Ciamis,
Hari Santri 2019. Mulanya pipi memerah, lalu sudut matanya meneteskan air mata. Ia menyeka dengan ujung kerudung. Tapi menetes lagi. Padahal ia tidak sedang bercerita atau mendengar tragedi pilu menyayat. Ia cerita ibu-ibu Muslimat!
 |
| Ia Menangis Mengisahkan Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online) |
Ia Menangis Mengisahkan Muslimat
Suaranya tersendat-sendat. Nafasnya berat, karena
ceurik dareuda (sesenggukan). Ia terkesan akan kehebatam ibu-ibu Muslimat yang dipimpinnya. Di zaman seperti ini, ibu-ibu Muslimat Ciamis masih mau ikut pengajian hingga ribuan orang. Dan yang paling membuatnya terharu, mereka datang dengan ongkos sendiri.
Satu contoh, pada Harlah ke-87 NU 2013 di Islamic Center, Ciamis, Muslimat menghadirkan 6400 orang. Padahal mereka diinformasikan hanya melalui pesan singkat. Kapasitas gedung hanya 3500 orang, jelas tak mampu menampungnya.
Hari Santri 2019
Ibu-ibu itu tidak merepotkan panitia. Mereka membawa makanan sendiri, datang dengan menggunakan kolbak (pick-uap), truk, dan elf, dengan biaya sendiri. “Saya suka nangis jika ibu-ibu Muslimat ada yang membawa ke arah ideologi non-NU. Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan,” tuturnya kepada
Hari Santri 2019, di gedung PCNU Ciamis, Sabtu, (9/2).
Ia mengatakan, faktor kegairahan mereka adalah karena Ciamis umumnya berhaluan Ahlu Sunah wal-Jamaah. Di samping pengajian, sering juga diadakan lomba mars Muslimat. Juga mereka bangga dengan kepemimpinan Khofifah Indarparawansa di tingkat pusat, dan Ela Giri Komala di tingkat Wilayah. Keduanya sangat populer.
Hari Santri 2019
Aktif Muslimat sejak lulus SMAIa bernama Hj. Lismayati, akrab dipanggil Lilis. Ibu kelahiran 1958 tersebut aktif di Muslimat NU sejak lulus SMA. Tentunya Nahdliyin sekarang menganggap aneh karena tidak melalui jenjang Fatayat. Tapi itulah yang dijalaninya.
Lilis masuk ke dalam dunia ibu-ibu NU itu berawal dari sebuah pengajian Muslimatan. Pada tahun 1976, Ajengan Sofyan, tokoh NU Ciamis waktu itu, berceramah. Ia mengatakan, “Jika anak-anak ibu ada enam, coba tolong,
aclengkeun (lemparkan, red.) satu ke pesantren.”
Ajengan Sofyan menambahkan, anak yang dikirim ke pesantren itu kelak akan menjadi tongkat keluarga. “Kakek saya orang pesantren dan tokoh NU, tapi bapak saya birokrat dan mendidik anak-anaknya menjadi birokrat,” terangnya.
Karena penjelasan Ajengan Sofyan, Lismayati tersentuh. Ia anak keenam di keluarganya. Semua kakaknya tak ada satu pun mengenyam pesantren. Sejak itulah dia bertekad bulat nyantri. Pilihannya tertambat ke Pesantren Cijantung. Sejak itu, rutin mengikuti pengajian-pengajian Muslimat.
Ia yang bertubuh mungil, lincah? dan energik, langsung dipinang ibu-ibu masuk ke dalam organisasi Muslimat. “Waktu itu saya tak mendengar IPPNU dan Fatayat,” katanya.
Baru tahun 1986, ia dipercaya menjadi skeretaris PC Muslimat Ciamis. Hingga tahun 2006, empat ketua berganti, ia tetap menyandangnya. Baru kemudian dia dipercaya jadi Ketua Muslimat. Kini memasuki periode kedua, dan akan habis tahun 2016.
Beragam prestasi dibawah kepemimpinannya. Yang terdekat, 22 Januari lalu, Muslimat Ciamis juara II lomba mars Muslimat tingkat Jawa Barat. Juara I penyuluhan cakupan imunisasi sepuluh persen di Jawa Barat. Salah seorang kadernya, Ibu Lala, juara I pidato tingkat Jawa Barat.
Izin suami itu nikmat Lilis selalu hadir pada kegiatan rutin Muslimat, yaitu pengajian di tiap PAC. Pertemuan itu, ia gunakan untuk pertemuan ketua-ketua Muslimat dari 37 kecamatan. “Jadi acaranya pengajian dan rapat PAC. Mereka harus bertanggung jawab mengawal ahlu sunah. Tak boleh lengah,” terangnya.
Karena cintanya kepada Muslimat, ia mengaku jadi sugesti kesembuhan manakali sakit. “Kalau sakit saja, kalau ada undangan Muslimat di kecamatan, bisa sembuh. Bu aya pangaosan (pengajian), terasa pagi-pagi itu sehat. Ini kehebatan berjuang di Muslimat NU. Berjuang untuk mempertahankan ahlu sunah dengan para ajengan.”
Menurutnya, kunci berjuang di Muslimat adalah kemauan untuk hadir di acara Muslimat meskipun di daerah terpencil. Karrenanya, ia pernah menumpang naik truk kayu untuk menghadiri pengajian Muslimatan. Pulangnya diberi sekarung kacang tanah tanpa diminta. Kadang juga naik ojeg.
Kedua, mau tidak mau harus banyak waktu untuk Muslimat. Sekarang di Muslimat itu banyak yang pintar dan birokrat, tapi mereka tak punya banyak waktu. Itu jadi persoalan. ?
Juga izin suami. “Izin suami itu mahal, sering banyak ibu-ibu ingin berjuang, tapi izin suami yang susah. Jika diizinkan itu nikmat,” katanya. Utungnya Lilis memiliki suami yang sevisi, yaitu KH Oni Sya’roni, Wakil Rais Syuriyah PCNU Ciamis. Kiai Oni selalu percaya kepada istrinya, kendati pulang malam.
Di ujung ceritanya, Lilis agak risau akan kepemimpinan mendatang. Karenanya ia ingin pelatihan kader, juga pendidikan da’iyah untuk Muslimat. “Saya jamin seribu orang pun bisa datang, tapi sayang Muslimat tak punya uang,” katanya. Kalau ada yang mendanai, sambungnya, seribu orang pun bisa bisa dihadirkan.
Pada kesempatan berbeda, Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi berpendapat, ibu-ibu Muslimat adalah ujung tombak NU. Ke depan mereka harus dilibatkan dalam mengurusi masjid-masjid NU. ?
Penulis: Abdullah Alawi Dari Nu Online:
nu.or.idHari Santri 2019 Pemurnian Aqidah Hari Santri 2019