Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Februari 2018

Fatayat NU Ambarawa Pentaskan Seni Rebana

Pringsewu, Hari Santri 2019 - Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU Kecamatan Ambarawa Kabupaten Pringsewu mengadakan lomba Mars Fatayat dan rebana di Balai Pekon Ambarawa Barat, Ahad (7/2). Pada kegiatan yang bertema tema Tingkatkan Kreativitas Ukhuwah Islamiyah, sebanyak 16 grup yang terbagi dua mengikuti dua jenis perlombaan tersebut.

Mereka mewakili ranting Fatayat NU masing-masing. Tampak hadir Pengurus Muslimat NU Pringsewu Hj Ani Fitriana, Ketua Fatayat NU Pringsewu Umi Laila, Ketua MWCNU Ambarawa Jumangin, dan Ketua GP Ansor Ambarawa Hayatul Makki.

Fatayat NU Ambarawa Pentaskan Seni Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Ambarawa Pentaskan Seni Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Ambarawa Pentaskan Seni Rebana

Ketua Muslimat NU Pringsewu Hj Ani Fitriana mengapresiasi kegiatan lomba tersebut. Ia berpesan agar Fatayat NU khususnya di Ambarawa semangat dan termotivasi untuk bergerak menunjukkan eksistensinya dengan hal-hal yang positif.

Hari Santri 2019

"Saya senang kalau melihat ibu-ibu muda di sini kompak dan seragam seperti ini, tapi jangan hanya pas lomba kompaknya. Mari kita tunjukkan eksistensi Fatayat kepada masyarakat agar mereka juga mau bergabung bersama kita khususnya ibu-ibu muda dan para pemudinya," kata Ketua Muslimat NU Pringsewu.

Hari Santri 2019

Anda-Anda inilah, kata Hj Ani, para generasi penerus Muslimat NU nantinya. Siapa lagi yang akan meneruskan perjuangan Muslimat NU ke depan kalau bukan kader-kader muda Fatayat?

Hal senada disampaikan Ketua Fatayat NU Pringsewu Umi Laila. Ia sangat senang dengan penyelenggaraan lomba Mars Fatayat dan rebana oleh Fatayat Ambarawa. Bahkan ini akan menjadi motivasi dan inspirasi tersendiri bagi anak cabang Fatayat NU di lain kecamatan.

"Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Dengan dana yang minim dan waktu yang singkat ternyata kepengurusan di Ambarawa dapat menyelenggarakan acara semeriah ini. Ini patut dicontoh dan ditiru oleh anak cabang Fatayat NU yang lain," kata Umi.

Ia berpesan kepada grup yang menjadi juara untuk tidak berbangga hati. Tim yang kalah tidak perlu berkecil hati. Tim yang menang atau yang kalah harus tetap terus belajar dan belajar agar bisa lebih baik lagi.

Lomba menyanyikan Mars Fatayat dimenangkan oleh grup dari Ranting Fatayat NU Tanjunganom yang kemudian disusul oleh PAC Fatayat NU Ambarawa yang merebut juara dua. Sementara Ranting Fatayat NU Ambarawa Barat meraih juara tiga.

Untuk cabang lomba rebana, Ranting Fatayat NU Jatiagung berhasil menjadi yang terbaik. Juara dua direbut Ranting Fatayat Sumberagung. Sementara? PAC Fatayat NU Ambarawa berada di posisi ketiga. (Henudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kiai Hari Santri 2019

Sabtu, 10 Februari 2018

Warga NU Perlu Tingkatkan Budaya Tulis

Jakarta, Hari Santri 2019
Budaya tulis harus mulai dilakukan warga dan tokoh NU, bukan sekadar budaya lisan, karena tradisi tulis inilah yang merupakan bukti kongkrit peran kyai dalam mengembangkan umat dan masyarakat di sekitarnya.

Demikian diungkapkan, pekerja Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Supriyadi, dalam acara diskusi? pengelolaan manajemen kearsipan dilingkungan PBNU, yang diselenggarakan NU. Online, Jumat (19/8). Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua PBNU, Abdul Aziz Ahmad, segenap badan otonom NU dan pengurus kesekretariatan PBNU.

"Melalui tradisi tulisan maka semua pikiran, kebijakan, fatwa atau gerak langkah para kyai akan tercatat dan terekam dengan baik, sehingga informasi yang diperoleh lebih akurat dan kredibel," ungkapnya.

Perlunya kesadaran meningkatkan tradisi tulis para tokoh NU, lanjut alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) ini? karena Nahdlatul Ulama dan segenap tokoh-tokohnya yang amat beragam memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan republik ini, sehingga segala yang telah dilakukannya memiliki nilai sejarah yang tinggi dan ini harus diketahui oleh generasi yang akan datang."Karena ilmu pengetahuan sepenuhnya dapat ditelusuri dari sejarah, jadi kalau sampai NU tidak memiliki dokumentasi yang baik, dikhawatirkan literatur tentang NU akan sulit dilacak," tuturnya.

Dikatakan Supriyadi, selama ini, data-data kearsipan NU yang masuk masih sedikit, ketimbang yang dilakukan Muhammadiyah. NU, lanjutnya, hanya sekali menyerahkan arsip yakni ketika gedung PBNU pindah. "Meskipun data itu masih bisa terselamatkan, namun jumlahnya masih sangat sedikit dibanding kekayaan atmosfir intelektualitas NU yang sangat beragam," ujar lelaki kelahiran Surabaya ini.

Ketika ditanyakan mungkinkah NU memiliki kearsipan sendiri, dia mengatakan bisa saja itu dilakukan, tetapi membutuhkan dana yang besar, ketelitian dan investasi yang mahal. Namun, secara tekhnis bisa dilakukan, sepanjang bisa dikelola dengan baik dan mengerti bagaimana mengelolanya. "Bisa saja NU melakukan itu, karena ada juga beberapa lembaga swasta yang melakukan fungsi-fungsi kearsipan, seperti indoarsip dan lainnya," katanya.

Namun dia juga mengingatkan apabila tradisi tulisan sudah dimulai dikembangkan maka perlu dicarikan solusi untuk mengelolanya dengan baik dan benar sehingga secara tekhnis mudah ditemukan dan informasi yang penting dapat dilestarikan dengan baik.

Dalam diskusi kedua dari empat diskusi yang direncanakan oleh Hari Santri 2019, terungkap lebih dari 25 km data berupa kertas jika dijejer memanjang, 1 juta data photo, ribuan data dalam bentuk CD, mikro film, kaset dan jutaan data lain yang terkumpul sejak? tahun 1602-2005 yang dimiliki Arsip Nasional Republik Indonesia. (cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Budaya, Kiai Hari Santri 2019

Warga NU Perlu Tingkatkan Budaya Tulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Perlu Tingkatkan Budaya Tulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Perlu Tingkatkan Budaya Tulis

Senin, 05 Februari 2018

Kesepakatan Tokyo Gagal , Operasi Terpadu Siap digelar

Jakarta, NU.Online
Setelah melalui upaya perundingan yang alot antara pihak GAM-RI di Tokyo, akhirnya mengalami dead lock karena juru runding dari pihak GAM tidak mau mengalah. Tidak dicapainya kesepakatan itu karena Karena GAM (Gerakan Aceh Merdeka) menolak tiga syarat yang telah diajukan pemerintah RI yaitu : GAM mengakui keberadaan Republik Indonesia. Artinya, Aceh tetap merupakan bagian dari? Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kedua, menerima Undang-Undang NAD. Ketiga, meletakkan senjata.

Ketua juru runding Indonesia, Wiryono Sastrohandoyo, menyatakan "Kita telah melakukan upaya yang maksimal untuk menghindari Operasi Militer? tapi GAM memang keras kepala dan tak mau mengalah sedikitpun," ungkapnya beberapa saat setelah mengakhiri perundingan.?

Hal senada juga diungkapkan Steve Dally? Juru runding (HDC) Henry Dunant Centre, " Perundingan Damai RI dan GAM memang tidak bisa dicapai" ungkapnya.

Menurut Steve Daly, pihak Komite Keamanan Bersama telah berusaha untuk membawa kedua delegasi untuk menghasilkan keputusan penghentian konflik. "Usaha yang kami lakukan tersebut, sayangnya, telah gagal," kata? Dally

Sementara itu dilaporkan kantor berita AP? bahwa " Para petinggi? GAM yang terlibat dalam perundingan menyatakan siap perang, tak ada pilihan lain selain mengangkat senjata dan mereka menyatakan telah terbiasa mengangkat senjata selama 27 tahun".

Sebelumnya, baik Presiden maupun Wakil Presiden menegaskan bahwa untuk ketiga syarat itu tidak bisa ditawar-tawar lagi. Artinya apabila pihak GAM menolak untuk memenuhi ketiga syarat, maka pemerintah akan melaksanakan operasi terpadu untuk memberantas GAM yang melakukan tindakan makar.

Proses damai di Aceh selalu gagal sekalipun Indonesia telah empat kali mengganti presidennya, dan telah melakukan berbagai upaya untuk mecegah pemberontakan di Aceh. Kini GAM yang sudah semakin kuat semakin keras pula tuntutan mereka untuk merdeka, dan tetap menolak tawaran tertinggi dari pihak Indonesia dengan otonomi khusus.

Menteri Pertahanan Matori Abdul Jalil mengatakan, perundingan bisa terjadi jika pihak GAM mau menerima syarat yang diajukan. Dengan demikian pilihan bagi GAM memang hanya ada dua, menolak atau menerima.

Apabila GAM menolak, berarti proses perundingan mengalami jalan buntu. Itu berarti pemerintah pusat sudah tidak punya pilihan, yakni melaksanakan operasi terpadu yang telah mendapat dukungan dari seluruh rakyat Indonesia, yang formalnya berupa dukungan dari DPR RI itu terpaksa dilaksanakan.

Setelah perundingan di Tokyo mengalami kemacetan, maka tidak ada harapan lagi bagi pihak pemerintah pusat dengan pihak GAM untuk melanjutkan upaya damai. Bagi pemerintah yang ingin melaksanakan operasi terpadu, harus berpikir agar meminimalisasi korban yang jatuh dari rakyat sipil yang tidak berdosa.

Rakyat Aceh yang baru sebentar menikmati suasana damai selama diterapkannya Cessation of Hostilities Agreement (CoHA) di Aceh, kiniharus bersiap-siap untuk mengungsi atau menyelamatkan diri kemungkinan terburuk yang ditimbulkan oleh bentrokan senjata

Keppres Diumumkan Malam Ini

Atas hasil perundingan di Tokyo ini, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono sudah melaporkan kepada Presiden Megawati. “Tadi bapak menteri sudah melaporkan kepada presiden melalui telepon,” jelas Sekretaris Menko Polkam Letjen Sudi Silalahi? seusai rapat interen jajaran Menko Polkam di kantor Menko Polkam.

Atas gagalnya perundingan ini, lanjut Sudi, Menko Polkam juga sudah menghubungi Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan Kapolri Jenderal Pol Da’I Bachtiar untuk mempersiapkan segala sesuatunya terkait operasi terpadu di Aceh

Setelah sempat simpang siur tentang tempat pengumuman Keppres Operasi Terpadu di Aceh, akhirnya diketahui? pengumuman tersebut dilakukan di kantor Menko Polkam.? Keputusan Presiden No. 28 tahun 2003? yang dibacakan oleh Sesmilpres, Mayjend TB Hasanudin, Senin (19/5/2003) pukul (00.05 WIB) itu menandakan dimulainya Operasi Terpadu di Aceh untuk menumpas GAM.? Artinya di Aceh dalam status keadaan bahaya dengan Status Darurat Militer. Diundangkannya Keppres tersebut dengan sendirinya menjadi payung hukum bagi militer untuk menumpas GAM setidaknya untuk jangka waktu enam bulan kedepan.

Atas pertimbangan ini, lebih lanjut pemerintah memerintahkan kepada jajaran terkait untuk melakukan operasi terpadu, sebagaimana yang pemerintah jelaskan sebelumnya. “Operasi Terpadu dan Status Darurat Militer mulai berlaku pukul 00.00 19 Mei tahun 2003,” ujar Susilo Bambang Yudhoyono dalam jumpa pers? (Iin/Dtk/Ant/Cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kiai, Pendidikan Hari Santri 2019

Kesepakatan Tokyo  Gagal , Operasi Terpadu Siap digelar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesepakatan Tokyo Gagal , Operasi Terpadu Siap digelar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesepakatan Tokyo Gagal , Operasi Terpadu Siap digelar

Minggu, 04 Februari 2018

Aksi Solidaritas NU untuk Palestina Datang dari Berbagai Daerah

Jakarta, Hari Santri 2019. Aksi solidaritas untuk rakyat Palestina yang kini mengalami penderitaan akibat kekejaman militer Israel mengalir dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka mengutuk serangan Israel yang membabi buta sehingga menghilangkan nyawa ratusan rakyat sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.

Seperti yang dilakukan Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Universitas Hasyim Asy’Ari (Unhasy) Jombang, Jawa Timur, Selasa (15/7). Mereka menggelar doa bersama dengan memanfaatkan momen buka puasa. Acara juga dirangkai dengan khotmil qur’an dan pembacaan puisi untuk Palestina.

Aksi Solidaritas NU untuk Palestina Datang dari Berbagai Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Solidaritas NU untuk Palestina Datang dari Berbagai Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Aksi Solidaritas NU untuk Palestina Datang dari Berbagai Daerah

Di waktu yang bersamaan, kumandang doa juga datang dari Makassar, Sulawesi Selatan, tepatnya di Gedung Maarif Centre. Sementara di belahan Pulau Madura, shalat ghaib dan aksi bakar bendera Israel mewarnai protes para kader PC IPNU Sumenep. Para pelajar NU ini mengungkapkan rasa prihatin yang mendalam dan berharap Palestina segera mendapat kedamaian.

Novi Muklisoh, Ketua IPPNU Unhasy mengatakan, apa yang terjadi terhadap masyarakat di Gaza, Palestina sudah tak bisa ditoleransi. "Bayangkan, anak kecil yang berumur 5 tahun pun mereka (militer Israel) sayat-sayat dagingnya, mereka potong tangannya, dan itu mereka melakukannya dalam keadaan sadar. Kemudian anak kecil yang berumur 3 tahun, dengan beramai-ramai mereka berondong dengan senjata," ungkap santriwati Pesantren Darul Falah 5 ini.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Di Sukoharjo, Jawa Tengah, Pimpinan Anak Cabang Pencak Silat NU Pagar Nusa Kartasura bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ormas Islam se-solo Raya menjalankan aksi dengan berjalan jauh (long march), Ahad (14/7). Aksi yang dimulai pukul 09.00 wib ini berjalan melalui Jl. Slamet Riyadi dengan tertib.

Gema Takbir dan Sholawat yang dikumandangkan peserta aksi membuat aksi solidaritas ini tetap damai dan simpatik. Masing-masing perwakilan secara bergantian melakukan orasi terkait tindakan biadab tentara Israel terhadap rakyat Palestina.

Koordinator Aksi dari Pagar Nusa Kartasura, Ulil Albab menuturkan bahwa kepedulian terhadap Palestina bukan sekedar bentuk rasa kasihan. Tapi wujud nasionalisme sebagai warga negara Indonesia. "Setiap warga negara Indonesia tentunya mengetahui bahwa pembukaan UUD 45 kita menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, dan itu adalah jiwa kita sebagai bangsa Indonesia," lanjutnya.

Di beberapa tempat dan kesempatan yang berbeda, keprihatinan terhadap krisis yang terjadi di Palestina juga diungkapkan sejumlah pesantren, badan otonom dan berbagai komunitas NU, seperti PMII, GP Ansor, Jaringan Gusdurian, dan lainnya. (Idris/Kamil/Rosyidi/Anwar/Mahbib)

Foto: Shalat ghaib pelajar NU Sumenep untuk para korban kekejaman Israel

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Berita, Kiai Hari Santri 2019

Selasa, 30 Januari 2018

Pelajar NU Sudahi Program Tahap Awal Pendampingan Anak Jalanan di Kota Malang

Malang, Hari Santri 2019 - Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Unibraw mermpungkan program pendidikan untuk anak jalanan dan anak usia dini di Kota Malang, Ahad (5/6). Program pendidikan anak jalanan dan usia dini tahap pertama ini resmi ditutup dengan pencapaian target sesuai dengan yang direncanakan.

Dalam program tahap awal ini pelajar NU Unibraw bekerja sama dengan LPAN Griya Baca Kota Malang. Dengan program ini, mereka berharap Kota Malang menjadi kota inklusif, kota layak anak, dan mencetak anak yang berkarakter bagi masa depan.

Pelajar NU Sudahi Program Tahap Awal Pendampingan Anak Jalanan di Kota Malang (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Sudahi Program Tahap Awal Pendampingan Anak Jalanan di Kota Malang (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Sudahi Program Tahap Awal Pendampingan Anak Jalanan di Kota Malang

Program dengan nama Dream for The Kidds ini dilaksanakan selama lima bulan dan mendapatkan respon positif. Hal ini ditandai dengan tingginya antusias masyarakat dan banyaknya relawan yang turut serta. Penutupan program tahap satu ini ditandai dengan penyerahan sealer (penyegel) kemasan produk kepada pengurus LPAN Griya Baca Kota Malang yang nantinya akan ditindaklanjuti pada program tahap dua dengan fokus pemberdayaan pembuatan produk.

Hari Santri 2019

Alhamdulillah tahap satu sudah selesai dan ditutup sesuai jadwal sebelum bulan Ramadhan, tahap satu kami masih berfokus pada perkenalan dan pendidikan dasar bagi anak. Pendidikan dasar ini adalah pondasi awal di mana nanti pada fase dua kami akan mencoba mengarahkan pada sektor pemberdayaan ekonomi supaya anak jalanan dan anak usia dini bisa mandiri dan jiwa kewirausahaanya terlatih,” ujar Koordinator Program Rekanita Kurnia Islami.

Selama lima bulan, program ini dijalankan oleh 14 relawan aktif dan diikuti oleh 32 anak di Kota Malang. “Harapanya program sosial seperti ini akan tetap berlanjut dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. IPNU-IPPNU harus mampu menjadi pelopor nasional gerakan sosial kemasyarakatan yang massif,” tambah seorang relawan Rekan A’inurrofiqin.

Hari Santri 2019

Pihak IPNU-IPPNU Unibraw dan LPAN Griya Baca Kota Malang berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu terselenggaranya program tahap satu. Mereka membuka kesempatan bagi siapa saja untuk ikut terlibat dalam program ini dan memberikan kontribusi baik berupa materi, buku, atau sekedar waktu luang untuk datang ke program ini setiap hari Ahad di alun-alun Kota Malang. (Ikbar Sallim Al-Asyari/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian Islam, Pendidikan, Kiai Hari Santri 2019

Sabtu, 13 Januari 2018

Dekan UPI Bandung: Pesantren Tetap Harus Jadi Basis Sekolah

Bandung, Hari Santri 2019 - Pesantren sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka, bahkan sebelum masa penjajahan. Sehingga ia perlu menjadi acuan di dalam pengembangan pendidikan, kata Agus Mulyana, Dekan Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FP-IPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

"Pesantren harus jadi basis. Makanya kita menyebutnya sekolah berbasis pesantren, di dalam mengembangkan sekolah yang diwarisi oleh nilai-nilai pesantren. Jadi pesantrennya maju, sekolahnya pun maju," kata Agus dalam kegiatan Pelatihan Manajemen Sekolah Berbasis Pesantren (SBP), di Gedung PWNU Jabar, Sabtu (29/4).

Dekan UPI Bandung: Pesantren Tetap Harus Jadi Basis Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Dekan UPI Bandung: Pesantren Tetap Harus Jadi Basis Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Dekan UPI Bandung: Pesantren Tetap Harus Jadi Basis Sekolah

Dewan Pakar Maarif NU Kota Bandung ini pun menjelaskan bahwa pesantren memang sudah ada sejak dulu tetapi perkembangannya tak lebih cepat dan maju dibandingkan dengan sekolah yang notabene warisan penjajahan.

"Dulu kan sekolah itu hanya milik orang-orang non-Islam, sementara mayoritas kita beragama Islam, dan pendidikan pesantren seperti terbelakang sehingga lama-kelamaan menjadi tuntutan (SBP) ini karena banyak kejadian pesantren yang tidak bisa mengikuti perkembangan pendidikan zaman, istilahnya tertinggal," jelas Dosen UPI Bandung

Hari Santri 2019

Tetapi, lanjutnya, saat ini sudah bermunculan sekolah yang berbasis pesantren, pesantren modern, dan pesantren yang ada sekolahnya. Artinya, pesantren sudah beradaptasi pada perkembangan zaman. Menurutnya, antara pesantren dan sekolah tak boleh ada dikotomi. Keduanya harus maju tetapi kemajuan itu ditandai dengan ada dua indicator; pertama, respon dari masyarakat; kedua, kompetensi lulusan atau tindak lanjut lulusan.

Hari Santri 2019

"Pertama respon dari masyarakat, ketika masyarakat berbondong mengirimkan anaknya? ke pesantren yang ada sekolahnya itu berarti indikatornya sudah maju, dan kemajuan itu ditentukan pada indikator yang kedua yaitu keberhasilan dari pesantren itu. Misalnya ada pesantren dengan indikator tahfidz atau lulusan aliyah dan SMA mereka bisa diterima di perguruan tinggi negeri atau mereka sekolah ke luar negeri ke Mesir, ke Arab Saudi atau ke negara-negera eropa," jelasnya.

Dia pun berharap, sekolah berbasis pesantren lebih diperbanyak sehingga memiliki daya tawar yang tinggi.

Ketua PC Lembaga Pendidikan Maarif NU Kota Bandung Saifullah mengatakan, pesantren harus memiliki sekolah atau madrasah yang berkualitas, tidak hanya dari segi ilmu agama tetapi juga sains.

"Itu harapan saya sebagai PC Maarif NU Kota bandung, apalagi acara ini diikuti oleh kebanyakan luar Kota Bandung, seharusnya acara ini untuk Kota Bandung, tapi alhamdulilah respon para guru, para kiai, ustadz yang ada di pesantren berbondong-bondong mengikuti pelatihan ini," terang Saiful, yang juga sebagai pengajar MTs Al Burhan Kota Bandung.

Para peserta Pelatihan Manajemen Sekolah Berbasis Pesantren (SBP) berasal dari Depok, Subang, Kota Bandung, dan Bandung Barat. Turut hadir Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementrian Agama Kota Bandung. (Bakti Habibie/Mahbib)

?



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kiai Hari Santri 2019

Sabtu, 30 Desember 2017

Songsong UN, Pelajar MAN Tolak Kunci Jawaban Ujian

Pringsewu, Hari Santri 2019. Ratusan pelajar MAN Pringsewu sejak awal menyatakan penolakannya atas kunci jawaban gelap dengan acara istighotsah di masjid Jabal Nur Kompleks MAN Pringsewu, Jumat (11/4). Untuk kepercayaan diri, mereka berdoa bersama, bersembahyang sunah hajat, dan persiapan belajar intensif sebelumnya.

Dalam menghadapi UN, pelajar tidak boleh mencukupkan pada persiapan fisik semata. Persiapan mental, kata Kepsek MAN Pringsewu Samsurizal, juga sangat perlu.

Songsong UN, Pelajar MAN Tolak Kunci Jawaban Ujian (Sumber Gambar : Nu Online)
Songsong UN, Pelajar MAN Tolak Kunci Jawaban Ujian (Sumber Gambar : Nu Online)

Songsong UN, Pelajar MAN Tolak Kunci Jawaban Ujian

Samsurizal mengimbau seluruh siswa-siswi peserta UN 2014 untuk tidak percaya kepada kunci jawaban dan menyesatkan. Karena, kunci jawaban disebarkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dengan motif mengambil keuntungan pribadi.

Hari Santri 2019

"Yakinlah kepada kemampuan sendiri. Yakinlah Allah akan menolong kalian. Yakinkan di hati bahwa kita mampu karena Allah menolong kita," tegas Samsurizal dalam sambutannya.

Hari Santri 2019

Di akhir sambutan, Samsurizal tidak lupa berpesan kepada siswa-siswi MAN Pringsewu untuk meminta doa dan restu semua pihak terutama kedua orang tua dan seluruh dewan guru agar diberi kemudahan dalam UN dengan hasil maksimal.

Istighotsah ini diawali dengan sembahyang sunah hajat dan ditutup dengan doa pendek yang dipimpin seorang guru Sofwan. Sebelum bubar, mereka berjabat tangan dengan dewan guru MAN Pringsewu. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kiai, Sejarah Hari Santri 2019

Rabu, 27 Desember 2017

PBNU Seriusi Bidang Prioritas

Probolinggo,Hari Santri 2019. Semua pihak mengakui kebesaran dan potensi kekuatan Nahdlatul Ulama. Hanya saja karena kurang diorganisir dengan baik, kekuatan itu belum bisa maksimal. Namun untuk mengorganisir itu juga bukanlah pekerjaan gampang. “Karena kita terbiasa menjadi raja-raja kecil,” kata Ketua Umum PBNU KH A Hasyim Muzadi.

Kalimat itu disampaikan Hasyim di sela-sela deklarasi Forum Silaturahmi Pimpinan Daerah NU (Fospida NU) yang berlangsung di Hotel Bromo View, Probolinggo. Fospida adalah forum tempat berkumpul, berkomunikasi dan saling bekerja sama para kepala daerah yang berlatar belakang NU. Mereka adalah para bupati, wakil bupati, walikota dan wakil walikota.

Jumat, 22 Desember 2017

Mendes Fasilitasi Pelaku Bisnis Indonesia dan Malaysia

Jakarta, Hari Santri 2019?



Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Indonesia Eko Sandjojo memfasilitasi pertemuan pelaku bisnis Indonesia dan Malaysia di Hotel Gran Melia, Jakarta, (23/5). Pada kesempatan itu, ia mempertemukan lebih dari 20 perusahaan Malaysia dari sektor listrik, infrastruktur, jalan tol, properti, dengan 40 perusahaan swasta dalam negeri termasuk BUMN.?

Mendes Fasilitasi Pelaku Bisnis Indonesia dan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes Fasilitasi Pelaku Bisnis Indonesia dan Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes Fasilitasi Pelaku Bisnis Indonesia dan Malaysia

Eko yang diamanati Presiden Joko Widodo Pejabat Penghubung Investasi untuk Malaysia, mendorong pengusaha kedua negara untuk menggali potensi investasi Malaysia sebesar Rp 61, 1 triliun. Selain itu, peluang potensi investasi Malaysia dengan proyek-proyek yang ditawarkan BUMN dari Indonesia sebesar Rp 65,6 triliun.

Dalam pertemuan tersebut, EKo memaparkan isu-isu terkini mengenai bagaimana meningkatkan iklim investasi, khususnya investor Malaysia melalui reformasi kebijakan investasi dan tata laksana penanaman modal dan industri yang ditawarkan. Kemudian upaya deregulassi terhadap kemudahan berinvestasi yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan tujuan membantu meningkatkan iklim investasi Malaysia di Indonesia.?

Menteri Eko memastikan akan terus membantu mencari peluang investasi dari Malaysia. Upaya tersebut akan dilakukan dengan Duta Besar RI untuk Malaysia, Rusdi Kirana.?

Hari Santri 2019

“Tim akan terus mengidentifikasi dan mengatasi persoalan yang menghambat investasi di Indonesia sesuai masukan dari pelaku bisnis di Malaysia dan di Indonesia. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Asosiasi Indonesia-Malaysia akan terus mengawal kelancaran proses realisasi investasi berkoordinasi dengan kementerian terkait,” katanya pada pertemuan bertajuk Indonesia Malaysia Business Networking itu.

Komitmen dan upaya untuk mendorong investasi dari Malaysia ke Indonesia akan dilakukan secara berkesinambungan dengan meningkatkan komunikasi, termasuk peningkatan pertemuan bisnis.?

Hadir pada kesempatan tersebut, Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Mariani Soemarno, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Dubes RI untuk Malaysia Rusd Kirana, Dubes Malaysia untuk Indonesia Datuk Seri Zahrain Mohamed Hashim. (Abdullah Alawi) ?

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kiai, Berita, Sejarah Hari Santri 2019

Rabu, 13 Desember 2017

Kelengkapan Pengurus Lembaga di PBNU Rampung Sebelum Pengukuhan

Jakarta, Hari Santri 2019. Pengurus inti harian Syuriyah dan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah menyeleksi nama-nama yang masuk untuk menjadi pengurus lembaga-lembaga di lingkungan PBNU. Mereka hingga kini masih menampung masukan terkait orang-orang yang akan menjadi pengurus sejumlah lembaga di PBNU.

Susunan pengurus lembaga-lembaga di PBNU ditentukan oleh Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Wakil Rais Aam KH Miftahul Akhyar, Katib Aam KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Wakil Ketua Umum PBNU H Slamet Effendi Yusuf, dan Sekretaris Jenderal PBNU H Helmi Faishal Zaini.

Kelengkapan Pengurus Lembaga di PBNU Rampung Sebelum Pengukuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kelengkapan Pengurus Lembaga di PBNU Rampung Sebelum Pengukuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kelengkapan Pengurus Lembaga di PBNU Rampung Sebelum Pengukuhan

“Silakan pengurus harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU untuk memberikan masukan soal nama pengurus lembaga. Nanti enam orang ini yang akan memutuskan,” kata Kiai Ma’ruf Amin saat rapat perdana pengurus baru harian PBNU di Jakarta, Jumat (28/8) sore.

Hari Santri 2019

Enam orang ini menargetkan terbentuknya susunan pengurus lembaga-lembaga di NU sebelum pengukuhan pengurus lengkap PBNU di masjid Istiqlal pada 5 September mendatang.

Hari Santri 2019

“Sebelum pengukuhan di Istiqlal, kelengkapan susunan pengurus lembaga-lembaga ini insya Allah sudah rampung,” kata Kiai Ma’ruf.

Mereka berharap orang-orang yang dipilih sebagai pengurus lembaga dapat menjadi kepanjangan tangan kerja PBNU sesuai dengan bidang lembaga masing-masing.

“Sekarang tidak ada lagi istilah ‘lajnah’. Semua namanya ‘lembaga’,” Kang Said. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Warta, Kiai, Bahtsul Masail Hari Santri 2019

Selasa, 05 Desember 2017

"NU untuk Datang dan Pergi"

Jakarta, Hari Santri 2019

Organisasi sosial keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) sering hanya dimanfaatkan oleh kalangan tertentu pada waktu-waktu tertentu saja. NU hanya jadi pilihan pada saat menguntungkan.



NU untuk Datang dan Pergi (Sumber Gambar : Nu Online)
NU untuk Datang dan Pergi (Sumber Gambar : Nu Online)

"NU untuk Datang dan Pergi"

"Pada saat pemilu orang berbondong ke NU. Saat sudah terpilih NU dilupakan. Dan pada saat sudah tidak kepakai kembali ke NU lagi. Inilah NU, untuk datang dan pergi," kata DR Ayu Sutarto dalam acara "Dialog Antar Generasi" dalam rangka Harlah Ke-82 NU di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (1/2).

Ayu Sutarto adalah penulis buku "Menjadi NU Menjadi Indonesia" yang dibedah dalam acara dialog tersebut. Hadir sejumlah kader NU lintas generasi antara lain Mustasyar PBNU KH Muchit Muzadi, sastrawan dari Pondok Pesantren Cipasung Acep Zam Zam Nur, Politisi PPP Endin AJ Sofihara, dan Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansyah.

Hari Santri 2019

Dikatakan Ayu, NU sering diperlakukan secara tidak fair dalam pentas politik di Indonesia terutama pada momen-momen pemilihan kepala daerah (pilkada). NU hanya diperlukan untuk pengumpulan massa.

"Pada saat pencalonan orang ke partai politik karena partai yang punya kewenangan, namun untuk pengumpulan massa NU yang dipakai," katanya.

Hari Santri 2019

Kiai Muchit Muzadi membenarkan, bahkan bukan dari kalangan luar saja yang memanfaatkan NU untuk kepentingan pilkada, bahkan banyak diantaranya adalah para anggota NU sendiri.

"Banyak malah yang pengen menjadi tim sukses calon dari pada menjadi calonnya. Kalau menjadi calon belum tentu jadi, tapi kalau tim sukses meskipun yang dicalonkan tidak jadi sudah sukses duluan," kata kakak kandung KH Hasyim Muzadi itu bergurau.

Khofifah Indarparawansyah menambahkan, banyaknya aktifis NU yang terjun ke dunia politik atau menjadi semacam tim sukses itu karena tidak ada pekerjaan lain selain itu.

"Mas Saiful (Saifullah Yusuf, Ketua Umum GP ANSOR: red) sering bilang kepada saya banyak para aktifis NU yang pengangguran. Maka persoalannya adalah bagaimana menyelesaikan masalah itu," katanya.

Sastarwan Acep Zamzam Nur ,e,beruncing pembiacaraan. Katanya, kecenderungan politik NU itu tidak hanya berurusan dengan pilkada.

"Bahkan koferensi NU disemua tingkatan sekarang mirip dengan pilkada. Ada tim suksesnya juga," kata putra almarhum KH Ilyas Ruhiyat itu.

Beberapa ketua PBNU hadir dalam dialog antar generasi itu, antara lain KH Said Aqil Siradj, H Abdul Aziz Ahmad dan Fajrul Falakh. Ketua PP Lajnah Talief wan Nasyr Abdul Munim DZ dan Ketua PP Lesbumi Sastro el-Ngatawi juga menghadiri dialog itu.

Dialog antar generasi dalam rangka Harlah Ke-82 NU itu dipandu oleh Umum PP Lakpesdam NU Nasihin Hasan, dan dihadiri hampir semua perwakilan pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom di lingkungan NU. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kiai, Halaqoh, Doa Hari Santri 2019

Sabtu, 25 November 2017

Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri

Jakarta, Hari Santri 2019. Puluhan tokoh lintas agama dan kepercayaan berkumpul di Kantor PBNU Kramat Raya Jakarta Pusat, Kamis, (5/2) sore. Pertemuan ini untuk menanggapi masalah yang mengemuka akhir-akhir ini terkait kemelut antara KPK dan Polri, dan mengenai ketegasan Presiden Jokowi dalam menyelsaikan kemelut tersebut.

“Pertemuan ini tidak terkait dengan politik, murni untuk menyelesaikan persoalan kebangsaan kita saat ini,” tegas Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj saat memimpin penyampaian sikap di lantai 5 kantor PBNU.

Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini 7 Seruan Moral Tokoh Lintas Agama untuk Presiden, KPK, dan Polri

Hasil dari pertemuan ini, mereka menyampaikan hal-hal sebagai berikut,?

Hari Santri 2019

1. Penegakan kebenaran dan keadilan adalah syarat mutlak keselamatan bangsa Indonesia.?

Hari Santri 2019

2. Tugas Negara dan pemerintahan adalah menjaga nilai-nilai luhur agama dan memajukan kemashlahatan rakyatnya. ?

3. Pemimpin yang jujur, amanah dan adil akan membawa bangsa ini mencapai kemajuan dan kesejahteraan.?

Dari tiga persamaan persepsi kebangsaan itu, mereka menyampaikan 7 butir seruan moral kepada presiden, KPK, dan Polri sebagai berikut, ?

1. Menyerukan kepada bangsa Indonesia untuk tidak khawatir, was-was atau resah, serta tetap tenang dan menjalankan aktifitas sebagaimana biasa.?

2. Menyerukan kepada Presiden Republik Indonesia untuk terus secara sungguh-sungguh memimpin pemberantasan korupsi. ?

3. Mengetuk nurani Presiden Republik Indonesia untuk tidak ragu-ragu mengambil langkah yang tegas, cepat dan tepat untuk mengakhiri dan menyelesaikan perselisihan dan kemelut antara KPK dan Polri sesuai konstitusi.

4. Menyerukan Presiden Republik Indonesia untuk mengangkat kepemimpinan Polri dengan mengutamakan moralitas, kredibilitas, berintegritas ? dan kapabel.

5. Mendukung KPK dan Polri untuk melakukan tugasnya menegakkan hukum dalam kerangka memberantas korupsi dan meningkatkan akuntabilitasnya.?

6. Mendorong semua pihak agar menghentikan kriminalisasi dan tidak menjadikan KPK dan Polri sebagai alat bagi kepentingan politik individu dan kelompok.?

7. Mengingatkan KPK untuk kembali ke fitrahnya dan betul-betul menjaga dan meningkatkan kredibilitasnya sebagai lembaga pemberantasan korupsi.

Hadir dalam pertemuan tersebut diantarnya Dr. H. Marsudi Syuhud (Sekjend PBNU), Dr. H. Bina Suhendra (Bendahara Umum PBNU), Dr. Abdul Moqsith Ghazali (The Wahid Institute), Romo Ignatius Harianto SJ. (Sekjend ICRP/KWI), HS. Dillon (Intelektual dan Tokoh Agama Shikh), Pendeta Albertus Patti (PGI), Uung Sendana (Ketum Majlis Tinggi Agama Konghucu Indonesia), Piandi ? (Ketum Majlis Budayana Indonesia), Yanto Jaya (Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia), Suprih Suhartanto (Majlis Luhur Agama Nusantara), Ulil Ashar-Abdalla (ICRP), M. Imdadun Rahmat (Komisioner Komnas HAM), Zafrullah Pontoh (JAI), dan Syamsiah (ICRP). Hadir juga perwakilan dari Ahmadiyah, Agama Tao, dan Komunitas Ahlul Bait Indonesia. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kiai Hari Santri 2019

Jumat, 24 November 2017

PBNU: 1 Miliar Shalawat Nariyah Ikhtiar Makmurkan Negeri

Jakarta, Hari Santri 2019. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Manan A. Ghani mengungkapkan bahwa pembacaan 1 miliar shalawat nariyah dari warga NU merupakan ikhtiar spiritual untuk memakmurkan bangsa dan negara Indonesia.

PBNU: 1 Miliar Shalawat Nariyah Ikhtiar Makmurkan Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: 1 Miliar Shalawat Nariyah Ikhtiar Makmurkan Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: 1 Miliar Shalawat Nariyah Ikhtiar Makmurkan Negeri

Hal ini disampaikan oleh Kiai Manan saat memberikan taushiyah usai pembacaan shalawat nariyah, Jumat (21/10) di masjid An-Nahdlah PBNU Jakarta. Jamaah yang memadati Masjid An-Nahdlah terlihat khidmat menyelami baris demi baris shalawat yang diyakini mendatangkan banyak keberkahan itu.

“Manusia yang rajin dan rutin bershalawat, tak perlu khawatir mengalami kefakiran. Sebab itu, 1 miliar shalawat nariyah ini upaya NU dan warganya agar Indonesia diberi keberkahan, kemakmuran, keadilan, damai, dan kesejahteraan oleh Allah SWT,” urai Kiai Manan.

Gerakan 1 miliar shalawat nariyah yang dimaksudkan untuk memperingati Hari Santri Nasional 2016 ini, menurut kiai asal Cirebon Jawa Barat ini harus dipahami juga secara historis.?

Kalangan santri dan kiai berjuang secara lahir dan batin, juga material dan spiritual untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. “Sebab itu selain ikhtiar sosial, 1 miliar shalawat nariyah ini merupakan upaya spiritual untuk menjaga negeri sebagaimana yang telah diwariskan oleh para santri dan ulama pejuang kita,” tuturnya.

Hari Santri 2019

Kekuatan spiritual dan peningkatan moral dari bangsa Indonesia yang lahir dari Fatwa Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 mampu menghalau tentara Belanda yang membonceng NICA untuk kembali menjajah Indonesia.

Hari Santri 2019

Pada pertempuran maha dahsyat pada 10 November 1945 di Surabaya yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan merupakan pertarungan para santri untuk mengusir Belanda dan Sekutu. “Jangan sampai santri dianggap justru tidak ikut berperang. Tulisan-tulisan sejarah banyak yang menutu-nutupi fakta itu,” ujar Kiai Manan.

Lebih jauh, Kiai Manan menjelaskan tentang aset atau kekayaan NU, bukan dalam bentuk materi, tetapi modal-modal berharga seperti aset kultural, meliputi 90-an juta warga NU di seluruh dunia yang menahbiskan NU sebagai Ormas Islam terbesar di dunia.

“Lalu aset fisik seperti mushola, masjid, majelis taklim, sekolah, madrasah, pesantren, dan lain-lain. Selain itu aset amaliyah seperti tradisi-tradisi keagamaan. Semua itu harus kita jaga,” tegasnya.?

Pembacaan shalawat nariyah di Masjid An-Nahdlah PBNU dihadiri oleh Ketua PBNU H Sulthonul Huda, Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Maman Imanulhaq, Ketua LTN PBNU H Juri Ardiantoro, dan sejumlah pengurus lembaga serta banom NU. Sebelumnya, kegiatan didahului dengan Khotmil Qur’an. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri, Kiai Hari Santri 2019

Senin, 20 November 2017

Padusan, Wujud Kepintaran Walisongo Padukan Agama dan Budaya

Klaten, Hari Santri 2019. Sehari sebelum memasuki awal Ramadhan, Rabu (17/6), ribuan pengunjung dari berbagai kawasan Soloraya dan sekitarnya mendatangi kawasan pemandian Air Cokro di Tulung, Klaten, Jawa Tengah untuk mengikuti tradisi padusan.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Klaten, Joko Wiyono menerangkan, tradisi padusan ini selain dilakukan untuk menyambut datangnya bulan puasa, juga sebagai wujud kegiatan pemersatu antara rakyat dengan pemimpin.

Padusan, Wujud Kepintaran Walisongo Padukan Agama dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Padusan, Wujud Kepintaran Walisongo Padukan Agama dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Padusan, Wujud Kepintaran Walisongo Padukan Agama dan Budaya

“Kegiatan ini memang digelar dalam suasana terbuka. Agar pemimpin dan rakyat bisa menyatu. Selain itu, mengajak para pengunjung untuk bisa menyatu dengan alam,” jelasnya.

Hari Santri 2019

Sementara itu, tradisi serupa juga dapat dilihat di sekitar kawasan wisata pemandian di daerah Pengging dan Tlatar Boyolali. Acara pembukaan dihadiri Bupati Boyolali Seno Samodro.

Dalam sambutannya, Bupati Seno Samodro mengatakan kegiatan padusan yang dilakukan setiap tahun menjelang ibadah puasa tersebut sangat penting.

Hari Santri 2019

Ditambahkannya, tradisi Padusan, merupakan kepintaran para Walisongo yang menyebarkan Agama Islam dipadu dengan budaya Jawa. Menurutnya, padusan tersebut yang diartikan sebagai pembersihan diri dari segala kotoran sebelum umat Islam menjalankan puasa.

"Bersih diri menyambut Bulan Puasa ini, artikan agar jiwa kita bersih untuk beribadah,” tutur dia. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kiai Hari Santri 2019

Minggu, 19 November 2017

Pesantren Maritim, Belajar Agama Sekaligus Jaga Batas Negara

Jakarta, Hari Santri 2019. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Mohsen mengatakan, pondok pesantren mempunyai andil besar dalam menjaga wilayah perbatasan dan kepulauan serta bahari.

“Saatnya pesantren maritim menunjukkan eksistensinya di republik ini,” kata Mohsen kepada wartawan di Jakarta, Rabu (11/5) seperti dilansir oleh situs kemenag.go.id. ? Menurut dia, Kemenag kini sedang mengembangkan ? pesantren kemaritiman.

Pesantren Maritim, Belajar Agama Sekaligus Jaga Batas Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Maritim, Belajar Agama Sekaligus Jaga Batas Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Maritim, Belajar Agama Sekaligus Jaga Batas Negara

Dikatakan Mohsen, pesantren menjadi salah satu opsi bagi orang tua untuk menyekolahkan anaknya agar lebih paham ilmu agama Islam. Kini, pesantren tak hanya menawarkan pendidikan agama namun sedang dikembangkan untuk pesantren kemaritiman.

Hari Santri 2019

“Penyelenggaran pesantren merupakan respon pemerintah pada pembangunan nasional. Pesantren maritim ini juga membangun masyarakat terpinggir, terpencil, yang berada di kepulauan,” ujarnya.

Saat ini ada sekitar 80 pesantren yang akan difokuskan ke bidang kemaritiman. Hal ini dinilainya sejalan dengan konsep nawacita yang diusung Presiden Jokowi untuk me?nonjolkan Kelautan Indonesia di mata dunia.

Hari Santri 2019

“Laut juga penting bagi kebangsaan. Ini sesuai dengan nawacita presiden yang mengutamakan kedaulatan di laut. Ada tol laut yang akan dikembangkan dan sebagainya. Inilah argumen mengapa kita mengajukan bahari penting untuk ditonjolkan,” lanjutnya.

Peluncuran program pemberdayaan ekonomi umat melalui pondok pesantren ini akan dilakukan 18 Mei nanti di Palu, Sulteng. Program ini terkait dengan program Sail Tomini yang akan dilaksanakan September mendatang di Sulteng.

Di wilayah ini ? sudah ada 20 pesantren yang akan dibuat menjadi pesantren maritim, salah satunya di kabupaten Parimo, Sulteng.

Selain Parimo, ada juga pesantren di daerah Karimunjawa, Jepara dan kecamatan Bonang, Demak, Jawa Tengah. Ada juga pesantren di wilayah Kep. Riau, Kalimantan dan Sulawesi Selatan. Sebagian besar jenjang pesantren ini adalah MI/MTS Aliyah.

Dijelaskan Mohsen, konsep pembelajaran kemaritiman ini akan sejalan dengan pembelajaran agama di pesantren tersebut. Saat ini, pihaknya terus menyempurnakan konsep pembelajaran yang juga disesuaikan dengan konsep pelajaran kemaritiman di Kementerian Kelautan Perikanan (KKP).

Adanya spesifikasi pesantren seperti ini diharapkannya bisa membuat santri pesantren lebih banyak bergelut dengan hal-hal kemasyarakatan. “Di sinilah fungsi dan peran strategis pondok pesantren yang diharapkan perannya menjadi mitra pemerintah dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan,” jelas Mohsen.

Menurut Direktur Pendidikan Tinggi Islam Amsal Bachtiar, maritim tidak bisa dilepaskan dari proses penyebaran agama di Indonesia, karena negara kita sebagai negara kelautan. Untuk itu pihaknya berencana akan membuka kajian kebaharian di perguruan tinggi keagamaan.(mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News, Makam, Kiai Hari Santri 2019

Rabu, 15 November 2017

Full Day School Tinggalkan Semangat Multikultural

Oleh Irham Yuwanamu

Selepas hari libur Lebaran ini topik full day school (FDS)—sekolah 5 hari dan 8 jam perhari—makin hangat diperdebatkan. Pasalnya, hingga kini belum ada titik temu antara pemerintah dan masyarakat yang kontra.

Full Day School Tinggalkan Semangat Multikultural (Sumber Gambar : Nu Online)
Full Day School Tinggalkan Semangat Multikultural (Sumber Gambar : Nu Online)

Full Day School Tinggalkan Semangat Multikultural

Sejak awal terlontarkan pada tahun 2016 ide ini sudah menuai kritik dan penolakan dari masyarakat. Walupun begitu pemerintah melalui Mendikbud tetap ingin menerapkan ide tersebut dengan membuat Permendikbud nomor 23 tahun 2017 tentang hari sekolah. Kritik dan penolakan pun datang dari berbagai pihak.

Karena kontroversi yang sangat keras, Presiden Jokowi akhirnya membatalkan Permendikbud itu, dan akan dikaji ulang. Menurut Mendikbud, FDS akan diperlakukan melalui aturan yang lebih tinggi melalui Perpres.

Hari Santri 2019



Akar Masalah


Hari Santri 2019

Mendikbud keukeuh untuk menerapkan ide yang digagasnya sejak awal menjadi menteri pendidikan tanpa mempertimbangkan aspirasi yang ada. Keributan di luar dianggap angin lalu. Sebenarnya apa argumentasi yang paling mendasar dari Mendikbud ini? Mencermati dari Permendikbud nomor 23 itu tujuannya untuk menghadapi era globalisasi dengan penguatan karakter dengan restorasi pendidikan karakter. Untuk itu alternatifnya adalah waktu sekolah dibuat 5 hari dan perharinya 8 jam.

?

Sebelumnya tak terdengar ada kajian yang mendalam tentang bentuk restorasi pendidikan karakter yang tepat seperti apa, kemudian mengapa solusinya FDS, apa hubungannya. Dugaan penulis jangan jangan ini masih sebatas asumsi Mendikbud bahwa FDS sebagai jawaban tepat.

Mendikbud tak melihat kesiapan di bawah seperti apa. Faktanya banyak forum guru dan orang tua murid menolak, warga NU protes keras yang secara resmi disampaikan oleh PBNU, dan juga MUI dengan berbagai alasan yang mendasar. Ini menunjukkan ketergesaan Mendikbud dan abai atas aspirasi rakyat. Kebijakan tanpa melihat aspirasi dari bawah yang niatnya baik bisa menjadi tidak baik hasilnya. Mengapa fakta dari bawah tidak diindahkan.

Persoalan karakter sudah menjadi sorotan oleh menteri pendidikan sebelum era Presiden Jokowi, yaitu pada saat Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang menteri pendidikannya waktu itu pak Nuh. Dengan berbagai kajian yang dilakukan terwujudlah kurikulum 2013 (K-13) sebagai kurikulum yang terintegrasi dan berbasis karakter. Tentu kurikulum ini disertai kritik tajam dari masyarakat dan para pakar. Kurikulum ini pun nasibnya belum jelas karena sebelum diimplementasikan sepenuhnya sudah diberhentikan. Namun begitu, pendidikan di lingkungan Kemenag saat ini telah menerapkan K-13. Artinya penguatan karakter melalui kurikulum pendidikan belum rampung sudah beralih pada penentuan hari sekolah.

Kemudian tepatkah FDS untuk? penguatan karakter? Pertanyaan ini perlu dilontarkan, mengingat klausul utama dalam Permendikbud itu adalah penguatan karakter dan jawabannya tidaklah cukup berangkat dari asumsi, tetapi harus dari hasil riset yang mendalam.

Asumsi FDS adalah membatasi jam main anak di luar kontrol orang tua sepulang sekolah. Dengan demikian agar anak didik terjaga di sekolah dan karakternya menjadi baik. Benarkah demikian! Apakah kalau tidak FDS anak didik merosot karakternya, jangan jangan hanya kasuistik saja hal itu terjadi. Ini butuh kajian lapangan yang serius.

Setelah presiden Jokowi meminta agar permendikbud dibatalkan dan dikaji kembali, Mendikbud menjelaskan sebenarnya ide sekolah 8 jam sehari berawal dari problem tunjangan guru (detik, 8/6). Jika Hal ini benar,? maka Permendikbud yang lahir tersebut atau yang akan dibuat perpres tak jelas landasan dasarnya untuk penguatan karakter.

Pengelolaan pendidikan tidak boleh asal, sebab pendidikan sebagai strategi membangun peradaban dan kebudayaan bangsa. Dari pendidikan juga sosio-kultural terbentuk. Jadi dampaknya ini sangat besar, apakah sudah diperhitungkan semua itu?



Kebijakan Multikultural


Indonesia adalah negara yang berbhineka. Tidak Indonesia kalau tak beragam dan majemuk. Untuk mengatasi persoalan pendidikan nasional di Indonesia khususnya tentang FDS, kebijakan yang menghargai perbedaan dan kemajemukan lah yang bisa menjadi solusi.

Sejarah era orde baru dapat menjadi pelajaran penting. Kebijakan yang sifatnya terpusat, dari atas ke bawah tanpa melihat keragaman dan perbedaan yang ada, terbukti gagal. Indonesia yang berbhineka alias multikultural tidak bisa disamaratakan. Di era reformasi jangan sampai kembali pada masa kelam.

Kebijakan multikultural dalam pendidikan nasional perlu diterapkan. Kebijakan yang seperti ini yang menghargai keragaman dan kemajemukan yang tepat untuk Indonesia. Kontroversi tentang kebijakan FDS hemat saya karena tidak melihat aspirasi masyarakat dan tak berdasar dari riset yang kuat. Sementara masyarakat ada yang pro dan kontra karena kebutuhan dan konteks sosial yang berbeda. Mungkin bagi masyarakat perkotaan dengan kondisi orang tua murid yang sibuk bekerja akan setuju, walaupun tidak semuanya. Dan ini berbeda pada kondisi yang ada di daerah. Situasi pendidikan yang masih kurang memadai baik sarana prasarana maupun SDM-nya juga menjadi salah satu faktornya. Belum lagi tradisi lainnya seperti adanya sekolah sore (sekolah ngaji). Mendikbud setidaknya mengajak bicara pada semua kalangan yang memiliki kepentingan. Dengan seperti ini akan tahu aspirasi yang disampaikan yang berbeda-beda pula.

Perbedaan yang ada itu perlu diperhatikan sehingga kebijakan yang ditetapkannya tidak harus seragam tapi dapat beragam sesuai konteks masalah yang dihadapi. Inilah semangat dari UU Sisdiknas tahun 2003 yaitu otonomi pendidikan. Jika FDS masih diberlakukan dengan pendekatan seragam dari atas ke bawah, ini bertentangan dengan UU Sisdiknas tersebut, alih-alih untuk meningkatkan moralitas, malah bisa-bisa membuat karakter anak makin merosot karena kebijakan yang tanpa didukung dengan riset yang mendalam.

Kebijakan multikultural dapat diberlakukan pada kurikulum, sistem evaluasi, dan yang terkait dengan pendidikan. Semestinya hal-hal yang seperti ini diurus oleh organisasi profesi keguruan yang merupakan ahlinya. Level kementerian mengurus yang sifatnya besar-besar saja misalnya soal pendanaan, dan pengembangan SDM. Dengan seperti ini proyek pendidikan dengan visi ke depan jangka panjang tetap terjaga. Sementara ini visi pendidikan nasional kita masih jangka pendek, ganti menteri ganti kebijakan. Kapan unggulnya?

Penulis adalah dosen FAI UNISMA Bekasi, dan UNU Indonesia serta peneliti di Pusat Riset Pendidikan Indonesia



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kiai, Pahlawan, Makam Hari Santri 2019

Sabtu, 21 Oktober 2017

Mantapkan Program Sambil Santuni Anak Yatim

Probolinggo, Hari Santri 2019. Pengurus Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Probolinggo, Senin (27/10) melakukan pertemuan rutin untuk memantapkan program kerja sekaligus menyambut datangnya tahun Baru Islam 1436 Hijriyah. Pertemuan yang digelar di Desa Bladu Wetan Kecamatan Tegalsiwalan ini diikuti oleh seluruh pengurus tingkat cabang.

Mantapkan Program Sambil Santuni Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Mantapkan Program Sambil Santuni Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Mantapkan Program Sambil Santuni Anak Yatim

Dalam pertemuan tersebut, para pengurus Fatayat NU ini juga melakukan doa bersama untuk para ulama yang telah berjuang dalam sejarah pendirian NU yang sudah wafat. Tidak hanya itu, pengurus juga memberikan santunan kepada para anak yatim yang ada di Kecamatan Tegalsiwalan.

Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Probolinggo Elysa Candra Maya mengungkapkan bahwa pertemuan rutin antara pengurus cabang dan anak cabang ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan sebagai ajang turun ke bawah (turba) agar bisa menyerap aspirasi warga NU yang nantinya akan dijadikan acuan dalam penyusunan program kerja.

Hari Santri 2019

“Kami menginginkan agar program kerja yang kami buat benar-benar sesuai dengan harapan dan keinginan dari bawah. Sehingga apa yang kami lakukan dapat memberikan manfaat kepada para warga NU,” ungkapnya.

Hari Santri 2019

Terkait dengan pemberian santunan, Lysa menjelaskan bahwa hal itu bertujuan untuk membantu meringankan beban orang yang kurang mampu. “Disamping juga memberikan motivasi dan menyenangkan anak yatim,” ungkapnya.

Melalui kegiatan tersebut Lysa berharap agar kegiatan ini dapat bermanfaat, khususnya bagi anak yatim dan mampu mempererat tali ukhuwah Islamiyah An-Nahdliyah. “Semoga tahun depan kami bisa lebih meningkatkan lagi kinerja demi kemaslahatan umat, khususnya warga NU,” harapnya.

Dalam kesempatan tersebut Lysa menginstruksikan agar para Pengurus Anak Cabang (PAC) yang periodenya sudah habis agar segera menggelar konferensi untuk memilih pengurus yang baru. “Segera gelar konferensi agar roda organisasi bisa terus berjalan dan program-programnya bisa dirasakan oleh warga NU,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kiai, Ahlussunnah, Hadits Hari Santri 2019

Selasa, 08 Agustus 2017

Tantangan Baru, Perlu Strategi Dakwah Baru

Jakarta, Hari Santri 2019. Pada tingkat global, saat ini agama yang mengalami pertumbuhan paling cepat adalah agama Islam. Namun disisi lain, perkembangan yang cepat tersebut telah menyebabkan terjadinya shock pada umat Islam. Dalam menghadapi situasi baru ini, perlu pendekatan dakwah baru yang lebih cocok.

Demikian diungkapkan oleh Khatib Aam PBNU Prof. Dr. Nasaruddin Umar  dalam acara workshop Revitalisasi Peran NU sebagai Gerakan Dakwah Islam Rahmatan Lil Alamiin di Wisma Haji Jakarta, Senin.

Tantangan Baru, Perlu Strategi Dakwah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Tantangan Baru, Perlu Strategi Dakwah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Tantangan Baru, Perlu Strategi Dakwah Baru

Secara teologis, umat Islam Indonesia yang dalam sejarahnya banyak menggunakan pendekatan jabariah atau percaya pada takdir kini dihadapkan pada pandangan muktazilah yang sangat rasional. “Saat ini muballigh mana yang diikuti di TV, banyak umat yang kebingungan,” paparnya.

Pengamalan agama yang dulunya sangat berorientasi pada fikih juga mengalami perubahan. Kini banyak orang yang lebih mengikuti pendekatan spiritualisme atau yang penting bertuhan, tak perlu agama atau agama apa saja sama serta ajaran semacamnya.

Agama kini juga bukan lagi pengatur segalanya. Jika zaman dahulu semua hal diatur oleh ajaran agama atau religiousness. Kini pendekatannya berubah menjadi religious mindedness. Orang memiliki kebebasan dan peran agama menjadi sangat berkurang.

Hari Santri 2019

Jika pada zaman dahulu orang sangat berorientasi pada teks al Qur’an, kini masyarakat mulai berfikir ke arah konteks. Pendekatan hermenetika berkembang untuk memaknai kitab suci. “NU menolak hermenetika karena kalau salah dalam menafsirkannya bisa berbahaya,” tandasnya.

Menurut Nasaruddin, jika semua ajaran agama dimaknai secara sembarangan nantinya akan kehilangan warna asli Islam. “Rasionalisasi yang berlebihan juga akan menurunkan agama sekedar menjadi ajaran filsafat,” paparnya.

Hari Santri 2019

Secara kultural, warga NU juga mengalami shock. Jika dahulu, lebih berorientasi pada elit pesantren, kini terjadi perubahan dengan kecenderungan orientasi pada elit kampus. “Kalau kyai yang ngasih ijasah kan Allah, tapi dalam pekerjaan formal diperlukan mereka yang memiliki ijasah,” tandasnya.

Hal yang sama juga terjadi dalam aspek kepemimpinan. Pada masa lalu, Lingkungan NU bersandar pada kepemimpinan kharismatik. Namun sekarang terjadi perubahan kebutuhan dengan dibutuhkannya para manajer professional.

“Perubahan-perubahan ini harus diantisipasi oleh LDNU. Harus dibuat visi, misi, nilai, dan strategi baru dalam menjalankan dakwahnya agar sesuai dengan konteks zaman,” imbuhnya. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kiai, Halaqoh Hari Santri 2019

Kamis, 06 Juli 2017

PWNU Jabar: Indonesia Kuat karena Masyarakat Sipilnya Kokoh

Bandung, Hari Santri 2019. Ketua PWNU Jawa Barat, Dr H Eman Suryaman menilai, saat ini keberadaan Nahdlatul Ulama harus lebih kuat dalam memegang peranan sebagai pilar penyangga Republik Indonesia. Sebab menurutnya, kekuatan sebuah bangsa ditentukan kekuatan Civil Society-nya.

"Banyak studi yang telah membuktikan bahwa Indonesia masih bisa eksis sekalipun dilanda krisis ekonomi dan krisis politik karena masyarakat sipilnya yang kokoh. Bandingkan coba dengan negara-bangsa di Uni Soviet, atau negara-negara lain yang terpecah. Itu semua karena peranan civil society-nya lemah dan kemudian hancur," terangnya kepada Hari Santri 2019, Senin (1/6).

PWNU Jabar: Indonesia Kuat karena Masyarakat Sipilnya Kokoh (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jabar: Indonesia Kuat karena Masyarakat Sipilnya Kokoh (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jabar: Indonesia Kuat karena Masyarakat Sipilnya Kokoh

Menurut Eman, keberadaan Nahdlatul Ulama dan ormas Islam moderat lainnya, juga gerakan swadaya telah banyak berjasa menjadikan negara ini tetap integral dengan kemajemukan suku-bangsa dan agama. Oleh sebab itu, ia berharap agar seluruh kekuatan masyarakat sipil harus tetap eksis mengawal negara ini.

Hari Santri 2019

"Kalau dulu di zaman Orde Baru masyarakat sipil dikuatkan untuk mengimbangi negara, sekarang masyarakat sipil harus bermitra karena memang negara sudah banyak diisi oleh kekuatan sipil. Kemitraan maksudnya agar program-program negara berjalan baik, cepat dan mampu menjawab hajat warga. Dengan kemitraan pula, peran kontrol berupa kritik, saran dan masukan lebih komunikatif," ujarnya.

Eman melihat pentingnya paradigma komunikasi yang baik karena dalam ruang demokrasi komunikasi itu sarana timbal-balik sejalan dengan prinsip musyawarah. Dengan partisipasi aktif melalui komunikasi, garis politik republikanisme yang selalu menaruh perhatian terhadap warga bisa lebih efektif.

Hari Santri 2019

Gabung NU

Lain daripada itu, Eman juga berharap saat ini para intelektual dan kaum profesional juga harus mengambil peranan di dalam negara. Atau, jika tidak tertarik ke dalam lingkar kekuasaan, bisa memilih jalur kelompok sipil seperti ormas-ormas Islam moderat seperti NU.

"Untuk para intelektual, dosen, jurnalis, pejabat, dan pengusaha, masuklah pada kelompok sipil yang besar agar ilmu dan kontribusi kerjanya dirasakan masyarakat. Di Jawa Barat misalnya, kami sangat open untuk menunggu kiprah kaum profesional. Ini supaya kita sama-sama maju, dan makin semangat bergotong-royong bergiat membangun bangsa," pesannya. (Sakri/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Khutbah, Makam, Kiai Hari Santri 2019

Kamis, 29 Juni 2017

Ansor Probolinggo Siap Tampung Anak-anak Rohingya

Probolinggo, Hari Santri 2019. Tragedi kemanusiaan yang menimpa warga muslim etnis Rohingya di Rakhine Myanmar terus menuai kecaman dari sejumlah pihak. Bahkan sejumlah aksi simpatik pun dilakukan mulai dari doa bersama, penggalangan dana, relawan hingga penampungan anak-anak korban kekerasan.

Di Kabupaten Probolinggo, pengurus Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Probolinggo bersama sejumlah Gus muda sejumlah pondok pesantren berkomitmen untuk siap memfasilitasi dan menampung para korban anak-anak tersebut.

Ansor Probolinggo Siap Tampung Anak-anak Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Probolinggo Siap Tampung Anak-anak Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Probolinggo Siap Tampung Anak-anak Rohingya

“GP Ansor Kabupaten Probolinggo secara tegas menyampaikan siap menampung anak-anak warga muslim etnis Rohingya di Rakhine Myanmar, yang menjadi korban kekerasan militer negara tersebut,” kata Ketua PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo Muchlis, Rabu (6/9).

Penegasan tersebut disampaikan setelah pengurus PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak, seperti Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan Pemerintah Kabupaten Probolinggo serta para gus muda pengasuh pondok pesantren yang tergabung dalam Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor Kabupaten Probolinggo.

“Komitmen bersama dalam menampung anak-anak korban kekerasan di Myanmar ini dilakukan sebagai bentuk langkah nyata kepedulian NU dan GP Ansor serta pihak pemerintah dalam menanggulangi konflik kemanusiaan etnis Rohingya yang banyak menelan korban,” jelasnya.

Hari Santri 2019

Bahkan PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo jelas Muchlis sangat mengecam perbuatan Geonisida yang terjadi di Rakhine Myanmar. 

“Sekali lagi kami tegaskan bahwa GP Ansor Kabupaten Probolinggo siap menampung anak-anak warga muslim etnis Rohingya di Myanmar yang menjadi korban kekerasan militer dan para petinggi agama yang ada di Rakhine Myanmar,” tegasnya.

Dalam waktu dekat terang Muchlis, PC GP Ansor Kabupaten Probolinggo bersama PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan akan melakukan doa bersama sekaligus penegasan komitmen bersama keseriusan menanggulangi konflik Myanmar. Serta penggalangan dana kemanusiaan yang akan disalurkan melalui PBNU. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Khutbah, Makam, Kiai Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock