Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu

Mojokerto, Hari Santri 2019 - Menteri Agama RI H Lukman Hakim Saifuddin atas nama pemerintah memberikan apresiasi kepada Pergunu yang telah membantu mendidik masyarakat Indonesia. Lukman berharap kerja keras para guru NU membuahkan hasil maksimal untuk melahirkan murid-murid berprestasi dan berakhlak.

“Kualitas pendidikan menjadi tujuan utama pemerintah, kami harap Pergunu bisa turut serta untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,” kata Lukman mengawali sambutannya dalam kongres yang kedua di Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Rabu (26/10).

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu

Menurut Lukman, kualitas pendidikan dari masa ke masa semakin maju. Kualitas pendidikan agama di Indonesia semakin membaik. Mulai dari kualitas kerukunan agama, kualitas lulusan madrasah atau pesantren.

“Guru menduduki tempat strategis untuk turut andil dalam membangun negeri,” terangnya.

Hari Santri 2019

Saat ini pemerintah tengah memperbaiki lagi kualitas pendidikan dengan menetapkan standard indikator, isi, proses, dan lulusan. “Pergunu itu sudah satu misi dengan Kemenag,” katanya.

Hari Santri 2019

Pendidik pesantren atau madrasah saat ini sudah diakui oleh negara dan disetarakan dengan pendidikan negeri. “Kita terus berupaya ada program-program guru. Tunjangan guru akan diupayakan di tahun 2017, telah memiliki sertifikasi sesuai ketentuan regulasi yang ada,” jelas Lukman memberikan angin segar kepada para guru madrasah.

Dengan ucapan basmalah Kongres Kedua Pergunu resmi dibuka oleh Menteri Agama RI. Hadir dalam pembukaan Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa, Pembina Pergunu H As’ad Said Ali, Ketua MUI Jawa Timur, pendiri dan pejuang Pergunu serta para pengurus Pergunu di berbagai wilayah dan cabang se-Indonesia. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, AlaSantri, Sunnah Hari Santri 2019

Rabu, 14 Februari 2018

PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid

Subang, Hari Santri 2019 - Masjid merupakan bagian penting dari identitas Islam, selain berfungsi sebagai tempat ibadah. Sejak awal kelahiran Islam masjid juga dijadikan sebagai pusat dakwah dan perjuangan. Sebab itu MWCNU yang ada di Kabupaten Subang diminta untuk bisa lebih memerhatikan sekaligus memakmurkan masjid yang ada di daerahnya masing-masing.

Hal ini disampaikan Sajudin Noor sebagai ketua panitia pelaksana pada kegiatan Pelatihan Kader Muharrik Masjid dan Dakwah NU yang digelar oleh PCNU Kabupaten Subang di Masjid Zaenal Abidin, Kecamatan Sukasari, Subang, Kamis (6/4).

PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid

"Kita tidak diminta untuk menjadi pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) karena saya yakin di semua masjid sudah punya DKM masing-masing," ujar Sajudin di hadapan 77 peserta kegiatan yang mewakili 12 MWCNU yang ada di Subang Utara.

Hari Santri 2019

Yang diharapkan dari para peserta usai mengikuti kegiatan pelatihan ini adalah peserta mampu menjadi mesin penggerak dalam rangka memakmurkan masjid yang ada di wilayah kecamatannya masing-masing.

"Kegiatan pelatihan ini hanya seremonial, kegiatan aslinya adalah kegiatan di lapangan yaitu menjadi agen perubahan dan menjadi manajer agar masyarakat bisa lebih mencintai masjid dan senang datang ke masjid sehingga masjid bisa menjadi pusat dakwah dan pusat perjuangan Islam," tandasnya.

Hari Santri 2019

Selain itu, kata dia, kegiatan pelatihan ini merupakan program PCNU Subang yang dilaksanakan berdasarkan pembagian zona, untuk Subang Utara diikuti oleh perwakilan dari 12 MWCNU, Subang Tengah akan diikuti 10 MWCNU dan Subang Selatan 8 MWCNU. (Aiz luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Fragmen, AlaSantri Hari Santri 2019

Selasa, 13 Februari 2018

Tak Ada Dasar dalam Al-Qur’an yang Mengharuskan Dirikan Negara Islam

Jakarta, Hari Santri 2019. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan bahwa sistem perpolitikan menurut Ahlussunnah wal Jamaah bersifat ijtihadi. Tidak ada dasar di dalam Al-Qur’an yang mengharuskan menerapkan sistem negara tertentu.

“Yang ada cuma bagaimana berkeadilan, tegaknya hukum, sejahtera. Itu aja yang ada,” katanya seusai membuka acara diskusi bertajuk “Khilafah dalam Pandangan Islam” di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (12/5).

Tak Ada Dasar dalam Al-Qur’an yang Mengharuskan Dirikan Negara Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Ada Dasar dalam Al-Qur’an yang Mengharuskan Dirikan Negara Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Ada Dasar dalam Al-Qur’an yang Mengharuskan Dirikan Negara Islam

Sementara sistem untuk mewujudkan keadilan, tegaknya hukum, dan sejahtera itu, menurut Kiai Said, sistemnya diserahkan kepada warga negara sesuai dengan kultur, tradisi, karakter, dan identitas bangsa dalam negara tersebut.

Negara Indonesia, kata Kiai Said, sejak dulu dibangun oleh para pendiri bangsa baik dari NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Nasionalis telah menyepakati bahwa Indonesia merupakan negara damai, bukan negara agama atau negara Islam.

Hari Santri 2019

Oleh karena itu, Kiai Said mengajak kepada masyarakat agar bersama-sama menjaga Negara Indonesia.

“Mari kita sayangi Indonesia ini, kita cintai Indonesia ini, kita jaga Indonesia ini,” ajak Kiai lulusan Ummul Qurra, Makkah ini.

Hadir sebagai pembicara pada diskusi tersebut Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin, Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta KH Taufiq Damas, Sekjen PP ISNU KH Kholid Syaerozi, Ketua Penasehat Paguyuban Santri Nusantara KH Asnawi. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 AlaSantri Hari Santri 2019

Selasa, 06 Februari 2018

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Syahdan, tidak lama dari mimpinya yang monumental itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Bakri keluar dari pesantren ayahnya untuk melanglang buana mencari ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain.

Beberapa pesantren yang sempat disinggahi Kiai Ihsan kecil adalah Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri), Pondok Pesantren Jamseran Solo, Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang, Pondok Pesantren Mangkang Semarang, Pondok Pesantren Punduh Magelang, Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk, dan Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang ‘Guru Para Ulama’.

Dari rihlah ‘ilmiah-nya, ada satu kebiasaan yang sering dilakukan Bakri, yakni ia tidak pernah menghabiskan banyak waktu di pesantren-pesantren tersebut. Misalnya, untuk belajar Alfiah Ibnu Malik yang berisi seribu bait tentang rumus dan teori Gramatika Arab (Nahwu dan Sharf) Bakri belajar dari KH. Kholil Bangkalan dan hanya menghabiskan waktu dua bulan; belajar ilmu falak (astronomi) kepada KH. Dahlan Semarang dan hanya tinggal di pesantrennya selama 20 hari; sedangkan di Pesantren Jamsaran Kediri ia hanya tinggal selama satu bulan. Namun demikian, ia selalu berhasil menguasai dan ‘memboyong’ ilmu para gurunya tersebut dengan kemampuan di atas rata-rata.

Keunikan lainnya yang dapat disimak yaitu di setiap pesantren yang ia singgahi, Bakri selalu ‘menyamar’. Ia tidak mau dikenal sebagai ‘gus’ (sebutan anak kiai); tidak ingin diketahui identitas aslinya sebagai putra kiai tersohor, KH. Dahlan Jampes. Bahkan, setiap kali kedoknya terbuka sehingga santri-santri tahu bahwa ia adalah gus dari Jampes, dengan serta merta ia akan segera pergi, ‘menghilang’ dari pesantren tersebut untuk pindah pesantren lain. Alih-alih kebiasaan atau tradisi di dunia pesantren yang sering kali mengelu-elukan dan memanjakan para gus, anak kiai, seringkali “memabukkan” dan membius para gus, mereka kebal hukum dan peraturan pesantren, dan berujung pada ketidak seriusan belajar. Dan tradisi itulah yang hendak dihindari oleh Bakri, lantaran di mata Bakri tradisi itu tidak kondusif dalam proses belajar dan sering kali membentuk karakteristik feodal yang tidak baik.? ? ?

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Pada tahun 1932, setelah selesai melalui tour ilmiyah itu, Bakri inobatkan menjadi pengasuh atau pemimpin Pondok Pesantren Jampes, Kediri. Sejak saat itulah Bakri terkenal sebagai pengasuh Pesantren Jampes. Ada banyak perkembangan yang signifikan di Pesantren Jampes setelah Syekh Ihsan diangkat sebagai pengasuh. Secara kuantitas, misalnya, jumlah santri terus bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun, semula sekitar 150 santri menjadi sekitar 1000 santri lebih, sehingga Pesantren Jampes harus diperluas hingga memerlukan 1,5 hektar tanah. Secara kualitas, materi pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Diniyah Mafatihul Huda pada 1942.

Sebagai seorang kiai, Syekh Ihsan mengerahkan seluruh perhatian, pikiran dan segenap tenaganya untuk ‘diabdikan’ kepada santri dan pesantren. Hari-harinya hanya dipenuhi aktivitas spiritual dan intelektual; mengajar santri (ngaji), shalat jama’ah, shalat malam, muthola’ah (mengkaji) kitab, ataupun menulis kitab. Meskipun seluruh waktunya didesikannya untuk santri, Syekh Ihsan tidak melupakan masyarakat umum. Syekh Ihsan dikenal memiliki ilmu hikmah dan menguasai ketabiban. Hampir setiap hari, di sela-sela kesibukannya mengajar santri, Syekh Ihsan masih sempat menerima tamu dari berbagai daerah dan kalangan yang meminta bantuannya. Keilmuan hikmah yang dimilikinya ini berkat penguasaannya yang baik terhadap kitab-kitab hikmah seperti Syamsul-Ma’arif karya al-Buni, Mamba’ Ushul al-Hikmah, Kitab al-Aufaq karya Imam al-Ghazali, dan lain-lain. Bahkan keilmuan hikmah ini ia integrasikan dan kolaborasikan dengan ilmu falak yang telah difahaminya secara mendalam.

Pada masa revolusi fisik 1945, Syekh Ihsan juga memiliki andil penting dalam perjuangan bangsa. Pesantren Jampes selalu menjadi tempat transit para pejuang dan gerilyawan republik yang hendak menyerang Belanda. Di Pesantren Jampes, mereka meminta doa restu Syekh Ihsan sebelum melanjutkan perjalanan. Bahkan, beberapa kali Syekh Ihsan turut mengirim santri-santrinya untuk ikut berjuang di garis depan. Jika desa-desa di sekitar pesantren menjadi ajang pertempuran, penduduk yang mengungsi akan memilih Pesantren? Jampes sebagai lokasi teraman, sementara Syekh Ihsan membuka gerbang pesantrennya lebar-lebar.

Hari Santri 2019

Sumbangan Syekh Ihsan yang sangat besar adalah karya-karya yang ditinggalkannya bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia. Sudah banyak pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syekh Ihsan, khususnya karya magnum opus-nya, kitab yang berjudul Sirojut-Tholibin, kitab syarah (penjelasan) dari kitab Minhajul-‘Abidin karya Imam al-Ghazali, terbit pertama kali pada 1932 setebal sekitar 800 halaman. Kitab ini mengulas tasawuf. Syekh Ihsan mendapatkan penghargaan dan legitimasi ilmiyahnya di mata dunia Islam, ketika kitab tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Mesir, Musthafa al-Bab al-Halab, sebuah penerbit yang berorientasi menerbitkan kitab-kitab kuning (turats), yang sampai saat ini masih eksis. Di antara kitab tasawuf yang ditulis syekh Ihsan adalah kitab Manahijul-Imdad , sebuah syarah (penjelasan) dari kitab Irsyadul-‘Ibad karya Syekh Zainudin al-Malibari, terbit pertama kalinya pada tahun 1940 setebal sekitar 1088 halaman, mengulas tasawuf secara luas dan mendalam.

Sebelum menulis tentang tasawuf, syekh Ihsan berkelana mengelilingi tanah Jawa. Sebuah perjalanan apostolik sebagaimana tradisi para sufi darwis. Dalam perjalanan apostoliknya, ia menjumpai dan berdialog sekaligus menimba ilmu secara singkat dari hampir seluruh ulama tasawuf, mursid tharekat, dan para kiai yang terkenal keilmuan dan kezuhudannya. Bahkan, ia pun menjumpai para tokoh kejawen, pengikut kepercayaan, dan mengajak mendiskusikan secara mendalam persoalan filsafat, spiritual, dan pandangan-pandangan spiritual.

Lebih menakjubkan lagi, ia pun menjumpai para dukun dari berbagai jenisnya, lantaran para dukun dianggap memiliki pandangan dunianya sendiri yang harus diselami. Dari pengalaman perjalanan spiritualnya yang telah menggondol segudang informasi dan ilmu itu menjadi salah satu modal dalam mengkonsepsikan pandangan tasawufnya yang dielaborasikan dengan mengikutsertakan pengalaman pribadi, eksperimentasi spiritual, ritual, pandangan pewayangan, dan pentakwilan atas segenap teks normatif Islam, al-Quran dan hadits.?

Hari Santri 2019

Pada saat-saat menulis karya-karyanya tersebut, syekh Ikhsan dengan tekun menuliskannya yang tak kenal lelah, tak kenal waktu, bergadang, malam yang hening dilaluinya dengan ditemani segelas kopi dan berbatang-batang rokok. Karena memiliki kebiasaan meminum kopi dan menghisap rokok, akhirnya menginspirasikan lahirnya sebuah kitab yang ditulisnya dengan judul kitab Irsyadul-Ikhwan fi Bayani Hukmi Syurbil-Qohwah wad-Dukhon. Kitab ini diadaptasi dari kitab kumpulan syair-syair atau puisi dari kitab Tadzkiratul-Ikhwan fi Bayanil-Qahwah wad-Dukhan karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, yang kemudian diberi penjelasan (syarh), tebalnya 50 halaman. Buku ini berbicara tentang polemik hukum merokok dan minum kopi.

Disamping dikenal sebagai pakar tasawuf, syekh Ihsan juga merupakan ulama dan masuk dalam deretan nama pakar ilmu falak (astronomi). Salah satu karya akademik di bidang ini adalah kitab Tashrihl-‘Ibarot, syarah (penjelasan) dari kitab Natijatul-Miqot karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, terbit pertama kali pada 1930, setebal 48 halaman.

Seorang sufi yang juga penuh karya akademiknya ini akhirnya pada Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H. atau September 1952, dipanggil oleh Allah SWT. Usianya yang baru melewati setengan abad ini, 51 tahun, meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Kuburannya hingga saat ini ramai dikunjungi oleh para peziarah, khususnya dari warga NU.

Tak ada warisan yang terlalu berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang kemudian tersimpan dalam korpus kitab-kitab karyanya yang ‘abadi’ maupun yang terrekam dan tersimpan di dalam hati para murid-muridnya. Beberapa murid Syekh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah Kiai Soim pengasuh pesantren di Tanggir Tuban, KH. Zubaidi di Mantenan Blitar, KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap, KH. Busyairi di Sampang Madura, K. Hambali di Plumbon Cirebon, K. Khazin di Tegal, dan lain-lain.

Setahun yang lalu, penulis berziarah kemakamnya dan ke pesantren peninggalannya yang bersahaja dengan disambut oleh KH. Busyro, pengasuh pesantren peninggalan sang sufi kita. Kami berbincang-bincang di rumah KH. Busyro seputar karya-karya sang sufi. Beliau bercerita bahwa sejatinya Gus Dur, panggilan akrab mendiang KH. Abdurrahman Wahid, pernah ingin memperjuangkan salah satu naskah sang sufi yang belum sempat tersebar ke penjuru dunia Islam, yaitu kitab Manahijul -Imdad. Gus Dur meng-copy manuskrip (makhthuthat) kitab tersebut dan diserahkan ke Syekh Sayyed al-Maliki, dengan harapan mendapatkan tashih atau tahqiq dan diterbitkan di Arab. Akan tetapi dalam penantian yang panjang, kitab tidak kunjung diterbitkan. Akhirnya atas dasar inisiatif KH. Busyro sekeluarga, kitab tersebut telah diterbitkan oleh keluarga kiai Ihsan dengan dicetak cukup sederhana dan dalam jumlah terbatas. Tanpa disangka dan diduga, kitab tersebut dalam waktu singkat ludes dipasaran. Karena, rupa-rupanya para kiai dan santri betul-betul menanti-nantikan karya syekh Ihsan itu. Akhirnya ketika sudah ada di depan mata, mereka memburu dan berebut untuk mendapatkannya. Penulis sendiri pada waktu keliling pesantren salaf, tidak mendapatkan kitab tersebut. Dan penulis sempat mensarankan pada KH. Busyro agar kitab tersebut dicetak kembali.

Karya-karya syekh Ihsan sebagian besar telah dikaji dan dibaca oleh para kiai dan santri di pesantren salaf-tradisional. Khususnya kitab magnum opusnya, yaitu Sirojut-Tholibin. Bahkan sebagian kiai Lirboyo-Kediri membacanya setiap tahun sebagai ritual pengajian sehari-hari. Tidak diragukan lagi jika paradigma sufistiknya yang bernuansa Ghazalian yang mengusung perkawinan tasawuf dan syari’ah telah berpengaruh besar terhadap paradigma nalar sufisme kaum santri yang berbasis NU (Nahdlatul Ulama).

?

Mukti Ali

Program Officer Manuskrip Nusantara & Peneliti Rumah Kitab

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri Hari Santri 2019

Jumat, 02 Februari 2018

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU

Sidoarjo, Hari Santri 2019,?

Sebanyak 35 kader penggerak Nahdatul Ulama yang berasal dari Majlis Wakil Cabang (MWCNU), Lembaga dan Banom mengikuti Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) yang diselenggarakan PCNU Sidoarjo . Kegiatan dilaksanakan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hamdaniyah, Siwalan Panji sejak Jumat 28 Februari hingga Minggu 2 Maret hari ini.?

Menurut Panitia Pelaksana, Aris Karomay, acara yang dihadiri oleh Wakil Ketua PBNU KH. Dr. As’ad Ali itu bertujuan membekali kader NU dengan berbagai wawasan ke-Aswajaan dan ideologi gerakan.?

“Diharapkan setelah mengikuti pendidikan tersebut peserta punya bekal untuk menggerakkan organisasi di lingkungannya sesuai dengan Khittoh NU,” ujar Gus Aris.

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU

Sebelumnya, ? panitia melakukan seleksi terhadap 49 peserta yang terdaftar melalui Test Screening secara tertulis dan interview. Alasan panitia melakukan seleksi tersebut karena banyak peserta yang berminat mengikuti pelatihan, disamping itu untuk mengetahui sejauh mana kemampuan peserta PKPNU mengetahui dan memahami tentang organisasi NU.

Dikatakan, panitia sengaja memilih tempat di Ponpes Panji (sebutan lain Ponpes Al-Hamdaniyah) karena mempunyai nilai sejarah besar bagi NU sebagai tempat Rois Akbar NU KH. Hasyim Asya’ri menimba ilmu agama. Bahkan di tempat tersebut masih terdapat kamar Mbah Hasyim yang masih dirawat oleh para santri secara turun temurun.

Hari Santri 2019

”Mudah-mudahan dari tempat ini (ponpes red;), akan melahirkan kader-kader penggerak NU yang mempunyai semangat seperti Mbah Hasyim," tambah Gus Aris.

Sementara itu, Wakil Ketua PBNU, Dr. Asad Ali berharap kepada para kader NU untuk serius belajar dan menambah pengetahuan. "Kader NU diharapkan bisa menguasai semua bidang Ilmu pengetahuan dan Teknologi, agar cita-cita besar NU dapat tercapai," jelasnya. [Aw Avendi Anwar/Mahbib]

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Kajian, AlaSantri Hari Santri 2019

Jumat, 26 Januari 2018

Lima Program Pokok Ketua Baru IPNU-IPPNU Jepara

Jepara, Hari Santri 2019

Zainal Muttaqin terpilih menjadi ketua baru Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan dan Vida Amalia sebagai ketua baru Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Jepara masa khidmah 2016-2108.

Zainal Muttaqin, ketua PC IPNU Jepara terpilih saat dihubungi Hari Santri 2019, Senin (10/10/16), menyampaikan visi-misi kepengerusan mendatang. Pertama, melanjutkan PR besar IPNU-IPPNU yakni mengaktifkan kembali ranting-ranting sebagaimana yang diprogramkan oleh PCNU Jepara untuk semua Banom.

Lima Program Pokok Ketua Baru IPNU-IPPNU Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Program Pokok Ketua Baru IPNU-IPPNU Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Program Pokok Ketua Baru IPNU-IPPNU Jepara

Kedua, kata sekretaris bidang kaderisasi PC IPNU Jepara masa khidmah 2014-2016 ini, menumbuhkembangkan potensi kader di semua lini mulai dari ranting, komisariat hingga anak cabang dengan melaksanakan program kaderisasi pendidikan Makesta dan Lakmud.

Hari Santri 2019

“Ketiga, mensantrikan pelajar dan mempelajarkan santri,” lanjut Zainal, Wakil Ketua II PAC IPNU Welahan 2014-2016 itu.

?

Hari Santri 2019

Keempat, mengembangkan para kader muda yang lebih berkah, bermanfaat dan bisa memberikan sumbangsih perjuangan di setiap lini di tingkatannya masing-masing. Terakhir, mengajak para pelajar dan pemuda untuk sadar organisasi sebagai bekal untuk menatap masa depan yang lebih baik.

Zainal dan Vida terpilih dalam Konfercab XXV IPNU-IPPNU Jepara yang berlangsung di Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang Desa Gemiring Lor, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, Sabtu-Ahad (08-9/10). Zainal memperoleh 22 suara, disusul Ahmad Suyudi dengan perolehan 14 dan M. Miqdad Sya’roni dengan 11 suara. Sedangkan Vida Amalia terpilih menjadi ketua IPNU Cabang Jepara secara aklamasi.

Sementara itu, M. Khoironi, Ketua demisioner IPNU Cabang Jepara 2014-2016 berharap IPNU-IPPNU ke depan mampu melanjutkan program-program yang telah dirintis sebelumnya yang baik dan mampu berinovasi serta memperkuat organisasi dan kaderisasi.

Juga mampu mengawal pendirian ranting, komisariat dan PAC. “Kami juga berharap IPNU-IPPNU ke depan mampu menangkap isu-isu pelajar, pendidikan serta pendampingan kepada pelajar lebih intens lagi,” papar Khoironi.

Guru MTs Al-Faizin Guyangan, Bangsri Jepara itu membeberkan hampir semua program departemen dan lembaga sudah terlaksana dengan baik. Di antaranya adalah kaderisasi. “Masa khidmah sebelumnya ada 10 PAC sekarang ada peningkatan 14 PAC aktif. Ini peningkatan yang harus dijaga terus eksistensinya,” harapnya. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

? ? ? ? ?


Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul Ulama, Meme Islam, AlaSantri Hari Santri 2019

Minggu, 14 Januari 2018

Langkah Fatayat NU Jombang Berantas Warga Buta Aksara

Jombang, Hari Santri 2019Pengurus Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Jombang terus berupaya mengurangi jumlah warganya yang mengalami buta aksara. Fatayat NU Jombang mengadakan pelatihan keterampilan menulis, membaca, dan menghitung di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito, Jombang, Jumat (7/10).

Hal ini menjadi salah satu tujuan utama dalam kegiatan keaksaraan fungsional (KF) yang digelar Fatayat NU Jombang di Desa Mlaras.

Langkah Fatayat NU Jombang Berantas Warga Buta Aksara (Sumber Gambar : Nu Online)
Langkah Fatayat NU Jombang Berantas Warga Buta Aksara (Sumber Gambar : Nu Online)

Langkah Fatayat NU Jombang Berantas Warga Buta Aksara

"Adapun yang disampaikan adalah pembelajaran keterampilan menulis, membaca, dan berhitung," kata Ketua Fatayat Jombang Hj Ema Umiyatul Chusna saat membuka kegiatan tersebut.

Hari Santri 2019

Menurut Ning Ema, pelatihan keaksaraan yang diikuti oleh puluhan warga itu memiliki kelebihan tersendiri jika dibandingkan dengan pelatihan keaksaraan pada umumnya. Nilai lebih itu terletak pada penambahan materi keagamaan di tengah-tengah acara. Selain diajarkan berhitung, mereka juga diajarkan membaca Al-Quran dan memperdalam beberapa ilmu agama.

"Keaksaraan fungsional kita punya nilai lebih karena ada mengajinya, pembelajaran ilmu-ilmu agama, terutama ilmu tentang fiqih," ujarnya.

Hari Santri 2019

Di waktu yang sama setelah program keaksaraan fungsional selesai, Ning Ema dan warga binaan Fatayat memberangkatkan 100 TPQ Lansia setempat dalam rangka peringati tahun baru Islam, 1 Muharram 1438 H. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri Hari Santri 2019

Selasa, 09 Januari 2018

Ansor Bangkalan Ikhtiarkan Kemandirian Organisasi

Bangkalan, Hari Santri 2019. Terobosan baru dilakukan pimpinan cabang Gerakan Pemuda Ansor Bangkalan, selain fokus pada bidang garap yang menjadi program dasar gerakan pemuda Ansor, mulai Jumat 19 April, Ansor Bangkalan mulai merambah bidang ekonomi, menggandeng Koperasi Bumi Permata Hati Bangkalan, dibuka layanan  kebutuhan ATK, foto copy, dan penjilidan. 

“Ini ikhtiar kita agar organisasi ke depan mampu membiayai operasionalnya, minimal mengurangi gerakan proposal,” papar H Hasani Zubair, ketua Ansor Bangkalan.

Ansor Bangkalan Ikhtiarkan Kemandirian Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Bangkalan Ikhtiarkan Kemandirian Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Bangkalan Ikhtiarkan Kemandirian Organisasi

Masih menurut Ra Zani panggilan akrabnya, ke depan Ansor akan mendorong anak cabang agar juga mempunyai unit usaha sesuai dengan kemampuan dan potensi daerahnya.

Hari Santri 2019

Terkait pimpinan anak cabang yang telah siap, putra rais syuriyah PCNU Bangkalan ini menyatakan PAC Tragah sudah mempersiapkan badan usaha yang bergerak dibidang simpan pinjam. Terkait permodalan, sesuai laporan pengurus Tragah sudah siap lima puluh juta, dan diusahakan segera beroperasi.

Sementara Abdul Hamed kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Bangkalan selaku Pembina Koperasi Bumi Permata Hati merasa bersyukur koperasinya memperoleh kepercayaan dari pimpinan cabang Ansor Bangkalan, bahkan pejabat yang juga pernah memimpin Satpol PP Bangkalan ini juga berharap agar kerjasama ini bisa dalam bentuk lain, apalagi anggota koperasi milik Dishubkominfo ini anggotanya luar biasa banyak.

Hari Santri 2019

Langkah PC Ansor Bangkalan direspon dan didukung wakil bupati Bangkalan. Dalam arahannya pada acara tasyakkuran yang digelar di aula Dishubkominfo Wabup Mondir A. Rofii menyatakan bahwa terobosan ini sungguh luar biasa dan mungkin pertama kali dilakukan banom NU di Bangkalan.

“Ke depan hal ini harus dipromosikan sehingga unit usaha ini bisa diketahui banyak pihak, datangi saja instansi yang ada di Bangkalan, prospek dan tanya kebutuhan administrasi mereka, siapa tahu mereka bersedia dengan tawaran tersebut,” katanya.

Namun demikian Wabup yang alumni Universitas Indonesia Jakarta ini juga berpesan bahwa yang tidak kalah pentingya adalah mengelola secara profesional unit usaha ini.

“Biasanya budaya kita (orang pesantren; red ) sering mencari tenaga kerja berbayar ikhlas, inilah yang sering menjadi kendala untuk maju papar wakil bupati yang juga ketua tanfidz PKB Bangkalan. 

Mengawali pembukaan usai sambutan dan pengarahan dilakukan potong tumpeng oleh ketua cabang Ansor yang diserahkan kepada wakil bupati Mondir Rofii. Unit usaha foto copy, penjilidan dan lainnya ini berada di komplek Dishubkominfo kabupaten Bangkalan yang secara kewilayahan cukup strategis. Selain bergandengan dengan kantor uji kelayakan dan trayek, di wilayah ini juga ada tiga kampus yang jumlah mahasiswanya termasuk paling banyak di Bangkalan. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri Hari Santri 2019

Sabtu, 23 Desember 2017

Tak Ada Ketentuan Penerapan Opsional dalam Permendikbud Lima Hari Sekolah

Jakarta, Hari Santri 2019 - Kepada awak media Presiden Joko Widodo menyatakan, tidak ada keharusan bagi seluruh sekolah di Indonesia menerapkan program lima hari kegiatan belajar-mengajar dalam sepekan atau yang biasa disebut full day school (FDS). Bahkan informasi pembatalan oleh Presiden sudah diumumkan pada 19 Juni lalu.

Lantas, mengapa kebijakan tersebut tetap diberlakukan di berbagai daerah? (Baca: Gara-gara FDS, Santri di Sejumlah Daerah Pamit Keluar dari Pesantren)

Tak Ada Ketentuan Penerapan Opsional dalam Permendikbud Lima Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Ada Ketentuan Penerapan Opsional dalam Permendikbud Lima Hari Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Ada Ketentuan Penerapan Opsional dalam Permendikbud Lima Hari Sekolah

Menurut pengamat pendidikan, Darmaningtyas, statemen saja tak cukup untuk menghentikan Permendikbud, tanpa kepastian hukum yang jelas dan tertulis.

Hari Santri 2019

"Lisan boleh dikatakan begitu, Pak. Tapi selama Peraturan Menteri (Permen) No 23/2017 yang mengatur FDS tidak dicabut/revisi, kebijakan itu akan jalan terus. Daerah-daerah memaksakan melaksanakannya, apalagi bila pelaksanaan program tersebut masuk ke dalam? indikator penilaian sekolah,” katanya saat dihubungi Hari Santri 2019 via WhatsApp, Jumat (11/8).

“Jadi kebijakan publik, tidak bisa abu-abu, tapi harus jelas hitam putihnya. Pasal 9 Permen (Permendikbud Nomor 23/2017) tersebut juga tidak memberikan opsi bagi daerah/sekolah untuk melaksanakan atau tidak, tapi pelaksanaannya bertahap, artinya secara nasional tapi tidak dalam waktu yang bersamaan mulainya,” tambahnya.

Hari Santri 2019

Bagi Darmangtyas, pemberlakuan secara nasional itu menjadi inti kritik terhadap FDS. Kebijakan ini tak selaras dengan komitmen komitmen Presiden Joko Widodo yang “memberi ruang kepada daerah” karena kebijakan tersebut bersifat sentralistis, yang mengabaikan karakter geografis, insfrastruktur dan sarana transportasi, ekonomis, sosial, dan budaya sekolah di Indonesia.

(Baca juga: Soal FDS, Darmaningtyas: Masak Presiden Didorong Langgar Visi Misinya Sendiri?)



“Mengingat Indonesia ini amat luas dan beragam, serta janji Presiden Jokowi dalam kampanye dulu untuk menjamin keragaman dan budaya lokal dalam kebijakan pendidikan, maka kembalikan persoalan teknis: enam atau lima hari sekolah itu ke otonomi sekolah sesuai dengan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), bukan ditarik oleh Mendikbud,” tulis Darmangtyas dalam blogpribadinya. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri, Kajian Sunnah Hari Santri 2019

Kamis, 21 Desember 2017

Akan Blokir Al-Jazeera, Israel Dinilai Musuh Kebebasan Pers

Jerusalem, Hari Santri 2019

Israel berencana melarang saluran informasi Qatar, Al-Jazeera beroperasi di negara tersebut atas tuduhan sebagai pemicu kekerasan. Dengan demikian, Israel mengikuti jejak sejumlah negara Arab yang telah menutup penyiar media itu di tengah perselisihan politik mereka dengan Qatar.

Seperti dilansir AP, Menteri Komunikasi Israel Ayoob Kara mengatakan bahwa dia berencana untuk mencabut izin pers wartawan Al-Jazeera, yang secara efektif mencegah mereka untuk bekerja di Israel. Kara mengatakan, dia telah meminta jaringan kabel dan satelit untuk memblokir transmisi Al Jazeera dan meminta undang-undang untuk melarang mereka sama sekali.

Al-Jazeera yang bermarkas di Doha dalam situsnya berbahasa Inggris mengutuk tindakan tersebut sebagai tindakan yang "tidak demokratis" dan menyatakan akan mengambil langkah hukum. Al-Jazeera akan terus beroperasi di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Akan Blokir Al-Jazeera, Israel Dinilai Musuh Kebebasan Pers (Sumber Gambar : Nu Online)
Akan Blokir Al-Jazeera, Israel Dinilai Musuh Kebebasan Pers (Sumber Gambar : Nu Online)

Akan Blokir Al-Jazeera, Israel Dinilai Musuh Kebebasan Pers

Kepala biro penyiar di Yerusalem Walid al-Omari mengatakan, kantornya belum diberitahu oleh pejabat Israel tentang tindakan yang mungkin dilakukan pemerintah Israel.

Al-Jazeera, sebuah jaringan satelit pan-Arab yang didanai oleh pemerintah Qatar, sudah menjadi sasaran negara-negara Arab yang sekarang mengisolasi Qatar sebagai bagian dari sengketa politik selama berbulan-bulan. Qatar dituduh mendukung kelompok ekstremis. Yordania dan Arab Saudi baru-baru ini menutup kantor-kantor lokal Al-Jazeera, sementara saluran dan situs afiliasinya telah diblokir di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir dan Bahrain.

Hari Santri 2019

Pejabat Israel telah lama menuduh Al-Jazeera bersikap bias terhadap negara Yahudi tersebut. Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman telah menyamakan liputannya dengan propaganda "Nazi Jerman".

The Foreign Press Association (Asosiasi Pers Asing), mewakili wartawan yang meliput wilayah Israel dan Palestina untuk organisasi berita internasional, tengah mencermati masalah ini dan sedang mempelajari tentang langkah-langkah yang bakal diambil.

The Committee to Protect Journalists (Komite untuk Perlindungan Wartawan), sebuah kelompok advokasi yang berbasis di New York, mengkritik usulan Israel tersebut.?

"Menyensor Al-Jazeera atau menutup kantornya tidak akan membawa stabilitas ke kawasan itu. Justru tindakan tersebut akan menempatkan Israel secara jelas dalam deretan para musuh kebebasan pers yang paling parah di kawasan ini," kata Sherif Mansour, koordinator program Timur Tengah dan Afrika Utara komite itu.

Hari Santri 2019

Menurutnya, Israel harus meninggalkan rencana-rencana yang tidak demokratis ini dan mengizinkan Al-Jazeera beserta semua wartawan untuk melakukan kerja-kerja jurnalistik secara bebas di berbagai negara dan wilayah. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri, Doa Hari Santri 2019

Senin, 18 Desember 2017

GP Ansor Pragaan Langsungkan Dzikir Maulid dan Haul Gus Dur

Sumenep, Hari Santri 2019. Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Pragaan, Sumenep Madura, Jawa Timur melangsungkan acara dzikir maulidurrasul Nabi Muhammad SAW dan haul almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Rabu (30/12). Acara dimulai dengan tahlil khusus Gus Dur dan shalawat Nabi. Dalam kesempatan tersebut, GP Ansor Pragaan berkomitmen terus menghidupkan ibadah zikir.

Acara yang ditempatkan di lantai 2 gedung MWCNU Pragaan itu dihadiri Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Sumenep Muhri Zaen, ketua dan pengurus ranting GP Ansor se-kecamatan Pragaan.

GP Ansor Pragaan Langsungkan Dzikir Maulid dan Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pragaan Langsungkan Dzikir Maulid dan Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pragaan Langsungkan Dzikir Maulid dan Haul Gus Dur

Dalam sambutannya, Muhri Zaen menekankan supaya PAC GP Ansor dan ranting getol menghidupkan kegiatan majelis zikir dan shalawat rijalul Ansor.

Hari Santri 2019

Sementara itu, Ketua PAC GP Ansor Pragaan Moh Qudsi menyatakan, dalam acara itu, pihaknya mendatangkan KH Moh Zuhri Abdul Mughni (Rais MWCNU Pragaan) dan Ust Abd Wasith (PC GP Ansor Sumenep) sebagai pemberi taushiyah.

"Melalui acara ini, kita harapkan bisa mendapat syafaat Nabi dan berkah keilmuan Gus Dur," tegasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Bahtsul Masail, AlaSantri, Sholawat Hari Santri 2019

Selasa, 12 Desember 2017

Penampakan Rumah Cut Nyak Dien yang Kokoh Meski Diterjang Tsunami Aceh

Aceh Besar, Hari Santri 2019. Salah seorang pahlawan nasional perempuan asal Aceh, Cut Nyak Dien menjadi inspirator para perempuan di Aceh untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Penampakan Rumah Cut Nyak Dien yang Kokoh Meski Diterjang Tsunami Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Penampakan Rumah Cut Nyak Dien yang Kokoh Meski Diterjang Tsunami Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Penampakan Rumah Cut Nyak Dien yang Kokoh Meski Diterjang Tsunami Aceh

Di antara jejak perjuangannya, masyarakat Aceh dan bangsa Indonesia bisa menelusuri rumah Cut Nyak Dien yang terletak di daerah Lampisang, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Ketika memasuki area yang sudah diresmikan menjadi cagar budaya itu, masyarakat akan dihadapkan pada sebuah rumah panggung yang mempunyai luas tanah sekitar 200 meter persegi. 

Bangunan yang 100 persen terbuat dari material alam berupa kayu dan daun rumbia itu terlihat kokoh meskipun sempat diterjang bencana gempa dan gelombang Tsunami dahsyat yang menerjang Aceh pada 26 Desember 2004 silam.

Aisyah (55), seorang yang sudah 13 tahun menjaga rumah Cut Nyak Dien memaparkan, Tsunami memang memporak-porandakan sebagian besar wilayah Aceh. Namun rumah bersejarah Cut Nyak Dien tersebut tetap kokoh, bahkan menjadi salah satu tempat perlindungan warga saat Tsunami.

Hari Santri 2019

“Tsunami menerjang dan menenggelamkan rumah ini juga, tetapi tetap kokoh karena rumah ini tidak menggunakan paku tapi pasak,” ungkap Aisyah kepada Hari Santri 2019, Ahad (8/10) siang.

Di tengah melayani masyarakat yang sedang berkunjung melihat-lihat rumah Cut Nyak Dien, Aisyah yang rumahnya juga habis diterjang Tsunami ini menjelaskan, saat itu sejumlah warga naik ke rumah Cut Nyak Dien. Namun, setelah mengetahui bahwa volume air bah Tsunami terus meninggi, mereka menaiki atap.

“Sehingga yang rusak hanya bagian atap yang terbuat dari daun rumbia karena dibongkar oleh warga untuk menaiki atap,” terang Aisyah yang juga menjelaskan bahwa 100 persen rumah Cut Nyak Dien terbuat dari kayu ulin. Kayu yang dikenal kuat dan tahan rayap.

Rumah yang dikunjungi banyak masyarakat setiap tahunnya ini mempunyai sejumlah ruangan. Pintu masuk utama terdapat di sisi kanan. Warga langsung dihadapkan dengan ruangan tengah yang bisa langsung menuju serambi rumah.

Hari Santri 2019

Serambi rumah terdapat di sisi kanan dan sis kiri rumah. Di ruangan ini, terpampang foto-foto bersejarah perjuangan Cut Nyak Dien, Teuku Umar, dan masyarakat Aceh dalam melawan Belanda.

Masuk ke tengah bagian depan rumah, ada dua kamar khusus yang diperuntukkan bagi para dayang. Kamar dayang-dayang ini sejajar dengan dua serambi yang masing-masing mempunyai jendela di bagian depan.

Ada juga kamar untuk pembantu yang berhadapan langsung dengan ruang makan. Di ruang makan yang terdapat sejumlah kursi dan meja ini dimanfaatkan untuk memajang sejumlah senjata yangdigunakan masyarakat Aceh dalam berjuang.

Di antara senjata-senjata itu di antaranya Rencong, parang jenis singrong, parang jenis cot lantring, parang jenis ladieng, pedang, dan tombak. 

Adapun kamar Cut Nyak Dien terletak di bagian belakang rumah. Terdapat ruangan khusus untuk menerima tamu yang terletak sejajar dengan kamar Cut Nyak Dien.

Namun, rumah yang nampak kokoh dengan cat mayoritas warna hitam yang membalutnya merupakan replika dari rumah asli dengan bentuk yang sama persis. Rumah Cut Nyak Dien sendiri dibakar habis oleh Belanda pada 1896 dan tidak menyisakan apapun.

“Kecuali sumur yang masih asli di bagian depan rumah karena ia terbuat dari semen,” ungkap Aisyah. Sumur ini menjulang tinggi sekitar 3 meter dari atas permukaan tanah. Menurut pengakuan Aisyah, sumur yang hingga sekarang masih ada airnya itu memiliki kedalaman 18 meter.

Selain wisatawan domestik, sejumlah wisatawan mancanegara juga sering berkunjung di rumah yang dipugar kembali pada 1981 silam ini. 

“Warga Malaysia sering sekali berkunjung ke sini karena mereka ada ikatan emosional karena Sultan Pahang mempunyai istri orang Aceh,” tutur Aisyah.

Dia juga menerangkan, masyarakat Eropa dan Amerika juga sering pernah berkunjung ke rumah Cut Nyak Dien di antaranya dari negara Jerman, Belanda, Kanada, dan Amerika Serikat.

“Biasanya mereka didampingi guide masing-masing,” tandas Aisyah. Para pengunjung juga bisa menelusuri jejak sejarah dari perpustakaan yang terletak di dalam komplek rumah Cut Nyak Dien.

Cut Nyak Dien lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh pada 1848. Ia meninggal dalam pengasingannya di Sumedang, Jawa Barat pada 1906. Ia diasingkan oleh Belanda karena dinilai mempunyai pengaruh kuat yang bisa menggerakkan masyarakat Aceh dalam melawan Belanda. Ia dimakamkan di daerah Gunung Puyuh Sumedang. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, AlaSantri Hari Santri 2019

Minggu, 10 Desember 2017

PMII Banda Aceh Gelar Kopdar Nusantara

Banda Aceh, Hari Santri 2019. Pengerus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Banda Aceh mengadakan kopdar Nusantara di Mizan Kupi, Lampineung Sabtu, 29 April 2017.

Ketua Umum PMII Akmal mengatakan, dalam kopdar Nusantara ini adalah sebuah anugerah terbesar bisa berkumpul di tanah rencong dengan sahabat-sahabati PMII se-Nusantara walaupun tidak semuanya dikarenakan mempunyai kewajiban dalam tugas mewakili kampus.

PMII Banda Aceh Gelar Kopdar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Banda Aceh Gelar Kopdar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Banda Aceh Gelar Kopdar Nusantara

Akmal juga berpesan silaturrahim ini harus tetap sampa bertemu dalam acara kongres yang sebentar lagi akan diselenggarakan.

"Kongres ini adalah kongres dengan seduhan aswaja dalam jiwa kita tanpa ada hal yang tidak kita inginkan," jelasnya?

Hari Santri 2019

Salah satu mewakili dari Kota Salatiga, Wasi menambahkan walaupun kita di Aceh tujuan awalnya adalah berkompetisi dalam Pionir ke VIII.

"Karena sahabat/i terikat dalam suatu ikatan yang sangat luar biasa yaitu PMII kita semua awalnya saling bersaing tapi malam ini kita bisa duduk bersama, ngopi bersama," ujarnya

Arif juga mengatakan suatu kebanggaan selaku kader PMII Cabang Kota Palopo Karena telah berkesempatan untuk duduk bareng dengan sahabat(i) se-Nusantara di Kota Banda Aceh.

Hari Santri 2019

"Sekali lagi terima kasih kepada PC. PMII Kota Banda Aceh yang telah memberikan wadah bagi kami untuk kumpul bareng sahabat(i) se-Nusantara di Banda Aceh. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri, Internasional, Aswaja Hari Santri 2019

Selasa, 05 Desember 2017

Bertemu di Jakarta, Alumni Suriah Jamin Tak Terlibat ISIS

Jakarta, Hari Santri 2019. Para alumni beberapa perguruan tinggi dan ma’had di Suriah yang berasal dari Indonesia akan mengadakan pertemuan di Jakarta, Sabtu (28/3) besok. Dalam keterangannya kepada Hari Santri 2019, mereka menjamin tidak ada satu pun alumni yang terlibat dalam kelompok radikal ISIS yang berpusat di Suriah dan Irak.

Pertemuan alumni akan diadakan di Puncak Bogor dimulai Sabtu pagi dan akan berlangsung sampai Ahad. Para alumni dari luar kota sebelumnya akan menginap di Pondok Pesantren Al-Kenaniyah Pulomas, Jakarta Timur.

Bertemu di Jakarta, Alumni Suriah Jamin Tak Terlibat ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Bertemu di Jakarta, Alumni Suriah Jamin Tak Terlibat ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Bertemu di Jakarta, Alumni Suriah Jamin Tak Terlibat ISIS

Menurut Ketua Panitia H Fathir Hambali, pertemuan alumni diadakan rutin setiap tahun. “Ini pertemuan keempat. Tahun kemarin pertemuan diadakan di Surabaya,” katanya.

Menurut Fathir, saat ini ada sekitar 150 alumni Suriah yang ada di Indonesia. Mereka belajar sejak tahun 1990-an. di beberapa kapus dan ma’had seperti Universitas Damaskus, Universitas Abu Nur, Ma’had Fatah dan beberapa ma’had di Damaskus.

Hari Santri 2019

Sementara mahasiswa dan santri yang saat ini masih mengenyam pendidikan di Suriah hanya berjumlah sekitar 20 orang. “Mereka terpusat di Damaskus dan dijamin steril dari ISIS, karena ISIS tidak menjangkau wilayah Ibukota,” katanya.

Terkait pergerakan ISIS yang menjadi isu global saat ini, menurut Fathir, para alumni dipastikan tidak akan bergabung dengan kelompok daulah khilafah Irak dan Suriah itu.

“Mereka belajar dari ulama Ahlussunnah wal Jamaah dan mengikuti empat madzhab seperti Indonesia. Jadi secara ideologis apa yang kita pelajari sangat berbeda dengan apa yang dikembangkan dan diyakini kelompok ISIS yang suka kekerasan, suka mengkafirkan,” katanya.

Menurut Fathir yang juga Ketua Alumni Suriah di Indonesia, beberapa karya ulama Suriah yang dipelajari oleh para alumni saat ini sudah menjadi bahan kajian di pesantren-pesantren di Indonesia dan sudah diterima oleh para kiai, seperti karya-karya Syekh Al-Buthi dan Syekh Wahbah Zuhaili.

Hari Santri 2019

Ditambahkan, warga Indonesia yang mungkin bergabung dengan ISIS bukan mahasiswa atau santri alumni Suriah. “Yang paling mungkin bergabung adalah mereka yang baru belajar agama lalu dicuci otaknya dan diajak bergabung,” katanya.

“Kita juga perlu mengingatkan bahwa ISIS bukan persoalan agama, tetapi persoalan politik yang dibawa ke agama,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

Foto: Beberapa alumni Suriah menyambut kehadiran Syekh Wahbah Zuhaili di Indonesia tahun 2014 lalu

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri, Internasional, Lomba Hari Santri 2019

Sabtu, 02 Desember 2017

IPNU Probolinggo Sosialisasikan Cegah Kawin Dini

Probolinggo, Hari Santri 2019 - Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Probolinggo untuk mencegah perkawinan dini. Mereka melakukan sosialisasi Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) di lembaga pendidikan yang berada di wilayah MWCNU Tongas, Sabtu (12/3).

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala BPPKB Probolinggo dr Hj Endang Astuti, Ketua MWCNU Tongas, Ketua IPNU Probolinggo Babussalam, Kepala KUA Tongas, Sekretaris Tongas dan Ketua MWCNU Tongas Abdul Hamid.

IPNU Probolinggo Sosialisasikan Cegah Kawin Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Probolinggo Sosialisasikan Cegah Kawin Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Probolinggo Sosialisasikan Cegah Kawin Dini

Sosialisasi ini diikuti oleh 100 orang peserta yang merupakan siswa SMA dan sederajat yang ada di wilayah Kecamatan Tongas. Dalam sosialisasi PUP ini mereka mendapatkan materi tentang pentingnya menikah pada usia yang ideal dan matang sehingga mampu membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Babussalam mengatakan bahwa IPNU sebagai organisasi pelajar sangat antusias dalam membangun sinergi yang pada hakikatnya memiliki kesamaan tujuan dengan BPPKB Probolinggo meskipun berbeda dalam proses saja.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

“Dengan kegiatan ini, IPNU ingin mewujudkan program wajib belajar 12 tahun melalui proses kaderisasi dan pengembangan organisasi. Sedangkan BPPKB ingin menurunkan angka pernikahan dini melalui sosialisasi dan semacamnya,” katanya.

Ia berharap sosialisasi tidak hanya sampai di sini. Ia berharap kader yang memperoleh informasi menyampaikan kembali informasi yang didapat baik melalui teman sebaya maupun melalui tetangga di lingkungan sekitarnya.

Sedangkan dr Hj Endang Astuti mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan Indek Pembangunan Manusia (IPM) Probolinggo.

“Di samping itu untuk mengurangi angka pernikahan dini dengan cara mewujudkan program wajib belajar 12 tahun. Tetapi upaya ini tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari orang tua dan lingkungan sekitar,” katanya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Hikmah, AlaSantri, Internasional Hari Santri 2019

Rabu, 29 November 2017

Kondisi Makam Ibnu Hajar Al-Asqalani Memprihatinkan

Solo, Hari Santri 2019. Siapa tidak mengenal Syaikh Ibnu Hajar Al-Asqalani? Ulama asal daerah Asqolan ini begitu besar jasanya bagi perkembangan keilmuan Islam, khususnya di bidang ilmu Hadist, melalui beberapa karyanya, antara lain kitab Fathul Bari, Bulughul Maram dan lainnya.

Kondisi Makam Ibnu Hajar Al-Asqalani Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kondisi Makam Ibnu Hajar Al-Asqalani Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kondisi Makam Ibnu Hajar Al-Asqalani Memprihatinkan

Namun, baru-baru ini terdengar kabar memprihatinkan yang datang dari Mesir, tempat Ibnu Hajar dimakamkan. Diberitakan, kondisi makam penulis kitab Al-Isabah fi Tamyizis Shahabah, ensiklopedi para sahabat, ini dalam kondisi rusak tak terawat.

Menurut penuturan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Agus Maftuh, yang kini tengah berada di Kairo, kondisi atap makam Syaikh Ibnu Hajar sudah hancur dan di luar makam banyak dipenuhi kotoran hewan.

Hari Santri 2019

“Sedih dan trenyuh ketika melihat peristirahatan terakhir (Ibnu Hajar) yang hampir runtuh. Tahun 2005 ketika saya ziarah kondisinya masih bagus, tapi sekarang atapnya sudah hancur dan di depan pintu penuh kotoran hewan karena dijadikan pasar hewan,” ungkap Agus Maftuh dalam akun facebook-nya, Jumat (22/8).

Hari Santri 2019

Menurut Agus, kondisi ini diperparah dengan ulah yang dilakukan oleh beberapa oknum yang meletakkan tumpukan tanah di depan pintu makam. “Tumpukan tanah, sengaja ditempatkan di depan pintu agar orang tidak meziarahi ulama besar ini karena Wahabi menganggapnya ‘ulama sesat’ dan makamnya pernah akan mereka hancurkan,” terang Agus.

Penulis pengantar dalam buku Islam Kosmopolitan karya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menambahkan, saat ini kota asal Ibnu Hajar, Asqolan atau Asqelon yang kini masuk wilayah Israel, tengah diliput banyak media Internasional. “Semoga barokahe Ibnu Hajar, para kaum Yahudi, Islam, dan Kristen dapat rukun,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri, Sejarah, Amalan Hari Santri 2019

Jumat, 24 November 2017

PBNU: 1 Miliar Shalawat Nariyah Ikhtiar Makmurkan Negeri

Jakarta, Hari Santri 2019. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Manan A. Ghani mengungkapkan bahwa pembacaan 1 miliar shalawat nariyah dari warga NU merupakan ikhtiar spiritual untuk memakmurkan bangsa dan negara Indonesia.

PBNU: 1 Miliar Shalawat Nariyah Ikhtiar Makmurkan Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: 1 Miliar Shalawat Nariyah Ikhtiar Makmurkan Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: 1 Miliar Shalawat Nariyah Ikhtiar Makmurkan Negeri

Hal ini disampaikan oleh Kiai Manan saat memberikan taushiyah usai pembacaan shalawat nariyah, Jumat (21/10) di masjid An-Nahdlah PBNU Jakarta. Jamaah yang memadati Masjid An-Nahdlah terlihat khidmat menyelami baris demi baris shalawat yang diyakini mendatangkan banyak keberkahan itu.

“Manusia yang rajin dan rutin bershalawat, tak perlu khawatir mengalami kefakiran. Sebab itu, 1 miliar shalawat nariyah ini upaya NU dan warganya agar Indonesia diberi keberkahan, kemakmuran, keadilan, damai, dan kesejahteraan oleh Allah SWT,” urai Kiai Manan.

Gerakan 1 miliar shalawat nariyah yang dimaksudkan untuk memperingati Hari Santri Nasional 2016 ini, menurut kiai asal Cirebon Jawa Barat ini harus dipahami juga secara historis.?

Kalangan santri dan kiai berjuang secara lahir dan batin, juga material dan spiritual untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. “Sebab itu selain ikhtiar sosial, 1 miliar shalawat nariyah ini merupakan upaya spiritual untuk menjaga negeri sebagaimana yang telah diwariskan oleh para santri dan ulama pejuang kita,” tuturnya.

Hari Santri 2019

Kekuatan spiritual dan peningkatan moral dari bangsa Indonesia yang lahir dari Fatwa Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 mampu menghalau tentara Belanda yang membonceng NICA untuk kembali menjajah Indonesia.

Hari Santri 2019

Pada pertempuran maha dahsyat pada 10 November 1945 di Surabaya yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan merupakan pertarungan para santri untuk mengusir Belanda dan Sekutu. “Jangan sampai santri dianggap justru tidak ikut berperang. Tulisan-tulisan sejarah banyak yang menutu-nutupi fakta itu,” ujar Kiai Manan.

Lebih jauh, Kiai Manan menjelaskan tentang aset atau kekayaan NU, bukan dalam bentuk materi, tetapi modal-modal berharga seperti aset kultural, meliputi 90-an juta warga NU di seluruh dunia yang menahbiskan NU sebagai Ormas Islam terbesar di dunia.

“Lalu aset fisik seperti mushola, masjid, majelis taklim, sekolah, madrasah, pesantren, dan lain-lain. Selain itu aset amaliyah seperti tradisi-tradisi keagamaan. Semua itu harus kita jaga,” tegasnya.?

Pembacaan shalawat nariyah di Masjid An-Nahdlah PBNU dihadiri oleh Ketua PBNU H Sulthonul Huda, Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Maman Imanulhaq, Ketua LTN PBNU H Juri Ardiantoro, dan sejumlah pengurus lembaga serta banom NU. Sebelumnya, kegiatan didahului dengan Khotmil Qur’an. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri, Kiai Hari Santri 2019

Kamis, 23 November 2017

Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras

Seandainya pemuda ini berhenti belajar, yaitu dalam pengertian menerima begitu saja terhadap doktrin dan pemahaman Islam yang diajarkan para ustadznya di sebuah lembaga pendidikan Islam yang bercorak garis keras tempatnya dahulu menimba ilmu, dan tanpa mencari perbandingan pemahaman dari sumber yang lain, besar kemungkinan saat ini dia menjadi sosok ekstremis yang sinis pada dasar negara Pancasila dan bentuk NKRI serta tetap meyakini bahwa pengertian jihad dalam Al-Quran adalah melulu berarti perang fisik melawan non-Muslim.

Orang itu sebutlah Yanto (bukan nama sebenarnya). Lelaki asal Lamongan Jawa Timur ini pernah selama empat tahun dididik dan belajar di suatu lembaga pendidikan yang terletak di salah satu daerah di Salatiga, Jawa Tengah, yang berpaham tidak kompromis dengan tradisi lokal. Walau di lembaga pendidikan yang semula berbasis di Solo tersebut dia tempuh sampai lulus bahkan sempat menjalankan masa pengabdian selama kurang lebih satu tahun tapi kini pemikiran, sikap dan perilaku Yanto tidak ekstrem sebagaimana umumnya kelompok garis keras aliran Islam tertentu.

Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras

Padahal selama Yanto belajar di instansi pendidikan tersebut ia tidak lepas pula mendapatkan doktrin yang kontra dengan Pancasila bahkan Pancasila itu dianggap bagian dari taghut. Begitu pula pengertian tentang jihad yang ditekankan oleh guru-gurunya adalah berarti qitaal atau perang fisik, tanpa memberi alternatif tafsiran lain beserta konteks-konteks lapangan jihad yang lebar.

Tapi beruntung Yanto termasuk pelajar yang memiliki kebiasaan bertafakkur atau berefleksi pada waktu-waktu tertentu. Sehingga ada beberapa hal yang ia dapatkan di lembaga itu dirasanya janggal, terutama interpertasi makna jihad yang ekstrem. Dia pun coba membuka refrensi lain di luar yang diajarkan di lembaganya. Salah satunya ia membuka Tafsir Al-Azhar karangan Buya Hamka. Ternyata di kepustakaan yang ia telaah didapatinya bahwa arti jihad tidak sesempit yang diajarakan ustadznya. Ia memperoleh tafsiran jihad lebih luas.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Pada suatu hari sekitar tahun 2001 untuk lebih memantapkan keyakinannya, Yanto berinisiatif menemui kiai di luar madrasahnya yang sudah dikenal kealimannya. Akhirnya dia dengan mengajak salah satu temannya memutuskan sowan kepada KH. Maimun Zubair? Rembang untuk mengutarakan kebingungannya. Salah satu nasihat taktis yang sampai saat ini? tetap membekas di hati Yanto dari ucapan Mbah Maimun saat dia sowan adalah kalimat:? ? ? ?

"Islam dan kafir itu sama-sama Allah yang menciptakan. Kalau di dunia tidak ada yang kafir buat apa Allah menciptakan neraka segala, kok tidak cuma surga saja? Coba kenapa pula Allah menciptakan babi padahal babi diharamkan?"

Jawaban filosofis Mbah Maimun Zubair itu begitu mengena di benak Yanto dan makin menyadarkan akan kesalahan pemahaman term “jihad" yang selama ini ia peroleh dari ustadznya. Pun Yanto menjadi sadar jika ajarannya yang dahulu diserap tidak relevan diterapkan dalam kehidupam masyarakat yang plural seperti Indonesia ini.? ? ? ?

Usai sowan mencari perbandingan pemahaman jihad dari pada Mbah Maimun, Yanto tiap kali ada acara halaqoh atau diskusi kelompok di kelasnya sering berseberangan pendapat dengan kebanyakan kawan-kawannya yang umumnya tetap bersiskukuh pada anti Pancasila dan pro jihad perang. Meski Yanto tidak dikucilkan, tapi sejak dia sering berseberangan pendapat kemudian ia dianggap melakukan bughat.

Ketika Yanto? sudah dianggap bughat dalam komunitasnya, teman-temannya itu tidak menyerah untuk terus mempengaruhi Yanto agar kembali seideologi lagi sebagaimana semula. Bahkan kendati sudah pulang di rumah, lewat berbagai cara kawan-kawannya selalu berusaha mengajak supaya kembali berhalun "Islam ala Arab".

Pernah ia memutuskan kontak dengan teman-tema lamanya tersebut, ternyata ada saja orang baru dan nama asing yang mencoba menghubunginya, yang ujung-ujungnya mengajak berpaham Islam garis keras tersebut. Bahkan Ketika dia menikah dan ada salah satu kawan lamanya yang seangkatan dulu mengetahui dirinya akan menikah, ternyata temannya tersebut datang dan memberi kado. Isi kado itu tak lain adalah buku-buku dan majalah yang topik-topik isinya termasuk propaganda atau penyebaran semacam gerakan transnasional. Begitulah mereka memakai seribu satu modus demi menarik kembali anggota seideologinya yang sudah dicap melakukan bughat. (M. Haromain)

Ditulis berdasarkan penuturan informan yang bertemu penulis beberapa bulan lalu saat Lebaran.



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri, Fragmen, Tokoh Hari Santri 2019

Selasa, 21 November 2017

NU Jatim Surati Kapolri Terkait Diskriminasi Lulusan Madrasah

Sumenep, Hari Santri 2019. Kasus diskriminasi Polres Sumenep terhadap Moh. Azhari, alumnus Madrasah Aliyah 2 An-Nuqayah, Sumenep, tampaknya akan berbuntut panjang. Pasalnya, Keluarga Besar NU Jawa Timur tetap meminta Kapolri membatalkan hasil rekrutmen bintara Brimob dan Dalmas yang telah berjalan.?

"Kami akan segera mengirimkan surat kepada Kapolri, dengan tembusan kepada Presiden RI dan Ketua DPR RI. Kami minta, hasil rekrutmen yang telah berjalan dibatalkan demi hukum," ujar Ketua Pimpinan Wilayah Lembaga Pendidikan Maarif NU Jawa Timur Akhmad Muzakki.

NU Jatim Surati Kapolri Terkait Diskriminasi Lulusan Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jatim Surati Kapolri Terkait Diskriminasi Lulusan Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jatim Surati Kapolri Terkait Diskriminasi Lulusan Madrasah

Komitmen tersebut disampaikan Muzakki di hadapan rombongan pengurus Pondok Pesantren An-Nuqayah Sumenep yang bersilaturrahmi ke PWNU Jatim, Senin (23/7) sore. Rombongan yang dipimpin Ketua Yayasan An-Nuqayah Taufiqurrahman itu bermaksud menyampaikan terima kasih atas perhatian PWNU Jatim dan mengkoordinasikan langkah-langkah yang perlu diambil. Tampak hadir dalam pertemuan tersebut, Rais Syuriah KH Miftahul Akhyar bersama beberapa pengurus PWNU. Juga Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) NU Maruf Syah dan Bendahara LP Maarif Mujib Hasyim.

Hari Santri 2019

Menurut Muzakki, surat tersebut juga akan ditembuskan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Komnas HAM, Komisi X DPR RI, dan Komisi Kepolisian Nasional. "Kami melihat, praktik diskriminasi ini bukan sekadar kelalaian atau kesalahpahaman. Tapi, sudah masuk pada ranah pelanggaran hak asasi manusia," imbuh dosen pascasarjana IAIN Sunan Ampel tersebut.?

Sementara itu, Ketua Yayasan An-Nuqayah Taufiqurrahman menuturkan bahwa pihaknya telah meminta Polres Sumenep menjelaskan secara terbuka tentang dasar hukum yang sah dan relevan atas ditolaknya ijazah MA 2 An-Nuqayah. "Penjelasan tersebut harus disampaikan melalui sekurang-kurangnya dua media cetak lokal, dua media elektronik lokal, serta tiga media cetak nasional dan tiga media elektronik nasional," tandasnya.

Hari Santri 2019

Pernyataan Taufiqurrahman didukung oleh KH Ainul Yaqin, perwakilan pengasuh An-Nuqayah yang hadir dalam pertemuan tersebut. Ditambahkannya, jika Polres Sumenep tidak memberikan penjelasan sampai batas waktu yang telah ditetapkan, maka pihak Polres Sumenep harus meminta maaf kepada publik melalui media serupa. "Permintaan maaf tersebut tidak hanya ditujukan kepada Madrasah Aliyah 2 dan Pondok Pesantren An-Nuqayah, tapi kepada seluruh lembaga pendidikan formal yang mengikuti sistem pendidikan nasional dan bernaung di bawah pesantren yang memiliki badan hukum," tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, pengacara kondang yang juga Ketua LPBH NU Maruf Syah menyatakan kesiapannya untuk mengawal kasus diskriminasi tersebut hingga tuntas.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Nur Hidayat

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri, Tegal Hari Santri 2019

Sabtu, 18 November 2017

LAZISNU Kudus Tebar Ratusan Kotak Infaq ke Warung dan Pengurus NU

Kudus, Hari Santri 2019. Lembaga Amal Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, telah menyebarkan ratusan kotak infaq. Hal ini untuk mempermudah masyarakat mendermakan uang infaq dan sedekah melalui lembaga di bawah naungan Pengurus Cabang NU (PCNU) Kudus ini.

Ketua LAZISNU Kudus Syaroni Suyanto menjelaskan, ratusan kotak infaq berlabel LAZISNU tersebut ditempatkan di beberapa toko maupun warung nasi, serta dibagikan kepada pengurus NU mulai ranting hingga cabang. Tiap satu bulan sekali, uang dari kotak akan diambil oleh petugas LAZISNU. ?

LAZISNU Kudus Tebar Ratusan Kotak Infaq ke Warung dan Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Kudus Tebar Ratusan Kotak Infaq ke Warung dan Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Kudus Tebar Ratusan Kotak Infaq ke Warung dan Pengurus NU

"Sebelumnya, LAZISNU izin dulu dengan pemilik toko atau warung untuk bisa titip kotak infaq. Alhamdulillah, semuanya memberi izin dan berkenan menjaga keamanan kotak," terangnya kepada Hari Santri 2019, Jumat (13/3).

Hari Santri 2019

Ia mengatakan, LAZISNU Kudus kini sedang menggerakkan empat program utama, yakni NUpreneur, NU Skill, NU Smart dan NU Care. Masing-masing program dimaksudkan untuk membantu kesejahteraan fakir miskin, kaum dhuafa, dan anak yatim piatu.

"Hasil pengumpulan dana zakat, infaq, sedekah, termasuk dari uang kotak infaq itu, akan dikelola dan disalurkan untuk program kepedulian sosial yang dikembangkan LAZISNU," ujarnya.

Hari Santri 2019

Hingga kini, imbuh Syaroni, LAZISNU telah menggerakkan berbagai program sosialnya di Kudus. Di antaranya, santunan anak yatim piatu hingga pemberian nasi kotak kepada kaum dhuafa. "Setiap Jumat kita membagikan 50 nasi kotak untuk kaum dhuafa di seluruh kecamatan secara bergantian," katanya.

Ia mengharapkan masyarakat yang ingin menyalurkan zakat, infaq, dan sedekah atau CSR perusahaan, bisa menghubungi? kantor LAZISNU di Jalan Pramuka 20, Kudus, atau khusus sedekah bisa dimasukkan ke kotak yang tersedia. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tegal, AlaSantri, Budaya Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock