Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Tim Robot MA Unggulan Nuris Raih Juara 3 dan Best Design

Jember, Hari Santri 2019 - Tim robot MA Unggulan Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember kembali mengukir prestasi dalam kompetisi robotika se-Jawa Timur di kampus Universitas Narotama, Surabaya, belum lama ini. Dalam kompetisi yang bertajuk Robot Line Follower tersebut, tim robot MA Unggulan Nuris digawangi oleh Miftahul Ulum dan M Firman? Muhaimin. Keduanya mengikutkan dua robot sekaligus dalam lomba tersebut. Robot pertama berhasil meraih juara tiga. Sedangkan robot kedua menyabet kategori best design.

Alhamdulillah, kami bangga bisa meriah prestasi, walaupun cuma juara tiga,” ujar Firman di sela-sela kegiatan sekolah di Jember, Sabtu (11/2).

Tim Robot MA Unggulan Nuris Raih Juara 3 dan Best Design (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Robot MA Unggulan Nuris Raih Juara 3 dan Best Design (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Robot MA Unggulan Nuris Raih Juara 3 dan Best Design

Kebanggaan yang dirasakan Firman bisa dimafhumi. Sebab, MA Ungguan Nuris merupakan satu-satunya madrasah yang meraih juara dalam ajang tersebut. Kompetisi itu sendiri diikuti oleh 21 tim dari SMA dan yang sederajat se-Jawa Timur.

Hari Santri 2019

Menurut Firman, dalam lomba tersebut robot harus disusun dengan dimensi tak melebihi 20 sentimeter dengan bobot maksimal 2 kilogram. Robot dilarang menggunakan bahan bakar minyak dan tegangan baterai maksimal 12 volts. “Jadi merancangnya harus benar-benar pas,” ucap siswa kelas X IPA-A MA Unggulan Nuris itu.

Ia menambahkan, lomba itu cukup sulit. Semua robot harus mampu melewati medan lintasan berupa garis (line-follower) berwarna hitam dengan dasar putih dalam waktu tiga menit. Garis putus-putus di lintasan merupakan kesulitan tersendiri bagi robot. “Sebab, sensor robot bisa-bisa tidak bekerja dengan baik karena bingung. Penilaian dilihat dari desain, kecepatan, dan ketepatan robot berjalan di garis yang telah disediakan panitia,” lanjutnya.

Hari Santri 2019

Secara terpsiah, Kepala MA Unggulan Nuris Jember Ning Balqis Al-Humairo mengapresiasi capaian yang diraih anak didiknya itu. “Saya bersyukur atas prestasi anak-anak kami yang telah mampu menorehkan prestasi robotika ini. Semoga ke depan anak-anak terus terpacu untuk meningkatkan prestasi di segala bidang yang mereka kuasai. Amin,” katanya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News, Tokoh Hari Santri 2019

Minggu, 11 Februari 2018

Novelisasi Sejarah, antara Sastra dan Pelecehan Sejarah

Setelah genre fiksi islami hampir ‘habis’, dunia sastra kita belakangan sedang kebanjiran sastra sejarah, juga sastra biografi. Sampai-sampai helatan sastra genre ini secara khusus digelar secara akbar; Borobudor Writers % Cultural Festival di Magelang, belum lama.

Sebenarnya, menulis cerita rekaan atau fiksi yang gagasan dasarnya diambil dari catatan sejarah, bukanlah barang baru di negeri ini, setidaknya itu bisa ditelisik dalam hampir semua karya-karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, sebutlah salah satu karya besarnya; Arus balik. Tetapi genre penulisan sastra sejarah tidaklah berjubal dan semencolok akhir-akhir ini.

Novelisasi Sejarah, antara Sastra dan Pelecehan Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Novelisasi Sejarah, antara Sastra dan Pelecehan Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Novelisasi Sejarah, antara Sastra dan Pelecehan Sejarah

Dan, problem yang masih ditinggalkan dalam perhelatan akbar itu adalah; sejauh mana seorang penulis bisa  mengeksplorasi sejarah itu ke dalam dunia fiksi? Atau sejauh mana batas-etik antara penuturan ulang fakta sejarah itu, sehingga tidak berdampak pada kemungkinan pelecehan pada fakta sejarah? 

Hari Santri 2019

Pertanyaan tersebut penting diajukan. Sebab, kebanyakan penulis masih meyakini bahwa dunia novel-sejarah adalah dunia bebas berimajinasi dan suka-suka dalam menuangkan idenya. Tetapi dampak dari sikap gegebah ini sungguh tidak sepele, yaitu hak anak bangsa mendapatkan fakta sejarah tercidrai, dan sebaliknya mereka akan mendapatkan sejarah palsu dan menyesatkan.

Kegelisahan ini patut disebut disini, jika misalnya kita menelisik novel sejarah Wali Songo, karya Damar Shasangka, sang penulis mendedahkan sejarah versi baru dengan berkesimpulan. Misalnya, Sunan Giri menitahkan pembakaran lontar-lontar agama leluhur, Siwa Budha, yang masih banyak disimpan penduduk Jawa. Kemudian oleh penerbit dibuatlah atas sinopsis yang mencengangkan kesadaran ilmiah ini dikatakan secara besar-besaran sebagai Novel Sejarah Terbaik tahun Ini! Tetapi, benarkah demikian?

Sejarawan Thomas Stamford Raflles, dalam bukunya The History of Java, menuturkan bahwa drama penyebaran Islam di tanah Jawa oleh Wali Songo misalnya, sama sekali tidak seperti yang dituturkan penulis novel tersebut. Tetapi prosesnya dilakukan dengan cara damai dan inkulturasi, dan itu sama sekali tidak menghakimi sesat atau bid’ah tradisi masyarakat Jawa, apalagi sampai membakar khazanah intelektual, sekalipun tradisi tersebut berbau animistik-Hinduistik. 

Hari Santri 2019

Misalnya, mereka tidak menghancurkan candi-candi, tidak pula menganjurkan pribumi untuk memakai gamis, memelihara jenggot dan lain sebagainya. Tapi, Wali Songo malah mengarifi budaya lokal setempat dengan menjadikannya sebagai instrumen penyebaran Islam, disinilah peran pesantren sangat siginifikan. Misalnya pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya dan Sunan Giri di Giri yang terus mengajarkan ajaran guru bhakti sebagai etika islam-Jawa, padahal guru bhakti berasal dari kearifan lokal (hindu).

Selanjutnya, keluaran pesantren Giri ini banyak yang diundang ke Maluku Untuk mengajarkan agama Islam. Pada saat itu Pesantren (bisa disebut Padepokan) tidak saja digunakan untuk mengaji dalam pengertian an-sich, akan tetapi juga  dipergunakan sebagai alat kebudayaan, sebagaimana telah dipraktikkan oleh Sunan Kalijaga yang memanfaatkan wayang dan tembang untuk menarik masa agar masuk Islam. 

Sunan Kalijaga adalah pencipta wayang kulit dan tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang, dan kini kesenian itu menjadi kesenian tradisional Jawa yang paling popular hingga saat ini. 

Sunan Kalijaga tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, namun telah dipangkasi akar-akar hinduisme di dalamnya. Di dalam cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam. 

Kesenian-kesinian lain juga dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad, dan sebagainya), seni bangunan dan seni ukir. Masih terawatnya candi-candi bangunan hindu-budha hinga kini (bahkan masjid yang berarsitektur candi seperti di Masjid Kudus, Masjid Giri dan lain sebagainya), juga populernya cerita Ramayana di kalangan Islam-Jawa, sebagai bukti, bahwa para Wali Songo, sungguh begitu merawat khazanah lokal.

Selain Raflles, masih banyak sejarawan ahli yang berpendapat serupa, beberapa bisa disinggung disini: PA van der Lith, dalam ‘Ajaib al-Hind, (Leiden, Brill, 1883), WP. Groeneveld, dalam “Notes on The Malay Archipelogo and  Malacca Compiled from Chines Sources”, (VBG, 39, 1880), Syed M. Naquib Al-Attas dalam Historical Fact and Fiction,  UTM-CASIS, (Kuala Lumpur, 2011), Marshal Hodgson dalam The Venture of Islam, (The University of Chicago Press, 1974), Nikii Keddie dalam Islam and Society in Minangkabau and in the Middle East: Coparative Reflections, dalam Sojourn,  Volume 2, No. 1 Tahun 1987). Sartono Kartodirdjo, Protest Movement in Rural Java, (Kuala Lumpur: Oxford University  Press, 1978) dan lain sebagainya. 

Tidak hanya itu, novel Wali Songo juga menyebutkan data kontroversial yang belum bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah dan banyak cela yang bisa kita perdebatkan; katanya Nyo Lay Wa, adalah seorang muslim China yang ditahbiskan menjadi raja Majapahit. 

Kembali ke genre sastra sejarah. Perbincangan sastra jenis ini semakin kuat sejak munculnya buku The Mirror and The Lamp karya M.H. Abrams. Buku Abrams ini kemudian menjadi induk teori pendekatan terhadap kajian karya sastra yang menjadi pegangan utama para kritikus dan pencipta. 

Abrams menyebutkan ada empat pendekatan terhadap karya sastra, satu di antaranya adalah cermin sejarah, atau yang biasa disebutnya sebagai teori mimesis. Artinya dalam teori ini fakta sejarah ditulis ulang dengan pendekatan sastra. Tetapi bagi Abrahams, jika penulis memilih jalan ini, secara etika haruslah ia berpedoman pada data-data ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Karena dalam genre ini mengikutkan refrensi sebagai sumber cerita atau mendahuluinya dengan penelitian adalah keharusan secara etik. 

Oleh karena itu layak bagi kita kemudian mengajukan sebuah pertanyaan, ada misi apa dengan penulisan novel sejarah Wali Songo versi Damar itu? Benarkah penulisnya hanya sekadar cari sensasi, dan memosisikan dirinya hanya sebagai pabrik cerita yang asal saja tulis, karena kehidupan ekonominya benar-benar sulit, sebagaimana yang disinyalir oleh Yudhi Aw (salah seorang peserta festival itu), penulis novel Diponegoro, bahwa seorang penulis baru seperti Damar mungkin hanya mendapatkan honor 3 sampai 4 juta perjudul buku, dan untuk hidup selanjutnya ia harus menulis lagi, karenanya tak mungkin melakukan riset secara serius. 

Kalau demikian adanya, celaka benar nasib generasi muda yang mewarisi karya asal jadi seperti ini? Wallahu Alam Bishawab. (Penulis adalah aktivis Lesbumi D.I.Y dan Dosen Filsafat di STAIS Al-Muhsin Yogyakarta)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh, Ubudiyah, Quote Hari Santri 2019

Minggu, 28 Januari 2018

Doa Embus Air dari Hidung saat Wudhu

Air yang dihirup ke dalam hidung saat berwudhu, dihembuskan kembali. Doa ini dibaca sesaat sebelum pengembusan air dari hidung. Doa ini dibaca dengan harapan air membawa kotoran, setan, dan penyakit yang bersarang di dalam hidung.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa Embus Air dari Hidung saat Wudhu (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Embus Air dari Hidung saat Wudhu (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Embus Air dari Hidung saat Wudhu

Allâhumma innî a‘ûdzubika min rawâ’ihin nâri wa min sû’id dâri

Hari Santri 2019

Artinya, “Hai Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bau api neraka dan dari kejahatan neraka itu sendiri,” (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta). (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Kajian Islam, Tokoh Hari Santri 2019

Jumat, 26 Januari 2018

Bupati Probolinggo: Santri Harus Mampu Terapkan Ilmunya

Probolinggo, Hari Santri 2019. Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari menyampaikan agar santri jangan hanya mampu menghafal Al-Qur’an atau kitab kuning namun harus mampu menerapkan ilmunya dalam kehidupan bermasyarakat dan menegakkan kebenaran.

Bupati Probolinggo: Santri Harus Mampu Terapkan Ilmunya (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Probolinggo: Santri Harus Mampu Terapkan Ilmunya (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Probolinggo: Santri Harus Mampu Terapkan Ilmunya

Hal tersebut disampaikan Bupati Probolinggo ketika menghadiri Haflatul Imtihan Santriwati Pondok Pesantren Zainul Hasan (Zaha) Genggong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo, Kamis (11/5).?

“Santri jangan hanya pandai membaca kitab namun juga harus pintar berkreasi dan berinovasi,” katanya.

Kepada para orang tua, Tantri menyampaikan ucapan selamat karena telah mampu mengantarkan anaknya berhasil lulus serta berharap agar menghantarkannya ke jenjang pendidikan berikutnya. Dengan harapan agar ilmu yang telah didapat oleh para santri menjadi ilmu yang barokah dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama orang tua dan guru.

Hari Santri 2019

“Saya yakin semua lulusan Pesantren Zainul Hasan sudah dibekali ilmu dan akhlakul karimah. Semoga dengan itu semua mereka mampu mengarungi segenap tantangan zaman ke depan yang semakin komplek. Semoga apa yang menjadi cita-cita para santriwan dan santriwati dikabulkan oleh Allah dan mereka para santri mampu menerapkan ilmu dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.

Tantri sangat miris terhadap kondisi zaman saat ini yang generasi mudanya makin tipis akhlaknya dan arogan dengan segala kemampuan intelektualitas dan intelegensia yang dimilikinya.?

“Pondok Pesantren Zaha bersama yayasan pendidikan yang dimilikinya adalah tempat yang paling terpercaya dan sarana paling tepat untuk menitipkan putra dan putri kita selama masa pendidikan dan pembangunan karakter mereka,” terangnya.

Menurut Tantri, kegiatan haflatul imtihan ini membawa kebarokahan bagi rakyat kecil di sekitar pesantren. Dampak ramainya kehadiran pengunjung kepada para pengusaha kecil maupun pengusaha tempat parkir dadakan merupakan kebarokahan tersendiri dari peringatan Haflatul Imtihan Pondok Pesantren Zaha Genggong.?

Hari Santri 2019

Haflatul Imtihan yang selalu mampu menyedot kehadiran umat Islam ini tentu memiliki peran penting dalam memperkenalkan peran dan kualitas pendidikan madrasah untuk masyarakat luas, khususnya masyarakat Kabupaten Probolinggo sendiri.?

Setiap acara baik malam pertama maupun malam kedua selalu dibalut dalam suguhan-suguhan hiburan modern namun tetap bernuansa Islami dengan menampilkan kreatifitas dan keterampilan dari para santri sendiri. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh Hari Santri 2019

KMNU Unila Punya Ketua Baru

Bandarlampung, Hari Santri 2019

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Lampung (Unila) secara resmi memilih Ahmad Nur Fuadi sebagai ketua baru periode 2016-2017 dalam Musyawarah Anggota yang digelar di Kantor Kesekretariatan KMNU Unila, Bandarlampung, Lampung.



KMNU Unila Punya Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU Unila Punya Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU Unila Punya Ketua Baru



Fuad, begitu ia biasa dipanggil, menggantikan ketua periode sebelumnya, Ahmad Saroji El-Shirozy. Fuad adalah mantan Kepala Departemen SKD KMNU Unila.?



Hari Santri 2019



Setelah terpilih menjadi Ketua Umum pada Ahad (17/01/16) malam itu, Fuad menyatakan bahwa amanah yang diembannya sangat berat. Mahasiswa FKIP Unila Jurusan Fisika ini berharap bisa menunaikannya dengan baik. Ia mendasarkan niatnya pada usaha mencari ridha Allah, bentuk cinta kepada Nabi Muhammad, serta cinta terhadap tanah air NKRI.





Hari Santri 2019

Pemuda berkacamata yang merupakan alumni MAN 1 Pringsewu ini meyakini bahwa berorganisasi, lebih-lebih di KMNU, merupakan sebuah cara lain untuk mencari Ilmu dan pengalaman yang tidak didapatkan di pelajaran atau materi kuliah.?





"Berorganisasi itu cari ilmu dengan aktif di organisasi. Kalau berorganisasi di KMNU insyallah tidak cuma ilmu yang didapat. Kalau aktif dan ikhlas berkhidmah maka kita juga akan dapat barokah doanya para ulama, masyayikh, dan muasis NU," ungkapnya. (Muhammad Faizin/Mahbib). Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, Tokoh, Pesantren Hari Santri 2019

Selasa, 23 Januari 2018

Lintang Cahyaningsih, Kader NU yang Gusur Pemred Tempo

Jakarta, Hari Santri 2019. Namanya Lintang Cahyaningsih. Dia adalah putri bungsu Wakil Ketua Umum PBNU H Maksum Mahfoedz.

Tidak sekadar putri tokoh NU, Lintang tentu saja juga seorang kader muda NU.

Lintang Cahyaningsih, Kader NU yang Gusur Pemred Tempo (Sumber Gambar : Nu Online)
Lintang Cahyaningsih, Kader NU yang Gusur Pemred Tempo (Sumber Gambar : Nu Online)

Lintang Cahyaningsih, Kader NU yang Gusur Pemred Tempo

Sebagai kader muda NU, Lintang ternyata dapat pula berkiprah secara luas. Terbukti mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM itu terpilih dalam Kompetisi Rebut Kursi Pemred Tempo akhir November lalu.





Hari Santri 2019

Mengutip Tempo.co, sebagai pemenang kompetisi, Lintang berhak memimpin redaksi Koran Tempo selama lima hari kerja di Gedung Tempo.

Awalnya Lintang mempresentasikan gagasan yang akan dia terapkan di Koran Tempo. Diantaranya soal desain layout yang lebih berwarna dan variatif di versi digital, dan ide personalisasi jurnalis-jurnalis Tempo.

“Dengan menampilkan identitas dan pengalaman jurnalis di Koran Tempo membuat pembaca dapat mengetahui jalan cerita suatu peliputan berdasarkan sudut pandang jurnalisnya,” kata Lintang.

Ia mengatakan berfokus pada desain dan pengembangan produk.

Hari Santri 2019

“Bagaimana (agar) pembaca tempo bisa mendapatkan pengalaman membaca yang maksimal,” Lintang menambahkan.

Tugas Lintang sebagai pemenang kompetisi adalah memimpin rapat perencanaan konten Koran Tempo, memantau perolehan bahan, memimpin rapat checking redaksi, mengikuti rapat editorial dan opini setiap Rabu, serta merencanakan visual halaman.

Selama menjalankan tugasnya, Lintang didampingi langsung oleh Pemimpin Redaksi Koran Tempo Budi Setyarso.

Untuk program tersebut Lintang mendapatkan biaya transportasi dan akomodasi, berhak mengikuti gala dinner dan berdiskusi bersama seluruh jajaran Pemimpin Redaksi Tempo Media Group, serta mendapatkan tiket pesawat pulang pergi dari daerah asal ke Toraja.

Keberhasilan lintang bukan sesuatu yang datang serta merta. Ia memang pernah menjadi Pimpinan Redaksi Balairung, koran kampus mahasiswa UGM. Pernah pula ia menjadi peserta pertukaran pelajar Indonesia- Amerika, untuk bidang antaragama.





Kiranya kiprah dan prestasi Lintang dapat menginspirasi kader muda NU lainnya di mana pun berada. (Kendi Setiawan). Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Meme Islam, Tokoh Hari Santri 2019

Minggu, 14 Januari 2018

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat

Salah satu hal yang luar biasa dari sosok kiai adalah kearifannya dalam berdakwah. Sebagaimana yang dicontohkan oleh KHR. Asad Syamsul Arifin pengasuh Pesantren Salafiyah Syafiiyah Situbondo, Jawa Timur saat menyuruh para preman di daerah Bondowoso untuk ikut shalat Jumat.

Cerita yang disampaikan oleh salah seorang santrinya, H Ikrom Hasan kepada penulis ini bermula dari kehebatan ilmu kanuragan Kiai Asad. Tak hanya ilmu agama yang dikuasai oleh kiai yang baru saja ditetapkan sebagai pahlawan Nasional itu, tapi juga ilmu bela diri dan sejenisnya.

Berkat reputasinya dalam dunia persilatan tersebut, banyak preman, jawara, bromocorah wa alaa alihi wa ashabih yang segan kepada Kiai Asad. Jadi, tidak heran jika apa yang diucapkan oleh Kiai Asad menjadi semacam perintah yang wajib untuk dipatuhi. Bagi mereka, mematuhi perintah Kiai Asad adalah suatu kebanggaan tersendiri.

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah KH Asad Syamsul Arifin Ajak Preman Shalat Jumat

Meski demikian, Kiai Asad tidak serta merta memaksa mereka untuk melakukan shalat, misalnya. Pemaksaan dalam hal beragama, bagi Kiai Asad, bukanlah cara yang tepat untuk diterapkan dalam berdakwah. Apalagi bagi kalangan yang awam dari ilmu agama.

Kiai Asad punya cara tersendiri untuk mendakwahi mereka. Dalam suatu kesempatan, Kiai Asad mengumpulkan para preman tersebut. Di pertemuan itu, Kiai Asad minta tolong kepada kepala preman itu untuk menjagakan sandal para jamaah shalat Jumat yang kerap hilang.

Hari Santri 2019

"Sandal jamaah di maajid ini sering hilang kalau sholat Jumat, saya bisa minta tolong untuk menjagakannya agar tidak hilang?" pinta Kiai Asad.

Seketika dedengkot para preman itu, menyanggupinya. "Gampang itu, Kiai. Paling yang mencuri ya anak buah saya. Biar saya yang akan menjaga," tanggapnya dengan bangga.

Hari Santri 2019

Pertemuan pun diakhiri dengan kesepakatan sebagaimana di atas. Kiai Asad berpamitan seraya mengucapkan terima kasih kepada para preman tersebut.

Hari Jumat pun tiba. Si dedengkot preman itu tampak berjaga di dekat masjid. Berkat pengawasannya tersebut, tak ada sepasang sandal pun yang hilang. Begitupun jumat berikutnya.

Hingga pada Jumat keempat, si dedengkot preman yang menjaga sandal itu merasa ada yang aneh. Sebagai sosok yang disegani dan ditakuti banyak orang, ia merasa tidak kelasnya untuk melakukan tugas tersebut.?

"Masak sih saya menjaga sandal tukang becak, penjual kacang dan orang-orang remeh itu," gugatnya. "Seharusnya saya juga sholat dan sandal saya yang dijaga," imbuhnya.

Persoalan itu, lantas ia adukan ke Kiai Asad. Dengan tenang Kiai Asad balik bertanya. "Kalau sampean ikut sholat, lantas siapa yang menjaga sandalnya?"

"Tenang, Kiai," jawab si dedengkot preman. "Saya punya banyak anak buah. Biar mereka yang menjaga, saya yang sholat," tegasnya.

Kiai Asad pun menyetujuinya sembari mengucap syukur dalam hati atas hidayah yang tak langsung diberikan kepada si preman tersebut.

Proses itu pun berlanjut ke preman lainnya. Saat disuruh menjaga sandal, ia pun merasa aneh. "Masak, preman suruh menjagakan sandal preman," gugatnya balik. Akhirnya, mereka satu per satu pun ikut sholat Jumat.

Demikianlah cara Kiai Asad mendakwahkan ajaran-ajaran Islam. Penuh kearifan, tanpa ada pemaksaan yang terkadang berujung pada pemberontakan.

Namun, lanjut H Ikrom, selama proses dakwah tersebut, Kiai Asad tak pernah berhenti bertaqarub kepada Allah. Ia bermunajat meminta kepada Sang Kholik untuk memberikan hidayah kepada para preman tersebut. Berkat kekuatan doa Kiai Asad itulah, para preman mendapatkan hidayah.?

(Barrur Rohim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh, Halaqoh Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock