Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

Muslimat NU Probolinggo Gelar Diklat Managemen dan Administrasi

Probolinggo, Hari Santri 2019 - Dalam rangka mewujudkan organisasi yang baik dan profesional, Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo memberikan pendidikan dan pelatihan (diklat) managemen dan administrasi di Wisma Oecik Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo, Sabtu dan Ahad (16-17/9).

Kegiatan ini diikuti oleh 100 orang peserta perwakilan dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) dari 11 kecamatan dan pengurus Muslimat NU Kabupaten Probolinggo. Dalam kegiatan ini mereka diberikan materi tentang keorganisasian, kepemimpinan, pengelolaan managemen, administrasi, Aswaja, Sejarah NU serta citra diri (sinergi dengan TP PKK Kabupaten Probolinggo).

Muslimat NU Probolinggo Gelar Diklat Managemen dan Administrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Probolinggo Gelar Diklat Managemen dan Administrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Probolinggo Gelar Diklat Managemen dan Administrasi

Diklat yang dibuka secara resmi oleh Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU Provinsi Jawa Timur Hj Masruroh Wahid ini dihadiri oleh Ketua Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj Nurhayati dan segenap pengurus harian.

Hari Santri 2019

Hj Masruroh Wahid mengatakan, kegiatan ini digelar dengan harapan mampu memberikan support bagaimana organisasi serta perannya dapat berjalan sesuai dengan harapan serta petunjuk PP Muslimat NU yang telah ditetapkan melalui Kongres Muslimat NU di Jakarta.

“Semua anggota Muslimat diharapkan dapat mengetahui organisasi Muslimat NU sesuai AD ART, baik dari pusat hingga ke anak ranting. Karena peran Muslimat NU ke depan banyak sekali tantangan serta perannya tidak hanya sekadar istighotsah dan Yasinan akan tetapi sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan,” katanya.

Menurut Masruroh, tujuan kegiatan ini sebagai salah satu bentuk dan upaya Muslimat NU untuk lebih meningkatkan peran sertanya anggota Muslimat dengan diberikan bekal supaya dapat diaplikasikan di masyarakat sehingga peran Muslimat NU sudah tidak diragukan lagi.

Hari Santri 2019

“Harapannya dapat mencetak kader-kader pengurus Muslimat NU yang lebih peduli, ikhlas, maju, mandiri dan memberikan sesuatu yang berarti demi kepentingan umat NU di seluruh Kabupaten Probolinggo,” harapnya.

Ketua Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj Nurhayati mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mengukuhkan dan menguàtkan serta mengembangkan kader dan pengurus Muslimat NU yang berkualitas serta berkesinambungan serta meningkatkan wawasan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) juga kemampuan manajemen dan administrasi.

“Selain itu, untuk mengonsolidasikan seluruh potensi minat, bakat dan skill kader dan pengurus Muslimat NU. Disamping juga mensinergikàn kemampuan organisasi yang efektif untuk mencapai tujuan organisasi,” katanya.

Selama kegiatan ini, para pengurus Muslimat NU ini mendapatkan wawasan tentang tertib organisasi, tertib administrasi, tertib keuangan, tertib program serta tertib evaluasi dan monitoring.

“Melalui kegiatan ini diharapkan nanti mampu menyiapkan kader Muslimat NU Kabupaten Probolinggo yang mumpuni dalam menghadpi perubahan dan kemajuan zaman,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News Hari Santri 2019

Senin, 12 Februari 2018

Tim Robot MA Unggulan Nuris Raih Juara 3 dan Best Design

Jember, Hari Santri 2019 - Tim robot MA Unggulan Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember kembali mengukir prestasi dalam kompetisi robotika se-Jawa Timur di kampus Universitas Narotama, Surabaya, belum lama ini. Dalam kompetisi yang bertajuk Robot Line Follower tersebut, tim robot MA Unggulan Nuris digawangi oleh Miftahul Ulum dan M Firman? Muhaimin. Keduanya mengikutkan dua robot sekaligus dalam lomba tersebut. Robot pertama berhasil meraih juara tiga. Sedangkan robot kedua menyabet kategori best design.

Alhamdulillah, kami bangga bisa meriah prestasi, walaupun cuma juara tiga,” ujar Firman di sela-sela kegiatan sekolah di Jember, Sabtu (11/2).

Tim Robot MA Unggulan Nuris Raih Juara 3 dan Best Design (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Robot MA Unggulan Nuris Raih Juara 3 dan Best Design (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Robot MA Unggulan Nuris Raih Juara 3 dan Best Design

Kebanggaan yang dirasakan Firman bisa dimafhumi. Sebab, MA Ungguan Nuris merupakan satu-satunya madrasah yang meraih juara dalam ajang tersebut. Kompetisi itu sendiri diikuti oleh 21 tim dari SMA dan yang sederajat se-Jawa Timur.

Hari Santri 2019

Menurut Firman, dalam lomba tersebut robot harus disusun dengan dimensi tak melebihi 20 sentimeter dengan bobot maksimal 2 kilogram. Robot dilarang menggunakan bahan bakar minyak dan tegangan baterai maksimal 12 volts. “Jadi merancangnya harus benar-benar pas,” ucap siswa kelas X IPA-A MA Unggulan Nuris itu.

Ia menambahkan, lomba itu cukup sulit. Semua robot harus mampu melewati medan lintasan berupa garis (line-follower) berwarna hitam dengan dasar putih dalam waktu tiga menit. Garis putus-putus di lintasan merupakan kesulitan tersendiri bagi robot. “Sebab, sensor robot bisa-bisa tidak bekerja dengan baik karena bingung. Penilaian dilihat dari desain, kecepatan, dan ketepatan robot berjalan di garis yang telah disediakan panitia,” lanjutnya.

Hari Santri 2019

Secara terpsiah, Kepala MA Unggulan Nuris Jember Ning Balqis Al-Humairo mengapresiasi capaian yang diraih anak didiknya itu. “Saya bersyukur atas prestasi anak-anak kami yang telah mampu menorehkan prestasi robotika ini. Semoga ke depan anak-anak terus terpacu untuk meningkatkan prestasi di segala bidang yang mereka kuasai. Amin,” katanya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News, Tokoh Hari Santri 2019

Minggu, 21 Januari 2018

Indonesia Salah Besar Tinggalkan Pola Pesantren dalam Pendidikan

Semarang, Hari Santri 2019

Mantan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Malang Prof Dr Imam Suprayoga menyatakan, sistem pendidikan di Indonesia telah salah besar karena meninggalkan pola pesantren. Ia katakan, pendidikan terbaik adalah model pondok pesantren. Maka jika ingin sekolah atau perguruan tinggi menghasilkan lulusan terbaik, buatkan dengan mengikuti model pesantren.

Indonesia Salah Besar Tinggalkan Pola Pesantren dalam Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Salah Besar Tinggalkan Pola Pesantren dalam Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Salah Besar Tinggalkan Pola Pesantren dalam Pendidikan

Namun, pesantren juga perlu dikembangkan manajemennya atau bidang entrepreneurshipnya. Beberapa kekurangan di lembaga pesantren seperti tata administrasi juga perlu dibenahi agar semakin sempurna kebaikannya

Guru  besar yang semasa menjadi rektor UIN Malang mengasramakan 4 ribu mahasiswanya ini menyatakan hal itu saat menjadi pembicara dalam Seminar Entrepreneur & Soft Launching 50 Tahun Dies Natalis IKIP Veteran (Ivet) Semarang, di Auditorium kampus tersebut di Jalan Pawiyatan Luhur Semarang, Selasa, (23/2/2016).

"Filosofi pendidikan itu harusnya menunggui murid sepanjang masa belajar. Seperti ayam betina mengerami telurnya. Maka guru maupun lembaga pendidikan perlu menerapkan pola pengasuhan. Dan itu berarti memakai pola pondok pesantren," ujar guru dosen senior yang pernah 41 tahun menjadi kepala madrasah dan sekolah di Jawa Timur ini.

Ia jelaskan, pesantren menerapkan pendidikan kepada hati. Kepada jiwa. Mendidik akhlak agar sempurna mulia. Hasilnya, tidak hanya hati yang menjadi bercahaya, melainkan otak juga cemerlang. Terbukti, diungkapkannya, semua lulusan terbaik setiap wisuda sarjana di UIN Malang selalu mahasiswa yang tinggal di asrama mahasiswa. Di pesantren kampus. Dan hampir semuanya hafal Al-Quran.

Hari Santri 2019

"UIN Malang mengasramakan mahasiswa dengan maksud mengontrol belajar mereka agar lulus cepat dengan nilai bagus. Ternyata dengan pola pondok pesantren yang menekankan aspek moral, kami dapat bonus. Para mahasiswa yang adalah santri itu tidak hanya menjadi pintar akademiknya, melainkan juga hafal kitab sucinya. Jadi karena mereka menghafalkan Al-Quran, otaknya jadi encer dan ilmu begitu mudah dikuasai," tuturnya disambut tepuk tangan hadirin.

Hari Santri 2019

Imam menceritakan, dulu semasa ia pertama menjadi rektor, UIN Malang adalah kampus kecil kelas ndeso. Namanya Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Malang. Mahasiswanya hanya sedikit dan hanya berasal dari Malang dan sekitarnya. Dosennya hanya 43 orang dan sudah tua semua. Enam bulan diberi tugas mengajar, sudah tujuh orang yang meninggal dunia.

Lalu dengan keyakinan kuat, ia ajak seluruh elemen kampus untuk memajukan almamater. Caranya dengan mengamalkan sebuah hadis Rasulullah tentang perlunya memiliki tamu yang banyak, karena tamu membawa berkah.

"Kami dulu kampus kecil tidak terlihat. Lalu kami bertekad maju, kami buat agar punya banyak tamu. Dengan mencari celah apapun yang bisa mengundang orang mau datang bertamu. Alhamdulillah hasilnya nyata," paparnya.

Kepada para kepala SMK berbasis pesantren yang hadir dalam seminar tersebut Imam memberi saran, setiap SMK harus mencari dan menonjolkan keunikan masing-masing agar mengundang datangnya tamu. Tamu yang banyak akan membuat para pegawai, dosen, dan mahasiswa bangga. Lalu bersemangat ingin menunjukkan yang terbaik kepada para tamunya. Jadi, tanpa diceramahi rektor, seluruh elemen kampus bergerak, berimprovisasi untuk kemajuan kampusnya. Itulah kunci awal perkembangan.

Pentingkan bahasa asing

Imam mengaku heran dengan para pemangku perguruan tinggi. Semua mengeluh soal kurangnya penguasaan bahasa asing para dosen maupun mahasiswa, tapi tak ada upaya serius mengurai masalah itu. Sehinga seolah semua menjadi jeleh  tidak tahu apa yang harus diperbuat. Hanya berhenti pada keluhan.

Maka iapun membuat gebrakan. Ia langgar silabus dan kurikulum pergurutan tinggi. Jam kuliah bahasa asing di IAIN Malang (kini UIN Malang) dia ubah dari 2 jam seminggu menjadi minimal 4 jam setiap hari. Dia wajibkan mahasiswa baru masuk asrama, wajib mengikuti pelajaran bahasa asing mulai jam 14 sampai malam. Wajib menjadi santri yang aktif berbincang dalam bahasa asing di bawah pengawasan pengasuh asrama.

Hasilnya, kata dia, seluruh mahasiswa mampu berbahasa asing bagus minimal satu bahasa asing. Banyak yang menguasai dua atau lebih bahasa asing. Bahkan rata-rata bisa menulis skripsi dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing. Satu orang diantaranya menulis skripsi dalam sembilan bahasa.

"Program kami, minimal bahasa Arab dan Inggris harus menjadi kompetensi setiap lulusan UIN Malang. Alhamdulillah kami cukup berhasil. Mahasiswa kami yang dari luar negeri saja berasal dari 32 negara," ucapnya bangga.

Didik hati, hasilkan profesionalisme

Lebih lanjut Imam memaparkan, mendidik hati manusia, menempa ruh mereka, akan menghasilkan jiwa yang profesional. Dan itulah yang sangat dibutuhkan dalam dunia entrepreneur. Jika orang butuh pegawai yang profesional, jangan mencari dari lulusan manajemen "sekular" tetapi carilah dari orang yang ditempat dengan pendidikan rohani.

Ia ceritakan, Ponpes Sidogiri Pasuruhan punya lembaga keuangan Baitul Mal wa Tamwil (BMT) yang asetnya Rp 16 triliun. Padahal di pesantren itu tidak ada sekolah manajemen keuangan atau fakultas ekonomi jurusan perbankan. Sedangkan Universitas Brawijaya yang punya jurusan Koperasi, justru Koperasi Mahasiswanya bangkrut. Sehingga datang ke Sidogiri untuk studi banding belajar mengelola uang.

"Dengan  pesantren mendidik hati para santri, kiai menjadi sentral panutan moral, terciptalah insan profesional. Sehingga disuruh mengelola uang sampai triliunan rupiah mampu. Amanah. Kalau hanya mengajar soal manajemen, hanya ada orang pintar tapi potensial ngakali atau akal-akalan," tandasnya.

Sosok Kiai Mahfud Sobari, pengasuh pesantren Pacet Mojokerto juga ia jadikan contoh kesuksesan di bidang entrepreneurship. Kiai sahabatnya itu, kata Imam, merupakan sosok konglomerat. Usahanya macam-macam, sampai dia tanya ga pernah bisa ngitung penghasilannya.

Namun ketiga dia desak, Kiai Mahfud pernah cerita bahwa penghasilannya setiap bulan tak boleh kurang dari Rp 2 miliar. Sebab dia harus menghidupi empat istri, membiayai 20 anak kandung, puluhan yatim piatu dan membantu ratusan santri yang diasuhnya.

"Saya pernah membawa dosen-dosen UIN Malang ke rumah Kiai Mahfud. Mendengar tuan rumah punya istri empat, ibu-ibu pada jengkel dan menilai buruk beliau. Setelah diberitahu kalau penghasilan beliau per bulan Rp 2 miliar, eh, ibu-ibu itu bilang; lha kalau gitu ya saya mau jadi istrinya," tuturnya disambut tawa hadirin. (Ichwan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Berita, News Hari Santri 2019

Kamis, 11 Januari 2018

Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Wakaf untuk Umat

Tangerang, Hari Santri 2019. Bermula dari sembilan santri, sekarang sudah mencapai 400 santri. Umur dua belas tahun memang masih terhitung muda tapi bukan perjalanan yang sebentar.?

“Penambahan sarana dan prasarana serta perbaikan kualitas perlu ditingkatkan. Dalam terjun ke masyarakat santri harus bisa berkomunikasi, bisa menempatkan posisi selain bisa mengaji,” pesan Ketua Yayasan Jabal Nur H Badrul Munir saat memberikan sambutan acara Harlah ke-12 Pondok Pesantren Modern Terpadu Jabal Nur yang berlokasi di Jalan Kampung Gunung Cipondoh Tangerang, Ahad (12/3).

Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Wakaf untuk Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Wakaf untuk Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Wakaf untuk Umat

Munir melanjutkan, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Sebelum merdeka para tokoh dan kiai yang berjuang dalam kemerdekaan banyak dari kalangan santri. Maka, orang tua jangan ragu untuk memasukkan putra-putrinya ke pesantren.

Itu diperkuat dengan data santri yang terdaftar dalam PD Pontren Kantor Kemenag Kota Tangerang sekitar 7000 santri dengan 118 pesantren. Jadi, tambahnya, sekarang pesantren itu bukan lembaga pendidikan tertinggal lagi. Pesantren sekarang sudah bisa sejajar bahkan melebihi pendidikan umum.?

Hari Santri 2019

Pengasuh Pondok Pesantren Jabal Nur KH A. Saeful Millah menceritakan awal mula lahirnya inisiatif mendirikan pesantren. Menurutnya, Pesantren Jabal Nur dicetuskan di Mekkah pada tahun 2006.?

“Saya namakan Jabal Nur karena menjadi tonggak sejarah turunnya wahyu. Alhamdulillah, sekarang santrinya berasal dari berbagai daerah. Ada dari Teluk Naga, Medan, Jambi, Palembang, dan sekitar Jabodetabek,” papar Kiai Millah yang pernah menjabat sebagai Ketua PCNU Kota Tangerang.?

Kiai Millah sangat mengapresiasi peran para alumni. “Pesantren bisa besar karena kiprah alumni. Saya doakan agar semua menjadi kader NU yang berprestasi,” harapnya sambil menangis haru.?

Di akhir sambutannya Kiai Millah berikrar mewakafkan pesantren yang dirintisnya itu agar dikelolah oleh umat. Ada tujuh nadzir yang diamanatkan untuk mengelola pesantren tersebut.

“Saya mengikrarkan 2100 meter. Saya wakafkan pesantren kepada umat. Sekalipun saya tetap berjuang meningkatkan pesantren ini hingga akhir hayat,” pesan Kiai yang memasuki usia 70 tahun.?

Hari Santri 2019

Turut hadir dalam acara itu Ketua PCNU Kota Tangerang KH Bunyamin, Ketua MUI Tangerang KH Edi Djunaedi, Camat Cipondoh H Kiki Wijaya, Koramil 01 dan ? Polsek Cipondoh serta dihadiri ribuan masyarakat Tangerang. (Suhendra/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ubudiyah, Halaqoh, News Hari Santri 2019

Kamis, 04 Januari 2018

KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus

Oleh Munawir Aziz

Narasi perjuangan kemerdekaan Indonesia dipenuhi oleh penguasa dan jaringan militer yang melanggengkan heroisme. Sejarah perjuangan kaum santri tidak banyak tercatat, hanya sayup-sayup terdengar. Padahal, dari rahim pesantren, terdapat Laskar Hizbullah, Sabilillah dan segenap laskar pemuda santri yang berjuang untuk kemerdekaan. Gerak juang kaum santri terpinggirkan dari panggung sejarah perjuangan Indonesia. Bagaimana sejarahnya?

KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus

Dari panggung perjuangan republik, Laskar Hizbullah dan Sabilillah merupakan barisan militer yang terdiri dari pemuda santri dan kiai pesantren. Dari tapak jejak mereka, mobilisasi dukungan dari kaum santri dan warga sekitar menjadi menggema. Terlebih, kaum santri berjuang dengan tekad bulat, serta niatan ikhlas untuk menegakkan kemerdekaan di bumi Indonesia. Laskar Hizbullah, dipimpin oleh KH Zainul Arifin Pohan, seorang ahli diplomasi dan pejuang militer dari tanah Barus. Sedangkan, Laskar Sabilillah dikomando oleh Kiai Masykur (1904-1994), sosok alim dari Malang.

Siapakah Kiai Zainul Arifin? Sejarah hidup Zainul Arifin membuktikan bahwa Nahdlatul Ulama tidak hanya terdiri dari kiprah para kiai dan tokoh Islam asal Jawa. Kiai Zainul, sosok cerdas dan ahli strategi perang asal Barus, menjadi catatan nyata. Zainul Arifin Pohan lahir di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 2 September 1909. Ia merupakan putra tunggal dari pasangan keturunan Raja Barus, Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan dengan bangsawan asal Kotanopan, Mandailing Natal, Siti Baiyah br. Nasution. Ketika Zainul Balita, orang tuanya bercerai. Ia kemudian dibawa ibunya pindah ke Kotanopan, kemudian berdiam di Kerinci, Jambi. Di Kerinci, Zainul menyelesaikan Hollands Indische School (HIS) serta sekolah menengah calon guru, Normal School.

Pada usia 16 tahun, Zainul Arifin merantau ke Batavia (Jakarta). Di kota ini, dengan berbekal ijazah HIS, dia diterima bekerja di pemerintahan kotapraja kolonial (Gemeente) sebagai pegawai di Perusahaan Air Minum (PAM) Pejompongan, Jakarta Pusat. Setelah keluar dari Gementee, ia bekerja sebagai guru sekolah dasar dan mendirikan balai pendidikan untuk orang dewasa, Perguruan Rakyat. Balai pendidikan ini, bertempat di kawasan Masteer Cornelis (Jatinegara). Keahilan diplomasi dan kepiawaian bahasa Belanda, juga mengantar Zainul sebagai pemberi Bantuan Hukum bagi orang Betawi, yang saat itu dinamakan Pokrol Bambu.

Karirnya dalam organisasi Nahdlatul Ulama, dimulai sebagai kader Gerakan Pemuda Anshor. Bersama Djamaluddin Malik (1917-1970), seorang tokoh film nasional, Zainul bergabung dalam barisan pemuda Nahdlatul Ulama. Dari Anshor, karena keahlian berdiplomasi dan kecerdasan komunikasi, ia dekat dengan Kiai Wahid Hasyim (1914-1953), Kiai Mahfud Shiddiq (1906-1944), Muhammad Ilyas dan Abdullah Ubaid. Selang beberapa waktu, Zainul Arifin kemudian menjadi Ketua Konsul NU Jatinegara (Masteer Cornelis), serta kemudian menjadi Ketua Majelis Konsul NU Batavia, hingga masuknya Jepang pada 1942.

Hari Santri 2019

Pencetus sistem RT

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, strategi politik ormas Islam berubah haluan. Jika dengan Belanda, posisi ormas Islam berseberangan dengan pemerintah Hindia Belanda. Akan tetapi, Jepang menggunakan strategi berbeda dengan mendekati pemimpin-pemimpin ormas Islam. Jepang mengajak ormas Islam sebagai bagian dari pendukung Nippon, sebagai saudara tua di Asia. Inilah startegi politik dan militer Jepang untuk mencengkeram kawasan Asia, terutama Asia Tenggara dalam perang melawan Sekutu.

Di bawah kendali Jepang, terjadi perombakan struktur politik serta ritme organisasi Islam. Pada waktu itu, Zainul Arifin ikut mewakili NU dalam kepengurusan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Ketika itu, Jepang memberi kewenangan organisasi Islam untuk melebarkan sayap dan lebih aktif dalam pemerintahan. Kiai Zainul Arifin, mengusulkan pembentukan tonarigumi, cikal bakal Rukun Tetangga. Pada awalnya, tonarigumi dibentuk di Jatinegara, kemudian melebar untuk diadopsi ke sebagian besar desa di Jawa. ? Kiai Zainul Arifin dengan jeli melihat pentingnya sistem komunikasi antarwarga setingkat RT. Dengan demikian, kultur dan hubungan komunikasi antar warga terjaga dengan baik.

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, mereka membutuhkan dukungan pasukan untuk menguatkan militer di kawasan Asia. Semula, Pemerintah Jepang, melalui Abdul Hamid Nobuharu Ono, meminta agar Kiai Wahid Hasyim mengerahkan santri-santri masuk ke Heiho, sebagai tentara cadangan yang akan dikirimkan ke Birma dan Kepualaun Pasifik. Akan tetapi, Kiai Wahid tidak menerima tawaran itu. Untuk menampik permintaan Jepang, Kiai Wahid dengan startegi diplomasinya mengusulkan tawaran cerdas: Pertama, latihan kemiliteran yang diberikan kepada santri lebih baik untuk pertahanan dalam negeri. Kiai Wahid merasa bahwa, mempertahankan tanah air negeri sendiri, akan lebih meningkatkan semangat pemuda santri.

Hari Santri 2019

Kedua, pertempuran yang menghadapi tentara sekutu, lebih baik dihadapi oleh prajurit profesional, yakni tentara Dai Nippon. Sedangkan, jika menggunakan tentara yang tidak profesional hanya akan menyulitkan tentara Jepang sendiri. Ketiga, jika PETA (Pembela Tanah Air) ditunjukkan untuk pemuda nasionalis, sudah semestinya ada wadah bagi pemuda santri untuk latihan kemiliteran (Zuhri, 1974; 1987). Sedangkan, Hairus Salim ? (2004: 41) menambahkan satu alasan diplomatis dari Kiai Wahi Hasyim, terutama mengapa harus ada satu wadah untuk latihan kemiliteran bagi santri, yakni adanya kewajiban berperang untuk mempertahankan agama Allah (jihad fi sabilillah).

Pada latihan awal, pemuda santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah digembleng oleh Kapten Yanagawa, yang juga melatihan PETA. Latihan ini berlangsung di Cibarusah, Jawa Barat. Latihan militer pemuda santri, berlangsung selama tiga bulan, yang dipimpin oleh para Sydanco PETA. Kemudian, setelah latihan usai, 500 kader ini kemudian kembali ke desa masing-masing, untuk melatih kader-kader pemuda santri di kawasan setempat. Salim (2004), mencatat bahwa hingga akhir rezim Jepang di Indonesia, tercatat sekitar 50.000 angota laskar Hizbullah yang telah mendapatkan latihan militer.

Latihan perdana Laskar Hizbullah, tanggal 28 Februari 1945, yang dihadiri oleh Gunseikan, para perwira Jepang, Pimpinan Pusat Masyumi, Pangreh Raja dan pejabat terkait ? diumumkan betapa misi Hizbullah adalah untuk berjuang bersama Dai Nippon, melawan musuh yang zalim. Gunseikan, dalam pidatonya, menegaskan bahwa:

"Berhubung dengan nasib Asia Timur Raya, maka masa sekarang adalah masa yang amat penting yang belum pernah dialami atau terjadi di dalam sejarah. Dalam saat yang demikian itu telah bangkit segenap umat Islam di Jawa, serta berjanji akan berjuang "luhur bersama dan lebur bersama" dengan bala tentara Dai Nippon. Buktinya, ialah pembentukan barisan musa Islam yang bernama Hizbullah. Dengan demikian lahirkan tujuan untuk menghancurkan musuh yang zalim dan perjuangan dengan segenap jiwa dan raga, maka saya sangat gembira membuka latihan pusat Barisan Hizbullah ini... (Latif, 1995: 20, Salim, 2004: 42).

Dengan demikian, yang dimaksud oleh pemerintah Jepang bahwa musuh bersama dari bangsa Indonesia dan Jepang, merupakan tentara sekutu yang berusaha menjajah Asia. Jepang merasa sebagai pembebas bangsa Asia, hingga menyebut diri sebagai "Saudara Tua" bangsa Asia. Oleh Kiai Wahid Hasyim, pelatihan militer dimaksudkan untuk menguatkan barisan santri jika nantinya Indonesia sudah saatnya menjemput kemerdekaan. Benar saja, pada 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka, disusul dengan peristiwa demi peristiwa yang membutuhkan konsolidasi dan kekuatan militer, di antaranya pada peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya.

Mengabdi untuk negeri

Ketika para pemimpin bangsa memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, pemerintah Hindia Belanda tidak rela atas keputusan politik ini. Hindia Belanda tetap ingin menguasai Indonesia sebagai ladang ekonomi dan jajahan politik. Keinginan Belanda, terbukti dengan hadirnya tentara Sekutu, serta tentara NICA (Netherlands Indische Civil Administrative). Tentu saja, kedatangan tentara ini membuat warga Indonesia marah. Kota Surabaya dan beberapa kota lain menjadi saksi kemarahan warga ketika tentara Sekutu mengintimidasi. Pada 19 September 1945, terjadi perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato. Peristiwa ini, sekaligus menjadi tanda kemarahan rakyat atas invasi tentara sekutu dan NICA.

Situasi negeri menjadi kacau dan warga menjadi tersulut kemarahan karena intimidasi tentara Sekutu. Situasi pertahanan negara sedang diuji, apalagi ketika negara Indonesia baru saja merdeka. Sistem birokrasi, pemerintahan dan barisan militer masih sangat lemah. Pada saat itulah, laskar-laskar santri memainkan peran penting untuk mengkonsolidasi kekuatan rakyat. Pada 22 Oktober 1945, para kiai menyatakan rumusan tentang Resolusi Jihad. Kiai Hasyim Asyari mengeluarkan fatwa untuk menggemakan Resolusi Jihad. Fatwa Kiai Hasyim inilah yang kemudian melecut semangat santri dan warga di kawasan Jawa Timur, dan kawasan lainnya untuk berjuang melawan penjajah. ?

Pada 25 Oktober 1945, tentara sekutu mendarat di Surabaya. Pasukan Sekutu di kota Surabaya, terdiri atas 5000 pasukan dari kesatuan 49 Infanteri di bawah pimpinan Jenderal AWS Mallaby (1899-1945). Pertempuran berlangsung selama beberapa hari. Api semangat kaum santri dan warga membara, dengan dukungan para kiai dan kuatnya jaringan laskar. Puncaknya, 10 November 1945, pemuda santri dan warga sekitar Surabaya berhasil memukul mundur pasukan Sekutu, dengan tewasnya Jendral AWS Mallaby pada peristiwa sebelumnya, 30 Oktober 1945. ?

Kiai Zainul Arifin memainkan peran besar pada episode perjuangan bangsa Indonesia, baik pra maupun pasca kemerdekaan. Perjuangan laskar Hizbullah yang dikomando Kiai Zainul Arifin pada peristiwa November 1945 di Surabaya dikenang sebagai peristiwa heroik. Masa setelah kemerdekaan menjadi ujian bagi pejuang negeri. Kiai Zainul Arifin terus bergerak untuk mengomando laskar santri, barisan Hizbullah untuk berkoordinasi dengan tentara pimpinan Jendral Soedirman (1916-1950). ?

Dalam catatan Saifuddin Zuhri (2001: 355), beberapa pemimpin cabang Laskar Hizbullah sering berkumpul bersama di Yogyakarta, karena panggilan rapat Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (parlemen). Kiai Zainul Arifin, sebagai Ketua Markas Tertinggi Hizbullah, juga sering bertandang ke Yogyakarta untuk rapat. Selain itu, ada juga Wahib Wahab (Hizbullah Surabaya), Abdullah Siddiq (Hizbullah Jember), Amir (Hizbullah Malang), Bakrin (Hibzullah Pekalongan), Munawar (Hizullah Solo) dan Saifuddin Zuhri (Hizbullah Magelang). Mereka berkumpul untuk mengabdi pada negeri, sekaligus mengonsolidasi barisan laskar santri.

Ketika terjadi agresi militer II pada Desember 1948, pasukan Belanda berhasil menjatuhkan Yogyakarta, serta menahan Soekarno Hatta. Tentu saja, pada masa krisis ini, BP KNIP tidak berfungsi secara maksimal. Kiai Zainul Arifin, kemudian terlibat sebagai anggota Komisariat Pemerintah Pusat di Jawa, bagian dari Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Pada masa ini, Zainul Arifin bertugas mengkonsolidasi laskar-laskar militer untuk membantu tentara untuk bergerilya di bawah komando Jendral Soedirman.

Ketika kondisi sudah aman, serta pemerintah RI memegang kendali, terjadi penyatuan seluruh elemen laskar militer ke dalam satu wadah ? Tentara Nasional Indonesia (TNI). Kiai Zainul Arifin dipercaya sebagai Sekretaris Pucuk Pimpinan TNI, karena jasa besarnya pada masa perjuangan. Akan tetapi, ketika banyak mantan anggota Hizbullah yang tidak bisa diterima sebagai anggota TNI karena alasan ijazah formal serta tidak mendapat pendidikan modern, Zainul memilih mengundurkan diri. Inilah jiwa besar Kiai Zainul Arifin dalam berjuang untuk mengomando pasukan pemuda santri.

Kiai Zainul Arifin memilih jalan pengabdian, ia berkiprah di jalur politik sebagai wakil Partai Masyumi di DPRS, lalu wakil Partai Nahdlatul Ulama pada 1952. Pda 1953, Kiai Zainul Arifin menjadi Wakil Perdana Menteri (Waperdam) pada Kabinet Ali Sastroamidjojo I (1953-1955). Prestasi besar Kiai Zainul Arifin, pada 1955 ketika Pemilu, berhasil mengantarkan Partai NU menjadi sebagai tiga besar pemenang, dengan mendapat 45 kursi, dari sebelumnya 8 kursi. Kiai Zainul Arifin bersama Kiai Wahab Chasbullah dan beberapa kiai lain, bekerja keras untuk mengerahkan stategi politik demi Nahdlatul Ulama dan pesantren.

Sebagai pemimpin laskar militer santri, dengan keahlian diplomasi, dukungan politik dan luasnya jaringan, Kiai Zainul Arifin juga dekat dengan presiden Soekarno. Pada 1955 ia pernah bersama Soekarno pergi haji ke tanah suci. Sebagai tamu kenegaraan, Kiai Zainul Arifin diberi hadiah pedang berlapis emas oleh Raja Arab Saudi.

Pasca pemilu 1955, Kiai Zainul Arifin juga mendapat amanah menjabat anggota Majelis Konstituante. Lembaga ini akhirnya dibubarkan oleh Soekarno pada 5 Juli 1959 karena gagal merumuskan UUD baru. Setelah dekrit dikeluarkan Soekarno, konsitusi Indonesia dinyatakan kembali pada UUD 1945. Pada masa inilah, dikenal sebagai Demokrasi Terpimpin, dengan kekuasaan pada diri Soekarno, yang bersikeras menerapkan paham NASAKOM (Nasionalis, Agama dan Komunis) pada satu barisan politik. Di tengah situasi ini, suhu politik meningkat karena pengaruh kelompok yang tidak setuju dengan kebijakan Soekarno, terutama pihak partai Islam yang menolak PKI.

Pada 14 Mei 1962, suhu politik meningkat tinggi, ketika Shalat Idul Adha di barisan terdepan bersama Soekarno, Kiai Zainul Arifin tertembak oleh aksi pembunuh yang ingin menyerang presiden Soekarno. Kiai Zainul wafat pada 2 Maret 1963, di RSPAD Gatot Soebroto setelah menderita sakit selama sekitar 10 bulan. Negeri berduka atas wafatnya komandan laskar santri yang berjuang untuk negeri, sosok santri yang tulus mengabdi di bumi pertiwi.

Penulis adalah Wakil Sekretaris Lembaga Talif wan Nasyr PBNU, peneliti Islam Nusantara. (Twitter: @MunawirAziz) ?

Referensi:

Ario Helmy. KH. Zainul Arifin Pohan, Panglima Santri: Ikhlas Membangun Negeri. Jakarta: Pustaka Compass. 2015.

Hairus Salim. Kelompok Paramiliter NU. Yogyakarta: LKIS. 2004.

M. Hasyim Latief. Laskar Hizbullah: Berjuang Menegakkan Negara RI. Jakarta: LTN PBNU, 1995.

Saifuddin Zuhri. Guruku Orang-Orang Pesantren. Yogyakarta: LKIS. 2001

Tashadi. Sejarah Perjuangan Hizbullah Sabilillah: Divisi Sunan Bonang. Yayasan Bhakti Utama. 1997.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News Hari Santri 2019

Minggu, 31 Desember 2017

RSI Siti Hajar Sidoarjo Raih Penghargaan SPKL Peringkat Pertama

Sidoarjo, Hari Santri 2019. Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo meraih penghargaan Status Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup (SPKL) peringkat pertama dari Bupati Sidoarjo, H Saiful Ilah, berdasarkan peraturan Bupati nomor 33 tahun 2015 dan periode penilaian SKPL 2016.

RSI Siti Hajar Sidoarjo Raih Penghargaan SPKL Peringkat Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)
RSI Siti Hajar Sidoarjo Raih Penghargaan SPKL Peringkat Pertama (Sumber Gambar : Nu Online)

RSI Siti Hajar Sidoarjo Raih Penghargaan SPKL Peringkat Pertama

Penghargaan tersebut diberikan Bupati Sidoarjo, H Saiful Ilah, kepada Direktur RSI Siti Hajar Sidoarjo, dr Hidayatullah, pada malam resepsi Hari Jadi Sidoarjo ke-158 di alun-alun Sidoarjo, Rabu (1/2) malam.

"Jujur penghargaan ini agak menyentuh sisi emosional saya. Karena begitu sulit dan rumitnya dalam mengelola limbah. Kami pernah mengalami masa-masa sulit dalam mengelola limbah medik kami. Dan alhamdulillah, ada berkah di balik itu. Kami meraih award yang luar biasa ini, mengalahkan Rumah Sakit dan perusahaan-perusahaan besar lainnya," kata dr H Hidayatullah kepada Hari Santri 2019.

Dokter spesialis saraf itu mengapresiasi seluruh kinerja staf dan karyawan RSI Siti Hajar. Pasalnya, mengelola limbah medik itu tidak mudah dan sangat rumit. Meski begitu, alhasil RSI Siti Hajar Sidoarjo mendapatkan penghargaan perusahaan terbaik dalam mengelola limbah di Kabupaten Sidoarjo.

Hari Santri 2019

"Teman-teman saya di RSI Siti Hajar memang luar biasa. Award ini akan memacu kami lebih baik lagi. Dan ini sesuai dengan program kami menjadikan RSI Siti Hajar sebagai "Rumah Sehat" (bukan sekedar rumah sakit). Menjadi rumah bukan hanya buat orang sakit, tetapi juga menjadi rumah bagi orang sehat dan menjadi Rumah Sakit yang mendukung program kesehatan lingkungan hidup," ujar dr Dayat.

Sementara itu menurut Kepala ruangan penyehatan lingkungan RSI Siti Hajar Sidoarjo, Ning Ana Sumari, menyatakan bahwa, selama lima tahun mengikuti program Badan Lingkungan Hidup (BLH) tentang lingkungan hidup, baru tahun ini, RSI Siti Hajar Sidoarjo mendapatkan penghargaan.

Ia menjelaskan bahwa, yang menjadi kendala tidak masuk kategori taat selama mengikuti program BLH itu karena NH3 (Amoniak) sering tinggi sehingga tidak kena taat. Selain itu, ijin pengolahan limbah belum turun.

"Alhamdulillah, setelah kita mendapatkan ijin dari BLH dan mempunyai TPS akhirnya kita masuk kategori taat dan mendapatkan penghargaan ini. Perasaan saya lega karena sudah lima tahun mengikuti dan baru sekarang masuk kategori taat," ucapnya dengan nada gembira. (Moh Kholidun/Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 RMI NU, Ulama, News Hari Santri 2019

Minggu, 24 Desember 2017

PBNU Serukan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Syuhada Haji

Jakarta,? Hari Santri 2019

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Maruf Amin menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas insiden jatuhnya crane di area Masjidil Haram Makkah al Mukarramah akibat badai dan hujan deras yang melanda yang mengakibatkan wafatnya puluhan? dluyufur rahman? yang akan menunaikan ibadah haji.

"PBNU bertakziah untuk para korban semoga mereka termasuk dalam syuhada yang menjadi? ahli jannah, keluarganya diberikan kekuatan, keikhlasan, dan ketegaran, untuk menerima ujian ini dengan senantiasa mengingat bahwa sesungguhnya kita milik Allah dan kepadanya kita kembali," kata Kiai Maruf Amin dalam pesan yang disampaikan keHari Santri 2019,? Sabtu.?

Kiai Maruf Amin juga mengingatkan bahwa hal ini merupakan upaya kita agar selalu ingat pada kematian, sehingga dapat semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan meningkatkan amal kebajikan, baik yang bersifat vertikal dan horisontal.

PBNU Serukan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Syuhada Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Serukan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Syuhada Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Serukan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Syuhada Haji

Rais aam menyerukan kepada seluruh umat Islam, khususnya warga NU untuk melakukan shalat ghaib di masjid-masjd dan mushalla. shalat janazah hukumnya? fardhu kifayah, yang diwajibkan kepada seluruh umat Islam dengan prinsip ketewakilan. Shalat ghaib hukumnya sah sebagaimana shalat janazah. Shalat ghaib ditujukan kepada? dluyufurrahmanyang wafat di tanah suci karena musibah jatuhnya crane proyek pembangunan masjidil haram.

Selanjutnya, Kiai Maruf yang juga ketua umum MUI ini menghimbau kepada seluruh pimpinan pondok pesantren, lembaga-lembaa di lingkungan NU, para pengurus masjid dan mushalla untuk mengajak seluruh jamaah melakukan shalat ghaib, tahlil, serta istighotsah untuk meminta pertolongan kepada Allah agar para hujjaj yang wafat diampuni oleh Allah SWT, para jamaah haji yang sedang persiapan manasik haji diberi kekuatan lahir batin, para pelayan tamu-tamu Allah diberikan kekuatan untuk menyiapkan, memfasilitasi, dan melayani segala kebutuhan hingga dapat telaksana dengan baik. (Red: Mukafi Niam)

Foto: CNN Indonesia

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 News, Olahraga Hari Santri 2019

Sabtu, 09 Desember 2017

Tingkatkan Kualitas SDM NU, Muktamar Rumuskan 3 Bidang Prioritas

Jakarta, Hari Santri 2019. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) merancang program dengan memprioritaskan pada bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Terbukti di dalam Sidang Komisi Program Muktamar Ke-33 NU yang berlangsung di Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang, Selasa (4/8) lalu, PBNU membentuk 3 badan khusus yang bergerak di bidang-bidang tersebut.

Tingkatkan Kualitas SDM NU, Muktamar Rumuskan 3 Bidang Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Kualitas SDM NU, Muktamar Rumuskan 3 Bidang Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Kualitas SDM NU, Muktamar Rumuskan 3 Bidang Prioritas

Tiga badan khusus yang dimaksud yaitu Badan Pelaksana Bidang Kesehatan NU (BPKB-NU), Badan Penyelenggara Pendidikan Ma’arif NU (BP2M-NU), dan Badan Perekonomian NU (BPNU).

Ketua Komisi Program, H Yahya Ma’shum saat itu menerangkan, bahwa kelembagaan Badan Khusus terdiri dari Dewan Pengurus dan dan Pelaksana (eksekutif). Dewan Pengurus ditunjuk (berdasarkan keahlian dibidangnya), disahkan PBNU, Tingkat Provinsi ditunjuk oleh PWNU, di Kabupaten/Kota oleh PCNU dan disahkan oleh Dewan Pengurus.

Hari Santri 2019

Tiga Badan Khusus ini merupakan upaya realisasi dari salah satu program dasar yang dirancang PBNU, yaitu Program Pengembangan Kualitas SDM NU. Adapun program dasar lain yang dirancang, yakni Program Penguatan dan Penyebaran Aswaja NU; Program Peningkatan Kesejahteraan dan Keadilan Warga (bergerak di sektor perekonomian, ketenagakerjaan, serta pendidikan dan perlindungan hukum), dan Program Penguatan Organisasi, Kelembagaan, dan Jaringan.

Hari Santri 2019

Dalam pemaparannya di hadapan sekitar 450 PCNU yang hadir dalam Sidang Komisi Program, Yahya Ma’shum menjelaskan, bahwa Badan Khusus bertanggung jawab langsung kepada PBNU, hubungan koordinatif dan konsultatif dalam menjalankan mandat yang diberikan oleh PBNU.

“Ruang lingkup tanggung jawab Badan Khusus meliputi penyelenggaraan, pengelolaan, pengembangan, dan atau pendirian masing-masing 3 bidang tersebut,” jelas Yahya yang juga Ketua PP Lakpesdam NU ini.

Adapun, lanjutnya, tanggung jawab 3 Badan Khusus tersebut adalah:

1. BPKB-NU: menangani Rumah Sakit, Klinik, Balai Pengobatan, Rumah Bersalin, pelayanan pencegahan, tindakan dan rehabilitasi, serta melakukan advokasi bidang kesehatan.

2. BP2M-NU: menangani Lembaga Pendidikan Formal dan Non-Formal yang terdiri dari bidang Pendidikan Madrasah/Sekolah, bidang Pendidikan Tinggi, dan bidang PAUD, TK, TPA.

3. BPNU: menangani lembaga ekonomi berbasis komunitas, Induk Koperasi NU, BMT-NU, Himpunan Saudagar NU, dan Asosiasi Perekonomian tertentu.

Dalam sidang yang juga dipimpin oleh Ketua PP LP Ma’arif NU, H Arifin Djunaidi dan salah satu Ketua PBNU, H Iqbal Sulam ini, Muktamirin banyak memberikan kritikan, usulan, pandangan, dan pendapatnya terhadap program-program yang telah dipaparkan. Namun demikian, suasana sidang berlangsung kondusif. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News, Nahdlatul Ulama, Jadwal Kajian Hari Santri 2019

Jumat, 08 Desember 2017

Pesantren Kaliopak, Pancarkan Rahmat Tuhan dengan Kesenian

Di timur kota Jogjakarta yang hingar bingar, ada pesantren yang tidak biasa. Pesantren Kaliopak, namanya. Menjadi tidak biasa karena pesantren tersebut mengidentivikasi dirinya sebagai pesantren kebudayaan. 

Seperti yang tertulis dalam profilnya di jejaring sosial Facebook, pesantren tersebut berusaha memadukan kreativitas kesenian, ekonomi kerakyatan, dan religiusitas dalam kerja pendidikan dan kemasyarakatan. Di sana, Islam ditampilkan dengan gembira lewat macam-macam pagelaran seni. "Seni membuat sentuhan surgawi dalam kehidupan kita, agar lebih menyala-nyala dalam rahmat-Nya," kata Faisal Kamandobat, salah seorang guru di pesantren tersebut.

Pesantren Kaliopak, Pancarkan Rahmat Tuhan dengan Kesenian (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Kaliopak, Pancarkan Rahmat Tuhan dengan Kesenian (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Kaliopak, Pancarkan Rahmat Tuhan dengan Kesenian

Faisal yang terkenal sebagai penyair itu mengaku baru terlibat dengan Pesantren Kaliopak tiga tahun terakhir, tapi dengan pimpinan pesantren, M. Jadul Maula, sudah kenal lama. Kepada Hamzah Sahal dari Hari Santri 2019, Faisal bercerita banya ihwal Kaliopak,  lewat telepon, seusai pertunjukan Wayang Suket yang didalangi Slamet Gundono, di pesantren itu, Kamis (8/11) malam. 

Hari Santri 2019

Kenapa Pesantren Kaliopak rutin adakan pertunjukan seni?

Hari Santri 2019

karena kesenian memberi kebahagiaan bagi masyarakat yang sedang ditimpa berbagai persoalan, seperti kemiskinan dan kesehatan. Kesenian juga memperdalam makna dalam menghayati kehidupan di tengah arus pendangkalan kehidupan karena inflasi informasi dan ekonomisasi di segala aspek kehidupan.

Dan terakhir, kesenian memberi kerangka imajinatif untuk merevaluasi dan merevitalisasi nilai ketika sejarah terasa membeku, sehingga menemukan vitalitas dan relevansinya kembali.

Itulah kenapa pesantren Kaliopak menggelar kegiatan-kegiatan kesenian. Lebih dari itu dulu para sunan juga menyebarkan rahmat Tuhan melalui kesenian, suatu hal yang perlu dilakukan lagi untuk menyegarkan dan memberi sentuhan estetis terhadap pendekatan syariah yang dominan di pesantren-pesantren.

Kesenian macam apa yang ideal untuk pesantren?

Kami menyelenggarakan acara-acara kesenian, mulai sastra, seni rupa, sampai pertunjukan, baik tradisional ataupun moderen. Belakangan seni tradisional seperti tarian Emprak dan wayang lebih sering dilakukan. Alasannya, seni tersebut lahir dari rahim sejarah sosial dan budaya kita, dengan makna dan medianya yang indah dan dalam.

Seni tradisional perlu dilestarikan secara kreatif dan luwes, agar tetap hidup dan relevan, untuk menjaga visi sejarah dan jati diri kita, sebagai cawan yang menampung segela kegelisahan dan gagasan dalam realitas yang kita diami.

Tidak ada kesenian tertentu yang menjadi "target"?

Pesantren Kaliopak tidak terlalu memikirkan aspek medium kesenian, tapi lebih pada isinya. Film, wayang, musik, lukisan, sastra, masuk semua. Yang penting kandungannya dapat merefleksikan realitas kemanusiaan secara jujur, kreatif, dan relatif mewakili kehidupan sosial kita.

Kenapa hari ini, secara umum, pesantren tampak over selektif terhadap kesenian dan komunitas-komunitas seni?

Harusnya pertanyaan itu disampaikan kepada para kiai dan gus daripada ke kami. Tapi seperti yang saya katakan tadi, karena ajaran pesantren, baik syariah ataupun tarekat, cendereung disampaikan secara formalistik, sehingga semakin kaku dan kurang menyenangkan. Padahal para ulama dahulu bisa diterima dengan cepat karena menyampaikan gagasannya dengan indah melalui syair.

Mari kita pancarkan cahaya rahmat Islam dengan cara yang indah dan imajinatif, agar melunakkan hati yang keras dan menghangatkan hati yang dingin. Seni adalah jalan terbaik untuk itu. Bukankah Al-Quran bukan kita hukum saja, tapi juga kitab sastra yang maha indah?

Jadi mari berkesenian. Karena seni membuat sentuhan surgawi dalam kehidupan kita, agar lebih menyala-nyala dalam rahmat-Nya.

Ada pendapat seni tertentu, alat musik tertentu harus dihindari karena bisa melalaikan Allah, bahkan ada ulama yang melarang baca seni Al-Quran. Apa pendapat Anda?

Karya seni tidak mengenal dosa, karena tidak bisa dihukumi. Yang terkena hukum itu manusianya. Betul kan?

Kalau musik, sastra, lukisan, drama, memang digunakan untuk lari dari Tuhan, maka akan sesat dengan sendirinya. Tapi kalau digunakan sebagai jalan menuju Tuhan, insya Allah akan sampai. Jadi tergantung kitalah, para senimannya, untuk apa kesenian itu.

Lihat saja, makna dan tujuan di balik karya seni, jangan hanya bendanya. Jangankan kesenian, negara dan agama saja, kalau digunakan untuk tujuan kekuasaan pribadi, akan membuat kita jauh dari Tuhan. Tapi, tembang suluk atau pop, jika ditujukan kepada Tuhan, akan terasa lebih spiritual dan relejius.

Apa yang Anda pikirkan tentang seni yang hari ini tumbuh di pesantren dan komunitas Islam, seperti sholawatan, hadroh, genjring, marawis, kaligrafi?

Kesenian yang telah hidup di pesantren dan masyakarat Islam secara luas tentu harus dijaga keberlangsungannya. Sambil dikembangkan secara kreatif agar tetap relevan dan semakin diterima oleh banyak penikmat, oleh masyakarat luas.

Bagaimana pula dengan arsitektur (yang ada di) pesantren, juga masjid dan langgar? Tampaknya seni bangunan banyak diabaikan di pesantren. Sekedar berkiblat pada fungsi dan tren saja.

Dunia arsitektur kita secara umum sedang ikut arus tren global, terutama gaya dan materinya. Tapi di level konseptual dan paradigma, ita belum mewarnai secara signifikan. Masih jauh bagi kita arsitektur berkelas seperti Nouval, Hadid, Koolhaas, atau Ando. Tapi mau bermain dengan mengeksplorasi gaya lokal juga belum ketemu yang bener-benar kuat, padahal itu sumber inspirasi yang luar biasa kaya. Nah, itu secara umum. 

Pesantren arsitekturnya biasa, rada latah, atau malah kelewat sederhana. Wajar saja karena memang tidak diajarkan soal arsitektur. Lha yang diajar jadi arsitek saja kurang punya visi dan selara. Ini kita sedih.

Bagaimana dengan arsitektur pesantren Anda? Saya lihat ada pendopo Jawa, tapi bangunan lain bergaya poskolonial.

Perencanaan makro pesantren Kaliopak lebih untuk pengajian, pelatihan dan berkesenian. Jadi kami membuat banyak ruang yang luas dan terbuka. Gaya tradisional membuat pesantren terasa lebih homy bagi masyarakat Jogja, tapi kurang begitu kuat. Sedangkan yang moderen kurang homy, tapi lebih kuat karena materialnya. Tapi sejujurnya kami tidak punya desain secara keseluruhan. Semua berjalan begitu saja, sesuai usaha dan kata hati kami, di bawah ridlo Allah. Amin.

Pesantren Kaliopak mulai dibangung dan dirinti pada tahun 2004. Kegiatan pesantren terhenti karena lindu yang mengguncang Jogjakarta dan sekitarnya, pada bulan Mei 2006. Tapi karena lindu itulah pesantren jadi ramai. Warga sekitar rubungan di pesantren, ngobrol, solawatan, sembayang, dan lainnya. Pada waktu itu belum dialiri listrik.

Letak pesantren di Jalan Wonosari Km 11 Dusun Klenggotan, Bantul. Dari pusat kota Jogja, hanya 30 menit naik kendaraan bermotor. Untuk sampai ke sana, rutenya tidak rumit, telusiri saja Jalan Wonosari, setelah sampai jembatan Kaliopak, ada pasar, ke timur sedikit, ada Gang Masjid al-Muttaqin, lalu masuk sekitar 100 meter, ada pos ronda masuk terus sampai pinggir sungai. Di situlah pesantren berada, nama pesantren sama dengan nama sungai yang ada persis di pinggirnya, Pesantren Kaliopak.

Di sana, pesantren lebih banyak digunakan untuk pelatihan dan pertunjukan seni serta diskusi untuk umum. Ada pelatihan menulis hingga pelatihan film. Diskusi tasawuf hingga tarian. Pameran lukisan hingga pidato kebudayaan. Tidak banyak santri yang menetap di sana. Santrinya silih berganti dalam waktu yang cepat, datang dari mana-mana. Tapi tak lama mereka akan datang lagi, karena kesengsem. Tapi tak lupa juga, selayaknya pesantren, ada pengajian Al-Quran untuk anak-anak dan pengajian kitab-kitab, tapi memang tidak banyak.

Pesantren Kaliopak ikut mewarnai pesantren yang sudah ada terlebih dahulu seperti Pesantren Krapyak di Bantul, Pesantren Sunan Pandan Aran di Sleman, dan lain-lain. Pesantren tersebut juga menjadi tempat sekolah yang kreatif di tengah Jogjakarta sebagai Kota Pelajar.

Pesantren Anda persis di sisi selatan sungai Kaliopak. Itu pilihan atau kebetulan saja?

Kebetulan saja. Tapi kami percaya itu Tuhan yang mengatur, karena terasa begitu nyaman dan hidup, meski di ujung senyap Jogjakarta.

Kenapa pesantren Anda tidak bernama Al-Ikhlas, Al-Huda, atau At-Taqwa, melainkan Kaliopak?

Untuk mengikat nama pesantren dan ruang sosial, kultural, historis, dan geografis dari masyarakat dimana ini berada. Dulu nama pesantren banyak yang menggunakan nama tempat, seperti Tebuireng, Krapyak, Lirboyo, Babakan, Cipasung. Itu membuat pesantren  lebih memiliki otoritas di tanah yang ditempati pesantren. Sangat penting ditinjau dari segi strategi kebudayaan, terutama dalam kaitannya dengan soal kedaulatan.

Siapa atau golongan mana saja penerima manfaat atau santri Kaliopak?

Pesantren Kaliopak melibatkan masyarakat dusun Klenggotan dalam kegiatan-kegiatannya. Para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi juga sering ikut bantu-bantu kegiatan kami. Ada dari mereka yang melakukan residensi, untuk disksusi atau penelitian. Dari UIN SUKA, UGM, UI, ISI, santri-santri dari pelbagai pesantren, dan banyak lagi. Akademisi, seniman, petani, pedagang, ulama, juga dukun, biasa menikmati kegiatan pesantren Kaliopak. Juga kalangan lintas agama, etnis, kelas sosial, dan berbagai usia bisa datang dengan senang dan menikmati kegiatan-kegiatan di sini.  Kami berusaha semampunya untuk melakukan rahmatan lil alamin.

Kembali ke dunia seni, Mas. Tampaknya Wayang Suket dan Ki Slamet Gundono sering tampil di Kaliopak, baik diskusi ataupun wayangan. Ada alasan khusus?

Slamet Gundono itu orangnya asyik, kreatif, santri, dan harganya bisa dinego. Kalau bisa malah gratis. Demi visi yang sama, kami patung tempat, dia dan kawan-kawan nyumbang karya...hahaha... Gundono itu seorang seniman dan dalang yang eksperimental, kreatif, tapi tetap komunikatif. Dia seorang santri dengan cinta kemanusiaan yang besar di dadanya.

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News Hari Santri 2019

Selasa, 28 November 2017

Lewat Shalawat, Habib Syech Ajak Pemuda Jauhi Narkoba

Sukoharjo, Hari Santri 2019. Pengajian dzikir dan shalawat yang dipimpin oleh Habib Syech bin Abdul Qadir As-Segaf, selain menjadi wahana untuk menentramkan hati serta mendekatkan diri kepada Ilahi, rupanya juga menjadi sarana untuk memberi pendidikan kepada generasi pemuda akan bahaya Narkoba.

Habib Syech menyelipkan pesan-pesannya di sela syair shalawat kepada para pemuda untuk menjauhi Narkoba. Syair shalawat yang berjudul “Shalawat Anti-Narkoba” tersebut, kerap kali dilantunkan Pengasuh Majelis Ahbabul Musthofa itu.

Lewat Shalawat, Habib Syech Ajak Pemuda Jauhi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Shalawat, Habib Syech Ajak Pemuda Jauhi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Shalawat, Habib Syech Ajak Pemuda Jauhi Narkoba

Salah satunya pada acara Pengajian Akbar Majelis Al-Hidayah di Solobaru Sukoharjo, Selasa (5/5) malam. “Shalatullah salamullah, ala toha rasulillah. Shalatullah salamullah, ala Yasin habibillah. Hidup nikmat tanpa Narkoba. Badan sehat sungguh terasa. Akal sehat tetap terjaga. Cita-cita pun jadi nyata,” tutur Habib Syech pada sebuah bait syairnya.

Hari Santri 2019

Putus sekolah karena narkoba. Perkelahian karena narkoba. Perceraian karena narkoba. Nyawa hilang karena narkoba// Insaflah hai para pemuda. Jangan buat Tuhanmu murka. Pintu taubat selalu terbuka. Ayo cepat jangan ditunda,” lanjut syair tersebut.

Dalam kesempatan ini, Mustasyar Syuriyah PWNU Jateng ini juga mengingatkan kepada para pemuda, khususnya mereka yang akan menerima surat kelulusan sekolah, hendaknya agar merayakan dengan santun.

Hari Santri 2019

“Jangan ikut gila-gilaan. Jadilah bangsa yang memiliki adab. Nanti kalau lulus, jangan kebut-kebutan, jangan pilok-pilokan, dan mabuk. Kaya gini kok mau jadi calon pemimpin bangsa,” tegas Habib Syech.

Di akhir kesempatan, Habib Syech ikut mendoakan kepada para siswa yang mengikuti ujian sekolah, agar diberikan kelancaran dan hasil yang baik. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News, Olahraga, Quote Hari Santri 2019

Kamis, 23 November 2017

Untuk Melindungi Umat, Perlu Standarisasi Dai

Hadis Nabi Muhammad yang berbunyi “Ballighu ‘aani walau ayat”. Artinya, sampaikanlah dariku (Nabi Muhammad) walau hanya satu ayat saja, menjadi pedoman bagi setiap muslim untuk berlomba-lomba dalam berdakwah. Menyeru dan mengajak orang lain untuk mengamalkan ajaran Islam. Tentu mereka menyampaikan ajaran Islam sesuai dengan kapasitas pengetahuan yang mereka kuasai.

Medan dakwah mereka juga berbeda-beda. Ada yang berdakwah di musholla, masjid, majelis taklim, bahkan hingga ada yang berdakwah di televisi, radio ataupun media sosial seperti youtube. Hingga kemudian disematkanlah gelar ustadz atau ustadzah di bahunya. 

Untuk Melindungi Umat, Perlu Standarisasi Dai (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Melindungi Umat, Perlu Standarisasi Dai (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Melindungi Umat, Perlu Standarisasi Dai

Naasnya, tidak sedikit dari mereka yang tidak memiliki latar belakang pengatahuan keislaman yang mendalam. Karena biasanya ada juga selebriti yang banting setir menjadi ustadz atau ustadzah meski baru ‘sedikit’ belajar tentang Islam dan segala disiplin keilmuannya. Ada juga gelar ustadz atau ustadzah tersebut disematkan oleh televisi tertentu –meski tidak terlalu menguasai ilmu-ilmu keislaman tetapi menghibur- untuk mengejar rating. 

Meski demikian, ada juga yang dakwah di televisi atau media sosial tersebut adalah orang yang benar-benar mendalami dan menekuni Islam karena mereka memang belajar tentang Islam dan disiplin ilmu-ilmu keislaman selama berpuluh-puluh tahun.

Kehadiran ustadz atau ustadzah di televisi atau media sosial tersebut tidak jarang membuat masyarakat heboh karena materi-materi yang mereka sampaikan begitu kontroversial. Seperti kenikmatan surga adalah pesta seks, anjuran untuk tidak menjadi dokter hewan bagi seorang muslim, mengaitkan operasi cesar dengan gangguan jin, dan lain sebagainya.

Hari Santri 2019

Oleh karena itu, Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia akan bekerja sama dengan Kemenag, Universitas Islam Negeri, Ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan lainnya untuk melakukan standarisasi dai. Hal itu dilakukan agar materi dakwah yang disampaikan para dai, ustadz, dan ustadzah tersebut bisa dipertanggungjawabkan dan kredibel. 

Lalu, yang menjadi pertanyaan adalah standari dai tersebut itu seperti apa? Apakah semua dai akan distandarisasi? Bagaimana pola dan mekanismenya? Apakah standarisasi sama seperti sertifikasi? Apakah khatib juga akan distandarisasi? dan Kapan standarisasi akan efektif dilaksanakan? 

Jurnalis Hari Santri 2019, A Muchlishon Rochmat, berhasil mewawancarai Ketua Komisi Dakwa KH Cholil Nafis untuk memperjelas hal-hal yang berkaitan dengan ‘standarisasi dai’ ini. Berikut hasil wawancaranya:

Belakang ini, banyak ustadz –baik yang ada di televisi ataupun media sosial- yang mengebohkan masyarakat karena pernyataan yang mereka seperti pesta seks adalah nikmat surga, mengaitkan operasi cesar dengan gangguan jin, dan lainnya. Bagaimana menanggapi itu?

Keberadaan para ustadz yang ada di televisi, radio, ataupun frekuensi-frekuensi publik lainnya seharusnya menjadi perhatian yang serius. Ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, standarisasi para ustadz. Baginya, ini harus dilaksanakan agar para ustadz tersebut memiliki kualifikasi yang memadahi karena mereka berbicara di depan ratusan ribu bahkan jutaan penonton.

Hari Santri 2019

Kedua, ustadz-ustadz juga perlu koreksi diri atau muhasabah. Mana dalil-dalil yang masih parsial. Mana yang harus dilengkapi dengan dalil yang lain. Sehingga hukum atau ceramah yang disampaikan tidak membuat resah masyarakat. 





Apakah yang dimaksud dengan standarisasi? Apakah standarisasi sama dengan sertifikasi?

Sebenarnya standarisasi berbeda dengan sertifikasi. Kalau sertifikasi, orang baru boleh ceramah kalau mendapatkan sertifikat. Tetapi kalau standarisasi itu lebih kepada kualifikasi seperti orang yang bergelar S1, S2, dan S3. Soal  dipakai atau tidak itu terserah kepada ‘pasar’, orang yang ‘memakainya.’ Pemakainya itu sudah bisa mengukur. Ini membutuhkan dai yang standarnya A. Ini membutuhkan dai yang standarnya B. Kita bisa mengkualifikasikan itu. 

Kita ingin memperbaiki kualitasnya dari pada mengekang siapa yang berhak untuk ceramah dan siapa yang tidak berhak untuk ceramah. Selama ini kita masih bertumpu kepada kekuatan masyarakat. Artinya, masyarakat yang mengundang, masyarakat yang membayar, dan masyarakat yang punya acara. Itu berbeda dengan negara tetangga kita seperti Malaysia atau Brunei. Orang yang menjadi dai itu adalah atas biaya negara.   





Yang distandarisasi apa saja nantinya?

Pertama, kita akan melakukan standar dasar seorang dai yaitu kemampuan orang di bidang agama. Apakah dia sudah layak menyampaikan ilmu itu di publik. Ada standar yang memang untuk hanya mengajar seperti mengajar Iqra, mengajar tajwid, mengajar tafsir. Kita ada standar dasar bahwa orang yang berbicara di publik itu minimal bacaan Al-Qur’annya bagus, mengerti agama dengan baik.

Kalau dia ceramah di televisi, pertama dia harus mengetahui tentang paham-paham keagamaan di Indonesia. Jadi dia tidak nabrak-nabrak ke yang lain. Kedua, mengetahui perbedaan-perbedaan ulama. Jika para ustadz tersebut menguasai sesuatu yang khilafiyah maka mereka bisa memberikan pemahaman yang menyeluruh kepada umat. 

Ketiga, dia paham hubungan antara agama dan negara termasuk pilihan Pancasila ini sebagai dasar negara sehingga dia tidak menyoroti kesepakatan yang sudah disepakati. Bahwa NKRI adalah sebuah kesepakatan dan kita berkomitmen untuk hidup di dalam bingkai NKRI. Terakhir, dia memahami konteks pembicaraan dan wawasan tentang lingkungan dan masyarakat sehingga apa yang disampaikan bisa menjadi inspirasi.





Berarti semua akan distandarisasi atau hanya yang di media saja?

Kita sedang berkoordinasi dengan pihak terkait. Ke depan, orang yang bicara di televisi atau publik itu harus mendapatkan rekomendasi dari lembaga yang kredibel seperti Kemenag, UIN, MUI, NU, Muhammadiyah, dan lainnya. Biasanya dengan adanya rekomendasi itu ada pertanggungjawaban terhadap sebuah lembaga. 

Sekarang banyak terjadi kesalahpahaman dan sensasi itu biasanya dari dai yang tidak jelas afiliasi paham keagamannya. Ketika dia tidak afiliasi, dia tidak paham agama, tidak paham pemikiran di Indonesia. Sehingga menyinggung yang lain. Sesuatu yang tidak qath’i (pasti) dibikin qath’i. Sesuatu yang tidak muttafaq alaih (semua ulama menyepakati) dibikin muttafaq alaih. Dan menganggap kebenaran tunggal dan meyalahkan yang lain. Padahal itu adalah wilayahnya khilafiyah (perbedaan pada cabang). 





Kalau yang aktif berdakwah di media sosial seperti Youtube bagaimana?

Saya pikir Youtube itu adalah regulasi yang lain. Saya pikir masyarakat bisa menontonnya ketika itu dianggapnya benar. Kalau orang yang melakukan yang macam-macam dan mengarah kepada kriminal, dia akan diproses secara hukum. 

Menurut saya, karena Youtube itu bebas dan semua bisa mengakses dan meng-upload-nya maka hanya orang yang aktif saja yang menggunakannya. Kita mencermati saja, kalau itu melanggar maka kita kasih perlakuan. Di pedoman dakwah itu ada pedoman dai. Kalau ada dai yang membuat kontroversi dan masalah, maka kita akan kasih pembinaan kepada yang bersangkutan.





Ada anggapan bahwa standarisasi itu adalah sebuah pengekangan karena mau berdakwah saja masa harus diatur. Bagaimana itu?

Sekarang adalah zaman kualifikasi dan standarisasi. Jadi bukan melarang, tetapi kalau anda kompeten ya silahkan. Yang dilarang adalah orang yang tidak kompeten tetapi membuka praktik. Dokter saja tidak boleh membuka praktik kalau dia tidak memiliki sertifikat kompetensi. Untuk menjadi konsultan dan manajer saja harus memiliki sertifikat kompetensi. 

Kita menghindari praktik orang yang tidak kompeten. Sebenarnya kita melindungi masyarakat dan umat. Jangan sampai mereka yang berdakwah itu menyampaikan sesuatu yang sesat sehingga nanti malah menyesatkan. Sebenarnya apapun memang harus diatur di dunia kualifikasi seperti sekarang ini. Sekarang harus dipilah. 

Selain kompetensi, kita juga akan menilai konsistensinya. Jangan sampau kita tahu, tetapi perilakunya tidak mencerminkan pengetahuan kita tersebut. Di dalam berdakwah agama juga ada perilaku yang harus dinilai. Perilaku tersebut bisa dilihat dari track record nya. Meskipun dia ustadz dan lulusan S3, tetapi dia sudah pernah melakukan tindak pidana kriminal maka ia harus diberi sanksi untuk menyampaikan kebenaran di depan umum.  

Sebenarnya ini sama dengan pofesional lainnya. Kita arahnya ke sana. Siapa yang profesional nanti kita serahkan kepada ‘pasar’. Nanti mereka akan memilih yang seperti apa. 

Artinya orang yang sudah diberi rekomendasi dan terstandarisasi tersebut sudah terjamin kredibilitasnya dalam menyampaikan dakwah di publik?

Orang-orang yang sudah diberi rekomendasi dan terstandarisasi itu adalah orang-orang yang memiliki kualifikasi. Contoh misalnya saya di MUI banyak mendapatkan pertanyaan dari luar negeri terkait dengan ustadz yang akan dikirim ke sana. “Pak, ustadz ini baik atau tidak? Pak, ustadz ini bermasalah apa tidak?” 

Kalau kita tidak memfasilitasi itu, berarti kita tidak melayani umat. Sekarang hanya ustadz yang tidak ada kualifikasinya. Ada artis yang tiba-tiba menjadi ustadz. Yang penting bonek aja ngomong di publik. Dia sudah dipanggil ustadz.





Sampai saat ini proses standarisasi ini sudah sejauh mana?

Secara regulasi dan kebijakan, kita sudah berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Kemenag, KPI, dan Menkominfo untuk membahas tentang regulasi dan ini sedang berlangsung. Bulan depan, kita melakukan konsinyering untuk finalisasi.

Selain itu, kita juga sudah memiliki peta dakwah dan pedoman dakwah. Pedoman dakwah ini yang nantinya akan kita godok sehingga menjadi akademi dakwah. Jadi, nanti kita ada proses pelatihan. Ini bisa dilakukan oleh kita ataupun lembaga tertentu tetapi kita akan mengadakan proses tes terkait tentang standar. Ini masih basic, ini intermediate, ini sudah advance. 

Kalau di tingkatan-tingkatan; ini tingkat lokal, ini tingkat provinsi, ini tingkat nasional, dan ini tingkat internasional. Itu ada kualifikasinya masing-masih. Masa ada yang tidak menguasai bahasa asing sama sekali mau diletakkan di tingkat internasional. Ini kan tidak mungkin. Minimal yang di tingkat internasional harus menguasai satu bahasa, Bahasa Arab atau Bahasa Inggris. Paham pemikiran secara internasional. 





Kapan standarisasi dai ini akan efektif dilaksanakan?

Kalau pelatihannya tahun depan. Tetapi kebijakannya kita sedang buat sejak tahun ini. Minimal awal itu kan ada rekomendasi dulu (dari pihak-pihak terkait seperti Kemenag, MUI, UIN, NU, Muhammadiyah, dan ormas Islam lainnya) bahwa orang ini memiliki kualifikasi sebagai dai. Kita wawancara, kita tes kemampuannya.

Ke depan, kita akan standarisasi seperti uji kemampuan atau kompetensi. Kompetensinya sudah sampai dimana. 

Bagaimana dengan khotib salat Jum’at? Apakah akan distandarisasi juga?

Kalau khotib kan bagian yang sangat spesifik. Kalau itu sudah kita bahas berkali-kali dengan Kementerian Agama untuk dilakukan standarisasi juga. Bahkan kalau bisa mereka bisa diangkat sebagai penyuluh agama. Jadi, penyuluh agama itu berbasis masjid. Sementara ini penyuluh agama yang jumlahnya 60 ribu itu kadang-kadang mereka tidak memiliki binaan khusus. 

Bagaimana kalau itu dimaksimalkan melalui masjid. Jadi orang yang diangkat sebagai penyuluh agama berbasis masjid tersebut adalah orang yang ada hubungannya dengan kebijakan pemerintah. Termasuk honornya dan pembinaan ummat. Baru setelah itu dilakukan standarisasi. Misalnya bacaan Al-Qur’annya bagus. Kalau berceramah dia harus mengerti tentang tafsir-tafsir Al-Qur’an. Mengerti tentang fikih khilafiyah salat. Fikih-fikih sosial tentang tradisi kemasyarakatan. 

Dengan demikian, aktivitas masjid juga akan ‘dipantau’?

Selama ini, kalau ada masjid yang menggelar pengajian itu bertumpu kepada takmirnya. Siapa yang diundang oleh takmir. Maka dari situ, orang yang diundang harus berdasarkan kualifikasi tadi. Misalnya ustadz ini memiliki kualifikasi untuk mengajar kitab, ustadz ini berceramah. 

Jadi, kalau kita sudah ada kualifikasinya, kita akan mudah memberikan rekomendasi. Bukan hanya kemampuan, tetapi juga konsistensi terhadap ilmu dan imannya. Kalau hanya kualifikasi keilmuan, banyak sekali yang memiliki kualifikasi tersebut. Tetapi sekarang ada kompetensi. Itu didapat dari uji kompetensi dan konsistensi dengan keilmuannya. Seperi dokter. Dia mengerti ilmu kedokteran, tetapi kalau dia tidak konsisten dengan keilmuannya maka akan banyak terjadi mal-praktik.  

Di saat mal-praktik, di saat dia paham tafsir tetapi yang dibawa aliran sesat maka akan membuat kekacauan. Ilmunya banyak, ilmu tafsirnya bagus, tetapi dia membawa ajaran sesat itu akan repot.





Apakah standarisasi ini akan dilakukan berkala untuk mengecek konsistensi para dai? Atau bagaimana?

Iya, kalau kita menjadi asesor itu kan ada uji berkala. Umpamanya, dia melaporkan hasil dakwahnya. Dimana dan apa saja yang disampaikan. Kita bisa cek dari situ. Apakah ada resistensi atau tidak. Kalau dia dikasih standarisasi, tetapi dia tidak pernah dakwah maka bisa jadi ilmu dakwahnya bisa hilang. Misalnya dia setahun tidak pernah khutbah, itu bisa kaku lagi untuk berkhutbah. Itu baru khutbah. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News Hari Santri 2019

Minggu, 19 November 2017

Pesantren Maritim, Belajar Agama Sekaligus Jaga Batas Negara

Jakarta, Hari Santri 2019. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Mohsen mengatakan, pondok pesantren mempunyai andil besar dalam menjaga wilayah perbatasan dan kepulauan serta bahari.

“Saatnya pesantren maritim menunjukkan eksistensinya di republik ini,” kata Mohsen kepada wartawan di Jakarta, Rabu (11/5) seperti dilansir oleh situs kemenag.go.id. ? Menurut dia, Kemenag kini sedang mengembangkan ? pesantren kemaritiman.

Pesantren Maritim, Belajar Agama Sekaligus Jaga Batas Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Maritim, Belajar Agama Sekaligus Jaga Batas Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Maritim, Belajar Agama Sekaligus Jaga Batas Negara

Dikatakan Mohsen, pesantren menjadi salah satu opsi bagi orang tua untuk menyekolahkan anaknya agar lebih paham ilmu agama Islam. Kini, pesantren tak hanya menawarkan pendidikan agama namun sedang dikembangkan untuk pesantren kemaritiman.

Hari Santri 2019

“Penyelenggaran pesantren merupakan respon pemerintah pada pembangunan nasional. Pesantren maritim ini juga membangun masyarakat terpinggir, terpencil, yang berada di kepulauan,” ujarnya.

Saat ini ada sekitar 80 pesantren yang akan difokuskan ke bidang kemaritiman. Hal ini dinilainya sejalan dengan konsep nawacita yang diusung Presiden Jokowi untuk me?nonjolkan Kelautan Indonesia di mata dunia.

Hari Santri 2019

“Laut juga penting bagi kebangsaan. Ini sesuai dengan nawacita presiden yang mengutamakan kedaulatan di laut. Ada tol laut yang akan dikembangkan dan sebagainya. Inilah argumen mengapa kita mengajukan bahari penting untuk ditonjolkan,” lanjutnya.

Peluncuran program pemberdayaan ekonomi umat melalui pondok pesantren ini akan dilakukan 18 Mei nanti di Palu, Sulteng. Program ini terkait dengan program Sail Tomini yang akan dilaksanakan September mendatang di Sulteng.

Di wilayah ini ? sudah ada 20 pesantren yang akan dibuat menjadi pesantren maritim, salah satunya di kabupaten Parimo, Sulteng.

Selain Parimo, ada juga pesantren di daerah Karimunjawa, Jepara dan kecamatan Bonang, Demak, Jawa Tengah. Ada juga pesantren di wilayah Kep. Riau, Kalimantan dan Sulawesi Selatan. Sebagian besar jenjang pesantren ini adalah MI/MTS Aliyah.

Dijelaskan Mohsen, konsep pembelajaran kemaritiman ini akan sejalan dengan pembelajaran agama di pesantren tersebut. Saat ini, pihaknya terus menyempurnakan konsep pembelajaran yang juga disesuaikan dengan konsep pelajaran kemaritiman di Kementerian Kelautan Perikanan (KKP).

Adanya spesifikasi pesantren seperti ini diharapkannya bisa membuat santri pesantren lebih banyak bergelut dengan hal-hal kemasyarakatan. “Di sinilah fungsi dan peran strategis pondok pesantren yang diharapkan perannya menjadi mitra pemerintah dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan,” jelas Mohsen.

Menurut Direktur Pendidikan Tinggi Islam Amsal Bachtiar, maritim tidak bisa dilepaskan dari proses penyebaran agama di Indonesia, karena negara kita sebagai negara kelautan. Untuk itu pihaknya berencana akan membuka kajian kebaharian di perguruan tinggi keagamaan.(mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News, Makam, Kiai Hari Santri 2019

Jumat, 17 November 2017

Belajar dari Kisah Uwais Al-Qarni

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Belajar dari Kisah Uwais Al-Qarni (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Kisah Uwais Al-Qarni (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Kisah Uwais Al-Qarni

? ? ?

Hari Santri 2019

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Allah SWT berfirman dalan Surah Al-Hujurat, Ayat 13:

Hari Santri 2019

? ? ? ? ?

Artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa.”

Dalam ayat di atas terdapat 3 (tiga) kata kunci. Pertama “mulia”, kedua “Allah”, dan ketiga “takwa”. Ayat ini mengandung maksud bahwa mulia tidaknya seseorang sesungguhnya bergantung pada ketakwaannya kepada Allah SWT dan bukan kepada hal-hal yang bersifat duniawi. Dengan kata lain, yang disebut orang mulia sesunguhnya adalah mereka yang senantiasa berbuat kemuliaan berupa ketakwaaan. Definisi ini bersifat teologis karena bersumber pada keyakinan akan kebenaran firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an.

Berdasar pada pandangan teologis tersebut, kita bisa membedakan antara orang mulia dengan orang yang dimuliakan. Orang mulia adalah mereka yang dimuliakan Allah karena senantiasa berbuat kemuliaan dengan melaksanakan hal-hal yang diperintahkan Allah SWT, dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Sedangkan orang yang dimuliakan adalah mereka yang secara sosiologis dihormati masyarakat karena memiliki latar belakang tertentu seperti: jabatan, keturunan, kekayaan, keilmuan atau keahlian, dan sebagainya.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Lewat khutbah ini, saya ingin mengajukan pertanyaan apakah orang mulia di sisi Allah itu sekaligus orang yang dimuliakan di dunia ini? Dengan kalimat lain, apakah orang-orang mulia karena ketakwaannya kepada Allah selalu dimuliakan juga oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya?

Jawabnya, “tidak selalu” karena secara faktual ada beberapa orang mulia di sisi Allah keberadaannya diremehkan oleh masyarakat disebabkan tidak memiliki latar belakang tertentu yang bersifat duniawi seperti jabatan penting, kekayaan melimpah, nasab tinggi, dan lain sebagainya. Tentu saja ada banyak orang mulia di sisi Allah yang juga dihormati dalam masyarakat karena memiliki kriteria-kriteria tertentu yang berlaku di masyarakat seperti tersebut di atas.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Salah satu contoh orang mulia di sisi Allah tetapi tidak dihormati oleh masyarakat adalah Uwais Al-Qarni - seorang pemuda miskin penduduk desa Qaran di Yaman. Dia menjalani kehidupan yang sulit bersama ibunya yang seorang janda. Ia pernah menderita penyakit kusta. Pakaiannya hanya ada dua helai. Uwais Al-Qarni bekerja hanya sebagai penggembala hewan ternak dengan upah tak seberapa. Dengan keadaan Uwais yang seperti itu ia sering ditertawakan, diolok-olok, dihina, dan dituduh mencuri ini mencuri itu. Tetapi semua perlakuan masyarakat seperti itu ia terima dengan sabar.

Ketika pada suatu hari ada seseorang yang bermaksud memberikan sedekah berupa dua helai pakaian, Uwais Al-Qarni menolaknya. Kepada orang tersebut, Uwais Al-Qarni mengatakan:

“Saya khawatir kalau pakaian ini saya terima, nanti orang-orang mengintrogasi saya dari mana saya mendapatkan pakaian ini. Mereka pasti tidak percaya dengan jawaban saya. Mereka akan menuduh saya kalau pakaian ini saya dapat kalau tidak dengan membujuk ya mencuri”.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Sungguhpun Uwais Al-Qarni hidup dalam kemiskinan, ia menjalani kehidupannya dengan penuh ketakwaan. Bahkan ketakwaannya diakui oleh Rasulullah SAW meskipun diantara mereka belum pernah saling bertemu. Hal yang sangat menonjol dari ketakwaan Uwais Al-Qarni sebagaimana diceritakan Rasulullah SAW adalah baktinya kepada sang ibu yang luar biasa. Sejak kecil Uwais Al-Qarni selalu taat dan hormat kepada ibunya. Ketika sang ibu telah tua dan lumpuh, bakti Uwais kepada sang ibu semakin bertambah.

Suatu hari sebenarnya ia sangat rindu untuk bertemu Rasulullah SAW, namun ia selalu mengurungkan niatnya karena tak tega meninggalkan sang ibu sendirian di rumah tanpa ada yang merawatnya. Ketika pada suatu hari ia melihat ibunya cukup sehat, ia mendekat padanya untuk menyampaikan isi hatinya, yakni ingin bertemu atau sowan kepada Rasululullah SAW di Madinah. Uwais Al-Qarni memohon ijin kepada ibunya agar diperkenankan. Sang Ibu sangat terharu dengan keinginan Uwais untuk bertemu Rasululllah SAW. Sang ibu menjawab:

“Pergilah wahai anakku! Temuilah Nabi Muhammad SAW di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.

Akhirnya berangkatlah Uwais Al-Qarni ke Madinah yang jaraknya dari Yaman sekitar 400 kilometer. Tibalah Uwais Al-Qarni di kota Madinah dan segera menuju rumah Nabi Muhammad SAW. Diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Tak ada jawaban dari Rasulullah SAW. Ia hanya mendapat jawaban dari istri beliau Aisyah RA yang mengatakan Rasulullah SAW sedang berada di medan perang dan belum diketahui kapan beliau kembali. Uwais Al-Qarni teringat pesan ibunya untuk segera pulang. Maka segeralah ia pulang ke Yaman meski dengan hati yang hampa karena gagal bertemu Rasulullah SAW yang sangat dirindukannya. Namun sebelum pulang, Uwais Al-Qarni sempat menitipkan salam untuk Rasulullah SAW lewat Aisyah RA.

Ketika Rasulullah SAW pulang ke rumah, Aisyah RA memberitahukan tentang kedatangan seorang laki-laki tak dikenalnya beberapa waktu sebelumnya. Rasulullah SAW menjelaskan kepada Aisyah bahwa laki-laki itu bernama Uwais Al-Qarni meski beliau belum pernah bertemu secara langsung. Ia adalah anak yang sangat taat kepada ibunya. Ia tak populer di kalangan penduduk bumi karena miskin sekali, tetapi ia sangat terkernal di kalangan penduduk langit.

Sedemikian istimewa Uwais Al-Qarni hingga Rasulullah SAW menceritakannya kepada Umar bin Khattab RA dan Ali bin Abi Thalib RA:

? ? ? ? ? ? ? ? ? , ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Kelak akan datang seorang laki-laki bernama Uwais. Ia memiliki belang putih. Ia berdoa agar Allah menghilangkan belang itu, maka Allah menghilangkannya (kecuali di lengannya). Barang siapa diantara kalian bertemu dia, maka termuilah dia dan mintalah padanya untuk memintakan ampunan kepada Allah.”

Pesan tersebut akhirnya benar-benar dilaksanakan oleh Ali bin Abi Thalib RA dan Umar bin Khattab RA ketika Rasulullah SAW telah wafat. Kepada Uwais Al-Qarni, kedua sahabat besar Rasulullah SAW tersebut mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Hai Uwais sesungguhnya Rasulullah SAW telah memerintahkan kami agar engkau memintakan ampunan kepada Allah agar dosa-dosa kami diampuni-Nya.”

Mendengar apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab RA tersebut, Uwais Al-Qarni hanya bisa menangis, tetapi kemudian memberikan jawaban bisa jadi orang yang dimaksudkan Rasulullah SAW itu bukan dirinya. Tetapi Ali bin Abi Thalib RA terus mendesak agar ia mau mendoakan bagi Umar bin Khattab RA dan Ali bin Abi Thalib RA karena sangat menyakini bahwa dialah orang yang dimaksudkan Rasulullah SAW. Akhirnya Uwais Al-Qarni bersedia memenuhi permintaan tersebut dengan memanjatkan doa ampunan kepada Allah bagi keduanya.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Dari kisah Uwais Al-Qarni di atas, ada beberapa hal yang dapat kita petik sebagai pelajaran berharga. Pertama, orang mulia karena ketakwaannya kepada Allah SWT akan tetap mulia dan taat kepada-Nya meski seperti apapun kondisi sosial ekonominya. Ia akan tetap sabar dan istiqamah menjadi hamba-Nya yang saleh tanpa terpengaruh oleh hal-hal duniawi seperti tidak dihormati oleh masyarakat karena miskin.

Kedua, janganlah kita memandang seseorang dari sisi duniawinya, lalu merendahkannya karena bisa jadi ia memiliki sisi ukhrawi yang jauh lebih baik dari pada kita. Bisa jadi kita membutuhkan pertolongannya di akherat kelak berupa syafaat karena orang-orang mulia di sisi Allah seperti Uwais Al-Qarni dapat memberikan syafaat kepada orang-orang tertentu. Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa Uwais Al-Qani kelak ketika memasuki pintu surga diberhentikan langkah kakinya oleh Allah SWT. Allah menghendaki agar Uwais Al-Qarni berhenti sebentar untuk memberikan syafaat terlebih dahulu kepada orang-orang dari kabilah Rabiah dan Mudhar yang membutuhkan pertolongannya.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Semoga kita semua dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dari kisah Uwais Al-Qarni. Barangkali di sekitar kita, ada orang-orang yang keadaannya mirip dengan Uwais Al-Qarni meski tidak sama persis, yakni tidak populer di masyarakat karena status sosialnya yang rendah. Orang seperti ini bisa jadi sangat poluler di kalangan penduduk langit jika terbukti memang selalu hidup dalam ketakwaan yang tinggi kepada Allah SWT dan selalu istiqamah dalam kebaikan-kebaikannya. Tidak selayaknya kita meremehkan orang seperti ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Cerita, Ahlussunnah, News Hari Santri 2019

Rabu, 08 November 2017

Kiai Zainal di Mata Pengasuh Pesantren Al-Imdad

Yogyakarta, Hari Santri 2019

Dalam status Facebook-nya beberapa waktu lalu, KH Drs Habib A Syakur, M.Ag, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul Yogyakarta, menyampaikan kebanggaannya telah berkhidmah kepada Al-Maghfurlah Romo Kiai Zainal Abidin Munawwir sejak awal masuk Krapyak hingga akhir hayat beliau.

Habib menyatakan betapa khidmah sebagai santri beliau tersebut merupakan salah satu bentuk pendidikan yang ia terima. Misal, saat pertama kali mondok di Krapyak, Habib mengisahkan, tidak sedikit pelajaran yang ia petik dari Kiai Zainal.

Kiai Zainal di Mata Pengasuh Pesantren Al-Imdad (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Zainal di Mata Pengasuh Pesantren Al-Imdad (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Zainal di Mata Pengasuh Pesantren Al-Imdad

“Ketika mengarang kitab Muqtathafat min Jawamii Kalimihi Shallallahu Alaihi wa Sallam, kira-kira tahun 1987-an, saya berkesempatan mengetik naskah tersebut di kertas sheet yang zaman itu dipergunakan untuk mencetak,” kenang Habib.

Hari Santri 2019

Habib melanjutkan, “Lantaran mengetik naskah kitab itu, ada banyak hal yang saya dapat, mulai dari ilmu yang ada di dalamnya sampai dengan kelancaran saya dalam mengetik teks Arab. Hasilnya, ternyata dari sinilah antara lain yang membuat saya dipercaya untuk mentahqiq beberapa kitab karya ulama nusantara tempo dulu oleh Depag RI.”

Hari Santri 2019

Habib yang di masa awalnya nyantri di Krapyak, tahun 1976, sudah ndherek KH Zainal Abidin Munawwir dan menempat di salah satu kamar di ndalem beliau. Waktu itu satu rumah masih ditempati bersama Al-Maghfurlaha Simbah Nyai Hajjah Sukis (istri kedua Romo Kiai Munawwir, ibunda KH Zainal Abidin Munawwir, Ny. Hj. Hasyimah dan KH Ahmad Warson Munawwir), Ny. Hj. Jamalah (almh) bersama dua anaknya, dan keluarga baru Al-Maghfurlah KH A Warson Munawwir.

Habib juga mengisahkan, “Waktu itu, beliau masih menjadi anggota DPRD DIY dari Partai Nahdlatul Ulama. Yang istimewa, kalau ke kantor DPRD di Bantul, beliau naik sepeda onta lanang. Beliau sama sekali tidak kesengsem dengan kendaraan sepeda motor yang biasa dipakai oleh para anggota DPRD pada saat itu.”

Kesederhanaan dan kehati-hatian Al-Maghfurlah Romo Kiai Zainal dalam masalah harta memang sudah sedari awal didengar Habib dari Al-Maghfurlaha Simbah Nyai Sukis. “Misalnya ketika beliau ndherekke ziarah haji ibundanya di tahun tujuh puluhan. Ternyata, berdasarkan kisah Nyai Sukis kepada saya, waktu mendaftar haji itu ternyata beliau menabung dengan mengumpulkan uang di dalam besek yang disimpan di atas pyan atau loteng. Sungguh sebuah perbuatan yang penuh dengan kehati-hatian.”

Habib juga tak lupa pesan terakhir beliau kepadanya sebelum beliau wafat menghadap Yang Maha Kuasa. Habib menyatakan bahwa pesan tersebut hampir mirip dengan pesan KH Ali Maksum ketika beliau memerintahkannya untuk membaca kitab di hadapan para santri.

“Pesan Pak Zainal kepada saya, ‘Bib... kowe kudu istiqamah anggonmu mulang. Aja nganti semangatmu kendho nek sing tok wulang ki ming sithik, wong siji loro’ (Bib, kamu harus istiqamah dalam mengajar. Jangan sampai semangatmu kendur jika yang kamu ajar itu hanya sedikit, satu atau dua orang saja-red.),” ujar Habib.

“Sementara pesan Pak Kiai Ali Ma’sum, ‘Atimu kudu padha antarane mulang wong siji karo wong sewu. Aja rumangsa luwih wibawa yen mulang wong sewu’ (Hatimu harus sama antara ketika mengajar satu anak dan seribu anak. Jangan merasa lebih berwibawa saat mengajar seribu orang-red.),” lanjut Habib. (Yusuf Anas/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News, AlaSantri Hari Santri 2019

Senin, 23 Oktober 2017

RMINU Data Pesantren di Pekalongan

Pekalongan, Hari Santri 2019. Pengurus Cabang Rabithah Maahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren NU Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mengadakan rapat koordinasi dengan pengurus pondok pesantren se-kabupaten setempat di Pondok Pesantren Sabilul Mukhtar Rowokembu, Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Ahad (12/10).

RMINU Data Pesantren di Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
RMINU Data Pesantren di Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)

RMINU Data Pesantren di Pekalongan

Tampak puluhan pengurus pondok pesantren antusias mengikuti koordinasi kali ini. Selain segenap pengurus cabang RMINU Pekalongan, hadir pula salah satu pengurus wilayah RMINU Jateng KH Fadlullah Turmudzi.

Acara koordinasi ini merupakan bagian dari tindak lanjut dari safari Ramadhan oleh PW RMINU Jateng ke eks karesidenan Pekalongan. Salah satu agendanya terkait pendataan ulang pondok pesantren di lingkungan Nahdlatul Ulama. Dari situ tercatat ada 51 pondok pesantren di Pekalongan.

Hari Santri 2019

Dengan jumlah tersebut, Ketua PC RMINU Kabupaten Pekalongan Kiai Muhammad Nur Alif menyatakan perlunya dipikirkan kembali tentang pengembangan pondok pesantren. Alif yang juga pengasuh pondok pesantren Nurul Huda ini menjelaskan, sekarang pesantren telah tumbuh pesat, baik yang bercorak salafiyah, khalafiyah, (modern), atau kombinasi antara keduanya.

“Pada kepengurusan terdahulu kita bisa mengadakan pesantren Ramadhan di sekolah-sekolah formal. Dalam periode kali ini kita juga telah mengadakan dua kali pelatihan ilmu falak kepada santri di kabupaten Pekalongan,” ujar Alif. (M Zulfa/Mahbib)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News Hari Santri 2019

Sabtu, 21 Oktober 2017

Ganggu NKRI, Jenderal Gatot: Prajurit TNI Juga Siap Berjihad

Medan, Hari Santri 2019. Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan akan mengawal dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari berbagai ancaman, termasuk upaya makar yang dilakukan beberapa kelompok organisasi.

"Prajurit saya juga siap berjihad mempertahankan NKRI berdasarkan Pancasila, bersama masyarakat, kita bersama-sama mempertahankan Pancasila," katanya usai mengikuti istighosah bersama ulama dan masyarakat Sumatera Utara, di Pangkalan Udara TNI AU Soewondo, Medan, Sabtu, (1911).

Ganggu NKRI, Jenderal Gatot: Prajurit TNI Juga Siap Berjihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Ganggu NKRI, Jenderal Gatot: Prajurit TNI Juga Siap Berjihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Ganggu NKRI, Jenderal Gatot: Prajurit TNI Juga Siap Berjihad

Dia mengatakan, TNI menghargai setiap proses demokrasi, termasuk demonstrasi oleh warga Indonesia.

Namun TNI memiliki kewajiban untuk berperan jika ada upaya yang berniat untuk merusak dan menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketika ditanya terkait sikap dalam menyahuti rencana-rencana unjuk rasa pada 2 Desember, dia menyatakan TNI lebih banyak berdoa untuk kebesaran dan keutuhan bangsa. "Kesiapan kita berdoa, siapapun yang menghancurkan negara ini, tidak bisa kalau kita berdoa," katanya.

Menurut dia, pihak-pihak yang memiliki niat menghancurkan NKRI dinilai sebagai orang tidak beragama sehingga akan berhadapan dengan TNI, Kepolisian Indonesia, dengan seluruh masyarakat.

Hari Santri 2019

Dari pengalaman sejarah selama ini, Gatot menegaskan tidak ada satu pun pengkhinat bangsa yang bisa hidup di Indonesia. "Tidak ada yang bisa, mau menantang, silakan," katanya.

Ia mencontohkan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di bawah pimpinan Kartosuwiryo, gerakan yang dipimpin Kahar Muzakkar, termasuk gerakan komunis yang selalu musnah di Indonesia. "(Semua musnah) karena kita selalu berdoa pada Allah SWT," kata Gatot. (Antara/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 News, Halaqoh Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock