Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Hafidz Tunanetra ini Imami Tarawih di Masjid Gus Dur

Jakarta,Hari Santri 2019. Shalat tarawih berjamaah di Masjid Al-Munawwaroh komplek kediaman KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Jalan Warung Sila Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (23/6) malam atau malam ketujuh Ramadhan menghatamkan 1 juz Al-Quran dan diimami oleh seorang hafidz tunanetra.

Hafidz Tunanetra ini Imami Tarawih di Masjid Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Hafidz Tunanetra ini Imami Tarawih di Masjid Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Hafidz Tunanetra ini Imami Tarawih di Masjid Gus Dur

"Sholat Tarawih malam ini akan diimami seorang tunanetra. Namanya Muhammad Nurdin," ujar Imam Besar Masjid Al-Munawwaroh Kiai Ahmad Ahsin kepada Hari Santri 2019 menjelang buka bersama di teras masjid yang akrab disebut Masjid Gus Dur ini.

Muhammad Nurdin (35 tahun), lulusan Pesantren Al-Anwar Desa Goa Kidul, Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon ini mengaku telah hafal Al-Quran 30 juz sejak usia 26 tahun. Ia mondok di pesantren yang diasuh KH Anwar Maksum, kakak sepupu Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, sejak 2001 hingga 2006.

Hari Santri 2019

"Ketika mondok di Cirebon, saya setoran hafalannya langsung satu maqra. Saya menghafal Quran memakai Quran Braille yang saya dapat dari kota Jogja. Waktu itu memang susah ya nyari Quran untuk kaum tunanetra," tuturnya.

Pria asal Kampung Bojong Pari, Desa Jaya Bakti, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi ini bercerita, ketika masih kecil belajar membaca Al-Quran huruf Braille di Yayasan Pesantren Al-Muawanah di Sukabumi. Setelah setahun, ia pindah mondok di Bandung.

Hari Santri 2019

Nurdin mengatakan, awal ketertarikannya menghafal Quran lantaran keinginan belajar kitab kuning kandas. Sebab, belum ada yang ditulis Braille. “Quran aja satu juz itu gede banget. Makanya, wajar kalau susah ditemukan kitab kuning dalam tulisan Braille,” ujarnya.

Oleh kiainya, Nurdin disarankan untuk menghafal Al-Quran saja. “Jadi saya nggak langsung ke Cirebon. Tapi, ke Bandung dulu mondok di Al-Syifa’ khusus belajar Ilmu Qiraat dan Tajwid. Cuma memang waktu itu suara saya kurang memadai. Akhirnya, kiai menyuruh saya menghafal aja,” ungkapnya.

Nurdin lalu mengikuti petunjuk kiainya yang di Bandung untuk mondok Quran di Cirebon. “Saat menerima hafalan saya, Kiai Anwar biasa aja. Jadi, bareng dengan santri yang lain. Apalagi saya sudah mempunyai bekal, tajwid sudah bagus. Jadi langsung menghafal,” ujarnya bangga.

Jika ada anak tunanetra ingin menghafal Al-Quran, Nurdin menyarankan agar mereka belajar Braille terlebih dahulu di Sekolah Luar Biasa. “Memang ada yang model menuntun saja hingga bisa baca. Tapi kan kiai sibuk juga. Teman-teman juga nggak tentu senggang,” tandasnya.

Di tengah keterbatasannya, Nurdin tetap bersyukur karena diberi kemampuan oleh Allah menghafalkan kitab suci-Nya. Ia berharap, anak-anak tunanetra terus berlomba dalam kebaikan. Sebaiknya mereka tidak kalah dengan yang lain.

“Jangan ketinggalan lah sama anak-anak normal. Sekarang kan ada sekolahnya. Banyak juga tunanetra yang pinter, ada yang jadi dosen. Tapi, tantangannya orang tua ini. Setelah dilepas, banyak yang takut ini takut itu. Harus benar-benar tega lah untuk kemajuan anaknya,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara, Kyai, Fragmen Hari Santri 2019

Rabu, 14 Februari 2018

PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid

Subang, Hari Santri 2019 - Masjid merupakan bagian penting dari identitas Islam, selain berfungsi sebagai tempat ibadah. Sejak awal kelahiran Islam masjid juga dijadikan sebagai pusat dakwah dan perjuangan. Sebab itu MWCNU yang ada di Kabupaten Subang diminta untuk bisa lebih memerhatikan sekaligus memakmurkan masjid yang ada di daerahnya masing-masing.

Hal ini disampaikan Sajudin Noor sebagai ketua panitia pelaksana pada kegiatan Pelatihan Kader Muharrik Masjid dan Dakwah NU yang digelar oleh PCNU Kabupaten Subang di Masjid Zaenal Abidin, Kecamatan Sukasari, Subang, Kamis (6/4).

PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid

"Kita tidak diminta untuk menjadi pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) karena saya yakin di semua masjid sudah punya DKM masing-masing," ujar Sajudin di hadapan 77 peserta kegiatan yang mewakili 12 MWCNU yang ada di Subang Utara.

Hari Santri 2019

Yang diharapkan dari para peserta usai mengikuti kegiatan pelatihan ini adalah peserta mampu menjadi mesin penggerak dalam rangka memakmurkan masjid yang ada di wilayah kecamatannya masing-masing.

"Kegiatan pelatihan ini hanya seremonial, kegiatan aslinya adalah kegiatan di lapangan yaitu menjadi agen perubahan dan menjadi manajer agar masyarakat bisa lebih mencintai masjid dan senang datang ke masjid sehingga masjid bisa menjadi pusat dakwah dan pusat perjuangan Islam," tandasnya.

Hari Santri 2019

Selain itu, kata dia, kegiatan pelatihan ini merupakan program PCNU Subang yang dilaksanakan berdasarkan pembagian zona, untuk Subang Utara diikuti oleh perwakilan dari 12 MWCNU, Subang Tengah akan diikuti 10 MWCNU dan Subang Selatan 8 MWCNU. (Aiz luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Fragmen, AlaSantri Hari Santri 2019

Senin, 12 Februari 2018

LPBI NU DKI Jakarta Tanam Ribuan Bibit Sukun dan Bersih-bersih Laut

Jakarta, Hari Santri 2019 - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PWNU DKI Jakarta mengadakan aksi tanam ribuan bibit sukun dan operasi bersih laut (Tari Bisu Sibelut) di Pulau Tidung Kepulauan Seribu DKI Jakarta, Jumat-Ahad (23-25/9). Mereka bersama masyarakat setempat turun langsung membersihkan sampah di sekitar pesisir pantai.

Aksi Tari Bisu Sibelut ini diluncurkan Sekda DKI Jakarta H Saefullah.

LPBI NU DKI Jakarta Tanam Ribuan Bibit Sukun dan Bersih-bersih Laut (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU DKI Jakarta Tanam Ribuan Bibit Sukun dan Bersih-bersih Laut (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU DKI Jakarta Tanam Ribuan Bibit Sukun dan Bersih-bersih Laut

Ia mengapriasiasi gerakan LPBI NU DKI Jakarta yang peduli pada penanggulangan bencana dan pengelolaan lingkungan hidup. Ia mengajak para dinas dan SKPD terkait untuk dapat bersinergi dengan program-program LPBI NU untuk kemaslahatan rakyat di Jakarta.

Sementara Ketua Panitia Aksi Tari Bisu Sibelut H Zein mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan program berkelanjutan LPBI NU DKI Jakarta sehingga lembaga ini bersama semua elemen bangsa turut aktif dalam program berkelanjutan tersebut.

Hari Santri 2019

“Semoga dengan adanya gerakan dan aksi nyata ini, masyarakat dan seluruh elemen bangsa bisa lebih peduli terhadap lingkungan hidup dan kebersihan laut. Karena permasalahan lingkungan dan sampah menjadi tanggung jawab kita bersama,” kata H Zein.

Hari Santri 2019

Menurutnya, jika kesadaran tersebut sudah timbul, maka semuanya akan menikmati indahnya Indonesia di masa mendatang.

Sebagaimana diketahui bahwa Jakarta termasuk kota ketiga di dunia setelah Mexico City dan Bangkok dengan kualitas tingkat pencemaran yang cukup tinggi baik dari sisi pencemaran udara, air, dan juga tanah.

Bahaya genangan air dan banjir akibat luapan air sungai dan hujan serta suhu kota memperburuk kondisi lingkungan. Karenanya perbaikan lingkungan harus diprogram dengan baik dan efektif untuk meminimalisasi dampak buruk yang telah dan akan terjadi. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen Hari Santri 2019

Selasa, 16 Januari 2018

Menyikapi Harta secara Tepat

Khotbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah,

Menyikapi Harta secara Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyikapi Harta secara Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyikapi Harta secara Tepat

Sebagian orang beranggapan bahwa tasawuf yang menganjurkan seseorang untuk bersikap zuhud sebagai sumber dari kemunduran Islam, terutama secara ekonomi. Tudingan ini tak hanya keluar dari orang-orang di luar Islam tapi juga para pemikir terpandang muslim masa kini. Zuhud dimaknai sebagai sikap menjauh dari dunia, terasing dari keramaian, terbelakang, dan tak selaras dengan gaya hidup modern. Benarkah demikian?

Dalam Surat al-Qashash ayat 77, Allah subhânahu wata‘âlâ berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hari Santri 2019

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qashash: 77)

Ayat di atas dengan jelas menegaskan bahwa Islam memerintahkan seseorang untuk mencurahkan segala pikiran dan tenaga demi kesuksesan kehidupan akhirat. Namun di sisi lain juga melarang seseorang untuk mengabaikan sama sekali urusan dunia, termasuk mencari harta. Perhatian terhadap perkara dunia dan akhirat ini menunjukkan proporsionalitas Islam. Ia tak menekan pemeluknya hanya mempedulikan akhirat sehingga kehidupan duniawi mereka terpuruk, juga tak menganjurkan mereka melulu terfokus pada dunia yang fana sehingga kehilangan tujuan hakiki sebagai seorang hamba.

Penilaian bahwa zuhud adalah sumber kemiskinan dan keterbelakangan sesungguhnya terletak pada cara memaknai istilah zuhud itu sendiri. Zuhud dalam pengertian yang sebenarnya adalah bukan anjuran untuk lepas dari aktivitas duniawi karena zuhud memang berurusan dengan hati. Zuhud juga bukan berarti meninggalkan pekerjaan dan usaha mencari harta, karena zuhud lebih fokus pada bagaimana sikap batin kita terhadap harta.?

Hari Santri 2019

Dalam kitab Raudlatuz Zâhidîn disebutkan, suatu kali Rabi’ah ibn ‘Abdirrahman ditanya,?

? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ?

“Wahai Abu Utsman (panggilan lain dari Rabi’ah), apa pokok dari zuhud itu?” Beliau menjawab, “Menumpuk sesuatu dari tempatnya lalu meletakkannya di tempat seharusnya.”

Islam adalah agama fitrah. Artinya, segenap ketentuannya tak akan mengingkari sifat alami manusia. Islam memahami karakter dasar manusia yang membutuhkan harta, karenanya dihalalkan bagi mereka bekerja dan mencari harta. Islam tidak melarang seorang hamba untuk menjadi orang kaya asalkan diraih dengan cara benar. Rasulullah sendiri adalah saudagar yang sukses. Para sahabat di zaman beliau juga tak sedikit yang berlimpah harta. Dengan harta, umat Islam justru lebih mudah untuk bersedekah kepada saudaranya. Dengan kekayaan, umat Islam juga cenderung lebih gampang mengatasi permasalahan dunianya.

Kenyataan tersebut menjadi bukti bahwa mengumpulkan harta bukan perkara najis dalam Islam. Yang menjadi penekanan adalah, bagaimana harta itu disikapi? Di manakah kekayaan itu diletakkan, sebatas “di telapak tangan” atau sampai di lubuk hati?

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah,

Itulah yang dimaksud dengan ? ? ? ? ? ? ?. Silakan bekerja keras menumpuk harta sebanyak-banyaknya untuk tujuan yang halal, tapi mesti diingat bahwa hati bukan tempat semestinya bagi harta. Islam melarang hubbud dunya (mencintai dunia), dan mendorong manusia untuk memprioritaskan akhirat. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti jari salah seorang dari kalian yang dicelup di lautan, perhatikan seberapa banyak air yang menempel dijari.” (HR. Muslim)

Dengan demikian, zuhud tidak identik dengan menjauhi harta tapi menjauh dari rasa cinta terhadap kekayaan dunia (hubbud dunya). Dengan pengertian ini, zuhud tak berhubungan langsung dengan kaya atau miskinnya seseorang. Orang miskin bisa lebih zuhud dari orang kaya, tapi sebaliknya orang miskin juga bisa lebih serakah dari orang kaya. Tergantung mana yang lebih diperbudak oleh harta. Untuk cinta dunia, seseorang tak mesti menjadi kaya raya terlebih dahulu. Karena zuhud memang berurusan dengan hati, bukan secara langsung dengan alam bendawi.

Ciri orang yang tidak diperbudak oleh harta adalah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Tidak (terlalu) senang dengan sesuatu yang ada, juga tak (terlalu) sedih dengan sesuatu yang hilang. Tidak sibuk memburu dan bersenang-senang dengannya melebihi sesuatu yang lebih baik baginya di sisi Allah.”

Mengapa seseorang dilarang gandrung terhadap harta? Karena hakikat harta sesungguhnya adalah sarana (washîlah), bukan tujuan (ghâyah). Sebagai kendaraan ia hanya berhak mengantarkan, bukan masuk ke dalam. Mengantarkan ke mana? Kepada usaha mendekatkan diri kepada Allah, muara dari segala tujuan dan kebahagiaan.

Khotbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Alif Budi Luhur

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen, Sholawat, Pondok Pesantren Hari Santri 2019

Kamis, 11 Januari 2018

Fatayat NU Brebes Bentuk Badan Koperasi

Brebes, Hari Santri 2019. Pimpinan Cabang Fatayat NU Brebes mendirikan Baitul Mal wat Tamwil Syirkah Muawanah Fatayat Nahdlatul Ulama (BMT SM FNU). Kehadiran lembaga ini diharapkan menjawab tantangan ekonomi yang mendera sebagian warga NU di kabupaten Brebes.

“Fatayat NU senantiasa melakukan gerakan-gerakan ekonomi dengan mengembangkan sayap ekonomi, seperti BMT,” ujar Ketua Fatayat NU Brebes Mukminah usai peluncuran Koperasi Serba Usaha (KSU) BMT SM FNU di jalan raya Kluwut KM 03 Bulakamba, Brebes, Ahad (17/5).

Fatayat NU Brebes Bentuk Badan Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Brebes Bentuk Badan Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Brebes Bentuk Badan Koperasi

Pemberdayaan perempuan sebagai kader NU, menurutnya, berpotensi besar dalam pengaturan roda ekonomi keluarga. Kehadiran BMT menjadi jawaban kegelisahan perempuan Nahdliyin. Apalagi di daerah Kluwuat, mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan petani yang sangat memerlukan langkah penyejahteraan keluarganya.

Hari Santri 2019

“BMT SM berupaya meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan dan petani Brebes pada umumnya,” terang Mukminah.

Hari Santri 2019

Direktur BMT SM FNU Hj Eva Trisnawati menjelaskan, BMT didirikan dengan modal awal sebesar Rp 100 juta dari investasi sejumlah orang. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti yang juga Wakil Ketua Fatayat NU berinvestasi sebesar Rp 10 juta. Bahrudin Nasori Rp 25 juta. H A Rafiq Abdillah Rp 10 Juta. H Toridin (Pengusaha Tambak) Rp 25 juta. Selain mereka, ada 20 orang pengurus masing-masing berinvestasi Rp 1 juta serta nasabah lainnya sehingga genap Rp 100 juta.

“Modal awal Rp 100 juta ini mudah-mudahan menjadi titik awal keberkahan usaha kami,” kata Eva.

Untuk sementara, bidang usaha yang dijalani masih berkutat di simpan pinjam. Mudah-mudahan sepanjang perjalanan waktu akan dikembangkan berbagai usaha untuk membantu kesejahteraan bersama.

Hadir dalam peluncuran ini Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Brebes Sutejo, Ketua KSU Windu Kencana Brebes Komar, Kasi Simpan Pinjam Dinas Koperasi dan UMKM Sunoto, beserta pimpinan cabang NU, Fatayat, Muslimat, IPNU-IPPNU, Ketua anak cabang Fatayat NU sekabupaten Brebes, dan sejumlah undangan lainnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tegal, Fragmen Hari Santri 2019

Minggu, 31 Desember 2017

LKNU Sumenep Sumbang 50 Kantong Darah

Sumenep, Hari Santri 2019. Pagi itu Sekretariat PCNU Sumenep ramai. Satu persatu warga NU terus berdatangan memasuki gedung berwana hijau itu yang berlokasi di Jalan Tronojoyo 295, Gedungan, Sumenep.

LKNU Sumenep Sumbang 50 Kantong Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Sumenep Sumbang 50 Kantong Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Sumenep Sumbang 50 Kantong Darah

Warga yang datang tak hanya didominasi orang yang sudah berkepala empat. Membaur di tengah-tengah mereka anak remaja untuk mendonorkan darah. Salah seorang politisi yang datang membawa rombongan wartawan, membikin suasana lebih pencolok.

Pagi itu, Rabu 5 Desember 2012, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama Sumenep menggelar donor darah. Ini aksi donor darah yang keduasetelah bulan September. NU Tak pernah absen turut membantu kebutuhan masyarakat.

Hari Santri 2019

“Tujuannya tidak lain, untuk membantu menyuplai kebutuhan darah di Sumenep. LKNU tiap tahun melakukan kegiatan seperti ini” jelas Ketua LKNU Sumenep Hadariyadi.

Hari Santri 2019

Doroh darah di Sumenep sangat dibutuhkan dan mendesak, mengingat PMI Sumenep kekurangan stok darah untuk memenuhi kebutahan warga Sumenep. Permintaan darah saat ini mencapai 500 kantong.

“Bulan lalu kebutuhan darah mencapai 450 kantong. Sekarang meningkat drasitis, apalagi penderita demam berdarah meningkat,” kata Ketua Unit Tranfusi Darah PMI Sumenep, Moh. Soleh.

Saat ini, PMI hanya mengantongi beberapa kantong darah saja. Saleh membeberkan, stok darah yang ada hanya golongan A sebanyak (2), B (1), AB (1), dan golongan darah O (1).

Sekalipun tidak lantas bisa memenuhi kebutuhan darah secara keseluruhan, kegiatan tersebut dan kegiatan serupa yang dilakukan NU di Kecamatan Saronggi pada keesokan harinya, Kamis (7/12), setidaknya telah membantu menyuplai 50 kantong darah.

“Peserta yang hendak menyumbangkan darahnya sebenaarnya banyak. Yang hadir ke PCNU sekitar 70 orang dan yang di Saronggi sekitar 30 orang, tapi tidak semuanya bisa didonor karna tensi darahnya tidak normal,” jelasnya.

Kontributor: M. Kamil Akhyari

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen Hari Santri 2019

Jumat, 29 Desember 2017

NU Gelar Halaqah, Bahas Pemanasan Global

Jakarta, Hari Santri 2019

Nahdlatul Ulama (NU) tampaknya juga prihatin atas kondisi alam yang seakan semakin tidak bersahabat. Hal itu ditandai dengan terjadinya berbagai bencana alam, seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, kebakaran hutan, gelombang pasang tsunami, dan lain-lain. Tak hanya itu, korban yang diakibatkan pun tak sedikit.

Karena itu, organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu akan menggelar halaqah untuk membahas, salah satunya adalah fenomena pemanasan global (global warming) yang merupakan satu di antara bagian dari sebab terjadinya berbagai bencana alam.

NU Gelar Halaqah, Bahas Pemanasan Global (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Gelar Halaqah, Bahas Pemanasan Global (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Gelar Halaqah, Bahas Pemanasan Global

“Meningkatnya suhu permukaan bumi, di atas daratan, lautan atau kombinasi keduanya secara menyeluruh atau pemanasan global. Situasi ini ditandai dengan meningkatnya cuaca secara ekstrim seperti musim panas yang panjang dan pendeknya musim hujan,” terang Avianto Muhtadi, Project Manager Community Based Risk Disaster Risk Management(CBDRM) NU kepada wartawan di Jakarta, Selasa (17/7)

Kegiatan yang digagas CBDRM NU atau Tim Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat itu akan diselenggarakan di Hotel Gren Alia, Cikini, Jakarta, pada 23-25 Juli mendatang. Sejumlah pakar lingkungan hidup dan para ulama NU itu akan dilibatkan dalam pembahasannya.

Secara umum, kata Avianto, halaqah tersebut dilakukan untuk membuat konsep penanggulangan dan pengurangan risiko bencana alam ala NU. Pasalnya, ujarnya, selama ini penanggulangan bencana, apalagi di kalangan NU, lebih bersifat umum.

“CBDRM NU ingin mengembangkan konsep penanggulangan bencana berbasis masyarakat dalam perspektif NU. Nuansa NU dan Islam ingin ditonjolkan dalam upaya mencari bentuk khusus, sehingga berbeda dengan kelembagaan dan konsep bencana yang dilakukan organisasi lain,” terang Avianto.

Hari Santri 2019

Ia menambahkan, target khusus yang ingin dicapai melalui halaqah tersebut adalah terciptanya rumusan-rumusan tentang penanganan bencana dengan pendekatan Islam dan NU. Rumusan itu kemudian akan diwujudkan dalam sebuah buku panduan yang dapat dijadikan sandaran pengetahuan, pemahaman, dan konsep dasar operasional penanggulangan bencana yang akan dilakukan masyarakat NU.

Perspektif Islam dan NU, lanjutnya, adalah dengan menjadikan teks suci agama (nash) sebagai sandaran utama, sekaligus menjadi kekuatan tradisi NU dan khazanah lokal sebagai sandaran operasional. “Penanggulangan bencana dalam perspektif Islam dan NU, selama ini belum ada. Kalau pun ada hanya bersifat konsep dan belum operasional,” tandasnya. (rif)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen, AlaNu, Tegal Hari Santri 2019

Selasa, 26 Desember 2017

Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi

Surabaya, Hari Santri 2019. Hampir dapat dipastikan pada akhir bulan September, selalu ramai dibicarakan peritiwa pemberontakan Gerakan 30 September/PKI. Berbagai kalangan mengingatkan bahaya bangkitnya kembali PKI, dan pada saat yang sama mengemukakan sebaliknya. Lantas apa yang bisa dilakukan warga NU?

Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi

Bagi Muhammad Al-Fayyadl, kalangan NU (khususnya yang lahir belakangan, red) serta warga bangsa untuk segera melakukan rekonsiliasi horisontal. "Dengan demikian ketegangan yang pernah terjadi dapat segera diurai serta menemukan titik temu," katanya, Ahad (1/10).

Dan media yang dapat dijadikan sarana untuk rekonsiliasi tersebut adalah shalawat. "Karena shalawat adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari warga NU," ungkap alumni magister di Universite Paris 8 pada jurusan Filsafat dan Kritik Kontemporer Kebudayaan tersebut.

Mencari solusi dengan shalawat rekonsiliasi baginya bisa menjadi salah satu jalan tengah. "Akan baik kalau ada bacaan atau amalan shalawat yang mengarah kepada rekonsiliasi," terang alumnus Pondok Pesantren An-Nuqayah, Guluk-guluk Sumenep tersebut.

Hari Santri 2019

Pria yang kini tinggal di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo ini tidak menampik kalau peristiwa berdarah G30S PKI terus menjadi perdebatan. "Lantaran selama ini, peristiwa tersebut ditutup-tutupi," katanya. 

Bagaimana mungkin kekuasaan Soeharto dengan Orde Barunya telah mendesain sedemikian rupa kejadian tersebut sehingga yang mengemuka hanya versi pemerintah. 

Hari Santri 2019

"Sehingga kalau sebagian masyarakat mempersoalkan dan ujungnya menjadi pro dan kontra seperti selama ini, hal tersebut adalah hal yang wajar," ungkapnya.

Bagi Al-Fayyadl, kejadian ini memberikan banyak pelajaran kepada bangsa. "Anak bangsa harus bisa memilih dan mempelajari fase hubungan antar golongan yang pada akhirnya untuk bersama mendiskusikan perjalanan yang terjadi," katanya. 

Mereka yang terlibat dalam sebuah peristiwa masa lalu, lanjutnya, dapat bertemu untuk mendiskusikan peristiwa yang pernah terjadi secara lebih terbuka.

Di ujung penjelasannya, Al-Fayyadl mengajak kalangan terpelajar di NU untuk banyak menulis buku sejarah. Ini untuk melengkapi buku dan catatan yang sudah ada. "Yang diwariskan jangan semata sejarah lisan," sergahnya. 

Manfaat dari menulis buku adalah agar semakin banyak sudut pandang yang bisa dijadikan rujukan dalam menilai sebuah peristiwa. "Dengan demikian akan semakin banyak misteri yang bisa diungkap," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ulama, Fragmen, Ahlussunnah Hari Santri 2019

Minggu, 24 Desember 2017

Komandan Banser Waykanan Berikan Cuma-cuma Seragam Kepada 20 Anggota

Waykanan, Hari Santri 2019. Sebanyak 20 anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Waykanan mendapat bantuan seragam resmi sesuai peraturan organisasi. Mereka menerimanya sebagai penghargaan atas dedikasi dan loyalitas mereka.

"Pemberian tersebut sebagai apresiasi terhadap anggota yang mempunyai ghirah dan loyalitas terhadap organisasi GP Ansor," ujar Kepala Satkorcab Banser Waykanan Alex Almukmin di Blambangan Umpu, Sabtu, (17/10).

Komandan Banser Waykanan Berikan Cuma-cuma Seragam Kepada 20 Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)
Komandan Banser Waykanan Berikan Cuma-cuma Seragam Kepada 20 Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)

Komandan Banser Waykanan Berikan Cuma-cuma Seragam Kepada 20 Anggota

Disinggung sumber dana pembelian seragam itu, Alex menyatakan berasal dari pribadi dan bebas dari kepentingan politik.

Hari Santri 2019

"Ansor bukan organisasi tempat mencari uang dengan pengatasnamaan apalagi menjelang pemilihan kepala daerah seperti di Waykanan. Bagi seorang organisatoris, sebagaimana ditegaskan Ketua GP Ansor Waykanan sahabat Gatot Arifianto, bagaimana kita bisa berkhidmat pada organisasi adalah hal memuaskan, terlebih Ansor adalah organisasi yang mengajak kebaikan," tegasnya.

Alex menambahkan, tidak ada pilih kasih bagi anggota yang mendapat bantuan seragam di institusi Benteng Ulama ini. Hanya saja, ujar warga Kampung Negara Harja kecamatan Pakuan Ratu itu melanjutkan, mereka yang diberi seragam ialah anggota yang rajin mengikuti kegiatan Ansor seperti pengajian, pengamanan lebaran, dan lain sebagainya sebagaimana instruksi dan harapan pimpinan cabang, anak cabang, dan ranting.

Hari Santri 2019

Untuk diketahui, harga standar seragam Banser terdiri dari pakaian, seragam, logo hingga nama kisaran Rp. 250 ribu.

"Ini sebagai pembuktian jika saya secara pribadi merasa memiliki organisasi Pemuda Nahdlatul Ulama ini. Bukan hanya memiliki sebatas mulut," pungkas Alex. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen Hari Santri 2019

Rabu, 20 Desember 2017

PCNU Solo Kupas Paham Aswaja bersama Idrus Ramli

Solo, Hari Santri 2019. Ribuan jamaah memadati ruangan Masjid Al-Wustho Mangkunegaran Surakarta, Sabtu (28/11) malam. Mereka menghadiri acara bertajuk “Kupas Tuntas Aswaja” yang diselenggarakan PCNU Solo bekerja sama dengan Ta’mir Masjid Assegaf Solo.

Ketua pelaksana kegiatan Sofwan Faisal Sifyan menjelaskan, acara ini bertujuan untuk mengupas tuntas tentang ajaran Aswaja. “Kami akan saling berdialog mengenai bagaimana sesungguhnya paham yang dikenal dengan sebutan Sunni,” terang pengurus PCNU Sukoharjo itu.

PCNU Solo Kupas Paham Aswaja bersama Idrus Ramli (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Solo Kupas Paham Aswaja bersama Idrus Ramli (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Solo Kupas Paham Aswaja bersama Idrus Ramli

Dalam kesempatan tersebut, sebelum diadakan sesi dialog, para jamaah yang hadir mendengarkan penjelasan dua narasumber Ustadz H M Idrus Ramli dari pesantren Sidogiri dan Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi.

Hari Santri 2019

Keduanya sama-sama menjelaskan pentingnya sanad dalam mata rantai ilmu agama. “Kalau bukan karena sanad, orang akan berkata seenaknya. Sanad ini harus bersambung dari seorang guru kepada gurunya terus hingga kepada Nabi Muhammad saw,” papar Habib Alwi.

Hari Santri 2019

Sedangkan Ustadz Idrus menegaskan pentingnya keberadaan seorang guru dalam mempelajari ilmu agama. “Dalam soal ilmu agama, harus mempunyai guru serta wajib bermazhab. Sanad guru inilah yang menjadi salah satu ciri dari ajaran Aswaja,” terangnya.

Di akhir acara, dalam sesi dialog para jamaah dipersilakan untuk bertanya mengenai persoalan Aswaja. Ketua PCNU Solo A Helmy Sakdillah berharap penyelenggaran acara ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat untuk lebih mengenal ajaran Aswaja. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen, Tokoh, Kajian Hari Santri 2019

Selasa, 12 Desember 2017

Shinta Nuriyah Ulang Tahun

Jakarta, Hari Santri 2019. Mantan Ibu Negara Nyai Hj. Shinta Nuriyah hari ini, Sabtu (9/3) merayakan hari ulang tahun yang ke-65. Dalam acara ulang tahun ini beberapa acara digelar di Pesantren untuk Pemberdayaan Perempuan atau Puan Amal Hayati, seperti Atraksi Egrang dan perkusi, pengobatan gratis dan pembagian sembako untuk masyarakat sekitar.

Puan Amal Hayati menggandeng Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) untuk memberikan layanan pemeriksaan dan pengobatan gratis kepada Masyarakat. Sementara atraksi egrang dan perkusi ditampilkan oleh komunitas Tanoker dari Jember Jawa Timur.

Shinta Nuriyah Ulang Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Shinta Nuriyah Ulang Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Shinta Nuriyah Ulang Tahun

Kepada masyarakat yang hadir, Shinta Nuriyah menyampaikan terima kasihnya dan meminta doakan agar keberkahan dan manfaat dapat dilimpahkan Allah khususnya kepada bangsa Indonesia. Shinta berharap perjalanan bangsa Indonesia ke depan dapat lebih baik dan lebih bermartabat.

Hari Santri 2019

"Saya berterima kasih kepada Allah SWT atas nikmat yang dikaruniakan, khususnya kepada saya pribadi. semoga Allah juga senantiasa memberkati kita semua dan seluruh bangsa Indonesia," tutur Shinta yang lahir pada tanggal 8 Maret 1948 di Jombang ini.

Hari Santri 2019

Sementara itu, koordinator Pelayanan Masyarakat LKNU dr. Makky menyatakan kegiatan ini dilaksanakan oleh LKNU dalam rangka pengabdian masyarakat. Pengobatan gratis seperti ini juga sering dilakukan LKNU di berbagai tempat.

"LKNU sebagai bagian tak terpisahkan dari NU berusaha terus mengabdi untuk bangsa, khususnya warga NU. Kami berharap pengabdian kami, sesedikit apa pun dapat bermanfaat dan terus berlanjut demi tegaknya bangsa yang lebih baik," tutur Makky.

Acara yang digelar dari pagi hingga sore hari ini diikuti oleh saratusan warga sekitar Ciganjur dan kolega Shinta Nuriyah dari dalam dan luar negeri.

Penulis : Syaifullah Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Daerah, Lomba, Fragmen Hari Santri 2019

Sabtu, 09 Desember 2017

PBNU Instruksikan Konsolidasi Internal Kepengurusan

Samarinda, Hari Santri 2019. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj didampingi beberapa pengurus harian selama dua hari kemarin, 13-14 April 2012, menghadiri rapat koordinasi dari empat lembaga di dua tempat yang berbeda.

PBNU Instruksikan Konsolidasi Internal Kepengurusan (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Instruksikan Konsolidasi Internal Kepengurusan (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Instruksikan Konsolidasi Internal Kepengurusan

Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU), Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU), dan Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LBHNU) di Samarinda, Kalimantan Timur. Sementara Rakornas Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) digelar di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, JawaTimur.

Saat memberikan arahan pada pembukaan Rakornas di Samarinda, Jum’at (13/4), Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengamanatkan agar para pengurus NU se-Indonesia melakukan konsolidasi internal kepengurusan.

Hari Santri 2019

“Saya rekomendasikan agar semua jajaran pengurus, baik tingkat ranting (PR), MWC, PC, dan PW melakukan konsolidasi. Data nama-nama pengurus, mohon kirim ke PBNU. Ini tahap awal membenahi administrasi kepengurusan NU se-Indonesia,” harap Kiai Said.

Hari Santri 2019

“Kita harus tetap optimis bahwa NU akan selalu maju hingga akhir masa,” tandasnya yang direspon positif oleh hadirin. Tepuk tangan pun menggema, menambah semaraknya acara NU di Hotel ternama di Kalimantan Timur.

Sementara Ketua PBNU Saifullah Yusuf saat membuka Rakornas LKNU di Jombang, Jum’at (13/4), memimta Rakornas LKNU merumuskan tata pengelolaan lembaga kesehatan di bawah naungan NU agar lebih baik. Diharapkan NU dapat memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik untuk warganya, dan juga untuk masyarakat umum.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Hairul Anam, Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen, Kajian Hari Santri 2019

Rabu, 06 Desember 2017

Gus Ipul Berikan Penjelasan Terkait Meroketnya Harga Cabai

Sidoarjo, Hari Santri 2019. Harga cabai terutama cabai rawit masih dikeluhkan masyarakat, karena hingga saat ini masih mahal, jauh dari harga normal. Seperti di Kabupaten Sidoarjo harga cabai rawit rata-rata masih mencapai 130 ribu rupiah per kilogramnya.

Gus Ipul Berikan Penjelasan Terkait Meroketnya Harga Cabai (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ipul Berikan Penjelasan Terkait Meroketnya Harga Cabai (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ipul Berikan Penjelasan Terkait Meroketnya Harga Cabai

Menyikapi hal itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur bersama Badan Usaha Logistik (Bulog) divisi regional Jawa Timur, sudah melakukan operasi pasar cabai murah di sejumlah kota dan kabupaten sejak pekan lalu.?

Namun, operasi pasar ini belum mampu menekan kenaikan harga cabai yang saat ini masih menembus angka 130 ribu rupiah per kilo.

"Sementara ini kami berharap masyarakat bisa menggunakan cabai yang ditanam sendiri atau yang olahan itu. Karena memang cuaca dan pasokannya kurang. Kita sudah berusaha mendatangkan pasokan dari provinsi lain, tapi memang sangat berkurang," kata Wakil Gubernur Jawa Timur, H Saifullah Yusuf disela-sela acara dzikir akbar di Masjid Agung Sidoarjo, Ahad (12/2).?

Operasi pasar tidak bisa menekan harga karena jumlah cabai yang dijual, tidak sebanding dengan kebutuhan cabai masyarakat. Pemprov dan Bulog Jatim juga kesulitan mendapatkan, stok cabai dari para petani dalam jumlah besar.

Hari Santri 2019

Wakil Gubernur Jawa Timur, H Saifullah Yusuf berharap, akan ada panen cabai dari sentra produksi pada bulan Januari ini. "Stoknya yang belum ada, harapan kami Januari dan Februari ini sudah ada panen 7 hektar atau 15 hektar, itu sangat menolong pasokan yang ada," tegas pria yang akrap disapa Gus Ipul itu.

Hari Santri 2019

Ketua PBNU itu juga menyayangkan pemerintah pusat yang tidak segera melakukan impor, pada saat stok cabai lokal anjlok drastis dan harganya meroket. Gus Ipul juga mengimbau ibu-ibu untuk berinisiatif mulai menanam cabai sendiri di rumah.

"Kelangkaan ini masih bisa diatasi, meskipun kenaikannya disamping memberatkan masyarakat dan mempunyai pengaruh inflasi. Kita lagi usaha terus, kita sebenarnya mencukupi, di beberapa tempat ada yang masih 120 ribu, 130 ribu, tapi intinya kita melakukan operasi pasar dan dan memperbanyak stok, membangun kesadaran masyarakat," pungkasnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Pendidikan, Fragmen Hari Santri 2019

Selasa, 28 November 2017

Mahasiswa Harvard Percaya, Amerika Penyebab Munculnya ISIS

Cambridge, Hari Santri 2019. Mahasiswa di Universitas Harvard menempatkan Amerika sebagai ancaman yang lebih besar bagi perdamaian dunia daripada kelompok militan ISIS. Mereka menyatakan tindakan AS di Timur Tengah merupakan faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan kelompok tersebut.?

Mahasiswa Harvard Percaya, Amerika Penyebab Munculnya ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Harvard Percaya, Amerika Penyebab Munculnya ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Harvard Percaya, Amerika Penyebab Munculnya ISIS

"Imperialisme Amerika dan perlindungan kepentingan minyak kita di Timur Tengah yang mendestabilisasi wilayah tersebut dan memungkinkan kelompok-kelompok seperti ISIS mendapatkan kekuasaan," kata salah satu mahasiswa kepada Harvard’s Campus Reform

Tanggapan siswa tersebut adalah jawaban dari pertanyaan pada mahasiswa yang belajar di kampus elit yang masuk Ivy League, tentang siapa ancaman yang lebih besar bagi perdamaian dunia: AS atau ISIS.?

Hari Santri 2019

Para mahasiswa percaya bahwa Amerika, bukan ISIS, yang menjadi ancaman terbesar bagi perdamaian dunia.?

Hari Santri 2019

Para mahasiswa diwawancarai oleh Campus Reform ? pada hari Sabtu, dan video telah diposting pada hari Selasa, 7 Oktober.?

Sebagian besar jawaban mengatakan bahwa ISIS tidak akan eksis jika tidak ada tindakan masa lalu AS di Timur Tengah.?

"Sebagai peradaban Barat kita harus disalahkan atas masalah yang kita hadapi sekarang," kata salah seorang mahasiswa.?

"Saya tidak berpikir ada orang yang berpendapat bahwa kita tidak menciptakan masalah ISIS."?

"Kami, pada tingkat tertentu, penyebabnya," kata siswa lain. (onislam.net/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen Hari Santri 2019

Kamis, 23 November 2017

Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras

Seandainya pemuda ini berhenti belajar, yaitu dalam pengertian menerima begitu saja terhadap doktrin dan pemahaman Islam yang diajarkan para ustadznya di sebuah lembaga pendidikan Islam yang bercorak garis keras tempatnya dahulu menimba ilmu, dan tanpa mencari perbandingan pemahaman dari sumber yang lain, besar kemungkinan saat ini dia menjadi sosok ekstremis yang sinis pada dasar negara Pancasila dan bentuk NKRI serta tetap meyakini bahwa pengertian jihad dalam Al-Quran adalah melulu berarti perang fisik melawan non-Muslim.

Orang itu sebutlah Yanto (bukan nama sebenarnya). Lelaki asal Lamongan Jawa Timur ini pernah selama empat tahun dididik dan belajar di suatu lembaga pendidikan yang terletak di salah satu daerah di Salatiga, Jawa Tengah, yang berpaham tidak kompromis dengan tradisi lokal. Walau di lembaga pendidikan yang semula berbasis di Solo tersebut dia tempuh sampai lulus bahkan sempat menjalankan masa pengabdian selama kurang lebih satu tahun tapi kini pemikiran, sikap dan perilaku Yanto tidak ekstrem sebagaimana umumnya kelompok garis keras aliran Islam tertentu.

Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengakuan Mantan Pelajar Islam Garis Keras

Padahal selama Yanto belajar di instansi pendidikan tersebut ia tidak lepas pula mendapatkan doktrin yang kontra dengan Pancasila bahkan Pancasila itu dianggap bagian dari taghut. Begitu pula pengertian tentang jihad yang ditekankan oleh guru-gurunya adalah berarti qitaal atau perang fisik, tanpa memberi alternatif tafsiran lain beserta konteks-konteks lapangan jihad yang lebar.

Tapi beruntung Yanto termasuk pelajar yang memiliki kebiasaan bertafakkur atau berefleksi pada waktu-waktu tertentu. Sehingga ada beberapa hal yang ia dapatkan di lembaga itu dirasanya janggal, terutama interpertasi makna jihad yang ekstrem. Dia pun coba membuka refrensi lain di luar yang diajarkan di lembaganya. Salah satunya ia membuka Tafsir Al-Azhar karangan Buya Hamka. Ternyata di kepustakaan yang ia telaah didapatinya bahwa arti jihad tidak sesempit yang diajarakan ustadznya. Ia memperoleh tafsiran jihad lebih luas.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Pada suatu hari sekitar tahun 2001 untuk lebih memantapkan keyakinannya, Yanto berinisiatif menemui kiai di luar madrasahnya yang sudah dikenal kealimannya. Akhirnya dia dengan mengajak salah satu temannya memutuskan sowan kepada KH. Maimun Zubair? Rembang untuk mengutarakan kebingungannya. Salah satu nasihat taktis yang sampai saat ini? tetap membekas di hati Yanto dari ucapan Mbah Maimun saat dia sowan adalah kalimat:? ? ? ?

"Islam dan kafir itu sama-sama Allah yang menciptakan. Kalau di dunia tidak ada yang kafir buat apa Allah menciptakan neraka segala, kok tidak cuma surga saja? Coba kenapa pula Allah menciptakan babi padahal babi diharamkan?"

Jawaban filosofis Mbah Maimun Zubair itu begitu mengena di benak Yanto dan makin menyadarkan akan kesalahan pemahaman term “jihad" yang selama ini ia peroleh dari ustadznya. Pun Yanto menjadi sadar jika ajarannya yang dahulu diserap tidak relevan diterapkan dalam kehidupam masyarakat yang plural seperti Indonesia ini.? ? ? ?

Usai sowan mencari perbandingan pemahaman jihad dari pada Mbah Maimun, Yanto tiap kali ada acara halaqoh atau diskusi kelompok di kelasnya sering berseberangan pendapat dengan kebanyakan kawan-kawannya yang umumnya tetap bersiskukuh pada anti Pancasila dan pro jihad perang. Meski Yanto tidak dikucilkan, tapi sejak dia sering berseberangan pendapat kemudian ia dianggap melakukan bughat.

Ketika Yanto? sudah dianggap bughat dalam komunitasnya, teman-temannya itu tidak menyerah untuk terus mempengaruhi Yanto agar kembali seideologi lagi sebagaimana semula. Bahkan kendati sudah pulang di rumah, lewat berbagai cara kawan-kawannya selalu berusaha mengajak supaya kembali berhalun "Islam ala Arab".

Pernah ia memutuskan kontak dengan teman-tema lamanya tersebut, ternyata ada saja orang baru dan nama asing yang mencoba menghubunginya, yang ujung-ujungnya mengajak berpaham Islam garis keras tersebut. Bahkan Ketika dia menikah dan ada salah satu kawan lamanya yang seangkatan dulu mengetahui dirinya akan menikah, ternyata temannya tersebut datang dan memberi kado. Isi kado itu tak lain adalah buku-buku dan majalah yang topik-topik isinya termasuk propaganda atau penyebaran semacam gerakan transnasional. Begitulah mereka memakai seribu satu modus demi menarik kembali anggota seideologinya yang sudah dicap melakukan bughat. (M. Haromain)

Ditulis berdasarkan penuturan informan yang bertemu penulis beberapa bulan lalu saat Lebaran.



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri, Fragmen, Tokoh Hari Santri 2019

Kamis, 09 November 2017

Logo NU di Pesantren Siluman

Subang, Hari Santri 2019

Dalam mitologi Indonesia, Siluman identik dengan makhluk halus yang menakutkan. Siluman dalam berbagai cerita rakyat adalah makhluk halus yang tinggal dalam komunitas dan menempati suatu tempat. Namun di Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, nama Siluman dijadikan sebuah desa. Uniknya, desa yang terkesan “menakutkan” ini justru pernah mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai desa yang sadar hukum. Selebihnya, kesan “mistik”  yang melekat dari namanya itu redup sejak bangunan pesantren Nurul Hidayah berdiri.

Lokasi Pesantren Nurul Hidayah sekitar 5 KM dari Ibukota Kecamatan Pabuaran, jika ditempuh dari pusat Kecamatan dengan menggunakan kendaraan membutuhkan waktu kira-kira 10-15 menit, namun diperlukan sedikit kesabaran karena ada beberapa ruas jalan yang mengalami kerusakan.

Logo NU di Pesantren Siluman (Sumber Gambar : Nu Online)
Logo NU di Pesantren Siluman (Sumber Gambar : Nu Online)

Logo NU di Pesantren Siluman

Setiba di lokasi pesantren, bangunan yang disuguhkan adalah aula dan masjid yang terlihat mulai lusuh dimakan usia. Maklum saja, pesantren itu terhitung sudah tua karena didirikan sejak tahun 1960 oleh KH Sayuti Maksudi yang lahir pada tahun 1923 dan wafat tahun 2013. Kiai Sayuti merupakan salah seorang murid KH Mustahdi Abbas Buntet Pesantren Cirebon.

Hari Santri 2019

KH Mustahdi Abbas sendiri bisa dikatakan berperan dalam pendirian pesantren Nurul Hidayah, karena pada saat Kiai Sayuti selesai mondok di Buntet pada tahun 1952, Kiai Mustahdi mendorong Kiai Sayuti untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam di kampungnya.

Selanjutnya, di samping kiri masjid dan di samping kanan aula, ada sebuah rumah keluarga peninggalan Kiai Sayuti, rumah tersebut berbentuk panggung, sebagaimana bangunan rumah tempo dulu pada umumnya.

Hari Santri 2019

Dari rumah panggung inilah gedung Pesantren Nurul Hidayah akan terlihat jelas. Lokasi bangunan pesantren ini ada tiga gedung yang membentuk leter U, masing-masing gedung menghadap selatan, utara dan barat.

Ada sebuah keunikan dalam gedung pesantren yang menghadap ke selatan, dikatakan unik karena di tembok bangunan yang berlantai dua itu terpampang jelas logo Nahdlatul Ulama (NU) berukuran besar dengan tinggi sekitar 2 meter dan lebar 5 meter.

Selain itu, di semua pintu kobong yang berjumlah 6 buah, hampir semuanya dipasang bendera NU, namun mungkin karena jumlah bendera NU tidak sebanding dengan jumlah kobong, ada juga satu kobong yang memasang bendera GP Ansor.

"Logo NU di tembok itu dibuat oleh Kang Agus, dulu pada tahun 2006, kebetulan dia ahli kaligrafi, dia yang mendesain di tembok, baru kemudian dikondisikan sama tukang bangunan, hampir satu minggu membuatnya," ungkap Kiai Mujahid, putra bungsu Kiai Sayuti di sela-sela kesibukannya menerima tamu, Kamis (5/5) sore.

Kang Jahid, sapaan akrabnya, mengungkapkan, pembuatan logo itu dalam rangka mahabbahnya (kecintaan) Kiai Sayuti terhadap NU, bahkan ia mengingatkan kepada anak-anaknya untuk berperan dalam mengurus NU.

"Semasa hidupnya, Apa (panggilan Kiai Sayuti) selalu berpesan kepada anak-anaknya, jaga NU! Jaga NU! karena Apa termasuk salah seorang pelopor NU di Subang," tambah Kang Jahid yang saat ini dipercaya jadi Ketua Yayasan Nurul Hidayah.

Tidak heran jika sekarang ini semua putranya aktif menjadi pengurus NU atau pengurus Banom di tingkat Kecamatan Pabuaran.

Saat ini, walaupun kondisi bangunan pesantren sudah ada beberapa kerusakan material, namun para penerus Kiai Sayuti tetap istiqomah mendidik para santri yang berjumlah lebih dari 100 orang yang terdiri dari santri mukim dan kalong. (Aiz Luthfi/Zunus)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen, Habib Hari Santri 2019

Selasa, 31 Oktober 2017

Shaf Belakang Shalat Jum’at

Oleh Isfandiari MD

"Wahai orang-orang yang beriman, apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Surah Al-Jumu’ah, ayat 9).

Ayat ini mengandung esensi kedisiplinan, selain bekerja berusaha, ibadah tak boleh ditinggalkan. Mereka yang bekerja, sempatkan waktu ke masjid, begitu juga para pelajar dan anak-anak.

Shaf Belakang Shalat Jum’at (Sumber Gambar : Nu Online)
Shaf Belakang Shalat Jum’at (Sumber Gambar : Nu Online)

Shaf Belakang Shalat Jum’at

Miris jika melihat ibadah Jum’at anak-anak, ABG, juga remaja tanggung. Ibadah Juma’at dijadikan ritual kosong semata. Sebagai meeting point bercengkaran sebentar di sela rutinitas sekolah. Tak heran jika moment itu dimanfaatkan sebagai ajang senda gurau dan membuat kebisingan yang tak berarti.

Hari Santri 2019

Coba Anda tur keliling beberapa masjid di sekitar rumah, perhatikan shaf (barisan) belakang yang kebanyakan didominasi anak-anak dan pelajar, dan perhatikan tingkah mereka. Ini sangat jauh dari esensi perintah dalam surat Al-Jumu’ah dalam Al-Qur’an.

Menunggu waktu shalat Jum’at, ceramah sama sekali tak digubris. Anak-anak berlarian kian ke mari, membuat gaduh. Malah ada yang main games menunggu waktu shalat. Telinga kita dipaksa bertempur antara kegaduhan seperti serangan ribuan tawon dan pengkhotbah yang dengan tekun dan takzim menyampaikan risalahnya.

Hari Santri 2019

Terus terang, perjuangan mencari ridha Allah sangat berat dalam situasi ini. Hati kecil kadang ingin berontak, serta merta berdiri dan berteriak agar kebisingan itu usai, tapi apakah itu jalan yang terbaik?

Idealnya, peran orang tua, guru di sekolahlah yang mampu meredam itu semua. Anak ibarat kertas putih yang bisa kita tulis sesuka hati. Lewat pendekatan ideal, mereka harusnya mampu menjadikan ritual Juma’t sebagai salah satu kewajiban mendisiplinkan diri dan ajang menempa diri juga melatih setiap pribadi untuk mampu memanfaatkan momen dan menempa disiplin sejak usia dini.

Kalau dihayati lebih dalam, polah tingkah demikian adalah gambaran situasi yang lebih besar lagi. Disiplin memanfaatkan momen sesuai hakikatnya adalah modal dasar melahirkan generasi tangguh negeri ini. Jika sebuah generasi tak mampu menkondisikan sebuah situasi sesuai peruntukkannya, kita bakal menjadi pesimis, apakah mereka mampu menggantikan generasi sekarang yang sebenarnya juga sudah dalam ambang yang mengkhawatirkan?

Kita paling bisa mengimbau kepada orang tua, guru pengajar di sekolah-sekolah. Tanamkan pada jiwa-jiwa yang masih ‘polos’ itu sebauh latihan dasar berdisiplin dan cerdik memanfaatkan momentum.

Bagaimana mereka bisa mengerti jika di rumah Allah, adab dan etika wajib dijaga. Bagaimana mamatut-matutkan diri dalam situasi sakral minimal dalam ritual mingguan shalat Jum’at.

Untuk anak-anak dibawah 10 tahun, mereka biasanya diajak orang tua masing-masing. Jika mereka menganggap penting ritual ini, mereka wajib memberikan doktrin yang kokoh akan pentingnya menjaga adab di masjid saat ustad berceramah. Paling miris melihat kebanyakan remaja tanggung yang seharusnya tahu betul posisi rumah Allah bagi umat Islam. Jika prilakunya masih ‘liar’ sepanjang ceramah apalagi menjelang shalat, kita harusnya sedih, bagaimana nasib bangsa ini di masa depan!

Isfandiari Mahbub Djunaidi, warga NU, pegiat club motor Outsider

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, Fragmen, Olahraga Hari Santri 2019

IPNU Pamekasan “Blusukan” ke MWCNU se-Kabupaten

Pamekasan, Hari Santri 2019. Beberapa hari terakhir ini, pengurus Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Kabupaten Pamekasan mengunjungi para pengurus Majelis Wakil Cabang Nahlatul Ulama (MWCNU) se-Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Mereka melakukan silaturahmi guna pemantapan semangat berorganisasi.

IPNU Pamekasan “Blusukan” ke MWCNU se-Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Pamekasan “Blusukan” ke MWCNU se-Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Pamekasan “Blusukan” ke MWCNU se-Kabupaten

Ketua PC IPNU Pamekasan Faisol Ansori, Sabtu (8/1), menegaskan, silaturahmi ke MWCNU tersebut dirasa penting karena bagaimanapun IPNU merupakan bagian dari organisasi NU. Di samping, hal itu juga sebagai wujud penghormatan kepada para senior dan sesepuh NU.

"Kami mendapat sambutan positif dari para pengurus dan kiai yang aktif di MWCNU. Kami diberi wejangan bagaimana berorganisasi yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah," terang mantan Ketua PAC IPNU Kadur, Pamekasan tersebut.

Hari Santri 2019

Pengurus MWCNU yang didatangi meliputi mereka yang aktif di Kecamatan Palengaan, Kecamatan Pagantenan, Kecamatan Proppo, dan lain sebagainya. Pasalnya, selain tujuan di atas, upaya tersebut dilakukan guna menyolidkan spirit mengabdi para pengurus PC IPNU Pamekasan.

"Alhamdulillah, silaturrahmi tersebut berlangsung lancar. Selanjutnya, nanti kami akan merapatkan barisan kembali berbekal ragam tausiyah dari para pengurus MWCNU yang tersebar di Pamekasan," tukasnya. (Hairul Anam/Mahbib)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen, Makam, Pesantren Hari Santri 2019

Minggu, 29 Oktober 2017

Rapimnas II LTMNU Regional Jatim Maksimalkan Peran Masjid

Malang, Hari Santri 2019. Ketua Pengurus Pusat Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama KH Abdul Manan A Ghani mendorong pengurus masjid NU untuk meningkatkan pelayanan publik. Pada Rapimas II Regional Jawa Timur, Kiai Manan menegaskan peran masjid yang memiliki banyak dimensi selain layanan peribadatan.

Rapimnas II LTMNU Regional Jatim Maksimalkan Peran Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Rapimnas II LTMNU Regional Jatim Maksimalkan Peran Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Rapimnas II LTMNU Regional Jatim Maksimalkan Peran Masjid

“Masjid yang ada di Indonesia ini 80% dibangun oleh warga NU, tugas kita merawat dan mengembangkan eksistensi masjid sebagai pusat perjuangan,” kata Kiai Manan pada pembukaan Rapimnas II LTMNU di Hotel Gajah Mada, Malang, Sabtu (20/9).

Selain itu, Kiai Manan juga mengingatkan warga NU untuk mempertahankan peribadatan cara Aswaja NU. “Jangan sampai masjid yang dibangun warga NU diisi dengan pengamalan ibadah cara Wahabi,” kata Kiai Manan di hadapan pengurus LTM PCNU seprovinsi Jawa Timur.

Hari Santri 2019

Sementara Mufidah Kholil yang diminta berbicara pada forum Rapimnas ini mengingatkan pentingnya posdaya di setiap masjid. Hadirnya posdaya membuka kesempatan bagi masjid untuk melakukan pemberdayaan keagamaan, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat sekitar masjid.

“Posdaya yang ada itu akan kami sinergikan dengan lembaga-lembaga terkait agar fungsi masjid tidak terkesan hanya untuk ibadah ritual saja, tapi memperluas layanan masjid demi membina kehidupan masyarakat yang maslahat dunia dan akhirat,” harap Mufidah Kholil. (Misbahus Salam/Alhafiz K)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen, Hadits Hari Santri 2019

Jumat, 27 Oktober 2017

Ketika Seorang Sahabat Menjadi Presiden

Menyaksikan seorang sahabat menjadi presiden, tentu memberikan perasaan tersendiri bagi pengasuh Pesantren Al-Qur’aniyy Solo, KH Abdul Karim.

Saat diwawancarai salah satu stasiun TV swasta, Senin (20/10), kiai yang akrab disapa Gus Karim itu menceritakan kisah mereka, ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) hendak mencalonkan diri menjadi menjadi presiden, beberapa bulan silam.

“Sesaat sebelum pengambilan nomor urut, Jokowi sempat bertanya melalui SMS kepada saya, tentang wiridan apa yang perlu dibaca,” kata Gus Karim yang pernah menjadi ketua tanfidziyah PCNU Kota Surakarta,.

Ketika Seorang Sahabat Menjadi Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Seorang Sahabat Menjadi Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Seorang Sahabat Menjadi Presiden

“Gus, apakah wiridannya itu perlu dibaca? Saya jawab, ya perlu dibaca wiridan itu,” kata Gus Karim tanpa menyebut wirid apa yang diijazahkannya ke Jokowi.

“Esoknya beliau kembali menghubungi saya , Gus saya dapat nomor dua. Saya jawab, ya itu, salah sendiri cuma tanya lewat SMS, tidak sowan langsung,” ujar Gus Karim menirukan pembicaraanya dengan Jokowi.

Pengasuh Majelis Dzikir dan Shoalwat Jamuro itu juga memiliki panggilan tersendiri kepada Jokowi. “Dari dulu saya memanggilnya dengan sebutan ‘Pak Wali’. Bahkan, ketika sudah menjadi Gubernur. Tapi ndak tahu kalau sudah jadi presiden sekarang,” katanya sembari terkekeh.

Kata Gus Karim, Jokowi itu punya tiga nama panggilan, “Pertama yoqowiyu, ini panggilan dari mereka yang terlalu mengidolakan. Adapula yang memanggilnya dengan biasa Jokowi, seperti saya. Lain lagi dengan yang tidak senang, memanggilnya dengan jo kui (jangan yang itu).”

Hari Santri 2019

Jokowi dan Jamuro

Pada kesempatan lain, Gus Karim juga pernah mengungkapkan, sosok Jokowi yang ikut membesarkan jamaah Sholawat di Solo bersama Jamaah Muji Rosul (Jamuro). Menurutnya, Jamuro tak lepas dari Jokowi.

“Saat Jokowi naik, mulai saat itulah Jamuro naik. Akhirnya kami pun meminta Jokowi untuk menjadi penasihat Jamuro.”

Gus Karim menceritakan “ledakan” jemaah Jamuro terjadi seusai mereka berkegiatan di Lodji Gandrung, Rumah Dinas Walikota Solo. “Sebelum Pak Jokowi ngunduh Jamuro di Lodji Gandrung jemaah sekitar 100- 200 orang setelah itu semakin banyak. Sekarang jemaah bisa mencapai 2.000-3.000 orang jika Jamuro mengadakan pengajian,” ucapnya. (Ajie Najmuddin/Anam)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam, Fragmen, Meme Islam Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock