Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu

Mojokerto, Hari Santri 2019 - Menteri Agama RI H Lukman Hakim Saifuddin atas nama pemerintah memberikan apresiasi kepada Pergunu yang telah membantu mendidik masyarakat Indonesia. Lukman berharap kerja keras para guru NU membuahkan hasil maksimal untuk melahirkan murid-murid berprestasi dan berakhlak.

“Kualitas pendidikan menjadi tujuan utama pemerintah, kami harap Pergunu bisa turut serta untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,” kata Lukman mengawali sambutannya dalam kongres yang kedua di Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Rabu (26/10).

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu

Menurut Lukman, kualitas pendidikan dari masa ke masa semakin maju. Kualitas pendidikan agama di Indonesia semakin membaik. Mulai dari kualitas kerukunan agama, kualitas lulusan madrasah atau pesantren.

“Guru menduduki tempat strategis untuk turut andil dalam membangun negeri,” terangnya.

Hari Santri 2019

Saat ini pemerintah tengah memperbaiki lagi kualitas pendidikan dengan menetapkan standard indikator, isi, proses, dan lulusan. “Pergunu itu sudah satu misi dengan Kemenag,” katanya.

Hari Santri 2019

Pendidik pesantren atau madrasah saat ini sudah diakui oleh negara dan disetarakan dengan pendidikan negeri. “Kita terus berupaya ada program-program guru. Tunjangan guru akan diupayakan di tahun 2017, telah memiliki sertifikasi sesuai ketentuan regulasi yang ada,” jelas Lukman memberikan angin segar kepada para guru madrasah.

Dengan ucapan basmalah Kongres Kedua Pergunu resmi dibuka oleh Menteri Agama RI. Hadir dalam pembukaan Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa, Pembina Pergunu H As’ad Said Ali, Ketua MUI Jawa Timur, pendiri dan pejuang Pergunu serta para pengurus Pergunu di berbagai wilayah dan cabang se-Indonesia. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, AlaSantri, Sunnah Hari Santri 2019

Selasa, 27 Februari 2018

Jelang Terbang ke Jepang, Lulusan MAN IC Serpong Gelar Khataman Al-Quran

Jakarta, Hari Santri 2019 - Menjelang keberangkatan menimba ilmu di Jepang, Medina Janneta El-Rahman (18) khusyuk mengikuti khataman Al-Qur’an. Khataman oleh para penghafal Al-Qur’an dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) ini digelar di rumah dinas orang tuanya, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud di kompleks MAN 4 Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat (8/9).

Sebelum pembacaan doa khatmil Quran, Medina membaca sepuluh surat di juz 30 secara bil ghaib (hafalan). Usai khataman, Mas’ud selaku shahibul hajat mengatakan, kegiatan ini digelar dalam rangka selametan sekaligus syukuran menyambut keberangkatan putrinya melanjutkan studi ke Universitas Hokkaido, Jepang, 17 September 2017. Sebelumnya, Medina dinyatakan lolos seleksi di perguruan tinggi ternama di Negeri Sakura ini Maret 2017 silam.

Jelang Terbang ke Jepang, Lulusan MAN IC Serpong Gelar Khataman Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Terbang ke Jepang, Lulusan MAN IC Serpong Gelar Khataman Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Terbang ke Jepang, Lulusan MAN IC Serpong Gelar Khataman Al-Quran

Mas’ud mengaku bangga prestasi Medina melampaui dirinya. Sebab, pria kelahiran Kudus Jawa Tengah ini berkesempatan kuliah di luar negeri ketika S2 dan S3. Sementara anak ketiganya ini berhasil ke mancanegara ketika masih S1 dengan beasiswa. Apalagi persyaratannya lebih rumit dan complicated, harus lolos tes Bahasa Inggris internasional, tes potensi SAT, wawancara, dan hanya 16 peserta sedunia yang lolos kelas baru di Hokkaido University itu. Atas nama keluarga, ia berterima kasih kepada para guru yang telah mendidik putri satu-satunya tersebut.

Hari Santri 2019

“Tentu yang saya cintai dan hormati adalah para guru Medina, itu yang paling utama dan pertama. Karena para guru lah yang sebetulnya membentuk karakter Medina saat ini. Oleh karenanya, sambutan saya nanti akan saya share, tidak saya monopoli sendiri. Saya mohon sambutan sebagian guru yang isinya kesan dan pesan untuk Medina,” ujar guru besar UIN Walisongo ini kepada para guru dari MAN IC Serpong, MTsN 7 Jakarta, SDIT At-Taufik Cempaka Putih, dan beberapa teman akrab Medina.

Hari Santri 2019

Guru pertama yang didaulat menyampaikan kesan dan pesan adalah Deni Syamsudin Permana. Suatu ketika, Guru Kimia MAN IC Serpong ini pernah diskusi dengan Medina dan teman-teman tentang sebuah capaian sesuatu. Menurut Deni, ada dua pilihan untuk mencapainya. Ada yang mudah, ada pula yang tak mudah. Jalannya terjal dan banyak rintangan.  

“Saya terkejut ketika Medina justru ingin meraih sesuatu dengan tak mudah. Dan ini sangat berharga. Karena, jika kita memperolehnya tak mudah maka membuat seseorang menjadi ramah dan mengapresiasi orang lain. tidak mudah underestimate terhadap proses. Di luar dugaan saya Medina bahkan sekarang sedang tahfiz Al-Quran. Pesan saya ke Medina, jika suatu saat berhasil maka anggap itu bukan keberhasilan individu. Tapi juga keberhasilan orang tua, teman-teman, juga para guru,” ujarnya.

Guru kedua, Wakil Kepala MTsN 7 Jakarta Melda Yohana Anwar. Beberapa saat lamanya Guru Bahasa Inggris ini tak mampu berkata-kata. Hanya linangan air mata yang keluar deras saat dirinya memegang mikrofon. Setelah Medina datang bersimpuh di hadapannya, ibu guru ini kemudian memeluk erat murid kesayangannya itu. Sejurus kemudian, Melda baru memulai kata-katanya.

“Menurut saya, Medina sudah kelihatan prestasinya sejak awal di MTs. Saya melihat potensi yang dimilikinya sejak ia aktif di Paskibra. Saya kira, anak ini aktif sekali. Saya hanya berpesan, di luar negeri tantangan dan godaannya lebih besar. Ingat, untuk meraih prestasi tidak cukup dengan berpangku tangan. Tapi harus kerja keras. Saya doakan Medina sukses di sana,” ujarnya berurai air mata.

Sementara itu, guru SDIT At-Taufik Cempaka Putih, Arum, menceritakan saat Medina baru pindah dari SD NU  Nasima Semarang. “Sebagai anak baru, Medina sering menangis karena di-bully teman-temannya. Saya bilang, kamu kalau terus nangis, mereka tambah senang. Cuekin aja  biar mereka kapok,” ujarnya disambut tawa hadirin. Bu guru Arum secara khusus mendoakan Medina berhasil dalam belajar. Ia berpesan, jika sudah lulus agar kembali ke Indonesia untuk mengamalkan ilmunya.

Hadir dalam acara tersebut keluarga besar Balitbang Diklat Kemenag, antara lain Sekretaris Balitbang Diklat Dr H Rohmat Mulyana Sapdi, Kepala Puslitbang Penda H Amsal Bakhtiar, Kabag Umum dan Perpustakaan H Anshori, Kabag Keuangan Hj Sunarini. Hadir pula Komisioner KPAI Susianah Affandi, Direktur Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Saiful Umam, dan beberapa mantan pejabat.

Di akhir acara, pengurus Nusantara Mengaji, KH Ahmad Khatib didampingi Ust Bagus Purnomo, Guru Medina untuk Tahfidz Al-Qur’an memberi hadiah mushaf Al-Qur’an per juz untuk Medina agar dijadikan bekal untuk terus mencintai dan melanjutkan hafalan Al-Qur’an. “Semoga dengan hadiah ini Medina menggenapi utang nadzar hafalan Qurannya kalau diterima kuliah di Jepang,” pungkas Mas’ud. (Musthofa Asrori/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Anti Hoax, Doa, Bahtsul Masail Hari Santri 2019

Senin, 12 Februari 2018

Haji Berulang Kali Menurut Kiai Ali M Yakub dan Imam Al-Ghazali

Kalau diperhatikan dari tahun ke tahun, persentase jemaah haji terus mengalami peningkatan. Dibandingkan puluhan tahun lalu, jemaah haji di masa sekarang lebih banyak. Banyaknya orang berhaji di masa sekarang tentu tidak terlepas dari mudahnya mendapatkan fasilitas haji.

Sekarang sudah banyak travel haji dan transportasi yang siap melayani keberangkatan haji. Apalagi sebagian travel menawarkan ongkos yang menggiurkan dan tidak terlalu mahal, bisa diangsur.

Haji Berulang Kali Menurut Kiai Ali M Yakub dan Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Haji Berulang Kali Menurut Kiai Ali M Yakub dan Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Haji Berulang Kali Menurut Kiai Ali M Yakub dan Imam Al-Ghazali

Mudahnya naik haji di masa sekarang ini patut kita syukuri. Kita tidak perlu lagi melakukan perjalanan berbulan-bulan untuk sampai di baitullah. Cukup duduk santai di pesawat, tunggu sekitar belasan jam, kita sudah sampai di Arab Saudi.

Hari Santri 2019

Namun, di balik kemudahan fasilitas itu ada sesuatu yang justru mengkhawatirkan menurut sebagian ulama, yaitu fenomena haji berulang kali.

Hari Santri 2019

Almarhum KH Ali Mustafa Yaqub termasuk orang yang berada di garda depan mengkritik fenomena haji berkali-kali ini. Menurutnya, lebih baik mendermakan ongkos haji itu untuk menyejahterakan kaum dhu’afa. “Af’alul muta’addi afdhalu minal qashir (ibadah sosial lebih baik daripada ibadah individual)” Itulah kalimat yang sering beliau sampaikan.

Kemunculan pendapat ini berkelindan dengan masih banyaknya problem kemiskinan dan kefakiran yang belum tuntas di negeri ini. Sehingga alangkah baiknya harta yang banyak itu digunakan untuk menyelesaikan problem ini, ketimbang beribadah haji berkali-kali. Terlebih lagi, haji kedua dan seterusnya hukumnya sunah, tidak wajib.

Kritik yang dilontarkan almarhum Kiai Ali ini sebenarnya sudah ditegaskan Imam Al-Ghazali sedari dulu. Dalam kitab Ihya Ulumuddin jilid tiga, ia menjelaskan panjang lebar terkait tipu daya. Siapa saja bisa terpedaya baik orang berilmu, sufi, maupun pemilik harta. Khusus bagi orang berharta (arbabul mal), di antara bentuk tipu dayanya adalah sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Mereka bersikeras mengeluarkan harta untuk pergi haji berulang kali dan membiarkan tetangganya kelaparan. Ibnu Mas’ud berkata, ‘Pada akhir zaman, banyak orang naik haji tanpa sebab. Mudah bagi mereka melakukan perjalanan, rezeki mereka dilancarkan, tapi mereka pulang tidak membawa pahala dan ganjaran. Salah seorang mereka melanglang dengan kendaraannya melintasi sahara, sementara tetangganya tertawan di hadapannya tidak dihiraukannya.”

Mereka menyangka dengan menghabiskan harta untuk naik haji berulang kali itu dianggap lebih mulia di sisi Allah, ketimbang mendermakan harta untuk fakir miskin. Inilah salah satu bentuk tipu daya bagi orang berharta menurut Al-Ghazali. Lebih baik kelebihan harta yang dimiliki diprioritaskan untuk membantu fakir miskin, pesantren yang terbengkalai, anak sekolah yang serba kekurangan, dan amal sosial lainnya.

Karenanya, kita perlu membuat skala prioritas dalam beribadah. Ketika di hadapkan dengan banyak peluang beribadah, pilihlah ibadah yang lebih banyak maslahatnya, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Sebagaimana dikatakan ‘Izzuddin bin ‘Abdul Salam dalam Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam, “Apabila dihadapkan dua kemaslahatan dalam satu waktu, usahakan melakukan keduanya. Bila tidak mungkin, dahulukanlah mana yang paling maslahat dan utama,” Wallahu ‘alam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, Sunnah Hari Santri 2019

Sabtu, 10 Februari 2018

LDNU Gelar Tadarus di Radio Aswaja FM

Pekalongan, Hari Santri 2019. Pengurus Cabang Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PC LDNU) Kota Pekalongan selama bulan Ramadhan 1434 H akan menggelar kegiatan ngaji Aswaja secara live di Radio Aswaja 107.8 FM.

Acara yang digelar setiap Selasa dan Sabtu malam dilakukan usai shalat tarawih hingga jam 11 malam bekerjasama dengan Radio Aswaja FM akan disiarkan langsung sehingga pendengar yang tidak bisa hadir masih bisa mendengarkan melalui radio.

LDNU Gelar Tadarus di Radio Aswaja FM (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Gelar Tadarus di Radio Aswaja FM (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Gelar Tadarus di Radio Aswaja FM

Penanggung jawab Radio Aswaja FM H Muhtarom mengatakan, program tadarus amaliah Ahlussunnah wal Jamaah akan dilakukan sebanyak 8 kali pertemuan mengkaji berbagai hal seputar aswaja.

Hari Santri 2019

Dikatakan, program ini sangat tepat untuk disajikan LDNU bekerjasama dengan radionya NU. Pasalnya, masih banyak umat Islam, khususnya Nahdliyin yang paham secara mendalam apa itu aswaja, meski dalam kesehariannya sudah menjalankannya.

Acara yang dimulai jam 21.00 hingga 23.00 WIB terbuka untuk Nahdliyin di wilayah Pekalongan dan sekitarnya. Jika ingin hadir dan melakukan dialog silahkan hadir pada waktu yang telah ditentukan, namun jika karena kesibukan bisa disimak di Radio Aswaja melalui 107.8 FM.

Hari Santri 2019

Ditambahkan, selama Ramadhan Radio Aswaja juga akan menggelar program khusus siaran selama 24 jam non stop dengan program ngaji kitab kuning, tausiyah kiai dan tadarus Al-Quran secara live oleh kader kader IPNU-IPPNU Kota Pekalongan. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz P

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa Hari Santri 2019

Jumat, 09 Februari 2018

Akhir Pekan Ini, GP Ansor Rembang Pilih Ketua Baru

Rembang, Hari Santri 2019. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, akan menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) XX di Gedung Haji Kompleks Islamic Center, akhir pekan ini, Ahad (12/4).



Akhir Pekan Ini, GP Ansor Rembang Pilih Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhir Pekan Ini, GP Ansor Rembang Pilih Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhir Pekan Ini, GP Ansor Rembang Pilih Ketua Baru

Ketua Panitia Konfercab GP Ansor Rembang Abdul Rosyid menjelaskan, forum permusyawaratan tertinggi di tingkat cabang itu akan berlangsung kurang dari 24 jam.

"Konfercab kali ini akan digelar secara singkat, tidak seperti biasanya. Kali ini hanya satu hari sudah selesai dan GP Ansor Rembang sudah mempunyai Ketua Cabang yang baru,” ujar Abdul Rosyid.

Panitia juga telah mengundang pimpinan anak cabang (PAC) dari seluruh kecamatan di Kabupaten Rembang. "Memang sedikit terlambat (pelaksanaannya), tetapi saya pastikan akan dihadiri PAC (Pimpinan Anak Cabang) dari 14 kecamatan di Kabupaten Rembang,” tuturnya.

Hari Santri 2019

Ada isu yang berkembang bahwa terdapat dua nama kader yang dikabarkan akan maju mencalonkan diri sebagai orang nomor satu di GP Ansor Rembang. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, Khutbah Hari Santri 2019

Senin, 05 Februari 2018

Madrasah di Pulau Terpencil Ini Rutin Kerja Sama dengan Dejavato Foundation

Jepara, Hari Santri 2019 . Meski Madrasah Safinatul Huda berada di pulau terpencil, Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, namun lembaga pendidikan NU yang memiliki MTs, MA dan pesantren kelautan ini terus meningkatkan kualitas pendidikannya. Terbukti dengan aktifnya lembaga ini menjalin kerja sama dengan Dejavato Foundation.

Madrasah di Pulau Terpencil Ini Rutin Kerja Sama dengan Dejavato Foundation (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah di Pulau Terpencil Ini Rutin Kerja Sama dengan Dejavato Foundation (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah di Pulau Terpencil Ini Rutin Kerja Sama dengan Dejavato Foundation

Bersama Dejavato, lembaga yang inten memberikan relawan guru bahasa asing dari berbagai negara secara gratis sudah dirajut madrasah sejak tahun 2003-2014.

Kepala MA sekaligus pengasuh pesantren kelautan, H Hisyam Zamroni mengemukakan, di tahun 2003 itu, Ketut, perwakilan Dejavato di Semarang menemui dia di Karimunjawa.

Hari Santri 2019

“Dari pertemuan itu pihak Dejavato menawarkan program dan disepakatilah pihak madrasah. Alhasil, program berjalan dari 2003-sekarang,” jelasnya saat ditemui Hari Santri 2019 di sela-sela takziyah di kediaman almarhum KH Kholil, Jumat (5/8).

Hari Santri 2019

Ditambahkannya, program tersebut gratis. Dalam kurun waktu setahun para volunteer (relawan) memberikan pembelajaran bahasa Inggris kepada anak-anak. Volunteer, lanjut Hisyam, tinggal di pesantren kelautan Safinatul Huda. ?

Dari program itu imbuhnya direspon positif siswa dan santri karena mereka bisa belajar bahasa asing secara langsung dengan relawan asing yang hadir dari berbagai negara.

Disamping itu, lanjut Hisyam Karimunjawa merupakan destinasi wisata Internasional.

“Ini adalah bagian ikhtiar kami go international. Madrasah kami berada di destinasi wisata Internasional. Makanya dengan kerja sama ini anak-anak harapannya selalu siap menghadapi serbuan wisatawan internasional,” harapnya. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, Sejarah, Kajian Islam Hari Santri 2019

Sabtu, 03 Februari 2018

Akar Radikalisme Bermula dari Pendidikan

Jakarta, Hari Santri 2019?

Awal Mei 2017 lalu, pemerintah mengumumkan pembubaran HTI sebagai organisasi yang bertentangan dengan ideologi negara Indonesia. Hal tersebut ? berkat peran signifikan NU dan mayoritas muslim di Indonesia yang mendorong kebijakan negara agar ormas yang menolak Pancasila harus segera dibubarkan.?

Demikian disampaikan Katib Syuriyah PBNU KH M. Mujib Qulyubi pada acara Halaqah Ramadlan Dewan Pakar Pimpinan Pusat Pergunu di lantai 5 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (5/6).

Akar Radikalisme Bermula dari Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Akar Radikalisme Bermula dari Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Akar Radikalisme Bermula dari Pendidikan

Dalam menyikapi gerakan-gerakan radikal yang bertentangan dengan Ahlussunnah wal Jamaah dan ideologi negara Indonesia, Kiai Mujib berharap agar semuanya, termasuk Pergunu ikut mendukung keputusan pemerintah.?

"Pergunu harus mulai teliti dan mulai jeli bahwa pergerakan-pergerakan yang merugikan Indonesia itu memang dimulai dari pendidikan kita," kata Kiai Mujib mengingatkan.?

Begitupun dalam hal agama, ia berharap agar para guru membersihkan dan meluruskan pemahaman tentang jihad, ideologi, dan akidah yang selama ini telah ? direduksi maknanya.?

Hari Santri 2019

Dalam mensterilkan pemahaman tersebut, ia meminta ada inisiatif dari Pergunu pusat untuk membuat materi ajar ? yang berbasis harmoni. Jadi, ayat-ayat seperti jihad yang dipakai dan dijadikan pijakan kelompok radikal itu harus diurai oleh Pergunu.?

"Itu ayat yang menurut kita, dipahami dengan amat sangat salah (oleh kelompok radikal)," ujarnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Sunnah, Doa Hari Santri 2019

Rabu, 24 Januari 2018

IPNU-IPPNU Jombang Kenang Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan

Jombang, Hari Santri 2019 - Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Jombang menggelar doa bersama di kantor PCNU setempat, Sabtu (20/8). Mereka mendoakan bangsa Indonesia yang berdaulat, bermartabat dan berintegritas untuk membangun persatuan.

Tak lupa, mereka juga mendoakan para pahlawan yang gugur sebab merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada zaman penjajahan. Bagi mereka, kemerdekaan Indonesia yang dirasakan oleh bangsa saat ini adalah hasil perjuangan berdarah para pahlawan saat mengusir penjajah dari tanah air ini.

IPNU-IPPNU Jombang Kenang Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Jombang Kenang Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Jombang Kenang Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan

Abdul Haris, Ketua PC IPNU Jombang berharap kader IPNU-IPPNU dapat berkontemplasi dari sejumlah perjuangan yang telah ditorehkan para pahlawan kemerdekaan, termasuk para kiai yang juga berkontribusi besar dalam kemerdekaan Indonesia ini.

Hari Santri 2019

"Kami berharap setelah memperingati kemerdekaan ini, para kader IPNU-IPPNU se-Jombang dapat menghayati makna kemerdekaan yang kemudian dapat berprestasi untuk mengharumkan Indonesia," katanya.

Haris menambahkan, perjuangan para pahlawan saat itu tak bisa diganti dengan apapun oleh bangsa Indonesia saat ini, kecuali hanya bisa mendoakan agar perjuangan mereka dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang berlipat dan tergolong para syuhada. Di samping berdoa, katanya, penting juga memberikan yang terbaik untuk Indonesia dengan segala potensi yang dimiliki bangsa saat ini.

Hari Santri 2019

Pada saat yang sama, pihaknya juga menggelar berbagai lomba untuk meriahkan HUT RI. Di antaranya lomba makan pisang, cari koin dalam tepung, dan juga sepak bola contong.

Acara ini diawali apel sekaligus menyanyikan lagu Indonesia raya dan mars organisasi IPNU-IPPNU serta lagu "Ya Ahlal Wathan" karya KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai penutupnya. Mereka menyanyikan lagu-lagu itu dengan khidmat. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pemurnian Aqidah, Doa Hari Santri 2019

Selasa, 23 Januari 2018

Jangan Gunakan Simbol NU di Pilgub Jatim

Surabaya, Hari Santri 2019. Perhelatan pemilihan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur akhir bulan ini hendaknya tidak sampai membawa atribut NU. Hal ini sebagai konsekuensi dari sikap netral NU dalam kegiatan politik praktis.

Jangan Gunakan Simbol NU di Pilgub Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Gunakan Simbol NU di Pilgub Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Gunakan Simbol NU di Pilgub Jatim

Pesan ini disampaikan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj saat berada di Surabaya, Kamis (22/8). Kiai Said hadir dalam acara pelantikan Pengurus Wilayah NU Jawa Timur masa khidmat 2013-2018.

“NU-nya netral tapi kalau warga NU ya harus ikut dan mensukseskan Pilkada,” katanya. ? “Tapi jangan menggunakan simbol NU untuk kampanye memenangkan calon gubernur,” tegasnya.?

Hari Santri 2019

Dia menjamin organisasinya akan tetap netral dan berharap Pilgub Jatim berjalan lancar sampai selesai nantinya.?

“Saya mendoakan Pilgub Jatim aman, sukses. Yang jadi semoga yang benar-benar diridhoi oleh Allah. Saya yakin semua calon menginginkan Jawa Timur maju, sejahtera dan jaya,” ujarnya.

Hari Santri 2019

Terkait merebaknya kampanye hitam (black campaign) dalam Pilgub yang sudah mulai terjadi, Kiai Said menilai hal-hal semacam itu selalu ada. “Dimana-mana dan kapanpun yang namanya black campaign, sms dan surat kaleng akan selalu ada. Ngga usah dianggap pentinglah,” tandasnya.

Ketua PWNU Jatim, KH Hasan Mutawakkil Alallah juga mengingatkan para pengurus dan warga NU untuk turut serta mensukseskan perhelatan pemilihan gubernur tersebut. Namun demikian, Kiai Mutawakkil menandaskan bahwa secara organisasi PWNU Jatim akan menjaga netralitasnya.?

“Ini sebagai manivestasi dari diambilnya keputusan bahwa NU kembali ke Khittah 1926 seperti keputusan Muktamar ke-28 NU di Situbondo,” terangnya.

Namun demikian, NU tetap memberikan panduan kepada warganya untuk memilih dan menggunakan hak konstitusi secara benar dan bertanggung jawab. “Petunjuk itu telah diputuskan pada Muktamar ke-29 di Krapyak yang mengeluarkan sembilan pedoman berpolitik bagi warga NU,” ungkapnya.

Secara khusus, Kiai Mutawakkil membacakan sejumlah butir dari keputusan tertinggi tersebut. Yang menjadi penekanan adalah pada poin pertama, kelima serta ketujuh.?

“Berpolitik bagi Nadlatul Ulama haruslah dilakukan dengan kejujuran nurani dan moral agama, konstitusional, adil, sesuai dengan peraturan norma-norma yang disepakati serta dapat mengembangkan mekanisme musyawarah dalam memecahkan masalah tersebut,” kata Kiai Mutawakkil.

Karena itu Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo ini menandaskan sembari mengutip butir ketujuh dari keputusan tersebut yakni, “Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama dengan dalih apapun tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kepentingan bersama dan memecah-belah persatuan,” katanya.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Bahtsul Masail, Doa, RMI NU Hari Santri 2019

Sabtu, 20 Januari 2018

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan

Jombang, Hari Santri 2019 - Pengurus Fatayat NU Kabupaten Jombang membahas sejumlah masalah perempuan yang berkembang di kota santri ini. Mereka berupaya keras untuk menyelesaikan sejumlah masalah seperti KDRT, meningkatnya perceraian, narkoba, HIV/AIDS, pendidikan dan pengembangan perekonomian perempuan.

Ketua Fatayat NU Jombang Ema Umiyyatul Chusnah mengatakan, sejumlah persoalan itu kini sudah menjadi bahan kajian bersama pengurus Fatayat NU Jombang. Sehingga sebagian besar persoalan tersebut dapat diatasi dengan baik.

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Jombang Soroti Berbagai Persoalan Perempuan

Terkait persoalan HIV/AIDS atau kesehatan, pihaknya telah melakukan sosialisasi dan penyuluhan kepada warga setempat terutama pada ibu-ibu dan remaja. Mereka diajak untuk mengetahui bahaya penyakit HIV/AIDS dan pentingnya menjaga kesehatan.

Hari Santri 2019

Demikian juga pada persoalan pendidikan. Mereka telah menyiapkan kelompok khusus untuk melakukan pengembangan kapasitas SDM para guru dengan giat pelatihan-pelatihan. Kelompok ini mencoba mengentaskan buta aksara di kalangan ibu-ibu yang belum bisa baca tulis di Jombang.

"Ada beberapa kelompok yang telah berupaya mengajak masyarakat untuk melek aksara, terutama ibu-ibu yang belum bisa baca tulis. Mereka sudah mulai bisa baca tulis, menghitung dan ngaji," katanya kepada Hari Santri 2019 di Rumah Dinas Jombang, Kamis (21/4).

Hari Santri 2019

Tidak kalah penting, banyaknya problem yang tengah dihadapi oleh masyarakat Jombang yang berada di pedalaman. Menurut cucu dari Mbah Wahab itu, di sana terdapat banyak persoalan yang juga harus diselesaikan.

"Kita juga harus memikirkan mereka untuk mengangkat derajat dan martabatnya sehingga anak-anak mereka menjadi generasi harapan bangsa," tandasnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pesantren, Doa, Kyai Hari Santri 2019

Rabu, 17 Januari 2018

Orang Gila dan Krisis Multidimensional

Orang gila, yaitu orang yang sudah tidak mempunyai pikiran normal layaknya manusia pada umumnya terdapat di seluruh negara di dunia. Bahkan persoalan orang gila ini menjadi perhatian pemerintah dan sebagian elemen masyarakat.

Saat itu santri bernama Kartono telah menyelesaikan ujian di pondok pesantrennya. Ia pun hendak pulang ke kampung halamannya karena aktivitas pondok sementara diliburkan beberapa hari usai menggelar ujian.

Orang Gila dan Krisis Multidimensional (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang Gila dan Krisis Multidimensional (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang Gila dan Krisis Multidimensional

Ia pulang bersama teman santri sekampungnya bernama Muhtarom. Di sepanjang perjalanan mereka bercerita apa saja terkait pengalaman mereka, termasuk fenomena orang gila yang sering mereka jumpai di daerah sekitar pondok pesantren.

Dalam hitungan Kartono, ada sebanyak 59 orang gila sepanjang jalan di daerah sekitar pondok. 

“Kamu menghitung apa dari tadi?” tanya Muhtarom.

Hari Santri 2019

“Ini Rom, saya sedang menghitung orang gila yang mungkin merupakan dampak dari krisis multidimensional yang terjadi di negeri kita, jumlahnya yang saya hitung ada 59 orang,” jawab Kartono.

“Kok beda, dalam hitungan saya jumlah orang gila mencapai 70,” sergah Muhtarom.

“Masa? Selisih satu orang. Lah terus satu orang itu siapa Rom?” 

“Ya, kamu.....!” jawab Muhtarom sambil ngakak. (Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Doa, Habib Hari Santri 2019

Selasa, 09 Januari 2018

Prof Rahman: Yakinlah Akan Lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal Baru

Hingga hari ke-40 pascawafatnya Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh, berbagai kesaksian dari berbagai elemen masyarakat terus mengalir. Para kiai, pengurus NU, dan tokoh masyarakat telah memberikan komentar, kini testimoni mengemuka dari seorang akademisi yang lahir dari tradisi NU:Prof H Abdurrahman Mas’ud, MA PhD (54). Doktor lulusan University of California Los Angeles (UCLA) ini menceritakan pengalamannya kepada Musthofa Asrori dari Hari Santri 2019 di kantornya.

Pria kelahiran Kudus, 16 April 1960, yang sekarang menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Kapuslitbang Penda) Balitbang Kementerian Agama RI ini memiliki cerita menarik seputar perkenalannya dengan kiai yang akrab disapa Mbah Sahal itu. Berikut petikan wawancara beberapa hari lalu.

Prof Rahman: Yakinlah Akan Lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Rahman: Yakinlah Akan Lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Rahman: Yakinlah Akan Lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal Baru

Apa yang terbentuk dalam pemikiran Prof Abdurrahman Mas’ud tentang sosok Mbah Sahal?

Perkenalan dan ketertarikan saya kepada Mbah Sahal, pertama ya, saat saya mulai mengaji kepada beliau ketika kelas dua aliyah dulu. Tepatnya tahun 1978 dan 1979 di Pesantren Maslakul Huda Kajen. Dua tahun berturut-turut tiap bulan puasa saya mengaji pasanan di sana. Beliau itu ulama kharismatik, terbuka, dan juga seorang faqih. Saya masih ingat waktu itu ngaji Fathul Wahab kepada beliau. Mbah Sahal juga cepat dekat kepada santrinya, termasuk saya. Saking percayanya, misalnya, beliau memberikan ijazah kepada saya. Jadi, mula-mula saya tunjukkan kepada beliau kitab nadzaman Tsamratul Hajainiyah. Tanpa pikir panjang, beliau langsung memberikan ijazah bahwa saya sudah diakui mengaji kepada beliau. Padahal belum ngaji. Saya sampai beliau meninggal selalu berhubungan baik. Minimal setahun sekali saya sowan ke kediaman beliau. Saya merasa lebih dekat dengan beliau daripada santrinya yang lain. Padahal tidak nyantri di pondoknya. Dugaan saya, tapi Insya Allah bener, banyak santri yang nyantri di sana.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Nyantri di mana, Prof?

Saya justru mondok di pesantren Kiai Muzayyin Ngemplak (sebelah barat Kajen-red), setiap ngaji pasanan di Kajen.

Waktu mendapat gelar profesor di IAIN Semarang?

Iya, saya undang beliau. Usai penganugerahan langsung saya hampiri beliau, saya cium tangan beliau.

Bagaimana perasaan Prof saat mengetahui bahwa Mbah Sahal telah meninggal?

Saya sangat kehilangan sekali, bukan soal material tetapi moral. Ya, kita memang berhubungan dengan beliau secara moral ya. Apalagi tidak bisa memberikan penghormatan terakhir kepada beliau. Itu yang paling merasa kehilangan. Padahal biasanya, minimal tiap tahun silaturrahim ke beliau. Saya sering merasa jika ada kiai yang wafat, saya pasti sangat prihatin. Bahkan, paman saya sendiri, Kiai Ma’ruf Irsyad Kudus juga tidak bisa mengantar.

Pasca-Mbah Sahal, bagaimana NU ke depan? Tanggapan Bapak..

Suasananya mirip ketika NU dan bangsa ini ditinggal wafat Gus Dur. Di NU kan betapapun kiai itu masih menjadi tokoh sentral. Dalam penelitian saya, kiai saya sebut sebagai elite culture (kultur elit) yang menjadi imam keagamaan. Jadi, Mbah Sahal tidak diragukan lagi. Tapi, yakinlah bahwa ke depan akan lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal baru.

Beliau dalam riset saya dikategorikan sebagai kiai yang ensiklopedis. Saya merasa tidak bisa terlepas dari bayang-bayang Mbah Sahal. Beliau itu tidak bisa diintervensi oleh pemerintah. Posisi beliau sedejarat dengan pemerintah. Jadi, pendapat beliau selalu didengar oleh pemerintah, bukan saja oleh gubernur, tetapi hingga tingkat nasional.

Artinya apa?

Sebagaimana kita tahu, dalam hadis, pemimpin yang adil dan ulama yang tidak korup maka umat akan aman.

Sekarang Mbah Sahal digantikan Gus Mus dalam kapasitasnya sebagai rais aam. Bagaimana Prof melihatnya?

Sangat pas dan tepat sekali. Saya kira Gus Mus orang yang sangat paham Mbah Sahal. Artinya, pemikiran kedua ulama ini cukup linier dan relevan dengan konteks kekinian. Saya pribadi sangat bersyukur bahwa Gus Mus bisa menggantikan beliau. Insya Allah perdamaian dan moderasi ala NU akan aman dalam kendali Gus Mus.

Berbicara tentang pendidikan Islam di Indonesia, khususnya bagi warga Nahdliyin, problem mendasarnya menurut Bapak?

Ada beberapa masalah tipikal dunia pendidikan Islam. Pertama, dikotomi keilmuan yang sudah menyejarah. Kedua, hilangnya spirit  of inquiry yang termasuk di dalamnya memudarnya tradisi rihlah fi thalabil ilmi, penelitian empiris, membaca, dan menulis. Ketiga, certificate-oriented (orientasi ijazah). Keempat, tidak mengacu pada problem solving. Kelima, common sense terlupakan. Dampaknya, kreativitas tidak menonjol. Keenam, akhlaq terbatas pada moralitas dosa, halal-haram, akhlaq sosial (social ethics) terabaikan.

Apa tawaran pemikiran prof terhadap persoalan ini?

Saya kira, perlu ditekankan adanya humanisme dalam pendidikan. Humanisme dalam pendidikan di sini adalah proses pendidikan yang lebih memerhatikan aspek potensi manusia sebagai makhluk religius dan makhluk sosial (abdullah dan khalifatullah), serta sebagai individu yang diberi kesempatan Tuhan untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya sekaligus bertanggung jawab terhadap amal perbuatannya di dunia dan akhirat. Humanisme dimaknai sebagai kekuatan atau potensi individu yang senantiasa mengembangkan diri di bawah petunjuk ilahi, untuk bertanggung jawab mengurai aneka persoalan sosial. Individu dalam pandangan ini selalu aktif dalam status proses becoming menyempurnakan diri (istikmal).

Apa pesan penting humanisme dalam pendidikan?

Humanisme mengajarkan, tidaklah etis untuk sepenuhnya menunggu Tuhan bertindak untuk menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan dan keindonesiaan dengan karut-marutnya persoalan yang tak pernah kunjung selesai. Manusia Indonesia sebagai khalifatullah fil ardl harus bertindak dengan tetap memohon petunjuk dari Allah untuk merespons dengan tepat berbagai musibah.

Bagaimana hubungan humanisme dalam pendidikan dan humanisme dalam beragama?

Tentu sangat erat hubungannya. Lihat saja, realitas kesejarahan bangsa kita menunjukkan bahwa Islam yang berkembang di Indonesia hingga hari ini adalah Islam kultural. Artinya, Islam mampu berkembang dan menjadi tradisi baru sejalan dengan dinamika budaya masyarakat. Pendekatan kultural merupakan strategi pengembangan keberagamaan yang memerhatikan keharmonisan dan kekayaan budaya lokal sebuah komunitas masyarakat.

Salah satu budaya bernuansa islami yang berkembang luas di masyarakat adalah budaya selametan atau syukuran. Budaya ini sering diidentikkan dengan masyarakat Jawa. Penyelenggaraannya pun nyaris berlangsung setiap hari, setiap even, dan searah tarikan nafas. Ketika orang akan memulai hidup baru, memasuki rumah baru, punya jabatan baru, atau sesuatu yang baru, dapat dipastikan mereka menggelar selametan itu. Termasuk juga selametan atas anugerah kehamilan mulai empat bulan, mitoni, hingga puputan,selapanan, lalu medon lemah.

Bahkan, ada lagi budaya selametan yang masih bersifat polemis di sebagian umat Islam sendiri, yakni selametan untuk orang-orang yang meninggal (3, 7, 40, 100, dan 1000 hari) yang kerap disebut tahlilan. Namun, kini sepertinya tahlilan telah menjadi milik Indonesia, bukan hanya warga Nahdliyin. Muhammadiyah pun sudah nyaman dengan ritual ini. Ketuanya saja (Din Syamsudin) sudah tahlilan kok. 

Nah, keberhasilan mengembangkan budaya lokal bernuansa Islam tersebut tidak hanya bergantung kepada kadar keimanan dan konsistensi anggota masyarakat terhadap ajaran agama, baik individu maupun kelompok. Akan tetapi, faktor pendidikan amat berpengaruh dalam pembentukan tradisi dan budaya islami tersebut.

Berbicara soal pendidikan di kalangan warga Nahdliyin, apa yang menjadi keprihatinan Bapak?

Kita tahu bahwa Nahdliyin yang tergabung dalam wadah jam’iyah NU itu lahir dari pesantren. Sementara peranan lembaga pendidikan pesantren di negeri ini sangat besar dalam membina generasi muda. Sayangnya, perhatian kepada institusi ini belum memadai. Begitu juga pada level internasional, studi mengenai dunia pesantren bisa dihitung dengan jari. Sejauh pengamatan saya, sampai detik ini baru ada tiga disertasi berbahasa Inggris yang membahas topik dunia pesantren. Pertama, The Pesantren Tradition yang ditulis pada 1980 oleh Dr Zamakhsyari Dhofier (Departement of Anthropology and Sosiology Australian National University, Canberra). Kedua, disertasi yang muncul 17 tahun kemudian, tepatnya pada Maret 1997 berjudul The Pesantren Architects and Their Socio-Religious Teachings yang saya tulis untuk mengambil gelar doktor di UCLA. Ketiga, Peaceful Jihad, disertasi sarjana AS, Prof Roland Alan Lukens-Bull dari North Florida University AS.

Artinya apa itu, Prof?

Artinya bahwa doktor di NU itu masih minim. Apalagi dibandingkan Muhammadiyah.

Tawaran konkret seorang Abdurrahman Mas’ud PhD?

Satu hal yang sejak lama saya pikirkan bahkan pernah saya tulis: "Mendoktorkan NU sekaligus Mengkiaikan Muhammadiyah". Tulisan-tulisan saya dibukukan dengan judul “Menuju Paradigma Islam Humanis.” Selama ini kan ramai soal pandangan yang mengisyarakatkan bahwa NU lebih kaya dengan pesantren berikut kiai-kiai ampuhnya, MD (Muhammadiyah, red) bangga dengan stok doktornya dari dalam maupun luar negeri. MD lebih berkualitas dan rapi dalam kinerja organisasi dan kelembagaan, sementara NU lebih solid dalam kohesi dan solidaritas sosialnya. Soal kekuasaan, jika MD lebih berhasil menjabat negara, maka NU lebih erat menjabat tangan karena tradisi musafahah begitu tinggi. Jika NU leading dengan rekayasa kulturalnya, MD leading dengan lembaga pendidikannya.

Pada tahun 1990-an, saya punya pengalaman berharga tentang hubungan dengan tokoh MD. Ya, waktu itu, Din Syamsuddin yang menjabat Ketua Pemuda Muhammadiyah Pusat, adalah roommate (teman sekamar) saya saat kuliah di UCLA Amerika Serikat. Meski kami beda secara sosio-kultural dan organisasi, kami tidak pernah terlibat dalam diskusi emosional, apalagi sampai debat kusir. Dialog kami lakukan di mana saja, mulai di kamar hingga di kantin, dengan materi beragam. Kadang juga mencakup persoalan khilafiyah NU-MD. Diskusi sering dihiasi academic-joke, yang penekanannya lebih kepada upaya mencari solusi dari perbedaan paradigma keislaman. Salah satu kesimpulan yang masih penulis ingat adalah kami tidak pernah menyangsikan status Aswaja ala NU dan MD. Mengidentifikasi diri sebagai kaum Aswaja yang sekian tahuh kuliah di Barat, kadang kami mempertanyakan adalah pengaruh cross culture (lintas budaya) terhadap pola pandangan keagamaan kami. Sungguh kami merasa masih seperti yang dulu, hanya saja selain Aswaja kami juga punya identitas tambahan: Ahlul Jam’i wal Qasri (tukang jama’ qasar shalat) lantaran waktu shalat sering bentrok jam kuliah. Hahaha... (Prof Rahman tertawa terbahak-bahak).

Dalam hati sanubari Bapak, apa ada keinginan untuk menjadi pengurus Nahdlatul Ulama? 

Pada saatnya nanti, waktu yang akan menjawabnya. Meski saya waktu kuliah di Amerika aktif di ICMI, namun saya tetap menggunakan tradisi NU dalam aktivitas ibadah maupun sosial. Pada waktu itu memang belum ada PCINU seperti sekarang ini.

Generasi muda NU yang sekarang tentu ingin seperti Bapak hingga memperoleh gelar doktor. Saran dan nasehat Prof..

Terus belajar dan belajar. Jika ingin keluar negeri, tingkatnya kemampuan Bahasa Inggris, khususnya TOEFL-nya itu. Apalagi ditambah kemampuan bahasa asing lain akan semakin membantu.

Terima kasih Prof atas wawancara dan nasehatnya.

Sama-sama. Semoga sukses. (Red: Mahbib)

 

 

Foto: Prof H Abdurrahman Masud MA PhD mencium tangan KH MA Sahal Mahfudh usai dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Sejarah dan Kebudayaan Islam IAIN Walisongo (sumber: Suara Merdeka)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, AlaNu, Warta Hari Santri 2019

Minggu, 07 Januari 2018

Di-reshuffle, Saifullah Yusuf akan Konsentrasi Kembangkan Ansor

Jakarta, Hari Santri 2019. Setelah resmi diberhentikan sebagai Menteri Negera Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Saifullah Yusuf menyatakan akan berkonsentrasi mengembangkan Gerakan Pemuda (GP) Ansor, badan otonom NU yang dipimpinnya sejak 1999.

Mantan Sekjen PKB ini juga mengaku sempat ditawari beberapa jabatan masih masih lumayan menggiurkan, diantaranya menjadi Dubes RI di Malaysia, namun ditolak. Ia lebih memilih di luar pemerintahan.

"Sebenarnya ada tawaran dari LSM atau lembaga-lembaga lain. (Tetapi) sementara saya konsentresi ke GP Ansor saja. Saya di PPP kan hanya wakil ketua Dewan Pertimbangan. Di GP Ansor, kan masih menjadi ketua," ucap keponakan Gus Dur, Senin (7/5/2007)

Di-reshuffle, Saifullah Yusuf akan Konsentrasi Kembangkan Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Di-reshuffle, Saifullah Yusuf akan Konsentrasi Kembangkan Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Di-reshuffle, Saifullah Yusuf akan Konsentrasi Kembangkan Ansor

Jika tidak ada aral melintang, ia akan memimpin GP Ansor sampai tahun 2010 mendatang. Pada masa kepemimpinannya, ia telah berhasil membangun kantor GP Ansor baru berlantai 4 dengan lapangan badminton ditengahnya dimana ia sering bermain bersama para pengurus Ansor.

Seusai pengumuman, banyak koleganya yang mengucapkan selamat via SMS telah meninggalkan PDT. Isi SMS antara lain "Santai wae Cak, dilakoni kanti sumeleh" (Santai saja Cak, dijalani dengan lapang dada) dan "Pak Saiful selamat atas bebasnya Anda dari kewajiban yang nggak jelas".

Hari Santri 2019

Saiful juga telah mengemasi barang-barangnya di kantor PDT dan beramah-tamah dengan para stafnya, termasuk para deputi dengan menggelar makan siang bersama. (dtc/mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, Ubudiyah Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

NU Bersatu Susah Dipecah-belah

Jepara, Hari Santri 2019. Nahdlatul Ulama memasuki usianya yang ke-92 tahun menurut kalender Hijriyah. Di usianya yang kian senja menurut KH Asyhari Syamsuri, Ketua PCNU Jepara harus semakin bersatu. Jika bersatu kelompok lain akan susah memecah belah jamiyyah yang bermakna kebangkitan ulama ini.

Demikian disampaikan dalam pengajian Haul Massal dan Harlah NU ke-92 yang diadakan MWCNU Kalinyamatan bertempat di gedung MWCNU Kalinyamatan, Jum’at (08/05/15) siang.

NU Bersatu Susah Dipecah-belah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Bersatu Susah Dipecah-belah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Bersatu Susah Dipecah-belah

Kiai Asyhari meyakini jika NU bersatu, rukun susah apabila ada kelompok lain memecah-belah keutuhan NU. “Jika kita bersatu, kita susah diintervensi kelompok lain,” pesannya kepada ribuan jamaah yang memadati gedung MWCNU.

Hari Santri 2019

Apa yang dikatakan dia tentu sejalan dengan penggalan syair KH Ahmad Fauzan, tokoh NU Jepara tempo dulu. Mlakune NU Koyo Slender/ Senajan Nyrangap Merohi Klenyer/ Duwe Dalan Dewe Ora Keno Nabrak/ Seng Sopo Nabrak Merohi Kelenger.

Dijelaskan Kepala SMKN 3 Jepara ini NU mempunyai jalan sendiri. Kelompok lain tidak boleh ikut campur. Yang ikut campur akan tahu sendiri akibatnya.

Hari Santri 2019

Hal lain dikemukakan Muhsinin. Menurut Ketua MWCNU Kalinyamatan ini NU wajib menjunjung tinggi hasil musyawarah. “Apapun keputusan musyawarah NU harus diikuti dan dijalankan dengan sebaik-baiknya,” terangnya.

Dalam kegiatan yang dihadiri ribuan jamaah ini menghadirkan penceramah asal Grobogan, KH Mahyan Ahmad. (Syaiful Mustaqim//Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Tokoh, Doa Hari Santri 2019

Jumat, 05 Januari 2018

Darurat Kejahatan Seksual, PMII Trenggalek Desak Pemerintah Sahkan Segera Perppu

Trenggalek, Hari Santri 2019 - Puluhan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Trenggalek menggelar aksi di depan Pendopo Kabupaten Trenggalek. Mereka meminta pemerintah untuk segera mensahkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) perihal kejahatan seksual.

"Indonesia darurat kejahatan seksual. Kasus Yuyun, Eno, dan kasus predator perempuan di Kediri hanyalah segelintir dari maraknya kasus kejahatan seksual akhir-akhir ini,” kata Ketua PMII Trenggalek Mustain.

Darurat Kejahatan Seksual, PMII Trenggalek Desak Pemerintah Sahkan Segera Perppu (Sumber Gambar : Nu Online)
Darurat Kejahatan Seksual, PMII Trenggalek Desak Pemerintah Sahkan Segera Perppu (Sumber Gambar : Nu Online)

Darurat Kejahatan Seksual, PMII Trenggalek Desak Pemerintah Sahkan Segera Perppu

Celakanya, kata Musta‘in, banyak dari korban yang masih di bawah umur. Karenanya, menurut kami, hukuman kebiri sangat layak bagi pelaku kejahatan seksual.

Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak yang menemui massa PMII di depan pendopo menyatakan dukungannya agar pengadilan menghukum seberat-beratnya pelaku kejahatan seksual. Ia membubuhkan tanda tangan di atas spanduk besar yang telah disiapkan sebagai bentuk dukungannya.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Setelah memperoleh dukungan dari Bupati, mereka meneruskan aksi menuju gedung dewan setempat. Sempat terjadi dialog alot di gedung wakil rakyat ini sebelum akhirnya beberapa perwakilan dari PMII diterima oleh Komisi I DPRD Kabupaten Trenggalek yang menangani bidang hukum. Senada dengan bupati, Komisi I DPRD Trenggalek menyampaikan dukungannya secara tertulis.

Aksi mahasiswa PMII ini diawali dengan jalan panjang sambil membentangkan spanduk dan poster tentang kejahatan seksual. Selain orasi, mereka mewarnai unjuk rasanya dengan aksi teatrikal. (Abid Dzulfikar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ubudiyah, Doa, Daerah Hari Santri 2019

Kamis, 28 Desember 2017

Kang Said: Berpikirlah Rasional, Jangan Liberal

Mojokerto, Hari Santri 2019. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Dr. Said Aqil Sirodj mengharapkan Pergunu dapat memahami agama dengan pendekatan rasional, kontekstual dan jangan liberal.

“Dalam pemahaman keagamaan kita harus memakai akal yang benar dan jelas, rasional, kontekstual sesuai koteks masa dan temapt tapi jangan liberal, jangan lepas kendali dari al-quran dan hadis.”

Kang Said: Berpikirlah Rasional, Jangan Liberal (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Berpikirlah Rasional, Jangan Liberal (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Berpikirlah Rasional, Jangan Liberal

“Pergunu juga jangan hanya ngajar saja, ngaji saja, tapi harus mewarnai seluruh segi kehidupan.” 

Hari Santri 2019

Dia juga mewanti-wanti Pergunu agar tidak ikut-ikut dalam hingar bingar perpolitikan. Pergunu diharap lebih berkonsentrasi dalam ranah keilmuan dan dakwah kemasyarakatan.

Hari Santri 2019

“Tidak boleh semua jadi politisi, menjadi DPR, dan sebagainya karena harus ada yang duduk manis untuk memahami, memperluas pemaknaan agama, mengubah masyarakat, mewarnai pola pikirnya” ujar Said dalam penutupan Rapat Kerja Nasional PERGUNU, Ahad malam (08/07) di Aula Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto.

“Kiai-kiai sepuh ndak usah di politik, hendaknya liyatafaqqahu fiddin dan liyundzira qawmahum, karena itu lebih terhormat dan itulah tugas para ulama.” Tegasnya lagi di hadapan para pengurus PERGUNU seluruh Indonesia.

Kontributor: Yusuf Suharto

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pemurnian Aqidah, Olahraga, Doa Hari Santri 2019

Kamis, 21 Desember 2017

Akan Blokir Al-Jazeera, Israel Dinilai Musuh Kebebasan Pers

Jerusalem, Hari Santri 2019

Israel berencana melarang saluran informasi Qatar, Al-Jazeera beroperasi di negara tersebut atas tuduhan sebagai pemicu kekerasan. Dengan demikian, Israel mengikuti jejak sejumlah negara Arab yang telah menutup penyiar media itu di tengah perselisihan politik mereka dengan Qatar.

Seperti dilansir AP, Menteri Komunikasi Israel Ayoob Kara mengatakan bahwa dia berencana untuk mencabut izin pers wartawan Al-Jazeera, yang secara efektif mencegah mereka untuk bekerja di Israel. Kara mengatakan, dia telah meminta jaringan kabel dan satelit untuk memblokir transmisi Al Jazeera dan meminta undang-undang untuk melarang mereka sama sekali.

Al-Jazeera yang bermarkas di Doha dalam situsnya berbahasa Inggris mengutuk tindakan tersebut sebagai tindakan yang "tidak demokratis" dan menyatakan akan mengambil langkah hukum. Al-Jazeera akan terus beroperasi di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Akan Blokir Al-Jazeera, Israel Dinilai Musuh Kebebasan Pers (Sumber Gambar : Nu Online)
Akan Blokir Al-Jazeera, Israel Dinilai Musuh Kebebasan Pers (Sumber Gambar : Nu Online)

Akan Blokir Al-Jazeera, Israel Dinilai Musuh Kebebasan Pers

Kepala biro penyiar di Yerusalem Walid al-Omari mengatakan, kantornya belum diberitahu oleh pejabat Israel tentang tindakan yang mungkin dilakukan pemerintah Israel.

Al-Jazeera, sebuah jaringan satelit pan-Arab yang didanai oleh pemerintah Qatar, sudah menjadi sasaran negara-negara Arab yang sekarang mengisolasi Qatar sebagai bagian dari sengketa politik selama berbulan-bulan. Qatar dituduh mendukung kelompok ekstremis. Yordania dan Arab Saudi baru-baru ini menutup kantor-kantor lokal Al-Jazeera, sementara saluran dan situs afiliasinya telah diblokir di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir dan Bahrain.

Hari Santri 2019

Pejabat Israel telah lama menuduh Al-Jazeera bersikap bias terhadap negara Yahudi tersebut. Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman telah menyamakan liputannya dengan propaganda "Nazi Jerman".

The Foreign Press Association (Asosiasi Pers Asing), mewakili wartawan yang meliput wilayah Israel dan Palestina untuk organisasi berita internasional, tengah mencermati masalah ini dan sedang mempelajari tentang langkah-langkah yang bakal diambil.

The Committee to Protect Journalists (Komite untuk Perlindungan Wartawan), sebuah kelompok advokasi yang berbasis di New York, mengkritik usulan Israel tersebut.?

"Menyensor Al-Jazeera atau menutup kantornya tidak akan membawa stabilitas ke kawasan itu. Justru tindakan tersebut akan menempatkan Israel secara jelas dalam deretan para musuh kebebasan pers yang paling parah di kawasan ini," kata Sherif Mansour, koordinator program Timur Tengah dan Afrika Utara komite itu.

Hari Santri 2019

Menurutnya, Israel harus meninggalkan rencana-rencana yang tidak demokratis ini dan mengizinkan Al-Jazeera beserta semua wartawan untuk melakukan kerja-kerja jurnalistik secara bebas di berbagai negara dan wilayah. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri, Doa Hari Santri 2019

Selasa, 12 Desember 2017

Penampakan Rumah Cut Nyak Dien yang Kokoh Meski Diterjang Tsunami Aceh

Aceh Besar, Hari Santri 2019. Salah seorang pahlawan nasional perempuan asal Aceh, Cut Nyak Dien menjadi inspirator para perempuan di Aceh untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Penampakan Rumah Cut Nyak Dien yang Kokoh Meski Diterjang Tsunami Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Penampakan Rumah Cut Nyak Dien yang Kokoh Meski Diterjang Tsunami Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Penampakan Rumah Cut Nyak Dien yang Kokoh Meski Diterjang Tsunami Aceh

Di antara jejak perjuangannya, masyarakat Aceh dan bangsa Indonesia bisa menelusuri rumah Cut Nyak Dien yang terletak di daerah Lampisang, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Ketika memasuki area yang sudah diresmikan menjadi cagar budaya itu, masyarakat akan dihadapkan pada sebuah rumah panggung yang mempunyai luas tanah sekitar 200 meter persegi. 

Bangunan yang 100 persen terbuat dari material alam berupa kayu dan daun rumbia itu terlihat kokoh meskipun sempat diterjang bencana gempa dan gelombang Tsunami dahsyat yang menerjang Aceh pada 26 Desember 2004 silam.

Aisyah (55), seorang yang sudah 13 tahun menjaga rumah Cut Nyak Dien memaparkan, Tsunami memang memporak-porandakan sebagian besar wilayah Aceh. Namun rumah bersejarah Cut Nyak Dien tersebut tetap kokoh, bahkan menjadi salah satu tempat perlindungan warga saat Tsunami.

Hari Santri 2019

“Tsunami menerjang dan menenggelamkan rumah ini juga, tetapi tetap kokoh karena rumah ini tidak menggunakan paku tapi pasak,” ungkap Aisyah kepada Hari Santri 2019, Ahad (8/10) siang.

Di tengah melayani masyarakat yang sedang berkunjung melihat-lihat rumah Cut Nyak Dien, Aisyah yang rumahnya juga habis diterjang Tsunami ini menjelaskan, saat itu sejumlah warga naik ke rumah Cut Nyak Dien. Namun, setelah mengetahui bahwa volume air bah Tsunami terus meninggi, mereka menaiki atap.

“Sehingga yang rusak hanya bagian atap yang terbuat dari daun rumbia karena dibongkar oleh warga untuk menaiki atap,” terang Aisyah yang juga menjelaskan bahwa 100 persen rumah Cut Nyak Dien terbuat dari kayu ulin. Kayu yang dikenal kuat dan tahan rayap.

Rumah yang dikunjungi banyak masyarakat setiap tahunnya ini mempunyai sejumlah ruangan. Pintu masuk utama terdapat di sisi kanan. Warga langsung dihadapkan dengan ruangan tengah yang bisa langsung menuju serambi rumah.

Hari Santri 2019

Serambi rumah terdapat di sisi kanan dan sis kiri rumah. Di ruangan ini, terpampang foto-foto bersejarah perjuangan Cut Nyak Dien, Teuku Umar, dan masyarakat Aceh dalam melawan Belanda.

Masuk ke tengah bagian depan rumah, ada dua kamar khusus yang diperuntukkan bagi para dayang. Kamar dayang-dayang ini sejajar dengan dua serambi yang masing-masing mempunyai jendela di bagian depan.

Ada juga kamar untuk pembantu yang berhadapan langsung dengan ruang makan. Di ruang makan yang terdapat sejumlah kursi dan meja ini dimanfaatkan untuk memajang sejumlah senjata yangdigunakan masyarakat Aceh dalam berjuang.

Di antara senjata-senjata itu di antaranya Rencong, parang jenis singrong, parang jenis cot lantring, parang jenis ladieng, pedang, dan tombak. 

Adapun kamar Cut Nyak Dien terletak di bagian belakang rumah. Terdapat ruangan khusus untuk menerima tamu yang terletak sejajar dengan kamar Cut Nyak Dien.

Namun, rumah yang nampak kokoh dengan cat mayoritas warna hitam yang membalutnya merupakan replika dari rumah asli dengan bentuk yang sama persis. Rumah Cut Nyak Dien sendiri dibakar habis oleh Belanda pada 1896 dan tidak menyisakan apapun.

“Kecuali sumur yang masih asli di bagian depan rumah karena ia terbuat dari semen,” ungkap Aisyah. Sumur ini menjulang tinggi sekitar 3 meter dari atas permukaan tanah. Menurut pengakuan Aisyah, sumur yang hingga sekarang masih ada airnya itu memiliki kedalaman 18 meter.

Selain wisatawan domestik, sejumlah wisatawan mancanegara juga sering berkunjung di rumah yang dipugar kembali pada 1981 silam ini. 

“Warga Malaysia sering sekali berkunjung ke sini karena mereka ada ikatan emosional karena Sultan Pahang mempunyai istri orang Aceh,” tutur Aisyah.

Dia juga menerangkan, masyarakat Eropa dan Amerika juga sering pernah berkunjung ke rumah Cut Nyak Dien di antaranya dari negara Jerman, Belanda, Kanada, dan Amerika Serikat.

“Biasanya mereka didampingi guide masing-masing,” tandas Aisyah. Para pengunjung juga bisa menelusuri jejak sejarah dari perpustakaan yang terletak di dalam komplek rumah Cut Nyak Dien.

Cut Nyak Dien lahir di Lampadang, Kerajaan Aceh pada 1848. Ia meninggal dalam pengasingannya di Sumedang, Jawa Barat pada 1906. Ia diasingkan oleh Belanda karena dinilai mempunyai pengaruh kuat yang bisa menggerakkan masyarakat Aceh dalam melawan Belanda. Ia dimakamkan di daerah Gunung Puyuh Sumedang. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, AlaSantri Hari Santri 2019

Jumat, 08 Desember 2017

Daripada Demo Lebih Baik Berdoa

Probolinggo, Hari Santri 2019

A’wan Provinsi Jawa Timur H Hasan Aminuddin menanggapi dingin ajakan 4 November untuk melakukan demo besar-besaran di Jakarta menuntut diproses hukumnya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang diduga telah melakukan penistaan agama. “Bergulirnya isu demo besar-besaran tersebut terlalu berlebihan,” katanya, Rabu (2/11).

Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo ini mengimbau kepada masyarakat apa pun yang terjadi pada hari Jumat nanti, di Kabupaten Probolinggo khususnya tidak perlu ada demo yang seperti itu. Bahkan dia justru mengajak lebih baik diadakan doa bersama di rumah Allah untuk keselamatan bangsa dan keutuhan NKRI.

Daripada Demo Lebih Baik Berdoa (Sumber Gambar : Nu Online)
Daripada Demo Lebih Baik Berdoa (Sumber Gambar : Nu Online)

Daripada Demo Lebih Baik Berdoa

“Kita tak perlu ikut serta atau terpengaruh kedalam isu politik yang membawa-bawa nama agama. Lebih baik kita berkumpul dan berdoa bersama di Masjid Bin Aminuddin di Pondok Hati Kraksaan untuk mendoakan keselamatan umat dan ketuhan NKRI,” tegasnya.

Hari Santri 2019

Menurut Hasan, sudah jelas apa langkah yang diambil oleh Prsesiden Joko Widodo dalam mengurai benang kusut terkait isu yang selama ini telah memanas. Secara gamblang langkah terbaik telah diambil oleh Presiden Jokowi untuk meredam isu tersebut. Dia mengibaratkannya sebuah api yang jika disimpan panas, jika dibuka terbakar.

“Biarlah itu masalah yang dibuat makhluk Allah, diserahkan pada Allah dan sepatutnya diselesaikan oleh makhluk Allah di rumah Allah. Namun demikian saya mengapresiasi langkah yang diambil oleh Bapak Presiden Jokowi yang mendatangi kediaman Prabowo untuk mengurai benang kusut tersebut,” tambahnya.

Hari Santri 2019

Terlebih jelas Hasan, usaha Presiden Jokowi bersama Wakilnya Jusuf Kalla dengan mengundang seluruh tokoh dan pemuka agama ke Istana Negara merupakan bentuk keseriusan pemerintah dan tak ingin membiarkan isu tersebut terus berlarut-larut.

“Apalagi isu tersebut menyangkut isu sensitif yang menyinggung agama Islam sebagai agama mayoritas di NKRI. Sekali lagi saya mengajak, lebih baik datang ke rumah Allah dan berdoa bersama-sama,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa Hari Santri 2019

Selasa, 05 Desember 2017

"NU untuk Datang dan Pergi"

Jakarta, Hari Santri 2019

Organisasi sosial keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) sering hanya dimanfaatkan oleh kalangan tertentu pada waktu-waktu tertentu saja. NU hanya jadi pilihan pada saat menguntungkan.



NU untuk Datang dan Pergi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU untuk Datang dan Pergi (Sumber Gambar : Nu Online)

"NU untuk Datang dan Pergi"

"Pada saat pemilu orang berbondong ke NU. Saat sudah terpilih NU dilupakan. Dan pada saat sudah tidak kepakai kembali ke NU lagi. Inilah NU, untuk datang dan pergi," kata DR Ayu Sutarto dalam acara "Dialog Antar Generasi" dalam rangka Harlah Ke-82 NU di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (1/2).

Ayu Sutarto adalah penulis buku "Menjadi NU Menjadi Indonesia" yang dibedah dalam acara dialog tersebut. Hadir sejumlah kader NU lintas generasi antara lain Mustasyar PBNU KH Muchit Muzadi, sastrawan dari Pondok Pesantren Cipasung Acep Zam Zam Nur, Politisi PPP Endin AJ Sofihara, dan Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansyah.

Hari Santri 2019

Dikatakan Ayu, NU sering diperlakukan secara tidak fair dalam pentas politik di Indonesia terutama pada momen-momen pemilihan kepala daerah (pilkada). NU hanya diperlukan untuk pengumpulan massa.

"Pada saat pencalonan orang ke partai politik karena partai yang punya kewenangan, namun untuk pengumpulan massa NU yang dipakai," katanya.

Hari Santri 2019

Kiai Muchit Muzadi membenarkan, bahkan bukan dari kalangan luar saja yang memanfaatkan NU untuk kepentingan pilkada, bahkan banyak diantaranya adalah para anggota NU sendiri.

"Banyak malah yang pengen menjadi tim sukses calon dari pada menjadi calonnya. Kalau menjadi calon belum tentu jadi, tapi kalau tim sukses meskipun yang dicalonkan tidak jadi sudah sukses duluan," kata kakak kandung KH Hasyim Muzadi itu bergurau.

Khofifah Indarparawansyah menambahkan, banyaknya aktifis NU yang terjun ke dunia politik atau menjadi semacam tim sukses itu karena tidak ada pekerjaan lain selain itu.

"Mas Saiful (Saifullah Yusuf, Ketua Umum GP ANSOR: red) sering bilang kepada saya banyak para aktifis NU yang pengangguran. Maka persoalannya adalah bagaimana menyelesaikan masalah itu," katanya.

Sastarwan Acep Zamzam Nur ,e,beruncing pembiacaraan. Katanya, kecenderungan politik NU itu tidak hanya berurusan dengan pilkada.

"Bahkan koferensi NU disemua tingkatan sekarang mirip dengan pilkada. Ada tim suksesnya juga," kata putra almarhum KH Ilyas Ruhiyat itu.

Beberapa ketua PBNU hadir dalam dialog antar generasi itu, antara lain KH Said Aqil Siradj, H Abdul Aziz Ahmad dan Fajrul Falakh. Ketua PP Lajnah Talief wan Nasyr Abdul Munim DZ dan Ketua PP Lesbumi Sastro el-Ngatawi juga menghadiri dialog itu.

Dialog antar generasi dalam rangka Harlah Ke-82 NU itu dipandu oleh Umum PP Lakpesdam NU Nasihin Hasan, dan dihadiri hampir semua perwakilan pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom di lingkungan NU. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kiai, Halaqoh, Doa Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock