Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2018

Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri

Kudus, Hari Santri 2019. Para tokoh dari berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Kudus, mendukung penguatan Kabupaten Kudus sebagai Kota Santri. Dukungan itu mengemuka dalam diskusi publik yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kudus bekerja sama dengan STAIN Kudus dan PC. Fatayat NU Kudus.

Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri

Diskusi itu dihadiri antara lain KH Hamdani (Ketua Majelis Ulama Indonesia/ MUI Kudus), H Abdul Hadi (Ketua PCNU Kudus), HA. Hilal Majdi (Ketua PD Muhammadiyah), Akhwan Sukandar (DPRD Jateng), Sri Hartini (DPRD Jateng), Ilwani (DPRD Kudus), Ulwan Hakim (DPRD Kudus), Umar Ali (pengusaha), dan Saekan Muchit (STAIN Kudus).

Penanggung jawab kegiatan, H Kisbiyanto, Kudus merupakan kabupaten dengan beragam julukan yang melekat. Mulai dari sebutan Kota Wali karena keberadaan dua makam anggota Walisongo, yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria, hingga Kota Jenang.

Kudus itu unik. Satu kabupaten yang menyandang banyak julukan. Selain dikenal sebagai Kota Wali dan Kota Jenang, juga dikenal dengan Kota Santri, Kudus Kretek, Kota Dagang, dan lainnya, katanya.

Hari Santri 2019

Akan tetapi dalam pertemuan dengan tokoh lintas sektoral itu, lebih menekankan Kudus sebagai Kota Santri. Menurut Kisbiyanto, Santri merujuk pada religiusitas dan berbasis pada nilai-nilai keagamaan.

Religiusitas dan nilai-nilai keagamaan ini, termasuk ciri menonjol hingga Kabupaten Kudus menyandang predikat Kota Santri. Kudus jadi jujugan para generasi muda untuk memperdalam agama, dengan banyaknya pesantren yang berdiri. Sehingga predikat Kudus Kota Santri menjadi penguat atas berbagai predikat lain yang melekat, paparnya. (Red: Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Makam, Budaya, Halaqoh Hari Santri 2019

Selasa, 27 Februari 2018

MWCNU Semin Pilih Kepengurusan periode 2012-2017

Gunungkidul, Hari Santri 2019. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Semin menggelar konferensi di Komplek Pondok Pesantren Al-Jauhar Sunan Pandanaran Dusun Tlepok Desa Semin Kecamatan Semin Kabupaten Gunungkidul, Ahad (22/4).?

Konferensi kali ini bertemakan “Menjalin Persaudaraan Untuk Membangun Kesadaran Bermasyarakat Berbangsa Dan Bernegara Yang Rohmatan Lil ‘ Alaminn.” Acara ini dibuka langsung oleh Camat semin.?

MWCNU Semin Pilih Kepengurusan periode 2012-2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Semin Pilih Kepengurusan periode 2012-2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Semin Pilih Kepengurusan periode 2012-2017

Selain itu Pengurus Muhammadiyah serta berbagai kalangan pemerintahan Kecamatan Semin baik sipil maupun militer Juga ikut serta dalam acara pembukaan konferensi tersebut. Konferensi MWCNU Semin Ke 10 ini diikuti 150 peserta dari PRNU se-Kecamatan Semin, Pengurus MWCNU Kecamatan Semin masa khidmat 2007-2012 dan dari PCNU Kabupaten Gunungkidul.

Hari Santri 2019

“Rencananya acara pelantikan pengurus terpilih ? MWCNU Kecamatan Semin masa khidmat 2012-2017 akan dilaksanakan Pengajian Akbar yang Insyaallah akan dihadiri oleh Al-Habib Syeikh Bin Abdul Qodir Assegaf pada bulan Juni 2012,” tutur Mulyadi selaku Ketua panitia.

Dalam pemilihan Rais Syuriyah dilakukan dengan musyawarah yang memilih KH Mustajib Muhyi. Pemilihan Ketua Tanfidziyah juga dilakukan dengan musyawarah dan berhasil memilih Mulyadi ? sebagai Ketua Tanfidziyah MWCNU Semin Periode 2012 – 2017.

Hari Santri 2019

Untuk penyempurnaan kepengurusan dibentuk Badan Formatur yang terdiri dari wakil Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama’ Kabupaten Gunungkidul, KH Mustajib Muhyi Sebagai Rois Syuriah terpilih, Mulyadi dan dibantu oleh 11 anggota yang terdiri dari wakilPengurus MWCNU demisioner dan ranting NU se-Kecamatan Semin.

Redaktur ? ? ? : Syaifullah Amin

Kontributor : ? Khairul Rasyid

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Olahraga, Budaya, Santri Hari Santri 2019

Sabtu, 10 Februari 2018

Warga NU Perlu Tingkatkan Budaya Tulis

Jakarta, Hari Santri 2019
Budaya tulis harus mulai dilakukan warga dan tokoh NU, bukan sekadar budaya lisan, karena tradisi tulis inilah yang merupakan bukti kongkrit peran kyai dalam mengembangkan umat dan masyarakat di sekitarnya.

Demikian diungkapkan, pekerja Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Supriyadi, dalam acara diskusi? pengelolaan manajemen kearsipan dilingkungan PBNU, yang diselenggarakan NU. Online, Jumat (19/8). Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua PBNU, Abdul Aziz Ahmad, segenap badan otonom NU dan pengurus kesekretariatan PBNU.

"Melalui tradisi tulisan maka semua pikiran, kebijakan, fatwa atau gerak langkah para kyai akan tercatat dan terekam dengan baik, sehingga informasi yang diperoleh lebih akurat dan kredibel," ungkapnya.

Perlunya kesadaran meningkatkan tradisi tulis para tokoh NU, lanjut alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) ini? karena Nahdlatul Ulama dan segenap tokoh-tokohnya yang amat beragam memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan republik ini, sehingga segala yang telah dilakukannya memiliki nilai sejarah yang tinggi dan ini harus diketahui oleh generasi yang akan datang."Karena ilmu pengetahuan sepenuhnya dapat ditelusuri dari sejarah, jadi kalau sampai NU tidak memiliki dokumentasi yang baik, dikhawatirkan literatur tentang NU akan sulit dilacak," tuturnya.

Dikatakan Supriyadi, selama ini, data-data kearsipan NU yang masuk masih sedikit, ketimbang yang dilakukan Muhammadiyah. NU, lanjutnya, hanya sekali menyerahkan arsip yakni ketika gedung PBNU pindah. "Meskipun data itu masih bisa terselamatkan, namun jumlahnya masih sangat sedikit dibanding kekayaan atmosfir intelektualitas NU yang sangat beragam," ujar lelaki kelahiran Surabaya ini.

Ketika ditanyakan mungkinkah NU memiliki kearsipan sendiri, dia mengatakan bisa saja itu dilakukan, tetapi membutuhkan dana yang besar, ketelitian dan investasi yang mahal. Namun, secara tekhnis bisa dilakukan, sepanjang bisa dikelola dengan baik dan mengerti bagaimana mengelolanya. "Bisa saja NU melakukan itu, karena ada juga beberapa lembaga swasta yang melakukan fungsi-fungsi kearsipan, seperti indoarsip dan lainnya," katanya.

Namun dia juga mengingatkan apabila tradisi tulisan sudah dimulai dikembangkan maka perlu dicarikan solusi untuk mengelolanya dengan baik dan benar sehingga secara tekhnis mudah ditemukan dan informasi yang penting dapat dilestarikan dengan baik.

Dalam diskusi kedua dari empat diskusi yang direncanakan oleh Hari Santri 2019, terungkap lebih dari 25 km data berupa kertas jika dijejer memanjang, 1 juta data photo, ribuan data dalam bentuk CD, mikro film, kaset dan jutaan data lain yang terkumpul sejak? tahun 1602-2005 yang dimiliki Arsip Nasional Republik Indonesia. (cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Budaya, Kiai Hari Santri 2019

Warga NU Perlu Tingkatkan Budaya Tulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Perlu Tingkatkan Budaya Tulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Perlu Tingkatkan Budaya Tulis

Rabu, 07 Februari 2018

"Kiai Kampung" Korea Bahas Pendirian PCI NU Korsel

Seoul, Hari Santri 2019. Bertempat di Mushola An Noor Daejon, 300 km selatan Seoul, pada tanggal 23 Desember 2012 lalu telah dilaksanakan silaturahim dan muktamar Ikatan Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (IKBNU). 

Kiai Kampung Korea Bahas Pendirian PCI NU Korsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Kampung Korea Bahas Pendirian PCI NU Korsel (Sumber Gambar : Nu Online)

"Kiai Kampung" Korea Bahas Pendirian PCI NU Korsel

Acara ini dihadiri sekitar 40 orang yang terdiri dari pengurus IKBNU dan para kiai perwakilan mushola di seluruh semenanjung Korea. Pemilihan tempat di Daejon adalah disamping banyak Nahdliyin yang mukim di kota ini, juga secara geografis terletak di tengah Negara Korea sehingga memudahkan peserta muktamar dari daerah lain. 

Agenda muktamar selain silaturahim juga pemantapan organisasi IKBNU. Secara ringkas jalannya muktamar ini didahului dengan lailatul ijtima’ di malam sebelumnya, kemudian pagi harinya acara inti muktamar. 

Hari Santri 2019

Acara inti meliputi pembukaan, Tilawatil Quran dan shalawat oleh Ustadz Hisak Nissa. Sambutan ketua takmir Mushola An Noor Daejon oleh Abdullah Syukri, sambutan dari Komunitas Muslim Indonesia (KMI) oleh Ustadz Syamsul Arifin, sambutan dan pemantapan organisasi oleh Ketua IKBNU Fahmi Arif Tsani, dan diakhiri dengan mau’idhah keaswajaan oleh Kiai Iskandar Dzulkarnain yg juga wakil ketua IKBNU. 

Hari Santri 2019

Informasi berhaji dari Korea juga disampaikan oleh Haji Sholih, salah seorang Nahdliyin yg berhaji tahun ini. Dalam muktamar ini seluruh peserta secara aklamasi menyatakan dukungannya bahwa IKBNU adalah wasilah organisasi untuk diajukan menjadi Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Korea.

Ikhtiar yang dilakukan adalah akan segera dilakukan pengusulan ke PBNU. Berdasar AD/ART Nahdlatul Ulama hasil Muktamar Makassar, untuk mendirikan sebuah PCI diusulkan minimal oleh 40 warga Nahdliyin setempat. Syarat tersebut tidak terlalu sulit bagi IKBNU Korea, mengingat WNI yang bermukim sebagai diplomat, pekerja, dan pelajar sudah mencapai lebih dari 35,000 dan mayoritas adalah Nahdliyin. 

Di samping itu, disepakati bahwa istilah-istilah keorganisasian dalam kepengurusan IKBNU disesuaikan seperti yang ada di PCI NU sehingga ketika nantinya PCI terbentuk, tidak perlu lagi perombakan struktural yang besar. Silaturahim kiai kampung dan muktamar IKBNU ini secara kesuluruhan berlangsung sukses. Suhu dingin di bawah 0 derajat di musim dingin tidak mengurangi semangat dan kehangatan penuh kekeluargaan sesama Nahdliyin yg hadir. 

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Fahmi Arif Tsani

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pendidikan, Budaya Hari Santri 2019

Minggu, 28 Januari 2018

Tiga Jenis Jenggot

Pada sebuah forum, Kiai Masdar berkali-kali menyebut jenggot dengan kesan negatif. Jenggot adalah aksesoris orang-orang kolot. Jenggot adalah tren pencitraan kaum salafi yang tidak keren.

Di sela kerumunan jamaah, samar-samar terlihat kiai NU berjenggot menatapnya serius. Khusyuk menyimak. Tapi sorot matanya ganjil.

Tiga Jenis Jenggot (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Jenis Jenggot (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Jenis Jenggot

Kiai Masdar akhirnya sadar, pernyataannya soal ”jenggot” masih butuh syarah. Segera ia menyusuli ceramahnya, ”Jenggot itu tsalatsatu anwa’in (jenggot terdiri dari tiga jenis).”

Hari Santri 2019

”Pertama, jenggot biologis. Jenggotnya orang-orang yang memang dari sono-nya ditakdirkan berjenggot,” katanya.

”Kedua, jenggot ideologis. Itu jenggot paksaan. Karena keyakinan, meski cuma tiga helai juga dipaksa tumbuh. Terus terakhir, jenggot gabungan idiologis-biologis,” tambah Kiai Masdar.

”Nah, jenggot yang saya maksud tadi itu jenggot kedua dan ketiga ini. Kalau jenggotnya NU itu sih biologis. Jadi nggak termasuk!” ujar Kiai Masdar yang tidak berjenggot ini sembari tersenyum. (Mahbib Khoiron)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam, Budaya, Amalan Hari Santri 2019

Minggu, 21 Januari 2018

Hamzah Haz Jadi Penjamin Sayyid Agil

Jakarta, Hari Santri 2019
Mantan Wakil Presiden Hamzah Haz turut menjadi penjamin bagi penangguhan penahanan Sayid Aqil al Munawwar. Menurut M. Assegaf, pengacara Sayid, surat kesediaan Hamzah sebagai penjamin ditandatangani Sabtu (2/7).

Selain Hamzah, Forum Silaturrahmi Alim Ulama Lampung sejumlah 46 orang, dari ponpes Al Muasabah Banten, dan dari Pondok Pesantren Jepara juga memberikan jaminan serupa. "Kami cari yang berpengaruh," kata Assegaf kepada pers, Senin (4/7). Karena itu, lanjutnya, ia akan menagih kesediaan bekas Ketua Pemuda Pancasila Yapto Suryosumarno.

Dalam kesempatan itu, Assegaf juga menyatakan bahwa korupsi dana abadi umat (DAU) Rp 700 milar yang dituduhkan kepada Aqil tidak masuk akal. Sebab, DAU yang terkumpul sejak Sayyid Agil menjabat Menteri Agama adalah sebesar Rp 465 miliar ditambah Rp 11 milyar hasil dari efisiensi. "Tidak berkurang, saya ada datanya dan bisa diperiksa," kata dia.

Dari dana itu, yang dipergunakan untuk membantu umat hanyalah bunganya, sebesar Rp 3 miliar per bulan. Pemakaiannya lanjut Assegaf, sudah diaporkan secara rinci kepada BPK, termasuk prosentase pos-pos yang menjadi pengeluaran.

Ditanya soal Keputusan Menteri Agama terkait pengeluaran Dana Abadi Umat, Assegaf menerangkan, telah diterbitkan secara tidak profesional. Namun, kata dia, kliennya menandatanganinya setelah paraf-paraf sudah lengkap. Menurut dia, seorang Menteri tidak dapat dituntut untuk meneliti hal-hal teknis seperti memeriksa paraf-paraf surat keputusan sudah lengkap atau belum.

Proses pembuatan keputusan semacam itu, lanjut Assegaf, sebagaimana dilembaga-lembaga yang lain dilakukan secara bottom-up. "Masak menteri meneliti kembali dari bawah? Apa gunanya ada jabatan-jabatan dibawahnya," tukasnya. (ti/cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Budaya Hari Santri 2019

Hamzah Haz Jadi Penjamin Sayyid Agil (Sumber Gambar : Nu Online)
Hamzah Haz Jadi Penjamin Sayyid Agil (Sumber Gambar : Nu Online)

Hamzah Haz Jadi Penjamin Sayyid Agil

Kamis, 04 Januari 2018

Bagaimana Seorang Menteri Diperkenalkan dan Memperkenalkan NU?

Banyak cara orang mengenal atau diperkenalkan kepada NU. Menteri Tenaga Kerja H Hanif Dhakiri mengenal NU secara langsung dari rumah, sejak ia lahir. Di rumahnya, di Salatiga, Jawa Tengah, terdapat logo dan foto tokoh-tokoh NU.

Pengalaman tersebut, ia tuturkan secara selintas kepada Abdullah Alawi dari Hari Santri 2019 selepas menjadi narasumber pada diskusi NU di “Tengah Gelombang Populisme” yang digelar Lakpesdam PBNU di Cianjur, (27/1). Berikut petikannya:

Bagaimana Seorang Menteri Diperkenalkan dan Memperkenalkan NU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Seorang Menteri Diperkenalkan dan Memperkenalkan NU? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Seorang Menteri Diperkenalkan dan Memperkenalkan NU?

Apa pendapat Anda tentang peran NU yang kini telah berusia 91 tahun?

.

Hari Santri 2019

Di usia yang ke-91 tahun ini, NU harus tetap menjadi suluh bagi bangsa ini secara keseluruhan. Saya merasa NU sudah berada dalam track (jalan) yang benar. Bahkan dalam situasi sekarang ini. NU sudah berada pada track yang benar! NU harus tetap menjadi kelompok yang menggelorakan Islam rahmatan lil alamin yang moderat, toleran, bisa merangkul semua anak bangsa menjadi bagian yang bisa berkontribusi kepada Indonesia secara keseluruhan,” pungkasnya.



Bagaimana Anda mengingat masa kecil terkait dengan N dan U?

Hari Santri 2019

Sejak kecil kan di rumah saya? ada logo NU, dalam figura selalu ada, dalam kalendar selalu ada. Kemudian gambar-gambar tokoh NU, seperti Hadrotussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Sansoeri, dan lain-lain.

Bagaimana dengan orang tua Anda memperkenalkan NU? ?

. Orang tua menceritakan langsung soal pengalaman orang tua dulu, kakek-kakek saya dulu misalnya. Mereka mengenalkan pertama secara simbol. Ada di rumah. Komplit. Yang kedua, orang tua banyak bercerita? mengenai soal NU. Terus kemudian mereka mengajak saya ke kegiatan-kegiatan ke-NU-an.

Ada pesan orang tua untuk Anda bahwa suatu saat harus aktif di NU?

. Ya pastilah, pasti! Intinya harus mengabdi kepada NU-lah. Jadi, terjemahan orang kampung kayak abah dan ibu saya itu, mengabdi kepada bangsa dan kepada negara itu, ya mengabdi kepada NU karena di daerah basisnya di situ.

Sebagai orang tua, bagaimana Anda memperkenalkan NU kepada anak-anak?

. Saya melakukan hal yang sama dengan orang tua saya.

Bagaimana reaksi anak-anak?

. Kalau masih anak kecil kan lebih banyak bertanya apa kan? Lalu kita jelaskan. Jadi, apa yang dilakukan orang tua kepada saya, saya lakukan kepada anak saya. Satu, simbol. Kalau Anda ke rumah saya, ada logo NU, foto-foto tokoh NU, Mbah Hasyim, Gus Dur, Mbah Wahab, Mbah Bisri, ada semua di rumah saya. Kemudian buku-buku, karena saya suka buku, di rumah saya, hampir semua bacaan tentang NU semua ada. Saya kan punya banyak koleksi buku. Saya selalu ada perpustakaan, di rumah dinas, ada perpustakaan. Di rumah saya sendiri, ada perpustakaan. Di rumah orang tua saya di Salatiga, isinya banyak tentang NU, tokoh NU, dan ajaran NU, dan segala macam.

Saran untuk orang tua untuk memperkenalkan NU kepada anak-anaknya?

. Dari pengalaman pribadi, baik saya diasuh oleh orang tua, maupun saya mengasuh anak saya saat ini, menurut saya, itu tadi, di rumah anak harus diperkenalkan dengan simbol-simbol NU, dengan tokoh-tokoh NU, dengan pikiran-pikiran NU, lalu diajak terlibat di dalam kegiatan-kegiatan NU. Maka, salah satu yang suka adalah membawa anak ke kegiatan NU. Dia melihat orang dan dia akan bertanya. Jika saya mengajarkan tentang nasionalisme saya ajak nonton bola. Bukan bolanya yang penting, tapi teriakan penonton “Indonesia”, “Indonesia”itu sesuatu yang akan mudah diingat bagi anak.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Sholawat, Budaya, Warta Hari Santri 2019

Rabu, 03 Januari 2018

Ini Cara JQHNU Sidoarjo Siapkan Kafilah MTQ Tangguh

Sidoarjo, Hari Santri 2019. Ketua PC Jamiyyatul Qurra wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Sidoarjo, H Imam Mukozali mengatakan, strategi untuk menyiapkan Kafilah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang tangguh di Kabupaten Sidoarjo agar bisa berjaya dikancah Provinsi sampai Nasional yakni dengan cara menggali potensi besar yang ada dari seluruh komponen keagamaan di Kabupaten Sidoarjo.

Ini Cara JQHNU Sidoarjo Siapkan Kafilah MTQ Tangguh (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara JQHNU Sidoarjo Siapkan Kafilah MTQ Tangguh (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara JQHNU Sidoarjo Siapkan Kafilah MTQ Tangguh

"Misalnya Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ), Madrasah Diniyah (Madin), Pondok Pesantren, Sekolah atau Rumah Tahfidz, Rumah Qori, dan potensi personal yang juga mempunyai peran sangat besar. Dari berbagai lembaga keagamaan yang ada di Kabupaten Sidoarjo bisa dikembangkan dan dioptimalkan pembinaannya ke arah penyiapan sumber daya manusia yang mumpuni sebagai wujud konkrit dari program yang sudah dicanangkan," kata Imam Selasa, (5/1).

MTQ di setiap daerah ditangani oleh Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) yang mempunyai otoritas mengelola penuh terhadap pelaksanaan dan keberhasilan MTQ itu sendiri. Kalau visi dan misi ini dikembangkan tidak hanya pada tataran birokrasi tetapi melibatkan masyarakat secara menyeluruh, dan yang lebih spesifik lagi pada lembaga atau ormas yang mengelola dan mengembangkan syiar Al-Quran.

Hari Santri 2019

"Apabila seluruh kemampuan yang ada baik dari pihak pemerintah sebagai otoritas penguasa anggaran dan lembaga keagamaan bersatu padu, maka akan memunculkan kekuatan yang sangat besar. Ibarat filosofi sapu lidi bersatu akan menjadi kuat dan bermanfaat. Dengan kata lain pengelolaan pengembangan MTQ dikerjakan bersama antara pemerintah daerah dengan lembaga atau ormas Islam yang mempunyai visi dan misi sama sehingga bisa membuahkan hasil maksimal," ujarnya.

Kemampuan yang ada baik secara kelembagaan maupun pribadi perlu dicari dan diinventarisir sehingga bisa mendeteksi kemampuan yang ada. Penjaringan sejak dini dilakukan sebagai langkah untuk mencari bibit dalam Kafilah MTQ ke depan. Cara jitu yang dilakukan dalam penjaringan ini adalah dengan sering kali mengadakan event atau perlombaan serta kegiatan yang mendukung potensi tersebut. Dan tidak kalah pentingnya adalah penjaringan dilakukan dengan sangat obyektif sesuai dengan kemampuan yang dimiliki tanpa pilih kasih karena pertimbangan lainya.

Hari Santri 2019

Untuk mendapatkan bibit yang mumpuni, baik dan unggul harus dilakukan sejak dini dengan melibatkan seluruh komponen yang ada. Karena bibit yang unggul tidak bisa secara instan, tetapi harus dilakukan jauh-jauh sebelum ada kegiatan secara berkesinambungan. "Hal ini bisa kita lihat kesinambungan yang dilakukan di rumah-rumah tahfizh, rumah-rumah qori, sanggar kaligrafi, Pondok Pesantren, JQH dan lain-lain. Mereka sudah menyiapkan calon-calon Kafilah handal karena disiapkan sejak dini dengan fasilitas sangat sederhana," tambanhya.

Kalau potensi itu disinergikan dengan kemampuan anggaran yang ada dari pemerintah daerah, maka bukan mustahil potensi akan tambah lebih besar dan unggul. Bibit unggul itu menjadi tanggung jawab bersama dengan memakai tangan pemerintah daerah untuk mengelolanya. Perawatannya meliputi secara fisik dan nonfisik. Secara fisik terkait dengan bagaimana gizi, kesehatan dan kehidupan ekonomi seorang calon Kafilah. Secara non fisik atau aspek spiritual lebih dititik beratkan kepada memperkuat kemampuan rohani, mental dari seorang calon Kafilah MTQ.

Prestasi dari apapun keahliannya harus mendapatkan reward sesuai tingkat ptrestasi yang dihasilkan. Karena ini akan menjadi stumulus tersendiri bagi para pemenang. Tak terkecuali prestasi yang ditorehkan dari para kafilah MTQ diberbagai event. Dampak dari cara itu adalah besar terhadap kesungguhan para kafilah. Apabila itu dilakukan dengan baik dan perencanaan matang dari segi anggaran, maka akan merangsang para calon Kafilah untuk bersaing dengan sehat sebagai duta Kabupaten Sidoarjo ke event tingkat Provinsi maupun Nasional, serta mempunyai kemampuan dalam menerapkan nilai-nilai Al-Quran ditengah-tengah masyarakat yang sangat majemuk. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Amalan, Budaya, Internasional Hari Santri 2019

Senin, 01 Januari 2018

Ijtihad untuk Perbankan Syariah pada Kasus Bai’u Hukmi dan Qabdlu Hukmi

Pendirian bank syariah di Indonesia dengan fokus peningkatan kualitas muamalah masyarakat Muslim di Indonesia adalah sebuah keniscayaan dalam ijtihad. Semuanya berangkat dari dalil asal bahwa menyiapkan sebuah sistem perbankan zero riba adalah berlandaskan pada keputusan dalil qath’i halalnya jual beli dan haramnya riba. Dengan demikian, untuk mencapai kondisi zero riba, segala wasilah menuju ke arahnya, sangat mungkin untuk diusahakan. Sebuah kaidah fiqih mengatakan:

Ijtihad untuk Perbankan Syariah pada Kasus Bai’u Hukmi dan Qabdlu Hukmi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ijtihad untuk Perbankan Syariah pada Kasus Bai’u Hukmi dan Qabdlu Hukmi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ijtihad untuk Perbankan Syariah pada Kasus Bai’u Hukmi dan Qabdlu Hukmi

? ? ? ? ? ?

Hari Santri 2019

Artinya: “Segala sarana menuju sempurna perkara wajib maka wajib pula menyediakan sarana tersebut.”

Hari Santri 2019

Masalahnya adalah, upaya memberikan landasan fiqih terhadap beberapa praktik muamalah perbankan syariah terkadang menemui beberapa kendala. Kendala yang amat mungkin terjadi adalah konsepsi fiqih turats (fiqih tradisi/klasik) yang kadang seolah bertentangan dengan konsepsi muamalah modern. Untuk itulah pemikiran terus-menerus dan upaya menggali potensi masuk ke dalam keabsahan akad muamalah modern, sangat diperlukan. 

Banyak wasilah yang bisa dipergunakan oleh para pemikir dan praktisi perbankan syariah ini. Qaidah ‘urfiyah, istihsan, konsepsi maslahatul mursalah, istishhab, memiliki peluang untuk dimanfaatkan. Pertimbangan pesatnya kemajuan teknologi dan faktor yang memungkinkan penjagaan dari unsur ghabn dan tadlis (penipuan), juga dapat dijadikan bahan masukan pertimbangan. Jika produk lama fiqih umumnya menggunakan data murasalah (surat-menyurat) yang diantarkan langsung oleh jasa kurir, bisa jadi kondisi ini bisa dipangkas melalui peran hightech, seperti email, telekonferensi, faximile, telepon, dan lain-lain. 

(Baca juga: Beberapa Problem Fiqih dalam Perbankan Syari’ah)Dalam pasar saham misalnya, peran hightech sangat tampak mendominasi transaksi jual-belinya. Padahal dalam fenomena pasar saham, lebih banyak dihuni oleh data dan dokumen. Konsep jual-beli yang sebelumnya harus yadan bi yadin (serah terima tangan), memungkinkan menjadi diubah fungsinya menjadi akad mubaya’ah hukmiyah (jual beli hukmi). Jika mubaya’ah sudah berlangsung secara hukmi, maka aqad qabdlu-nya juga pasti berlangsung secara hukmi. Bagaimana dengan syarat harus mengetahui sifat dan jenis barang sebagaimana disyaratkan dalam fiqih klasik? Dalam hal ini, maka dikembalikan kepada kasus urfi (adat/tradisi) yang berlaku di kalangan masyarakat pialang bursa efek.

Mubayaah hukmi adalah jual beli yang disertai perpindahan kepemilikan barang yang berlaku melalui nota/dokumen. Qabdlu hukmi, adalah penerimaan hak tamlik atas suatu barang melalui dokumen.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: "Al-Qabdlul hukmi adalah setiap perkara yang bisa memastikan kepemilikan barang dan memungkinkan penggunaannnya secara urf setempat meski tanpa harus memegang aset atau memegang secara fisik (legal ownership)." (Wahbah Al Zuhaily dalam kitab al-Fiqhul Islam wa Adillatuhu)

Dalam kasus mubayaah hukmi dan qabdlu hukmi ini permasalahan yang mungkin timbul adalah bagaimana dengan syarat harus mengetahui sifat dan jenis barang sebagaimana disyaratkan dalam fiqih klasik. Dalam hal ini, maka dikembalikan kepada kasus urfi (adat/tradisi) yang berlaku di kalangan masyarakat pialang bursa efek.

Komisi Bahtsul Masail Diniyah Waqi’iyah di Mu’tamar NU ke-32 di Makasar, pernah membahas tentang konsepsi majelis dan pengaruhnya terhadap akad jual beli serta akad nikah. Para pembaca bisa merujuk ke hasil sidang tersebut agar mudah memahami arah tulisan ini.

Pada keputusan Komisi Bahtsul Masail Diniyah Waqi’iyah di Muktamar NU ke-32, Makassar, para musyawwirin pertama kalinya mencoba menggali hukum transaksi jual beli barang dan kebutuhan akad nikah via elektronik seperti media telepon, email dan media siber yang lain. Jawaban dari permasalahan ini ternyata memutuskan bahwa hukum transaksi jual beli melalui media elektronik adalah dipandang sah apabila sebelum transaksi kedua belah pihak penjual dan pembeli “sudah melihat” mabi’ (barang yang diperjualbelikan) atau telah dijelaskan baik “sifat” maupun “jenis” mabi’ serta memenuhi syarat-syarat dan rukun jual belinya.

Pertanyaan kedua dari soal yang sama mencoba mengungkap hukum sah atau tidaknya akad jual beli pada majelis terpisah. Hasil keputusan sidang menyebutkan bahwa hukumnya tetap sah melakukan transaksi jual-beli meskipun berada di majelis yang berbeda. Jawaban dari kedua persoalan di atas ternyata tidak berlaku sama untuk kasus akad nikah. Alasannya tidak akan disampaikan oleh penulis, karena kita fokus pada konsepsi majelis transaksi jual beli yang merupakan landasan perbankan syariah yang sedang kita dalami ini. 

Pertanyaan ketiga, majelis musyawwirin Bahtsul Masail mencoba mengungkap hukum akad/transaksi wakalah dari seorang calon pengantin kepada seseorang yang hadir di majelis. Jawaban musyawwirin terkait dengan masalah tersebut ternyata juga memandang sah mewakilkan melalui SMS dengan batasan syarat yaitu aman dan sesuai dengan nafsu al-amri (sesuai kenyataan). 

Keputusan hasil sidang Bahtsul Masail muktamar dalam memandang konsepsi sahnya transaksi di atas, didasarkan pada teks rujukan beberapa kitab, antara lain Kitab Nihayatul Muhtaj: 11/280, Hasyiyah al-Bujairamy ‘ala al-Khathib: 2/403 dan 10/148, Hasyiyatul Jamal: 4/301, Syarah Al-Yaquuti al-Nafiis: 2/22, Al Syarwany Syarah Tuhfatul Muhtaj: 4/221. 

Salah satu yang dirasa perlu dicuplik oleh penulis pada kesempatan ini adalah dasar dari kitab Al-Syarwany Syarah Tuhfatul Muhtaj (4/221):

?] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [?] ? ?] 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [?: ? ?] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “(Sah) melakukan jual beli kecuali orang yang mabuk yang tidak menyadari, karena ia bukan termasuk ahli niat berdasarkan kalam yang akan disampaikan nanti tentang thalaq (dengan kiasan) disertai dengan niat.”

Syarah: 

“Menulis di atas sesuatu yang bukan benda cair atau udara adalah masuk unsur kinayah, dan sah bila disertai dengan niat meskipun menulisnya tersebut ditujukan kepada orang yang hadir, maka sebaiknya diterima dengan segera setelah diketahuinya (tulisan tersebut), namun sebaiknya waktu khiyar keduanya diperluas karena selesainya majelis penerimaan. (Ucapan mushannif: dan tulisan, dst) perumpamaannya adalah khabar al-suluki al-muhaddits (SMS) di zaman ini, maka transaksi dengannya merupakan contoh transaksi kinayah.”

Relevansi hasil Muktamar NU ini dengan realitas modern bursa efek dan perdagangan saham tampak menemui adanya korelasi. Rambu-rambu dari fiqih turats memandang legal standing akad ada pada nafsu al-amri (sesuai dengan kenyataan) dan keamanan transaksi. Aman jika dibawa dalam konteks perdagangan saham serta bursa efek bisa jadi masuk dalam wilayah ‘urf iklim perusahaan yang memandang bahwa dokumen transaksi sebagai barang yang bisa dipergunakan sebagai bukti telah terjadinya transaksi jual beli antara perusahaan satu dengan perusahaan lainnya. 

Ibarat yang disampaikan oleh musyawwirin dengan menukil kitab Hasyiyatu al-Bujairami (10/147) tampaknya bisa menjadi batasan bagi keabsahan transaksi di atas, yaitu keberadaan unsur kecerdasan pihak yang terlibat. 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Tidak sah bagi kita akad nikah dengan jalan kinayah kecuali lewat jalan kitabah atau isyarat orang yang tulis ketika bisa dipahami oleh orang yang pandai/cerdas.”

Dengan mengacu pada kutipan di atas, suatu akad dipandang sah dengan jalan tulisan (nota) namun dengan batasan bisa dipahami oleh orang yang cerdas. Lantas bagaimana dengan akad jual-beli lewat jalur dokumen, lalu menjual lagi melalui jalur dokumen pula, sementara unsur qabdlu-nya diwakili secara dokumen pula? Contoh riilnya kasus transaksi tawarruq di perbankan syariah, yang sebelumnya pernah kita bahas di sini. 

(Baca: Dilema Transaksi Tawarruq pada Lembaga Keuangan Syariah)Sampai di sini, problematika tersebut sudah terjawab, bahwa akad tersebut masih masuk unsur sah, dengan syarat bisa dipahami oleh orang yang cerdas. Aplikasi pihak yang dimaksud sebagai “orang yang cerdas” di sini barangkali adalah Lembaga/Badan Perlindungan Dana Konsumen dan Nasabah Perbankan.” Namun, dimanakah ia berkedudukan?

Wallahu a’lam

Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh PP Hasan Jufri Putri P. Bawean, Kab. Gresik, Jatim.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Budaya, Amalan Hari Santri 2019

Selasa, 12 Desember 2017

100 Anggota Banser Kemranjen Tingkatkan Kapasitas

Jakarta, Hari Santri 2019. Bertempat di Pesantren Roudhothut Tholibin Sirau, Kemranjen, Kabupaten Banyumas, GP Ansor Kemranjen mengadakan Pendidikan Kader Lanjutan (PKL) dan Kursus Banser Lanjutan (Susbalan), Ahad (31/5). Sebanyak 100 peserta yang terdiri atas anggota GP Ansor dan Banser Banyumas terlibat dalam kaderisasi tingkat lanjut ini.

Dalam kegiatan ini peserta memperoleh beragam materi mulai dari materi takhassus dan materi pokok. Pembekalan ini dimaksudkan untuk menunjang tugas pokok dan fungsi serta tanggung-jawab Banser dan Ansor saat terjun langsung di masyarakat serta melakukan pengkaderan.

100 Anggota Banser Kemranjen Tingkatkan Kapasitas (Sumber Gambar : Nu Online)
100 Anggota Banser Kemranjen Tingkatkan Kapasitas (Sumber Gambar : Nu Online)

100 Anggota Banser Kemranjen Tingkatkan Kapasitas

"Sebagai perwira di lingkungan Banser tentunya, harus dibekali dengan keahlian dan ilmu yg mumpuni sehingga bisa menerapkannya di masyarakat secara langsung," kata Faizin Maryadi.

Hari Santri 2019

Asminpers Satkornas yang bertindak instruktur ini menegaskan, “Banser sekarang harus lebih profesional dalam menjalankan tupoksinya sehingga tidak hanya sekadar cashing, tapi harus lebih mengakar.” (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Budaya Hari Santri 2019

Sabtu, 02 Desember 2017

“Pesantren Dadakan” NU Online Diserbu “Santri”

Banyak cara untuk mengisi bulan Ramadan. Dari mulai buka puasa bersama, bagi-bagi sembako (sembilan bahan pokok) kepada fakir miskin, kunjungan ke panti asuhan, mengumpulkan anak jalanan hingga pesantren kilat pun digelar untuk menghormati bulan suci tersebut. Termasuk di antaranya dengan menggelar pengajian kitab kuning.

Tapi, sebentar! Hal yang disebutkan terakhir sepertinya tidak terlalu lazim, meski bulan Ramadan. Di kota metropolis seperti Jakarta, Anda akan susah menemukan acara tersebut kalau tidak datang ke pondok pesantren. Pengajian kitab kuning, memang metode pembelajaran khas pesantren. Di kalangan nahdliyyin (sebutan untuk warga Nahdlatul Ulama/NU) pun, mungkin hanya ada di forum-forum bahsul masa’il (pembahasan masalah) saja.

Mengadakan kegiatan pengajian kitab kuning untuk kalangan umum jangan berharap akan diikuti oleh banyak orang. Karena hampir bisa dipastikan tak akan ada peminatnya. Kalaupun ada, forumnya pasti tak akan seseru seminar, lokakarya, simposium dan sejenisnya. Bagi seorang yang pernah menjadi santri pun, kitab kuning, karya ulama klasik itu bukan barang yang menarik lagi untuk dipelajari.

Tapi tidak demikian kenyataannya. Asumsi tersebut akan mudah sekali dipatahkan ketika melihat acara pengajian kitab kuning berjudul Manahijul Imdad, karya ulama besar Indonesia, Syekh Ihsan Dahlan (alm), Jampes, Kediri, Jawa Timur yang digelar Hari Santri 2019—situs resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)—bekerja sama dengan Lajnah Ta’lief wan Nasyr (LTN-NU) di Gedung PBNU Lt.5, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (28/9) lalu.

“Pesantren Dadakan” NU Online Diserbu “Santri” (Sumber Gambar : Nu Online)
“Pesantren Dadakan” NU Online Diserbu “Santri” (Sumber Gambar : Nu Online)

“Pesantren Dadakan” NU Online Diserbu “Santri”

Pihak panitia tak membuat publikasi besar-besaran. Cukup dengan memberitakannya di Hari Santri 2019 serta membuat pamflet seadanya yang ditempel di sejumlah ruangan di Gedung PBNU, acara pun siap digelar. Hal itu dilakukan karena panitia merasa kegiatan tersebut tak akan banyak peminatnya.

Belum populernya kitab setebal 1088 itu di kalangan pesantren juga menjadi alasan berikutnya. Karena meski telah ditulis pada tahun 1940, kitab syarah (komentar) atas kitab Irsyadul Ibad (petunjuk bagi para hamba) karya Syekh Zainuddin Malibari itu memang baru diterbitkan tahun 2005 lalu.

Hari Santri 2019

Tak seperti diperkirakan sebelumnya yang kemungkinan hanya akan diikuti paling banyak 15 orang. Tapi, sore menjelang waktu berbuka puasa itu benar-benar berbeda ceritanya. Ruang rapat redaksi Hari Santri 2019berukuran 5 x 6 meter yang didaulat menjadi “pesantren dadakan” itu seakan tak mampu menampung 60-an “santri” (baca: peserta) yang ingin mengikuti pengajian yang diasuh Prof Dr KH Said Aqil Siradj.

Bertumpuknya peserta, baik laki-laki dan perempuan di dalam ruangan tersebut pun tak bisa dihindari. Pemandangan seperti ini tak akan ditemui di pesantren manapun, kecuali di “pesantren dadakan” Hari Santri 2019ini. Maklum, sekali lagi, karena tak pernah terpikir akan dihadiri sedemikian banyak orang, panitia pun tak sempat membuat pemisah antara “santri” laki-laki dan santri perempuan, sebagaimana layaknya pengajian di pesantren.

Pemandangan menarik lainnya yang tak akan ditemui di pesantren manapun kecuali dalam pengajian di “pesantren dadakan” ini, para santri bisa berinteraksi langsung dengan sang kiai.

“Kalau bismilahirrohmanirrohim dianggap tidak termasuk dalam Surat Al-Fatihah, bagaimana dengan dalil tentang tujuh ayat dibaca berulang-ulang? Berarti surat Al-Fatihah hanya enam ayat?” tanya Dr Bina Suhendra menyela uraian Kang Said yang saat itu sedang menerangkan apakah ayat basmalah termasuk dalam Surat Al-Fatihah atau tidak?

Hari Santri 2019

Bagi yang berpendapat bahwa bismilahirrohmanirrohim tidak termasuk dalam surat Al-Fatihah, ayat terakhir dalam surat tersebut dianggap dua ayat. “Jadi, jumlahnya tetap tujuh ayat,” jawab Kang Said.

Kejadian tersebut tentu tak direncanakan sebelumnya. Bahkan terbersit di pikiran pun tidak sama sekali. Karena, Pak Bina—begitu panggilan akrab Bina Suhendra—tidak pernah mondok dan baru sekali itu mengikuti pengajian kitab kuning. Ia juga seorang muallaf. Pengajian tersebut, merupakan pengalaman pertama dalam hidupnya.

“Terus terang, baru sekali ini saya mengikuti pengajian kitab kuning. Ini acara bagus. Karena juga pengalaman pertama buat saya,” tutur Pak Bina usai acara.

Pihak panitia dari awal berencana akan mengkaji kitab yang membahas tentang fikih, tauhid, keilmuan, akhlak dan tasawuf itu secara berkelanjutan selama bulan Ramadan kali ini. Namun, mengingat begitu banyaknya permintaan dari peserta agar terus mengkaji kitab tersebut hingga jilid kedua, panitia pun tampak berubah pikiran. (Moh. Arief HidaDari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, Budaya, Halaqoh Hari Santri 2019

Sabtu, 25 November 2017

Aliansi Warga Tangerang Deklarasi Dukung Perppu Ormas

Tangerang, Hari Santri 2019 - Dalam rangka menindaklanjuti komitmen perguruan bebas radikalisme, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang bersama sejumlah ormas di Tangerang menyatakan dukungan terhadap keberadaan PERPPU ormas No. 02 Tahun 2017.

Menurut H Muhammad Qustulani, seharusnya negara membentengi anak-anak muda sebagai generasi bangsa. Pemikiran ideologi yang bertolakbelakang dengan Pancasila menjadi penghalang terciptanya generasi emas.

Aliansi Warga Tangerang Deklarasi Dukung Perppu Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)
Aliansi Warga Tangerang Deklarasi Dukung Perppu Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)

Aliansi Warga Tangerang Deklarasi Dukung Perppu Ormas

Demikian disampaikan Wakil Ketua I Bid Akademik STISNU Nusantara Tangerang H Muhammad Qustulani saat memberikan orasi Deklarasi dan Dukungan Perppu Ormas di Aula Hasyim Asyari STISNU Nusantara Tangerang, Kamis (28/9) Pagi.

Hari Santri 2019

“Sikap anti terhadap demokrasi, Pancasila, dan UUD 1945 yang dibingkai dalam idealisme keagamaan menjadi pekerjaan khusus negara untuk menghentikannya, atau memutus mata rantai organisasi yang bertolak belakang dengan Pancasila, apapun latar belakangnya,” tegasnya.

Sebab itu, kegiatan Deklarasi dan Dukungan Terhadap Perppu Ormas bertujuan sebagai berikut.

Hari Santri 2019

1. Memutus matarantai pemahaman anti Pancasila dan UUD 1945, yang didungunhkan oleh sebagian ormas yang secara ideology dan tindakan termasuk radikal;

2. Memberikan penjelasan bahwa Pancasila dan UUD 1945 sejatinya sudah? sesuai dengan ajaran luhur semua agama termasuk Islam;

3. Menjelaskan bahwa pemerintahan saat ini adalah sah di mata hukum dan agama, serta tidak termasuk dalam bagian pemerintah yang anti terhadap Islam. Sebab, pemerintah (negara) menjamin kebebasan beragama dan melaksanakan kepercayaan serta syariat setiap pemeluk agama. Bahkan pemerintah sering hadir dan ikut andil atau bahkan menjadi bagian dalam kegiatan keagamaan di masyarakat. Maka keliru besar jika sebagian golongan mentasbihkan pemerintahan saat ini anti-Islam, atau anti-agama. Maka dari itu, pemahaman salah seperti itu harus dihilangkan untuk rasa persatuan dan kesatuan banga;

4. Mendukung keberadaan Perppu No. 2 Tahun 2017 tentang ormas untuk diaplikasikan dan diterapkan sebab Perppu tersebut merupakan solusi memutus matarantai pemikiran dan ideologi yang dapat merusak kebersamaan dan kesatuan NKRI.

Atas dasar hal tersebut, kegiatan Deklarasi dan Dukung PERPPU ormas di STISNU Nusantara dilaksanakan demi kemaslahatan bangsa Indonesia di masa depan. Peserta deklarasi terdiri dari perwakilan pelajar, organisasi masyarakat, organisasi pemuda, Dewan mahasiswa dan dosen se-Kota Tangerang. (Suhendra/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Daerah, Budaya, Lomba Hari Santri 2019

Jumat, 24 November 2017

MTs Futuhiyyah I Gelar Istighotsah Jelang Ujian Nasional

Demak, Hari Santri 2019. Puluhan siswa kelas IX MTs Futuhiyyah 1 Mranggen Demak mengadakan istighotsah bersama sebelum menghadapi UN, Sabtu (3/5) malam. Kegiatan ini didampingi segenap jajaran guru dan pegawai MTs Futuhiyyah 1.

Istighotsah ini merupakan kegiatan rutin tahunan di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen. Bertempat di aula sekolah para hadirin mendengarkan pembacaan maulid yang dipimpin salah seorang siswa. Mereka selanjutnya membaca tahlil yang dipandu KH Ahmad Tamziz.

MTs Futuhiyyah I Gelar Istighotsah Jelang Ujian Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Futuhiyyah I Gelar Istighotsah Jelang Ujian Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Futuhiyyah I Gelar Istighotsah Jelang Ujian Nasional

Kepala MTs Futuhiyyah 1 Mranggen KH Said Lafif Hakim berpesan kepada seluruh siswa kelas IX untuk senantiasa belajar dan terus belajar. Ia mengimbau para siswanya untuk memanfaatkan waktu yang ada.

Hari Santri 2019

“Di samping belajar, kalian jangan lupa berdo’a. Karena, do’a akan menjadi kekuatan batin bagi kita,” kata Kiai Said dalam sambutannya.

Pembacaan istighotsah dipimpin langsung H Shodiqin. Acara ini ditutup dengan doa yang dibacakan oleh KH Abdul Basyir Hamzah. (Abdus Shomad/Alhafiz K)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Syariah, Budaya Hari Santri 2019

Senin, 20 November 2017

Pergunu Jakarta: Substansi UU Perlindungan Anak dan HAM Sering Disalahpahami

? Jakarta, Hari Santri 2019. Menyikapi beberapa kejadian terkait pelaksanaan pendidikan di sekolah sungguh sangat memperihatinkan. Terutama yang akhir-akhir ini banyak menyedot perhatian publik, terkait dugaan kekerasan oleh oknum guru terhadap murid, atau sebaliknya murid yang semena-mena terhadap guru.?

Ujung dari kejadian itu, seperti kasus yang terjadi beberapa bulan lalu yaitu ada orang tua melaporkan guru atas dugaan melakukan kekerasan kepada anaknya seperti yang baru ini terjadi di Sidoarjo Jawa Timur. Begitu juga di Sulawesi, seorang mahasiswa membunuh dosennya.

Hasil diskusi Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta menyimpulkan bahwa kejadian yang kontra dengan Adab Tholabul Ilmi tersebut disebabkan karena adanya mis understanding warga pendidikan akan substansi undang-undang dan peraturan yang menyangkut perlindungan anak, HAM, dan demokrasi.?

Pergunu Jakarta: Substansi UU Perlindungan Anak dan HAM Sering Disalahpahami (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jakarta: Substansi UU Perlindungan Anak dan HAM Sering Disalahpahami (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jakarta: Substansi UU Perlindungan Anak dan HAM Sering Disalahpahami

“Misalnya orang tua sering menuntut pelayanan prima terhadap guru atau sekolah atas anaknya, tapi kadang mereka sayang anak yang berlebihan, maka perlakuan yang bertujuan mendidik anak sering kali tidak didukung, atau bahkan ada yang tidak terima atas nama kekerasan, pemaksaan, dan lain-lain yang pada ujungnya mejadi tindakan hukum,” ujar Aris Adi Leksono, Ketua PW Pergunu DKI Jakarta, Sabtu (6/8).

Faktor berikutnya, imbuh Aris, adalah pengaruh negatif pemberitaan media cetak atau elektronik. Media terlalu belebihan di dalam pemberitaan kasus guru dan siswa yang berkonotasi pada kekerasan atau tindakan semena-mena lainnya, akibatnya kejadian yang sifatnya kasuistik dan masih banyak jalan keluar yang bisa diselesaikan dengan dialog dipaksa untuk masuk ke ranah hukum.?

Hari Santri 2019

“Buktinya sekarang semakin sering orang tua ? melaporkan guru atas tindakan yang hakikatnya bertujuan mendidik,” jelasnya.

Untuk itu, tambahnya, Pergunu DKI Jakarta menghimbau kepada warga pendidikan, baik orang tua, pemerintah, maupun guru untuk menjaga "marwah" pendidikan. Ulama terdahulu sudah mengajarkan bagaimana adab tholabul ilma dengan baik dan benar. Dalam kitab talimul mutaallim misalnya sudah sangat jelas bagaimana seharusnya hubungan orang tua dengan guru, adab murid terhadap guru, dan lainya. Marwah pendidikan yang akan menghantarkan suksesnya anak di masa mendatang. Hal ini bisa terwujud jika ada sinergi yang baik antara orang tua dan guru.?

"Orang tua harusnya pasrah sepenuhnya atas pendidikan anaknya ketika di sekolah kepada guru, karena hakikatnya tidak ada guru yang sengaja atau berkehendak melakukan kekerasan atau menyakiti anak ketika mendidik,” terang Aris yang juga guru di MTsN 34 Jakarta ini.

Lebih lanjut, Aris menegaskan agar orang tua tidak "cinta buta" pada anaknya. Akibatnya semua aduan anak dipercaya begitu saja, tanpa melakukan kroscek kebenaran dan kepatutan. Tindakan reaksioner orang tua justru akan merugikan dirinya dan anaknya, terutama untuk menghantarkan sukses di masa depan.

“Ingat marwah pendidikan sangat ditentukan kemualian warganya, disinilah pentingnya sinergi yang baik antar-steakholder pendidikan,” tandas Aris. (Red: Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Berita, Budaya, Tegal Hari Santri 2019

Sabtu, 18 November 2017

LAZISNU Kudus Tebar Ratusan Kotak Infaq ke Warung dan Pengurus NU

Kudus, Hari Santri 2019. Lembaga Amal Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, telah menyebarkan ratusan kotak infaq. Hal ini untuk mempermudah masyarakat mendermakan uang infaq dan sedekah melalui lembaga di bawah naungan Pengurus Cabang NU (PCNU) Kudus ini.

Ketua LAZISNU Kudus Syaroni Suyanto menjelaskan, ratusan kotak infaq berlabel LAZISNU tersebut ditempatkan di beberapa toko maupun warung nasi, serta dibagikan kepada pengurus NU mulai ranting hingga cabang. Tiap satu bulan sekali, uang dari kotak akan diambil oleh petugas LAZISNU. ?

LAZISNU Kudus Tebar Ratusan Kotak Infaq ke Warung dan Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Kudus Tebar Ratusan Kotak Infaq ke Warung dan Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Kudus Tebar Ratusan Kotak Infaq ke Warung dan Pengurus NU

"Sebelumnya, LAZISNU izin dulu dengan pemilik toko atau warung untuk bisa titip kotak infaq. Alhamdulillah, semuanya memberi izin dan berkenan menjaga keamanan kotak," terangnya kepada Hari Santri 2019, Jumat (13/3).

Hari Santri 2019

Ia mengatakan, LAZISNU Kudus kini sedang menggerakkan empat program utama, yakni NUpreneur, NU Skill, NU Smart dan NU Care. Masing-masing program dimaksudkan untuk membantu kesejahteraan fakir miskin, kaum dhuafa, dan anak yatim piatu.

"Hasil pengumpulan dana zakat, infaq, sedekah, termasuk dari uang kotak infaq itu, akan dikelola dan disalurkan untuk program kepedulian sosial yang dikembangkan LAZISNU," ujarnya.

Hari Santri 2019

Hingga kini, imbuh Syaroni, LAZISNU telah menggerakkan berbagai program sosialnya di Kudus. Di antaranya, santunan anak yatim piatu hingga pemberian nasi kotak kepada kaum dhuafa. "Setiap Jumat kita membagikan 50 nasi kotak untuk kaum dhuafa di seluruh kecamatan secara bergantian," katanya.

Ia mengharapkan masyarakat yang ingin menyalurkan zakat, infaq, dan sedekah atau CSR perusahaan, bisa menghubungi? kantor LAZISNU di Jalan Pramuka 20, Kudus, atau khusus sedekah bisa dimasukkan ke kotak yang tersedia. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tegal, AlaSantri, Budaya Hari Santri 2019

Senin, 13 November 2017

IPNU-IPPNU Jakarta Pusat Dilantik

Jakarta, Hari Santri 2019. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Administrasi Jakarta Pusat mengadakan pelantikan pengurus masa khidmat 2012-2014 bertempat di gedung walikota Jakarta Pusat, Senin pagi, 18 Juni 2012.

IPNU-IPPNU Jakarta Pusat Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Jakarta Pusat Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Jakarta Pusat Dilantik

Hadir dalam acara tersebut Walikota Jakarta Pusat H Saefulloh yang memberikan sambutan sekaligus nasehat kepada para pengurus IPNU-IPPNU yang baru saja dilantik agar IPNU-IPPNU benar-benar menjadi organisasi pembelajaran (learning organization). 

Sebagai organisasi yang menjadi wadah berhimpunnya para pelajar, IPNU-IPPNU Jakarta Pusat dituntut untuk senantiasa mengupgrade diri dan metode pengkaderannya sesuai dengan kondisi zaman sekarang ini. Agar para pelajar NU memiliki completing tool (kelengkapan peralatan) untuk berkompetisi dengan para kaum pelajar lainnya. Para pelajar NU kini tak boleh terstigma lagi sebagai kaum pelajar sarungan yang hanya pandai mengaji. Tapi lebih dari itu para pelajar NU harus bisa menjadi sarjana ekonomi yang pandai mengaji, sarjana tehnik yang juga pandai mengaji. Anak IPNU juga harus ada yang menjadi pengusaha yang paham ilmu agama, IPNU sekarang ini yang juga kelak harus menjadi gubernur yang dekat dengan para ulama dan berlandaskan faham ahlussunnah wal jama’ah.

Hari Santri 2019

Sambutan kedua disampaikan oleh.KH Amar Ahmad selaku ketua tanfidziyah PCNU Jakarta Pusat. Ia menyampaikan bahwa IPNU Jakarta Pusat harus menjadi standarisasi dan tolak ukur bagi cabang-cabang IPNU lainnya di Indonesia karena bagaimana tidak bahwa Jakarta Pusat merupakan sentral dari segala aktifitas negara. Menjadi anak IPNU di Jakarta Pusat tentu mempunyai tantangan tersendiri yang tidak dihadapi IPNU lainnya. Di Jakarta Pusat tidak ada pesantren yang biasanya menjadi basis IPNU selayaknya di Jawa Timur. Di Jakarta Pusat tidak ada Ma’arif atau sekolah-sekolah NU lainnya. Yang ada di Jakarta Pusat hanyalah SMA-SMA unggulan yang notabene memiliki kultur pelajar yang cenderung hedonis. Namun demikian justru itulah yang menjadi tantangan yang harus dihadapi untuk dapat mengenalakan Islam ala NU di tingkatan terendah yakni kalangan pelajar agar mereka memahami betul apa makna Islam yang rahmatan lil alamin.

Hari Santri 2019

Pelantikan Pengurus IPNU Jakarta Pusat ini dikukuhkan langsung oleh para pengurus Pimpinan Pusat baik IPNU dan IPPNU. Ahmad Rayhan selaku wakil ketua PP IPNU membacakan naskah pelantikan yang diikuti oleh 30 pengurus PC.IPNU Jakarta Pusat masa khidmat 2012-2014.  Begitu pula Margareth Aliyatul Maimunah selaku ketua umum PP IPPNU melantik langsung para pengurus PC IPPNU Jakarta Pusat yang tampak rapi dengan jas IPPNU dibalut kerudung putih.Friyadi Maulana yang terpilih menjadi ketua PC IPNU Jakarta pusat pada konferensi cabang IPNU Jakarta pusat bulan Mei lalu menggantikan Muhammad Said mengatakan

“Ber-IPNU artinya adalah berkhidmat, berkhidmat adalah mengabdi, mengabdi kepada NU, kepada para kyai, mengabdi kepada bangsa dan agama,” ujarnya setelah beberapa saat dilantik. 

Acara yang dirangkaikan dengan dialog pelajar ini mengambil tema peningkatan wawasan demokrasi di kalangan pelajar Jakarta. Tema ini dirasakan sangat penting mengingat mata pelajaran tentang demokrasi yang diajarkan di sekolah dirasakan sangat minim sehingga ada dua paradigma yang menjadi pola pikir para pelajar saat ini ketika berbicara tentang demokrasi. 

Secara teori dan realita para pelajar berbeda dalam memahami demokrasi. Mereka beranggapan bahwa demokrasi identik dengan politik, dan politik identik dengan transaksi kepentingan, berbagi kekuasaan dan lainnya. Hal inilah yang dibantah dalam pemaparan narasumber pada dialog tersebut yakni Idy Muzayyad, mantan ketua umum PP IPNU 2006-2009 dan juga Dani Setiawan, Koalisi Anti Hutang. 

Mereka menjelaskan sebagai kalangan pelajar IPNU dituntut memahami dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan berdemokrasi. Karena para pelajarlah yang seharusnya menjadi agent of controlling dan agent of change apalagi melihat perjalanan sejarah demokrasi bangsa Indonesia yang selalu dipelopori oleh para kalangan pelajar. 

Idy Muzayyad menambahkan kader IPNU di Jakarta senantiasa dapat memainkan peran pentingnya sebagai etalase IPNU yang ada di ibukota dengan membuka berbagai akses dan jaringan serta mencitrakan IPNU sebagai organisasi pelajar modern yang siap mewarisi tonggak estafet kepemimpinan bangsa. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian, Warta, Budaya Hari Santri 2019

Selasa, 07 November 2017

PMII: Indonesia Perlu Armada Laut Asia Pasifik

Jayapura, Hari Santri 2019. Sejumlah persoalan internal dan eksternal, dari isu daerah, nasional hingga internasional menjadi pembahasan hangat di arena Musyawarah Pimpinan Nasional Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Jayapura.

Diantaranya tentang desakan penguatan kedaulatan bangsa dan perlunya pembangunan pelabuhan internasional dan pembentukan Armada Laut Asia Pasifik guna mengantisipasi pertempuran Asia Pasifik yang mungkin terjadi pada 15 tahun ke depan. ?

PMII: Indonesia Perlu Armada Laut Asia Pasifik (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Indonesia Perlu Armada Laut Asia Pasifik (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Indonesia Perlu Armada Laut Asia Pasifik

“Indonesia perlu mengantisipasi pertarungan Asia Pasifik, pertarungan ekonomi maupun pertempuran militer. Kami merekomendasikan pembentukan Pelabuhan internasional dan Armada Laut Asia Pasifik. Saat ini pemerintah baru punya Armada Laut Barat dan Timur. Sementara Asia Pasifik belum diantisipasi,” ujar Ketua Umum Pengurus Besar PMII (PB PMII) Adien Jauharuddin, Sabtu (15/12).

Hari Santri 2019

Sejumlah rekomendasi lain, masih dibahas dalam forum yang diikuti sekitar 300 kader PMII yang merupakan perwakilan dari Pengurus Koordinator Cabang (PKC) dan Pengurus Cabang (PC) PMII di Indonesia itu. Kata Adien, Pemerintah perlu memperhatikan kawasan perbatasan, termasuk daerah Papua, lantaran selama ini banyak pelanggaran hukum dan kemanusiaan, juga perdagangan ilegal di kawasan tersebut.?

Hari Santri 2019

“Perdagangan internasional. Selama ini Indonesia jadi penghasil komoditas, dan diolah di luar negeri, kita juga perlu memikirkan agar ada industri pengolah hasil komoditi dari Sumberdaya Alam di negeri ini. ? Papua ini salah satu pintu masuk internasional, perlu diberdayakan juga dengan membangun pelabuhan internasional,” ujarnya.

Selain itu, kata Adien, penguatan pertahanan juga diperlukan di kawasan perbatasan Papua, sebab disinyalir, saat ini Amerika dan sejumlah Negara lain telah menempatkan pasukannya di daerah Australia, dan Negara-negara lain yang berbatasan dengan Indonesia.?

“Hingga tahun 2025 nanti penempatan pasukan it uterus dilakukan secara bertahap. Jika tak diantisipasi kita akan mudah diserang dari perbatasan,” tandasnya.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Malik

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Budaya Hari Santri 2019

Rabu, 01 November 2017

GP Ansor Jatibarang Lor Rencanakan Perekrutan Anggota

Brebes, Hari Santri 2019. Dalam pertemuan dengan puluhan pemuda setempat di Blok Timpas Jatibarang Lor, Jatibarang, Brebes, Rabu (25/6) malam, ? Pengurus GP Ansor Desa Jatibarang Lor membahas kaderisasi yang menjadi pintu masuk keanggotaan GP Ansor dan Banser.

GP Ansor Jatibarang Lor Rencanakan Perekrutan Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jatibarang Lor Rencanakan Perekrutan Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jatibarang Lor Rencanakan Perekrutan Anggota

Menurut Ketua GP Ansor Jatibarang Lor Hadi Mulyanto, pihaknya sengaja mengundang pemuda-pemuda di Jatibarang Lor untuk mengaktifkan kembali Ansor di desanya agar bisa berkiprah di tengah-tengah masyarakat.

Di hadapan para pemuda setempat, Hadi menyatakan tekadnya agar GP Ansor Jatibarang Lor bisa menjadi GP Ansor percontohan di antara GP Ansor di kecamatan Jatibarang. “Karena itu, diperlukan sebuah kegiatan-kegiatan terencana yang langsung menyentuh kepentingan masyarakat,” ujar Hadi.

Hari Santri 2019

Tampak hadir dalam pertemuan ini Ketua Satkorcab Banser Brebes M Ikhwan, Ketua PAC GP Ansor Jatibarang Al-Ustadz Jazuli Purnomo, Ketua Satkoryon Banser Jatibarang Adi Sarwito.

Hari Santri 2019

Dalam sambutannya M Ikhwan menegaskan bahwa Ansor merupakan benteng Aswaja NU. “Kalau bukan generasi Ansor, siapa lagi yang akan melestarikan ajaran Aswaja NU?” terang Ikhwan.

Dari pertemuan ini telah terbentuk susunan pengurus PR GP Ansor Jatibarang Lor masa Khidmat 2014-2017. Pengurus baru ini dalam waktu dekat akan berpartisipasi dalam tablig akbar di desa Jatibarang Lor, Jumat (27/6) dan pengawalan ziarah makam sesepuh di Jatibarang seperti KH Sya’roni, KH Malawi, KH Ma’ful, Syekh Ali Basalamah, Syekh Muhammad Ali Basalamah, Sabtu (28/6). (Red. Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Budaya Hari Santri 2019

Kamis, 05 Oktober 2017

Ini Keutamaan Zikir Menurut Ibnu Athaillah

Zikir adalah aktivitas seorang hamba dalam menyebut nama Allah. Dalam berzikir, kondisi orang berbeda-beda. Ada orang yang mulutnya berzikir, tetapi hatinya lalai. Ada juga yang menyebut nama Allah dengan hati terjaga. Sebagian orang berzikir dengan hati waspada sebagai disinggung Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ?)

Ini Keutamaan Zikir Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Keutamaan Zikir Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Keutamaan Zikir Menurut Ibnu Athaillah

Artinya, “Jangan tinggalkan zikir karena kelalaian hatimu yang tidak bersama Allah karena kelalaian tanpa zikir lebih buruk daripada kelalaian dengan zikir. Bisa jadi Allah mengangkatmu dari zikir dengan kelalaian ke zikir dengan hati terjaga, dari zikir dengan hati terjaga ke zikir dengan hati waspada, dari zikir dengan hati waspada ke zikir fana. Allah berfirman, ‘Dan yang demikian itu bagi Allah tidak sulit,’ (Surat Ibrahim ayat 20).”

Hari Santri 2019

Ibnu Athaillah menganjurkan kita berzikir dengan hati lalai sekalipun. Ini menunjukkan betapa pentingnya zikir. Mengapa demikian? Zikir merupakan jalan utama mereka yang menempuh perjalanan Ilahi. Allah SWT sendiri memerintahkan kita untuk menyebut nama-Nya secara mutlak terus-menerus sebagaimana disinggung Ibnu Ajibah berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ?" ? ? "? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hari Santri 2019

Artinya, “Menurutku, zikir adalah pilar utama dari jalan yang ditempuh para sufi. Ia adalah amalan paling utama. Allah berfirman, ‘Sebutlah nama-Ku, Aku akan menyebut namamu,’ dan ‘Wahai orang-orang yang beriman, sebutlah nama Allah dengan sebutan yang banyak.’ Maksud dari ‘Sebutan yang banyak’ adalah tidak melupakan Allah di hati selamanya. Ibnu Abbas berkata, ‘Allah menentukan waktu-waktu khusus untuk semua ibadah dan memaafkan hamba-Nya yang menunaikan ibadah itu di luar waktunya kecuali ibadah zikir karena Allah tidak menentukan waktu khusus untuk ibadah ini. Allah berfirman, ‘Sebutlah nama Allah dengan sebutan yang banyak,’ dan ‘Bila kamu sekalian telah menunaikan sembahyang, maka sebutlah nama Allah saat kalian duduk, berdiri, dan berbaring.’ Seorang sahabat Rasul bertanya, ‘Ya rasul, syiar Islam kelewat banyak. Sebutlah satu amalan ringkas untukku di mana aku dapat menyusul ketertinggalan di masa lalu?’ ‘Jagalah lisanmu agar selalu basah menyebut nama Allah,’ jawab Rasul senyum. Rasulullah SAW bersabda, ‘Kalau ada seseorang memiliki banyak dirham di pangkuannya lalu ia membagikannya sampai habis, lalu seorang lagi hanya berzikir menyebut nama Allah, niscaya orang kedua lebih utama di sisi-Nya,’’” (Lihat Ibnu Ajibah, Syarhul Hikam, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun, juz I, halaman 79-80).

Sebagian ulama bahkan menyebut zikir sebagai kunci pembuka penyatuan seorang hamba dan Allah. Melalui zikir, seorang hamba dapat memasuki majelis mulia bersama Allah SWT. Hal ini  disebutkan oleh Syekh Burhanuddin As-Syadzili Al-Hanafi berikut ini. Menurutnya, tidak ada ketentuan terhadap lafal zikir. Artinya, zikir dengan lafal yang mana saja dapat membuka pintu langit.

? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ?" ? "?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut saya, zikir yang diperintahkan ustadznya apakah itu ‘Lâ ilâha illallâh’, ‘Allâh’, atau zikir lainnya sesuai pertimbangan kemaslahatan ustadz adalah kunci pintu ruang utama penyaksian Allah, penyatuan dengan-Nya, pokok dari fondasi kehadiran (wushul) jiwa-jiwa suci di majelis Allah nan suci lagi mulia,” (Lihat Syekh Burhanuddin As-Syadzili Al-Hanafi, Ihkamul Hikam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 2008 M/1429 H, halaman 51).

Syekh Zarruq memandang pentingnya zikir. Menyebut asma Allah dapat menghidupkan batin seseorang. Tetapi lupa akan Allah dapat berakibat fatal, jatuh di lembah maksiat.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Peringatan: zikir itu menghidupkan hati. Lalai itu mematikan hati. Sementara puncak dari kelalaian itu nanti berakhir pada menganggap baik sesuatu yang sebenarnya adalah tidak baik. Sedangkan awal dari semua itu adalah lupa atas ketidakbaikan hal itu,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 61).

Selalai apapun, zikir tetap harus dilakukan karena zikir dapat mendekatkan kita kepada Allah. Kalaupun baru berzikir dengan hati lalai, minimal lisannya sudah dekat dengan Allah. Sebagai manusia, kita hanya berusaha. Selebihnya kita serahkan kepada Allah SWT.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Tidak zikir itu tanda jauh dari Allah baik secara hati maupun lisan. Lain halnya dengan zikir karena meskipun hatimu jauh dari Allah, lisanmu tetap dekat dengan-Nya karena itu kau tetap harus menyebut nama Allah sekalipun hatimu lalai terhadap-Nya saat zikir... (untuk sampai ke sana) seorang murid hanya berkewajiban menjalani sebab (sebagai syariat), sementara kesampaian dan terangkatnya hijab adalah wewenang Allah,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyah, tanpa tahun, juz I, halaman 40). Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Budaya Hari Santri 2019

Ulama yang Tertipu, Seperti Apa?

Jakarta, Hari Santri 2019. Salah satu penyakit yang bisa menyelinap masuk ke dalam hati para ulama adalah perasaan mulia ketika dimuliakan. Selalu dipersilakan duduk di bagian depan. Tangannya dicium. Tak ada yang mengkritik. Semua orang tunduk patuh kepadanya.?

Ulama yang Tertipu, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama yang Tertipu, Seperti Apa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama yang Tertipu, Seperti Apa?

Hal itu diterangkan oleh Wakil ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali melalui akun Facebook miliknya, Ahad (29/1).

Menurutnya, awal mula penyakit hati tersebut pelan-pelan muncul perasaan sombong. Merasa diri lebih tinggi dari yang lain. Saat itu, lanjut Kiai Moqsith dengan meminjam bahasa al-Imam al Ghazali, mereka sedang tertipu. Bisa-bisa mereka tergolong ulama dunia bukan ulama akhirat.

Kiai Moqsith mengisahkan, ketika banyak orang memuja-muja Imam Abu Yazid al-Busthomi, maka Sang Imam melakukan perbuatan yang menyebabkan umat tak menyukainya.?

Umat pun berpaling darinya. Itu dilakukan karena Sang Imam khawatir, dirinya menjadi tabir penghalang (hijab) antara manusia dan Tuhan-nya.?

Hari Santri 2019

“Setelah mencapai puncak karir tertinggi, al-Ghazali memilih menyendiri. Ia uzlah,” kata kiai kelahiran Sumenep tersebut.

Hari Santri 2019

Jabatannya sebagai Rektor Perguruan Tinggi Nizhamiyah pun dilepaskan. Ia pergi jauh ke Damaskus. Di negeri ini (Damaskus), ia tak dikenali. Ia hanya sibuk bertafakkur dan muhasabah.

“Itulah akhlaq dan kehati-hatian para ulama salaf. Risih dengan pemujaan dan popularitas,” pungkasnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian Sunnah, Budaya Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock