Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Usai Gelar Apel Kesetiaan Pancasila, Ansor Bondowoso Konsolidasikan Kekuatan

Bondowoso, Hari Santri 2019. Setelah pagi harinya menggelar apel kesetiaan Pancasila dan NKRI di Lapangan Sekarputih Kecamatan Tegalampel, Bondowoso, Pimpanan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bondowoso kembali mengadakan acara sarasehan Kopi Darat bersama aparat pemerintah setempat di Aula PCNU Bondowoso Jalan KH Agus Salim No. 85 Belindungan Kabupaten Bondowoso Jawa Timur, Rabu (1/06) malam.

Usai Gelar Apel Kesetiaan Pancasila, Ansor Bondowoso Konsolidasikan Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Gelar Apel Kesetiaan Pancasila, Ansor Bondowoso Konsolidasikan Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Gelar Apel Kesetiaan Pancasila, Ansor Bondowoso Konsolidasikan Kekuatan

Acara bertema "Mengejawantahkan Komitmen Kesetiaan Pemuda kepada Pancasila dan NKRI" ini juga diikuti Pimpinan Cabang, Pimpinan Anak Cabang, Satkorcab Banser, Ormas Kepemudaan (OKP) dan OSIS SMA/MA se-Bondowoso.

Hari Santri 2019

Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil menjelaskan, saat ini ada berbagai kelompok, baik dari dalam maupun luar negeri yang ingin mengubah dasar NKRI. Karena itu ia meminta semua elemen bersatu melawan setiap upaya-upaya yang merongrong Pancasila dan NKRI.

Hari Santri 2019

"Bagi kami (GP Ansor) Pancasila itu adalah harga mati, NKRI adalah harga mati bagi Gerakan Pemuda Ansor dan Banser," tegasnya.

Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir mengatakan hal senada. Menurutnya, lahirnya bangsa Indonesia tidak lepas dari peranan tokoh-tokoh NU. Tak hanya menjadi penggerak dalam mempertahankan kemerdekaan, lanjut Dhafir, NU lah organisasi massa pertama yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal Bangsa Indonesia.

" Kesimpulannya, negeri ini sudah bersertifikat atas nama Pancasila dan NKRI. Dan itu sudah final," tandasnya.

Hadir pada acara sarasehan Kopi Darat Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir, Kasdim 0822 Bondowoso, Mayor Mohammad Tohir, Kasat Binmas, AKP Heru Wahyudi. (Ade Nurwahyudi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Aswaja, Nasional, AlaNu Hari Santri 2019

Minggu, 28 Januari 2018

Refleksi Utuh Sesepuh dan Sejarawan NU

Judul Buku : NU dalam Perspektif Sejarah & Ajaran (Refleksi 65 tahun ikut NU)

Penulis : KH. Abdul Muchith Muzadi

Penerbit : Khalista Surabaya

Edisi : 2006

Refleksi Utuh Sesepuh dan Sejarawan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Refleksi Utuh Sesepuh dan Sejarawan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Refleksi Utuh Sesepuh dan Sejarawan NU

Tebal : 173 + x halaman

Peresensi : Rijal Mumazziq Z (Alumnus PP. Mabdaul Maarif Jember)



Hari Santri 2019

DALAM satu kesempatan (yang dinukil kembali dalam salah satu halaman buku ini), KH. Abdul Muchith Muzadi melontarkan parikena yang cukup mengundang senyum namun juga telak menyindir warga NU: “Justru karena besarnya jumlah anggota pengikut, maka NU tidak dapat bergerak maju dengan cepat.”

Itulah sekilas ungkapan khas Kiai Muchith dalam menyampaikan kritikannya, melalui humor cerdas namun telak menyindir obyek kritikan. Begitu pula saat Kiai sepuh ini menyampaikan gagasan-gagasannya, adakalanya dilontarkan dengan gaya parikena, melalui kiasan, maupun secara reflektif-konstruktif, baik melalui lisan maupun tulisan.

Hari Santri 2019

Model penyampaian ide Kiai Muchit seperti amsal di atas, dapat ditemui dalam buku “NU dalam Perspektif Sejarah & Ajaran; (refleksi 65 tahun Ikut NU)”, yang merefleksikan pengalaman kiai Muchith selama 65 tahun mengabdi NU. Salah seorang Mustasyar PBNU ini cukup sistemastis dalam mengolah dan menyajikan beberapa pokok pemikirannya.

Kakak kandung Ketua Umum PBNU ini membagi rangkaian tulisannya ke dalam dua bab; Memahami NU Lebih Utuh serta Sinergi Ajaran dan Pemahaman Agama. Sebagai “Sejarawan NU”, Mbah Muchith tampak begitu mahir dalam mengolah benak pembaca menerobos ruang dan waktu sejarah yang memayungi NU. Adapun sebagai “Sesepuh NU”, Mbah Muchith begitu semangat mengupas jatidiri dan esensi NU. Inilah yang menyebabkan buku ini layak dilahap dengan pikiran cerdas dalam memahami jeroan NU.

Selama 65 tahun bergabung NU, kiai asal Jember ini mengalami pahit-manisnya bersama NU sejak zaman penjajahan Belanda, Jepang, Revolusi fisik, Orde Baru hingga Reformasi. Sebuah pengalaman berharga yang banyak mempengaruhi pemikiran kiai kelahiran Tuban ini saat mengemukakan gagasannya. Sebagai salah satu tokoh NU yang dituakan, beliau terlihat cukup rancak dan luwes “menjaga gawang NU”, baik saat digoyang maupun saat NU dalam posisi mapan.

Pendidikan dan pengalaman berorganisasi kaum nahdliyyin masih sangat minim. Sebagai ormas terbesar di Indonesia alangkah eman-nya jika NU tidak mampu mempengaruhi corak dan arah pendidikan Indonesia. Organisasi yang secara kuantitatif menjadi mayoritas, namun belum mampu menjadi kekuatan dominan, secara kualitatif. Begitulah salah satu kritiknya.

Kritik yang dilontarkan Kiai Muchith, tentunya merupakan salah satu wujud kecintaan beliau pada NU. Sebab, sebagai ormas yang memiliki basis massa kuat, NU seharusnya malu jika kuantitasnya tidak diiringi dengan kualitas yang bagus. Atau saat Kiai Muchith mencermati proses kaderisasi di NU, beliau cukup prihatin. Mengapa sebagai ormas yang sudah menapak usia 80 tahun, NU masih amburadul, dari segi administrasi-organisasi. Lebih lanjut, beliau menyebut bahwa kebiasaan ber-paguyuban di kalangan pengurus NU, tidak berorganisasi secara tertib, disiplin dan profesional merupakan beberapa faktor penghambat keprofesionalan jamiyyah NU. Hingga kemudian kebiasaan ini mendarah daging di kalangan NU, salah satu sebabnya adalah “warga yang diurus” terlalu banyak, namun yang “mengurusi” terlalu minim.

Sebagai sesepuh, Kiai Muchith cukup apresiatif saat mengemukakan ide bahwa NU jam’iyyah (organisasi) dan NU jamaah (warga nahdliyyin) haruslah terjadi proses interaksi yang cukup berimbang. Sebab, keduanya adalah kekuatan riil NU. NU jam’iyyah tanpa NU jamaah adalah impossible. Namun, jamaah NU tanpa jamiyyah NU akan menjadi golongan manusia yang dapat diombang-ambingkan kelompok lain. Bagaimana kemudian mengatur dan mengawinkan kedua wajah NU tersebut, tentu membutuhkan semangat, tekad dan kerja keras dari seluruh warga NU.

Saat membahas butir khittah 1926, Kiai Muchith menyentil kelahiran PKB, yang kemudian memunculkan interpretasi baru atas khittah, terutama terkait dengan butir 8 alinea 6 naskah Khittah NU, yaitu “NU sebagai jamiyyah, secara organisatoris tidak terikat dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan yang manapun juga.” Nah, inilah yang kemudian menimbulkan kekhawatiran dan pro-kontra dari kalangan nahdliyyin sendiri. Apakah NU harus terseret ke politik praktis lagi? Bagaimana kedudukan PKB di tubuh NU? Apakah malah tidak merugikan gerak NU sendiri? Apakah tidak “menghianati” khittah 1926 itu sendiri? Semua jawaban dirangkai dengan bahasa cukup arif dan sederhana oleh Kiai Muchith dalam buku ini.Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Ulama, Aswaja Hari Santri 2019

Jumat, 12 Januari 2018

Pendiri PMII Setuju Organisasi Mahasiswa Islam Ini Kembali ke NU

Jakarta, Hari Santri 2019. Pada tahun 1972, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memutuskan independen dari NU karena kondisi politik saat itu mengharuskan demikian. Di era Orde Baru, jika tidak memisahkan diri dari NU, PMII terancam dibubarkan oleh pemerintah saat itu.

Pendiri PMII Setuju Organisasi Mahasiswa Islam Ini Kembali ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendiri PMII Setuju Organisasi Mahasiswa Islam Ini Kembali ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendiri PMII Setuju Organisasi Mahasiswa Islam Ini Kembali ke NU

“Sekarang, kondisi perpolitikan yang sudah normal. PMII harus kembali pada NU,” kata KH AN. Nuril Huda (76 tahun), salah satu pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kepada Hari Santri 2019 usai menjadi Khotib shalat Jum’at di Masjid An-Nahdlah PBNU, Jakarta, Jum’at (7/11).

Kiai Nuril menerangkan, penyelamatan dan penegakkan ideologi NU di dalam tubuh PMII menjadi sangat penting, sementara secara organisatoris NU tidak bisa mengontrol pergerakan kadernya yang tergabung dalam PMII.

Hari Santri 2019

“Untuk itu, sudah menjadi kewajiban PBNU untuk merangkul dan menjadi keharusan PMII untuk kembali. Itu kewajiban kita bersama berdasarkan Khittah 1926,” tegas mantan Ketua PP LDNU ini.

Kiai Nuril yang juga mantan anggota DPR RI ini juga menjamin, para kader PMII tidak akan terbatasi geraknya jika kembali ke NU.

Hari Santri 2019

“Bagi saya sebagai salah satu pendiri, ideologi Aswaja PMII adalah keyakinan agama. Persoalan indepedensi sudah selesai, bergeraklah sebebas mungkin, tapi tetap harus balik ke rumah,” pungkasnya dengan tegas. (Fathoni/Anam) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara, Aswaja, Kyai Hari Santri 2019

Minggu, 07 Januari 2018

Kebrobrokan Bathin Merusak Urusan Dhahir

Rasulullah saw pernah bersabda قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ ØŒ وَهَوًى مُتَّبَعٌ ØŒ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بÙ? فْسِهِ? ? “Tiga perkara yang merusak yaitu, menuruti kebakhilan, mengikuti hawa nafsu dan megagumi diri sendiri”. Sesungguhnya ketiga perkara itu adalah urusan bathiniyah tetapi jika dibiarkan ketiganya dapat merusak urusan lahiriyah, mulai dari merusak tatanan keluarga, budaya hingga tataran ekonomi.

Ø¥Ù? الحمد لله الذى أرسل رسوله بالهدى ودÙ? Ù? الحق Ù„Ù? ظهره على الدÙ? Ù? كله. أرسله بشÙ? را ÙˆÙ? ذÙ? را وداعÙ? ا الى الله باذÙ? Ù‡ وسراجا Ù…Ù? Ù? را. أشهد اÙ? لا اله الا الله وحده لا شرÙ? Ùƒ له. شهادة اعدها للقائه ذخرأ. واشهد اÙ? محمدا عبده Ùˆ رسوله. ارفع البرÙ? Ø© قدرا. اللهم صل وسلم وبارك على سÙ? دÙ? ا محمد وعلى أله وأصحابه وسلم تسلÙ? ما كثÙ? را. أما بعد. فÙ? اأÙ? ها الÙ? اس اتقوالله حق تقاته ولاتموتÙ? الا وأÙ? تم مسلموÙ? . Pada kesempatan ini pertama-tama khatib ingin mengajak diri sendiri dan jama’ah semua untuk meningkatkan taqwa. Sesungguhnya taqwa itu Bermuda dari mengihdar larang-larangannya. Seperti halnya menghindar berbagai keburukan yang yang dijabarkan dalam salah satu hadits pendek:

Kebrobrokan Bathin Merusak Urusan Dhahir (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebrobrokan Bathin Merusak Urusan Dhahir (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebrobrokan Bathin Merusak Urusan Dhahir

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ ØŒ وَهَوًى مُتَّبَعٌ ØŒ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بÙ? فْسِهِ?

Tiga perkara yang dapat merusak yaitu, menuruti kebakhilan, mengikuti hawa nafsu dan megagumi diri sendiri.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Hari Santri 2019

Jika kita baca sekilas saja, hadits ini seolah hanya berfungsi sebagai hadits motifasi, semacam golden ways, yang memebri tips bagaimana tata cara hidup yang sukses dan benar. Padahal tidak demikian, karena sesungguhnya teks ini adalah hadits Rasulullah saw yang kadar kebenarannya seratus persen. Hadits Rasulullah saw bukan sekedar motifasi yang member janji, tetapi hadits itu berbicara bukti.

Marilah kita ungkap bersama, bahwa ada tiga hal yang merusak hidup manusia yaitu menuruti kebakhilan, mengikuti hawa nafsu dan megagumi diri sendiri. Memang ketiga hal ini sangatlah bersifat bathiniah, karena ketiganya beroperasi dalam hati. Sehingga ketiganya sangat bersifat individualis dan sangat pribadi sekali.

Tetapi jika dibiarkan, ketiga masalah tersebut yang bathiniah dan privasi itu akan merusak tatanan dhahir dan social. Kita akan melihat bagaimana penyakit hati yang tersimpan rapat dan sangat rahasia ini dapat merusak kehidupan nyata, kehidupan bermasyarakat, bahkan juga berbangsa dan bernegara. Jika ketiga penyakit itu menjalar kesebagian besar bangsa ini, maka hadits ini akan berlaku bagi bangsa Indonesia.

Jama’ah Jum’ah yang Dirahmati Allah

Hari Santri 2019

Perkara pertama yang dapat merusak adalah شخ مطاع syukkhun mutha’un (kikir yang dituruti). Kata syukkun, meskipun memiliki padanan dalam bahasa Arab bakhil, tetapi kata syukhkhun menunjukkan tingkat kebakhilan yang lebih tinggi, tidak sekedar pelit atau kikir biasa. Karena jika bakhil itu bermakna orang yang mempertahankan miliknya jangan sampai kepada orang lain. Namun sykhkhun lebih dari itu, ia adalah orang yang memepertahakan dan tidak rela, kalau ada kenikmatan Allah swt yang diberikan kepada orang lain. Walaupun ia sadari bahwa rahmat dan nikmat itu milik Allah swt dan bukan miliknya.

Secara tidak langsung, sifat inilah akar dari sifat madzmumah yang terkenal dan berbahaya yaitu hasud. Hasud adalah perasaan iri dan dengki dengan kenikmatan dan rahmat yang diterima orang lain serta menginginkan rahmati itu berpindah kepadanya. Sungguh inilah karakter terburuk manusia. Kebrobrokan moral yang paling tinggi, dibandingkan dengan kenakalan remaja dan praktik kekerasan dimanapun juga. Karena tindak kekerasan hanyalah kembangan dari sifat hasud ini.

Karena itu pantaslah jika Rasulullah saw berpesan dengan sangat ‘mewanti-wanti’ dalam haditsnya:

Ø£Ù? الÙ? بÙ? صلى الله علÙ? Ù‡ وسلم قال ? Ø¥Ù? اكم والحسد فإÙ? الحسد Ù? أكل الحسÙ? ات كما تأكل الÙ? ار الحطب?

Jagalah dirimu dari hasud, akan hasud akan meruntuhkan amal kebajikan sebagaimana api membakar kayu bakar’

Meski demikian para Jama’ah yang berbahagia, karena begitu seringnya kita mendengar dan membaca hadits ini, sehingga telinga terasa familier dan hatipun tidak tergugah. Akibatnya seringkali kita menganggap hadits ini sebagai intimidasi tak berkelanjutan, atau sekedar surat peringatan yang tidak pernah ditindak lanjuti. Na’udzubillah min dzalik, sungguh itu bisikan syaitan yang terkutuk.

Andaikata syukhkhun yang mengembang menjadi hasud itu berdampak pada hilangnya amal baik, dan perkara amal itu urusan nanti diakhirat, terus dimanakah bahaya syukhkhun muthoun ? dalam kehidupan nyata ini? ada sebuah hadits tentang kekikiran? yang ? sangat beroreintasi pada kehidupan bermasyarakat ijtimaiyyah yaitu

قال رسول الله صلى الله علÙ? Ù‡ وآله : السخÙ? قرÙ? ب Ù…Ù? الله قرÙ? ب Ù…Ù? الÙ? اس ØŒ قرÙ? ب Ù…Ù? الجÙ? Ø© ØŒ والبخÙ? Ù„ بعÙ? د Ù…Ù? الله بعÙ? د Ù…Ù? الÙ? اس قرÙ? ب Ù…Ù? الÙ? ار? . Bahwasannya Rasulullah saw bersabda: orang yang dermawan dekat dengan Allah swt, dekat dengan manusia dan dekat dengan surga. Sedangkan orang kikri itu jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dekat dengan neraka.

Pemahaman yang baik atas hadits ini adalah betapa ragam dalam kehidupan merupakan sunnatullah maka kaya-miskin, ada-tiada, adalah kenyataan. Dan semua itu dapat berjalan saling harmoni jika mereka yang kaya dan ada suka berbagi. Begitu pula sebaliknya, jika mereka kelompok yang kaya, yang mampu malah melakukan monopoli dan dominasi. Maka perputaran ekonomi tidak akan normal dan sehat lagi. Karena yang kaya akan makin kaya dan yang melarat akan tambah sekarat. Bukankah itu namanya sykhiyyun jika dia berekonomi dengan kaedah ‘memperoleh untung sebesar-besanya dengan modal sedikit-dikitnya?’

Bukankah ini yang terjadi dengan perekonomian di Negara kita. Ketika modal asing yang sangat kuat menggempur ekonomi mandiri masyarakat kecil dan menengah. Maka pemilik modal itulah yang sekarang menguasai pasar ekonomi negeri ini. Dengan berkedok investasi mereka ingin menguasai perdagangan dalam negeri dan anehnya mereka diberi jalan oleh penguasa atau pemerintah dengan dalih mengatur hajat-hidup bangsa ini.

Pertanyaannya kemuddian, bagaimanakah bisa para pejabat, penguasa dan pemerintah itu member jalan kepada para investor/pemilik modal dan para syakhiyyun itu?

Saudara-saudara Jama’ah Jum’ah yang dilindungi Allah swt. jawabnya ada dalam penyakit keduaوهوى متبع ? wa hawan muttaba’ (nafsu yang selalu dituruti). Nafsu atau kesenangan memang urusan pribadi, daftar keinginan dan kesenanga itu berderet dalam hati. Mungkin jika dituliskan dalam kertas akan menghabiskan berlembar-lembar.

Jika seseorang telah bertekad untuk menuruti segala keinginan memenuhi kesenangannya, maka apapun akan dilakukan. Tidak perduli kelakuannya akan mengorbankan masyarakat yang di dalam masyarakat itu ada keluarganya, ada orang-orang yang berjasa padanya. Inilah yang dalam Negara ini tergambar dalam tindakan korupsi.

Korupsi adalah contoh termudah dari penurutan hawa nafsu, nafsu memiliki rumah yang mewah-mewah, mobil baru-baru, dan perempuan canti-cantik. Maka ketika para syakhiyyun itu menawarkan kerja sama dengan keuntungan yang memikat dan para pemilik kebijakan menuruti hawa nafsunya, maka terjadilah tindak korupsi. Membeli Sapi dari luar negeri, membeli buah dari luar negeri, membeli kedelai dari luar negeri, member songkong dari luar negeri, membeli gula dari luar negeri. Semua dilakukan demi keuntungan pribadi, demi memenuhi keinginan pribadi tanpa merasa iba kepada petani sapi, petani bauah, petani singkong dan petani tebu. Bukankah ini merusak tatanankehidupan berbangsa dan bernegara.

Sekali lagi memang syakhiyy dan nafsu adalah masalah bathin adanya terselubung jauh dalam hati, tapi jika ia telah bergerak dan menguasai badan ini, ia mampu merusak tatanan kehidupan nyata, mengotak-ngoyak tatanan ekonomi riil dan mempercuram jenjang social kehidupan. Na’udzubillah min dzalik

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Katiga, adalah إعجاب المرء بÙ? فسه ? I’jabul mar’I binafsih mengagumi diri sendiri yang terkenal dengan ‘ujub. ‘ujub adalah satu penyakit hati paling akut yang susah sekali mengobatinya. Dokter sekaliber apapun tidak sanggup mengobati. Pada praktiknya penyakit ini akan membawa penderita menganggap dirinya paling baik, paling pintar, paling cantik, paling berwibawa dan lain seterusnya.

Ingatkah kita dengan perkataan Iblis ketika diperintah untuk tunduk kepada Nabi Adam as. dalam al-A’raf 12 disebutkan:

قَالَ Ø£ÙŽÙ? َا خَÙ? ْرٌ مِÙ? ْهُ خَلَقْتَÙ? ِÙ? مِÙ? Ù’ Ù? َارٍ وَخَلَقْتَهُ مِÙ? Ù’ طِÙ? Ù? ٍ

Saya lebih baik dari padanya, Engkau ciptakan saya dari api sedangkan ia, Engkau ciptakan dari tanah

Biasanya ‘ujub akan melahirkan penyakit laian yaitu ‘thulul amal’ angan-angan yang panjang. Mereka yang merasa diri lebih dari orang lain selanjutnya akan mengangan-angan dalam lamuanan. “Karena aku orang paling berwibawa di kampung ini, maka jika ada pejabat datang pastilah nanti akan menemuiku, jika menemuiku pastilah aku jadi banyak relasi, jika banyak relasi, maka aku akan…” dan terus tidak ada ujungnya. Jika penyakit ini telah menyergap pada diri seseorang, maka ia akan menjadi serang penghayal yang malas untuk bertindak dan berkreasi, karena lamunan yang panjang. Seperti malasnya pemasang lotre menunggu nasib.

Maka sudah seharusnya, jika kita ingin menyelamatkan diri, keluarga, lingkungan bahkan juga bangsa tercinta ini, marilah kita bersama-sama berusaha dan melatih diri menghindari ketiga penyakit itu. Dan tidak lupa berdo’a kepada Allah swt agar memberikan petunjukNya mempermudah jalan kita menghindari dari penyakit tersebut. Bukankah sesungguhnya iman dan taqwa yang ada dalam diri kita merupakan anugrah dari-Nya?

Demikianlah khotbah Jum’ah kali ini, meskipun sekelumit semoga bermanfaat.

? بَارَكَ اللهُ لِÙ? Ù’ وَلَكُمْ فِÙ? Ù’ اْلقُرْآÙ? ِ اْلعَظِÙ? ْمِ ÙˆÙŽÙ? َفَعَÙ? ِÙ? ÙˆÙŽØ¥Ù? َّاكُمْ ِبمَا ِفÙ? ْهِ مِÙ? ÙŽ اْلآÙ? اَتِ وَالذكْر ِالْحَكِÙ? ْمِ وَتَقَبَّلَ مِÙ? ِّÙ? وَمِÙ? ْكُمْ تِلاَوَتَهُ Ø¥Ù? َّهُ هُوَ السَّمِÙ? ْعُ اْلعَلِÙ? ْمُ

Khutbah II

? اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَاÙ? ِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِÙ? ْقِهِ وَاِمْتِÙ? َاÙ? ِهِ. وَاَشْهَدُ اَÙ? Ù’ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِÙ? ْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَÙ? ÙŽÙ‘ سَÙ? ِّدَÙ? َا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَاÙ? ِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِÙ? ْمًا كِثÙ? ْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَÙ? اَ اَÙ? ُّهَا الÙ? َّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِÙ? ْمَا اَمَرَ وَاÙ? ْتَهُوْا عَمَّا Ù? ÙŽÙ‡ÙŽÙ‰ وَاعْلَمُوْا اَÙ? ÙŽÙ‘ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِÙ? ْهِ بِÙ? َفْسِهِ وَثَـÙ? ÙŽÙ‰ بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ Ù? ُصَلُّوْÙ? ÙŽ عَلىَ الÙ? َّبِى Ù? Ø¢ اَÙ? ُّهَا الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ آمَÙ? ُوْا صَلُّوْا عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِÙ? ْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَÙ? ِّدِÙ? اَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَÙ? ْبِÙ? آئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَارْضَ اللّهُمَّ عَÙ? ِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِÙ? Ù’Ù? ÙŽ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَاÙ? وَعَلِى وَعَÙ? Ù’ بَقِÙ? َّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَتَابِعِÙ? التَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ لَهُمْ بِاِحْسَاÙ? ٍ اِلَىÙ? َوْمِ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَارْضَ عَÙ? َّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ Ù? َا اَرْحَمَ الرَّاحِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِÙ? ِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُؤْمِÙ? َاتِ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْÙ? آءُ مِÙ? ْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاÙ? ْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِÙ? َّةَ وَاÙ? ْصُرْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ Ù? َصَرَ الدِّÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاخْذُلْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ خَذَلَ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ ÙˆÙŽ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى Ù? َوْمَ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَÙ? َّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ وَسُوْءَ اْلفِتْÙ? َةِ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ مَا ظَهَرَ مِÙ? ْهَا وَمَا بَطَÙ? ÙŽ عَÙ? Ù’ بَلَدِÙ? َا اِÙ? ْدُوÙ? ِÙ? ْسِÙ? َّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَاÙ? ِ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ عآمَّةً Ù? َا رَبَّ اْلعَالَمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. رَبَّÙ? َا آتِÙ? اَ فِى الدُّÙ? Ù’Ù? َا حَسَÙ? َةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَÙ? َةً وَقِÙ? َا عَذَابَ الÙ? َّارِ. رَبَّÙ? َا ظَلَمْÙ? َا اَÙ? ْفُسَÙ? َاوَاِÙ? Ù’ لَمْ تَغْفِرْ Ù„ÙŽÙ? َا وَتَرْحَمْÙ? َا Ù„ÙŽÙ? َكُوْÙ? ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ مِÙ? ÙŽ اْلخَاسِرِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. عِبَادَاللهِ ! اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ Ù? َأْمُرُÙ? َا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَاÙ? ِ وَإِÙ? ْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ ÙˆÙŽÙ? ÙŽÙ? ْهَى عَÙ? ِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُÙ? ْكَرِ وَاْلبَغْÙ? Ù? َعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْÙ? ÙŽ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِÙ? ْمَ Ù? َذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ Ù? ِعَمِهِ Ù? َزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

?

Red: Ulil Hadrawy

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Habib, Pesantren, Aswaja Hari Santri 2019

Selasa, 02 Januari 2018

Kenapa Keturunan Nabi Tak Tentu Berakhlak Baik? Ini Penjelasan Habib Luthfi

Pekalongan, Hari Santri 2019. Tidak ada yang mengelak bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling baik, bahkan sempurna. Satu bukti, ia digelari Al-Amin (seorang yang jujur) oleh kaum Quraisy di zaman pra Islam. ?

Namun demikian, seluruh keturunan yang mempunyai nasab langsung ke Nabi tidak menjamin bahwa akhlak orang tersebut baik. Alasan untuk persoalan tersebut dijelaskan secara lugas oleh Pimpinan Majelis Kanzus Sholawat Pekalongan Habib Luthfi bin Yahya, Selasa (24/1) lalu saat menerima rombongan Anjangsana Islam Nusantara STAINU Jakarta di kediamannya.

Kenapa Keturunan Nabi Tak Tentu Berakhlak Baik? Ini Penjelasan Habib Luthfi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Keturunan Nabi Tak Tentu Berakhlak Baik? Ini Penjelasan Habib Luthfi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Keturunan Nabi Tak Tentu Berakhlak Baik? Ini Penjelasan Habib Luthfi

Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) ini menerangkan, meskipun mempunyai nasab langsung ke Rasulullah, belum tentu akhlak orang itu baik karena ini persoalan ma’shum (dilindungi Allah dari dosa).

“Jangan heran jika (keturunan Nabi, red) ada yang berakhlak tidak baik, lah wong mereka tidak di-ma’shum kok,” tutur Habib Luhtfi dengan gaya bicaranya yang khas.

Dengan demikian, menurutnya, belajar dan memahami sejarah secara tuntas sebagai cerminan berpikir dan bertindak menjadi langkah penting, termasuk sejarah perjalanan Nabi Muhammad yang penuh dengan teladan baik dan akhlak yang mengesankan.

Hari Santri 2019

Sebutan Habib

Hari Santri 2019

Beberapa waktu lalu dalam kunjungannya ke ndalem Gus Mus, Prof HM. Quraish Shihab mengatakan bahwa sebutan Habib mempunyai makna orang yang dicintai sekaligus mencintai. Jadi menurut penulis Kitab Tafsir al-Misbah ini, seseorang dengan sebutan Habib tidak hanya ingin dincintai, tetapi juga harus mencintai.

Prof Quraish memberikan penekanan bahwa ada persoalan mendasar terkait sebutan Habib, yaitu akhlak. Terkait dengan akhlak ini, menjadi alasan fundamental bahwa tidak semua keturunan Rasulullah bisa disebut habib.

Dari beberapa literatur, keturunan Nabi dari Sayyidina Husein disebut sayyid, sedangkan dari Sayyidina Hasan disebut assyarif. Hasan dan Husein merupakan putra Sayyidah Fatimah binti Muhammad dari hasil pernikahannya dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Selama ini, sebutan habib harus melalui komunitas dengan berbagai persyaratan yang sudah disepakati. Hal ini ditekankan oleh organisasi pencatat keturunan Nabi, Rabithah Alawiyah. Di antaranya cukup matang dalam hal umur, memiliki ilmu yang luas, mengamalkan ilmu yang dimiliki, ikhlas terhadap apapun, wara atau berhati-hati, serta bertakwa kepada Allah.

Tak kalah pentingnya, Rabithah Alawiyah yang dipimpin oleh Habib Zen bin Smith (salah satu Mustasyar PBNU) menekankan bahwa akhlak yang baik menjadi salah satu alasan utama keturunan Nabi disebut Habib. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Sunnah, IMNU, Aswaja Hari Santri 2019

Selasa, 26 Desember 2017

Citra Pendidikan Agama di Madrasah Dinilai Berhasil

Madrasah sebagai salah satu institusi pendidikan Islam semakin menunjukkan peran pentingnya dalam dinamika pendidikan nasional. Di saat banyak pelajar di sekolah umum terseret dalam citra negatif kemerosotan moral seperti seks bebas dan tawuran, madrasah mampu tampil gemilang dengan berbagai prestasi.

Beberapa waktu lalu siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Pamulang, Tangerang Selatan, menggondol sejumlah medali dan penghargaan pada International Islamic School Robot Olympiade (IISRO) yang digelar di Johor Malaysia. Tim robotik MTsN Pamulang itu berhasil mengalahkan tim dari beberapa sekolah unggulan negara-negara Islam di mancanegara.

Di tingkat nasional, tim robotik MTsN Pamulang ini juga meraih juara 1 untuk tingkat sekolah menengah pertama atau madrasah tsanawiyah (SMP/MTs). Belum lagi kita memasukkan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia dalam dereten madrasah berprestasi. Madrasah yang digagas Presiden ke-3 RI, BJ Habibie itu selalu tampil membanggakan dalam ajang kompetisi sains, baik nasional maupun internasional.

Citra Pendidikan Agama di Madrasah Dinilai Berhasil (Sumber Gambar : Nu Online)
Citra Pendidikan Agama di Madrasah Dinilai Berhasil (Sumber Gambar : Nu Online)

Citra Pendidikan Agama di Madrasah Dinilai Berhasil

Karena berbagai prestasi yang diraihnya itulah, Kementerian Agama berencana memperbanyak MAN Insan Cendekia. Saat ini, sekolah tersebut baru beroperasi sebanyak tiga sekolah, yaitu di Serpong, Gorontalo, dan Jambi. Kemenag RI ingin agar setiap provinsi di Indonesia mempunyai MAN Insan Cendekia.

Prestasi ini tentu membanggakan. Pasalnya, madrasah yang selama ini dicitrakan terbelakang, bahkan dinilai tidak mampu bersaing dengan sekolah-sekolah umum dalam kompetisi sains, ternyata tampil sebagai juara pertama dalam kejuaraan bergengsi di pentas nasional dan internasional. Prestasi madrasah tidak hanya dalam sains, di bidang pelestarian lingkungan hidup juga tak kalah gemilangnya.

Hari Santri 2019

Tak tanggung-tanggung, empat madrasah dianugerahi penghargaan Adiwiyata Nasional oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penghargaan yang didasarkan atas Kepmen LHK No 183 Tahun 2014 itu diberikan kepada MAN 1 Pekanbaru, Riau; MAS Mareku, Tokep Maluku Utara; ? MTsN Dowora, Tokep Maluku Utara; ? MIN Dowora, Tokep Maluku Utara.

Anugerah tersebut, kata Direktur Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam M Nur Kholis Setiawan, sekali lagi menjadi bukti bahwa madrasah mampu bersaing dengan sekolah umum. Kesan madrasah hanya mampu menguasai ilmu agama tapi ketinggalan dalam ilmu umum merupakan pandangan lama yang musti direvisi. Buktinya, madrasah mampu mengalahkan sekolah umum dalam berbagai kompetisi. Dalam beberapa kasus, madrasah justru lebih unggul. Keunggulan siswa madarasah ini bahkan diakui profesor Jepang. Guru besar Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Profesor Kondo Yuichi, mengaku kagum dengan alumni madrasah yang kuliah di APU. Menurutnya, prestasi alumni madrasah di APU sangat memuaskan. Bahkan menduduki peringkat dua besar di Universitas unggulan Jepang itu.

Karena berbagai prestasi itulah, Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin, mengimbau kepada semua siswa madrasah untuk tidak minder berhadapan dengan siswa sekolah umum. Madrasah sudah terbukti mampu menyaingi sekolah umum, bahkan dalam bidang sains yang seharusnya menjadi andalan sekolah umum. Menurut Lukman, hal itu luar biasa lantaran madrasah punya beban yang lebih tinggi ketimbang sekolah umum. Madrasah, selain mengejar prestasi ilmu umum atau sains, juga dituntut ? menguasai ilmu agama. Madrasah lahir dari rahim pesantren, karenanya ia harus diwarnai oleh ilmu agama.

Dalam perkembangannya, Lukman menilai, madrasah mampu mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum dalam penguasaan yang seimbang. Tak salah bila dikatakan, justru kemampuan mengintegrasikan ilmu agama yang implementasinya adalah iman dan takwa (Imtak) dengan ilmu pengetahuan teknologi (Iptek) inilah, madrasah saat ini menjadi primadona. Madrasah dipercaya masyarakat mampu membentuk generasi muslim yang berkarakter unggul dengan kemampuan ilmu yang kombinatif antara ilmu agama dan umum atau sains.

Benteng Pertahanan Remaja

Hari Santri 2019

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin selalu menekankan peran madrasah sebagai pusat pendidikan karakter generasi muda. Menag berharap, madrasah menjadi benteng pertahanan para remaja dari penyebaran virus dekadensi moral. Madrasah tak boleh terjerumus pada maraknya problem moral remaja seperti narkoba, miras, seks bebas, dan tawuran.

Karenanya, madrasah harus menguatkan penanaman nilai-nilai keislaman kepada siswa. Penanaman itu, tentu saja melalui pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). PAI harus mampu internalisasi sedemikian rupa nilai-nilai Islam dalam fikiran, jiwa, dan sikap siswa sehingga mampu mengkonter virus dekadensi moral dan mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam.

Hasilnya, mereka diharapkan dapat menghayati dan mengamalkan ajarannya, dan menghormati hak-hak pemeluk agama lain, serta dapat hidup damai, harmonis berdampingan dengan sesama warga Indonesia dalam perbedaan dan kebersamaan. Tuntutan praktis ini adalah implikasi dari realitas yang tak terelakkan dari dimensi kehidupan keagamaan di ranah keragaman dan kerukunan antarumat beragama.

Karena itu, penelitian yang dilakukan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan (Puslitbang Penda) Badan Litbang dan Diklat Kemenag menjadikan tiga aspek sebagai tolok ukur keberhasilan pengajaran PAI di madrasah. Tiga aspek ini hendak memotret bahwa Islam tak hanya ditanamkan di pikiran (kognitif), tapi juga dalam penghayatan jiwa (afektif), dan pengamalan tindakan (psikomotorik).

Secara lebih khusus, penelitian PAI itu berusaha menjawab pertanyaan “Bagaimana hasil capaian pembelajaran PAI pada peserta didik di madrasah aliyah (MA)”. Pertanyaan itu sering disuarakan oleh banyak kritikus pendidikan Islam, dan jawabannya sangat ditunggu. Seberapa mampu proses formal pembelajaran PAI membentuk karakter-sikap sosial-keagamaan siswa yang positif, terutama dalam konteks relasi antarumat beragama.

Menjawab pertanyaan itu dengan memasukkan tiga aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan bentuk penelitian survei, Puslitbang Penda melakukan terobosan besar. Sebab, sebelumnya belum ada studi khusus dengan sampel yang representatif yang berusaha mengevaluasi keberhasilan pembelajaran PAI di MA, terutama dalam kerangka pembentukan sikap-karakter sosial-keagamaan (outcome) peserta didik.

Dengan memasukkan tiga aspek itu pula, penelitian tersebut juga menjadi jawaban atas kritik para pakar pendidikan tentang pengajaran PAI yang dinilai hanya mementingkan aspek ilmu dan terlalu lebih berorientasi pada model pengajaran, bukan pada pendidikan dan pembentukan sikap dan karakter. Akhirnya, hasil pendidikan agama Islam hanya menghasilkan output, peserta didik yang sebatas ahli-ahli agama, dengan sejumlah titel dan atribut formal lainnya, tetapi mereka tidak berhati dan berjiwa agama.

Capaian kognitif

Dangan gambaran capaian kognitif itu, Puslitbang Penda menemukan bahwa capaian kognitif bervariasi menurut status madrasah, bidang pelajaran, dan semester. Pertama, capaian nilai siswa untuk semua pelajaran PAI semester ganjil baru mencapai standar cukup baik, di level antara 78-80.

Sementara itu, hasil capaian semester genap relatif lebih baik untuk semua pelajaran. Nilai kognitif siswa MAN sudah mencapai taraf baik (81-90), kecuali untuk pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Kedua, hasil capaian kognitif pelajaran Quran-Hadis dan Fikih di atas rata-rata hasil capaian pada dua pelajaran lainnya, yaitu Akidah Akhlak dan SKI. Ketiga, hasil capaian kognitif siswa madrasah aliyah berstatus negeri (MAN) selalu lebih tinggi dibanding dengan hasil capaian kognitif siswa madrasah aliyah berstatus swasta (MAS). Keempat, hasil capaian nilai semester genap selalu lebih tinggi dibanding dengan hasil capaian siswa pada nilai semester ganjil untuk seluruh bidang pelajaran PAI.

Jika hasil capaian kognitif di atas dicermati lebih detail, maka tampak beberapa ciri berikut: Pertama, pelajaran al-Quran-Hadis dan Fikih nampak lebih mudah dibanding pelajaran lainnya, karena nilai capaian siswa untuk kedua pelajaran pertama lebih tinggi dibanding dengan nilai dua pelajaran PAI lainnya (Akidah-Akhlak dan Sejarah Kebudayaan Islam).

Kedua, guru kedua pelajaran tersebut pertama di atas lebih mudah-murah memberi nilai kepada siswa. Ketiga, skor nilai siswa MAN selalu lebih tinggi dibanding dengan nilai siswa MAS. Keempat, perbedaan nilai per pelajaran dan semester PAI adalah signifikan pada level 5 % menurut status MA, kecuali untuk pelajaran SKI. Dengan kata lain, latar belakang status MA siswa dapat dijadikan variabel prediktor yang akurat untuk menganalisis keragaman nilai pelajaran PAI siswa kelas 2 dan 3 MA.

Capaian afektif

Capaian afektif adalah tingkat keberhasilan siswa dalam menginternalisasi pelajaran PAI ke dalam watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Afektif berhubungan dengan nilai (value), karenanya ia sulit diukur. Karena itu, penelitian Puslitbang Penda berusaha memberi batasan ketat dalam menilai tingkat keberhasilan afektif siswa dalam pembelajaran PAI.

Ada lima dimensi yang diteliti dalam bidang afektif dan hal itu merupakan turunan dari penilaian dalam capaian kognitif pelajaran PAI seperti telah dijelaskan sebelumnya. Lima isu itu adalah, pertama, sikap terhadap etika teologis relasi lintas agama. Kedua, sikap terhadap etika sosial relasi lintas agama. Ketiga, sikap terhadap wacana formalisasi hukum Islam dalam tata kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Keempat, dukungan terhadap doktrin jihad berbasis kekerasan. Kelima, dukungan terhadap prinsip demokrasi.

Hasilnya, tingkat hasil capaian afektif pembelajaran PAI bervariasi menurut bidang ajarnya. Hasil capaian afektif sudah sangat baik pada bidang ajar yang tidak terlalu menyentuh aspek keyakinan keagamaan, seperti pada kasus materi ajar tentang wacana demokrasi dan penerapan hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat capaian afektif pada materi ajar yang bersentuhan dengan prinsip dan keyakinan keagamaan relatif masih sangat rendah. Sikap responden cenderung kurang toleran dalam konteks relasi lintas agama, baik pada aspek relasi sosial, maupun pada relasi yang berkaitan dengan faktor teologi.

Capaian psikomotorik

Hasil belajar psikomotorik ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan berperilaku). Hasi belajar kognitif dan afektif akan menjadi hasil belajar psikomotorik apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan afektif. Aspek capaian psikomotorik dipilah ke dalam tiga aspek: perilaku ritual (pelaksanaan ibadat konvensional, cenderung ibadah ghairu mahdlah), perilaku taat, dan penyimpangan prinsip moral-susila.

Tingkat hasil capaian psikomotorik dalam hal pelaksanaan ibadat konvensional sangat baik. Lebih dari sepertiga responden rutin melaksanakan secara maksimal menurut standar normatif Islam, seperti pelaksanaan ibadah harian, atau mingguan. Namun demikian, masih ada minimal sekitar 9 % responden mengaku tidak pernah mengerjakan kegiatan ibadat dimaksud minimal sekali sebulan.

Indikator perilaku moral-susila mencakup pengalaman berpacaran dan tindakan buruk yang pernah dilakukan saat pacaran, mulai dari bergandengan tangan sampai menyentuh bagian tubuh yang sensitif dari lawan jenis, atau identik dengan bagian reproduktif.

Meski perilaku pacaran juga dilakoni siswa madrasah aliyah (MA), namun gaya pacaran mereka masih relatif normal jika dibanding dengan gaya pacaran dan seks bebas di kalangan siswa SLTA yang pernah dipetakan dalam sejumlah penelitian lain, seperti survei BKKBN yang mencatat bahwa separo siswa SLTA di Jakarta mengaku sudah pernah mempraktikkan seks bebas.

Tingkat capaian psikomotorik bidang ini sangat positif. Lebih dari 95 % responden mengaku tidak pernah, atau hanya sekali melakukan perilaku buruk seperti yang ditanyakan dalam penelitian ini, kecuali pada aspek mengunduh gambar porno atau menonton film porno. Bahkan kecenderungan perilaku positif ini sangat merata di kalangan responden.

Hasil penelitian Puslitbang Penda membuktikan bahwa pengajaran PAI di madrasah sudah cukup berhasil dalam ranah kognitif dan psikomotorik. Akan tetapi kurang berhasil dalam ranah afektif, terutama pada materi yang bersentuhan langsung dengan prinsip dan keyakinan keagamaan.

Meski cukup memuaskan dalam ranah kognitif dan psikomotorik, tapi potensi masuknya virus dekadensi moral tetap perlu diwaspadai. Hal ini setidaknya mengacu pada angka 3% pada survei yang menyatakan dan mengaku pernah melakukan tindakan tidak terpuji saat pacaran, dan angka 95% yang walau tidak pernah melakukan tindakan amoral tapi mengaku setidaknya sekali mengunduh atau menonton film porno.

Potensi itu perlu mendapat perhatian serius karena madrasah, seperti dikatakan pemerintah, adalah simbol pendidikan moral dan sekaligus benteng dari virus dekadensi moral remaja. Moralitas yang menjadi turunan nilai-nilai keislaman adalah visi utama PAI di madrasah.

Jika visi moralitas ini dicapai, harapan pemerintah dan masyarakat terhadap madrasah sebagai pencetak generasi bangsa yang mampu mengintegrasikan iptek dan imtak akan tercapai. Tak hanya itu, sukses dalam integrasi Iptek dan Imtak bakal menjadikan madrasah sebagai primadona yang lulusannya mampu menghadapi era global. (Musthofa Asrori/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, Aswaja Hari Santri 2019

Senin, 25 Desember 2017

Sejahterakan Anggota, Muslimat NU DKI Jakarta Rintis Koperasi

Jakarta, Hari Santri 2019 - Pengurus Musimat NU DKI Jakarta menggelar pertemuan dengan Dinas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Perdagangan DKI Jakarta di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (17/10) siang. Pihak Muslimat NU berkonsultasi perihal pendirian koperasi berbadan hukum.

Mereka meminta Dinas UMKMP DKI Jakarta? untuk menerangkan secara rinci terkait registrasi koperasi yang akan dibentuk.

Sejahterakan Anggota, Muslimat NU DKI Jakarta Rintis Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejahterakan Anggota, Muslimat NU DKI Jakarta Rintis Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejahterakan Anggota, Muslimat NU DKI Jakarta Rintis Koperasi

“Kita akan membangun baru koperasi Muslimat NU khusus di DKI Jakarta,” kata Ketua Muslimat NU DKI Jakarta Hj Hizbiyah Rochim di Jakarta, Senin (17/10) siang.

Sementara salah seorang pengurus harian Muslimat NU DKI Jakarta Emma mengatakan bahwa pihaknya segera mempersiapkan segala persyaratan yang dibutuhkan untuk pendirian koperasi. Pada pertemuan ini mereka menyepakati besaran simpanan wajib dan simpanan pokok anggota.

Hari Santri 2019

“Setelah badan hukumnya nanti diurus, kita akan meningkatkan kapasitas pengurus Muslimat NU untuk dapat mengelola koperasi sesuai prosedur,” kata Emma.

Hari Santri 2019

Pengurus Muslimat NU DKI Jakarta berencana mengadakan pertemuan lanjutan perihal pendirian koperasi. “Muaranya adalah menyejahterakan pengurus, anggota Muslimat NU DKI Jakarta, dan masyarakat secara umum,” kata Hj Hizbiyah Rochim.

Kabid UMKMP DKI Jakarta menyatakan aakan terus melakukan supervisi terhadap penglolaan koperasi Muslimat NU DKI Jakarta. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Aswaja, Kajian Sunnah Hari Santri 2019

Sabtu, 16 Desember 2017

NU Temanggung Usul Kiai Subchi Bambu Runcing Jadi Pahlawan Nasional

Temanggung, Hari Santri 2019. Peringatan hari Santri di Temanggung kemarin berlangsung semarak. Sekitar 15 ribu santri tumplek blek memadati halaman Gedung Pemuda Temanggung. Mereka mengikuti apel akbar dalam rangka peringatan hari santri (HSN) 2017 dengan inspektur apel Bupati Temanggung Bambang Sukarno dan komandan apel sahabat Puryawanto (Banser Ansor Temanggung).

NU Temanggung Usul Kiai Subchi Bambu Runcing Jadi Pahlawan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Temanggung Usul Kiai Subchi Bambu Runcing Jadi Pahlawan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Temanggung Usul Kiai Subchi Bambu Runcing Jadi Pahlawan Nasional

Apel akbar kemarin, dikemas layaknya upacara kenegaraan, meskipun para santri tetap mengenakan sarung dan peci atau almamater pondok pesantrenya masing-masing, begitu pula dengan santriwatinya. 

Selain diikuti santriwan-santriwati dari pondok pesantren se-Temanggung, para ulama dan kyai serta siswa-siswi dari lembaga pendidikan Maarif NU, peserta apel merupakan seluruh kader badan otonom (banom) NU, seperti Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU-IPPNU, juga PMII.

Pembacaan teks Pancasila dipimpin oleh Bupati Bambang Sukarno, petugas pembaca ikrar santri indonesia oleh Jakfar Shodiq (Sekretaris Lakpesdam NU Temanggung), pembaca amanat PBNU oleh KH Muhammad Furqon atau Gus Furqon (Ketua PCNU Temanggung) dan pembaca teks resolusi jihad oleh KH Yacub Mubarok (Rais Syuriyah PCNU Temanggung).

Ketua Tanfidz PCNU Temanggung KH Muhammad Furqon menuturkan, hari ini (kemarin, red) keluarga besar NU Temanggung bersama santri memperingati hari santri. Dengan peringatan hari santri ini, isi resolusi jihad 22 ktober 1945 silam, bisa menyemai dan memberi semangat para santri sebagaiamana yang telah dilakukan oleh sang pendiri  NU KH Hasyim Asyari.  

Hari Santri 2019

"Santri bisa tetap mencintai NKRI dan bisa memberi kenyamanan untuk lingkungan atau masyarakat. Saya berharap, santri bisa meneladai perjunagan KH Hasyim Asyari," harapnya.

KH Yacub Mubarok menuturkan, dirinya bersama Bupati Temanggung Bambang Sukarno dalam waktu dekat ingin menghadap Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan dan mengusulkan KH Subchi Parakan Temanggung bisa menjadi pahlawan nasisional.

Menurutnya, KH Subchi tidak hanya terkenal di Temanggung dan Indonesia saja, namun juga terkenal sampai Belanda dan Jepang. Beliau merupakan penggerak hebat untuk NKRI, sehingga bisa menghantarkan bangsa dan negara ini ke gerbang kemerdekaan. 

"Atas jasa dan perjuanganya itu, sudah selayaknya negara memberikan pengahargaan. Beliua seorang  patriotis, berjuang untuk kedaimaan, kenyamana dan kemerdekaan. Beliau merupakan aset bangsa dan idola kita semua," ucapnya.

Hari Santri 2019

Sementara itu, Bupati Bambang Sukarno mengaku siap mengawal dan mengantarkan Yacub Mubarok ke Istana negara untuk menghadap presiden. Menurut Bambang, jasa KH. Subchi saat besar untuk bangsa ini, beliau tidak hanya milik Temanggung, Bangsa Indonesa, tapi juga dunia internasional.

"Sudah sepatnya, belaiu (almarhum KH Subchi) mendapat gelar pahlawan. Dengan momentum hari santri tahun ini, saya berharap santri dan warga Temanggung pada umumnya tetap cinta NKRI, setia terhadap pancasila, UUD 1945 dan bhineka tunggal ika," pungkasnya. (Ahsan Fauzi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Khutbah, Aswaja Hari Santri 2019

Jumat, 15 Desember 2017

Islam Nusantara Praktik Keseharian Beragama Kaum Santri

Jakarta, Hari Santri 2019. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (Kang Said) menunjukkan warna khas kalangan santri dalam mempraktikkan agama. Dalam diskusi publik yang digelar siang ini di Jakarta, Rabu (26/8), Kang Said menyebut kalangan santri memandang keragaman suku, bahasa, budaya, dan agama di Nusantara sebagai sebuah fitrah dari Allah Yang Maha Kuasa.

Dalam diskusi bertajuk “Pancasila Rumah Kita: Perbedaan Adalah Rahmat”, Kang Said mengatakan, “Islam Nusantara ini menjadi warna santri beragama sehari-hari tanpa perlu doktrin atau penataran apapun.”

Islam Nusantara Praktik Keseharian Beragama Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara Praktik Keseharian Beragama Kaum Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara Praktik Keseharian Beragama Kaum Santri

Para santri diajari memahami kitab suci secara utuh. Mereka terlatih meneladani akhlaq para kiai yang menunjukkan sikap toleransi terhadap kehadiran pemeluk agama lain. “Ada atau tidak ada bom, para santri akan terus menunjukkan sikap moderat,” kata Kang Said di hadapan sedikitnya 70 hadirin dari pelbagai lintas agama.

Hari Santri 2019

Tampak hadir sebagai narasumber lainnya Executive Scretary Konferensi Waligereja Indonesia Romo Edy Purwanto, perwakilan dari Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Pdt Albertus Patty, serta utusan Perwakilan Umat Buddha Indonesia Bhiksu YM Dutavira Mahastavira.

Di hadapan narasumber dan para hadirin, Kang Said bercerita bagaimana kalangan santri bergaul dengan pemeluk agama lain mulai dari zaman Walisongo hingga santri di era sekarang. Ia juga memaparkan cara dakwah santri yang merujuk pada model dakwah Walisongo.

Hari Santri 2019

"Tidak pernah terbukti seorang santri NU memprovokasi massa untuk menyerang atau menggusur tempat ibadah pemeluk agama lain," ujar Kang Said.

Kang Said mengutip ayat Al-Quran yang berbunyi, "Seandainya Allah menghendaki, niscaya Ia menjadikanmu sebagai satu umat."

Sementara moderator diskusi Syafiq Alielha mengangkat sejumlah fenomena cara beragama yang cenderung ekstrem. “Di luar sana masih ada kelompok-kelompok beragama yang kurang menghayati nilai-nilai Pancasila,” ujar Syafiq yang kini diamanahkan sebagai Pemred Hari Santri 2019. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Internasional, Aswaja Hari Santri 2019

Kamis, 14 Desember 2017

Apa Dampak Buruk Membaca Al-Qur’an Tidak Tartil?

Dalam Al-Qur’an surat Al Muzammil ayat 4 Allah berfirman “...dan bacalah Al-Qur’an secara tartil...”. Setelah bulan Ramadhan yang sudah banyak diisi dengan tadarus Al-Qur’an, tentu saja kita berharap bahwa di bulan-bulan setelah Ramadhan aktivitas tersebut bisa terus dilanggengkan, bahkan diperbaiki. Salah satu caranya adalah belajar membaca Al-Qur’an secara tartil sebagaimana ayat yang disebutkan di atas. Lantas bagaimanakah bacaan Al-Qur’an yang tartil itu?

Contoh penjelasan yang mudah tentang memahami pentingnya tartil Al-Qur’an adalah berdasarkan keterangan Gus. H. Kamal Fauzi Syifa’, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ulum, Kota Malang. Kepada seluruh santri dan jamaah, secara turun-temurun dan konsisten, beliau jelaskan bahwa pada dasarnya membaca Al-Qur’an itu secara tartil sebagaimana perintah Al-Qur’an.

Apa Dampak Buruk Membaca Al-Qur’an Tidak Tartil? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa Dampak Buruk Membaca Al-Qur’an Tidak Tartil? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa Dampak Buruk Membaca Al-Qur’an Tidak Tartil?

Kiai alumnus Pesantren Sidogiri dan banyak pesantren di Jawa ini mengutip penjelasan Sayyidina Ali bin Abi Thalib bahwa tartil adalah “tajwidul huruf, wa ma’rifatul wuquf (mengindahkan bacaan huruf, dan mengetahui tentang hukum waqaf-nya.”

“Tartil itu penting karena berperan besar ke makna bacaan. Keliru membaca Al-Qur’an itu, bisa karena sebab makharijul huruf-nya tidak terpenuhi, bacaan pendek yang dibaca panjang atau sebaliknya, juga cara berhenti memenggal bacaan ayat dan kalimat yang tidak pas,” ujar Gus Fauzi, begitu beliau biasa dipanggil.

Hari Santri 2019

“Contoh bacaan yang kurang tepat makhraj-nya: semisal Anda membaca di Surat Al Ghasyiyah,

? ? ? ? ? ?

Hari Santri 2019

Artinya adalah: “Tidakkah mereka melihat kepada Unta, bagaimana ia diciptakan?”. Padahal ayat ini sangat hebat, yaitu perintah kepada manusia untuk memerhatikan unta yang diciptakan begitu hebat sebagai hewan yang tangguh di padang pasir. Tapi kalau membacanya seperti ini:

? ? ? ? ? ?

Bacaan kha’ pada khuliqat menjadi ha’, karena kurang tepat cara bacanya, bisa bermakna begini: “Tidakkah mereka melihat kepada Unta, bagaimana ia dicukur?”

Kemudian beliau mencontohkan bacaan pendek yang menjadi panjang, yang perlu diperhatikan. Seperti dalam lafal ? ?, huruf ba’ dibaca pendek, artinya Allah Maha Besar. Kalau dibaca panjang, maka menjadi ? ?, artinya ‘Allah adalah beberapa gendang’. ? adalah bentuk kata banyak dari ?, yang artinya gendang. Bacaan panjang dan pendek ini perlu diperhatikan saat membaca Al-Qur’an.

“Lalu yang terakhir, mengapa memahami letak berhenti dan memulai bacaan, al waqf wal ibtida’ itu penting? Ini seperti ketika Anda keliru memenggal kalimat. Saya beri contoh: ‘Tentara hijau bajunya membawa senapan’. Anda bisa tepat memahami kalimat ini jika tepat pemenggalannya: ‘Tentara/ hijau bajunya / membawa senapan’. Jika keliru memenggal kalimat ‘Tentara hijau/ bajunya membawa senapan’, jadi sulit dipahami kalimat ini. Nah, begitu pun dalam membaca Al-Qur’an. Hal ini untuk menjaga makna Al-Qur’an,”. Demikianlah yang selalu beliau sampaikan dalam pelbagai forum pengajian bersama santri dan masyarakat sekitar, dari masa ke masa.

Hal yang beliau juga tekankan mengenai urgensi dan manfaat belajar Al-Qur’an secara tekun dan sabar dikutip dari sebuah hadis, bahwa orang yang membaca Al-Qur’an, akan selalu mendapat kebaikan. Begitu juga orang yang membaca dan belajar, meskipun terbata-bata, akan mendapat dua kebaikan: ganjaran atas bacaan Al-Qur’an-nya serta balasan kebajikan atas usahanya belajar membaca Al-Qur’an. Selagi masih ada kesempatan, mari kita selalu berusaha memperbaiki bacaan Al-Qur’an kita. Semoga ibadah kita semakin berkualitas selalu. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Olahraga, Aswaja, Pemurnian Aqidah Hari Santri 2019

Minggu, 10 Desember 2017

PMII Banda Aceh Gelar Kopdar Nusantara

Banda Aceh, Hari Santri 2019. Pengerus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Banda Aceh mengadakan kopdar Nusantara di Mizan Kupi, Lampineung Sabtu, 29 April 2017.

Ketua Umum PMII Akmal mengatakan, dalam kopdar Nusantara ini adalah sebuah anugerah terbesar bisa berkumpul di tanah rencong dengan sahabat-sahabati PMII se-Nusantara walaupun tidak semuanya dikarenakan mempunyai kewajiban dalam tugas mewakili kampus.

PMII Banda Aceh Gelar Kopdar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Banda Aceh Gelar Kopdar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Banda Aceh Gelar Kopdar Nusantara

Akmal juga berpesan silaturrahim ini harus tetap sampa bertemu dalam acara kongres yang sebentar lagi akan diselenggarakan.

"Kongres ini adalah kongres dengan seduhan aswaja dalam jiwa kita tanpa ada hal yang tidak kita inginkan," jelasnya?

Hari Santri 2019

Salah satu mewakili dari Kota Salatiga, Wasi menambahkan walaupun kita di Aceh tujuan awalnya adalah berkompetisi dalam Pionir ke VIII.

"Karena sahabat/i terikat dalam suatu ikatan yang sangat luar biasa yaitu PMII kita semua awalnya saling bersaing tapi malam ini kita bisa duduk bersama, ngopi bersama," ujarnya

Arif juga mengatakan suatu kebanggaan selaku kader PMII Cabang Kota Palopo Karena telah berkesempatan untuk duduk bareng dengan sahabat(i) se-Nusantara di Kota Banda Aceh.

Hari Santri 2019

"Sekali lagi terima kasih kepada PC. PMII Kota Banda Aceh yang telah memberikan wadah bagi kami untuk kumpul bareng sahabat(i) se-Nusantara di Banda Aceh. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri, Internasional, Aswaja Hari Santri 2019

Sabtu, 09 Desember 2017

Rafli, Sosok Rendah Hati Jebolan LSN

Jember, Hari Santri 2019 - Striker Tim Nasional Indonesia U-18 Muhammad Ralfi Mursalim ternyata sosok yang rendah hati. Jebolan Liga Santri Nusantara (LSN) itu mengaku dirinya bukan siapa-siapa. Menurutnya, masih banyak pemain lain dari LSN yang pantas masuk skuad tim nasional, namun belum hokinya. Banyak alumni LSN yang bertalenta, namun tidak terpantau oleh pemerintah.

"Sebetulnya bukan hanya saya yang dari pesantren, banyak juga pemain bintang lain, tapi belum rezekinya," tukas Rafli kepada Hari Santri 2019 di sela-sela Jumpa Pers di hotel Aston, Jember, Kamis (19/10).

Rafli, Sosok Rendah Hati Jebolan LSN (Sumber Gambar : Nu Online)
Rafli, Sosok Rendah Hati Jebolan LSN (Sumber Gambar : Nu Online)

Rafli, Sosok Rendah Hati Jebolan LSN

Rafli menambahkan, LSN cukup bagus meski perlu pembenahan di sana-sini. Sebagai ajang untuk menggali pemain-pemain bertalenta di pesantren, LSN cukup prospektif dan perlu didukung oleh semua pihak.

LSN di mata Rafli mempunyai kelebihan dibanding ajang lain, yaitu dukungan spritualitas dari kiai. Di tengah kompetisi yang sengit, masih ada doa dan petuah kiai yang bisa menyejukkan hati. Secara pribadi, ia merasa dukungan yang diberikan kiainya di Pondok Pesantren Al-Asyariyah, Banten cukup membesarkan jiwanya.

Hari Santri 2019

"Kiai mendukung olahraga. Kiai bilang, tidak lupa agama, dan tidak lupa sepakbola, dan olahraga lain juga boleh," ungkapnya.

Rafli bersama pemain PSSI U-19 akan menghadapi Persid Jember dalam laga uji coba di stadion Jember Sport Garden, Jember, Sabtu (21/10) sore.

Hari Santri 2019

Pelatih Indra Syafri membawa seluruh pemain terbaiknya dalam uji coba kali ini, termasuk bintang masa depan Indonesia, Egy Maulana Vikri, tandem Rafli di lini depan. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Anti Hoax, Aswaja Hari Santri 2019

Menag dan Kicauan Hormati Orang Tak Puasa

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Menjelang bulan suci Ramadhan, berbagai organisasi keagamaan melakukan sweeping penutupan warung dan tempat-tempat maksiat. Tindakan tersebut acapkali menuai resistensi dari pihak pengelola. Khusus penutupan tempat-tempat maksiat seperti lapak perjudian atau lokalisasi, mungkin semua sepakat, syukur-syukur ditutup selamanya. Namun perihal menutup warung makan atau restoran, masih menuai pro-kontra.

Menag dan Kicauan Hormati Orang Tak Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag dan Kicauan Hormati Orang Tak Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag dan Kicauan Hormati Orang Tak Puasa

Sebagai seorang santri, penulis memiliki pengalaman empiris mengenai kasus ini. Pada tahun 2007, Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan, Purworejo, Jawa Tengah, mengirimkan puluhan santri ke Gunungkidul, Yogyakarta. Penulis sendiri, ikut ditugaskan dalam “KKN” pesantren tersebut dan terjun di Desa Ngebrak, Semanu, Gunungkidul. Dalam suatu tanya-jawab pengajian pagi, ada seorang ibu bertanya: “Mas Ustaz, saya itu janda dan masih membiayai pendidikan anak-anak saya. Untuk itu, saya usaha: buka warung makan. Di bulan ramadhan ini, apa hukumnya jika saya tetap membuka warung? Sedangkan di berita, banyak ormas yang men-sweeping dan merusak warung-warung yang buka. Sementara jika ditutup, dapur saya tidak ngepul," kata sang ibu, sambil menatap cemas.

Usai berpikir sejenak, penulis menjawab, "Tidak usah tutup, Bu. Niatkan dalam hati ibu, menjual makanan untuk orang yang sedang tidak puasa: 1) musafir, orang yang sedang dalam perjalanan; 2) orang sakit; 3) anak-anak; 4) wanita yang sedang menyusui; 5) wanita yang sedang haid; 6) orang jompo dan; 7) orang-orang non-muslim. Kesemuanya itu boleh tidak puasa di bulan Ramadhan. Allah memberi privilege langsung untuk mereka, setelah perintah puasa. Hanya saja, tolong diberi satir atau penutup untuk menghormati orang yang puasa". Sang ibu itupun terlihat puas mendengar jawaban dari penulis. Kemudian ia tetap membuka warung seperti biasa, bekerja menangung hidup anak-anaknya yang tengah belajar di pesantren.

Hak Istimewa Tuhan 

Hari Santri 2019

Tahun 2015 lalu, Menag Lukman Hakim Saifuddin melalui akun twitter pribadinya meminta masyarakat menghormati orang yang tidak puasa di bulan Ramadhan. 

“Warung-warung tak perlu dipaksa tutup. Kita harus hormati juga hak mereka yang tak berkewajiban dan tak sedang berpuasa”. 

Hari Santri 2019

Hanya saja, oleh beberapa media diplesetkan menjadi: “Orang yang berpuasa harus menghormati orang yang tidak berpuasa”. Kata “juga” dibuang dari kalimat tersebut. Sontak, banyak netizen mengecam dan langsung memhardik mantan pengurus PP Lakpesdam NU tersebut.

Tentang statemen itu, ada dua hal yang ingin disampaikan Menag. Pertama, tak perlu ada paksaan untuk menutup warung di bulan puasa. Bila ada yang sukarela menutup warungnya, tentu perlu hormati. Namun muslim yang baik tak memaksa orang lain menutup sumber mata pencahariannya demi tuntutan menghormati yang sedang puasa. Saling menghormati adalah ideal, namun tidak saling paksa satu sama lain.

Kedua, kata ‘juga’ pada “kita harus hormati juga” secara implisit mengandung makna: selain menghormati yang sedang berpuasa, kita juga dituntut hormati hak mereka  yang tak wajib berpuasa dalam mendapatkan makanan atau minuman.  Ketika kalimat Menag itu diubah menjadi: “Kita harus hormati yang tak puasa”, tentu maknanya menjadi lain.

“Menghormati itu tindakan yang lebih mulia dibandingkan dengan dihormati. Tentu  semua orang sadar bahwa umat Islam berpuasa di bulan Ramadhan, namun juga harus dimengerti ada sebagian saudara kita yang sedang tidak berpuasa. Umat Islam yang baik tentu tidak akan memaksa pihak lain menghormati dirinya, karena menghormati itu harus wujud kesadaran diri dari pihak lain. Lebih buruk lagi jika keinginan dihormati itu dilakukan dengan melakukan kekerasan. Orang puasa itu melaparkan diri untuk melatih menahan hawa nafsu. Lah merasa lapar kok marah-marah kepada orang lain yang dia inginkan harus menghormati puasanya. Cara-cara kekerasan harus dihindari,” kata Menag, seperti dikutip laman nujateng.com (13/6/2015).

Kemudian, secara qat’i (tegas), Allah SWT memberikan hak previlege setelah ayat perintah puasa. “....Maka jika diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin....” (Q.S. Al-Baqarah: 184).

Menghormati orang yang tidak puasa adalah sebuah keniscayaan, mengingat yang diperintahkan puasa hanyalah umat muslim saja. Pun demikian, masih ada istisna’ (pengecualian), Allah SWT membolehkan beberapa kategori orang untuk tidak berpuasa. Ini artinya juga boleh makan atau membuka warung bagi mereka yang “gugur” kewajiban puasa di bulan Ramadhan.

Hal ini, mestinya dipahami oleh para dai, pemeluk agama, apalagi ormas yang membawa simbol agama. Allah SWT menghendaki kemudahan bagi umatnya, dan tidak menghendaki kesukaran (Q.S. Al-Baqarah: 185). Meski demikian, tentu kita tidak boleh ngampangke (memudahkan) ajaran-ajaran Islam, termasuk kewajiban berpuasa. 

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Santri Pondok Pesantren An-Nawawi, Berjan, Purworejo, Jawa Tengah.



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Khutbah, Aswaja Hari Santri 2019

Selasa, 05 Desember 2017

Ronggolawe Press Solidarity Latih Jurnalistik Siswa SMK Maarif

Tuban, Hari Santri 2019. Selama sehari penuh, sebanyak 30 siswa SMK Maarif 4-5 Tambakboyo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mengikuti pelatihan jurnalistik di aula sekolah setempat, Ahad (25/5). Dalam pelatihan tersebut pihak SMK Maarif 4-5 Tambakboyo berkerja sama dengan para wartawan Tuban yang tergabung dalam Ronggolawe Press Solidarity (RPS).

Para peserta yang tampak antusias mengikuti pelatihan itu dibekali beberapa materi tentang jurnalistik, di antaranya dasar-dasar jurnalistik, teknik wawancara dan reportase, teknik menulis berita dan praktik menulis berita.

Ronggolawe Press Solidarity Latih Jurnalistik Siswa SMK Maarif (Sumber Gambar : Nu Online)
Ronggolawe Press Solidarity Latih Jurnalistik Siswa SMK Maarif (Sumber Gambar : Nu Online)

Ronggolawe Press Solidarity Latih Jurnalistik Siswa SMK Maarif

Waka kesiswaan, Mustofa Bisri saat dikonfirmasi mengaku senang dan mendukung atas kegiatan pelatihan tersebut. Sebab bisa menambah pengalaman dan pengetahuan baru pada siswanya. Dengan pelatihan itu, sisiwa semakin lebih giat belajar, kreatif dan inovatif dalam ilmu jurnalis.

Hari Santri 2019

"Ke depan kami harap siswa bisa mengelola mading dengan baik, kreatif dan inovatif," ujar Bisri

Hari Santri 2019

Menurutnya, setelah  menerima materi, siswa diharap semakin antusias mengisi mading yang sudah tersedia di sekolah. Bahkan, siswa diharuskan lebih banyak dan mengembangkan karyanya. Kendati demikian, Bisri meminta kepada pihak wartawan RPS Tuban, agar pelatihan tersebut bisa berkelanjutan.

"Minimal 2 atau 3 bulan sekali bisa bertatap muka dan sharing dengan teman-teman wartawan RPS Tuban, agar para siswa paham dan mengerti tentang ilmu jurnalistik," sambungnya.

Sementara itu, Ketua LP Maarif MWCNU Kecamatan Tambakboyo, Abdul Ghofur, mengaku senang dengan pelatihan jurnalistik tersebut.  Sebab para siswa itu sebagai generasi masa depan yang menggantikan peran para wartawan yang terjun duluan.

"Pelatihan ini kalau bisa harus dimaksimalkan dan dimanfaatkan. Siswa  harus pandai menimba ilmu dari para wartawan tersebut. Karena momen pelatihan itu jarang sekali ada," ujar pria yang juga menjadi pengurus cabang LP maarif Tuban ini.

Terpisah, Ketua Panitia Pelatihan jurnalistik, Dion Fajar Arianto mengatakan, akan membantu para kader NU tersebut untuk belajar tentang ilmu jurnalistik. Selain itu, pihaknya siap menjembatani siswa yang berminat belajar ilmu jurnalistik.

"Pasti siswa akan kami bantu. Sebab saya ini juga kader NU kok," ungkapnya sambil senyum. (Suwandi/Mahbib)

Ronggolawe Press Solidarity Latih Jurnalistik Siswa SMK Maarif

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pondok Pesantren, Aswaja, Doa Hari Santri 2019

Senin, 27 November 2017

Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo

Kudus, Hari Santri 2019 - Kegiatan Tur Dakwah Keliling Meneladani KHR Asnawi yang digelar keluarga besar Qudsiyyah Kudus dimeriahkan dengan tari sufi diiringi dan rebana Al-Mubarok Qudsiyyah. Dakwah dari desa ke desa ini ditutup dengan pengajian umum yang berlangsung di halaman masjid Suryawiyyah Desa Kirig Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus, Ahad (15/5) malam. Sedikitnya 5.000 pengunjung meramaikan pengajian ini.

Pengajian di Mejobo ini merupakan putaran terakhir kegiatan Tur Dakwah Keliling dalam rangka peringatan satu abad Qudsiyyah. Sebelumnya kegiatan serupa telah berlangsung di Kecamatan Dawe, Bae, Undaan, Kaliwungu, Jekulo, Gebog, dan Jati. Berikutnya kegiatan serupa akan dilaksanakan di luar Kudus, yakni di Demak, Jepara, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.

Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo (Sumber Gambar : Nu Online)
Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo (Sumber Gambar : Nu Online)

Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo

KH Nor Halim Maruf saat menyampaikan taushiyah mengajak generasi sekarang mengikuti dan menggali model-model dakwah yang dilakukan para pendahulu. "Jasa-jasa para ulama terdahulu, jasa Mbah Kiai Raden Asnawi dalam berdakwah mengembangkan Islam begitu besar," kata Kiai Nor Halim.

Hari Santri 2019

Ia menambahkan, para ulama terdahulu begitu ikhlas berjuang mengembangkan Islam dengan ajaran yang santun dan penuh makna. Ia berharap generasi sekarang mampu meneladani dan mengambil hikmah serta meneruskan perjuangan para sesepuh.

Sepuluh jamiyyah rebana dari Kudus dan Pati meramaikan festival hadrah pada Ahad (15/5) siang. Kegitan yang berlangsung sangat meriah ini dimulai jam 10 pagi hingga sore. Tiga grup terbaik mendapatkan trofi dan uang pembinaan dari panitia.

Hari Santri 2019

Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus merupakan madrasah salaf yang didirikan oleh KHR Asnawi Kudus, salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama dari Kudus. Madrasah Qudsiyyah resmi berdiri pada tahun 1337 H. (Kharis/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Aswaja, Ulama Hari Santri 2019

Senin, 13 November 2017

Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah

Jakarta, Hari Santri 2019. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar Wisuda IV (Ke-4), Selasa (29/9) di Gedung Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta Timur. Dengan jumlah total lulusan yang sudah mencapai 1033 orang, Perguruan Tinggi yang berada di bawah naungan PBNU ini akan terus berkomitmen menjaga tanggung jawab Nahdliyah.

Demikian disampaikan oleh Kepala Badan Pelaksana dan Penyelenggara Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (BP3TNU), Drs KH Mujib Qulyubi, MH saat menyampaikan sambutan di depan 386 wisudawan dan wisudawati, serta para tamu undangan yang memadati Gedung Sasono Langen Budoyo.

Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah

“Tanggung jawab Nahdliyah ini akan terus melekat kepada para lulusan STAINU Jakarta dengan selalu memegang teguh dan mengamalkan ajaran-ajaran Aswaja ala NU,” terang pria yang juga menjabat Katib Syuriyah PBNU itu sesaat setelah Ketua STAINU Jakarta, dr H Syahrizal Syarif, MPH, PhD menyampaikan sambutan.

Hari Santri 2019

Kiai Mujib juga menegaskan, lulusan STAINU Jakarta jelas statusnya dan jelas sanad kelimuannya. Hal ini ditegaskan dengan hadirnya beberapa pejabat tinggi di lingkungan Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI serta Ketua Umum PBNU beserta jajaran ketua lainnya.

“Hal ini saya sampaikan terkait informasi wisuda ilegal sebuah perguruan tinggi yang tersebar di media beberapa waktu lalu,” jelas mantan Ketua STAINU Jakarta ini.

Hari Santri 2019

Dia melanjutkan, sanad kelimuan yang terbangun secara akademik di STAINU Jakarta juga sangat jelas. Karena kelimuan yang berasal dari Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, tegas Kiai Mujib, dijamin menyambung hingga kepada Nabi Muhammad saw.

Dalam kegiatan wisuda ini, hadir Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU, KH Abdul Manan Ghani dan Dr H Marsudi Syuhud, serta Wakil Ketua Kopertais I DKI Jakarta, Dr Abdul Wahid Hasyim. Hadir juga menyampaikan orasi ilmiah, Dirjen Pendidikan Islam, Kemenag RI, Prof Dr Kamaruddin Amin, beserta jajaran pejabat Kemenag lainnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Hikmah, Aswaja Hari Santri 2019

Senin, 06 November 2017

Tuhan yang Jauh

Oleh? Ali Usman

Jalaluddin Rumi (604-672 H/1207-1275 M) dalam kitabnya, Masnawi, bercerita: Dahulu, ada seorang muazin bersuara jelek di sebuah negeri kafir. Ia memanggil orang untuk shalat, tetapi umat muslim lainnya justru menegur, "janganlah kamu memanggil orang untuk shalat. Kita tinggal di negeri yang mayoritas bukan beragama Islam. Bukan tidak mungkin suaramu itu akan menyebabkan terjadinya kerusuhan dan pertengkaran antara kita dan orang-orang kafir."?



Namun muazin tersebut menolak nasihat banyak orang. Ia merasa bahagia dengan melantunkan azannya yang tidak bagus itu di negeri orang kafir. Ia merasa mendapat kehormatan untuk memanggil shalat di satu negeri di mana orang tak pernah shalat.

Tuhan yang Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuhan yang Jauh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuhan yang Jauh



Kekhawatiran itu berwujud nyata. Seorang kafir datang kepada mereka (orang muslim) suatu pagi, dengan membawa jubah, lilin, dan manisan. Berulang-ulang dia bertanya, "katakan kepadaku di mana sang muazin itu? Tunjukkan padaku, siapa dia, muazin yang suara dan teriakannya selalu menambah kebahagiaan hatiku?" Seorang muslim bertanya, "kebahagiaan apa yang engkau peroleh dari suara muazin yang jelek itu?"

Hari Santri 2019



Lalu orang kafir itu bercerita, "suara muazin itu menembus ke gereja dan tempat kami tinggal. Aku mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik dan berakhlak mulia. Ia berkeinginan sekali untuk menikahi seorang muslim. Ia mempelajari agama dan tampaknya tertarik untuk masuk Islam. Aku tersiksa, gelisah, dan terus-menerus dilanda kerisauan memikirkan anak gadisku itu. Aku khawatir dia akan masuk Islam. Sampai suatu saat anak perempuanku mendengar suara azan. Ia bertanya, suara apakah yang terdengar jelek dan mengganggu telingaku itu? Belum pernah dalam hidupku mendengar suara sejelek itu di tempat-tempat ibadah atau gereja."



Orang kafir melanjutkan ceritanya, “anak gadisku itu hampir tidak percaya. Dia bertanya lagi kepadaku, "apakah benar suara yang jelek itu adalah suara untuk memanggil orang sembahyang?" Namun ketika dia sudah diyakinkan bahwa betul suara itu adalah azan, wajahnya berubah pucat pasi. Dalam hatinya tersimpan kebencian pada Islam. Begitu aku menyaksikan perubahan itu, aku merasa dilepaskan dari segala kecemasan dan penderitaan.

Hari Santri 2019



Singkat cerita, ketika orang kafir itu bertemu dengan si muazin, dia berkata, "terima kasih hadiah ini karena engkau telah menjadi pelindung dan juru selamatku. Berkat kebaikan yang telah engkau lakukan, kini aku terlepas dari kegelisahan. Sekiranya aku memiliki kekayaan dan harta benda yang banyak, akan aku isi mulutmu dengan emas."

?

Hikmah parodi



Rumi mengajari kita sebuah cerita yang berisi parodi, sebuah sindiran yang sangat halus. Azan yang dikumandangkan dengan buruk bukan hanya dapat menghalangi orang untuk masuk Islam, tetapi ini juga soal metode komunikasi—atau dalam bahasa agama "metode dakwah"—yang kurang tepat. Bahwa betul apa yang disampaikan itu suatu kebenaran Ilahi, tetapi jika caranya salah, seperti orang memberikan makanan lezat kepada orang lain dengan cara melemparnya, tidak dengan yang lazim/sopan sebagaimana menjadi aturan adat atau norma agama, orang lain akan enggan ? nerimanya.



Jalaluddin Rakhmat (2007) menyebut model keberagamaan seperti yang ditunjukkan oleh muazain di atas sebagai "kesalehan pulasan", yaitu orang yang meletakkan nilai pada segi lahiriah. Seperti orang yang berazan, ia merasa azannya betul-betul melaksanakan perintah agama. Karena azan itu, seperti disebutkan dalam hadits, adalah suatu kewajiban yang mulia. Dengan berpegang pada teks itu, maka orang berlomba-lomba mengumandangkan azan, apalagi dilakukan dengan menggunakan pengeras suara bersahut-sahutan. Ini juga berlaku kepada amalan ibadah lain yang cenderung—meminjam istilah wakil presiden Jusuf Kalla melakukan "polusi udara" pada kasus pemutaran kaset ngaji.



Apakah hal itu salah? Tentu saja tidak, tetapi mungkin perlu mempertimbangkan aspek substansi (batiniah) selain aspek lahiriah ibadah. Apakah dengan berazan atau bahkan mengaji menggunakan pengeras suara dapat melipatgandakan pahala di sisi-Nya? Bagaimana jika dengan lantunan ayat atau azan itu justru mengganggu masyarakat lain yang non-muslim karena bising yang ditimbulkannya? Atau jangan-jangan kita menganggap bahwa Tuhan itu jauh (padahal Dia sendiri mengatakan (Q.S al-Baqarah: 186) bahwa diri-Nya sangat dekat dengan kita, fainni qarib) dan tidak mendengar (padahal Dia adalah sami, Maha Mendengar) sehingga perlu dipanggil lewat pengeras suara?

?

Gus Dur dan Gus Mus



Jadi ingat humor berikut ini. Tokoh agama Islam, Kristen, dan Budha sedang berdebat. Gus Dur mewakili dari agama Islam. Kala itu yang diperdebatkan mengenai agama manakah yang paling dekat dengan Tuhan? Seorang biksu Budha langsung menjawab, "Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap kami beribadah ketika memanggil Tuhan kami mengucapkan Om. Nah kalian tahu sendiri, begitu dekatnya hubungan keluarga antara paman dengan ponakannya?"



Seorang pendeta dari agama Kristen menyangkal. "Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan", ujar pendeta. "Lah kok bisa?", sahut biksu penasaran. "Kenapa tidak, agama Anda kalau memanggil Tuhan hanya Om, tetapi kalau di agama saya memanggil Tuhan itu Bapa. Nah kalian tahu sendiri, lebih dekat mana anak dengan bapaknya daripada keponakan dengan pamannya?" jawab pendeta.



Gus Dur yang belum mengeluarkan argumen masih tetap tertawa malah terbahak-bahak setelah mendengar argumen dari pendeta. "Loh kenapa Anda kok tertawa terus?" tanya pendeta penasaran. "Apa Anda merasa bahwa agama Anda lebih dekat dengan Tuhan?" sahut biksu bertanya pada Gus Dur.



Gus Dur masih saja tertawa sambil mengatakan "Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat justru agama saya malah paling jauh sendiri dengan Tuhan." Jawab Gus Dur dengan masih tertawa. "Lho kok bisa?" tanya pendeta dan biksu makin penasaran. "Bagaimana tidak, lah wong kalau di agama saya itu kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa (pengeras suara)," jawab Gus Dur.



Karena itulah, tidak berlebihan, jika KH Musthafa Bisri atau Gus Mus menulis puisi Kau ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana, yang penggalannya berbunyi, "... Aku harus bagaimana/Kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara tiap saat/Kau bilang suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai."

?

Penulis adalah Dosen Filsafat dan Tasawuf pada Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA) Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Halaqoh, Aswaja, Hikmah Hari Santri 2019

Kamis, 02 November 2017

PCNU Jepara: Setelah Dilantik Lalu Berbuat Apa?

Jepara, Hari Santri 2019 - Ketua PCNU Jepara KH Hayatun Abdullah Hadziq menyanyakan kepada pengurus Muslimat. “Setelah dilantik lalu berbuat apa?” pertanyaan itu disampaikannya dalam Pengajian dan Pelantikan PAC Muslimat NU Kecamatan Tahunan masa khidmah 2016-2021 yang berlangsung di Gedung Haji MWCNU Tahunan, Kompleks Unisnu Jepara, Senin (11/4).

Jawabannya tidak lain tentu berbuat sesuatu untuk masyarakat. Sebelum itu kiai yang kerap disapa Mbah Yatun ini menekankan agar mereka merapatkan barisan kepengurusan organisasi.

PCNU Jepara: Setelah Dilantik Lalu Berbuat Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jepara: Setelah Dilantik Lalu Berbuat Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jepara: Setelah Dilantik Lalu Berbuat Apa?

“Jangan sampai ingin ikut Muslimat hanya ingin dilantik. Terus selesai. Ikut Muslimat terus jadi tim sukses. Itu naif,” tegasnya.

Kelemahan-kelemahan organisasi di masa sebelumnya harus dijadikan muhasabah. Di samping itu, ketua organisasi dituntut untuk tegas. Jika tidak organisasi yang diikuti akan memble (lemah, red).

Hari Santri 2019

Apalagi NU Jepara mempunyai tanggung jawab yang berat. Ia meyakini bahwa organisasi mayoritas saja melempem apalagi dengan organisasi yang minoritas.

Hari Santri 2019

Tak hanya menata pengurus, program kerja yang akan dijalankan juga perlu ditata dengan solid. Jangan sampai hanya diurus oleh beberapa gelintir orang. Sebab baginya aktivis organisasi ialah contoh untuk masyarakat secara luas.

Ketua Muslimat NU Jepara Hj Noor Aini menambahkan pihaknya mengajak seluruh elemen Muslimat yang ada untuk saling bersinergi dengan keberadaan NU.

Ke depan pihaknya mengagendakan pelaporan kegiatan rutin. Ranting melaporkan kepada anak cabang. Anak cabang melaporkan kegiatan kepada cabang dan seterusnya. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Anti Hoax, Meme Islam, Aswaja Hari Santri 2019

Khofifah: Muslimat Punya Banyak PR Selesaikan Masalah Sosial

Samarinda, Hari Santri 2019

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mendorong para kader Muslimat untuk berpacu dalam menyelesaikan masalah sosial di sekitar. Ia mengatakan, berbagai persoalan tersebut antara lain prostitusi dan penyalahgunaan narkoba.

Khofifah: Muslimat Punya Banyak PR Selesaikan Masalah Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Muslimat Punya Banyak PR Selesaikan Masalah Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Muslimat Punya Banyak PR Selesaikan Masalah Sosial

Menurut Menteri Sosial ini, baik masalah prostitusi maupun narkoba, keduanya banyak menelan korban dari kalangan remaja. Lokalisasi tak sedikit mempekerjakan para perempuan yang masih usia SMP, juga narkoba yang menyasar di kalangan anak sekolah.

“Kita perlu ber-fastabiqul khairat lebih baik lagi ke depan. Kita banyak punya PR (pekerjaan rumah), bagaimana kita menyelesaikan persoalan-persoalan sosial di hadapan kita,” tuturnya dalam Konferensi Wilayah VII Muslimat NU Kalimantan Timur di Pendopo Lamin Etam Samarinda, Kaltim, akhir pekan (27/2) lalu.

Hari Santri 2019

Muslimat, kata Khofifah, perlu membuat pemetaan sosial sehingga permasalahan tadi dapat diselesaikan. Sebagai aktualisasi revolusi mental, para orang tua mesti mendidik anak-anak dan menekankan diri dan keluarga agar sering menyucikan diri, hati, pikiran, perilaku.

Hari Santri 2019

“Ini adalah PR buat muslimat NU agar dapat bekerja keras, kerja cerdas, bekerja dengan ikhlas, dan kerjakan semua sampai tuntas,” pintanya.

Konferwil Muslimat NU Kaltim dihadiri Gubernur Kaltim yang diwakili Asisten 3 H Bere Ali, Ketua PBNU H Farid Wajdi, Ketua PWNU Kaltim H Muhammad Rasyid, anggota DPR RI yang juga ketua Muslimat NU Balikpapan Hj Kasriyah, dan jajaran pengurus PCNU dari berbagai kabupaten, yakni Samarinda, Kutai Kartanegara, Bontang, dan Balikpapan.

Konferensi yang mengusung tema "Aktualisasi Peran Muslimat NU dalam Mendukung Gerakan Revolusi Mental" diikuti 9 Pimpinan Cabang Muslimat NU dan memilih secara aklamasi Hj. Aminah sebagai ketua PW Muslimat NU Kalimantan Timur untuk keempat kalinya.

Aminah mengatakan, ke depan pihaknya akan menggiatkan sejumlah program, antara lain memasukan pembelajaran pendidikan agama islam 1 jam setiap hari, yakni 30 menit di awal pelajaran dan 30 sebelum mengakhiri pelajaran khusus di lembaga pendidikan di bawa naungan Muslimat NU; memperluas sasaran dakwah; meningkatkan jalinan kerja sama dengan lembaga-lembaga terkait. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Aswaja, Pahlawan Hari Santri 2019

Jumat, 27 Oktober 2017

Mahasiswa Indonesia Raih Summa Cum Laude di Maroko

Menkes, Hari Santri 2019. Di penghujung tahun 2012, negeri terbenamnya matahari, Maroko. Kembali melahirkan seorang doktor untuk Indonesia. Jum’at sore, 21 Desember 2012 bertempat di auditorium Az-Ziyani, Fakultas Sastra dan Humaniora, Universitas Moulay Ismail-Meknes. Sekitar pukul 15.30 waktu setempat, digelar sidang disertasi doktoral Ust. M Helmi Basri, MA.

Tema disertasi yang diujikan ialah tentang maqasid syariah, dengan judul " At-Taamul al Maqaasidy maa as-Sunah an-Nabawiyah wa Tanziiluhu ala Badli al-Waqaaii al-Muaashiroh fi Indonesia" (Interaksi Maqasid terhadap Sunnah Nabawiyah dan Pengaplikasiannya terhadap beberapa Realita Kontemporer di Indonesia) dengan didampingi tiga tim penguji.

Mahasiswa Indonesia Raih Summa Cum Laude di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Indonesia Raih Summa Cum Laude di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Indonesia Raih Summa Cum Laude di Maroko

"Team penguji terdiri dari tiga orang, yakni Dr Mohammed As-Saisie (ketua), Dr Farid Syukri (anggota), dan Dr Moulay Umar Bin Hammad (anggota). Sedangkan sebagai pembimbing yakni Dr Khalid Muqali," ujar Herdiyansah Amran salah satu mahasiswa Indonesia di Maroko yang menghadiri acara tersebut.

Hari Santri 2019

Sidang juga dihadiri oleh Pelaksana Pensosbud KBRI Rabat, Suparman Hasibuan, serta sejumlah perwakilan anggota PPI Maroko dari tiap-tiap daerah masing-masing. Diantaranya, dari kota Rabat, Casablanca, Mohammedia, Kenitra, Fes, dan dari kota Meknes sendiri. Tampak pula sebagian mahasiswa Maroko juga ikut menghadiri acara tersebut.

Hari Santri 2019

Sidang disertasi yang berjalan cukup menarik dan sedikit menegangkan ini, berjalan lancar dan sukses. Walau ada beberapa kritikan dari dewan penguji, namun Ust. Helmi Basri, MA. berusaha mempertahankan apa yang beliau tulis dalam disertasinya.?

Setelah break sejenak untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah, acara dilanjutkan dengan pembacaan hasil keputusan sidang. Dalam keputusan ini, dewan penguji menganugerahkan predikat "Summa Cum Laude" (Musyarrof Jiddan) kepada Dr Helmi Basri, MA.

Herdi juga mengatakan bahwa, dengan gelar Doktor yang diraih oleh Ust. Helmi Basri sore kemarin. Maka, selama tahun 2012 ini, Maroko telah menelorkan sebanyak 11 serjana-serjana muda untuk tanah air tercinta. Dengan rincian 6 orang Strata 1 (LC), 3 orang Strata 2 (Master), dan 2 Orang Strata 3 (Doktor).

Dalam kesempatan, ini ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko H Habib Chairul M, Lc. Serta anggota PPI Maroko dan warga Indonesia di Maroko memberikan apresiasi yang sangat besar kepada Ust, Helmi Basri.

Ketua PPI Maroko H.Habib Chairul M, Lc. Menyampaikan bahwa hal ini tentu menjadi kebanggan kita bersama sebagai bangsa Indonesia. Semoga dengan semakin banyaknya alumni lulusan Negeri Maghribi ini, dapat menambah warna baru dalam khazanah keilmuan dan pemikiran keislaman di tanah air. Amiin.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Kusnadi El-Ghezwa?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Aswaja, Pendidikan, AlaNu Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock