Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Ajaib, Pria Berusia 101 Tahun Ditemukan Selamat Seminggu pasca Gempa

Kathmandu, Hari Santri 2019. Jika ajal belum waktunya datang. Usia senja dan tertimbun dalam reruntuhan gempa selama seminggu pun membuat Funchu Tamang, seorang kakek berusia 101 tahun tetap selamat dan hanya cedera ringan. Ia  berhasil ditarik hidup-hidup dari reruntuhan rumah yang menimbunnya, seminggu setelah gempa dahsyat menerjang Nepal.

Ajaib, Pria Berusia 101 Tahun Ditemukan Selamat Seminggu pasca Gempa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajaib, Pria Berusia 101 Tahun Ditemukan Selamat Seminggu pasca Gempa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajaib, Pria Berusia 101 Tahun Ditemukan Selamat Seminggu pasca Gempa

Funchu Tamang diselamatkan Sabtu lalu dan kini sudah berada di sebuah rumah sakit di Nuwakot, barat laut Kathmandu.  Ajaibnya, dia hanya cedera ringan, kata perwira polisi Arun Kumar Singh.

"Dia telah dibawa ke rumah sakit distrik dengan sebuah helikopter. Kondisinya stabil. Dia cedera pada pergelangan kaki kirinya. Keluarganya telah bersama dia," kata Singh seperti dilaporkan AFP.

Hari Santri 2019

Beberapa orang juga berhasil ditemukan hidup-hidup, padahal beberapa hari ditimbun reruntuhan.

Hari Santri 2019

Di antara yang ditemukan hidup-hidup itu adalah tiga wanita yang dikeluarkan dari timbunan puing-puing bagunan di Sundupalchowk yang adalah salah satu daerah paling parah terkena gempa bumi.

Salah satu wanita itu terkubur oleh tanah longsor, sedangkan dua lainnya terjebak dalam himpitan bangunan yang runtuh.

Jumlah korban tewas dalam Gempa Nepal ini sudah mencapai angka 7.000 orang, sedangkan di India dan Tiongkok telah lebih dari 100 orang, demikian AFP. (antara/mukafi niam) foto: AFP

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 IMNU, Nasional, Ubudiyah Hari Santri 2019

Minggu, 11 Februari 2018

Novelisasi Sejarah, antara Sastra dan Pelecehan Sejarah

Setelah genre fiksi islami hampir ‘habis’, dunia sastra kita belakangan sedang kebanjiran sastra sejarah, juga sastra biografi. Sampai-sampai helatan sastra genre ini secara khusus digelar secara akbar; Borobudor Writers % Cultural Festival di Magelang, belum lama.

Sebenarnya, menulis cerita rekaan atau fiksi yang gagasan dasarnya diambil dari catatan sejarah, bukanlah barang baru di negeri ini, setidaknya itu bisa ditelisik dalam hampir semua karya-karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, sebutlah salah satu karya besarnya; Arus balik. Tetapi genre penulisan sastra sejarah tidaklah berjubal dan semencolok akhir-akhir ini.

Novelisasi Sejarah, antara Sastra dan Pelecehan Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Novelisasi Sejarah, antara Sastra dan Pelecehan Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Novelisasi Sejarah, antara Sastra dan Pelecehan Sejarah

Dan, problem yang masih ditinggalkan dalam perhelatan akbar itu adalah; sejauh mana seorang penulis bisa  mengeksplorasi sejarah itu ke dalam dunia fiksi? Atau sejauh mana batas-etik antara penuturan ulang fakta sejarah itu, sehingga tidak berdampak pada kemungkinan pelecehan pada fakta sejarah? 

Hari Santri 2019

Pertanyaan tersebut penting diajukan. Sebab, kebanyakan penulis masih meyakini bahwa dunia novel-sejarah adalah dunia bebas berimajinasi dan suka-suka dalam menuangkan idenya. Tetapi dampak dari sikap gegebah ini sungguh tidak sepele, yaitu hak anak bangsa mendapatkan fakta sejarah tercidrai, dan sebaliknya mereka akan mendapatkan sejarah palsu dan menyesatkan.

Kegelisahan ini patut disebut disini, jika misalnya kita menelisik novel sejarah Wali Songo, karya Damar Shasangka, sang penulis mendedahkan sejarah versi baru dengan berkesimpulan. Misalnya, Sunan Giri menitahkan pembakaran lontar-lontar agama leluhur, Siwa Budha, yang masih banyak disimpan penduduk Jawa. Kemudian oleh penerbit dibuatlah atas sinopsis yang mencengangkan kesadaran ilmiah ini dikatakan secara besar-besaran sebagai Novel Sejarah Terbaik tahun Ini! Tetapi, benarkah demikian?

Sejarawan Thomas Stamford Raflles, dalam bukunya The History of Java, menuturkan bahwa drama penyebaran Islam di tanah Jawa oleh Wali Songo misalnya, sama sekali tidak seperti yang dituturkan penulis novel tersebut. Tetapi prosesnya dilakukan dengan cara damai dan inkulturasi, dan itu sama sekali tidak menghakimi sesat atau bid’ah tradisi masyarakat Jawa, apalagi sampai membakar khazanah intelektual, sekalipun tradisi tersebut berbau animistik-Hinduistik. 

Hari Santri 2019

Misalnya, mereka tidak menghancurkan candi-candi, tidak pula menganjurkan pribumi untuk memakai gamis, memelihara jenggot dan lain sebagainya. Tapi, Wali Songo malah mengarifi budaya lokal setempat dengan menjadikannya sebagai instrumen penyebaran Islam, disinilah peran pesantren sangat siginifikan. Misalnya pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya dan Sunan Giri di Giri yang terus mengajarkan ajaran guru bhakti sebagai etika islam-Jawa, padahal guru bhakti berasal dari kearifan lokal (hindu).

Selanjutnya, keluaran pesantren Giri ini banyak yang diundang ke Maluku Untuk mengajarkan agama Islam. Pada saat itu Pesantren (bisa disebut Padepokan) tidak saja digunakan untuk mengaji dalam pengertian an-sich, akan tetapi juga  dipergunakan sebagai alat kebudayaan, sebagaimana telah dipraktikkan oleh Sunan Kalijaga yang memanfaatkan wayang dan tembang untuk menarik masa agar masuk Islam. 

Sunan Kalijaga adalah pencipta wayang kulit dan tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang, dan kini kesenian itu menjadi kesenian tradisional Jawa yang paling popular hingga saat ini. 

Sunan Kalijaga tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, namun telah dipangkasi akar-akar hinduisme di dalamnya. Di dalam cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam. 

Kesenian-kesinian lain juga dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad, dan sebagainya), seni bangunan dan seni ukir. Masih terawatnya candi-candi bangunan hindu-budha hinga kini (bahkan masjid yang berarsitektur candi seperti di Masjid Kudus, Masjid Giri dan lain sebagainya), juga populernya cerita Ramayana di kalangan Islam-Jawa, sebagai bukti, bahwa para Wali Songo, sungguh begitu merawat khazanah lokal.

Selain Raflles, masih banyak sejarawan ahli yang berpendapat serupa, beberapa bisa disinggung disini: PA van der Lith, dalam ‘Ajaib al-Hind, (Leiden, Brill, 1883), WP. Groeneveld, dalam “Notes on The Malay Archipelogo and  Malacca Compiled from Chines Sources”, (VBG, 39, 1880), Syed M. Naquib Al-Attas dalam Historical Fact and Fiction,  UTM-CASIS, (Kuala Lumpur, 2011), Marshal Hodgson dalam The Venture of Islam, (The University of Chicago Press, 1974), Nikii Keddie dalam Islam and Society in Minangkabau and in the Middle East: Coparative Reflections, dalam Sojourn,  Volume 2, No. 1 Tahun 1987). Sartono Kartodirdjo, Protest Movement in Rural Java, (Kuala Lumpur: Oxford University  Press, 1978) dan lain sebagainya. 

Tidak hanya itu, novel Wali Songo juga menyebutkan data kontroversial yang belum bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah dan banyak cela yang bisa kita perdebatkan; katanya Nyo Lay Wa, adalah seorang muslim China yang ditahbiskan menjadi raja Majapahit. 

Kembali ke genre sastra sejarah. Perbincangan sastra jenis ini semakin kuat sejak munculnya buku The Mirror and The Lamp karya M.H. Abrams. Buku Abrams ini kemudian menjadi induk teori pendekatan terhadap kajian karya sastra yang menjadi pegangan utama para kritikus dan pencipta. 

Abrams menyebutkan ada empat pendekatan terhadap karya sastra, satu di antaranya adalah cermin sejarah, atau yang biasa disebutnya sebagai teori mimesis. Artinya dalam teori ini fakta sejarah ditulis ulang dengan pendekatan sastra. Tetapi bagi Abrahams, jika penulis memilih jalan ini, secara etika haruslah ia berpedoman pada data-data ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Karena dalam genre ini mengikutkan refrensi sebagai sumber cerita atau mendahuluinya dengan penelitian adalah keharusan secara etik. 

Oleh karena itu layak bagi kita kemudian mengajukan sebuah pertanyaan, ada misi apa dengan penulisan novel sejarah Wali Songo versi Damar itu? Benarkah penulisnya hanya sekadar cari sensasi, dan memosisikan dirinya hanya sebagai pabrik cerita yang asal saja tulis, karena kehidupan ekonominya benar-benar sulit, sebagaimana yang disinyalir oleh Yudhi Aw (salah seorang peserta festival itu), penulis novel Diponegoro, bahwa seorang penulis baru seperti Damar mungkin hanya mendapatkan honor 3 sampai 4 juta perjudul buku, dan untuk hidup selanjutnya ia harus menulis lagi, karenanya tak mungkin melakukan riset secara serius. 

Kalau demikian adanya, celaka benar nasib generasi muda yang mewarisi karya asal jadi seperti ini? Wallahu Alam Bishawab. (Penulis adalah aktivis Lesbumi D.I.Y dan Dosen Filsafat di STAIS Al-Muhsin Yogyakarta)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh, Ubudiyah, Quote Hari Santri 2019

Kamis, 01 Februari 2018

Lomba Agustusan Diminta Jaga Akhlak

Subang, Hari Santri 2019. Setiap bulan Agustus masyarakat Indonesia biasanya merayakan peringatan kemerdekaan RI dengan berbagai kegiatan. Di antara kegiatan tersebut adalah aneka perlombaan yang diperuntukan bagi anak-anak hingga masyarakat dewasa.

Mengenai kegiatan perlombaan ini, Ketua PCNU Subang meminta kepada masyarakat yang akan mengadakan kegiatan lomba pada peringatan hari kemerdekaan agar diisi dengan perlombaan yang memiliki nilai-nilai positif dan edukatif serta tetap menjaga akhlakul karimah.

Lomba Agustusan Diminta Jaga Akhlak (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Agustusan Diminta Jaga Akhlak (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Agustusan Diminta Jaga Akhlak

"Di grup WA sudah beredar video lomba yang tidak senonoh antara laki-laki dan perempuan, video tersebut dikhawatirkan dijadikan sebagai inspirasi dalam membuat perlombaan pada Agustusan besok," ungkap KH Musyfiq Amrullah, Ketua PCNU Subang, Jawa Barat dalam rapat reboan di Kantor PCNU, Rabu (9/8).

Dikatakannya, sudah beredar video lomba tidak senonoh yang diikuti oleh beberapa perempuan yakni perlombaan memakan pisang di bagian tubuh lelaki, sebalikna ada video yang mempertunjukan perlombaan yang diikuti oleh para lelaki berupa lomba memecahkan balon yang ditempelkan di belakang tubuh perempuan.

"Perlombaan tersebut tidak layak dilombakan karena hanya mengundang tawa para penonton saja dan bisa merusak tatanan akhlakul karimah apalagi jika disaksikan oleh anak-anak di bawah umur, ini sudah masuk pornoaksi," papar pengasuh Pesantren Attawazun itu.

Hari Santri 2019

Pengasuh Pesantren Attawazun itu mengingatkan agar dalam kegiatan peringatan kemerdekaan jangan sampai melupakan jasa para pahlawan bangsa yang telah berkorban harta, jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia.

"Jangan sampai lupa untuk mendoakan para pahlawan dan kita sebagai generasi penerus bangsa sebisa mungkin terus berjuang mengharumkan nama Indonesia serta melawan paham yang ingin menghancurkan NKRI ini," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Ubudiyah, Sholawat, Syariah Hari Santri 2019

Senin, 22 Januari 2018

Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara

Jakarta, Hari Santri 2019. Pemandangan agak berbeda tampak pada acara Istighotsah dan Pengajian Bulanan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama, Rabu (27/2) malam. Jika biasanya kiai NU yang mengaji kitab, kini ulama asal Lebanon yang tampil fasih menerangkan isi kitab.

Syaikh Khalil ad-Dabbagh, ulama asal lebanon itu, membawa sedikitnya tiga kitab karangan ulama Nusantara, antara lain, at-Tanbihat al-Wajibat karya pendiri NU, Hadaratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Sirajuth Thalibin (Syaikh Muhammad Ihsan Jampes dari Kediri), dan Qathrul Ghaits (Syaikh Imam Nawawi dari Banten).

Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Lebanon Pun Ngaji Kitab Ulama Nusantara

Dosen Universitas Global Lebanon ini menjelaskan konsep tauhid menurut paham ahlus sunnah wal jamaah (Aswaja). Allah, katanya, bersifat suci dari seluruh kriteria kemakhlukan, seperti bentuk dan arah sebagaimana pandangan mutajassim (antropomorfis).

Hari Santri 2019

”Allah tidak dapat dikonseptualisasikan atau dibayangkan. Lantas, kenapa kita menengadah ke atas saat berdoa? Itu bukan karena Allah bertempat di atas, melainkan langit merupakan kiblat untuk doa. Kita dapat temukan keterangan tersebut dari kitab ini,” kata Syaikh Khalil dalam bahasa Arab sambil memperlihatkan kitab Sirajuth Thalibin.

Hari Santri 2019

Menurut dia, pandangan ini ditemukan dasarnya pada ayat suci al-Qur’an yang mengatakan bahwa tak ada satupun yang menyerupai Allah. Dia mahasempurna dalam segala hal, tidak membutuhkan apapun atau siapapun.

Syaikh Khalil menambahkan, sebagaimana manusia, arah dan bentuk juga termasuk makhluk Allah. Tuhan terlalu luas untuk digambarkan oleh indra dan pikiran manusia yang terbatas. ”Dan kita tidak akan dapat mengetahui hakikat Allah,” ujarnya.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Anti Hoax, Ahlussunnah, Ubudiyah Hari Santri 2019

RMI PBNU dan Kemenpora Matangkan Persiapan LSN 2017

Jakarta, Hari Santri 2019. Untuk mempersiapkan Liga Santri Nusantara (LSN) 2017, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bekerjsama Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) PBNU menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) LSN 2017 di Hotel Peninsula Jakarta, 14-16 Juni 2017.?

Dengan Bimtek ini, perhelatan liga sepakbola antarsantri tahun ketiga diharapkan berlangsung lancar dan lebih sukses dari tahun-tahun sebelumnya.

RMI PBNU dan Kemenpora Matangkan Persiapan LSN 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
RMI PBNU dan Kemenpora Matangkan Persiapan LSN 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

RMI PBNU dan Kemenpora Matangkan Persiapan LSN 2017

Bimtek LSN 2017 dihadiri oleh Deputi Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Raden Isnanta dan Asisten Deputi Pengembangan Olahraga Tradisional dan Layanan Khusus Bayu Rahadian. Dalam sambutannya Isnanta menyambut baik pelaksanaan Bimtek Liga Santri Nusantara dan akan menjadi tolak ukur kesuksesan pelaksanaan berikutnya.

Isnanta mengatakan, LSN yang merupakan kompetisi usia muda dilaksanakan berdasarkan pada Undang-undang ? Nomor 3 tahun 2005 tentang sistem keolahragaan nasional (SKN) yang di dalamnya disebutkan bahwa Setiap warga negara mempunyai hak yang sama.?

Hari Santri 2019

Di antaranya; untuk melakukan kegiatan olahraga, memperoleh pelayanan dalam kegiatan olahraga, memilih dan mengikuti jenis dan cabor yang sesuai bakat dan minatnya, memperoleh pengarahan dukungan, bimbingan, pembinaan dan pengembangan dalam keolahragaan, menjadi pelaku olahraga dan mengembangkan industri olaharaga.

"Sesuai bidang Deputi Pembudayaan Olahraga bahwa Liga Santri tidak hanya di harapkan juaranya tapi bagaimana pembudayaan olahraga dapat digelorakan di pondok pondok pesantren seluruh Indonesia," ungkapnya.

Hari Santri 2019

Isnanta mengatakan Liga Santri Nusantara dimaksudkan agar dunia pesantren mampu menciptakan bibit baru bahkan mencetak pemain terbaik yang profesional di dunia persepakbolaan nasional. Karena sejatinya olah raga sepak bola milik semua lapisan masyarakat.?

"Saya melihat pelaksaan Liga Nusantara 2016 sudah cukup baik, ini bisa dilihat dari pemberitaannya yang cukup massif bahkan bisa siaran langsung di Telivisi ternama, bahka semua dokumennya dapat di lihat di youtube," katanya.

Namun demikian pelaksanaan Liga Santri 2017 ini dapat ditingkatkan kepada pengelolaannya pasca kompetisi berlangsung. "Seriuskan kita dapat mendampingi pesantren-pesantren untuk terus berlatih walaupun belum LSN bergulis, jangan-jangan santri-santri berlatih saat LSN akan digulirkan," pungkasnya.

Sepak bola santri bibit potensial

Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat Rabtihah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) selaku sebagai panitia pelaksana, KH Abdul Ghoffar Rozin mengatakan, sepak bola merupakan olahraga milik seluruh masyarakat Indonesia yang dimainkan oleh seluruh kalangan.?

Termasuk munculnya Liga Santri Nusantara (LSN) merupakan entitas yang tak dapat dipasahkan antara sepakbola dan pesantren. Menurut pria yang akrab disapa Gus Rozin ini, LSN dimaksudkan agar dunia pesantren mampu menciptakan bibit baru bahkan mencetak pemain terbaik yang profesional di dunia persepakbolaan nasional. Karena sejatinya olah raga sepak bola milik semua lapisan masyarakat.

"Selain itu, LSN merupakan salah satu cara pemerintah untuk memastikan bahwa segenap komponen anak bangsa melihat dan menjadikan olahraga sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan. ? Dari proses pembentukan mental, pembentukan karakter dan watak. Kalau dalam bahasa pesantren adalah membentuk generasi berakhlaqul karimah, kuat secara spiritual, hebat dari sisi intelektual, kreatif dari sisi keterampilan," terang pria asal Pati, Jawa Tengah ini.

Gus Rozin menganggap perlu untuk kembali melendingkan Liga Santri Nusantara 2017, sebagai wadah untuk pengaktualisasian diri dalam pengembangan potensi santri di bidang sepak bola. "LSN 2017 sebagaimana tujuan tahun sebelumnya adalah media pencarian bibit sepakbola usia muda di kalangan pondok pesantren" ungkapnya saat pembukaan Bimbingan Teknis (Bimtek) di Hotel Peninsula Slipi Jakarta Utara.

Lebih lanjut Gus Rozin mengatakan LSN menjadi instrumen efektif dalam menggelorakan dan pemasalan olahraga di pondok pesantren melalui Ayo Olahraga serta menjadi media konsolidasi pondok pesantren melalui gerakan Ayo Mondok.

Liga Santri Nusantara 2017 mempunya penekanan khusus untuk perbakaikan tahun sebelumnya diantaranya adalah perbaikan tata kelola pelaksanaan kegiatan. Jadi pihaknya meminta kepada semua panitia nasional, Koordinator Region dan Panpel untuk menjadikan pelaksaan ini sebagai amanah untuk kita pegang.

Mesih menurut Gus Rozin LSN tahun ini akan didorong mempuat sisi profesional dan sisi bisnis kompetisi sehingga jika suatu saat nanti LSN tidak lagi dibiayai Negara, maka Liga Santri tetap akan bisa digulirkan. "Penting juga ke depan Liga Santri menjadi agenda resmi pembinaan organisasi induk sepakbola PSSI," harapnya disambut tepuk tangan peserta. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ubudiyah, Pertandingan Hari Santri 2019

Rabu, 17 Januari 2018

Kemenpora: Ansor Harus Terdepan Jadi Agen Perubahan

Jakarta, Hari Santri 2019. Mengucapkan terima kasih atas sejumlah kegiatan positif dilakukan Gerakan Pemuda Ansor beserta tenaga intinya Barisan Ansor Serbaguna (Banser), pejabat Kementerian Pemuda Dan Olahraga meminta kader pemuda Nahdlatul Ulama (NU) untuk terus terdepan dalam menjadi agen perubahan.

Kemenpora: Ansor Harus Terdepan Jadi Agen Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenpora: Ansor Harus Terdepan Jadi Agen Perubahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenpora: Ansor Harus Terdepan Jadi Agen Perubahan

"Revolusi mental dicanangkan Presiden Joko Widodo membutuhkan peran serta pemuda karena keterlibatannya memang penting," ujar Kepala Bidang Kepemudaan Kemenpora Agus Dwi Susilo, di Jakarta Timur, Selasa (21/11).

Kemenpora melalui Pusat Pembentukan Pemuda dan Olahraga Nasional (PPON) menggelar Fasilitasi Pelatihan Revolusi Mental Bagi Pemuda di Pesantren Al Hamid, Cipayung, Jakarta Timur mulai hari ini hingga Kamis (23/11).

Hari Santri 2019

Sesuai tujuannya, demikian Agus menambahkan, ialah membentuk revolusi mental pemuda.

Ia berharap agar Ansor dan Banser selalu jadi agen perubahan mental seperti sudah sering dilakukan.

Hari Santri 2019

Sejak berdiri 24 April 1934, Ansor telah banyak melakukan kegiatan positif, dari menjaga ribuan ulama berikut pengajiannya.

Ansor berikut badan semi otonomnya, Banser terus berkomitmen menjaga NKRI, dari menjaga gereja sebagai peneguhan komitmen kebhinekaan dan Islam Rahmatan Lil Alamin, hingga kegiatan sosial kemasyrakatan.

Menjelang dan paska pembukaan kegiatan diikuti ratusan kader Banser dari berbagai provinsi di Indonesia, Kepala PPON Kemenpora Hendry Ridwan meneriakkan NKRI  disambut dengan jawaban Harga Mati berkali-kali oleh puluhan Banser berikut pengurus Satkornas. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Kyai, Ubudiyah Hari Santri 2019

Sabtu, 13 Januari 2018

Pekan Depan Pemkab Rembang Gelar Shalawat bersama Habib Syech

Rembang, Hari Santri 2019

Pemerintah Kabupaten Rembang Jawa Tengah pekan depan mengagendakan gelaran shalawat bersama Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf. Rencananya acara tersebut diselenggarakan pada 10 September 2017 di alun-alun kabupaten setempat.

Pekan Depan Pemkab Rembang Gelar Shalawat bersama Habib Syech (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekan Depan Pemkab Rembang Gelar Shalawat bersama Habib Syech (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekan Depan Pemkab Rembang Gelar Shalawat bersama Habib Syech

Bupati Rembang H Abdul Hafidz saat menghadiri acara Istighotsah dan Aksi Damai Tolak Five Days School (FDS) yang diselenggaran warga NU Rembang, Rabu (30/8), juga mengungkapkan tentang hal ini.

"Pemkab Rembang pada tanggal 10 September akan mengadakan shalawat bersama Habib Syech. Dan kami juga telah komunikasi dengan Pak Gubernur, insyaAllah akan hadir juga," terangnya.

Hari Santri 2019

Senada dengan Bupati Rembang, dalam halaman Facebook resmi Humas Setda Rembang juga dipaparkan tentang informasi ini.

Hari Santri 2019

"Rembang bersholawat, Minggu 10 September 2017 start pukul 19.00 WIB di Alun-alun Rembang bersama Habib Syech Abdul Qodir Assegaf dari Solo," tulis halaman Facebook tersebut.

Agenda ini mendapat sambutan positif dari warga Rembang. Hal ini tampak dari beberapa komentar dalam fanspage resmi Pemkab Rembang tersebut yang apresiatif terhadap kegiatan ini. (Aan Ainun Najib/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Cerita, Internasional, Ubudiyah Hari Santri 2019

Kamis, 11 Januari 2018

Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Wakaf untuk Umat

Tangerang, Hari Santri 2019. Bermula dari sembilan santri, sekarang sudah mencapai 400 santri. Umur dua belas tahun memang masih terhitung muda tapi bukan perjalanan yang sebentar.?

“Penambahan sarana dan prasarana serta perbaikan kualitas perlu ditingkatkan. Dalam terjun ke masyarakat santri harus bisa berkomunikasi, bisa menempatkan posisi selain bisa mengaji,” pesan Ketua Yayasan Jabal Nur H Badrul Munir saat memberikan sambutan acara Harlah ke-12 Pondok Pesantren Modern Terpadu Jabal Nur yang berlokasi di Jalan Kampung Gunung Cipondoh Tangerang, Ahad (12/3).

Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Wakaf untuk Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Wakaf untuk Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Jabal Nur Cipondoh, Wakaf untuk Umat

Munir melanjutkan, pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Sebelum merdeka para tokoh dan kiai yang berjuang dalam kemerdekaan banyak dari kalangan santri. Maka, orang tua jangan ragu untuk memasukkan putra-putrinya ke pesantren.

Itu diperkuat dengan data santri yang terdaftar dalam PD Pontren Kantor Kemenag Kota Tangerang sekitar 7000 santri dengan 118 pesantren. Jadi, tambahnya, sekarang pesantren itu bukan lembaga pendidikan tertinggal lagi. Pesantren sekarang sudah bisa sejajar bahkan melebihi pendidikan umum.?

Hari Santri 2019

Pengasuh Pondok Pesantren Jabal Nur KH A. Saeful Millah menceritakan awal mula lahirnya inisiatif mendirikan pesantren. Menurutnya, Pesantren Jabal Nur dicetuskan di Mekkah pada tahun 2006.?

“Saya namakan Jabal Nur karena menjadi tonggak sejarah turunnya wahyu. Alhamdulillah, sekarang santrinya berasal dari berbagai daerah. Ada dari Teluk Naga, Medan, Jambi, Palembang, dan sekitar Jabodetabek,” papar Kiai Millah yang pernah menjabat sebagai Ketua PCNU Kota Tangerang.?

Kiai Millah sangat mengapresiasi peran para alumni. “Pesantren bisa besar karena kiprah alumni. Saya doakan agar semua menjadi kader NU yang berprestasi,” harapnya sambil menangis haru.?

Di akhir sambutannya Kiai Millah berikrar mewakafkan pesantren yang dirintisnya itu agar dikelolah oleh umat. Ada tujuh nadzir yang diamanatkan untuk mengelola pesantren tersebut.

“Saya mengikrarkan 2100 meter. Saya wakafkan pesantren kepada umat. Sekalipun saya tetap berjuang meningkatkan pesantren ini hingga akhir hayat,” pesan Kiai yang memasuki usia 70 tahun.?

Hari Santri 2019

Turut hadir dalam acara itu Ketua PCNU Kota Tangerang KH Bunyamin, Ketua MUI Tangerang KH Edi Djunaedi, Camat Cipondoh H Kiki Wijaya, Koramil 01 dan ? Polsek Cipondoh serta dihadiri ribuan masyarakat Tangerang. (Suhendra/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ubudiyah, Halaqoh, News Hari Santri 2019

Minggu, 07 Januari 2018

Di-reshuffle, Saifullah Yusuf akan Konsentrasi Kembangkan Ansor

Jakarta, Hari Santri 2019. Setelah resmi diberhentikan sebagai Menteri Negera Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Saifullah Yusuf menyatakan akan berkonsentrasi mengembangkan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom NU yang dipimpinnya sejak 1999.

Mantan Sekjen PKB ini juga mengaku sempat ditawari beberapa jabatan masih masih lumayan menggiurkan, diantaranya menjadi Dubes RI di Malaysia, namun ditolak. Ia lebih memilih di luar pemerintahan.

"Sebenarnya ada tawaran dari LSM atau lembaga-lembaga lain. (Tetapi) sementara saya konsentresi ke GP Ansor saja. Saya di PPP kan hanya wakil ketua Dewan Pertimbangan. Di GP Ansor, kan masih menjadi ketua," ucap keponakan Gus Dur, Senin (7/5/2007)

Di-reshuffle, Saifullah Yusuf akan Konsentrasi Kembangkan Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Di-reshuffle, Saifullah Yusuf akan Konsentrasi Kembangkan Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Di-reshuffle, Saifullah Yusuf akan Konsentrasi Kembangkan Ansor

Jika tidak ada aral melintang, ia akan memimpin GP Ansor sampai tahun 2010 mendatang. Pada masa kepemimpinannya, ia telah berhasil membangun kantor GP Ansor baru berlantai 4 dengan lapangan badminton ditengahnya dimana ia sering bermain bersama para pengurus Ansor.

Seusai pengumuman, banyak koleganya yang mengucapkan selamat via SMS telah meninggalkan PDT. Isi SMS antara lain "Santai wae Cak, dilakoni kanti sumeleh" (Santai saja Cak, dijalani dengan lapang dada) dan "Pak Saiful selamat atas bebasnya Anda dari kewajiban yang nggak jelas".

Hari Santri 2019

Saiful juga telah mengemasi barang-barangnya di kantor PDT dan beramah-tamah dengan para stafnya, termasuk para deputi dengan menggelar makan siang bersama. (dtc/mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, Ubudiyah Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Jumat, 05 Januari 2018

Darurat Kejahatan Seksual, PMII Trenggalek Desak Pemerintah Sahkan Segera Perppu

Trenggalek, Hari Santri 2019 - Puluhan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Trenggalek menggelar aksi di depan Pendopo Kabupaten Trenggalek. Mereka meminta pemerintah untuk segera mensahkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) perihal kejahatan seksual.

"Indonesia darurat kejahatan seksual. Kasus Yuyun, Eno, dan kasus predator perempuan di Kediri hanyalah segelintir dari maraknya kasus kejahatan seksual akhir-akhir ini,” kata Ketua PMII Trenggalek Mustain.

Darurat Kejahatan Seksual, PMII Trenggalek Desak Pemerintah Sahkan Segera Perppu (Sumber Gambar : Nu Online)
Darurat Kejahatan Seksual, PMII Trenggalek Desak Pemerintah Sahkan Segera Perppu (Sumber Gambar : Nu Online)

Darurat Kejahatan Seksual, PMII Trenggalek Desak Pemerintah Sahkan Segera Perppu

Celakanya, kata Musta‘in, banyak dari korban yang masih di bawah umur. Karenanya, menurut kami, hukuman kebiri sangat layak bagi pelaku kejahatan seksual.

Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak yang menemui massa PMII di depan pendopo menyatakan dukungannya agar pengadilan menghukum seberat-beratnya pelaku kejahatan seksual. Ia membubuhkan tanda tangan di atas spanduk besar yang telah disiapkan sebagai bentuk dukungannya.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Setelah memperoleh dukungan dari Bupati, mereka meneruskan aksi menuju gedung dewan setempat. Sempat terjadi dialog alot di gedung wakil rakyat ini sebelum akhirnya beberapa perwakilan dari PMII diterima oleh Komisi I DPRD Kabupaten Trenggalek yang menangani bidang hukum. Senada dengan bupati, Komisi I DPRD Trenggalek menyampaikan dukungannya secara tertulis.

Aksi mahasiswa PMII ini diawali dengan jalan panjang sambil membentangkan spanduk dan poster tentang kejahatan seksual. Selain orasi, mereka mewarnai unjuk rasanya dengan aksi teatrikal. (Abid Dzulfikar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ubudiyah, Doa, Daerah Hari Santri 2019

Senin, 18 Desember 2017

IPNU-IPPNU dan LDNU Trenggalek Jaring Bakat Dai Remaja

Trenggalek, Hari Santri 2019. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur bekerja sama dengan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Trenggalek menjaring dai remaja berbakat melalui kompetisi.

Kompetisi bertajuk Lomba Dai Remaja dalam rangka menyambut harlah ke-62 dan ke-61, di di aula Kantor Kemenag Kabupaten Trenggalek mulai 19 sampai dengan 21 Februari.

IPNU-IPPNU dan LDNU Trenggalek Jaring Bakat Dai Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU dan LDNU Trenggalek Jaring Bakat Dai Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU dan LDNU Trenggalek Jaring Bakat Dai Remaja

Ketua PC IPNU Trenggalek Muhammad Bangkit menyampaikan, saat ini masih sedikit dai muda berbakat di Trenggalek. Hal ini menggerakkan IPNU-IPPNU untuk menciptakannya. Terlebih dengan makin gencarnya ajaran Islam radikal yang menyusup ke sekolah-sekolah.

Hari Santri 2019

"Upaya membentengi kalangan pelajar dari ajaran radikal akan semakin efektif jika dilakukan oleh sesama pelajar. Istilahnya dari, oleh, dan untuk pelajar. Makanya materi yang dibawakan kontestan seputar Islam yang rahmatan lil alamin, toleran serta Islam yang cinta tanah air," bebernya.

Hari Santri 2019

Lomba Dai Remaja bertema "Dai Super adalah Kita-Kita" tersebut memperebutkan trofi dan sejumlah uang pembinaan. Peserta dibagi menjadi dua kategori, yaitu kategori A untuk usia 13-16,5 tahun dan kategori B untuk usia 16,5-20 tahun. Masing-masing kategori diambil 4 pemenang. Kontestan dinilai tiga juri yang terdiri dari LDNU, MUI, dan Kemenag Kabupaten Trenggalek. Tercatat, ada total 57 peserta yang mendaftar dengan rincian 36 peserta kategori A dan 21 peserta kategori B.

Sebelumnya, organisasi pelajar NU ini menggelar Lomba Catur dan Diklatama CBP. Dan sebagai puncak peringatan Harlah akan diisi dengan gema shalawat di alun-alun Trenggalek, bertepatan dengan tanggal 5 Maret ini.

Di tempat terpisah, Ketua LDNU Trenggalek H. Abd Shomad menyampaikan apresiasinya. Ia berharap dari kegiatan semacam ini akan lahir dai-dai masa depan yang aktif menyemaikan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah.

"Juara I sampai IV untuk masing-masing kelas nantinya kita berikan pembinaan lagi secara intensif, kita kader sebagai dai muda Aswaja. Ke depan, mereka dan kita minta untuk berceramah di berbagai tempat di Trenggalek", tambahnya.

Selain bekerja sama dengan LDNU, PC IPNU-IPPNU Trenggalek dalam menggelar Lomba Dai Cilik juga menggandeng beberapa instansi, antara lain Kantor Kemenag, MUI (Majelis Ulama Indonesia), dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek. (Abid/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ubudiyah, IMNU, Nasional Hari Santri 2019

Minggu, 17 Desember 2017

Sebagai Alumni, Wabup Pinrang Hadiri Ramah-Tamah UIM

Makassar, Hari Santri 2019. Wakil Bupati Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan Ir H Darwis Bastama menghadiri ramah-tamah calon wisudawan dan wisudawati tahun 2014 Universitas Islam Makassar (UIM) di Gedung Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan, Makassar, pada Selasa (21/10).

Sebagai Alumni, Wabup Pinrang Hadiri Ramah-Tamah UIM (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebagai Alumni, Wabup Pinrang Hadiri Ramah-Tamah UIM (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebagai Alumni, Wabup Pinrang Hadiri Ramah-Tamah UIM

Pada kesempatan tersebut, Darwis yang merupakan lulusan salah satu kampus milik NU Sulawesi Selatan tersebut, bercerita pengalamannya. Ia memulai dengan syukur sebagai alumni 22 tahun yang lalu, karena diundang dan diberikan kesempatan berbicara.

Setelah menyelesaikan studi di STIP Al Gazali, katanya, ia langsung aktif dalam dunia politik. Selama 4 periode ia dipercaya menjadi anggota DPRD Kabupaten Pinrang dan sempat mengetuainya.

Hari Santri 2019

Menurut dia, STIP Al Gazali, telah membantu dalam pemikirannya, terutama dalam dunia pertanian. “Kebetulan dalam 4 periode di DPRD, saya masuk dalam komisi yang membidangi pertanian,” ungkapnya pada pertemuan bertema "Tingkatkan Daya Saing Menyongsong Kompetisi Global dan AFTA 2015".

Ia juga menyampaikan, masyarakat Pinrang sekarang mempercayainya mejnjadi wakil bupati. Ini tentunya berkah doa para gurutta (sebutan tokoh agama di Sulawesi Selatan) serta alumni UIM.

Hari Santri 2019

Saat ini berkat dukungan dan persetujuan para ulama, sambung dia, di Pemkab Kabupaten? Pirang mengeluarkan kebijakan Zakat Hasil Pertanian.

Ketua IKA UIM, Dr Darmawan mengatakan, UIM sudah melalui proses panjang. Kampus tersebut sebelumnya bernama bernama Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Al Gazali dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al Gazali. Lalu pada tahun 2000 keduanya dilebur jadi satu? dengan nama Universitas Islam Makassar.

Ia menyebut, saat ini alumni UIM berjumlah 5.582 orang. Mereka sudah berkiprah di tengah masyarakat. “Dan besok, Alhamdulillah 710 orang akan resmi bergabung sebagai alumni UIM,” ungkapnya bersyukur.

Sementara Rektor UIM, pada sambutan yang diwakili PR III Dr H Abd Rahim Mas P Sanjata, bersyukur atas eksistensi IKA UIM.

Ia juga bertekad akan mengawal visi misi UIM, khususnya dalam dunia akademik, yang? diwarnai dengan nilai-nilai religius Islam Ahlusunnah Wal Jamaah.

Hadir pada kesempatan itu, Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Al Gazali Prof Dr Abd Rahman Idrus, H Abdurrahman, Pembantu Rektor I Musdalifah Mahmud, Pembantu Rektor II Saripuddun Muddin, Pembantu Rektor III Abd Rahim Mas P Sanjata, Pembantur Rektor IV Nur Taufiq Sanusi, Direktur Pascasarjana Nurul Fuadi, para dekan dan para wisudawan dan wisudawati. (Andi M Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Halaqoh, Berita, Ubudiyah Hari Santri 2019

Kamis, 14 Desember 2017

Sarjana Pesantren Sosok Andalan Masa Mendatang

Kediri, Hari Santri 2019 - Kelebihan mereka yang kuliah di kampus pesantren adalah mampu memadukan antara budaya akademik yang kritis dan kesederhanaan dan hal yang sudah melekat di dunia pondok. Kalau hal ini terus pertahankan, maka bukan sesuatu yang mustahil bila para alumninya kelak akan menjadi aset berharga bagi perjalanan bangsa.

"Para sarjana dari kampus pesantren akan memiliki kelebihan dari mereka yang tidak pernah berhubungan dengan budaya pondok," kata Ahmad Subakir, Senin (4/9).

Sarjana Pesantren Sosok Andalan Masa Mendatang (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarjana Pesantren Sosok Andalan Masa Mendatang (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarjana Pesantren Sosok Andalan Masa Mendatang

Hal tersebut disampaikannya? saat menjadi narasumber pada kuliah umum yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Agama Islam Badrus Sholeh atau STAI-BA Purwoasri, Kediri.

Hari Santri 2019

Menurut mantan Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam atau STAIN Kediri ini, mau berkiprah seperti apapun, sarjana dari kampus pesantren memiliki keunggulan. "Baik nantinya mereka akan menjadi ulama, umara atau pejabat negara, aghniya atau orang kaya hingga fuqara sekalipun, tentu akan terlihat perbedaannya," terang Ahmad Subakir.

Pada kegiatan yang mengambil tema pengembangan sumber daya manusia kampus berbasis etika pesantren dan budaya akademis tersebut, terdapat perbedaan yang cukup jelas. "Yang menonjol adalah para mahasiswa di pesantren mampu memadukan antara budaya akademik yang kritis dengan pesantren," jelasnya.

Kemampuan dalam mensinergikan dua hal inilah yang akan menjadikan alumnus kampus pesantren memiliki nilai lebih. "Kalau antara budaya kampus dan pesantren bisa dipadukan, akan lahir sosok yang dapat diandalkan di masa mendatang," katanya di hadapan peserta Orientasi Pengenalan Campus atau Opec STAI-BA tersebut.

Hari Santri 2019

Di penghujung penjelasannya, Ahmad Subakir mengemukakan bahwa kondisi negeri ini sudah sedemikian parah. Bukan lantaran kekurangan ilmuan dan orang pintar, melainkan yang tidak dimiliki adalah sarjana yang memiliki karakter layaknya santri. "Kalau sarjana pesantren dapat memadukan budaya akademik secara baik, maka akan menjadi obat dalam menjawab tantangan di masa mendatang," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Halaqoh, Berita, Ubudiyah Hari Santri 2019

Rabu, 13 Desember 2017

Peringati Hari Santri, GMNU Ajibarang Bakal Gelar Perkemahan Santri

Banyumas, Hari Santri 2019 

Untuk memperingati hari santri nasional, 22 Oktober 2017. Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas akan menggelar perkemahan santri Nahdlatul Ulama. 

Kegiatan tersebut rencananya akan digelar pada tanggal 20 - 22 Oktober 2017, bertempat di Lapangan Desa Pandansari, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. 

Peringati Hari Santri, GMNU Ajibarang Bakal Gelar Perkemahan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Santri, GMNU Ajibarang Bakal Gelar Perkemahan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Santri, GMNU Ajibarang Bakal Gelar Perkemahan Santri

Slamet Ibnu Ansori, Kordinator Generasi Muda NU Ajibarang mengatakan, selain perkemahan santri NU, pada kesempatan tersebut juga akan diadakan bakti sosial, pengajian akbar serta apel hari santri. 

"Lazimnya pramuka atau perkemahan pasti ada lomba-lomba, namun untuk sedikit membedakan dengan perkemahan yang biasa, kita akan mengadakan pengajian akbar, bakti sosial, festival hadrah, dan apel hari santri," katanya ketika ditemui usai rapat pembentukan panitia kegiatan, Rabu (20/9). 

Pada rapat yang digelar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Maarif NU Kulon tersebut, turut hadir pula Ketua MWCNU Ajibarang Kiai Amrudin Maruf, Ketua badan otonom serta Kepala Sekolah NU se-Kecamatan Ajibarang. (Kifayatul Ahyar/Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Hikmah, Anti Hoax, Ubudiyah Hari Santri 2019

Jumat, 08 Desember 2017

LAZISNU Pekalongan Salurkan Beasiswa ke Pelajar Madrasah

Pekalongan, Hari Santri 2019. Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kota Pekalongan menyalurkan dana pendidikan dalam bentuk beasiswa senilai sekitar 100 juta rupiah kepada siswa madrasah di berbagai jenjang pendidikan.

LAZISNU Pekalongan Salurkan Beasiswa ke Pelajar Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Pekalongan Salurkan Beasiswa ke Pelajar Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Pekalongan Salurkan Beasiswa ke Pelajar Madrasah

Penyaluran beasiswa melalui program NUSmart, Sabtu (7/2), itu diberikan kepada perwakilan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA) di lingkungan Nahdlatul Ulama di acara “Halaqoh Pemberdayaan Masjid” yang dihelat PCNU Kota Pekalongan di Gedung Aswaja, Pekalongan, Jawa Tengah.

LAZISNU Kota Pekalongan sudah beberapa kali memberikan beasiswa pendidikan setahun penuh. Hal ini sesuai program utama LAZISNU yang terdiri dari NUCare (program bantuan langsung [immediate aid] dan tanggap bencana), NUSmart (bantuan pendidikan bagi keluarga tidak mampu), NUSkill (pembekalan ilmu-ilmu terapan yang diperuntukkan bagi anak-anak putus sekolah atau yang tidak melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi), dan NUPreneur (permodalan dan pendampingan usaha bagi pedagang kaki lima dan usaha rumahan).

Hari Santri 2019

Ketua LAZISNU Kota Pekalongan, Luqman Kamil mengatakan, dana beasiswa yang disalurkan pada siswa siswi di lingkungan NU Kota Pekalongan merupakan dana yang dihimpun LAZISNU dari masyarakat melalui zakat, infaq dan shadaqah.

Hari Santri 2019

"Alhamdulillah selama dua tahun kami berjalan, kepercayaan umat yang diberikan kepada LAZISNU semakin meningkat dan berbagai program telah kami laksanakan," tuturnya.

Luqman berharap beasiswa yang diberikan kepada siswa siswi di lingkungan pendidikan NU sebagai stimulan dan sekaligus dapat memberi motivasi untuk giat belajar untuk meraih prestasi tertinggi.

(Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ubudiyah, Tegal Hari Santri 2019

Rabu, 06 Desember 2017

Mbah Muqoyyim, Kiai Rakyat Pendiri Buntet Pesantren

Cirebon, Hari Santri 2019. Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putra Buntet Pesantren menggelar bedah buku Sang Kyai Rakyat karya Bintang Irianto. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional dan Hari Pahlawan.

Bedah buku yang digelar di aula MANU Putra pada Sabtu (12/11) menghadirkan penulisnya dan pemerhati sejarah Buntet H Farid Wajdi sebagai pembandingnya. Kegiatan ini dipandu guru bahasa Arab MANU Putra, R. M. Zidni Ilman.

Mbah Muqoyyim, Kiai Rakyat Pendiri Buntet Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Muqoyyim, Kiai Rakyat Pendiri Buntet Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Muqoyyim, Kiai Rakyat Pendiri Buntet Pesantren

Buku tersebut berkisah tentang perjalanan hidup Mbah Muqoyyim, pendiri Pondok Buntet Pesantren. Dia merupakan cucu dari Ki Lebeh Mangku Negara Warbita yang merupakan santri Sultan Demak Abdul Fatah. Ki Lebeh juga pernah nyantri ke Sunan Ampel, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

Hari Santri 2019

Ki Lebeh memiliki anak bernama Abdul Hadi dari pernikahannya dengan Nyi Gede Kerangkeng. Abdul Hadi yang disebut juga Anjasmara ini menikah dengan Anjasmani dan lahirlah Muqoyyim kecil.

Mbah Muqoyyim menggantikan ayahnya Abdul Hadi sebagai kadi di Keraton Kanoman. Namun pada akhirnya, ia keluar, meletakkan jabatannya karena VOC sudah mempengaruhi kebijakannya.

Hari Santri 2019

“Kiai Muqoyyim meletakkan jabatannya sebagai kadi dan keluar dari Keraton Kanoman dikarenakan VOC sudah mengubah dan mengganggu kebijakan-kebijakan keagamaan dan tradisi dengan menggunakan aturan-aturan mereka,” tulis Bintang dalam makalahnya.

Dari situlah, Mbah Muqoyyim kemudian mendirikan Pondok Buntet Pesantren pertama kali di Cimarati, Dawuhan Sela, Desa Buntet, sekitar 500 Meter dari Buntet Pesantren saat ini. Tak berapa lama, banyak orang berdatangan untuk mengaji berbagai ilmu ke Mbah Muqoyyim. Namun pesantrennya itu diketahui oleh Belanda.

Khawatir akan mengobarkan pemberontakan, Belanda pun menyerangnya. Tiba di pesantren, Belanda tak mendapati siapa pun di sana. Mbah Muqoyyim dan seluruh santrinya sudah mengetahui rencana penyerangan tersebut sehingga Mbah Muqoyyim berkelana lagi. Pesantren yang sudah tak berpenghuni itu lalu dibakar oleh Belanda.

Seusai berkelana ke berbagai daerah, yakni Tuk Cirebon, Pemalang, dan Aceh, Mbah Muqoyyim kembali lagi ke Buntet atas permintaan tamu dari kesultanan Cirebon untuk mengatasi penyakit yang mewabah di Cirebon. Mbah Muqoyyim mengajukan dua syarat untuk itu, yakni dipulangkannya kembali Pangeran Kanoman dan penguasa mendirikan masjid di wilayah Cirebon.

Dua syarat itu langsung dikabulkan Belanda. Akhirnya, ia kembali ke Buntet dan merintis kembali pesantren yang sempat ditinggalkannya selama beberapa tahun.

Para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Hal ini ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang mengalir ke moderator. (Syakir Niamillah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul Ulama, Ubudiyah Hari Santri 2019

Senin, 04 Desember 2017

Meyegerakan Amal Kebaikan

Barang siapa dibukakan pintu kebaikan baginya, maka hendakah dia menggunakan kesempatan itu, sebab tidak diketahui kapan pintu kebaikan itu ditutup baginya.

Ø¥Ù? ÙŽÙ‘ الْحَمْدَ لِلَّهِ Ù? َحْمَدُهُ ÙˆÙŽÙ? َسْتَعِÙ? Ù’Ù? ُهُ ÙˆÙŽÙ? َسْتَغْفِرُهْ ÙˆÙŽÙ? َعُوذُ بِاللهِ مِÙ? Ù’ شُرُوْرِ Ø£ÙŽÙ? ْفُسِÙ? َا وَمِÙ? Ù’ سَÙ? ِّئَاتِ أَعْمَالِÙ? َا، Ù…ÙŽÙ? Ù’ Ù? َهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ? Ù’ Ù? ُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِÙ? ÙŽ لَهُ. وَأَشْهَدُ Ø£ÙŽÙ? Ù’ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِÙ? ْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ Ø£ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى Ù? َبِÙ? ِّÙ? َا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ? Ù’ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَاÙ? ٍ إِلَى Ù? َوْمِ الْقِÙ? َامَةِ. Ù? َا Ø£ÙŽÙ? ُّهَا الÙ? َّاسُ أُوْصِÙ? ْكُمْ وَإِÙ? َّاÙ? ÙŽ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْÙ? ÙŽ. قَالَ تَعَالَى: Ù? َا Ø£ÙŽÙ? ُّهاَ الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ ءَامَÙ? ُوا اتَّقُوا اللهَ Ø­ÙŽÙ‚ÙŽÙ‘ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُÙ? ÙŽÙ‘ إِلاَّ ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ? تُمْ مُّسْلِمُوْÙ? ÙŽ. قَالَ تَعَالَى: Ù? َا Ø£ÙŽÙ? ُّهَا الÙ? َّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِÙ? Ù’ خَلَقَكُمْ مِّÙ? Ù’ Ù? َفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِÙ? ْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِÙ? ْهُمَا رِجَالاً كَثِÙ? ْرًا ÙˆÙŽÙ? ِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِÙ? Ù’ تَسَآءَلُوْÙ? ÙŽ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ كَاÙ? ÙŽ عَلَÙ? ْكُمْ رَقِÙ? ْبًا. Ù? َا Ø£ÙŽÙ? ُّهَا الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ ءَامَÙ? ُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِÙ? ْدًا. Ù? ُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ ÙˆÙŽÙ? َغْفِرْ لَكُمْ ذُÙ? ُوْبَكُمْ ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ? Ù’ Ù? ُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِÙ? ْمًا.

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Meyegerakan Amal Kebaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Meyegerakan Amal Kebaikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Meyegerakan Amal Kebaikan



Ù…ÙŽÙ? Ù’ فَتَحَ لَهُ بَابٌ مِÙ? ÙŽ الخَÙ? ْرِ فَلْÙ? ÙŽÙ? تَهِزْهُ فَإِÙ? هُ لاَ Ù? َدْرِى مَتَى Ù? َغْلَقُ عَÙ? ْهُ

Barang siapa dibukakan pintu kebaikan baginya, maka hendakah dia menggunakan kesempatan itu, sebab tidak diketahui kapan pintu kebaikan itu ditutup baginya.

Hari Santri 2019

Sabda Rasulullah saw tersebut mengandung beberapa isyarat, pertama hendaklah kebaikan segera dilaksanakan. Janganlah suka menunda-nunda amal kebajikan. Kemalasan merupakan akar penyesalan. Seberapa kecilpun sebuah kebaikan pasti memiliki makna dan arti. Janganlah menyepelekan amal kebaikan karena, bisa jadi amal yang kita sepelekan itulah yang diridhai Allah swt. dan menjadi kunci keselamatan kita di akhirat nanti. Ingatlah kisah seorang pelacur berlumur dosa yang hidupnya sesak dengan maksiat, tetapi masuk surga karena memberi minum anjing. Kadang kala amal yang sepele itu mampu memanggil ridha-Nya.

Hari Santri 2019

Isyarat kedua dari sabda Rasulullah saw bahwasannya manusia haruslah sadar akan posisi dirinya sebgaia seorang hamba yang lemah dan tidak mampu berbuat apa. Karena sesungguhnya kebaikan yang telah kita lakukan dan maksiat yang berhasil kita hindari semuanya itu berkat pertolongan Allah Yang Maha Kuasa. Kita sebagai seorang hamba tidak ada yang tahu kapan Allah swt menutup pintu kebaikan bagi kita, sehingga tidak ada kesempatan berbuat baik lagi bagi badan ini. Entah karena tutup usia atau karena lemah fisik yang tak terkira. Inilah sebenarnya hakikat dari makna la Haula wa la Quwwata illa Billahil ‘Aliyyin Adhim. Bahwa tidak ada kemampuan yang dapat menghindarkan kita dari maksiat dan tidak ada kekuatan yang menjadikan kita ta’at kepada-Nya kecuali hanya dari Allah swt.

Demikianlah Allah swt telah menetapkan kepada semua makhluk akan kejadian dan kelakukan mereka. Manusia tidak akan mampu melawan apa yang dikehendakinya. Oleh karenanya manusia hanya dapat memohon agar dirinya menjadi bagian dari kelompok yang beruntung.



فَرَغَ رَبُّكُمْ مِÙ? ÙŽ الْخَلْقِ وَالرِّزْقِ وَالْأَجَلِ جَفَّ الْقَلَمُ ? بِمَا هُوَ كَائِÙ? ÙŒ

Tuhanmu telah selesai menciptakan, menetapkan rizqi, dan menetapkan mati. Qalam telah kering. Dengan demikian Allah tetap mengetahui apa yang terjadi.

Jika demikian halnya maka segeralah kita bertaubat mencari kerelaan-Nya atas segala dosa yang telah kita lakukan dan janganlah pernah merasa puas dengan apa yang telah kita laksanakan sebagai amal kebajikan. Bukankah amal kebajikan itu terlaksana karena ketentuan-Nya juga?



?وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِÙ? عًا Ø£ÙŽÙ? ُّهَا الْمُؤْمِÙ? ُوÙ? ÙŽ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوÙ? ÙŽ

Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah

Dunia adalah perladangan bagi akhirat. Tidak ada sesuatupun yang sia-sia di dunia ini, tidak maksyiat tidak juga amala ibadah. Semuanya ada dihitungannya, jika waktunya tiba nanti maksyiat akan membawa pelakunya ke pada siksaan-siksaan yang setimpal. Sedangkan amal kebaikan akan dibalas dengan pahala yang berwibawa. Itulah janji Allah yang telah menjadi ketetapan. Innallaha la yuhkliful mi’ad.

Rasulullah saw bersabda:



اَلدُّÙ? Ù’Ù? َا مَزْرَعَة الأَخِرَةِ فَمَÙ? Ù’ زَرَعَ خَÙ? ْرًا حَصَدَ غِبْطَة, ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ? Ù’ زَرَعَ شَرًّا حَصَدَ Ù? َدَامَة?

Dunia ini adalah perladangan akhirat, maka barang siapa menanam kebaikan, maka dia akan merasakan hasilnya dengan perasaan puas, dan barang siapa menanam keburukan, maka dia akan berbuah penyesalan.



بَارَكَ اللهُ لِÙ? Ù’ وَلَكُمْ فِÙ? Ù’ اْلقُرْآÙ? ِ اْلعَظِÙ? ْمِ ÙˆÙŽÙ? َفَعَÙ? ِÙ? ÙˆÙŽØ¥Ù? َّاكُمْ ِبمَا ِفÙ? ْهِ مِÙ? ÙŽ اْلآÙ? اَتِ وَالذكْر ِالْحَكِÙ? ْمِ وَتَقَبَّلَ مِÙ? ِّÙ? وَمِÙ? ْكُمْ تِلاَوَتَهُ Ø¥Ù? َّهُ هُوَ السَّمِÙ? ْعُ اْلعَلِÙ? ْمُ

Khutbah II



اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَاÙ? ِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِÙ? ْقِهِ وَاِمْتِÙ? َاÙ? ِهِ. وَاَشْهَدُ اَÙ? Ù’ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِÙ? ْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ?

اَÙ? ÙŽÙ‘ سَÙ? ِّدَÙ? َا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَاÙ? ِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِÙ? ْمًا كِثÙ? ْرًااَمَّا بَعْدُ فَÙ? اَ اَÙ? ُّهَا الÙ? َّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِÙ? ْمَا اَمَرَ وَاÙ? ْتَهُوْا عَمَّا Ù? ÙŽÙ‡ÙŽÙ‰ وَاعْلَمُوْا اَÙ? ÙŽÙ‘ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِÙ? ْهِ بِÙ? َفْسِهِ وَثَـÙ? ÙŽÙ‰ بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ Ù? ُصَلُّوْÙ? ÙŽ عَلىَ الÙ? َّبِى Ù? Ø¢ اَÙ? ُّهَا الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ آمَÙ? ُوْا صَلُّوْا عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِÙ? ْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَÙ? ِّدِÙ? اَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَÙ? ْبِÙ? آئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَارْضَ اللّهُمَّ عَÙ? ِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِÙ? Ù’Ù? ÙŽ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَاÙ? وَعَلِى وَعَÙ? Ù’ بَقِÙ? َّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَتَابِعِÙ? التَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ لَهُمْ بِاِحْسَاÙ? ٍ اِلَىÙ? َوْمِ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَارْضَ عَÙ? َّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ Ù? َا اَرْحَمَ الرَّاحِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِÙ? ِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُؤْمِÙ? َاتِ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْÙ? آءُ مِÙ? ْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاÙ? ْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِÙ? َّةَ وَاÙ? ْصُرْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ Ù? َصَرَ الدِّÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاخْذُلْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ خَذَلَ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ ÙˆÙŽ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى Ù? َوْمَ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَÙ? َّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ وَسُوْءَ اْلفِتْÙ? َةِ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ مَا ظَهَرَ مِÙ? ْهَا وَمَا بَطَÙ? ÙŽ عَÙ? Ù’ بَلَدِÙ? َا اِÙ? ْدُوÙ? ِÙ? ْسِÙ? َّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَاÙ? ِ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ عآمَّةً Ù? َا رَبَّ اْلعَالَمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. رَبَّÙ? َا آتِÙ? اَ فِى الدُّÙ? Ù’Ù? َا حَسَÙ? َةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَÙ? َةً وَقِÙ? َا عَذَابَ الÙ? َّارِ. رَبَّÙ? َا ظَلَمْÙ? َا اَÙ? ْفُسَÙ? َاوَاِÙ? Ù’ لَمْ تَغْفِرْ Ù„ÙŽÙ? َا وَتَرْحَمْÙ? َا Ù„ÙŽÙ? َكُوْÙ? ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ مِÙ? ÙŽ اْلخَاسِرِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. عِبَادَاللهِ ! اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ Ù? َأْمُرُÙ? َا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَاÙ? ِ وَإِÙ? ْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ ÙˆÙŽÙ? ÙŽÙ? ْهَى عَÙ? ِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُÙ? ْكَرِ وَاْلبَغْÙ? Ù? َعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْÙ? ÙŽ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِÙ? ْمَ Ù? َذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ Ù? ِعَمِهِ Ù? َزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Red. Ulil H. Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ubudiyah Hari Santri 2019

Kamis, 30 November 2017

Manuskrip Matematika Islam Nusantara Karya Syekh Khatib Minangkabau

Ini adalah halaman terakhir dari manuskrip kitab “Raudhah al-Hussâb fî ‘Ilm al-Hisâb” karangan seorang ulama Nusantara asal Minangkabau (Sumatera Barat) yang berkarir sebagai guru besar, imam, dan khatib di Masjidil Haram Makkah, yaitu Syekh Ahmad ibn ‘Abd al-Lathîf ibn ‘Abdullâh al-Mankabâwî al-Jâwî tsumma al-Makkî (dikenal dengan Ahmad Khatib Minangkabau, w. 1916).

“Raudhah al-Hussâb” memuat kajian ilmu hitung atau matematika. Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab. Keberadaan kitab ini menjadi istimewa, karena terbilang sebagai khazanah intelektual Islam Nusantara yang mengkaji ilmu sains, dalam hal ini adalah matematika, yang sangat langka ditemui, karena rata-rata literatur karya ulama Nusantara kebanyakan mengkaji bidang agama.

Manuskrip Matematika Islam Nusantara Karya Syekh Khatib Minangkabau (Sumber Gambar : Nu Online)
Manuskrip Matematika Islam Nusantara Karya Syekh Khatib Minangkabau (Sumber Gambar : Nu Online)

Manuskrip Matematika Islam Nusantara Karya Syekh Khatib Minangkabau

Dalam “Raudhah al-Hussâb”, kepakaran Syekh Ahmad Khatib Minangkabau di bidang ilmu sains tampak dengan sangat jelas. Hal ini sekaligus menegaskan kapasitas intelektual beliau yang ensiklopedis dan lintas disiplin ilmu, yang mampu memadukan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu sains. Dalam bidang sains, selain menulis dalam bidang matematika, Syekh Ahmad Khatib juga menulis dalam bidang astronomi (‘ilm al-falak).

Hari Santri 2019

Syekh Ahmad Khatib juga menulis karya lain dalam bidang ilmu matematika, selain kitab “Raudhah al-Hussâb” ini, yaitu “Ma’âlim al-Hussâb fî ‘Ilm al-Hisâb”, yang ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi).

Manuskrip kitab “Raudhah al-Hussâb” tersimpan di Perpustakaan Makkah al-Mukarramah, KSA, dengan nomor kode (?). Syekh Ahmad Khatib Minangkabau menyelesaikan karya ini pada hari Ahad, 19 Zulkaedah 1307 Hijri (bertepatan dengan 8 Juli 1890 M). Manuskrip tersebut adalah manuskrip salinan, yang ditulis oleh murid Syekh Ahmad Khatib, yaitu Syekh Jâdullâh ibn Muhammad Badawî. Jâdullâh menyalin karya gurunya itu di Makkah pada 15 Shafar 1308 Hijri (25 September 1890 M), atau sekitar dua bulan dari masa pengarangannya.

Hari Santri 2019

Kondisi manuskrip secara umum bagus dan teks (tulisan) di dalamnya dapat dibaca dengan baik. Bahasa pada naskah adalah bahasa Arab yang ditulis dengan aksara model “naskhî”. Tinta yang digunakan berwarna hitam dan merah. Jumlah keseluruhan naskah 134 halaman, minus halaman pertama.

Dalam katalog Perpustakaan Nasional King Fahd, KSA, disebutkan bahwa “Raudhah al-Hussâb” karya Syekh Ahmad Khatib Minangkabau telah dicetak pada tahun 1310 Hijri (1892 M). Kemungkinan karya ini dicetak oleh Maktabah al-Taraqqî al-Mâjidiyyah yang berbasis di Makkah. Teks “Raudhah al-Hussâb” dicetak bersama teks-teks ilmu matematika berbahasa Arab lainnya, yaitu “Syarh Fath al-Rabb al-Bariyyah ‘alâ Matn al-Sakhâwiyyah” karangan Husain Muhammad al-Mahallî (w. 1757 M).

Saya tidak bisa mengutip pembukaan kitab “Raudhah al-Hussâb” dikarenakan halaman pertama manuskrip ini hilang. Yang bisa dilacak dari keterangan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau dalam karyanya ini pada manuskrip ini hanya pada kata penutup. Beliau menulis;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 1307 ? ? ? ? ?

(Aku berkata, aku seorang hamba yang faqir kepada Allah Ta’ala, Ahmad Khatib anak Abdul Lathif Khatib dari Jawi [Nusantara], salah satu pengajar di Masjidil Haram di Makkah, juga salah satu murid dari seorang yang alim allamah dan bahr fahhamah Syekh Sayyid Abu Bakar Syatha, semoga Allah memanjangkan usianya dan memberikan kita manfaat dengan keberkahannya. Bahwa aku telah selesai menulis karya ini, yang dinamakan “Raudhah al-Hussâb fî A’mâl al-Hisâb” pada hari Ahad, tanggal Sembilan belas bulan Zulkaedah tahun 1307 Hijri).

Syekh Ahmad Khatib lalu melanjutkan;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

(Saya berharap dari orang-orang yang menemukan kesalahan di dalam karya ini, atau mendapati keluputan di sana, agar sudi kiranya ia membetulkannya setalah menelitinya dengan seksama, dan agar ia sudi memaklumi uzurku atas kesalahan itu. Karena akupun mengakui akan kedangkalan pemahamanku dan sedikitnya penguasaanku dalam bidang ini, juga dalam bidang-bidang keilmuan lainnya. Sesungguhnya yang memberanikan diriku untuk menulis dalam bidang yang agung ini, meskipun aku bukan seorang yang ahli di dalamnya, adalah harapanku yang besar akan pengampunan dan pemaafan dari Tuhanku, seraya aku terus berjalan di atas jalur para ahli keutamaan dan ilmu pengetahuan).

Bidang keilmuan sains (matematika dan astronomi) yang dikuasai oleh Syekh Ahmad Khatib pun “menurun” kepada beberapa muridnya dari Nusantara, di antaranya adalah Syekh Ahmad Dahlan Falak (Tremas lalu Semarang, adik kandung Syekh Mahfuzh Tremas dan menantu Kiai Soleh Darat Semarang), Syekh Ahmad Dahlan Darwis (pendiri Muhammadiyyah), Syekh Thahir Jalaluddin Falak (Minangkabau lalu Singapura), Haji Rosul (Abdul Karim Amrullah, ayah HAMKA), dan lain-lain. (A. Ginanjar Sya’ban)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Quote, Makam, Ubudiyah Hari Santri 2019

Ikrar Kesetiaan NKRI dari Santri Indonesia Bergaung di Monas

Jakarta, Hari Santri 2019. Sekitar 50.000 santri yang mengikuti apel akbar dan upacara memperingati Hari Santri Nasional 2016 berkomitmen untuk menjaga bangsa dan negara Indonesia. Untuk maksud ini, santri Indonesia berikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Sabtu (22/10) di Lapangan Monas Jakarta.

Ikrar dibacakan oleh perwakilan seluruh Ormas Islam yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) sebagai rumah besar santri Indonesia dengan dipandu oleh Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini.?

Ikrar Kesetiaan NKRI dari Santri Indonesia Bergaung di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikrar Kesetiaan NKRI dari Santri Indonesia Bergaung di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikrar Kesetiaan NKRI dari Santri Indonesia Bergaung di Monas

Anggota LPOI antara lain: Nahdlatul Ulama (NU), Syarikat Islam Indonesia (SII), Persatuan Islam (Persis), Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Mathlaul Anwar, Al-Ittihadiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Ikatan DAI Indonesia (Ikadi), Azzikra, Al-Washliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Persatuan Umat Islam (PUI), Himpunan Bina Mualaf.

Berikut isi ikrar kesetiaan NKRI dari santri Indonesia. Sebagai wujud dari semangat Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945 kami santri Indonesia berikrar:

1. Setia mempertahankan Pancasila sebagai dasar bernegara dan berbangsa yang final di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hari Santri 2019

2. Setia menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menghormati keberagaman suku agama ras dan budaya. Menjunjung tinggi persatuan dalam kebhinekaan serta ikut menciptakan perdamaian dunia.

Hari Santri 2019

3. Menolak segala bentuk terorisme, radikalisme dan paham ekstrim lainnya. Dan senantiasa bersiap-siaga melawan segala bentuk ancaman yang berpotensi memecah belah bangsa.

Ikrar kesetiaan NKRI tersebut dipandang penting sebagai komitmen bersama mengingat radikalisme global terus berupaya memecah belah harmoniasi kehidupan bangsa.?

Sebab itu, santri Indonesia sebagai pewaris perjuangan para ulama mempunyai peran penting dalam mewujudkan kondisi masyarakat yang ramah, damai, toleran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Daerah, Ubudiyah, Hadits Hari Santri 2019

Senin, 27 November 2017

Habib Novel: Malam Ini, Saya Resmi Jadi Anggota NU

Solo, Hari Santri 2019. Habib Novel bin Muhammad Alaidrus secara resmi menyatakan masuk anggota Nahdlatul Ulama (NU). Pengasuh majelis Ar-Raudah ini juga mengajak jamaah turut serta masuk jam’iyah yang didirikan para ulama di Surabaya tahun1926 tersebut.

Habib Novel: Malam Ini, Saya Resmi Jadi Anggota NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Novel: Malam Ini, Saya Resmi Jadi Anggota NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Novel: Malam Ini, Saya Resmi Jadi Anggota NU

“Malam ini saya resmi menjadi anggota NU. Saya mengajak seluruh jamaah untuk masuk menjadi anggota NU,” kata Habib Novel saat didaulat sebagai pembicara pada acara ‘Ansor Bersolawat’ yang diselenggarakan di depan kantor PCNU Surakarta, Selasa malam (23/4).

Dalam kesempatan tersebut, Habib Novel juga mewanti-wanti warga Nahdliyyin agar jangan mau bila digiring ke ranah politik, “Acara Rijalul Ansor untuk majelis ta’lim, dzikir dan sholawat, bukan untuk menggiring ke partai politik tertentu,“ tegas Habib, yang juga penasihat GP Ansor Solo ini.

Hari Santri 2019

Pengaruh Habib yang produktif menulis ini, bagi warga Solo dan sekitar, cukup besar. Terbukti di setiap majelis yang diadakan di Markas Ar-Raudah, dipadati ribuan jamaah. Pengaruhnya ini diharapkan nantinya akan bagus bagi perkembangan NU di Solo dan sekitar.

Hari Santri 2019

Apa yang diungkapkan Habib Novel terkait menggiring NU ke politik, diamini Ketua GP Ansor Solo, M Anwar, “Khittah harus dijaga betul. Jangan sampai terbawa ke politik,” tuturnya.

Puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) Gerakan Pemuda (GP) Ansor ke-79 di Solo ini mengusung tema Perkuat Aqidah Ahlussunah wal Jama’ah dan Dakwah Islam Rahmatan lil ‘Alamin. Beberapa hari sebelumnya juga diadakan berbagai rangkaian kegiatan guna menyambut momentum harlah ini.

Redaktur        : Abdullah Alawi

Kontributor    : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 IMNU, Sejarah, Ubudiyah Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock