung Miliki Peran Strategis Membangun Desa

Demikian disampaikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar saat memberikan sambutan di depan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (28/3).

?

"Kiai-kiai kampung bisa melakukan peran itu, karena selama kiai-kiai kampung secara informal telah berperan sebagai pemimpin dan tokoh panutan bagi masyarakat sekitarnya," tandasnya.

Hari Santri 2019

Sebagai pemimpin dan tokoh panutan masyarakat di sekitarnya, kiai kampung, menurut Marwan, memiliki peran nyata dalam membantu program pembangunan desa.

Hari Santri 2019

"Pertama, dengan memberikan landasan keagamaan bahwa pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa adalah suatu ibadah jika niatnya untuk kebaikan dunia dan akhirat," ujarnya.

Selain itu, kiai kampung bisa memanfaatkan berbagai forum keagamaan untuk mengajak masyarakat mendukung dan ikut serta dalam pembangunan desa. "Forum-forum keagamaan, seperti istighotsah, pengajian, cukup efektif untuk dijadikan sebagai forum sosialisasi berbagai kebijakan tentang desa," imbuhnya.

?

Kiai kampung, lanjut Marwan, juga bisa berperan aktif dalam musyawarah desa khususnya dalam perumusan perumusan rencana pembangunan jangka pajang desa (RPJMDes), rencana kerja pemerintah desa (RKPDes), dan anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes).

"Kiai kampung juga bisa mendorong beberapa kader NU untuk menjadi tenaga pendamping desa melalui proses rekrutmen terbuka yang diselenggarakan pemerintah," ujar Menteri Marwan.

Kiai kampung yang tentunya sudah banyak mengenal tentang potensi desa, menurut Menteri Marwan, juga bisa berperan aktif dalam pemberdayaan ekonomi desa melalui pembentukan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). "Terakhir para kiai kampung juga bisa membangun silaturrahim dan sinergi dengan elemen masyarakat lainnya untuk mengawasi penggunaan dana desa agar sesuai dengan alokasinya dan mampu memberikan manfaat nyata bagi kemajuan desan dan kesejahteraan masyarakat," tandasnya.

Ia mendorong Nahdlatul Ulama sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia bersinergi dengan pemerintah untuk membantu mendorong pembangunan desa-desa mandiri dan berkelanjutan yang memiliki ketahanan social, ekonomi, dan lingkungan. Menurutnya, peran masyarakat seperti NU sangat dibutuhkan dalam mengimplementasikan UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa yang mengamanatkan bahwa pembangunan desa ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat desa.

"Dalam konteks NU, partisipasi dalam pembangunan desa mengandung tanggung jawab sosial yang besar karena warga NU yang jumlahnya mencapai 50 juta orang mayoritas tinggal di pedesaan, dan secara social ekonomi masih sangat membutuhkan pemberdayaan untuk meningkatkan kesejahteraannya," tutup Menteri Marwan. (Red: Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian, Nasional, AlaNu Hari Santri 2019

500 Guru NU Ikuti Sosialisasi Kurikulum 2013

Jepara, Hari Santri 2019. Sebanyak 500 guru Kelompok Kerja Madrasah Tsanawiyah (KKMTs) 02, kumpulan MTs yang bernanung di LP Maarif NU Jepara mengikuti Sosialisasi Kurikulum 2013 yang dilaksanakan di MTs Mathalibul Huda Mlonggo Jepara, Senin-Selasa (13-14/1).

Kegiatan yang diikuti perwakilan 57 MTs tersebut prosesi pembukaannya berlangsung di gedung MWCNU Mlonggo Senin (13/1). Kegiatan yang berlangsung 2 hari fokus 10 mata pelajaran. 5 mapel agama (al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, SKI, Fikih dan Bahasa Arab) dan 5 mapel umum MTK, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA dan IPS.

500 Guru NU Ikuti Sosialisasi Kurikulum 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
500 Guru NU Ikuti Sosialisasi Kurikulum 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

500 Guru NU Ikuti Sosialisasi Kurikulum 2013

Ketua KKMTs 02, Fatkhul Huda, yang diwakili A Taufiq, bidang pengembangan dan kurikulum KKMTs 02 mengatakan kegiatan bertujuan untuk membekali guru-guru menghadapi kurikulum 2013.

Hari Santri 2019

Selain itu, lanjutnya untuk memperdayakan guru Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) agar menjadi guru profesional. “Dalam sosialisasi ini peserta juga diberikan bimbingan teknik perangkat pembelajaran dan peer teaching sehingga mereka langsung bisa praktik pra pelaksanaan kurikulum 2013,” imbuhnya.? ?

Kegiatan sosialisasi tersebut difasilitasi guru inti MGMP yang sudah mengikuti kurikulum 2013. Kemudian mereka diberdayakan sebagai fasilitator. Adapun materi yang disampaikan kepada peserta diantaranya perubahan mindset sistem pengajaran, sistem penilaian, perangkat pembelajaran, regulasi manajemen pendidikan, pembekalan pengawas dan evaluasi pengajaran.

Hari Santri 2019

Taufiq menambahkan kurikulum 2013 lebih ditekankan pada pendidikan karakter. Semisal pendidikan kewarganegaraan (PKn) ditambah 3 JTM sebelumnya 2 JTM. Harapannya, siswa menjadi cerdas secara intelektual, spiritual dan sosial.

Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jepara, H Muhdi Zamru menyampaikan agar peserta lebih siap dalam menghadapi kurikulum 2013. Sebab kurikulum 2013 rencananya akan diberlakukan serentak tahun ajaran baru 2014/ 2015, Juli mendatang. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)? ? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ulama, AlaNu, Nahdlatul Hari Santri 2019

Selasa, 28 November 2017

Menpora Buka Kejuaraan Dunia dan Festival Pencak Silat Ke-17

Jakarta, Hari Santri 2019 - Menpora Imam Nahrawi bersama Ketua PB IPSI Prabowo Subianto berupaya membawa pencak silat agar dapat dipertandingkan di Olimpiade. Imam Nahrawi secara jelas mengemukakan hal ini saat membuka Kejuaraan Dunia dan Festival Pencak Silat ke-17 sekaligus membuka Munas Ke-14 PB IPSI di Gelanggang Olahraga Lila Bhuana Denpasar, Bali, Sabtu (3/12) malam.

Menurut Menpora, memasukan pencak silat ke Olimpiade memerlukan proses panjang dan tidak mudah, salah satunya harus mendapatkan dukungan sedikitnya dari 70 negara anggota IOC yang memiliki federasi cabang pencak silat.

Menpora Buka Kejuaraan Dunia dan Festival Pencak Silat Ke-17 (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora Buka Kejuaraan Dunia dan Festival Pencak Silat Ke-17 (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora Buka Kejuaraan Dunia dan Festival Pencak Silat Ke-17

"Konsen Presiden Persilat Prabowo agar pencak silat road to UNESCO harus kita seriusi kembali agar jatidiri dan eksistensi pencak silat semakin jelas. Pencak silat bukan hanya urusan olahraga melainkan juga urusan kebudayaan. Pencak silat adalah olahraga asli Indonesia. mengampanyekan dan mengembangkannya adalah konsen kita semua tidak hanya IPSI dan pemerintah tetapi kita semua, melalui film salah satunya," tambahnya.

Kejuaraan yang digelar hingga 9 Desember mendatang ini akan mempertandingkan 24 nomor yang terdiri atas 18 nomor olahraga dan 6 nomor seni. Pertandingan ini diikuti ratusan atlet dari 40 negara di dunia, antara lain dari Perancis, Italia, Belanda, Jerman, Belgia, Australia, Arab Saudi, Palestina, Brasil, Kanada, dan Amerika Serikat.

Hari Santri 2019

Ketua Pelaksana Eddy Prabowo menyampaikan, dalam kejuaraan ini Indonesia menjadi tuan rumah kelima kalinya. "Pencak silat adalah budaya dan olahraga asli Indonesia yang semakin bertambah penggemarnya di seluruh dunia. Dalam kejuaraan ini sebanyak 40 negara akan ikut berpartisipasi dengan 533 atlet dan ofisial bersaing menjadi yang terbaik dari 24 cabang olahraga," kata Eddy.

Kontingen tuan rumah sendiri diperkuat sebanyak 30 atlet yang akan unjuk prestasi dan membela timnas Pencak Silat Indonesia dalam ajang yang bertajuk Pencak Silat Menembus Dunia, tambahnya.

Hari Santri 2019

Pembukaan ini berlangsung sangat menarik dengan memadukan unsur kebudayaan, kesenian, tari-tarian, dan olahraga-olahraga tradisional.

Hadir dalam pembukaan ini Asdep Pengembangan Olahraga Tradisional dan Layanan Khusus Bayu Rahadian, Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta, Ketua PB IPSI selaku Presiden Persilat Prabowo Subianto, Ketua Pelaksana Eddy Prabowo, dan Wakil Ketua KONI Pusat Suwarno. (Ben/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tegal, Hikmah, AlaNu Hari Santri 2019

Senin, 27 November 2017

Harapan Sinta Nuriyah Pada Pemimpin Terpilih NU

Jombang, Hari Santri 2019?

Ibu negara ke-4 Republik Indonesia, Sinta Nuriyah Wahid pada peringatan ulang tahun KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) ke-75 mempunyai harapan kepada pemimpin terpilih Nahdlatul Ulama (NU) di muktamar ke 33. ?

"Semoga pada Muktamar ke-33 NU ini mampu memilih pemimpin amanah yang mampu membawa kebaikan dan kemajuan NU, terutama warganya," kata Sinta Nuriyah Wahid, di Jombang, Jawa Timur (5/8).

Harapan Sinta Nuriyah Pada Pemimpin Terpilih NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Harapan Sinta Nuriyah Pada Pemimpin Terpilih NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Harapan Sinta Nuriyah Pada Pemimpin Terpilih NU

Ia juga berharap, pemimpin NU dihasilkan pada Muktamar NU ke - 33 bisa meneruskan perjuangan dan gagasan Gus Dur.

Sebelumnya, sekira pukul 20.30 WIB, Selasa (4/8) malam, kurang lebih 50 anak muda tergabung dalam Jaringan GUSDURian melaksanakan acara ulang tahun ke-75 Gus Dur.

Hari Santri 2019

Acara bertempat di kawasan jalan Juanda, Kepanjen tersebut, dihadiri Sinta Nuriyah Wahid dan putri bungsunya Inayah Wahid, berlangsung sederhana , khidmat dan tak jarang diselipi joke-joke khas Gus Dur.?

Sebelum meniup lilin, Sinta Nuriyah Wahid mewejang anak-anak muda tersebut untuk terus meneladani ? Gus Dur, sekaligus meneruskan perjuangannya.

Hari Santri 2019

Diiringi nyanyian "Happy Birthday" bersama-sama, Sinta Nuriyah Wahid meniup lilin bermotif logo Jaringan GUSDURian. Inayah kemudian memotong kue dan memberikannya ke ibunya, Sinta Nuriyah.

"Ini kue untuk Gus Dur, karena secara fisik tidak hadir, maka mama yang menerima," ujar Inayah disambut tepuk tangan hadirin.

Diakhir acara, 33 balon dilepas ke udara oleh Sinta Nuriyah Wahid disaksikan hadirin yang hadir.

Kelima puluh anak muda yang hadir ini datang dari Surabaya, Jombang, Malang, Sidoarjo, Gresik, dan Purwokerto. Ada juga yang berasal dari Kebumen, Banyumas, Yogyakarta, Cirebon, Jakarta, Kendal, dan ? Madiun.

"Pertemuan ini sekaligus silaturahmi setelah sebelumnya ratusan anggota GUSDURian dibawah pimpinan Alissa Wahid ikut serta dalam Musyawarah Kaum Muda NU di Tambakberas kemarin," kata Aan Anshori, penggerak Jaringan GUSDURian Jombang. (Gatot Arifianto/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu Hari Santri 2019

Jumat, 10 November 2017

Gus Mus: Pemimpin Mesti Mencintai dan Dicintai Rakyat

Rembang, Hari Santri 2019. Wakil Rais Aam PBNU KH Musthofa Bisri membeberkan keriteria pemimpin yang sangat dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini. Menurut pengasuh Pesantren Raudlotul Tholibien ini, pemimpin yang dibutuhkan adalah mereka yang bisa dicintai dan mengayomi rakyatnmya.

Kiai yang akrab dipanggil Gus Mus itu menjelaskan, pemimpin harus mencintai dan dicintai masyarakatnya. Ia tidak menyebut kandidat atau calon pemimpin tertentu. Yang jelas pemimpin itu harus amanah, dapat dipercaya dan kuat.

Gus Mus: Pemimpin Mesti Mencintai dan Dicintai Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Pemimpin Mesti Mencintai dan Dicintai Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Pemimpin Mesti Mencintai dan Dicintai Rakyat

Hal tersebut dikatakan kepada sejumlah awak media di sela sela menerima kedatangan Anies Baswedan di kediamanya di Jalan Bisri Musthofa Leteh, Rembang, Jawa Tengah, Selasa (24/12).

Hari Santri 2019

Gus Mus menambahkan, pemimpin yang cinta terhadap rakyat pastilah mau melakukan apa saja untuk yang mereka cintai (rakyatnya). Dan kecintaan rakyat terhadap pemimpinya merupakan dukungan yang mampu membuat seorang pemimpin kuat dalam menghadapi segala hal.

Terlepas dari keriteria seorang pemimpin yang seperti itu, Gus Mus menyebut Anies Baswedan mewakili generasi muda. Dirinya mengaku mendukung peremajaan pemimpin di Indonesia. Gus Mus sangat setuju jika ada orang muda yang maju untuk sesuatu yang baik. Para pemuda dinilai bisa memberi angin segar bagi dalam roda pemerintahan, pasalnya energi yang dimiliki masih belum tercemar.

Hari Santri 2019

Tetapi, menurut ulama yang juga sastrawan itu, ada yang sedikit payah belakangan ini. Mereka yang sudah duduk di pemerintahan seringkali ingin bertahan lama menduduki kursi jabatannya meski usia dan tenaga sudah renta.

Gus Mus juga menyebut warga negara Indonesia termasuk warga yang paling baik. Mayoritas dari mereka masih mau membayar pajak, menaati peraturan, dan datang mencoblos dalam setiap musim pemilu. Seorang pemimpin menjadi wajib, dengan membalas kebaikan rakyatnya dengan sebaik baiknya.

Dalam kesepatan itu, Gus Mus juga mengajak kepada seluruh elemen bangsa agar menanamkan pola hidup sederhana. Sebab, jelasnya, kecintaan terhadap materi secara berlebihan bisa membuat seseorang nekat melakukan kejahatan, termasuk perampokan uang rakyatnya. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Amalan, AlaNu, Ahlussunnah Hari Santri 2019

Kamis, 02 November 2017

Apakah Sama Tabaruk Kepada Nabi dan Kiai?

Bertabaruk kepada Rasulullah SAW sudah sangat jelas tuntunanya dalam hadits. Bahkan beberapa sahabat telah mencontohkan berbagai cara untuk bertabaruk kepada Rasulullah SAW.

Ada beberapa hadits yang menjelaskan sifat dan macam-macam tabaruk sahabat kepada Rasul SAW. Ada sahabat yang bertabaruk dengan tubuh Rasul sebagaimana yang dilakukan oleh Aisyah (HR Bukhari-Muslim), rambut Rasul sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Thalhah (HR Muslim), liur Rasul sebagaimana dilakukan Asma binti Abu Bakar (HR Bukhari-Muslim), keringat Rasul sebagaimana yang dilakukan Ummu Salim dan hal itu diafirmasi kebenarannya oleh Rasul (HR Muslim), bahkan barang-barang yang pernah disentuh Rasul pun dijadikan tabaruk oleh sahabat, salah satunya adalah minuman (HR Bukhari dalam Kitab Al-Asyribah).

Apakah Sama Tabaruk Kepada Nabi dan Kiai? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apakah Sama Tabaruk Kepada Nabi dan Kiai? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apakah Sama Tabaruk Kepada Nabi dan Kiai?

Tetapi, bolehkah kita menggunakan cara tabaruk yang dilakukan para sahabat kepada Rasulullah SAW dengan tabaruk kita kepada para kiai dan guru-guru kita? Apakah bisa disamakan antara bertabaruk dengan Rasulullah SAW dan bertabaruk (ngalap berkah) dengan orang saleh zaman sekarang seperti kiai? Mengingat derajat antara kiai dan Nabi sangat berbeda jauh.

Hari Santri 2019

Imam An-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim menjelaskan bahwa hadits-hadits di atas merupakan dalil kebolehan untuk tabarruk dengan bekas orang saleh. Tentunya kiai juga merupakan orang saleh. Sah-sah saja kita untuk bertabaruk kepada para kiai sebagaimana para sahabat bertabaruk kepada Rasulullah SAW.

Bahkan Ibnu Hibban dalam Sahih-nya membuat dua bab khusus yang menjelaskan kebolehan bertabaruk dengan orang saleh dan ahli ilmu. Dua bab itu adalah

? ? ? ? ? ? ?

Hari Santri 2019

Artinya, “Bab menjelaskan kesunahan bagi seseorang untuk bertabaruk dengan orang saleh dan orang yang serupa dengan orang saleh.”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Bab menjelaskan tentang kebolehan bertabaruk dengan wudhunya orang saleh yang merupakan bagian dari ahli ilmu jika mereka mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah.”

Dari dua bab di atas, Ibnu Hibban ingin menyebutkan bahwa bertabaruk seperti yang dilakukan oleh para sahabat kepada Rasul itu boleh dilakukan oleh orang lain kepada orang yang saleh asalkan orang tersebut menjalankan sunah-sunah Rasulullah SAW.

Ibnu Hibban dalam bab pertama yang saya sebutkan menjelaskan sebuah hadits tentang anjuran Rasul untuk bertabaruk kepada orang yang lebih tua.

? ? ?

Artinya, “Keberkahan itu terdapat pada orang-orang yang lebih tua (lebih berilmu) dari kalian.”

Hadits di atas dinyatakan sahih oleh Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak alas Sahihain-nya dan menyatakan bahwa hadits di atas sahih sesuai dengan syarat Bukhari.

Makna lebih tua dalam hadits di atas bukan cukup lebih tua secara umur akan tetapi lebih ahli secara ilmu. Jika ada anak kecil yang lebih berilmu dan mumpuni, maka anak kecil tersebut juga termasuk akabir dalam hadits di atas. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al-Minawi dalam kitab Faidhul Qadir-nya.

Dalam prespektif Ibnu Hibban ini, tentu seorang kiai yang setiap harinya mengajarkan agama dan ilmu-ilmu keislaman kepada para santrinya bisa dikategorikan sebagai orang saleh yang mengikuti sunah Rasul. Dan bukan haram, bidah, bahkan musyrik untuk ngalap barakah kepadanya.

Memang beberapa ulama mengatakan bahwa tabaruk yang dilakukan sahabat kepada Rasul itu tidak bisa disamakan dengan bertabaruk kepada orang saleh lain selain Rasul. Pendapat ulama ini bertujuan untuk berhati-hati agar tidak terjadi perbuatan syirik dan ghuluw (perbuatan kelewat batas). Jika tidak terjadi demikian ketika bertabaruk kepada orang saleh yang lain seperti kiai, maka hal itu tentu diperbolehkan. Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Meme Islam, AlaSantri, AlaNu Hari Santri 2019

Rabu, 01 November 2017

Pembangunan Kantor PWNU Sumut Sudah 80 Persen

Medan, Hari Santri 2019

Pembangunan Kantor baru Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera utara yang beralamat di Jalan Sei Batang Hari No 52 Medan sudah mencapai 80 persen.



Pembangunan Kantor PWNU Sumut Sudah 80 Persen (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembangunan Kantor PWNU Sumut Sudah 80 Persen (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembangunan Kantor PWNU Sumut Sudah 80 Persen

Hal itu disampaikan oleh Sekretaris PWNU Sumut Drs Misran Sihaloho MSi kepada sejumlah wartawan, Sabtu (6/6) di lokasi pembangunan Kantor baru PWNU Sumut, seperti dilaporkan kontributor Hari Santri 2019 Muhammad Safii Sitorus.

Misran menjelaskan pembangunan Kantor PWNU Sumut diawali dengan peletakan batu pertama oleh Ketua Umum PBNU DR KH Hasyim Muzadi pada Juli 2007 lalu usai melantik PWNU Sumut di bawah kepemimpinan H Ashari Tambunan masa bhakti 2007-2012.

Hari Santri 2019

Dijelaskan Misran pembangunan Kantor PWNU tersebut berdiri diatas tanah 10X37 M2 atas sumbangan keluarga besar Alm H Djamaluddin Tambunan dan Keluarga Alm H Usman Siregar.

Hari Santri 2019

”Kantor PWNU Sumut ini berjumlah 3 lantai, yang peruntukannya adalah lantai I untuk administrasi, ruangan Mustasyar dan Musholla.Lantai II ruang Tanfidziyah, Syuriyah, lembaga dan badan otonom PWNU Sumut. Sedangkan lantai III merupakan Aula pertemuan yang bisa menampung 300 warga Nahdiyin,” ujar Misran.

Dana yang digunakan untuk pembangunan Kantor PWNU Sumut iniberjumlah Rp1,5 Milyar yang berasal dari sumbangunan dari warga Nahdlyin dan Pemerintah Propinsi Sumatera utara (Pemrovsu).

”Insya Allah pembangunan kantor ini selesai pada akhir Agustus 2009 ini. Diharapkan dengan beroperasinya Kantor PWNU Sumut ini seluruh aktivitas organisasi dapat dijalankan dengan baik sehingga program-program bisa berjalan dengan lancar sesuai dengan cita-cita kepengurusan yang dilantik pada Juli 2007 lalu,” ujar Misran.

Misran mengungkapkan keberadaan Kantor baru PWNU Sumut ini akan menjadi ruh baru dan semangat baru bagi warga Nahdliyin di Sumut serta menunjukkan bahwa  sesungguhnya NU di Provinsi memiliki pengaruh yang cukup besar bagi kemajuan dan pembangunan di Sumut.

”Terlaksananya pembangunan Kantor baru PWNU Sumut ini tidak lepas dari doa dan dukungan dari warga Nahdliyin Sumut. Oleh karenanya PWNU Sumut mengharapkan doanya juga agar proses pembangunan selesai sesuai dengan waktu yang telah direncakan,” demikian Misran. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu Hari Santri 2019

Jumat, 27 Oktober 2017

Mahasiswa Indonesia Raih Summa Cum Laude di Maroko

Menkes, Hari Santri 2019. Di penghujung tahun 2012, negeri terbenamnya matahari, Maroko. Kembali melahirkan seorang doktor untuk Indonesia. Jum’at sore, 21 Desember 2012 bertempat di auditorium Az-Ziyani, Fakultas Sastra dan Humaniora, Universitas Moulay Ismail-Meknes. Sekitar pukul 15.30 waktu setempat, digelar sidang disertasi doktoral Ust. M Helmi Basri, MA.

Tema disertasi yang diujikan ialah tentang maqasid syariah, dengan judul " At-Taamul al Maqaasidy maa as-Sunah an-Nabawiyah wa Tanziiluhu ala Badli al-Waqaaii al-Muaashiroh fi Indonesia" (Interaksi Maqasid terhadap Sunnah Nabawiyah dan Pengaplikasiannya terhadap beberapa Realita Kontemporer di Indonesia) dengan didampingi tiga tim penguji.

Mahasiswa Indonesia Raih Summa Cum Laude di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Indonesia Raih Summa Cum Laude di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Indonesia Raih Summa Cum Laude di Maroko

"Team penguji terdiri dari tiga orang, yakni Dr Mohammed As-Saisie (ketua), Dr Farid Syukri (anggota), dan Dr Moulay Umar Bin Hammad (anggota). Sedangkan sebagai pembimbing yakni Dr Khalid Muqali," ujar Herdiyansah Amran salah satu mahasiswa Indonesia di Maroko yang menghadiri acara tersebut.

Hari Santri 2019

Sidang juga dihadiri oleh Pelaksana Pensosbud KBRI Rabat, Suparman Hasibuan, serta sejumlah perwakilan anggota PPI Maroko dari tiap-tiap daerah masing-masing. Diantaranya, dari kota Rabat, Casablanca, Mohammedia, Kenitra, Fes, dan dari kota Meknes sendiri. Tampak pula sebagian mahasiswa Maroko juga ikut menghadiri acara tersebut.

Hari Santri 2019

Sidang disertasi yang berjalan cukup menarik dan sedikit menegangkan ini, berjalan lancar dan sukses. Walau ada beberapa kritikan dari dewan penguji, namun Ust. Helmi Basri, MA. berusaha mempertahankan apa yang beliau tulis dalam disertasinya.?

Setelah break sejenak untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah, acara dilanjutkan dengan pembacaan hasil keputusan sidang. Dalam keputusan ini, dewan penguji menganugerahkan predikat "Summa Cum Laude" (Musyarrof Jiddan) kepada Dr Helmi Basri, MA.

Herdi juga mengatakan bahwa, dengan gelar Doktor yang diraih oleh Ust. Helmi Basri sore kemarin. Maka, selama tahun 2012 ini, Maroko telah menelorkan sebanyak 11 serjana-serjana muda untuk tanah air tercinta. Dengan rincian 6 orang Strata 1 (LC), 3 orang Strata 2 (Master), dan 2 Orang Strata 3 (Doktor).

Dalam kesempatan, ini ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko H Habib Chairul M, Lc. Serta anggota PPI Maroko dan warga Indonesia di Maroko memberikan apresiasi yang sangat besar kepada Ust, Helmi Basri.

Ketua PPI Maroko H.Habib Chairul M, Lc. Menyampaikan bahwa hal ini tentu menjadi kebanggan kita bersama sebagai bangsa Indonesia. Semoga dengan semakin banyaknya alumni lulusan Negeri Maghribi ini, dapat menambah warna baru dalam khazanah keilmuan dan pemikiran keislaman di tanah air. Amiin.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Kusnadi El-Ghezwa?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Aswaja, Pendidikan, AlaNu Hari Santri 2019

Minggu, 10 September 2017

200 Santri Masuk Final Musabaqoh Kitab Kuning PKB

Jakarta, Hari Santri 2019. Sekitar 200 santri putra dan putri dari seluruh pesantern Indonesia lolos ke final Musabaqoh Kitab Kuning (MKK) Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa Partai Kebangkitan Bangsa. Santri-santri tersebut sebelumnya telah melewati babak penyisihan tingkat kabupaten atau kota dan semifinal tingkat provinsi.

Final yang digelar di Graha Gus Dur kantor DPP PKB dan gedung PBNU pada Jumat-Sabtu (21-22/7) itu terbagi ke dalam dua kategori yaitu tingkat ula dan ulya. Untuk ula, mereka mereka dites kitab Fathul Qorib dan Nadham Imrithi sedangkan kelompok ulya adalah Ihya Ulumiddin dan Nadham Alfiyah Ibnu Malik. 

200 Santri Masuk Final Musabaqoh Kitab Kuning PKB (Sumber Gambar : Nu Online)
200 Santri Masuk Final Musabaqoh Kitab Kuning PKB (Sumber Gambar : Nu Online)

200 Santri Masuk Final Musabaqoh Kitab Kuning PKB

Ketua Umum DKN Garda Bangsa Cucun A. Syamsul Rijal mengatakan Musabaqoh Kitab Kuning kembali digelar dalam rangka merawat tradisi intelektual yang selama ini berkembang di pesantren.

“Musabaqoh Kitab Kuning ini wajib dijaga dan dilestarikan sebagai tradisi intelektual pondok pesantren dalam rangka mengembangkan Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah,” kata Cucun.

Hari Santri 2019

Musabaqoh ini, lanjut Cucun, juga diselenggarakan untuk ikut serta mensyukuri Harlah ke-19 PKB.(Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Ahlussunnah Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Rabu, 28 Juni 2017

Hukum Berikan Uang Belanja Lebih Kepada Istri di Bulan Ramadhan

Assalamu’alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Hari Santri 2019 yang terhormat. Sudah dua kali bulan puasa ini saya dan istri mengalami sedikit ketegangan. Pasalnya setiap bulan puasa istri saya meminta uang belanja ditambahi alasan yang dikemukakan adalah kebutuhan kalau bulan Ramdhan itu meningkat. Padahal semestinya di bulan Ramadhan berhermat, bukan malah bersikap boros dan kadang membeli hal-hal yang tidak penting.

Hukum Berikan Uang Belanja Lebih Kepada Istri di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Berikan Uang Belanja Lebih Kepada Istri di Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Berikan Uang Belanja Lebih Kepada Istri di Bulan Ramadhan

Yang ingin saya tanyakan di sini adalah apakah hukum memberikan uang belanja lebih pada saat bulan Ramadhan? Mohon tanggapan dan jawabannya. Terima kasih. Wassalamu’alaikum wr. wb. (Ali Ihsan/Bandung).

Jawaban

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Hari Santri 2019

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Sebagaimana yang telah kita bersama bahwa tanggung jawab seorang suami kepada keluarganya adalah memberikan nafkah. Termasuk di dalamnya adalah memberikan uang belanja untuk memenuhi kebutuhannya. Antara satu keluarga dengan yang lainnya tentu berbeda-beda kebutuhannya.

Namun pada bulan puasa Ramadhan yang merupakan bulan penuh kemulian ini memang ada anjuran untuk memberikan lebih dari biasanya. Inilah yang kami pahami dari pernyataan Al-Mawardi sebagaimana dikemukakan Muhyiddin Syaraf An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzddzab berikut ini;

Hari Santri 2019

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Al-Mawardi berpendapat bahwa dianjurkan bagi seorang suami untuk memberikan lebih dalam menyuplai kebutuhan keluarganya pada bulan Ramadhan, berbuat kebajikan kepada sanak-famili, dan tetangganya, terlebih pada sepuluh akhir bulan Ramadhan,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Kairo-Darul Hadits, 1421 H/2010 M, juz VII, halaman 576).

Dari apa yang dikemukakan Al-Mawardi ini kita dapat memahami bahwa sebagai suami yang notabenenya adalah keluarga dianjurkan untuk untuk memberikan lebih dalam hal pemenuhan kebutuhan keluarganya di bulan Ramadhan.

Dari sini kemudian kita bisa memahami bahwa memang dianjurkan bagi suami untuk memberikan uang belanja lebih kepada keluarganya pada bulan Ramadlan. Bahkan juga berbuat kebajikan kepada kerabat dekat dan tetangga terlebih pada sepuluh akhir bulan Ramadhan.

Pemberian lebih, berbuat kebajikan kepada kerabat dan tetangga dalam pemahaman kami adalah termasuk kategori sedekah. Hal ini didasarkan kepada hadits yang menyatakan bahwa sedekah pada bulan Ramadhan itu lebih utama.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ?)

Artinya, “Dari Anas ra ia berkata, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya apakah sedekah yang paling utama? Beliau SAW pun menjawab, ‘Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadhan,’” (HR Al-Baihaqi).

Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Bagi para istri yang di bulan Ramadhan ini jika menerima uang belanja lebih dari suaminya sudah semestinya tidak menggunakan untuk hal-hal yang tidak perlu atau mubadzir karena bertentangan dengan semangat puasa itu sendiri. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu Hari Santri 2019

IPPNU Putuskan Delapan Rekomendasi Bagi Pemerintah

Palembang, Hari Santri 2019. Sidang komisi C Kongres IPPNU XVI memutuskan delapan rekomendasi yang akan ditujukan kepada pemerintah dan lembaga negara. Delapan rekomendasi hasil sidang komisi berbunyi antara lain:

IPPNU Putuskan Delapan Rekomendasi Bagi Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Putuskan Delapan Rekomendasi Bagi Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Putuskan Delapan Rekomendasi Bagi Pemerintah

1.Peninjauan kembali terhadap sistem standardisasi kelulusan.

2.Pemerataan program beasiswa Kementrian Agama.

Hari Santri 2019

3.Implementasi nilai karakter dalam kurikulum sekolah.

4.Penolakan terhadap tayangan televise yang tidak mendidik.

Hari Santri 2019

5.Pemberantasan NAFZA dan pornoaksi/pornografi.

6.Pro-kontra teknologi informasi dalam menunjang pendidikan dan kepelajaran.

7.Deradikalisasi pelajar dengan memperteguh ahlusunah wal jamaah dan wawasan kebangsaan.

8.Pendidikan politik bagi para pelajar sebagai pemilih pemula.

Sidang komisi C ini diikuti oleh sedikitnya seratus delapan puluh peserta sidang dari cabang IPPNU se-Indonesia. Sidang komisi C berlokasi di aula Gedung Muzdalifah, Asrama Haji Palembang, jalan H. Barlian KM. 9, Palembang, Ahad (2/12) malam.

“Sidang dimulai agak larut malam. Sekitar setengah sepuluh Ahad malam, sidang baru berjalan,” kata Najhah Barnamij, bendahara PC IPPNU Kabupaten Cirebon kepada Hari Santri 2019, di lobi Gedung Mekkah, kompleks Asrama Haji Palembang, Senin (3/12) siang.

Menurutnya, sidang komisi C berlangsung hingga pukul setengah satu. Suasana sidang cukup hangat. Peserta sidang membahas satu per satu draft rekomendasi dengan cermat. Mereka mengerahkan segala kekuatan intelektualitas mereka dalam menggodok rancangan rekomendasi.

“Saya sendiri mengusulkan penyisipan isu seks bebas di dalam klausul butir kelima. Tetapi usulan itu dimentahkan oleh forum sidang,” kata Najhah yang mewakili cabang IPPNU kab. Cirebon untuk sidang komisi C.

Penolakan forum terhadap usulan saya, tidak disertai argumentasi. Saya menghendaki usulan tersebut untuk dikaji lebih jauh. Karena, seks bebas di kalangan pelajar juga berhubungan dengan isu kekinian, tandasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis    : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Santri, Internasional Hari Santri 2019

Senin, 29 Mei 2017

Pelopor Penerjemahan Al-Qur’an

Peran Kiai Soleh Darat dalam menyebarkan Islam tak hanya semasa hidupnya maupun warisan pesantrennya. Sebab murid-muridnya adalah para pendiri organisasi Islam, pengasuh pesantren dan pendakwah agama yang terus menghasilkan kader-kader da’i berikutnya. Sampai akhir zaman. ?

Wali ini yang hidup sezaman dengan dua waliyullah besar lainnya, Syekh Nawawi Al-Bantani dan Kiai Kholil Bangkalan, Madura ini disebut sebagai gurunya para ulama tanah Jawa.?

Pelopor Penerjemahan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelopor Penerjemahan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelopor Penerjemahan Al-Qur’an

Murid-muridnya itu, diantaranya, KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan Syaikh Mahfudh Termas Pacitan (pendiri Pondok Pesantren Termas), KH Idris (pendiri Pondok Pesantren Jamsaren Solo), KH Sya’ban (ahli falak dari Semarang), Penghulu Tafsir Anom dari Keraton Surakarta, KH Dalhar (pendiri Pondok Pesantren Watucongol, Muntilan), KH Munawir (Krapyak Yogyakarta), KH Abdul Wahab Chasbullah Tambak Beras Jombang, KH Abas Djamil Buntet Cirebon, KH Raden Asnawi Kudus, KH Bisri Syansuri Denanyar Jombang dan lain-lainnya. Para murid itu ada yang belajar pada Kiai Soleh Darat sewaktu masih di Mekah maupun setelah di ? Semarang.?

Hari Santri 2019

”Bisa dikatakan, Kiai Soleh Darat adalah embahnya para ulama di Jawa, karena menjadi guru dari guru ulama yang ada sekarang,” terang KH Ahmad Hadlor Ihsan, mantan Rois Syuriyah PCNU Kota Semarang yang juga pengasuh Ponpes Al-Islah Mangkang, Tugu, Semarang. ?

Semasa hidupnya, selain mengajar masyarakat awam, Kiai Soleh Darat juga aktif mengisi pengajian di kalangan priyayi. Di antara jamaah pengajiannya adalah Raden Ajeng Kartini, anak Bupati Jepara.?

Hari Santri 2019

RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Al-Qur’an. Ketika mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak yang bupatinya adalah pamannya sendiri, RA Kartini sangat tertarik dengan Kiai Soleh Darat. ? Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.?

RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Al-Quran diterjemahkan. Karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an. Dan para ulama waktu juga mengharamkannya. Mbah Shaleh Darat menentang larangan ini.? Karena permintaan Kartini itu, dan panggilan untuk berdakwah, beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf ? Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim.

Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.?

Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”?

Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya. Yaitu Surat Al-Baqarah ayat 257 yang mencantumkan, bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur).?

Kartini terkesan dengan kalimat Minadh-Dhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya. ?

Kisah ini sahih, dinukil dari Prof KH Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kiai Soleh Darat.

Dalam surat-suratnya kepada sahabat Belanda-nya, JH Abendanon, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” ini. Sayangnya, istilah “Dari Gelap Kepada Cahaya” yang dalam Bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan Armijn Pane dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini.?

Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Qur’an. Kata “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“ dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan) ke tempat yang terang benderang (petunjuk, hidayah atau kebenaran).

Kitab Tafsir Kiai Soleh itu, walau tidak selesai 30 juz Al-Quran, dicetak pertama kali di Singapura pada tahun 1894 dengan dua jilidan ukuran folio. Sehingga walau pengarangnya telah wafat, pengajian kitab ini jalan terus. Karena referensi pribumi Jawa yang bermukim di tanah melayu. Bahkan kaum muslim di Pattani, Thailand Selatan juga memakai kitab ini.?

Hingga kini Karya-karya Mbah Soleh Darat masih dibaca di pondok-pondok pesantren dan majelis taklim ? di Jawa. Sebagian besar bukunya sampai sekarang terus dicetak ulang oleh Penerbit Toha Putera, Semarang.

Sederhana plus Progresif. Sebagaimana umumnya ulama, Kiai Soleh Darat sangat bersahaja dan tawadhu. Akhlaknya sangat terjaga dari kesombongan. Dalam semua kitabnya, ia selalu selalu merendah dan menyebut dirinya sebagai orang Jawa awam yang tak faham seluk-beluk Bahasa Arab.

Di prolog kitabnya selalu tertulis ? “buku ini dipersembahkan kepada orang awam dan orang-orang bodoh seperti saya”. Dalam pendahuluan Terjemahan Matan al-Hikam terbitan Toha Putra Semarang tertera: “ini kitab ringkasan dari Matan al-Hikam karya al-Allamah al-Arif billah Asy-Syaikh Ahmad Ibnu Atha’illah. Saya ringkas sepertiga dari asal agar memudahkan orang awam seperti saya. Saya tulis dengan Bahasa Jawa agar cepat dipahami oleh orang yang belajar agama atau mengaji”.?

Bahkan, meski beliau keturunan Nabi Muhammad (sayyid/habib), yang nasabnya dari Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) putra Raden Rahmat (Sunan Ampel), hal itu tak pernah dikatakannya. Bagi ? Mbah Soleh, orang dihormati karena ilmu dan amalnya. Bukan garis keturunannya.?

Kiai Soleh Darat selalu menekankan kepada muridnya agar giat menuntut ilmu. Dia berkata: “Inti sari Al-Qur’an adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan akhirat”.

Diperingatkannya, orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan dalam keimanannya, maka akan jatuh pada keyakinan sesat. Sebagai misal, paham kebatinan yang mengajarkan bahwa amal yang diterima Allah adalah amaliyah hati yang dipararelkan dengan paham Manunggaling Kawulo Gusti-nya Syekh Siti Jenar dan berakhir tragis pada perilaku taqlid buta (anut asal ikut).?

”Iman orang taklid tidak sah menurut ulama muhaqqiqin (ahli hakikat),” demikian tegasnya. ? Kata itu tersurat dalam Kitab Tarjamah Sabil al-‘Abid ‘Ala Jauharah al-Tauhid karya Mbah Soleh Darat. Lebih jauh beliau peringatkan masyarakat tak terpesona oleh orang yang mengaku memiliki ilmu hakekat tapi meninggalkan syariat seperti sholat dan amalan fardhu lainnya.? Kemaksiatan berbungkus kebaikan tetap saja namanya kebatilan, demikian inti petuah beliau.

Tauhid yang Tepat? . Kiai Soleh Darat dikenal sebagai ahli ilmu kalam. Ia adalah pendukung teologi Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturudi. Dalam kitab Tarjamah Sabil al-’Abid ‘ala Jauharah at-Tauhid dia mengemukakan penafsirannya atas sabda Rasulillah SAW mengenai terpecahnya umat Islam menjadi 73 golongan sepeninggal Nabi, dan hanya satu golongan yang selamat.

Menurutnya, yang dimaksud Nabi Muhammad SAW dengan golongan yang selamat adalah mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan oleh Rasulillah SAW, yaitu melaksanakan pokok-pokok kepercayaan Ahlussunah Waljamaah Al-Asy’ariyah, dan Maturidiyah.?

Sebagai ulama yang berpikiran maju, ia senantiasa menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras, setelah itu baru bertawakal, menyerahkan semuanya pada Allah. Ia sangat mencela orang yang tidak mau bekerja keras karena memandang segala nasibnya telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Ia juga tidak setuju dengan teori kebebasan manusia yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki atas segala perbuatan.?

Tradisi berpikir kritis dan mengajarkan ilmu agama terus dikembangkan hingga akhir hayatnya.?

Ikon Kota Semarang. Menurut Ketua Pengajian Ahad Pagi KH Muhamamd Muin, Kiai Soleh Darat lahir di Dukuh Kedung Jumbleng Kecamatan Mayong, Jepara, sekitar tahun 1820 (1235 H). ? Beliau wafat di Semarang, tanggal 18 Desember 1903/28 Ramadhan ? 1321 H dalam usia 83 tahun.Kata Darat di belakang nama Kiai Soleh adalah sebutan masyarakat untuk menunjukkan tempat dia tinggal, yakni di Kampung Darat, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara.?

Ayahnya, KH Umar, adalah ulama terkemuka yang dipercaya Pangeran Diponegoro dalam perang melawan Belanda di wilayah pesisir utara. Setelah mendapat bekal ilmu agama dari ayahnya, Soleh kecil mulai mengembara, belajar dari satu ulama ke ulama lain.?

Lalu bersama ayahnya pergi ke Singapura, belanjut pergi haji sekaligus melanjutkan studi di Mekah. Setelah ayahnya wafat di tanah suci, Soleh berhasil mendapat ijazah dari ulama terkemuka di Mekah dan ia lalu ? menjadi guru besar di sana.?

Banyaknya umat yang hadir di haulnya, memang menjadi tengara kebesaran namanya. Tak dapat dipungkiri, ulama besar itu memang telah menjadi ikon Semarang di masa lalu.?

Mengingat beliau termasuk perintis kemerdekaan, tokoh perlawanan terhadap penjajah melalui ilmu pengetahuan, selayaknya diberi gelar Pahlawan sebagaimana sebagian para muridnya.

?

Penulis ? ? : Muhammad ichwan

Redaktur : Syaifullah Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock