Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Badan Wakaf Indonesia Luncurkan Gerakan Berwakaf untuk Kesejahteraan Kemartabatan

Jakarta, Hari Santri 2019. Ketua Badan Pelaksana BWI Mohammad Nuh meluncurkan Gerakan Nasional Berwakaf untuk Kesejahteraan dan Kemartabatan, Kamis (25/1) di Gedung Bank Indonesia, Jakarta.

Melalui gerakan ini, Nuh ingin semua pihak menyadari empat peran wakaf.

Badan Wakaf Indonesia Luncurkan Gerakan Berwakaf untuk Kesejahteraan Kemartabatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Badan Wakaf Indonesia Luncurkan Gerakan Berwakaf untuk Kesejahteraan Kemartabatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Badan Wakaf Indonesia Luncurkan Gerakan Berwakaf untuk Kesejahteraan Kemartabatan

Pertama, wakaf adalah aktivitas transenden. Artinya wakaf berdimensi ibadah sehingga setiap aktivitas yang terkait dengan wakaf harus diniatkan dengan lurus dan benar.

Kedua, wakaf untuk kesejahteraan. Artinya, wakaf strategis diharapkan bisa dikelola secara produktif untuk menghasilkan keuntungan optimal yang hasilnya disalurkan untuk program-program kesejahteraan masyarakat.

Hari Santri 2019

Ketiga, wakaf untuk mengembangkan dakwah. Wakaf yang produktif diharapkan bisa membuat gerak dakwah kebaikan menjadi lebih semarak dan lebih baik.

Keempat, wakaf menjaga harkat dan martabat. Dengan wakaf yang dikelola produktif dan menghasilkan keuntungan optimal, ia ingin wakaf membuat umat menjadi mandiri dan menjadi pihak tangan di atas.

Implementasi awal dari gerakan ini adalah penandatanganan nota kesepahaman BWI dan UNDP Indonesia mengenai Wakaf untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs). (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Amalan, Halaqoh, Anti Hoax Hari Santri 2019

Senin, 05 Maret 2018

Taman Komik Nusantara Ciptakan 70 Komik Bertema HUT RI

Jakarta, Hari Santri 2019. Taman Komik Nusantara mengadakan kegiatan “Mencipta Karya 70 Komik Bertema Hari Kemerdekaan RI ke-70” dengan bertutur tentang “Memaknai Bhinneka Tunggal Ika dan Hakikat Kemerdekaan” di Halaman Gedung Teater Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu (15/8) pukul 15.00-17.30 WIB lalu.

Taman Komik Nusantara Ciptakan 70 Komik Bertema HUT RI (Sumber Gambar : Nu Online)
Taman Komik Nusantara Ciptakan 70 Komik Bertema HUT RI (Sumber Gambar : Nu Online)

Taman Komik Nusantara Ciptakan 70 Komik Bertema HUT RI

Dengan disuguhkan atraksi Gambar Wayang Punakawan tentunya menambah antusias peserta yang hadir yakni para pelajar muda Kota Bekasi dan para remaja yang terbiasa melakukan kegiatan komunitas di jalanan sekitar wilayah Kali Pasir, Cikini, Jakarta Pusat.

“Dari kegiatan ini diharapkan para pelajar berlatih berimajinasi kreatif menggambar dan menemu kenali sejarah bangsa dengan baik, belajar mencintai dengan kesungguhan, merawat dan memelihara rasa kebangsaan. Mereka belajar untuk tidak mudah menebar kebencian namun saling menjaga persatuan di negeri Nusantara tercinta ini,” ujar Pendiri Taman Komik Nusantara, Endah Priyanti lewat rilis yang dikirimkan ke Hari Santri 2019, Senin (17/8).

Hari Santri 2019

Kegiatan diawali dengan pelatihan public speaking yang mengulas tentang sumbangan pemikiran dan perjuangan para tokoh pahlawan nasional seperti Tan Malaka, Soekarno, M Hatta, Sutan Sjahrir, dan sebagainya yang ditampilkan oleh para pelajar muda secara komunikatif di depan publik. Dengan demikian diharapkan para pelajar muda memiliki wawasan kebangsaan dan meneladani sikap positif para tokoh pemimpin bangsa di masa lampau yang telah berjasa bagi Republik ini. 

Kegiatan yang tak kalah menarik adalah apresiasi seni pertunjukan dan narasi kitab sastra klasik bersejarah seperti Arjunawiwaha, Bharatayuda, Gatotkacasraya, Sutasoma dan Negarakertagama. Selanjutnya kegiatan diakhiri dengan workshop pembuatan komik sejarah yang bertema tentang “Memaknai Bhinneka Tunggal Ika dan Hakikat Kemerdekaan”. 

Hari Santri 2019

“Kegiatan bersama Taman Komik Nusantara ini juga menjadi ajang silaturahmi anak-anak jalanan terutama memperkenalkan Budaya Wayang Nusantara melalui media komik. Acara ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada mereka tentang makna kebhinekaan yang sudah menjadi suatu keniscahyaan namun tetap menghormati antar pertemanan yang berbeda baik agama, suku maupun latar belakang budayanya,” terang Endah yang juga Guru di SMA Negeri 12 Kota Bekasi.

Merawat Budaya Nusantara

Gerakan kebudayaan berupa Taman Komik Nusantara ini sudah dimulai sejak awal Januari 2015 dan peluncurannya sudah dilakukan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei 2015 lalu. Menurut Endah, gerakan ini penting ketika makna pendidikan hadir dalam bentuk gerakan sadar budaya di akar rumput sehingga masyarakat memandang bahwa pendidikan berbasis kebudayaan juga bisa diciptakan di ruang-ruang publik yang sederhana. 

“Taman Komik Nusantara ini memiliki visi merawat Budaya Nusantara melalui komik kreatif anak bangsa. Dalam wahana ini, kami merayakan Hari Kemerdekaan RI ke-70 dengan penuh suka-cita menciptakan taman belajar yang menyenangkan dan humanis sesuai Tut Wuri Handayani,” paparnya.

Melalui wadah ini, Endah mengajak para pelajar muda mengumpulkan serpihan peristiwa sejarah yang terbuang, terlupakan, tersimpan, tersembunyi dan terselip di belantara kekayaan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Mereka serasa diajak menelusuri mesin waktu ke tahun-tahun awal terbentuknya jaringan Nusantara. 

Dia mengungkapkan, penelusuran mesin waktu ini secara pribadi menghentak kesadarannya dan kesadaran para pelajar muda tentang hal yang paling hakiki akan makna bernegara dan berbangsa Indonesia yang selama ini mungkin perlahan mati suri karena melihat situasi dan kondisi bangsa dirusak oleh tercerabutnya akar budaya luhur di segala bidang kehidupan. 

“Kesadaran ini menggelitik nalar kita bahwa sebagai bangsa kita sebenarnya sudah berusia yang cukup untuk bisa menyebut diri sebagai bangsa merdeka jika kita mau menemukan bentuk kemerdekaan yang hakiki yaitu merdekalahir batin dalam pikiran, sikap dan perbuatan,” pungkasnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tegal, Amalan Hari Santri 2019

Minggu, 11 Februari 2018

Atasi Kekerasan Terhadap Perempuan, Komnas Perempuan Gandeng PWNU Jabar

Jakarta, Hari Santri 2019 - PWNU Jawa Barat siang ini mendapatkan tamu istimewa. Mereka menerima kunjungan rombongan dari komisi nasional anti kekerasan terhadap perempuan (Komnas Perempuan) di Kantor PWNU Jawa Barat Jalan Terusan Galunggung, Senin (6/2). Rombongan dari Komnas Perempuan disambut oleh perwakilan pengurus PWNU serta badan otonom perempuan yang terdiri dari PW Muslimat NU, Fatayat NU dan IPPNU.

Masruchah dari Komnas Perempuan menyampaikan, kekerasan terhadap perempuan menjadi isu yang sangat serius dan harus ditangani oleh seluruh pihak. Ia mengapresiasi NU yang selama ini memberikan perhatian terhadap sejumlah isu kekerasan perempuan serta mengapresiasi atas komitmen NU yang kemudian menuangkannya dalam Muktamar dan Munas NU yang lalu atas penyikapan, pencegahan, dan penanganan kekerasan terhadap perempuan terutama kekerasan seksual.

Atasi Kekerasan Terhadap Perempuan, Komnas Perempuan Gandeng PWNU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Atasi Kekerasan Terhadap Perempuan, Komnas Perempuan Gandeng PWNU Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)

Atasi Kekerasan Terhadap Perempuan, Komnas Perempuan Gandeng PWNU Jabar

"Peran strategis NU sejak dahulu memang sangat diperhitungkan, NU selalu memberikan pandangan kepada negara dan membentuk sikap umat dan bangsa. Selama ini banyak terjadinya diskriminasi terhadap perempuan atas nama agama. Sehingga peran penting para ulama dan umat beragama sangat penting untuk memberikan perlindungan terhadap perempuan rentan pemiskinan dan kekerasan seperti TKW, korban kekerasan dan lainnya," kata Masruchah.

Hari Santri 2019

Komnas perempuan selalu mendorong pemerintah agar selalu bertindak adil kepada semua pihak. Komnas Perempuan memandang, saat ini kekerasan bukan hanya dilakukan di wilayah domestik, tetapi dapat dilakukan oleh publik.

Sekretaris Muslimat NU Jabar Hj Nani menyampaikan, kasus kekerasan perempuan saat ini memang menjadi bagian perhatian penting Muslimat NU. Banyak kiprah Muslimat NU yang betrkaitan dengan penanganan kekerasan perempuan di Jawa Barat.

Menurut Ketua Fatayat NU Jabar Yayah Fajriah, Fataat NU memiliki visi dan misi yang sama dalam penghapus kekerasan perempuan. Saat ini Fatayat telah melakukan pendampingan kepada eks TKW di beberapa kabupaten dan kota di Jawa Barat yang memiliki jumlah TKW yang besar. Pendampingan yang dimaksud melalui pemberdayaan ekonomi kreatif. Selain itu juga Fatayat NU membuka layanan konsultasi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Hari Santri 2019

"Sebagai organisasi pelajar putri, IPPNU juga memberikan perhatian serius terhadap isu-isu kekerasan perempuan. Ini juga terkait dengan isu moralitas pelajar saat ini yang mengkhawatirkan. Saat ini IPPNU Jawa Barat lebih konsen di bagian kampanye penghapusan pernikahan dini, mengingat tingginya angka perceraian salah satunya dipicu karena menikah di usia dini, dan faktor menikah usia dini salah satunya adalah karena kecelakaan sehingga ini akhirnya saling berkaitan dengan moral," Ketua IPPNU Jawa Barat Nurul Fatonah.

Atas kesamaan visi, Komnas Perempuan memandang PWNU dan banomnya merupakan mitra yang tepat dalam mengatasi permasalahan kekerasan di Jawa Barat. Terlebih NU yang memiliki basis massa yang besar dan mengakar sampai tingkat bawah. Hadir dalam pertemuan ini jaringan Komnas Perempuan di Jawa Barat seperti Safa Institute, Fathimiyah, Jakatarub, dan Fopulis. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Amalan Hari Santri 2019

Rabu, 31 Januari 2018

LDNU DIY Siapkan Dakwah Ramadhan di Media Massa

Yogyakarta,Hari Santri 2019. Bulan Ramadhan tinggal sebentar lagi. Menyambut kedatangannya, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) PWNU DIY telah menyiapkan beberapa program dakwah. Salah satunya dakwah lewat media massa.

LDNU DIY Siapkan Dakwah Ramadhan di Media Massa (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU DIY Siapkan Dakwah Ramadhan di Media Massa (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU DIY Siapkan Dakwah Ramadhan di Media Massa

Salah seorang anggota LDNU DIY Nur Rahman Lathif mengatakan, untuk menyambut Ramadhan tahun ini, pihaknya telah berusaha menjalin kerja sama dengan media massa. Yang sudah dipastkan di antaranya dengan koran Tribun Jogja.

“Bentuk kerja samanya itu menulis artikel tentang Islam yang nantinya akan dimuat di Tribun Jogja setiap hari,” ujarnya saat ditemui Hari Santri 2019 di kantor PWNU DIY, Jl. MT Haryono No.42, Kamis siang (28/05).

Hari Santri 2019

Hal tersebut kemudian dibenarkan oleh Sekretaris LDNU DIY Muhajir saat dikonfirmasi via telepon. “Iya benar, kami mengadakan kerja sama dengan Tribun Jogja. Kami sudah melist dai-dai muda NU DIY yang akan menulis artikel keagamaan untuk Tribun Jogja,” katanya.

Hari Santri 2019

Ia menambahkan, LDNU DIY juga sudah menjalin kerja sama juga dengan Radio RRI Jogja. Bentuknya ya siaran seperti kultum menjelang berbuka puasa. Ini siarannya setiap hari Rabu sore.

Muhajir juga mengungkapkan bahwa timnya sedang mencoba menjalin kerja sama dengan TVRI Jogja. Tetapi belum mencapai kesepakatan bersama.

Ia berharap dengan dakwah lewat media massa, utamanya yang tulisan di Tribun Jogja, dapat menjadi materi dakwah bagi dai-dai muda NU DIY yang akan mengisi kultum selama bulan Ramadhan.

“Selain itu, ya ingin menebarkan ajaran Islam yang sesuai dengan khazanah Nusantara, yang moderat dan yang ramah lewat media masaa,” tegas Dr. Muhajjir. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Amalan Hari Santri 2019

Minggu, 28 Januari 2018

Tiga Jenis Jenggot

Pada sebuah forum, Kiai Masdar berkali-kali menyebut jenggot dengan kesan negatif. Jenggot adalah aksesoris orang-orang kolot. Jenggot adalah tren pencitraan kaum salafi yang tidak keren.

Di sela kerumunan jamaah, samar-samar terlihat kiai NU berjenggot menatapnya serius. Khusyuk menyimak. Tapi sorot matanya ganjil.

Tiga Jenis Jenggot (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Jenis Jenggot (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Jenis Jenggot

Kiai Masdar akhirnya sadar, pernyataannya soal ”jenggot” masih butuh syarah. Segera ia menyusuli ceramahnya, ”Jenggot itu tsalatsatu anwa’in (jenggot terdiri dari tiga jenis).”

Hari Santri 2019

”Pertama, jenggot biologis. Jenggotnya orang-orang yang memang dari sono-nya ditakdirkan berjenggot,” katanya.

”Kedua, jenggot ideologis. Itu jenggot paksaan. Karena keyakinan, meski cuma tiga helai juga dipaksa tumbuh. Terus terakhir, jenggot gabungan idiologis-biologis,” tambah Kiai Masdar.

”Nah, jenggot yang saya maksud tadi itu jenggot kedua dan ketiga ini. Kalau jenggotnya NU itu sih biologis. Jadi nggak termasuk!” ujar Kiai Masdar yang tidak berjenggot ini sembari tersenyum. (Mahbib Khoiron)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam, Budaya, Amalan Hari Santri 2019

Kamis, 04 Januari 2018

Akhirnya Jilbab Bisa Dikenakan di Gedung Parlemen Turki

Istambul, Hari Santri 2019. Empat anggota parlemen perempuan Turki menghadiri sidang dengan mengenakan jilbab untuk pertama kalinya sejak 1999 ketika seorang anggota disoraki di ruang sidang karena mengenakan jilbab.

Keempat anggota parlemen mengenakan jilbab setelah pihak berwenang mencabut sebagian larangan berjilbab untuk perempuan, termasuk mereka yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Akan tetapi larangan pemakaian jilbab masih tetap berlaku untuk tentara, polisi, hakim, dan jaksa.

Akhirnya Jilbab Bisa Dikenakan di Gedung Parlemen Turki (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhirnya Jilbab Bisa Dikenakan di Gedung Parlemen Turki (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhirnya Jilbab Bisa Dikenakan di Gedung Parlemen Turki

Dalam sidang 31 Oktober di Ankara, keempat anggota parlemen perempuan dari partai berkuasa, Partai Keadilan dan Pembangunan, tidak mengalami penentangan, seperti dilansir oleh BBC Indonesia.

Hari Santri 2019

Bahkan rekan-rekan mereka mengabadikan peristiwa itu dengan mengambil gambar mereka.

Mereka adalah Sevde Beyazit Kacar, Gulay Samanci, Nurcan Dalbudak dan Gonul Bekin Sahkulubey.

Hari Santri 2019

Pencabutan larangan yang telah diterapkan sekitar 10 tahun itu merupakan bagian dari reformasi yang dilakukan pemerintah pimpinan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berlatar belakang Islam.

Ekspresi

Reformasi ini dikecam oleh pihak-pihak di Turki yang khawatir akan peningkatan pengaruh Islam dalam kehidupan sosial.

Para anggota parlemen dari partai sekuler yang beroposisi, CHP, menyatakan tidak menentang pemakaian jilbab oleh empat anggota parlemen dari AKP.

Beberapa politikus CHP sebelumnya menuduh partai berkuasa memanfaatkan masalah jilbab untuk kepentingan politik.

Wakil-wakil AKP di parlemen berpendapat larangan mengenakan jilbab merupakan masalah hak sipil yang mengekang perempuan mengekspresikan diri secara bebas di dunia politik Turki.

"Saya selalu mengatakan bahwa kita melupakan persoalan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, tetapi hari ini saya pikir kita akhirnya mengatasi masalah ini," kata Oznur Calik, anggota parlemen dari Partai Keadilan dan Pembangunan.

Pihak yang menentang pencabutan larangan berjilbab di lembaga negara melihat langkah ini sebagai upaya untuk memundurkan aturan-aturan sekuler dan mengedepankan nilai-nilai Islam.

Larangan pemakaian jilbab di lembaga-lembaga negara selama ini dianggap sebagai salah satu peraturan yang sangat peka di masyarakat, terutama bagi pendukung konstitusi sekuler dan mereka yang mendukung hak-hak Islam. (mukafi niam)

Foto: BBC

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Sholawat, Amalan Hari Santri 2019

Rabu, 03 Januari 2018

Ini Cara JQHNU Sidoarjo Siapkan Kafilah MTQ Tangguh

Sidoarjo, Hari Santri 2019. Ketua PC Jamiyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Sidoarjo, H Imam Mukozali mengatakan, strategi untuk menyiapkan Kafilah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang tangguh di Kabupaten Sidoarjo agar bisa berjaya dikancah Provinsi sampai Nasional yakni dengan cara menggali potensi besar yang ada dari seluruh komponen keagamaan di Kabupaten Sidoarjo.

Ini Cara JQHNU Sidoarjo Siapkan Kafilah MTQ Tangguh (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara JQHNU Sidoarjo Siapkan Kafilah MTQ Tangguh (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara JQHNU Sidoarjo Siapkan Kafilah MTQ Tangguh

"Misalnya Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ), Madrasah Diniyah (Madin), Pondok Pesantren, Sekolah atau Rumah Tahfidz, Rumah Qori, dan potensi personal yang juga mempunyai peran sangat besar. Dari berbagai lembaga keagamaan yang ada di Kabupaten Sidoarjo bisa dikembangkan dan dioptimalkan pembinaannya ke arah penyiapan sumber daya manusia yang mumpuni sebagai wujud konkrit dari program yang sudah dicanangkan," kata Imam Selasa, (5/1).

MTQ di setiap daerah ditangani oleh Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) yang mempunyai otoritas mengelola penuh terhadap pelaksanaan dan keberhasilan MTQ itu sendiri. Kalau visi dan misi ini dikembangkan tidak hanya pada tataran birokrasi tetapi melibatkan masyarakat secara menyeluruh, dan yang lebih spesifik lagi pada lembaga atau ormas yang mengelola dan mengembangkan syiar Al-Quran.

Hari Santri 2019

"Apabila seluruh kemampuan yang ada baik dari pihak pemerintah sebagai otoritas penguasa anggaran dan lembaga keagamaan bersatu padu, maka akan memunculkan kekuatan yang sangat besar. Ibarat filosofi sapu lidi bersatu akan menjadi kuat dan bermanfaat. Dengan kata lain pengelolaan pengembangan MTQ dikerjakan bersama antara pemerintah daerah dengan lembaga atau ormas Islam yang mempunyai visi dan misi sama sehingga bisa membuahkan hasil maksimal," ujarnya.

Kemampuan yang ada baik secara kelembagaan maupun pribadi perlu dicari dan diinventarisir sehingga bisa mendeteksi kemampuan yang ada. Penjaringan sejak dini dilakukan sebagai langkah untuk mencari bibit dalam Kafilah MTQ ke depan. Cara jitu yang dilakukan dalam penjaringan ini adalah dengan sering kali mengadakan event atau perlombaan serta kegiatan yang mendukung potensi tersebut. Dan tidak kalah pentingnya adalah penjaringan dilakukan dengan sangat obyektif sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tanpa pilih kasih karena pertimbangan lainya.

Hari Santri 2019

Untuk mendapatkan bibit yang mumpuni, baik dan unggul harus dilakukan sejak dini dengan melibatkan seluruh komponen yang ada. Karena bibit yang unggul tidak bisa secara instan, tetapi harus dilakukan jauh-jauh sebelum ada kegiatan secara berkesinambungan. "Hal ini bisa kita lihat kesinambungan yang dilakukan di rumah-rumah tahfizh, rumah-rumah qori, sanggar kaligrafi, Pondok Pesantren, JQH dan lain-lain. Mereka sudah menyiapkan calon-calon Kafilah handal karena disiapkan sejak dini dengan fasilitas sangat sederhana," tambanhya.

Kalau potensi itu disinergikan dengan kemampuan anggaran yang ada dari pemerintah daerah, maka bukan mustahil potensi akan tambah lebih besar dan unggul. Bibit unggul itu menjadi tanggung jawab bersama dengan memakai tangan pemerintah daerah untuk mengelolanya. Perawatannya meliputi secara fisik dan nonfisik. Secara fisik terkait dengan bagaimana gizi, kesehatan dan kehidupan ekonomi seorang calon Kafilah. Secara non fisik atau aspek spiritual lebih dititik beratkan kepada memperkuat kemampuan rohani, mental dari seorang calon Kafilah MTQ.

Prestasi dari apapun keahliannya harus mendapatkan reward sesuai tingkat ptrestasi yang dihasilkan. Karena ini akan menjadi stumulus tersendiri bagi para pemenang. Tak terkecuali prestasi yang ditorehkan dari para kafilah MTQ diberbagai event. Dampak dari cara itu adalah besar terhadap kesungguhan para kafilah. Apabila itu dilakukan dengan baik dan perencanaan matang dari segi anggaran, maka akan merangsang para calon Kafilah untuk bersaing dengan sehat sebagai duta Kabupaten Sidoarjo ke event tingkat Provinsi maupun Nasional, serta mempunyai kemampuan dalam menerapkan nilai-nilai Al-Quran ditengah-tengah masyarakat yang sangat majemuk. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Amalan, Budaya, Internasional Hari Santri 2019

Selasa, 02 Januari 2018

Burung Love Bird, Terobosan Baru LAZISNU Pringsewu Tasharufkan Zakat Produktif

Pringsewu, Hari Santri 2019 - Maksimalisasi peran dan manfaat zakat bagi peningkatan kemakmuran ekonomi umat menjadi perhatian penting Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah NU (LAZISNU) Kabupaten Pringsewu. Sebagai lembaga yang berkiprah dalam hal tersebut LAZISNU Pringsewu menggandeng beberapa pihak untuk memaksimalkan zakat diantaranya dalam bentuk zakat produktif.

"LAZISNU Pringsewu sudah melakukan aksi dengan menasharufkan zakat produktif dalam wujud hewan ternak," kata Ketua LAZISNU Pringsewu Khairuddin di sela-sela penyaluran hewan ternak Kambing tahap kedua, Jumat (9/9).

Burung Love Bird, Terobosan Baru LAZISNU Pringsewu Tasharufkan Zakat Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)
Burung Love Bird, Terobosan Baru LAZISNU Pringsewu Tasharufkan Zakat Produktif (Sumber Gambar : Nu Online)

Burung Love Bird, Terobosan Baru LAZISNU Pringsewu Tasharufkan Zakat Produktif

Jika zakat produktif ini dapat dikelola dengan baik oleh para mustahiq penerima zakat dengan bimbingan dari LAZISNU, ia yakin zakat ini akan meningkatkan taraf hidup perekonomian mereka yang rata-rata berada dalam kondisi ekonomi lemah.

Hari Santri 2019

Berbagai variasi zakat produktif juga terus dikaji oleh LAZISNU Pringsewu dengan melihat kebutuhan dan prospek yang ada di masyarakat khususnya di Kabupaten Pringsewu.

"Kita tidak hanya mewujudkan zakat produktif dalam wujud hewan ternak kambing. Tetapi hewan ternak lainnya yang memiliki nilai ekonomis tinggi juga disalurkan seperti kita sudah menyalurkan hewan ternak berupa burung love bird yang akan diternak oleh para mustahiq," jelasnya.

Pemilihan burung love bird sebagai alternatif wujud zakat produktif didasarkan atas tingginya minat masyarakat untuk memelihara burung yang terkenal memiliki variasi warna dan kicauan ini.

Hari Santri 2019

"Burung ini mudah dalam perawatan dan cepat berkembang biak dan dipasaran juga harganya bersaing. Oleh karenanya kita berharap mustahiq yang merawat burung ini akan terangkat ekonominya," harapnya.

Nantinya pengelolaan zakat produktif ini akan terus dipantau perkembangannya dan dilakukan evaluasi berkala sehingga akan terlihat bentuk zakat apa yang paling prospektif.

"Mudah-mudahan jenis-jenis pentasyarufan zakat produktif ini akan benar-benar dapat menelurkan produk dan bermanfaat bagi pengentasan kemiskinan khususnya di Kabupaten Pringsewu," harapnya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Amalan, Bahtsul Masail Hari Santri 2019

Senin, 01 Januari 2018

Ijtihad untuk Perbankan Syariah pada Kasus Bai’u Hukmi dan Qabdlu Hukmi

Pendirian bank syariah di Indonesia dengan fokus peningkatan kualitas muamalah masyarakat Muslim di Indonesia adalah sebuah keniscayaan dalam ijtihad. Semuanya berangkat dari dalil asal bahwa menyiapkan sebuah sistem perbankan zero riba adalah berlandaskan pada keputusan dalil qath’i halalnya jual beli dan haramnya riba. Dengan demikian, untuk mencapai kondisi zero riba, segala wasilah menuju ke arahnya, sangat mungkin untuk diusahakan. Sebuah kaidah fiqih mengatakan:

Ijtihad untuk Perbankan Syariah pada Kasus Bai’u Hukmi dan Qabdlu Hukmi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ijtihad untuk Perbankan Syariah pada Kasus Bai’u Hukmi dan Qabdlu Hukmi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ijtihad untuk Perbankan Syariah pada Kasus Bai’u Hukmi dan Qabdlu Hukmi

? ? ? ? ? ?

Hari Santri 2019

Artinya: “Segala sarana menuju sempurna perkara wajib maka wajib pula menyediakan sarana tersebut.”

Hari Santri 2019

Masalahnya adalah, upaya memberikan landasan fiqih terhadap beberapa praktik muamalah perbankan syariah terkadang menemui beberapa kendala. Kendala yang amat mungkin terjadi adalah konsepsi fiqih turats (fiqih tradisi/klasik) yang kadang seolah bertentangan dengan konsepsi muamalah modern. Untuk itulah pemikiran terus-menerus dan upaya menggali potensi masuk ke dalam keabsahan akad muamalah modern, sangat diperlukan. 

Banyak wasilah yang bisa dipergunakan oleh para pemikir dan praktisi perbankan syariah ini. Qaidah ‘urfiyah, istihsan, konsepsi maslahatul mursalah, istishhab, memiliki peluang untuk dimanfaatkan. Pertimbangan pesatnya kemajuan teknologi dan faktor yang memungkinkan penjagaan dari unsur ghabn dan tadlis (penipuan), juga dapat dijadikan bahan masukan pertimbangan. Jika produk lama fiqih umumnya menggunakan data murasalah (surat-menyurat) yang diantarkan langsung oleh jasa kurir, bisa jadi kondisi ini bisa dipangkas melalui peran hightech, seperti email, telekonferensi, faximile, telepon, dan lain-lain. 

(Baca juga: Beberapa Problem Fiqih dalam Perbankan Syari’ah)Dalam pasar saham misalnya, peran hightech sangat tampak mendominasi transaksi jual-belinya. Padahal dalam fenomena pasar saham, lebih banyak dihuni oleh data dan dokumen. Konsep jual-beli yang sebelumnya harus yadan bi yadin (serah terima tangan), memungkinkan menjadi diubah fungsinya menjadi akad mubaya’ah hukmiyah (jual beli hukmi). Jika mubaya’ah sudah berlangsung secara hukmi, maka aqad qabdlu-nya juga pasti berlangsung secara hukmi. Bagaimana dengan syarat harus mengetahui sifat dan jenis barang sebagaimana disyaratkan dalam fiqih klasik? Dalam hal ini, maka dikembalikan kepada kasus urfi (adat/tradisi) yang berlaku di kalangan masyarakat pialang bursa efek.

Mubayaah hukmi adalah jual beli yang disertai perpindahan kepemilikan barang yang berlaku melalui nota/dokumen. Qabdlu hukmi, adalah penerimaan hak tamlik atas suatu barang melalui dokumen.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: "Al-Qabdlul hukmi adalah setiap perkara yang bisa memastikan kepemilikan barang dan memungkinkan penggunaannnya secara urf setempat meski tanpa harus memegang aset atau memegang secara fisik (legal ownership)." (Wahbah Al Zuhaily dalam kitab al-Fiqhul Islam wa Adillatuhu)

Dalam kasus mubayaah hukmi dan qabdlu hukmi ini permasalahan yang mungkin timbul adalah bagaimana dengan syarat harus mengetahui sifat dan jenis barang sebagaimana disyaratkan dalam fiqih klasik. Dalam hal ini, maka dikembalikan kepada kasus urfi (adat/tradisi) yang berlaku di kalangan masyarakat pialang bursa efek.

Komisi Bahtsul Masail Diniyah Waqi’iyah di Mu’tamar NU ke-32 di Makasar, pernah membahas tentang konsepsi majelis dan pengaruhnya terhadap akad jual beli serta akad nikah. Para pembaca bisa merujuk ke hasil sidang tersebut agar mudah memahami arah tulisan ini.

Pada keputusan Komisi Bahtsul Masail Diniyah Waqi’iyah di Muktamar NU ke-32, Makassar, para musyawwirin pertama kalinya mencoba menggali hukum transaksi jual beli barang dan kebutuhan akad nikah via elektronik seperti media telepon, email dan media siber yang lain. Jawaban dari permasalahan ini ternyata memutuskan bahwa hukum transaksi jual beli melalui media elektronik adalah dipandang sah apabila sebelum transaksi kedua belah pihak penjual dan pembeli “sudah melihat” mabi’ (barang yang diperjualbelikan) atau telah dijelaskan baik “sifat” maupun “jenis” mabi’ serta memenuhi syarat-syarat dan rukun jual belinya.

Pertanyaan kedua dari soal yang sama mencoba mengungkap hukum sah atau tidaknya akad jual beli pada majelis terpisah. Hasil keputusan sidang menyebutkan bahwa hukumnya tetap sah melakukan transaksi jual-beli meskipun berada di majelis yang berbeda. Jawaban dari kedua persoalan di atas ternyata tidak berlaku sama untuk kasus akad nikah. Alasannya tidak akan disampaikan oleh penulis, karena kita fokus pada konsepsi majelis transaksi jual beli yang merupakan landasan perbankan syariah yang sedang kita dalami ini. 

Pertanyaan ketiga, majelis musyawwirin Bahtsul Masail mencoba mengungkap hukum akad/transaksi wakalah dari seorang calon pengantin kepada seseorang yang hadir di majelis. Jawaban musyawwirin terkait dengan masalah tersebut ternyata juga memandang sah mewakilkan melalui SMS dengan batasan syarat yaitu aman dan sesuai dengan nafsu al-amri (sesuai kenyataan). 

Keputusan hasil sidang Bahtsul Masail muktamar dalam memandang konsepsi sahnya transaksi di atas, didasarkan pada teks rujukan beberapa kitab, antara lain Kitab Nihayatul Muhtaj: 11/280, Hasyiyah al-Bujairamy ‘ala al-Khathib: 2/403 dan 10/148, Hasyiyatul Jamal: 4/301, Syarah Al-Yaquuti al-Nafiis: 2/22, Al Syarwany Syarah Tuhfatul Muhtaj: 4/221. 

Salah satu yang dirasa perlu dicuplik oleh penulis pada kesempatan ini adalah dasar dari kitab Al-Syarwany Syarah Tuhfatul Muhtaj (4/221):

?] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [?] ? ?] 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [?: ? ?] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “(Sah) melakukan jual beli kecuali orang yang mabuk yang tidak menyadari, karena ia bukan termasuk ahli niat berdasarkan kalam yang akan disampaikan nanti tentang thalaq (dengan kiasan) disertai dengan niat.”

Syarah: 

“Menulis di atas sesuatu yang bukan benda cair atau udara adalah masuk unsur kinayah, dan sah bila disertai dengan niat meskipun menulisnya tersebut ditujukan kepada orang yang hadir, maka sebaiknya diterima dengan segera setelah diketahuinya (tulisan tersebut), namun sebaiknya waktu khiyar keduanya diperluas karena selesainya majelis penerimaan. (Ucapan mushannif: dan tulisan, dst) perumpamaannya adalah khabar al-suluki al-muhaddits (SMS) di zaman ini, maka transaksi dengannya merupakan contoh transaksi kinayah.”

Relevansi hasil Muktamar NU ini dengan realitas modern bursa efek dan perdagangan saham tampak menemui adanya korelasi. Rambu-rambu dari fiqih turats memandang legal standing akad ada pada nafsu al-amri (sesuai dengan kenyataan) dan keamanan transaksi. Aman jika dibawa dalam konteks perdagangan saham serta bursa efek bisa jadi masuk dalam wilayah ‘urf iklim perusahaan yang memandang bahwa dokumen transaksi sebagai barang yang bisa dipergunakan sebagai bukti telah terjadinya transaksi jual beli antara perusahaan satu dengan perusahaan lainnya. 

Ibarat yang disampaikan oleh musyawwirin dengan menukil kitab Hasyiyatu al-Bujairami (10/147) tampaknya bisa menjadi batasan bagi keabsahan transaksi di atas, yaitu keberadaan unsur kecerdasan pihak yang terlibat. 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Tidak sah bagi kita akad nikah dengan jalan kinayah kecuali lewat jalan kitabah atau isyarat orang yang tulis ketika bisa dipahami oleh orang yang pandai/cerdas.”

Dengan mengacu pada kutipan di atas, suatu akad dipandang sah dengan jalan tulisan (nota) namun dengan batasan bisa dipahami oleh orang yang cerdas. Lantas bagaimana dengan akad jual-beli lewat jalur dokumen, lalu menjual lagi melalui jalur dokumen pula, sementara unsur qabdlu-nya diwakili secara dokumen pula? Contoh riilnya kasus transaksi tawarruq di perbankan syariah, yang sebelumnya pernah kita bahas di sini. 

(Baca: Dilema Transaksi Tawarruq pada Lembaga Keuangan Syariah)Sampai di sini, problematika tersebut sudah terjawab, bahwa akad tersebut masih masuk unsur sah, dengan syarat bisa dipahami oleh orang yang cerdas. Aplikasi pihak yang dimaksud sebagai “orang yang cerdas” di sini barangkali adalah Lembaga/Badan Perlindungan Dana Konsumen dan Nasabah Perbankan.” Namun, dimanakah ia berkedudukan?

Wallahu a’lam

Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh PP Hasan Jufri Putri P. Bawean, Kab. Gresik, Jatim.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Budaya, Amalan Hari Santri 2019

Kamis, 28 Desember 2017

Gus Mus: Masih Timpang antara Pendidikan dan Pengajaran

Magelang, Hari Santri 2019. Ada dua model pendidikan di Indonesia yang selama ini masih timpang, yakni pendidikan di pondok pesantren yang banyak menekankan sisi pendidikan (tarbiyah) dan sekolah-sekolah umum yang lebih banyak menggarap sisi pengajaran (ta’lim).

Menurut KH Musthofa Bisri (Gus Mus), pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Rembang, dalam model tarbiyah penerapan akhlak menjadi prioritas, sedangkan penguasaan ilmu tidak terlalu dipentingkan. Sebaliknya, dalam model ta’lim, yang penting anak pintar dan masa bodoh dengan akhlak.

Gus Mus: Masih Timpang antara Pendidikan dan Pengajaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Masih Timpang antara Pendidikan dan Pengajaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Masih Timpang antara Pendidikan dan Pengajaran

“Akibatnya jelas, banyak murid pintar tapi kelakuannya bejat. Oleh karena itu, usul saya, pendidikan nasional itu dipadukan antara pendidikan pesantren dengan sekolah formal, agar bisa saling melengkapi, ya pintar, ya baik akhlaknya,” kata Gus Mus di sela acara haul di Pondok Pesantren Raudlatut Thullab, Wonosari, Tempuran, Magelang, pada Rabu (22/8) malam lalu.

Gus Mus juga mengajak semua pihak untuk tidak lagi melihat pendidikan di pesantren dengan sebelah mata. Sebab bagaimanapun, model pendidikan di Indonesia sudah terbukti efektif dan telah berjalan ratusan tahun. Selain kuat dalam sisi tarbiyah, pesantren juga memiliki kelebihan, yaitu bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Salah satunya dengan adanya pemberian ijazah (mata rantai keilmuan) yang tidak ditemukan di model pendidikan lain.

Dalam pandangan kiai yang juga seorang penyair itu, semakin menurunnya daya saing bangsa Indonesia di depan bangsa lain, menjadi bukti bahwa pendidikan di negeri ini masih belum seperti yang diharapkan. “Belum lagi kalau kita bicara moral, malah lebih jauh lagi,” kata Mustasyar PBNU itu.

Hari Santri 2019

Gus Mus yang malam itu hadir bersama Ketua PBNU Said Agil dan Rais Aam Mudir Jam’iyah Ahlit Thariqah An-Nahdliyah Habib Lutfi, lebih banyak menyoroti pendidikan di Indonesia yang dinilai masih melenceng dari harapan.

Dirinya mengaku prihatin dengan pendidikan akhlak di sekolah-sekolah yang semakin banyak dikesampingkan. Salah satu indikasinya, penilaian akhlak biasanya ditaruh di bagian bawah raport siswa, terpisah dari nilai akademik. Itu pun masig dibedakan.

Jika nilai pelajaran diberikan dengan angka, nilai akhlak diberikan dengan huruf. "Akibatnya, Saya yakin, semua nilai akhlak murid di Indonesia itu B, sebab mau dikasih A tidak mungkin, mau dikasih C kasihan,” kata Gus Mus, yang disambut tawa ribuan warga NU Magelang.(sbh)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Anti Hoax, Amalan Hari Santri 2019

Selasa, 26 Desember 2017

6 Strategi Peningkatan Mutu Madrasah

Jakarta, Hari Santri 2019 - Hasil penelitian Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kemenag (2016 yang dilakukan di tiga Madrasah Tsanawiyah (MTs) yaitu MTsN 2 Bandar Lampung, MTs Al Hikmah dan MTsN Bukit Raya Pekanbaru menemukan enam strategi peningkatan mutu pendidikan di madrasah.

Pertama, pengembangan kurikulum dan pembelajaran yang berorientasi pada siswa (student centered). Strategi ini lebih mampu memberdayakan pembelajaran siswa yang menekankan pada keaktifan belajar murid, bukan pada keaktifan mengajar guru.

6 Strategi Peningkatan Mutu Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
6 Strategi Peningkatan Mutu Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

6 Strategi Peningkatan Mutu Madrasah

Kedua, pengelolaan kesiswaan yang berfokus pada pelayanan terhadap peserta didik agar mereka berhasil dalam mengikuti proses pembelajaran dan sekaligus dapat memberi harapan semua pihak.

Hari Santri 2019

Ketiga, pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan. Pengelolaan ketenagaan bertujuan? untuk? mendayagunakan tenaga-tenaga kependidikan secara efektif dan efisien guna mencapai hasil yang optimal, namun tetap dalam kondisi yang menyenangkan.

Keempat, pengelolaan sarana prasarana, mulai dari pengadaan, pemeliharaan dan perbaikan, hingga sampai pengembangan. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa madrasah yang paling mengetahui kebutuhan sarana dan prasarana, baik kecukupan, kesesuaian, maupun kemuktahirannya, terutama sarana dan prasarana yang sangat erat kaitannya dengan proses belajar mengajar secara langsung.

Terkait penyediaan sarana prasarana di tiga MTs, dimana? MTsN 2 Bandar Lampung, MTs Al Hikmah dan MTsN Bukit Raya Pekanbaru telah menyediakan beragam fasilitas penunjang peningkatan mutu pendidikan diantaranya mulai dari penyediaan ruangan belajar, kantor kepala, TU dan guru, laboratorium komputer, laboratorium IPA, laboratorium bahasa, gedung olahraga, lapangan upacara, ruang Bimbingan Konseling, ruang UKS/M, sangar pramuka, sanggar seni, perpustakaan, masjid, tempat parkir, pos keamanan, pagar.

Hari Santri 2019

Kelima, pengelolaan pembiayaan. Keuangan di madrasah merupakan bagian yang amat penting karena setiap kegiatan membutuhkan dana. Madrasah? juga? harus? diberikan? kebebasan? untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan, sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah.

MTsN 2 Bandar Lampung dan MtsN Bukit Raya? dana yang digunakan selain adari Bantuan Operasional Sekolah (BOS), juga dari para donatur, keterlibatan orang tua, juga bantuan dana dari Pemda dan lembaga DPRD. Sedangkan MTs Al-Hikmah Bandar Lampung, dana banyak berasal dari kharismatik Kyai pesantren Al-Hikmah Bandar Lampung yang membuat masyarakat mau membrikan sumbangan dana untuk peningktan mutu madrasah.

Keenam, output yang diharapkan. Madrasah harus memiliki output yang diharapkan. Output madrasah adalah prestasi madrasah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di madrasah. Output madrasah diklasifikasikan menjadi dua, yaitu output berupa prestasi akademik (academic achievement) dan output berupa prestasi non akademik (non academic achievement).

Terkait output yang prestasi di madrasah, tiga MTs yang telah diteliti memiliki peserta didik yang mumpuni di bidang akademik, dimana peserta didik telah mendapat NEM yang bagus dan meraih berbagai? kejuaraan di antaranya kejuaraan olimpiade matematika, fisika, biologi. Begitu pula dengan prestasi nonakademik, dimana ketiga Mts yang diteliti telah memiliki penghargaan mulai dari tingkat nasional, tingkat propinsi dan tingkat kab/kota, misalnya kejuaraan pramuka, PMR, seni tari, Silat, Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ). (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kyai, Amalan Hari Santri 2019

Minggu, 17 Desember 2017

Innalillahi, KH Wildan Abdul Hamid Mustasyar PWNU Jateng Wafat

Semarang, Hari Santri 2019. Kabar duka datang dari Kendal, Jawa Tengah. KH Wildan Abdul Hamid merupakan adik dari Abuya KH. Ahmad Abdul Hamid berpulang ke Rahmatullah, Kamis (9/6) pukul 03.00 WIB dini hari di rumah sakit Sardjito Yogyakarta. Kiai yang lahir tahun 1931 meninggal karena faktor usia yang sudah sangat sepuh.

Innalillahi, KH Wildan Abdul Hamid Mustasyar PWNU Jateng Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, KH Wildan Abdul Hamid Mustasyar PWNU Jateng Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillahi, KH Wildan Abdul Hamid Mustasyar PWNU Jateng Wafat

"Subuh ini mendengar berita: saudaraku dan murid kesayangan ayahku KH. Wildan Abdul Hamid Kendal telah dipanggil kehadirat Allah SWT. Semoga Allah menerima segala amal baiknya dan mengampuni segala kesalahannya", ? tulis KH Ahmad Mustofa Bisri di akun Facebook pribadinya.

Selain itu, Gus Mus juga mendoakan semoga keluarga dan para santrinya sabar dan ikhlas serta mampu melanjutkan ajaran dan perjuangannya. Pondok Pesantren Roudlotul Mutaallimin merupakan warisan untuk diteruskan para keluarganya.? Selain itu, Kiai Wildan memiliki pengajian rutin kitab Ihya Ulumuddin tiap Selasa pagi untuk kiai-kiai muda dan bapak-bapak, sedangkan untuk ibu-ibu dan remaja putri beliau mengaji Tafsir al-Ibriz? KH Bisri Mustofa dan Mujarrobat? Mbah Sholeh Darat.

Kiai Wildan juga masih tercatat sebagai Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah masa khidmah 2013-2018, Ketua Majelis Ulama Indonesia Kendal, dan Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia Kendal.

"Kesan yang bisa saya tanggap dari beliau adalah kesederhanaan dan sangat tadzim kepada kiai-kiai sepuh," ungkap KH. Asroi Thohir salah satu menantu.

Hari Santri 2019

Kiai Wildan meninggalkan Hj. Faizah (istri) dengan delapan putra-putri yaitu Wahidah Ghodif, Rohmah, Fauziyah, Robiatul Adawiyah, Nur Azizah, Atikah, Nihayah dan Muhammad Farid Fadh. Rencana pemakaman nanti bada Ashar awal di maqbarah Grabag Kendal. (M. Zulfa/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Amalan, Meme Islam, Hadits Hari Santri 2019

Senin, 11 Desember 2017

Gus Mus Terbitkan Tiga Buku Baru

Jakarta, Hari Santri 2019

Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus menerbitkan tiga buku baru kemarin (20/6). Ketiga buku terbitan Mata Air Publishing itu terdiri dari satu buku kumpulan puisi berjudul Aku Manusia dan dua buku kumpulan esai Agama Anugerah, Agama Manusia dan Sang Pemimpin.

Gus Mus Terbitkan Tiga Buku Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Terbitkan Tiga Buku Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Terbitkan Tiga Buku Baru

Menurut Rizal Wijaya dari Mata Air Publishing, tujuan menerbitkan buku ini adalah untuk menyebarkan pemahaman keislaman dari ulama yang memang dikenal memiliki ilmu yang luas dan mendapatkan ilmunya dari berbagai sumber.

"Sehingga melalui karya dan pemandangan Gus Mus ini orang-orang akan lebih memahami agama dan tidak disalahpahami dari sisi yang sempit saja," ujarnya.

Hari Santri 2019

Selain itu, tambah Rizal, penerbitan 3 buku ini juga mempunyai misi untuk menebarkan pemahaman agama dan keberagamaan yang menyejukkan, serta menyajikan pengetahuan agama secara utuh mulai dari kulit hingga esensinya.

Hari Santri 2019

"Mata Air mengajak kembali umat untuk gemar membaca melalui tulisan yg ringan tetapi berbobot," tutup pria yang juga mengelola kanal Gus Mus TV itu.

Terbitnya tiga karya ini juga menambah deretan karya dan buku yang telah diterbitkan oleh pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin (Rembang) ini. Beberapa buku itu antara lain Rubaiyat Angin dan Rumput (Majalah Humor dan PT. Matra Media, Cetakan II, Jakarta, 1995). Pahlawan dan Tikus (kumpulan pusisi, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996). Mahakiai Hasyim Asyari (terjemahan, Kurnia Kalam Semesta Yogya, 1996) dan lain-lain. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Amalan Hari Santri 2019

Sabtu, 02 Desember 2017

Parade Hadrah Al Banjari Meriahkan Pasar Rakyat

Jombang, Hari Santri 2019. Kegiatan Pasar Rakyat Indonesia hasil kerjasama antara PBNU dengan PCNU Jombang terus mendapat perhatian masyarakat. Warga sekitar tidak semata mendapat sembako atau sembilan bahan pokok yang relatif terjangkau, juga bisa menikmati parade kesenian dan kebolehan dari warganya.

Parade Hadrah Al Banjari Meriahkan Pasar Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Parade Hadrah Al Banjari Meriahkan Pasar Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Parade Hadrah Al Banjari Meriahkan Pasar Rakyat

Hal itu seperti pelaksanaan Pasar Rakyat Indonesia di Jombang pada hari kedua, Ahad pagi hingga siang (10/2). Pengunjung bisa juga menikmati parade banjari sejak pagi hingga jelang shalat dhuhur. 

Penampilan  ini sengaja dibuat beda dan panjang lantaran sebagai media untuk menampilkan grup banjari kebanggaan kota santri. 

Hari Santri 2019

“Paling tidak, kita bisa menunjukkan dan memberi waktu kepada mereka untuk bisa memperkenalkan sekaligus menghibur masyarakat,” kata Ahmad Syamsul Rijal kepada Hari Santri 2019.

Ketua Panitia Pasar Rakyat ini menandaskan, disamping para pengunjung dapat memperoleh informasi dan memperoleh beberapa sembako dengan harga jauh di bawah pasar, pada saat yang sama bisa memperoleh hiburan berupa parade banjari. 

Hari Santri 2019

“Waktu pentas memang lama dan panjang,” kata Mas Rijal –sapaan akrabnya-. Hal ini karena parade yang dimaksud adalah kolaborasi dari sejumlah grup banjari dari seluruh Jombang. 

“Kita pilih personel terbaik, dan mereka dipersilahkan mengeksplorasi kemampuan terbaiknya,” kata Rijal.

Bisa jadi, arena Pasar Rakyat sejak pagi tadi bernuansa pasar islami. Pada saat para pengunjung berbelanja, mereka juga bisa merasakan dan mendengar serta menyaksikan tampilan grup banjari terbaik yang dimiliki PCNU Jombang. 

“Benar-benar nuansa baru,” kata salah Afhadi Junaidi, salah seorang pengunjung. 

Untuk sore, kegiatan pasar rakyat masih terus berlangsung. Dan sejak jam 16.00 WIB, pengunjung dihibur oleh penampilan grup musik dari Jakarta. Dan usai shalat Magrib sebagai puncak acara harlah NU, maulidurrasul serta pasar rakyat. 

“Dari PBNU yang akan hadir adalah Drs H Saifullah Yusuf,” kata Mas Rijal. 

Persiapan dalam rangka resepsi harlah tersebut sudah cukup siap. Malam ini ditampilkan seni calong, yakni alat musik angklung dari MTsN Bahrul Ulum Tambakberas. Ada juga parade band musik dengan syair dan lirik islami. 

“Doakan segalanya bisa berjalan sesuai harapan,” harap Mas Rijal. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Saifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tegal, Amalan Hari Santri 2019

Rabu, 29 November 2017

Kondisi Makam Ibnu Hajar Al-Asqalani Memprihatinkan

Solo, Hari Santri 2019. Siapa tidak mengenal Syaikh Ibnu Hajar Al-Asqalani? Ulama asal daerah Asqolan ini begitu besar jasanya bagi perkembangan keilmuan Islam, khususnya di bidang ilmu Hadist, melalui beberapa karyanya, antara lain kitab Fathul Bari, Bulughul Maram dan lainnya.

Kondisi Makam Ibnu Hajar Al-Asqalani Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kondisi Makam Ibnu Hajar Al-Asqalani Memprihatinkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kondisi Makam Ibnu Hajar Al-Asqalani Memprihatinkan

Namun, baru-baru ini terdengar kabar memprihatinkan yang datang dari Mesir, tempat Ibnu Hajar dimakamkan. Diberitakan, kondisi makam penulis kitab Al-Isabah fi Tamyizis Shahabah, ensiklopedi para sahabat, ini dalam kondisi rusak tak terawat.

Menurut penuturan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Agus Maftuh, yang kini tengah berada di Kairo, kondisi atap makam Syaikh Ibnu Hajar sudah hancur dan di luar makam banyak dipenuhi kotoran hewan.

Hari Santri 2019

“Sedih dan trenyuh ketika melihat peristirahatan terakhir (Ibnu Hajar) yang hampir runtuh. Tahun 2005 ketika saya ziarah kondisinya masih bagus, tapi sekarang atapnya sudah hancur dan di depan pintu penuh kotoran hewan karena dijadikan pasar hewan,” ungkap Agus Maftuh dalam akun facebook-nya, Jumat (22/8).

Hari Santri 2019

Menurut Agus, kondisi ini diperparah dengan ulah yang dilakukan oleh beberapa oknum yang meletakkan tumpukan tanah di depan pintu makam. “Tumpukan tanah, sengaja ditempatkan di depan pintu agar orang tidak meziarahi ulama besar ini karena Wahabi menganggapnya ‘ulama sesat’ dan makamnya pernah akan mereka hancurkan,” terang Agus.

Penulis pengantar dalam buku Islam Kosmopolitan karya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menambahkan, saat ini kota asal Ibnu Hajar, Asqolan atau Asqelon yang kini masuk wilayah Israel, tengah diliput banyak media Internasional. “Semoga barokahe Ibnu Hajar, para kaum Yahudi, Islam, dan Kristen dapat rukun,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri, Sejarah, Amalan Hari Santri 2019

Rabu, 22 November 2017

Laku Spiritual KH Wahid Hasyim

Di balik kiprah dalam karir politiknya yang cemerlang, pemikirannya yang progresif, dan sebagai tokoh ulama yang alim, pada diri KH Abdul Wahid Hasyim (1914-1953) menyimpan pula kepribadian yang terpuji dan karakter yang mulia. Salah satu di antara kesukaan yang telah menjadi kebiasaan yang melekat pada putra Hadhratussyekh KH M Hasyim Asyari ini adalah gairahnya dalam membaca dan menghafal Al-Quran.

Ayahanda Gus Dur ini selain suka berpuasa sunah yang sering dilakukannya adalah membaca Al-Quran dan berdzikir di malam hari. Kegemaran membaca dan menghafal Al-Quran membuatnya secara tetap menyisihkan sebagian waktunya untuk membaca atau menghafal Al-Quran di tengah-tengah kesibukannya sebagai seorang pemimpin nasional. Kesibukannya sepanjang hari yang penuh dengan acara-acara politik, perjuangan, dan kemasyarakatan tidak menghalanginya untuk mencari celah waktu agar dapat membaca dan menghafal Al-Quran. 

Laku spiritual tersebut selalu dilakukannya, baik ketika sedang menghadiri persidangan kabinet, berdiskusi, atau sedang menyetir mobil sekalipun. Dengan demikian setiap hari selalu ada waktu yang disempatkannya untuk untuk meneruskan hafalan Al-Qurannya.  Bila sudah khatam seluruh Al-Quran, maka diulangi lagi dari permulaan.  Selain itu bacaan Al-Quran yang hendak dihafal dibacanya pula dalam tiap kali shalat. Meskipun beliau bukan seorang hafiz, tetapi boleh dikatakan hampir hafal seluruh isi Al-Quran.

Laku Spiritual KH Wahid Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Laku Spiritual KH Wahid Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Laku Spiritual KH Wahid Hasyim

Dalam kaitan dengan Al-Quran ini, ada satu hal yang menarik pada diri KH Wahid Hasyim. Telah menjadi kebiasaannya apabila sedang sakit, ia tak cuma diobati dengan obat-obatan dari dokter, melainkan seringkali mendengarkan bacaan-bacaan Al-Quran. Kebetulan yang menjadi salah satu juru tulisnya adalah seorang yang bernama Khairi Abdurrahman yang tinggal di daerah Kebon Manggis, Matraman, Jakarta Timur. 

Suatu waktu Khairi ini ditanya Kiai Wahid siapa kiranya yang bisa dipanggil untuk membaca Al-Quran ketika beliau menderita sakit. Kemudian Khairi Abdurrahman bertanya kepada istrinya yang berasal dari Serang. Ketika itu kebetulan di sana banyak terdapat ahli dalam membaca Al-Quran. Ternyata salah seorang di antara kerabatnya sendiri  adalah seorang tokoh qiraat yang kemudian menjadi sangat terkenal di Jakarta, yaitu KH Tubaghus Manshur Mamun.  Maka dipanggilkah kiai tersebut ke Jakarta untuk membacakan Al-Quran kepada KH Wahid Hasyim yang sedang sakit. Itulah awal mula kedatangan ahli Al-Quran terkemuka ini ke ibu kota. Jadi kedatangannya terkait dengan kehidupan KH Wahid Hasyim.    

Hari Santri 2019

Kecintaan membaca  dan mendengarkan ayat-ayat suci Al-Quran yang telah mengakar kuat pada karakter KH Wahid Hasyim ini bila ditelusuri merupakan salah satu kebiasaan yang dahulu juga telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.  Dalam sejarahnya, Rasulullah senang mendengarkan bacaan Al-Quran dari orang lain sebagaimana beliau juga senang membacanya sendiri.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Masud, ia berkata, Rasulullah bersabda, "Bacakanlah Al-Quran untukku. Abdullah bin Masud menjawab, "Ya Rasululluah, haruskah aku membacakannya kepada Anda, sedangkan Al-Quran sendiri diturunkan kepada Anda?"

Rasulullah menjawab, "Benar aku ingin mendengarkannya darimu”. Maka Abdullah bin Masud membacakan Surat An-Nisa. (M. Haromain)

Hari Santri 2019

Disarikan dari: Ali Yahya, Sama Tapi Berbeda: Potret Keluarga Besar KH A Wahid Hasyim, penerbit: Yayasan KH A Wahid Hasyim, 2007.  

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Amalan, Pesantren Hari Santri 2019

Minggu, 19 November 2017

Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat

Jakarta, Hari Santri 2019. Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Dr Bambang Pranowo mengatakan Islam moderat di Tanah Air harus diperkuat untuk mencegah meluasnya pengaruh paham radikal.

"Penguatan pemahaman Islam yang moderat dan toleran menjadi salah satu senjata untuk mencegah masuknya paham kelompok radikal dan terorisme seperti ISIS," katanya di Jakarta, Jumat.

Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Moderat di Indonesia harus Diperkuat

Ia menilai langkah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melakukan kampanye dan sosialisasi pencegahan paham kekerasan dan ISIS di berbagai kalangan sudah bagus, namun harus ditindaklanjuti dengan adanya penguatan pemahaman tentang Islam sesuai ajaran yang benar.

Menurut Guru Besar Sosiologi Agama ini, pemerintah dan Ormas Islam di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah berkewajiban untuk memberikan pemahaman Islam kepada segenap anak bangsa.

Sementara itu Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) KH Ahmad Satori Ismail mengatakan Islam adalah agama yang mengajarkan kelembutan, cinta kasih, dan persaudaraan.?

Hari Santri 2019

"Dalam Islam tidak ada sama sekali ajaran untuk merusak, meneror, apalagi membunuh sesama manusia," katanya.

Menurutnya, Islam yang indah, lembut, dan damai itu selalu diajarkan Nabi Muhammad SAW. Bahkan saat terjadi perang, juga diajarkan untuk menghormati musuh dan tidak boleh menyakiti anak-anak, wanita, dan orang tua.?

Semua itu adalah cerminan bahwa cara-cara kekerasan itu bukan Islam, apalagi tindakan itu menimbulkan korban jiwa.

Hari Santri 2019

"Jadi tidak ada hubungannya antara Islam dengan aksi-aksi terorisme yang terjadi akhir-akhir ini. Mereka tidak paham makna sebenarnya dari Islam yang mengajarkan kelembutan, kedamaian dan rahmatan lil alamin. Itulah inti ajaran Islam," ujar Ahmad Satori.

Untuk itu, ia mengajak umat Islam Indonesia untuk memperkuat pemahaman tentang makna Islam yang benar agar tidak terjebak dan terpengaruh propaganda paham radikal terorisme.?

Terkait jihad, Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI ini mengatakan di alam kemerdekaan Indonesia saat ini, jihad tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan dengan berbagai cara seperti menggunakan tenaga, harga, jiwa, dan lain-lain untuk kemaslahatan.

"Di zaman sekarang, perjuangan (jihad) kita bukan dengan angkat senjata, tapi dengan memerdekaan negeri ini dari pengaruh asing, kemiskinan, sehingga Indonesia bisa menjadi negara yang aman, damai, makmur, dan sejahtera," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Amalan Hari Santri 2019

Jumat, 10 November 2017

Gus Mus: Pemimpin Mesti Mencintai dan Dicintai Rakyat

Rembang, Hari Santri 2019. Wakil Rais Aam PBNU KH Musthofa Bisri membeberkan keriteria pemimpin yang sangat dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini. Menurut pengasuh Pesantren Raudlotul Tholibien ini, pemimpin yang dibutuhkan adalah mereka yang bisa dicintai dan mengayomi rakyatnmya.

Kiai yang akrab dipanggil Gus Mus itu menjelaskan, pemimpin harus mencintai dan dicintai masyarakatnya. Ia tidak menyebut kandidat atau calon pemimpin tertentu. Yang jelas pemimpin itu harus amanah, dapat dipercaya dan kuat.

Gus Mus: Pemimpin Mesti Mencintai dan Dicintai Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Pemimpin Mesti Mencintai dan Dicintai Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Pemimpin Mesti Mencintai dan Dicintai Rakyat

Hal tersebut dikatakan kepada sejumlah awak media di sela sela menerima kedatangan Anies Baswedan di kediamanya di Jalan Bisri Musthofa Leteh, Rembang, Jawa Tengah, Selasa (24/12).

Hari Santri 2019

Gus Mus menambahkan, pemimpin yang cinta terhadap rakyat pastilah mau melakukan apa saja untuk yang mereka cintai (rakyatnya). Dan kecintaan rakyat terhadap pemimpinya merupakan dukungan yang mampu membuat seorang pemimpin kuat dalam menghadapi segala hal.

Terlepas dari keriteria seorang pemimpin yang seperti itu, Gus Mus menyebut Anies Baswedan mewakili generasi muda. Dirinya mengaku mendukung peremajaan pemimpin di Indonesia. Gus Mus sangat setuju jika ada orang muda yang maju untuk sesuatu yang baik. Para pemuda dinilai bisa memberi angin segar bagi dalam roda pemerintahan, pasalnya energi yang dimiliki masih belum tercemar.

Hari Santri 2019

Tetapi, menurut ulama yang juga sastrawan itu, ada yang sedikit payah belakangan ini. Mereka yang sudah duduk di pemerintahan seringkali ingin bertahan lama menduduki kursi jabatannya meski usia dan tenaga sudah renta.

Gus Mus juga menyebut warga negara Indonesia termasuk warga yang paling baik. Mayoritas dari mereka masih mau membayar pajak, menaati peraturan, dan datang mencoblos dalam setiap musim pemilu. Seorang pemimpin menjadi wajib, dengan membalas kebaikan rakyatnya dengan sebaik baiknya.

Dalam kesepatan itu, Gus Mus juga mengajak kepada seluruh elemen bangsa agar menanamkan pola hidup sederhana. Sebab, jelasnya, kecintaan terhadap materi secara berlebihan bisa membuat seseorang nekat melakukan kejahatan, termasuk perampokan uang rakyatnya. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Amalan, AlaNu, Ahlussunnah Hari Santri 2019

Jumat, 27 Oktober 2017

NU Lebanon Gelar Pendidikan Kader Dai Aswaja

Beirut, Hari Santri 2019

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Lebanon menggelar pendidikan kader dai NU bagi para anggotanya. Kegiatan yang dimotori Lembaga Dakwah PCINU setempat ini untuk mematangkan materi dan mental peserta dalam upaya syiar Ahlusunnah wal Jama’ah.

NU Lebanon Gelar Pendidikan Kader Dai Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Lebanon Gelar Pendidikan Kader Dai Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Lebanon Gelar Pendidikan Kader Dai Aswaja

Pendidikan kader dai NU berlangsung Kamis (9/3), sebelum acara rutin malam Jumat berupa Yasinan dan Tahlilan, di kediaman Ustadz H Rahmansyah yang merupakan keluarga Kedutaan Besar RI (KBRI) Beirut.

"Saya sangat bangga sekali dengan kegiatan PCINU Lebanon, khususnya acara pada hari ini. Seperti yasinan dan tahlilan yang barusan kita lakukan mengingatkan kita dulu berada di pondok pesantren meskipun saat ini kita jauh di luar negeri,” ujar Rahmansyah.

Hari Santri 2019

Menurutnya, pendidikan kader dai juga amat bermanfaat sebagai sarana belajar berdakwah secara lebih baik. Pembimbing PPI Lebanon periode 2012-2013 ini juga mengucapkan terima kasih atas doa yang disampaikan untuk almarhumah ibundanya yang baru dipanggil beberapa bulan lalu. "Semoga kita selalu saling mendoakan," tambah Rahmansyah.

Selain itu, Ketua PCINU Lebanon Rahmat Ilahi mengharapkan rutinitas pertemuan seperti ini menambah suasana kekeluargaan antarwarga negara Indonesia di Lebanon, sebagai wahana untuk saling menyapa.

Hari Santri 2019

Pendidikan kaderisasi dai, Yasinan dan Tahlil malam itu ditutup dengan ramah tamah. Tampak suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan dari para peserta kaderisasi dai yang hadir. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Amalan Hari Santri 2019

Selasa, 24 Oktober 2017

Ramadhan, Perselingkuhan Kebencian dan Perdamaian

Oleh Dhilla Nuraeni Az-zuhri

Indonesia merupakan negeri yang sarat dengan konflik kekerasan. Bersamaan dengan transisi politik, semua persoalan yang dihambat atau ditekan pada masa rezim Orde Baru mengemuka. Ketidakpuasan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah tiba-tiba menemukan penyalurannya melalui cara-cara kekerasan fisik dalam bentuk verbal, dan konflik komunal.

Ramadhan, Perselingkuhan Kebencian dan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Perselingkuhan Kebencian dan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, Perselingkuhan Kebencian dan Perdamaian

Belakangan ini, terdapat kecenderungan menguatnya kekerasan oleh kalangan masyarakat sendiri sehingga muncul kesimpulan bahwa kekerasan yang berlarut adalah hasil reproduksi secara sosial melalui proses intermalisasi pengalaman kognitif, setelah pada periode sebelumnya kekerasan lebih didominasi oleh kekerasan negara (state-violence) yang dilakukan secara sistemik melalui institusi-institusi kekerasan.

Hari Santri 2019

Maka, tak heran jika sampai saat ini, berbagai bentuk kekerasan terus terjadi di berbagai level masyarakat sehingga mempermudah terjadinya letupan konflik vertikal maupun horizontal.

?

Di satu sisi, sangat tidak mudah untuk menguraikan akar persoalan konflik kekerasan, bahkan menuntaskannya. Di sisi lain, hal ini justru memunculkan "tantangan" baru bagi kita untuk berupaya mencari jalan keluar dengan memikirkan altematif pemecahan persoalan yang sesuai dengan potensi serta komitmen yang dimiliki.

Tulisan singkat ini tidak dimaksudkan untuk mengulas satu per satu persoalan-persoalan yang berkaitan dengan konflik, krisis yang memberi "ruang" bagi munculnya konflik kekerasan, serta transisi politik yang berlangsung.

Hari Santri 2019

Namun, menawarkan suatu agenda posisi kita sebagai peace-worker ataupun peace-builder yang memiliki komitmen untuk mengupayakan alternatif keluar dan konflik kekerasan, dan mendorong terbentuknya budaya damai (peace culture) sehingga memungkinkan untuk membawa potensi konflik kekerasan atau konflik kekerasan yang sudah berlangsung ke arah perdamaian yang lebih kooperatif dan positif.

"Tidak ada perdamaian jika masih terselip kebencian. Karena kebencian mendegradasi keadilan yang jadi visi perdamaian"

Di bulan suci Ramadhan ini mari kita sucikan hati (walaupun sejenak). Tinggalkan sudah aroma kebencian dalam interaksi sosial kita. Mari membangun perdamaian dengan menebar kebaikan dan kesantunan pada sesama.

Mari berlaku adil bagi pikiran, perasaan, ucapan, dan tingkah laku kita. Jangan pernah adalagi sesuatu hal yang dapat menjadi bahan "omongan" khususnya di sekitar lingkungan kita. Tunjukkan pada Masyarakat bahwa kita mencintai lingkungan dengan tidak lagi saling melempar ujaran kebencian yang dapat menimbulkan pertikaian.

Yang sedang hangat-hangatnya yaitu Fenomena Dr. Fiera Lovita yang sangat sungguh disayangkan. Intimidasi seolah berjumpa dengan "pembenaran" bagi sebab sebuah ujaran kebencian. Sebagian orang merasa itu adalah tindakan yang biadab, bahkan ada juga sebagian orang yang mengutuk keras sekelompok orang yang sering mengancam Dr. Fiera.

Teman-teman saya di Facebook, Twitter, Instagram dan Social Media lainnya ini banyak juga yang mengecam aksi intimidasi FPI terhadap Dr. Fiera. memang mental manusia negeri ini masih mudah tersulut atas ujaran kebencian yang tidak sedikit dibalas dengan aksi intimidasi dan main hakim sendiri.

Ini negara hukum. Jika memang tindakan seseorang melanggar hukum. Silahkan diproses secara hukum agar keadilan bisa terbuka. Hindari tindakan main hakim sendiri.

Yang saya sayangkan, untuk merespon fenomena ini saja banyak kalangan terdidik berlaku tidak adil. Kasus Dr. Fiera dibesar-besarkan dan mengutuk keras FPI yang mengintimidasi. Sedangkan pada kasus Fahri Hamzah di Manado kalangan terdidik ini bungkam. Padahal sama mengerikannya (bahkan lebih buruk) intimidasi yang dialami Fahri Hamzah yang diancam dibunuh dengan berbagai senjata tajam.

Sebetulnya Bapak, Ibu, dan kakak-kakak sekalian ini membela perdamaian atau membenci FPI? Tolong jangan jadikan kebencian sebagai pasangan selingkuh bagi perdamaian. Terlalu suci perdamaian jika diperselingkuhkan dengan kebencian.

Berlakulah adil, Dr. Fiera perlu dibela sebagai korban intimidasi sekaligus dihukum sebagai pelaku ujaran kebencian. Fahri Hamzah juga perlu dibela sebagai korban pengeroyokan sadis sekaligus dihukum sebagai pelaku ujaran satir yang mengarah pada kebencian.

Jangan hanya membela secara membabi buta. Membela itu penting, tapi tidak lantas menyingkirkan fakta dan bukti hukum. Jangan juga langsung menyimpulkan hukum diintervensi oleh sekelompok orang. Masih ada keadilan kok di negeri ini jika manusianya taat hukum. Saya sangat yakin itu.

Jadi, ayo di momen ibadah yang penuh maghfirah ini, kita belajar dan merenungkan kembali segala yang pernah kita lakukan. Semulia apa kita di sisi Allah dan makhluk lain. Atau sezalim apa kita di sisi Allah dan makhluk lain. Di Bulan Suci yang penuh dengan Ampunan, mari kita saling berdoa meminta maghfirah-Nya dan jadikan bulan suci Ramadhan ini sebagai Bulan yang penuh dengan rahmat (kasih sayang). Sehingga kita pun ikut serta dalam menebar kasing sayang Tuhan di dalamnya, bukan malah sering menjelek-jelekkan antara yang satu dengan yang lain. Biarkan roda kereta berjalan pada relnya masing-masing dan biarkan semua berjalan pada sunnatullah yang sudah berlaku di negara ini. Polisi dengan tugasnya, Presiden dengan tugasnya, TNi dengan tugasnya, dokter dengan tugasnya, semua punya tugas masing-masing. Jangan polisi ingin jadi dokter dan dokter berhasrat menjadi TNI.

Apalagi kita makhluk yang masih penuh dengan dosa. Yang mengaku muslim saja kita harusnya tidak berani. Karena yang punya Hak Prerogratif menilai kita Muslim adalah Tuhan apalagi menilai sebuah kebaikan dan keburukan seseorang.



Penulis adalah Mahasiswi Sekolah Pasca Sarjana UNINUS Bandung/ Wakil Sekretaris 1 PW IPPNU Jawa Barat



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Amalan Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock