Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Ikuti Sayembara Penulisan Cerpen Pesantren NU Maroko!

Dalam rangka menyemarakkan Konferensi Cabang Istimewa III NU Maroko yang akan dilaksanakan pada tanggal? 9 Agustus 2016 mendatang, pengurus NU setempat menggelar Sayembara Menulis Cerpen bagi siapa saja yang merupakan warga Negara Indonesia.

Lomba menulis bertema “"Santri Menulis: Sepenggal Cerita di Lorong Pesantren" ini sekaligus menjadi ajang untuk menuangkan bakat dalam dunia penulisan terutama bagi kalangan santri, demikian siaran pers yang diterima Hari Santri 2019.

Ikuti Sayembara Penulisan Cerpen Pesantren NU Maroko! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikuti Sayembara Penulisan Cerpen Pesantren NU Maroko! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikuti Sayembara Penulisan Cerpen Pesantren NU Maroko!

Tema yang diusung adalah hal-hal yang terkait dengan kehidupan dunia pesantren, untuk memobilisasi kawan-kawan santri menorehkan bakatnya, sekaligus memperkenalkan dunia pesantren dalam kemasan cerita. Santri dan pesantren acapkali diberi stigma tak mengenal dunia sastra dan kepenulisan, dalam program ini setidaknya kami akan menepis anggapan tersebut. Bahwa para santri, pun memiliki potensi dalam dunia tulis menulis. Bahwa pesantren, pun memiliki beragam kisah yang tak kalah menarik dan seru.

Pesantren tidak melulu identik tentang kitab kuning, atau dzikir beriring. Di sana ada juga temu pisah, cinta tak sampai, juga kenangan para santri yang belum usai. Pesantren tidak hanya menyajikan Jurumiyyah atau Fathul Muin. Di sana tersaji juga amarah, senda gurau, dan gundah seorang santri yang juga parau. Pesantren adalah potret kecil dari dunia penuh warna, dengan banyak kisah di dalamnya, yang terlalu sayang jika mengalir begitu saja tanpa terekam pena.

Hari Santri 2019

Ketentuan Lomba

? Peserta adalah Warga Negara Indonesia (WNI) baik yang berdomisili diluar negeri maupun di dalam negeri, dan tidak dibatasi usia.

Hari Santri 2019

? Naskah ditulis dengan bahasa Indoensia yang baik dan benar, serta tidak mengandung unsur SARA dan pornografi.

? Naskah diketik dalam format Ms. Word A4, Times New Roman font 12, spasi 1,5, margin normal, 5-7 halaman.

? Naskah merupakan karya asli bukan saduran, belum pernah dipublikasikan di media masa, dan tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.

? Peserta hanya diperbolehkan mengirim dua naskah terbaiknya.

? Share info sayembara ini di facebook dan meng-like fanspage Konfercab III NU Maroko.

? Keputusan juri bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.

? Naskah diterima paling lambat tanggal 5 Agustus 2016, pukul 00.00 WIB.

Tata Cara Pengiriman Naskah

? Naskah di kirim via e -mail ke: panitia.konfercab.3@gmail.com dengan subyek: Santri Menulis.

? Peserta melampirkan biodata meliputi: nama, alamat, TTL, alamat email dan facebook, nomor hp dan nomer rekening di halaman akhir naskah.

Dewan juri

? Aida Maslamah Ahmad ( Novelis dan Penulis buku Motivasi Islami. Founder Maslamah Foundation dan Batavia Publishing )

? Risma El Jundi (Novelis )

Apresiasi

? Juara I : Rp 2 juta + sertifikat pemenang + buku antologi + souvenir.

? Juara II : Rp 1.5 juta + sertifikat pemenang + buku antologi + souvenir.

? Juara III : Rp 1 juta + sertifikat pemenang + buku antologi + souvenir.

? 20 naskah terbaik akan dibukukan dan didistribusikan ke beberapa pesantren di Indonesia.

CP:

+212 627 254551 (Icha)

+212 621 575110 (Aniq)

(Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Habib, Warta Hari Santri 2019

Kamis, 01 Februari 2018

Libur Idul Fitri 2004 Menjadi Sembilan Hari

Jakarta, Hari Santri 2019
Pemerintah menetapkan hari libur nasional dan cuti bersama pada Idul Fitri 2004 menjadi sembilan hari, karena hari besar Islam itu jatuh pada tanggal 14 dan 15 November 2004, atau hari Minggu dan Senin.

Dalam kondisi demikian pemerintah memundurkan hari libur menjadi 15 dan 16 November atau Senin dan Selasa, ditambah cuti bersama selama tiga yakni 17-19 November 2004 (Rabu, Kamis dan Jumat) dan ditambah libur Sabtu dan Minggu dan Sabtu dan Minggu sebelumnya, menjadikan libur Idul Fitri 2004 menjadi sembilan hari.

Menko Kesra Jusuf Kalla mengatakan di Jakarta, Kamis, seusai menyaksikan menandatanganan surat keputusan bersama Menag, Menakertrans, dan Menpan tentang Libur Nasional dan Cuti Bersama Selama 2004 di Jakarta.

Dikatakan bahwa libur sembilan hari itu sebenarnya efektif lima hari, yakni dua hari libur resmi, tiga hari cuti bersama, dan empat hari libur Sabtu Minggu yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta swasta di seluruh Indonesia.

Sedangkan libur hari besar di luar hari Sabtu dan Minggu untuk tahun 2004, jumlahnya tetap 14 hari kerja dengan catatan hari libur yang jatuh pada Minggu, Selasa, Rabu, dan Kamis dipindahkan ke hari Senin, sehingga tidak mengurangi jumlah hari libur nasional yang sudah ada. Contohnya, tahun baru hijriah yang jatuh pada tanggal 22 Februari (Minggu) dipindah menjadi Senin (23/2).  

Menurut Menko Kesra, tujuan pemindahan hari libur itu agar masyarakat memiliki libur akhir pekan lebih panjang dan memberi kesempatan bersilaturahmi dengan keluarga. 

Selain itu untuk mengefisienkan agar tidak banyak karyawan yang membolos karena adanya hari kerja yang terjepit pada hari libur. Begitui pula untuk meningkatkan kunjungan wisatawan domestik.

Sementara Menpan Feisal Tamin, meminta instansi pemerintah untuk menindak atau menjatuhkan sanksi bagi karyawan yang masih membolos. Ia mengatakan bahwa dipercepatnya pengumuman hari libur tersebut untuk memudahkan para penerbit kalender  memberi tanda khusus pada hari-hari libur yang dipindahkan, sehingga tidak membingungkan masyarakat.

Pihak swasta tidak mempermasalahkan pemindahan hari libur itu karena sudah dilaksanakan sejak lama.(ant/mkf)


 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Warta, Berita Hari Santri 2019

Libur Idul Fitri 2004 Menjadi Sembilan Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Libur Idul Fitri 2004 Menjadi Sembilan Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Libur Idul Fitri 2004 Menjadi Sembilan Hari

Rabu, 31 Januari 2018

Lakpesdam NU Kudus Adakan FGD Akhir Tahun

Kudus, Hari Santri 2019. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Kabupaten Kudus menyelenggarakan Fokus Group Discussion (FGD) bertemakan Refleksi Akhir Tahun (Membaca Masa Lalu Merancang Masa Depan) yang dilaksanakan Gedung YM3SK Jl. Menara Kudus No. 149 (Eks Manggala), Rabu (30/12).

Lakpesdam NU Kudus Adakan FGD Akhir Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Kudus Adakan FGD Akhir Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Kudus Adakan FGD Akhir Tahun

Acara yang diselenggarakan atas kerja sama PC GP Ansor Kabupaten Kudus, PC Fatayat NU Kabupaten Kudus, PC IPNU Kabupaten Kudus, PC IPPNU Kabupaten Kudus, dan PC PMII Kabupaten Kudus. Kegiatan ini membicarakan kebijakan-kebijakan pemerintah. Antara lain sosial, pendidikan, politik, kesehatan, dan lain sebagainya yang belum sepenuhnya terealisasi di Kabupaten Kudu. Peserta yang hadir dalam acara tersebut berhak mengutarakan pendapat-pendapat untuk membenahi Kabupaten Kudus di tahun 2016 nanti.

Berbagai elemen masyarakat turut datang dalam acara tersebut. Diantaranya Rais Syuriah PCNU Kabupaten Kudus KH Ulil Albab Arwani, para kiai, tokoh masyarakat, Anggota DPRD Kabupaten Kudus, Anggota DPRD Jawa Tengah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan lain sebagainya.

Hari Santri 2019

Ketua PC Lakpesdam NU Kabupaten Kudus Drs H Asyrofi Masyitho mengatakan, dengan diadakan FGD ini masyarakat bisa mengeluarkan unek-unek terhadap kebijakan-kebijakan publik yang belum maksimal dan mereview kembali persoalan-persoalan yang ada di Kabupaten Kudus.

Hari Santri 2019

“Hal ini dilakukan agar di tahun 2016 nanti kita bisa merancang agar Kabupaten Kudus agar lebih baik lagi daripada tahun 2015, sehingga di tahun 2016 nanti Kabupaten Kudus agar lebih baik,” tuturnya. (Dedi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Meme Islam, Warta, Santri Hari Santri 2019

Jumat, 26 Januari 2018

KMNU Unila Punya Ketua Baru

Bandarlampung, Hari Santri 2019

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Lampung (Unila) secara resmi memilih Ahmad Nur Fuadi sebagai ketua baru periode 2016-2017 dalam Musyawarah Anggota yang digelar di Kantor Kesekretariatan KMNU Unila, Bandarlampung, Lampung.



KMNU Unila Punya Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU Unila Punya Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU Unila Punya Ketua Baru



Fuad, begitu ia biasa dipanggil, menggantikan ketua periode sebelumnya, Ahmad Saroji El-Shirozy. Fuad adalah mantan Kepala Departemen SKD KMNU Unila.?



Hari Santri 2019



Setelah terpilih menjadi Ketua Umum pada Ahad (17/01/16) malam itu, Fuad menyatakan bahwa amanah yang diembannya sangat berat. Mahasiswa FKIP Unila Jurusan Fisika ini berharap bisa menunaikannya dengan baik. Ia mendasarkan niatnya pada usaha mencari ridha Allah, bentuk cinta kepada Nabi Muhammad, serta cinta terhadap tanah air NKRI.





Hari Santri 2019

Pemuda berkacamata yang merupakan alumni MAN 1 Pringsewu ini meyakini bahwa berorganisasi, lebih-lebih di KMNU, merupakan sebuah cara lain untuk mencari Ilmu dan pengalaman yang tidak didapatkan di pelajaran atau materi kuliah.?





"Berorganisasi itu cari ilmu dengan aktif di organisasi. Kalau berorganisasi di KMNU insyallah tidak cuma ilmu yang didapat. Kalau aktif dan ikhlas berkhidmah maka kita juga akan dapat barokah doanya para ulama, masyayikh, dan muasis NU," ungkapnya. (Muhammad Faizin/Mahbib). Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, Tokoh, Pesantren Hari Santri 2019

Selasa, 23 Januari 2018

Dubes Iran Tawari Menteri Marwan Kerjasama Energi Desa

Jakarta, Hari Santri 2019 - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Marwan Jafar berharap hubungan kerjasama antara Indonesia dan Iran dapat berjalan dengan baik. Kerjasama yang telah terjalin tersebut didominasi oleh bidang energi, serta pemanfaatan dan pengembangan sumber-sumber energi alternatif.

Hal tersebut disampaikan Menteri Marwan, saat menerima kunjungan Duta Besar Iran, Valioallah Muhammadi di, Kantor Kemendes PDTT, Senin (6/6).

Dubes Iran Tawari Menteri Marwan Kerjasama Energi Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Iran Tawari Menteri Marwan Kerjasama Energi Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Iran Tawari Menteri Marwan Kerjasama Energi Desa

"Kami mengikuti geopolitik di Negara Timur Tengah, dan kami berharap hubungan Indonesia dengan Iran, terutama pada pembangunan makro dan mikro, serta bio energy dapat berjalan dengan baik," ujarnya.

Hari Santri 2019

Menteri Marwan mengatakan, Indonesia saat ini sedang mengembangkan energi alternatif melalui pemanfaatan microhydro, wind power, geothermal dan bioenergy. Indonesia memiliki program desa energi, yang bertujuan untuk memberikan pelayanan akses listrik terhadap masyarakat perdesaan di Indonesia secara menyeluruh.

"Selain itu, untuk memenuhi infrastruktur di perdesaan, Kementerian ini (Kemendes PDTT) juga memiliki program dana desa, yang digunakan untuk membangun infrastruktur dasar di desa seperti jalan, talud, irigasi dan sebagainya," ujarnya.

Hari Santri 2019

Di sisi lain, Duta Besar Iran, Valioallah Muhammadi mengatakan, Indonesia dan Iran memiliki peluang besar untuk bekerjasama di bidang energi desa. Iran dalam hal ini, telah menerapkan energi geomethal(panas bumi) untuk memenuhi kebutuhan listrik hingga 25 Megawatt.

"Energi geomethal ini sangat cocok jika diterapkan di perdesaan. Sesungguhnya ada banyak peluang kita (Indonesia dan Iran) untuk bekerjasama," ujarnya.

Dalam kunjungannya tersebut Valioallah juga mengundang Menteri Marwan untuk bergabung dalam Joint Commite yang akan diadakan Iran di Jakarta dalam waktu dekat. Di mana, forum tersebut adalah pertemuan dari petinggi-petinggi pejabat dari berbagai negara.

"Di Iran memang tidak ada kementerian yang khusus menangani desa seperti di Indonesia. Tapi saya harap, Kementerian ini bisa bergabung dala forum yang akan kami adakan tersebut," ujarnya. (red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta Hari Santri 2019

Minggu, 21 Januari 2018

9 Nama Muncul Jelang Konfercab PCNU Kota Padang

Padang, Hari Santri 2019. Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Kota Padang, Sumatera Barat bakal berlangsung sengit. Sembilan orang kandidat siap bertarung menjadi Ketua PCNU Kota Padang periode 2017-2022. Konfercab ke-IX PC NU Padang ini berlangsung Sabtu-Ahad (25-26/2), dibuka Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Ketua PCNU Kota Padang Yultel Ardi Tuanku Malin Sulaiman, Senin (20/2) di sekretariat PCNU Kota Padang di kawasan Ranah, menyebutkan, Konfercab selain memilih kepengurusan periode 2017-2022, juga membahas laporan pertanggungjawaban pengurus sebelumnya, menyusun program kerja, sosialisasi Kartu Tanda Anggota NU dan dialog langsung dengan Ketua Umum PBNU. Pembukaan Konfercab di Palanta Rumah Dinas Wali Kota Padang, sedangkan pelaksanaan Konfercab di salah satu hotel di Padang. ?

9 Nama Muncul Jelang Konfercab PCNU Kota Padang (Sumber Gambar : Nu Online)
9 Nama Muncul Jelang Konfercab PCNU Kota Padang (Sumber Gambar : Nu Online)

9 Nama Muncul Jelang Konfercab PCNU Kota Padang

“Dialog dengan Ketua Umum PBNU dengan tema "Merawat Tradisi, Mengupayakan Inovasi dan menjaga NKRI". Dialog ini penting untuk mengetahui perkembangan terkini kondisi bangsa Indonesia dan antisipasi ancaman terhadap keutuhan NKRI,” kata Yultel, alumni pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman.

Sedangkan sosialisasi Kartanu dilakukan ? tim dari PBNU. Sosialisasi dimaksudkan agar warga NU Kota Padang semakin paham manfaatnya. “Sedangkan pada Ahad (26/2) paginya, diadakan diskusi dengan tema “Pengembangan Kota Mandiri dan Peremajaan Kota” yang disampaikan Wakil Sekjen DPP Real Estate Alkudri. Melalui diskusi ini, warga NU Kota Padang diharapkan memiliki wawasan terhadap Kota Padang di masa mendatang,” kata Yultel.

Terkait dengan nama-nama yang mulai mengapung yang bakal dijagokan menjadi Ketua PCNU, ada sembilan orang. Masing-masing Afrizal yang kini menjabat Sekretaris PCNU Kota Padang, Thamrin Ahmad (Katib). Di ijajaran Wakil Ketua PCNU disebut-sebut nama Marsal, Syamsurizal, Zurial Muchtar, Syahrial Nadir, Bendahara Bustami, Ketua Pergunu Kota Padang Rinelfi dan Ketua PCNU Yultel Ardi sendiri. Masing-masing memiliki kelebihan dan kemampuan untuk memimpin NU Kota Padang lima tahun ke depan.?

Hari Santri 2019

“Kita berharap apa yang sudah dicapai NU Kota Padang saat ini dapat ditingkatkan oleh pengurus mendatang. Siapa pun yang terpilih nantinya, yang penting dapat menggerakkan NU di tengah masyarakat,” kata Yultel menambahkan. (Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi) ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Warta Hari Santri 2019

Rabu, 17 Januari 2018

IPPNU Kecewa Atas Keterlambatan Soal UN

Jakarta, Hari Santri 2019. Keterlambatan soal Ujian Nasional (UN) yang mengakibatkan UN tertunda, Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) menyatakan kekecewaannya terhadap Kemendikbud.



IPPNU Kecewa Atas Keterlambatan Soal UN (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Kecewa Atas Keterlambatan Soal UN (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Kecewa Atas Keterlambatan Soal UN

Perihal ini disampaikan oleh Ketua Umum PP IPPNU Farida Farichah kepada Hari Santri 2019 per telepon, Senin (15/4) pagi.

Farida mempertanyakan manajemen pemerintah terkait atas pelaksanaan UN. Alasan teknis yang mengakibatkan keterlambatan soal UN, semestinya sudah tidak ada mengingat pelaksanaan UN sebagai hajat tahunan nasional.

“Kekurangan seperti harus menjadi titik balik evaluasi besar-besaran bagi Kemendikbud,” tegas Farida Farichah.

Sebelas dari 34 provinsi di Indonesia mengalami penundaan pelaksanaan UN. Angka itu berbanding sepertiga dari wilayah Indonesia. Penundaan itu membuat pelaksaan UN tidak adil. Karenanya, Kemendikbud harus bertanggung jawab atas kelalalian ini, tambah Farida Farichah.

Hari Santri 2019

Farida Farichah menilai kelalaian itu bukan sekadar persoalan murni teknis percetakan soal UN. Kelalaian itu mencerminkan sebuah masalah dalam sistem dan manajemennya. Karenanya, proses evaluasi dan audit menjadi sebuah keniscayaan.

Hari Santri 2019

Penundaan UN pada sebagian wilayah di Indonesia di sela kecanggihan teknologi informasi masa kini, membuka peluang kecurangan dengan bocornya soal UN ke sekolah yang belum melaksanakan UN, ungkap Farida Farichah.

Akibat kelalaian manajemen pelaksanaan UN seperti ini, para siswa kembali menjadi korban. Kenyataan ini yang semestinya diantisipasi jauh hari, tandas Farida Farichah.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, Syariah Hari Santri 2019

Minggu, 14 Januari 2018

Klenteng Pun Pasang Spanduk Selamat Hari Santri

Pati, Hari Santri 2019. Peringatan Hari Santri yang dilaksanakan di sejumlah daerah mendapatkan perhatian positif banyak pihak. Hal itu terbukti salah satunya dengan semaraknya poster atau spanduk yang dipasang di berbagai tempat. 

Bahkan, banyak sepanduk Hari Santri dipasang di tempat-tempat ibadah non-Islam. Klenteng Tjoen Hok Bio yang berada di Desa Karangboyo Juana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, misalnya. Pengurus tempat ibadah umat Konghucu tersebut sengaja memasang sepanduk hari santri di pagar depan Klenteng agar bisa memberikan pesan moral.

Klenteng Pun Pasang Spanduk Selamat Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Klenteng Pun Pasang Spanduk Selamat Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Klenteng Pun Pasang Spanduk Selamat Hari Santri

"Usai pertemuan umat lintas agama, sepanduk hari santri dari Banser NU sengaja kami pasang. Sebagai penyejuk jiwa agar kebinekaan benar-benar bisa terwujud dan diterima masyarakat," ucap Rohimin, salah satu pengurus Klenteng, Sabtu (21/20).

Ia menambahkan, jalinan kemitraan dengan Banser NU sudah lama terpupuk dengam baik. "Sudah lama kami menjalin hubungan kekeluargaan. Bahkan, sering kali kami terlibat dalam kegiatan sosial," imbuh Rohimin. 

Hari Santri 2019

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Juana, Sisiwoyo mengatakan bahwa Islam itu rahmatallil alamin. Maka sudah barang tentu, lanjutnya, membaur, rukun dan damai kepada semua manusia. 

"Islam adalah agama rahmatallil alamin. Sudah selayaknya kita khususnya warga Nahdliyyin lebih dulu memberikan contoh dan mengajak umat agama lain untuk rukun dan damai," ujarnya. 

Siswoyo menuturkan bahwa Banser dan Ansor sudah ada pertemuan dengan lintas agama. Dalam pertemuan tersebut membentuk forum kerukunan umat beragama (FKUB) dengan tujuan agar kebinekaan tetap terjaga dengan baik. 

"Minggu lalu sudah ada pertemuan lintas agama, Kristen Katholik, Protestan, Hindu, Budha dan Dharmo Gandul di Aula Kecamatan Juana. Semua bertujuan menjaga NKRI agar tetap kondusif," pungkasnya. (Suhud Masud/Mahbib) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Warta Hari Santri 2019

Kamis, 11 Januari 2018

Kalangan Akademisi Indonesia Idap Penyakit Minder

Jakarta, Hari Santri 2019. Wakil Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslimin ? Indonesia (Lesbumi) H Agus Sunyoto mengatakan, kalangan akademisi Indonesia kerap merasa kurang percaya diri di dalam mengembangkan pengetahuan. Rasa rendah diri akut itu hadir dalam bentuk pembenaran final atas eksperimen pengetahuan Barat.

Dalam kursus singkat bertajuk Tasawuf Sebagai Etika Sosial di Pesantren Al-Tsaqafah Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (19/12), Agus menambahkan, “Kalangan akademisi pun seolah ‘kurang afdhal’ jika tidak mengutip pernyataan orang Barat.”

Kalangan Akademisi Indonesia Idap Penyakit Minder (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalangan Akademisi Indonesia Idap Penyakit Minder (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalangan Akademisi Indonesia Idap Penyakit Minder

Kelakuan akademisi itu sering membuatnya jengkel. Terlampau jengkel, Agus dengan kawannya dalam sebuah diskusi berseloroh kepada orang yang selalu mengutip pendapat orang Barat.

Hari Santri 2019

Agus mencontohkan, akademisi yang menjadi narasumber mengatakan, “Menurut Ben Parker, bahwa politik itu adalah ini, ini, ini.” Ketika salah seorang peserta diskusi bertanya Ben Parker itu siapa? Saya jawab, “Ben Parker itu pamannya Spiderman."

Bahkan, lanjut Agus, dalam benak kita sudah tertanam bahwa bangsa Indonesia adalah inferior, bangsa yang di bawah. Sedangkan orang bule adalah superior, bangsa yang ada di atas kita.

Hari Santri 2019

Jika keadaan ini tidak segera dibenahi, maka diprediksi 30 tahun lagi Bangsa Indonesia akan hilang ditelan bumi, tegas Agus. Untuk itu ia mendesak agar ada pembenahan secara serius dalam menghadapi salah satu persoalan bangsa ini. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, PonPes, Pahlawan Hari Santri 2019

Selasa, 09 Januari 2018

Prof Rahman: Yakinlah Akan Lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal Baru

Hingga hari ke-40 pascawafatnya Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh, berbagai kesaksian dari berbagai elemen masyarakat terus mengalir. Para kiai, pengurus NU, dan tokoh masyarakat telah memberikan komentar, kini testimoni mengemuka dari seorang akademisi yang lahir dari tradisi NU:Prof H Abdurrahman Mas’ud, MA PhD (54). Doktor lulusan University of California Los Angeles (UCLA) ini menceritakan pengalamannya kepada Musthofa Asrori dari Hari Santri 2019 di kantornya.

Pria kelahiran Kudus, 16 April 1960, yang sekarang menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Kapuslitbang Penda) Balitbang Kementerian Agama RI ini memiliki cerita menarik seputar perkenalannya dengan kiai yang akrab disapa Mbah Sahal itu. Berikut petikan wawancara beberapa hari lalu.

Prof Rahman: Yakinlah Akan Lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Rahman: Yakinlah Akan Lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Rahman: Yakinlah Akan Lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal Baru

Apa yang terbentuk dalam pemikiran Prof Abdurrahman Mas’ud tentang sosok Mbah Sahal?

Perkenalan dan ketertarikan saya kepada Mbah Sahal, pertama ya, saat saya mulai mengaji kepada beliau ketika kelas dua aliyah dulu. Tepatnya tahun 1978 dan 1979 di Pesantren Maslakul Huda Kajen. Dua tahun berturut-turut tiap bulan puasa saya mengaji pasanan di sana. Beliau itu ulama kharismatik, terbuka, dan juga seorang faqih. Saya masih ingat waktu itu ngaji Fathul Wahab kepada beliau. Mbah Sahal juga cepat dekat kepada santrinya, termasuk saya. Saking percayanya, misalnya, beliau memberikan ijazah kepada saya. Jadi, mula-mula saya tunjukkan kepada beliau kitab nadzaman Tsamratul Hajainiyah. Tanpa pikir panjang, beliau langsung memberikan ijazah bahwa saya sudah diakui mengaji kepada beliau. Padahal belum ngaji. Saya sampai beliau meninggal selalu berhubungan baik. Minimal setahun sekali saya sowan ke kediaman beliau. Saya merasa lebih dekat dengan beliau daripada santrinya yang lain. Padahal tidak nyantri di pondoknya. Dugaan saya, tapi Insya Allah bener, banyak santri yang nyantri di sana.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Nyantri di mana, Prof?

Saya justru mondok di pesantren Kiai Muzayyin Ngemplak (sebelah barat Kajen-red), setiap ngaji pasanan di Kajen.

Waktu mendapat gelar profesor di IAIN Semarang?

Iya, saya undang beliau. Usai penganugerahan langsung saya hampiri beliau, saya cium tangan beliau.

Bagaimana perasaan Prof saat mengetahui bahwa Mbah Sahal telah meninggal?

Saya sangat kehilangan sekali, bukan soal material tetapi moral. Ya, kita memang berhubungan dengan beliau secara moral ya. Apalagi tidak bisa memberikan penghormatan terakhir kepada beliau. Itu yang paling merasa kehilangan. Padahal biasanya, minimal tiap tahun silaturrahim ke beliau. Saya sering merasa jika ada kiai yang wafat, saya pasti sangat prihatin. Bahkan, paman saya sendiri, Kiai Ma’ruf Irsyad Kudus juga tidak bisa mengantar.

Pasca-Mbah Sahal, bagaimana NU ke depan? Tanggapan Bapak..

Suasananya mirip ketika NU dan bangsa ini ditinggal wafat Gus Dur. Di NU kan betapapun kiai itu masih menjadi tokoh sentral. Dalam penelitian saya, kiai saya sebut sebagai elite culture (kultur elit) yang menjadi imam keagamaan. Jadi, Mbah Sahal tidak diragukan lagi. Tapi, yakinlah bahwa ke depan akan lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal baru.

Beliau dalam riset saya dikategorikan sebagai kiai yang ensiklopedis. Saya merasa tidak bisa terlepas dari bayang-bayang Mbah Sahal. Beliau itu tidak bisa diintervensi oleh pemerintah. Posisi beliau sedejarat dengan pemerintah. Jadi, pendapat beliau selalu didengar oleh pemerintah, bukan saja oleh gubernur, tetapi hingga tingkat nasional.

Artinya apa?

Sebagaimana kita tahu, dalam hadis, pemimpin yang adil dan ulama yang tidak korup maka umat akan aman.

Sekarang Mbah Sahal digantikan Gus Mus dalam kapasitasnya sebagai rais aam. Bagaimana Prof melihatnya?

Sangat pas dan tepat sekali. Saya kira Gus Mus orang yang sangat paham Mbah Sahal. Artinya, pemikiran kedua ulama ini cukup linier dan relevan dengan konteks kekinian. Saya pribadi sangat bersyukur bahwa Gus Mus bisa menggantikan beliau. Insya Allah perdamaian dan moderasi ala NU akan aman dalam kendali Gus Mus.

Berbicara tentang pendidikan Islam di Indonesia, khususnya bagi warga Nahdliyin, problem mendasarnya menurut Bapak?

Ada beberapa masalah tipikal dunia pendidikan Islam. Pertama, dikotomi keilmuan yang sudah menyejarah. Kedua, hilangnya spirit  of inquiry yang termasuk di dalamnya memudarnya tradisi rihlah fi thalabil ilmi, penelitian empiris, membaca, dan menulis. Ketiga, certificate-oriented (orientasi ijazah). Keempat, tidak mengacu pada problem solving. Kelima, common sense terlupakan. Dampaknya, kreativitas tidak menonjol. Keenam, akhlaq terbatas pada moralitas dosa, halal-haram, akhlaq sosial (social ethics) terabaikan.

Apa tawaran pemikiran prof terhadap persoalan ini?

Saya kira, perlu ditekankan adanya humanisme dalam pendidikan. Humanisme dalam pendidikan di sini adalah proses pendidikan yang lebih memerhatikan aspek potensi manusia sebagai makhluk religius dan makhluk sosial (abdullah dan khalifatullah), serta sebagai individu yang diberi kesempatan Tuhan untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya sekaligus bertanggung jawab terhadap amal perbuatannya di dunia dan akhirat. Humanisme dimaknai sebagai kekuatan atau potensi individu yang senantiasa mengembangkan diri di bawah petunjuk ilahi, untuk bertanggung jawab mengurai aneka persoalan sosial. Individu dalam pandangan ini selalu aktif dalam status proses becoming menyempurnakan diri (istikmal).

Apa pesan penting humanisme dalam pendidikan?

Humanisme mengajarkan, tidaklah etis untuk sepenuhnya menunggu Tuhan bertindak untuk menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan dan keindonesiaan dengan karut-marutnya persoalan yang tak pernah kunjung selesai. Manusia Indonesia sebagai khalifatullah fil ardl harus bertindak dengan tetap memohon petunjuk dari Allah untuk merespons dengan tepat berbagai musibah.

Bagaimana hubungan humanisme dalam pendidikan dan humanisme dalam beragama?

Tentu sangat erat hubungannya. Lihat saja, realitas kesejarahan bangsa kita menunjukkan bahwa Islam yang berkembang di Indonesia hingga hari ini adalah Islam kultural. Artinya, Islam mampu berkembang dan menjadi tradisi baru sejalan dengan dinamika budaya masyarakat. Pendekatan kultural merupakan strategi pengembangan keberagamaan yang memerhatikan keharmonisan dan kekayaan budaya lokal sebuah komunitas masyarakat.

Salah satu budaya bernuansa islami yang berkembang luas di masyarakat adalah budaya selametan atau syukuran. Budaya ini sering diidentikkan dengan masyarakat Jawa. Penyelenggaraannya pun nyaris berlangsung setiap hari, setiap even, dan searah tarikan nafas. Ketika orang akan memulai hidup baru, memasuki rumah baru, punya jabatan baru, atau sesuatu yang baru, dapat dipastikan mereka menggelar selametan itu. Termasuk juga selametan atas anugerah kehamilan mulai empat bulan, mitoni, hingga puputan,selapanan, lalu medon lemah.

Bahkan, ada lagi budaya selametan yang masih bersifat polemis di sebagian umat Islam sendiri, yakni selametan untuk orang-orang yang meninggal (3, 7, 40, 100, dan 1000 hari) yang kerap disebut tahlilan. Namun, kini sepertinya tahlilan telah menjadi milik Indonesia, bukan hanya warga Nahdliyin. Muhammadiyah pun sudah nyaman dengan ritual ini. Ketuanya saja (Din Syamsudin) sudah tahlilan kok. 

Nah, keberhasilan mengembangkan budaya lokal bernuansa Islam tersebut tidak hanya bergantung kepada kadar keimanan dan konsistensi anggota masyarakat terhadap ajaran agama, baik individu maupun kelompok. Akan tetapi, faktor pendidikan amat berpengaruh dalam pembentukan tradisi dan budaya islami tersebut.

Berbicara soal pendidikan di kalangan warga Nahdliyin, apa yang menjadi keprihatinan Bapak?

Kita tahu bahwa Nahdliyin yang tergabung dalam wadah jam’iyah NU itu lahir dari pesantren. Sementara peranan lembaga pendidikan pesantren di negeri ini sangat besar dalam membina generasi muda. Sayangnya, perhatian kepada institusi ini belum memadai. Begitu juga pada level internasional, studi mengenai dunia pesantren bisa dihitung dengan jari. Sejauh pengamatan saya, sampai detik ini baru ada tiga disertasi berbahasa Inggris yang membahas topik dunia pesantren. Pertama, The Pesantren Tradition yang ditulis pada 1980 oleh Dr Zamakhsyari Dhofier (Departement of Anthropology and Sosiology Australian National University, Canberra). Kedua, disertasi yang muncul 17 tahun kemudian, tepatnya pada Maret 1997 berjudul The Pesantren Architects and Their Socio-Religious Teachings yang saya tulis untuk mengambil gelar doktor di UCLA. Ketiga, Peaceful Jihad, disertasi sarjana AS, Prof Roland Alan Lukens-Bull dari North Florida University AS.

Artinya apa itu, Prof?

Artinya bahwa doktor di NU itu masih minim. Apalagi dibandingkan Muhammadiyah.

Tawaran konkret seorang Abdurrahman Mas’ud PhD?

Satu hal yang sejak lama saya pikirkan bahkan pernah saya tulis: "Mendoktorkan NU sekaligus Mengkiaikan Muhammadiyah". Tulisan-tulisan saya dibukukan dengan judul “Menuju Paradigma Islam Humanis.” Selama ini kan ramai soal pandangan yang mengisyarakatkan bahwa NU lebih kaya dengan pesantren berikut kiai-kiai ampuhnya, MD (Muhammadiyah, red) bangga dengan stok doktornya dari dalam maupun luar negeri. MD lebih berkualitas dan rapi dalam kinerja organisasi dan kelembagaan, sementara NU lebih solid dalam kohesi dan solidaritas sosialnya. Soal kekuasaan, jika MD lebih berhasil menjabat negara, maka NU lebih erat menjabat tangan karena tradisi musafahah begitu tinggi. Jika NU leading dengan rekayasa kulturalnya, MD leading dengan lembaga pendidikannya.

Pada tahun 1990-an, saya punya pengalaman berharga tentang hubungan dengan tokoh MD. Ya, waktu itu, Din Syamsuddin yang menjabat Ketua Pemuda Muhammadiyah Pusat, adalah roommate (teman sekamar) saya saat kuliah di UCLA Amerika Serikat. Meski kami beda secara sosio-kultural dan organisasi, kami tidak pernah terlibat dalam diskusi emosional, apalagi sampai debat kusir. Dialog kami lakukan di mana saja, mulai di kamar hingga di kantin, dengan materi beragam. Kadang juga mencakup persoalan khilafiyah NU-MD. Diskusi sering dihiasi academic-joke, yang penekanannya lebih kepada upaya mencari solusi dari perbedaan paradigma keislaman. Salah satu kesimpulan yang masih penulis ingat adalah kami tidak pernah menyangsikan status Aswaja ala NU dan MD. Mengidentifikasi diri sebagai kaum Aswaja yang sekian tahuh kuliah di Barat, kadang kami mempertanyakan adalah pengaruh cross culture (lintas budaya) terhadap pola pandangan keagamaan kami. Sungguh kami merasa masih seperti yang dulu, hanya saja selain Aswaja kami juga punya identitas tambahan: Ahlul Jam’i wal Qasri (tukang jama’ qasar shalat) lantaran waktu shalat sering bentrok jam kuliah. Hahaha... (Prof Rahman tertawa terbahak-bahak).

Dalam hati sanubari Bapak, apa ada keinginan untuk menjadi pengurus Nahdlatul Ulama? 

Pada saatnya nanti, waktu yang akan menjawabnya. Meski saya waktu kuliah di Amerika aktif di ICMI, namun saya tetap menggunakan tradisi NU dalam aktivitas ibadah maupun sosial. Pada waktu itu memang belum ada PCINU seperti sekarang ini.

Generasi muda NU yang sekarang tentu ingin seperti Bapak hingga memperoleh gelar doktor. Saran dan nasehat Prof..

Terus belajar dan belajar. Jika ingin keluar negeri, tingkatnya kemampuan Bahasa Inggris, khususnya TOEFL-nya itu. Apalagi ditambah kemampuan bahasa asing lain akan semakin membantu.

Terima kasih Prof atas wawancara dan nasehatnya.

Sama-sama. Semoga sukses. (Red: Mahbib)

 

 

Foto: Prof H Abdurrahman Masud MA PhD mencium tangan KH MA Sahal Mahfudh usai dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Sejarah dan Kebudayaan Islam IAIN Walisongo (sumber: Suara Merdeka)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, AlaNu, Warta Hari Santri 2019

Acara Nariyahan Sudah Mulai Digelar di Pesantren Kiai Said

Jakarta, Hari Santri 2019. Lembaga Takmir Masjid-PBNU menggelar acara Shalawat Nariyah dan Pelatihan Takmir Masjid se-Jakarta Selatan angkatan ke-1 bersama Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siroj.

Acara Nariyahan Sudah Mulai Digelar di Pesantren Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)
Acara Nariyahan Sudah Mulai Digelar di Pesantren Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)

Acara Nariyahan Sudah Mulai Digelar di Pesantren Kiai Said

?

Acara yang bertempat di PP Ats-Tsaqafah, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan yang diasuh oleh Kiai Said Aqil Siroj ini selain diikuti oleh puluhan ta’mir masjid dari Kecamatan Jagakarsa, juga dihadiri oleh utusan LTM PCNU Kab. Bogor, LTM PCNU Kab. Tegal, dan puluhan ta’mir masjid dari Kota Tangerang.

Rangkaian acara ini diawali dengan pembacaan Shalawat Nariyah sebanyak 5 paket di mana satu paketnya sebanyak 4444 kali shalawat.

Hari Santri 2019

“Shalawat Nariyah memiliki banyak faedah. Jika membaca shalawat ini maka apa yang dicita-citakan akan terkabul secara cepat, juga bermanfaat sebagai tolak bala,” kata Kiai Said Aqil seusia pembacaan shalawat.

Selepas pembacaan shalawat, acara langsung dilanjutkaan dengan Pelatihan. Hadir dalam pelatihan ini KH Abdul Manan A. Ghani (Ketua PBNU Bidang Masjid dan Dakwah), H Mansur Syaerozi (Ketua LTM PBNU), KH. Sholeh Qosim (Wakil Ketua LTM PBNU), dan Ustadz Iwan, seorang muharrik masjid dari Kecamatan Tenjo Kabupaten Bogor.

Kiai Manan menegaskan betapa pentingnya masjid dalam sejarah Islam. “Islam lahir dari masjid dan dikembangkan melalui masjid,” jelasnya.?

“Masjid merupakan pusat pergerakan dan penyebaran agama Islam. Dimulai dari Masjid Quba, lalu Masjid Nabawi, dan seterusnya,” imbuh Kiai Manan.

Sementara itu H Mansur menjelaskan perihal pentingnya masjid untuk beroperasi secara mandiri. Melalui tema Membangun Kemandirian Keuangan Masjid, Mansur menyatakan bahwa peredaran uang terbesar ada di masyarakat.?

Hari Santri 2019

“Untuk menjalankan roda pemerintahan, negara menyusun APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara). APBN tidak lain diperoleh dari rakyat, minta ke masyarakat, melalui pajak dan cukai,” jelas Mansur.

“Oleh karena itu, ta’mir masjid harus mendekati masyarakat, mendekati jamaahnya, tidak lain dengan program-program yang mereka butuhkan,” tambahnya.

Setelah itu Mansur menjelaskan strategi pendapatan masjid melalui Gismas (Gerakan Infak Sedekah Memakmurkan Masjid dan Masyarakat).

Penjelasan Mansur dilanjutkan oleh Ustadz Iwan yang memberikan testimoni proses perjuangan bagaimana menggerakkan Gismas di Kecamatan Tenjo.

“Ada ustadz yang tidak setuju, ada yang menuduh uangnya akan saya ambil, ada yang marah lalu meremas kaleng Gismas sampai peot dan membantingnya ke tanah di hadapan saya,” papar Ustadz Iwan.

“Saya tidak marah. Saya hanya menanggapinya dengan pertanyaan detail ada berapa fakir miskin dan yatim piatu di daerah situ, dan apakah sudah ada jalan untuk membantunya,” tambahnya.

“Dari situ biasanya mereka mulai terbuka,” imbuhnya.

Acara pelatihan ini dilanjutkan dengan tanya jawab dan masukan-masukan yang sangat bermanfaat bagi pengembangan kemasjidan.

Acara ini ditutup langsung oleh Ketua Umum PBNU. Disampaikan oleh Kiai Said dalam sesi penutupan bahwa pembacaan Shalawat Nariyah sudah mencapai lebih dari satu milyar dari target yang direncanakan.

“Sepuluh persen saja yang ikhlas, dan yang dikabulkan, itu sudah mampu menyelamatkan kita dan membawa keberkahan bagi Indonesia,” tutup Kiai Said yang kemudian dilanjutkan doa dan salam-salaman yang diiringi Shalawat Badar. Red: Mukafi Niam ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta Hari Santri 2019

Fatayat NU Klaten Gelar Lomba Ceramah Islam Rahmatan Lil Alamin

Klaten, Hari Santri 2019 - Sejak pagi Kantor NU Kabupaten Klaten dipenuhi puluhan pemudi dengan berhijab rapi. Mereka hadir untuk mengikuti lomba khithobah se-Kabupaten Klaten, Ahad (24/4). Lomba pidato ini diselenggarakan oleh Fatayat Klaten dalam rangka Harlah Ke-66 Fatayat.

Lomba diikuti oleh kader-kader Fatayat di masing-masing pimpinan anak cabang. PAC Fatayat NU yang paling banyak mengirimkan kadernya ialah Fatayat NU Ceper yang mengirimkan tiga kadernya. Sementara itu, Fatayat NU Juwiring dan Tulung masing-masing mengirimkan dua kadernya.

Fatayat NU Klaten Gelar Lomba Ceramah Islam Rahmatan Lil Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Klaten Gelar Lomba Ceramah Islam Rahmatan Lil Alamin (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Klaten Gelar Lomba Ceramah Islam Rahmatan Lil Alamin

Ketua Fatayat NU Klaten Eka menerangkan, “Dengan lomba ini, diharapkan akan muncul kader-kader berbakat Fatayat. Akan muncul kader-kader dai dari Fatayat yang siap terjun di masyarakat,” katanya.

Hari Santri 2019

Ika berharap peserta tidak hanya mengharapkan piala dan hadiah dari lomba yang diselenggarakan Fatayat NU Klaten.

“Selamat berlomba, semangat,” sambung Ika sebelum menutup sambutannya.

Hari Santri 2019

Peserta lomba diminta membawakan ceramah dengan tiga tema antara lain Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan perempuan pencetak generasi yang Qur’ani. Lomba ini dijurikan oleh Samsul Hadi, Ibu Hj Punti Fatimatuzzahro Al-Hafidz, dan Siti Farida. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta Hari Santri 2019

Kamis, 04 Januari 2018

Bagaimana Seorang Menteri Diperkenalkan dan Memperkenalkan NU?

Banyak cara orang mengenal atau diperkenalkan kepada NU. Menteri Tenaga Kerja H Hanif Dhakiri mengenal NU secara langsung dari rumah, sejak ia lahir. Di rumahnya, di Salatiga, Jawa Tengah, terdapat logo dan foto tokoh-tokoh NU.

Pengalaman tersebut, ia tuturkan secara selintas kepada Abdullah Alawi dari Hari Santri 2019 selepas menjadi narasumber pada diskusi NU di “Tengah Gelombang Populisme” yang digelar Lakpesdam PBNU di Cianjur, (27/1). Berikut petikannya:

Bagaimana Seorang Menteri Diperkenalkan dan Memperkenalkan NU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Seorang Menteri Diperkenalkan dan Memperkenalkan NU? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Seorang Menteri Diperkenalkan dan Memperkenalkan NU?

Apa pendapat Anda tentang peran NU yang kini telah berusia 91 tahun?

.

Hari Santri 2019

Di usia yang ke-91 tahun ini, NU harus tetap menjadi suluh bagi bangsa ini secara keseluruhan. Saya merasa NU sudah berada dalam track (jalan) yang benar. Bahkan dalam situasi sekarang ini. NU sudah berada pada track yang benar! NU harus tetap menjadi kelompok yang menggelorakan Islam rahmatan lil alamin yang moderat, toleran, bisa merangkul semua anak bangsa menjadi bagian yang bisa berkontribusi kepada Indonesia secara keseluruhan,” pungkasnya.



Bagaimana Anda mengingat masa kecil terkait dengan N dan U?

Hari Santri 2019

Sejak kecil kan di rumah saya? ada logo NU, dalam figura selalu ada, dalam kalendar selalu ada. Kemudian gambar-gambar tokoh NU, seperti Hadrotussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Sansoeri, dan lain-lain.

Bagaimana dengan orang tua Anda memperkenalkan NU? ?

. Orang tua menceritakan langsung soal pengalaman orang tua dulu, kakek-kakek saya dulu misalnya. Mereka mengenalkan pertama secara simbol. Ada di rumah. Komplit. Yang kedua, orang tua banyak bercerita? mengenai soal NU. Terus kemudian mereka mengajak saya ke kegiatan-kegiatan ke-NU-an.

Ada pesan orang tua untuk Anda bahwa suatu saat harus aktif di NU?

. Ya pastilah, pasti! Intinya harus mengabdi kepada NU-lah. Jadi, terjemahan orang kampung kayak abah dan ibu saya itu, mengabdi kepada bangsa dan kepada negara itu, ya mengabdi kepada NU karena di daerah basisnya di situ.

Sebagai orang tua, bagaimana Anda memperkenalkan NU kepada anak-anak?

. Saya melakukan hal yang sama dengan orang tua saya.

Bagaimana reaksi anak-anak?

. Kalau masih anak kecil kan lebih banyak bertanya apa kan? Lalu kita jelaskan. Jadi, apa yang dilakukan orang tua kepada saya, saya lakukan kepada anak saya. Satu, simbol. Kalau Anda ke rumah saya, ada logo NU, foto-foto tokoh NU, Mbah Hasyim, Gus Dur, Mbah Wahab, Mbah Bisri, ada semua di rumah saya. Kemudian buku-buku, karena saya suka buku, di rumah saya, hampir semua bacaan tentang NU semua ada. Saya kan punya banyak koleksi buku. Saya selalu ada perpustakaan, di rumah dinas, ada perpustakaan. Di rumah saya sendiri, ada perpustakaan. Di rumah orang tua saya di Salatiga, isinya banyak tentang NU, tokoh NU, dan ajaran NU, dan segala macam.

Saran untuk orang tua untuk memperkenalkan NU kepada anak-anaknya?

. Dari pengalaman pribadi, baik saya diasuh oleh orang tua, maupun saya mengasuh anak saya saat ini, menurut saya, itu tadi, di rumah anak harus diperkenalkan dengan simbol-simbol NU, dengan tokoh-tokoh NU, dengan pikiran-pikiran NU, lalu diajak terlibat di dalam kegiatan-kegiatan NU. Maka, salah satu yang suka adalah membawa anak ke kegiatan NU. Dia melihat orang dan dia akan bertanya. Jika saya mengajarkan tentang nasionalisme saya ajak nonton bola. Bukan bolanya yang penting, tapi teriakan penonton “Indonesia”, “Indonesia”itu sesuatu yang akan mudah diingat bagi anak.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Sholawat, Budaya, Warta Hari Santri 2019

Sabtu, 30 Desember 2017

PMII Aceh Jadi Wadah Menempa Diri

Banda Aceh, Hari Santri 2019. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Provinsi Aceh diharapkan menjadi wadah untuk menempa diri. Di sini mahasiswa melatih nalar berfikir dan menjadi penyampai aspirasi masyarakat.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Aceh Teuku Musliadi Buceh, di sela kegiatan Mapaba (Masa penerimaan anggota baru) untuk regional I, Sabtu (16/3), di Aula Kopri Aceh, jalan Daod Beureueh Banda Aceh.

PMII Aceh Jadi Wadah Menempa Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Aceh Jadi Wadah Menempa Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Aceh Jadi Wadah Menempa Diri

Menurut Buceh, organisasi kepemudaan di Aceh masih lemah dalam hal pengkaderan. Karena itu PKC PMII berinisiatif untuk melakukan pengkaderan di seluruh wilayah provinsi Aceh.

Hari Santri 2019

“Antara mahasiswa yang berorganisasi dengan yang tidak berorganisasi harus beda, harus aktif di ruang kuliah dan dapat menyampaikan aspirasi masyarakat,” katanya.

Hari Santri 2019

“Hal itu akan terjadi jika mahasiswa yang aktif diorganisasi serius menggalakkan diskusi mingguan atau bulanan yang membahas persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat dan sekeliling kita,” ujar Alumni IAIN Ar-Raniry. 

Menurutnya, kegiatan Mapaba regional I ini merupakan perdana dilakukan di Aceh.  PKC PMII Aceh berinisiatif melaksanakan Mapaba yang dibagi 4 regional, regional I wilayah Sabang, Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie dan Pidie Jaya, yang dipusatkan di Banda Aceh.

“Tahap selanjutnya akan dilaksanakan Mapaba regional II dengan wilayah barat selatan, regional III wilayah tengah dan regionakl IV akan dilaksanakan di wilayah timur,” ujar Buceh

Ketua Pelaksana Mapaba Regoinal Juara A. Beguh menyebutkan, acara dilaksanakan selama dua hari sampai malam, jumlah pendaftar mencapai seratusan orang, namun yang lulus seleksi 38 peserta dan yang sah menjadi kader PMII Aceh hanya 20 orang.

Setiap peserta harus mengikuti berbagai proses yang telah ditetapkan oleh panitia dan sesuai dengan kontrak belajar peserta sendiri.

“Selama Mapaba berlangsung, peserta dibekali dengan beberapa teori baik menyangkut internal PMII, manajemen organisasi serta teori-teori lainnya, pada intinya peserta juga dilatih aktif di dalam forum,” ujarnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Nazarullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, Habib Hari Santri 2019

Jumat, 29 Desember 2017

Tokoh Muslim Eropa Berbagi Pengalaman di Indonesia

Jakarta, Hari Santri 2019
Tokoh Muslim Eropa, Prof Tariq Ramadan, yang dikenal sebagai pelopor integrasi Islam dengan masyarakat Eropa Barat, mulai Rabu (16/7) akan berkunjung ke Jakarta, guna berbagi pengalaman dengan umat Islam setempat. 

Siaran pers Kedubes Swiss di Jakarta, Rabu, menyebutkan, penulis buku "Teologi Dialog Islam-Barat: Pengalaman Seorang Muslim Eropa" itu dijadwalkan akan berbicara dalam diskusi terbatas di Kampus Universitas Paramadina (18/7), serta memberikan kuliah umum di Gedung Kompas-Gramedia Yogyakarta (21/7) dan di Perpustakaan Nasional di Jakarta (23/7).

Kehadiran Tariq Aziz di Indonesia itu merupakan kerjasama Kedubes Swiss di Jakarta, Penerbit Mizan, Penerbit Teraju, Al-Huda, Program Studi Agama dan Lintas Budaya UGM, Universitas Paramadina, serta Jaringan Islam Liberal.

Tariq Ramadan yang berdomisili di Swiss tersebut saat ini tercatat sebagai pengajar filsafat dan kajian Islam di Universitas Geneva dan Fribourg, Swiss. Ia adalah cucu pendiri organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir, Hassan Al-Banna.

Ikhawanul Muslimin yang didirikan pada 1928 itu tercatat dalam sejarah sebagai sebuah gerakan kebangkitan Islam yang menyebar dari Mesir ke seluruh dunia Islam. Organisasi ini mengecam keras dekadensi moral di Barat dan menganjurkan pengikutnya untuk kembali pada nilai-nilai Islam.

Keterkaitannya dengan tokoh Islam "garis keras" itu tidak membuat Tariq Ramadan menjadi seorang fundamentalis. Ia bahkan memelopori gagasan memadukan hal-hal yang tidak bertentangan dengan agama ke dalam identitas sebagai warga Eropa.

Menurut Tariq Ramadan, tantangan yang dihadapi muslim Eropa yang kini berjumlah sekitar 15 juta jiwa itu adalah memisahkan prinsip-prinsip Islam dari budaya tanah kelahirannya, dan membumikan nilai-nilai budaya itu ke dalam realitas budaya Eropa.

Berkat kegigihannya itulah, kini Islam berangsur-angsur menjadi bagian integral kehidupan beragama di Eropa.(ant/mkf)


 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta Hari Santri 2019

Tokoh Muslim Eropa Berbagi Pengalaman di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tokoh Muslim Eropa Berbagi Pengalaman di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tokoh Muslim Eropa Berbagi Pengalaman di Indonesia

Selasa, 19 Desember 2017

PBNU Kunjungi Pesantren Salaf di Maroko

Tanger, Hari Santri 2019. Di antara Rangkaian kegiatan kunjungan delegasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) adalah kunjungan ke pesantren salaf di Maroko, tepatnya di Pesantren Talimul Atiq Imam Nafie, kota Tanger.

Rombongan yang terdiri dari Katib Syuriyah KH Musthofa Aqiel Siradj, Ketua LBM KH Zulfa Mustofa, wakil LBM KH Mahfudz Asirun selaku dan Dr H Nasrullah Jasam beserta Pensosbud KBRI Rabat Suparman Hasibuan tiba di Tanger, Senin (25/3) dan disambut langsung oleh Direktur Imam Nafie, Syeikh Dr Mohamed Saidi dengan senang hati.

PBNU Kunjungi Pesantren Salaf di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kunjungi Pesantren Salaf di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kunjungi Pesantren Salaf di Maroko

Kedatangan mereka bertujuan untuk menindaklanjuti pengiriman beasiswa yang telah terbina beberapa tahun lalu agar terus berlanjut. Selanjutnya, mereka juga mendatangi Majlis Ilmi untuk menawarkan kerjasama tukar fatwa.

Hari Santri 2019

Pada kesempatan itu juga, mereka menyempatkan untuk bertatap muka bersama para mahasiswa delegasi PBNU 2010 yang tengah belajar di pesantren Talimul Atiq Imam Nafie di kota Tanger.

"Kami merasa bangga dengan keberadaan kalian di sini, sebagaimana yang disampaikan oleh direktur Imam Nafie kalian telah mampu bersaing dengan para pelajar lainnya,” ujar Katib Syuriyah KH Musthofa Aqiel Siradj.

Hari Santri 2019

"Hal inilah yang membuat kami semakin yakin dan optimis bahwa kerjasama ini akan kembali terjalin dengan baik," imbuh Nasrullah Jasam.

Pertemuan ini, juga di hadiri oleh segenap jajaran Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko guna membahas program besar PCINU Maroko ke depan yang tentunya membutuhkan perhatian dan bantuan dari PBNU demi suksesnya program yang telah direncanakan.

Sebelum acara ditutup, ketua tanfidziyah PCINU Maroko, Muannif Ridwan meminta kepada Katib Syuriyah KH Musthofa Aqiel Siradj dan Ketua LBM PBNU KH Zulfa Mustofa untuk meresmikan website baru PCINU Maroko yang didampingi oleh Koordinator Lajnah Talif wa Nasyr PCINU Maroko, Kusnadi El-Ghezwa. Selanjutnya acara ditutup dengan doa oleh KH Mahfudz Asirun selaku wakil LBM PBNU dan dilanjutkan dengan berziarah ke makam Ibnu Batutah, sang penjelajah dunia.

Kunjungan yang sama juga telah dilakukan pada hari sebelumnya, tepatnya di makam Syeikh Ahmad at-Tijani pendiri Thariqat Tijaniyah yang berada di kota Fes dan lima tempat lainnya dengan didampingi oleh Dubes RI Untuk Kerajaan Maroko H. Tosari Widjaja beserta sekprinya, Mr. Nasser, kepala kerjasama luar negeri direktorat urusan islam kementrian wakaf Maroko dan syeikh Abdel Majed El Mardhi, imam masjid Al-Qarawiyin serta mme. Aicha dari kantor wilayah Fes Kementrian wakaf Maroko.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Kusnadi El-Ghezwa? (Koordinator Lajnah Talif wa Nasyr PCINU Maroko)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, Nusantara Hari Santri 2019

Rabu, 13 Desember 2017

Kelengkapan Pengurus Lembaga di PBNU Rampung Sebelum Pengukuhan

Jakarta, Hari Santri 2019. Pengurus inti harian Syuriyah dan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah menyeleksi nama-nama yang masuk untuk menjadi pengurus lembaga-lembaga di lingkungan PBNU. Mereka hingga kini masih menampung masukan terkait orang-orang yang akan menjadi pengurus sejumlah lembaga di PBNU.

Susunan pengurus lembaga-lembaga di PBNU ditentukan oleh Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Wakil Rais Aam KH Miftahul Akhyar, Katib Aam KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Effendi Yusuf, dan Sekretaris Jenderal PBNU H Helmi Faishal Zaini.

Kelengkapan Pengurus Lembaga di PBNU Rampung Sebelum Pengukuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kelengkapan Pengurus Lembaga di PBNU Rampung Sebelum Pengukuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kelengkapan Pengurus Lembaga di PBNU Rampung Sebelum Pengukuhan

“Silakan pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU untuk memberikan masukan soal nama pengurus lembaga. Nanti enam orang ini yang akan memutuskan,” kata Kiai Ma’ruf Amin saat rapat perdana pengurus baru harian PBNU di Jakarta, Jumat (28/8) sore.

Hari Santri 2019

Enam orang ini menargetkan terbentuknya susunan pengurus lembaga-lembaga di NU sebelum pengukuhan pengurus lengkap PBNU di masjid Istiqlal pada 5 September mendatang.

Hari Santri 2019

“Sebelum pengukuhan di Istiqlal, kelengkapan susunan pengurus lembaga-lembaga ini insya Allah sudah rampung,” kata Kiai Ma’ruf.

Mereka berharap orang-orang yang dipilih sebagai pengurus lembaga dapat menjadi kepanjangan tangan kerja PBNU sesuai dengan bidang lembaga masing-masing.

“Sekarang tidak ada lagi istilah ‘lajnah’. Semua namanya ‘lembaga’,” Kang Said. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, Kiai, Bahtsul Masail Hari Santri 2019

Senin, 11 Desember 2017

Menag Harapkan KPK Jamin Kebebasan Beribadah di Rutan

Jakarta, Hari Santri 2019. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dapat menjamin kebebasan para tahanan KPK untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya. Jika ada keluhan terkait itu, Menag berharap KPK bisa segera mengatasinya.

"Terkait dengan adanya berita bahwa Pak SDA (Suryadharma Ali) dan beberapa tahanan lainnya di Rutan KPK Pomdam Jaya Guntur mengeluh karena dibatasi bershalat di dalam masjid di sana, saya amat prihatin. Saya berharap KPK segera mengatasi keluhan tersebut," kata Menag di Jakarta, Sabtu (20/6)

Menag Harapkan KPK Jamin Kebebasan Beribadah di Rutan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Harapkan KPK Jamin Kebebasan Beribadah di Rutan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Harapkan KPK Jamin Kebebasan Beribadah di Rutan

Menurut Menag, semestinya setiap tahanan tetap terjamin kebebasannya dalam menjalankan ibadah sesuai agamanya. Menunaikan shalat lima waktu bagi muslim adalah kewajiban. Bila para tahanan diizinkan melaksanakan Shalat Dzuhur, Asyar dan Maghrib, semestinya demikian pula dengan Shalat Isya dan Subuh. "Apalagi kini bulan Ramadan, bulan istimewa bagi umat Islam meningkatkan ibadahnya untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya," tegasnya.

Hari Santri 2019

Sebelumnya diinformasikan bahwa ada keluhan atas sikap penjaga Rutan KPK Pomdam Jaya Guntur yang membatasi tahanan dalam menjalankan ibadahnya.? Akan hal ini, mantan Menteri Agama SDA membuat surat pengaduan "penistaan agama" ke Pimpinan DPR.

Surat tersebut ditandatangani 10 tahanan KPK yang beragama Islam. Selain SDA, ikut tandatangan juga Didik Purnomo, Heru Sulaksono, Moh. Tafsir Nurchamid, Romi Herton, Rizal Abdullah, Waryono Karyo, Adriansyah, Abdul Rouf, dan M Bihar Sakti Wibowo.

Hari Santri 2019

Selain itu, lima tahanan lainnya yang non muslim juga ikut menandatangani, yaitu: Raja Bonaran Situmeang, A. Bambang Djatmiko, Jannes Jhon Karababa, Willy Sebastian Liem, dan Sherman Rana Krishna.

"Siapapun, bahkan seorang tersangka yang notabene belum tentu salah di muka hukum juga punya hak untuk beribadah sesuai yang dilindungi UUD 1945. Sesuatu yang ironis, menghalangi orang beribadah ini terjadi di sebuah lembaga terhormat dalam penegakan hukum, yakni KPK," tulis SDA dalam suratnya, Jumat (19/06).

Mengenai hal ini, Menag menyatakan amat prihatin dan berharap KPK bisa segera mengatasi keluhan tersebut. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Anti Hoax, Warta, Nahdlatul Hari Santri 2019

Sabtu, 09 Desember 2017

Rekrut Anggota, GP Ansor Subah Adakan Diklatsar ke-6

Jakarta, Hari Santri 2019. Sedikitnya 150 orang mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (Diklatsar) ke-6 Kebanseran. Pelatihan yang diadakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Subah, Batang, Jawa Tengah menjadi sarana perekrutan anggota baru satuan Barisan  Ansor Serbaguna (Banser).

Diklatsar dilangsungkan di kompleks balai desa Karangtengah kecamatan Subah kabupaten Batang, Sabtu-Ahad (25-26/1) seperti kabar rilis PC GP Ansor Batang.

Rekrut Anggota, GP Ansor Subah Adakan Diklatsar ke-6 (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekrut Anggota, GP Ansor Subah Adakan Diklatsar ke-6 (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekrut Anggota, GP Ansor Subah Adakan Diklatsar ke-6

Dalam Diklatsar, anggota Banser diberikan sejumlah perbekalan seperti materi aswaja, ke-NUan, ke-Ansoran, keorganisasian, kekebalan tubuh, tata cara berbaris, pengaturan lalu lintas, dan penanggulangan bencana.

Hari Santri 2019

Namun secara khusus, peserta pelatihan Diklatsar diharapkan memahami asas hidup berbangsa dan bernegara, intisari ajaran Islam rahmatan lil ‘alamiin,  misi dan kode etik ke-Banseran. Mereka juga dibekali wawasan dan keterampilan organisasi di samping pengetahuan dan keterampilan bela negara.

Ketua PC GP Ansor Batang Umar Abdul Jabar mengatakan, perekrutan anggota baru Banser di sejumlah kecamatan akan terus berjalan sampai Maret mendatang.

Hari Santri 2019

“Ke depan kita akan gelar Diklatsar secara rutin di kecamatan Banyuputih, Gringsing, Reban, Tulis, dan Warungasem,” imbuh Umar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta Hari Santri 2019

Sabtu, 02 Desember 2017

PBNU Dukung Hukuman Mati bagi Bandar Narkoba

Jakarta, Hari Santri 2019. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memandang mafsadat gerakan para bandar narkoba mengingat posisi mereka sebagai sumber bencana. Dalam nota kesepahaman dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) di Jakarta, Jumat (15/1), PBNU menyatakan bahwa para bandar narkoba harus mendapatkan sanksi terberat, hukuman mati.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menjelaskan, semua pihak terutama dalam hal ini BNN secara bersama-bersama menghadapi bahaya narkoba yang akan menghancurkan dan menghabisi generasi yang akan datang.

PBNU Dukung Hukuman Mati bagi Bandar Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Dukung Hukuman Mati bagi Bandar Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Dukung Hukuman Mati bagi Bandar Narkoba

“Jelas, Al-Qur’an telah dengan tegas menjelaskan bahwa orang-orang yang merusak kehidupan tatanan di muka bumi harus dibunuh, disalib, dipotong dua tangan, dipotong dua kakinya atau dibuang ke laut,” tegas Kang Said.

Ia melanjutkan bahwa hukuman mati layak untuk orang-orang yang memang berbisnis narkoba untuk mengeruk keuntungan materi yang besar dengan mengorbankan nasib bangsa.

Hari Santri 2019

Semua harus tegas menindak terutama pihak yang berwajib, ujar pengasuh pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini.

Kalau hanya pengguna narkoba, negara harus memaafkannya. Mereka adalah korban yang harus diselamatkan untuk direhabilitasi dan dipulihkan, tandas Kang Said. (Afifah Marwa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, Khutbah Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock