Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2018

Zikir Bisa Cegah Penyalahgunaan Kekuasaan

Gorontalo, Hari Santri 2019. Pimpinan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf (MPTT) Asia Tenggara Abuya Syekh H Amran Waly Al-Khalidi menyatakan, Zikir Tauhid Tasawuf bisa membersihkan batin kita dari hudud (mencari keuntungan diri). Zikir Tauhid Tasawuf juga dapat membersihkan hati dari merasa bangga dengan yang telah Allah titipkan pada kita seperti ilmu pengetahuan, harta, jabatan, kedudukan.

“Semua itu milik Allah SWT semata yang dilimpahkan kepada kita untuk dipergunakan sesuai dengan ridha-Nya dengan jalan mensyukuri dan mempergunakan untuk memberikan manfaat bagi saudara-saudara kita sebagai hamba Allah di muka bumi ini,” ujar Abuya di hadapan ribuan jamaah yang menghadiri Kota Serambi Madinah Berzikir, Senin (13/11), di Gorontalo.  

Zikir Bisa Cegah Penyalahgunaan Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Zikir Bisa Cegah Penyalahgunaan Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Zikir Bisa Cegah Penyalahgunaan Kekuasaan

(Baca: Ulama Tasawuf Asia Tenggara Berkumpul di Gorontalo)

Hari Santri 2019

Lalu, zikir seperti apa yang bisa membuat kita sadar bahwa semua yang kita miliki adalah amanah Allah semata? Abuya memberikan petunjuk.

"Sebelum berzikir kita harus meyakini (itikad) bahwa diri kita adalah budak yang hina, banyak dosa dan kesalahan, mengharap keampunan fadhal Allah dan menyesali dosa-dosa yang telah kita lakukan serta tidak berkemauan untuk melakukannya lagi," katanya.

Selain itu, kita hendaknya merasa orang yang paling jelek dari sekalian makhluk, sekalipun dengan orang yang berbuat kesalahan, karena mereka ini kesalahannya dimaafkan oleh Allah, sementara untuk kita tidak ada maaf. 

“Kita juga hendaknya idhtirar yakni berhajat kepada Allah, tidak putus asa dari amalan pekerjaan yang telah kita lakukan, agar terlihat kelembutan kilat cahaya kasih sayang Allah SWT,” tutur Abuya.

Menurut Abuya, zikir merupakan kendaraan atau ibarat pesawat yang membawa kita terbang meninggalkan alam fana (khalqiyah) dunia ini serta diri kita, menuju kepada Alam Uluhiyah. 

Hari Santri 2019

Lebih lanjut Abuya menegaskan, jika kita sudah bisa berzikir seperti di atas, maka kita akan menjunjung tinggi perintah dan larangan Allah SWT dengan mudah, tidak ada rasa berat melakukannya. Kita juga akan memiliki akhlak mulia, karena percaya penuh dengan ketentuan (qadar) Allah SWT, sebab segala sesuatu tidak lepas dari qadar Allah SWT.

"Kita akan terbebas dari berpikir melakukan sesuatu yang bertentangan dengan qadar ketentuan Allah SWT, sehingga kita dapat bermakrifat, bertauhid yang benar, karena telah mendapat cahaya hakikat dan berhakikat untuk melepaskan syirik khafi dan batin kita," tandasnya.

Sementara itu Pimpinan Pondok Pesantren Raudhatul Hikam, Cibinong, Bogor Syekh KH Zein Djarnuzi yang memimpin zikir dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa barang siapa yang berzikir dengan mengucap laillaha illallah maka 7 pintu langit akan terbuka. Juga keberkahan akan turun dari langit. Syaratnya, zikir yang kita lakukan penuh dengan khusyu dan ikhlas.

“Agar kita bisa berzikir dengan ikhlas, semata-mata hanya karena Allah, maka harus melatih zikir sebanyak-sebanyaknya," ungkap Syekh Zein.

Lebih lanjut, kalaupun zikir kita belum bisa khusyuk dan ikhlas, maka teruslah berzikir sampai suatu saat bisa zikir dengan ikhlas.

"Jangan tinggalan zikir, hanya karena belum bisa ikhlas,” ujarnya. 

Syekh Zein menyatakan bahwa kita sebagai manusia derajatnya lebih mulia daripada dunia beserta isinya, karena dunia tidak dituntut makrifat, sementara manusia bisa bermakrifat kepada Allah SWT.

"Karena itulah, dalam berzikir hendaknya lepaskan semua urusan dunia, lupakan pangkat, jabatan, kedudukan harta dan apapun agar kita bisa berangkat menuju Allah SWT," pungkas Syekh Zein.

Kota Serambi Madinah Berzikir merupakan rangkaian acara Muzakarah Pengkaderan Tauhid Tasawuf Asia Tenggara I yang diselenggarakan di Masjid Al-Huda, Kota Gorontalo. Acara zikir ini dihadiri para ulama tasawuf dari berbagai negara di Asia Tenggara antara lain Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam dan lain sebagainya.

Muzakarah berlangsung selama tiga hari, yakni 14-16 November 2017. (Firmansyah Rohman/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian Islam Hari Santri 2019

Rabu, 21 Februari 2018

Petasan dan Baca Shalawat di Malam Ganjil Bulan Ramadhan

Jombang, Hari Santri 2019

Alhamdulillah, di kampungku setiap malam likuran, yakni tanggal ganjil di 10 hari terakhir bulan puasa Ramadhan selalu ada kegiatan membaca shalawat bersama. Kegiatan rutin ni dilakukan bergiliran antarmushala dan masjid. Budaya ini sepengetahuanku sudah berjalan puluhan tahun.

Petasan dan Baca Shalawat di Malam Ganjil Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Petasan dan Baca Shalawat di Malam Ganjil Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Petasan dan Baca Shalawat di Malam Ganjil Bulan Ramadhan

Kebetulan di kampungku ada sebanyak 9 mushala dan satu masjid. Dulu waktu aku masih kecil, awalnya ada 4 mushala dan satu masjid. Hampir seluruh anak anak remaja, dewasa dan juga orang dewasa ikut kegiatan pembacaan shalaawat di malam ganjil. Mulai malam 21, malam 23, malam 25, malam 27 dan puncaknya malam 29 di Masjid Al Hasan Balongombo Tembelang.

Karena perkembangan, kini mushala bertambah hingga 9 bangunan. Meski bertambah kegiatan baca shalawat tetap berjalan. Di akhir pembacaan shalawat, ambengan makan nasi tumpeng yang dibuat oleh warga jamaah sekitar mushala selalu menyertai kegaiatan.

Hari Santri 2019

Dan tidak ketinggalan petasan juga selalu mewarnai saat pembacaan shalawat pada tahab srakal, ketika jamaah membaca shalawat dengan berdiri. "Mahalul Qiyam. Bunyi petasan bersahutan. Setiap rombongan remaja dari mushala-mushala selalu bersaing membawa petasan untuk ditampilkan. Hal itu berjalan sebelum ada larangan dari pihak berwajib.

Petasan asli produk Jombang sudah menjadi tradisi mewarnai bulan puasa, biasa dibunyikan saat berbuka, atau saat waktu sahur. Dan paling sering dan paling banyak dibunyikan saat malam ganjil pas menggelar shalawatan. Serta usai menggelar shalat Id yang digelar di masjid setempat.

Hari Santri 2019

Mereka membuat sendiri petasan tersebut. Bahkan tidak jarang remaja mushala yang ditempati membuat petasan dengan jumlah hingga ratusan. Puas, bangga jika melihat halaman mushala dan masjid penuh dengan percihan kertas.

Dengan pembacaan shawat, dan tradisi membunyikan petasan suasana bulan puasa dan hari Idul Fitri semakin terlihat. Dan masayrakat yang kebetulan pulang kampung bisa menikmati dan bernostalgia masa kecil saat di kampung halaman. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian Islam, Halaqoh Hari Santri 2019

Senin, 05 Februari 2018

Madrasah di Pulau Terpencil Ini Rutin Kerja Sama dengan Dejavato Foundation

Jepara, Hari Santri 2019 . Meski Madrasah Safinatul Huda berada di pulau terpencil, Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, namun lembaga pendidikan NU yang memiliki MTs, MA dan pesantren kelautan ini terus meningkatkan kualitas pendidikannya. Terbukti dengan aktifnya lembaga ini menjalin kerja sama dengan Dejavato Foundation.

Madrasah di Pulau Terpencil Ini Rutin Kerja Sama dengan Dejavato Foundation (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah di Pulau Terpencil Ini Rutin Kerja Sama dengan Dejavato Foundation (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah di Pulau Terpencil Ini Rutin Kerja Sama dengan Dejavato Foundation

Bersama Dejavato, lembaga yang inten memberikan relawan guru bahasa asing dari berbagai negara secara gratis sudah dirajut madrasah sejak tahun 2003-2014.

Kepala MA sekaligus pengasuh pesantren kelautan, H Hisyam Zamroni mengemukakan, di tahun 2003 itu, Ketut, perwakilan Dejavato di Semarang menemui dia di Karimunjawa.

Hari Santri 2019

“Dari pertemuan itu pihak Dejavato menawarkan program dan disepakatilah pihak madrasah. Alhasil, program berjalan dari 2003-sekarang,” jelasnya saat ditemui Hari Santri 2019 di sela-sela takziyah di kediaman almarhum KH Kholil, Jumat (5/8).

Hari Santri 2019

Ditambahkannya, program tersebut gratis. Dalam kurun waktu setahun para volunteer (relawan) memberikan pembelajaran bahasa Inggris kepada anak-anak. Volunteer, lanjut Hisyam, tinggal di pesantren kelautan Safinatul Huda. ?

Dari program itu imbuhnya direspon positif siswa dan santri karena mereka bisa belajar bahasa asing secara langsung dengan relawan asing yang hadir dari berbagai negara.

Disamping itu, lanjut Hisyam Karimunjawa merupakan destinasi wisata Internasional.

“Ini adalah bagian ikhtiar kami go international. Madrasah kami berada di destinasi wisata Internasional. Makanya dengan kerja sama ini anak-anak harapannya selalu siap menghadapi serbuan wisatawan internasional,” harapnya. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, Sejarah, Kajian Islam Hari Santri 2019

Selasa, 30 Januari 2018

Pelajar NU Sudahi Program Tahap Awal Pendampingan Anak Jalanan di Kota Malang

Malang, Hari Santri 2019 - Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Unibraw mermpungkan program pendidikan untuk anak jalanan dan anak usia dini di Kota Malang, Ahad (5/6). Program pendidikan anak jalanan dan usia dini tahap pertama ini resmi ditutup dengan pencapaian target sesuai dengan yang direncanakan.

Dalam program tahap awal ini pelajar NU Unibraw bekerja sama dengan LPAN Griya Baca Kota Malang. Dengan program ini, mereka berharap Kota Malang menjadi kota inklusif, kota layak anak, dan mencetak anak yang berkarakter bagi masa depan.

Pelajar NU Sudahi Program Tahap Awal Pendampingan Anak Jalanan di Kota Malang (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Sudahi Program Tahap Awal Pendampingan Anak Jalanan di Kota Malang (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Sudahi Program Tahap Awal Pendampingan Anak Jalanan di Kota Malang

Program dengan nama Dream for The Kidds ini dilaksanakan selama lima bulan dan mendapatkan respon positif. Hal ini ditandai dengan tingginya antusias masyarakat dan banyaknya relawan yang turut serta. Penutupan program tahap satu ini ditandai dengan penyerahan sealer (penyegel) kemasan produk kepada pengurus LPAN Griya Baca Kota Malang yang nantinya akan ditindaklanjuti pada program tahap dua dengan fokus pemberdayaan pembuatan produk.

Hari Santri 2019

Alhamdulillah tahap satu sudah selesai dan ditutup sesuai jadwal sebelum bulan Ramadhan, tahap satu kami masih berfokus pada perkenalan dan pendidikan dasar bagi anak. Pendidikan dasar ini adalah pondasi awal di mana nanti pada fase dua kami akan mencoba mengarahkan pada sektor pemberdayaan ekonomi supaya anak jalanan dan anak usia dini bisa mandiri dan jiwa kewirausahaanya terlatih,” ujar Koordinator Program Rekanita Kurnia Islami.

Selama lima bulan, program ini dijalankan oleh 14 relawan aktif dan diikuti oleh 32 anak di Kota Malang. “Harapanya program sosial seperti ini akan tetap berlanjut dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. IPNU-IPPNU harus mampu menjadi pelopor nasional gerakan sosial kemasyarakatan yang massif,” tambah seorang relawan Rekan A’inurrofiqin.

Hari Santri 2019

Pihak IPNU-IPPNU Unibraw dan LPAN Griya Baca Kota Malang berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu terselenggaranya program tahap satu. Mereka membuka kesempatan bagi siapa saja untuk ikut terlibat dalam program ini dan memberikan kontribusi baik berupa materi, buku, atau sekedar waktu luang untuk datang ke program ini setiap hari Ahad di alun-alun Kota Malang. (Ikbar Sallim Al-Asyari/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian Islam, Pendidikan, Kiai Hari Santri 2019

Minggu, 28 Januari 2018

Doa Embus Air dari Hidung saat Wudhu

Air yang dihirup ke dalam hidung saat berwudhu, dihembuskan kembali. Doa ini dibaca sesaat sebelum pengembusan air dari hidung. Doa ini dibaca dengan harapan air membawa kotoran, setan, dan penyakit yang bersarang di dalam hidung.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa Embus Air dari Hidung saat Wudhu (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Embus Air dari Hidung saat Wudhu (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Embus Air dari Hidung saat Wudhu

Allâhumma innî a‘ûdzubika min rawâ’ihin nâri wa min sû’id dâri

Hari Santri 2019

Artinya, “Hai Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bau api neraka dan dari kejahatan neraka itu sendiri,” (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta). (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Kajian Islam, Tokoh Hari Santri 2019

Selasa, 23 Januari 2018

NU DKI Sajikan Dongeng Bhakti Santri untuk Negeri

Jakarta, Hari Santri 2019

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta menyambut peringatan Hari Santri Nasional dengan menggelar acara bertajuk “Bhakti Santri untuk Negeri”, Ahad (16/10), di Arena Car Free Day, Jakarta. Kegiatan yang diselenggarakan melalui media dongeng ini menjadi bagian dari sosialisasi pada masyarakat tentang perjuangan para ulama dan santri saat masa pra kemerdekaan hingga sekarang ini.

NU DKI Sajikan Dongeng Bhakti Santri untuk Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
NU DKI Sajikan Dongeng Bhakti Santri untuk Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

NU DKI Sajikan Dongeng Bhakti Santri untuk Negeri

Sosialisasi dengan model dongeng dipilih karena dinilai lebih mudah dipahami? dan disenangi oleh anak-anak, dan masyarakat. Selain dongeng bhakti santri untuk negeri, juga dilakukan pawai simpatik di Arena Car Free Day Kawasan Sarinah Thamrin Jakarta, dengan membagikan stiker, bendera kecil NU, dan atribut lainnya yang bernuansa Hari Santri Nasional.

Koordinator kegiatan Bhakti Santri untuk Negeri, M. Wahib yang juga ketua LPBINU DKI Jakarta mengungkapkan, peran santri dalam sejarah republik Indonesia sangat banyak, sehingga harus ditulis dengan tinta emas dalam sejarah Indonesia.

Hari Santri 2019

“Santri harus mampu menjadi pelopor dalam segala bidang; bidang ekonomi, bidang politik, santri juga mampu dalam bidang kebencanaan, adaptasi perubahan iklim dan pengelolaan lingkungan hidup, kesemuanya harus terbingkai dengan akhlaqul karimah,” ujarnya.

Hari Santri 2019

Husni Mubarok sekretaris Panitia Hari Santri Nasional PWNU DKI Jakarta tahun 2016, menyatakan, agenda-agenda dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, juga diisi dengan ziarah dan silaturrahim ke para ulama DKI Jakarta, berpartisipasi dalam acara pembacaan 1 miliar shalawat Nariyah di Masjid Sunda Kelapa, dan pertunjukan seni dan budaya betawi di Setu Babakan. Pada tanggal 22 Oktober 2016, akan dilakukan Apel Akbar di Lapangan Banteng yang akan diikuti oleh puluhan ribu warga NU. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Khutbah, Kajian Islam, Meme Islam Hari Santri 2019

Minggu, 07 Januari 2018

Hizib Kiai Dalhar Watucongol saat Hadapi Penjajah

Perjuangan melawan sekaligus mengusir penjajah pasca bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 nampaknya belum berakhir. Kemerdekaan yang sedianya dirasakan oleh rakyat Indonesia terus mendapat intimidasi kolonial yang seakan tidak rela melepas tanah dengan kekayaan alam melimpah seperti Indonesia.

Hal ini terjadi misalnya ketika tentara NICA (Belanda) membonceng Sekutu (Inggris-Gurkha) dan mendarat di Surabaya pada 10 November 1945. Seminggu setelah berkobarnya perang di Surabaya antara para santri dan rakyat Indonesia melawan Tentara Sekutu yang dipimpin Brigjen Mallaby, pertempuran kembali bergolak ke Semarang, Ambarawa, dan Magelang.

Tentara Sekutu mendarat di Semarang pada 20 Oktober 1945 dibawah pimpinan Brigjen Bethel. Awalnya rakyat Indonesia ikut membantu pergerakan Tentara Sekutu yang kedatangannya ingin menyisir sisa-sisa tentara Nippon (Jepang) di Indonesia pasca Sekutu mengalahkan Jepang lewat bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Hizib Kiai Dalhar Watucongol saat Hadapi Penjajah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hizib Kiai Dalhar Watucongol saat Hadapi Penjajah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hizib Kiai Dalhar Watucongol saat Hadapi Penjajah

Tetapi seperti terjadi di daerah-daerah lain, serdadu NICA menyalakan obor fitnah dan mengadu domba sehingga terjadilah insiden antara rakyat Indonesia dengan tentara Sekutu. Insiden karena adu domba NICA ini menjalar ke sejumlah wilayah di Jawa Tengah, seperti Magelang. Bung Tomo, setelah secara perkasa membantu perjuangan santri di Surabaya, dia menuju ke Jawa Tengah karena situasi sama gentingnya seperti yang terjadi di Jawa Timur.

Namun demikian, kondisi ini juga mendapat perhatian serius dari para ulama Magelang. Diriwayatkan oleh KH Saifuddin Zuhri (1919-1986), ulama se-Magelang mengadakan pertemuan di rumah Pimpinan Hizbullah di belakang Masjid Besar Kota Magelang pada 21 November 1945. Pertemuan ini dilaksanakan pada tsulutsail-lail atau saat memasuki duapertiga malam (sekitar pukul 03.00 dini hari).

Hari Santri 2019

Ulama yang dipanggil sedianya hanya 70 orang, namun yang hadir melebih ekspektasi yaitu 200 orang ulama dalam pertemuan riyadhoh ruhaniyah itu. Para ulama menilai, gerakan batin atau gerakan rohani ini untuk menyikapi situasi genting yang terjadi di dalam Kota Magelang dan sekitarnya, terutama sepanjang garis Magelang-Ambarawa-Semarang. Karena di Pendopo rumah Suroso tidak cukup, sebagian ditempatkan di markas Sabilillah yang jaraknya 100 meter.

Disaat ratusan ulama sudah terkumpul, mayoritas hadirin berharap-harap cemas ketika menanti kedatangan sejumlah ulama khos yang belum hadir, di antaranya KH Dalhar (Pengasuh Pesantren Watucongol), KH Siroj Payaman, KH R. Tanoboyo, dan KH Mandhur Temanggung. Mereka adalah ulama “empat besar” untuk Magelang dan sekitarnya yang akan memimpin riyadhoh ruhaniyah tersebut.

Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Letkol M. Sarbini dan Letkol A. Yani dan satu regu pengawal siap tempur itu, para ulama dan rakyat dipimpin ulama “empat besar” itu membaca aurod yang sudah terkenal di kalangan ulama Ahlussunnah wal Jamaah antara lain, Dalail Khoirot, Hizib Nashor li Abil Hasan Asy-Syadzili, Hizib al-Barri, dan Hizib al-Bahri, keduanya Li Abil Hasan Asy-Syadzili yang termasyhur.

Adapun KH Dalhar Watucongol (1870-1959) yang saat itu telah menginjak usia 75 tahun memunajatkan doa khusus. Kiai Dalhar memang dikenal sebagai ulama yang paling ‘alim di antara hadirin yang datang. Ulama yang amat rendah hati, tenang, dan tawadhu tersebut memanjatkan doa agar rakyat Indonesia diberi kesanggupan dalam berjuang mengenyahkan penjajah, khususnya Inggris yang bercokol di Magelang. Berikut munajat agung Kiai Dalhar Watucongol:

Hari Santri 2019

Anta yaa Robbi bika nastanshiru ‘alaa a’daainaa wa anfusinaa fanshurnaa wa ‘alaa fadhlika natawakkalu fii sholahinaa falaa takilnaa ilaa ghoirika ya Robbanaa. Wa bibaabika naqifu falaa tathrudnaa waiyyakaa nas’alu falaa tukhoyyibna. Allahumma irham tadhorru’anaa wa aamin khaufana wa taqobbal a’maalanaa wa ashlih ahwaalanaa wa ij’al bi thoo’atika isytighoolanaa wa akhtim bissa’adati aajaalanaa. Haadzaa dzulunaa la yakhfaa ‘alaika. Amartanaa fa tarokna wa nahaitanaa fartakabnaa walaa yasa’unaa illaa ‘afwika fa’fu ‘anaa ya khoiro ma’mulin wa akroma mas’uulin innaka ghofurur roufur rohiim ya Arhamar Rohimiin.

(Ya Allah, hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan untuk mengalahkan musuh-musuh kami, dan untuk keselamatan jiwa raga kami mohon pertolongan-Mu. Atas keunggulan kelebihan-Mu, ya Allah kami menyerahkan nasib baik kami, sebab itu tidak berserah diri kepada yang bukan Engkau ya Tuhan kami. Kami berdiri di depan pintu Rahmat-Mu, maka janganlah Engkau mengusir kami. Hanya kepada-Mulah kami mengajukan permohonan, maka janganlah Engkau gagalkan permohonan ini. Ya Allah belas kasihanilah sikap rendah diri kami ini dan lenyapkanlah ketakutan kami terhadap musuh. Mohon Engkau terima amal kami, dan keadaan kami mohon diperbaiki. Jadikanlah kami senantiasa rajin menjalankan perintah-perintah-MU dan menjauhi larangan-larangan-Mu. Jika telah datang ajal kami, mohon diakhiri dengan keadaaan yang berbahagia. Inilah sikap renah diri kami di hadapan-Mu, dan tentang hal ihwal kami Engkau pasti Maha Tahu. Engkau memerintahkan kami supaya mengerjakan tugas kewajiban tetapi telah kami abaikan. Sebaliknya, Engkau mencegah kami berbuat durhaka bahkan kami gemar melakukannya. Tapi semua itu tidak menghanyutkan kami untuk memohon Ampunan-Mu. Wahai Dzat yang menjadi tumpuan segala keinginan dan permohonan, yang paling dermawan untuk menjadi tempat meminta-minta. Engkaulah Maha Pengampun, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Wahai Dzat yang paling kasih sayang).

(Fathoni Ahmad)

Kisah ini disampaikan oleh KH Saifuddin Zuhri dalam buku karyanya “Berangkat dari Pesantren”.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian Islam Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock