Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Februari 2018

Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali

Denpasar,? Hari Santri 2019?

Apel Kebangsaan yang diadakan Pimpinan Wilayah GP Ansor Provinsi Bali di Lapangan Lumintang Denpasar, Ahad (14/5) dihadiri Kasatkornas Banser H. Alfa Isnaini. Di hadapan seribu kader Ansor dan Banser dari sembilan kabupaten dan kota se-Bali itu, Alfa merasa bangga karena banom NU itu bisa eksis di pulau dewata, pulau dengan Muslim minoritas. ?

Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali

Meski demikian, ia berpesan agar GP Ansor dan Banser terus menjunjung tinggi keharmonisan, kedamaian dan menjalin komunikasi kepada semua pihak. Dengan cara seperti itu, rajutan kebinekaan di negeri ini, termasuk di Bali, bisa seiring sejalan dengan cita cita pendiri bangsa.

"Para perumus negeri ini sepakat untuk menjadikan negeri ini sebagai negara kesatuan yang mengakui perbedaan, menggapai kesejahteraan bersama berdasarkan Pancasila. Ini sudah final, karena yang menyepakatinya juga adalah para kiai-kiai NU," tegasnya.

Jadi, lanjutnya dengan suara lantang, siapa pun yang ingin mengutak-atik NKRI dan Pancasila, maka GP Ansor dan Banser siap berhadap-hadapan dengan mereka.

“Apakah kalian siap?” tanya Alfa.

Hari Santri 2019

"Siap!" seru peserta apel menjawab serentak.

Menyoal kelompok yang anti-Pancasila, ia terang-terangan menyebut HTI sebagai organisasi gerakan politik, bukan gerakan dakwah keagamaan. Mereka jelas ingin menggantikan Pancasila sebagai dasar negara.

"Kebebasan berpendapat boleh, tapi kalau sudah ingin mengubah dasar dan bentuk negara, maka langkah pemerintah sudah tepat untuk membubarkan HTI yang kerap mempropagandakan pemerintahan model khilafah Islamiyah," paparnya.

Namun, ia juga menegaskan bahwa langkah pemerintah untuk membubarkan HTI merupakan keputusan politik, jadi ini belum cukup. Ansor Banser menginginkan yang lebih dari itu.

Hari Santri 2019

"Kita ingin semua gerakan pemahaman dan ajaran HTI, harus dilarang di seluruh tumpah darah Nusantara ini. Jika masih mereka ada, maka selama itu juga Banser dan Ansor akan tetap melakukan perlawanan," paparnya yang langsung disambut tepuk tangan peserta apel.

Terakhir, ia berpesan agar kader Ansor dan Banser agar tidak gampang terprovokasi oleh oknum-oknum yang menginginkan terpecahnya kesolidan Nahdlatul Ulama. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Kyai, Pemurnian Aqidah Hari Santri 2019

Jumat, 02 Februari 2018

Lakmud Pelajar Garut Ciptakan Generasi Cerdas

Garut, Hari Santri 2019. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kabupaten (PC IPNU IPPNU) Garut kembali gelar Latihan Kader Muda (Lakmud).

Lakmud Pelajar Garut Ciptakan Generasi Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakmud Pelajar Garut Ciptakan Generasi Cerdas (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakmud Pelajar Garut Ciptakan Generasi Cerdas

Pelaksanaan Lakmud yang kali ini merupakan angkatan ketiga berlangsung di Kecamatan Cibiuk dengan perolehan peserta yang teregistrasi sebanyak 38 IPNU dan 32 IPPNU. Lakmud ini bertemakan Transformasi Anggota Menuju Kader yang Militan dan Profesional. 

Ketua Pelaksana, Ahmad Zakaria menyampaikan laporan persiapan yang dilakukan menghadapi tantangan tidak mudah.

"Tapi alhamdulillah bisa terlaksanakan tepatnya selama 3 hari. Panitia tidak kenal lelah. Kami rela korbankan tenaga, pikiran, waktu, dan materi untuk menyukseskan acara ini," tutur Ahmad Zakaria dalam pembukaan Lakmud di kantor MWCNU Cibiuk (24/11).

Hari Santri 2019

Turut hadir pula Ketua PW IPNU Jawa Barat, Ziyad Ahmad.

"Garut ini sudah masuk di grade A. Pimpinan Cabang yang sudah sangat baik dalam berorganisasi dan sangat serius dalam pengkaderannya. Garut luar biasa sampai bisa terlaksana Lakmud yang ketiga. Apresiasi besar buat PC IPNU Garut," ungkap Ziyad Ahmad. 

Hari Santri 2019

Latihan Kader Muda kali ini diikuti oleh banyak peserta dari setiap zona baik Utara maupun Selatan, diantaranya PAC Malangbong, Selaawi, Limbangan, Cibiuk, Banyuresmi, Karangpawitan, Sukaresmi, Cisurupan, Singajaya, Pendeuy, dan Bungbulang, bahkan ada yang berasal dari Kabupaten Bandung Barat.

Peserta dari berbagai daerah tersebut merupakan wujud semangat mereka dalam ber-IPNU dan ber-IPPNU.

"Perlu diketahui bahwa NU tetap mengedepankan kesederhanaan, maka ini sudah cukup maksimal, cukup aja sudah segini apalagi sangat," kata Ketua PCNU Garut KH. Aceng Wahid.

Ia berpesan IPNU IPPNU haruslah menjadi generasi NU yang cerdas, berwawasan, dan beradab. 

Lakmud juga diharapkan menjadi mesin penggerak kader-kader muda yang militan dan profesional.

"Tujuan Lakmud ini yang pertama untuk menerapkan teori yang telah dibekali yakni pengejawantahannya dalam kehidupan sehari-hari sesuai ajaran aswaja dan NU baik dalam amaliyah, fikr, ghirah, dan harakah-nya. Kedua sebagai wujud generasi agar berkompeten dalam masuk ke jenjang kepengurusan yang lebih atasnya," ujar Ketua IPNU Garut Ridwan Pamungkas. (Salim/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Habib, Halaqoh, Ahlussunnah Hari Santri 2019

Senin, 22 Januari 2018

Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara

Jakarta, Hari Santri 2019. Pemandangan agak berbeda tampak pada acara Istighotsah dan Pengajian Bulanan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama, Rabu (27/2) malam. Jika biasanya kiai NU yang mengaji kitab, kini ulama asal Lebanon yang tampil fasih menerangkan isi kitab.

Syaikh Khalil ad-Dabbagh, ulama asal lebanon itu, membawa sedikitnya tiga kitab karangan ulama Nusantara, antara lain, at-Tanbihat al-Wajibat karya pendiri NU, Hadaratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Sirajuth Thalibin (Syaikh Muhammad Ihsan Jampes dari Kediri), dan Qathrul Ghaits (Syaikh Imam Nawawi dari Banten).

Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara

Dosen Universitas Global Lebanon ini menjelaskan konsep tauhid menurut paham ahlus sunnah wal jamaah (Aswaja). Allah, katanya, bersifat suci dari seluruh kriteria kemakhlukan, seperti bentuk dan arah sebagaimana pandangan mutajassim (antropomorfis).

Hari Santri 2019

”Allah tidak dapat dikonseptualisasikan atau dibayangkan. Lantas, kenapa kita menengadah ke atas saat berdoa? Itu bukan karena Allah bertempat di atas, melainkan langit merupakan kiblat untuk doa. Kita dapat temukan keterangan tersebut dari kitab ini,” kata Syaikh Khalil dalam bahasa Arab sambil memperlihatkan kitab Sirajuth Thalibin.

Hari Santri 2019

Menurut dia, pandangan ini ditemukan dasarnya pada ayat suci al-Qur’an yang mengatakan bahwa tak ada satupun yang menyerupai Allah. Dia mahasempurna dalam segala hal, tidak membutuhkan apapun atau siapapun.

Syaikh Khalil menambahkan, sebagaimana manusia, arah dan bentuk juga termasuk makhluk Allah. Tuhan terlalu luas untuk digambarkan oleh indra dan pikiran manusia yang terbatas. ”Dan kita tidak akan dapat mengetahui hakikat Allah,” ujarnya.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Anti Hoax, Ahlussunnah, Ubudiyah Hari Santri 2019

Rabu, 17 Januari 2018

Kemenpora: Ansor Harus Terdepan Jadi Agen Perubahan

Jakarta, Hari Santri 2019. Mengucapkan terima kasih atas sejumlah kegiatan positif dilakukan Gerakan Pemuda Ansor beserta tenaga intinya Barisan Ansor Serbaguna (Banser), pejabat Kementerian Pemuda Dan Olahraga meminta kader pemuda Nahdlatul Ulama (NU) untuk terus terdepan dalam menjadi agen perubahan.

Kemenpora: Ansor Harus Terdepan Jadi Agen Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenpora: Ansor Harus Terdepan Jadi Agen Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenpora: Ansor Harus Terdepan Jadi Agen Perubahan

"Revolusi mental dicanangkan Presiden Joko Widodo membutuhkan peran serta pemuda karena keterlibatannya memang penting," ujar Kepala Bidang Kepemudaan Kemenpora Agus Dwi Susilo, di Jakarta Timur, Selasa (21/11).

Kemenpora melalui Pusat Pembentukan Pemuda dan Olahraga Nasional (PPON) menggelar Fasilitasi Pelatihan Revolusi Mental Bagi Pemuda di Pesantren Al Hamid, Cipayung, Jakarta Timur mulai hari ini hingga Kamis (23/11).

Hari Santri 2019

Sesuai tujuannya, demikian Agus menambahkan, ialah membentuk revolusi mental pemuda.

Ia berharap agar Ansor dan Banser selalu jadi agen perubahan mental seperti sudah sering dilakukan.

Hari Santri 2019

Sejak berdiri 24 April 1934, Ansor telah banyak melakukan kegiatan positif, dari menjaga ribuan ulama berikut pengajiannya.

Ansor berikut badan semi otonomnya, Banser terus berkomitmen menjaga NKRI, dari menjaga gereja sebagai peneguhan komitmen kebhinekaan dan Islam Rahmatan Lil Alamin, hingga kegiatan sosial kemasyrakatan.

Menjelang dan paska pembukaan kegiatan diikuti ratusan kader Banser dari berbagai provinsi di Indonesia, Kepala PPON Kemenpora Hendry Ridwan meneriakkan NKRI  disambut dengan jawaban Harga Mati berkali-kali oleh puluhan Banser berikut pengurus Satkornas. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Kyai, Ubudiyah Hari Santri 2019

Selasa, 16 Januari 2018

Mbah Wahab Layak Disebut Bapak Koperasi

Jombang, Hari Santri 2019. Tidak banyak yang mengungkap bahwa ulama besar pendiri NU KH Wahab Chasbullah telah menggelorakan gerakan koperasi jauh sebelum kemerdekaan. Sejarawan Anhar Gonggong bahkan mengusulkan KH Wahab Chasbullah layak mendapat gelar Bapak Koperasi.

Mbah Wahab Layak Disebut Bapak Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Wahab Layak Disebut Bapak Koperasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Wahab Layak Disebut Bapak Koperasi

Dalam Sarasehan dan Launching Buku KH Wahab Chasbullah yang digelar di Aula Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Rabu (3/9), nara sumber lain Choirul Anam membeberkan, KH Wahab bersama KH Hasyim Asyari, pada 1918 sudah membentuk syirkah tijariah atau semacam kerjasama dagang bernama Nahdlatut Tujjar.

"Dalam waktu singkat, setelah berdirinya Nahdlatut Tujjar ini, tumbuh ratusan syirkah tijarian di berbagai kota, dengan nama Cooperatie Kaoem Moeslimin (CKM)," tegas Cak Anam, sejarawan NU dari Surabaya ini.

Hari Santri 2019

Adapun Syirkah tijariyah sitem  yang digunakan, lanjutnya adalah setiap anggota menginvestasikan modal 25- 50 golden.

“Seuntunganya setiap tahun dibagi fifty fifty. 50 persen pertama dibagi atas besarnya modal setor, 50 persen kedua dikembalkan untuk memperbesar modal," beber mantan ketua GP Ansor Jawa Timur ini menambahkan.

Hari Santri 2019

Dikatakan Cak Anam, panggilan akrab Choirul Anam, pendirian Nahdhatut Tujjar juga merupakan respon atas diskriminasi penjajah Belanda terhadap umat muslim dalam bidang ekonomi.  

"Ada sebanyak 45 anggota dari kalangan pedagang awalnya. Dari sinilah terbentuk puluhan bahkan ratusan koperasi kaum muslim," tandasnya seraya mengatakan koperasi itu menjual kebutuhan pokok sehari hari beras, gula dan lain lain.

Sejarawan Anhar Gonggong lantas mendorong pihak NU untuk melakukan penelitian lebih mendalam lagi, guna memperkuat landasan ilmiah, bahwa KH Wahab sudah menggelorakan koperasi jauh sebelum kemerdekaan. Jadi sangat layak KH Wahab Chasbullah mendapat gelar bapak koperasi.

"Dokumen yang dipegang Pak Anam otentik. Saya dorong NU melakukan penelitian dan kajian lebih jauh lagi. Kalau ada sumber yang secara ilmiah lebih punya otoritas ketimbang sebelumnya, bisa saja gelar bapak koperasi itu milik KH Wahab," tandas sejarawan berambut gondrong itu.   

Cak Anam menyampaikan, bahwa paparan yang disampaiakan terkait kepeloporan KH Wahab dalam koperasi, hanyalah untuk mengungkapkan fakta sejarah. Yakni, selain mantan proklamator Mohammad Hatta (yang bergelar Bapak Koperasi), masih ada KH Wahab yang juga tak kalah giat menggelorakan koperasi di tanah air.

"Soal mengusulkan bapak kopersi itu ya PBNU, yang jelas, fakta sejarah bangsa Indonesia tidak lepas dari pergerakan umat  dan tokoh tokoh islam seperti KH Wahab, Saya hanya meluruskan sejarah saja yang selama ini tidak terungkap karena ada kepentingan tertentu," ujarnya.

Dalam kesempatan itu juga diluncurkan buku bertajuk “Kaidah Berpolitik dan Bernegara”. Buku berisi kumpulan ceramah KH Wahab Chasbullah itu disunting oleh Wakil Sekjen PBNU H Abdul Mun’im DZ yang juga hadir dalam sarasehan itu. (Muslim Abdurrahman/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Ulama Hari Santri 2019

Minggu, 07 Januari 2018

NU Bersatu Susah Dipecah-belah

Jepara, Hari Santri 2019. Nahdlatul Ulama memasuki usianya yang ke-92 tahun menurut kalender Hijriyah. Di usianya yang kian senja menurut KH Asyhari Syamsuri, Ketua PCNU Jepara harus semakin bersatu. Jika bersatu kelompok lain akan susah memecah belah jamiyyah yang bermakna kebangkitan ulama ini.

Demikian disampaikan dalam pengajian Haul Massal dan Harlah NU ke-92 yang diadakan MWCNU Kalinyamatan bertempat di gedung MWCNU Kalinyamatan, Jum’at (08/05/15) siang.

NU Bersatu Susah Dipecah-belah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bersatu Susah Dipecah-belah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bersatu Susah Dipecah-belah

Kiai Asyhari meyakini jika NU bersatu, rukun susah apabila ada kelompok lain memecah-belah keutuhan NU. “Jika kita bersatu, kita susah diintervensi kelompok lain,” pesannya kepada ribuan jamaah yang memadati gedung MWCNU.

Hari Santri 2019

Apa yang dikatakan dia tentu sejalan dengan penggalan syair KH Ahmad Fauzan, tokoh NU Jepara tempo dulu. Mlakune NU Koyo Slender/ Senajan Nyrangap Merohi Klenyer/ Duwe Dalan Dewe Ora Keno Nabrak/ Seng Sopo Nabrak Merohi Kelenger.

Dijelaskan Kepala SMKN 3 Jepara ini NU mempunyai jalan sendiri. Kelompok lain tidak boleh ikut campur. Yang ikut campur akan tahu sendiri akibatnya.

Hari Santri 2019

Hal lain dikemukakan Muhsinin. Menurut Ketua MWCNU Kalinyamatan ini NU wajib menjunjung tinggi hasil musyawarah. “Apapun keputusan musyawarah NU harus diikuti dan dijalankan dengan sebaik-baiknya,” terangnya.

Dalam kegiatan yang dihadiri ribuan jamaah ini menghadirkan penceramah asal Grobogan, KH Mahyan Ahmad. (Syaiful Mustaqim//Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Tokoh, Doa Hari Santri 2019

Kamis, 04 Januari 2018

Pemimpin NU Harus Familiar dan Komunikatif dengan Negara Sahabat

Jakarta, Hari Santri 2019. Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Agustus 2015 mendatang, sejumlah kalangan berharap adanya peningkatan peran dan kapasitas Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam membawa bangsa ini menghadapi perkembangan geopolitik global dan regional. Terlebih, saat ini Indonesia telah menandatangani kerja sama terbuka kawasan melalui Masyarakat Ekonomi Asean, maupun kerja sama multilateral dengan negara-negara besar seperti Amerika, China dan lain-lain.

“Pimpinan PBNU ke depan harus familiar dan mampu berkomunikasi dengan negara-negara yang bisa meng-upgrade kapasitas kader NU. NU harus banyak mengirim kadernya untuk belajar ke negara-negara besar, tidak hanya ke negara di timur-tengah saja,” ujar Pengamat Kajian Eropa Universitas Indonesia, Mahmud Syaltut, Jumat (8/5).

Pemimpin NU Harus Familiar dan Komunikatif dengan Negara Sahabat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemimpin NU Harus Familiar dan Komunikatif dengan Negara Sahabat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemimpin NU Harus Familiar dan Komunikatif dengan Negara Sahabat

Dikatakan Syaltout, PBNU juga harus memperkuat peran Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di berbagai negara yang dibentuk dan dikelola oleh kader-kader NU yang menjadi mahasiswa dan pekerja migran? di luar negeri.

Hari Santri 2019

“Diaspora kader NU harus dimenej lebih matang. Banyak kader-kader NU yang bagus, perlu dirangkul dan diberdayakan. Identifikasi kader NU di Negara-negara yang menjadi pusat Iptek.? Jadi ke depan, NU tidak hanya berperan di wilayah agama, pendidikan dan budaya. Tapi juga harus bergerak di wilayah vital, seperti pertanian, energi, industri, ekonomi, wisata dan lainnya,” papar Syaltout.

Lebih lanjut ia mengungkapkan sekarang era multitrack diplomacy dan kerja sama yang dilakukan antar negara saat ini tidak lagi berbentuk bilateral, tetapi sudah multilateral, yang mensyaratkan kesetaraan dan keseimbangan kapasitas maupun perolehan manfaat.

Hari Santri 2019

“NU juga harus mulai berinvestasi di wilayah ekonomi. Sekarang era inovatif advantage dan mulai masuk ke era prediktif advantage. Siapa yang mampu meriset melakukan prediksi atau ramalan masa depan yang bisa diuji secara empirik,dia yang menang, NU harus mengambil ruang itu,” paparnya.

Isi Sektor Strategis

Hal sama diharapkan Pakar Hubungan Internasional UI,? Edy Prasetyono.? Menurut Edy, PBNU harus serius menyiapkan kader-kader ideologis dengan kapasitas keilmuan dan keterampilan yang lebih beragam. “Harus mampu memanfaatkan dan mentransformasi sektor-sektor strategis di bidang maritim. Yakni bidang industri kreatif, teknologi pertanian dan pangan, teknologi transportasi khususnya perkapalan dan kader yang ahli di bidang energi dan teknologi informasi,” ujarnya.

Edy menyesalkan, sejumlah sektor tersebut justru banyak digarap secara serius oleh kelompok-kelompok muslim berpaham ekstrem. Padahal menurut Edy, jika sektor-sektor strategis itu dikuasai kelompok ekstrem, akan sangat berbahaya bagi masa depan Indonesia. Karena, selain akan menghancurkan budaya toleransi, kebhinnekaan dan demokrasi yang sudah terbangun di Indonesia, mereka juga bisa memicu perang saudara di Indonesia, seperti yang terjadi di negara-negara Timur Tengah. Dan dengan posisi Indonesia yang dianggap vital oleh negara-negara besar, khususnya dengan jalur sutra? yang dimiliki Indonesia, konflik di Indonesia bisa meletupkan perang dunia.

“Ada kekhawatiran luar biasa atas kehadiran kelompok Islam agresif di Indonesia. Mereka tak hanya melakukan radikalisasi dan terorisme tetapi juga memicu perang di mana-mana. Mereka ini serius mengeskploitasi sumber dayanya. Mengirim kadernya untuk belajar teknologi, bisnis dan energi ke berbagai negara maju,” paparnya.

Karena itu, menurut Edy, PBNU harus menjalin kerja sama lintas sektor dengan negara, inetelektual dan para pengusaha untuk mengantisipasi ancaman ekstremisme tersebut. Sebab kehadiran mereka selain mampu menguasai sektor vital juga memengaruhi bahkan mencuci otak masyarakat dengan segala sumber daya yang dimiliki. Sehingga, masyarakat Indonesia menjadi rentan konflik, sulit bersatu dan kehilangan karakter saling menghargai, toleransi dan gotongroyongnya.

“Perlu ada kerja sama serius yang kuat antara Negara dengan ormas semacam NU ini, untuk menghadapi perang asimetris yang bakal makin marak terjadi. Perang asimetris itu berupa perang ide, kreatifitas, perang gagasan dan ideology yang berujung pada konflik fisik dan perang saudara,” tambahnya. (Malik/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh, Ahlussunnah, Syariah Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock