Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2018

Pagar Nusa Trucuk Gelar Atraksi di Arena Bebas Kendaraan

Klaten, Hari Santri 2019 - Mentari pagi tampak masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Meski demikian, suasana di area bebas kendaraan atau Car Free Day (CFD) di jalanan seputar alun-alun daerah Klaten, Ahad (24/1) pagi, sudah terlihat ramai.

Lalu lalang para pengendara sepeda dan pejalan kaki membuat suasana pagi itu terasa begitu bergairah. Begitu juga dengan para pedagang kaki lima yang menawarkan aneka makanan dan minuman.

Pagar Nusa Trucuk Gelar Atraksi di Arena Bebas Kendaraan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Trucuk Gelar Atraksi di Arena Bebas Kendaraan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Trucuk Gelar Atraksi di Arena Bebas Kendaraan

Dari sebagian kerumunan warga tersebut, terdapat para bocah berpakaian hitam. Dengan berjalan kaki menyusuri jalanan area bebas kendaraan, sesekali mereka menampilkan berbagai jurus pencak silat dan atraksi yang menarik para pengunjung lainnya.

Hari Santri 2019

Rupannya puluhan bocah itu adalah para pendekar cilik Pencak Silat Pagar Nusa Nahdlatul Ulama SDIT Ma’arif Babad, Trucuk, Klaten. Anak-anak ini memeragakan jurus-jurus yang membuat mereka tampak lucu dan menggemaskan di mata pengguna jalan.

Menurut keterangan koordinator lapangan Rifai, penampilan para siswa SDIT Ma’arif Babad Trucuk ini atas permintaan dari pihak UPTD Klaten.

“Dari anak-anak kali ini menampilkan berbagai atraksi pencak silat Pagar Nusa seperti koreografi flashmob, seni ganda, dan beregu,” kata Rifai.

Hari Santri 2019

Ditambahkan salah satu pelatih Pagar Nusa Klaten Ibnu Fajar, untuk penampilan di CFD ini, para siswa hanya berlatih selama 3 hari karena terbentur padatnya KBM.

“Meski demikian, alhamdulillah penampilan siswa-siswi ini terbilang sukses dan meriah, terlihat dari banyaknya ratusan masyarakat yang mengerumuni dan memberikan apresiasi kepada kami,” papar Ibnu Fajar. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Hikmah, Jadwal Kajian Hari Santri 2019

Senin, 26 Februari 2018

GP Ansor Lubuklinggau Canangkan “Gerakan Berbuat”

Lubuklinggau, Hari Santri 2019. Untuk merealisasikan kepedulian terhadap kaum duafa atau mustadafin Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Lubuklinggau, Musirawas, Sumatera Selatan, mencanangkan “Gerakan Berbuat”.

Hal ini dikemukakan Ketua Pengurus Cabang (PC) GP Ansor Kota Lubuklinggau Noberta Irawan saat memberikan bantuan kepada kaum duafa di Kota Lubuulinggau, Selasa (17/4).  Pemberian bantuan ini bagian dari Gerakan Berbuat yang dicanangkan GP Ansor Lubuklinggau.

GP Ansor Lubuklinggau Canangkan “Gerakan Berbuat” (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Lubuklinggau Canangkan “Gerakan Berbuat” (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Lubuklinggau Canangkan “Gerakan Berbuat”

Dikatakannya, gerakan ini tidak hanya sebatas seremonial belaka. Lebih dari itu, bisa mengangkat kaum duafa dari jurang kemiskinan dan keterbelakangan di semua sektor.

Hari Santri 2019

"Gerakan berbuat ini dicetuskan untuk melatih kepedulian terhadap sesama," ujarnya.

Ia menambahkan, secara khusus Gerakan Berbuat ini ditujukan kepada kader-kader GP Ansor Kota Lubuklinggau agar memiliki kepekaan sosial, terutama kepada warga yang kurang mampu.Kegiatan ini sudah beberapa kali dilakukan GP Ansor Lubuklinggau.

Hari Santri 2019

Dia menghimbau, mereka yang memiliki kemampuan secara ekonomi, kiranya dapat bersama-sama GP Ansor membantu kaum duafa. "GP Ansor selalu membuka diri untuk semua pihak yang bergabung dalam kegiatan Gerakan Berbuat," ujar Noberta.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Hidayah

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, Pahlawan Hari Santri 2019

Rabu, 14 Februari 2018

PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid

Subang, Hari Santri 2019 - Masjid merupakan bagian penting dari identitas Islam, selain berfungsi sebagai tempat ibadah. Sejak awal kelahiran Islam masjid juga dijadikan sebagai pusat dakwah dan perjuangan. Sebab itu MWCNU yang ada di Kabupaten Subang diminta untuk bisa lebih memerhatikan sekaligus memakmurkan masjid yang ada di daerahnya masing-masing.

Hal ini disampaikan Sajudin Noor sebagai ketua panitia pelaksana pada kegiatan Pelatihan Kader Muharrik Masjid dan Dakwah NU yang digelar oleh PCNU Kabupaten Subang di Masjid Zaenal Abidin, Kecamatan Sukasari, Subang, Kamis (6/4).

PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid

"Kita tidak diminta untuk menjadi pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) karena saya yakin di semua masjid sudah punya DKM masing-masing," ujar Sajudin di hadapan 77 peserta kegiatan yang mewakili 12 MWCNU yang ada di Subang Utara.

Hari Santri 2019

Yang diharapkan dari para peserta usai mengikuti kegiatan pelatihan ini adalah peserta mampu menjadi mesin penggerak dalam rangka memakmurkan masjid yang ada di wilayah kecamatannya masing-masing.

"Kegiatan pelatihan ini hanya seremonial, kegiatan aslinya adalah kegiatan di lapangan yaitu menjadi agen perubahan dan menjadi manajer agar masyarakat bisa lebih mencintai masjid dan senang datang ke masjid sehingga masjid bisa menjadi pusat dakwah dan pusat perjuangan Islam," tandasnya.

Hari Santri 2019

Selain itu, kata dia, kegiatan pelatihan ini merupakan program PCNU Subang yang dilaksanakan berdasarkan pembagian zona, untuk Subang Utara diikuti oleh perwakilan dari 12 MWCNU, Subang Tengah akan diikuti 10 MWCNU dan Subang Selatan 8 MWCNU. (Aiz luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Fragmen, AlaSantri Hari Santri 2019

Sabtu, 10 Februari 2018

Haul Sewindu, PWNU Jatim Sebut Ciri Kewalian Gus Dur

Surabaya, Hari Santri 2019 - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur memperingati Haul Gus Dur ke delapan. Acara dikemas dengan ngaji bareng Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar. Ngaji bareng ini selalu diadakan setiap malam Ahad.

"Ngaji bareng ini diadakan setiap malam ahad di Mushalla PWNU Jatim bakda Magrib yang diasuh Kiai Marzuki Mustamar," kata Wakil Ketua PWNU Jatim H Ahsanul Haq yang turut hadir memperingati Haul Gus Dur, (30/12).

Haul Sewindu, PWNU Jatim Sebut Ciri Kewalian Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Sewindu, PWNU Jatim Sebut Ciri Kewalian Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Sewindu, PWNU Jatim Sebut Ciri Kewalian Gus Dur

Ahsanul Haq mengatakan, sewindu sama dengan delapan tahun Gus Dur meninggalkan kita. Sekian lama ditinggal maka semakin nampak kewaliannya di hadapan kita. "Semasa hidupnya, Gus Dur tidak pernah takut kepada siapapun termasuk pada Presiden Soeharto. Tidak ada seorangpun yang ditakuti kecuali Allah," terang Ahsan.

Hari Santri 2019

Para wali Allah, seperti wali sanga dalam dakwahnya menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa tidak pernah takut sama siapapun. "Inilah yang patut kita contoh dan kita tiru. Saya yakin semua yang hadir rindu kepada Gus Dur. Insya Allah Gus Dur hadir di malam ini," lanjutnya.

Selain itu, ciri seorang waliyullah tidak mau dengan harta duniawi. Saat Gus Dur menjabat Presiden RI ke empat, gaji pertamanya langsung diberikan kepada Alwi Shihab tanpa melihat ataupun menghitungnya terlebih dahulu. "Begitu lengser dari jabatan Presiden, Gus Dur kembali seperti rakyat biasa," pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh KH Marzuki Mustamar, setiap kali Gus Dur diundang ceramah di berbagai daerah. Gus Dur langsung menghampiri pengurus cabang setempat dan amplopnya dikasihkan semua tanpa dilihat isinya berapa. "Itulah Gus Dur, apakah kita seperti ia?" tanya Kiai Marzuki kepada para peserta.

Hari Santri 2019

Kiai Marzuki kembali mengisahkan Gus Dur semasa hidupnya. Kiai Pengasuh Pesantren Sabilul Rosyad Gasek Malang ini, mengaku pernah diberi sarung oleh Gus Dur, setelah 40 hari wafatnya Gus Dur. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Humor Islam Hari Santri 2019

Senin, 05 Februari 2018

Pengertian, Dalil dan Hikmah Haid

Haid secara etimologi berarti mengalir. Sedangkan haid secara terminologi adalah darah yang keluar dari farji/kemaluan seorang wanita setelah umur 9 tahun, dengan sehat (tidak karena sakit), tetapi memang kodrat wanita, dan tidak setelah melahirkan anak. Dasar haid di dalam Al-Qur’an adalah sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah ayat 222.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (222

Pengertian, Dalil dan Hikmah Haid (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengertian, Dalil dan Hikmah Haid (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengertian, Dalil dan Hikmah Haid

Artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu adalah kotoran.’ Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

Hari Santri 2019

Ayat ini turun–sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim di dalam kitab shahihnya–sebagai respon atas fenomena kaum Yahudi yang memperlakukan wanitanya yang sedang haid dengan tidak manusiawi. Mereka akan mengusirnya, tidak mau tinggal seatap dan enggan makan bersama-sama seoalah-olah wanita ketika haid adalah manusia yang menjijikan. Allah menurunkan ayat ini yang menjelaskan bahwa haid memang darah kotor sehingga dilarang bagi suami untuk melakukan hubungan badan dengannya selama ia haid sampai datang masa suci. Nabi SAW juga menegaskan kembali di dalam sabdanya, “Lakukan apa saja kecuali jimak,” yaitu boleh bagi suami untuk tetap tinggal seatap dengan istrinya, makan bersama dan melakukan aktivitas bersama-sama dengan istrinya seperti biasa ketika suci kecuali berhubungan badan.

Sedangkan dasar haid dari hadits Nabi SAW adalah sebagaimana tergambar dalam hadits Nabi SAW riwayat Aisyah RA di dalam Shahih Al-Bukhari berikut ini:

Hari Santri 2019

? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? : ? ? ? ? ? ? : ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hadits di atas menyebutkan bahwa Aisyah RA saat berhaji dengan Rasulullah SAW dan ketika sampai di Kota Sarf ia menangis karena haid sehingga ia tidak dapat melanjutkan ibadah hajinya. Rasulullah SAW mencoba menenangkannya dengan mengatakan, “Sungguh ini adalah perkara yang telah ditetapkan Allah untuk anak-anak prempuan keturunan Adam, maka selesaikanlah rangkaian ibadah haji yang harus diselesaikan selain Thawaf.” Aisyah berkata, “Dan (setelah itu) Rasulullah SAW menyembelih sapi untuk para istrinya.”

Cerita Aisyah RA ini mengajarkan kepada seluruh wanita agar tidak perlu bersedih ketika mengalami menstruasi karena hal ini sudah ketentuan Allah SWT yang diberikan kepada setiap wanita dan tentunya ada hikmah dan manfaat di baliknya. Beberapa hikmah dan  manfaat adanya darah haid adalah:

1. Latihan bagi wanita menghadapi cairan sperma yang menjijikkan untuk sebagian wanita. Karena ketika seorang wanita menikah, maka ia harus siap menghadapi cairan suaminya berupa cairan sperma sehingga wanita harus melatih dan membiasakan dirinya menghadapi dan membersihkan darahnya sendiri yakni darah haid sebelum ia akan menghadapi cairan yang lebih menjijikkan lagi yakni sperma.

2. Melatih wanita lebih rajin, tidak jijik dan cekatan. Selain mengurus suami ia juga akan mengurus dan merawat anak-anaknya, membersihkan kotoran-kotorannya dan najis-najisnya. Allah SWT memberikannya latihan stimulasi berupa haid agar ia rajin, tidak merasa jijik dengan najis-najis, cekatan dalam merawat bayi serta mengerti cara mencuci yang baik.

3. Makanan bagi janin di dalam rahim wanita. Karena janin yang ada di dalam rahim seorang wanita tidak dapat makan sebagaimana yang dimakan oleh anak di luar rahim. Tidak mungkin bagi si ibu untuk menyampaikan sesuatu makanan untuknya. Allah SWT telah menjadikan pada diri kaum wanita proses pengeluaran darah yang berguna sebagai zat makanan bagi janin dalam kandungan ibu tanpa perlu dicerna. Oleh karena itu, apabila seorang wanita tidak sedang dalam keadaan hamil, maka darah yang seharusnya dicerna oleh janin itu akan keluar dan menjadi darah haid atau menstruasi. Sementara bagi ibu yang sedang hamil, maka jarang sekali akan mengeluarkan darah haid karena telah dicerna oleh sang janin di dalam kandungannya.

Uraian ini disarikan dari kitab I’anatun Nisa’, Risalatul Mahidh dan Risalah fid Dima’it Thabi‘iyyah lin Nisa’, Shahihul Bukhari, dan Shahih Muslim, At-Tafsirul Munir. Wallahu a‘lam. (Annisa Hasanah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Daerah, Pahlawan Hari Santri 2019

Sabtu, 27 Januari 2018

Kementerian Agama Gelar Sidang Itsbat Awal Ramadhan

Jakarta, Hari Santri 2019. Kementerian Agama akan menggelar sidang itsbat atau penetapan awal Ramadhan 1433 H, di kantor Kemenag Jakarta, Kamis (19/7) sore ini bertepatan dengan 29 Sya’ban 1433 H. Sidang itsbat akan dihadiri oleh perwakilan Nahdlatul Ulama (NU) dan berbagai elemen ormas Islam lainnya, MUI dan para pakar astronomi.

Kementerian Agama Gelar Sidang Itsbat Awal Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kementerian Agama Gelar Sidang Itsbat Awal Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kementerian Agama Gelar Sidang Itsbat Awal Ramadhan

Seperti biasa, sidang itsbat didahului dengan paparan dari pakar astronomi sebelum maghrib dan secara resmi sidang dimulai selepas shalat magrib waktu Jakarta.

Dari NU sidang itsbat akan dihadiri langsung oleh Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazalie Masroeri yang didampingi oleh beberapa pengurus.

Hari Santri 2019

“Kami siap menghadiri sidang itsbat awal Ramadhan untuk mencari titik temu,” kata KH A. Ghazalie Masroeri kepada Hari Santri 2019 di Jakarta, Rabu (18/7) dalam acara pertemuan Lajnah Falakiyah bersama lajnah, lembaga dan badan otonom NU terkait mekanisme penetapan awal bulan qamariyah dan penjelasan mengenai kemungkinan terjadinya perbedaan awal Ramadhan, di ruang pertemuan gedung PBNU, Jakarta (18/7) kemarin.

Hari Santri 2019

Terkait dengan ketidakhadiran Muhammadiyah dalam sidang ini, Kementerian Agama seperti diungkapkan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abdul Djamil tetap mengirimkan undangan kepada PP Muhammadiyah.

Seperti diwartakan, Muhammadiyah melalui ketua umum pimpinan pusatnya Din Syamsuddin pada Rabu (27/6) lalu menyatakan tidak akan mengikuti sidang isbat untuk penentuan awal Ramadhan tahun ini. Menurutnya, sidang isbat tidak perlu karena pemerintah dianggap tidak menerima aspirasi dari Muhammadiyah.

Sementara itu NU melalui Lajnah Falakiyah telah mengimbau pihak Muhammadiyah untuk tetap mengikuti Sidang Itsbat di kantor Kementerian Agama hari ini.

“Kita himbau Muhammadiyah untuk tetap ikut sidang itsbat dalam kebersamaan untuk mencari titik temu,” kata Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazalie Masroeri kepada Hari Santri 2019 di Jakarta, Ahad (8/7) lalu.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan Hari Santri 2019

Rabu, 17 Januari 2018

PC IPNU-IPPNU Kabupaten Demak Resmi Dilantik

Demak, Hari Santri 2019. PC IPNU-IPPNU Kabupaten Demak masa khidmah 2015-2017 resmi dilantik, Ahad (5/4) pagi. Acara berlangsung di Gedung NU Kabupaten Demak lantai 3. Kegiatan tersebut mengusung tema “Membangun Sinergi, Perkuat Organisasi dan Kaderisasi”.?

PC IPNU-IPPNU Kabupaten Demak Resmi Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
PC IPNU-IPPNU Kabupaten Demak Resmi Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

PC IPNU-IPPNU Kabupaten Demak Resmi Dilantik

Pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua PW IPNU Jawa Tengah, Amir Musthofa Zuhdi dan Ketua PW IPPNU Jawa Tengah, Umi Sangadah.

Ketua PC IPNU Demak, Abdul Halim dalam sambutannya mengungkapkan, pihaknya memohon partisipasi semua pihak, baik kader, alumni, serta Banom NU, untuk senantiasa bergandengan tangan agar apa yang menjadi visi organisasi dapat terwujud dengan semaksimal mungkin.

Hari Santri 2019

“Sebagaimana tema yang telah kami ambil, kita harus bersinergi serta memperkuat organisasi dan kaderisasi, karena tantangan globalisasi sekarang ini harus bisa kita jawab dengan aksi-aksi riil kita semua untuk masyarakat,” ujarnya.?

Senada dengan Halim, Ketua PC IPPNU, Istiqomah mengatakan, sinergitas dan satu komando harus tetap terjaga demi keberlangsungan organisasi sehingga kejayaan bisa diraih.

Hari Santri 2019

Sementara itu, Amir Musthofa Zuhdi mengatakan, kepada PC IPNU-IPPNU Kabupaten Demak, pihaknya memohon kerja sama dan peran aktif untuk mengembangkan organisasi serta kaderisasi IPNU-IPPNU di Provinsi Jawa Tengah ini.

Selain itu, Drs H Moh Dachirin Said, SH, MSi, Bupati Demak dalam sambutannya yang disampaikan Kabag Kesra Pemkab Demak Anang Badrul Kamal berharap PC IPNU-IPPNU Demak benar-benar mewujudkan langkah nyata guna menanggulangi serangan paham radikalisme serta fundamentalisme yang notabene mengancam keutuhan NKRI.

Adapun dr H Masyhudi AM, M.Kes yang mewakili Ir Musyadad Syarif, Ketua PCNU Demak yang berhalangan hadir karena mengawal kegiatan Bahtsul Masail di Dempet Demak mengungkapkan, ada dua poin yang menjadi hal penting dalam berorganisasi yaitu pembangunan kompetensi dan jaringan (networking).?

“Silakan kembangkan dan qona’ah-lah dalam berorganisasi terlebih untuk perjuangkan tegaknya Aswaja NU di Demak ini,” tegas pria yang juga Direktur RSI Sultan Agung Semarang ini.

Dalam acara pelantikan ini, turut hadir Ketua LP Ma’arif NU Demak, Sa’dullah, Kapolres Demak yang diwakili Kasat Binmas Budiono, Kodim 0716 Demak yang diwakili Koramil Demak Kota Kapten Inf ? Eko Juhartono, Ketua GP Ansor Demak H Abdurrahman Kasdi, Lc. Msi, serta perwakilan kader IPNU-IPPNU dari tingkat ranting/komisariat/anak cabang se-Kabupaten Demak, dan juga perwakilan OKP. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Lomba, Khutbah Hari Santri 2019

Kamis, 11 Januari 2018

Kalangan Akademisi Indonesia Idap Penyakit Minder

Jakarta, Hari Santri 2019. Wakil Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslimin ? Indonesia (Lesbumi) H Agus Sunyoto mengatakan, kalangan akademisi Indonesia kerap merasa kurang percaya diri di dalam mengembangkan pengetahuan. Rasa rendah diri akut itu hadir dalam bentuk pembenaran final atas eksperimen pengetahuan Barat.

Dalam kursus singkat bertajuk Tasawuf Sebagai Etika Sosial di Pesantren Al-Tsaqafah Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (19/12), Agus menambahkan, “Kalangan akademisi pun seolah ‘kurang afdhal’ jika tidak mengutip pernyataan orang Barat.”

Kalangan Akademisi Indonesia Idap Penyakit Minder (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalangan Akademisi Indonesia Idap Penyakit Minder (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalangan Akademisi Indonesia Idap Penyakit Minder

Kelakuan akademisi itu sering membuatnya jengkel. Terlampau jengkel, Agus dengan kawannya dalam sebuah diskusi berseloroh kepada orang yang selalu mengutip pendapat orang Barat.

Hari Santri 2019

Agus mencontohkan, akademisi yang menjadi narasumber mengatakan, “Menurut Ben Parker, bahwa politik itu adalah ini, ini, ini.” Ketika salah seorang peserta diskusi bertanya Ben Parker itu siapa? Saya jawab, “Ben Parker itu pamannya Spiderman."

Bahkan, lanjut Agus, dalam benak kita sudah tertanam bahwa bangsa Indonesia adalah inferior, bangsa yang di bawah. Sedangkan orang bule adalah superior, bangsa yang ada di atas kita.

Hari Santri 2019

Jika keadaan ini tidak segera dibenahi, maka diprediksi 30 tahun lagi Bangsa Indonesia akan hilang ditelan bumi, tegas Agus. Untuk itu ia mendesak agar ada pembenahan secara serius dalam menghadapi salah satu persoalan bangsa ini. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, PonPes, Pahlawan Hari Santri 2019

Selasa, 12 Desember 2017

Kisah Guru MI Melawan Ketidakadilan Birokrasi (1)

Guru Madrasah Ibtidaiyah Thoriqotul Islamiyah Desa Luwang, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati ini tergolong pemberani. Pasalnya, ketika terjadi ketidakadilan menimpa salah satu anak didiknya, ia tanpa ragu mendobrak birokrasi. Dengan  percaya diri, guru muda ini menghadapi pejabat yang melakukan diskriminasi.

Siapa gerangan guru muda pemberani itu? Dialah Ratih Agnityas Wulandari, guru yang selama 12 tahun telah jatuh bangun dalam mendidik anak bangsa. Perempuan kelahiran Pati, 5 Agustus 1983 ini mengajar di MI tersebut sejak 2004 hingga kini. Bagaimana kisah ibu guru yang menginspirasi ini melawan tindak diskriminasi?

Kisah Guru MI Melawan Ketidakadilan Birokrasi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Guru MI Melawan Ketidakadilan Birokrasi (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Guru MI Melawan Ketidakadilan Birokrasi (1)

Ratih, sapaan akrabnya, memulai kisahnya melawan ketidakadilan sejak tahun 2013. Ketika itu, ia memiliki anak didik yang hobi berolahraga. Saking rajinnya berlatih, siswi ini sejak usia dini berprestasi di cabang bulutangkis tunggal putri. Beberapa kali ia menggondol piala juara pertama. Dialah, Faza Mantasya.

“Saat itu, siswi kami yang hobi main badminton ini ingin ikut serta di ajang POPDA dan O2SN. Lalu, saya cari tau untuk bisa daftar lomba tersebut. Ketika kami mau mendaftar, kami ditolak panitia,” ujar Ratih saat dihubungi Hari Santri 2019 pekan ini.

Alasannya, lanjut Ratih, siswa MI tidak bisa ikut lomba lantaran tidak tertera dalam petunjuk teknis (juknis) dari pemerintah, dalam hal ini Dinas Pemuda dan Olahraga. “Kami pun diam,” ujarnya pilu.

Setahun kemudian, tepatnya pada 2014, Ratih mendaftarkan kembali anak didiknya tersebut. Rupanya, aral masih saja melintangi langkahnya. Pegawai Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan (UPT Disdik) Kecamatan Tayu mengatakan, jika ingin ikut POPDA harus membayar iuran terlebih dahulu.

Hari Santri 2019

“Kami pun bayar kepada Ketua K3S Kecamatan Tayu sebesar 550.000 rupiah. Lagi-lagi kami kaget. Sebab, begitu sampai di ruang seleksi, kami tidak diperbolehkan ikut lomba. Mereka bilang, MI belum iuran. Lalu kami tunjukkan kuitansi. Mereka berkilah lagi, ini khusus SD katanya,” ungkap Ratih.

Ia bersama timnya pun pulang dengan tangan hampa. Tahun ketiga, tepatnya pada Mei 2015, Ratih kembali mendaftar pada seleksi O2SN. Meski ditolak panitia, tetapi Kepala UPT Disdik Kecamatan Tayu, Diyono, memberi kesempatan kepadanya untuk mendaftar.

Lalu, pada Oktober 2015, panitia POPDA Kecamatan Tayu mengadakan seleksi POPDA tingkat kecamatan. “Kami pun mendaftar kembali dengan membawa uang iuran. Tapi ditolak. Kali ini dengan alasan harus bayar 12.000 rupiah kali jumlah siswa kali seluruh MI se-kecamatan,” paparnya.

Jika MI-nya saja yang membayar, kata Ratih, maka tidak boleh. Harus se-kecamatan. “Tentu, itu membebani kami dan sulit dipenuhi. Akhirnya gagal lagi. Tapi saya nggak putus asa. Saya lobby terus. Saya memohon kepada ketua panitia lomba, tapi saya tetap ditolak,” ujarnya tegar. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Ahlussunnah Hari Santri 2019

Senin, 11 Desember 2017

LPPNU Sukabumi Bangkitkan Peran Pemuda dalam Pertanian

Sukabumi, Hari Santri 2019. Peengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sukabumi melalui Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) berupaya mengembalikan peran anak muda dalam bidang pertanian. Lembaga tersebut melatih puluhan pemuda dalam pengelolaan dan pengolahan pepaya.

LPPNU Sukabumi Bangkitkan Peran Pemuda dalam Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)
LPPNU Sukabumi Bangkitkan Peran Pemuda dalam Pertanian (Sumber Gambar : Nu Online)

LPPNU Sukabumi Bangkitkan Peran Pemuda dalam Pertanian

Menurut Ketua LPPNU Kabupaten Sukabumi Very Verdiansyah pelatihan untuk kedua kalinya Sabtu-Senin (30/8-1/9) tersebut, tidak hanya teori, tapi langsung praktik lapangan, bertemu dengan para petani pepaya di kebun. Mereka dibiarkan berdiskusi dengan para petani, kemudian diundang ahlinya untuk memperdalam temuan-temuan mereka. Tidak hanya itu, mereka juga dibekali pelatihan pengolahan buah pohon tersebut.

Dari dua pelatihan tersebut, para para pemuda NU perwakilan dari seluruh kecamatan di Kabupaten Sukabumi sudah bisa mengolah pepaya menjadi saos, kripik, shampo, akarnya menjadi semacam kopi, daunnya bisa diseduh seperti teh, getahnya bisa untuk tepung.

“Mereka membuatnya dengan alat-alat sederhana yang tersedia di dapur seperti wajan, sodet, kompor gas, blender dan lain-lain,” terangnya ketika ditemui Hari Santri 2019 selepas pelatihan di Cikukulu, Sukabumi, Jawa Barat, pada Ahad (31/8).

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Ia menjelaskan alasan kenapa mereka diarahkan untuk mengelola dan mengolah pepaya. Menurutnya, selain bergizi, pepaya adalah salah satu buah yang tidak diimpor dari luar negeri, cocok ditanam di Indonesia, termasuk di Sukabumi. Di kabupaten tersebut masyarakat sudah menanam pepaya secara luas sejak 20 tahun lalu. Very menyebut beberapa kecamatan misalnya Nagrak, Kalapa Nunggal, Simpenan, Bantar Gebang, Cisolok dan Parakan Salak.

Setelah para peserta menguasai pengelolaan dan pengolahan, nanti akan dibekali soal pemasaran. LPPNU sudah memiliki pandangan bahwa ke depan produk LPPNU akan dipasarkan kepada warga NU sendiri, terutama kalangan pesantren. “Ini meminimalisir ketergantungan warga NU terhadap pihak lain,” tegasnya.

Setelah itu, meski peserta akan dibebaskan memasarkan produknya, LPPNU tetap akan mengawal, mengawasi dan mensuport mereka. Karena jangkauan kecamatan-kecamatan di Sukabumi sangat luas, LPPNU akan membuatkan mereka website untuk diminta memosting kegiatan masing-masing. Di situ akan kelihatan kecamatan mana yang paling aktif bergerak. ”Yang tidak maju akan terus disuport, yang lebih maju akan lebih disuport juga,” katanya.

Menurut Very, para pemuda harus digenjot kembali dalam bidang pertanian melalui lembaga-lembaga informal sebab dalam pendidikan di sekolah formal sudah dijauhkan dari pertanian dan kesadaran lingkungannya sendiri. “Kurikulum kita sengaja dijauhkan dari tanahnya sendiri,” tegasnya.

Padahal menurut dia, tanah adalah amanat dari Allah SWT. Jika anak-anak muda tidak mengolahnya berarti sudah mengingkari tugasnya sebagai khalifah. Ia juga menukil salah satu perkataan Rais Akbar NU Hadrotussyekh KH Hasyim Asy’ari yang mengatakan petani itu adalah penolong negeri. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan Hari Santri 2019

Sabtu, 02 Desember 2017

Khofifah Buka Orientasi Pengurus Muslimat NU Malaysia

Jakarta, Hari Santri 2019. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa membuka orientasi pengurus baru Pimpinan Cabang Istimewa Muslimat NU Malaysia yang berlangsung di Kem Alang Sedayu , Batu 12 Gombak, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (11/10).

Menurut Sekretaris PCI Muslimat NU Malaysia Mimin Mintarsih, Khofifah pada pembukaan menekankan supaya ibu-ibu memperhatikan pendidikan dan moral. Menurut Khofifah, moral bangsa? anak bangsa semakin menurun.

Khofifah Buka Orientasi Pengurus Muslimat NU Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Buka Orientasi Pengurus Muslimat NU Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Buka Orientasi Pengurus Muslimat NU Malaysia

Mimin melanjutkan, kata Khofifah indikasi menurunnya moral adalah maraknya seks bebas di kalangan remaja. “Karena itu untuk kaum ibu Muslimat beliau menyarankan agar sebagai ibu, dapat mempertingkatkan kewaspadaan terhadap anak-anak kita,” ujar Mimin melalui surat elektronik, Ahad (12/10).

Hari Santri 2019

Selain Khofifah, kata Mimin yang sudah 20 tahun di Malaysia tersebut, Pengurus PWNU Jawa Tengah KH Muhammad Adnanmenyampaikan materi ke-NU-an dan ajaran Islam yang berhaluan Ahlussunah wal-Jamaah.

Hari Santri 2019

Ibu asal CIrebon, Jawa Barat tersebut menambahkan kegiatan yang berakhir pada Ahad (12/10) tersebut diikuti 25 pengurus Muslimat NU, 5 Fatayat NU, serta KMMU, dan PCINU Malaysia. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Pendidikan Hari Santri 2019

Minggu, 26 November 2017

Banser Banjarnegara Bikin Ulah, Mohon Jangan Diviralkan!

Banjarnegara, Hari Santri 2019  

Satuan Unit Khusus Barisan Ansor Serbaguna Tanggap Bencana (Bagana) Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah menyingsingkan lengan baju. Mereka kembali berbuat ulah, yaitu membantu korban hujan dan angin puting beliung di daerah itu.

Banser Banjarnegara Bikin Ulah, Mohon Jangan Diviralkan! (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Banjarnegara Bikin Ulah, Mohon Jangan Diviralkan! (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Banjarnegara Bikin Ulah, Mohon Jangan Diviralkan!

  

Sekitar 15 personil Bagana Banjarnegara dipimpin Zaenal Mustaqin selaku Kasatsus Bagana setempat, berpartisipasi mengevakuasi korban manusia, mobil dengan cara memotong pohon dan pembersihan ranting di lokasi.

Hari Santri 2019

"Terjadi hujan dan angin puting beliung kencang sejak pukul 12.45 WIB di seluruh wilayah Kecamatan Banjarnegara. Korban meninggal satu orang atas nama Riska Wardhana (16), pelajar SMA  1 Bawang, warga Desa Tribuana, Kecamatan Punggelan," ujar Kasatsusnas Bagana Chabibullah.

Enam korban luka ialah Badari (80) warga Desa Gemuruh Kecamatan Bawang. Kemudian Eko Setyo (30) warga Desa Kecepit. Lalu Andri Prasongko (20), selanjutnya Edi Tri Tulisno (25), dan Tomi (16), serta Eka (28). Semuanya warga Desa Tribuana,  Kecamatan Punggelan. 

Hari Santri 2019

Chabib menambahkan, pukul 12.30 hingga 13.15 WIB hujan disertai angin kencang turun di wilayah Banjarnegara. Menumbangkan pohon beringin di sekitaran alun-alun dan pohon beringin utama di alun-alun Banjarnegara sebelah Barat.

Saat kejadian tersebut sedang ada event pertandingan volly diselenggarakan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Pohon tumbang tersebut menimpa para korban yang berteduh di bawahnya.

"Untuk kerugian materiil ialah adanya beberapa mobil rusak akibat tertimpa pohon. Bagana Purbalingga membantu instansi berwenang setempat. Pukul 14.35 WIB evakuasi korban selesai dan dilanjutkan pembersihan lokasi hingga pukul 15.16 WIB," kata Chabib lagi.

Ulah Banser Banjarnegara dalam penanganan bencana di daerah itu berkelanjutan. Saat  terjadi bencana tanah longsor pada Jumat (12/12/2014) mereka juga turun tangan.

Sebanyak 80 kader Bagana diturunkan dalam operasi evakuasi korban sekaligus mendampingi Basarnas Banjarnegara dan Provinsi Jawa Tengah hingga 17 Desember 2014.

"Saat itu, Bagana terlibat mencari puluhan korban baik dari masyarakat setempat maupun pendatang. Namun sebagai fakta, mohon hal-hal positif dilakukan Banser tidak perlu diviralkan. Viralkan saja yang hoaks dan fitnah mengenai kami," kata dia.

Menurut dia, Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban di akhirat bagi orang yang senang melancarkan fitnah atau ghibah.

Pahala shalat dan ibadah para pemfitnah sudah dijanjikan akan diberikan kepada yang difitnah walaupun yang difitnah itu tidak pernah shalat atau beribadah.

Selain itu, jika masih belum cukup pahala sebagai pembayaran akibat berbuat fitnah itu, maka dosa yang difitnah itu akan ditransfer pada si pemfitnah.

"Apalagi sahabat-sahabat Banser yang Insya Allah taat beribadah. Jadi jangan ragu untuk terus menebar fitnah kepada Banser. Terima kasih terus berbagi pahala untuk Banser," ujar Chabib. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Doa, IMNU Hari Santri 2019

Rabu, 15 November 2017

Full Day School Tinggalkan Semangat Multikultural

Oleh Irham Yuwanamu

Selepas hari libur Lebaran ini topik full day school (FDS)—sekolah 5 hari dan 8 jam perhari—makin hangat diperdebatkan. Pasalnya, hingga kini belum ada titik temu antara pemerintah dan masyarakat yang kontra.

Full Day School Tinggalkan Semangat Multikultural (Sumber Gambar : Nu Online)
Full Day School Tinggalkan Semangat Multikultural (Sumber Gambar : Nu Online)

Full Day School Tinggalkan Semangat Multikultural

Sejak awal terlontarkan pada tahun 2016 ide ini sudah menuai kritik dan penolakan dari masyarakat. Walupun begitu pemerintah melalui Mendikbud tetap ingin menerapkan ide tersebut dengan membuat Permendikbud nomor 23 tahun 2017 tentang hari sekolah. Kritik dan penolakan pun datang dari berbagai pihak.

Karena kontroversi yang sangat keras, Presiden Jokowi akhirnya membatalkan Permendikbud itu, dan akan dikaji ulang. Menurut Mendikbud, FDS akan diperlakukan melalui aturan yang lebih tinggi melalui Perpres.

Hari Santri 2019



Akar Masalah


Hari Santri 2019

Mendikbud keukeuh untuk menerapkan ide yang digagasnya sejak awal menjadi menteri pendidikan tanpa mempertimbangkan aspirasi yang ada. Keributan di luar dianggap angin lalu. Sebenarnya apa argumentasi yang paling mendasar dari Mendikbud ini? Mencermati dari Permendikbud nomor 23 itu tujuannya untuk menghadapi era globalisasi dengan penguatan karakter dengan restorasi pendidikan karakter. Untuk itu alternatifnya adalah waktu sekolah dibuat 5 hari dan perharinya 8 jam.

?

Sebelumnya tak terdengar ada kajian yang mendalam tentang bentuk restorasi pendidikan karakter yang tepat seperti apa, kemudian mengapa solusinya FDS, apa hubungannya. Dugaan penulis jangan jangan ini masih sebatas asumsi Mendikbud bahwa FDS sebagai jawaban tepat.

Mendikbud tak melihat kesiapan di bawah seperti apa. Faktanya banyak forum guru dan orang tua murid menolak, warga NU protes keras yang secara resmi disampaikan oleh PBNU, dan juga MUI dengan berbagai alasan yang mendasar. Ini menunjukkan ketergesaan Mendikbud dan abai atas aspirasi rakyat. Kebijakan tanpa melihat aspirasi dari bawah yang niatnya baik bisa menjadi tidak baik hasilnya. Mengapa fakta dari bawah tidak diindahkan.

Persoalan karakter sudah menjadi sorotan oleh menteri pendidikan sebelum era Presiden Jokowi, yaitu pada saat Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang menteri pendidikannya waktu itu pak Nuh. Dengan berbagai kajian yang dilakukan terwujudlah kurikulum 2013 (K-13) sebagai kurikulum yang terintegrasi dan berbasis karakter. Tentu kurikulum ini disertai kritik tajam dari masyarakat dan para pakar. Kurikulum ini pun nasibnya belum jelas karena sebelum diimplementasikan sepenuhnya sudah diberhentikan. Namun begitu, pendidikan di lingkungan Kemenag saat ini telah menerapkan K-13. Artinya penguatan karakter melalui kurikulum pendidikan belum rampung sudah beralih pada penentuan hari sekolah.

Kemudian tepatkah FDS untuk? penguatan karakter? Pertanyaan ini perlu dilontarkan, mengingat klausul utama dalam Permendikbud itu adalah penguatan karakter dan jawabannya tidaklah cukup berangkat dari asumsi, tetapi harus dari hasil riset yang mendalam.

Asumsi FDS adalah membatasi jam main anak di luar kontrol orang tua sepulang sekolah. Dengan demikian agar anak didik terjaga di sekolah dan karakternya menjadi baik. Benarkah demikian! Apakah kalau tidak FDS anak didik merosot karakternya, jangan jangan hanya kasuistik saja hal itu terjadi. Ini butuh kajian lapangan yang serius.

Setelah presiden Jokowi meminta agar permendikbud dibatalkan dan dikaji kembali, Mendikbud menjelaskan sebenarnya ide sekolah 8 jam sehari berawal dari problem tunjangan guru (detik, 8/6). Jika Hal ini benar,? maka Permendikbud yang lahir tersebut atau yang akan dibuat perpres tak jelas landasan dasarnya untuk penguatan karakter.

Pengelolaan pendidikan tidak boleh asal, sebab pendidikan sebagai strategi membangun peradaban dan kebudayaan bangsa. Dari pendidikan juga sosio-kultural terbentuk. Jadi dampaknya ini sangat besar, apakah sudah diperhitungkan semua itu?



Kebijakan Multikultural


Indonesia adalah negara yang berbhineka. Tidak Indonesia kalau tak beragam dan majemuk. Untuk mengatasi persoalan pendidikan nasional di Indonesia khususnya tentang FDS, kebijakan yang menghargai perbedaan dan kemajemukan lah yang bisa menjadi solusi.

Sejarah era orde baru dapat menjadi pelajaran penting. Kebijakan yang sifatnya terpusat, dari atas ke bawah tanpa melihat keragaman dan perbedaan yang ada, terbukti gagal. Indonesia yang berbhineka alias multikultural tidak bisa disamaratakan. Di era reformasi jangan sampai kembali pada masa kelam.

Kebijakan multikultural dalam pendidikan nasional perlu diterapkan. Kebijakan yang seperti ini yang menghargai keragaman dan kemajemukan yang tepat untuk Indonesia. Kontroversi tentang kebijakan FDS hemat saya karena tidak melihat aspirasi masyarakat dan tak berdasar dari riset yang kuat. Sementara masyarakat ada yang pro dan kontra karena kebutuhan dan konteks sosial yang berbeda. Mungkin bagi masyarakat perkotaan dengan kondisi orang tua murid yang sibuk bekerja akan setuju, walaupun tidak semuanya. Dan ini berbeda pada kondisi yang ada di daerah. Situasi pendidikan yang masih kurang memadai baik sarana prasarana maupun SDM-nya juga menjadi salah satu faktornya. Belum lagi tradisi lainnya seperti adanya sekolah sore (sekolah ngaji). Mendikbud setidaknya mengajak bicara pada semua kalangan yang memiliki kepentingan. Dengan seperti ini akan tahu aspirasi yang disampaikan yang berbeda-beda pula.

Perbedaan yang ada itu perlu diperhatikan sehingga kebijakan yang ditetapkannya tidak harus seragam tapi dapat beragam sesuai konteks masalah yang dihadapi. Inilah semangat dari UU Sisdiknas tahun 2003 yaitu otonomi pendidikan. Jika FDS masih diberlakukan dengan pendekatan seragam dari atas ke bawah, ini bertentangan dengan UU Sisdiknas tersebut, alih-alih untuk meningkatkan moralitas, malah bisa-bisa membuat karakter anak makin merosot karena kebijakan yang tanpa didukung dengan riset yang mendalam.

Kebijakan multikultural dapat diberlakukan pada kurikulum, sistem evaluasi, dan yang terkait dengan pendidikan. Semestinya hal-hal yang seperti ini diurus oleh organisasi profesi keguruan yang merupakan ahlinya. Level kementerian mengurus yang sifatnya besar-besar saja misalnya soal pendanaan, dan pengembangan SDM. Dengan seperti ini proyek pendidikan dengan visi ke depan jangka panjang tetap terjaga. Sementara ini visi pendidikan nasional kita masih jangka pendek, ganti menteri ganti kebijakan. Kapan unggulnya?

Penulis adalah dosen FAI UNISMA Bekasi, dan UNU Indonesia serta peneliti di Pusat Riset Pendidikan Indonesia



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kiai, Pahlawan, Makam Hari Santri 2019

Jumat, 10 November 2017

Santri Nurul Jadid Gali Pengalaman Majalah AULA

Surabaya, Hari Santri 2019 - Dua puluh aktivis pers Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ) Paiton, Probolinggo berkunjung ke kantor redaksi Majalah AULA, jalan Masjid Al-Akbar Timur 9 Surabaya, Jawa Timur Kamis (28/1). Mereka diterima pihak menejemen dan berbagi pengalaman sekitar tiga jam.

"AULA adalah majalah yang menjadi kebanggaan bagi mayoritas warga Nahdlatul Ulama, termasuk saya," kata Ustadz Imam Mawardi. Pembina pers di madrasah sekaligus ketua rombongan ini sangat mengapresiasi perkembangan AULA sejak ukuran kecil hingga sekarang dengan tampilan yang lebih elegan.

Santri Nurul Jadid Gali Pengalaman Majalah AULA (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Nurul Jadid Gali Pengalaman Majalah AULA (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Nurul Jadid Gali Pengalaman Majalah AULA

Dan untuk kunjungan tersebut, rombongan yang dibawa adalah para siswa. "Untuk rombongan siswi masih akan melakukan kunjungan Senin mendatang," kata Ustadz Mawardi. Karena untuk pengelolaan media di madrasah tersebut dibedakan antara siswa dan siswi, mengikuti? aturan yang ditetapkan pesantren.

Hari Santri 2019

"Karena itu, tujuan kunjungan kami adalah ingin menimba pengalaman kepada para pimpinan dan pengelola AULA, sehingga dapat menjadi bekal bagi para siswa di madrasah kami dalam mengelola media," kata salah seorang ustadz di MANJ tersebut.

M Habib Wijaya kemudian menceritakan bagaimana sejarah AULA dari awal kali diterbitkan tahun 1987 silam. "Ukurannya masih sederhana dan berbentuk stensil," kata pimpinan perusahaan di PT AULA Media Nahdlatul Ulama ini. Perkembangan berikutnya majalah dicetak dalam bentuk kecil dan hitam putih.

"Majalah AULA yang kalian terima saat ini usianya baru empat tahun," kata Pak Habib, sapaan akrabnya.? Karena perubahan dari ukuran kecil menjadi besar dan seluruh halamannya berwarna terjadi tahun 2012, lanjutnya. Ia juga menyampaikan bahwa AULA telah menerbitkan majalah AULEEA yang dikususkan bagi kalangan muslimah.

Hari Santri 2019

Terjadi diskusi yang cukup dinamis dari para aktivis pers madrasah dengan tim redaksi dan menejemen AULA. Mereka menanyakan soal kriteria majalah ideal, regenerasi, tata letak hingga bagaimana mengembangkan majalah. Dan MANJ sendiri telah memiliki Majalah Kharisma yang dikelola para siswa dan dicetak tidak semata untuk kalangan madrasah setempat, juga disebar ke sejumlah sekolah di Probolinggo.

Mereka kemudian melakukan kunjungan ke kantor redaksi serta mendapatkan penjelasan seputar pengelolaan AULA dan AULEEA. Sebelum kunjungan, Ustadz Mawardi memberikan cinderamata yang diterima M Habib Wijaya yang juga diselingi foto bersama. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Syariah, Sholawat, Pahlawan Hari Santri 2019

Kamis, 02 November 2017

Khofifah: Muslimat Punya Banyak PR Selesaikan Masalah Sosial

Samarinda, Hari Santri 2019

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mendorong para kader Muslimat untuk berpacu dalam menyelesaikan masalah sosial di sekitar. Ia mengatakan, berbagai persoalan tersebut antara lain prostitusi dan penyalahgunaan narkoba.

Khofifah: Muslimat Punya Banyak PR Selesaikan Masalah Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Muslimat Punya Banyak PR Selesaikan Masalah Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Muslimat Punya Banyak PR Selesaikan Masalah Sosial

Menurut Menteri Sosial ini, baik masalah prostitusi maupun narkoba, keduanya banyak menelan korban dari kalangan remaja. Lokalisasi tak sedikit mempekerjakan para perempuan yang masih usia SMP, juga narkoba yang menyasar di kalangan anak sekolah.

“Kita perlu ber-fastabiqul khairat lebih baik lagi ke depan. Kita banyak punya PR (pekerjaan rumah), bagaimana kita menyelesaikan persoalan-persoalan sosial di hadapan kita,” tuturnya dalam Konferensi Wilayah VII Muslimat NU Kalimantan Timur di Pendopo Lamin Etam Samarinda, Kaltim, akhir pekan (27/2) lalu.

Hari Santri 2019

Muslimat, kata Khofifah, perlu membuat pemetaan sosial sehingga permasalahan tadi dapat diselesaikan. Sebagai aktualisasi revolusi mental, para orang tua mesti mendidik anak-anak dan menekankan diri dan keluarga agar sering menyucikan diri, hati, pikiran, perilaku.

Hari Santri 2019

“Ini adalah PR buat muslimat NU agar dapat bekerja keras, kerja cerdas, bekerja dengan ikhlas, dan kerjakan semua sampai tuntas,” pintanya.

Konferwil Muslimat NU Kaltim dihadiri Gubernur Kaltim yang diwakili Asisten 3 H Bere Ali, Ketua PBNU H Farid Wajdi, Ketua PWNU Kaltim H Muhammad Rasyid, anggota DPR RI yang juga ketua Muslimat NU Balikpapan Hj Kasriyah, dan jajaran pengurus PCNU dari berbagai kabupaten, yakni Samarinda, Kutai Kartanegara, Bontang, dan Balikpapan.

Konferensi yang mengusung tema "Aktualisasi Peran Muslimat NU dalam Mendukung Gerakan Revolusi Mental" diikuti 9 Pimpinan Cabang Muslimat NU dan memilih secara aklamasi Hj. Aminah sebagai ketua PW Muslimat NU Kalimantan Timur untuk keempat kalinya.

Aminah mengatakan, ke depan pihaknya akan menggiatkan sejumlah program, antara lain memasukan pembelajaran pendidikan agama islam 1 jam setiap hari, yakni 30 menit di awal pelajaran dan 30 sebelum mengakhiri pelajaran khusus di lembaga pendidikan di bawa naungan Muslimat NU; memperluas sasaran dakwah; meningkatkan jalinan kerja sama dengan lembaga-lembaga terkait. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Aswaja, Pahlawan Hari Santri 2019

Minggu, 29 Oktober 2017

PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas untuk Pesantren dan Majelis Taklim Banten

Serang, Hari Santri 2019 



Pimpinan Pusat Muslimat NU bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI melaksanakan orientasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dengan peserta pimpinan pondok pesantren dan pimpinan majelis taklim di wilayah Kabupaten Kota Serang dan Kabupaten Pandeglang di hotel Le Dian, Serang, Banten, Sabtu 11 November lalu.

Pada pembukaan, Ketua II PP Muslimat NU Ny. Hj. Nurhayati SAS menegaskan pentingnya hidup sehat. Hal ini senada dengan moto Germas Muslimat NU 2017 “Sehat dimulai dari Saya”. 

PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas untuk Pesantren dan Majelis Taklim Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas untuk Pesantren dan Majelis Taklim Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas untuk Pesantren dan Majelis Taklim Banten

Ia menambahkan, kewajiban menjaga kesehatan harus terus ditingkatkan, terutama di pondok pesantren dan majelis taklim dengan terus menjaga dan meningkatkan pola hidup sehat santri dan jama’ah majelis taklim, sehingga sasaran peserta orientasi ini tepat sekali.

“Muslimat NU sebagai salah satu organisasi masyarakat yang mempunyai misi membangun dan memberdayakan perempuan Indonesia seutuhnya, telah ikut serta mendukung program Germas sejak tahun 2016, melalui kegiatan advokasi dan sosialisasi Germas di provinsi Kalimantan Selatan dan provinsi Banten,” katanya.  

Pada tahun 2017, lanjutnya, Muslimat NU melakukan gerakan massa yang berfokus pada penggerakan hidup sehat santri pondok pesantren dan jama’ah majelis taklim.

Hari Santri 2019

Ia merinci tujuan kegiatan Germas, antara lain, menurunkan beban penyakit menular dan penyakit tidak menular, baik kematian maupun kecacatan. Kedua, menghindarkan terjadinya penurunan produktivitas penduduk. Ketiga, menurunkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan karena meningkatnya penyakit dan pengeluaran keluarga untuk kesehatan. 

Hari Santri 2019

“Esensi program Germas adalah perilaku masyarakat untuk hidup sehat, pada tahun 2017 terfokus pada tiga kegiatan, yaitu meningkatkan aktivitas fisik, konsumsi sayur dan buah, serta deteksi dini penyakit tidak menular (PTM).”

Dalam kesempatan orientasi ini, dilakukan penandatangan komitmen bersama dari semua unsur yang hadir untuk siap melakukan Germas setelah sebelumnya diberikan kesempatan dan fasilitas kepada peserta dan tamu yang hadir untuk cek kesehatan. 

Ketua Tim Pelaksana Germas dr. Hj. Erna Yuliana Soefihara mengungkapkan, peserta yang terpilih yang akan diajak terus mensosialisasikan dan mempraktikkan serta penyusunan RTL (Rencana Tindak Lanjut) di lingkungan pesantren dan jama’ah majelis taklim dan lingkungan masyarakat. 

Pada pembukaan kegiatan itu dihadiri Sekretaris Umum PP Muslimat NU Hj. Ulfah Mashfufah, Ketua Wilayah Muslimat NU Banten Hj. Saodah dan pengurus Cabang Muslimat NU. Dari unsur Promkes Pusat hadir ibu Ismoyowati, unsur Pemerintah daerah  hadir Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Sigit Wardoyo serta OPD, Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang dan Kota Serang Banten. (A-zhoem/Abdullah Alawi) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Nahdlatul Hari Santri 2019

Kamis, 19 Oktober 2017

NU Serang Ngaji Kitab Kuning Keliling

Serang, Hari Santri 2019. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Serang, Banten, mengagendakan pengajian kitab kuning keliling ke pengurus NU tingkat kecamatan (MWC), Ranting, dan pesantren-pesantren di Kota Serang.

NU Serang Ngaji Kitab Kuning Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Serang Ngaji Kitab Kuning Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Serang Ngaji Kitab Kuning Keliling

Menurut Ketua PCNU Kota Serang KH Matin Sarqowi, kegiatan tersebut adalah menimba dari semangat Syekh Nawawi Al-Bantani, seorang ulama besar, guru-guru kiai Nusantara yang juga pengarang mumpuni kitab kitab kuning.

Di samping itu, sambung kiai pengasuh Pesantren Al-Fathaniyah dengan 350 santri putra-putri tersebut, Kota Serang dengan luas  ilayah 266,74 km persegi, didukung sekitar 3000 pesantren salaf yang berkultur NU.

Hari Santri 2019

“Jadi, sangat mungkin dilakukan,” katanya, ketika dihubungi Hari Santri 2019 selepas dilantik menjadi Ketua PCNU Kota Serang periode 2012-2017, di Serang, Sabtu (22/12).

Hari Santri 2019

Kegiatan tersebut merupakan perwujudan dari NU sebagai organisi dakwah kepada masyarakat luas. “Serang itu sangat kental NU, tapi kultur.”

Dengan kegiatan tersebut, kiai berusia 41 tahuu tersebut berharap pesantren-pesantren yang berkultur NU, juga paham NU secara organisasi.

Selain itu, Kiai Matin akan melakukan konsolidasi internal di organisasi dengan memperbaiki administrasi dan menajemen; membuka jaringan untuk kader-kader NU Kota Serang. Juga akan membidik bidang ekonomi sebagai pemberdayaan warga Nahdliyin.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Santri, Nahdlatul Ulama, Pahlawan Hari Santri 2019

Sabtu, 23 September 2017

Gerakan Khilafah Tunjukkan Belum Tuntasnya Kesadaran Politik Islam

Bandung, Hari Santri 2019. Cendekiawan Nahdlatul Ulama, Dr. Asep Salahudin berpendapat, maraknya gerakan penegakan khilafah atau Daulah Islamiah yang dikampanyekan oleh Hizbut Tahrir Indonesia merupakan bukti masih belum tuntasnya kesadaran sejarah politik-Islam.?

Upaya menghadirkan Islam ideal di masa lalu tersebut dinilai a-historis, atau tidak memahami realitas zaman yang membutuhkan jawaban tersendiri.

Gerakan Khilafah Tunjukkan Belum Tuntasnya Kesadaran Politik Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Khilafah Tunjukkan Belum Tuntasnya Kesadaran Politik Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Khilafah Tunjukkan Belum Tuntasnya Kesadaran Politik Islam

"Kalau dari sudut pandangan keumatan, itu bagian dari model "keagamaan rezimis", sebuah gerakan yang begitu ngebet kekuasaan semata tanpa memperhatikan kondisi umat itu sendiri, padahal setiap nabi hadir untuk menjawab problem keumatan. Seperti lazimnya gerakan ideologi, tumpuan dasarnya bukan pengetahuan yang masuk akal, tapi indoktrinasi," ujarnya kepada Hari Santri 2019, di Bandung, Sabtu 6 Juni 2015.

Hari Santri 2019

Asep Salahudin menilai, cara pandang Hizbut Tahrir ini tidak melihat Islam dari sisi realitasnya, yakni kondisi umat, melainkan hanya melihat Islam sebagai kategori politik semata sehingga lebih suka menawarkan program, atau lebih tepatnya proyek, ketimbang menjawab problem yang riil dihadapi masyarakat.

"Politik keumatan nabi senantiasa melihat sunnatullah, melihat realitas. Itulah mengapa ada hikmah dalam politik Islam dengan tidak adanya sistem baku dalam Islam sehingga umat Islam memiliki ruang kreatif untuk memainkan politik dengan beragam model dengan mengutamakan tujuan tercapainya rahmat untuk manusia dan alam semesta," terangnya.

Hari Santri 2019

Dari sinilah menurut Asep, gerakan politik Islam saat ini lebih baik mengutamakan titik tekan pada penguatan masyarakat sipil dengan mengambil spesifikasi pemberdayaan warga.

Islam-politik sering gagal karena umat Islam tidak memiliki imajinasi apa itu masyarakat sipil. Karena itu perlu dibangun kesadaran warga agar pikiran umat tidak sekadar berpikir imajiner tentang keluarga sakinah dan daulah atau kekuasaan saja, melainkan lebih pro-aktif membangun kesadaran kewargaan.?

“Di sinilah mengapa civic Islam harus diupayakan sebagai solusi mengawal demokrasi republikan Indonesia," jelasnya. (ferli/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Sejarah, Pahlawan Hari Santri 2019

Rabu, 20 September 2017

Pesantren Darul Ulum Bondowoso Bantah Gabung dengan HTI

Bondowoso, Hari Santri 2019 - Pengasuh Pondok Pesantren Darur Ulum Maskuning Kulon, Kecamatan Pujer, Bondowoso, Jawa Timur, Kiai Anwar Mahfudz meluruskan mengenai isu pada tahun 2012-2013 yang menyebut Pondok Pesantren Darul Ulum bergabung dalam organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI ). Pihaknya membantah berafiliasi dengan kelompok anti-Pancasila tersebut.

"Pondok Pesantren Darul Ulum mulai dari pendiri pertama hingga hari ini murni berhalauan Ahlussunnah wal Jammaah An-Nahdiyyah, kitab yang diajarkan di Pondok Pesantren Darul Ulum tetap kitab-kitab salaf, seperti Fathul Qorib, Fathul Muin, Bidayah, dan lain-lain. Jadi tidak mungkin dan sangat tidak masuk akal jika PP Darul Ulum tergabung dalam HTI," tegasnya.

Pesantren Darul Ulum Bondowoso Bantah Gabung dengan HTI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Darul Ulum Bondowoso Bantah Gabung dengan HTI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Darul Ulum Bondowoso Bantah Gabung dengan HTI

Hal itu ia sampaikan dalam temu alumni dalam acara Halal Bihalal dan Pengukuhan Pengurus Persatuan Alumni Santri Pondok Pesantren Darul Ulum (Persada) masa khidmah 2016-2019. Kegiatan dilaksanakan di halaman pondok pesantren setempat, Rabu ( 13/07) pagi.

Hari Santri 2019

Kepada seluruh undangan dan alumni juga menegaskan bahwa seluruh alumni harus kompak menjaga ikatan silaturahim.

Hari Santri 2019

Hal senadan juga disampaikan Ketua Umum Persada Muhammad Afifi. Seusai dilantik ia mengimbau para alumni untuk selalu menjaga ikatan silaturahim serta selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kesantrian. Ia mengingatkan bahwa peran santri dalam sejarah bangsa Indonesia sangatlah besar.

“Dibuktikan dengan lahirnya Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 yang pada tahun kemarin, 2015, ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional oleh Presiden Jokowi," ungkap Afifi di hadapan undangan.

Seharusnya, menurutnya, penghargaan Hari Santri Nasional menjadi motivasi bagi para santri untuk merawat semangat nasionalime, “Tentunya dengan cara menjalankan apa yang diperjuangkan dan diinginkan oleh para ulama dan pendahulu kita," jelasnya.

Acara tersebut dihadiri oleh KH Ghozali Utsman (Pengasuh Pondok Pesantren Al Utsmani Beddian Jambesari Darus Sholeh), H Fawaid (Ketua Syuriah MWCNU Pujer), Camat Pujer,? Kapolsek Pujer, dan Danramil Pujer, serta kepala Desa Maskuning Kulon Unang Raharjo.

Acara dibuka dengan penampilan drumband? dari Araya Nada. Kemudian dilanjutkan dengan Haul Pendiri Pondok Pesantren Darul Ulum Almarhum Kiai Mahfud yang diisi dengan pembacaan yasin dan tahlil dan dipandu langsung oleh Ust. Ahmad Jailani? yang diikuti ratusan alumni. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Internasional, Pahlawan Hari Santri 2019

Kamis, 27 Juli 2017

Ketua GP Ansor Probolinggo Pimpin Federasi Olahraga

Probolinggo, Hari Santri 2019. Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis dipercaya memimpin Pengurus Kabupaten (Pengkab) Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Probolinggo periode 2017-2022 mendatang.?

Dia tidak sendiri, pasalnya Komandan Satkorcab Banser Kabupaten Probolinggo Adimas Lutfi Putra Jaya juga masuk dalam kepengurusan FORMI sebagai Sekretaris. Baik Muchlis maupun Adimas akan memimpin FORMI mewadahi organisasi rekreasi di Kabupaten Probolinggo.

Ketua GP Ansor Probolinggo Pimpin Federasi Olahraga (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua GP Ansor Probolinggo Pimpin Federasi Olahraga (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua GP Ansor Probolinggo Pimpin Federasi Olahraga

Ahad (19/3) pagi, para pengurus Pengkab FORMI Kabupaten Probolinggo ini secara resmi dilantik dan dikukuhkan oleh Ketua FORMI Provinsi Jawa Timur Suparman di GOR Sasana Krida Kota Kraksaan.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Probolinggo HM. Sidik Widjanarko menyampaikan bahwa dalam sistem keolahragaan nasional, olahraga rekreasi merupakan dasar/pondasi yang harus disiapkan dalam rangka membangun sistem pembinaan olahraga nasional. “Karena pada dasarnya pengembangan olahraga rekreasi diarahkan untuk meningkatkan budaya olahraga dan kesehatan masyarakat,” katanya.

Hari Santri 2019

Menurut Sidik, butuh proses panjang dan konsistensi dalam menjalankan program kegiatannya dan pada akhirnya diharapkan akan mendorong pengembangan olahraga pendidikan dan olahraga prestasi.

“Selamat atas dilantiknya pengurus FORMI Kabupaten Probolinggo periode 2017-2020. Gali dan kembangkan olahraga rekreasi masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Probolinggo sesuai dengan visi dan misi organisasi. Yakni terwujudnya keluarga dan masyarakat yang berkualitas, sehat dan bugar,” tegasnya.

Sementara Ketua FORMI Kabupaten Probolinggo Muchlis menyampaikan ucapan terima kasih atas amanah yang telah diberikan dengan harapan mampu mengemban amanah dengan sebaik-baiknya.

“Mohon doa dan dukungannya agar saya dan semua pengurus Pengkab FORMI Kabupaten Probolinggo bisa melaksanakan tugas dengan harapan seluruh pengurus. Tentunya kami akan terus bersinergi dengan semua pihak agar semua program bisa berjalan dengan baik,” ungkapnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Khutbah, Pahlawan, Hadits Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock