Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Kontes Menggambar Kartun Nabi, PBNU: Itu Pelecehan terhadap Agama!

Jakarta, Hari Santri 2019. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam berlangsungnya kontes menggambar kartun Nabi Muhammad SAW di Curtis Culwell Center, Garland, Texas, Amerika Serikat, Ahad (3/5).?

"Jelas kami sangat menyesalkan adanya acara itu, karena itu bentuk pelecehan terhadap agama (Islam)," kata Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj di Jakarta, Senin (4/5).

Kontes Menggambar Kartun Nabi, PBNU: Itu Pelecehan terhadap Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontes Menggambar Kartun Nabi, PBNU: Itu Pelecehan terhadap Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)

Kontes Menggambar Kartun Nabi, PBNU: Itu Pelecehan terhadap Agama!

? Meski akhirnya dibubarkan oleh aparat keamanan setempat, Kiai Said mempertanyakan mekanisme pemberian izin berlangsungnya sebuah acara di Amerika Serikat, sehingga kegiatan yang bersifat sensitif terhadap kerukunan umat beragama tersebut bisa berlangsung.?

Hari Santri 2019

? "Saya mendengar sampai terjadi penembakan dan jatuh dua korban jiwa. Kejadian seperti itu seharusnya bisa dihindari jika pemerintah setempat lebih peka," kritik Kiai Said.

? Meski mengecam kegiatan dimaksud, Kiai Said meminta kepada umat Islam dunia, khususnya di Indonesia dan warga Nahdlatul Ulama, untuk tidak terpancing membalasnya dengan tindakan bersifat anarkis. "Jangan habiskan energi kita untuk membalas hal-hal seperti itu, apalagi dengan tindakan anarkis. Percaya, Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang melecehkan Islam," pesannya.

?

Hari Santri 2019

Lomba menggambar kartun Nabi Muhammad SAW diselenggarakan oleh American Freedom Defense Initiative, sebuah organisasi yang secara aktif terus menyebarkan kebencian terhadap Muslim di Amerika Serikat. Presiden lembaga tersebut, Pamela Geller, mengatakan kegiatan yang diadakannya bertujuan kebebasan berpendapat sebagai respons dari kekerasan ketika menggambar Nabi Muhammad di Charlie Hebdo. Gambar terbaik dari loma tersebut diganjar hadiah sebesar 10 ribu US Dollar. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, PonPes Hari Santri 2019

GP Ansor Lubuklinggau Canangkan “Gerakan Berbuat”

Lubuklinggau, Hari Santri 2019. Untuk merealisasikan kepedulian terhadap kaum duafa atau mustadafin Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Lubuklinggau, Musirawas, Sumatera Selatan, mencanangkan “Gerakan Berbuat”.

Hal ini dikemukakan Ketua Pengurus Cabang (PC) GP Ansor Kota Lubuklinggau Noberta Irawan saat memberikan bantuan kepada kaum duafa di Kota Lubuulinggau, Selasa (17/4).  Pemberian bantuan ini bagian dari Gerakan Berbuat yang dicanangkan GP Ansor Lubuklinggau.

GP Ansor Lubuklinggau Canangkan “Gerakan Berbuat” (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Lubuklinggau Canangkan “Gerakan Berbuat” (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Lubuklinggau Canangkan “Gerakan Berbuat”

Dikatakannya, gerakan ini tidak hanya sebatas seremonial belaka. Lebih dari itu, bisa mengangkat kaum duafa dari jurang kemiskinan dan keterbelakangan di semua sektor.

Hari Santri 2019

"Gerakan berbuat ini dicetuskan untuk melatih kepedulian terhadap sesama," ujarnya.

Ia menambahkan, secara khusus Gerakan Berbuat ini ditujukan kepada kader-kader GP Ansor Kota Lubuklinggau agar memiliki kepekaan sosial, terutama kepada warga yang kurang mampu.Kegiatan ini sudah beberapa kali dilakukan GP Ansor Lubuklinggau.

Hari Santri 2019

Dia menghimbau, mereka yang memiliki kemampuan secara ekonomi, kiranya dapat bersama-sama GP Ansor membantu kaum duafa. "GP Ansor selalu membuka diri untuk semua pihak yang bergabung dalam kegiatan Gerakan Berbuat," ujar Noberta.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, Pahlawan Hari Santri 2019

Rabu, 07 Februari 2018

Sampaikan Pesan Agama dengan Santun dan Jaga Kebersamaan

Surabaya, Hari Santri 2019. Menyampaikan ajaran agama harus memperhatikan kondisi masyarakat setempat dari banyak aspek. Juga jangan sampai menyampaikan hal yang menimbulkan perbedaan. Kebersamaan harus dijaga agar ukhuwah terus terawat dengan baik.

Muhammad Dawud mengingatkan hal ini pada acara Evaluasi Dengar Pendapat atau EDP yang diselenggarakan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur, Jumat (10/7).

Sampaikan Pesan Agama dengan Santun dan Jaga Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sampaikan Pesan Agama dengan Santun dan Jaga Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sampaikan Pesan Agama dengan Santun dan Jaga Kebersamaan

"Menyeru pesan agama hendaknya harus dengan mengedepankan kesantunan, sebagaimana telah dipesankan dalam Islam," katanya di hadapan 4 pemohon ijin radio komunitas dan televisi kabel berlangganan.?

Hari Santri 2019

Apalagi, lanjutnya, bagi para pengelola lembaga penyiaran seperti televisi maupun radio untuk bisa memilih mata acara dan program yang tidak lagi menebarkan kebencian atau perbedaan saat bersiaran.

Hari Santri 2019

Salah sorang komisioner KPID Jatim ini juga berharap sekaligus menekankan bahwa masih banyak radio dan televisi yang gemar menyiarkan materi yang menyinggung perbedaan. "Padahal materi seperti ini tidak akan selesai diperdebatkan," ungkap Sekretaris PW ISNU Jatim ini.?

Dawud juga mengkritik sejumlah lembaga penyiaran yang gemar merelay siaran dari beberapa radio kenamaan dengan tidak memperhatikan kondisi masyarakat sekitar. "Bagaimana mungkin anda merelay berita maupun tayangan dari sumber yang jelas-jelas berseberangan dengan tradisi mayoritas masyarakat sekitar," katanya.

Karenanya sangat mendesak untuk memiliki kearifan dalam menayangkan serta menyampaikan materi siaran yang mampu menjaga kebersamaan dan menghargai keberagaman di masyarakat. "Kami sangat berharap para pemohon bisa menjaga suasana kondusif di lingkungan masing-masing, apalagi telah memiliki media baik televisi maupun radio," ungkapnya.

Kegiatan EDP berlangsung sejak 8 hingga 10 Juli. Ada puluhan radio komunitas serta satu televisi kabel berlangganan yang mengajukan izin agar bisa bersiaran sesuai wilayahnya. Para pemohon harus mempresentasikan proposal yang telah diajukan di hadapan para tim penguji, pemberi masukan, serta dari komisioner KPID Jatim. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nasional, Nahdlatul, Anti Hoax Hari Santri 2019

Minggu, 04 Februari 2018

Kenalkan Idaman, Rhoma Irama Sowan ke PBNU

Jakarta, Hari Santri 2019. Ketua Umum Partai Islam Damai Aman (Idaman) H. Rhoma Irama sowan ke PBNU pada Selasa (5/1). Ia diterima Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di ruangannya, lantai 3 gedung PBNU, Kramat Raya 164, Jakarta.

Kenalkan Idaman, Rhoma Irama Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenalkan Idaman, Rhoma Irama Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenalkan Idaman, Rhoma Irama Sowan ke PBNU

Pria yang dikenal sebagai raja dangdut tersebut memperkenalkan bahwa partainya berpaham Ahlussunah wal-Jamaah. Bahkan di AD/ART disebutkan Islam yang mengikuti mazhab empat. Dengan demikian, partai tersebut sesuai dengan NU.

Pada kesempatan itu, ia mengajak warga NU untuk membesarkan partai tersebut. “Saya tahu NU sudah punya PKB (Partai Kebangkitan Bangsa, red). Kalau PKB anak emas, Partai Idaman anak peraknya,” ungkapnya sambil tersenyum. ?

Hari Santri 2019

Ia menyebutkan, partainya merangkul semua pihak. Ia mengistilahkannya dangan partai pelangi. Namun ia berharap, agar NU lebih dominan di partainya.

Hari Santri 2019

Lebih lanjut ia menyampaikan, sampai saat ini, Partai Idaman sudah memiliki Pengurus Wilayah di seluruh provinsi. Sementara di tingkat kabupaten dan kota sudah terbentukratusan Cabang.

Kiai Said menyebutkan, status NU adalah khittah 1926, tidak ikut partai mana pun. Tapi warga NU boleh iktu partai apa pun.

Menurut dia, meskipun bebas memilih partai, warga NU punya standar sendiri dalam memilih, yaitu partai yang Ahlussunah wal-Jamaah.

Hadir pada kesempatan tersebut, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Ketua PBNU H M Sulton Fatoni, Bendahara PBNU H Bina Suhendra, Rais Syuriyah PBNU KH Ishomuddin, Ketua Lembaga Ta’mir Masjid PBNU H Mansur Sayerozi, Wakil Sekretaris Jenderal Andi Najmi. (Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul Hari Santri 2019

Selasa, 30 Januari 2018

Ansor Kajen Gelar Bakti Sosial di Pesantren

Pekalongan, Hari Santri 2019 - Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN), Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menggelar bakti sosial di Pondok Pesantren Fathul Huda Desa Sinangohprendeng Kecamatan Kajen.

Menurut Ketua PAC GP Ansor Kajen Abdul Muid, bakti sosial ini merupakan realisasi dari program “Gerakan Peduli Pesantren” yang digalang oleh GP Ansor dan Banser (Barisan Ansor Serbaguna) Kajen.

Ansor Kajen Gelar Bakti Sosial di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Kajen Gelar Bakti Sosial di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Kajen Gelar Bakti Sosial di Pesantren

Jumat (21/10) kemarin, berlangsung serah terima sejumlah bantuan berupa buku, alat tulis, serta seperangkat alat dan bahan pengecatan. Pengecatan sendiri dikerjakan secara bersama-sama personel Banser dan santri pondok pesantren.

Ia menambahkan bahwa peringatan HSN diharapkan menjadi momentum untuk memberikan perhatian lebih kepada para santri dan pondok pesantren, juga mengingatkan Negara untuk peduli terhadap pengembangan pesantren dan para santri.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Sementara itu, KH Ahmad Minanul Aziz selaku pengasuh Pondok Pesantren Fathul Huda mengapresiasi program bakti sosial dari PAC GP Ansor Kajen sebagai wujud perhatian terhadap santri dan dunia pesantren. Atas nama Pesantren Fathul Huda, ia menyampaikan terima kasih. (Alim Mustofa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul Hari Santri 2019

Minggu, 21 Januari 2018

Banyuwangi Kompak Larang Keras Kelompok Ekstrem Masuk

Jakarta, Hari Santri 2019. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas secara tegas melarang kelompok garis keras Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) masuk daerahnya. Ia mengatakan, pihak-pihak di Banyuwangi, baik aparat pemerintah daerah, kepolisian, TNI, organisasi keagamaan, maupun elemen masyarakat lainnya, akan kompak mencegah penyebaran ideologi radikal yang ingin masuk ke Banyuwangi.

"Posisi kami sebagai kepala daerah sangat jelas, yaitu melarang pendirian organisasi militan ISIS dan penyebaran ideologinya. Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi," ujar Anas yang juga mantan Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) tersebut dalam siaran pers, Rabu (6/8).

Banyuwangi Kompak Larang Keras Kelompok Ekstrem Masuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyuwangi Kompak Larang Keras Kelompok Ekstrem Masuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyuwangi Kompak Larang Keras Kelompok Ekstrem Masuk

Di Banyuwangi, sambung Anas, pihaknya getol menyosialisasikan nilai-nilai keagamaan yang ramah dan toleran. Radikalisme bisa meretakkan bangunan kebangsaan dan menimbulkan kerugian bagi bangsa. "Karena itu, kami rutin menggelar pertemuan yang diikuti para tokoh lintas agama. Berbagai program pembangunan juga melibatkan umat lintas agama," ujarnya.

Hari Santri 2019

Anas mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan sejumlah ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan aparat keamanan untuk mengidentifikasi adanya penyebaran radikalisme dan terorisme di Banyuwangi. Apalagi, posisi Banyuwangi cukup strategis sebagai pintu masuk maupun pintu keluar dari Bali yang selama ini kerap dijadikan lokasi sasaran aksi radikal.

Hari Santri 2019

"Alhamdulillah, sejauh ini situasi kondusif. Para tokoh agama selalu menyampaikan pesan yang sejuk dan menebarkan manfaat bagi semua umat. Kami akan merawat kebhinnekaan Indonesia dari Banyuwangi," katanya. (Mahbib Khoiron)

Foto: sebuah pertemuan lintas agama yang digelar rutin pemerintah Banyuwangi

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, Sholawat, Sunnah Hari Santri 2019

Selasa, 09 Januari 2018

Tampung Aspirasi Pelajar, IPPNU Probolinggo Mantapkan Kepengurusan Dulu

Probolinggo, Hari Santri 2019. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Probolinggo melakukan upgrading atau penyegaran pengurus sekaligus untuk memantapkan kepengurusan Kabupaten Probolinggo periode 2013-2015, Sabtu (10/1).

Wakil Ketua PC IPPNU Kota Probolinggo Yayuk Hasanah mengungkapkan pemantapan pengurus ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan kualitas dan profesionalitas para pengurus dalam memberikan pemahaman terkait tupoksi (tugas pokok dan fungsi) jabatan masing-masing dalam kepengurusan.

Tampung Aspirasi Pelajar, IPPNU Probolinggo Mantapkan Kepengurusan Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Tampung Aspirasi Pelajar, IPPNU Probolinggo Mantapkan Kepengurusan Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Tampung Aspirasi Pelajar, IPPNU Probolinggo Mantapkan Kepengurusan Dulu

“Kami berharap supaya kegiatan ini bisa menambah semangat juang para pengurus untuk menyusun dan menjalankan program kerja sesuai dengan kebutuhan para pelajar NU. Sebab pada dasarnya kita bergabung dengan IPPNU adalah untuk membesarkan dan menampung seluruh aspirasi pelajar NU,” ujarnya.

Hari Santri 2019

Menurut Yayuk, penyegaran sekaligus pemantapan kembali kepengurusan ini sangat penting dilakukan. Sebab selain untuk bisa memperbaiki kualitas diri, pengurus juga harus lebih semangat dalam mengembangkan organisasi IPPNU di Kota Probolinggo.

Hari Santri 2019

“Perjuangan itu sangat penting dilakukan dibarengi dengan semangat dalam memperjuangkan dan melestarikan ajaran Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di kalangan pengurus dan pelajar di Kota Probolinggo,” terangnya.

Demi tetap menjaga eksistensi organisasi jelas Yayuk, maka semua pengurus PC IPPNU Kota Probolinggo harus selalu menjaga kekompakan agar program kerja yang sudah dirancang bisa berjalan sesuai dengan harapan para pengurus dan pelajar di Kota Probolinggo.

“Kekompakan ini penting agar apa yang sudah kita programkan bisa berjalan dengan baik dan tepat sasaran. Pemantapan ini merupakan salah satu upaya penguatan SDM di jajaran kepengurusan sebagai langkah mempertajam program kerja yang akan ditetapkan dalam Rakercab mendatang,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Pendidikan, Nahdlatul Hari Santri 2019

Selasa, 26 Desember 2017

Citra Pendidikan Agama di Madrasah Dinilai Berhasil

Madrasah sebagai salah satu institusi pendidikan Islam semakin menunjukkan peran pentingnya dalam dinamika pendidikan nasional. Di saat banyak pelajar di sekolah umum terseret dalam citra negatif kemerosotan moral seperti seks bebas dan tawuran, madrasah mampu tampil gemilang dengan berbagai prestasi.

Beberapa waktu lalu siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Pamulang, Tangerang Selatan, menggondol sejumlah medali dan penghargaan pada International Islamic School Robot Olympiade (IISRO) yang digelar di Johor Malaysia. Tim robotik MTsN Pamulang itu berhasil mengalahkan tim dari beberapa sekolah unggulan negara-negara Islam di mancanegara.

Di tingkat nasional, tim robotik MTsN Pamulang ini juga meraih juara 1 untuk tingkat sekolah menengah pertama atau madrasah tsanawiyah (SMP/MTs). Belum lagi kita memasukkan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia dalam dereten madrasah berprestasi. Madrasah yang digagas Presiden ke-3 RI, BJ Habibie itu selalu tampil membanggakan dalam ajang kompetisi sains, baik nasional maupun internasional.

Citra Pendidikan Agama di Madrasah Dinilai Berhasil (Sumber Gambar : Nu Online)
Citra Pendidikan Agama di Madrasah Dinilai Berhasil (Sumber Gambar : Nu Online)

Citra Pendidikan Agama di Madrasah Dinilai Berhasil

Karena berbagai prestasi yang diraihnya itulah, Kementerian Agama berencana memperbanyak MAN Insan Cendekia. Saat ini, sekolah tersebut baru beroperasi sebanyak tiga sekolah, yaitu di Serpong, Gorontalo, dan Jambi. Kemenag RI ingin agar setiap provinsi di Indonesia mempunyai MAN Insan Cendekia.

Prestasi ini tentu membanggakan. Pasalnya, madrasah yang selama ini dicitrakan terbelakang, bahkan dinilai tidak mampu bersaing dengan sekolah-sekolah umum dalam kompetisi sains, ternyata tampil sebagai juara pertama dalam kejuaraan bergengsi di pentas nasional dan internasional. Prestasi madrasah tidak hanya dalam sains, di bidang pelestarian lingkungan hidup juga tak kalah gemilangnya.

Hari Santri 2019

Tak tanggung-tanggung, empat madrasah dianugerahi penghargaan Adiwiyata Nasional oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penghargaan yang didasarkan atas Kepmen LHK No 183 Tahun 2014 itu diberikan kepada MAN 1 Pekanbaru, Riau; MAS Mareku, Tokep Maluku Utara; ? MTsN Dowora, Tokep Maluku Utara; ? MIN Dowora, Tokep Maluku Utara.

Anugerah tersebut, kata Direktur Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam M Nur Kholis Setiawan, sekali lagi menjadi bukti bahwa madrasah mampu bersaing dengan sekolah umum. Kesan madrasah hanya mampu menguasai ilmu agama tapi ketinggalan dalam ilmu umum merupakan pandangan lama yang musti direvisi. Buktinya, madrasah mampu mengalahkan sekolah umum dalam berbagai kompetisi. Dalam beberapa kasus, madrasah justru lebih unggul. Keunggulan siswa madarasah ini bahkan diakui profesor Jepang. Guru besar Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Profesor Kondo Yuichi, mengaku kagum dengan alumni madrasah yang kuliah di APU. Menurutnya, prestasi alumni madrasah di APU sangat memuaskan. Bahkan menduduki peringkat dua besar di Universitas unggulan Jepang itu.

Karena berbagai prestasi itulah, Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin, mengimbau kepada semua siswa madrasah untuk tidak minder berhadapan dengan siswa sekolah umum. Madrasah sudah terbukti mampu menyaingi sekolah umum, bahkan dalam bidang sains yang seharusnya menjadi andalan sekolah umum. Menurut Lukman, hal itu luar biasa lantaran madrasah punya beban yang lebih tinggi ketimbang sekolah umum. Madrasah, selain mengejar prestasi ilmu umum atau sains, juga dituntut ? menguasai ilmu agama. Madrasah lahir dari rahim pesantren, karenanya ia harus diwarnai oleh ilmu agama.

Dalam perkembangannya, Lukman menilai, madrasah mampu mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum dalam penguasaan yang seimbang. Tak salah bila dikatakan, justru kemampuan mengintegrasikan ilmu agama yang implementasinya adalah iman dan takwa (Imtak) dengan ilmu pengetahuan teknologi (Iptek) inilah, madrasah saat ini menjadi primadona. Madrasah dipercaya masyarakat mampu membentuk generasi muslim yang berkarakter unggul dengan kemampuan ilmu yang kombinatif antara ilmu agama dan umum atau sains.

Benteng Pertahanan Remaja

Hari Santri 2019

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin selalu menekankan peran madrasah sebagai pusat pendidikan karakter generasi muda. Menag berharap, madrasah menjadi benteng pertahanan para remaja dari penyebaran virus dekadensi moral. Madrasah tak boleh terjerumus pada maraknya problem moral remaja seperti narkoba, miras, seks bebas, dan tawuran.

Karenanya, madrasah harus menguatkan penanaman nilai-nilai keislaman kepada siswa. Penanaman itu, tentu saja melalui pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). PAI harus mampu internalisasi sedemikian rupa nilai-nilai Islam dalam fikiran, jiwa, dan sikap siswa sehingga mampu mengkonter virus dekadensi moral dan mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam.

Hasilnya, mereka diharapkan dapat menghayati dan mengamalkan ajarannya, dan menghormati hak-hak pemeluk agama lain, serta dapat hidup damai, harmonis berdampingan dengan sesama warga Indonesia dalam perbedaan dan kebersamaan. Tuntutan praktis ini adalah implikasi dari realitas yang tak terelakkan dari dimensi kehidupan keagamaan di ranah keragaman dan kerukunan antarumat beragama.

Karena itu, penelitian yang dilakukan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan (Puslitbang Penda) Badan Litbang dan Diklat Kemenag menjadikan tiga aspek sebagai tolok ukur keberhasilan pengajaran PAI di madrasah. Tiga aspek ini hendak memotret bahwa Islam tak hanya ditanamkan di pikiran (kognitif), tapi juga dalam penghayatan jiwa (afektif), dan pengamalan tindakan (psikomotorik).

Secara lebih khusus, penelitian PAI itu berusaha menjawab pertanyaan “Bagaimana hasil capaian pembelajaran PAI pada peserta didik di madrasah aliyah (MA)”. Pertanyaan itu sering disuarakan oleh banyak kritikus pendidikan Islam, dan jawabannya sangat ditunggu. Seberapa mampu proses formal pembelajaran PAI membentuk karakter-sikap sosial-keagamaan siswa yang positif, terutama dalam konteks relasi antarumat beragama.

Menjawab pertanyaan itu dengan memasukkan tiga aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan bentuk penelitian survei, Puslitbang Penda melakukan terobosan besar. Sebab, sebelumnya belum ada studi khusus dengan sampel yang representatif yang berusaha mengevaluasi keberhasilan pembelajaran PAI di MA, terutama dalam kerangka pembentukan sikap-karakter sosial-keagamaan (outcome) peserta didik.

Dengan memasukkan tiga aspek itu pula, penelitian tersebut juga menjadi jawaban atas kritik para pakar pendidikan tentang pengajaran PAI yang dinilai hanya mementingkan aspek ilmu dan terlalu lebih berorientasi pada model pengajaran, bukan pada pendidikan dan pembentukan sikap dan karakter. Akhirnya, hasil pendidikan agama Islam hanya menghasilkan output, peserta didik yang sebatas ahli-ahli agama, dengan sejumlah titel dan atribut formal lainnya, tetapi mereka tidak berhati dan berjiwa agama.

Capaian kognitif

Dangan gambaran capaian kognitif itu, Puslitbang Penda menemukan bahwa capaian kognitif bervariasi menurut status madrasah, bidang pelajaran, dan semester. Pertama, capaian nilai siswa untuk semua pelajaran PAI semester ganjil baru mencapai standar cukup baik, di level antara 78-80.

Sementara itu, hasil capaian semester genap relatif lebih baik untuk semua pelajaran. Nilai kognitif siswa MAN sudah mencapai taraf baik (81-90), kecuali untuk pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Kedua, hasil capaian kognitif pelajaran Quran-Hadis dan Fikih di atas rata-rata hasil capaian pada dua pelajaran lainnya, yaitu Akidah Akhlak dan SKI. Ketiga, hasil capaian kognitif siswa madrasah aliyah berstatus negeri (MAN) selalu lebih tinggi dibanding dengan hasil capaian kognitif siswa madrasah aliyah berstatus swasta (MAS). Keempat, hasil capaian nilai semester genap selalu lebih tinggi dibanding dengan hasil capaian siswa pada nilai semester ganjil untuk seluruh bidang pelajaran PAI.

Jika hasil capaian kognitif di atas dicermati lebih detail, maka tampak beberapa ciri berikut: Pertama, pelajaran al-Quran-Hadis dan Fikih nampak lebih mudah dibanding pelajaran lainnya, karena nilai capaian siswa untuk kedua pelajaran pertama lebih tinggi dibanding dengan nilai dua pelajaran PAI lainnya (Akidah-Akhlak dan Sejarah Kebudayaan Islam).

Kedua, guru kedua pelajaran tersebut pertama di atas lebih mudah-murah memberi nilai kepada siswa. Ketiga, skor nilai siswa MAN selalu lebih tinggi dibanding dengan nilai siswa MAS. Keempat, perbedaan nilai per pelajaran dan semester PAI adalah signifikan pada level 5 % menurut status MA, kecuali untuk pelajaran SKI. Dengan kata lain, latar belakang status MA siswa dapat dijadikan variabel prediktor yang akurat untuk menganalisis keragaman nilai pelajaran PAI siswa kelas 2 dan 3 MA.

Capaian afektif

Capaian afektif adalah tingkat keberhasilan siswa dalam menginternalisasi pelajaran PAI ke dalam watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Afektif berhubungan dengan nilai (value), karenanya ia sulit diukur. Karena itu, penelitian Puslitbang Penda berusaha memberi batasan ketat dalam menilai tingkat keberhasilan afektif siswa dalam pembelajaran PAI.

Ada lima dimensi yang diteliti dalam bidang afektif dan hal itu merupakan turunan dari penilaian dalam capaian kognitif pelajaran PAI seperti telah dijelaskan sebelumnya. Lima isu itu adalah, pertama, sikap terhadap etika teologis relasi lintas agama. Kedua, sikap terhadap etika sosial relasi lintas agama. Ketiga, sikap terhadap wacana formalisasi hukum Islam dalam tata kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Keempat, dukungan terhadap doktrin jihad berbasis kekerasan. Kelima, dukungan terhadap prinsip demokrasi.

Hasilnya, tingkat hasil capaian afektif pembelajaran PAI bervariasi menurut bidang ajarnya. Hasil capaian afektif sudah sangat baik pada bidang ajar yang tidak terlalu menyentuh aspek keyakinan keagamaan, seperti pada kasus materi ajar tentang wacana demokrasi dan penerapan hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat capaian afektif pada materi ajar yang bersentuhan dengan prinsip dan keyakinan keagamaan relatif masih sangat rendah. Sikap responden cenderung kurang toleran dalam konteks relasi lintas agama, baik pada aspek relasi sosial, maupun pada relasi yang berkaitan dengan faktor teologi.

Capaian psikomotorik

Hasil belajar psikomotorik ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu) dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan berperilaku). Hasi belajar kognitif dan afektif akan menjadi hasil belajar psikomotorik apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan afektif. Aspek capaian psikomotorik dipilah ke dalam tiga aspek: perilaku ritual (pelaksanaan ibadat konvensional, cenderung ibadah ghairu mahdlah), perilaku taat, dan penyimpangan prinsip moral-susila.

Tingkat hasil capaian psikomotorik dalam hal pelaksanaan ibadat konvensional sangat baik. Lebih dari sepertiga responden rutin melaksanakan secara maksimal menurut standar normatif Islam, seperti pelaksanaan ibadah harian, atau mingguan. Namun demikian, masih ada minimal sekitar 9 % responden mengaku tidak pernah mengerjakan kegiatan ibadat dimaksud minimal sekali sebulan.

Indikator perilaku moral-susila mencakup pengalaman berpacaran dan tindakan buruk yang pernah dilakukan saat pacaran, mulai dari bergandengan tangan sampai menyentuh bagian tubuh yang sensitif dari lawan jenis, atau identik dengan bagian reproduktif.

Meski perilaku pacaran juga dilakoni siswa madrasah aliyah (MA), namun gaya pacaran mereka masih relatif normal jika dibanding dengan gaya pacaran dan seks bebas di kalangan siswa SLTA yang pernah dipetakan dalam sejumlah penelitian lain, seperti survei BKKBN yang mencatat bahwa separo siswa SLTA di Jakarta mengaku sudah pernah mempraktikkan seks bebas.

Tingkat capaian psikomotorik bidang ini sangat positif. Lebih dari 95 % responden mengaku tidak pernah, atau hanya sekali melakukan perilaku buruk seperti yang ditanyakan dalam penelitian ini, kecuali pada aspek mengunduh gambar porno atau menonton film porno. Bahkan kecenderungan perilaku positif ini sangat merata di kalangan responden.

Hasil penelitian Puslitbang Penda membuktikan bahwa pengajaran PAI di madrasah sudah cukup berhasil dalam ranah kognitif dan psikomotorik. Akan tetapi kurang berhasil dalam ranah afektif, terutama pada materi yang bersentuhan langsung dengan prinsip dan keyakinan keagamaan.

Meski cukup memuaskan dalam ranah kognitif dan psikomotorik, tapi potensi masuknya virus dekadensi moral tetap perlu diwaspadai. Hal ini setidaknya mengacu pada angka 3% pada survei yang menyatakan dan mengaku pernah melakukan tindakan tidak terpuji saat pacaran, dan angka 95% yang walau tidak pernah melakukan tindakan amoral tapi mengaku setidaknya sekali mengunduh atau menonton film porno.

Potensi itu perlu mendapat perhatian serius karena madrasah, seperti dikatakan pemerintah, adalah simbol pendidikan moral dan sekaligus benteng dari virus dekadensi moral remaja. Moralitas yang menjadi turunan nilai-nilai keislaman adalah visi utama PAI di madrasah.

Jika visi moralitas ini dicapai, harapan pemerintah dan masyarakat terhadap madrasah sebagai pencetak generasi bangsa yang mampu mengintegrasikan iptek dan imtak akan tercapai. Tak hanya itu, sukses dalam integrasi Iptek dan Imtak bakal menjadikan madrasah sebagai primadona yang lulusannya mampu menghadapi era global. (Musthofa Asrori/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, Aswaja Hari Santri 2019

Mbah Sya’roni: NU dan Muhammadiyah itu Sama

Salah satu kiai sepuh yang dimiliki NU yang masih tersisa adalah KH Sya’roni Ahmadi dari Kudus, Jawa Tengah. Kini, di usinya yang ke-85, putra menantu Almaghfurlah KH Arwani Amin, pendiri Pesantren Yanbu’ul Quran, ini masih tetap mengisi pengajian tiap Jumat usai jamaah Shubuh di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. Pengajian kitab Tafsir Showi yang dibaca kiai kharismatik ini sangat diterima dan bahkan digemari tidak hanya kalangan Nahdliyin, namun juga oleh warga Muhammadiyah.

Hal tersebut terbukti dari banyaknya pengunjung dari berbagai daerah di sekitar Kudus, semisal Jepara, Pati, Rembang, dan Demak. Selain itu, juga banyak rombongan menggunakan bus pariwisata dari seantero Jawa-Madura yang ketika rombongan ziarah Walisongo sengaja mengatur jadwal agar sampai di kota Kudus pada Jumat dini hari.

Mbah Sya’roni: NU dan Muhammadiyah itu Sama (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Sya’roni: NU dan Muhammadiyah itu Sama (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Sya’roni: NU dan Muhammadiyah itu Sama

Ulama Kudus yang dikategorikan sebagai “Kiai Tanpa Pesantren” oleh Kepala Puslitbang Penda Balitbang Diklat Kemenag RI Prof Abdurrahman Mas’ud PhD ini termasuk kias khos yang duduk di Mustasyar PBNU. Ketika berkunjung ke Kudus, kontributor Hari Santri 2019 Musthofa Asrori didampingi seorang pengurus Mutakhorrijin Qudsiyyah yang di Semarang (Maqdis) berkesempatan wawancara khusus dengan Mbah Sya’roni di kediamannya pada Sabtu, (19/4) sore.

Hari Santri 2019

Bagaimana pandangan Ke-NU-an dan pemikiran kiai flamboyan penggila bola yang hafal nama-nama pemain bola mancanegara ini? Berikut cuplikan wawancara singkat Hari Santri 2019 dengan guru besar Qiraat Sab’ah (Bacaan Tujuh) yang juga hafal Alquran 30 juz itu.

Hari Santri 2019

Bagaimana pandangan Mbah Sya’roni tentang NU masa kini?. Kembali kepada khittah, pandangan secara umum NU sudah baik. Cuma sepeninggal Kiai Sahal, khittah-nya jadi agak kurang. Kalau Kiai Sahal kan khittah-nya kencang. Meski demikian, sekarang lumayan bagus setelah Gus Mus bersedia maju. Saya berpikir, daripada yang lain masih mendingan Gus Mus.

Mengapa begitu, Kiai?

Jadi, waktu menanggapi masalah Pemilu dan soal caleg-caleg DPR itu sikap Gus Mus sudah tepat. Beliau menganjurkan warga NU supaya ikut mencoblos, karena ini adalah tugas kita sebagai warga negara Indonesia tiap lima tahun sekali.

Tapi, saya sendiri waktu nyoblos itu ya ndak bisa sendirian, mas. Jadi, saya pamit (baca: izin) kepada panitia pemilu bahwa pendengaran saya sudah berkurang, saya masuk TPS boleh ndak ditemani cucu saya? Kalau ndak boleh saya pulang. Lalu, petugas menjawab. Oo.. boleh, Pak. Lalu, saya buka empat lembar saya pilih nomor ini mana begitu. Jadi, saya di(boleh)kan nyoblos.

Memangnya usia Mbah yai sekarang berapa?. Kulo nembe wolu gangsal (saya baru 85 tahun). Makanya, tadi saya bilang ke sampean kalau saya diajak komunikasi itu kurang jelas.

Dokter saya pribadi, Dokter Zakir, suatu hari duduk di ruang kerjanya. Lalu, saya bilang: Kir, ini pendengaran saya kok kurang banget. Oo.. itu normal, Pak. Lho, normal gimana? Kalau orang setua bapak pendengarannya masih tajam berarti nggak normal. (Mbah Sya’roni tertawa terkekeh-kekeh).

Nah, kembali ke NU, Mbah. Bagaimana pandangan dan saran Mbah Sya’roni bagi kepengurusan PBNU yang sekarang dipimpin Gus Mus?. Ya, harus ala Gus Mus. Tidak bisa ala Kiai Sahal. Gus Mus kan bisa membat mentul (baca: bermanuver). Kalau Kiai Sahal kan kencang. Gus Mus bisa menggak-menggok sithik (belak-belok sedikit). Udah itu saja cukup.

Mbah Sya’roni ingin mengatakan Gus Mus luwes?. Luwes bagi orang-orang yang senang, yang kurang senang nyebutnya vivere pericoloso (nyerempet-nyerempet bahaya). Hahaa.. Tapi ya itu tadi, Gus Mus masih bagus dari yang lain.

Nasehat Mbah Sya’roni kepada generasi dan kader muda NU? Khususnya menyambut 100 tahun NU pada 2026.. Yang penting, kita harus kuat ke-NU-annya. Sebetulnya, NU dan Muhammadiyah (itu) sama. Nanti saya beri keterangan (baca: penjelasan). Jadi, Mbah Hasyim dan Mbah Dahlan waktu masih santri mondoknya di tempat Mbah Kiai Sholeh Darat Semarang. Bahkan hingga ke Mekah, beliau berdua juga nyantri bareng. Oleh karena itu, pandangan Kiai Dahlan sama dengan NU. 

Saya punya kitab fiqih karangan Kiai Dahlan. Di kitab jilid tiga halaman 50 beliau menjelaskan fatwa penting dalam Bahasa Daerah. “Sholat Tarawih yoiku sholat rong puluh rokaat, saben-saben rong rokaat kudu salam. Wektune ono ing sasi poso sak wuse saben-saben sholat Isya’.” (Sholat Tarawih itu adalah sholat 20 rekaat, tiap-tiap dua rekaat harus salam. Waktunya di bulan puasa setelah sholat Isya’). Lho.. Kan jelas tho..

Masih ada banyak lagi yang bisa dipelajari dari Kitab Fiqih karya Mbah Dahlan ini. Nah, yang ‘nakal’ itu murid Kiai Dahlan yang namanya Kiai Mas Mansur dari Surabaya. Jadi, setelah itu (baca: sejak Mas Mansur jadi Ketua Umum Muhammadiyah) ada perubahan-perubahan. Dia bikin yang namanya Majlis Tarjih. Lalu, keputusannya antara lain rekaat sholat Tarawih yang 20 dengan dengan yang delapan rekaat itu lebih baik yang delapan. Jadi, ditarjih. Nah, yang baru-baru justru mengatakan yang 20 rekaat itu bid’ah dhalalah.

Kiai Mas Mansur bilang, ini organisasi bukan organisasi Dahlaniy, tapi Muhammadiyah. 

Lalu, bagaimana sikap kita terhadap mereka dan golongan lainnya?. Jadi begini, suatu ketika, datang orang ke rumah. Lalu bercerita, bahwa di Mekah imamnya ketika jamaah Maghrib, Isya’, dan Shubuh tidak membaca Basmalah. Saya tanya, memang sampean nggak denger? Iya, saya tidak mendengarnya. Langsung saya jawab, malah mereka kalau sholat Dhuhur dan Ashar tidak membaca Fatihah. Lha kok bisa, Kiai? Ya karena saya tidak mendengarnya. Nah, jadi tidak mendengar digunakan dalil untuk menyebut tidak baca.

Terima kasih atas nasehat dan petuahnya, Mbah. Mohon doanya... Iya, sama-sama. Tugas kalian sebagai anak muda NU meneruskan pencarian kitab-kitab Fiqih karya Mbah Dahlan tersebut untuk meng-NU-kan orang-orang Muhammadiyah. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Internasional, Nahdlatul Hari Santri 2019

Minggu, 24 Desember 2017

500 Guru NU Ikuti Sosialisasi Kurikulum 2013

Jepara, Hari Santri 2019. Sebanyak 500 guru Kelompok Kerja Madrasah Tsanawiyah (KKMTs) 02, kumpulan MTs yang bernanung di LP Maarif NU Jepara mengikuti Sosialisasi Kurikulum 2013 yang dilaksanakan di MTs Mathalibul Huda Mlonggo Jepara, Senin-Selasa (13-14/1).

Kegiatan yang diikuti perwakilan 57 MTs tersebut prosesi pembukaannya berlangsung di gedung MWCNU Mlonggo Senin (13/1). Kegiatan yang berlangsung 2 hari fokus 10 mata pelajaran. 5 mapel agama (al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, SKI, Fikih dan Bahasa Arab) dan 5 mapel umum MTK, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA dan IPS.

500 Guru NU Ikuti Sosialisasi Kurikulum 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
500 Guru NU Ikuti Sosialisasi Kurikulum 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

500 Guru NU Ikuti Sosialisasi Kurikulum 2013

Ketua KKMTs 02, Fatkhul Huda, yang diwakili A Taufiq, bidang pengembangan dan kurikulum KKMTs 02 mengatakan kegiatan bertujuan untuk membekali guru-guru menghadapi kurikulum 2013.

Hari Santri 2019

Selain itu, lanjutnya untuk memperdayakan guru Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) agar menjadi guru profesional. “Dalam sosialisasi ini peserta juga diberikan bimbingan teknik perangkat pembelajaran dan peer teaching sehingga mereka langsung bisa praktik pra pelaksanaan kurikulum 2013,” imbuhnya.? ?

Kegiatan sosialisasi tersebut difasilitasi guru inti MGMP yang sudah mengikuti kurikulum 2013. Kemudian mereka diberdayakan sebagai fasilitator. Adapun materi yang disampaikan kepada peserta diantaranya perubahan mindset sistem pengajaran, sistem penilaian, perangkat pembelajaran, regulasi manajemen pendidikan, pembekalan pengawas dan evaluasi pengajaran.

Hari Santri 2019

Taufiq menambahkan kurikulum 2013 lebih ditekankan pada pendidikan karakter. Semisal pendidikan kewarganegaraan (PKn) ditambah 3 JTM sebelumnya 2 JTM. Harapannya, siswa menjadi cerdas secara intelektual, spiritual dan sosial.

Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jepara, H Muhdi Zamru menyampaikan agar peserta lebih siap dalam menghadapi kurikulum 2013. Sebab kurikulum 2013 rencananya akan diberlakukan serentak tahun ajaran baru 2014/ 2015, Juli mendatang. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)? ? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ulama, AlaNu, Nahdlatul Hari Santri 2019

Gerakan 1000 Microfon, Ansor Jombang Peduli Musholla

Jombang, Hari Santri 2019

Hampir sepekan ini, Gerakan Pemud Ansor Jombang keliling musholla dan masjid. Banom NU tertua ini memberikan bantuan Microfon dan speaker melalui "Gerakan Berbagi 1000 Microfon untuk Musholla”.

Gerakan 1000 Microfon, Ansor Jombang Peduli Musholla (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan 1000 Microfon, Ansor Jombang Peduli Musholla (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan 1000 Microfon, Ansor Jombang Peduli Musholla

"Minggu ini kita sudah memberikan sebanyak 4 Microfon untuk musholla yang membutuhkan, ? dan masih ada 4 lagi akan kita bagi," ujar Hamid Hamdah Koordinator gerakan Sosial 1000 Michofon untuk musholla usai penyerahan bantuan, Ahad (17/1/2016) di Ngoro Jombang.

Hamid mengatakan, gerakan sosial berbagi Microfon ini sebagai upaya Ansor peduli terhadap syiar Islam yang lebih banyak dilakukan masyarakat di masjid dan Musholla. Karena setiap hari kita mendengar adzan dari musholla dan masjid untuk mengingatkan kita akan sholat.?

"Disamping itu banyak musholla yang menjadi kegiatan khotmil Quran. Jangan sampai seruan ibadah ini tidak menarik didengar, makanya alat pengerasnya harus bagus," ujarnya menambahkan.

Hari Santri 2019

Dari mana modalnya, Hamid mengatakan, modal untuk pengadaan Microfon ini awalnya murni dari bantuan pengurus Ansor. "Dan kini setelah banyak yang tahu, gerakan sosial 1000 Microfon untuk musholla ini akhirnya banyak yang datang sendiri, kami memang tidak menolak untuk menyalurkan, demi kepentingan umat," tandasnya.

Agus Mulyono salah satu Takmir Musholla Ngoro Jombang yang menerima bantuan Microfon mengatakan Ansor sangat peka tehadap kebutuhan umat di bawah yang tidak tersentuh berbagai kalangan.?

"Dan ini salah satu bentuk untuk menjaga masjid dan musholla dari paham di luar Aswaja NU. Karena gerakan ini nyata di lapangan," katanya. (Muslim Abdurrahman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Habib, Nahdlatul, Hikmah Hari Santri 2019

Sabtu, 23 Desember 2017

PBNU Desak Pemerintah Sikapi Kantor OPM Oxford

Jakarta, Hari Santri 2019. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendesak pemerintah Indonesia untuk mensikapi dengan serius atas pembukaan kantor Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Oxford Inggris. PBNU meminta pemerintah Indonesia memprotes keras kepada pemerintah Inggris yang telah memfasilitasi pembukaan kantor tersebut.

Demikian dinyatakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Kamis (9/5). Menurut Said, Papua telah final menjadi bagian NKRI. Karenanya Pemerintah harus menunjukkan sikap tegas terhadap upaya-upaya disintegrasi dan dan usaha-usaha yang merongrong kedaulatan dan keutuhan bangsa Indonesia.

PBNU Desak Pemerintah Sikapi Kantor OPM Oxford (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Desak Pemerintah Sikapi Kantor OPM Oxford (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Desak Pemerintah Sikapi Kantor OPM Oxford

"Sudah disepakati di PBB bahwa Papua menjadi bagian mutlak bangsa Indonesia. Dan dalam hal ini Inggris turut menandatangani kesepakatan tersebut. Bila Menteri Luar Negeri sudah melayangkan protes namun belum cukup, maka presiden patut untuk mengambil sikap lebih tegas," tandas Kyai Said. 

Hari Santri 2019

Sebelumnya, Pada Sabtu akhir pekan lalu, Kementerian Luar Negeri menyampaikan protes keras dan keberatan atas pembukaan kantor OPM di Oxford Inggris.  

Hari Santri 2019

"Dubes RI di London telah menyampaikan posisi pemerintah tersebut kepada pemerintah Inggris dan hal yang sama akan kami sampaikan kepada Kedubes Inggris di Jakarta," kata Menlu Marty Natalegawa.

Penulis : Syaifullah Amin 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Quote, Sholawat, Nahdlatul Hari Santri 2019

Gus Sholah: Berilah NU Manfaat, Bukan Memanfaatkan NU

Jombang, Hari Santri 2019. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) mengatakan, bahwa setiap Nahdliyin harus memberi NU manfaat, bukan sebaliknya, memanfaatkan NU untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Hal ini disampaikannya dalam konferensi pers di Media Centre Muktamar Ke-33 NU yang terletak di SMA N 1 Jombang, Ahad (2/8).

Gus Sholah: Berilah NU Manfaat, Bukan Memanfaatkan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: Berilah NU Manfaat, Bukan Memanfaatkan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: Berilah NU Manfaat, Bukan Memanfaatkan NU

“Ini saya sampaikan terkait dengan proses Muktamar yang sedari awal terjadi pemaksaan kehendak dan diskriminasi kepada para muktamirin soal Ahwa,” jelas Gus Sholah.

Hari Santri 2019

Dia mengungkapkan, bahwa Kiai Said dalam sambutan pembukaan Muktamar NU menekankan akhlakul karimah. “Biarkan semua muktamirin ikut bermuktamar, tanpa syarat apapun, tanpa diskriminasi. Kalau hal itu terjadi, berarti sudah tidak berakhlak karimah,” jelasnya.

Dalam pernyataannya, Gus Sholah sebenarnya tidak menolak mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa). Tetapi menurutnya, Ahwa yang ditentukan oleh panitia ini tidak sesuai prosedur organisasi.

Hari Santri 2019

“Di mana logikanya kalau Ahwa ditetapkan dalam Munas. Ahwa harus ditetapkan melalui Konbes. Keputusan Konbes itu juga tidak serta merta bisa diterapkan, harus diputuskan melalui forum tertinggi, yaitu Muktamar,” paparnya.

Jadi menurutnya, mekanisme Ahwa sangat tepat jika diterapkan untuk periode ke depan. Karena harus diputuskan melalui Muktamar terlebih dahulu.

“Jangan sampai NU ini kehilangan ruh jihadnya karena mental pragmatisme yang dimunculkan oleh orang-orangnya,” tuturnya di hadapan puluhan wartawan dari berbagai media.

Sementara itu, salah satu Ketua PBNU era KH Hasyim Muzadi, Andi Jamaro Dulung yang mendampingi Gus Sholah mengatakan, bahwa panitia harus bekerja secara profesional. “Jangan sampai Muktamar NU ini ditunggangi oleh oknum-oknum tertentu secara politik praktis,”  ujarnya menandaskan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam, Nahdlatul Hari Santri 2019

Sabtu, 16 Desember 2017

IPNU-IPPNU Teruskan Perjuangan NU

 Jepara, Hari Santri 2019. Usia Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) kini sudah menginjak 59 dan 58 tahun. Di usia yang semakin dewasa tersebut IPNU-IPPNU diharapkan yang akan meneruskan perjuangan NU. 

Demikian diungkapkan ketua PCNU Jepara, KH Asyhari Samsuri dalam Peringatan Maulid Nabi dan Harlah IPNU ke-59 dan IPPNU ke-58 di Gedung NU, Jalan Pemuda No.51 Jepara, Sabtu (23/2).

IPNU-IPPNU Teruskan Perjuangan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Teruskan Perjuangan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Teruskan Perjuangan NU

 

Menurut kiai Asyhari dalam hymne pelajar NU tercantum bersemilah-bersemilah tunas-tunas NU. Lagu itu menurutnya kader-kader IPNU-IPPNU adalah penerus NU di masa yang akan datang. 

Hari Santri 2019

“IPNU-IPPNU adalah harapan masa depan NU,” katanya kepada ratusan hadirin yang memadati aula gedung NU.

Hari Santri 2019

Pemuda masih menurutnya adalah yang berani mengatakan dirinya sebagai pemuda tangguh bukan malah pamer sosok bapaknya. Karenanya sebagai pemuda harus tetap berkarya dan berinovasi sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.   

 

“Nabi Muhammad adalah sosok pekerja keras. Maka IPNU-IPPNU selain menjadi generasi yang siap dalam berbagai ilmu pengetahuan juga harus bekerja keras sebagaimana Nabi,” tambah Kiai Asyhari.

 

Hal senada juga disampaikan oleh KH Mustamir Wildan. Ketua pesantren “Roudlotul Mubtaiin” Balekambang, Nalumsari mengajak kader IPNU-IPPNU jangan sampai berhenti dalam menuntut ilmu.

 

Disamping itu, kiai Mustamir juga menanggapi perspektif masyarakat yang menyatakan IPNU-IPPNU adalah biro jodoh sebagai istilah positif. Menurutnya kader IPNU yang mendapatkan kader IPPNU menjadi kekuatan yang ideal. 

“Jika ada IPNU yang mendapatkan jodoh IPPNU adalah pasangan yang ideal. Sebab mereka kelak merupakan diantara yang akan meneruskan NU,” ungkapnya.

 

Kiai Mustamir pun menegaskan kelak jika pasangan tersebut sudah memiliki anak maka orang tua bergabung di Ansor dan Fatayat. Kemudian jika sudah memiliki cucu bergabungnya di Muslimat dan NU.  

 

Sementara itu, Haryono Wibowo, staf ahli Bupati yang mewakili Bupati Jepara mengatakan IPNU-IPPNU diharapkan memberikan kontribusi untuk daerah. Haryono menyampaikan semakin merebaknya penyakit masyarakat semisal penyalahgunaan narkoba kader IPNU-IPPNU diharapkan menjadi garda depan untuk meminimalisir perilaku negatif tersebut.

 

Berkenaan dengan semakin maraknya penyebaran nyamuk demam berdarah pemuda juga memiliki peran untuk memberikan informasi kesehatan kepada masyarakat. Setidaknya dengan gerakan 3 M maupun Jumat atau Minggu bersih.  

 

Dalam kegiatan yang dihadiri ratusan peserta, Habib Ali Zainal Abidin Assegaf yang didaulat memimpin jalannya pembacaan maulid sedangkan grup rebana Ahbabul Mustofa dan Tari Sufi Jepara sebagai pengiring pembacaan shalawat. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaiful Mustaqim  

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, Sholawat, Sunnah Hari Santri 2019

Rabu, 13 Desember 2017

Haruskah Berwudhu Kembali Setelah Mandi Jinabat?

Mandi besar atau mandi junub adalah aktivitas membersihkan badan dari hadats besar. Biasanya mandi ini dilakukan setelah berhubungan seks antara suami-istri ataupun setelah mimpi basah, yakni mimpi yang ketika bangun didapati keluar mani.

Berbeda halnya dengan wudhu. Wudhu adalah sarana untuk membersihkan hadats kecil, seperti kentut, buang air besar atau kecil, menyentuh alat kelamin, dan lain sebagainya.

Haruskah Berwudhu Kembali Setelah Mandi Jinabat? (Sumber Gambar : Nu Online)
Haruskah Berwudhu Kembali Setelah Mandi Jinabat? (Sumber Gambar : Nu Online)

Haruskah Berwudhu Kembali Setelah Mandi Jinabat?

Namun bolehkan kita langsung melaksanakan shalat tanpa berwudhu setelah mandi jinabat?

Siti Aisyah radliyallâhu ‘anhâ  meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam pernah melakukan shalat tanpa berwudhu setelah mandi junub.

Hari Santri 2019

? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya: “Dari Aisyah radliyallâhu ‘anhâ berkata: Rasulullah sering mandi kemudian melakukan shalat dua rakaat dan shalat subuh. Dan aku tidak melihatnya memperbarui wudhunya setelah mandi.”

Hari Santri 2019

Hadits di atas diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasa’i dan Tirmidzi. Redaksi “kâna” yang disusul dengan fi‘il mudlâri‘ sebagaimana yang digunakan Siti Aisyah dalam riwayat di atas menunjukkan arti kontinuitas atau sering Nabi melakukan hal tersebut. 

Bahkan Aisyah menambahi bahwa dia tidak pernah melihat Nabi berwudhu setelah mandi junub. Sehingga bisa disimpulkan bahwa selama dalam pengamatan Aisyah, Nabi selalu melakukan shalat tanpa berwudu setelah mandi junub.

Dalam redaksi hadits lain riwayat Ibnu Majah juga disebutkan dengan kata yang jazim:

? ? ? ? ?

Artinya: “Nabi tidak pernah berwudhu setelah mandi jinabat.”

Ibnu Umar pernah bercerita bahwa Nabi pernah ditanya terkait wudhu setelah mandi junub.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Ibnu Umar berkata: ketika Rasulullah Saw. ditanya terkait wudhu setelah mandi, (beliau menjawab) adakah wudhu yang lebih umum daripada mandi.” (HR Ibnu Abi Syaibah)

Dalam hadits riwayat Ibnu Umar tersebut secara langsung menjelaskan bahwa kedudukan mandi lebih umum daripada wudhu. Artinya, ketika seorang telah melakukan mandi junub, maka itu sekaligus mencakup wudhu.

Hal ini juga diperkuat dengan pendapat beberapa ulama’ seperti Abu Bakar bin Al-Araby yang dikutip oleh al-Mubarakfury dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi-nya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Abu Bakar bin al-Araby berkata bahwa tidak ada ulama yang berbeda pendapat terkait permasalah wudhu yang telah termasuk dalam mandi. Dan sesungguhnya niat mensucikan jinabat itu menyempurnakan niat mensucikan hadats sekaligus menggugurkan mensucikan hadats (wudhu). Karena hal-hal yang mencegah jinabat itu lebih banyak daripada hal-hal yang mencegah hadats.”

Imam Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh Muhadzab mengatakan bahwa boleh tidak berwudhu setelah mandi jinabat karena sudah termasuk dalam mandi tersebut. Walaupun Imam Nawawi menyebutkan tiga pendapat lain, namun beliau mengatakan bahwa pendapat ini yang paling sahih. Wallahu A’lam. (M Alvin Nur Choironi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Santri, Nahdlatul, Meme Islam Hari Santri 2019

Senin, 11 Desember 2017

Menag Harapkan KPK Jamin Kebebasan Beribadah di Rutan

Jakarta, Hari Santri 2019. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dapat menjamin kebebasan para tahanan KPK untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya. Jika ada keluhan terkait itu, Menag berharap KPK bisa segera mengatasinya.

"Terkait dengan adanya berita bahwa Pak SDA (Suryadharma Ali) dan beberapa tahanan lainnya di Rutan KPK Pomdam Jaya Guntur mengeluh karena dibatasi bershalat di dalam masjid di sana, saya amat prihatin. Saya berharap KPK segera mengatasi keluhan tersebut," kata Menag di Jakarta, Sabtu (20/6)

Menag Harapkan KPK Jamin Kebebasan Beribadah di Rutan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Harapkan KPK Jamin Kebebasan Beribadah di Rutan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Harapkan KPK Jamin Kebebasan Beribadah di Rutan

Menurut Menag, semestinya setiap tahanan tetap terjamin kebebasannya dalam menjalankan ibadah sesuai agamanya. Menunaikan shalat lima waktu bagi muslim adalah kewajiban. Bila para tahanan diizinkan melaksanakan Shalat Dzuhur, Asyar dan Maghrib, semestinya demikian pula dengan Shalat Isya dan Subuh. "Apalagi kini bulan Ramadan, bulan istimewa bagi umat Islam meningkatkan ibadahnya untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya," tegasnya.

Hari Santri 2019

Sebelumnya diinformasikan bahwa ada keluhan atas sikap penjaga Rutan KPK Pomdam Jaya Guntur yang membatasi tahanan dalam menjalankan ibadahnya.? Akan hal ini, mantan Menteri Agama SDA membuat surat pengaduan "penistaan agama" ke Pimpinan DPR.

Surat tersebut ditandatangani 10 tahanan KPK yang beragama Islam. Selain SDA, ikut tandatangan juga Didik Purnomo, Heru Sulaksono, Moh. Tafsir Nurchamid, Romi Herton, Rizal Abdullah, Waryono Karyo, Adriansyah, Abdul Rouf, dan M Bihar Sakti Wibowo.

Hari Santri 2019

Selain itu, lima tahanan lainnya yang non muslim juga ikut menandatangani, yaitu: Raja Bonaran Situmeang, A. Bambang Djatmiko, Jannes Jhon Karababa, Willy Sebastian Liem, dan Sherman Rana Krishna.

"Siapapun, bahkan seorang tersangka yang notabene belum tentu salah di muka hukum juga punya hak untuk beribadah sesuai yang dilindungi UUD 1945. Sesuatu yang ironis, menghalangi orang beribadah ini terjadi di sebuah lembaga terhormat dalam penegakan hukum, yakni KPK," tulis SDA dalam suratnya, Jumat (19/06).

Mengenai hal ini, Menag menyatakan amat prihatin dan berharap KPK bisa segera mengatasi keluhan tersebut. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Anti Hoax, Warta, Nahdlatul Hari Santri 2019

Rabu, 06 Desember 2017

Hari ini Haul Mbah Ali Maksum

Yogyakarta, Hari Santri 2019. Keluarga besar Pesantren Krapyak mengadakan acara haul ke-24 KH Ali Maksum. Sejak 19 Maret rangkaian acara sudah dilakukan, seperti majlis sesamaan Al-Quran. Acara puncaknya adalah malam ini, di halaman Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Menurut Humaidy As, salah satu pembimbing komplek Sakan di Pesantren Ali Maksum, acara haul ini menjadi sangat penting bagi santri Krapyak untuk mengenang perjuangan dan keteladanan KH Ali Maksum.

Hari ini Haul Mbah Ali Maksum (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari ini Haul Mbah Ali Maksum (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari ini Haul Mbah Ali Maksum

“Haul para kiai menjadi media refleksi santri untuk makin rajin dalam mengaji. KH Ali Maksum adalah inspirasi keteladanan santri, sehingga santri mendapatkan bekal untuk bermasyarakat dan bangsa” tegasnya.

Kiai Sederhana

KH Munawir AF, salah satu santri KH Ali Maksum, dalam akun facebooknya memberi kesaksian bahwa KH Ali Maksum terkenal dengan kesederhanannya, baik di kala dahar (makan), atau di kala berpakaian, sangat terasa sekali KH Ali Maksum dengan kesederhanaannya.

Hari Santri 2019

“Kalo makan ada tempe dan sambel, oke. Atau adanya nasi goreng ala Ibu Nyai Hasyimah dan krupuk, juga oke. Demikian juga kalau mengajar ke IAIN, pakaian yang licin strikan, oke. Suatu ketika tidak setrikan, juga oke.” kenangnya. ? “Sederhana, tetapi tetap berkesan anggun dan wibawa.” Lanjutnya.

Hari Santri 2019

Di samping itu, KH Ali Maksum juga dikenal sangat tawadlu’. Ia tidak mau dipanggil "Kiai", tetapi dipanggil "Pak".

Semua santrinya memanggil Pak Ali. Bukan itu saja, KH Ali Maksum juga sangat akrab dengan santrinya, sehingga santri merasa menjadi santri kesayangannya. Ini dibuktikan dengan hafalnya KH Ali Maksum dengan nama santrinya, padahal santrinya saat itu sekitar 2000.

“Santri 2000, ya kenal nama sebanyak itu. Seblum mengaji, beliau mengabsen tanpa buku absen. Yang tidak kelihatan, itulah yang dipanggil.” Tegas KH Munawir AF.?

KH Ali Maksum adalah Rais ‘Aam PBNU periode 1982-1984. Ia menggantikan kedudukan KH Bisyri Syansuri yang wafat pada tanggal 19 Jumadil Akhir 1400 H (25 April 1980 M). ?

KH Ali Maksum dilahirkan di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa tengah pada tanggal 2 Maret 1915 dari ayah KH Maksum (pendiri/pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayat Lasem) dan ibu Siti Nuriyah. Sejak kecil Ali belajar agama pada sang ayah. Pada usia 12 tahun setelah mempelajari beragam kitab termasuk menghafalkan Alfiyah Ibn Malik, Ali kecil dikirim sang ayah untuk belajar di Pesantren Termas, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur yang waktu itu diasuh oleh KH Dimyati dan dilanjutkan KH Hamid Dimyati.

?

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Rokhim Bangkit, Supriyadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Pendidikan, Nahdlatul Hari Santri 2019

Minggu, 26 November 2017

LFNU Ajak Muhammadiyah Bersatu dalam Sidang Itsbat

Jakarta, Hari Santri 2019. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) mengajak organisasi Muhammadiyah bersatu dalam sidang itsbat penetapan awal bulan kalender Hijriyah terutama Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah bersama Departemen Agama dan seluruh organisasi Islam di Indonesia.

Dalam waktu dekat akan diadakan pertemuan antara LFNU dengan Majelis Tarjih Muhammadiyah di Kantor Pusat Dakwah Muhamamdiyah Jakarta sebagai kelanjutan dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Pertemuan terakhir kemarin diadakan di kantor PBNU Jakarta pada Selasa (2/10).

Ketua LFNU KH Ghazali Maroeri menyatakan, titik temu antara NU dan Muhammadiyah dalam hal penetapan metode penentuan awal bulan Hijriyah sudah semakin terang.

LFNU Ajak Muhammadiyah Bersatu dalam Sidang Itsbat (Sumber Gambar : Nu Online)
LFNU Ajak Muhammadiyah Bersatu dalam Sidang Itsbat (Sumber Gambar : Nu Online)

LFNU Ajak Muhammadiyah Bersatu dalam Sidang Itsbat

“Kami sudah merintis hal itu. Kami mengatakan kepada Mejelis Tarjih bahwa jangan melihat NU-nya, tapi ini adalah urusan masyarakat banyak. Namun memang soal keyakinan itu tidak bisa dirubah sekaligus,” kata Kiai Ghazali kepada Hari Santri 2019 di Jakarta, Ahad (14/10).

Ada beberapa hal yang akan dibincang secara serius dengan Majelis Tarjih Muhammadiyah mengenai dalil-dalil syar’i berkaitan dengan penentuan awal bulan Hijriyah, terutama pada soal definisi “hilal” yang menjadi patokan utama penentuan awal bulan sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW.

Hari Santri 2019

“Sangat mungkin kita ketemu karena Pak Fatah Wibisono (pengurus Majelis tarjih Muhamadiyah yang membidangi persoalan falakiyah, red) adalah alumni pesantrennya Kiai Bisri Syamsuri (Pesantren Denanyar Jombang, red). Kami sering menyebutnya Muhammadiyah cabang Denanyar,” kata Kiai Ghazali bergurau.

Sementara itu berbagai fihak berharap semua ormas Islam di Indonesia tidak mengumumkan penetapan awal Syawal sendiri. Penetapan awal syawal harus disepakati bersama dalam sidang itsbat.

Ketua Umum Pengurus Pusat Jamaah Al-Khidmah H Hasanuddin berharap Muhammadiyah tidak mengumumkan keputusan awal bulan sebelum sidang itsbat. “Apakah etis keikutsertaan Muhammadiyah dalam sidang itsbat yang akan menetapkan tanggal 1 Syawal sementara Muhammadiyah sendiri sudah mempunyai ketetapan,” katanya kepada Hari Santri 2019 mewakili jamaah tarekat terbesar Qadiriyah-Naqsabandiyah.

Menurut H Hasanudin, pengumuman tersebut memang hanya ditujukan kepada warga Muhammadiyah sendiri. “Tapi mereka adalah warga negara Indonesia yang mestinya dianjurkan untuk taat pada keputusan Pemerintah Indonesia demi kesatuan dan persatuan,” katanya. (nam)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, Nahdlatul Hari Santri 2019

Kamis, 23 November 2017

Museum Kebangkitan Nasional Kaji Pemikiran Kebangsan KH. Hasyim Asy’ari

Jakarta, Hari Santri 2019 - Ketokohan dan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari diakui sangat penting untuk memupuk semangat kabangkitan nasional Indonesia saat ini. Pemikiran Rais Akbar NU tersebut, terutama yang menyangkut dengan pemikiran kebangsaan harus menjadi referensi utama dalam bingkai menggali semangat kebangkitan nasional.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini saat menjadi keynote speaker di seminar tokoh “KH. Hasyim Asy’ari” yang dihelat di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta, Selasa (24/5).

Dalam pidatonya, Sekjen menyampaikan bahwa? KH. Hasyim Asy’ari adalah ulama yang memiliki visi nasionalisme yang tidak diragukan lagi. Pemikiran kebangsaan KH. Hasyim Asy’ari misalnya termanifestasikan dalam diktum terkenalnya “hubbul wathan minal iman” dan juga fatwa resolusi jihad yang menjadi bahan bakar utama penyemangat perlawanan terhadap penjajah.

Museum Kebangkitan Nasional Kaji Pemikiran Kebangsan KH. Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)
Museum Kebangkitan Nasional Kaji Pemikiran Kebangsan KH. Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)

Museum Kebangkitan Nasional Kaji Pemikiran Kebangsan KH. Hasyim Asy’ari

Lebih jauh, sebagai seorang kiai, sosok pendiri NU tersebut bukan saja berhasil menjadi sosok yang berjuang mencerdaskan umat, namun lebih dari itu Kiai Hasyim juga merupakan sosok yang mumpuni dalam mengayomi rakyat. “Mbah Hasyim itu soko guru yang benar-benar bisa mengimplementasikan apa yang disebut sebagai usaha pencerdasan terhadap umat dalam hal beragama, dan lebih dari itu juga menjadi juru bimbing bagi masyarakat. Jadi peran ulama untuk yatafaqqahu fiddin (mencerdaskan umat) dan sekaligus yunzira qaumahum (membimbing umat) berimbang dan berjalan seiringan," jelas Helmy.

Hari Santri 2019

Sementara itu KH. Salahudin Wahid yang hadir sebagai pembicara mewakili pihak keluarga menyampaikan bahwa KH. Hasyim Asy’ari adalah teladan yang sangat relevan untuk kita anut, utamanya dalam konteks saat ini. Keteladanan yang patut ditiru itu bukan saja mengenai gagasan-gagasan besarnya, namun juga keseharian hidupnya.

Hari Santri 2019

“Beliau (KH. Hasyim Asy’ari) mencuci sendiri pakaian guru-gurunya saat guru-guru tersebut ikut ngaji puasanan (mengaji di bulan Ramadhan) di tebuireng. Ini adalah bentuk tawadhu yang luar biasa.” Ungkap Gus Salah.

Beberapa narasumber lain, Budayawan Agus Sunyoto, Erwiza Erman dari LIPI, dan Ahmad Zubaidi dari UNI Jakarta menyampaiakan pandangannya mengenai ketokohan KH. Hasyim Asy’ari melalui kacamata dan sudut pandangnya masing-masing dalam seminar tersebut. (Fariz Alniezar)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, Halaqoh Hari Santri 2019

Sabtu, 18 November 2017

Selamat Tinggal MOS, Selamat Datang MATSAMA

Oleh Ruchma Basori

Tiap tahun ajaran baru para orang tua sibuk mencarikan lembaga pendidikan terbaik bagi putra-puterinya. Melalui pendidikan, mereka menggantungkan cita-cita untuk masa depan anak-anaknya. Anak-anak yang sehat, berkarakter, bermoral, lagi cerdas menjadi dambaan. Karenanya para orang tua tidak segan-segan mengeluarkan sejmlah uang yang tidak sedikit agar anak-anaknya tidak sekadar sekolah, namun mendapatkan layanan pendidikan terbaik di negeri ini.? ?

Selamat Tinggal MOS, Selamat Datang MATSAMA (Sumber Gambar : Nu Online)
Selamat Tinggal MOS, Selamat Datang MATSAMA (Sumber Gambar : Nu Online)

Selamat Tinggal MOS, Selamat Datang MATSAMA

Menyadari akan pentingnya menyiapkan masa depan anak bangsa, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 tahun 2016 tentang Hari Pertama Sekolah. Orang tua diimbau untuk mengantar anak di hari pertama sekolah. Bagi Mendikbud "Hari pertama sekolah menjadi kesempatan mendorong interaksi antara orang tua dengan guru di sekolah untuk menjalin komitmen bersama dalam mengawal pendidikan anak selama setahun ke depan. Selain itu bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan keterlibatan publik dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah."

Di saat harapan orang tua begitu besar, masih ada catatan kelam terhadap ritus penyambutan Peserta Didik Baru oleh sekolah. Biasanya dikenal dengan kegiatan Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD), sebelumnya disebut Masa Orientasi Siswa (MOS) atau Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Khusus di lingkungan pendidikan Madrasah (MI, MTs dan MA) kini telah berubah nama menjadi Masa Ta’aruf Siswa Madrasah disingkat MATSAMA.

Hari Santri 2019

Saya tergerak hatinya untuk urun rembug berkaitan dengan MOS dan sejenisnya utamanya MATSAMA di madrasah. Cita-cita menciptakan anak-anak Indonesia yang unggul dan bermoral, tidak boleh kandas dan mati sebelum berkembang, karena praktek MOS yang penuh dengan kekerasan, perpeloncoan dan berakhir dengan tragedi kematian. Saya berharap banyak, MOS mestinya menjadi pintu gerbang mengantarkan lahirnya calon-calon pemimpin yang handal mengatasi berbagai persoalan kemasyarakatan dan kebangsaan. ?

Hari Santri 2019

Setitik noda

Dalam dekade terakhir ini kita sering mendengar tuntutan agar MOS di tiadakan. Karena dinilai banyak mendatangkan kemadlaratan dari pada kemaslahatan. Kita tentu masih ingat, kematian siswa SMP Flora, Bekasi, Evan Chistopher Situmorang (12) setelah mengikuti Masa Orientasi Sekolah (MOS).

Okezone dari Koran SINDO, Selasa (4/8/2015) mencatat daftar pelajar yang meninggal akibat MOS selama beberapa tahun terakhir. Roy Aditya Perkasa (14) tewas setelah mengikuti MOS di sekolahnya, SMA 16 Surabaya pada 15 Juli 2009. Roy sebelumnya sempat pingsan, namun nyawanya melayang saat hendak diantar ke Rumah Sakit Sutomo, Surabaya.

Hal yang sama menimpa Amanda Putri Lubis, siswi baru SMAN 9 Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, meregang nyawa pada 13 Juli 2011. Dia diduga menjadi korban MOS karena mengeluhkan sesak napas usai mengikuti MOS di sekolah barunya. Pada tahun 2012, Muhammad Najib, siswa Sekolah Pelayaran Menengah Pembangunan di Jakarta dipaksa jalan kaki sejauh lima kilometer ketika mengikuti MOS. Karena kelelahan yang sangat berat, nyawa Muhammad Najib tak dapat tertolong.

Pada 29 Juli 2015, Febriyanti Safitri (12) menghembuskan napas terakhir saat mengikuti Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) di SMP PGRI Gadog, Megamendung, Kabupaten Bogor dan kasus kekerasan MOS. Terakhir dialami almarhum Evan Christopher Situmorang (12). Siswa baru SMP Flora, Bekasi tewas diduga karena kelelahan mengikuti MOS di sekolahnya.

Kita juga tidak menutup mata, sisi positif dari Masa Orientasi Siswa. Pengenalan sejak dini terhadap lingkungan sekolah dan madrasah, sistem dan tradisi akademik, pengembangan diri dan bagaimana menjadikan sekolah sebagai wahana efektif pembentukan kepribadian. Namun sayangnya harus sedikit ternodai berbagai kasus demi kasus utamanya kekerasan yang berakibat fatal nyawa melayang.

Hal lainnya adalah MOS juga telah disalahgunakan sebagai ajang perpeloncoan yang jelas-jelas tidak mencerminkan nilai-nilai akademis. Tugas-tugas yang memberatkan, pakaian dan atribut yang lucu, pemborosan dan irrasional.

Terkait dengan hal ini Anis Baswedan telah menegeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru dan Contoh Kegiatan dan Atribut yang dilarang dalam Pelaksanaan Pengenalan Lingkungan Sekolah. Beberapa contoh Atribut yang dilarang adalah: (1). Tas karung, tas belanja plastik, dan sejenisnya; (2). Kaos kaki berwarna-warni tidak? simetris, dan sejenisnya; (3). Aksesoris di kepala yang tidak wajar; (4). Alas kaki yang tidak wajar; (5). Papan nama yang berbentuk rumit dan menyulitkan dalam pembuatannya dan/atau berisi konten yang tidak bermanfaat; (6). Atribut lainnya yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran.

Sementara beberapa contoh aktivitas yang dilarang dalam Pelaksanaan Pengenalan Lingkungan Sekolah adalah: (1). Memberikan tugas kepada siswa baru yang wajib membawa suatu produk dengan merk tertentu; (2). Menghitung sesuatu yang tidak bermanfaat (menghitung nasi, gula, semut, dsb); (3). Memakan dan meminum makanan dan minuman sisa yang bukan milik masing-masing siswa baru; (4). Memberikan hukuman kepada siswa baru yang tidak mendidik seperti menyiramkan air serta hukuman yang bersifat fisik dan/atau mengarah pada tindak kekerasan; (5). Memberikan tugas yang tidak masuk akal seperti berbicara dengan hewan atau tumbuhan serta membawa barang yang sudah tidak diproduksi kembali; (6). Aktivitas lainnya yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran.

Selamat tinggal MOS

Melihat kenyataan pahit, tragis dan memilukan di atas, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama mengeluarkan kebijakan baru mengganti Masa Orientasi Siswa dengan Masa Ta’aruf Siswa Baru (MATSAMA). Walaupun kita belum pernah mendengar kegiatan MOS di kalangan madrasah yang berakhir dengan tragedi.

Matsama adalah istilah baru pengganti dari Masa Orientasi Siswa (MOS) di kalangan madrasah yang akan diterapkan secara serentak pada tanggal 18 Juli 2016. Tidak sekadar ganti nama, namun ada perubahan paradigma pagelaran dan ritus Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di madrasah yang sudah berjalan puluhan tahun.

Menurut Direktur Pendidikan Madrasah, M. Nur Kholis Setiawan, Matsama masih relevan untuk pengenalan lingkungan sekolah kepada siswa baru. “Pengenalan itu meliputi kegiatan rutin madrasah, fasilitas, nilai dan norma yang berlaku, pengenalan organisasi, sistem pembelajaran, serta pengenalan civitas madrasah. Matsama harus diisi dengan kegiatan edukatif, tetap mentaati peraturan atau tata tertib, serta menjunjung tinggi norma yang berlaku di madrasah (Pinmas Kemenag.go.id).

Kegiatan Matsama kata M. Nur Kholis wajib berisi kegiatan yang bermanfaat, bersifat edukatif, kreatif, dan menyenangkan. Perencanaan dan penyelenggaran kegiatan Matsama menjadi hak guru. Kementerian Agama melarang pelibatan siswa senior (kakak kelas) dan atau alumni sebagai penyelenggara. Dengan paradigma baru itu, Kementerian Agama bertekad menjadikan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah harus zero kekerasan dan kemubaziran.

Perubahan paradigma

Matsama dengan paradigma baru seperti apa yang diharapkan? Perubahan paradigma dari yang semula mengedepankan seremonial dengan aksesoris yang kurang mencerminkan nuansa akademik diganti dengan kegiatan yang berorientasi pada pengenalan sistem, tradisi dan budaya pembelajaran di Madrasah. Tradisi yang kerap diidentikan dengan perpeloncoan yang kadang dekat dengan kekerasan dan pelecehan, diganti dengan pengenalan siswa terhadap kultur madrasah yang kondusif, menyenangkan, ramah dan berorientasi pada mutu.

Matsama mestinya dapat mengantarkan para siswa komitmen pada nilai-nilai kebersamaan, tolong menolong, hidup bersama secara damai, saling menghargai, etos belajar, dalam wadah pendidikan madrasah yang memanusiakan manusia. Kegiatan seperti diskusi kelopok, permainan-permainan membentuk team building bisa dipertimbangkan untuk ini. Para siswa dilatih untuk tidak saja menjadi pribadi yang unggul (superman), tetapi juga dapat membangun kebersamaan (super team).

Tradisi senior-unior yang saling berhadapan bahkan hirarkhis mulai dikikis digantikan dengan hubungan kesebayaan yang edukatif. Relasi akademik mencoba dibangun bukan relasi senior unior yang kadang mengganggu kekritisan, kreatifitas dan komitmen untuk sukses bersama bukan sukses sendiri-sendiri.

Nilai-nilai keagamaan yang diajarkan dalam kitab Talimul Mutaalim juga harus menjadi pondasi dasar para siswa madrasah yang harus ditanamkan sejak Matsama. Cinta ilmu pengetahuan, hormat pada guru, saling mendoakan antara guru dan murid, nilai keberkahan dan keutamaan ilmu pengetahuan menjadi dasar etika para siswa madrasah yang kini juga mulai hilang.

Matsama dijadikan sebagai wahana memperteguh komitmen pada kebangsaan, NKRI dan menjunjung tinggi Pancasila, yang disadari akhir-akhir ini mulai memudar dikalangan diri siswa. Hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin Bambang Pranowo, Guru Besar UIN Jakarta pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal.

Lebih mengkhawatirkan lagi, menyebutkan bahwa 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia. Sementara jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom.

Survei ini sangat mengkhawatirkan bagi masa depan Islam Indonesia yang toleran dan damai. Oleh karenanya Matsama menjadi wahana efektf mnanamkan sejak dini nilai-nilai kebangsaan. Bangga menjadi bangsa Indonesia diaman kita tinggal, menghirup udara segar, makan dan minum dari hasil bumi Indonesia.

Ada baiknya para siswa mulai dikenalkan sejak dini situs-situs sejarah, cagar budaya dan obyek-obyek kebudayaan Indonesia. Rihlah ilmiah dan kebudayaan ke tempat-tempat bersejarah menjadi penting. Jika sekiraya Madrasah jauh dari obyek tersebut, bisa didatangkan sejarahwan dan budayawan untuk berdialog dengan mereka. Madrasah dan sekolah harus mampu melahirkan anak-anak bangsa yang berbudaya, berkarakter Indonesia.

Selamat mengikuti Matsama bagi adik-adiku semoga menjadi pengalaman menarik dan menyenangkan.

Ruchma Basori, (Kasi Kemahasiswaan Dikti Islam Kementerian Agama RI, Sekjen PMU MAN Insan Cendekia dan Kandidat Doktor Universitas Negeri Jakarta)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Internasional, Nahdlatul Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock