Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PonPes. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Ribuan Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Pawai Santri Sidoarjo

Sidoarjo, Hari Santri 2019 - Ribuan Nahdliyin dari unsur siswa-siswi di bawah naungan LP Maarif NU Sidoarjo dari tingkat MI, MTs, MA, perguruan tinggi mengikuti pawai santri yang digelar oleh Pemkab Sidoarjo di alun-alun setempat, Ahad (23/10). Pawai ini juga diikuti oleh seluruh banom dan lembaga NU Sidoarjo.

Dengan antusias mereka mengikuti kegiatan tersebut. Meski hujan deras sempat mengguyur wilayah Sidoarjo, namun itu tak menyurutkan semangat warga kota udang untuk menyukseskan peringatan Hari Santri 2016.

Ribuan Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Pawai Santri Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Pawai Santri Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Pawai Santri Sidoarjo

Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah mengatakan, acara pawai santri ini terselenggara atas peran serta umat Islam di Sidoarjo dalam rangka membangun Kabupaten Sidoarjo yang lebih baik. Pawai santri ini merupakan rangkaian acara untuk memperingati Hari Santri.

"Semoga kegiatan ini bisa bermanfaat dan mendapatkan ridho dari Allah SWT. Mudah-mudahan Sidoarjo menjadi kabupaten yang mandiri, inovatif, sejahtera, dan berkelanjutan," kata pria yang akrab disapa Abah Ipul itu.

Hari Santri 2019

Ia berpesan kepada para santri agar senantiasa meningkatkan ilmu pengetahuan. Pasalnya, santri memiliki peran serta dan kontribusi dalam pembangunan khususnya di Kabupaten Sidoarjo.

Hari Santri 2019

Abah Ipul juga mengajak warga Sidoarjo khususnya umat Islam untuk bersama-sama membangun Sidoarjo menjadi kabupaten yang lebih baik lagi.

"Santri harus terus meningkatkan ilmu pengetahuan, olah kerja, dan memperkokoh ekonomi dengan baik untuk meningkatkan produktivitas di Sidoarjo," pesan Abah Ipul. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 PonPes, Nahdlatul Ulama, Nusantara Hari Santri 2019

Senin, 26 Februari 2018

Kontes Menggambar Kartun Nabi, PBNU: Itu Pelecehan terhadap Agama!

Jakarta, Hari Santri 2019. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengecam berlangsungnya kontes menggambar kartun Nabi Muhammad SAW di Curtis Culwell Center, Garland, Texas, Amerika Serikat, Ahad (3/5).?

"Jelas kami sangat menyesalkan adanya acara itu, karena itu bentuk pelecehan terhadap agama (Islam)," kata Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj di Jakarta, Senin (4/5).

Kontes Menggambar Kartun Nabi, PBNU: Itu Pelecehan terhadap Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontes Menggambar Kartun Nabi, PBNU: Itu Pelecehan terhadap Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)

Kontes Menggambar Kartun Nabi, PBNU: Itu Pelecehan terhadap Agama!

? Meski akhirnya dibubarkan oleh aparat keamanan setempat, Kiai Said mempertanyakan mekanisme pemberian izin berlangsungnya sebuah acara di Amerika Serikat, sehingga kegiatan yang bersifat sensitif terhadap kerukunan umat beragama tersebut bisa berlangsung.?

Hari Santri 2019

? "Saya mendengar sampai terjadi penembakan dan jatuh dua korban jiwa. Kejadian seperti itu seharusnya bisa dihindari jika pemerintah setempat lebih peka," kritik Kiai Said.

? Meski mengecam kegiatan dimaksud, Kiai Said meminta kepada umat Islam dunia, khususnya di Indonesia dan warga Nahdlatul Ulama, untuk tidak terpancing membalasnya dengan tindakan bersifat anarkis. "Jangan habiskan energi kita untuk membalas hal-hal seperti itu, apalagi dengan tindakan anarkis. Percaya, Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang melecehkan Islam," pesannya.

?

Hari Santri 2019

Lomba menggambar kartun Nabi Muhammad SAW diselenggarakan oleh American Freedom Defense Initiative, sebuah organisasi yang secara aktif terus menyebarkan kebencian terhadap Muslim di Amerika Serikat. Presiden lembaga tersebut, Pamela Geller, mengatakan kegiatan yang diadakannya bertujuan kebebasan berpendapat sebagai respons dari kekerasan ketika menggambar Nabi Muhammad di Charlie Hebdo. Gambar terbaik dari loma tersebut diganjar hadiah sebesar 10 ribu US Dollar. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, PonPes Hari Santri 2019

Jumat, 09 Februari 2018

Indonesia Punya Potensi Besar Kembangkan Pendidikan Islam Moderat

Jakarta, Hari Santri 2019

Muslim di Indonesia merupakan jumlah terbanyak di dunia dalam sebuah negara. Kenyataan ini diikuti oleh jumlah lembaga pendidikan Islam yang angkanya juga mencapai jumlah terbanyak dibanding dengan negara-negara dengan mayoritas penduduk Islam di seluruh dunia.?

“Namun kenyataan yang terjadi, hingga saat ini lembaga Pendidikan Islam di Indonesia belum menjadi tujuan utama bagi masyarakat dunia,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin saat memberikan materi dalam kegiatan Sarasehan Nasional bertajuk Potensi Pendidikan Islam menjadi Rujukan Pendidikan Moderat Dunia di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara.

Indonesia Punya Potensi Besar Kembangkan Pendidikan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Punya Potensi Besar Kembangkan Pendidikan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Punya Potensi Besar Kembangkan Pendidikan Islam Moderat

Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam ini, Kamaruddin juga menerangkan karakter moderatisme Islam Indonesia harus menjadi perhatian serius para guru agama Islam dengan mengembangkan pemikiran moderat kepada generasi muda.

“Cita-cita menjadi rujukan pendidikan moderat untuk warga dunia harus diikuti oleh peningkatan kualitas, baik sumber daya maupun infrastruktur,” tutur Kamaruddin di depan sekitar 400 stakeholder Pendidikan Agama Islam (PAI), meliputi guru, kepala sekolah, dan pengawas.

Menurutnya, potensi sumber daya dan infarastruktur bangsa Indonesia sangat besar. Bangsa Indonesia saat ini sudah mempunyai kesadaran kolektif untuk mewujudkan Islam yang ramah dan toleran. Selai itu, lanjut Kamaruddin, Indonesia juga mempunyai infrastruktur sosial dengan hadirnya ormas-ormas Islam yang mempunyai visi sama terhadap tujuan bangsa dan negara.

Hari Santri 2019

Lebih jauh, Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini menegaskan kepada para stakeholder Pendidikan Agama Islam untuk merawat generasi muda dari penetrasi paham agama yang ekstrem dan radikal.?

“Sebab, kantong-kantong kegiatan siswa di bidang keagamaan seperti Rohis di sekolah menjadi sasaran empuk paham ekstrem. Hal ini menjadi perhatian serius agar pemahaman Islam yang baik, ramah, toleran, dan damai dapat terus terawat,” tegas Kamaruddin. (Fathoni) ? ?

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Meme Islam, PonPes Hari Santri 2019

Senin, 29 Januari 2018

Pesantren Al-Qur’aniyy Peringati Haul Pendiri

Solo, Hari Santri 2019. Pondok Pesantren Al-Qur’aniyy Mangkuyudan Solo mengadakan peringatan haul pendiri pesantren, KH Ahmad Mustofa, Ahad (2/3). Acara yang digelar di kompleks pondok tersebut, dihadiri ribuan jamaah.

Usai pembacaan doa dan tahlil, Habib Syech bin Abdul Qadir as-Segaf bersama sejumlah ulama lain, memimpin para jamaah untuk membaca shalawat al-Barzanjiy.

Pesantren Al-Qur’aniyy Peringati Haul Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Qur’aniyy Peringati Haul Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Qur’aniyy Peringati Haul Pendiri

Dalam acara tersebut juga dibacakan manaqib KH Ahmad Musthofa. Diterangkan bahwa ulama yang biasa dipanggil dengan nama Mbah Daris ini merupakan seorang tokoh yang tekun dalam menekuni bidang agama, khususnya al-Qur’an.

Hari Santri 2019

Sebelum mendirikan pesantren, Mbah Daris pernah nyantri kepada sejumlah ulama, di antaranya KH Dimyathi Termas, KH Munawwir Krapyak, KH Manshur Popongan, KH Siraj, dan KH Muhammad Sulaiman.

Hari Santri 2019

Setelah wafatnya, pesantren Al-Qur’aniyy kini diteruskan oleh puteranya, KH Abdul Karim Ahmad.

Salah satu panitia, Imamul Faizin, menerangkan rangkaian acara haul ke-17 Mbah Daris ini sudah digelar sejak dua hari sebelumnya.“Kemarin sudah diawali dengan khataman al-Qur’an dan ziarah ke makam Mbah Daris,” terangnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 PonPes Hari Santri 2019

Minggu, 21 Januari 2018

Janganlah Engkau Menodai Agama!

Dalam kitab suci Al-Quran, istilah pelecehan agama memang tidak ada. Namun dalam konteks yang sama, ada istilah-istilah tertentu yang bisa dipahami sebagai padanan dari pelecehan. Adapun bahaya tindakan melecehkan itu bukan cuma mengancam mereka yang melecehkan, namun juga merugikan objek, pihak, atau orang yang dilecehkan.

Dalam buku ini, Imanuddin dan Zaenal mengidentifikasi adanya tiga kata atau istilah dalam Al-Quran yang bisa dipadankan dengan kata pelecehan. Tiga kata itu bukan cuma berkaitan dengan ajaran agama Islam secara langsung. Namun juga kisah-kisah dari berbagai zaman yang mengeksplorasi tindakan pelecehan berikut bahaya dan bencana yang mengiringinya.

Ketiga kata itu meliputi Huzuw, Laib, dan Sakhira (hlm.71). Kata Huzuw bisa dipadankan dengan kata mengolok-olok. Namun bisa juga diartikan sebagai gurauan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dengan tujuan melecehkan.

Janganlah Engkau Menodai Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)
Janganlah Engkau Menodai Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)

Janganlah Engkau Menodai Agama!

Kata Laib bisa diartikan dengan kata bermain atau bermain-main. Namun dalam konteks pelecehan, kata ini bisa diartikan segala aktifitas yang dilakukan bukan pada tempatnya atau untuk tujuan yang tidak benar. Sementara Sakhira adalah mengejek ? (hlm.78-86). Yaitu, menjadikan suatu agama berikut ajaran dan pemeluknya sebagai bahan ejekan yang berorientasi merendahkan atau meremehkan.

Bentuk-bentuk pelecehan agama memang banyak ragamnya. Ada pelecehan yang dinyatakan secara verbal, ada pula yang non-verbal. Pelecehan yang berbentuk verbal, cenderung mudah diketahui oleh pihak yang menjadi korban pelecehan secara langsung. Namun tidak demikian pada pelecehan berbentuk non-verbal. Terkadang, malah pihak atau orang ketigalah yang justru mengetahui lebih dahulu adanya tindak pelecehan agama.

Buku ini bukan hanya menyajikan bahasan seputar pelecehan agama secara langsung. Namun juga membahas pelecehan agama yang bermula dari pelecehan terhadap ajaran, pemeluk, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan suatu agama. Karena buku ini berangkat dari wawasan Al-Quran, maka secara tidak langsung, buku ini menitik-tekankan bahasan pada larangan keras bagi umat Islam yang ingin melecehkan agama Islam maupun agama lain.

Hari Santri 2019

Sebagai bangsa Indonesia yang di dalamnya terdapat berbagai pemeluk agama dan keyakinan, sudah semestinya bagi kita untuk tetap saling menghormati dan tenggang-rasa. Khususnya seputar keberagamaan dan keberagaman. Sebab dengan menahan diri dan minat dari melecehkan agama lain, kedamaian akan mudah terbentuk dan terjaga dengan sendirinya. Selanjutnya, kita bisa beribadah dengan tenang dan nyaman sesuai agama dan keyakinan masing-masing.?





Hari Santri 2019

Info Buku

Judul ? ? ? ? ? ? ? : Jangan Nodai Agama: Wawasan Al-Quran tentang Pelecehan Agama

Penulis ? ? ? ? ? : Imanuddin bin Syamsuri, Lc. MA dan M. Zaenal Arifin, MA

Penerbit ? ? ? ? : Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Cetakan ? ? ? ? : I (pertama), 2015

Tebal ? ? ? ? ? ? ? : xviii+190 halaman

ISBN ? ? ? ? ? ? ? : 978-602-229-457-3





Peresensi

Muhammad Ghannoe

Aktif di komunitas Nandha, Bantul.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, PonPes, Pertandingan Hari Santri 2019

Kamis, 18 Januari 2018

Rasulullah Baca Doa Ini Tiga Kali Sebelum Tidur

Di antara doa-doa yang dibaca Rasulullah adalah lafal di bawah ini:

? ? ? ? ? ?

Rasulullah Baca Doa Ini Tiga Kali Sebelum Tidur (Sumber Gambar : Nu Online)
Rasulullah Baca Doa Ini Tiga Kali Sebelum Tidur (Sumber Gambar : Nu Online)

Rasulullah Baca Doa Ini Tiga Kali Sebelum Tidur

Allâhumma qinî ‘adzâbaka yauma tab‘atsu ‘ibâdaka

Hari Santri 2019



Artinya: “Ya Allah, lindungilah aku dari siksa-Mu pada hari saat Engkau bangkitkan para hamba-Mu.”

Hari Santri 2019

Doa ini dapat dirujuk dalam hadits shahih riwayat At-Turmudzi dari Sayyidah Hafshah yang mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah apabila hendak tidur meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya lalu mengucapkan Allâhumma qinî ‘adzâbaka yauma tab‘atsu ‘ibâdaka sampai tiga kali. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 PonPes, Tegal Hari Santri 2019

Kamis, 11 Januari 2018

Kalangan Akademisi Indonesia Idap Penyakit Minder

Jakarta, Hari Santri 2019. Wakil Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslimin ? Indonesia (Lesbumi) H Agus Sunyoto mengatakan, kalangan akademisi Indonesia kerap merasa kurang percaya diri di dalam mengembangkan pengetahuan. Rasa rendah diri akut itu hadir dalam bentuk pembenaran final atas eksperimen pengetahuan Barat.

Dalam kursus singkat bertajuk Tasawuf Sebagai Etika Sosial di Pesantren Al-Tsaqafah Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (19/12), Agus menambahkan, “Kalangan akademisi pun seolah ‘kurang afdhal’ jika tidak mengutip pernyataan orang Barat.”

Kalangan Akademisi Indonesia Idap Penyakit Minder (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalangan Akademisi Indonesia Idap Penyakit Minder (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalangan Akademisi Indonesia Idap Penyakit Minder

Kelakuan akademisi itu sering membuatnya jengkel. Terlampau jengkel, Agus dengan kawannya dalam sebuah diskusi berseloroh kepada orang yang selalu mengutip pendapat orang Barat.

Hari Santri 2019

Agus mencontohkan, akademisi yang menjadi narasumber mengatakan, “Menurut Ben Parker, bahwa politik itu adalah ini, ini, ini.” Ketika salah seorang peserta diskusi bertanya Ben Parker itu siapa? Saya jawab, “Ben Parker itu pamannya Spiderman."

Bahkan, lanjut Agus, dalam benak kita sudah tertanam bahwa bangsa Indonesia adalah inferior, bangsa yang di bawah. Sedangkan orang bule adalah superior, bangsa yang ada di atas kita.

Hari Santri 2019

Jika keadaan ini tidak segera dibenahi, maka diprediksi 30 tahun lagi Bangsa Indonesia akan hilang ditelan bumi, tegas Agus. Untuk itu ia mendesak agar ada pembenahan secara serius dalam menghadapi salah satu persoalan bangsa ini. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, PonPes, Pahlawan Hari Santri 2019

Kamis, 07 Desember 2017

PMII Perlu Membangun Strategi Kebudayaan

Bandung, Hari Santri 2019. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) perlu gerakan kebudayaan sebagai salah satu pilar mengembangkan kaderisasi dan gerakan. Selama ini visi perjuangan masih dengan strategi advokasi dan gerakan jalanan. Padahal gerakan kebudayaan bernilai strategis jangka panjang.

Menurut Ketua PKC PMII Jawa Barat, Edi Rusyandi, praktik kaderisasi dan gerakan yang dibangun PMII selama ini belum memberikan ruang apresiasi berdimensi kebudayaan dalam menginternalisasi nilai-nilai oraganisasi kepada kader-kadernya.

PMII Perlu Membangun Strategi Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Perlu Membangun Strategi Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Perlu Membangun Strategi Kebudayaan

Hal itu diungkapkan Edi pada pembukaan “Serambi Sastera Pesantren dan Wisata Kampung Santri” yang diselenggarakan Pengurus Komisariat PMII STAI Darul Falah Kabupaten Bandung Barat di Pondok Pesantren Banuraja Batujajar Kabupaten Bandung Barat (29/03).

Hari Santri 2019

“Dalam momentum jelang Harlah ke 53 ini, alangkah baiknya PMII untuk membangkitkan spirit kebudayaan sebagai pilar kaderisasi dan gerakannya. Agar hidup pergerakan lebih hidup lagi,” katanya melalui press realeas yang disampaikan melalui surat elektronik kepada Hari Santri 2019, pada Selasa, (2/4).

Hari Santri 2019

Lebih jauh Edi mengatakan, dalam konteks benturan ideologi yang berlangsung saat ini, spirit keislaman dan kebangsaan PMII dapat menjadi alternatif gerakan.

Sementara itu ketua pelaksana  kegiatan, Masturi Fajrin menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diselenggarakan atas dukungan penuh PKC PMII Jawa Barat sebagai salah satu mata rangkaian menyambut Harlah ke-53 PMII. Di samping itu menghidupkan PMII di Kabupaten Bandung Barat yang baru dipekarkan.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 PonPes Hari Santri 2019

Jumat, 20 Oktober 2017

Panti Sosial Harapan Remaja Peringati 30 Tahun Berdirinya

Jakarta, Hari Santri 2019. Panti Sosial Asuhan Anak “Harapan Remaja” yang dikelola oleh Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU telah berhasil menapaki sejarah dan eksis selama lebih dari 30 tahun. Syukuran atas keberhasilannya ini diabadikan dengan menerbitkan sebuah buku berjudul “Mengantar ke Pintu Gerbang”



Panti Sosial Harapan Remaja Peringati 30 Tahun Berdirinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Panti Sosial Harapan Remaja Peringati 30 Tahun Berdirinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Panti Sosial Harapan Remaja Peringati 30 Tahun Berdirinya

Peluncuran buku ini dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pada hari Senin, 21/7) di asrama panti yang berlokasi di Jl. Tenggiri 37 Jakarta Timur dan dihadiri oleh para donator dan alumni.

Buku ini menceritakan proses berdirinya panti dan segala dinamika perjuangannya sampai perkembangannya saat ini dan visi pengembangannya di masa yang akan datang. Sejumlah data anak asuh dan alumni, program serta biografi para pendirinya juga tercantum dalam buku ini. Tak ketinggalan, foto-foto kegiatan turut menghiasi buku setebal 136 halaman ini.

Hari Santri 2019

Panti ini didirikan pada tanggal 4 Desember 1976 diatas tanah seluas 1.680 meter persegi oleh para pengurus Muslimat waktu itu seperti Ny Solichah Wahid Hasyim, Ny Solichah Syaifuddin Zuhri, Hj Soetarjih Rachmat Muylomiseno, Hj Madillah Himpuni Suparman dan Hj. Aisyah Hamid Baidlowi yang kini menjadi satu-satunya pendiri yang masih hidup.

Dimulai dengan tujuh anak binaan, kini sudah meluluskan ratusan alumni. Batas maksimal ditetapkan usia 21 tahun dengan pendidikan SLTA. Selain memperoleh pendidikan formal, tak lupa pendidikan agama wajib dijalani oleh semua anak asuh. Mereka juga mandapatkan pendidikan ketrampilan yang semuanya ditanggung oleh panti.

Hari Santri 2019

Untuk pendidikan agama, mereka mendapatkan pelajaran Al Qur’an, Hadist, Bahasa Arab, akidah, akhlaq, fiqh, tafsir dan sejarah Islam. Mereka secara temporer juga diwajibkan untuk embaca tahlil, yasin, rawi dan latihan pidato.

Mereka yang diterima harus berusia sekolah dan berstatus yatim-piatu, anak terlantar atau tidak mampu. Apabila selesai menjalani proses pembelajaran, panti mengusahakan adanya pekerjaan, mengusahakan beasiswa atau mengembalikan kepada wali atau orang tua.

Terdapat 16 orang karyawan dan 11 orang guru yang mengelola panti ini. Sementara itu anak asuh yang tinggal di asrama sebanyak 50 orang dan yang tinggal di luar asrama sebanyak 50 orang. Kini, sedang diusahakan proses pembangunan gedung Madrasah untuk tingkat ke dua.

Ketua Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU Ny Farida Salahuddin Wahid menjelaskan saat ini lembaganya sudah mengelola 102 panti asuhan, 57 rumah sakit dan klinik bersalin, 1 klinik hemodialisis, 5 panti lansia dan 16 asrama putri. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, Sunnah, PonPes Hari Santri 2019

Rabu, 13 September 2017

Bagaimana Konflik Kekerasan Komunal Terjadi?

Palembang, Hari Santri 2019. Satu tahun setelah reformasi 1998, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan kekerasan komunal bernuansa agama dan etnis. Misalnya, konflik di Maluku pada kurun Januari 1999 hingga Januari 2003. Sekitar 5000 jiwa melayang, setengah juta orang terpaksa mengungsi, dan fasilitas-fasilitas publik rusak parah.

Bagaimana Konflik Kekerasan Komunal Terjadi? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Konflik Kekerasan Komunal Terjadi? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Konflik Kekerasan Komunal Terjadi?

Meski dalam sekala berbeda, konflik dengan nuansa yang sama masih terasa hingga kini. Sekelompok masyarakat tertentu bisa merobohkan rumah ibadah kelompok lain, atau golongan tertentu berhasrat menyingkirkan golongan lain karena perbedaan identitas. Bagaiamana konflik kekerasan terjadi?

Dr Ichsan Malik dari Institute Titian Perdamaian berpendapat, konflik bisa dipicu karena adanya peristiwa seperti perebutan kekuasaan, sengketa ekonomi, atau kasus pembunuhan. Pemicu terlihat peristiwanya dan akibatnya.

Hari Santri 2019

"Tetapi ada faktor lain yang lebih mendasar, yaitu akar konflik. Akar konflik biasanya tidak terlihat di permukaan, bisa berupa ketidakadilan, diskriminasi, korupsi, dan lain-lain," ujarnya dalam lokakarya antiterorisme di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (15/10), yang memaparkan materi melalui audio visual.

Dalam forum yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu, Ichsan menjelaskan bahwa konflik dengan cepat meluas ketika akselerator konflik berupa isu sentimen suku, agama, ras, dan identitas-identitas lain diembuskan.

Hari Santri 2019

Pengembusan isu dilakukan oleh provokator dengan sasaran warga yang masuk dalam kelompok rentan, yakni masyarakat yang semula tak bersinggungan dengan konflik lalu terlibat langsung akibat provokasi.

Saat konflik terlanjur meledak, maka kelompok fungsional berupa aparat pemerintah, tokoh agama, pemuka masyarakat, atau lainnya bertanggung jawab memadamkan "kebakaran". Bila mereka terlambat meredam "api-api" kecil, maka pengaruh provokator akan merembet terus ke kelompok-kelompok rentan lain sehingga onflik pun kian meluas. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 PonPes Hari Santri 2019

Selasa, 29 Agustus 2017

Gus Aiz: Awali Kegiatan PN dengan Shalawat Nariyah

Jombang, Hari Santri 2019. Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pencak Silat NU atau  Pagar Nusa (PN) Aizzuddin Abdurrahman meminta setiap kegiatan organisasi diawali dengan pembacaan Shalawat Nariyah.

Hal ini disampaikan cucu pendiri Nahdatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari saat Halal Bi Halal dalam rangka konsolidasi dengan Pimpinan Cabang Pagar Nusa Kabupaten Jombang, Sabtu (25/8).

Bacaan sholawat Nariyah dikatakan Gus Aiz, panggilan akrab Aizzudin ini, diharapkan menjadi ciri khas setiap kegiatan badan otonom NU yang mebidangi Kanuragan ini. 

Gus Aiz: Awali Kegiatan PN dengan Shalawat Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Aiz: Awali Kegiatan PN dengan Shalawat Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Aiz: Awali Kegiatan PN dengan Shalawat Nariyah

"Ini pesan dari salah satu kyai yang juga sesepuh Pagar Nusa. Beliau meminta amalan ini (Shalawat Nariyah ) menjadi rutinitas kita memulai kegiatan organisasi,"ujarnya menceritakan.

Hari Santri 2019

Pagar Nusa, lanjut Gus Aiz menambahkan, paska kongres Lamongan beberpa waktu lalu memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah penataan tertib administrasi untuk membangun organisasi dan juga pembinaan atlet. 

Hari Santri 2019

"Disamping tertib administrasi kita harus terus melakukan pembinaan atlet. Dan ini butuh energi ganda baik moril maupun materiil,"ujar Ketua Umum Pagar Nusa periode 2012-2017 ini.

Tidak hanya dua PR di atas yang harus diselesaikan, namun  lanjut pria berkumis tipis ini, Pagar Nusa juga harus memikirkan pengembangan ekonomi organisasi melalui kepemilikan badan usaha. 

"Banyak dari anggota yang memiliki usaha salah satunya untuk kelengkapan atau kebutuhan silat dan pencak, dan kedepan kita harapkan kebutuhan ini bisa kita penuhi sendiri. Bahkan kalau bisa kita patenkan produk–produk yang dihasilkan temen temen pengurus PN sendiri," imbuhnya seraya mengatakan salah satu produksi yang telah dimiliki pengurus di Sidoarjo adalah pembuatan Matras untuk kelengkapan siat dan body protektor.

Kepengurusan Pagar Nusa di Kota santri Jombang sendiri kini telah memiliki sebanyak 17 Pimpinan Anak cabang dengan puluhan rayon di sekolah dan pondok pesantren. Bahkan atlet PN Jombang beberpa kali menjuarai lomba tingkat Nasional.

”Dua atlet kita kemarin merebut Juara satu dan dua saat lomba di Bangil Pasuruan,”ujar Abd Rokhim sekretaris PN Jombang. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Internasional, Daerah, PonPes Hari Santri 2019

Selasa, 15 Agustus 2017

Rapatkan Barisan, MWCNU Pekalongan Utara Dilantik Bareng

Pekalongan, Hari Santri 2019. Mengawali kegiatan Nahdlatul Ulama Pekalongan Utara, Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Pekalongan Utara periode 2014 - 2019, Jumat (27/3) kemarin menggelar kegiatan pelantikan bersama badan otonom di wilayahnya.

Rapatkan Barisan, MWCNU Pekalongan Utara Dilantik Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Rapatkan Barisan, MWCNU Pekalongan Utara Dilantik Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Rapatkan Barisan, MWCNU Pekalongan Utara Dilantik Bareng

Acara yang dihelat di komplek rumah dinas eks Pembantu Gubernur Pekalongan, dibarengi dengan pelantikan Pimpinan Ranting (PR) Fatayat Nu Pebean, Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU IPPNU dan Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU IPPNU STAIN Pekalongan.

Ketua MWC NU Pekalongan Utara HM. Nasir kepada Hari Santri 2019 mengatakan, kegiatan bersama dengan badan otonom ini merupakan langkah awal konsolidasi dan yang pertama kalinya dilaksanakan di wilayah Pekalongan Utara. 

Hari Santri 2019

Dikatakan, jika pada kegiatan sebelumnya berjalan sendiri sendiri, akan tetapi kali ini dicoba mengadakan kegiatan bersama ditunjang dengan kegiatan lainnya seperti jalan sehat, donor darah, bazar dan pengajian umum.

"Ini merupakan langkah awal untuk melakukan konsolidasi organisasi di wilayah Pekalongan Utara. Hal ini penting dilakukan agar warga nahdliyyin bisa bersatu padu merapatkan barisan, agar tidak mudah dirongrong oleh pihak manapun," ujarnya.

Hari Santri 2019

Dirinya selaku Ketua MWCNU berharap kepada jajaran pengurus NU dan badan otonom di wilayahnya segera melakukan konsolidasi di wilayahnya masing masing dengan memperbanyak pertemuan dan menggelar kegiatan. "Kita jangan sampai lengah terhadap upaya gerakan radikalisme di wilayah Pekalongan Utara," ungkap Nasir.

Rais Syuriyah PCNU Kota Pekalongan KH. Zainuri Zainal Mustofa sebelum melantik jajaran Pengurus MWCNU Pekalongan Utara Periode 2014 - 2019 berpesan, agar pengurus yang sudah mengucapkan baiat dan menerima Surat Keputusan (SK) langsung aktif bekerja menjalankan program programnya hingga akhir periode.

Sedangkan Katib Syuriyah PCNU Kota Pekalongan H. Romadhon Abdul Jalil meminta kepada segenap jajaran pengurus yang sudah dilantik untuk memajang naskah baiat yang berisi janji untuk mengabdi kepada NU di rumah masing masing.

Hal ini perlu dilakukan, menurut Romadhon, agar pengurus senantiasa ingat akan janjinya saat menjadi pengurus.  "Jangan sampai pengurus yang sudah berbaiat lantas lupa akan janjinya saat menjadi pengurus, maka dengan memajang naskah baiat di rumah masing masing, pengurus akan selalu ingat dan berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan roda organisasi," ujar alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri ini.

Sementara itu, kegiatan jalan sehat warga nahdliyyin dengan mengambil start dan finish diikuti ribuan peserta dengan hadiah doorprize yang cukup banyak dari pihak sponsor. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, Sunnah, PonPes Hari Santri 2019

Minggu, 09 Juli 2017

Khofifah Besuk Kinara, Balita Selamat Pembunuhan Satu Keluarga di Medan

Medan, Hari Santri 2019. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa membawakan mainan masak-masakan dan diecast pesawat berwarna putih untuk Balita Kinara (4) korban selamat pembunuhan sekeluarga di Medan, Sabtu (15/4).?

Khofifah Besuk Kinara, Balita Selamat Pembunuhan Satu Keluarga di Medan (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Besuk Kinara, Balita Selamat Pembunuhan Satu Keluarga di Medan (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Besuk Kinara, Balita Selamat Pembunuhan Satu Keluarga di Medan

Khofifah menjenguk Kinara sekembalinya dari Aceh Tenggara mengunjungi korban longsor dan banjir bandang. Kirana dirawat di RSUP H Adam Malik Medan setelah menjalani operasi pembekuan darah di bagian kepala.?

"Dua mainan itu adalah permintaan khusus Kinara jadi sebisa mungkin dipenuhi, terutama diecast pesawat berwarna putih," ungkap Khofifah.?

Khofifah juga membawakan tas sekolah, tempat makan dan minum, buku cerita anak, susu, dan pampers. Seluruh bingkisan itu sengaja dibawa Khofifah guna menghibur Kinara.?

Melihat bingkisan tersebut, Kinara langsung meresponnya lalu bangun dan ikut bermain. Balita perempuan tersebut terlihat begitu gembira.?

Hari Santri 2019

Menurut Khofifah, Balita Kinara dipastikan mengalami trauma mendalam setelah menyaksikan pembunuhan kejam yang dilakukan oleh Andi Lala yang masih memiliki hubungan saudara.?

"Kami akan lakukan assesmen terlebih dahulu, setelah itu dilakukan pendampingan oleh tim psikososial," ujarnya.

Lama pendampingan, lanjut dia, minimal dilakukan selama tiga bulan kedepan. Setelah itu, akan dilakukan secara berkala sesuai keadaan psikologi Kinara.?

Menurut Khofifah, hal terpenting saat ini adalah memastikan Kinara memperoleh perlindungan, pengasuhan, dan pemenuhan kebutuhan utamanya dari keluarga inti. Dengan demikian kesejahteraan Kinara dapat lebih terjamin.?

Hari Santri 2019

"Saya harap keluarga yang ditunjuk menjadi wali bisa memberikan perlindungan dan pengasuham yang baik kepada Kinara," tuturnya.?

Sebelumnya, kejahatan menimpa dan menewaskan satu keluarga di Medan, Ahad (9/4/2017) lalu. Para korban adalah pasangan suami istri Riyanto (40) dan Sri Ariyani (35), serta dua anak, Naya (13), dan Gilang (8). Mereka warga Jalan Kayu Putih, Gang Benteng, Mabar, Medan Deli. Sumarni (60), mertua Riyanto, juga meninggal. Mereka warga Jalan Kayu Putih, Gang Benteng, Mabar, Medan Deli.?

"Semoga seluruh korban diterima Allah SWT dan Kirana bisa melanjutkan hidup lebih baik dan mampu melupakan kejadian ini," tutup Khofifah. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 RMI NU, Hikmah, PonPes Hari Santri 2019

Selasa, 20 Juni 2017

IPNU-IPPNU Harus Sentuh Level Paling Bawah

Cirebon, Hari Santri 2019. Visi besar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) ialah bagaimana membumikan nilai-nilai Aswaja kepada santri dan pelajar. Namun, hal itu tidak akan bisa tercapai jika struktur organisasi pelajar NU ini belum sepenuhnya menyentuh level paling bawah yang merupakan binaan IPNU-IPPNU.

"Bagaimana melakukan idiologisasi keaswajaan kepada pelajar dan santri di Kabupaten Cirebon. Karenanya, Pimpinan Anak Cabang, Pimpinan Ranting dan Pimpinan Komisariat mutlak harus dibentuk," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU, Asep Irfan Mujahid dalam Pelantikan PC IPNU-IPPNU Kabupaten Cirebon di Gedung NU Center, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Sabtu (22/4).

IPNU-IPPNU Harus Sentuh Level Paling Bawah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Harus Sentuh Level Paling Bawah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Harus Sentuh Level Paling Bawah

Ia mengatakan, sejarah panjang IPNU-IPPNU tak ada artinya tanpa penataan SDM yang tidak terkonsolidasi. Menurutnya, untuk menjawab berbagai tantangan saat ini IPNU-IPPNU harus menghimpun kekuatan yang dimiliki untuk menentukan arah organisasi.

"Selama belum menyentuh akar paling fundamental, sampai kapanpun kader IPNU-IPPNU tidak akan bisa menjawab segala tantangan saat ini. Jadi, pada hakekatnya harus bentuk mentalitas kader. Sehingga, apapun tantangannya bisa menyesuaikan diri dan siap menjawab tantangan itu," ujar dia.

Selain prosesi pelantikan, acara ini juga disertai deklarasi pelajar dan santri anti-kekerasan terhadap perempuan. Pelantikan PC IPNU IPPNU Kabupaten Cirebon dihadiri sejumlah tamu undangan. Diantaranya Katib Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Abdul Hadi, jajaran badan otonom NU di lingkungan PCNU Kabupaten Cirebon, perwakilan PW IPNU IPPNU Jawa Barat dan sejumlah dewan pembina PC IPNU IPPNU Kabupaten Cirebon. (Imam Baehaqi/Zunus)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 PonPes, Pendidikan, Nahdlatul Hari Santri 2019

Jumat, 16 Desember 2016

Jauhkan Takbir dan Sujudmu dari Keangkuhan

Oleh Ahmad Ishomuddin

Tugas utama dari diutusnya Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallama hanyalah untuk menyempurnakan akhlak. Adapun ibadah seperti shalat, zakat, puasa, dan haji--misalnya--hanyalah syariat. Syariat artinya jalan yang lurus, sebagai sarana yang wajib ditempuh para hamba Allah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan Allah Yang Maha Suci itu hanya bisa didekati oleh jiwa-jiwa yang suci dari setiap akhlak yang tercela. Jadi, tujuan ditempuhnya syariat (jalan lurus agama) pada hakikatnya adalah tercapainya tujuan berupa akhlak yang mulia.

Jauhkan Takbir dan Sujudmu dari Keangkuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jauhkan Takbir dan Sujudmu dari Keangkuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jauhkan Takbir dan Sujudmu dari Keangkuhan

Penempuhan jalan lurus berupa berbagai ibadah yang tidak memetik buah akhlak mulia adalah perjalanan yang belum tuntas hingga tujuannya, yang jika tidak dilanjutkan atau hanya berhenti di tengah perjalanan itu berarti telah gagal mencapai tujuan beragama, yakni meraih kesempurnaan akhlak.

Membiasakan shalat wajib pada waktunya dan disempurnakan dengan beragam shalat sunnah harus terus menerus dilakukan hingga jiwa pelakunya selalu berzikir, mengingat Allah, mencecap ketenangan jiwa, mencegahnya dari segala bentuk perbuatan keji dan munkar. Tujuan tersebut jelaslah berupa pencapaian akhlak yang mulia. Mengerjakan puasa, baik fardlu atau sunnah, adalah untuk menahan diri dari segala yang semula mubah (boleh), apalagi dari segala yang diharamkan, karena penempuhan jalan puasanya adalah mengarah pada puncak kesadaran taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah dan merasa selalu dalam pengawasan Allah, sehingga ia menjadi manusia yang bertaqwa kepada-Nya. Lagi-lagi tujuan hakiki dari puasa adalah pencapaian akhlak yang mulia. Ibadah kepada Allah yang tidak membuat pelakunya menjadi lebih baik akhlaknya di hadapan Allah dan keseluruhan makhluk-Nya adalah penempuhan jalan lurus yang tidak sempurna, hanyalah kelelahan fisik dan jiwa yang sia-sia, dan kegagalan secara total dalam beragama.

Hari Santri 2019

Apabila mengingat, memaknai dan memetik keseluruhan bacaan dan gerakan shalat sepanjang menunaikannya tidak mampu, maka minimal setiap orang yang shalat dapat mengerti makna takbiratul ihram di awal shalatnya, yakni bacaan "Allahu Akbar (Allah Maha Besar), " dan memahami gerakan sujud, yakni meletakkan kening dan anggota sujud yang lain di tempat sujud, suatu tempat terendah (tanah, bumi) saat berhadapan dengan Allah Yang Maha Agung.

Hari Santri 2019

Semua itu pada hakikatnya adalah penempuhan jalan menuju perendahan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah Sang Pencipta alam semesta. Sehingga buah dari takbir dan sujud dalam keseluruhan shalatnya adalah menorehkan sikap tawadlu (rendah hati) sepanjang hayatnya, bukan justru menjadi manusia sombong, merasa hebat, paling suci, paling berpengaruh dan menjadi provokator dalam bekerja sama menebar fitnah, dosa dan saling permusuhan. Teriakan takbir kapan dan di mana saja sungguh tidak dimaksudkan agar para pengucapnya mengumbar syahwat kebencian kepada sesama makhluk-Nya, dan tidak pula bertujuan untuk merusak keharmonisan hidup manusia di muka bumi. Maka, jauhkan takbirmu dari setiap keangkuhan dalam jiwamu!

Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Jadwal Kajian, PonPes Hari Santri 2019

Sabtu, 10 September 2016

Ayat Al-Quran Bermanfaat Praktis Asal Tahu Kuncinya

Brebes, Hari Santri 2019. Pimpinan Ranting GP Ansor Jatibarang Lor Kecamatan Jatibarang Kabupaten Brebes Jawa Tengah menggelar kegiatan bulan Ramadhan 1435 H pada Ahad pagi (6/7) dengan “Ansor Mengaji“ Kuliah Shubuh di Musholla Baitul Hidayah Blok Rajem Jatibarang Lor.

Ustadz Jazuli Purnomo hadir mengisi taushiyah pada kesempatan itu. Al-Qur’an, menurut dia, merupakan pedoman hidup dan isinya sangat komplit hanya kita kurang tahu kunci-kuncinya. Padahal kalau kita tahu banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang bermanfaat praktis bagi kita semua.

Ayat Al-Quran Bermanfaat Praktis Asal Tahu Kuncinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayat Al-Quran Bermanfaat Praktis Asal Tahu Kuncinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayat Al-Quran Bermanfaat Praktis Asal Tahu Kuncinya

Ia mencontohkan, ada ayat yang bisa menjadi penangkal terhadap gangguan syaitan, sihir, serangan teluh dan santet. “Caranya dibaca sebelum mau tidur Surat Annas, Al Falaq, Al Ikhlas kemudian di tiupkan ke tangan, lalu di usapkan ke sekujur tubuh,” ujarnya.

Hari Santri 2019

Ia menambahkan, ada lagi Surat Al-Qur’an yang gunanya agar rumah tangga kita menjadi sakinnah mawaddah warahmah. Caranya yaitu bacalah Surat Al Kautsar di baca 17 kali sehabis sholat 5 waktu.

Hari Santri 2019

Di samping itu, lanjut dia, ada surat anti melarat yaitu baca Surat Al-Waqiah. Kemudian ada lagi Surat Al Mulk yang fadhilahnya ketika meninggal dunia terbebas dari siksa kubur.

“Semua bacaan Al-Quran syaratnya harus dibaca secara ikhlas dan istiqomah,” terang Ustadz Jazuli Alumni Ponpes Mahadut Tholabah Babakan Tegal.

Ustadz Jazuli juga menjelaskan, ada 4 resep bagi orang tua agar menjadikan anak yang sholeh sholehah. Pertama tarbiyatul aulad fiddin masukan anak ke pendidikan agama.

Esuk SD sore madrasah. Yen pan nyambut gawe niat Ibadah. Yen ibadah sing istiqomah. Eben matine khusnul khotimah,“ katanya.

Kedua, thoamuhu min halaalin. Hendaklah anak dikasih makan dengan makanan yang halal. Ketiga uswatun hasanah. Hendaklah orang tua menjadi suri tauladan (contoh yang baik). Keempat, bid dua. Hendaklah orang tua jangan henti-hentinya selalu berdoa kepada Allah SWT.

“Doanya orang tua terhadap anak seperti doanya Nabi terhadap umatnya. Doa adalah intisari ibadah,” ujar Ustadz Jazuli juga Ketua PAC GP Ansor Jatibarang.

Sementara Ketua GP Ansor Jatibarang Lor Hadi Mulyanto mengatakan, “Ansor Mengaji“ ini guna memberikan pemahaman dan pelestarian nilia-nilai agama terhadap masyarakat agar Islam dipahami menyeluruh, khususnyaala Ahlussunnah wal Jamaah.

“Bulan puasa tidak menjadi halangan untuk vakum dalam menjalankan roda berorganisasi, bahkan justru bulan-bulan puasa inilah semestinya menjadi momentum lebih Ansor untuk berkhidmat kepada umat,” kata Hadi yang juga Alumni STAIBN Tegal.

Dalam acara tersebut hadir beberapa pengurus Musholla Baitul Hidayah Ustadz Bunali, Teguh, Herwanto. (Red:Abdullah Alawi)

GP ANSOR JATIBARANG NGAJI

Ayat Al-Quran Bermanfaat Praktis Asal Tahu Kuncinya

Brebes, Hari Santri 2019

Pimpinan Ranting GP Ansor Jatibarang Lor Kecamatan Jatibarang Kabupaten Brebes Jawa Tengah menggelar kegiatan bulan Ramadhan 1435 H pada Ahad pagi (6/7) dengan “Ansor Mengaji“ Kuliah Shubuh di Musholla Baitul Hidayah Blok Rajem Jatibarang Lor.

Ustadz Jazuli Purnomo mengisih taushiyah. Al-Qur’an, menurut dia, merupakan pedoman hidup dan isinya sangat komplit hanya kita kurang tahu kunci-kuncinya. Padahal kalau kita tahu banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang bermanfaat praktis bagi kita semua.

Ia mencontohkan, ada ayat yang bisa menjadi penangkal terhadap gangguan syaitan, sihir, serangan teluh dan santet. “Caranya dibaca sebelum mau tidur Surat Annas, Al Falaq, Al Ikhlas kemudian di tiupkan ke tangan, lalu di usapkan ke sekujur tubuh,” ujarnya.

Ia menambahkan, ada lagi Surat Al-Qur’an yang gunanya agar rumah tangga kita menjadi sakinnah mawaddah warahmah. Caranya yaitu bacalah Surat Al Kautsar di baca 17 kali sehabis sholat 5 waktu.

Di samping itu, lanjut dia, ada surat anti melarat yaitu baca Surat Al-Waqiah. Kemudian ada lagi Surat Al Mulk yang fadhilahnya ketika meninggal dunia terbebas dari siksa kubur. “Semua bacaan Al-Quran syaratnya harus dibaca secara ikhlas dan istiqomah,” terang Ustadz Jazuli Alumni Ponpes Mahadut Tholabah Babakan Tegal.

Ustadz Jazuli juga menjelaskan, ada 4 resep bagi orang tua agar menjadikan anak yang sholeh sholehah. Pertama tarbiyatul aulad fiddin masukan anak ke pendidikan agama.

 

“Esuk SD sore madrasah. Yen pan nyambut gawe niat Ibadah. Yen ibadah sing istiqomah. Eben matine khusnul khotimah,“ katanya.

 

Kedua, thoamuhu min halaalin. Hendaklah anak dikasih makan dengan makanan yang halal. Ketiga uswatun hasanah. Hendaklah orang tua menjadi suri tauladan (contoh yang baik). Keempat, bid dua. Hendaklah orang tua jangan henti-hentinya selalu berdoa kepada Allah SWT.

 

“Doanya orang tua terhadap anak seperti doanya Nabi terhadap umatnya. Doa adalah intisari Ibada,” ujar Ustadz Jazuli juga Ketua PAC GP Ansor Jatibarang.

 

Sementara Ketua GP Ansor Jatibarang Lor Hadi Mulyanto mengatakan, “Ansor Mengaji“ ini guna memberikan pemahaman dan pelestarian nilia-nilai agama terhadap masyarakat agar Islam dipahami menyeluruh, khususnyaala Ahlussunnah wal Jamaah.

“Bulan puasa tidak menjadi halangan untuk vakum dalam menjalankan roda berorganisasi, bahkan justru bulan-bulan puasa inilah semestinya menjadi momentum lebih Ansor untuk berkhidmat kepada umat,” kata Hadi yang juga Alumni STAIBN Tegal.

Dalam acara tersebut hadir beberapa pengurus Musholla Baitul Hidayah Ustadz Bunali, Teguh, Herwanto. (Red:Abdullah Alawi)

 



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Jadwal Kajian, PonPes Hari Santri 2019

Jumat, 30 Januari 2015

Membandingkan Keunggulan Pesantren dengan Universitas

Oleh Widya Priyahita Pudjibudojo



Sebagai sebuah sistem pengetahuan, universitas di Indonesia tergolong institusi yang masih muda. Namun demikian, secara cepat universitas berhasil menggantikan dominasi institusi keilmuan berbasis lokal yang lebih dahulu eksis (seperti pesantren). Universitas merepresentasikan tidak hanya komitmen negeri ini pada modernitas, tetapi juga diskontinuitas dari tradisi pembelajaran yang ada dalam masyarakat. Pun menghadirkan seperangkat pengetahuan yang berbeda dengan pemahaman orang awam. Tak mengherankan jika universitas di Indonesia seringkali dituduh ‘asing’, ‘terasing’, dan atau bahkan ‘mengasingkan’ masyarakat dari konteks-kultur yang melatari.

Membandingkan Keunggulan Pesantren  dengan Universitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Membandingkan Keunggulan Pesantren dengan Universitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Membandingkan Keunggulan Pesantren dengan Universitas

Dalam pengembangannya kemudian, universitas sebagai model adopsi yang tidak indigen ini, membutuhkan role-model dari negara-negara maju. Terjalinlah relasi patronistik di antara keduanya yang menimbulkan efek ketergantungan. Hal ini masih harus diperparah oleh kenyataan globalisasi, kemajuan teknologi informasi, dan masifnya industrialisasi penerbitan yang dikembangkan negara-negara maju. Akibatnya arus lalu-lintas pengetahuan bergerak menjadi sangat agresif: cepat, mudah, dan murah, namun tanpa menanggalkan coraknya yang cenderung satu arah (one way distribution).

Kondisi demikian menyebabkan posisi awal hingga kini pengembangan keilmuan di mayoritas negara pascakolonial, seperti Indonesia, cenderung “mencari ke luar” (outward looking) daripada secara induktif menggali khazanah yang dimilikinya (indigen). Tak mengherankan jika banyak ilmuwan lalu gagal dalam menarik gists (inti sari/visi kebenaran ilmiah) dari kandungan teori yang dipelajarinya. Dalam bahasa yang lebih tajam, produksi keilmuan tidak (terlalu) mengemuka. Seakan riuh-semarak namun lebih berupa konsumsi yang taken for granted.

Hari Santri 2019

Tentu ini problematik. Teori-teori yang dikembangkan dalam konteks yang berbeda tersebut pada akhirnya terbukti kesulitan menjawab kebutuhan masyarakat. Ia bersama klaim universalitas yang dibawanya lalu (mulai) digugat dan dipertanyakan ulang. Munculah usualan-usulan yang berulang tapi selalu gagal berkembang, yakni: indigenisasi ilmu sosial. Semacam upaya pengembangan sistem nilai dan pengetahuan lokal untuk dijadikan alternatif paradigma ilmu sosial yang lebih kontekstual. Baik sifatnya bagian dari genealogi pengetahuan berbasis lokal yang hendak diilmiahkan; sekaligus, indigenisasi sebagai bagian dari kontekstualisasi ilmu-ilmu sosial yang berkembang kini dalam berhadapan dengan material dan semantik lokal. Untuk persepsi yang kedua, sifatnya lebih moderat. Bahwa pengaruh, konten, paradigma, atau apa pun yang ‘berbau’ luar, tidaklah seluruhnya ditolak, melainkan coba didapatkan relevansinya dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat lokal. Jadi tidak xenophobic. Tidak juga taken for granted.

Dengan demikian orientasi pengembangan ilmu tak hanya menyangkut relevansi ilmiah namun juga relevansi sosial. Tak hanya bersifat etik-normatif, tetapi juga sebisa mungkin applicable (dapat diaplikasikan). Bagaimana menjadikan hasil dari pengembangan ilmu menjadi solusi efektif bagi permasalahan yang berkembang di tengah masyarakat. Yang utama tak lagi persoalan benar-salah (right or wrong/correct or incorrect) semata, tetapi lebih dari itu adalah kompatibilitas atau kecocokan. Karenanya jelaslah hampir bisa dipastikan bahwa tak ada teori yang fix, permanen, serta universal, dalam khazanah ilmu sosial sehingga pendekatan spasio-temporal menjadi relevan dikembangkan.

Hari Santri 2019

Poin yang ingin disampaikan adalah otokritik atau self critic. Bukan apologetik. Dengan begitu, tantangan yang perlu segera dijawab, yakni: bagaimana menumbuhkan kemandirian dan kepercayaan diri para intelektual negara-negara poskolonial, khususnya untuk mengatasi problem lokal yang mengemuka di negerinya dengan term poin yang berasal dari sistem kultural yang ada? Tak lagi berpuas sebagai pengamat, sales, atau konsumen ilmu dengan pilihan terbatas take it, leave it, atau paling jauh melakukan konstekstualisasi. Namun lebih jauh turut bermain sebagai producer keilmuan.



Kebangkitan Pesantren


Isu ini sebenarnya bukan isu yang baru. Kita dapat melihat progresivitas yang baik di sejumlah tempat seperti India, sebagian Afrika, Amerika Latin, atau pun Selandia Baru. Lalu apa hubungannya dengan pesantren sebagaimana tertulis dalam judul di atas? Saya membayangkan universitas mulai sadar dan membuka diri akan pluralitas epistemologis di luar dirinya. Contohnya adalah pesantren yang sedari awal disinggung memiliki basis kultural yang mengakar di Indonesia. Sayangnya dari dulu hingga kini kehadirannya sebagai pusat pengembangan ilmu masih terpinggir.

Sedikit kilas balik. Pesantren karena tumbuh dan berkembang secara akulturatif, kemudian dalam perjalananya berperan sebagai agen transformasi sekaligus penjaga kultur masyarakat. Pada era kolonial, pesantren menjadi salah satu pusat counter-culture atas injeksi budaya Barat yang dibawa oleh pemerintah kolonial. Pesantren hadir sebagai alternatif atas model dan akses pendidikan maupun pemberdayaan masyarakat.

Tak heran, karena aktivitas tersebut, kemudian pesantren (kiai dan santrinya) dianggap subversif oleh pemerintah kolonial. Terjadi konflik kepentingan yang begitu kuat atas kedua kekuatan ini; baik dalam hal penyebaran agama, budaya, maupun pengaruh dan penguasaan ekonomi-politik. Akibatnya kemudian muncul strategi eksklusi. Pemerintah kolonial melakukan politik segregasi dengan mempertegas pengelompokkan masyarakat yang terdiri dari: santri, abangan, dan priyayi. Kelompok yang disebut terakhir dicangkok sebagai agen budaya dan makelar identitas. Diberikan hak-hak istimewa seperti pendidikan dan jabatan-jabatan publik. Sedangkan kelompok sisanya dibiarkan, disingkirkan (marginalisasi), dan cenderung diposisikan vis a vis.

Dalam hal keilmuan, apa yang berkembang dalam tradisi pesantren tidak pernah diserap, diinterkoneksi, atau diintegrasikan dalam model pendidikan modern a la Barat (baca: universitas). Sebaliknya justru dinegasi. Ketika universitas versi Barat pertumbuhannya semakin pesat dan diadopsi oleh pemerintah pasca kemerdekaan, interaksi keduanya tetap kering. Inilah penjelas mengapa diskursus keilmuan pesantren terbilang minim dan menjadi sesuatu yang asing dalam diskursus ilmu pengetahuan umum (secular) di Indonesia.

Kiai dalam teks-teks sejarah jarang sekali diposisikan sebagai seorang ilmuwan atau intelektual; kepergian haji ke Tanah Suci para ulama jarang dibaca sebagai upaya pengembangan ilmu namun lebih sebagai aktivitas ibadah sekaligus pendalaman pemahaman keagamaan. Literatur seperti kitab kuning yang menjadi referensi utama di pesantren lebih dianggap sebagai literature keagamaan ketimbang sebagai literature keilmuan (misalnya: literature ilmu hokum, ilmu ekonomi, ilmu politik, dll). Memang benar pesantren selain diakui sebagai pusat keagamaan juga diakui sebagai pusat perubahan sosial karena berbagai upaya pemberdayaan yang dilakoninya. Namun sebagai pusat keilmuan masih sebagai pemain pinggiran. Yang perlu dilakukan adalah upaya-upaya dekolonisasi metodologis, misalnya dengan membongkar tafsiran teks-teks sejarah.

Selain problem sejarah, ada faktor perbedaan epistemologi yang signifikan antara pesantren dan pendidikan sekular-modern. Yang pertama, adanya integrasi antara agama dan ilmu; serta integrasi antara ilmu dengan laku. Tujuan akhir dalam ilmu adalah praktik keseharian sehingga nilai-nilai agama harus masuk di dalamnya. Bahkan menjadi sandaran utama. Sedangkan yang kedua, berupaya memisahkannya secara tegas, atau sering disebut value free. Ilmu dibebaskan dari pengaruh budaya dan agama untuk mengejar objektivitas.

Di luar itu, ada pula kategori disiplin keilmuan yang berbeda. Dalam pesantren spesialisasi tidak dilakukan dengan kategori semacam politik, hukum, sosiologi, ekonomi, dan filsafat. Di sana kajian yang dikembangkan berbasis isu sehingga coraknya cenderung generalis. Santri dalam pesantren mempelajari satu kitab yang memuat banyak isu. Sedangkan dalam universitas, mahasiswa mempelajari satu isu dengan menggunakan banyak kitab. Imbas regangan dua arus besar tradisi keilmuan ini masih berlanjut hingga kini.

Mendamaikan keduanya tentu bukan perkara mudah. Terlebih, penerapan aturan main baku dalam pengembangan ilmu semakin menutup peluang hadirnya variasi keilmuan dengan epistemologi berbeda seperti pesantren. Hal ini kerap dianggap sebagai efek positivisme ilmu yang kemudian digugat-paksa. Namun demikian, belakangan lahirlah banyak kritik. Salah satunya datang dari Paul Feyerabend yang mungkin bisa menjadi alternatif pintu masuk cara pandang baru.

Dalam paparannya bertajuk Against Method (1978), dia menguraikan bahwa pada dasarnya ilmu pengetahuan dan perkembangannya tidak perlu diterangkan ataupun diatur oleh segala macam aturan, sistem, maupun hukum. Ilmu pengetahuan saatnya keluar dari aturan metodologis yang selalu digunakan para ilmuwan. Aturan metodologis hanya akan membatasi aktivitas para ilmuwan sehingga akan membatasi kemaju ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan terjadi karena kreativitas individual. Karena itu, satu-satunya prinsip yang tidak menghambat perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan adalah konsep yang dinamainya anything goes. Penolakan atas keteraturan dan aturan main baku dalam pengembangan ilmu. Ilmuwan harus bebas. Kegiatan ilmiah adalah suatu upaya yang anarkistik karena tidak mengandalkan satu metode tertentu. Muaranya adalah pluralitas teori.

Mencairnya aturan main pengembangan ilmu sebagaimana dipaparkan Feyerabend akan mengakomodasi berbagai varian keilmuan yang selama ini terpinggir dan dipinggirkan, seperti pesantren. Sudah saatnya universitas di Indonesia membuka diri. Menyadari bahwa epistemologi keilmuan tidak tunggal. Hal ini khususnya bukan untuk kepentingan pesantren karena tanpa universitas mereka sudah dan akan tetap survive. Sebaliknya adalah untuk kepentingan universitas itu sendiri dalam rangka mengatasi kejumudan yang mulai menyeruak.

Dari pesantren kita belajar bahwa orientasi aktivitas keilmuan jelas bukanlah ilmu itu sendiri tetapi menjawab problem sosial. Jika universitas selama ini baru berkutat dalam wacana ilmu yang membumi dan transformatif, pesantren sudah melakoninya jauh-jauh hari.

Dalam buku "Bilik-Bilik Pesantren", Cak Nur, pernah menulis, "Seandainya negeri kita ini tidak mengalami penjajahan, mungkin pertumbuhan sistem pendidikannya akan mengikuti jalur-jalur yang ditempuh pesantren-pesantren. Sehingga perguruan-perguruan tinggi yang ada sekarang ini tidak akan berupa UI, ITB, IPB, UGM, Unair, atau pun yang lain, tetapi mungkin namanya Universitas Tremas, Krapyak, Tebuireng, Bangkalan, Lasem, dan seterusnya. Kemungkinan ini bisa kita tarik setelah melihat dan membandingkan secara kasar dengan pertumbuhan sistem pendidikan di negeri-negeri Barat sendiri, di mana hampir semua universitas terkenal (misal: Harvard, Yale, Princeton, Cambridge, Oxford -pen) cikal-bakalnya adalah perguruan-perguruan yang semula berorientasi keagamaan (seminari). Mungkin juga, seandainya kita tidak pernah dijajah, pesantren-pesantren itu tidaklah begitu jauh terpencil di daerah pedesaan seperti kebanyakan pesantren sekarang ini, melainkan akan berada di kota-kota pusat kekuasaan dan ekonomi, atau sekurang-kurangnya tidak terlalu jauh dari sana, sebagaimana halnya sekolah-sekolah keagamaan di Barat yang kemudian tumbuh menjadi universitas-universitas tersebut."

Pemerintahan kolonial tidak lagi eksis. Bayangan Cak Nur, bukanlah banyangan utopis jika semakin banyak yang memiliki bayangan serupa. Mari kita bayangkan dan upayakan bersama. Bayangan kiai dan profesor maupun santri dan mahasiswa dapat bersanding dalam forum-forum ilmiah dengan epistemologi yang dikembangkannya masing-masing. Bayangan bahwa kitab kuning dan jurnal dapat sama-sama dirujuk. Bayangan atas pesantren yang tidak selalu diidentikkan dengan agama, politik, atau pun pemberdayaan umat semata namun juga bagian dari komunitas epistemik yang melakukan pengembangan ilmu.

Penulis adalah mahasiswa Global Public Policy di Russian Presidential Academy of National Economy and Public Administration (RANEPA), Moscow; aktif di PCINU Federasi Rusia

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 PonPes Hari Santri 2019

Jumat, 18 April 2014

Ribuan Hektare Sawah Banjir, Petani Majalengka Rugi Ratusan Juta

Majalengka, Hari Santri 2019. Ketua Lembaga Pemberdayaan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Majalengka Jakfar menyatakan prihatin atas terendamnya ribuan hektare sawah milik petani di empat desa di kecamatan Ligung dan kecamatan Sumberjaya, Majalengka. Banjir akibat luapan sungai Cikamangi ini, menyebabkan kerugian yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Banjir merendam empat desa itu seperti desa Sukawera, desa Leuweunghapit, desa Majasari kecamatan Ligung, dan desa Lojikobong kecamatan Sumberjaya.

Ribuan Hektare Sawah Banjir, Petani Majalengka Rugi Ratusan Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Hektare Sawah Banjir, Petani Majalengka Rugi Ratusan Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Hektare Sawah Banjir, Petani Majalengka Rugi Ratusan Juta

Jakfar menjelaskan, jika musim hujan tiba sungai Cikamangi meluap dan tanaman padinya dipastikan terendam banjir. Masalah banjir ini terjadi setiap tahunnya. Lazimnya air baru surut setelah empat hari. Ironisnya, pemerintah daerah maupun instansi terkait lainnya belum menangani masalah klasik ini.

Hari Santri 2019

"Kalau sering terendam banjir, tanaman padi menjadi rusak dan kami selalu gagal panen hingga rugi puluhan juta rupiah,” kata Jakfar saat ditemui Hari Santri 2019 di mushola samping Gedung PCNU Majalengka, Selasa, (3/2) siang.

Dulu, Jakfar bercerita, para petani sempat menormalisasikan sungai tapi itu sudah berlangsung lama. "Kalau sekarang belum digaruk lagi, jadi air sungai meluap lagi," katanya.

Hari Santri 2019

Menurut para warga, banjir luapan sudah terjadi setiap tahun terhitung dari tahun 2000 hingga merendam ratusan tanaman padi. "Sampai sekarang masih turun hujan, airnya masih menggenangi ribuan hektare tanaman padi milik petani," tuturnya.

Pihak LPPNU Majalengka menuntut Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) segera menormalisasi aliran sungai Cikamangi karena selalu merugikan petani. "Kami harap BBWSC segera turun tangan, agar kerugian petani tidak terjadi setiap tahunnya,” jelasnya. (Aris Prayuda/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 RMI NU, PonPes Hari Santri 2019

Senin, 12 November 2012

LKKNU Dukung Swasembada Daging

Bogor, NU-Online. Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Bogor mengadakan pelatihan Penggemukan Kambing, Selasa (24/4) kemarin di “ Tawakal Farm” Desa Cimande Hilir Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.

LKKNU Dukung Swasembada Daging (Sumber Gambar : Nu Online)
LKKNU Dukung Swasembada Daging (Sumber Gambar : Nu Online)

LKKNU Dukung Swasembada Daging

"LKKNU Kab.Bogor berusaha menerapkan ajaran Rasulluh, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia,” demikian dikatakan Dr Ade Heryati Helmi, Ketua PC LKKNU Kabupaten Bogor. "Melalui program penggemukan Kambing ini kami berusaha memberikan manfaat dalam lingkungan Keluarga dan Masyarakat," imbuhnya saat ditemui Hari Santri 2019.

"Sebagai respon terhadap program pemerintah swasembada daging yang dilaksanakan oleh LKKNU Kab.Bogor, saya berharap warga NU tidak hanya ngaji kitab, tapi juga Ngaji Peternakan, supaya tercipta warga-warga NU yang punya kwalitas bidang agama, ekonomi dan peningkatan kwalitas gizi masyarakat,” kata Kang Doni, sapaan akrab Ketua PCNU Kabupaten Bogor. Program ini diharapkan juga menciptakan para Muzakki-muzakki, ( orang yang berkewajiban mengeluarkan Zakat, Red )Tambah Kang Doni saat dihubungi Hari Santri 2019 via Telephon.

Hari Santri 2019

Ditempat yang sama, wakil ketua LKKNU, Subarkah mengatakan, pelatihan ini bertujuan peningkatan ekonomi ummat khususnya warga Nahdliyin, “Kebutuhan daging qurban, aqiqah, dan konsumsi warung-warung sate di kabupaten Bogor, kian meningkat, dengan diadakannya pelatihan ini tentunya untuk menjawab tantangan yang cukup menjanjikan,” tegas, Kang Barkah, yang juga sebagai salah satu Hakim di Pengadilan Agama Bogor.

Pelatihan yang diikuti oleh 40 orang peserta dan 5 pembimbing ini diikuti oleh peserta dari berbagai wilayah kabupaten Bogor, diantaranya Kecamatan Jonggol, Tanjungsari,  Megamendung, Caringin, Cogombong, Ciseeng, Parungpanjang dan Ciawi, “Pesertanya cukup fariatif, mulai dari Mahasiswa, Santri, Kyai, dan Juga Praktisi Peternak Kambing, dan ini adalah Gelombang Pertama, berikutnya akan menyusul Gelombang ke II, karena beberapa calon peserta sempat kita tolak karena keterbatasan beberapa hal” kata Akhsan Ustadhi, sekretaris PCNU kabupaten Bogor kerpada Hari Santri 2019.

Hari Santri 2019

Salah satu Peserta KH Apang Sumarna dari Kecamatan Tanjungsari mengatakan “Apa yang saya dapat hari ini merupakan ilmu yang sangat bermanfaat dan akan saya praktekkan langsung sesampainya dirumah nanti” katanya dengan bangga, sementara itu Wendy Wicaksono,dari kalangan mahasiswa salah satu peserta berasal dari STANU Jakarta yang berkampus di Kemang Bogor, mengatakan  ilmu ini adalah ilmu yang tidak ia dapat dari Kampus, dan ia akan bersemangat mengikuti pelatihan tahap II, 

"Tawakal Farm” adalah salah satu tempat penggemukan Kambing yang dimiliki H Bunyamin, yang saat ini mempunyai 2800 ekor yang sedang dalam proses penggemukan, yang notabene H Bunyamin adalah salah satu Pengurus LKKNU Kabupaten Bogor. Saya senang tempat saya dijadikan tempat Pelatihan untuk warga Nahdliyin, dan akan selalu terbuka untuk memberikan ilmunya kepada semua. Saya berharap ilmu yang saya berikan bermanfaat untuk umat," tambahnya.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Akhsan Ustadhi

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 PonPes Hari Santri 2019

Minggu, 19 Agustus 2012

Memaknai Kalimat "Tuhan Tidak Pernah Tidur"

Oleh? Ananta Damarjati

Pada saat-saat tertentu, kalimat "Tuhan tidak pernah tidur" terdengar sangat teduh dan seolah mampu mencerabut hampir separuh beban hidup. Dalam alam bawah sadarnya, manusia beriman memang dapat dengan haqqul yaqin mengaktualisasikan kalimat ini dalam konteks keseharian. Yang menarik serta hampir bisa dipastikan, kemunculan kalimat itu dalam kesadaran diri manusia cenderung insidentil dan mencerminkan potensi psikologisnya yang khas.

Bisa dibilang, kalimat itu muncul sebagai salah satu tindak bahasa manusia, sangat konotatif. Dan biasanya, kalimat itu tercetus dengan perasaan khawatir, gelisah atau waswas, pahit, getir, dan sebagainya. Yang jelas ketika itu --simplifikasinya-- manusia berada dalam posisi tidak diuntungkan, didzalimi, pasrah, hampir kalah, dan situasi pelik lain yang terlihat mustahil bagi manusia untuk dapat diselesaikan.

Dibalik itu muncul sosok “Maha Sempurna” yang terkesan sangat dimonopoli; bahwa Dia sedang bersama saya kali ini, Dia tahu saya yang benar, maka anda memusuhi pihak yang salah, dan ribuan kalimat imajiner lain yang jika memang betul seperti itu, samasekali tidak membawa penyelesaian. Karena makna denotatifnya sangat tidak berhubungan dengan ide atau representasi psikis yang ditimbulkan kalimat tersebut kepada kesadaran.

Memaknai Kalimat Tuhan Tidak Pernah Tidur (Sumber Gambar : Nu Online)
Memaknai Kalimat Tuhan Tidak Pernah Tidur (Sumber Gambar : Nu Online)

Memaknai Kalimat "Tuhan Tidak Pernah Tidur"

Sebagaimana kritik Feuerbach terhadap agama. Bahwa manusia beragama karena terikat oleh alam. Manusia lemah sedangkan alam yang didapatinya sangat kuat dan ganas. Oleh karena itu untuk mengatasi, tepatnya, untuk membebaskan diri dari alam yang ganas ini manusia membayangkan suatu kekuatan berpribadi sempurna.

Dengan bayangan ini manusia mampu mengatasi segala macam penderitaannya. Ringkasnya, bayangan Allah hanyalah refleksi dari jiwa manusia yang sengsara. Seorang yang miskin mempunyai tuhan yang kaya, orang-orang cinta damai memiliki tuhan yang belas kasih. (Andi Muawiyah Ramly, 69:2009).

Hari Santri 2019

Pada titik selanjutnya terlihat bahwa, kalimat "Tuhan tidak tidur" kurang lebih hanya menjadi salah satu bentuk tindakan manusia yang konotasinya tidak menampilkan hakikat kalimatnya. Makna yang ditimbulkan pun tidak terikat, tergantung posisi dan kegunaan, sedang mencari keadilan kah, atau terhimpit ekonomi kah, menghadapi fitnah kah, dan lain-lain.

Dan, jika bicara kegunaan serta posisinya, sepintas terasa kalimat itu tidak terdeskripsi dengan jelas. Posisinya kabur kepalang tanggung karena ada pada titik ambivalensi antara takdir Tuhan dan ikhtiar manusia. Kegunaannya, sementara ini belum ada yang lebih tepat dari sekedar penegasan tentang situasi sulit yang sedang dihadapi manusia.

Kalau boleh disederhanakan, bercocok tanam, mencangkul, memupuk jelas ikhtiar seorang petani, manusia. Tiga bulan kedepan bisa panen atau tidak itu takdir Tuhan. Jika mengacu pada contoh ini, logika kalimat "Tuhan tidak tidur" bisa jadi muncul ketika ditengah jalan dijumpai serangan hama wereng yang sangat masif, padahal keluarga petani kecil itu sedang sangat membutuhkan panen untuk menopang biaya hidup.

Jika kalimat itu muncul dalam sinetron hari ini, niscaya penonton akan dibuat geram karena bersamaan dengan itu ada tokoh protagonis yang sedang nelangsa ditimpa musibah dahsyat, bisa jadi disebabkan serangan dari tokoh antagonis. Biasanya, oleh sutradara dramatisasi kalimat itu diletakkan sebelum titik klimaks.?

Hari Santri 2019

Sayangnya dunia manusia dan bahasanya tidak berada dalam tataran logika sinetron, yang punya ribuan cara untuk mengeluarkan Tuhan dari mesin cetaknya dengan rating dan iklan sebagai titik pijaknya. Kalaupun dunia nyata ada persamaan dengan beberapa situasi sinetron, hal itu tak lebih dari sekedar kemiripan sebagaimana kemiripan dalam sebuah keluarga besar.

Fenomena kalimat itu dalam keseharian, sekali lagi, persis di tengah antara takdir dan ikhtiar, status quo yang tak terdefinisikan. Dalam tataran aksiologi, kemunculannya selalu berdenyut di atas ambivalensi makna sebagai bentuk pelarian psikis (untuk tidak menyebutnya sebagai fatalis). Sehingga setelah kalimat itu terlontar, keburaman melihat permasalahan hidup terkesan semakin nyata, sulit untuk dilanjutkan.

Sebenarnya bukan menjadi masalah serius jika "Tuhan tidak tidur" muncul sebagai pelarian psikis dan berhenti disitu, fitrah manusia memang lemah, hina, tak berdaya sehingga butuh sebuah pertolongan. Dalam ilmu tassawuf hal ini menjawab pernyataan Feuerbach, sekaligus membalik paradigma antropologis barat umumnya yang berbunyi "aku berpikir maka aku ada" dengan "aku tidak ada maka Dia ada".

Masalahnya, tidak ada kejelasan posisi aku sebagai mahkluk dan Dia sebagai Tuhan dalam kalimat itu. Di sini saya bukan bermaksud untuk mendikotomiskan antara takdir dengan ikhtiar, antara berdzikir dan berpikir. Melainkan sekedar urun rembug tentang bagaimana memahami kedua hal itu sekecil apapun tindakannya. Apalagi kedua hal tersebut tidak boleh ditinggal salah satunya.

Pada kalimat itu jelas ada sebuah tindak dzikir, ingat kepada Tuhan. Idealnya hal ini patut diimbangi dengan intuisi, pengetahuan tentang konsep, kebenaran dan pemecahan masalah dalam kegiatan berpikir. Sehingga tidak terjadi paradigma yang keliru dalam memandang sebuah masalah.

Dalam berpikir, intuisi akan mengidentifikasi dirinya. Apakah --dalam hal ini terucapnya kalimat Tuhan tidak tidur-- itu sebagai ilham, waswas, atau struktur kejiwaan manusia itu sendiri. Ibnu Qayyim al-Jauziyah (Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, hal 292:2002), secara tegas membedakan antara ilham dan waswas menjadi empat.

Pertama, ilham dapat menghantarkan seseorang untuk berbuat sesuatu yang diridhai oleh Allah SWT dan rasulnya, sedangkan waswas sebaliknya. Kedua, ilham dapat mendatangkan kepasrahan, penyadaran, dan hasrat untuk bermuwajahah kepada Allah SWT. Sedangkan waswas menuju pada musuh-musuh Nya. Ketiga, ilham dapat menerangi ruangan batin yang dapat melapangkan dada. Sedangkan waswas dapat mendatangkan kegelapan batin yang menyesakkan dada. Keempat, ilham dapat mendatangkan ketenangan dan ketenteraman. Sedang waswas mendatangkan keresahan dan kegoncangan.

Atau, sejauh yang bisa saya tangkap dari pernyataan di atas. Ibnu Qayyim mengingatkan bahwa dalam hal dzikir, ingat saja tidak cukup. Apalagi jika tergelincir menjadi dzikir tapi tidak ingat. Dalam bahasa lain, Lillah saja tidak cukup, karena setelah itu wajib untuk juga sadar Billah. Maka penting untuk memahami sebuah persoalan dengan berpikir intuitif. Itupun harus dipilah lagi antara intuisi yang benar atau menyesatkan.

Berdasarkan asumsi ini, status quo dalam kalimat "Tuhan tidak tidur", dengan kekhasan perspektif, pengalaman serta harapan yang ada di dalamnya, rasanya menjadi penting untuk ditimbang ulang penggunaannya. Apakah dengan mengucap kalimat itu disertakan pula kesadaran intuitif, Billah, untuk mendapat sebuah ilham. Atau malah timbul dari rasa waswas dan bisikan nafsani, al-khawatir.

Memang dalam satu kalimat saja bisa menimbulkan beribu penafsiran. Tapi semua bisa salah, termasuk tulisan ini. Yang jelas dalam tulisan ini hanyalah makna denotatif bahwa Tuhan, Allah SWT tidak pernah tidur, tertidur bahkan mendengkur. Lah, kalau Tuhan tidur, siapa yang berani membangunkan?

Ananta Damarjati

Penulis adalah Alumni Ponpes Kedunglo, Kediri. Anggota aktif Lingkar Studi “Matakuhati” Semarang.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 PonPes, Kajian Islam Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock