Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Lajnah Falakiyah Annuqayah Latih Masyarakat Belajar Kalibrasi

Hari Santri 2019, Pamekasan

Rombongan Lajnah Falakiyah Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, berkeliling ke sejumlah masjid di dua kabupaten yakni Sumenep dan Pamekasan, Jumat (12/1). Mereka melatih masyarakat dan takmir masjid setempat belajar kalibrasi atau pengecekan arah kiblat.

Lajnah Falakiyah Annuqayah Latih Masyarakat Belajar Kalibrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Lajnah Falakiyah Annuqayah Latih Masyarakat Belajar Kalibrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Lajnah Falakiyah Annuqayah Latih Masyarakat Belajar Kalibrasi

Setidaknya ada dua bus mini yang digunakan untuk membawa pengurus dan anggota lajnah falakiyah yang berjumlah 31 orang. Mereka berbaur belajar bersama masyarakat, takmir, dan siswa di sekitar masjid.

Ketua Lajnah Falakiyah Pesantren Annuqayah, Muhammad Affan Ridlallah, yang didampingi penasihat Ustadz M Rifaqi menegaskan, kegiatan dimaksudkan sebagai ajang silaturrahim pengurus dengan masyarakat umum.

"Juga sebagai tindak lanjut dari pelatihan arah kiblat lajnah falakiyah, Kamis (11/1) kemarin," ungkap Ustadz Affan di sela-sela praktik dan sosialisasi arah kiblat di Masjid Baiturrahman, Kertagena Tengah, Kadur, Pamekasan.

Hari Santri 2019

Sebelumnya, Ustadz Affan dan rombongan praktik dan sosialisasi di Masjid Al-Qoshas, Aeng Panas, Pragaan, Kabupaten Sumenep. Mereka dipandu Ustadz Fathur Rozi, alumnus Pesantren Annuqayah yang kini tercatat sebagai mahasiswa falakiyah pascasarjana Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. 

Alat-alat yang digunakan kalibrasi meliputi mizwala qiblat finder, istiwaaini, mizwala penggaris qiblat, i zun dial, dan kompas suunto.

"Manfaatnya bisa membantu masyarakat untuk lebih yakin dalam beribadah, karena arah kiblatnya sudah terjamin benar atau presisi," ungkap Ust M Rifaqi.

Diterangkan, kegiatan tersebut sedikit dihadapkan pada kendala. Yakni, sinar matahari yang terhalang mendung. Tapi, tetap bisa terlaksana karena sinar matahari sewaktu-waktu tidak terhalangi awan. (Hairul Anam/Ibnu Nawawi)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Santri, Kyai Hari Santri 2019

Minggu, 18 Februari 2018

Hafidz Tunanetra ini Imami Tarawih di Masjid Gus Dur

Jakarta,Hari Santri 2019. Shalat tarawih berjamaah di Masjid Al-Munawwaroh komplek kediaman KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Jalan Warung Sila Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (23/6) malam atau malam ketujuh Ramadhan menghatamkan 1 juz Al-Quran dan diimami oleh seorang hafidz tunanetra.

Hafidz Tunanetra ini Imami Tarawih di Masjid Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Hafidz Tunanetra ini Imami Tarawih di Masjid Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Hafidz Tunanetra ini Imami Tarawih di Masjid Gus Dur

"Sholat Tarawih malam ini akan diimami seorang tunanetra. Namanya Muhammad Nurdin," ujar Imam Besar Masjid Al-Munawwaroh Kiai Ahmad Ahsin kepada Hari Santri 2019 menjelang buka bersama di teras masjid yang akrab disebut Masjid Gus Dur ini.

Muhammad Nurdin (35 tahun), lulusan Pesantren Al-Anwar Desa Goa Kidul, Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon ini mengaku telah hafal Al-Quran 30 juz sejak usia 26 tahun. Ia mondok di pesantren yang diasuh KH Anwar Maksum, kakak sepupu Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, sejak 2001 hingga 2006.

Hari Santri 2019

"Ketika mondok di Cirebon, saya setoran hafalannya langsung satu maqra. Saya menghafal Quran memakai Quran Braille yang saya dapat dari kota Jogja. Waktu itu memang susah ya nyari Quran untuk kaum tunanetra," tuturnya.

Pria asal Kampung Bojong Pari, Desa Jaya Bakti, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi ini bercerita, ketika masih kecil belajar membaca Al-Quran huruf Braille di Yayasan Pesantren Al-Muawanah di Sukabumi. Setelah setahun, ia pindah mondok di Bandung.

Hari Santri 2019

Nurdin mengatakan, awal ketertarikannya menghafal Quran lantaran keinginan belajar kitab kuning kandas. Sebab, belum ada yang ditulis Braille. “Quran aja satu juz itu gede banget. Makanya, wajar kalau susah ditemukan kitab kuning dalam tulisan Braille,” ujarnya.

Oleh kiainya, Nurdin disarankan untuk menghafal Al-Quran saja. “Jadi saya nggak langsung ke Cirebon. Tapi, ke Bandung dulu mondok di Al-Syifa’ khusus belajar Ilmu Qiraat dan Tajwid. Cuma memang waktu itu suara saya kurang memadai. Akhirnya, kiai menyuruh saya menghafal aja,” ungkapnya.

Nurdin lalu mengikuti petunjuk kiainya yang di Bandung untuk mondok Quran di Cirebon. “Saat menerima hafalan saya, Kiai Anwar biasa aja. Jadi, bareng dengan santri yang lain. Apalagi saya sudah mempunyai bekal, tajwid sudah bagus. Jadi langsung menghafal,” ujarnya bangga.

Jika ada anak tunanetra ingin menghafal Al-Quran, Nurdin menyarankan agar mereka belajar Braille terlebih dahulu di Sekolah Luar Biasa. “Memang ada yang model menuntun saja hingga bisa baca. Tapi kan kiai sibuk juga. Teman-teman juga nggak tentu senggang,” tandasnya.

Di tengah keterbatasannya, Nurdin tetap bersyukur karena diberi kemampuan oleh Allah menghafalkan kitab suci-Nya. Ia berharap, anak-anak tunanetra terus berlomba dalam kebaikan. Sebaiknya mereka tidak kalah dengan yang lain.

“Jangan ketinggalan lah sama anak-anak normal. Sekarang kan ada sekolahnya. Banyak juga tunanetra yang pinter, ada yang jadi dosen. Tapi, tantangannya orang tua ini. Setelah dilepas, banyak yang takut ini takut itu. Harus benar-benar tega lah untuk kemajuan anaknya,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara, Kyai, Fragmen Hari Santri 2019

Jumat, 09 Februari 2018

Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali

Denpasar,? Hari Santri 2019?

Apel Kebangsaan yang diadakan Pimpinan Wilayah GP Ansor Provinsi Bali di Lapangan Lumintang Denpasar, Ahad (14/5) dihadiri Kasatkornas Banser H. Alfa Isnaini. Di hadapan seribu kader Ansor dan Banser dari sembilan kabupaten dan kota se-Bali itu, Alfa merasa bangga karena banom NU itu bisa eksis di pulau dewata, pulau dengan Muslim minoritas. ?

Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali

Meski demikian, ia berpesan agar GP Ansor dan Banser terus menjunjung tinggi keharmonisan, kedamaian dan menjalin komunikasi kepada semua pihak. Dengan cara seperti itu, rajutan kebinekaan di negeri ini, termasuk di Bali, bisa seiring sejalan dengan cita cita pendiri bangsa.

"Para perumus negeri ini sepakat untuk menjadikan negeri ini sebagai negara kesatuan yang mengakui perbedaan, menggapai kesejahteraan bersama berdasarkan Pancasila. Ini sudah final, karena yang menyepakatinya juga adalah para kiai-kiai NU," tegasnya.

Jadi, lanjutnya dengan suara lantang, siapa pun yang ingin mengutak-atik NKRI dan Pancasila, maka GP Ansor dan Banser siap berhadap-hadapan dengan mereka.

“Apakah kalian siap?” tanya Alfa.

Hari Santri 2019

"Siap!" seru peserta apel menjawab serentak.

Menyoal kelompok yang anti-Pancasila, ia terang-terangan menyebut HTI sebagai organisasi gerakan politik, bukan gerakan dakwah keagamaan. Mereka jelas ingin menggantikan Pancasila sebagai dasar negara.

"Kebebasan berpendapat boleh, tapi kalau sudah ingin mengubah dasar dan bentuk negara, maka langkah pemerintah sudah tepat untuk membubarkan HTI yang kerap mempropagandakan pemerintahan model khilafah Islamiyah," paparnya.

Namun, ia juga menegaskan bahwa langkah pemerintah untuk membubarkan HTI merupakan keputusan politik, jadi ini belum cukup. Ansor Banser menginginkan yang lebih dari itu.

Hari Santri 2019

"Kita ingin semua gerakan pemahaman dan ajaran HTI, harus dilarang di seluruh tumpah darah Nusantara ini. Jika masih mereka ada, maka selama itu juga Banser dan Ansor akan tetap melakukan perlawanan," paparnya yang langsung disambut tepuk tangan peserta apel.

Terakhir, ia berpesan agar kader Ansor dan Banser agar tidak gampang terprovokasi oleh oknum-oknum yang menginginkan terpecahnya kesolidan Nahdlatul Ulama. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Kyai, Pemurnian Aqidah Hari Santri 2019

Sabtu, 20 Januari 2018

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan

Jombang, Hari Santri 2019 - Pengurus Fatayat NU Kabupaten Jombang membahas sejumlah masalah perempuan yang berkembang di kota santri ini. Mereka berupaya keras untuk menyelesaikan sejumlah masalah seperti KDRT, meningkatnya perceraian, narkoba, HIV/AIDS, pendidikan dan pengembangan perekonomian perempuan.

Ketua Fatayat NU Jombang Ema Umiyyatul Chusnah mengatakan, sejumlah persoalan itu kini sudah menjadi bahan kajian bersama pengurus Fatayat NU Jombang. Sehingga sebagian besar persoalan tersebut dapat diatasi dengan baik.

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan

Terkait persoalan HIV/AIDS atau kesehatan, pihaknya telah melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada warga setempat terutama pada ibu-ibu dan remaja. Mereka diajak untuk mengetahui bahaya penyakit HIV/AIDS dan pentingnya menjaga kesehatan.

Hari Santri 2019

Demikian juga pada persoalan pendidikan. Mereka telah menyiapkan kelompok khusus untuk melakukan pengembangan kapasitas SDM para guru dengan giat pelatihan-pelatihan. Kelompok ini mencoba mengentaskan buta aksara di kalangan ibu-ibu yang belum bisa baca tulis di Jombang.

"Ada beberapa kelompok yang telah berupaya mengajak masyarakat untuk melek aksara, terutama ibu-ibu yang belum bisa baca tulis. Mereka sudah mulai bisa baca tulis, menghitung dan ngaji," katanya kepada Hari Santri 2019 di Rumah Dinas Jombang, Kamis (21/4).

Hari Santri 2019

Tidak kalah penting, banyaknya problem yang tengah dihadapi oleh masyarakat Jombang yang berada di pedalaman. Menurut cucu dari Mbah Wahab itu, di sana terdapat banyak persoalan yang juga harus diselesaikan.

"Kita juga harus memikirkan mereka untuk mengangkat derajat dan martabatnya sehingga anak-anak mereka menjadi generasi harapan bangsa," tandasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Doa, Kyai Hari Santri 2019

Rabu, 17 Januari 2018

Kemenpora: Ansor Harus Terdepan Jadi Agen Perubahan

Jakarta, Hari Santri 2019. Mengucapkan terima kasih atas sejumlah kegiatan positif dilakukan Gerakan Pemuda Ansor beserta tenaga intinya Barisan Ansor Serbaguna (Banser), pejabat Kementerian Pemuda Dan Olahraga meminta kader pemuda Nahdlatul Ulama (NU) untuk terus terdepan dalam menjadi agen perubahan.

Kemenpora: Ansor Harus Terdepan Jadi Agen Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenpora: Ansor Harus Terdepan Jadi Agen Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenpora: Ansor Harus Terdepan Jadi Agen Perubahan

"Revolusi mental dicanangkan Presiden Joko Widodo membutuhkan peran serta pemuda karena keterlibatannya memang penting," ujar Kepala Bidang Kepemudaan Kemenpora Agus Dwi Susilo, di Jakarta Timur, Selasa (21/11).

Kemenpora melalui Pusat Pembentukan Pemuda dan Olahraga Nasional (PPON) menggelar Fasilitasi Pelatihan Revolusi Mental Bagi Pemuda di Pesantren Al Hamid, Cipayung, Jakarta Timur mulai hari ini hingga Kamis (23/11).

Hari Santri 2019

Sesuai tujuannya, demikian Agus menambahkan, ialah membentuk revolusi mental pemuda.

Ia berharap agar Ansor dan Banser selalu jadi agen perubahan mental seperti sudah sering dilakukan.

Hari Santri 2019

Sejak berdiri 24 April 1934, Ansor telah banyak melakukan kegiatan positif, dari menjaga ribuan ulama berikut pengajiannya.

Ansor berikut badan semi otonomnya, Banser terus berkomitmen menjaga NKRI, dari menjaga gereja sebagai peneguhan komitmen kebhinekaan dan Islam Rahmatan Lil Alamin, hingga kegiatan sosial kemasyrakatan.

Menjelang dan paska pembukaan kegiatan diikuti ratusan kader Banser dari berbagai provinsi di Indonesia, Kepala PPON Kemenpora Hendry Ridwan meneriakkan NKRI  disambut dengan jawaban Harga Mati berkali-kali oleh puluhan Banser berikut pengurus Satkornas. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Kyai, Ubudiyah Hari Santri 2019

Jumat, 12 Januari 2018

Pendiri PMII Setuju Organisasi Mahasiswa Islam Ini Kembali ke NU

Jakarta, Hari Santri 2019. Pada tahun 1972, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memutuskan independen dari NU karena kondisi politik saat itu mengharuskan demikian. Di era Orde Baru, jika tidak memisahkan diri dari NU, PMII terancam dibubarkan oleh pemerintah saat itu.

Pendiri PMII Setuju Organisasi Mahasiswa Islam Ini Kembali ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendiri PMII Setuju Organisasi Mahasiswa Islam Ini Kembali ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendiri PMII Setuju Organisasi Mahasiswa Islam Ini Kembali ke NU

“Sekarang, kondisi perpolitikan yang sudah normal. PMII harus kembali pada NU,” kata KH AN. Nuril Huda (76 tahun), salah satu pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kepada Hari Santri 2019 usai menjadi Khotib shalat Jum’at di Masjid An-Nahdlah PBNU, Jakarta, Jum’at (7/11).

Kiai Nuril menerangkan, penyelamatan dan penegakkan ideologi NU di dalam tubuh PMII menjadi sangat penting, sementara secara organisatoris NU tidak bisa mengontrol pergerakan kadernya yang tergabung dalam PMII.

Hari Santri 2019

“Untuk itu, sudah menjadi kewajiban PBNU untuk merangkul dan menjadi keharusan PMII untuk kembali. Itu kewajiban kita bersama berdasarkan Khittah 1926,” tegas mantan Ketua PP LDNU ini.

Kiai Nuril yang juga mantan anggota DPR RI ini juga menjamin, para kader PMII tidak akan terbatasi geraknya jika kembali ke NU.

Hari Santri 2019

“Bagi saya sebagai salah satu pendiri, ideologi Aswaja PMII adalah keyakinan agama. Persoalan indepedensi sudah selesai, bergeraklah sebebas mungkin, tapi tetap harus balik ke rumah,” pungkasnya dengan tegas. (Fathoni/Anam) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara, Aswaja, Kyai Hari Santri 2019

Jumat, 05 Januari 2018

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun

Demak, Hari Santri 2019 - Anggota maupun pengurus NU dituntut untuk selalu komitmen serta eksis memperjuangkan dan mempertahankan ideologi organisasi dalam kondisi apapun dan di manapun. Mereka juga bertanggung jawab untuk menggerakkan organisasi.

“Kita sebagai warga NU wajib memperjuangkan ajaran Ahlus Sunah wal jamaah di manapun dan sampai kapan. Kita harus melestarikan ajaran yang ditinggalkan para ulama NU,” kata pengurus LDNU Demak KH Imam Ghozali saat memberikan taushiyah pada halal bihalal yang diselenggarakan Muslimat NU di halaman Masjid Jami Ploso Desa Temuroso Kecamatan Guntur Kabupaten Demak, Ahad (14/8).

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun

Kiai Ghozali mengingatkan anggota Muslimat NU sudah sewajarnya bila dalam keseharian mengamalkan ajaran Aswaja dan menyebarkannya. Hanya saja di dalam memperjuangkan itu semua harus disesuaikan dengan kemampuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam keluarga masing-masing.

“Anggota Muslimat itu wajib memperjuangkan Aswaja di tengah masyarakat, namun perjuangan panjenengan semua itu harus disesuaikan dengan kemampuan yang perlu izin dan dukungan dari keluarga terutama suami,” tegas kiai Ghozali.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Sementara itu Ketua Muslimat NU Guntur Hj Isfinadhiroh di sela-sela acara kepada Hari Santri 2019 mengatakan, pihaknya sengaja mengundang ulama NU pada acara tersebut untuk memberikan pencerahan dan motivasi pada pengurus dan anggota Muslimat NU agar semakin giat dalam berorganisasi.

“Mumpung pengurus dan anggota Muslimat NU sekecamatan ini kumpul, sengaja pak kiai rawuh-kan untuk memberikan motivasi dan pencerahan pada anggota akan kesadaran membesarkan NU,” tutur Isfinadhiroh.

Hahal bihalal ini diikuti oleh pengurus anak cabang dan ranting Muslimat NU sekecamatan Guntur. Tampak hadir pengurus MWCNU, lembaga dan banom NU tingkat kecamatan serta dihadiri warga sekitar. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Pesantren, Kyai Hari Santri 2019

Selasa, 26 Desember 2017

6 Strategi Peningkatan Mutu Madrasah

Jakarta, Hari Santri 2019 - Hasil penelitian Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kemenag (2016 yang dilakukan di tiga Madrasah Tsanawiyah (MTs) yaitu MTsN 2 Bandar Lampung, MTs Al Hikmah dan MTsN Bukit Raya Pekanbaru menemukan enam strategi peningkatan mutu pendidikan di madrasah.

Pertama, pengembangan kurikulum dan pembelajaran yang berorientasi pada siswa (student centered). Strategi ini lebih mampu memberdayakan pembelajaran siswa yang menekankan pada keaktifan belajar murid, bukan pada keaktifan mengajar guru.

6 Strategi Peningkatan Mutu Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
6 Strategi Peningkatan Mutu Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

6 Strategi Peningkatan Mutu Madrasah

Kedua, pengelolaan kesiswaan yang berfokus pada pelayanan terhadap peserta didik agar mereka berhasil dalam mengikuti proses pembelajaran dan sekaligus dapat memberi harapan semua pihak.

Hari Santri 2019

Ketiga, pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan. Pengelolaan ketenagaan bertujuan? untuk? mendayagunakan tenaga-tenaga kependidikan secara efektif dan efisien guna mencapai hasil yang optimal, namun tetap dalam kondisi yang menyenangkan.

Keempat, pengelolaan sarana prasarana, mulai dari pengadaan, pemeliharaan dan perbaikan, hingga sampai pengembangan. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa madrasah yang paling mengetahui kebutuhan sarana dan prasarana, baik kecukupan, kesesuaian, maupun kemuktahirannya, terutama sarana dan prasarana yang sangat erat kaitannya dengan proses belajar mengajar secara langsung.

Terkait penyediaan sarana prasarana di tiga MTs, dimana? MTsN 2 Bandar Lampung, MTs Al Hikmah dan MTsN Bukit Raya Pekanbaru telah menyediakan beragam fasilitas penunjang peningkatan mutu pendidikan diantaranya mulai dari penyediaan ruangan belajar, kantor kepala, TU dan guru, laboratorium komputer, laboratorium IPA, laboratorium bahasa, gedung olahraga, lapangan upacara, ruang Bimbingan Konseling, ruang UKS/M, sangar pramuka, sanggar seni, perpustakaan, masjid, tempat parkir, pos keamanan, pagar.

Hari Santri 2019

Kelima, pengelolaan pembiayaan. Keuangan di madrasah merupakan bagian yang amat penting karena setiap kegiatan membutuhkan dana. Madrasah? juga? harus? diberikan? kebebasan? untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan, sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah.

MTsN 2 Bandar Lampung dan MtsN Bukit Raya? dana yang digunakan selain adari Bantuan Operasional Sekolah (BOS), juga dari para donatur, keterlibatan orang tua, juga bantuan dana dari Pemda dan lembaga DPRD. Sedangkan MTs Al-Hikmah Bandar Lampung, dana banyak berasal dari kharismatik Kyai pesantren Al-Hikmah Bandar Lampung yang membuat masyarakat mau membrikan sumbangan dana untuk peningktan mutu madrasah.

Keenam, output yang diharapkan. Madrasah harus memiliki output yang diharapkan. Output madrasah adalah prestasi madrasah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di madrasah. Output madrasah diklasifikasikan menjadi dua, yaitu output berupa prestasi akademik (academic achievement) dan output berupa prestasi non akademik (non academic achievement).

Terkait output yang prestasi di madrasah, tiga MTs yang telah diteliti memiliki peserta didik yang mumpuni di bidang akademik, dimana peserta didik telah mendapat NEM yang bagus dan meraih berbagai? kejuaraan di antaranya kejuaraan olimpiade matematika, fisika, biologi. Begitu pula dengan prestasi nonakademik, dimana ketiga Mts yang diteliti telah memiliki penghargaan mulai dari tingkat nasional, tingkat propinsi dan tingkat kab/kota, misalnya kejuaraan pramuka, PMR, seni tari, Silat, Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ). (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kyai, Amalan Hari Santri 2019

Sabtu, 09 Desember 2017

Pelajar NU Kerahkan Relawan ke Longsor Banjarnegara

Banjarnegera, Hari Santri 2019. Pelajar-pelajar NU dari Pekalongan, Kedu dan Banyumas turut berpartisipasi mencari korban bencana longsor yang menerjang Dusun Jemblung, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah pada 12 Desember 2014 lalu.

Corp Brigade Pembangunan (CBP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Korp Kepanduan Putri (KKP) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama dari tiap kabupaten tersebut mengirimkan 10 relawan. Disusul kemudian cabang IPNU lain, yaitu Purbalingga, Batang.

Pelajar NU Kerahkan Relawan ke Longsor Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kerahkan Relawan ke Longsor Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Kerahkan Relawan ke Longsor Banjarnegara

“Kami sangat senang karena banyak rekan-rekan IPNU dari cabang-cabang sekitar yang peduli terhadap bencana longsor di kabupaten kami. Alhamdulillah, mereka juga mengirimkan anggota CBP-nya untuk menjadi relawan,” ungkap Mad Solihin, Ketua Pimpinan Cabang IPNU Banjarnegara, kepada NU Onlline Rabu (17/12).

Hari Santri 2019

Ahmad Yusuf, Ketua PC IPNU Kabupaten Batang yang juga turun sebagai relawan bersama anggotanya menerangkan, bahwa kondisi lokasi longsor masih sangat memperihatinkan.

Hari Santri 2019

Bahkan, tambah dia, dalam proses evakuasi jenazah pada hari Senin pagi kemarin, ia bersama relawan CBP lainnya berhasil menemukan jenazah seorang wanita di dalam mobil yang tertimbun material longsoran.

Melihat kerja keras dari seluruh kader IPNU yang turut serta dalam kegiatan kemanusiaan tersebut, Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat H. Muhammad Nahdhy menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya.

“Kami sangat mengapresiasi kerja keras dari seluruh kader CBP dan IPNU pada umumnya yang telah ikut serta dalam kegiatan kemanusiaan ini,” ungkapnya saat terjun ke lokasi bencana  Rabu (17/12).

Selain dalam bentuk bantuan tenaga untuk pencarian korban longsor, beberapa cabang IPNU juga melakukan penggalangan dana di berbagai daerah untuk membantu para korban longsor.

Kota Pekalongan misalnya, PC IPNU-IPPNU menginstruksikan kepada seluruh PAC IPNU-IPPNU untuk terjun ke komisariat-komisariat dan tempat umum untuk menggalang dana. Begitu pula dengan PC IPNU-IPPNU Banjarnegara dan Batang yang juga melakukan hal yang sama untuk meringankan penderitaan korban longsor. (Slamet Ng/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Pesantren, Kyai Hari Santri 2019

Selasa, 05 Desember 2017

65 Pelajar Karangwareng Ikuti Makesta

Cirebon, Hari Santri 2019 

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Karangwareng Kabupaten Cirebon menggelar kegiatan masa kesetiaan anggota atau Makesta di mushola Darul Mujahidin Desa Karangwareng.

Kegiatan tersebut diikuti oleh 65 peserta yang berasal dari utusan ranting dari desa-desa di Kecamatan Karangwareng dan sekitarnya. Para peserta yang terdiri dari para remaja berkisaran usia antara 14-21 tahun ini nampak antusias dan khidmat mengikuti serangkaian acara yang berlangsung sejak hari Rabu tanggal 2 Januari kemarin.

65 Pelajar Karangwareng Ikuti Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)
65 Pelajar Karangwareng Ikuti Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)

65 Pelajar Karangwareng Ikuti Makesta

Dalam acara tersebut hadir tokoh masyarakat setempat, Kiai Amin Rohaemin yang sekaligus membuka acara makesta tersebut. 

Dalam sambutannya, ia mengatakan ikut merasa bangga dengan adanya kegiatan tersebut, karena berkontribusi positif terhadap perkembangan dan kemajuan pelajar dan pemuda di Kecamatan Karangwareng. 

Hari Santri 2019

“Makesta ini mudah-mudahan bisa menjadi media belajar bagi remaja NU di Kec. Karangwareng tentang kedisiplinan, keNUan, serta menambah kecerdasan sehingga menjadi pelajar-pelajar remaja yang maju dan berkembang,” paparnya.

Hari Santri 2019

Selain itu, hadir pula PC IPNU dan IPPNU Kabupaten Cirebon, yang dalam sambutannya menuturkan sangat apresiatif terhadap kegiatan tersebut.

Menurut penuturan wakil ketua panitia, Mohammad Saefudin, kegiatan Makesta ini merupakan pelatihan singkat tentang organisasi, Aswaja dan kepemudaan. Alasan diadakan kegiatan ini, yang pertama adalah menanamkan nilai-nilai dan paham NU terhadap pelajar dan pemuda, memberikan pengetahuan tentang organisasi, serta sebagai sarana menyatukan para pemuda dan pelajar di Kecamatan Karangwareng. 

Kegiatan makesta ini diisi dengan berbagai materi, seperti Aswaja, kenuan, IPNU dan IPPNU, keorganisasian, manajemen konflik, yang dalam setiap sesi diselah-selahi dengan permainan yang menyegarkan, selain itu di pagi harinya diadakan senam dan tadabbur alam. 



Kontributor: Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Meme Islam, Kyai Hari Santri 2019

Jumat, 24 November 2017

Perlindungan Pekerja di Era Digitalisasi Ekonomi Perlu Kepastian

Jakarta, Hari Santri 2019 - Kepastian perlindungan bagi pekerja di era digitalisasi ekonomi perlu dipikirkan serius. Demikian penegasan Irham Ali Saifuddin, dari Departemen Pendidikan dan Ketenagakerjaan PP GP Ansor, di Jakarta, Sabtu (30/7).

Menurut Irham, digitalisasi ekonomi meliputi semua lini, mulai transportasi, media, hiburan dan seterusnya merupakan potret dari masa depan dunia kita atau future of work. Dimana selain akan memudahkan manusia melalui efesiensi, ketepatan, kecepatan dan tingginya produktivitas, teknologi juga akan memakan korban tenaga kerja konvensional.

Perlindungan Pekerja di Era Digitalisasi Ekonomi Perlu Kepastian (Sumber Gambar : Nu Online)
Perlindungan Pekerja di Era Digitalisasi Ekonomi Perlu Kepastian (Sumber Gambar : Nu Online)

Perlindungan Pekerja di Era Digitalisasi Ekonomi Perlu Kepastian

"Masa depan dunia kita tidak lagi dibatasi pada hubungan industrial. Makin ada migrasi besar-besaran dari pola formal menjadi ekonomi informal dalam dunia industri. Rantai pasok global akan diwarnai dengan sistem kerja dengan pola hubungan industrial yang absurd," paparnya.

Contoh konkrit dari beragam jasa transportasi online. "Kita dihibur dengan istilah kemitraan, padahal mas-mas dan mbak-mbak driver itu jelas-jelas pekerja. Celakanya, faktor produksi seperti sepeda motor, mobil hingga bbm yang seharusnya menjadi bagian dari employer (pengusaha) malah dibebankan kepada pekerja. Ini celaka 13 milyar. Itu tantangan kita ke depan," kata Irham lagi.

Hari Santri 2019

Fakta lain, imbuhnya, kerja di jasa transportasi online atau industri IT seperti web developer sudah tidak kenal dengan namanya jam kerja. "Bahkan orang harus memiliki lebih dari satu pekerjaan untuk mencukupi kebutuhannya. Artinya, selain memiliki lebih dari satu hubungan kerja, ia juga dipaksa dengan jam-jam kerja yang lebih panjang," kata dia lagi.

Hari Santri 2019

Ia menambahkan, produktivitas yang tinggi berkat bantuan digitalisasi, akan langsung memukul daya bargain manusia sebagai pekerja untuk mendapatkan upah yang lebih layak. Digitalisasi akan membuat upah menjadi sangat kompetitif atau semakin murah.

"Pada tahun 2030 dimana kita akan mengalami ledakan jumlah penduduk muda yang tentu saja merupakan angkatan kerja muda kita. Jika tidak disikapi dengan bijak dari sekarang, demographic deviden atau bonus demografi yang semestinya bisa menjadi berkah bagi perekonomian Indonesia, bisa berbalik arah menjadi musibah," demikian Irham Ali Saifuddin. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kyai, Tegal Hari Santri 2019

Jumat, 10 November 2017

Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh

Jakarta, Hari Santri 2019. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mendoakan mereka yang masih lajang pada tahun ini agar mendapatkan jodoh pada 2017.

"Teman-teman semua selamat tahun baru, sukses semuanya. Yang belum ada jodoh mudah-mudahan cepat dapat jodoh," ujar Mensos di Jakarta, Sabtu.

Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Baru, Khofifah Doakan Para Lajang Dapat Jodoh

Doa Mensos tersebut disambut ucapan amin yang riuh dari awak media yang tengah meliput kunjungan Mensos menjenguk korban selamat dari peristiwa penyekapan Pulomas di RS Kartika Pulomas.

Mensos juga mendoakan bagi mereka yang belum mendapatkan keturunan agar segera mendapatkan anak.

"Pokoknya bahagia, sukses semua. Terima kasih," ucap Mensos.

Hari Santri 2019

Mensos direncanakan akan memberikan ceramah pada kegiatan Dzikir Nasional yang digelar harian Republika di Masjid At Tin, TMII, Jakarta Timur.

Kemudian, Mensos akan menghabiskan malam pergantian tahun di kampung halamannya di Jawa Timur. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Tokoh, Bahtsul Masail, Kyai Hari Santri 2019

Sabtu, 26 Agustus 2017

Kiai Afif: Belanjalah di Pedagang Kecil daripada Minimarket Waralaba

Jakarta, Hari Santri 2019. Katib Syuriyah PBNU KH Afifuddin Muhajir memandang perlunya keberpihakan para kiai NU terhadap pedagang kecil. Menurut Kiai Afif, di tengah menjamurnya minimarket waralaba yang mendesak masuk hingga perkampungan, para kiai penting mengingatkan masyarakat untuk mengutamakan belanja di warung-warung kecil.

“Saya melihat bagaimana nasib-nasib pedagang kecil kita. Kita mesti tergerak untuk membela mereka,” kata Kiai Afif di Jakarta, Sabtu (28/2) pagi.

Kiai Afif: Belanjalah di Pedagang Kecil daripada Minimarket Waralaba (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Afif: Belanjalah di Pedagang Kecil daripada Minimarket Waralaba (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Afif: Belanjalah di Pedagang Kecil daripada Minimarket Waralaba

Pasalnya, uang yang masuk ke minimarket seperti Indomart, Alfamart, dan sejenisnya, tidak lagi kembali ke masyarakat tetapi menguap ke luar.

Hari Santri 2019

Meskipun begitu, kata Kiai Afif, kita harus mengakui bahwa ketidakberdayaan pedagang kecil kita tidak semata kesalahan kebijakan negara tetapi juga kesalahan dari diri kita sendiri.

Hari Santri 2019

“Kalau butuh rokok atau air mineral, saya sengaja menghindari toko-toko minimarket. Saya pilih lari ke warung kecil,” ujar penulis kitab syarah Taqrib, Fathul Mujibil Qarib. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Internasional, Kyai Hari Santri 2019

Kamis, 03 Agustus 2017

Khilafiyah Ulama Soal Memperlama Sujud atau Berdiri di Shalat Malam

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Perkenalkan nama saya Saifuddin, kelahiran Jakarta. Yang ingin saya tanyakan mengenai shalat malam, mana yang harus diperlama atau diperpanjang, berdiri atau sujud? Saya pernah mendengar sekilas dari teman saya, ada perbedaan para ulama dalam hal ini. Saya mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Saifuddin/Jakarta)

Khilafiyah Ulama Soal Memperlama Sujud atau Berdiri di Shalat Malam (Sumber Gambar : Nu Online)
Khilafiyah Ulama Soal Memperlama Sujud atau Berdiri di Shalat Malam (Sumber Gambar : Nu Online)

Khilafiyah Ulama Soal Memperlama Sujud atau Berdiri di Shalat Malam

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa shalat sunah malam adalah shalat sunah yang memang dilakukan pada malam hari, seperti tarawih dan tahajud.

Hari Santri 2019

Sedangkan mengenai persoalan perbedaan para ulama mengenai memanjangkan berdiri atau sujud dalam shalat malam, maka sepanjang yang kami ketahui memang ada perbedaan para ulama. Setidaknya ada tiga pandangan yang bisa diketengahkan. Hal ini mengacu pada keterangan yang dikemukakan Muhyiddin Syarf An-Nawawi Syarah Shahih Muslim-nya.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kondisi paling dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya adalah pada saat ia sujud. Karenanya, perbanyaklah doa.”

Hari Santri 2019

Pesan penting yang terkandung hadits ini adalah bahwa saat sujud merupakan kondisi paling dekatnya seorang hamba dengan rahmat dan karunia Allah SWT. Oleh karena itu hadits tersebut dijadikan salah satu dalil oleh para ulama yang menyatakan bahwa sujud itu lebih utama dibanding berdiri dan dari semua rukun shalat lainnya.

? ? ? ? ? ? ( ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Sabda Nabi SAW, ‘Kondisi paling dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya adalah pada saat ia sujud. Karenanya perbanyaklah doa.’ Maksud sabda Nabi ini adalah saat paling dekatnya seorang hamba dengan rahmat dan karunia-Nya. Sabda ini memuat pesan anjuran penting untuk berdoa ketika sujud. Di samping itu juga merupakan dalil yang digunakan oleh para ulama yang menyatakan bahwa sujud itu lebih utama dibanding berdiri dan semua rukun shalat,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Al-Minhaj Syarhu Shahihi Muslim Ibnil Hajjaj, Beirut, Daru Ihya`it Turatsil Arabi, cet kedua, 1392 H, juz IV, halaman 200).

Menurut An-Nawawi, ternyata dalam masalah ini terdapat tiga pandangan. Pandangan pertama menyatakan bahwa memperpanjang sujud dan memperbanyak rukuk dengan memperbanyak jumlah rakaat itu lebih utama. Demikian sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi, Al-Baghawi dari sekelompok para ulama. Di antara mereka yang berpandangan demikian adalah Ibnu Umar RA.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dalam masalah ini terdapat tiga pandangan. Pertama, pandangan yang menyatakan bahwa mempanjang sujud dan memperbanyak ruku itu lebih utama. Demikian sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Al-Baghawi serta sekelompok para ulama. Di antara mereka yang berpandangan lebih utama memanjangkan sujud adalah Ibnu Umar RA,” (Lihat An-Nawawi, Al-Minhaj Syarhu Shahihi Muslim ibnil Hajjaj, juz IV, halaman 200).

Pandangan kedua menyatakan bahwa memperpanjang berdiri lebih utama karena didasarkan pada hadits riwayat Jabir yang terdapat dalam Shahih Muslim, yang menyatakan bahwa Nabi SAW, “Shalat yang paling utama adalah yang panjang qunutnya.” Apa yang dimaksud “qunut” dalam hadits ini adalah berdiri. Pandangan ini dianut oleh Madzhab Syafi‘i dan sekelompok ulama.

Argumentasi rasional yang diajukan untuk mendukung pandangan ini adalah karena zikir dalam berdiri adalah membaca ayat, dan dalam sujud adalah membaca tasbih. Sedangkan membaca ayat tentunya lebih utama karena mengacu pada praktik (al-manqul) Rasulullah SAW, yaitu beliau lebih memperpanjang durasi berdiri daripada memperlama sujud.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Kedua, pandangan dari Madzhab Syafi‘i dan sekelompok para ulama yang menyatakan bahwa memanjangkan berdiri itu lebih utama karena didasarkan pada hadits riwayat Jabir RA dalam Shahih Muslim yang menyatakan bahwa Nabi SAW bersabda, ‘Shalat yang paling utama adalah yang panjang qunutnya.’ Yang dimaksud ‘qunut’ dalam konteks ini adalah berdiri. Zikir dalam berdiri adalah membaca ayat, dan dalam sujud adalah membaca tasbih. Sedangkan membaca ayat itu lebih utama karena sesuai dengan yang diriwayatkan (al-manqul) dari Nabi SAW di mana beliau memperlama berdiri lebih banyak daripada sujud,” (Lihat An-Nawawi, Al-Minhaj Syarhu Shahihi Muslim ibnil Hajjaj, juz IV, halaman 200).

Pandangan ketiga lebih memilih untuk menyamakan sujud dan berdiri. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal bersikap abstain (tawaqquf) dan tidak memberikan memberikan komentar dalam masalah ini. Demikian sebagaimana keterangan yang dikemukakan An-Nawawi.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pendapat ketiga menyatakan bahwa keduanya (berdiri dan sujud) adalah sama. Dalam konteks ini imam Ahmad bin Hanbal tidak memberikan komentar (bersikap tawaqquf) dan tidak mengambil putusan apapun,” (Lihat An-Nawawi, Al-Minhaj Syarhu Shahihi Muslim ibnil Hajjaj, juz IV, halaman 200).

Dari ketiga pandangan tersebut, ternyata ada pandangan berbeda yang diketengahkan An-Nawawi, yaitu pandangan Ibnu Rahawaih. Menurut Ibnu Rahawaih, jika siang hari, maka memperbanyak ruku dan sujud (memperbanyak jumlah rakaat) itu lebih utama.

Adapun jika malam hari maka lebih utama memanjangkan berdiri kecuali bagi orang yang memilik wazhifah menyelesaikan satu juz Al-Quran, maka lebih utama baginya memperbanyak rakaat dan cukup menyelesaikan satu juz dibagi ke beberapa rakaat. Karena dengan ini ia bisa memperoleh dua hal sekaligus, yaitu membaca satu juz Al-Quran yang menjadi wazhifahnya sekaligus memperbanyak rakaat.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut Ibnu Rahawaih, kalau shalat di siang hari maka memperbanyak ruku dan sujud itu lebih utama. Sedangkan pada malam hari maka memperpanjang berdiri itu lebih utama, kecuali bagi orang yang memiliki beban untuk menyelesaikan satu juz Al-Quran dalam satu malam, maka ia lebih untuk memperbanyak rukuk dan sujud. Sebab, ia membaca juz yang menjadi bagiannya dan memperoleh keuntungan dengan banyaknya ruku dan sujud,” (Lihat An-Nawawi, Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim ibnil Hajjaj, juz IV, halaman 200-201).

Menurut At-Tirmidzi, pandangan Ibnu Rahawaih itu mengacu pada riwayat yang menggambarkan bahwa sifat shalat malam Rasulullah SAW adalah memanjangkan berdiri. Sedangkan shalat siangnya tidak digambarkan beliau memanjangkan berdiri sebagaimana shalat malamnya. Demikian yang kami pahami dari keterangan berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut At-Tirmidzi apa yang dikemukakan Ibnu Rahawaih ini karena mereka menyifati shalat malamnya Nabi SAW dengan panjang berdirinya, berbeda dengan shalat siangnya. Wallahu a‘lam,” (Lihat An-Nawawi, Al-Minhaj Syarhu Shahihi Muslim ibnil Hajjaj, juz IV, halaman 200).

Demikian perbedaan pandangan para ulama mengenai soal memanjangkan berdiri atau sujud dalam shalat malam. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Maafi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Sholawat, Kyai, Kajian Hari Santri 2019

Sabtu, 22 Juli 2017

Pengakuan

Oleh Mamam Imanul Haq

Jika Imam Syafi’i merasa mendapat bencana saat melihat betis gadis yang tak sengaja tersingkap.?

Aku malah merasa mendapat nikmat meski tak diungkap.

Pengakuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengakuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengakuan

Jika Umar menginfakkan kebun yang membuatnya ketinggalan shalat ashar.?

Aku malah biasa saja berulang kali tertinggal meski azan terdengar.

Jika Urwah bin Zubair tak terganggu salatnya saat pisau bedah mengamputasi kaki.

Aku bahkan terganggu hanya karena nyamuk yang menggigit ibu jari.

Hari Santri 2019

Jika Nabi Ibrahim as. sangat menyesal karena pernah berbohong meski seumur hidup hanya tiga kali.

Aku malah santai saja meski jumlah dustaku sudah tak terhitung lagi.

Jika ‘Aisyah menyesali mengatakan “Shafiyah Si Pendek” yang bisa mengubah warna lautan.?

Hari Santri 2019

Lalu bagaimana dengan gunjingan dari mulutku? Mungkin bisa membuat seluruh samudra menjadi busuk dan pekat kehitaman.

Jika Umar bin Abdul Azis bergetar menahan istrinya berbicara di ruangan yang diterangi pelita minyak yang dibiayai negara.

Aku malah keasyikkan menggunakan fasiltas perusahaan seakan milikku saja.

Jika serpihan pagar kayu rumah orang yang dijadikan tusuk gigi bisa membuat “Sang Kyai” tertahan untuk masuk surga.

Aku malah woles saja menikmati mangga hasil jarahan kebun tetangga.

Sudah begitu … pede pula meminta surga.

Astaghfirullah!

Memang hari ini dunialah yang nyata dan akhirat hanya cerita.

Namun sesudah mati, akhiratlah yang nyata dan dunia tinggal cerita.

Ya, Allah ampuni hamba!

*judul asli? Itiraf Saat Macet

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Pemurnian Aqidah, Kyai Hari Santri 2019

Senin, 19 Juni 2017

Inilah Kiai-kiai pada Pameran Sang Kekasih

Jakarta, Hari Santri 2019?



Wajah kiai-kiai Nusantara dihadirkan pada pameran tunggal lukisan karya Nabila Dewi Gayatri bertema “Sang Kekasih” di Grand Sahid Jaya, Jakarta. Pameran yang dibuka Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada Senin (8/5) akan berlangsung sampai Ahad (14/5).?

Jika datang dari depan lokasi pamaren, pengunjung akan melihat dua lukisan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan ukuran paling besar di kiri dan kanan. Kemudian di sebelah kanan ada lukisan bernama Jimat NU. Lukisan itu memuat memuat tiga kiai dari kakek hingga cucu, yaitu lukisan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, Gus Dur, dan KH Wahid Hasyim.?

Inilah Kiai-kiai pada Pameran Sang Kekasih (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Kiai-kiai pada Pameran Sang Kekasih (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Kiai-kiai pada Pameran Sang Kekasih

Kemudian masih di sebelah kanan, ada lukisan Gus Dur sendirian, lukisan KH Said Aqil Siroj, Hadratussyekh KH Hasyim Asya’ri, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Sansoeri, KH Ali Maksum, KH Ahmad Shiddiq, KH M. Ilyas Ruhiat, KH Sahal Mahfudh, KH A. Mustofa Bisri, KH Ma’ruf Amin, Syekh Nawawi Al-Bantani.

Sementara di sebelah kiri, masih dari sudut pandang pengunjung yang datang dari pintu masuk, berderet lukisan KH Hasan Gipo, KH A. Wahid Hasyim, KH Idham Chalid, Gus Dur, KH Hasyim Muzadi, KH Said Aqil Siroj, Syaikhona Kholil Bangkalan.?

Jika pengunjung berbelok ke kiri, akan melihat lukisan KH Chodlori, KH Maimoen Zubair, Habib Luthfi bin Yahya.

Hari Santri 2019

Sementara di sisi kanan, deretan selepas lukisan Syekh Nawawi Al-Bantani dan KH Asnawi Kudus, ada lukisan KH Ihsan Jampes, KH Zainuddin Mojosari, KH Abdul Karim, KH Ridwan Abdullah, KH Hasan Genggong, KH Romly Tamim, KH Sholeh Darat, KH Abbas Buntet.

Kemudian di sisi kiri KH Sya’roni Ahmadi, KH Anwar Musaddad, KH Saifuddin Zuhri, KH Adlan Aly, KH Rifai Muslim Imampura, KH M. Ustman Al-Ishaqi, KH Moenasir Ali, KH Umar Mangkuyudan, KH Ali Yafie, KH Abdul Hamid Pasuruan, KH Abdurrahman Wahid, KH Idham Chalid, KH Hamim Tohari Djazuli, KH As’ad Syamsul Arifin.

Menurut Nabila, lukisan tersebut diambil dar foto yang tersebar di Google dan ada yang diminta langsung dari keturunannya. Soal pemilihan pose dari beberapa foto yang ada, itulah pose yang berkarakter. (Abdullah Alawi)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kyai Hari Santri 2019

Minggu, 21 Mei 2017

Dari Ihya Ulumiddin: Membela Al-Qur’an dengan Akhlak Mulia

Sore itu Ujang mengobrol dengan Haji Yunus. Di meja beliau ada kitab Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali. Ujang lantas bertanya: "Banyak Ustad yang menekankan pentingnya kita ber-akhlak seperti akhlak Nabi Muhammad. Wak Haji, seperti apa sih akhlak Nabi kita itu?

Haji Yunus menarik sarungnya yang lusuh, lantas membuka kitab Ihya di depannya, "Mari Ujang kita ngaji bersama untuk menjawab pertanyaanmu itu". Haji Yunus membaca dan menerjemahkannya:

Dari Ihya Ulumiddin: Membela Al-Qur’an dengan Akhlak Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Ihya Ulumiddin: Membela Al-Qur’an dengan Akhlak Mulia (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Ihya Ulumiddin: Membela Al-Qur’an dengan Akhlak Mulia

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? {? ? ?} ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hari Santri 2019

Nabi selalu memohon kepada Allah SWT supaya dihiasi dengan adab yang baik serta akhlak terpuji. Dalam doanya, beliau membaca: Ya Allah, baguskanlan rupa dan akhlakku. Dan beliau juga berdoa: "Ya Allah, jauhkan aku dari akhlak yang munkar," maka Allah mengabulkan doa beliau sesuai dengan firmanNya "Berdoalah kepada-Ku niscaya Kuperkenankan (permintaan) kamu itu" (QS al-Mumin: 60). Allah turunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dan dijadikan Al-Qur’an itu bahan pengajaran adab, maka jadilah akhlak Nabi Muhammad itu (seperti isi) Al-Qur’an.

Hari Santri 2019

Said bin Hisyam berkata, "Aku masuk menemui Siti Aisyah RA dan bertanya tentang akhlak Rasulullah Saw." Aisyah menjawab dan bertanya, "Apakah engkau membaca Al-Qur’an?" Aku menjawab, "Iya." Aisyah menjawab, "Akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur’an."

**

Haji Yunus berkata: "Ujang, kalau akhlak Nabi itu Al-Qur’an, maka mari kita simak sejumlah ayat Al-Qur’an untuk memahami akhlak beliau SAW". Haji Yunus meneruskan membaca kitab Ihya:

? ? ? ? ? ? {? ? ? ? ? ? ?} ? {? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?} ? {? ? ? ? ? ? ? ? ?} ? {? ? ? ? ? ? ? ?} ? {? ? ? ? ? ? ?} ? {? ? ? ? ? ? ? ?} ? {? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?} ? {? ? ? ? ? ? ? ?} ? {? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?} ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? {? ? ? ? ?} ? ? ? ?

Sungguh Al-Qur’an mengajarkan Rasulullah SAW adab kesantunan sebagaimana dalam ayat, "Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang maruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh." (QS al-Araf: 199)

Di lain ayat, Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan." (QS al-Nah,: 90)

Dan firman Allah, "Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)." (QS Luqman:17)

Begitu juga dengan ayat "Orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan" (QS Asy-Syura: 43) dan "Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik" (QS al-Maidah:13). Kemudian, "Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?" (QS al-Nur:22).

Lanjut dengan ayat "Dan yang sanggup menahan marahnya, serta orang- orang yang mema’afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan" (QS Ali Imran:134) dan "jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain" (QS al-Hujurat:12).

Pada perang Uhud, gigi geraham Nabi patah sehingga darah mengucur keluar dan membasahi wajah beliau. Nabi berkata, "Bagaimana suatu kaum akan selamat jika mereka melumuri wajah Nabi mereka dengan darah, sedangkan Nabi mereka mengajak mereka kepada Tuhan" maka, Allah Swt menurunkan ayat, "Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu" (QS Ali Imran:128). Ayat-ayat ini bermakna membimbing Rasulullah SAW atas kejadian yang tengah dihadapinya.

**

Haji Yunus mulai berkaca-kaca matanya. Ujang terdiam menundukkan kepalanya. Haji Yunus meneruskan membaca kitab Ihya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? {? ? ? ?}

Ayat yang senada seperti di atas banyak dijumpai dalam Al-Qur’an. Semuanya itu dimaksudkan mula-mula yaitu untuk membimbing dan mengarahkan Nabi Saw. Dengan itu, maka sinar pelajaran dari Al-Qur’an dapat menyebar ke seluruh manusia.

Itulah sebabnya Rasulullah SAW bersabda: "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia". Setelah Allah menyempurnakan akhlak beliau, lalu Allah memujinya: "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung" (QS al-Qalam:4).

**

Ujang mengangkat tangan, "Wak Haji, adakah contoh praktis dari akhlak Nabi SAW?"

"Iya, ada..." Haji Yunus kemudian lompat ke lembaran berikutnya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ketika didatangkan sekelompok tawanan Thayyi-in, di antara tawanan tersebut ada seorang gadis belia. Dia berkata, "Hai Muhammad, sudikah engkau membebaskan aku, dan tidak mengecewakan musuh-musuhmu serta tidak mempermalukan orang-orang Arab? Sesungguhnya, aku adalah putri seorang pemimpin di kaumku. Bapakku bertugas melindungi daerahku, membebaskan tawanan, memenuhi kebutuhan orang yang membutuhkan, memberi makan, menyebarkan salam dan tidak pernah mengusir seseorang yang datang kepadanya untuk suatu keperluan. Aku adalah putri dari Hatim al-Thai"

Rasulullah Saw berkata, "Wahai budak perempuan, yang kamu sebut adalah semuanya sifat orang-orang mumin. Andaikata bapakmu seorang Muslim, niscaya kami akan mendoakan rahmat baginya." Nabi lalu memerintahkan, "Bebaskan dia, sesungguhnya bapaknya menyenangi budi pekerti yang mulia." Lalu bangun berdiri Abu Bardah bin Niar, seraya-berkata : "Wahai Rasulullah! Allah menyukai akhlaq yang mulia!" Nabi Menjawab: "Demi Allah yang nyawaku dalam kekuatan-Nya! Tiada yang masuk surga kecuali orang yang bagus akhlaknya"

**

"Sampai di sini, mengertikah kamu, Ujang, bahwa Nabi pun memghormati akhlak non-Muslim dan menyanjungnya. Kita tentu malu sekarang kalau non-Muslim lebih banyak yang mengamalkan akhlak mulia ketimbang kita para pengikut Nabi Muhammad," tegas Haji Yunus. Beliau melanjutkan menerjemahkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Muaz bin Jabal, Nabi Bersabda: "Sesungguhnya, Islam meliputi akhlak-akhlak yang terpuji dan perilaku yang baik." Adapun contoh dari akhlak yang terpuji adalah pergaulan yang baik, perbuatan terpuji dan perkataan yang lemah lembut, melakukan perbuatan yang maruf, memberi makan tamu, menyebarkan salam, menziarahi orang Muslim yang sakit baik yang akhlaknya baik maupun yang buruk, mengantarkan jenazah Muslim, berlaku baik kepada tetangga baik yang Muslim maupun yang Kafir, memuliakan yang lebih tua, menghadiri undangan perjamuan makan dan mendoakannya, suka memaafkan, senang mendamaikan, bersifat pemurah, mulia, toleran, memulai memberi salam, menahan amarah dan memberi maaf orang yang minta maaf.

**

Haji Yunus menghela napas. "Masih panjang pembahasan comtoh-contoh akhlak Nabi yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya ini. Silakan dibaca sendiri. Tapi intinya kamu sudah paham belum?"

Ujang mengangguk: "Intinya adalah akhlak Nabi itu Al-Qur’an."

Haji Yunus berkata: "Benar! Maka kalau kita bertekad membela Al-Qur’an maka kita harus membelanya lewat akhlak Nabi Muhammad yang digambarkan begitu indah dalam Al-Qur’an. Tentu mengherankan kalau kita hendak membela Al-Qur’an tapi dilakukan dengan cara yang jauh dari nilai-nilai akhlak yang terkandung dalam Al-Qur’an dan terwujud dalam contoh budi pekerti Nabi Muhammad yang agung."

Spontan Ujang berteriak: "takbiiirrrr!!!"

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, Pendidikan, Kyai Hari Santri 2019

Selasa, 12 April 2016

Bupati Hadiri Konferensi Cabang IPPNU Sumenep

 Sumenep, Hari Santri 2019

Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nadhatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Sumenep menggelar Konferensi Cabang XIX di SKD Kecamatan Batuan. Acara dihadiri PW IPPNU Jatim, PAC IPPNU beserta Badan Otonom (Banon) NU dan Organisasi Kepemudaan (OKP) di lingkungan Kabupaten Sumenep.

Ketua Pimpinan Wilayah IPNU Jatim, Nurul Hidayati menyampaikan apresiasi yang setinggi tingginya atas terselenggaranya konfrensi ini. “Kita harus bangga kepada kader muda NU dalam hal ini rekan dan rekanita IPNU dan IPPNU yang lambat laun semakin  berbenah diri,” katanya, Sabtu (23/12).

Bupati Hadiri Konferensi Cabang IPPNU Sumenep (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Hadiri Konferensi Cabang IPPNU Sumenep (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Hadiri Konferensi Cabang IPPNU Sumenep

Menurutnya, kendati banyak pelajar NU yang tampil di berbagai kegiatan, namun mereka tidak menghilangkan jati dirinya sebagaimana pelajar dan juga perempuan.

Kegiatan tersebut juga dihadiri Bupati Sumenep, KH. Abuya Busyro Karim yang sekaligus secara resmi membuka acara.

Selanjutnya ada pemberian cinderamata kepada PCNU dan Majlis Alumni IPNU-IPPNU sebagi tanda terimakasih  atas sumbangsihnya selama ini. (Mahrus Ali/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Pemurnian Aqidah, Kyai Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Rabu, 20 Mei 2015

Gelar Safari Jumat, PCNU Kota Kraksaan Sapa Warga NU

Probolinggo, Hari Santri 2019 - Sarana untuk memperkokoh aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di kalangan warga NU bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya melalui Safari Jum’at yang dilakukan secara istiqamah oleh PCNU Kota Kraksaan ke tiap-tiap Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) secara bergantian.

Safari Jum’at yang diikuti oleh warga NU di masing-masing MWCNU ini dihadiri oleh Mustasyar, Katib Syuriyah, Rais Syuriyah, dan Tanfidziyah PCNU Kota Kraksaan. Tidak ketinggalan pula para pengurus lembaga dan badan otomom (banom) PCNU Kota Kraksaan.

Gelar Safari Jumat, PCNU Kota Kraksaan Sapa Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Safari Jumat, PCNU Kota Kraksaan Sapa Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Safari Jumat, PCNU Kota Kraksaan Sapa Warga NU

Sekretaris PCNU Kota Kraksaan H Fauzan Hafidhi mengatakan, Safari Jum’at ini digelar dengan tujuan untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan memperkokoh pemahaman aqidah Aswaja di kalangan warga NU.

Hari Santri 2019

“Setiap Jum’at, pengurus PCNU Kota Kraksaan biasanya melakukan Safari Jum’at di 5 hingga 7 masjid di setiap MWCNU. Agenda utamanya adalah menyapa warga NU sebagai upaya penguatan aqidah Aswaja,” katanya, Ahad (13/3).

Fauzan menegaskan bahwa Safari Jum’at ini merupakan salah satu media untuk lebih mendekatkan diri kepada masyarakat sekaligus untuk memberikan contoh langsung dalam menjalankan ibadah, khususnya Shalat Jum’at.

Hari Santri 2019

“Saat ini sudah bukan zamannya lagi memberikan wacana dan teori. Sebab yang dibutuhkan masyarakat adalah bukti nyata dan keteladan seorang pemimpin agar dapat diikuti oleh masyarakat,” jelasnya.

Menurut Fauzan, usai melakukan Safari Jum’at para pengurus PCNU Kota Kraksaan selanjutnya berkumpul di Kantor MWCNU untuk membahas persoalan yang dihadapi oleh warga NU di setiap masjid yang dikunjungi.

“Hasil dari serap aspirasi lewat Safari Jum’at ini nantinya kami bahas dalam agenda rapat kerja pengurus di Kantor PCNU Kota Kraksaan. Hal-hal yang memang sifatnya urgen nantinya kami jadikan sebagai program prioritas sambil dipadukan dengan program kerja PCNU Kota Kraksaan yang sudah di bahas dalam Musker (Musyawarah Kerja, Red),” terangnya.

Melalui Safari Jum’at ini jelas Fauzan, nantinya para pengurus di tingkat cabang bisa melihat langsung kondisi masyarakat di bawah sehingga bisa menyusun program kerja yang strategis sesuai dengan harapan masyarakat. “Tekad kami ingin memberikan manfaat kepada masyarakat sebesar-besarnya,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kyai Hari Santri 2019

Rabu, 26 November 2014

Satu Suro, Ada Tradisi Kirap Tumpeng dan Hasil Bumi di Jepara

Jepara, Hari Santri 2019. Dalam rangka menyambut tahun baru 1437 hijriyah, berbagai kegiatan digelar di Jepara, Jawa Tengah. Salah satunya adalah doa bersama dan kirab tumpeng dan gunungan hasil bumi dengan iringan musik tradisional.

Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) setempat dengan Karang Taruna Jaka Tarub Desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Satu Suro, Ada Tradisi Kirap Tumpeng dan Hasil Bumi di Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Satu Suro, Ada Tradisi Kirap Tumpeng dan Hasil Bumi di Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Satu Suro, Ada Tradisi Kirap Tumpeng dan Hasil Bumi di Jepara

Acara yang berlangsung dari siang hingga malam hari ini dilaksanakan di kompleks Sendang Bidadari Daren, Nalumsari Jepara, Selasa siang (13/10). Hadir dalam kesempatan itu para sesepuh desa setempat, ulama, kepala desa, BPD, dan ratusan masyarakat Jepara, Kudus dan sekitarnya.

Hari Santri 2019

Umi Lathifah selaku panitia mengatakan, kegiatan doa bersama dan kirab tumpeng gunungan hasil bumi ini merupakan kegiatan yang sudah turun menurun sejak puluhan tahun silam. Acara ini rutin dilaksanakan untuk mendekatkan masyarakat dengan tradisi lokal mereka.

"Agar masyarakat lebih sadar akan tradisi dan juga semakin mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa taala," kata mahasiswi Universitas Muria Kudus ini.

Hari Santri 2019

Acara doa bersama dan kirab tumpeng gunungan hasil bumi ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan IPNU-IPPNU dan Karang Taruna Jaka Tarub Desa Daren untuk membuka dimulainya tradisi satu syuro Sendang Bidadari desa setempat. Ratusan warga dari berbagai daerah Jepara, Kudus dan sekitarnya berbondong-bondong datang untuk mengharap berkah dari Allah melalui air Sendang Bidadari untuk kesehatan dan sebagainya. (Yusrul Wafa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Internasional, Halaqoh, Kyai Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock