Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

Muslimat NU Probolinggo Gelar Diklat Managemen dan Administrasi

Probolinggo, Hari Santri 2019 - Dalam rangka mewujudkan organisasi yang baik dan profesional, Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo memberikan pendidikan dan pelatihan (diklat) managemen dan administrasi di Wisma Oecik Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo, Sabtu dan Ahad (16-17/9).

Kegiatan ini diikuti oleh 100 orang peserta perwakilan dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) dari 11 kecamatan dan pengurus Muslimat NU Kabupaten Probolinggo. Dalam kegiatan ini mereka diberikan materi tentang keorganisasian, kepemimpinan, pengelolaan managemen, administrasi, Aswaja, Sejarah NU serta citra diri (sinergi dengan TP PKK Kabupaten Probolinggo).

Muslimat NU Probolinggo Gelar Diklat Managemen dan Administrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Probolinggo Gelar Diklat Managemen dan Administrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Probolinggo Gelar Diklat Managemen dan Administrasi

Diklat yang dibuka secara resmi oleh Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU Provinsi Jawa Timur Hj Masruroh Wahid ini dihadiri oleh Ketua Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj Nurhayati dan segenap pengurus harian.

Hari Santri 2019

Hj Masruroh Wahid mengatakan, kegiatan ini digelar dengan harapan mampu memberikan support bagaimana organisasi serta perannya dapat berjalan sesuai dengan harapan serta petunjuk PP Muslimat NU yang telah ditetapkan melalui Kongres Muslimat NU di Jakarta.

“Semua anggota Muslimat diharapkan dapat mengetahui organisasi Muslimat NU sesuai AD ART, baik dari pusat hingga ke anak ranting. Karena peran Muslimat NU ke depan banyak sekali tantangan serta perannya tidak hanya sekadar istighotsah dan Yasinan akan tetapi sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan,” katanya.

Menurut Masruroh, tujuan kegiatan ini sebagai salah satu bentuk dan upaya Muslimat NU untuk lebih meningkatkan peran sertanya anggota Muslimat dengan diberikan bekal supaya dapat diaplikasikan di masyarakat sehingga peran Muslimat NU sudah tidak diragukan lagi.

Hari Santri 2019

“Harapannya dapat mencetak kader-kader pengurus Muslimat NU yang lebih peduli, ikhlas, maju, mandiri dan memberikan sesuatu yang berarti demi kepentingan umat NU di seluruh Kabupaten Probolinggo,” harapnya.

Ketua Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj Nurhayati mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mengukuhkan dan menguàtkan serta mengembangkan kader dan pengurus Muslimat NU yang berkualitas serta berkesinambungan serta meningkatkan wawasan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) juga kemampuan manajemen dan administrasi.

“Selain itu, untuk mengonsolidasikan seluruh potensi minat, bakat dan skill kader dan pengurus Muslimat NU. Disamping juga mensinergikàn kemampuan organisasi yang efektif untuk mencapai tujuan organisasi,” katanya.

Selama kegiatan ini, para pengurus Muslimat NU ini mendapatkan wawasan tentang tertib organisasi, tertib administrasi, tertib keuangan, tertib program serta tertib evaluasi dan monitoring.

“Melalui kegiatan ini diharapkan nanti mampu menyiapkan kader Muslimat NU Kabupaten Probolinggo yang mumpuni dalam menghadpi perubahan dan kemajuan zaman,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News Hari Santri 2019

Senin, 12 Februari 2018

Tim Robot MA Unggulan Nuris Raih Juara 3 dan Best Design

Jember, Hari Santri 2019 - Tim robot MA Unggulan Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember kembali mengukir prestasi dalam kompetisi robotika se-Jawa Timur di kampus Universitas Narotama, Surabaya, belum lama ini. Dalam kompetisi yang bertajuk Robot Line Follower tersebut, tim robot MA Unggulan Nuris digawangi oleh Miftahul Ulum dan M Firman? Muhaimin. Keduanya mengikutkan dua robot sekaligus dalam lomba tersebut. Robot pertama berhasil meraih juara tiga. Sedangkan robot kedua menyabet kategori best design.

Alhamdulillah, kami bangga bisa meriah prestasi, walaupun cuma juara tiga,” ujar Firman di sela-sela kegiatan sekolah di Jember, Sabtu (11/2).

Tim Robot MA Unggulan Nuris Raih Juara 3 dan Best Design (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Robot MA Unggulan Nuris Raih Juara 3 dan Best Design (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Robot MA Unggulan Nuris Raih Juara 3 dan Best Design

Kebanggaan yang dirasakan Firman bisa dimafhumi. Sebab, MA Ungguan Nuris merupakan satu-satunya madrasah yang meraih juara dalam ajang tersebut. Kompetisi itu sendiri diikuti oleh 21 tim dari SMA dan yang sederajat se-Jawa Timur.

Hari Santri 2019

Menurut Firman, dalam lomba tersebut robot harus disusun dengan dimensi tak melebihi 20 sentimeter dengan bobot maksimal 2 kilogram. Robot dilarang menggunakan bahan bakar minyak dan tegangan baterai maksimal 12 volts. “Jadi merancangnya harus benar-benar pas,” ucap siswa kelas X IPA-A MA Unggulan Nuris itu.

Ia menambahkan, lomba itu cukup sulit. Semua robot harus mampu melewati medan lintasan berupa garis (line-follower) berwarna hitam dengan dasar putih dalam waktu tiga menit. Garis putus-putus di lintasan merupakan kesulitan tersendiri bagi robot. “Sebab, sensor robot bisa-bisa tidak bekerja dengan baik karena bingung. Penilaian dilihat dari desain, kecepatan, dan ketepatan robot berjalan di garis yang telah disediakan panitia,” lanjutnya.

Hari Santri 2019

Secara terpsiah, Kepala MA Unggulan Nuris Jember Ning Balqis Al-Humairo mengapresiasi capaian yang diraih anak didiknya itu. “Saya bersyukur atas prestasi anak-anak kami yang telah mampu menorehkan prestasi robotika ini. Semoga ke depan anak-anak terus terpacu untuk meningkatkan prestasi di segala bidang yang mereka kuasai. Amin,” katanya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News, Tokoh Hari Santri 2019

Minggu, 21 Januari 2018

Indonesia Salah Besar Tinggalkan Pola Pesantren dalam Pendidikan

Semarang, Hari Santri 2019

Mantan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Prof Dr Imam Suprayoga menyatakan, sistem pendidikan di Indonesia telah salah besar karena meninggalkan pola pesantren. Ia katakan, pendidikan terbaik adalah model pondok pesantren. Maka jika ingin sekolah atau perguruan tinggi menghasilkan lulusan terbaik, buatkan dengan mengikuti model pesantren.

Indonesia Salah Besar Tinggalkan Pola Pesantren dalam Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Salah Besar Tinggalkan Pola Pesantren dalam Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Salah Besar Tinggalkan Pola Pesantren dalam Pendidikan

Namun, pesantren juga perlu dikembangkan manajemennya atau bidang entrepreneurshipnya. Beberapa kekurangan di lembaga pesantren seperti tata administrasi juga perlu dibenahi agar semakin sempurna kebaikannya

Guru  besar yang semasa menjadi rektor UIN Malang mengasramakan 4 ribu mahasiswanya ini menyatakan hal itu saat menjadi pembicara dalam Seminar Entrepreneur & Soft Launching 50 Tahun Dies Natalis IKIP Veteran (Ivet) Semarang, di Auditorium kampus tersebut di Jalan Pawiyatan Luhur Semarang, Selasa, (23/2/2016).

"Filosofi pendidikan itu harusnya menunggui murid sepanjang masa belajar. Seperti ayam betina mengerami telurnya. Maka guru maupun lembaga pendidikan perlu menerapkan pola pengasuhan. Dan itu berarti memakai pola pondok pesantren," ujar guru dosen senior yang pernah 41 tahun menjadi kepala madrasah dan sekolah di Jawa Timur ini.

Ia jelaskan, pesantren menerapkan pendidikan kepada hati. Kepada jiwa. Mendidik akhlak agar sempurna mulia. Hasilnya, tidak hanya hati yang menjadi bercahaya, melainkan otak juga cemerlang. Terbukti, diungkapkannya, semua lulusan terbaik setiap wisuda sarjana di UIN Malang selalu mahasiswa yang tinggal di asrama mahasiswa. Di pesantren kampus. Dan hampir semuanya hafal Al-Quran.

Hari Santri 2019

"UIN Malang mengasramakan mahasiswa dengan maksud mengontrol belajar mereka agar lulus cepat dengan nilai bagus. Ternyata dengan pola pondok pesantren yang menekankan aspek moral, kami dapat bonus. Para mahasiswa yang adalah santri itu tidak hanya menjadi pintar akademiknya, melainkan juga hafal kitab sucinya. Jadi karena mereka menghafalkan Al-Quran, otaknya jadi encer dan ilmu begitu mudah dikuasai," tuturnya disambut tepuk tangan hadirin.

Hari Santri 2019

Imam menceritakan, dulu semasa ia pertama menjadi rektor, UIN Malang adalah kampus kecil kelas ndeso. Namanya Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Malang. Mahasiswanya hanya sedikit dan hanya berasal dari Malang dan sekitarnya. Dosennya hanya 43 orang dan sudah tua semua. Enam bulan diberi tugas mengajar, sudah tujuh orang yang meninggal dunia.

Lalu dengan keyakinan kuat, ia ajak seluruh elemen kampus untuk memajukan almamater. Caranya dengan mengamalkan sebuah hadis Rasulullah tentang perlunya memiliki tamu yang banyak, karena tamu membawa berkah.

"Kami dulu kampus kecil tidak terlihat. Lalu kami bertekad maju, kami buat agar punya banyak tamu. Dengan mencari celah apapun yang bisa mengundang orang mau datang bertamu. Alhamdulillah hasilnya nyata," paparnya.

Kepada para kepala SMK berbasis pesantren yang hadir dalam seminar tersebut Imam memberi saran, setiap SMK harus mencari dan menonjolkan keunikan masing-masing agar mengundang datangnya tamu. Tamu yang banyak akan membuat para pegawai, dosen, dan mahasiswa bangga. Lalu bersemangat ingin menunjukkan yang terbaik kepada para tamunya. Jadi, tanpa diceramahi rektor, seluruh elemen kampus bergerak, berimprovisasi untuk kemajuan kampusnya. Itulah kunci awal perkembangan.

Pentingkan bahasa asing

Imam mengaku heran dengan para pemangku perguruan tinggi. Semua mengeluh soal kurangnya penguasaan bahasa asing para dosen maupun mahasiswa, tapi tak ada upaya serius mengurai masalah itu. Sehinga seolah semua menjadi jeleh  tidak tahu apa yang harus diperbuat. Hanya berhenti pada keluhan.

Maka iapun membuat gebrakan. Ia langgar silabus dan kurikulum pergurutan tinggi. Jam kuliah bahasa asing di IAIN Malang (kini UIN Malang) dia ubah dari 2 jam seminggu menjadi minimal 4 jam setiap hari. Dia wajibkan mahasiswa baru masuk asrama, wajib mengikuti pelajaran bahasa asing mulai jam 14 sampai malam. Wajib menjadi santri yang aktif berbincang dalam bahasa asing di bawah pengawasan pengasuh asrama.

Hasilnya, kata dia, seluruh mahasiswa mampu berbahasa asing bagus minimal satu bahasa asing. Banyak yang menguasai dua atau lebih bahasa asing. Bahkan rata-rata bisa menulis skripsi dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing. Satu orang diantaranya menulis skripsi dalam sembilan bahasa.

"Program kami, minimal bahasa Arab dan Inggris harus menjadi kompetensi setiap lulusan UIN Malang. Alhamdulillah kami cukup berhasil. Mahasiswa kami yang dari luar negeri saja berasal dari 32 negara," ucapnya bangga.

Didik hati, hasilkan profesionalisme

Lebih lanjut Imam memaparkan, mendidik hati manusia, menempa ruh mereka, akan menghasilkan jiwa yang profesional. Dan itulah yang sangat dibutuhkan dalam dunia entrepreneur. Jika orang butuh pegawai yang profesional, jangan mencari dari lulusan manajemen "sekular" tetapi carilah dari orang yang ditempat dengan pendidikan rohani.

Ia ceritakan, Ponpes Sidogiri Pasuruhan punya lembaga keuangan Baitul Mal wa Tamwil (BMT) yang asetnya Rp 16 triliun. Padahal di pesantren itu tidak ada sekolah manajemen keuangan atau fakultas ekonomi jurusan perbankan. Sedangkan Universitas Brawijaya yang punya jurusan Koperasi, justru Koperasi Mahasiswanya bangkrut. Sehingga datang ke Sidogiri untuk studi banding belajar mengelola uang.

"Dengan  pesantren mendidik hati para santri, kiai menjadi sentral panutan moral, terciptalah insan profesional. Sehingga disuruh mengelola uang sampai triliunan rupiah mampu. Amanah. Kalau hanya mengajar soal manajemen, hanya ada orang pintar tapi potensial ngakali atau akal-akalan," tandasnya.

Sosok Kiai Mahfud Sobari, pengasuh pesantren Pacet Mojokerto juga ia jadikan contoh kesuksesan di bidang entrepreneurship. Kiai sahabatnya itu, kata Imam, merupakan sosok konglomerat. Usahanya macam-macam, sampai dia tanya ga pernah bisa ngitung penghasilannya.

Namun ketiga dia desak, Kiai Mahfud pernah cerita bahwa penghasilannya setiap bulan tak boleh kurang dari Rp 2 miliar. Sebab dia harus menghidupi empat istri, membiayai 20 anak kandung, puluhan yatim piatu dan membantu ratusan santri yang diasuhnya.

"Saya pernah membawa dosen-dosen UIN Malang ke rumah Kiai Mahfud. Mendengar tuan rumah punya istri empat, ibu-ibu pada jengkel dan menilai buruk beliau. Setelah diberitahu kalau penghasilan beliau per bulan Rp 2 miliar, eh, ibu-ibu itu bilang; lha kalau gitu ya saya mau jadi istrinya," tuturnya disambut tawa hadirin. (Ichwan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Berita, News Hari Santri 2019

Kamis, 11 Januari 2018

Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Wakaf untuk Umat

Tangerang, Hari Santri 2019. Bermula dari sembilan santri, sekarang sudah mencapai 400 santri. Umur dua belas tahun memang masih terhitung muda tapi bukan perjalanan yang sebentar.?

“Penambahan sarana dan prasarana serta perbaikan kualitas perlu ditingkatkan. Dalam terjun ke masyarakat santri harus bisa berkomunikasi, bisa menempatkan posisi selain bisa mengaji,” pesan Ketua Yayasan Jabal Nur H Badrul Munir saat memberikan sambutan acara Harlah ke-12 Pondok Pesantren Modern Terpadu Jabal Nur yang berlokasi di Jalan Kampung Gunung Cipondoh Tangerang, Ahad (12/3).

Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Wakaf untuk Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Wakaf untuk Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Wakaf untuk Umat

Munir melanjutkan, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Sebelum merdeka para tokoh dan kiai yang berjuang dalam kemerdekaan banyak dari kalangan santri. Maka, orang tua jangan ragu untuk memasukkan putra-putrinya ke pesantren.

Itu diperkuat dengan data santri yang terdaftar dalam PD Pontren Kantor Kemenag Kota Tangerang sekitar 7000 santri dengan 118 pesantren. Jadi, tambahnya, sekarang pesantren itu bukan lembaga pendidikan tertinggal lagi. Pesantren sekarang sudah bisa sejajar bahkan melebihi pendidikan umum.?

Hari Santri 2019

Pengasuh Pondok Pesantren Jabal Nur KH A. Saeful Millah menceritakan awal mula lahirnya inisiatif mendirikan pesantren. Menurutnya, Pesantren Jabal Nur dicetuskan di Mekkah pada tahun 2006.?

“Saya namakan Jabal Nur karena menjadi tonggak sejarah turunnya wahyu. Alhamdulillah, sekarang santrinya berasal dari berbagai daerah. Ada dari Teluk Naga, Medan, Jambi, Palembang, dan sekitar Jabodetabek,” papar Kiai Millah yang pernah menjabat sebagai Ketua PCNU Kota Tangerang.?

Kiai Millah sangat mengapresiasi peran para alumni. “Pesantren bisa besar karena kiprah alumni. Saya doakan agar semua menjadi kader NU yang berprestasi,” harapnya sambil menangis haru.?

Di akhir sambutannya Kiai Millah berikrar mewakafkan pesantren yang dirintisnya itu agar dikelolah oleh umat. Ada tujuh nadzir yang diamanatkan untuk mengelola pesantren tersebut.

“Saya mengikrarkan 2100 meter. Saya wakafkan pesantren kepada umat. Sekalipun saya tetap berjuang meningkatkan pesantren ini hingga akhir hayat,” pesan Kiai yang memasuki usia 70 tahun.?

Hari Santri 2019

Turut hadir dalam acara itu Ketua PCNU Kota Tangerang KH Bunyamin, Ketua MUI Tangerang KH Edi Djunaedi, Camat Cipondoh H Kiki Wijaya, Koramil 01 dan ? Polsek Cipondoh serta dihadiri ribuan masyarakat Tangerang. (Suhendra/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ubudiyah, Halaqoh, News Hari Santri 2019

Kamis, 04 Januari 2018

KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus

Oleh Munawir Aziz

Narasi perjuangan kemerdekaan Indonesia dipenuhi oleh penguasa dan jaringan militer yang melanggengkan heroisme. Sejarah perjuangan kaum santri tidak banyak tercatat, hanya sayup-sayup terdengar. Padahal, dari rahim pesantren, terdapat Laskar Hizbullah, Sabilillah dan segenap laskar pemuda santri yang berjuang untuk kemerdekaan. Gerak juang kaum santri terpinggirkan dari panggung sejarah perjuangan Indonesia. Bagaimana sejarahnya?

KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus

Dari panggung perjuangan republik, Laskar Hizbullah dan Sabilillah merupakan barisan militer yang terdiri dari pemuda santri dan kiai pesantren. Dari tapak jejak mereka, mobilisasi dukungan dari kaum santri dan warga sekitar menjadi menggema. Terlebih, kaum santri berjuang dengan tekad bulat, serta niatan ikhlas untuk menegakkan kemerdekaan di bumi Indonesia. Laskar Hizbullah, dipimpin oleh KH Zainul Arifin Pohan, seorang ahli diplomasi dan pejuang militer dari tanah Barus. Sedangkan, Laskar Sabilillah dikomando oleh Kiai Masykur (1904-1994), sosok alim dari Malang.

Siapakah Kiai Zainul Arifin? Sejarah hidup Zainul Arifin membuktikan bahwa Nahdlatul Ulama tidak hanya terdiri dari kiprah para kiai dan tokoh Islam asal Jawa. Kiai Zainul, sosok cerdas dan ahli strategi perang asal Barus, menjadi catatan nyata. Zainul Arifin Pohan lahir di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 2 September 1909. Ia merupakan putra tunggal dari pasangan keturunan Raja Barus, Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan dengan bangsawan asal Kotanopan, Mandailing Natal, Siti Baiyah br. Nasution. Ketika Zainul Balita, orang tuanya bercerai. Ia kemudian dibawa ibunya pindah ke Kotanopan, kemudian berdiam di Kerinci, Jambi. Di Kerinci, Zainul menyelesaikan Hollands Indische School (HIS) serta sekolah menengah calon guru, Normal School.

Pada usia 16 tahun, Zainul Arifin merantau ke Batavia (Jakarta). Di kota ini, dengan berbekal ijazah HIS, dia diterima bekerja di pemerintahan kotapraja kolonial (Gemeente) sebagai pegawai di Perusahaan Air Minum (PAM) Pejompongan, Jakarta Pusat. Setelah keluar dari Gementee, ia bekerja sebagai guru sekolah dasar dan mendirikan balai pendidikan untuk orang dewasa, Perguruan Rakyat. Balai pendidikan ini, bertempat di kawasan Masteer Cornelis (Jatinegara). Keahilan diplomasi dan kepiawaian bahasa Belanda, juga mengantar Zainul sebagai pemberi Bantuan Hukum bagi orang Betawi, yang saat itu dinamakan Pokrol Bambu.

Karirnya dalam organisasi Nahdlatul Ulama, dimulai sebagai kader Gerakan Pemuda Anshor. Bersama Djamaluddin Malik (1917-1970), seorang tokoh film nasional, Zainul bergabung dalam barisan pemuda Nahdlatul Ulama. Dari Anshor, karena keahlian berdiplomasi dan kecerdasan komunikasi, ia dekat dengan Kiai Wahid Hasyim (1914-1953), Kiai Mahfud Shiddiq (1906-1944), Muhammad Ilyas dan Abdullah Ubaid. Selang beberapa waktu, Zainul Arifin kemudian menjadi Ketua Konsul NU Jatinegara (Masteer Cornelis), serta kemudian menjadi Ketua Majelis Konsul NU Batavia, hingga masuknya Jepang pada 1942.

Hari Santri 2019

Pencetus sistem RT

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, strategi politik ormas Islam berubah haluan. Jika dengan Belanda, posisi ormas Islam berseberangan dengan pemerintah Hindia Belanda. Akan tetapi, Jepang menggunakan strategi berbeda dengan mendekati pemimpin-pemimpin ormas Islam. Jepang mengajak ormas Islam sebagai bagian dari pendukung Nippon, sebagai saudara tua di Asia. Inilah startegi politik dan militer Jepang untuk mencengkeram kawasan Asia, terutama Asia Tenggara dalam perang melawan Sekutu.

Di bawah kendali Jepang, terjadi perombakan struktur politik serta ritme organisasi Islam. Pada waktu itu, Zainul Arifin ikut mewakili NU dalam kepengurusan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Ketika itu, Jepang memberi kewenangan organisasi Islam untuk melebarkan sayap dan lebih aktif dalam pemerintahan. Kiai Zainul Arifin, mengusulkan pembentukan tonarigumi, cikal bakal Rukun Tetangga. Pada awalnya, tonarigumi dibentuk di Jatinegara, kemudian melebar untuk diadopsi ke sebagian besar desa di Jawa. ? Kiai Zainul Arifin dengan jeli melihat pentingnya sistem komunikasi antarwarga setingkat RT. Dengan demikian, kultur dan hubungan komunikasi antar warga terjaga dengan baik.

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, mereka membutuhkan dukungan pasukan untuk menguatkan militer di kawasan Asia. Semula, Pemerintah Jepang, melalui Abdul Hamid Nobuharu Ono, meminta agar Kiai Wahid Hasyim mengerahkan santri-santri masuk ke Heiho, sebagai tentara cadangan yang akan dikirimkan ke Birma dan Kepualaun Pasifik. Akan tetapi, Kiai Wahid tidak menerima tawaran itu. Untuk menampik permintaan Jepang, Kiai Wahid dengan startegi diplomasinya mengusulkan tawaran cerdas: Pertama, latihan kemiliteran yang diberikan kepada santri lebih baik untuk pertahanan dalam negeri. Kiai Wahid merasa bahwa, mempertahankan tanah air negeri sendiri, akan lebih meningkatkan semangat pemuda santri.

Hari Santri 2019

Kedua, pertempuran yang menghadapi tentara sekutu, lebih baik dihadapi oleh prajurit profesional, yakni tentara Dai Nippon. Sedangkan, jika menggunakan tentara yang tidak profesional hanya akan menyulitkan tentara Jepang sendiri. Ketiga, jika PETA (Pembela Tanah Air) ditunjukkan untuk pemuda nasionalis, sudah semestinya ada wadah bagi pemuda santri untuk latihan kemiliteran (Zuhri, 1974; 1987). Sedangkan, Hairus Salim ? (2004: 41) menambahkan satu alasan diplomatis dari Kiai Wahi Hasyim, terutama mengapa harus ada satu wadah untuk latihan kemiliteran bagi santri, yakni adanya kewajiban berperang untuk mempertahankan agama Allah (jihad fi sabilillah).

Pada latihan awal, pemuda santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah digembleng oleh Kapten Yanagawa, yang juga melatihan PETA. Latihan ini berlangsung di Cibarusah, Jawa Barat. Latihan militer pemuda santri, berlangsung selama tiga bulan, yang dipimpin oleh para Sydanco PETA. Kemudian, setelah latihan usai, 500 kader ini kemudian kembali ke desa masing-masing, untuk melatih kader-kader pemuda santri di kawasan setempat. Salim (2004), mencatat bahwa hingga akhir rezim Jepang di Indonesia, tercatat sekitar 50.000 angota laskar Hizbullah yang telah mendapatkan latihan militer.

Latihan perdana Laskar Hizbullah, tanggal 28 Februari 1945, yang dihadiri oleh Gunseikan, para perwira Jepang, Pimpinan Pusat Masyumi, Pangreh Raja dan pejabat terkait ? diumumkan betapa misi Hizbullah adalah untuk berjuang bersama Dai Nippon, melawan musuh yang zalim. Gunseikan, dalam pidatonya, menegaskan bahwa:

"Berhubung dengan nasib Asia Timur Raya, maka masa sekarang adalah masa yang amat penting yang belum pernah dialami atau terjadi di dalam sejarah. Dalam saat yang demikian itu telah bangkit segenap umat Islam di Jawa, serta berjanji akan berjuang "luhur bersama dan lebur bersama" dengan bala tentara Dai Nippon. Buktinya, ialah pembentukan barisan musa Islam yang bernama Hizbullah. Dengan demikian lahirkan tujuan untuk menghancurkan musuh yang zalim dan perjuangan dengan segenap jiwa dan raga, maka saya sangat gembira membuka latihan pusat Barisan Hizbullah ini... (Latif, 1995: 20, Salim, 2004: 42).

Dengan demikian, yang dimaksud oleh pemerintah Jepang bahwa musuh bersama dari bangsa Indonesia dan Jepang, merupakan tentara sekutu yang berusaha menjajah Asia. Jepang merasa sebagai pembebas bangsa Asia, hingga menyebut diri sebagai "Saudara Tua" bangsa Asia. Oleh Kiai Wahid Hasyim, pelatihan militer dimaksudkan untuk menguatkan barisan santri jika nantinya Indonesia sudah saatnya menjemput kemerdekaan. Benar saja, pada 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka, disusul dengan peristiwa demi peristiwa yang membutuhkan konsolidasi dan kekuatan militer, di antaranya pada peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Mengabdi untuk negeri

Ketika para pemimpin bangsa memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, pemerintah Hindia Belanda tidak rela atas keputusan politik ini. Hindia Belanda tetap ingin menguasai Indonesia sebagai ladang ekonomi dan jajahan politik. Keinginan Belanda, terbukti dengan hadirnya tentara Sekutu, serta tentara NICA (Netherlands Indische Civil Administrative). Tentu saja, kedatangan tentara ini membuat warga Indonesia marah. Kota Surabaya dan beberapa kota lain menjadi saksi kemarahan warga ketika tentara Sekutu mengintimidasi. Pada 19 September 1945, terjadi perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato. Peristiwa ini, sekaligus menjadi tanda kemarahan rakyat atas invasi tentara sekutu dan NICA.

Situasi negeri menjadi kacau dan warga menjadi tersulut kemarahan karena intimidasi tentara Sekutu. Situasi pertahanan negara sedang diuji, apalagi ketika negara Indonesia baru saja merdeka. Sistem birokrasi, pemerintahan dan barisan militer masih sangat lemah. Pada saat itulah, laskar-laskar santri memainkan peran penting untuk mengkonsolidasi kekuatan rakyat. Pada 22 Oktober 1945, para kiai menyatakan rumusan tentang Resolusi Jihad. Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa untuk menggemakan Resolusi Jihad. Fatwa Kiai Hasyim inilah yang kemudian melecut semangat santri dan warga di kawasan Jawa Timur, dan kawasan lainnya untuk berjuang melawan penjajah. ?

Pada 25 Oktober 1945, tentara sekutu mendarat di Surabaya. Pasukan Sekutu di kota Surabaya, terdiri atas 5000 pasukan dari kesatuan 49 Infanteri di bawah pimpinan Jenderal AWS Mallaby (1899-1945). Pertempuran berlangsung selama beberapa hari. Api semangat kaum santri dan warga membara, dengan dukungan para kiai dan kuatnya jaringan laskar. Puncaknya, 10 November 1945, pemuda santri dan warga sekitar Surabaya berhasil memukul mundur pasukan Sekutu, dengan tewasnya Jendral AWS Mallaby pada peristiwa sebelumnya, 30 Oktober 1945. ?

Kiai Zainul Arifin memainkan peran besar pada episode perjuangan bangsa Indonesia, baik pra maupun pasca kemerdekaan. Perjuangan laskar Hizbullah yang dikomando Kiai Zainul Arifin pada peristiwa November 1945 di Surabaya dikenang sebagai peristiwa heroik. Masa setelah kemerdekaan menjadi ujian bagi pejuang negeri. Kiai Zainul Arifin terus bergerak untuk mengomando laskar santri, barisan Hizbullah untuk berkoordinasi dengan tentara pimpinan Jendral Soedirman (1916-1950). ?

Dalam catatan Saifuddin Zuhri (2001: 355), beberapa pemimpin cabang Laskar Hizbullah sering berkumpul bersama di Yogyakarta, karena panggilan rapat Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (parlemen). Kiai Zainul Arifin, sebagai Ketua Markas Tertinggi Hizbullah, juga sering bertandang ke Yogyakarta untuk rapat. Selain itu, ada juga Wahib Wahab (Hizbullah Surabaya), Abdullah Siddiq (Hizbullah Jember), Amir (Hizbullah Malang), Bakrin (Hibzullah Pekalongan), Munawar (Hizullah Solo) dan Saifuddin Zuhri (Hizbullah Magelang). Mereka berkumpul untuk mengabdi pada negeri, sekaligus mengonsolidasi barisan laskar santri.

Ketika terjadi agresi militer II pada Desember 1948, pasukan Belanda berhasil menjatuhkan Yogyakarta, serta menahan Soekarno Hatta. Tentu saja, pada masa krisis ini, BP KNIP tidak berfungsi secara maksimal. Kiai Zainul Arifin, kemudian terlibat sebagai anggota Komisariat Pemerintah Pusat di Jawa, bagian dari Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Pada masa ini, Zainul Arifin bertugas mengkonsolidasi laskar-laskar militer untuk membantu tentara untuk bergerilya di bawah komando Jendral Soedirman.

Ketika kondisi sudah aman, serta pemerintah RI memegang kendali, terjadi penyatuan seluruh elemen laskar militer ke dalam satu wadah ? Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kiai Zainul Arifin dipercaya sebagai Sekretaris Pucuk Pimpinan TNI, karena jasa besarnya pada masa perjuangan. Akan tetapi, ketika banyak mantan anggota Hizbullah yang tidak bisa diterima sebagai anggota TNI karena alasan ijazah formal serta tidak mendapat pendidikan modern, Zainul memilih mengundurkan diri. Inilah jiwa besar Kiai Zainul Arifin dalam berjuang untuk mengomando pasukan pemuda santri.

Kiai Zainul Arifin memilih jalan pengabdian, ia berkiprah di jalur politik sebagai wakil Partai Masyumi di DPRS, lalu wakil Partai Nahdlatul Ulama pada 1952. Pda 1953, Kiai Zainul Arifin menjadi Wakil Perdana Menteri (Waperdam) pada Kabinet Ali Sastroamidjojo I (1953-1955). Prestasi besar Kiai Zainul Arifin, pada 1955 ketika Pemilu, berhasil mengantarkan Partai NU menjadi sebagai tiga besar pemenang, dengan mendapat 45 kursi, dari sebelumnya 8 kursi. Kiai Zainul Arifin bersama Kiai Wahab Chasbullah dan beberapa kiai lain, bekerja keras untuk mengerahkan stategi politik demi Nahdlatul Ulama dan pesantren.

Sebagai pemimpin laskar militer santri, dengan keahlian diplomasi, dukungan politik dan luasnya jaringan, Kiai Zainul Arifin juga dekat dengan presiden Soekarno. Pada 1955 ia pernah bersama Soekarno pergi haji ke tanah suci. Sebagai tamu kenegaraan, Kiai Zainul Arifin diberi hadiah pedang berlapis emas oleh Raja Arab Saudi.

Pasca pemilu 1955, Kiai Zainul Arifin juga mendapat amanah menjabat anggota Majelis Konstituante. Lembaga ini akhirnya dibubarkan oleh Soekarno pada 5 Juli 1959 karena gagal merumuskan UUD baru. Setelah dekrit dikeluarkan Soekarno, konsitusi Indonesia dinyatakan kembali pada UUD 1945. Pada masa inilah, dikenal sebagai Demokrasi Terpimpin, dengan kekuasaan pada diri Soekarno, yang bersikeras menerapkan paham NASAKOM (Nasionalis, Agama dan Komunis) pada satu barisan politik. Di tengah situasi ini, suhu politik meningkat karena pengaruh kelompok yang tidak setuju dengan kebijakan Soekarno, terutama pihak partai Islam yang menolak PKI.

Pada 14 Mei 1962, suhu politik meningkat tinggi, ketika Shalat Idul Adha di barisan terdepan bersama Soekarno, Kiai Zainul Arifin tertembak oleh aksi pembunuh yang ingin menyerang presiden Soekarno. Kiai Zainul wafat pada 2 Maret 1963, di RSPAD Gatot Soebroto setelah menderita sakit selama sekitar 10 bulan. Negeri berduka atas wafatnya komandan laskar santri yang berjuang untuk negeri, sosok santri yang tulus mengabdi di bumi pertiwi.

Penulis adalah Wakil Sekretaris Lembaga Talif wan Nasyr PBNU, peneliti Islam Nusantara. (Twitter: @MunawirAziz) ?

Referensi:

Ario Helmy. KH. Zainul Arifin Pohan, Panglima Santri: Ikhlas Membangun Negeri. Jakarta: Pustaka Compass. 2015.

Hairus Salim. Kelompok Paramiliter NU. Yogyakarta: LKIS. 2004.

M. Hasyim Latief. Laskar Hizbullah: Berjuang Menegakkan Negara RI. Jakarta: LTN PBNU, 1995.

Saifuddin Zuhri. Guruku Orang-Orang Pesantren. Yogyakarta: LKIS. 2001

Tashadi. Sejarah Perjuangan Hizbullah Sabilillah: Divisi Sunan Bonang. Yayasan Bhakti Utama. 1997.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News Hari Santri 2019

Minggu, 31 Desember 2017

RSI Siti Hajar Sidoarjo Raih Penghargaan SPKL Peringkat Pertama

Sidoarjo, Hari Santri 2019. Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo meraih penghargaan Status Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup (SPKL) peringkat pertama dari Bupati Sidoarjo, H Saiful Ilah, berdasarkan peraturan Bupati nomor 33 tahun 2015 dan periode penilaian SKPL 2016.

RSI Siti Hajar Sidoarjo Raih Penghargaan SPKL Peringkat Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
RSI Siti Hajar Sidoarjo Raih Penghargaan SPKL Peringkat Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

RSI Siti Hajar Sidoarjo Raih Penghargaan SPKL Peringkat Pertama

Penghargaan tersebut diberikan Bupati Sidoarjo, H Saiful Ilah, kepada Direktur RSI Siti Hajar Sidoarjo, dr Hidayatullah, pada malam resepsi Hari Jadi Sidoarjo ke-158 di alun-alun Sidoarjo, Rabu (1/2) malam.

"Jujur penghargaan ini agak menyentuh sisi emosional saya. Karena begitu sulit dan rumitnya dalam mengelola limbah. Kami pernah mengalami masa-masa sulit dalam mengelola limbah medik kami. Dan alhamdulillah, ada berkah di balik itu. Kami meraih award yang luar biasa ini, mengalahkan Rumah Sakit dan perusahaan-perusahaan besar lainnya," kata dr H Hidayatullah kepada Hari Santri 2019.

Dokter spesialis saraf itu mengapresiasi seluruh kinerja staf dan karyawan RSI Siti Hajar. Pasalnya, mengelola limbah medik itu tidak mudah dan sangat rumit. Meski begitu, alhasil RSI Siti Hajar Sidoarjo mendapatkan penghargaan perusahaan terbaik dalam mengelola limbah di Kabupaten Sidoarjo.

Hari Santri 2019

"Teman-teman saya di RSI Siti Hajar memang luar biasa. Award ini akan memacu kami lebih baik lagi. Dan ini sesuai dengan program kami menjadikan RSI Siti Hajar sebagai "Rumah Sehat" (bukan sekedar rumah sakit). Menjadi rumah bukan hanya buat orang sakit, tetapi juga menjadi rumah bagi orang sehat dan menjadi Rumah Sakit yang mendukung program kesehatan lingkungan hidup," ujar dr Dayat.

Sementara itu menurut Kepala ruangan penyehatan lingkungan RSI Siti Hajar Sidoarjo, Ning Ana Sumari, menyatakan bahwa, selama lima tahun mengikuti program Badan Lingkungan Hidup (BLH) tentang lingkungan hidup, baru tahun ini, RSI Siti Hajar Sidoarjo mendapatkan penghargaan.

Ia menjelaskan bahwa, yang menjadi kendala tidak masuk kategori taat selama mengikuti program BLH itu karena NH3 (Amoniak) sering tinggi sehingga tidak kena taat. Selain itu, ijin pengolahan limbah belum turun.

"Alhamdulillah, setelah kita mendapatkan ijin dari BLH dan mempunyai TPS akhirnya kita masuk kategori taat dan mendapatkan penghargaan ini. Perasaan saya lega karena sudah lima tahun mengikuti dan baru sekarang masuk kategori taat," ucapnya dengan nada gembira. (Moh Kholidun/Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 RMI NU, Ulama, News Hari Santri 2019

Minggu, 24 Desember 2017

PBNU Serukan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Syuhada Haji

Jakarta,? Hari Santri 2019

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Maruf Amin menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas insiden jatuhnya crane di area Masjidil Haram Makkah al Mukarramah akibat badai dan hujan deras yang melanda yang mengakibatkan wafatnya puluhan? dluyufur rahman? yang akan menunaikan ibadah haji.

"PBNU bertakziah untuk para korban semoga mereka termasuk dalam syuhada yang menjadi? ahli jannah, keluarganya diberikan kekuatan, keikhlasan, dan ketegaran, untuk menerima ujian ini dengan senantiasa mengingat bahwa sesungguhnya kita milik Allah dan kepadanya kita kembali," kata Kiai Maruf Amin dalam pesan yang disampaikan keHari Santri 2019,? Sabtu.?

Kiai Maruf Amin juga mengingatkan bahwa hal ini merupakan upaya kita agar selalu ingat pada kematian, sehingga dapat semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan meningkatkan amal kebajikan, baik yang bersifat vertikal dan horisontal.

PBNU Serukan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Syuhada Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Serukan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Syuhada Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Serukan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Syuhada Haji

Rais aam menyerukan kepada seluruh umat Islam, khususnya warga NU untuk melakukan shalat ghaib di masjid-masjd dan mushalla. shalat janazah hukumnya? fardhu kifayah, yang diwajibkan kepada seluruh umat Islam dengan prinsip ketewakilan. Shalat ghaib hukumnya sah sebagaimana shalat janazah. Shalat ghaib ditujukan kepada? dluyufurrahmanyang wafat di tanah suci karena musibah jatuhnya crane proyek pembangunan masjidil haram.

Selanjutnya, Kiai Maruf yang juga ketua umum MUI ini menghimbau kepada seluruh pimpinan pondok pesantren, lembaga-lembaa di lingkungan NU, para pengurus masjid dan mushalla untuk mengajak seluruh jamaah melakukan shalat ghaib, tahlil, serta istighotsah untuk meminta pertolongan kepada Allah agar para hujjaj yang wafat diampuni oleh Allah SWT, para jamaah haji yang sedang persiapan manasik haji diberi kekuatan lahir batin, para pelayan tamu-tamu Allah diberikan kekuatan untuk menyiapkan, memfasilitasi, dan melayani segala kebutuhan hingga dapat telaksana dengan baik. (Red: Mukafi Niam)

Foto: CNN Indonesia

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 News, Olahraga Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock