Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Ribuan Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Pawai Santri Sidoarjo

Sidoarjo, Hari Santri 2019 - Ribuan Nahdliyin dari unsur siswa-siswi di bawah naungan LP Maarif NU Sidoarjo dari tingkat MI, MTs, MA, perguruan tinggi mengikuti pawai santri yang digelar oleh Pemkab Sidoarjo di alun-alun setempat, Ahad (23/10). Pawai ini juga diikuti oleh seluruh banom dan lembaga NU Sidoarjo.

Dengan antusias mereka mengikuti kegiatan tersebut. Meski hujan deras sempat mengguyur wilayah Sidoarjo, namun itu tak menyurutkan semangat warga kota udang untuk menyukseskan peringatan Hari Santri 2016.

Ribuan Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Pawai Santri Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Pawai Santri Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Pawai Santri Sidoarjo

Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah mengatakan, acara pawai santri ini terselenggara atas peran serta umat Islam di Sidoarjo dalam rangka membangun Kabupaten Sidoarjo yang lebih baik. Pawai santri ini merupakan rangkaian acara untuk memperingati Hari Santri.

"Semoga kegiatan ini bisa bermanfaat dan mendapatkan ridho dari Allah SWT. Mudah-mudahan Sidoarjo menjadi kabupaten yang mandiri, inovatif, sejahtera, dan berkelanjutan," kata pria yang akrab disapa Abah Ipul itu.

Hari Santri 2019

Ia berpesan kepada para santri agar senantiasa meningkatkan ilmu pengetahuan. Pasalnya, santri memiliki peran serta dan kontribusi dalam pembangunan khususnya di Kabupaten Sidoarjo.

Hari Santri 2019

Abah Ipul juga mengajak warga Sidoarjo khususnya umat Islam untuk bersama-sama membangun Sidoarjo menjadi kabupaten yang lebih baik lagi.

"Santri harus terus meningkatkan ilmu pengetahuan, olah kerja, dan memperkokoh ekonomi dengan baik untuk meningkatkan produktivitas di Sidoarjo," pesan Abah Ipul. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 PonPes, Nahdlatul Ulama, Nusantara Hari Santri 2019

Minggu, 18 Februari 2018

Hafidz Tunanetra ini Imami Tarawih di Masjid Gus Dur

Jakarta,Hari Santri 2019. Shalat tarawih berjamaah di Masjid Al-Munawwaroh komplek kediaman KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Jalan Warung Sila Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (23/6) malam atau malam ketujuh Ramadhan menghatamkan 1 juz Al-Quran dan diimami oleh seorang hafidz tunanetra.

Hafidz Tunanetra ini Imami Tarawih di Masjid Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Hafidz Tunanetra ini Imami Tarawih di Masjid Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Hafidz Tunanetra ini Imami Tarawih di Masjid Gus Dur

"Sholat Tarawih malam ini akan diimami seorang tunanetra. Namanya Muhammad Nurdin," ujar Imam Besar Masjid Al-Munawwaroh Kiai Ahmad Ahsin kepada Hari Santri 2019 menjelang buka bersama di teras masjid yang akrab disebut Masjid Gus Dur ini.

Muhammad Nurdin (35 tahun), lulusan Pesantren Al-Anwar Desa Goa Kidul, Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon ini mengaku telah hafal Al-Quran 30 juz sejak usia 26 tahun. Ia mondok di pesantren yang diasuh KH Anwar Maksum, kakak sepupu Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, sejak 2001 hingga 2006.

Hari Santri 2019

"Ketika mondok di Cirebon, saya setoran hafalannya langsung satu maqra. Saya menghafal Quran memakai Quran Braille yang saya dapat dari kota Jogja. Waktu itu memang susah ya nyari Quran untuk kaum tunanetra," tuturnya.

Pria asal Kampung Bojong Pari, Desa Jaya Bakti, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi ini bercerita, ketika masih kecil belajar membaca Al-Quran huruf Braille di Yayasan Pesantren Al-Muawanah di Sukabumi. Setelah setahun, ia pindah mondok di Bandung.

Hari Santri 2019

Nurdin mengatakan, awal ketertarikannya menghafal Quran lantaran keinginan belajar kitab kuning kandas. Sebab, belum ada yang ditulis Braille. “Quran aja satu juz itu gede banget. Makanya, wajar kalau susah ditemukan kitab kuning dalam tulisan Braille,” ujarnya.

Oleh kiainya, Nurdin disarankan untuk menghafal Al-Quran saja. “Jadi saya nggak langsung ke Cirebon. Tapi, ke Bandung dulu mondok di Al-Syifa’ khusus belajar Ilmu Qiraat dan Tajwid. Cuma memang waktu itu suara saya kurang memadai. Akhirnya, kiai menyuruh saya menghafal aja,” ungkapnya.

Nurdin lalu mengikuti petunjuk kiainya yang di Bandung untuk mondok Quran di Cirebon. “Saat menerima hafalan saya, Kiai Anwar biasa aja. Jadi, bareng dengan santri yang lain. Apalagi saya sudah mempunyai bekal, tajwid sudah bagus. Jadi langsung menghafal,” ujarnya bangga.

Jika ada anak tunanetra ingin menghafal Al-Quran, Nurdin menyarankan agar mereka belajar Braille terlebih dahulu di Sekolah Luar Biasa. “Memang ada yang model menuntun saja hingga bisa baca. Tapi kan kiai sibuk juga. Teman-teman juga nggak tentu senggang,” tandasnya.

Di tengah keterbatasannya, Nurdin tetap bersyukur karena diberi kemampuan oleh Allah menghafalkan kitab suci-Nya. Ia berharap, anak-anak tunanetra terus berlomba dalam kebaikan. Sebaiknya mereka tidak kalah dengan yang lain.

“Jangan ketinggalan lah sama anak-anak normal. Sekarang kan ada sekolahnya. Banyak juga tunanetra yang pinter, ada yang jadi dosen. Tapi, tantangannya orang tua ini. Setelah dilepas, banyak yang takut ini takut itu. Harus benar-benar tega lah untuk kemajuan anaknya,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara, Kyai, Fragmen Hari Santri 2019

Sabtu, 10 Februari 2018

Hukum Memasang Spanduk Kampanye Sembarangan

Sebentar lagi beberapa daerah di Indonesia akan melakukan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada). Dari sekarang, masing-masing pasangan calon bupati, wali kota, dan gubernur mulai melakukan kampanye dan berusaha menarik perhatian warga semaksimal mungkin. Mereka mengadakan berbagai macam acara, mendatangi warga setempat, dan menawarkan program kerja agar masyarakat simpati dan tertarik untuk memilih.

Tidak hanya itu, tim sukses pasangan calon, sampai waktu pemilihan, tidak henti-hentinya menyiarkan kebaikan dan kehebatan idola mereka kepada publik. Salah satunya dengan cara membagikan brosur dan selebaran, menempelkan pamflet dan poster, hingga memasang baliho dan spanduk di jalan-jalan. Namun terkadang, spanduk dan baliho dipasang sembarangan di lahan dan pagar rumah orang lain, tanpa izin pemiliknya.

Hukum Memasang Spanduk Kampanye Sembarangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Memasang Spanduk Kampanye Sembarangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Memasang Spanduk Kampanye Sembarangan

Menggunakan atau memanfaatkan harta orang lain terang-terangan tanpa izin pemiliknya disebut ghasab. Ini termasuk perbuatan yang dilarang seperti halnya mencuri dan korupsi. Taqiyuddin Abu Bakar Al-Husaini dalam Kifayatul Akhyar mengatakan:

Hari Santri 2019

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ?

Artinya, “Duduk di teras (perkarangan) orang lain atau menciduk air menggunakan gayung orang lain tanpa izin berarti sudah termasuk ghasab, meskipun tidak berniat untuk menguasai dan memilikinya. Karena tujuan ghasab adalah mengambil manfaat atas barang ghasaban.”

Hari Santri 2019

Dengan demikian, memasang spanduk dan baliho sembarangan di perkarangan atau lahan orang lain termasuk dalam kategori ghasab. Dalam fiqh, perbuatan seperti ini dilarang karena memanfaatkan harta orang lain tanpa izin pemiliknya, meskipun tidak ada niat untuk mengambil dan memilikinya. Agar proses kampanye berjalan lancar dan tidak menimbulkan mudharat, alangkah baiknya masing-masing tim sukses perlu berhati-hati dalam memasang poster ataupun spanduk kampanye.

Jangan sampai, demi memopulerkan pasangan calon, tetapi hak dan kenyamanan orang lain diganggu. Pada saat pemasangan spanduk atau apapun itu yang berkaitan dengan hak orang lain, minta izinlah terlebih dahulu agar tidak menyinggung perasaan pemilik lahan. Wallahu A’lam. (Hengki Ferdiansyah)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara Hari Santri 2019

Minggu, 04 Februari 2018

Pesantren Putri Seblak Hidupkan Tradisi Tulis Santri

Jombang, Hari Santri 2019. Pesantren melahirkan penulis-penulis handal semisal KH Ma’sum Ali pendiri Pesantren Seblak Jombang. Kiai tersebut menulis kitab Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah, sebuah kitab ilmu sharaf yang amat masyhur di Nusantara, bahkan di luar negeri.

Pesantren Putri Seblak Hidupkan Tradisi Tulis Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Putri Seblak Hidupkan Tradisi Tulis Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Putri Seblak Hidupkan Tradisi Tulis Santri

Untuk meneladani kepenulisan kiai-kiai pesantren, Pesantren Salafiyah Safi’iyyah Putri Seblak berkerja sama dengan Tebuireng Media Group mengadakan pelatihan menulis bagi para santri pada kamis (18/09).

“Ini adalah bentuk kesadaran untuk menghidupkan tradisi menulis di pesantren. Santri harus bisa menulis”, ungkap Ida Farida selaku penggagas pelatihan tersebut.

Hari Santri 2019

Nanti, kata mahasiswi Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng semester V tersebut, kalau sudah matang, kita juga ingin buat buletin atau bahkan majalah.

Salah satu pengajar di pelatihan tersebut, Ahmad Faozan, mengatakan, pelatihan diadakan setiap Kamis malam pukul 20.00-21.30 WIB dan diikuti oleh 80 santriwati yang terbagi dalam dua kelas. “Sementara untuk awal kita buat kelas besar, nanti kalau sudah ada tenaga pengajar yang cukup, akan kita bagi dalam kelompok-kelompok belajar kecil,” katanya.

Hari Santri 2019

Program ini juga adalah bagian dari gerakan santri menulis yang dilaksanakan oleh Tebuireng Media Group sebagai kelanjutan dari sekolah menulis untuk tingkatan SMA dan Mahasiswa yang telah diadakan tahun ini. “Setelah Seblak kita akan membidik Pondok Pesantren Walisongo dan beberapa pondok pesantren sekitar Tebuireng lainnya,” tambah pimpinan Redaksi Majalah Tebuireng? yang juga Pengelola Sanggar, Komunitas Penulis Muda Tebuireng.

“Saya bersyukur ada program ini, saya jadi punya temen untuk belajar tulis menulis,” ungkap Widya, salah satu peserta. (Abror/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Jadwal Kajian, Nusantara Hari Santri 2019

Rabu, 31 Januari 2018

Penyangga Indonesia itu Bernama Umat Islam

Oleh Imam Nahrawi

Nusantara merupakan anugerah yang luar biasa. Lebih dari sekadar kekayaan alam yang melimpah, negeri ini juga dikarunia kebudayaan yang sangat fleksibel dan bersahabat dengan manusia dan lingkungannya. Indonesia termasuk negara dengan peralihan agama mayoritas yang tergolong kerap: mulai dari kepercayaan lokal, Hindu, Budha, lalu Islam.

Penyangga Indonesia itu Bernama Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyangga Indonesia itu Bernama Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Penyangga Indonesia itu Bernama Umat Islam

Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia sekarang tak terlepas dari cara dakwah Wali Songo yang merakyat. Secara elegan para ulama penyebar Islam itu menginternalisasi ajaran Islam ke benak masyarakat lewat kebudayaan. Islam pun tersebar luas dengan nyaris tanpa kekerasan. Fakta ini setidaknya mencerminkan dua hal: toleransi mereka yang tinggi terhadap lokalitas dan canggihnya pendekatan yang mereka gunakan.

Hari Santri 2019

Pada zaman revolusi, umat Islam juga mencetak sejarah sebagai bagian dari kelompok mayoritas yang berkontribusi untuk kemerdekaan republik ini. Bersama elemen bangsa lain, mereka mengorbankan pikiran, tenaga, harta, bahkan nyawa demi membebaskan tanah air dari belenggu penjajahan.

Teladan ulama

Hari Santri 2019

Perjuangan tersebut tentu terlalu sempit bila dilihat hanya untuk kepentingan Islam. Karena kenyataannya, sejak awal negeri ini dihuni oleh ragam agama dan etnis. Seruan perang suci oleh para ulama, misanya, pasti juga mencakup kepentingan seluruh rakyat di tanah air yang bineka itu.

Pascakemerdekaan, perjuangan berlanjut dengan meletakkan pondasi republik yang baru lahir, merumuskan asas-asasnya, dan memikirkan struktur pemerintahannya. Usaha ini jelas sangat tidak mudah. Bisa dibayangkan betapa hebatnya perdebatan dan kontestasi kepentingan saat itu. Indonesia dihuni oleh ribuan suku dan unsur kebudayaan lainnya. Seluruhnya tentu menginginkan aspirasinya terpenuhi.

Meski demikian nyatanya gejolak tak sampai membuat negeri ini pecah belah. Di tengah belantara tarik menarik kepentingan kala itu para tokoh dan pendiri bangsa ini menunjukkan keluasan hatinya untuk memprioritaskan kepentingan bersama di atas kepentingan individu dan kelompok.

Sebagaimana tampak pada fenomena Piagam Jakarta, dokumen historis sebagai hasil kompromi antara kecenderungan “kaku” Islamis dan nasionalis dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Semula sila pertama Pancasila yang termaktub dalam dokumen itu adalah “Ketoehanan, dengan kewajiban mendjalankan sjariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja”. Namun akhirnya tujuh kata dicoret dan berubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” seperti yang kita baca sekarang.

Pencoretan tujuh kata itu tak akan terjadi seandainya umat Islam keras kepala dan hanya memikirkan aspirasi kelompok. Protes keras kala itu datang dari mana-mana hingga pada tahap ancaman disintegrasi. Berkat kearifan sikap ulama-ulama kita yang menjadi bagian penentu rumusan dasar negara, Pancasila dengan narasi yang sekarang ini disepakati, dan Indonesia pun selamat dari perpecahan.

Amal jariyah

Perjuangan, pemikiran, dan kearifan para pendahulu tersebut memiliki dampat yang sangat besar hingga sekarang. Barangkali kita tidak akan mendapati kondisi Indonesia seaman ini kalau saja para pendiri bangsa sama-sama mengunggulkan ego mereka. Apa yang mereka korbankan sebentuk amal jariyah, jasa agung yang manfaatnya terus mengaliri perjalanan bangsa hingga kini.

Pancasila merupakan warisan luhur para pendahulu, termasuk ulama, yang sayapnya mampu menaungi seluruh elemen bangsa yang majemuk ini. Ia menjadi titik temu yang bagi umat Islam di beberapa negara Timur Tengah adalah hal yang masih sulit diraih, bahkan menimbulknan krisis kemanusiaan dengan korban jiwa yang tidak sedikit.

Kaum Muslim di Indonesia memiliki landasan yang kuat, di mana Islam dan kebangsaan berjalin saling menunjang. Nilai-nilai di dalam Pancasila adalah substansi ajaran yang juga menjadi prinsip dalam Islam. Pancasila memang bukan agama, tidak dapat menggantikan posisi agama, tapi butir-butirnya tidak bertentangan dengan agama.

Semangat itu pula yang pernah ditegaskan Nahdlatul Ulama pada Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdhatul Ulama di Situbondo pada tahun 1983 dalam “Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam”. Bagi NU, penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya. Sementara itu, Muhammadiyah menyebut negara berasas Pancasila ini sebagai Darul Ahdi was Syahadah atau negara konsensus nasional yang terdiri dari beragam agama, keyakinan, suku, dan ras.

Namun demikian, kita tidak bisa menampik adanya sentimen SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) dan radikalisme yang muncul di publik belakangan ini. Itu fakta yang mesti ditanggapi secara serius oleh tidak hanya aparat pemerintah tapi juga umat Islam sendiri secara umum. Meskipun, saya yakin, pelakunya sangat minoritas di antara mayoritas umat Islam Indonesia yang tetap ramah, toleran, moderat, dan menghargai budaya.

Amal jariyah para pendiri bangsa masih mengalir lancar hingga kini. Umat Islam punya sumbangsih besar dalam hal ini. Tentu bersama dengan komponen bangsa lain yang perannya tak bisa diremehkan. Umat Islam harus terus berbenah memperbaiki perannya, sembari itu harus istiqamah membangun potensinya yang demikian besar sebagai kekuatan penyangga utama negeri ini.

Penulis adalah Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara Hari Santri 2019

Senin, 29 Januari 2018

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror

Jakarta, Hari Santri 2019

Suasana kerukunan beragama di Indonesia kembali diuji. Ahad (28/8), Kota Medan dikagetkan dengan upaya teror berupa percobaan "bom bunuh diri" dengan pelaku seorang pemuda, IAH, berusia 17 tahun. Meskipun bom gagal meledak dan tidak ada korban jiwa, peristiwa ini patut dijadikan bahan pelajaran.

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum GP Ansor: Lindungi Anak-anak Kita Terlibat Aksi Teror

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, dalam rilisnya, menyebutkan bahwa kini gerakan terorisme telah menyasar beragam usia. Gerakan ini telah berhasil merekrut anak-anak muda untuk dicuci otaknya, kemudian diproyeksikan menjadi "pengantin".

Lebih jauh Gus Yaqut, panggilan akrabnya, mengatakan, "GP Ansor mengutuk keras upaya bom bunuh diri ini. Juga mendorong kepolisian mengusut tuntas pihak-pihak yang terlibat dan yang memerintah IAH."

Hari Santri 2019

Melihat realitas ini, lanjutnya, GP Ansor mengimbau kepada segenap elemen bangsa terutama ormas keagamaan untuk tidak menoleransi tumbuhnya benih-benih terorisme. Menurutnya, upaya bom bunuh diri di Medan secara jelas menunjukkan betapa kelompok-kelompok teror telah melebarkan sayapnya dengan merekrut anak-anak muda untuk dikorbankan.

Hari Santri 2019

“Oleh karena itulah, ormas harus menjadi pelindung bagi generasi muda. Dengan demikian, harus berperan pula sebagai benteng pertahanan yang melawan segenap upaya menumbuhkan benih-benih terorisme," tegas Ketua Umum PP GP ansor. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara, Humor Islam Hari Santri 2019

Kamis, 25 Januari 2018

Gerakkan 4 Program, LAZISNU Kudus Siap Gandeng Semua Pihak

Kudus, Hari Santri 2019. Setelah terbentuk awal Maret 2014 lalu, Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Kudus terus melakukan penataan manajemen dan menentukan langkah terobosan program kerja. Oleh karenanya, LAZISNU Kudus siap membangun kemitraan strategis dengan semua pihak dalam berbagai bidang dakwah, terutama? pendidikan, pemberdayaan dan kepedulian umat.

Gerakkan 4 Program, LAZISNU Kudus Siap Gandeng Semua Pihak (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakkan 4 Program, LAZISNU Kudus Siap Gandeng Semua Pihak (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakkan 4 Program, LAZISNU Kudus Siap Gandeng Semua Pihak

Ketua LAZISNU Kudus Sya’roni Suyanto mengatakan, LAZISNU merupakan menjadi bagian dari solusi metode dakwah fiqih modern dalam rangka mencerdaskan dan memberdayakan umat dengan menggalang sumber pembiyaan, menyalurkan dan mendayagunakannya sesuai ketentuan syar’i dan undang-undang yang berlaku.

“LAZISNU Kudus mempunyai empat program unggulan yang siap direalisasikan, yakni NU Smart bergerak di bidang pendidikan, NU Skills (bidang ketrampilan), NU Preneur (bidang kewirausahaan), dan NU Care (bidang tanggap darurat/kepedulian),” ujarnya di sela-sela penyantunan anak yatim di Kantor NU Kudus, Kamis (24/7).

Hari Santri 2019

Untuk menopang program tersebut, imbuh Sya’roni, LAZISNU mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, infaq, dan shadaqah dari muzakki atau dermawan, termasuk dari perusahaan yang siap menjadi mitra kerja.

“Semua upaya yang kita lakukan ini berdasarkan surat keputusan PP LAZISNU Nomor 03/SK/PP/LAZISNU/X2013 dan surat keputusan Menteri Agama RI nomor 65 tahun 2005 tanggal 16 Februari 2006 tentang LAZISNU sebagai Lembga Amil Zakat,” terangnya.

?

Hari Santri 2019

Dalam mengoptimalkan kerjanya, pihaknya telah melengkapi kepengurusan dan pelaksana harian dengan menunjuk Edi Wicaksono Abdurrased sebagai direktur LAZISNU Kudus dan dibantu beberapa manajer fundrising, manajer program, manajer administrasi dan keuangan.

“Sebagai program awal, pada? bulan Ramadhan ini LAZISNU turut? menyalurkan santunan uang tunai yang dibagikan kepada 180 anak yatim,” imbuh Sya’roni. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ulama, Nusantara Hari Santri 2019

Jumat, 19 Januari 2018

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya

Indonesia memiliki jumlah masjid paling banyak di dunia. Ada sekitar delapan ratus ribuan masjid yang tersebar dari Sabang hingga Merauke (Kemenag RI, 2014). Uniknya, sembilan puluh sembilan persen dari keseluruhan masjid di Indonesia dibangun dan dikelola masyarakat, sementara sisanya dibangun pemerintah. Hal ini berbeda dengan masjid-masjid yang ada di beberapa negara Islam. Di Arab Saudi, Kuwait, Iran, dan lainnya, masjid dibangun pemerintah. Tidak hanya itu, imam dan marbotnya diatur dan digaji oleh pemerintah.

Pada zaman Rasulullah, masjid menjadi pusat peradaban. Masjid dijadikan sebagai tempat untuk dakwah, pendidikan, pengembangan ekonomi, dan pelayanan sosial. Bahkan, para sahabat melakukan latihan perang pun di depan masjid. Masjid benar-benar dijadikan sebagai pusat kegiatan umat Islam. 

Saat ini, sebagian besar masjid di Indonesia hanya difungsikan sebagai tempat salat saja, tidak lebih. Jika ada masjid yang dijadikan sebagai tempat pemberdayaan masyarakat, itu pun jumlahnya tidak banyak. Kenapa bisa demikian? Sesuai dengan buku Pedoman Muharrik dan Ta’mir Masjid yang disusun Lembaga Ta’mir Masjid PBNU, ada tiga hal yang menyebabkan kondisi masjid di Indonesia seperti itu. Pertama, pengelola masjid yang tidak kompeten. Untuk mengembalikan fungsi masjid sebagaimana seperti zaman Rasulullah, maka dibutuhkan pengelola masjid yang inovatif, kreatif, dan memiliki kemampuan untuk memimpin dan mengelola masjid. 

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya

Kedua, tidak dikelola dengan serius. Pengelola dan pengurus masjid belum memiliki semangat yang tinggi untuk mengurusi masjid secara optimal. Biasanya mereka disibukkan dengan aktifitas kerja masing-masing sehingga kurang begitu memperhatikan masjidnya. Sehingga ada yang menyebut kalau sebagian besar masjid di Indonesia itu la yamutu wa la yahya (tidak hidup, mati pun segan), terutama dalam hal program kegiatannya. 

Ketiga, konflik antar pengelola. Biasanya, konflik antar pengelola disebabkan oleh perbedaan pendapat dalam mengurus masjid. Yang satu menginginkan seperti itu, sementara yang satunya lagi menginginkan seperti itu. Sehingga tidak ada titik temu antar keduanya karena mementingkan ego dan keinginannya masing-masing. Kalau konflik seperti itu dibiarkan, maka masjid akan terbengkalai dan program-programnya tidak jalan.

Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy menyebutkan bahwa masjid merupakan asas utama dan terpenting dalam pembentukan masyarakat Islam. Masyarakat Islam tidak akan terbentuk secara kukuh dan rapi kecuali dengan komitmen terhadap Islam. Hal ini tidak akan bisa ditumbuhkan kecuali dengan cara memakmurkan masjid.

Memakmurkan Rumah Allah

Hari Santri 2019

Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi-Ku adalah masjid-masjid. Dan sesungguhnya yang mendatangi-Ku adalah yang memakmurkannya. Maka beruntunglah orang-orang yang bersuci di rumahnya kemudian mendatangi-Ku di rumah-Ku, maka hak-Ku adalah memberi kemuliaan kepada orang yang datang ke rumah-Ku. (Hadist Qudsi)

Berbicara tentang kemakmuran masjid, maka ada tiga hal yang seharusnya menjadi fokus perhatian. Pertama, jamaah. Seperti hadist qudsi di atas, bahwa salah satu cara untuk mengukur suatu masjid makmur atau tidak adalah dengan cara melihat jamaahnya. Jika jamaahnya banyak, maka masjid tersebut makmur. Begitupun sebaliknya. 

Kedua, program kegiatan. Kemakmuran masjid juga bisa dilihat dari variasi kegiatan yang ada. Dalam hal ini, Lembaga Ta’mir Masjid PBNU memiliki tujuh program kegiatan untuk memakmurkan masjid. (a) Menjadikan masjid sebagai pusat penyebaran paham Aswaja. (b) Tempat penyuluhan kesehatan seperti mendirikan klinik di sekitar area masjid, khitanan masal, dan lainnya. (c) Pusat keilmuan seperti pengadaan Madrasah Diniyah, Taman Pendidikan Al-Qur’an, majelis ta’lim, dan lainnya. (d) Pusat pengembangan ekonomi umat seperti pendirian koperasi. (e) Pusat dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin seperti menyelenggarakan kajian dan pengajian. (f) Pusat kepedulian sosial seperti memberikan beasiswa bagi anak yang kurang mampu. (g) Mendoakan orang wafat seperti menyelenggarakan tahlil dan istighotsah bersama.   

Hari Santri 2019

Ketiga, finansial atau keuangan. Untuk memakmurkan masjid, setidaknya harus memiliki pendanaan yang cukup. Program-program masjid yang sudah disusun tersebut bisa terlaksana dengan baik jika ada anggaran yang memadahi. Kebutuhan, sarana dan prasarana masjid juga memerlukan bujet. 

Untuk itu, harus ada langkah yang tepat untuk mewujudkan kemandirian keuangan masjid. Salah satu cara menggalang dana adalah dengan mengaktifkan Gerakan Infak Sedekah Masjid (Gismas) sebagaimana yang digagas LTM PBNU. Pengurus masjid bisa menitipkan celengan di setiap rumah di sekitar masjid dan meminta pemilik rumah untuk mengisinya minimal seribu rupiah. Kalau seandainya ini berjalan dan misalnya ada tiga ratus celengan yang disebar pengurus masjid, maka akan terkumpul sembilan juta rupiah dalam waktu satu bulan. Tentu ini tidak mudah, butuh ketekunan, keuletan, dan konsistensi daripada pengurus masjid dan warga yang dititipi celengan Gismas tersebut.

 

Muchlishon Rochmat

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Nusantara, Pertandingan Hari Santri 2019

Perang Psikis di Dunia Maya, Savic: Ini Cara Menyikapinya

Semarang, Hari Santri 2019 - Savic Ali pendiri portal video online Nutizen dan media opini Islami.co ini menjelaskan, perang yang terjadi di internet bukanlah perang gagasan, tetapi perang psikis. Perang gagasan, kata dia, adalah adu argumen berpola ilmiah, plus didukung dalil untuk memperkuat sebuah gagasan.

Media radikal tidak melakukan itu. Mereka sudah menganggap pihaknya adalah yang benar, yang lain salah semua sehingga meski telah disanggah dengan argumen disertai bukti dan dalil yang kuat, mereka tidak akan menerima.

Perang Psikis di Dunia Maya, Savic: Ini Cara Menyikapinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Perang Psikis di Dunia Maya, Savic: Ini Cara Menyikapinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Perang Psikis di Dunia Maya, Savic: Ini Cara Menyikapinya

Jadi, sesungguhnya mereka berperang psikis. Intinya hanya menyerang, pokoknya ini, pokoknya begini. Persis seperti kirik (anak anjing). Kirik, kata Savic, badannya kecil tapi suaranya keras. Suka menggonggong dan gonggongannya sering membuat ciut nyali orang.

Hari Santri 2019

"Ibaratanya kirik, dia menggonggongi siapa saja. Jika orang yang digonggongi mengalah dengan menyingkir karena tidak mau ribut, maka ia akan semakin keras menggonggong dan semakin leluasa meneror. Apabila korbannya itu takut, dia mengejar. Semakin lari korbannya, semakin kencang ia mengejar," jelasnya.

Maka cara menghadapi situasi macam itu adalah menunjukkan kita tidak mau kalah. Tunjukkan keberanian. Hadapi anak anjing itu, berjongkoklah dan pelototi matanya, lalu ambil batu. Angkat batu sambil gertak dengan suara keras, maka dijamin ia akan diam lalu lari ketakutan.

"Ini bukan sungguh-sungguh mau melempar batu untuk melukai atau membunuhnya. Tapi hanya seolah-olah hendak melempar, sekadar menunjukkan respon yang setara atas kekurangajarannya meneror dengan gonggongan tersebut.? Inilah yang perlu kita lakukan di ranah media," tandas pria yang pernah nyantri di Kajen Pati ini. (Ichwan/Alhafiz K)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara, Sholawat Hari Santri 2019

Menikmati Irama Dzikir Peziarah

Setiap hari Jum’at-Ahad atau hari libur tanggal merah, suasana makam wali selalu dipenuhi oleh para peziarah dari penjuru kota di Indonesia. Bahkan bila datang bersamaan, tempat makam wali-wali itu hampir tidak muat menampung peziarah yang berombongan. 

Begitu pula halnya makam Syech Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) dan Raden Umar Said (Sunan Muria) selalu penuh sesak hingga harus ada yang menunggu di luar area makam. Suasana demikian tampak saat Hari Santri 2019 berziarah ke makam Sunaan Kudus, Jum’at malam (24/5).

Ketika Hari Santri 2019 baru masuk, ruangan makam sudah dipenuhi para peziarah. Dilihat dari logat bahasanya , mereka berasal dari beberapa daerah diantaranya Tasik, Pekalongan dan daerah Jawa timuran.

Tanpa menggunakan pengeras suara, mereka (peziarah) membaca  tahlilan, ada yang membaca Yasin dan berdo’a bersama dengan nada suara keras. Bagi yang rombongan, tahlilan dilakukan berjamaah dengan dipimpin seorang imam /kyai.

Menikmati Irama Dzikir Peziarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menikmati Irama Dzikir Peziarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menikmati Irama Dzikir Peziarah

Saat Tahlilan sudah mulai berdzikir, terasa keindahan irama masing-masing rombongan yang  duduknya bersebelahan di ruangan makam Sunan Kudus.  Dzikir yang dilafadzkan intonasi iramanya berbeda-beda yang dibarengi kekhusukan geleng kepala kekanan dan kekiri.

Disatu  rombongan melafadzkan dengan intonasi ditekan dan putus putus seperti "Laa..ilaaha illallah", begitu pula rombongan lainnya bernada datar menggunakan irama seperti nyanyian. Yang jelas, dari beberapa rombongan yang dalam satu ruangan makam itu sangat berbeda-beda.

Hari Santri 2019

Mendengar irama dzikir demikian, Hari Santri 2019 jadi teringat mauidhah hasanah Rois Am jamiyah Thariqoh al Mu’tabarah An nahdliyyah (Jatman) Habib Lutfiy bin Yahya. Dalam berbagai pengajian, Habib asal pekalongan ini selalu menegaskan suasana makam walisongo merupakan cermin keindahan dari keberagamaan dan perbedaan ummat.

“Meski satu duduk bersebelahan dalam satu ruangangan  dengan  melafadzkan kalimat yang sama (dzikir) namun  iramanya berbeda,  tidak terjadi gesekan dan pergunjingan padahal mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda pula. Inilah pelajaran yang berharga  dari indahnya kehidupan berbangsa dan beragama,”kata Habib Lutfiy suatu ketika dalam acara pengajain umum di Kudus.

Disamping itu, Walisongo ini memang mampu membawa keberkahan  segala aspek kehidupan mulai ekonomi, persaudaran dan kebersamaan. “Walisongo atau ulama yang sudah wafat memberkahi yang orang yang hidup,” tambah Habib singkat.

Hari Santri 2019

Dari apa yang disampaikan Habib ini memang benar. Bukan saja keberkahannya dalam berziarah tetapi dari irama dzikir para peziarah di makam sudah terasa keindahannya. Ketika kita di ruangan makam, terasa ada ketenangan dan keindahan meski penuh kebisingan irama dzikir para peziarah. (Qomarul Adib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara Hari Santri 2019

Selasa, 16 Januari 2018

PBNU Siapkan Materi Taqrir Jamai dan Metode Ilhaqul Masail bi Nazhairiha

Jakarta, Hari Santri 2019 - Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) menggelar bahtsul masail dan diskusi terbatas terkait taqrir jamai dan metode ilahaqul masail bi nazhairiha di Lantai 5 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (31/10) siang. Pengurus harian PBNU melakukan penguatan materi untuk dibawa di forum Munas dan Konbes NU 2017 akhir November mendatang.

“Semoga pertemuan ini memberikan manfaat dan membuahkan hasil sebagai bahan Munas NU 2017,” kata Rais Syuriyah PBNU KH Musthofa Aqil Siroj membuka forum diskusi.

PBNU Siapkan Materi Taqrir Jamai dan Metode Ilhaqul Masail bi Nazhairiha (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Siapkan Materi Taqrir Jamai dan Metode Ilhaqul Masail bi Nazhairiha (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Siapkan Materi Taqrir Jamai dan Metode Ilhaqul Masail bi Nazhairiha

Forum ini dihadiri oleh pengasuh pesantren dan sejumlah pengurus NU dari berbagai daerah. Hadir pada pertemuan ini Rais Syuriyah PBNU 2010-2015 KH Afifuddin Muhajir yang memberikan pengantar diskusi.

Hari Santri 2019

“Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari putusan Munas NU 1992 di Lampung terkait taqrir jamai dan ilhaq. Kita ingin mencari formula yang lebih rinci dan operasional kedua materi tersebut,” kata Wakil Ketua LBM PBNU Komisi Maudhuiyyah KH Abdul Moqsith Ghazali yang memandu forum.

Kiai Afif membuka forum dengan penjelasan terkait taqrir. Taqrir, menurutnya, adalah sebutan lain dari istilah tarjih.

Hari Santri 2019

“Kalau tarjih itu menyeleksi dalil, taqrir adalah memilih salah satu pendapat ulama yang beragam. Taqrir merupakan salah satu cara yang ditempuh untuk menyelesaikan pendapat ulama yang tampak ta’arud,” kata Kiai Afif.

Diskusi berlangsung dinamis. Peserta menanggapi dan memberikan masukan kepada panitia Munas NU 2017 terkait penguatan materi taqrir jamai dan ilhaqul masail bi nazhairiha. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara, Sejarah Hari Santri 2019

Jumat, 12 Januari 2018

Rakernas V Lakpesdam Diakhiri dengan Pembacaan Deklarasi

Batam, Hari Santri 2019. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia NU di Asrama Haji Batam diakhiri dengan pembacaan Deklarasi Lakpesdam, Kamis (16/4) sore.

Rakernas berlangsung sejak Selasa (14/4) yang diikuti oleh 70 Pengurus Cabang Lakpesdam NU dari 21 provinsi di Indonesia. Rakernas ditutup oleh Sekretaris PWNU Kepulauan Riau Muhammad Zainuddin.

Berikut ini bunyi deklarasi yang dibacakan oleh Sekretaris PW Lakpesdam NU Kepulauan Riau Abdul Jamil:

Rakernas V Lakpesdam Diakhiri dengan Pembacaan Deklarasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas V Lakpesdam Diakhiri dengan Pembacaan Deklarasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas V Lakpesdam Diakhiri dengan Pembacaan Deklarasi

?

DEKLARASI RAKERNAS LAKPESDAM NU

Hari Santri 2019

Asrama Haji Batam, 14-16 April 2015

Lakpesdam NU sebagai lembaga pelaksana PBNU dalam bidang kajian dan pengembangan sumber daya manusia diberi mandat untuk melaksanakan kaderisasi dan pemberdayaan, kajian strategis dalam lingkungan NU. Mandat ini dihadapkan pada tantangan-tantangan ke depan yang semakin kompkeks. Liberalisasi ekonomi dan perdagangan bebas di tingkat ASEAN yang telah merambah bangsa, tak terkecuali warga Nahdliyyin, masalah-masalah keagamaan yang dihadapi komunitas Nahdliyyin dan Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) dari kelompok-kelompok intoleran dan radikal, hingga berlakunya UU Desa telah meneguhkan Khittah Lakspedam NU sebagai organisasi pengkaderan dan pengkajian dan pemberdayaan yang berkiprah di tengah masyarakat bawah dalam bidang keagamaan dan sosial (diniyah ijtima’iyyah). Oleh karena itu, Lakpesdam NU seluruh Indonesia mendeklarasikan:

Lakpesdam NU menyatakan komitmennya untuk memposisikan sebagai garda depan pengkaderan NU dengan mengukuhkan Lakpesdam NU sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat sekaligus sebagai pusat kajian strategis ke-Aswaja-an dan ke-NU-an untuk mengawal Indonesia yang berdaulat dan bermartabat demi tercapainya kesejahteraan dan kemaslahatan bangsa. Lakpesdam NU berupaya menggerakkan organisasi NU dimulai dari bawah, dari tingkat ranting dan desa-desa untuk melaksanakan agenda-agenda NU dalam bidang keagamaan maupun dalam bidang sosial-kemasyarakan dan kebangsaan. Lakpesdam NU menyatakan kesungguhan tekad untuk memperkukuh komitmen kebangsaan yang berorientasi pada kemaslahatan umat (faqih fi mashalih al-khalq) untuk memperkuat relasi masyarakat warga terhadap kepentingan berbagai pihak. Lakpesdam NU dituntut untuk menjaga kewaspadaan, membangun kepeloporan, menumbuhkan harapan, dan menjadi pemberi inspirasi dan solusi dalam mengatasi masalah-masalah agama, sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat, sekaligus mampu mempengaruhi masyarakat untuk menumbuhkan etos kerja dan semangat yang tinggi dalam meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya, baik di bidang material maupun spiritual, untuk mencapai keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara dimensi ruhiyah dan waqi’iyah. Lakpesdam NU bertekad menyiapkan kader-kader yang mengawal negara agar merevitalisasi nilai-nilai kearifan lokal dalam upaya membangun harmoni sosial yang selaras dengan pencapaian harkat kemanusiaan yang sesungguhnya dalam rangka peneguhan nilai-nilai tawassuth (moderat) dan tasamuh (toleran). Lakpesdam NU bergerak untuk mobilisasi potensi kader dan warga dalam rangka penyiapan posisi-posisi strategis untuk pencapaian politik kebangsaan yang berdaulat dan bermartabat. Lakpesdam NU berkomitmen kembai ke desa dengan bergerak memperkuat kapasitas masyarakat desa demi pencapaian nilai-nilai luhur kebersamaan dalam rangka membangun dan mensejahterakan masyarakat desa yang bermartabat,berdaulat, dan berkeadilan. Batam, 16 April 2015

Hari Santri 2019

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Nusantara, Makam Hari Santri 2019

Pendiri PMII Setuju Organisasi Mahasiswa Islam Ini Kembali ke NU

Jakarta, Hari Santri 2019. Pada tahun 1972, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memutuskan independen dari NU karena kondisi politik saat itu mengharuskan demikian. Di era Orde Baru, jika tidak memisahkan diri dari NU, PMII terancam dibubarkan oleh pemerintah saat itu.

Pendiri PMII Setuju Organisasi Mahasiswa Islam Ini Kembali ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendiri PMII Setuju Organisasi Mahasiswa Islam Ini Kembali ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendiri PMII Setuju Organisasi Mahasiswa Islam Ini Kembali ke NU

“Sekarang, kondisi perpolitikan yang sudah normal. PMII harus kembali pada NU,” kata KH AN. Nuril Huda (76 tahun), salah satu pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kepada Hari Santri 2019 usai menjadi Khotib shalat Jum’at di Masjid An-Nahdlah PBNU, Jakarta, Jum’at (7/11).

Kiai Nuril menerangkan, penyelamatan dan penegakkan ideologi NU di dalam tubuh PMII menjadi sangat penting, sementara secara organisatoris NU tidak bisa mengontrol pergerakan kadernya yang tergabung dalam PMII.

Hari Santri 2019

“Untuk itu, sudah menjadi kewajiban PBNU untuk merangkul dan menjadi keharusan PMII untuk kembali. Itu kewajiban kita bersama berdasarkan Khittah 1926,” tegas mantan Ketua PP LDNU ini.

Kiai Nuril yang juga mantan anggota DPR RI ini juga menjamin, para kader PMII tidak akan terbatasi geraknya jika kembali ke NU.

Hari Santri 2019

“Bagi saya sebagai salah satu pendiri, ideologi Aswaja PMII adalah keyakinan agama. Persoalan indepedensi sudah selesai, bergeraklah sebebas mungkin, tapi tetap harus balik ke rumah,” pungkasnya dengan tegas. (Fathoni/Anam) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara, Aswaja, Kyai Hari Santri 2019

Jumat, 05 Januari 2018

Kiai Said: LSN untuk Perkuat Karakter Bangsa

Jakarta, Hari Santri 2019



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan, saat ini masyarakat Indonesia sedang mengalami krisis kebersamaan. Antar satu elemen dengan yang lainnya saling curiga dan tidak percaya.

Kiai Said: LSN untuk Perkuat Karakter Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: LSN untuk Perkuat Karakter Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: LSN untuk Perkuat Karakter Bangsa

“Satu sama lain curiga, satu sama lain tidak percaya, ingin mengancam kesatuan dan persatuan Indonesia,” kata Kiai Said dalam acara Peluncuran Liga Santri Nusantara (LSN) di Lantai 8 Gedung PBNU, Kamis (27/7).

Ia sangat mengapresiasi Liga Santri Nusantara (LSN) yang terselenggara atas kerja sama antara RMI NU dan Kemenpora RI. Menurutnya, olah raga sepak bola merupakan pilar kebersamaan dan pemersatu di bawah bendera NKRI.

Oleh sebab itu, ia mengaku sedih kalau ada sebuah pertandingan sepakbola yang menyebabkan korban hingga meninggal dunia. Ia meminta kepada semua pihak yang terlibat dalam LSN, baik pemain, pendukung, wasit, dan pemangku kepentingan, untuk menunjukkan bahwa LSN diselenggarakan berdasarkan akhlak, adab, dan juga profesionalisme.

Bahkan, lanjut Kiai Said, LSN adalah upaya untuk memperkuat karakter jatidiri bangsa Indonesia, terutama dalam bidang kejujuran dan sportifitas. Ia menerangkan, karakter adalah kunci dari berdirinya suatu bangsa. Kalau karakter suatu bangsa hancur, maka bangsa itu akan hancur pula.

Hari Santri 2019

“Tunjukkan melalui sepakbola, kita Islam yang damai, berakhlak, dan berbudaya,” pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pemurnian Aqidah, Nusantara Hari Santri 2019

Sabtu, 30 Desember 2017

PP IPPNU Buka Sayembara Cipta Puisi dan Cerpen

Jakarta, Hari Santri 2019. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) membuka sayembara penulisan puisi dan cerpen secara online. Pendaftaran dilayani mulai 21 April 2012 hingga 30 Juli 2012. Kategori peserta adalah pelajar dengan batas usia maksimal 25 tahun. Mereka yang sudah duduk di perguruan tinggi, masuk dalam hitungan. Peserta wajib mengirimkan hasil scane atau foto kartu pelajar, kartu mahasiswa, atau KTP.

Untuk lomba cipta karya puisi, pihak panitia memberikan sejumlah ketentuan. Puisi berbahasa Indonesia dengan tema Perempuan atau Pendidikan. Dengan jarak 1 ½ spasi, puisi ditulis dengan Font Times New Roman. Karya yang ikut kontes, murni ciptaan peserta. Karenanya, peserta melampirkan surat pernyataan berisi keaslian karyanya. Tema puisi pun tidak menyinggung isu pornografi, SARA, atau pelanggaran perundang-undangan yang berlaku.

PP IPPNU Buka Sayembara Cipta Puisi dan Cerpen (Sumber Gambar : Nu Online)
PP IPPNU Buka Sayembara Cipta Puisi dan Cerpen (Sumber Gambar : Nu Online)

PP IPPNU Buka Sayembara Cipta Puisi dan Cerpen

Sementara untuk cerpen, panitia memberikan keluasan tema, Pesantren, Perempuan, dan Pendidikan. Kontestan yang menggarap cerpen dengan tema Pesantren, haruslah seorang santri. Karenanya, ia mesti melampirkan hasil scane atau foto kartu tanda santrinya.

Hari Santri 2019

Karya belum pernah diikutkan dalam sebuah sayembara dan belum pernah dimuat di media massa manapun. Peserta diperkenankan mengirim lebih dari satu karya dengan catatan dikirim lewat email berbeda. Peserta wajib menyebarkan informasi sayembara yang tertera dalam facebook ‘Pimpinan Pusat Ippnu’ ke 10 teman facebook-nya. Peserta tidak sedang mengikutkan karya tersebut dalam satu sayembara.

Untuk mendaftarkan karyanya, seorang peserta dikenakan biaya sebesar Rp.20.000 untuk 1 puisi dan Rp.30.000 untuk 1 cerpen yang dikirim ke rekening Bank BNI Cabang Kramat, Jakarta Pusat dengan nomor 0091006801 atas nama ‘Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’.

Hari Santri 2019

Usai mentransfer, peserta mesti mengirimkan pesan ke nomor kontak panitia, 0853 3525 4365 dengan kalimat ‘Telah transfer sejumlah Rp.20.000 untuk pendaftaran Puisi (tulis judul puisi) atas nama (isi nama lengkap peserta)’ atau ‘Telah transfer sejumlah Rp.30.000 untuk pendaftaran Cerpen (tulis judul cerpen) atas nama (isi nama lengkap peserta)’.

Setelah lewati prosedur di atas, peserta bisa mengirimkan karyanya ke alamat email ‘pp.ippnu@yahoo.com’. Dalam email, peserta wajib mencantumkan nama lengkap, alamat, kode pos, nomor kontak, hasil scane atau foto slip setoran biaya pendaftaran, hasil scane atau foto kartu pelajar/kartu mahasiswa/KTP peserta, dan surat pernyataan keaslian karya. Karya dikirim dalam bentuk attachment. Untuk blanko Subject di email, peserta dapat mengisinya ‘Lomba Puisi-(Judul Puisi)-(Tema Puisi)-(Nama Pengarang)’ atau ‘Lomba Cerpen-(Judul Cerpen)-(Tema Cerpen)-(Nama Pengarang)’.

Panitia membukukan 40 puisi pilihan dari karya para kontestan. Cerpen pun demikian. Sejumlah 40 cerpen pilihan, akan dicetak dalam sebuah buku. Panitia menyediakan uang sebesar 2 juta bagi pemenang pertama cipta puisi, 1 ½ juta bagi pemenang kedua, dan 1 juta bagi pemenang ketiga.

Adapun lomba cipta cerpen, panitia menyediakan uang sebesar 3 juta bagi pemenang pertama, 2 juta bagi pemenang kedua, dan 1 juta bagi pemenang ketiga. Selain uang, panitia menyiapkan piagam penghargaan dan buku antologi karya pilihan bagi setiap pemenang.

Bagi yang berminat, pembaca dapat menggali keterangan lanjut dengan menghubungi Rien Zumaroh di nomor kontak 0853 3525 4365 atau PP IPPNU, (021) 3923268 Jl. Kramat Raya No. 164 Jakarta Pusat, 10430.

Pengumuman pemenang, akan diinformasikan di akun facebook ‘Pimpinan Pusat Ippnu’. Usai pengumuman, panitia selambatnya 2 minggu, akan mengirimkan hadiah ke rekening dan alamat pemenang. Sebelumnya panitia akan memastikan rekening dan alamat yang bersangkutan lewat email.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara, Khutbah Hari Santri 2019

Rabu, 27 Desember 2017

MTs Maarif Tembarak Juara Umum Porsema Temanggung 2017

Temanggung, Hari Santri 2019. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Maarif Tembarak di Selopampang Temanggung kembali menjadi juara umum dalam ajang Pekan Olahraga dan Seni Maarif (Porsema) tingkat Kabupaten Temanggung Jawa Tengah 2017.?

Porsema yang digelar Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU Temanggung itu terpusat di MAN Kowangan berlangsung selama dua hari, akhir pekan lalu.

MTs Maarif Tembarak Juara Umum Porsema Temanggung 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Maarif Tembarak Juara Umum Porsema Temanggung 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Maarif Tembarak Juara Umum Porsema Temanggung 2017

"Porsema tahun ini, kita meraih prestasi yang cukup membanggakan. Kita mendapat 14 emas, ? 3 perak 3 dan 1 perunggu, dinobatkan menjadi juara umum," ucap Kepala MTs Maarif ? Tembarak M Rohmatullah usai menyerahkan tropi, piagam penghargaan dan uang pembinan kepada siswa ? berprestasi dikemas dalam upacara bendera di halaman madrasah, Senin (6/2) kemarin.

Aktivis muda NU itu merinci , 14 emas itu diantaranya; juara I Olimpiade Matematika diraih oleh Virda Agustina, juara I Olimpiade IPA (Avita Khilyatul Hafni), juara I Olimpiade Ke-NU-an (Laelatul Azizah), juara I pidato bahasa jawa (M. Azza Iqdam M), juara I pidato bahasa Indonesia (Umi Nur Haeni), juara I pidato bahasa arab (Linainil Muna).

Hari Santri 2019

Selanjutnya, juara I puisi religi siswa putra (M. Adip Fauzi Hidayat), juara I puisi religi putri (Linda Listyani), juara I cerdas tangkas Ke-NU-an (Team siswa MTs Maarif Tembarak), juara I lari marathon 5 km putra (M. Husein Basri), juara I lari marathon 5 km putri (Ani Roudhotussarifah), juara I catur putri (Rema Wahyu Sari).

Adapun 3 perunggu, diantaranya; juara 2 lomba karya ilmiah IPA ? oleh ? tim terdiri 3 orang siswa (Laeli, Nela dan Mujib), juara 2 lomba poster (Fajar Pramudiyo), juara 2 Bulu Tangkis Putri (Saparyatun) dan terakhir 1 perunggu, yakni; juara 3 Olimpiade IPS (Maulidya Syifa Annisa).

Hari Santri 2019

"Prestasi ini, akan tetap kita pertahankan dalam Porsema yang akan datang. Saat ini, kami fokus menyiapkan diri ? untuk berlaga dalam Porsema tingkat Jawa Tengah yang akan digelar di Kabupaten Jepara 18-21 Mei mendatang," ungkapnya. ?

Wakil Kepala MTs Maarif Tembarak Mukhtar Hadi Purwanto menambahkan, untuk menyongsong Porsema tingkat Jateng, supaya mendapat prestasi yang membanggakan sebagai wakil Temanggung, saat ini siswa-siswa yang kini menjadi juara umum tingkat Kabupaten terus digembleng dan dilatih secara intensif dengan bimbingan para pelatih, selain pelatih, juga melibatkan alumni.

"Prestasi yang kita capai ini, bukti kami sungguh-sungguh dalam mengelola madrasah. Kami berharap sekolah yang berlokasi di Jalan Simpang Empat Desa Kacepit Selopampang ini bisa tambah maju, makin dipercaya dan menjadi idola masyarakat," harapnya. (Ahsan Fauzi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nusantara, Ahlussunnah Hari Santri 2019

Jumat, 22 Desember 2017

Propaganda Kelompok Takfiri Jelas Gerakan Politik, Bukan Gerakan Agama

Subang, Hari Santri 2019 - Gerakan takfiri yang menuduh bahwa selain kelompoknya adalah kafir dinilai sebagai gerakan yang tidak murni gerakan agama tetapi ditunggangi gerakan politik. Dalam gerakan takfiri itu terdapat muatan politik yang ingin merebut kekuasaan yang sah.

"Ternyata gerakan takfiri ini ujung-ujungnya hormat bendera haram, pemerintah itu thaghut, Pancasila thaghut, tentara dan polisi thagut dan seterusnya sehingga pemerintahan yang ada sekarang harus digulingkan," kata Ketua MWCNU Cipeundeuy Kabupaten Subang KH Asep Zarkasih dalam pengajian walimatul arsy di Subang. Sabtu (16/9) malam.

Propaganda Kelompok Takfiri Jelas Gerakan Politik, Bukan Gerakan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Propaganda Kelompok Takfiri Jelas Gerakan Politik, Bukan Gerakan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Propaganda Kelompok Takfiri Jelas Gerakan Politik, Bukan Gerakan Agama

Ditambahkan, jika takfiri ini murni gerakan agama tentu saja akan mengusung nilai-nilai akhlak karena akhlak merupakan bagian penting yang tidak bisa lepas dari ajaran agama Islam. Dalam kisah Nabi Muhammad pun sudah banyak diceritakan tentang keluhuran akhlak Rasulullah dalam berdakwah.

Hari Santri 2019

Selain itu, kata dia, ajaran Islam yang cocok diterapkan di bumi Nusantara adalah ajaran Islam Ahlussunah wal Jamaah (aswaja) karena ajaran Aswaja telah terbukti berhasil menyatukan bangsa Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, adat dan suku bangsa dan bahasa.

"Organisasi yang membentengi ajaran Ahlussunah wal Jamaah di Indonesia adalah NU," ujarnya.

Ia melanjutkan, dalam berdakwah NU selalu mengedepankan akhlakul karimah sehingga NU bisa berdampingan dengan siapa pun dan kelompok mana pun termasuk dengan kelompok takfiri. Hanya saja kelompok ini selalu menganggap dan menuduh kafir kepada ajaran dan amaliah NU sehingga tuduhan-tuduhan miring yang dialamatkan kepada NU tersebut perlu diluruskan dan diklarifikasi. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pendidikan, Nusantara Hari Santri 2019

Selasa, 19 Desember 2017

PBNU Kunjungi Pesantren Salaf di Maroko

Tanger, Hari Santri 2019. Di antara Rangkaian kegiatan kunjungan delegasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) adalah kunjungan ke pesantren salaf di Maroko, tepatnya di Pesantren Talimul Atiq Imam Nafie, kota Tanger.

Rombongan yang terdiri dari Katib Syuriyah KH Musthofa Aqiel Siradj, Ketua LBM KH Zulfa Mustofa, wakil LBM KH Mahfudz Asirun selaku dan Dr H Nasrullah Jasam beserta Pensosbud KBRI Rabat Suparman Hasibuan tiba di Tanger, Senin (25/3) dan disambut langsung oleh Direktur Imam Nafie, Syeikh Dr Mohamed Saidi dengan senang hati.

PBNU Kunjungi Pesantren Salaf di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Kunjungi Pesantren Salaf di Maroko (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Kunjungi Pesantren Salaf di Maroko

Kedatangan mereka bertujuan untuk menindaklanjuti pengiriman beasiswa yang telah terbina beberapa tahun lalu agar terus berlanjut. Selanjutnya, mereka juga mendatangi Majlis Ilmi untuk menawarkan kerjasama tukar fatwa.

Hari Santri 2019

Pada kesempatan itu juga, mereka menyempatkan untuk bertatap muka bersama para mahasiswa delegasi PBNU 2010 yang tengah belajar di pesantren Talimul Atiq Imam Nafie di kota Tanger.

"Kami merasa bangga dengan keberadaan kalian di sini, sebagaimana yang disampaikan oleh direktur Imam Nafie kalian telah mampu bersaing dengan para pelajar lainnya,” ujar Katib Syuriyah KH Musthofa Aqiel Siradj.

Hari Santri 2019

"Hal inilah yang membuat kami semakin yakin dan optimis bahwa kerjasama ini akan kembali terjalin dengan baik," imbuh Nasrullah Jasam.

Pertemuan ini, juga di hadiri oleh segenap jajaran Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko guna membahas program besar PCINU Maroko ke depan yang tentunya membutuhkan perhatian dan bantuan dari PBNU demi suksesnya program yang telah direncanakan.

Sebelum acara ditutup, ketua tanfidziyah PCINU Maroko, Muannif Ridwan meminta kepada Katib Syuriyah KH Musthofa Aqiel Siradj dan Ketua LBM PBNU KH Zulfa Mustofa untuk meresmikan website baru PCINU Maroko yang didampingi oleh Koordinator Lajnah Talif wa Nasyr PCINU Maroko, Kusnadi El-Ghezwa. Selanjutnya acara ditutup dengan doa oleh KH Mahfudz Asirun selaku wakil LBM PBNU dan dilanjutkan dengan berziarah ke makam Ibnu Batutah, sang penjelajah dunia.

Kunjungan yang sama juga telah dilakukan pada hari sebelumnya, tepatnya di makam Syeikh Ahmad at-Tijani pendiri Thariqat Tijaniyah yang berada di kota Fes dan lima tempat lainnya dengan didampingi oleh Dubes RI Untuk Kerajaan Maroko H. Tosari Widjaja beserta sekprinya, Mr. Nasser, kepala kerjasama luar negeri direktorat urusan islam kementrian wakaf Maroko dan syeikh Abdel Majed El Mardhi, imam masjid Al-Qarawiyin serta mme. Aicha dari kantor wilayah Fes Kementrian wakaf Maroko.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Kusnadi El-Ghezwa? (Koordinator Lajnah Talif wa Nasyr PCINU Maroko)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, Nusantara Hari Santri 2019

Rabu, 06 September 2017

GP Ansor Yogya Selenggarakan Konferwil Ke- XV

Yogyakarta, Hari Santri 2019

Pimpinan Wilayah GP Ansor DIY menyelenggarakan Konferensi Wilayah (Konferwil) ke-XV di Gedung Asrama Haji DIY, Ahad (19/2). Konferwil tersebut mengambil tema Membela Aswaja untuk Jogja Istimewa dan Indonesia.

GP Ansor Yogya Selenggarakan Konferwil Ke- XV (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Yogya Selenggarakan Konferwil Ke- XV (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Yogya Selenggarakan Konferwil Ke- XV

Acara yang dimulai pukul 09.30 itu dihadiri ratusan kader GP Ansor dan Banser se-DIY.? Beberapa jajaran pengurus PWNU DIY yang hadir dalam acara ini di antaranya adalah Rais Syuriah KH Mas’ud Masduqi, Wakil Rais KH Zuhdi Muhdlor, Wakil Rais KH Hilmy Muhammad, Ketua PWNU Prof. Dr. H. Nizar Ali, MA. dan Wakil Ketua Prof. Dr. H. Purwo Santoso, MA. Hadir juga sejumlah undangan dari pemerintahan dan dari pondok pesantren se-DIY.

Ketua PWNU Prof. Dr. H. Nizar Ali, MA dalam sambutannya mengucapkan selamat kepada GP Ansor yang menggelar Konferwil ke-XV. “Semoga konferwil ini berjalan dengan lancar, baik dan menghasilkan keputusan-keputusan yang maslahah untuk NU dan Indonesia. Selamat berkonferwil. Mudah-mudahan rekomendasi dari konferwil ini bisa dijalankan dengan baik untuk organisasi ke depan,” tegasnya.

Hari Santri 2019

Sementara itu, Ketua GP Ansor DIY Fairuz menegaskan bahwa NKRI membutuhkan para pemuda yang berkarakter kuat tentang keindonesiaan. “Tidak ada organisasi pemuda yang begitu kuat menanamkan karakter kebangsaan selain GP Ansor. Dari Mars Ansor dan Banser saja, sudah bisa dilihat hal itu,” ungkap Sahabat Fairuz di hadapan para peserta.

Dan tidak ada organisasi pemuda, lanjut Fairuz, yang memiliki dua fungsi sekaligus seperti GP Ansor. “GP Ansor menjalankan dua fungsi sekaligus, yakni berdakwah ke masyarakat dan menjaga dengan teguh NKRI,” tegas Fairuz.

Hari Santri 2019

Fairuz juga mengungkapkan bahwa selama empat tahun kepengurusannya, fokus membangun fondasi agar Ansor di DIY tidak keluar rel, yakni rel dakwah dan rel menjaga NKRI.

Dalam acara tersebut, mewakili Kapolda DIY, H. Ahmad Hanafi memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada GP Ansor. “GP Ansor adalah organisasi pemuda yang istiqamah menjaga NKRI dan toleransi keagamaan di Indonesia. Setiap ada masalah intoleransi keagamaan, Polda DIY pasti bekerja sama dengan GP Ansor,” tegas Hanafi yang disambut riuh tepuk tangan para peserta.

Pada perhelatan Konferwil ke-XV ini, akan dipilih ketua baru GP Ansor untuk empat tahun mendatang. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pendidikan, Nusantara, Pondok Pesantren Hari Santri 2019

Senin, 10 Juli 2017

Ketua MWCNU Bulakamba Nahkodai PGRI Cabang Khusus

Brebes, Hari Santri 2019. Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, H Moh Robikhun didaulat menakhodai PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) Cabang Khusus Kabupaten Brebes periode 2015-2020.

Ketua MWCNU Bulakamba Nahkodai PGRI Cabang Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua MWCNU Bulakamba Nahkodai PGRI Cabang Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua MWCNU Bulakamba Nahkodai PGRI Cabang Khusus

Robikhun menggantikan Dra Hj Chulasoh MPd setelah terpilih dalam pemungutan suara pada konferensi cabang khusus di Aula MTs Negeri Brebes, beberapa waktu lalu. Robikhun berhasil mendapatkan 9 suara dari total 17 suara. Sementara calon lain, Ahmad Shofi mendapatkan 5 suara dan H Sudardjo mendapatkan 3 suara.

Dengan demikian pria kelahiran Siwuluh, 22 September 1969 ini harus menjalankan program PGRI di lingkungan Kementerian Agama di Kabupaten Brebes. Dia didampingi sekretaris Drs Ahmad Shofi dan Bendahara H Maskuri serta 12 seksi bidang.

Hari Santri 2019

Dalam programnya, Robikhun ingin mengantarkan anggota PGRI di cabang khusus ini lebih sejahtera. Menurutnya, PGRI cabang khusus memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam berorganisasi profesi. “Tidak ada perbedaan antara hak dan kewajiban anggota dengan teman-teman guru lain yang tercatat di kementerian pendidikan,” terang Robikhun.

Hari Santri 2019

Untuk itu, dalam programnya? dia akan terus berkonsolidasi dengan anggota dan pembentukan ranting ditiap-tiap satuan kerja. “Kalau sekolah tersebut ada 20 anggota maka bisa dibentuk satu ranting,” ucap Robikhun yang juga Ketua MWC NU Bulakamba.

Diterangkan, hingga saat ini, anggota yang tergabung dalam Cabang khusus ada? 521 orang sedangkan sebelumnya hanya ada 460 oran. “Alhamdulillah terdapat peningkatan anggota,” tutur suami dari Hj Sofuah ibni H Syatori.

Untuk sementara, yang tergabung dalam PGRI cabang khusus baru guru dan TU yang sudah PNS. Sementara Guru Tidak Tetap (GTT), Guru Tetap Yayasan (GTY) maupun Tenaga? Tidak Tetap (TTT) belum masuk jadi anggota PGRI Cabang khusus karena terkendala besarnya iuran yang harus ditanggung oleh anggota. Padahal, guru dan TU yang ada di kementerian agama dari RA, MI, MTs, MA mencapai belasan ribu. “Bahkan mayoritas, guru-guru di kementerian agama berada dibawah yayasan yang nota bene mereka adalah guru-guru dan TU swasta,” paparnya.

Permasalahan ini, akan dibawa ke PGRI Kabupaten maupun Provinsi dan Pengurus Besar, agar keberadaan mereka tetap diakomodir dengan tidak dikenakan iuran ataupun dengan solusi terbaik lainnya dengan cara meningkatkan kesejahteraan mereka. Sehingga bisa menjadi anggota yang aktif. “GTT, GTY, TTT pada hakekatnya sama-sama guru dan memperjuangkan pendidikan anak-anak bangsa,” pungkasnya. (Wasdiun/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Nusantara Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock