Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Halaqoh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2018

Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri

Kudus, Hari Santri 2019. Para tokoh dari berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Kudus, mendukung penguatan Kabupaten Kudus sebagai Kota Santri. Dukungan itu mengemuka dalam diskusi publik yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kudus bekerja sama dengan STAIN Kudus dan PC. Fatayat NU Kudus.

Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri

Diskusi itu dihadiri antara lain KH Hamdani (Ketua Majelis Ulama Indonesia/ MUI Kudus), H Abdul Hadi (Ketua PCNU Kudus), HA. Hilal Majdi (Ketua PD Muhammadiyah), Akhwan Sukandar (DPRD Jateng), Sri Hartini (DPRD Jateng), Ilwani (DPRD Kudus), Ulwan Hakim (DPRD Kudus), Umar Ali (pengusaha), dan Saekan Muchit (STAIN Kudus).

Penanggung jawab kegiatan, H Kisbiyanto, Kudus merupakan kabupaten dengan beragam julukan yang melekat. Mulai dari sebutan Kota Wali karena keberadaan dua makam anggota Walisongo, yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria, hingga Kota Jenang.

Kudus itu unik. Satu kabupaten yang menyandang banyak julukan. Selain dikenal sebagai Kota Wali dan Kota Jenang, juga dikenal dengan Kota Santri, Kudus Kretek, Kota Dagang, dan lainnya, katanya.

Hari Santri 2019

Akan tetapi dalam pertemuan dengan tokoh lintas sektoral itu, lebih menekankan Kudus sebagai Kota Santri. Menurut Kisbiyanto, Santri merujuk pada religiusitas dan berbasis pada nilai-nilai keagamaan.

Religiusitas dan nilai-nilai keagamaan ini, termasuk ciri menonjol hingga Kabupaten Kudus menyandang predikat Kota Santri. Kudus jadi jujugan para generasi muda untuk memperdalam agama, dengan banyaknya pesantren yang berdiri. Sehingga predikat Kudus Kota Santri menjadi penguat atas berbagai predikat lain yang melekat, paparnya. (Red: Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Makam, Budaya, Halaqoh Hari Santri 2019

Selasa, 13 Maret 2018

Badan Wakaf Indonesia Luncurkan Gerakan Berwakaf untuk Kesejahteraan Kemartabatan

Jakarta, Hari Santri 2019. Ketua Badan Pelaksana BWI Mohammad Nuh meluncurkan Gerakan Nasional Berwakaf untuk Kesejahteraan dan Kemartabatan, Kamis (25/1) di Gedung Bank Indonesia, Jakarta.

Melalui gerakan ini, Nuh ingin semua pihak menyadari empat peran wakaf.

Badan Wakaf Indonesia Luncurkan Gerakan Berwakaf untuk Kesejahteraan Kemartabatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Badan Wakaf Indonesia Luncurkan Gerakan Berwakaf untuk Kesejahteraan Kemartabatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Badan Wakaf Indonesia Luncurkan Gerakan Berwakaf untuk Kesejahteraan Kemartabatan

Pertama, wakaf adalah aktivitas transenden. Artinya wakaf berdimensi ibadah sehingga setiap aktivitas yang terkait dengan wakaf harus diniatkan dengan lurus dan benar.

Kedua, wakaf untuk kesejahteraan. Artinya, wakaf strategis diharapkan bisa dikelola secara produktif untuk menghasilkan keuntungan optimal yang hasilnya disalurkan untuk program-program kesejahteraan masyarakat.

Hari Santri 2019

Ketiga, wakaf untuk mengembangkan dakwah. Wakaf yang produktif diharapkan bisa membuat gerak dakwah kebaikan menjadi lebih semarak dan lebih baik.

Keempat, wakaf menjaga harkat dan martabat. Dengan wakaf yang dikelola produktif dan menghasilkan keuntungan optimal, ia ingin wakaf membuat umat menjadi mandiri dan menjadi pihak tangan di atas.

Implementasi awal dari gerakan ini adalah penandatanganan nota kesepahaman BWI dan UNDP Indonesia mengenai Wakaf untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs). (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Amalan, Halaqoh, Anti Hoax Hari Santri 2019

Rabu, 21 Februari 2018

Petasan dan Baca Shalawat di Malam Ganjil Bulan Ramadhan

Jombang, Hari Santri 2019

Alhamdulillah, di kampungku setiap malam likuran, yakni tanggal ganjil di 10 hari terakhir bulan puasa Ramadhan selalu ada kegiatan membaca shalawat bersama. Kegiatan rutin ni dilakukan bergiliran antarmushala dan masjid. Budaya ini sepengetahuanku sudah berjalan puluhan tahun.

Petasan dan Baca Shalawat di Malam Ganjil Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Petasan dan Baca Shalawat di Malam Ganjil Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Petasan dan Baca Shalawat di Malam Ganjil Bulan Ramadhan

Kebetulan di kampungku ada sebanyak 9 mushala dan satu masjid. Dulu waktu aku masih kecil, awalnya ada 4 mushala dan satu masjid. Hampir seluruh anak anak remaja, dewasa dan juga orang dewasa ikut kegiatan pembacaan shalaawat di malam ganjil. Mulai malam 21, malam 23, malam 25, malam 27 dan puncaknya malam 29 di Masjid Al Hasan Balongombo Tembelang.

Karena perkembangan, kini mushala bertambah hingga 9 bangunan. Meski bertambah kegiatan baca shalawat tetap berjalan. Di akhir pembacaan shalawat, ambengan makan nasi tumpeng yang dibuat oleh warga jamaah sekitar mushala selalu menyertai kegaiatan.

Hari Santri 2019

Dan tidak ketinggalan petasan juga selalu mewarnai saat pembacaan shalawat pada tahab srakal, ketika jamaah membaca shalawat dengan berdiri. "Mahalul Qiyam. Bunyi petasan bersahutan. Setiap rombongan remaja dari mushala-mushala selalu bersaing membawa petasan untuk ditampilkan. Hal itu berjalan sebelum ada larangan dari pihak berwajib.

Petasan asli produk Jombang sudah menjadi tradisi mewarnai bulan puasa, biasa dibunyikan saat berbuka, atau saat waktu sahur. Dan paling sering dan paling banyak dibunyikan saat malam ganjil pas menggelar shalawatan. Serta usai menggelar shalat Id yang digelar di masjid setempat.

Hari Santri 2019

Mereka membuat sendiri petasan tersebut. Bahkan tidak jarang remaja mushala yang ditempati membuat petasan dengan jumlah hingga ratusan. Puas, bangga jika melihat halaman mushala dan masjid penuh dengan percihan kertas.

Dengan pembacaan shawat, dan tradisi membunyikan petasan suasana bulan puasa dan hari Idul Fitri semakin terlihat. Dan masayrakat yang kebetulan pulang kampung bisa menikmati dan bernostalgia masa kecil saat di kampung halaman. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian Islam, Halaqoh Hari Santri 2019

Rabu, 14 Februari 2018

Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII

(Surat Terbuka untuk Ketua Umum PB PMII 2005-2008)

Oleh: Kholilul Rohman Ahmad*


Muktamar ke-2 Partai Kebangkitan Bangsa di Semarang bulan lalu menjadi salah satu ruang strategis untuk mengkaji dinamika kontemporer gerakan mahasiswa di bawah payung Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dalam even nasional itu terjadi interaksi warga PMII antar generasi. Dunia mahasiswa yang penuh dengan idealisme ternyata tidak kemudian menanggalkan minat dalam hiruk pikuk politik praktis. Hal ini mungkin lantaran beberapa alumni PMII yang sudah menjadi politisi di Senayan sebagai wakil rakyat dari berbagai partai politik ikut nimbrung dalam pesona nostalgis itu. Tak pelak, di tengah perhelatan itu PMII memanfaatkan menggelar acara temu warga dan alumni.

Tak ayal dalam forum informal itu muncul pertanyaan tentang siapa yang dinilai kuat menjadi ketua Umum Pengurus Besar PMII menggantikan sahabat A Malik Haramain yang akan habis jabatan. “Siapa yang kira-kira kuat menggantikan Malik,” tanya salah seorang warga PMII. Tiba-tiba warga lain spontan nyelethuk: “Tergantung siapa nanti yang jadi ketua PKB.” Entah jawaban spontan itu guyonan  atau serius. Penulis husnudzon saja dengan jawaban itu dan menilainya sebagai guyonan  tanpa tendensi apa-apa. Namun penulis menangkap di balik jawaban itu tersimpan kenyataan politik bahwa di tubuh PMII telah ada yang beberapa warganya yang terkontaminasi “virus” politik praktis. Atau jawaban itu dapat ditangkap sebagai penanda bahwa realitas politik praktis telah merambah di dunia pergerakan mahasiswa.

Celethukan itu dapat diartikan dengan dua analisa. Pertama, memang sebagai guyonan. Dalam arti hal itu tidak perlu dianggap serius, terlebih ia muncul di tengah gelak tawa dan ketimpangan nasib beberapa alumni yang berhasil menjadi politisi dan tidak. Kedua, bisa jadi suara itu memang representrasi atas kenyataan yang tengah terjadi di tubuh PMII(?). Jika yang pertama menjadi kenyataan, tentu tak jadi soal. Namun jika yang kedua yang tengah menjangkiti PMII, harus dimaknai sebagai refleksi bahwa selama ini gerakan intelektualitas PMII sedang mengalami krisis.

Oleh sebab itu, jika dalam pasca kongres ke-XV ini tidak ada upaya merevitalisasi PMII kepada khittah-nya sebagai organ pergerakan mahasiswa bersama rakyat, tidak ada upaya serius mengembalikan ruh PMII sebagai pendamping rakyat, maka tamatlah riwayat PMII sebagai gerbong gerakan mahasiswa yang gagasannya selama ini dinilai senantiasa konsisten di jalur politik non partisan alias selalu berpihak kepada nasib rakyat.

Harus diakui dewasa ini, setidaknya sejak reformasi bergulir tahun 1998, kiprah PMII sebagai organ mahasiswa sejati banyak dipertanyakan, baik oleh sesama aktivis mahasiswa maupun di kalangan internal PMII sendiri. Pasalnya kecenderungan yang cukup mewabah bahwa, misalnya, seorang kader untuk bisa menjadi “orang” harus mempunyai patron yang kuat di atasnya, baik politisi senior maupun pengusaha. Seolah untuk sukses meniti karir pasca mahasiswa harus melewati jalur politik patronase seperti jaman Orde Baru. Padahal sesungguhnya dunia mahasiswa harus meninggalkan sistem patronase seperti itu karena yang lebih kuat untuk dijadikan patron adalah rakyat.

Namun kenyataan ini tak bisa disalahkan pada salah satu pihak. Sebab kenyataan politik yang menggairahkan bagi siapapun untuk cepat meniti karir juga menjangkiti organisasi mahasiswa pada umumnya. Meskipun demikian bukan berarti di dunia pergerakan mahasiswa semuanya berperilaku seperti itu.

Yogyakarta sebagai sentral pergerakan PMII sepuluh tahun silam, dalam lima tahun belakangan telah kehilangan ruhnya. Kader-kader yang sering mewarnai media massa dengan artikel-artikel kritisnya, misalnya, telah banyak mengalami kemunduran dari segi kuantitas dan kualitas. Bahkan kota-kota lain lebih sibuk bagaimana warga PMII menjadi patron alumni atau “orang kuat lain” yang sedang menjadi pejabat eksekutif maupun legislatif. Padahal menjadi kewajiban bagi PMII untuk tetap konsisten memposisikan dirinya sebagai insan kreatif di tengDari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Halaqoh, Kajian Hari Santri 2019

Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII

Minggu, 11 Februari 2018

MWCNU Mojogedang Ikuti Karnaval Seni Budaya

Karanganyar,Hari Santri 2019. Para pengurus MWC NU serta banom-banom NU se-kecamatan Mojogedang mengikuti karnaval seni budaya yang digelar pemerintah daerah setempat. Acara tersebut dimulai dengan berjalan kaki dari lapangan Bendo dan berakhir di lapangan Mojogedang, Selasa (19/8).

MWCNU Mojogedang Ikuti Karnaval Seni Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Mojogedang Ikuti Karnaval Seni Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Mojogedang Ikuti Karnaval Seni Budaya

“Sebelumnya telah dilaksanakan koordinasi dengan Ketua Ranting NU dan banom NU yang ada di kecamatan Mojogedang guna mempersiapkan keikutsertaan NU dalam karnaval budaya ini dan inilah pertama kalinya NU terlibat dalam kegiatan tersebut,” ungkap Ahmad salah satu pengurus Ranting NU kepada Hari Santri 2019, Rabu (20/8).

Jadi selain pengurus MWC, pengurus Ranting NU masing-masing diminta untuk mengirimkan sepuluh orang untuk mengikuti kegiatan tersebut. Sementara dari Muslimat dan Fatayat sudah dikoordinasi langsung oleh ibu Umi Kultsum selaku ketua PAC Muslimat.

Hari Santri 2019

“Meskipun dalam kegiatan antara banyak Fatayat yang bergabung ke Muslimat, namun dalam karnaval kali ini dipisahkan agar ada keterwakilan antara keduanya”, ungkap Musyarofah salah satu kader Fatayat yang memilih merapa ke Muslimat.

Hari Santri 2019

Sedangkan Danang selaku Ketua GP Ansor Mojogedang memilih untuk menampilkan group shalawat yang dipimpinnya. “Mungkin masyarakat sudah sangat kental dengan beberapa pertunjukkan seni seperti kroncongan, klenengan, dan campursari, namun sedikit diantaranya yang mengenal rebana. Oleh sebab itu ini merupakan kesempatan emas bagi kami untuk memperkenalkan shalawat kepada masyarakat,” ungkapnya.

Sementara tujuan keikutsertaan NU dalam karnaval budaya kali ini adalah sebagai salah satu wujud ikut melestarikan seni nusantara yang ada di kecamatan Mojogedang, mendorong kreativitas insan seni, serta sebagai wadah silaturahmi antar warga, sehingga NU semakin dikenal luas oleh masyarakat setempat. (Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Halaqoh, Berita Hari Santri 2019

Jumat, 02 Februari 2018

Lakmud Pelajar Garut Ciptakan Generasi Cerdas

Garut, Hari Santri 2019. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kabupaten (PC IPNU IPPNU) Garut kembali gelar Latihan Kader Muda (Lakmud).

Lakmud Pelajar Garut Ciptakan Generasi Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakmud Pelajar Garut Ciptakan Generasi Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakmud Pelajar Garut Ciptakan Generasi Cerdas

Pelaksanaan Lakmud yang kali ini merupakan angkatan ketiga berlangsung di Kecamatan Cibiuk dengan perolehan peserta yang teregistrasi sebanyak 38 IPNU dan 32 IPPNU. Lakmud ini bertemakan Transformasi Anggota Menuju Kader yang Militan dan Profesional. 

Ketua Pelaksana, Ahmad Zakaria menyampaikan laporan persiapan yang dilakukan menghadapi tantangan tidak mudah.

"Tapi alhamdulillah bisa terlaksanakan tepatnya selama 3 hari. Panitia tidak kenal lelah. Kami rela korbankan tenaga, pikiran, waktu, dan materi untuk menyukseskan acara ini," tutur Ahmad Zakaria dalam pembukaan Lakmud di kantor MWCNU Cibiuk (24/11).

Hari Santri 2019

Turut hadir pula Ketua PW IPNU Jawa Barat, Ziyad Ahmad.

"Garut ini sudah masuk di grade A. Pimpinan Cabang yang sudah sangat baik dalam berorganisasi dan sangat serius dalam pengkaderannya. Garut luar biasa sampai bisa terlaksana Lakmud yang ketiga. Apresiasi besar buat PC IPNU Garut," ungkap Ziyad Ahmad. 

Hari Santri 2019

Latihan Kader Muda kali ini diikuti oleh banyak peserta dari setiap zona baik Utara maupun Selatan, diantaranya PAC Malangbong, Selaawi, Limbangan, Cibiuk, Banyuresmi, Karangpawitan, Sukaresmi, Cisurupan, Singajaya, Pendeuy, dan Bungbulang, bahkan ada yang berasal dari Kabupaten Bandung Barat.

Peserta dari berbagai daerah tersebut merupakan wujud semangat mereka dalam ber-IPNU dan ber-IPPNU.

"Perlu diketahui bahwa NU tetap mengedepankan kesederhanaan, maka ini sudah cukup maksimal, cukup aja sudah segini apalagi sangat," kata Ketua PCNU Garut KH. Aceng Wahid.

Ia berpesan IPNU IPPNU haruslah menjadi generasi NU yang cerdas, berwawasan, dan beradab. 

Lakmud juga diharapkan menjadi mesin penggerak kader-kader muda yang militan dan profesional.

"Tujuan Lakmud ini yang pertama untuk menerapkan teori yang telah dibekali yakni pengejawantahannya dalam kehidupan sehari-hari sesuai ajaran aswaja dan NU baik dalam amaliyah, fikr, ghirah, dan harakah-nya. Kedua sebagai wujud generasi agar berkompeten dalam masuk ke jenjang kepengurusan yang lebih atasnya," ujar Ketua IPNU Garut Ridwan Pamungkas. (Salim/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Habib, Halaqoh, Ahlussunnah Hari Santri 2019

Minggu, 14 Januari 2018

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat

Salah satu hal yang luar biasa dari sosok kiai adalah kearifannya dalam berdakwah. Sebagaimana yang dicontohkan oleh KHR. Asad Syamsul Arifin pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah Situbondo, Jawa Timur saat menyuruh para preman di daerah Bondowoso untuk ikut shalat Jumat.

Cerita yang disampaikan oleh salah seorang santrinya, H Ikrom Hasan kepada penulis ini bermula dari kehebatan ilmu kanuragan Kiai Asad. Tak hanya ilmu agama yang dikuasai oleh kiai yang baru saja ditetapkan sebagai pahlawan Nasional itu, tapi juga ilmu bela diri dan sejenisnya.

Berkat reputasinya dalam dunia persilatan tersebut, banyak preman, jawara, bromocorah wa alaa alihi wa ashabih yang segan kepada Kiai Asad. Jadi, tidak heran jika apa yang diucapkan oleh Kiai Asad menjadi semacam perintah yang wajib untuk dipatuhi. Bagi mereka, mematuhi perintah Kiai Asad adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat

Meski demikian, Kiai Asad tidak serta merta memaksa mereka untuk melakukan shalat, misalnya. Pemaksaan dalam hal beragama, bagi Kiai Asad, bukanlah cara yang tepat untuk diterapkan dalam berdakwah. Apalagi bagi kalangan yang awam dari ilmu agama.

Kiai Asad punya cara tersendiri untuk mendakwahi mereka. Dalam suatu kesempatan, Kiai Asad mengumpulkan para preman tersebut. Di pertemuan itu, Kiai Asad minta tolong kepada kepala preman itu untuk menjagakan sandal para jamaah shalat Jumat yang kerap hilang.

Hari Santri 2019

"Sandal jamaah di maajid ini sering hilang kalau sholat Jumat, saya bisa minta tolong untuk menjagakannya agar tidak hilang?" pinta Kiai Asad.

Seketika dedengkot para preman itu, menyanggupinya. "Gampang itu, Kiai. Paling yang mencuri ya anak buah saya. Biar saya yang akan menjaga," tanggapnya dengan bangga.

Hari Santri 2019

Pertemuan pun diakhiri dengan kesepakatan sebagaimana di atas. Kiai Asad berpamitan seraya mengucapkan terima kasih kepada para preman tersebut.

Hari Jumat pun tiba. Si dedengkot preman itu tampak berjaga di dekat masjid. Berkat pengawasannya tersebut, tak ada sepasang sandal pun yang hilang. Begitupun jumat berikutnya.

Hingga pada Jumat keempat, si dedengkot preman yang menjaga sandal itu merasa ada yang aneh. Sebagai sosok yang disegani dan ditakuti banyak orang, ia merasa tidak kelasnya untuk melakukan tugas tersebut.?

"Masak sih saya menjaga sandal tukang becak, penjual kacang dan orang-orang remeh itu," gugatnya. "Seharusnya saya juga sholat dan sandal saya yang dijaga," imbuhnya.

Persoalan itu, lantas ia adukan ke Kiai Asad. Dengan tenang Kiai Asad balik bertanya. "Kalau sampean ikut sholat, lantas siapa yang menjaga sandalnya?"

"Tenang, Kiai," jawab si dedengkot preman. "Saya punya banyak anak buah. Biar mereka yang menjaga, saya yang sholat," tegasnya.

Kiai Asad pun menyetujuinya sembari mengucap syukur dalam hati atas hidayah yang tak langsung diberikan kepada si preman tersebut.

Proses itu pun berlanjut ke preman lainnya. Saat disuruh menjaga sandal, ia pun merasa aneh. "Masak, preman suruh menjagakan sandal preman," gugatnya balik. Akhirnya, mereka satu per satu pun ikut sholat Jumat.

Demikianlah cara Kiai Asad mendakwahkan ajaran-ajaran Islam. Penuh kearifan, tanpa ada pemaksaan yang terkadang berujung pada pemberontakan.

Namun, lanjut H Ikrom, selama proses dakwah tersebut, Kiai Asad tak pernah berhenti bertaqarub kepada Allah. Ia bermunajat meminta kepada Sang Kholik untuk memberikan hidayah kepada para preman tersebut. Berkat kekuatan doa Kiai Asad itulah, para preman mendapatkan hidayah.?

(Barrur Rohim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh, Halaqoh Hari Santri 2019

Kamis, 11 Januari 2018

Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Wakaf untuk Umat

Tangerang, Hari Santri 2019. Bermula dari sembilan santri, sekarang sudah mencapai 400 santri. Umur dua belas tahun memang masih terhitung muda tapi bukan perjalanan yang sebentar.?

“Penambahan sarana dan prasarana serta perbaikan kualitas perlu ditingkatkan. Dalam terjun ke masyarakat santri harus bisa berkomunikasi, bisa menempatkan posisi selain bisa mengaji,” pesan Ketua Yayasan Jabal Nur H Badrul Munir saat memberikan sambutan acara Harlah ke-12 Pondok Pesantren Modern Terpadu Jabal Nur yang berlokasi di Jalan Kampung Gunung Cipondoh Tangerang, Ahad (12/3).

Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Wakaf untuk Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Wakaf untuk Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Wakaf untuk Umat

Munir melanjutkan, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Sebelum merdeka para tokoh dan kiai yang berjuang dalam kemerdekaan banyak dari kalangan santri. Maka, orang tua jangan ragu untuk memasukkan putra-putrinya ke pesantren.

Itu diperkuat dengan data santri yang terdaftar dalam PD Pontren Kantor Kemenag Kota Tangerang sekitar 7000 santri dengan 118 pesantren. Jadi, tambahnya, sekarang pesantren itu bukan lembaga pendidikan tertinggal lagi. Pesantren sekarang sudah bisa sejajar bahkan melebihi pendidikan umum.?

Hari Santri 2019

Pengasuh Pondok Pesantren Jabal Nur KH A. Saeful Millah menceritakan awal mula lahirnya inisiatif mendirikan pesantren. Menurutnya, Pesantren Jabal Nur dicetuskan di Mekkah pada tahun 2006.?

“Saya namakan Jabal Nur karena menjadi tonggak sejarah turunnya wahyu. Alhamdulillah, sekarang santrinya berasal dari berbagai daerah. Ada dari Teluk Naga, Medan, Jambi, Palembang, dan sekitar Jabodetabek,” papar Kiai Millah yang pernah menjabat sebagai Ketua PCNU Kota Tangerang.?

Kiai Millah sangat mengapresiasi peran para alumni. “Pesantren bisa besar karena kiprah alumni. Saya doakan agar semua menjadi kader NU yang berprestasi,” harapnya sambil menangis haru.?

Di akhir sambutannya Kiai Millah berikrar mewakafkan pesantren yang dirintisnya itu agar dikelolah oleh umat. Ada tujuh nadzir yang diamanatkan untuk mengelola pesantren tersebut.

“Saya mengikrarkan 2100 meter. Saya wakafkan pesantren kepada umat. Sekalipun saya tetap berjuang meningkatkan pesantren ini hingga akhir hayat,” pesan Kiai yang memasuki usia 70 tahun.?

Hari Santri 2019

Turut hadir dalam acara itu Ketua PCNU Kota Tangerang KH Bunyamin, Ketua MUI Tangerang KH Edi Djunaedi, Camat Cipondoh H Kiki Wijaya, Koramil 01 dan ? Polsek Cipondoh serta dihadiri ribuan masyarakat Tangerang. (Suhendra/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ubudiyah, Halaqoh, News Hari Santri 2019

Selasa, 26 Desember 2017

Trenggalek Tuan Rumah LSN Jatim 1, Bupati Dukung Penuh Sepakbola Santri

Trenggalek, Hari Santri 2019. Liga Santri Nusantara 2017 region Jawa Timur 1 segera digulirkan. Kick off akan dilaksanakan pada bulan September. Bupati Trenggalek, Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mendukung penuh dan mengapresiasi kompetisi sepakbola paling bergengsi antar pesantren yang digelar di daerah yang ia pimpin itu.

Trenggalek Tuan Rumah LSN Jatim 1, Bupati Dukung Penuh Sepakbola Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Trenggalek Tuan Rumah LSN Jatim 1, Bupati Dukung Penuh Sepakbola Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Trenggalek Tuan Rumah LSN Jatim 1, Bupati Dukung Penuh Sepakbola Santri

"Pemerintah kabupaten Trenggalek sangat berterima kasih kepada panitia regional sekaligus panitia pusat yang telah memberikan kepercayaan kepada kabupaten Trenggalek sebagai tuan rumah LSN Region Jatim 1 ini. Tentunya saya beserta seluruh jajaran akan berupaya sekuat tenaga untuk mensukseskan acara ini," ungkap Bupati saat bertemu panitia Liga Santri Nusantara (LSN) Jawa Timur 1 yang ? diwakili oleh Koordinator Region Habib Mustofa dan panitia pelaksana Gus Anam didampingi ketua PCNU Trenggalek KH Fathullah, Jumat sore (7/7).

Bupati berharap melalui LSN ini animo masyarakat di daerah Mataraman terhadap olahraga sepakbola makin besar lagi. Karena menurutnya, olahraga sepakbola adalah olahraga yang sangat merakyat. "Khususnya animo para santri juga terbangun kuat sehingga mampu memunculkan bibit-bibit unggul pemain sepakbola dari kalangan santri," ucap suami artis Arumi Bachsin itu.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati, panitia LSN dan PCNU Trenggalek berdiskusi terkait perencanaan kegiatan. Pertemuan itu dilakukan sebagai awal menyamakan persepsi antara Panitia Pelaksana LSN dengan Pemerintah Kabupaten Trenggalek. Pemkab Trenggalek sendiri siap mensukseskan pelaksanaan LSN 2017 region Jatim 1 yang akan diikuti 32 peserta itu.?

Hari Santri 2019

Ketua PCNU Trenggalek KH Fathullah menuturkan bahwa dalam satu atau dua hari ini akan segera dibentuk panitia lokal yang akan bersinergi dengan pemerintah kabupaten Trenggalek serta PSSI guna membahas teknis serta persiapan LSN. "Dan tentu saja NU beserta seluruh banom-banom yang ada juga akan dilibatkan untuk mengawal dan mensukseskan LSN," kata Gus Loh, sapaan akrabnya.

"Hari ini kita masih membahas acara secara global. Dan tak lupa saya ucapkan terimakasih banyak kepada pemerintah kabupaten Trenggalek khususnya kepada Bapak Bupati dan Wabub yang telah bersedia mensukseskan acara LSN region Jatim 1 ini," ucap Koordinator Region Habib Mustofa.

Seperti diketahui, Kabupaten Trenggalek Jawa Timur ditunjuk sebagai tuan rumah gelaran Liga Santri Nusantara (LSN) Region Jawa Timur 1, yang meliputi karesidenan Kediri dan Madiun. Keputusan ini dihasilkan dalam bimbingan teknis (bimtek) kesiapan penyelenggaraan LSN yang diadakan oleh oleh Kemenpora bersama Pimpinan Pusat Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU) pada tanggal, 14-16 Juni 2017 lalu di Jakarta. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Kajian Sunnah, Halaqoh Hari Santri 2019

Rabu, 20 Desember 2017

LPTNU Gagas Gerakan Santri Kuliah di Peringatan Hari Santri

Jakarta, Hari Santri 2019. Menyambut Hari Santri Nasional yang di peringati 22 Oktober, Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) menggagas sekaligus meluncurkan Gerakan Santri Kuliah. Kegiatan ini diselenggarakan di halaman Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jakarta, Jumat (21/10).

LPTNU Gagas Gerakan Santri Kuliah di Peringatan Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
LPTNU Gagas Gerakan Santri Kuliah di Peringatan Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

LPTNU Gagas Gerakan Santri Kuliah di Peringatan Hari Santri

Sekretaris Pimpinan Pusat LPTNU Lukmanul Khakim mengatakan, Hari Santri Nasional merupakan peringatan hari dimana santri sangat berperan dalam memperjuangkan, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan.

“Sejarah mencatat bahwa kontribusi santri dalam rangka memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan begitu besar, sehingga saat ini tugas santri yang paling penting dari pada itu adalah mengisi kemerdekaan,” ujar Lukmanul Hakim dalam keterangan tertulisnya kepada Hari Santri 2019, Jumat (20/10).

Pria yang akrab disapa Lukman ini menilai, di dalam mengisi kemerdekaan saat ini ternyata masih banyak santri di Indonesia yang belum bisa melanjutkan kuliah, dan itu jumlahnya cukup besar.

Hari Santri 2019

“Realitas saat ini menyebutkan masih banyak santri yang selesai sekolah belum mampu melanjutkan kuliah. Dari angka partisipasi kasar dari total jumlah yang lulus sekolah menengah atas hanya 30 persen yang melanjutkan kuliah. Itu artinya 70 persen tidak melanjutkan kuliah,” ungkap Lukman

Dengan di luncurkannya Gerakan Santai Kuliah, Lukman berharap nantinya tidak ada lagi santri yang berhenti melanjutkan kuliah karena faktor biaya. “Maka dari itu LPTNU tidak mau berdiam diri. dengan meluncurkan Gerakan Santri Kuliah diharapkan tidak boleh ada lagi santri yang tidak melanjutkan kuliah karena tidak punya biaya,” jelasnya.

Hari Santri 2019

Lukman menambahkan, kedepannya LPTNU akan memberikan 1000 beasiswa bagi santri yang mempunyai latar belakang ekonomi kurang mampu agar terus bisa menimba ilmu.

“Tahun 2017 LPTNU punya komitmen akan memberikan 1000 beasiswa bagi anak-anak NU yang belum bisa melanjutkan kuliah karena faktor ekonomi. Maka silahkan laporkan ke kami kalo ada anak NU yang belum bisa kuliah,” terangnya.

Oleh sebab itu, imbuhnya, santri akan mampu berkompetisi dalam menghadapi era dimana daya saing dan kualitas diri menjadi harga mati.

“Saat ini NU sudah punya beberapa kampus UNU yang siap untuk dijadikan pusat pengembangan keilmuan. Di era MEA saat ini merupakan era kompetisi. Maka, kompetisi harus disadari tidak lagi terjadi di internal, namun lebih pada kompetisi eksternal. Sehingga hadirnya UNU bisa melahirkan anak-anak NU yang punya kualitas diri dan berdaya saing,” tuturnya.

Acara peluncuran Gerakan Santai Kuliah ini ditandai dengan pelepasan balon oleh Lukmanul Khakim didampingi oleh Mastuki HS (Bendahara Umum LPTNU), Agus Jui Purmawan (Wakil Sekretaris LPTNU), dan Ahmad Nurul Huda (Dosen UNU Indonesia). Dalam kesempatan ini, juga diadakan bedah buku Kebangkitan Santri Cendekia karya Mastuki HS. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Hikmah, Halaqoh, Makam Hari Santri 2019

Minggu, 17 Desember 2017

Sebagai Alumni, Wabup Pinrang Hadiri Ramah-Tamah UIM

Makassar, Hari Santri 2019. Wakil Bupati Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan Ir H Darwis Bastama menghadiri ramah-tamah calon wisudawan dan wisudawati tahun 2014 Universitas Islam Makassar (UIM) di Gedung Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan, Makassar, pada Selasa (21/10).

Sebagai Alumni, Wabup Pinrang Hadiri Ramah-Tamah UIM (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebagai Alumni, Wabup Pinrang Hadiri Ramah-Tamah UIM (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebagai Alumni, Wabup Pinrang Hadiri Ramah-Tamah UIM

Pada kesempatan tersebut, Darwis yang merupakan lulusan salah satu kampus milik NU Sulawesi Selatan tersebut, bercerita pengalamannya. Ia memulai dengan syukur sebagai alumni 22 tahun yang lalu, karena diundang dan diberikan kesempatan berbicara.

Setelah menyelesaikan studi di STIP Al Gazali, katanya, ia langsung aktif dalam dunia politik. Selama 4 periode ia dipercaya menjadi anggota DPRD Kabupaten Pinrang dan sempat mengetuainya.

Hari Santri 2019

Menurut dia, STIP Al Gazali, telah membantu dalam pemikirannya, terutama dalam dunia pertanian. “Kebetulan dalam 4 periode di DPRD, saya masuk dalam komisi yang membidangi pertanian,” ungkapnya pada pertemuan bertema "Tingkatkan Daya Saing Menyongsong Kompetisi Global dan AFTA 2015".

Ia juga menyampaikan, masyarakat Pinrang sekarang mempercayainya mejnjadi wakil bupati. Ini tentunya berkah doa para gurutta (sebutan tokoh agama di Sulawesi Selatan) serta alumni UIM.

Hari Santri 2019

Saat ini berkat dukungan dan persetujuan para ulama, sambung dia, di Pemkab Kabupaten? Pirang mengeluarkan kebijakan Zakat Hasil Pertanian.

Ketua IKA UIM, Dr Darmawan mengatakan, UIM sudah melalui proses panjang. Kampus tersebut sebelumnya bernama bernama Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Al Gazali dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al Gazali. Lalu pada tahun 2000 keduanya dilebur jadi satu? dengan nama Universitas Islam Makassar.

Ia menyebut, saat ini alumni UIM berjumlah 5.582 orang. Mereka sudah berkiprah di tengah masyarakat. “Dan besok, Alhamdulillah 710 orang akan resmi bergabung sebagai alumni UIM,” ungkapnya bersyukur.

Sementara Rektor UIM, pada sambutan yang diwakili PR III Dr H Abd Rahim Mas P Sanjata, bersyukur atas eksistensi IKA UIM.

Ia juga bertekad akan mengawal visi misi UIM, khususnya dalam dunia akademik, yang? diwarnai dengan nilai-nilai religius Islam Ahlusunnah Wal Jamaah.

Hadir pada kesempatan itu, Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Al Gazali Prof Dr Abd Rahman Idrus, H Abdurrahman, Pembantu Rektor I Musdalifah Mahmud, Pembantu Rektor II Saripuddun Muddin, Pembantu Rektor III Abd Rahim Mas P Sanjata, Pembantur Rektor IV Nur Taufiq Sanusi, Direktur Pascasarjana Nurul Fuadi, para dekan dan para wisudawan dan wisudawati. (Andi M Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Halaqoh, Berita, Ubudiyah Hari Santri 2019

Jumat, 15 Desember 2017

Konsep Ahwa Menurut Anak Muda NU

Sleman, Hari Santri 2019

Sekumpulan anak muda NU yang difasilitasi Jamaah Nahdliyin Yogyakarta (JNY) menggelar Musyawaroh Kubro 2015 di Masjid Pathok Negara, Dusun Mlangi, Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman, Jum’at-Sabtu (22-23/5).

Mereka sepakat mendesak Muktamar ke-33 NU menerapkan konsep Ahlul Halli wal Aqdi dalam pemilihan pemimpin baru di Nahdlatul Ulama. Lalu, bagaimana konsep Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) menurut anak muda NU?

Menurut forum Musyawaroh Kubro itu, struktur Kepemimpinan NU saat ini terdiri dari Mustasyar, Syuriyah dan Tanfidziyah. Mustasyar adalah badan penasihat yang dipilih oleh Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah bersama tim formatur.

Konsep Ahwa Menurut Anak Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Konsep Ahwa Menurut Anak Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Konsep Ahwa Menurut Anak Muda NU

Syuriyah sebagai pemimpin tertinggi dipilih langsung oleh muktamirin atau peserta konferensi. Ketua tanfidziyah selaku pelaksana NU, juga dipilih langsung dengan persetujuan Rais Syuriyah terpilih.

Dalam praktiknya, Mustasyar yang berisi para ulama mumpuni, bertindak sebagai penasihat yang diperankan sebagai simbol semata. Mereka menyebut “seperti menempatkan ulama sepuh di parkiran”.

Mustasyar tidak memiliki fungsi sebagai mahkamah di internal jam’iyyah, karena fungsinya hanya penasihat. Nasihatnya bisa dipakai bisa tidak. Sementara organisasi NU berkembang sedemikian rupa di tengah situasi sosial dan politik, memerlukan kontrol dan dorongan dari para ulama. Namun ini tidak diperankan dan tidak terakomodasi dalam badan Mustasyar.

Hari Santri 2019

Adapun Rais Aam Syuriyah yang merupakan pemimpin tertinggi dengan legitimasi kuat hasil muktamar, juga tidak penah menjalankan fungsi mahkamah ketika ada pelanggaran khittah nahdliyah yang dilakukan oleh pengurus NU. Yang ada hanya teguran atau nasihat saja yang tidak membawa efek jera.

Akibat tidak pernah mendapat sanksi, kesalahan itu terus terulang, dan terulang. Hal ini tentu tidak boleh dibiarkan.

“Atas identifikasi masalah inilah diperlukan Ahlul Halli wal Aqdi,” tutur Muhammad Ali Usman, sekrataris tim perumus dokumen Musyawaroh Kubro.

Hari Santri 2019

Dia paparkan, Ahwa yang diharapkan dibentuk di Muktamar ke-33 NU Tahun 2015 nanti, berfungsi sebagai mahkamah organisasi, sekaligus menjadi ahul ihtiyar untuk memilih pengurus harian. Yaitu ketua dan wakil ketua tanfidziyah, katib syuriyah, dan pengurus harian lainnya. Pengurus harian yang telah dipilih tersebut, menyusun kepengurusan lengkap, termasuk di lembaga dan lajnah.

Siapa yang memilih anggota Ahwa?

Yaitu peserta muktamar (muktamirin) yang memilih dari usulan pengurus cabang NU. Ahwa ini pula yang bermusyawarah untuk memilih Rais Am. Dan bersama Rais Am terpilih, Ahwa menyodorkan calon Ketua Umum PBNU untuk dipilih langsung oleh muktamirin.

“Ada dua alternatif bentuk Ahwa,” lanjut Usman.

Alternatif pertama, jelasnya, Ahwa adalah wadah berkumpul orang-orang terpilih yang keanggotaanya bersifat tetap di struktur NU. Sebagai badan informal namun dilegalkan dalam AD/ART NU. Boleh juga sebagai lembaga ad hoc untuk keperluan muktamar.

Kedua, Ahwa adalah lembaga syuriyah yang diberi kewenangan tambahan sebagai mahkamah organisasi. Juga memiliki hak veto untuk membatalkan struktur pengurus NU maupun badan otonom NU yang tidak sesuai dengan khittah NU.

Hak veto meliputi hak membatalkan program kerja lembaga, lajnah maupun banom yang tidak sejalan dengan khittah NU. Dalam penjatuhan sanksi tersebut harus melalui musyawarah Ahwa dan memberi kesempatan kepada pihak yang diduga melanggar untuk memberi klarifikasi dalam suatu sidang mahkamah.

Jadi nantinya diharapkan tidak lagi ada cerita banom NU menjalankan “proyek” dari lembaga donor luar negeri yang programnya tidak sesuai syariat Islam atau melanggar khittah nahdliyah.

Berapa orang yang duduk di lembaga Ahwa?

Diusulkan 9 atau 21 orang, terdiri para ulama punya kehormatan (karomah) tinggi dengan legitimasi moral yang sangat kuat. Atau dalam bahasa sederhana adalah ulama kredibel.

“Nah, syarat untuk diusulkan dan dipilih menjadi anggota Ahwa ada lima,” tulisnya.

Lebih lanjut dia jelaskan, lima syarat tersebut adalah 1). pengikut ahlussunnah wal jamaah, 2). Tidak pernah melanggar khittah NU, 3). Zuhud, 4). Alimun bi ulumid-dunya wal akhiroh, 5). Tidak pernah terlibat dalam kejahatan perdata atau pidana. (Ichwan/Mahbib)

 

Foto: Gambar wajah Rais Akbar Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asyari dan enam ulama kharismatik lain yang pernah menjadi pemimpin tertinggi NU sebagai rais aam.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Anti Hoax, Halaqoh Hari Santri 2019

Islam Nusantara Telah Sesuai dengan Wali Songo

Rembang, Hari Santri 2019. Rois Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Awani Syaroni menyatakan, perkembangan Islam di Indonesia berbeda dengan di Arab Saudi. "Kalau dulu perjuangan Nabi Muhammad SAW sampai mengalami peperangan, dilempari batu, bahkan dilempari kotoran oleh orang kafir, tapi di Indonesia tidak ada kiai atau ustadz yang diperlakukan seperti itu," terangnya saat ditemui Hari Santri 2019 di kediamannya, Desa Lodan Kecamatan Sarang, Rembang, Ahad (6/3/).

Kiai Awani menjelaskan, cara dakwah harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat, sebab masing-masing daerah memerlukan cara yang berbeda. Ia mencontohkan, orang Jawa itu lunak, mereka akan mengikuti apa yang dilaksanakan oleh nenek moyang mereka sehingga diperlukan pendekatan yang baik.

Islam Nusantara Telah Sesuai dengan Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Nusantara Telah Sesuai dengan Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Nusantara Telah Sesuai dengan Wali Songo

"Orang Jawa dahulu memuja pohon-pohon besar yang ada di sekitar lingkungan mereka. Mereka menganggap bahwa pohon tersebut dapat mengabulkan permohonan mereka," ujarnya.?

Terkait persamaan gagasan Islam Nusantara dengan metode dakwah yang dikembangkan Wali Songo, pengasuh Pesantren Al-Musthofa ini mengatakan, Islam Nusantara adalah Islam yang tidak memusuhi atau memberangus budaya yang ada. Justru budaya setempat diakomodir dan dilestarikan selama tidak bertentangan dengan aturan atau syariat Islam.

Wali Songo, lanjut Kiai Awani, memiliki beberapa metode dakwah. Sebut saja Sunan Kalijaga yang menggunakan pendekatan kesenian wayang dalam berdakwah. "Karena itulah masyarakat Demak dan sekitarnya tertarik terhadap dakwah yang dilakukan beliau," tutupnya. (Aan Ainun Najib/Zunus)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Halaqoh Hari Santri 2019

Kamis, 14 Desember 2017

Sarjana Pesantren Sosok Andalan Masa Mendatang

Kediri, Hari Santri 2019 - Kelebihan mereka yang kuliah di kampus pesantren adalah mampu memadukan antara budaya akademik yang kritis dan kesederhanaan dan hal yang sudah melekat di dunia pondok. Kalau hal ini terus pertahankan, maka bukan sesuatu yang mustahil bila para alumninya kelak akan menjadi aset berharga bagi perjalanan bangsa.

"Para sarjana dari kampus pesantren akan memiliki kelebihan dari mereka yang tidak pernah berhubungan dengan budaya pondok," kata Ahmad Subakir, Senin (4/9).

Sarjana Pesantren Sosok Andalan Masa Mendatang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarjana Pesantren Sosok Andalan Masa Mendatang (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarjana Pesantren Sosok Andalan Masa Mendatang

Hal tersebut disampaikannya? saat menjadi narasumber pada kuliah umum yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Agama Islam Badrus Sholeh atau STAI-BA Purwoasri, Kediri.

Hari Santri 2019

Menurut mantan Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam atau STAIN Kediri ini, mau berkiprah seperti apapun, sarjana dari kampus pesantren memiliki keunggulan. "Baik nantinya mereka akan menjadi ulama, umara atau pejabat negara, aghniya atau orang kaya hingga fuqara sekalipun, tentu akan terlihat perbedaannya," terang Ahmad Subakir.

Pada kegiatan yang mengambil tema pengembangan sumber daya manusia kampus berbasis etika pesantren dan budaya akademis tersebut, terdapat perbedaan yang cukup jelas. "Yang menonjol adalah para mahasiswa di pesantren mampu memadukan antara budaya akademik yang kritis dengan pesantren," jelasnya.

Kemampuan dalam mensinergikan dua hal inilah yang akan menjadikan alumnus kampus pesantren memiliki nilai lebih. "Kalau antara budaya kampus dan pesantren bisa dipadukan, akan lahir sosok yang dapat diandalkan di masa mendatang," katanya di hadapan peserta Orientasi Pengenalan Campus atau Opec STAI-BA tersebut.

Hari Santri 2019

Di penghujung penjelasannya, Ahmad Subakir mengemukakan bahwa kondisi negeri ini sudah sedemikian parah. Bukan lantaran kekurangan ilmuan dan orang pintar, melainkan yang tidak dimiliki adalah sarjana yang memiliki karakter layaknya santri. "Kalau sarjana pesantren dapat memadukan budaya akademik secara baik, maka akan menjadi obat dalam menjawab tantangan di masa mendatang," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Halaqoh, Berita, Ubudiyah Hari Santri 2019

Selasa, 05 Desember 2017

"NU untuk Datang dan Pergi"

Jakarta, Hari Santri 2019

Organisasi sosial keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) sering hanya dimanfaatkan oleh kalangan tertentu pada waktu-waktu tertentu saja. NU hanya jadi pilihan pada saat menguntungkan.



NU untuk Datang dan Pergi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU untuk Datang dan Pergi (Sumber Gambar : Nu Online)

"NU untuk Datang dan Pergi"

"Pada saat pemilu orang berbondong ke NU. Saat sudah terpilih NU dilupakan. Dan pada saat sudah tidak kepakai kembali ke NU lagi. Inilah NU, untuk datang dan pergi," kata DR Ayu Sutarto dalam acara "Dialog Antar Generasi" dalam rangka Harlah Ke-82 NU di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (1/2).

Ayu Sutarto adalah penulis buku "Menjadi NU Menjadi Indonesia" yang dibedah dalam acara dialog tersebut. Hadir sejumlah kader NU lintas generasi antara lain Mustasyar PBNU KH Muchit Muzadi, sastrawan dari Pondok Pesantren Cipasung Acep Zam Zam Nur, Politisi PPP Endin AJ Sofihara, dan Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansyah.

Hari Santri 2019

Dikatakan Ayu, NU sering diperlakukan secara tidak fair dalam pentas politik di Indonesia terutama pada momen-momen pemilihan kepala daerah (pilkada). NU hanya diperlukan untuk pengumpulan massa.

"Pada saat pencalonan orang ke partai politik karena partai yang punya kewenangan, namun untuk pengumpulan massa NU yang dipakai," katanya.

Hari Santri 2019

Kiai Muchit Muzadi membenarkan, bahkan bukan dari kalangan luar saja yang memanfaatkan NU untuk kepentingan pilkada, bahkan banyak diantaranya adalah para anggota NU sendiri.

"Banyak malah yang pengen menjadi tim sukses calon dari pada menjadi calonnya. Kalau menjadi calon belum tentu jadi, tapi kalau tim sukses meskipun yang dicalonkan tidak jadi sudah sukses duluan," kata kakak kandung KH Hasyim Muzadi itu bergurau.

Khofifah Indarparawansyah menambahkan, banyaknya aktifis NU yang terjun ke dunia politik atau menjadi semacam tim sukses itu karena tidak ada pekerjaan lain selain itu.

"Mas Saiful (Saifullah Yusuf, Ketua Umum GP ANSOR: red) sering bilang kepada saya banyak para aktifis NU yang pengangguran. Maka persoalannya adalah bagaimana menyelesaikan masalah itu," katanya.

Sastarwan Acep Zamzam Nur ,e,beruncing pembiacaraan. Katanya, kecenderungan politik NU itu tidak hanya berurusan dengan pilkada.

"Bahkan koferensi NU disemua tingkatan sekarang mirip dengan pilkada. Ada tim suksesnya juga," kata putra almarhum KH Ilyas Ruhiyat itu.

Beberapa ketua PBNU hadir dalam dialog antar generasi itu, antara lain KH Said Aqil Siradj, H Abdul Aziz Ahmad dan Fajrul Falakh. Ketua PP Lajnah Talief wan Nasyr Abdul Munim DZ dan Ketua PP Lesbumi Sastro el-Ngatawi juga menghadiri dialog itu.

Dialog antar generasi dalam rangka Harlah Ke-82 NU itu dipandu oleh Umum PP Lakpesdam NU Nasihin Hasan, dan dihadiri hampir semua perwakilan pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom di lingkungan NU. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kiai, Halaqoh, Doa Hari Santri 2019

Sabtu, 02 Desember 2017

“Pesantren Dadakan” NU Online Diserbu “Santri”

Banyak cara untuk mengisi bulan Ramadan. Dari mulai buka puasa bersama, bagi-bagi sembako (sembilan bahan pokok) kepada fakir miskin, kunjungan ke panti asuhan, mengumpulkan anak jalanan hingga pesantren kilat pun digelar untuk menghormati bulan suci tersebut. Termasuk di antaranya dengan menggelar pengajian kitab kuning.

Tapi, sebentar! Hal yang disebutkan terakhir sepertinya tidak terlalu lazim, meski bulan Ramadan. Di kota metropolis seperti Jakarta, Anda akan susah menemukan acara tersebut kalau tidak datang ke pondok pesantren. Pengajian kitab kuning, memang metode pembelajaran khas pesantren. Di kalangan nahdliyyin (sebutan untuk warga Nahdlatul Ulama/NU) pun, mungkin hanya ada di forum-forum bahsul masa’il (pembahasan masalah) saja.

Mengadakan kegiatan pengajian kitab kuning untuk kalangan umum jangan berharap akan diikuti oleh banyak orang. Karena hampir bisa dipastikan tak akan ada peminatnya. Kalaupun ada, forumnya pasti tak akan seseru seminar, lokakarya, simposium dan sejenisnya. Bagi seorang yang pernah menjadi santri pun, kitab kuning, karya ulama klasik itu bukan barang yang menarik lagi untuk dipelajari.

Tapi tidak demikian kenyataannya. Asumsi tersebut akan mudah sekali dipatahkan ketika melihat acara pengajian kitab kuning berjudul Manahijul Imdad, karya ulama besar Indonesia, Syekh Ihsan Dahlan (alm), Jampes, Kediri, Jawa Timur yang digelar Hari Santri 2019—situs resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)—bekerja sama dengan Lajnah Ta’lief wan Nasyr (LTN-NU) di Gedung PBNU Lt.5, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (28/9) lalu.

“Pesantren Dadakan” NU Online Diserbu “Santri” (Sumber Gambar : Nu Online)
“Pesantren Dadakan” NU Online Diserbu “Santri” (Sumber Gambar : Nu Online)

“Pesantren Dadakan” NU Online Diserbu “Santri”

Pihak panitia tak membuat publikasi besar-besaran. Cukup dengan memberitakannya di Hari Santri 2019 serta membuat pamflet seadanya yang ditempel di sejumlah ruangan di Gedung PBNU, acara pun siap digelar. Hal itu dilakukan karena panitia merasa kegiatan tersebut tak akan banyak peminatnya.

Belum populernya kitab setebal 1088 itu di kalangan pesantren juga menjadi alasan berikutnya. Karena meski telah ditulis pada tahun 1940, kitab syarah (komentar) atas kitab Irsyadul Ibad (petunjuk bagi para hamba) karya Syekh Zainuddin Malibari itu memang baru diterbitkan tahun 2005 lalu.

Hari Santri 2019

Tak seperti diperkirakan sebelumnya yang kemungkinan hanya akan diikuti paling banyak 15 orang. Tapi, sore menjelang waktu berbuka puasa itu benar-benar berbeda ceritanya. Ruang rapat redaksi Hari Santri 2019berukuran 5 x 6 meter yang didaulat menjadi “pesantren dadakan” itu seakan tak mampu menampung 60-an “santri” (baca: peserta) yang ingin mengikuti pengajian yang diasuh Prof Dr KH Said Aqil Siradj.

Bertumpuknya peserta, baik laki-laki dan perempuan di dalam ruangan tersebut pun tak bisa dihindari. Pemandangan seperti ini tak akan ditemui di pesantren manapun, kecuali di “pesantren dadakan” Hari Santri 2019ini. Maklum, sekali lagi, karena tak pernah terpikir akan dihadiri sedemikian banyak orang, panitia pun tak sempat membuat pemisah antara “santri” laki-laki dan santri perempuan, sebagaimana layaknya pengajian di pesantren.

Pemandangan menarik lainnya yang tak akan ditemui di pesantren manapun kecuali dalam pengajian di “pesantren dadakan” ini, para santri bisa berinteraksi langsung dengan sang kiai.

“Kalau bismilahirrohmanirrohim dianggap tidak termasuk dalam Surat Al-Fatihah, bagaimana dengan dalil tentang tujuh ayat dibaca berulang-ulang? Berarti surat Al-Fatihah hanya enam ayat?” tanya Dr Bina Suhendra menyela uraian Kang Said yang saat itu sedang menerangkan apakah ayat basmalah termasuk dalam Surat Al-Fatihah atau tidak?

Hari Santri 2019

Bagi yang berpendapat bahwa bismilahirrohmanirrohim tidak termasuk dalam surat Al-Fatihah, ayat terakhir dalam surat tersebut dianggap dua ayat. “Jadi, jumlahnya tetap tujuh ayat,” jawab Kang Said.

Kejadian tersebut tentu tak direncanakan sebelumnya. Bahkan terbersit di pikiran pun tidak sama sekali. Karena, Pak Bina—begitu panggilan akrab Bina Suhendra—tidak pernah mondok dan baru sekali itu mengikuti pengajian kitab kuning. Ia juga seorang muallaf. Pengajian tersebut, merupakan pengalaman pertama dalam hidupnya.

“Terus terang, baru sekali ini saya mengikuti pengajian kitab kuning. Ini acara bagus. Karena juga pengalaman pertama buat saya,” tutur Pak Bina usai acara.

Pihak panitia dari awal berencana akan mengkaji kitab yang membahas tentang fikih, tauhid, keilmuan, akhlak dan tasawuf itu secara berkelanjutan selama bulan Ramadan kali ini. Namun, mengingat begitu banyaknya permintaan dari peserta agar terus mengkaji kitab tersebut hingga jilid kedua, panitia pun tampak berubah pikiran. (Moh. Arief HidaDari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, Budaya, Halaqoh Hari Santri 2019

Kamis, 23 November 2017

Museum Kebangkitan Nasional Kaji Pemikiran Kebangsan KH. Hasyim Asy’ari

Jakarta, Hari Santri 2019 - Ketokohan dan pemikiran KH. Hasyim Asy’ari diakui sangat penting untuk memupuk semangat kabangkitan nasional Indonesia saat ini. Pemikiran Rais Akbar NU tersebut, terutama yang menyangkut dengan pemikiran kebangsaan harus menjadi referensi utama dalam bingkai menggali semangat kebangkitan nasional.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini saat menjadi keynote speaker di seminar tokoh “KH. Hasyim Asy’ari” yang dihelat di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta, Selasa (24/5).

Dalam pidatonya, Sekjen menyampaikan bahwa? KH. Hasyim Asy’ari adalah ulama yang memiliki visi nasionalisme yang tidak diragukan lagi. Pemikiran kebangsaan KH. Hasyim Asy’ari misalnya termanifestasikan dalam diktum terkenalnya “hubbul wathan minal iman” dan juga fatwa resolusi jihad yang menjadi bahan bakar utama penyemangat perlawanan terhadap penjajah.

Museum Kebangkitan Nasional Kaji Pemikiran Kebangsan KH. Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)
Museum Kebangkitan Nasional Kaji Pemikiran Kebangsan KH. Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)

Museum Kebangkitan Nasional Kaji Pemikiran Kebangsan KH. Hasyim Asy’ari

Lebih jauh, sebagai seorang kiai, sosok pendiri NU tersebut bukan saja berhasil menjadi sosok yang berjuang mencerdaskan umat, namun lebih dari itu Kiai Hasyim juga merupakan sosok yang mumpuni dalam mengayomi rakyat. “Mbah Hasyim itu soko guru yang benar-benar bisa mengimplementasikan apa yang disebut sebagai usaha pencerdasan terhadap umat dalam hal beragama, dan lebih dari itu juga menjadi juru bimbing bagi masyarakat. Jadi peran ulama untuk yatafaqqahu fiddin (mencerdaskan umat) dan sekaligus yunzira qaumahum (membimbing umat) berimbang dan berjalan seiringan," jelas Helmy.

Hari Santri 2019

Sementara itu KH. Salahudin Wahid yang hadir sebagai pembicara mewakili pihak keluarga menyampaikan bahwa KH. Hasyim Asy’ari adalah teladan yang sangat relevan untuk kita anut, utamanya dalam konteks saat ini. Keteladanan yang patut ditiru itu bukan saja mengenai gagasan-gagasan besarnya, namun juga keseharian hidupnya.

Hari Santri 2019

“Beliau (KH. Hasyim Asy’ari) mencuci sendiri pakaian guru-gurunya saat guru-guru tersebut ikut ngaji puasanan (mengaji di bulan Ramadhan) di tebuireng. Ini adalah bentuk tawadhu yang luar biasa.” Ungkap Gus Salah.

Beberapa narasumber lain, Budayawan Agus Sunyoto, Erwiza Erman dari LIPI, dan Ahmad Zubaidi dari UNI Jakarta menyampaiakan pandangannya mengenai ketokohan KH. Hasyim Asy’ari melalui kacamata dan sudut pandangnya masing-masing dalam seminar tersebut. (Fariz Alniezar)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, Halaqoh Hari Santri 2019

Jumat, 17 November 2017

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima

Jakarta, Hari Santri 2019. Politik dan ekonomi yang diangkat sebagai panglima bagi masyarakat Indonesia, terbukti gagal memberikan kemaslahatan bagi mereka. Kendati demikian, mereka tidak berani mengangkat budaya sebagai panglima.

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima

Demikian dikatakan Wakil Rais Am PBNU KH A Musthofa Bisri yang lazim disapa Gus Mus dalam pidato budaya pada malam Festival Budaya Pesantren di Balai Kartini Kavling 37, Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Sabtu (20/4) malam.

Bagi Gus Mus, budaya kesederhanaan, kebiasaan gotong royong, dan tingginya rasa persaudaraan sesama manusia, sanggup menyehatkan kembali mereka dari kemerosotan susila yang sangat meresahkan kini. Tetapi mereka mengabaikan aspek budaya.

Hari Santri 2019

Menurut Gus Mus, mereka masih berharap pada politik dan ekonomi. Padahal, politik sebagai panglima seperti di era Bung Karno telah mengantarkan masyarakat pada suatu keadaan yang mengkhawatirkan. Mereka terkotak-kotak dalam aneka warna partai. Antartetangga saling membunuh hanya karena perbedaan warna bendera partai.

Hari Santri 2019

“Kenyataan itu dikritik di zaman Suharto. Kalau politik tidak membuat perut kenyang, kenapa politik dijadikan panglima? Lalu Suharto menjadikan ekonomi sebagai panglima,” kata Gus Mus di hadapan sedikitnya 1500 kader Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor).

Ekonomi, lanjut Gus Mus, bukanlah panglima yang baik. Orde baru yang menilai pertumbuhan ekonomi sebagai capaian-capaian pembangunan, membuat erosi mental dan etika masyarakat. Perebutan sumber-sumber perekonomian, menghilangkan kesederhanaan mereka. Celakanya, materi membuat mereka sangat mencintai dunia.

Kesederhanaan sebagai harta termahal masyarakat Indonesia, didesak panglima ke pinggir. Harga diri manusia Indonesia diukur dari materi semata. Kecurigaan satu sama lain, sikap individualitas, dan kesenjangan kelas sosial yang menjurang menguat, tegas Gus Mus dalam festival yang menjadi awal rangkaian harlah ke-79 GP Ansor.

Sementara di era reformasi, mereka kembali menjadikan politik sebagai panglima. Panglima sekarang ini lebih kejam dari panglima di era Bung Karno. Karena, panglima politik era ini, memimpin setelah mereka melewati kejamnya 32 tahun ekonomi bercokol. Dengan demikian, mereka menstandarkan kemanusiaannya pada acuan materi dan kekuasaan sekaligus, tutup Gus Mus.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pertandingan, Halaqoh, Jadwal Kajian Hari Santri 2019

Kamis, 16 November 2017

Penguatan Pengasuh-Alumni Jadi Penentu Perkembangan Pesantren

Pamekasan, Hari Santri 2019. Hubungan antara pengasuh dan alumni pesantren di Indonesia berlangsung erat. Keduanya bak dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Hal ini ditegaskan Gubernur Saifullah Yusuf dalam acara temu alumni Pesantren Nurul Hidayah Sumber Manis Kowel Kabupaten Pamekasan, Ahad (29/1) malam.

Penguatan Pengasuh-Alumni Jadi Penentu Perkembangan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Penguatan Pengasuh-Alumni Jadi Penentu Perkembangan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Penguatan Pengasuh-Alumni Jadi Penentu Perkembangan Pesantren

"Karenanya, penguatan pengasuh dan alumni harus terus dipelihara dengan baik. Sebab, perkembangan pesantren sangat bergantung pd dua hal tersebut," tegas mantan Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur tersebut.

Sejauh ini, kata Gus Ipul, nyaris belum ada lembaga keagamaan yang mempunyai hubungan begitu erat antara sang guru dengan muridnya. Kalau di pesantren, guru adalah kiai dan murid adalah santri.

"Hubungan emosional dan spiritual antara kiai cukup kental. Inilah kelebihan dunia pesantren yang nyaris tidak ditemukan di lembaga keagamaan lainnya," tegas Gus Ipul.

Hari Santri 2019

H Faried Tamim selaku salah seorang alumni yang hadir, menyatakan senang dengan sambutan.Gus Ipul. Mengikuti sambutan Wagub Jatim tersebut, katanya, sungguh menyenangkan dan memberikan wawasan yang cukup luas bagi para mustamiin.?

"Semoga beliau diberi kesehatan dan kesempatan untuk senantiasa eksis memimpin umat," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Halaqoh, Kajian Sunnah Hari Santri 2019

Rabu, 15 November 2017

Tentang Globalisasi Penyakit

Tanpa menekankan pentingnya “kedaulatan” maka berbagai program pemerintah di bidang kesehatan bisa jadi hanyalah proyek dari luar yang dibebankan kepada negara. Segala penyakit, persebarannya, berikut obat-obatannya didefinisikan oleh dan untuk para pebisnis multinasional yang memboncengi lembaga kesehatan resmi di tingkat dunia.

Bahkan nyaris sejak dimulainya politik etis di awal abad 20-an, saat pelajar Indonesia (sebagian diantaranya tokoh pergerakan) mulai belajar ilmu kedokteran, tanpa persiapan mental berdaulat, aktifitas belajar ilmu kesehatan hanyalah agenda untuk menyingkirkan ilmu ketabiban dan berbagai bentuk pengobatan yang telah dikembangkan oleh masyarakat pribumi.

Kali ini terkait agenda pekan kondom nasional. Untungnya, setelah digugat oleh Nahdlatul Ulama (NU), berbagai ormas Islam, majelis ulama dan tokoh lintas agama, agenda riuh ramai itu akhirnya dihentikan. Kementerian Agama juga menyatakan bahwa agenda itu telah menyakiti hati umat Islam. Aneh memang, di lingkungan pemerintahan sendiri tidak satu suara, dan seperti biasa pemegang mandat tertinggi, presiden kelihatan tidak berdaya.

Tentang Globalisasi Penyakit (Sumber Gambar : Nu Online)
Tentang Globalisasi Penyakit (Sumber Gambar : Nu Online)

Tentang Globalisasi Penyakit

Melalui sosialisasi pemakaian kondom, pihak Kementerian Kesehatan dan para pekerjanya berdalih ingin menghentikan laju penyakit global yang diberinama “AIDS”. Jika pun dalih itu bisa dianggap sah dengan menunjukkan data mengenai perkembangan penyakit aneh itu di Indonesia, ada hal yang tidak mengenakkan dalam konteks persebaran isu dan propaganda: “Bahwa ajakan untuk mewaspadai sesuatu itu berarti juga menyebarkan berita tentang sesuatu itu”, dan pada gilirannya meningkatkan tensi kekhawatiran akan hadirnya sesuatu itu, dan selanjutnya mengarahkan orang untuk mengikuti anjuran sang penyebar isu.

Persis, beberapa waktu lalu ketika penyakit global sejenis diwartakan tersebar di Indonesia: flu burung. Waktu itu, unggas-unggas menjadi sasaran pembakaran. Bahkan masyarakat kuatir dengan burung yang berkicau di pohon-pohon sekitar rumahnya; sesuatu yang dulu identik dengan keindahan dan kenyamanan hidup. Pemerintah Indonesia bahkan mengerahkan APBN dari hasil hutang secara besar-besaran untuk memberantas flu burung; sampai ke tingkat Puskesmas, dan sampai menyisir peternakan warga. Padahal sampai sejauh itu satu-dua orang yang digegerkan sakit itu hanya dinyatakan suspect atau diduga terkena penyakit global itu.

Soal AIDS ini lebih komplek lagi. Tanpa memperhatikan teori konspirasi yang ndakik orang biasa akan mudah menyimpulkan bahwa menyebaran kondom, apalagi disertai poster iklan produk dengan tampilan artis seronok itu bukan cara untuk menghindari AIDS, namun untuk mengajak masyarakat menganggap lumrah hubungan seks bebas. Lihat bagaimana kampanye pemakaian kondom itu tidak hanya ditujukan bagi kawasan yang diduga menjadi basis laju penyakit AIDS namun juga di kawasan umum, seperti kampus yang dimungkinkan prilaku seks bebas itu akan terjadi.

Kali ini, bukan sekedar modus penyebaran penyakit global itu yang disoal, tapi cara mengatasi penyakit itu yang merembet hingga ke soal penyebaran gaya hidup bar-bar yang hendak diglobalkan juga: seks bebas, tanpa aturan agama dan norma. (A. Khoirul Anam)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Pendidikan, Halaqoh Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock