Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Januari 2018

Refleksi Utuh Sesepuh dan Sejarawan NU

Judul Buku : NU dalam Perspektif Sejarah & Ajaran (Refleksi 65 tahun ikut NU)

Penulis : KH. Abdul Muchith Muzadi

Penerbit : Khalista Surabaya

Edisi : 2006

Refleksi Utuh Sesepuh dan Sejarawan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Refleksi Utuh Sesepuh dan Sejarawan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Refleksi Utuh Sesepuh dan Sejarawan NU

Tebal : 173 + x halaman

Peresensi : Rijal Mumazziq Z (Alumnus PP. Mabdaul Maarif Jember)



Hari Santri 2019

DALAM satu kesempatan (yang dinukil kembali dalam salah satu halaman buku ini), KH. Abdul Muchith Muzadi melontarkan parikena yang cukup mengundang senyum namun juga telak menyindir warga NU: “Justru karena besarnya jumlah anggota pengikut, maka NU tidak dapat bergerak maju dengan cepat.”

Itulah sekilas ungkapan khas Kiai Muchith dalam menyampaikan kritikannya, melalui humor cerdas namun telak menyindir obyek kritikan. Begitu pula saat Kiai sepuh ini menyampaikan gagasan-gagasannya, adakalanya dilontarkan dengan gaya parikena, melalui kiasan, maupun secara reflektif-konstruktif, baik melalui lisan maupun tulisan.

Hari Santri 2019

Model penyampaian ide Kiai Muchit seperti amsal di atas, dapat ditemui dalam buku “NU dalam Perspektif Sejarah & Ajaran; (refleksi 65 tahun Ikut NU)”, yang merefleksikan pengalaman kiai Muchith selama 65 tahun mengabdi NU. Salah seorang Mustasyar PBNU ini cukup sistemastis dalam mengolah dan menyajikan beberapa pokok pemikirannya.

Kakak kandung Ketua Umum PBNU ini membagi rangkaian tulisannya ke dalam dua bab; Memahami NU Lebih Utuh serta Sinergi Ajaran dan Pemahaman Agama. Sebagai “Sejarawan NU”, Mbah Muchith tampak begitu mahir dalam mengolah benak pembaca menerobos ruang dan waktu sejarah yang memayungi NU. Adapun sebagai “Sesepuh NU”, Mbah Muchith begitu semangat mengupas jatidiri dan esensi NU. Inilah yang menyebabkan buku ini layak dilahap dengan pikiran cerdas dalam memahami jeroan NU.

Selama 65 tahun bergabung NU, kiai asal Jember ini mengalami pahit-manisnya bersama NU sejak zaman penjajahan Belanda, Jepang, Revolusi fisik, Orde Baru hingga Reformasi. Sebuah pengalaman berharga yang banyak mempengaruhi pemikiran kiai kelahiran Tuban ini saat mengemukakan gagasannya. Sebagai salah satu tokoh NU yang dituakan, beliau terlihat cukup rancak dan luwes “menjaga gawang NU”, baik saat digoyang maupun saat NU dalam posisi mapan.

Pendidikan dan pengalaman berorganisasi kaum nahdliyyin masih sangat minim. Sebagai ormas terbesar di Indonesia alangkah eman-nya jika NU tidak mampu mempengaruhi corak dan arah pendidikan Indonesia. Organisasi yang secara kuantitatif menjadi mayoritas, namun belum mampu menjadi kekuatan dominan, secara kualitatif. Begitulah salah satu kritiknya.

Kritik yang dilontarkan Kiai Muchith, tentunya merupakan salah satu wujud kecintaan beliau pada NU. Sebab, sebagai ormas yang memiliki basis massa kuat, NU seharusnya malu jika kuantitasnya tidak diiringi dengan kualitas yang bagus. Atau saat Kiai Muchith mencermati proses kaderisasi di NU, beliau cukup prihatin. Mengapa sebagai ormas yang sudah menapak usia 80 tahun, NU masih amburadul, dari segi administrasi-organisasi. Lebih lanjut, beliau menyebut bahwa kebiasaan ber-paguyuban di kalangan pengurus NU, tidak berorganisasi secara tertib, disiplin dan profesional merupakan beberapa faktor penghambat keprofesionalan jamiyyah NU. Hingga kemudian kebiasaan ini mendarah daging di kalangan NU, salah satu sebabnya adalah “warga yang diurus” terlalu banyak, namun yang “mengurusi” terlalu minim.

Sebagai sesepuh, Kiai Muchith cukup apresiatif saat mengemukakan ide bahwa NU jam’iyyah (organisasi) dan NU jamaah (warga nahdliyyin) haruslah terjadi proses interaksi yang cukup berimbang. Sebab, keduanya adalah kekuatan riil NU. NU jam’iyyah tanpa NU jamaah adalah impossible. Namun, jamaah NU tanpa jamiyyah NU akan menjadi golongan manusia yang dapat diombang-ambingkan kelompok lain. Bagaimana kemudian mengatur dan mengawinkan kedua wajah NU tersebut, tentu membutuhkan semangat, tekad dan kerja keras dari seluruh warga NU.

Saat membahas butir khittah 1926, Kiai Muchith menyentil kelahiran PKB, yang kemudian memunculkan interpretasi baru atas khittah, terutama terkait dengan butir 8 alinea 6 naskah Khittah NU, yaitu “NU sebagai jamiyyah, secara organisatoris tidak terikat dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan yang manapun juga.” Nah, inilah yang kemudian menimbulkan kekhawatiran dan pro-kontra dari kalangan nahdliyyin sendiri. Apakah NU harus terseret ke politik praktis lagi? Bagaimana kedudukan PKB di tubuh NU? Apakah malah tidak merugikan gerak NU sendiri? Apakah tidak “menghianati” khittah 1926 itu sendiri? Semua jawaban dirangkai dengan bahasa cukup arif dan sederhana oleh Kiai Muchith dalam buku ini.Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Ulama, Aswaja Hari Santri 2019

Jumat, 26 Januari 2018

KMNU Unila Punya Ketua Baru

Bandarlampung, Hari Santri 2019

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Lampung (Unila) secara resmi memilih Ahmad Nur Fuadi sebagai ketua baru periode 2016-2017 dalam Musyawarah Anggota yang digelar di Kantor Kesekretariatan KMNU Unila, Bandarlampung, Lampung.



KMNU Unila Punya Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU Unila Punya Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU Unila Punya Ketua Baru



Fuad, begitu ia biasa dipanggil, menggantikan ketua periode sebelumnya, Ahmad Saroji El-Shirozy. Fuad adalah mantan Kepala Departemen SKD KMNU Unila.?



Hari Santri 2019



Setelah terpilih menjadi Ketua Umum pada Ahad (17/01/16) malam itu, Fuad menyatakan bahwa amanah yang diembannya sangat berat. Mahasiswa FKIP Unila Jurusan Fisika ini berharap bisa menunaikannya dengan baik. Ia mendasarkan niatnya pada usaha mencari ridha Allah, bentuk cinta kepada Nabi Muhammad, serta cinta terhadap tanah air NKRI.





Hari Santri 2019

Pemuda berkacamata yang merupakan alumni MAN 1 Pringsewu ini meyakini bahwa berorganisasi, lebih-lebih di KMNU, merupakan sebuah cara lain untuk mencari Ilmu dan pengalaman yang tidak didapatkan di pelajaran atau materi kuliah.?





"Berorganisasi itu cari ilmu dengan aktif di organisasi. Kalau berorganisasi di KMNU insyallah tidak cuma ilmu yang didapat. Kalau aktif dan ikhlas berkhidmah maka kita juga akan dapat barokah doanya para ulama, masyayikh, dan muasis NU," ungkapnya. (Muhammad Faizin/Mahbib). Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, Tokoh, Pesantren Hari Santri 2019

Sabtu, 20 Januari 2018

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan

Jombang, Hari Santri 2019 - Pengurus Fatayat NU Kabupaten Jombang membahas sejumlah masalah perempuan yang berkembang di kota santri ini. Mereka berupaya keras untuk menyelesaikan sejumlah masalah seperti KDRT, meningkatnya perceraian, narkoba, HIV/AIDS, pendidikan dan pengembangan perekonomian perempuan.

Ketua Fatayat NU Jombang Ema Umiyyatul Chusnah mengatakan, sejumlah persoalan itu kini sudah menjadi bahan kajian bersama pengurus Fatayat NU Jombang. Sehingga sebagian besar persoalan tersebut dapat diatasi dengan baik.

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan

Terkait persoalan HIV/AIDS atau kesehatan, pihaknya telah melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada warga setempat terutama pada ibu-ibu dan remaja. Mereka diajak untuk mengetahui bahaya penyakit HIV/AIDS dan pentingnya menjaga kesehatan.

Hari Santri 2019

Demikian juga pada persoalan pendidikan. Mereka telah menyiapkan kelompok khusus untuk melakukan pengembangan kapasitas SDM para guru dengan giat pelatihan-pelatihan. Kelompok ini mencoba mengentaskan buta aksara di kalangan ibu-ibu yang belum bisa baca tulis di Jombang.

"Ada beberapa kelompok yang telah berupaya mengajak masyarakat untuk melek aksara, terutama ibu-ibu yang belum bisa baca tulis. Mereka sudah mulai bisa baca tulis, menghitung dan ngaji," katanya kepada Hari Santri 2019 di Rumah Dinas Jombang, Kamis (21/4).

Hari Santri 2019

Tidak kalah penting, banyaknya problem yang tengah dihadapi oleh masyarakat Jombang yang berada di pedalaman. Menurut cucu dari Mbah Wahab itu, di sana terdapat banyak persoalan yang juga harus diselesaikan.

"Kita juga harus memikirkan mereka untuk mengangkat derajat dan martabatnya sehingga anak-anak mereka menjadi generasi harapan bangsa," tandasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Doa, Kyai Hari Santri 2019

Selasa, 16 Januari 2018

MWCNU Tiris Barat Gencarkan Lailatul Ijtima dan Kitab Kuning

Probolinggo, Hari Santri 2019 - Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Tiris Barat (Tiba) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan pengurus Ranting NU se-Tiba menggencarkan program Langkah Kakiku (Lailatul Ijtima dalam rangka berjuang mengharap berhah dengan Kajian Kitab Kuning).

Di setiap acara lailatul ijtima’ Ranting NU, jajaran Syuriah dan LBM MWCNU Tiris Barat menyempatkan untuk berkunjung ke acara tersebut dengan jadwal pembina kitab MWCNU yang telah ditentukan. Setelah acara istighotsah selesai, giliran pembina kitab dari MWCNU untuk membaca kitab Kajian Fiqih atau Aswaja, selanjutnya digelar dialog-dialog hukum atau ke-Aswaja-an.

MWCNU Tiris Barat Gencarkan Lailatul Ijtima dan Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Tiris Barat Gencarkan Lailatul Ijtima dan Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Tiris Barat Gencarkan Lailatul Ijtima dan Kitab Kuning

“Kegiatan ini dimaksudkan untuk membekali pengurus ranting dengan kajian hukum dan Aswaja. Karena merekalah yang berinteraksi langsung dengan warga NU. Jadi dalam satu bulan pengurus MWCNU turun ke ranting dalam acara Langkah Kakiku tersebut sebanyak delapan kali, mengingat jumlah ranting yang ada sebanyak 8 ranting,” kata Ketua MWCNU Tiris Barat Imron Hamzah, Rabu (22/3).

Langkah Kakiku ini memang diprioritaskan pada pengurus ranting NU, namun juga terbuka bagi masyarakat yang berkenan mengikutinya. “Karena tujuan acara itu diadakan adalah memberi bekal pengurus Ranting NU dan mempererat serta memperkuat organisasi NU di level ranting,” jelasnya.

Hari Santri 2019

Melalui program Langkah Kakiku ini Imron Hamzah mengharapkan agar ke depannya pengurus ranting lebih memiliki kualitas dibidang keagamaan, keorganisasian dan ke-NU-an dalam menjalankan roda organisasi NU ditingkat ranting. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Pesantren, Pertandingan Hari Santri 2019

Selasa, 09 Januari 2018

Tampung Aspirasi Pelajar, IPPNU Probolinggo Mantapkan Kepengurusan Dulu

Probolinggo, Hari Santri 2019. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Probolinggo melakukan upgrading atau penyegaran pengurus sekaligus untuk memantapkan kepengurusan Kabupaten Probolinggo periode 2013-2015, Sabtu (10/1).

Wakil Ketua PC IPPNU Kota Probolinggo Yayuk Hasanah mengungkapkan pemantapan pengurus ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan kualitas dan profesionalitas para pengurus dalam memberikan pemahaman terkait tupoksi (tugas pokok dan fungsi) jabatan masing-masing dalam kepengurusan.

Tampung Aspirasi Pelajar, IPPNU Probolinggo Mantapkan Kepengurusan Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)
Tampung Aspirasi Pelajar, IPPNU Probolinggo Mantapkan Kepengurusan Dulu (Sumber Gambar : Nu Online)

Tampung Aspirasi Pelajar, IPPNU Probolinggo Mantapkan Kepengurusan Dulu

“Kami berharap supaya kegiatan ini bisa menambah semangat juang para pengurus untuk menyusun dan menjalankan program kerja sesuai dengan kebutuhan para pelajar NU. Sebab pada dasarnya kita bergabung dengan IPPNU adalah untuk membesarkan dan menampung seluruh aspirasi pelajar NU,” ujarnya.

Hari Santri 2019

Menurut Yayuk, penyegaran sekaligus pemantapan kembali kepengurusan ini sangat penting dilakukan. Sebab selain untuk bisa memperbaiki kualitas diri, pengurus juga harus lebih semangat dalam mengembangkan organisasi IPPNU di Kota Probolinggo.

Hari Santri 2019

“Perjuangan itu sangat penting dilakukan dibarengi dengan semangat dalam memperjuangkan dan melestarikan ajaran Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di kalangan pengurus dan pelajar di Kota Probolinggo,” terangnya.

Demi tetap menjaga eksistensi organisasi jelas Yayuk, maka semua pengurus PC IPPNU Kota Probolinggo harus selalu menjaga kekompakan agar program kerja yang sudah dirancang bisa berjalan sesuai dengan harapan para pengurus dan pelajar di Kota Probolinggo.

“Kekompakan ini penting agar apa yang sudah kita programkan bisa berjalan dengan baik dan tepat sasaran. Pemantapan ini merupakan salah satu upaya penguatan SDM di jajaran kepengurusan sebagai langkah mempertajam program kerja yang akan ditetapkan dalam Rakercab mendatang,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Pendidikan, Nahdlatul Hari Santri 2019

Minggu, 07 Januari 2018

Kebrobrokan Bathin Merusak Urusan Dhahir

Rasulullah saw pernah bersabda قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ ØŒ وَهَوًى مُتَّبَعٌ ØŒ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بÙ? فْسِهِ? ? “Tiga perkara yang merusak yaitu, menuruti kebakhilan, mengikuti hawa nafsu dan megagumi diri sendiri”. Sesungguhnya ketiga perkara itu adalah urusan bathiniyah tetapi jika dibiarkan ketiganya dapat merusak urusan lahiriyah, mulai dari merusak tatanan keluarga, budaya hingga tataran ekonomi.

Ø¥Ù? الحمد لله الذى أرسل رسوله بالهدى ودÙ? Ù? الحق Ù„Ù? ظهره على الدÙ? Ù? كله. أرسله بشÙ? را ÙˆÙ? ذÙ? را وداعÙ? ا الى الله باذÙ? Ù‡ وسراجا Ù…Ù? Ù? را. أشهد اÙ? لا اله الا الله وحده لا شرÙ? Ùƒ له. شهادة اعدها للقائه ذخرأ. واشهد اÙ? محمدا عبده Ùˆ رسوله. ارفع البرÙ? Ø© قدرا. اللهم صل وسلم وبارك على سÙ? دÙ? ا محمد وعلى أله وأصحابه وسلم تسلÙ? ما كثÙ? را. أما بعد. فÙ? اأÙ? ها الÙ? اس اتقوالله حق تقاته ولاتموتÙ? الا وأÙ? تم مسلموÙ? . Pada kesempatan ini pertama-tama khatib ingin mengajak diri sendiri dan jama’ah semua untuk meningkatkan taqwa. Sesungguhnya taqwa itu Bermuda dari mengihdar larang-larangannya. Seperti halnya menghindar berbagai keburukan yang yang dijabarkan dalam salah satu hadits pendek:

Kebrobrokan Bathin Merusak Urusan Dhahir (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebrobrokan Bathin Merusak Urusan Dhahir (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebrobrokan Bathin Merusak Urusan Dhahir

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ ØŒ وَهَوًى مُتَّبَعٌ ØŒ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بÙ? فْسِهِ?

Tiga perkara yang dapat merusak yaitu, menuruti kebakhilan, mengikuti hawa nafsu dan megagumi diri sendiri.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Hari Santri 2019

Jika kita baca sekilas saja, hadits ini seolah hanya berfungsi sebagai hadits motifasi, semacam golden ways, yang memebri tips bagaimana tata cara hidup yang sukses dan benar. Padahal tidak demikian, karena sesungguhnya teks ini adalah hadits Rasulullah saw yang kadar kebenarannya seratus persen. Hadits Rasulullah saw bukan sekedar motifasi yang member janji, tetapi hadits itu berbicara bukti.

Marilah kita ungkap bersama, bahwa ada tiga hal yang merusak hidup manusia yaitu menuruti kebakhilan, mengikuti hawa nafsu dan megagumi diri sendiri. Memang ketiga hal ini sangatlah bersifat bathiniah, karena ketiganya beroperasi dalam hati. Sehingga ketiganya sangat bersifat individualis dan sangat pribadi sekali.

Tetapi jika dibiarkan, ketiga masalah tersebut yang bathiniah dan privasi itu akan merusak tatanan dhahir dan social. Kita akan melihat bagaimana penyakit hati yang tersimpan rapat dan sangat rahasia ini dapat merusak kehidupan nyata, kehidupan bermasyarakat, bahkan juga berbangsa dan bernegara. Jika ketiga penyakit itu menjalar kesebagian besar bangsa ini, maka hadits ini akan berlaku bagi bangsa Indonesia.

Jama’ah Jum’ah yang Dirahmati Allah

Hari Santri 2019

Perkara pertama yang dapat merusak adalah شخ مطاع syukkhun mutha’un (kikir yang dituruti). Kata syukkun, meskipun memiliki padanan dalam bahasa Arab bakhil, tetapi kata syukhkhun menunjukkan tingkat kebakhilan yang lebih tinggi, tidak sekedar pelit atau kikir biasa. Karena jika bakhil itu bermakna orang yang mempertahankan miliknya jangan sampai kepada orang lain. Namun sykhkhun lebih dari itu, ia adalah orang yang memepertahakan dan tidak rela, kalau ada kenikmatan Allah swt yang diberikan kepada orang lain. Walaupun ia sadari bahwa rahmat dan nikmat itu milik Allah swt dan bukan miliknya.

Secara tidak langsung, sifat inilah akar dari sifat madzmumah yang terkenal dan berbahaya yaitu hasud. Hasud adalah perasaan iri dan dengki dengan kenikmatan dan rahmat yang diterima orang lain serta menginginkan rahmati itu berpindah kepadanya. Sungguh inilah karakter terburuk manusia. Kebrobrokan moral yang paling tinggi, dibandingkan dengan kenakalan remaja dan praktik kekerasan dimanapun juga. Karena tindak kekerasan hanyalah kembangan dari sifat hasud ini.

Karena itu pantaslah jika Rasulullah saw berpesan dengan sangat ‘mewanti-wanti’ dalam haditsnya:

Ø£Ù? الÙ? بÙ? صلى الله علÙ? Ù‡ وسلم قال ? Ø¥Ù? اكم والحسد فإÙ? الحسد Ù? أكل الحسÙ? ات كما تأكل الÙ? ار الحطب?

Jagalah dirimu dari hasud, akan hasud akan meruntuhkan amal kebajikan sebagaimana api membakar kayu bakar’

Meski demikian para Jama’ah yang berbahagia, karena begitu seringnya kita mendengar dan membaca hadits ini, sehingga telinga terasa familier dan hatipun tidak tergugah. Akibatnya seringkali kita menganggap hadits ini sebagai intimidasi tak berkelanjutan, atau sekedar surat peringatan yang tidak pernah ditindak lanjuti. Na’udzubillah min dzalik, sungguh itu bisikan syaitan yang terkutuk.

Andaikata syukhkhun yang mengembang menjadi hasud itu berdampak pada hilangnya amal baik, dan perkara amal itu urusan nanti diakhirat, terus dimanakah bahaya syukhkhun muthoun ? dalam kehidupan nyata ini? ada sebuah hadits tentang kekikiran? yang ? sangat beroreintasi pada kehidupan bermasyarakat ijtimaiyyah yaitu

قال رسول الله صلى الله علÙ? Ù‡ وآله : السخÙ? قرÙ? ب Ù…Ù? الله قرÙ? ب Ù…Ù? الÙ? اس ØŒ قرÙ? ب Ù…Ù? الجÙ? Ø© ØŒ والبخÙ? Ù„ بعÙ? د Ù…Ù? الله بعÙ? د Ù…Ù? الÙ? اس قرÙ? ب Ù…Ù? الÙ? ار? . Bahwasannya Rasulullah saw bersabda: orang yang dermawan dekat dengan Allah swt, dekat dengan manusia dan dekat dengan surga. Sedangkan orang kikri itu jauh dari Allah, jauh dari manusia dan dekat dekat dengan neraka.

Pemahaman yang baik atas hadits ini adalah betapa ragam dalam kehidupan merupakan sunnatullah maka kaya-miskin, ada-tiada, adalah kenyataan. Dan semua itu dapat berjalan saling harmoni jika mereka yang kaya dan ada suka berbagi. Begitu pula sebaliknya, jika mereka kelompok yang kaya, yang mampu malah melakukan monopoli dan dominasi. Maka perputaran ekonomi tidak akan normal dan sehat lagi. Karena yang kaya akan makin kaya dan yang melarat akan tambah sekarat. Bukankah itu namanya sykhiyyun jika dia berekonomi dengan kaedah ‘memperoleh untung sebesar-besanya dengan modal sedikit-dikitnya?’

Bukankah ini yang terjadi dengan perekonomian di Negara kita. Ketika modal asing yang sangat kuat menggempur ekonomi mandiri masyarakat kecil dan menengah. Maka pemilik modal itulah yang sekarang menguasai pasar ekonomi negeri ini. Dengan berkedok investasi mereka ingin menguasai perdagangan dalam negeri dan anehnya mereka diberi jalan oleh penguasa atau pemerintah dengan dalih mengatur hajat-hidup bangsa ini.

Pertanyaannya kemuddian, bagaimanakah bisa para pejabat, penguasa dan pemerintah itu member jalan kepada para investor/pemilik modal dan para syakhiyyun itu?

Saudara-saudara Jama’ah Jum’ah yang dilindungi Allah swt. jawabnya ada dalam penyakit keduaوهوى متبع ? wa hawan muttaba’ (nafsu yang selalu dituruti). Nafsu atau kesenangan memang urusan pribadi, daftar keinginan dan kesenanga itu berderet dalam hati. Mungkin jika dituliskan dalam kertas akan menghabiskan berlembar-lembar.

Jika seseorang telah bertekad untuk menuruti segala keinginan memenuhi kesenangannya, maka apapun akan dilakukan. Tidak perduli kelakuannya akan mengorbankan masyarakat yang di dalam masyarakat itu ada keluarganya, ada orang-orang yang berjasa padanya. Inilah yang dalam Negara ini tergambar dalam tindakan korupsi.

Korupsi adalah contoh termudah dari penurutan hawa nafsu, nafsu memiliki rumah yang mewah-mewah, mobil baru-baru, dan perempuan canti-cantik. Maka ketika para syakhiyyun itu menawarkan kerja sama dengan keuntungan yang memikat dan para pemilik kebijakan menuruti hawa nafsunya, maka terjadilah tindak korupsi. Membeli Sapi dari luar negeri, membeli buah dari luar negeri, membeli kedelai dari luar negeri, member songkong dari luar negeri, membeli gula dari luar negeri. Semua dilakukan demi keuntungan pribadi, demi memenuhi keinginan pribadi tanpa merasa iba kepada petani sapi, petani bauah, petani singkong dan petani tebu. Bukankah ini merusak tatanankehidupan berbangsa dan bernegara.

Sekali lagi memang syakhiyy dan nafsu adalah masalah bathin adanya terselubung jauh dalam hati, tapi jika ia telah bergerak dan menguasai badan ini, ia mampu merusak tatanan kehidupan nyata, mengotak-ngoyak tatanan ekonomi riil dan mempercuram jenjang social kehidupan. Na’udzubillah min dzalik

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Katiga, adalah إعجاب المرء بÙ? فسه ? I’jabul mar’I binafsih mengagumi diri sendiri yang terkenal dengan ‘ujub. ‘ujub adalah satu penyakit hati paling akut yang susah sekali mengobatinya. Dokter sekaliber apapun tidak sanggup mengobati. Pada praktiknya penyakit ini akan membawa penderita menganggap dirinya paling baik, paling pintar, paling cantik, paling berwibawa dan lain seterusnya.

Ingatkah kita dengan perkataan Iblis ketika diperintah untuk tunduk kepada Nabi Adam as. dalam al-A’raf 12 disebutkan:

قَالَ Ø£ÙŽÙ? َا خَÙ? ْرٌ مِÙ? ْهُ خَلَقْتَÙ? ِÙ? مِÙ? Ù’ Ù? َارٍ وَخَلَقْتَهُ مِÙ? Ù’ طِÙ? Ù? ٍ

Saya lebih baik dari padanya, Engkau ciptakan saya dari api sedangkan ia, Engkau ciptakan dari tanah

Biasanya ‘ujub akan melahirkan penyakit laian yaitu ‘thulul amal’ angan-angan yang panjang. Mereka yang merasa diri lebih dari orang lain selanjutnya akan mengangan-angan dalam lamuanan. “Karena aku orang paling berwibawa di kampung ini, maka jika ada pejabat datang pastilah nanti akan menemuiku, jika menemuiku pastilah aku jadi banyak relasi, jika banyak relasi, maka aku akan…” dan terus tidak ada ujungnya. Jika penyakit ini telah menyergap pada diri seseorang, maka ia akan menjadi serang penghayal yang malas untuk bertindak dan berkreasi, karena lamunan yang panjang. Seperti malasnya pemasang lotre menunggu nasib.

Maka sudah seharusnya, jika kita ingin menyelamatkan diri, keluarga, lingkungan bahkan juga bangsa tercinta ini, marilah kita bersama-sama berusaha dan melatih diri menghindari ketiga penyakit itu. Dan tidak lupa berdo’a kepada Allah swt agar memberikan petunjukNya mempermudah jalan kita menghindari dari penyakit tersebut. Bukankah sesungguhnya iman dan taqwa yang ada dalam diri kita merupakan anugrah dari-Nya?

Demikianlah khotbah Jum’ah kali ini, meskipun sekelumit semoga bermanfaat.

? بَارَكَ اللهُ لِÙ? Ù’ وَلَكُمْ فِÙ? Ù’ اْلقُرْآÙ? ِ اْلعَظِÙ? ْمِ ÙˆÙŽÙ? َفَعَÙ? ِÙ? ÙˆÙŽØ¥Ù? َّاكُمْ ِبمَا ِفÙ? ْهِ مِÙ? ÙŽ اْلآÙ? اَتِ وَالذكْر ِالْحَكِÙ? ْمِ وَتَقَبَّلَ مِÙ? ِّÙ? وَمِÙ? ْكُمْ تِلاَوَتَهُ Ø¥Ù? َّهُ هُوَ السَّمِÙ? ْعُ اْلعَلِÙ? ْمُ

Khutbah II

? اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَاÙ? ِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِÙ? ْقِهِ وَاِمْتِÙ? َاÙ? ِهِ. وَاَشْهَدُ اَÙ? Ù’ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِÙ? ْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَÙ? ÙŽÙ‘ سَÙ? ِّدَÙ? َا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَاÙ? ِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِÙ? ْمًا كِثÙ? ْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَÙ? اَ اَÙ? ُّهَا الÙ? َّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِÙ? ْمَا اَمَرَ وَاÙ? ْتَهُوْا عَمَّا Ù? ÙŽÙ‡ÙŽÙ‰ وَاعْلَمُوْا اَÙ? ÙŽÙ‘ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِÙ? ْهِ بِÙ? َفْسِهِ وَثَـÙ? ÙŽÙ‰ بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ Ù? ُصَلُّوْÙ? ÙŽ عَلىَ الÙ? َّبِى Ù? Ø¢ اَÙ? ُّهَا الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ آمَÙ? ُوْا صَلُّوْا عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِÙ? ْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَÙ? ِّدِÙ? اَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَÙ? ْبِÙ? آئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَارْضَ اللّهُمَّ عَÙ? ِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِÙ? Ù’Ù? ÙŽ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَاÙ? وَعَلِى وَعَÙ? Ù’ بَقِÙ? َّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَتَابِعِÙ? التَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ لَهُمْ بِاِحْسَاÙ? ٍ اِلَىÙ? َوْمِ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَارْضَ عَÙ? َّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ Ù? َا اَرْحَمَ الرَّاحِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِÙ? ِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُؤْمِÙ? َاتِ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْÙ? آءُ مِÙ? ْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاÙ? ْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِÙ? َّةَ وَاÙ? ْصُرْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ Ù? َصَرَ الدِّÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاخْذُلْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ خَذَلَ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ ÙˆÙŽ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى Ù? َوْمَ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَÙ? َّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ وَسُوْءَ اْلفِتْÙ? َةِ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ مَا ظَهَرَ مِÙ? ْهَا وَمَا بَطَÙ? ÙŽ عَÙ? Ù’ بَلَدِÙ? َا اِÙ? ْدُوÙ? ِÙ? ْسِÙ? َّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَاÙ? ِ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ عآمَّةً Ù? َا رَبَّ اْلعَالَمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. رَبَّÙ? َا آتِÙ? اَ فِى الدُّÙ? Ù’Ù? َا حَسَÙ? َةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَÙ? َةً وَقِÙ? َا عَذَابَ الÙ? َّارِ. رَبَّÙ? َا ظَلَمْÙ? َا اَÙ? ْفُسَÙ? َاوَاِÙ? Ù’ لَمْ تَغْفِرْ Ù„ÙŽÙ? َا وَتَرْحَمْÙ? َا Ù„ÙŽÙ? َكُوْÙ? ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ مِÙ? ÙŽ اْلخَاسِرِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. عِبَادَاللهِ ! اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ Ù? َأْمُرُÙ? َا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَاÙ? ِ وَإِÙ? ْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ ÙˆÙŽÙ? ÙŽÙ? ْهَى عَÙ? ِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُÙ? ْكَرِ وَاْلبَغْÙ? Ù? َعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْÙ? ÙŽ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِÙ? ْمَ Ù? َذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ Ù? ِعَمِهِ Ù? َزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

?

Red: Ulil Hadrawy

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Habib, Pesantren, Aswaja Hari Santri 2019

Jumat, 05 Januari 2018

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun

Demak, Hari Santri 2019 - Anggota maupun pengurus NU dituntut untuk selalu komitmen serta eksis memperjuangkan dan mempertahankan ideologi organisasi dalam kondisi apapun dan di manapun. Mereka juga bertanggung jawab untuk menggerakkan organisasi.

“Kita sebagai warga NU wajib memperjuangkan ajaran Ahlus Sunah wal jamaah di manapun dan sampai kapan. Kita harus melestarikan ajaran yang ditinggalkan para ulama NU,” kata pengurus LDNU Demak KH Imam Ghozali saat memberikan taushiyah pada halal bihalal yang diselenggarakan Muslimat NU di halaman Masjid Jami Ploso Desa Temuroso Kecamatan Guntur Kabupaten Demak, Ahad (14/8).

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun

Kiai Ghozali mengingatkan anggota Muslimat NU sudah sewajarnya bila dalam keseharian mengamalkan ajaran Aswaja dan menyebarkannya. Hanya saja di dalam memperjuangkan itu semua harus disesuaikan dengan kemampuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam keluarga masing-masing.

“Anggota Muslimat itu wajib memperjuangkan Aswaja di tengah masyarakat, namun perjuangan panjenengan semua itu harus disesuaikan dengan kemampuan yang perlu izin dan dukungan dari keluarga terutama suami,” tegas kiai Ghozali.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Sementara itu Ketua Muslimat NU Guntur Hj Isfinadhiroh di sela-sela acara kepada Hari Santri 2019 mengatakan, pihaknya sengaja mengundang ulama NU pada acara tersebut untuk memberikan pencerahan dan motivasi pada pengurus dan anggota Muslimat NU agar semakin giat dalam berorganisasi.

“Mumpung pengurus dan anggota Muslimat NU sekecamatan ini kumpul, sengaja pak kiai rawuh-kan untuk memberikan motivasi dan pencerahan pada anggota akan kesadaran membesarkan NU,” tutur Isfinadhiroh.

Hahal bihalal ini diikuti oleh pengurus anak cabang dan ranting Muslimat NU sekecamatan Guntur. Tampak hadir pengurus MWCNU, lembaga dan banom NU tingkat kecamatan serta dihadiri warga sekitar. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Pesantren, Kyai Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock