Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Hafidz Tunanetra ini Imami Tarawih di Masjid Gus Dur

Jakarta,Hari Santri 2019. Shalat tarawih berjamaah di Masjid Al-Munawwaroh komplek kediaman KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Jalan Warung Sila Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (23/6) malam atau malam ketujuh Ramadhan menghatamkan 1 juz Al-Quran dan diimami oleh seorang hafidz tunanetra.

Hafidz Tunanetra ini Imami Tarawih di Masjid Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Hafidz Tunanetra ini Imami Tarawih di Masjid Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Hafidz Tunanetra ini Imami Tarawih di Masjid Gus Dur

"Sholat Tarawih malam ini akan diimami seorang tunanetra. Namanya Muhammad Nurdin," ujar Imam Besar Masjid Al-Munawwaroh Kiai Ahmad Ahsin kepada Hari Santri 2019 menjelang buka bersama di teras masjid yang akrab disebut Masjid Gus Dur ini.

Muhammad Nurdin (35 tahun), lulusan Pesantren Al-Anwar Desa Goa Kidul, Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon ini mengaku telah hafal Al-Quran 30 juz sejak usia 26 tahun. Ia mondok di pesantren yang diasuh KH Anwar Maksum, kakak sepupu Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, sejak 2001 hingga 2006.

Hari Santri 2019

"Ketika mondok di Cirebon, saya setoran hafalannya langsung satu maqra. Saya menghafal Quran memakai Quran Braille yang saya dapat dari kota Jogja. Waktu itu memang susah ya nyari Quran untuk kaum tunanetra," tuturnya.

Pria asal Kampung Bojong Pari, Desa Jaya Bakti, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi ini bercerita, ketika masih kecil belajar membaca Al-Quran huruf Braille di Yayasan Pesantren Al-Muawanah di Sukabumi. Setelah setahun, ia pindah mondok di Bandung.

Hari Santri 2019

Nurdin mengatakan, awal ketertarikannya menghafal Quran lantaran keinginan belajar kitab kuning kandas. Sebab, belum ada yang ditulis Braille. “Quran aja satu juz itu gede banget. Makanya, wajar kalau susah ditemukan kitab kuning dalam tulisan Braille,” ujarnya.

Oleh kiainya, Nurdin disarankan untuk menghafal Al-Quran saja. “Jadi saya nggak langsung ke Cirebon. Tapi, ke Bandung dulu mondok di Al-Syifa’ khusus belajar Ilmu Qiraat dan Tajwid. Cuma memang waktu itu suara saya kurang memadai. Akhirnya, kiai menyuruh saya menghafal aja,” ungkapnya.

Nurdin lalu mengikuti petunjuk kiainya yang di Bandung untuk mondok Quran di Cirebon. “Saat menerima hafalan saya, Kiai Anwar biasa aja. Jadi, bareng dengan santri yang lain. Apalagi saya sudah mempunyai bekal, tajwid sudah bagus. Jadi langsung menghafal,” ujarnya bangga.

Jika ada anak tunanetra ingin menghafal Al-Quran, Nurdin menyarankan agar mereka belajar Braille terlebih dahulu di Sekolah Luar Biasa. “Memang ada yang model menuntun saja hingga bisa baca. Tapi kan kiai sibuk juga. Teman-teman juga nggak tentu senggang,” tandasnya.

Di tengah keterbatasannya, Nurdin tetap bersyukur karena diberi kemampuan oleh Allah menghafalkan kitab suci-Nya. Ia berharap, anak-anak tunanetra terus berlomba dalam kebaikan. Sebaiknya mereka tidak kalah dengan yang lain.

“Jangan ketinggalan lah sama anak-anak normal. Sekarang kan ada sekolahnya. Banyak juga tunanetra yang pinter, ada yang jadi dosen. Tapi, tantangannya orang tua ini. Setelah dilepas, banyak yang takut ini takut itu. Harus benar-benar tega lah untuk kemajuan anaknya,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara, Kyai, Fragmen Hari Santri 2019

Rabu, 14 Februari 2018

PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid

Subang, Hari Santri 2019 - Masjid merupakan bagian penting dari identitas Islam, selain berfungsi sebagai tempat ibadah. Sejak awal kelahiran Islam masjid juga dijadikan sebagai pusat dakwah dan perjuangan. Sebab itu MWCNU yang ada di Kabupaten Subang diminta untuk bisa lebih memerhatikan sekaligus memakmurkan masjid yang ada di daerahnya masing-masing.

Hal ini disampaikan Sajudin Noor sebagai ketua panitia pelaksana pada kegiatan Pelatihan Kader Muharrik Masjid dan Dakwah NU yang digelar oleh PCNU Kabupaten Subang di Masjid Zaenal Abidin, Kecamatan Sukasari, Subang, Kamis (6/4).

PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Subang Dorong MWCNU Makmurkan Masjid

"Kita tidak diminta untuk menjadi pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) karena saya yakin di semua masjid sudah punya DKM masing-masing," ujar Sajudin di hadapan 77 peserta kegiatan yang mewakili 12 MWCNU yang ada di Subang Utara.

Hari Santri 2019

Yang diharapkan dari para peserta usai mengikuti kegiatan pelatihan ini adalah peserta mampu menjadi mesin penggerak dalam rangka memakmurkan masjid yang ada di wilayah kecamatannya masing-masing.

"Kegiatan pelatihan ini hanya seremonial, kegiatan aslinya adalah kegiatan di lapangan yaitu menjadi agen perubahan dan menjadi manajer agar masyarakat bisa lebih mencintai masjid dan senang datang ke masjid sehingga masjid bisa menjadi pusat dakwah dan pusat perjuangan Islam," tandasnya.

Hari Santri 2019

Selain itu, kata dia, kegiatan pelatihan ini merupakan program PCNU Subang yang dilaksanakan berdasarkan pembagian zona, untuk Subang Utara diikuti oleh perwakilan dari 12 MWCNU, Subang Tengah akan diikuti 10 MWCNU dan Subang Selatan 8 MWCNU. (Aiz luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Fragmen, AlaSantri Hari Santri 2019

Senin, 12 Februari 2018

LPBI NU DKI Jakarta Tanam Ribuan Bibit Sukun dan Bersih-bersih Laut

Jakarta, Hari Santri 2019 - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PWNU DKI Jakarta mengadakan aksi tanam ribuan bibit sukun dan operasi bersih laut (Tari Bisu Sibelut) di Pulau Tidung Kepulauan Seribu DKI Jakarta, Jumat-Ahad (23-25/9). Mereka bersama masyarakat setempat turun langsung membersihkan sampah di sekitar pesisir pantai.

Aksi Tari Bisu Sibelut ini diluncurkan Sekda DKI Jakarta H Saefullah.

LPBI NU DKI Jakarta Tanam Ribuan Bibit Sukun dan Bersih-bersih Laut (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU DKI Jakarta Tanam Ribuan Bibit Sukun dan Bersih-bersih Laut (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU DKI Jakarta Tanam Ribuan Bibit Sukun dan Bersih-bersih Laut

Ia mengapriasiasi gerakan LPBI NU DKI Jakarta yang peduli pada penanggulangan bencana dan pengelolaan lingkungan hidup. Ia mengajak para dinas dan SKPD terkait untuk dapat bersinergi dengan program-program LPBI NU untuk kemaslahatan rakyat di Jakarta.

Sementara Ketua Panitia Aksi Tari Bisu Sibelut H Zein mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan program berkelanjutan LPBI NU DKI Jakarta sehingga lembaga ini bersama semua elemen bangsa turut aktif dalam program berkelanjutan tersebut.

Hari Santri 2019

“Semoga dengan adanya gerakan dan aksi nyata ini, masyarakat dan seluruh elemen bangsa bisa lebih peduli terhadap lingkungan hidup dan kebersihan laut. Karena permasalahan lingkungan dan sampah menjadi tanggung jawab kita bersama,” kata H Zein.

Hari Santri 2019

Menurutnya, jika kesadaran tersebut sudah timbul, maka semuanya akan menikmati indahnya Indonesia di masa mendatang.

Sebagaimana diketahui bahwa Jakarta termasuk kota ketiga di dunia setelah Mexico City dan Bangkok dengan kualitas tingkat pencemaran yang cukup tinggi baik dari sisi pencemaran udara, air, dan juga tanah.

Bahaya genangan air dan banjir akibat luapan air sungai dan hujan serta suhu kota memperburuk kondisi lingkungan. Karenanya perbaikan lingkungan harus diprogram dengan baik dan efektif untuk meminimalisasi dampak buruk yang telah dan akan terjadi. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen Hari Santri 2019

Selasa, 16 Januari 2018

Menyikapi Harta secara Tepat

Khotbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah,

Menyikapi Harta secara Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyikapi Harta secara Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyikapi Harta secara Tepat

Sebagian orang beranggapan bahwa tasawuf yang menganjurkan seseorang untuk bersikap zuhud sebagai sumber dari kemunduran Islam, terutama secara ekonomi. Tudingan ini tak hanya keluar dari orang-orang di luar Islam tapi juga para pemikir terpandang muslim masa kini. Zuhud dimaknai sebagai sikap menjauh dari dunia, terasing dari keramaian, terbelakang, dan tak selaras dengan gaya hidup modern. Benarkah demikian?

Dalam Surat al-Qashash ayat 77, Allah subhânahu wata‘âlâ berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hari Santri 2019

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. Al-Qashash: 77)

Ayat di atas dengan jelas menegaskan bahwa Islam memerintahkan seseorang untuk mencurahkan segala pikiran dan tenaga demi kesuksesan kehidupan akhirat. Namun di sisi lain juga melarang seseorang untuk mengabaikan sama sekali urusan dunia, termasuk mencari harta. Perhatian terhadap perkara dunia dan akhirat ini menunjukkan proporsionalitas Islam. Ia tak menekan pemeluknya hanya mempedulikan akhirat sehingga kehidupan duniawi mereka terpuruk, juga tak menganjurkan mereka melulu terfokus pada dunia yang fana sehingga kehilangan tujuan hakiki sebagai seorang hamba.

Penilaian bahwa zuhud adalah sumber kemiskinan dan keterbelakangan sesungguhnya terletak pada cara memaknai istilah zuhud itu sendiri. Zuhud dalam pengertian yang sebenarnya adalah bukan anjuran untuk lepas dari aktivitas duniawi karena zuhud memang berurusan dengan hati. Zuhud juga bukan berarti meninggalkan pekerjaan dan usaha mencari harta, karena zuhud lebih fokus pada bagaimana sikap batin kita terhadap harta.?

Hari Santri 2019

Dalam kitab Raudlatuz Zâhidîn disebutkan, suatu kali Rabi’ah ibn ‘Abdirrahman ditanya,?

? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ?

“Wahai Abu Utsman (panggilan lain dari Rabi’ah), apa pokok dari zuhud itu?” Beliau menjawab, “Menumpuk sesuatu dari tempatnya lalu meletakkannya di tempat seharusnya.”

Islam adalah agama fitrah. Artinya, segenap ketentuannya tak akan mengingkari sifat alami manusia. Islam memahami karakter dasar manusia yang membutuhkan harta, karenanya dihalalkan bagi mereka bekerja dan mencari harta. Islam tidak melarang seorang hamba untuk menjadi orang kaya asalkan diraih dengan cara benar. Rasulullah sendiri adalah saudagar yang sukses. Para sahabat di zaman beliau juga tak sedikit yang berlimpah harta. Dengan harta, umat Islam justru lebih mudah untuk bersedekah kepada saudaranya. Dengan kekayaan, umat Islam juga cenderung lebih gampang mengatasi permasalahan dunianya.

Kenyataan tersebut menjadi bukti bahwa mengumpulkan harta bukan perkara najis dalam Islam. Yang menjadi penekanan adalah, bagaimana harta itu disikapi? Di manakah kekayaan itu diletakkan, sebatas “di telapak tangan” atau sampai di lubuk hati?

Jamaah shalat jum’at rahimakumullah,

Itulah yang dimaksud dengan ? ? ? ? ? ? ?. Silakan bekerja keras menumpuk harta sebanyak-banyaknya untuk tujuan yang halal, tapi mesti diingat bahwa hati bukan tempat semestinya bagi harta. Islam melarang hubbud dunya (mencintai dunia), dan mendorong manusia untuk memprioritaskan akhirat. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti jari salah seorang dari kalian yang dicelup di lautan, perhatikan seberapa banyak air yang menempel dijari.” (HR. Muslim)

Dengan demikian, zuhud tidak identik dengan menjauhi harta tapi menjauh dari rasa cinta terhadap kekayaan dunia (hubbud dunya). Dengan pengertian ini, zuhud tak berhubungan langsung dengan kaya atau miskinnya seseorang. Orang miskin bisa lebih zuhud dari orang kaya, tapi sebaliknya orang miskin juga bisa lebih serakah dari orang kaya. Tergantung mana yang lebih diperbudak oleh harta. Untuk cinta dunia, seseorang tak mesti menjadi kaya raya terlebih dahulu. Karena zuhud memang berurusan dengan hati, bukan secara langsung dengan alam bendawi.

Ciri orang yang tidak diperbudak oleh harta adalah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Tidak (terlalu) senang dengan sesuatu yang ada, juga tak (terlalu) sedih dengan sesuatu yang hilang. Tidak sibuk memburu dan bersenang-senang dengannya melebihi sesuatu yang lebih baik baginya di sisi Allah.”

Mengapa seseorang dilarang gandrung terhadap harta? Karena hakikat harta sesungguhnya adalah sarana (washîlah), bukan tujuan (ghâyah). Sebagai kendaraan ia hanya berhak mengantarkan, bukan masuk ke dalam. Mengantarkan ke mana? Kepada usaha mendekatkan diri kepada Allah, muara dari segala tujuan dan kebahagiaan.

Khotbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Alif Budi Luhur

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen, Sholawat, Pondok Pesantren Hari Santri 2019

Kamis, 11 Januari 2018

Fatayat NU Brebes Bentuk Badan Koperasi

Brebes, Hari Santri 2019. Pimpinan Cabang Fatayat NU Brebes mendirikan Baitul Mal wat Tamwil Syirkah Muawanah Fatayat Nahdlatul Ulama (BMT SM FNU). Kehadiran lembaga ini diharapkan menjawab tantangan ekonomi yang mendera sebagian warga NU di kabupaten Brebes.

“Fatayat NU senantiasa melakukan gerakan-gerakan ekonomi dengan mengembangkan sayap ekonomi, seperti BMT,” ujar Ketua Fatayat NU Brebes Mukminah usai peluncuran Koperasi Serba Usaha (KSU) BMT SM FNU di jalan raya Kluwut KM 03 Bulakamba, Brebes, Ahad (17/5).

Fatayat NU Brebes Bentuk Badan Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Brebes Bentuk Badan Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Brebes Bentuk Badan Koperasi

Pemberdayaan perempuan sebagai kader NU, menurutnya, berpotensi besar dalam pengaturan roda ekonomi keluarga. Kehadiran BMT menjadi jawaban kegelisahan perempuan Nahdliyin. Apalagi di daerah Kluwuat, mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan petani yang sangat memerlukan langkah penyejahteraan keluarganya.

Hari Santri 2019

“BMT SM berupaya meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan dan petani Brebes pada umumnya,” terang Mukminah.

Hari Santri 2019

Direktur BMT SM FNU Hj Eva Trisnawati menjelaskan, BMT didirikan dengan modal awal sebesar Rp 100 juta dari investasi sejumlah orang. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti yang juga Wakil Ketua Fatayat NU berinvestasi sebesar Rp 10 juta. Bahrudin Nasori Rp 25 juta. H A Rafiq Abdillah Rp 10 Juta. H Toridin (Pengusaha Tambak) Rp 25 juta. Selain mereka, ada 20 orang pengurus masing-masing berinvestasi Rp 1 juta serta nasabah lainnya sehingga genap Rp 100 juta.

“Modal awal Rp 100 juta ini mudah-mudahan menjadi titik awal keberkahan usaha kami,” kata Eva.

Untuk sementara, bidang usaha yang dijalani masih berkutat di simpan pinjam. Mudah-mudahan sepanjang perjalanan waktu akan dikembangkan berbagai usaha untuk membantu kesejahteraan bersama.

Hadir dalam peluncuran ini Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Brebes Sutejo, Ketua KSU Windu Kencana Brebes Komar, Kasi Simpan Pinjam Dinas Koperasi dan UMKM Sunoto, beserta pimpinan cabang NU, Fatayat, Muslimat, IPNU-IPPNU, Ketua anak cabang Fatayat NU sekabupaten Brebes, dan sejumlah undangan lainnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tegal, Fragmen Hari Santri 2019

Minggu, 31 Desember 2017

LKNU Sumenep Sumbang 50 Kantong Darah

Sumenep, Hari Santri 2019. Pagi itu Sekretariat PCNU Sumenep ramai. Satu persatu warga NU terus berdatangan memasuki gedung berwana hijau itu yang berlokasi di Jalan Tronojoyo 295, Gedungan, Sumenep.

LKNU Sumenep Sumbang 50 Kantong Darah (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Sumenep Sumbang 50 Kantong Darah (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Sumenep Sumbang 50 Kantong Darah

Warga yang datang tak hanya didominasi orang yang sudah berkepala empat. Membaur di tengah-tengah mereka anak remaja untuk mendonorkan darah. Salah seorang politisi yang datang membawa rombongan wartawan, membikin suasana lebih pencolok.

Pagi itu, Rabu 5 Desember 2012, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama Sumenep menggelar donor darah. Ini aksi donor darah yang keduasetelah bulan September. NU Tak pernah absen turut membantu kebutuhan masyarakat.

Hari Santri 2019

“Tujuannya tidak lain, untuk membantu menyuplai kebutuhan darah di Sumenep. LKNU tiap tahun melakukan kegiatan seperti ini” jelas Ketua LKNU Sumenep Hadariyadi.

Hari Santri 2019

Doroh darah di Sumenep sangat dibutuhkan dan mendesak, mengingat PMI Sumenep kekurangan stok darah untuk memenuhi kebutahan warga Sumenep. Permintaan darah saat ini mencapai 500 kantong.

“Bulan lalu kebutuhan darah mencapai 450 kantong. Sekarang meningkat drasitis, apalagi penderita demam berdarah meningkat,” kata Ketua Unit Tranfusi Darah PMI Sumenep, Moh. Soleh.

Saat ini, PMI hanya mengantongi beberapa kantong darah saja. Saleh membeberkan, stok darah yang ada hanya golongan A sebanyak (2), B (1), AB (1), dan golongan darah O (1).

Sekalipun tidak lantas bisa memenuhi kebutuhan darah secara keseluruhan, kegiatan tersebut dan kegiatan serupa yang dilakukan NU di Kecamatan Saronggi pada keesokan harinya, Kamis (7/12), setidaknya telah membantu menyuplai 50 kantong darah.

“Peserta yang hendak menyumbangkan darahnya sebenaarnya banyak. Yang hadir ke PCNU sekitar 70 orang dan yang di Saronggi sekitar 30 orang, tapi tidak semuanya bisa didonor karna tensi darahnya tidak normal,” jelasnya.

Kontributor: M. Kamil Akhyari

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen Hari Santri 2019

Jumat, 29 Desember 2017

NU Gelar Halaqah, Bahas Pemanasan Global

Jakarta, Hari Santri 2019

Nahdlatul Ulama (NU) tampaknya juga prihatin atas kondisi alam yang seakan semakin tidak bersahabat. Hal itu ditandai dengan terjadinya berbagai bencana alam, seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, kebakaran hutan, gelombang pasang tsunami, dan lain-lain. Tak hanya itu, korban yang diakibatkan pun tak sedikit.

Karena itu, organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu akan menggelar halaqah untuk membahas, salah satunya adalah fenomena pemanasan global (global warming) yang merupakan satu di antara bagian dari sebab terjadinya berbagai bencana alam.

NU Gelar Halaqah, Bahas Pemanasan Global (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Gelar Halaqah, Bahas Pemanasan Global (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Gelar Halaqah, Bahas Pemanasan Global

“Meningkatnya suhu permukaan bumi, di atas daratan, lautan atau kombinasi keduanya secara menyeluruh atau pemanasan global. Situasi ini ditandai dengan meningkatnya cuaca secara ekstrim seperti musim panas yang panjang dan pendeknya musim hujan,” terang Avianto Muhtadi, Project Manager Community Based Risk Disaster Risk Management(CBDRM) NU kepada wartawan di Jakarta, Selasa (17/7)

Kegiatan yang digagas CBDRM NU atau Tim Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat itu akan diselenggarakan di Hotel Gren Alia, Cikini, Jakarta, pada 23-25 Juli mendatang. Sejumlah pakar lingkungan hidup dan para ulama NU itu akan dilibatkan dalam pembahasannya.

Secara umum, kata Avianto, halaqah tersebut dilakukan untuk membuat konsep penanggulangan dan pengurangan risiko bencana alam ala NU. Pasalnya, ujarnya, selama ini penanggulangan bencana, apalagi di kalangan NU, lebih bersifat umum.

“CBDRM NU ingin mengembangkan konsep penanggulangan bencana berbasis masyarakat dalam perspektif NU. Nuansa NU dan Islam ingin ditonjolkan dalam upaya mencari bentuk khusus, sehingga berbeda dengan kelembagaan dan konsep bencana yang dilakukan organisasi lain,” terang Avianto.

Hari Santri 2019

Ia menambahkan, target khusus yang ingin dicapai melalui halaqah tersebut adalah terciptanya rumusan-rumusan tentang penanganan bencana dengan pendekatan Islam dan NU. Rumusan itu kemudian akan diwujudkan dalam sebuah buku panduan yang dapat dijadikan sandaran pengetahuan, pemahaman, dan konsep dasar operasional penanggulangan bencana yang akan dilakukan masyarakat NU.

Perspektif Islam dan NU, lanjutnya, adalah dengan menjadikan teks suci agama (nash) sebagai sandaran utama, sekaligus menjadi kekuatan tradisi NU dan khazanah lokal sebagai sandaran operasional. “Penanggulangan bencana dalam perspektif Islam dan NU, selama ini belum ada. Kalau pun ada hanya bersifat konsep dan belum operasional,” tandasnya. (rif)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen, AlaNu, Tegal Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock