Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Januari 2018

Refleksi Utuh Sesepuh dan Sejarawan NU

Judul Buku : NU dalam Perspektif Sejarah & Ajaran (Refleksi 65 tahun ikut NU)

Penulis : KH. Abdul Muchith Muzadi

Penerbit : Khalista Surabaya

Edisi : 2006

Refleksi Utuh Sesepuh dan Sejarawan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Refleksi Utuh Sesepuh dan Sejarawan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Refleksi Utuh Sesepuh dan Sejarawan NU

Tebal : 173 + x halaman

Peresensi : Rijal Mumazziq Z (Alumnus PP. Mabdaul Maarif Jember)



Hari Santri 2019

DALAM satu kesempatan (yang dinukil kembali dalam salah satu halaman buku ini), KH. Abdul Muchith Muzadi melontarkan parikena yang cukup mengundang senyum namun juga telak menyindir warga NU: “Justru karena besarnya jumlah anggota pengikut, maka NU tidak dapat bergerak maju dengan cepat.”

Itulah sekilas ungkapan khas Kiai Muchith dalam menyampaikan kritikannya, melalui humor cerdas namun telak menyindir obyek kritikan. Begitu pula saat Kiai sepuh ini menyampaikan gagasan-gagasannya, adakalanya dilontarkan dengan gaya parikena, melalui kiasan, maupun secara reflektif-konstruktif, baik melalui lisan maupun tulisan.

Hari Santri 2019

Model penyampaian ide Kiai Muchit seperti amsal di atas, dapat ditemui dalam buku “NU dalam Perspektif Sejarah & Ajaran; (refleksi 65 tahun Ikut NU)”, yang merefleksikan pengalaman kiai Muchith selama 65 tahun mengabdi NU. Salah seorang Mustasyar PBNU ini cukup sistemastis dalam mengolah dan menyajikan beberapa pokok pemikirannya.

Kakak kandung Ketua Umum PBNU ini membagi rangkaian tulisannya ke dalam dua bab; Memahami NU Lebih Utuh serta Sinergi Ajaran dan Pemahaman Agama. Sebagai “Sejarawan NU”, Mbah Muchith tampak begitu mahir dalam mengolah benak pembaca menerobos ruang dan waktu sejarah yang memayungi NU. Adapun sebagai “Sesepuh NU”, Mbah Muchith begitu semangat mengupas jatidiri dan esensi NU. Inilah yang menyebabkan buku ini layak dilahap dengan pikiran cerdas dalam memahami jeroan NU.

Selama 65 tahun bergabung NU, kiai asal Jember ini mengalami pahit-manisnya bersama NU sejak zaman penjajahan Belanda, Jepang, Revolusi fisik, Orde Baru hingga Reformasi. Sebuah pengalaman berharga yang banyak mempengaruhi pemikiran kiai kelahiran Tuban ini saat mengemukakan gagasannya. Sebagai salah satu tokoh NU yang dituakan, beliau terlihat cukup rancak dan luwes “menjaga gawang NU”, baik saat digoyang maupun saat NU dalam posisi mapan.

Pendidikan dan pengalaman berorganisasi kaum nahdliyyin masih sangat minim. Sebagai ormas terbesar di Indonesia alangkah eman-nya jika NU tidak mampu mempengaruhi corak dan arah pendidikan Indonesia. Organisasi yang secara kuantitatif menjadi mayoritas, namun belum mampu menjadi kekuatan dominan, secara kualitatif. Begitulah salah satu kritiknya.

Kritik yang dilontarkan Kiai Muchith, tentunya merupakan salah satu wujud kecintaan beliau pada NU. Sebab, sebagai ormas yang memiliki basis massa kuat, NU seharusnya malu jika kuantitasnya tidak diiringi dengan kualitas yang bagus. Atau saat Kiai Muchith mencermati proses kaderisasi di NU, beliau cukup prihatin. Mengapa sebagai ormas yang sudah menapak usia 80 tahun, NU masih amburadul, dari segi administrasi-organisasi. Lebih lanjut, beliau menyebut bahwa kebiasaan ber-paguyuban di kalangan pengurus NU, tidak berorganisasi secara tertib, disiplin dan profesional merupakan beberapa faktor penghambat keprofesionalan jamiyyah NU. Hingga kemudian kebiasaan ini mendarah daging di kalangan NU, salah satu sebabnya adalah “warga yang diurus” terlalu banyak, namun yang “mengurusi” terlalu minim.

Sebagai sesepuh, Kiai Muchith cukup apresiatif saat mengemukakan ide bahwa NU jam’iyyah (organisasi) dan NU jamaah (warga nahdliyyin) haruslah terjadi proses interaksi yang cukup berimbang. Sebab, keduanya adalah kekuatan riil NU. NU jam’iyyah tanpa NU jamaah adalah impossible. Namun, jamaah NU tanpa jamiyyah NU akan menjadi golongan manusia yang dapat diombang-ambingkan kelompok lain. Bagaimana kemudian mengatur dan mengawinkan kedua wajah NU tersebut, tentu membutuhkan semangat, tekad dan kerja keras dari seluruh warga NU.

Saat membahas butir khittah 1926, Kiai Muchith menyentil kelahiran PKB, yang kemudian memunculkan interpretasi baru atas khittah, terutama terkait dengan butir 8 alinea 6 naskah Khittah NU, yaitu “NU sebagai jamiyyah, secara organisatoris tidak terikat dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan yang manapun juga.” Nah, inilah yang kemudian menimbulkan kekhawatiran dan pro-kontra dari kalangan nahdliyyin sendiri. Apakah NU harus terseret ke politik praktis lagi? Bagaimana kedudukan PKB di tubuh NU? Apakah malah tidak merugikan gerak NU sendiri? Apakah tidak “menghianati” khittah 1926 itu sendiri? Semua jawaban dirangkai dengan bahasa cukup arif dan sederhana oleh Kiai Muchith dalam buku ini.Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Ulama, Aswaja Hari Santri 2019

Kamis, 25 Januari 2018

Gerakkan 4 Program, LAZISNU Kudus Siap Gandeng Semua Pihak

Kudus, Hari Santri 2019. Setelah terbentuk awal Maret 2014 lalu, Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Kudus terus melakukan penataan manajemen dan menentukan langkah terobosan program kerja. Oleh karenanya, LAZISNU Kudus siap membangun kemitraan strategis dengan semua pihak dalam berbagai bidang dakwah, terutama? pendidikan, pemberdayaan dan kepedulian umat.

Gerakkan 4 Program, LAZISNU Kudus Siap Gandeng Semua Pihak (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakkan 4 Program, LAZISNU Kudus Siap Gandeng Semua Pihak (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakkan 4 Program, LAZISNU Kudus Siap Gandeng Semua Pihak

Ketua LAZISNU Kudus Sya’roni Suyanto mengatakan, LAZISNU merupakan menjadi bagian dari solusi metode dakwah fiqih modern dalam rangka mencerdaskan dan memberdayakan umat dengan menggalang sumber pembiyaan, menyalurkan dan mendayagunakannya sesuai ketentuan syar’i dan undang-undang yang berlaku.

“LAZISNU Kudus mempunyai empat program unggulan yang siap direalisasikan, yakni NU Smart bergerak di bidang pendidikan, NU Skills (bidang ketrampilan), NU Preneur (bidang kewirausahaan), dan NU Care (bidang tanggap darurat/kepedulian),” ujarnya di sela-sela penyantunan anak yatim di Kantor NU Kudus, Kamis (24/7).

Hari Santri 2019

Untuk menopang program tersebut, imbuh Sya’roni, LAZISNU mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, infaq, dan shadaqah dari muzakki atau dermawan, termasuk dari perusahaan yang siap menjadi mitra kerja.

“Semua upaya yang kita lakukan ini berdasarkan surat keputusan PP LAZISNU Nomor 03/SK/PP/LAZISNU/X2013 dan surat keputusan Menteri Agama RI nomor 65 tahun 2005 tanggal 16 Februari 2006 tentang LAZISNU sebagai Lembga Amil Zakat,” terangnya.

?

Hari Santri 2019

Dalam mengoptimalkan kerjanya, pihaknya telah melengkapi kepengurusan dan pelaksana harian dengan menunjuk Edi Wicaksono Abdurrased sebagai direktur LAZISNU Kudus dan dibantu beberapa manajer fundrising, manajer program, manajer administrasi dan keuangan.

“Sebagai program awal, pada? bulan Ramadhan ini LAZISNU turut? menyalurkan santunan uang tunai yang dibagikan kepada 180 anak yatim,” imbuh Sya’roni. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ulama, Nusantara Hari Santri 2019

Sabtu, 20 Januari 2018

Kapolres Rembang: Nasionalisme Ulama Tidak Diragukan

Rembang, Hari Santri 2019. Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Rembang, Jawa Tengah AKBP Sugiarto memberikan apresiasi atas terselenggaranya acara Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara di Sarang Rembang.?

Kapolres Rembang: Nasionalisme Ulama Tidak Diragukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolres Rembang: Nasionalisme Ulama Tidak Diragukan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolres Rembang: Nasionalisme Ulama Tidak Diragukan

“Kita sangat apresiasi (acara silaturahim tersebut),” katanya.?

Menurutnya, peran ulama dalam menjaga dan mengawal republik ini tidak diragukan lagi. Ia mengakui, dalam merebut kemerdekaan Indonesia, peran ulama tidak bisa diremehkan. “Nasionalisme dengan ulama itu tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.

Di dalam mengamankan acara silaturahim tersebut, ia mengerahkan lima puluh dua personilnya. “Lima puluh dua,” jawabnya singkat.

Hari Santri 2019

Ia berharap, acara ini bisa meneguhkan kembali nasionalisme terhadap Indonesia karena akhir-akhir ini banyak kelompok yang secara terang-terangan anti Pancasila dan anti NKRI.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan, orang sudah terang-terangan menghina pemerintah dan anti Pancasila. “Mengkritik pemerintah boleh, kalau menghina nggak boleh dong. Kalau mengina harus kita lawan,” jelas Kiai Said.

Ia menilai, lambang negara kita seperti pemerintah, polisi, hakim dan lainnya tidak boleh dihina. “Tetapi kalau mereka salah harus kita kritik. Ada aturannya lah, ada akhlaknya” katanya.

“Kalau kita tidak mau menghormati presiden kita, terus kita mau percaya kepada pemerintah siapa,” paparnya.

Dalam acara silaturahim Alim Ulama Nusantara tersebut, hadir juga Bupati Rembang Moch. Salim. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)?

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ulama, Pendidikan Hari Santri 2019

Selasa, 16 Januari 2018

Mbah Wahab Layak Disebut Bapak Koperasi

Jombang, Hari Santri 2019. Tidak banyak yang mengungkap bahwa ulama besar pendiri NU KH Wahab Chasbullah telah menggelorakan gerakan koperasi jauh sebelum kemerdekaan. Sejarawan Anhar Gonggong bahkan mengusulkan KH Wahab Chasbullah layak mendapat gelar Bapak Koperasi.

Mbah Wahab Layak Disebut Bapak Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Wahab Layak Disebut Bapak Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Wahab Layak Disebut Bapak Koperasi

Dalam Sarasehan dan Launching Buku KH Wahab Chasbullah yang digelar di Aula Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Rabu (3/9), nara sumber lain Choirul Anam membeberkan, KH Wahab bersama KH Hasyim Asyari, pada 1918 sudah membentuk syirkah tijariah atau semacam kerjasama dagang bernama Nahdlatut Tujjar.

"Dalam waktu singkat, setelah berdirinya Nahdlatut Tujjar ini, tumbuh ratusan syirkah tijarian di berbagai kota, dengan nama Cooperatie Kaoem Moeslimin (CKM)," tegas Cak Anam, sejarawan NU dari Surabaya ini.

Hari Santri 2019

Adapun Syirkah tijariyah sitem  yang digunakan, lanjutnya adalah setiap anggota menginvestasikan modal 25- 50 golden.

“Seuntunganya setiap tahun dibagi fifty fifty. 50 persen pertama dibagi atas besarnya modal setor, 50 persen kedua dikembalkan untuk memperbesar modal," beber mantan ketua GP Ansor Jawa Timur ini menambahkan.

Hari Santri 2019

Dikatakan Cak Anam, panggilan akrab Choirul Anam, pendirian Nahdhatut Tujjar juga merupakan respon atas diskriminasi penjajah Belanda terhadap umat muslim dalam bidang ekonomi.  

"Ada sebanyak 45 anggota dari kalangan pedagang awalnya. Dari sinilah terbentuk puluhan bahkan ratusan koperasi kaum muslim," tandasnya seraya mengatakan koperasi itu menjual kebutuhan pokok sehari hari beras, gula dan lain lain.

Sejarawan Anhar Gonggong lantas mendorong pihak NU untuk melakukan penelitian lebih mendalam lagi, guna memperkuat landasan ilmiah, bahwa KH Wahab sudah menggelorakan koperasi jauh sebelum kemerdekaan. Jadi sangat layak KH Wahab Chasbullah mendapat gelar bapak koperasi.

"Dokumen yang dipegang Pak Anam otentik. Saya dorong NU melakukan penelitian dan kajian lebih jauh lagi. Kalau ada sumber yang secara ilmiah lebih punya otoritas ketimbang sebelumnya, bisa saja gelar bapak koperasi itu milik KH Wahab," tandas sejarawan berambut gondrong itu.   

Cak Anam menyampaikan, bahwa paparan yang disampaiakan terkait kepeloporan KH Wahab dalam koperasi, hanyalah untuk mengungkapkan fakta sejarah. Yakni, selain mantan proklamator Mohammad Hatta (yang bergelar Bapak Koperasi), masih ada KH Wahab yang juga tak kalah giat menggelorakan koperasi di tanah air.

"Soal mengusulkan bapak kopersi itu ya PBNU, yang jelas, fakta sejarah bangsa Indonesia tidak lepas dari pergerakan umat  dan tokoh tokoh islam seperti KH Wahab, Saya hanya meluruskan sejarah saja yang selama ini tidak terungkap karena ada kepentingan tertentu," ujarnya.

Dalam kesempatan itu juga diluncurkan buku bertajuk “Kaidah Berpolitik dan Bernegara”. Buku berisi kumpulan ceramah KH Wahab Chasbullah itu disunting oleh Wakil Sekjen PBNU H Abdul Mun’im DZ yang juga hadir dalam sarasehan itu. (Muslim Abdurrahman/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Ulama Hari Santri 2019

Sabtu, 13 Januari 2018

Sambut Tahun Baru Hijriyah, IPNU-IPPNU Purwakarta Berhijrah

Purwakarta, Hari Santri 2019. Momentum tahun baru 1437 H dimanfaatkan oleh para pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar NU dan Ikatan Pelajar Puteri NU (IPNU-IPPNU) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat untuk berhijrah.

Sambut Tahun Baru Hijriyah, IPNU-IPPNU Purwakarta Berhijrah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Tahun Baru Hijriyah, IPNU-IPPNU Purwakarta Berhijrah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Tahun Baru Hijriyah, IPNU-IPPNU Purwakarta Berhijrah

Menurut Ketua Pengurus Cabang IPNU Purwakarta, Adi Setiawan, berhijrah ini dilakukan untuk kemajuan intelektual dan kematangan kader IPNU Purwakarta sebagai generasi Nahdlatul Ulama di masa yang akan datang.

"Sebetulnya masih banyak kekurangan yang mesti kita benahi dengan seluruh jajaran pengurus Banom NU. Ini yang menyebabkan ada istilah Jamaah is OK Jamiyah is DoyOK, ? ini juga adalah tanggung jawab bersama untuk sama-sama membenahi organisasi ini," papar Adi usai mengikuti diskusi peringatan dan refleksi Tahun Baru 1437 H di Kantor PCNU Purwakarta, Selasa (13/10)

Hari Santri 2019

Diantara kekurangan tersebut, kata dia, tidak diajarkan doktrinisasi keaswajaan dan dalil-dalil tradisi amaliah Ke-NU-an secara luas ke basis akar rumput NU, tidak diajarkan cara merekrut dan merawat kader yang baik, kurang diperhatikannya cara berpakaian yang baik dan rapi dan juga perawatan kader atau alumni IPNU-IPPNU kurang begitu diperhatikan.

Untuk itu, kata dia, IPNU IPPNU Purwakarta mengambil keputusan untuk berhijrah dengan cara menguatkan pemahaman keaswajaan dan ke-NU-an dengan mendalam disertai dengan dalil dan logika yang jelas dalam berargumen.

Hari Santri 2019

"Kedua, berhijrah untuk penarikan dan perawatan kader IPNU dengan cara yang berkualitas dan berkuantitas," katanya

Ditambahkannya, ada hal yang menjadi PR berat bagi pengurus IPNU dan IPPNU ke depan, yaitu berjuang dengan Kerja keras dan Kerja Cerdas.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Saparudin, MM.Pd (Wakil Sekretaris PCNU Purwakarta), KH. Anwar Nasihin (Ketua GP Ansor Purwakarta), Nunung Nurjanah (Ketua PW IPPNU Jawa Barat) dan para aktifis PC IPNU-IPPNU Purwakarta.

Selain diskusi, dalam peringatan tahun baru 1 Muharam 1437 H ini, para pelajar NU bersama Keluarga Besar NU Purwakarta mengadakan berbagai kegiatan lain, yaitu Pawai Obor Pelajar, Istigotsah, doa bersama dan Shalat Tasbih. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ulama Hari Santri 2019

Minggu, 31 Desember 2017

RSI Siti Hajar Sidoarjo Raih Penghargaan SPKL Peringkat Pertama

Sidoarjo, Hari Santri 2019. Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo meraih penghargaan Status Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup (SPKL) peringkat pertama dari Bupati Sidoarjo, H Saiful Ilah, berdasarkan peraturan Bupati nomor 33 tahun 2015 dan periode penilaian SKPL 2016.

RSI Siti Hajar Sidoarjo Raih Penghargaan SPKL Peringkat Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
RSI Siti Hajar Sidoarjo Raih Penghargaan SPKL Peringkat Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

RSI Siti Hajar Sidoarjo Raih Penghargaan SPKL Peringkat Pertama

Penghargaan tersebut diberikan Bupati Sidoarjo, H Saiful Ilah, kepada Direktur RSI Siti Hajar Sidoarjo, dr Hidayatullah, pada malam resepsi Hari Jadi Sidoarjo ke-158 di alun-alun Sidoarjo, Rabu (1/2) malam.

"Jujur penghargaan ini agak menyentuh sisi emosional saya. Karena begitu sulit dan rumitnya dalam mengelola limbah. Kami pernah mengalami masa-masa sulit dalam mengelola limbah medik kami. Dan alhamdulillah, ada berkah di balik itu. Kami meraih award yang luar biasa ini, mengalahkan Rumah Sakit dan perusahaan-perusahaan besar lainnya," kata dr H Hidayatullah kepada Hari Santri 2019.

Dokter spesialis saraf itu mengapresiasi seluruh kinerja staf dan karyawan RSI Siti Hajar. Pasalnya, mengelola limbah medik itu tidak mudah dan sangat rumit. Meski begitu, alhasil RSI Siti Hajar Sidoarjo mendapatkan penghargaan perusahaan terbaik dalam mengelola limbah di Kabupaten Sidoarjo.

Hari Santri 2019

"Teman-teman saya di RSI Siti Hajar memang luar biasa. Award ini akan memacu kami lebih baik lagi. Dan ini sesuai dengan program kami menjadikan RSI Siti Hajar sebagai "Rumah Sehat" (bukan sekedar rumah sakit). Menjadi rumah bukan hanya buat orang sakit, tetapi juga menjadi rumah bagi orang sehat dan menjadi Rumah Sakit yang mendukung program kesehatan lingkungan hidup," ujar dr Dayat.

Sementara itu menurut Kepala ruangan penyehatan lingkungan RSI Siti Hajar Sidoarjo, Ning Ana Sumari, menyatakan bahwa, selama lima tahun mengikuti program Badan Lingkungan Hidup (BLH) tentang lingkungan hidup, baru tahun ini, RSI Siti Hajar Sidoarjo mendapatkan penghargaan.

Ia menjelaskan bahwa, yang menjadi kendala tidak masuk kategori taat selama mengikuti program BLH itu karena NH3 (Amoniak) sering tinggi sehingga tidak kena taat. Selain itu, ijin pengolahan limbah belum turun.

"Alhamdulillah, setelah kita mendapatkan ijin dari BLH dan mempunyai TPS akhirnya kita masuk kategori taat dan mendapatkan penghargaan ini. Perasaan saya lega karena sudah lima tahun mengikuti dan baru sekarang masuk kategori taat," ucapnya dengan nada gembira. (Moh Kholidun/Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 RMI NU, Ulama, News Hari Santri 2019

Selasa, 26 Desember 2017

Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi

Surabaya, Hari Santri 2019. Hampir dapat dipastikan pada akhir bulan September, selalu ramai dibicarakan peritiwa pemberontakan Gerakan 30 September/PKI. Berbagai kalangan mengingatkan bahaya bangkitnya kembali PKI, dan pada saat yang sama mengemukakan sebaliknya. Lantas apa yang bisa dilakukan warga NU?

Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Fayyadl: Hapus Trauma Sejarah dengan Shalawat Rekonsiliasi

Bagi Muhammad Al-Fayyadl, kalangan NU (khususnya yang lahir belakangan, red) serta warga bangsa untuk segera melakukan rekonsiliasi horisontal. "Dengan demikian ketegangan yang pernah terjadi dapat segera diurai serta menemukan titik temu," katanya, Ahad (1/10).

Dan media yang dapat dijadikan sarana untuk rekonsiliasi tersebut adalah shalawat. "Karena shalawat adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari warga NU," ungkap alumni magister di Universite Paris 8 pada jurusan Filsafat dan Kritik Kontemporer Kebudayaan tersebut.

Mencari solusi dengan shalawat rekonsiliasi baginya bisa menjadi salah satu jalan tengah. "Akan baik kalau ada bacaan atau amalan shalawat yang mengarah kepada rekonsiliasi," terang alumnus Pondok Pesantren An-Nuqayah, Guluk-guluk Sumenep tersebut.

Hari Santri 2019

Pria yang kini tinggal di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo ini tidak menampik kalau peristiwa berdarah G30S PKI terus menjadi perdebatan. "Lantaran selama ini, peristiwa tersebut ditutup-tutupi," katanya. 

Bagaimana mungkin kekuasaan Soeharto dengan Orde Barunya telah mendesain sedemikian rupa kejadian tersebut sehingga yang mengemuka hanya versi pemerintah. 

Hari Santri 2019

"Sehingga kalau sebagian masyarakat mempersoalkan dan ujungnya menjadi pro dan kontra seperti selama ini, hal tersebut adalah hal yang wajar," ungkapnya.

Bagi Al-Fayyadl, kejadian ini memberikan banyak pelajaran kepada bangsa. "Anak bangsa harus bisa memilih dan mempelajari fase hubungan antar golongan yang pada akhirnya untuk bersama mendiskusikan perjalanan yang terjadi," katanya. 

Mereka yang terlibat dalam sebuah peristiwa masa lalu, lanjutnya, dapat bertemu untuk mendiskusikan peristiwa yang pernah terjadi secara lebih terbuka.

Di ujung penjelasannya, Al-Fayyadl mengajak kalangan terpelajar di NU untuk banyak menulis buku sejarah. Ini untuk melengkapi buku dan catatan yang sudah ada. "Yang diwariskan jangan semata sejarah lisan," sergahnya. 

Manfaat dari menulis buku adalah agar semakin banyak sudut pandang yang bisa dijadikan rujukan dalam menilai sebuah peristiwa. "Dengan demikian akan semakin banyak misteri yang bisa diungkap," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ulama, Fragmen, Ahlussunnah Hari Santri 2019

Minggu, 24 Desember 2017

500 Guru NU Ikuti Sosialisasi Kurikulum 2013

Jepara, Hari Santri 2019. Sebanyak 500 guru Kelompok Kerja Madrasah Tsanawiyah (KKMTs) 02, kumpulan MTs yang bernanung di LP Maarif NU Jepara mengikuti Sosialisasi Kurikulum 2013 yang dilaksanakan di MTs Mathalibul Huda Mlonggo Jepara, Senin-Selasa (13-14/1).

Kegiatan yang diikuti perwakilan 57 MTs tersebut prosesi pembukaannya berlangsung di gedung MWCNU Mlonggo Senin (13/1). Kegiatan yang berlangsung 2 hari fokus 10 mata pelajaran. 5 mapel agama (al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, SKI, Fikih dan Bahasa Arab) dan 5 mapel umum MTK, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA dan IPS.

500 Guru NU Ikuti Sosialisasi Kurikulum 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
500 Guru NU Ikuti Sosialisasi Kurikulum 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

500 Guru NU Ikuti Sosialisasi Kurikulum 2013

Ketua KKMTs 02, Fatkhul Huda, yang diwakili A Taufiq, bidang pengembangan dan kurikulum KKMTs 02 mengatakan kegiatan bertujuan untuk membekali guru-guru menghadapi kurikulum 2013.

Hari Santri 2019

Selain itu, lanjutnya untuk memperdayakan guru Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) agar menjadi guru profesional. “Dalam sosialisasi ini peserta juga diberikan bimbingan teknik perangkat pembelajaran dan peer teaching sehingga mereka langsung bisa praktik pra pelaksanaan kurikulum 2013,” imbuhnya.? ?

Kegiatan sosialisasi tersebut difasilitasi guru inti MGMP yang sudah mengikuti kurikulum 2013. Kemudian mereka diberdayakan sebagai fasilitator. Adapun materi yang disampaikan kepada peserta diantaranya perubahan mindset sistem pengajaran, sistem penilaian, perangkat pembelajaran, regulasi manajemen pendidikan, pembekalan pengawas dan evaluasi pengajaran.

Hari Santri 2019

Taufiq menambahkan kurikulum 2013 lebih ditekankan pada pendidikan karakter. Semisal pendidikan kewarganegaraan (PKn) ditambah 3 JTM sebelumnya 2 JTM. Harapannya, siswa menjadi cerdas secara intelektual, spiritual dan sosial.

Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jepara, H Muhdi Zamru menyampaikan agar peserta lebih siap dalam menghadapi kurikulum 2013. Sebab kurikulum 2013 rencananya akan diberlakukan serentak tahun ajaran baru 2014/ 2015, Juli mendatang. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)? ? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ulama, AlaNu, Nahdlatul Hari Santri 2019

Selasa, 19 Desember 2017

Tentang Kontribusi Pendidikan Agama bagi Indonesia yang Majemuk

Jakarta, Hari Santri 2019. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Kamaruddin Amin berpendapat, pendidikan agama telah berkontribusi untuk menjadikan Indonesia seperti saat ini yakni negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan memiliki ekonomi yang stabil. Baginya, kalau tidak ada pendidikan agama yang moderat di lembaga pendidikan, Indonesia bisa menjadi negara dengan pemahaman keagamaan yang ekstrim.

“Secara inheren memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi negara ultra konservatif dengan jumlah muslim yang begitu besar. Bisa juga liberal,” katanya di Jakarta, Selasa (8/11).

Tentang Kontribusi Pendidikan Agama bagi Indonesia yang Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Tentang Kontribusi Pendidikan Agama bagi Indonesia yang Majemuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Tentang Kontribusi Pendidikan Agama bagi Indonesia yang Majemuk

Namun hal itu tidak terjadi karena pengajaran agama di Indonesia baik di sekolah, pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi berhasil menciptakan infrastruktur sosial yang sangat kuat dan mengajarkan paham keagamaan yang moderat. 

Menurut Kamaruddin, pendidikan agama masih penting diajarkan di sekolah-sekolah. Hal itu untuk memberikan pemahaman kepada siswa-siswi agar mereka tahu bagaimana cara beragama dalam masyarakat yang majemuk.

“Dan bagaimana cara berbangsa dan bernegara dalam konteks Indonesia yang religius,” katanya.

Hari Santri 2019

Meski demikian, ia mengakui bahwa lembaga pendidikan agama masih memiliki banyak kelemahan yang harus segera diatasi seperti meningkatkan kualitas guru yang profesional dan kompeten, menambah jam pelajaran, memperbaiki kurikulum, dan menyediakan sumber-sumber bacaan yang memadahi. (Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Meme Islam, Ulama Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Jumat, 15 Desember 2017

Jalankan dan Besarkanlah NU dengan Penuh Keyakinan!

Jakarta, Hari Santri 2019

Ketua Pengurus Cabang Lembaga Tamir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Sumedang Eman Sulaeman menyampaikan betapa pentingnya menjalankan organisasi Nahdlatul Ulama disertai dengan keyakinan. Menurutnya, keyakinan merupakan hal terpenting dalam mewujudkan tujuan serta cita-cita organisasi NU dan membesarkannya.

Jalankan dan Besarkanlah NU dengan Penuh Keyakinan! (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalankan dan Besarkanlah NU dengan Penuh Keyakinan! (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalankan dan Besarkanlah NU dengan Penuh Keyakinan!

"Yaqin. Untuk rumus keyakinan, angkanya hanya ada dua, 1 dan 0. Jika kita punya 10 cita-cita, tapi nol keyakinan, maka hasilnya 10x0 = 0. Namun ketika? kita mempunyai 3 cita-cita dan 1 keyakinan, maka hasilnya 3x1=3," ungkapnya saat memberikan materi ke-NU-an pada kegiatan Pelatihan Muharrik Masjid yang digelar PC LTMNU Sumedang, Sabtu (28/5).

Dalam kegitan yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Jauhariyah Dusun Tonjong, Desa Hariang, Kecamatan Buahdua tersebut, Eman Sulaeman mengajak pengurus masjid se-Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang untuk bersatu dalam membesarkan NU dan menjaga ajaran Ahussunnah wal Jamaah.

Hari Santri 2019

"Mari kita bersatu bersama dalam membesarkan NU. Tentunya tetap menjaga serta melestarikan tradisi dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah," ajak Eman.

Selaras dengan ketua PC LTM NU, pengurus Awan PCNU H Zainal Alimin menegaskan, "Jangan ragu untuk membesarkan organisasi Kebangkitan Ulama ini. Ketika ada orang yang membesarkan NU, ada masyarakat yang membesarkan NU, pasti orang tersebut dan daerah masyarakat tersebut akan terasa nyaman. Besarkan NU bil yaqin (dengan penuh keyakinan)!" Tegasnya.

Hari Santri 2019

Pelatihan Muharrik diikuti warga pengurus dewan kemakmuran masjid se-Kecamatan Buahdua. Hadir pula dalam kegiatan tersebut ketua PCNU H Sadulloh, ketua PC JQHNU Ustadz Ahmad Jauharudin, Ketua MWC NU Buahdua Ustadz Aceng Rukmana, kepala desa, camat serta pengurus banom dan lembaga di lingkungan MWCNU Kecamatan Buahdua. (Nahru Ulumudin/Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ulama, Sunnah Hari Santri 2019

Kamis, 07 Desember 2017

Pengetahuan Saja Tak Jamin Indonesia Maju

Jakarta, Hari Santri 2019. Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi berpendapat, masa depan Indonesia tidak bisa hanya diandalkan kepada meningkatnya jumlah kaum intelektual di Tanah Air. Pasalnya, negeri ini lebih membutuhkan kaum bermoral tinggi.

Pengetahuan Saja Tak Jamin Indonesia Maju (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengetahuan Saja Tak Jamin Indonesia Maju (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengetahuan Saja Tak Jamin Indonesia Maju

”Sarjana hukum sangat banyak tapi hukum tetap dinjak-injak. Ahli hukum tapi kena hukuman. Sarjana ekonomi juga banyak tapi pengangguran selalu ada di mana-mana. Banyak juga yang ahli pendidikan namun tidak punya karakter,” katanya pada peringatan haul Syaikh Abdul Qadir al-Jailani di Pesantren As-Sholihin al-Abror Cilincing, Jakarta Utara, (24/2).

Hasyim mengatakan, ilmu pengetahuan harus disertai moralitas yang digali dari ketaatan beragama. Al-Qur’an mengingatkan, sebutan ulama hanya untuk hamba-hamba yang takut dan taat (khasy-yah). Inilah yang membedakan antara ulama dan panggilan kiai, tuan guru, buya, atau sejenisnya.

Hari Santri 2019

Menurut pengasuh Pondok Pesantren al-Hikam Depok ini, sekarang Indonesia sedang mengalami krisis orang-orang pintar yang berdedikasi, amanah, dan jujur. Selain hukum, ekonomi, dan pendidikan, keadaan ini juga banyak terjadi dalam politik.

Dengan mudah, lanjut Hasyim, calon pejabat menghalalkan cara-cara haram demi meraih kursi kekuasaan. Masyarakat juga dinilai kian permisif, bahkan kadang mendukung, kebobrokan moral para politisi ini karena turut memperoleh kenikmatan meskipun sesaat.

Hari Santri 2019

”Lha, yang mau dicari itu pemimpin atau pemain. Kalau pemimpin maka akan menghasilkan pimpinan, tapi kalau pemain akan menghasilkan permainan,” terangnya.

Karena itu, Hasyim mengimbau umat Islam untuk memperbaiki diri baik pada segi etos kerja ataupun ketaatan beragama. ”Indonesia ini tidak kekurangan orang pinter, tapi kekurangan orang bener,” tuturnya.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pendidikan, Ulama, Lomba Hari Santri 2019

Kamis, 30 November 2017

Mengapa Perlu Pedoman Dakwah?

Oleh KH Cholil Nafis

Dakwah menjadi ujung tombak dari citra Islam. Sebab banyak orang mendengar ajaran Islam dan interaksi pemberdayaan umat melalui aktivitas dai baik dakwah secara lisan maupun dakwah yang langsung mengajak mesyarakat. Sedangkan fenomena yang marak di Indonesia masih didominasi arti dakwah secara lisan dalam acara-acara formal keagamaan atau tabligh pengajian.

Dakwah yang efektif membutuhkan panduan sebagai penentu arah untuk mencapai tujuan. Apalagi seperti di Indonesia yang terdiri atas berbagai  agama dan paham keislaman dibutuhkan pedoman dakwah dalam mengayomi dan melindungi umat dari akidah dan paham yang sesat (himayatul ummah), membangun persatuan umat (tauhidul ummah), menyatukan kerangka pemahaman agama Ahlussunah wal jamaah (taswiyatul afkar), dan membangun sinergi gerakan (tansiqul harakah) dalam bingkai Islam wasathi.

Mengapa Perlu Pedoman Dakwah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa Perlu Pedoman Dakwah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa Perlu Pedoman Dakwah?

Dalam rangka mengefektifkan peran dakwah sesuai dengan tujuan utamanya adalah mengajak masyarakat untuk bertauhid kepada Allah SWT, menjalankan syariah agama dan mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, maka Majelis Ulama Indonesia menganggap penting untuk menetapkan pedoman dakwah untuk acuan oleh para dai.

Hari Santri 2019

Kerangka dakwah yang  efektif harus meliputi kompetensi dai, metode yang digunakan untuk mengajak umat, media yang digunakan harus sesuai dengan dinamika masyarakat, serta materi yang sesuai dengan kebutuhan umat (madu).

Dalam Pedoman dakwah yang disahkan oleh MUI pada September 2017 memuat beberapa ketentuan, di antaranya:

Hari Santri 2019

1. Menetapkan kriteria dan kompetensi pelaku dakwah.

2. Menetapkan konten dakwah Islam yang berwawasan Wasathiyah (moderat) dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah.

3. Menetapkan model dan metode dakwah yang aktual, dinamis dan bertanggung jawab.

4. Menetapkan adanya Dewan Etik Dakwah Nasional yang mengarahkan konten, dan mengawasi perilaku para dai dan lembaga penyiaran dakwah agar sesuai dan senafas dengan wawasan dakwah wasathiyah, baik di tingkat nasional maupun lokal.

Integritas dan Kompetensi Dai

Semua orang bisa menjadi objek dakwah, umat Muslim maupun non-Muslim. Namun menjadi pelaku dakwah harus memiliki kriteria yang harus dipenuhi agar citra Islam tidak buruk dan malah dakwahnya menjadi  kontraproduktif. Dai harus memiliki integritas dan kompetensi yang memadai tergantung pada tingkat masyarakat sebagai objek dakwah. Seorang dai harus memiliki integritas qalbu, lisan, amal, dan sosial. Ia harus memiliki sifat ikhlas dan tekad untuk mengabdikan diri demi melayani kebaikan orang lain. Ia harus mempunyai sifat rela dirinya berkorban demi kebaikan orang banyak. Tutur kata seorang dai harus mencerminkan isi hatinya yang diimplementasikan dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat.

Kompetensi dai harus memiliki ilmu pengetahuan, kemampuan berkomunikasi, manajerial, dan pandai mengembangkan masyarakat. Sebab seorang dai harus memiliki ilmu yang bisa diberikan dan sekaligus memiliki keterampilan untuk menyampaikannya. Selanjutnya dai harus bisa mengelola dan mengembangkan masyarakat menuju kehidupan beragama dan bermasyarakat yang lebih baik.

Metode Dakwah

Keberhasilan sesuatu tak hanya ditentukan oleh konten dan materinya, tetapi juga metode yang tepat sasaran untuk mencapai tujuan. Karenanya, keberhasilan dakwah juga ditentukan dari optimalisasi dan sinkronisasi dakwah dengan metode yang digunakan. Sesuai objek dakwah, metode yang digunakan bisa dengan cara menampilkan perilaku dan akhlak yang mulia sehingga posisi dai bagaikan pilar bagi agama sehingga membuat orang lain meneladani, bahkan yang belum Muslim pun bisa tertarik untuk masuk Islam. Metode ceramah dan nasihat dapat digunakan sesuai dengan objek dakwah dan suasan masyarakat yang hendak diubah ke arah kehidupan yang lebih baik. Di kalangan akademisi dan ilmuwan, menggunakan metode diskusi bahkan debat dalam mencari format kebenaran dapat lebih efektif. Tetapi dalam debat tetap harus menjaga sopan santun dan niat baik untuk mencari dan memberi kebenaran.

Materi Dakwah

Materi adalah konten yang hendak disampaikan kepada masyarakat agar dapat meningkatkan kehidupannya. Ada beberapa hal yang menjadi prioritas dakwah, ialah penguatan akidah, peningkatan akhlak, pembinaan keluarga, membangun persatuan dan nasionalisme dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini penting agar masyarakat Indonesia tidak salah orientasi beragama, berkeluarga, dan bermasyarakat sehingga paripurna dalam menjalankan ajaran agama sekaligus menjadi pioner dalam membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dalam berdakwah dai harus menghindari penyampaikan kebenaran dengan cara yang salah, tidak boleh menyampaikan kebaikan dengan cara menghina dan tidak boleh membangun masyarakat dengan cara menistakan. Karenanya, dalam dakwah tidak boleh ada unsur dan kata-kata benci kepada yang lain. Semua materi dakwah dalam rangka untuk mengajak pada kebaikan dengan penuh cinta kasih.

Kode Etik Dakwah

Suatu hal yang amat penting dalam menunjang keberhasilan dakwah adalah menyatukan diri dalam pikiran, ucapan, dan tindakan. Hati seorang dai harus lurus dan akidahnya harus benar. Kemudian yang ada di dalam itu implementasikan dalam bentuk ucapan yang lembut (layyinan), yang penuh makna dan berwibawa (tsaqila) dan mencerahkan kepada umat (sadida). Ucapan lebih bermakna dan lebih memberi kesan mendalam manakala ucapan baik itu telah dilakukan oleh dai sebelum materi itu disampaikan kepada masyarakat.

*) Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Cerita, Ulama Hari Santri 2019

Rabu, 29 November 2017

Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep

Sumenep, Hari Santri 2019. Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ualama (PC IPNU) Kabupaten Sumenep, Ubaidillah, melakukan klarifikasi seputar warta di Hari Santri 2019 (17/11) terkait ditundanya pelantikan PAC IPNU-IPPNU Bluto, Sumenep. Menurutnya, kabar bahwa pelantikan tersebut tertunda gara-gara LSM Fajar Nusantara (Fans), tidak benar adanya.

Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep (Sumber Gambar : Nu Online)
Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep (Sumber Gambar : Nu Online)

Ihwal Penundaan Pelantikan IPNU-IPPNU di Sumenep

“Yang benar adalah, acara pelantikan tersebut ditunda karena ada sisi teknis yang belum matang dalam kepanitiaan,” terang Ubaidillah kepada Hari Santri 2019 melalui telepon selulernya, Senin (18/11) siang.

Ditambahkan Ubaidillah, Anwar Nuris yang menyebar kabar penyebab tertundanya pelantikan di jejaring sosial, bukanlah salah seorang pengurus PAC IPNU Bluto. Karenanya, apa yang disampaikan Anwar Nuris tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Hari Santri 2019

“Anwar Nuris ini berada di luar struktur kepengurusan PAC IPNU Bluto,” ungkapnya.

Kepada Hari Santri 2019, Ubaidillah menceritakan kronologi tertundanya pelantikan yang sedianya akan dilangsungkan pada Jumat (15/11) lalu itu. Pihaknya menekankan betapa hal itu tidak ada kaitannya dengan LSM Fans.

Hari Santri 2019

“LSM Fans ini yang mengelola murni adalah Syaiful Harir. Dia minta bantuan ke teman-teman cabang (PC IPNU Sumenep, red) untuk mengurus acara. persiapan segala sesuatunya dilakukan secara bersama-sama,” ujarnya.

Pada saat itu, Ketua PAC IPNU Bluto Abdul Wahid memberitahukan kepada Ubaidillah melalui telepon, bahwa acara pelantikan PAC IPNU-IPPNU Bluto dilangsungkan ba’da Jumat.

“Dan saya menyampaikan ke rekan-rekan PAC IPNU-IPNNU Bluto bahwa di cabang ada acara. Saya juga sampaikan bahwa apabila acara pelantikan itu memang sudah disepakiti, mohon tidak ditunda. Kami tetap akan hadir,” tambah Ubaidillah.

Tak berlangsung dari pemberitahuan yang pertama itu, Ubaidillah menerima pemberitahuan kedua. Pemberitahuan kedua ini menegaskan acara pelantikan PAC IPNU-IPPNU Bluto ditunda, atas kesepakatan panitia.

“Diberitahukan kembali ke saya, acaranya diundur. Saya jawab tidak apa-apa walau diundur. Ketika saya tanyai alasannya, jawabannya karena ada sisi teknis yang belum matang. Mereka menghendaki acara sangat sukses,” pungkasnya.

Untuk diketahui, hasil rapat pengurus PAC IPNU-IPNU Bluto, Jumat lalu, di Masjid Baiturrahman Gilang Bluto, pelantikan dan orasi Ke-IPNU-IPPNU-an akan ditunda sampai pada tanggal 22 November 2013 bertempat di Kantor MWC NU Bluto dengan tema “Menelaah Kembali Visi-Misi IPNU-IPPNU”. (Hairul Anam/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ulama, RMI NU Hari Santri 2019

Senin, 27 November 2017

Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo

Kudus, Hari Santri 2019 - Kegiatan Tur Dakwah Keliling Meneladani KHR Asnawi yang digelar keluarga besar Qudsiyyah Kudus dimeriahkan dengan tari sufi diiringi dan rebana Al-Mubarok Qudsiyyah. Dakwah dari desa ke desa ini ditutup dengan pengajian umum yang berlangsung di halaman masjid Suryawiyyah Desa Kirig Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus, Ahad (15/5) malam. Sedikitnya 5.000 pengunjung meramaikan pengajian ini.

Pengajian di Mejobo ini merupakan putaran terakhir kegiatan Tur Dakwah Keliling dalam rangka peringatan satu abad Qudsiyyah. Sebelumnya kegiatan serupa telah berlangsung di Kecamatan Dawe, Bae, Undaan, Kaliwungu, Jekulo, Gebog, dan Jati. Berikutnya kegiatan serupa akan dilaksanakan di luar Kudus, yakni di Demak, Jepara, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.

Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo (Sumber Gambar : Nu Online)
Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo (Sumber Gambar : Nu Online)

Satu Abad Qudsiyah Berakhir di Kecamatan Mejobo

KH Nor Halim Maruf saat menyampaikan taushiyah mengajak generasi sekarang mengikuti dan menggali model-model dakwah yang dilakukan para pendahulu. "Jasa-jasa para ulama terdahulu, jasa Mbah Kiai Raden Asnawi dalam berdakwah mengembangkan Islam begitu besar," kata Kiai Nor Halim.

Hari Santri 2019

Ia menambahkan, para ulama terdahulu begitu ikhlas berjuang mengembangkan Islam dengan ajaran yang santun dan penuh makna. Ia berharap generasi sekarang mampu meneladani dan mengambil hikmah serta meneruskan perjuangan para sesepuh.

Sepuluh jamiyyah rebana dari Kudus dan Pati meramaikan festival hadrah pada Ahad (15/5) siang. Kegitan yang berlangsung sangat meriah ini dimulai jam 10 pagi hingga sore. Tiga grup terbaik mendapatkan trofi dan uang pembinaan dari panitia.

Hari Santri 2019

Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus merupakan madrasah salaf yang didirikan oleh KHR Asnawi Kudus, salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama dari Kudus. Madrasah Qudsiyyah resmi berdiri pada tahun 1337 H. (Kharis/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Aswaja, Ulama Hari Santri 2019

Selasa, 21 November 2017

Pesantren Minhajuth Tholabah Adakan Pelatihan Simapes

Purbalingga, Hari Santri 2019

Bertempat di aula Madrasah Tsanawiyah pesantren Minhajuth Tholabah sebanyak 49 santriwan-santriwati dari 20 pesantren se-Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah mengikuti program pelatihan peningkatan mutu pesantren. Pelatihan Sistem Manajemen Pesantren (Simapes) ini diinisiasi pengurus wilayah Rabithah Maahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) bekerjas ama dengan kantor Kementrian Agama Jawa Tengah. 

Inspirasi untuk melakukan administrasi bisa menilik al-Baqarah ayat 282. Di sana harus memperhatikan proses pencatatan dalam masalah utang-piutang, terdapat seorang katib yang mengurusi masalah penulisan administrasi. “Kita bisa melihat pesantren Minhajuth Tholabah ini menghabiskan 1 kuintal beras dalam satu hari. Maka kita harus mengetahui pemasukan dan pengeluaran agar bisa terkontrol dengan baik. Administrasi di pesantren sudah ada agar kita tingkatkan," ungkap Kepala Kementrian Agama Kabupaten Purbalingga, Abdurrohim.

Pesantren Minhajuth Tholabah Adakan Pelatihan Simapes (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Minhajuth Tholabah Adakan Pelatihan Simapes (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Minhajuth Tholabah Adakan Pelatihan Simapes

Dengan memperhatikan administrasi, tambah Abdurrohim, kita perlu mengarsip surat-menyurat baik keluar atau masuk, rencana kegiatan dalam satu tahun ke depan di pesantren supaya kegiatan kita terukur. Memang perlu orang yang tekun untuk mengelola administrasi tidak semua orang mau dan mampu untuk menjalankan kegiatan ini. Semoga kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan bisa menerapkannya di masing-masing pesantren.

"Trasi wae kudu ana administrasine (penjual trasi harus ada administrasine) saya mendukung sekali kegiatan ini, " ungkap KH Anwar Idris selaku pengasuh pesantren Minhajuth Tholabah dalam sambutan pembukaan pelatihan.

Simapes ini sudah diluncurkan mulai tahun kemarin, sekarang sudah mencapai versi 1.2 dan akan terus dikembangkan untuk menunjang administrasi pesantren. Selain pelatihan Simapes acara ini juga terdapat materi sosialisasi pemutihan izin operasional pondok pesantren dan Program Indonesia Pintar (PIP). (Zulfa/Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Habib, Ahlussunnah, Ulama Hari Santri 2019

Minggu, 12 November 2017

Kopri PMII DIY Tolak Perayaan dengan Sanggul dan Kebaya

Yogyakarta, Hari Santri 2019. Dalam rangka memperingati hari Kartini, Kopri (Korp PMII Putri) Daerah Istimewa Yogyakarta, bekerjasama dengan berbagai organisasi dan komunitas Yogyakarta, menggelar acara “Malam untuk Kartini: Membaca Surat-Surat Kartini Dan Melanjutkan Perjuangan Kemerdekaan Perempuan” di depan Gedung Agung, Yogyakarta, Ahad (21/04/13) malam.

Kopri PMII DIY Tolak Perayaan dengan Sanggul dan Kebaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kopri PMII DIY Tolak Perayaan dengan Sanggul dan Kebaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kopri PMII DIY Tolak Perayaan dengan Sanggul dan Kebaya

Menurut ketua umum Kopri DI Yogyakarta Icha Sulaiman, kegiatan tersebut dilaksanakan untuk membongkar kebohongan-kebohongan sejarah tentang Kartini yang selama ini telah dibuat oleh para penguasa orde baru.

“Maka kembali menyerukan membaca surat-surat Kartini, melihat kembali dengan kritis apa yang dikehendakinya, dan tentu meneruskan perjuangannya adalah hal yang penting demi melawan mainstream yang telah mengakar selama ini,” tutur Icha, sapaan akrab ketua Kopri DI Yogyakarta tersebut.   

Hari Santri 2019

Acara malam itu memang terlihat berbeda dengan mayoritas acara peringatan hari Kartini selama ini, dimana hampir semua pelaksanaanya adalah dengan mengadakan acara berkebaya, bersanggul, masak-memasak, rias-merias, dan sebagainya. Menurutnya, perayaan semacam itu malah akan semakin mendukung domestikasi perempuan, yang sejatinya begitu ditentang oleh Kartini dalam surat-suratnya. 

Hari Santri 2019

“Justru kegiatan semacam itu yang sebenarnya bertentangan dengan nilai yang terkandung dalam surat-surat Kartini. Jadi, agenda ini memang kami gelar tanpa sanggul, kebaya, masak-memasak ataupun rias-merias ala orde baru, dan kami menentangnya. Melanjutkan perjuangannya, melawan kekerasan seksual dan pemiskinan terhadap perempuan adalah kepentingan kami. Kartini sudah memulai, mari kita lanjutkan perjuangannya,” tandas perempuan yang saat ini sedang menjalankan studi di Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Adapun selain pembacaan 21 surat Kartini kepada sahabatnya; Stella oleh perempuan-perempuan dari berbagai komunitas, acara ini juga dimeriahkan oleh sejumlah aktifis laki-laki PMII dengan membacakan orasi dan puisi tentang perempuan.

“Hari Kartini tidak hanya milik kaum perempuan, tapi milik kita semua. Dan dalam konsep agama apapun, sebenarnya sangat menjunjung tinggi perempuan. Sejarah telah membuktikan, bahwa banyak sektor yang telah dipelopori oleh perempuan, seperti pertanian. Maka Kartini merupakan contoh yang patut kita tiru selanjutnya”, papar Imam S Arizal selaku Ketua Umum Cabang PMII DI Yogyakarta dalam orasinya. 

Acara berlangsung dengan santai dan ramai. Selain karena lokasi yang tepat berada di kawasan titik nol kilometer sebagai pusat keramaian kota Yogyakarta, seluruh peserta yang hadir begitu antusias membacakan surat-surat Kartini.

Para peserta juga terlihat begitu menikmati, serta merespon positif acara tersebut. Mila, salah seorang peserta pembaca surat Kartini yang berasal dari komunitas Sarinah, menuturkan bahwa ia sangat mendukung gerakan semacam ini. 

“Saya menilai kegiatan semacam ini positif. Walaupun tidak memberikan bukti kongkrit, tapi setidaknya ada upaya pelurusan terhadap kegiatan perayaan dan pemaknaan tentang perjuangan Kartini yang telah menjamur dalam masyarakat selama ini. Salah satunya adalah dengan membaca kembali surat-surat Kartini”, papar perempuan yang merupakan mahasiswa Filsafat UGM tersebut. 

Para panitia penyelenggara kegiatan ini juga mengharapkan bahwa kegiatan malam itu bukan sebatas seremonial belaka, dimana terjadi ke-mandeg-an setelah acara selesai dan tidak ada tindak lanjut. 

“Kita akan dan harus tetap memperjuangkan cita-cita Kartini, dan ke depan akan tetap diadakan diskusi sebagai kelanjutan dari kegiatan ini”, tutur salah seorang panitia di penghujung acara.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Dwi Khoirotun Nisa’

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Syariah, Ulama Hari Santri 2019

Jumat, 10 November 2017

Depag Gelar Pemilihan Keluarga Sakinah dan KUA Percontohan

Jakarta, Hari Santri 2019

Departemen Agama (Depag) menggelar pemilihan keluarga sakinah teladan tingkat nasional dan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) percontohan sekaligus Rapat Kerja Nasional Badan Penasihatan Pembinaan Pelestarian Perkawinan (BP4).

Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nasaruddin Umar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (14/8) lalu melalui siaran pers yang diterima Hari Santri 2019.

Depag Gelar Pemilihan Keluarga Sakinah dan KUA Percontohan (Sumber Gambar : Nu Online)
Depag Gelar Pemilihan Keluarga Sakinah dan KUA Percontohan (Sumber Gambar : Nu Online)

Depag Gelar Pemilihan Keluarga Sakinah dan KUA Percontohan

Menurut Nasaruddin, pemilihan keluarga sakinah teladan ini guna memberi apresiasi yang tinggi kepada keluarga yang tetap konsisten dan setia mempertahankan keteladanan di dalam pergaulan masyarakat meski menghadapi tantangan besar perubahan perilaku yang tidak selaras dengan nilai-nilai luhur bangsa.

Hari Santri 2019

Sedangkan, pemilihan kepala KUA percontohan, kata Nasaruddin, sebagai upaya mendorong kinerja aparatur Depag memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Acara tersebut juga untuk menerapkan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa sehingga dapat menjadi contoh bagi KUA lainnya.

Ia menegaskan, pembangunan bangsa adalah tema besar bagi pembangunan keluarga. ”Melalaikan persoalan pembinaan keluarga, sama halnya dengan menelantarkan nasib dan masa depan bangsa,” ujarnya.

Hari Santri 2019

Pada keluarga, kata Nasaruudin, terdapat fungsi penting penanaman nilai-nilai agama kepada anak sebagaimana perintah surat At-Tahrim 6 merupakan tanggung jawab orangtua. Karena itu, diperlukan perhatian yang sangat besar terhadap esensi pendidikan dalam keluarga untuk menumbuhkakembangkan anak pada bingkai akidah, syariat dan ahlak.

Nasaruddin membenarkan, budaya permissivisme telah menghambat setiap usaha keluarga untuk menjaga soliditas ikatannya akibat melemahnya kontrol sosial atas berbagai penyimpangan norma-norma yang selama ini diyakini dalam keluarga. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ulama, Tegal, Warta Hari Santri 2019

Selasa, 10 Oktober 2017

GP Ansor Pekalongan Rancang Program Menuju Kemandirian

Pekalongan, Hari Santri 2019

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menggelar Rapat Kerja Cabang I pada Ahad (4/9) di Aula PCNU Kabupaten Pekalongan. Raker I ini diagendakan untuk menggodok program kerja PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan masa khidmah 2016-2020.

GP Ansor Pekalongan Rancang Program Menuju Kemandirian (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pekalongan Rancang Program Menuju Kemandirian (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pekalongan Rancang Program Menuju Kemandirian

Raker ini dihadiri oleh jajaran dewan penasihat, dewan instruktur, pengurus harian, pengurus departemen, dan jajaran Satkorcab Banser Kabupaten Pekalongan serta para Pimpinan Anak Cabang GP Ansor se-Kabupaten Pekalongan.

M. Syaikhul Alim selaku ketua panitia raker mengatakan bahwa tema yang diangkat dalam raker ini adalah "Pemberdayaan Potensi Ekonomi Menuju Kemandirian Kader dan Organisasi". Tema ini diangkat sebagai pengejawantahan visi besar GP Ansor yang mendorong gerakan kemandirian.

Hari Santri 2019

Ia menambahkan, raker diawali dengan pembahasan program kerja pada masing-masing departemen dalam forum FGD (Focus Group Discussion) yang telah berlangsung beberapa waktu yang lalu. Raker ini dimaksudkan untuk mengkritisi paparan program kerja masing-masing departemen dan melakukan sinkronisasi program antardepartemen.

Sementara itu, M. Azmi Fahmi selaku ketua PC GP Ansor Kabupaten Pekalongan mengingatkan pentingnya membumikan empat visi besar GP Ansor sebagai landasan dalam berkhidmah, yaitu revitalisasi nilai dan tradisi Islam Aswaja, penguatan sistem kaderisasi, pemberdayaan potensi kader dan kemandirian kader dan organisasi.

Hari Santri 2019

"Kemandirian kader dan organisasi menjadi fokus dan prioritas program GP Ansor saat ini. Untuk itu, semua program diupayakan mendorong terwujudnya kemandirian tersebut. Namun kemandirian organisasi ini jangan lantas diartikan Ansor berhenti menjalin kerja sama dengan pihak lain. Justru untuk bisa mandiri Ansor harus bersinergi dan menjalin kemitraan dengan segenap stakeholders baik pemerintah, instansi/lembaga lain, pihak swasta termasuk dengan partai politik. Dengan upaya tersebut kemandirian kader dan organisasi diharapkan benar-benar dapat terwujud," ujar Azmi. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ulama, Santri, AlaSantri Hari Santri 2019

Kamis, 28 September 2017

Realisasi Santunan Korban Crane Masjidil Haram Segera Dituntaskan

Jakarta, Hari Santri 2019 - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, pembayaran santunan bagi? jamaah haji yang menjadi korban jatuhnya crane sudah mendeati penyelesaian akhir. Kementerian Keuangan dan Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi saatnya akan menyampaikan secara resmi realisasinya.

Demikian disampaikan menteri agama di Jakarta, Rabu (16/3) usai kunjungan kerja selama enam hari di Saudi Arabia.

Realisasi Santunan Korban Crane Masjidil Haram Segera Dituntaskan (Sumber Gambar : Nu Online)
Realisasi Santunan Korban Crane Masjidil Haram Segera Dituntaskan (Sumber Gambar : Nu Online)

Realisasi Santunan Korban Crane Masjidil Haram Segera Dituntaskan

Kepada Menteri Haji Saudi, Menag juga menanyakan perkembangan pengurusan? santunan bagi? jamaah haji yang menjadi korban jatuhnya crane di Masjidil Haram. Ada 61 korban dari Indonesia, terdiri dari 12orang wafat, dan 49 luka-luka. Pemerintah Saudi Arabia menjanjikan untuk memberikan santunan kepada mereka.

"Menteri Urusan Haji Saudi tegas mengatakan bahwa realisasi pencairan ini sudah mendekati penyelesaian akhir dari seluruh rangkaian tahapan yang cukup panjang. Dua kementerian yang mengurus ini, yaitu Kementerian Keuangan dan Kementerian Dalam Negeri, pada saatnya akan menyampaikan secara resmi dan merealisasikannya," jelas Menag.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

"Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, semua jamaah dari berbagai negara yang menjadi korban akan mendapatkan santunan," tambahnya.

Menag melakukan kunjungan kerja bersama Menteri Kesehatan Nila Djuwita F.Moeloek dan tim Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah. Kunjungan Menag ini kali untuk membahas persiapan penyelenggaraan ibadah haji 1437H/2016M, termasuk menandatangani MoU dengan Menteri Urusan Haji Saudi, Bandar Muhammad Hajjar.

Menurutnya, setiap tahun, jelang pelaksanaan ibadah haji, negara-negara pengirim jamaah haji, termasuk Indonesia, melakukan penandatanganan MoU dengan Pemerintah Saudi.? Kesempatan bertemu Menteri Urusan Haji Saudi? dimanfaatkan Menag untuk? menyampaikan beberapa usulan peningkatan kualitas layanan haji.

"Usulan itu tidak hanya semata peningkatan layanan jamaah haji Indonesia, lebih utama Pemerintah Indonesia mengajukan usulan agar kenyamanan jamaah haji dunia bisa didapat," terang Menag.

Berikut usulan perbaikan yang disampaikan Menag Lukman kepada Menteri Urusan Haji Saudi Arabia:Pertama, perbaikan kualitas tenda di Arafah agardibuat permanen dan lebih kokoh. Pengalaman tahun 2015, beberapa tenda jamaah Indonesia roboh karena angin. "Setidaknya tenda di Arafah agar dibuat seperti tenda di Mina," tutur Menag.

Kedua,? pembangkit listrik permanen yang dapatmemenuhi seluruh kebutuhan listrik selama jamaah di Arafah.? Jamaah haji dunia pada setiap penyelenggaraan ibadah haji berkisar 2 juta orang, dan itu tentu membutuhkan konsumsi listrik yang sangat besar. "Diperlukan pembangkit listrik yang relatif permanen di Arafah," tegas Menag.

Ketiga, tenda Mina dibuat bertingkat. Mina adalah wilayah yang jelas batas-batasnya. Luas wilayah ini sekitar 7,8 km2, namun yang bisa didiami hanya 4,8 km2 karena selebihnya adalah pegunungan batu. Sementara itu, ketika menginap di Mina, seluruh jamaah haji diharuskan berada dalam kawasan ini. Padahal, total jamaah haji setiap tahunnya? berkisar 2 juta orang, sangat padat. "Tenda jamaah di Minaperlu dibuat bertingkat seperti Jamarat (tempat lontar jumrah), sehingga? tidak ada jamaah yang ditempatkan di luar Mina," kata Menag.

Keempat,? penyediaan fasilitas pos kesehatanemergency pada rute jamaah dari tenda di Mina menuju Jamarat. Keberadaan pos kesehatan? diperlukan untuk mengantisipasi jamaah yang butuhpertolongan kesehatan saat dalam perjalanan dari Mina ke Jamarat atau sebaliknya. "Tahun lalu kita melihat kondisi seperti itu tidak bisa dilayani denganbaik karena keterbatasan sarana kesehatan bagijamaah haji," ujarnya.



Apresiasi untuk Indonesia


Menteri Haji Saudi? mengapresiasi usulan perbaikan layanan yang disampaikan Indonesia. Bahkan, tendaArafah mulai tahun ini akan dipasang sejak? 1Dzulhijjah (delapan hari sebelum puncak haji) dan Indonesia diminta untuk mengecek langsung. "Jika ada tenda yang dinilai kurang kokoh, mereka akan memperbaikinya," kata Menag.

"Ada 30 - 35 maktab dari total 57 maktab Indonesia yang AC-nya akan diperbaharui," tambahnya.

Selain bertemu Menteri Urusan Haji, Menag juga melakukan pertemuan dengan? muassasah, baikMuassasah Asia Tenggara yang ada di Makkah maupun Muassasah al Ahliyah al Adilla di Madinah. Muassasah adalah lembaga di luar Pemerintah yang mendapat kewenangan penuh dari saudi untukmengurus jamaah. Kedua lembaga ini? melayani hal ihwal jamaah yang terkait dengan dokumen, pemondokan, katering transportasi darat, dan lainnya. "Dari pertemuan itu, disepakati adanya upaya peningkatan layanan agar lebih baik," jelas Menag.

Menag juga bertemu Direktur Utama Bandara Amir Muhammad dan Abdul Aziz (AMAA) Madinah, Sofyan Abdussalam. Kedua belah pihak sepakat bahwa? jamaah haji yang diberangkatkan pada gelombang pertama akan mendarat? di Bandara AMAA Madinah seperti pada tahun lalu. Kesepakatan ini penting agar jamaah haji Indonesia tidak mengalami kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang dari Tanah Air menuju Tanah Suci.

Selain itu, jamaah haji yang diberangkatkan pada gelombang kedua juga akan bertolak dari Bandara? AMAA Madinah menuju Tanah Air. "Jadi, 50 % tibadi Madinah, 50% pulang dari Madinah," jelas Menag.

Menag menilai kunjungan kerja ini kali berjalan sukses. Menteri Urusan Haji Saudi bahkan secaraeksplisit? mengapresiasi jamaah haji Indonesia karena dinilai tertib dan taat terhadap aturan di Saudi. Apresiasi yang sama disampaikan Dirut Bandara AMAA Madinah. Dia menilai Indonesi sebagai negara terbaik dalam mengorganisasijamaah haji sehingga tercepat pengurusannya, sejak jamaah keluar dari pesawat sampai meninggalkan bandara. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ulama, Aswaja Hari Santri 2019

Kamis, 21 September 2017

Nuansa Toleransi Peringatan Maulid Nabi DDI Timika

Jakarta, Hari Santri 2019. Peringatan Maulid Nabi di Pondok Pesantren Darud Dakwah wal Irsyad Nurul Islam (DDI) digelar 16 Desember 2015 bertempat di Timika, Kabupaten Mimika, Papua. Pondok Pesantren ini merupakan salah satu cabang DDI, pesantren tertua di Sulawesi Selatan.

Menurut Hj. Musdah Mulia yang hadir pada kesempatan tersebut, hikmah Maulid Nabi disampaikan Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Acara diadakan di gedung Tongkonan, milik jemaat Gereja Toraja yang di dalamnya bertaburan simbol-simbol kekristenan.

Nuansa Toleransi Peringatan Maulid Nabi DDI Timika (Sumber Gambar : Nu Online)
Nuansa Toleransi Peringatan Maulid Nabi DDI Timika (Sumber Gambar : Nu Online)

Nuansa Toleransi Peringatan Maulid Nabi DDI Timika

“Sangat menyenangkan melihat kerja sama konkret antaragama, bukan sekadar wacana verbal yang penuh dengan nuansa politis,” kata Musdah Mulia melalui akun Facebooknya yang diakses Hari Santri 2019 Kamis (17/12). ?

Hari Santri 2019

Peserta yang hadir, kata dia, membludak sehingga gedung Tongkonan yang letaknya di depan sebuah gereja tua tampak sesak. Umat Islam Timika sangat antusias merayakan peringatan maulid Rasul. “Semoga kesemarakan dalam beragama ini berbanding lurus dengan tingkat spiritual mereka sehingga nilai-nilai Islam yang mengedepankan keadilan, kejujuran, kesetaraan dan kemashlahatan dirasakan semua manusia, tanpa kecuali,” kata mantan Sekjen Fatayat NU ini.

Ia mengaku sudah lama tidak mengikuti acara maulid di pesantren tradisional karena itu kehadirannya menangkap berbagai hal baru. Mulai dengan dekorasi panggung yang gemerlap dengan lampu-lampu hias berwarna, mirip panggung untuk lomba lagu-lagu dangdut. Hiasan lain, beraneka bunga yang terbuat dari telur-telur yang diwarnai sering dijadikan ikon peringatan maulid dalam masyarakat tradisional Sulawesi Selatan. Juga ratusan ember kecil berwarna-warni, isinya nasi ketan lengkap dengan telur dan lauknya untuk dibagikan kepada para tamu seusai acara.

Hari Santri 2019

Acara dimulai dengan suguhan hiburan dari para santri sangat mengasyikkan. Bukan hanya lagu-lagu qasidah, lantunan ayat-ayat Al-Quran, shalawatan dan Asmaul Husna, tapi juga tarian Melayu yang indah menawan. Tak kalah menariknya ketika sejumlah santri duduk bersama dan bergantian membaca kisah hidup Rasul mulia.

“Mata saya tidak berkedip mengikuti gerakan para santriwati yang meliuk-liuk indah penuh energik mengikuti irama lagu yang sangat dinamis. Saya sungguh mengapresiasi panitia dan juga pengurus ponpes membolehkan para santriwati belajar kesenian, termasuk berlatih menari. Seni merupakan media penting untuk menghaluskan jiwa dan melatih sikap sportif yang diperlukan dalam kehidupan sosial,” tambah Musdah.

Hal itu, menurut Musdah adalah bidah karena semua ditemukan di masa Rasul. Bidah adalah semua hal baru yang tidak pernah dijumpai pada masa Rasul. Namun, tidak semua hal yang dikategorikan bidah itu haram atau terlarang, melainkan hanya yang menimbulkan mudharat saja. Jika, bidah itu menghasilkan hal-hal positif dan konstruktif, tentu perlu dikembangkan.

Prof. Dr. Ahmad Thib Raya dalam ceramahnya menitikkan pentingnya meneladani Rasul yang sangat mulia akhlaknya. Di antara akhlak Rasul yang sangat penting diteladani dalam kehidupan nyata sehari-hari adalah sikap jujur, penuh empati, toleransi, cinta damai, gemar silaturahim dan senang mengembangkan ilmu pengetahuan.

Pembicara juga menekankan pentingnya umat Islam Timika mengedepankan sikap toleransi terhadap semua kelompok dalam masyarakat Papua yang sangat hetrogen, membangun relasi yang baik dengan penduduk lokal, khususnya non-Muslim.

Acara ditutup dengan doa dan pembagian ember warna-warni penuh hiasan yang berisi makanan tradisional. Makanan itu untuk dibagi kepada seluruh sanak keluarga, khususnya mereka yang tidak hadir dalam acara maulid.

“Senang sekali menyaksikan acara maulid dengan banyak improvisasi (bidah) yang positif dan konstruktif. Berharap agar pesan-pesan moral maulid sungguh-sungguh dapat diaktualisasikan dalam kehidupan nyata masyarakat Muslim,” katanya.

Ia mengaku lebih senang lagi melihat kondisi umat Islam yang berkembang pesat di Timika. Sebab, 15 tahun lalu ia pernah ke sini, jumlah mereka masih kecil dan tingkat ekonomi ekonomi masih sangat rendah.

“Di lubuk hati terdalam, saya berdoa semoga damai bersemi dalam masyarakat Papua, mereka lapang dada dapat menerima kehadiran banyak pendatang yang sangat beragam asal-usulnya. Saya lebih berharap lagi, para pendatang, khususnya kelompok Muslim, senantiasa menjaga hubungan baik dengan mereka dan selalu menghormati eksistensi mereka sebagai saudara sebangsa dan setanah air. Hidup bhinneka tungal ika,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Budaya, Ulama Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock