Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu

Mojokerto, Hari Santri 2019 - Menteri Agama RI H Lukman Hakim Saifuddin atas nama pemerintah memberikan apresiasi kepada Pergunu yang telah membantu mendidik masyarakat Indonesia. Lukman berharap kerja keras para guru NU membuahkan hasil maksimal untuk melahirkan murid-murid berprestasi dan berakhlak.

“Kualitas pendidikan menjadi tujuan utama pemerintah, kami harap Pergunu bisa turut serta untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,” kata Lukman mengawali sambutannya dalam kongres yang kedua di Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Rabu (26/10).

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu

Menurut Lukman, kualitas pendidikan dari masa ke masa semakin maju. Kualitas pendidikan agama di Indonesia semakin membaik. Mulai dari kualitas kerukunan agama, kualitas lulusan madrasah atau pesantren.

“Guru menduduki tempat strategis untuk turut andil dalam membangun negeri,” terangnya.

Hari Santri 2019

Saat ini pemerintah tengah memperbaiki lagi kualitas pendidikan dengan menetapkan standard indikator, isi, proses, dan lulusan. “Pergunu itu sudah satu misi dengan Kemenag,” katanya.

Hari Santri 2019

Pendidik pesantren atau madrasah saat ini sudah diakui oleh negara dan disetarakan dengan pendidikan negeri. “Kita terus berupaya ada program-program guru. Tunjangan guru akan diupayakan di tahun 2017, telah memiliki sertifikasi sesuai ketentuan regulasi yang ada,” jelas Lukman memberikan angin segar kepada para guru madrasah.

Dengan ucapan basmalah Kongres Kedua Pergunu resmi dibuka oleh Menteri Agama RI. Hadir dalam pembukaan Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa, Pembina Pergunu H As’ad Said Ali, Ketua MUI Jawa Timur, pendiri dan pejuang Pergunu serta para pengurus Pergunu di berbagai wilayah dan cabang se-Indonesia. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, AlaSantri, Sunnah Hari Santri 2019

Rabu, 14 Februari 2018

PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid

Subang, Hari Santri 2019 - Masjid merupakan bagian penting dari identitas Islam, selain berfungsi sebagai tempat ibadah. Sejak awal kelahiran Islam masjid juga dijadikan sebagai pusat dakwah dan perjuangan. Sebab itu MWCNU yang ada di Kabupaten Subang diminta untuk bisa lebih memerhatikan sekaligus memakmurkan masjid yang ada di daerahnya masing-masing.

Hal ini disampaikan Sajudin Noor sebagai ketua panitia pelaksana pada kegiatan Pelatihan Kader Muharrik Masjid dan Dakwah NU yang digelar oleh PCNU Kabupaten Subang di Masjid Zaenal Abidin, Kecamatan Sukasari, Subang, Kamis (6/4).

PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid

"Kita tidak diminta untuk menjadi pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) karena saya yakin di semua masjid sudah punya DKM masing-masing," ujar Sajudin di hadapan 77 peserta kegiatan yang mewakili 12 MWCNU yang ada di Subang Utara.

Hari Santri 2019

Yang diharapkan dari para peserta usai mengikuti kegiatan pelatihan ini adalah peserta mampu menjadi mesin penggerak dalam rangka memakmurkan masjid yang ada di wilayah kecamatannya masing-masing.

"Kegiatan pelatihan ini hanya seremonial, kegiatan aslinya adalah kegiatan di lapangan yaitu menjadi agen perubahan dan menjadi manajer agar masyarakat bisa lebih mencintai masjid dan senang datang ke masjid sehingga masjid bisa menjadi pusat dakwah dan pusat perjuangan Islam," tandasnya.

Hari Santri 2019

Selain itu, kata dia, kegiatan pelatihan ini merupakan program PCNU Subang yang dilaksanakan berdasarkan pembagian zona, untuk Subang Utara diikuti oleh perwakilan dari 12 MWCNU, Subang Tengah akan diikuti 10 MWCNU dan Subang Selatan 8 MWCNU. (Aiz luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Fragmen, AlaSantri Hari Santri 2019

Selasa, 13 Februari 2018

Tak Ada Dasar dalam Al-Qur’an yang Mengharuskan Dirikan Negara Islam

Jakarta, Hari Santri 2019. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan bahwa sistem perpolitikan menurut Ahlussunnah wal Jamaah bersifat ijtihadi. Tidak ada dasar di dalam Al-Qur’an yang mengharuskan menerapkan sistem negara tertentu.

“Yang ada cuma bagaimana berkeadilan, tegaknya hukum, sejahtera. Itu aja yang ada,” katanya seusai membuka acara diskusi bertajuk “Khilafah dalam Pandangan Islam” di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (12/5).

Tak Ada Dasar dalam Al-Qur’an yang Mengharuskan Dirikan Negara Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Ada Dasar dalam Al-Qur’an yang Mengharuskan Dirikan Negara Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Ada Dasar dalam Al-Qur’an yang Mengharuskan Dirikan Negara Islam

Sementara sistem untuk mewujudkan keadilan, tegaknya hukum, dan sejahtera itu, menurut Kiai Said, sistemnya diserahkan kepada warga negara sesuai dengan kultur, tradisi, karakter, dan identitas bangsa dalam negara tersebut.

Negara Indonesia, kata Kiai Said, sejak dulu dibangun oleh para pendiri bangsa baik dari NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Nasionalis telah menyepakati bahwa Indonesia merupakan negara damai, bukan negara agama atau negara Islam.

Hari Santri 2019

Oleh karena itu, Kiai Said mengajak kepada masyarakat agar bersama-sama menjaga Negara Indonesia.

“Mari kita sayangi Indonesia ini, kita cintai Indonesia ini, kita jaga Indonesia ini,” ajak Kiai lulusan Ummul Qurra, Makkah ini.

Hadir sebagai pembicara pada diskusi tersebut Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin, Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta KH Taufiq Damas, Sekjen PP ISNU KH Kholid Syaerozi, Ketua Penasehat Paguyuban Santri Nusantara KH Asnawi. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 AlaSantri Hari Santri 2019

Selasa, 06 Februari 2018

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Syahdan, tidak lama dari mimpinya yang monumental itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, Bakri keluar dari pesantren ayahnya untuk melanglang buana mencari ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain.

Beberapa pesantren yang sempat disinggahi Kiai Ihsan kecil adalah Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri), Pondok Pesantren Jamseran Solo, Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang, Pondok Pesantren Mangkang Semarang, Pondok Pesantren Punduh Magelang, Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk, dan Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang ‘Guru Para Ulama’.

Dari rihlah ‘ilmiah-nya, ada satu kebiasaan yang sering dilakukan Bakri, yakni ia tidak pernah menghabiskan banyak waktu di pesantren-pesantren tersebut. Misalnya, untuk belajar Alfiah Ibnu Malik yang berisi seribu bait tentang rumus dan teori Gramatika Arab (Nahwu dan Sharf) Bakri belajar dari KH. Kholil Bangkalan dan hanya menghabiskan waktu dua bulan; belajar ilmu falak (astronomi) kepada KH. Dahlan Semarang dan hanya tinggal di pesantrennya selama 20 hari; sedangkan di Pesantren Jamsaran Kediri ia hanya tinggal selama satu bulan. Namun demikian, ia selalu berhasil menguasai dan ‘memboyong’ ilmu para gurunya tersebut dengan kemampuan di atas rata-rata.

Keunikan lainnya yang dapat disimak yaitu di setiap pesantren yang ia singgahi, Bakri selalu ‘menyamar’. Ia tidak mau dikenal sebagai ‘gus’ (sebutan anak kiai); tidak ingin diketahui identitas aslinya sebagai putra kiai tersohor, KH. Dahlan Jampes. Bahkan, setiap kali kedoknya terbuka sehingga santri-santri tahu bahwa ia adalah gus dari Jampes, dengan serta merta ia akan segera pergi, ‘menghilang’ dari pesantren tersebut untuk pindah pesantren lain. Alih-alih kebiasaan atau tradisi di dunia pesantren yang sering kali mengelu-elukan dan memanjakan para gus, anak kiai, seringkali “memabukkan” dan membius para gus, mereka kebal hukum dan peraturan pesantren, dan berujung pada ketidak seriusan belajar. Dan tradisi itulah yang hendak dihindari oleh Bakri, lantaran di mata Bakri tradisi itu tidak kondusif dalam proses belajar dan sering kali membentuk karakteristik feodal yang tidak baik.? ? ?

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengelanaan dan Karya Kiai Ihsan Jampes

Pada tahun 1932, setelah selesai melalui tour ilmiyah itu, Bakri inobatkan menjadi pengasuh atau pemimpin Pondok Pesantren Jampes, Kediri. Sejak saat itulah Bakri terkenal sebagai pengasuh Pesantren Jampes. Ada banyak perkembangan yang signifikan di Pesantren Jampes setelah Syekh Ihsan diangkat sebagai pengasuh. Secara kuantitas, misalnya, jumlah santri terus bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun, semula sekitar 150 santri menjadi sekitar 1000 santri lebih, sehingga Pesantren Jampes harus diperluas hingga memerlukan 1,5 hektar tanah. Secara kualitas, materi pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Diniyah Mafatihul Huda pada 1942.

Sebagai seorang kiai, Syekh Ihsan mengerahkan seluruh perhatian, pikiran dan segenap tenaganya untuk ‘diabdikan’ kepada santri dan pesantren. Hari-harinya hanya dipenuhi aktivitas spiritual dan intelektual; mengajar santri (ngaji), shalat jama’ah, shalat malam, muthola’ah (mengkaji) kitab, ataupun menulis kitab. Meskipun seluruh waktunya didesikannya untuk santri, Syekh Ihsan tidak melupakan masyarakat umum. Syekh Ihsan dikenal memiliki ilmu hikmah dan menguasai ketabiban. Hampir setiap hari, di sela-sela kesibukannya mengajar santri, Syekh Ihsan masih sempat menerima tamu dari berbagai daerah dan kalangan yang meminta bantuannya. Keilmuan hikmah yang dimilikinya ini berkat penguasaannya yang baik terhadap kitab-kitab hikmah seperti Syamsul-Ma’arif karya al-Buni, Mamba’ Ushul al-Hikmah, Kitab al-Aufaq karya Imam al-Ghazali, dan lain-lain. Bahkan keilmuan hikmah ini ia integrasikan dan kolaborasikan dengan ilmu falak yang telah difahaminya secara mendalam.

Pada masa revolusi fisik 1945, Syekh Ihsan juga memiliki andil penting dalam perjuangan bangsa. Pesantren Jampes selalu menjadi tempat transit para pejuang dan gerilyawan republik yang hendak menyerang Belanda. Di Pesantren Jampes, mereka meminta doa restu Syekh Ihsan sebelum melanjutkan perjalanan. Bahkan, beberapa kali Syekh Ihsan turut mengirim santri-santrinya untuk ikut berjuang di garis depan. Jika desa-desa di sekitar pesantren menjadi ajang pertempuran, penduduk yang mengungsi akan memilih Pesantren? Jampes sebagai lokasi teraman, sementara Syekh Ihsan membuka gerbang pesantrennya lebar-lebar.

Hari Santri 2019

Sumbangan Syekh Ihsan yang sangat besar adalah karya-karya yang ditinggalkannya bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia. Sudah banyak pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syekh Ihsan, khususnya karya magnum opus-nya, kitab yang berjudul Sirojut-Tholibin, kitab syarah (penjelasan) dari kitab Minhajul-‘Abidin karya Imam al-Ghazali, terbit pertama kali pada 1932 setebal sekitar 800 halaman. Kitab ini mengulas tasawuf. Syekh Ihsan mendapatkan penghargaan dan legitimasi ilmiyahnya di mata dunia Islam, ketika kitab tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Mesir, Musthafa al-Bab al-Halab, sebuah penerbit yang berorientasi menerbitkan kitab-kitab kuning (turats), yang sampai saat ini masih eksis. Di antara kitab tasawuf yang ditulis syekh Ihsan adalah kitab Manahijul-Imdad , sebuah syarah (penjelasan) dari kitab Irsyadul-‘Ibad karya Syekh Zainudin al-Malibari, terbit pertama kalinya pada tahun 1940 setebal sekitar 1088 halaman, mengulas tasawuf secara luas dan mendalam.

Sebelum menulis tentang tasawuf, syekh Ihsan berkelana mengelilingi tanah Jawa. Sebuah perjalanan apostolik sebagaimana tradisi para sufi darwis. Dalam perjalanan apostoliknya, ia menjumpai dan berdialog sekaligus menimba ilmu secara singkat dari hampir seluruh ulama tasawuf, mursid tharekat, dan para kiai yang terkenal keilmuan dan kezuhudannya. Bahkan, ia pun menjumpai para tokoh kejawen, pengikut kepercayaan, dan mengajak mendiskusikan secara mendalam persoalan filsafat, spiritual, dan pandangan-pandangan spiritual.

Lebih menakjubkan lagi, ia pun menjumpai para dukun dari berbagai jenisnya, lantaran para dukun dianggap memiliki pandangan dunianya sendiri yang harus diselami. Dari pengalaman perjalanan spiritualnya yang telah menggondol segudang informasi dan ilmu itu menjadi salah satu modal dalam mengkonsepsikan pandangan tasawufnya yang dielaborasikan dengan mengikutsertakan pengalaman pribadi, eksperimentasi spiritual, ritual, pandangan pewayangan, dan pentakwilan atas segenap teks normatif Islam, al-Quran dan hadits.?

Hari Santri 2019

Pada saat-saat menulis karya-karyanya tersebut, syekh Ikhsan dengan tekun menuliskannya yang tak kenal lelah, tak kenal waktu, bergadang, malam yang hening dilaluinya dengan ditemani segelas kopi dan berbatang-batang rokok. Karena memiliki kebiasaan meminum kopi dan menghisap rokok, akhirnya menginspirasikan lahirnya sebuah kitab yang ditulisnya dengan judul kitab Irsyadul-Ikhwan fi Bayani Hukmi Syurbil-Qohwah wad-Dukhon. Kitab ini diadaptasi dari kitab kumpulan syair-syair atau puisi dari kitab Tadzkiratul-Ikhwan fi Bayanil-Qahwah wad-Dukhan karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, yang kemudian diberi penjelasan (syarh), tebalnya 50 halaman. Buku ini berbicara tentang polemik hukum merokok dan minum kopi.

Disamping dikenal sebagai pakar tasawuf, syekh Ihsan juga merupakan ulama dan masuk dalam deretan nama pakar ilmu falak (astronomi). Salah satu karya akademik di bidang ini adalah kitab Tashrihl-‘Ibarot, syarah (penjelasan) dari kitab Natijatul-Miqot karya KH. Ahmad Dahlan Semarang, terbit pertama kali pada 1930, setebal 48 halaman.

Seorang sufi yang juga penuh karya akademiknya ini akhirnya pada Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H. atau September 1952, dipanggil oleh Allah SWT. Usianya yang baru melewati setengan abad ini, 51 tahun, meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Kuburannya hingga saat ini ramai dikunjungi oleh para peziarah, khususnya dari warga NU.

Tak ada warisan yang terlalu berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang kemudian tersimpan dalam korpus kitab-kitab karyanya yang ‘abadi’ maupun yang terrekam dan tersimpan di dalam hati para murid-muridnya. Beberapa murid Syekh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah Kiai Soim pengasuh pesantren di Tanggir Tuban, KH. Zubaidi di Mantenan Blitar, KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap, KH. Busyairi di Sampang Madura, K. Hambali di Plumbon Cirebon, K. Khazin di Tegal, dan lain-lain.

Setahun yang lalu, penulis berziarah kemakamnya dan ke pesantren peninggalannya yang bersahaja dengan disambut oleh KH. Busyro, pengasuh pesantren peninggalan sang sufi kita. Kami berbincang-bincang di rumah KH. Busyro seputar karya-karya sang sufi. Beliau bercerita bahwa sejatinya Gus Dur, panggilan akrab mendiang KH. Abdurrahman Wahid, pernah ingin memperjuangkan salah satu naskah sang sufi yang belum sempat tersebar ke penjuru dunia Islam, yaitu kitab Manahijul -Imdad. Gus Dur meng-copy manuskrip (makhthuthat) kitab tersebut dan diserahkan ke Syekh Sayyed al-Maliki, dengan harapan mendapatkan tashih atau tahqiq dan diterbitkan di Arab. Akan tetapi dalam penantian yang panjang, kitab tidak kunjung diterbitkan. Akhirnya atas dasar inisiatif KH. Busyro sekeluarga, kitab tersebut telah diterbitkan oleh keluarga kiai Ihsan dengan dicetak cukup sederhana dan dalam jumlah terbatas. Tanpa disangka dan diduga, kitab tersebut dalam waktu singkat ludes dipasaran. Karena, rupa-rupanya para kiai dan santri betul-betul menanti-nantikan karya syekh Ihsan itu. Akhirnya ketika sudah ada di depan mata, mereka memburu dan berebut untuk mendapatkannya. Penulis sendiri pada waktu keliling pesantren salaf, tidak mendapatkan kitab tersebut. Dan penulis sempat mensarankan pada KH. Busyro agar kitab tersebut dicetak kembali.

Karya-karya syekh Ihsan sebagian besar telah dikaji dan dibaca oleh para kiai dan santri di pesantren salaf-tradisional. Khususnya kitab magnum opusnya, yaitu Sirojut-Tholibin. Bahkan sebagian kiai Lirboyo-Kediri membacanya setiap tahun sebagai ritual pengajian sehari-hari. Tidak diragukan lagi jika paradigma sufistiknya yang bernuansa Ghazalian yang mengusung perkawinan tasawuf dan syari’ah telah berpengaruh besar terhadap paradigma nalar sufisme kaum santri yang berbasis NU (Nahdlatul Ulama).

?

Mukti Ali

Program Officer Manuskrip Nusantara & Peneliti Rumah Kitab

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri Hari Santri 2019

Jumat, 02 Februari 2018

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU

Sidoarjo, Hari Santri 2019,?

Sebanyak 35 kader penggerak Nahdatul Ulama yang berasal dari Majlis Wakil Cabang (MWCNU), Lembaga dan Banom mengikuti Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) yang diselenggarakan PCNU Sidoarjo . Kegiatan dilaksanakan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hamdaniyah, Siwalan Panji sejak Jumat 28 Februari hingga Minggu 2 Maret hari ini.?

Menurut Panitia Pelaksana, Aris Karomay, acara yang dihadiri oleh Wakil Ketua PBNU KH. Dr. As’ad Ali itu bertujuan membekali kader NU dengan berbagai wawasan ke-Aswajaan dan ideologi gerakan.?

“Diharapkan setelah mengikuti pendidikan tersebut peserta punya bekal untuk menggerakkan organisasi di lingkungannya sesuai dengan Khittoh NU,” ujar Gus Aris.

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU

Sebelumnya, ? panitia melakukan seleksi terhadap 49 peserta yang terdaftar melalui Test Screening secara tertulis dan interview. Alasan panitia melakukan seleksi tersebut karena banyak peserta yang berminat mengikuti pelatihan, disamping itu untuk mengetahui sejauh mana kemampuan peserta PKPNU mengetahui dan memahami tentang organisasi NU.

Dikatakan, panitia sengaja memilih tempat di Ponpes Panji (sebutan lain Ponpes Al-Hamdaniyah) karena mempunyai nilai sejarah besar bagi NU sebagai tempat Rois Akbar NU KH. Hasyim Asya’ri menimba ilmu agama. Bahkan di tempat tersebut masih terdapat kamar Mbah Hasyim yang masih dirawat oleh para santri secara turun temurun.

Hari Santri 2019

”Mudah-mudahan dari tempat ini (ponpes red;), akan melahirkan kader-kader penggerak NU yang mempunyai semangat seperti Mbah Hasyim," tambah Gus Aris.

Sementara itu, Wakil Ketua PBNU, Dr. Asad Ali berharap kepada para kader NU untuk serius belajar dan menambah pengetahuan. "Kader NU diharapkan bisa menguasai semua bidang Ilmu pengetahuan dan Teknologi, agar cita-cita besar NU dapat tercapai," jelasnya. [Aw Avendi Anwar/Mahbib]

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Kajian, AlaSantri Hari Santri 2019

Jumat, 26 Januari 2018

Lima Program Pokok Ketua Baru IPNU-IPPNU Jepara

Jepara, Hari Santri 2019

Zainal Muttaqin terpilih menjadi ketua baru Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan dan Vida Amalia sebagai ketua baru Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Jepara masa khidmah 2016-2108.

Zainal Muttaqin, ketua PC IPNU Jepara terpilih saat dihubungi Hari Santri 2019, Senin (10/10/16), menyampaikan visi-misi kepengerusan mendatang. Pertama, melanjutkan PR besar IPNU-IPPNU yakni mengaktifkan kembali ranting-ranting sebagaimana yang diprogramkan oleh PCNU Jepara untuk semua Banom.

Lima Program Pokok Ketua Baru IPNU-IPPNU Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Program Pokok Ketua Baru IPNU-IPPNU Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Program Pokok Ketua Baru IPNU-IPPNU Jepara

Kedua, kata sekretaris bidang kaderisasi PC IPNU Jepara masa khidmah 2014-2016 ini, menumbuhkembangkan potensi kader di semua lini mulai dari ranting, komisariat hingga anak cabang dengan melaksanakan program kaderisasi pendidikan Makesta dan Lakmud.

Hari Santri 2019

“Ketiga, mensantrikan pelajar dan mempelajarkan santri,” lanjut Zainal, Wakil Ketua II PAC IPNU Welahan 2014-2016 itu.

?

Hari Santri 2019

Keempat, mengembangkan para kader muda yang lebih berkah, bermanfaat dan bisa memberikan sumbangsih perjuangan di setiap lini di tingkatannya masing-masing. Terakhir, mengajak para pelajar dan pemuda untuk sadar organisasi sebagai bekal untuk menatap masa depan yang lebih baik.

Zainal dan Vida terpilih dalam Konfercab XXV IPNU-IPPNU Jepara yang berlangsung di Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang Desa Gemiring Lor, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, Sabtu-Ahad (08-9/10). Zainal memperoleh 22 suara, disusul Ahmad Suyudi dengan perolehan 14 dan M. Miqdad Sya’roni dengan 11 suara. Sedangkan Vida Amalia terpilih menjadi ketua IPNU Cabang Jepara secara aklamasi.

Sementara itu, M. Khoironi, Ketua demisioner IPNU Cabang Jepara 2014-2016 berharap IPNU-IPPNU ke depan mampu melanjutkan program-program yang telah dirintis sebelumnya yang baik dan mampu berinovasi serta memperkuat organisasi dan kaderisasi.

Juga mampu mengawal pendirian ranting, komisariat dan PAC. “Kami juga berharap IPNU-IPPNU ke depan mampu menangkap isu-isu pelajar, pendidikan serta pendampingan kepada pelajar lebih intens lagi,” papar Khoironi.

Guru MTs Al-Faizin Guyangan, Bangsri Jepara itu membeberkan hampir semua program departemen dan lembaga sudah terlaksana dengan baik. Di antaranya adalah kaderisasi. “Masa khidmah sebelumnya ada 10 PAC sekarang ada peningkatan 14 PAC aktif. Ini peningkatan yang harus dijaga terus eksistensinya,” harapnya. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

? ? ? ? ?


Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul Ulama, Meme Islam, AlaSantri Hari Santri 2019

Minggu, 14 Januari 2018

Langkah Fatayat NU Jombang Berantas Warga Buta Aksara

Jombang, Hari Santri 2019Pengurus Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Jombang terus berupaya mengurangi jumlah warganya yang mengalami buta aksara. Fatayat NU Jombang mengadakan pelatihan keterampilan menulis, membaca, dan menghitung di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito, Jombang, Jumat (7/10).

Hal ini menjadi salah satu tujuan utama dalam kegiatan keaksaraan fungsional (KF) yang digelar Fatayat NU Jombang di Desa Mlaras.

Langkah Fatayat NU Jombang Berantas Warga Buta Aksara (Sumber Gambar : Nu Online)
Langkah Fatayat NU Jombang Berantas Warga Buta Aksara (Sumber Gambar : Nu Online)

Langkah Fatayat NU Jombang Berantas Warga Buta Aksara

"Adapun yang disampaikan adalah pembelajaran keterampilan menulis, membaca, dan berhitung," kata Ketua Fatayat Jombang Hj Ema Umiyatul Chusna saat membuka kegiatan tersebut.

Hari Santri 2019

Menurut Ning Ema, pelatihan keaksaraan yang diikuti oleh puluhan warga itu memiliki kelebihan tersendiri jika dibandingkan dengan pelatihan keaksaraan pada umumnya. Nilai lebih itu terletak pada penambahan materi keagamaan di tengah-tengah acara. Selain diajarkan berhitung, mereka juga diajarkan membaca Al-Quran dan memperdalam beberapa ilmu agama.

"Keaksaraan fungsional kita punya nilai lebih karena ada mengajinya, pembelajaran ilmu-ilmu agama, terutama ilmu tentang fiqih," ujarnya.

Hari Santri 2019

Di waktu yang sama setelah program keaksaraan fungsional selesai, Ning Ema dan warga binaan Fatayat memberangkatkan 100 TPQ Lansia setempat dalam rangka peringati tahun baru Islam, 1 Muharram 1438 H. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock