Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu

Mojokerto, Hari Santri 2019 - Menteri Agama RI H Lukman Hakim Saifuddin atas nama pemerintah memberikan apresiasi kepada Pergunu yang telah membantu mendidik masyarakat Indonesia. Lukman berharap kerja keras para guru NU membuahkan hasil maksimal untuk melahirkan murid-murid berprestasi dan berakhlak.

“Kualitas pendidikan menjadi tujuan utama pemerintah, kami harap Pergunu bisa turut serta untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,” kata Lukman mengawali sambutannya dalam kongres yang kedua di Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Rabu (26/10).

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu

Menurut Lukman, kualitas pendidikan dari masa ke masa semakin maju. Kualitas pendidikan agama di Indonesia semakin membaik. Mulai dari kualitas kerukunan agama, kualitas lulusan madrasah atau pesantren.

“Guru menduduki tempat strategis untuk turut andil dalam membangun negeri,” terangnya.

Hari Santri 2019

Saat ini pemerintah tengah memperbaiki lagi kualitas pendidikan dengan menetapkan standard indikator, isi, proses, dan lulusan. “Pergunu itu sudah satu misi dengan Kemenag,” katanya.

Hari Santri 2019

Pendidik pesantren atau madrasah saat ini sudah diakui oleh negara dan disetarakan dengan pendidikan negeri. “Kita terus berupaya ada program-program guru. Tunjangan guru akan diupayakan di tahun 2017, telah memiliki sertifikasi sesuai ketentuan regulasi yang ada,” jelas Lukman memberikan angin segar kepada para guru madrasah.

Dengan ucapan basmalah Kongres Kedua Pergunu resmi dibuka oleh Menteri Agama RI. Hadir dalam pembukaan Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa, Pembina Pergunu H As’ad Said Ali, Ketua MUI Jawa Timur, pendiri dan pejuang Pergunu serta para pengurus Pergunu di berbagai wilayah dan cabang se-Indonesia. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, AlaSantri, Sunnah Hari Santri 2019

Senin, 12 Februari 2018

Haji Berulang Kali Menurut Kiai Ali M Yakub dan Imam Al-Ghazali

Kalau diperhatikan dari tahun ke tahun, persentase jemaah haji terus mengalami peningkatan. Dibandingkan puluhan tahun lalu, jemaah haji di masa sekarang lebih banyak. Banyaknya orang berhaji di masa sekarang tentu tidak terlepas dari mudahnya mendapatkan fasilitas haji.

Sekarang sudah banyak travel haji dan transportasi yang siap melayani keberangkatan haji. Apalagi sebagian travel menawarkan ongkos yang menggiurkan dan tidak terlalu mahal, bisa diangsur.

Haji Berulang Kali Menurut Kiai Ali M Yakub dan Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Haji Berulang Kali Menurut Kiai Ali M Yakub dan Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Haji Berulang Kali Menurut Kiai Ali M Yakub dan Imam Al-Ghazali

Mudahnya naik haji di masa sekarang ini patut kita syukuri. Kita tidak perlu lagi melakukan perjalanan berbulan-bulan untuk sampai di baitullah. Cukup duduk santai di pesawat, tunggu sekitar belasan jam, kita sudah sampai di Arab Saudi.

Hari Santri 2019

Namun, di balik kemudahan fasilitas itu ada sesuatu yang justru mengkhawatirkan menurut sebagian ulama, yaitu fenomena haji berulang kali.

Hari Santri 2019

Almarhum KH Ali Mustafa Yaqub termasuk orang yang berada di garda depan mengkritik fenomena haji berkali-kali ini. Menurutnya, lebih baik mendermakan ongkos haji itu untuk menyejahterakan kaum dhu’afa. “Af’alul muta’addi afdhalu minal qashir (ibadah sosial lebih baik daripada ibadah individual)” Itulah kalimat yang sering beliau sampaikan.

Kemunculan pendapat ini berkelindan dengan masih banyaknya problem kemiskinan dan kefakiran yang belum tuntas di negeri ini. Sehingga alangkah baiknya harta yang banyak itu digunakan untuk menyelesaikan problem ini, ketimbang beribadah haji berkali-kali. Terlebih lagi, haji kedua dan seterusnya hukumnya sunah, tidak wajib.

Kritik yang dilontarkan almarhum Kiai Ali ini sebenarnya sudah ditegaskan Imam Al-Ghazali sedari dulu. Dalam kitab Ihya Ulumuddin jilid tiga, ia menjelaskan panjang lebar terkait tipu daya. Siapa saja bisa terpedaya baik orang berilmu, sufi, maupun pemilik harta. Khusus bagi orang berharta (arbabul mal), di antara bentuk tipu dayanya adalah sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Mereka bersikeras mengeluarkan harta untuk pergi haji berulang kali dan membiarkan tetangganya kelaparan. Ibnu Mas’ud berkata, ‘Pada akhir zaman, banyak orang naik haji tanpa sebab. Mudah bagi mereka melakukan perjalanan, rezeki mereka dilancarkan, tapi mereka pulang tidak membawa pahala dan ganjaran. Salah seorang mereka melanglang dengan kendaraannya melintasi sahara, sementara tetangganya tertawan di hadapannya tidak dihiraukannya.”

Mereka menyangka dengan menghabiskan harta untuk naik haji berulang kali itu dianggap lebih mulia di sisi Allah, ketimbang mendermakan harta untuk fakir miskin. Inilah salah satu bentuk tipu daya bagi orang berharta menurut Al-Ghazali. Lebih baik kelebihan harta yang dimiliki diprioritaskan untuk membantu fakir miskin, pesantren yang terbengkalai, anak sekolah yang serba kekurangan, dan amal sosial lainnya.

Karenanya, kita perlu membuat skala prioritas dalam beribadah. Ketika di hadapkan dengan banyak peluang beribadah, pilihlah ibadah yang lebih banyak maslahatnya, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Sebagaimana dikatakan ‘Izzuddin bin ‘Abdul Salam dalam Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam, “Apabila dihadapkan dua kemaslahatan dalam satu waktu, usahakan melakukan keduanya. Bila tidak mungkin, dahulukanlah mana yang paling maslahat dan utama,” Wallahu ‘alam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, Sunnah Hari Santri 2019

Jumat, 09 Februari 2018

Pengurus NU Harus Paham dan Tanggap akan Kondisi Umat

Demak, Hari Santri 2019 - Sebagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan dalam melayani mayarakat, Nahdlatul Ulama (NU) dirasa masih jauh dari harapan. Dalam menjalankan fungsinya NU harus memahami kondisi masyarakat karena demikian itu merupakan salah satu cara untuk bisa mengambil langkah-langkah positif yang dibutuhkan masyarakat.

“Kita harus tanggap dengan keadaan di sekitar kita. Kalau kita paham, kita tahu apa yang jadi kebutuhan umat,” kata Rais Syuriyah NU Demak KH Alawy Masudi saat memberikan pengarahan pada peserta Musyawarah Kerja Cabang NU Demak di Kantor NU setempat Jalan Sultan Fattah Nomor 611 Bintoro, Ahad, (22/5).

Pengurus NU Harus Paham dan Tanggap akan Kondisi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU Harus Paham dan Tanggap akan Kondisi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus NU Harus Paham dan Tanggap akan Kondisi Umat

Kiai Alawy menambahkan, sesuai perkembangan zaman persoalan yang dihadapi NU semakin banyak dan kompleks. Maka dari itu ia meminta baik pengurus maupun kader NU harus saling melengkapi kekurangan yang dimiliki NU dikarenakan terlalu banyaknya persoalan sehingga pelayanan masyarakat tidak maksimal.

“Kami mengakui kalau NU sebagai khodimul (pelayan) umat masih jauh dari kekurangan, makanya butuh kerja sama semua pihak,” tambahnya.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Di saat yang sama Ketua NU Demak mengajak peserta muskercab untuk bisa mengevaluasi kinerja yang belum maksimal, yang selanjutnya dibahas pada forum guna mencari solusi dari persoalan yang muncul di tengah tengah masyarakat.

“Melihat persoalan itu semua mari kita evaluasi, kita benahi dan kita selesaikan, yang berkaitan dengan pemerintah nanti programnya kita singkronkan.”

Sesuai pantauan Hari Santri 2019 sidang-sidang komisi banyak menyoroti dunia pendidikan dan penyakit masyarakat yang merupakan sangat dibutuhkan dan problem masyarakat.

“Yang sangat mendesak dan diharap umat adalah memberantas miras, karaoke liar, prostitusi maupun pekat lain, ini sangat merusak tatanan masyarakat,” tegas Komandan Satkorcab BAnser Demak Mustain.

Selain pengurus cabang musyawarah ini dihadiri oleh Wakil Bupati Demak H Joko Sutanto, Mustasyar NU Demak KH Nurhamid Wijaya, dan pengurus wakil cabang se-Kabupaten Demak. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian Sunnah, Sunnah Hari Santri 2019

Sabtu, 03 Februari 2018

Akar Radikalisme Bermula dari Pendidikan

Jakarta, Hari Santri 2019?

Awal Mei 2017 lalu, pemerintah mengumumkan pembubaran HTI sebagai organisasi yang bertentangan dengan ideologi negara Indonesia. Hal tersebut ? berkat peran signifikan NU dan mayoritas muslim di Indonesia yang mendorong kebijakan negara agar ormas yang menolak Pancasila harus segera dibubarkan.?

Demikian disampaikan Katib Syuriyah PBNU KH M. Mujib Qulyubi pada acara Halaqah Ramadlan Dewan Pakar Pimpinan Pusat Pergunu di lantai 5 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (5/6).

Akar Radikalisme Bermula dari Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Akar Radikalisme Bermula dari Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Akar Radikalisme Bermula dari Pendidikan

Dalam menyikapi gerakan-gerakan radikal yang bertentangan dengan Ahlussunnah wal Jamaah dan ideologi negara Indonesia, Kiai Mujib berharap agar semuanya, termasuk Pergunu ikut mendukung keputusan pemerintah.?

"Pergunu harus mulai teliti dan mulai jeli bahwa pergerakan-pergerakan yang merugikan Indonesia itu memang dimulai dari pendidikan kita," kata Kiai Mujib mengingatkan.?

Begitupun dalam hal agama, ia berharap agar para guru membersihkan dan meluruskan pemahaman tentang jihad, ideologi, dan akidah yang selama ini telah ? direduksi maknanya.?

Hari Santri 2019

Dalam mensterilkan pemahaman tersebut, ia meminta ada inisiatif dari Pergunu pusat untuk membuat materi ajar ? yang berbasis harmoni. Jadi, ayat-ayat seperti jihad yang dipakai dan dijadikan pijakan kelompok radikal itu harus diurai oleh Pergunu.?

"Itu ayat yang menurut kita, dipahami dengan amat sangat salah (oleh kelompok radikal)," ujarnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Sunnah, Doa Hari Santri 2019

Kamis, 25 Januari 2018

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran

Jember, Hari Santri 2019. Konflik berujung bentrokan berdarah di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Jember  yang mengakibatkan satu orang meninggal, mendapat perhatian dari Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH. Mutawakkil Alallah. 

Pengasuh Pesantren Genggong, Kraksaan, Probolingo ini langsung mengunjungi rumah duka di Puger Kulon, Kamis dini hari (12/9). Diantar Sekretaris PCNU Jember, KH. Misbahussalam, Kiai  Mutawakkil, menyatakan ikut berbela sungkawa. Selain itu ia sempat menggelar tahlilan di rumah duka. 

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran

Tidak banyak keterangan yang keluar dari lisan sang Kiai Mutawakkil, kecuali hanya himbauan agar semua pihak tenang dan tidak terpancing provokasi serta tidak boleh dendam. “Tidak perlu dendam. Tapi ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak, termasuk kepolisian,” tukasnya kepada sejumlah wartawan di Puger. 

Di tempat yang sama, KH. Misbahussalam  menyatakan bahwa PCNU Jember akan segera mengadakan rapat untuk mencari jalan keluar dari perseteruan yang telah berlangsung cukup lama itu. 

Hari Santri 2019

Menurutnya, bentrokan itu bisa dihindari jika masing-masing pihak bisa menahan diri dan tidak terprovokasi satu sama lain. “Kuncinya saling menghormati satu sama lain. Masak dengan sesama Islam tidak rukun. Wong dengan umat nonmuslim kita damai,” ujarnya. 

Kiai Misbah menambahkan, aroma bentrokan itu sebenarnya sudah tercium beberapa hari sebelum kejadian. Sebab, salah satu pihak, mengajukan izin kepada aparat untuk menggelar karnaval. Namun aparat tidak memberikan izin karena khawatir ditolak atau mendapat perlawanan dari kelompok yang kontra syi’ah. 

Hari Santri 2019

“Tapi nyatanya mereka ngotot karnaval, bahkan barikade polisi diterobos. Akhirnya terjadilah peristiwa itu,” tukasnya. 

Sementara itu, MUI Jember masih terus mengadakan pendalaman terhadap kasus itu. Menurut Wakil Ketua MUI Jember,  KH Abdullah Syamsul Arifin,  pihaknya masih mencari tahu secara detil penyebab timbulnya kerusuhan berdarah itu. “Apakah ini murni konflik internal (di Puger), ataukah memang jangan-jangan ada intervensi dan provokasi dari luar," katanya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Sunnah, Kajian Hari Santri 2019

Minggu, 21 Januari 2018

Banyuwangi Kompak Larang Keras Kelompok Ekstrem Masuk

Jakarta, Hari Santri 2019. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas secara tegas melarang kelompok garis keras Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) masuk daerahnya. Ia mengatakan, pihak-pihak di Banyuwangi, baik aparat pemerintah daerah, kepolisian, TNI, organisasi keagamaan, maupun elemen masyarakat lainnya, akan kompak mencegah penyebaran ideologi radikal yang ingin masuk ke Banyuwangi.

"Posisi kami sebagai kepala daerah sangat jelas, yaitu melarang pendirian organisasi militan ISIS dan penyebaran ideologinya. Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi," ujar Anas yang juga mantan Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) tersebut dalam siaran pers, Rabu (6/8).

Banyuwangi Kompak Larang Keras Kelompok Ekstrem Masuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyuwangi Kompak Larang Keras Kelompok Ekstrem Masuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyuwangi Kompak Larang Keras Kelompok Ekstrem Masuk

Di Banyuwangi, sambung Anas, pihaknya getol menyosialisasikan nilai-nilai keagamaan yang ramah dan toleran. Radikalisme bisa meretakkan bangunan kebangsaan dan menimbulkan kerugian bagi bangsa. "Karena itu, kami rutin menggelar pertemuan yang diikuti para tokoh lintas agama. Berbagai program pembangunan juga melibatkan umat lintas agama," ujarnya.

Hari Santri 2019

Anas mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan sejumlah ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan aparat keamanan untuk mengidentifikasi adanya penyebaran radikalisme dan terorisme di Banyuwangi. Apalagi, posisi Banyuwangi cukup strategis sebagai pintu masuk maupun pintu keluar dari Bali yang selama ini kerap dijadikan lokasi sasaran aksi radikal.

Hari Santri 2019

"Alhamdulillah, sejauh ini situasi kondusif. Para tokoh agama selalu menyampaikan pesan yang sejuk dan menebarkan manfaat bagi semua umat. Kami akan merawat kebhinnekaan Indonesia dari Banyuwangi," katanya. (Mahbib Khoiron)

Foto: sebuah pertemuan lintas agama yang digelar rutin pemerintah Banyuwangi

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, Sholawat, Sunnah Hari Santri 2019

Kamis, 11 Januari 2018

Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan

Oleh Achmad Sahri ?





Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan



Sebuah koran pada tanggal 7 Oktober 2016 memberitakan tujuh dari 25 santri Pondok Pesantren Langitan, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur hilang setelah perahu yang mereka tumpangi terbalik di Bengawan Solo. Sebelumnya, sejak Januari 2016, koran Tempo telah memuat dua berita tentang santri tenggelam, yaitu: Hanyut Setelah Cuci Jeroan Kurban, 3 Santri Ditemukan Tewas (14 September 2016) dan Lima Santri Tewas Tenggelam di Sungai Waduk Cangklik (20 Januari 2016).

Kabar tentang kurangnya jaminan keamanan santri saat mereka beraktivitas di lingkungan luar pondok pesantren seperti ini bisa menjadi pertimbangan yang memberatkan di tengah gencarnya gerakan “Ayo-Mondok” yang digalakkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan diamini oleh Kementerian Agama agar orang tua mau mengirimkan anaknya untuk belajar di pondok pesantren.

Hari Santri 2019

Kurikulum pondok pesantren saat ini sebenarnya sudah jauh lebih variatif daripada pesantren zaman dulu. Selain ilmu agama, santri kontemporer juga dibekali dengan ilmu dunia yang diharapkan dapat bermanfaat untuk masa depan mereka. Beberapa pesantren, sejak beberapa dekade terakhir juga membuka sekolah kejuruan atau memiliki kegiatan ekstra-kulikuler yang memungkinkan santri mereka belajar ilmu non-agama dan ketrampilan praktis lainnya seperti otomotif, tata boga, tata busana, bela diri dan sebagainya.?

Namun ketrampilan bertahan hidup di alam terbuka seperti renang dan search and rescue (SAR) di perairan (seperti bagaimana mencari dan menyelamatkan orang tenggelam) sangat minim diajarkan di pesantren, jika tidak boleh dikatakan tidak ada.

Hari Santri 2019

Anjuran tentang renang

Benarkah renang merupakan sunnah Nabi? Kalau kita telusuri, memang ada beberapa hadits Nabi SAW yang menyinggung perihal renang ini, salah satunya adalah hadits dari Jabir bin Abdillah r.a yang redaksionalnya kurang lebih: "Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah (mengingat Allah) merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang” (HR. An-Nasa’i).

Kalau kita perhatikan teks hadits tersebut, mengajarkan renang bukan termasuk perbuatan yang sia-sia. Hanya saja Rasulullah SAW tidak secara langsung memerintahkan, apalagi mencontohkan dalam bentuk perbuatan. Para ulama umumnya menyebut perintah belajar berenang merupakan perintah dari Umar bin Al-Khattab r.a yang berbunyi: “Ajari anak-anakmu berenang, memanah dan naik kuda", sehingga umumnya para ulama sampai kepada kesimpulan bahwa pada dasarnya hukum berenang adalah sesuatu yang mubah (dibolehkan).

Butuh praktik

Tidak seperti ilmu-ilmu agama yang umumnya dipelajari, dikaji dan didiskusikan dengan membedah kitab tertentu, renang apalagi search and rescue (SAR) di perairan, karena merupakan ketrampilan praktis, tidak hanya selesai pada tataran dipelajari atau dikaji di majelis atau ruang kelas. Renang dan SAR perairan memerlukan praktik dan latihan yang disiplin dan terjadwal untuk dapat dikuasai.?

Sebagai bagian dari kurikulum, jika ke depan akhirnya perlu diajarkan di pesantren, materi ajar seperti buku atau referensi juga perlu diformulasikan. Tentunya yang sejalan dengan lingkup lingkungan pesantren. Tak ketinggalan, guru ‘ngaji’ tentang renang dan SAR perairan ini juga perlu disiapkan. Guru ngaji ini selain harus memahami teknik praktis tentang renang dan SAR perairan, mereka juga harus memahami ketentuan syar’i agar berenang tidak menyalahi ketentuan syariat, seperti misalnya bagaimana menyikapi aurat.

Sulitnya realisasi praktik renang islami

Memang agak sulit untuk menerapkan praktek renang islami, dimana laki-laki dan perempuan tidak boleh bercampur dalam satu tempat, apalagi jika proses pembelajaran renang dilakukan di kolam renang umum yang tidak membedakan pengunjung berdasarkan jenis kelamin, sebab konsepnya memang dibuat untuk umum, dimana laki-laki dan perempuan dibiarkan berenang dalam satu kolam renang. Kalaupun harus dipisah, pengadaan infrasutruktur kolam renang menjadi berlipat biayanya.

Saat ini, sebagian kalangan sudah mulai sepakat paling tidak sampai ke level memisahkan tempat antara laki-laki dan perempuan sebagai syarat kebolehan. Pengaturan waktu berenang antara laki-laki dan perempuan juga sempat menjadi usulan. Tujuannya bukan sekadar terjaganya aurat, tetapi juga agar tidak terjadi campur baur antara laki-laki dan perempuan.

Satu hal lain yang juga penting adalah belajar berenang diutamakan dilakukan sejak usia dini. Setidaknya ada dua alasan yang melatarbelakanginya. Pertama, karena belajar menguasai sesuatu akan menjadi lebih mudah bila dikerjakan saat usia kanak-kanak, sehingga nasehat Umar bin Al-Khattab r.a untuk mengajarkan anak-anak kita berenang sejak kecil menjadi sangat tepat. Kedua, anak yang masih kecil belum terikat dengan aturan membuka aurat dan keharusan menjaga pandangan.

Jadi, apakah sudah saatnya santri juga perlu ‘ngaji’ renang dan search and rescue perairan? Hanya waktu yang akan menjawabnya.





Penulis adalah calon PhD Student di Marine Animal Ecology Wageningen University & Research Belanda, Alumnus Ponpes Kyai Galang Sewu, Jurang Blimbing, Tembalang, Kota Semarang, Jamaah PCI-NU Belanda, tinggal di Wageningen-Belanda

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Olahraga, Sunnah, Tegal Hari Santri 2019

Selasa, 09 Januari 2018

PCNU Brebes Ingatkan Pelajar NU pada Amanah Keagamaan dan Kebangsaan

Brebes, Hari Santri 2019 - Ketua PCNU Brebes KH Athoillah menyampaikan tentang pentingnya dua amanat yang telah diembankan kepada NU yang artinya berlaku juga untuk seluruh lembaga dan badan otonom NU, yaitu amanat diniyah (keagamaan) dan amanat wathaniyah (kebangsaan).

Demikian disampaikan Kiai Athoillah pada pembukaan Konferensi Cabang (Konfercab) XI IPNU-IPPNU Kabupaten Brebes di SMK/MTs Al-Ikhlas Limbangan, Losari, Brebes, Rabu (12/7).

PCNU Brebes Ingatkan Pelajar NU pada Amanah Keagamaan dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Brebes Ingatkan Pelajar NU pada Amanah Keagamaan dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Brebes Ingatkan Pelajar NU pada Amanah Keagamaan dan Kebangsaan

Dua amanah ini, kata Atho, dijalankan dengan tawasut artinya moderat pada posisi di tengah-tengah dan toleran. Dalam menjaga Islam yang mulia harus pula dengan kemuliaan. “Komitemen NU, yakni satu tekad, satu langkah untuk mempertahankan Islam dan negara,” kata Kiai Atho.

Ia mengingatkan, kebencian yang terlalu memuncak mendorong kelompok wahabi untuk melenyapkan NU antara tahun 2025 hingga 2030.

Hari Santri 2019

Tantangan ini, lanjutnya, justru menjadikan NU makin kuat apalagi sekarang sudah mendapat dukungan penuh dari tentara, polisi, dan negara. “Pendidikan kader penggerak NU di Kabupaten Brebes juga sudah digelar 6 angkatan, dan pengkaderan lainnya banom NU yang tiada henti menjadi kekuatan tersendiri,” tegasnya.

Hari Santri 2019

Sementara Wakil Bupati Brebes Narjo yang hadir pada pembukaan konferensi ini mengharapkan kelahiran kader yang mumpuni dan memberkahi. Jadikan forum konfercab sebagai ajang silaturahmi dan peningkatan SDM dalam mengawal NKRI.

Era sekarang, kata Narjo, organisasi pemuda tengah dihadapkan pada tantangan perubahan sosial. Untuk itu perlu peningkatan kapasitas dan kualitas yang memadai sehingga tidak tertinggal dan ditinggal oleh anggotanya.

Narjo juga meminta IPNU-IPPNU untuk berpartisipasi dalam pembangunan daerah. Terutama dalam penanganan dekadensi moral, merebaknya pornografi, narkoba, dan tindak negatif lainnya. “Pemkab memandang IPNU-IPPNU menjadi organisasi yang berakhlakul karimah sehingga mampu membentengi berbagai kegiatan negatif,” tandasnya.

Ketua Panitia Konferensi Abdul Azis menjelaskan, konferensi ini diikuti 750 peserta utusan dari 297 desa/kelurahan di 17 PAC se-Kabupaten Brebes. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Sunnah Hari Santri 2019

Selasa, 02 Januari 2018

Kenapa Keturunan Nabi Tak Tentu Berakhlak Baik? Ini Penjelasan Habib Luthfi

Pekalongan, Hari Santri 2019. Tidak ada yang mengelak bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling baik, bahkan sempurna. Satu bukti, ia digelari Al-Amin (seorang yang jujur) oleh kaum Quraisy di zaman pra Islam. ?

Namun demikian, seluruh keturunan yang mempunyai nasab langsung ke Nabi tidak menjamin bahwa akhlak orang tersebut baik. Alasan untuk persoalan tersebut dijelaskan secara lugas oleh Pimpinan Majelis Kanzus Sholawat Pekalongan Habib Luthfi bin Yahya, Selasa (24/1) lalu saat menerima rombongan Anjangsana Islam Nusantara STAINU Jakarta di kediamannya.

Kenapa Keturunan Nabi Tak Tentu Berakhlak Baik? Ini Penjelasan Habib Luthfi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Keturunan Nabi Tak Tentu Berakhlak Baik? Ini Penjelasan Habib Luthfi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Keturunan Nabi Tak Tentu Berakhlak Baik? Ini Penjelasan Habib Luthfi

Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) ini menerangkan, meskipun mempunyai nasab langsung ke Rasulullah, belum tentu akhlak orang itu baik karena ini persoalan ma’shum (dilindungi Allah dari dosa).

“Jangan heran jika (keturunan Nabi, red) ada yang berakhlak tidak baik, lah wong mereka tidak di-ma’shum kok,” tutur Habib Luhtfi dengan gaya bicaranya yang khas.

Dengan demikian, menurutnya, belajar dan memahami sejarah secara tuntas sebagai cerminan berpikir dan bertindak menjadi langkah penting, termasuk sejarah perjalanan Nabi Muhammad yang penuh dengan teladan baik dan akhlak yang mengesankan.

Hari Santri 2019

Sebutan Habib

Hari Santri 2019

Beberapa waktu lalu dalam kunjungannya ke ndalem Gus Mus, Prof HM. Quraish Shihab mengatakan bahwa sebutan Habib mempunyai makna orang yang dicintai sekaligus mencintai. Jadi menurut penulis Kitab Tafsir al-Misbah ini, seseorang dengan sebutan Habib tidak hanya ingin dincintai, tetapi juga harus mencintai.

Prof Quraish memberikan penekanan bahwa ada persoalan mendasar terkait sebutan Habib, yaitu akhlak. Terkait dengan akhlak ini, menjadi alasan fundamental bahwa tidak semua keturunan Rasulullah bisa disebut habib.

Dari beberapa literatur, keturunan Nabi dari Sayyidina Husein disebut sayyid, sedangkan dari Sayyidina Hasan disebut assyarif. Hasan dan Husein merupakan putra Sayyidah Fatimah binti Muhammad dari hasil pernikahannya dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Selama ini, sebutan habib harus melalui komunitas dengan berbagai persyaratan yang sudah disepakati. Hal ini ditekankan oleh organisasi pencatat keturunan Nabi, Rabithah Alawiyah. Di antaranya cukup matang dalam hal umur, memiliki ilmu yang luas, mengamalkan ilmu yang dimiliki, ikhlas terhadap apapun, wara atau berhati-hati, serta bertakwa kepada Allah.

Tak kalah pentingnya, Rabithah Alawiyah yang dipimpin oleh Habib Zen bin Smith (salah satu Mustasyar PBNU) menekankan bahwa akhlak yang baik menjadi salah satu alasan utama keturunan Nabi disebut Habib. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Sunnah, IMNU, Aswaja Hari Santri 2019

Minggu, 31 Desember 2017

Ini Alasan Kapolri Baru Izinkan Polwan Berjilbab

Jakarta, Hari Santri 2019. Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal (Pol) Sutarman akhirnya mengizinkan polisi wanita (polwan)menggunakan jilbab pada saat bertugas. Apa alasan mantan ajudan Gus Dur itu mengizinkan polwan berjilbab?

Ini Alasan Kapolri Baru Izinkan Polwan Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Alasan Kapolri Baru Izinkan Polwan Berjilbab (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Alasan Kapolri Baru Izinkan Polwan Berjilbab

Menurut Jenderal Sutarman, penggunaan jilbab merupakan hak pribadi setiap warga negara, terkait keyakinan terhadap ajaran agamanya.

"Itu hak asasi seseorang, saya sudah sampaikan kepada anggota kalau misalnya ada anggota yang mau pakai, silakan!" katanya di sela-sela acara Silaturahmi Kapolri dengan Insan Pers di Ruang Rupatama Mabes Polri, Selasa (19/11) kemarin.

Hari Santri 2019

Ketentuan mengenai seragam polisi, termasuk di dalamnya polwan, diatur dalam Surat Keputusan (SK) Kapolri No Pol: Skep/702/IX/2005. Memang tidak tertulis larangan berjilbab dalam surat keputusan Kapolri lama itu. Namun, SK itu sudah dianggap mewajibkan semua anggota untuk mengenakan seragam yang telah ditentukan itu, dan tidak ada jilbab untuk polisi wanita.

Pernyataan Kapolri Sutarman yang belum lama dilantik itu mengakhiri polemik di kalangan pejabat kepolisian terkait boleh tidaknya polwan berjilbab. Meski demikian sampai saat ini belum ada aturan resmi baru yang dikeluarkan Kapolri terkait penggunaan jilbab, terkait anggaran dan model jilbab yang boleh dipakai.

Hari Santri 2019

Kata Kapolri, Polwan yang ingin menggunakan jilbab dipersilakan membeli sendiri. "Anggaran belum ada, kalau mau beli, silakan. Contohnya kan sudah ada. Mulai besok kalau ada yang mau pakai saat tugas tidak masalah," ujarnya enteng.? (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pendidikan, Kajian Islam, Sunnah Hari Santri 2019

Rabu, 27 Desember 2017

Profil Ahwa: Syekh KH Ali Akbar Marbun, Medan

Syech KH Ali Akbar Marbun adalah Pendiri sekaligus Pengasuh Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar Jl Pelajar No 264 Medan, Sumatera Utara. Syech KH Ali Akbar Marbun lahir di desa Siniang, Kecamatan Pakkat, Kabupaten Humbang Hasundutan, Medan.

Syekh KH Ali Akbar Marbun adalah anak ke 7 dari 8 bersaudara, ayahnya Buyung Marbun (Alm) dengan ibunya Hj Chadijah bt Nainggolan (meninggal pada usia 105 tahun) adalah petani dan orang yang taat beragama Islam.

Profil Ahwa: Syekh KH Ali Akbar Marbun, Medan (Sumber Gambar : Nu Online)
Profil Ahwa: Syekh KH Ali Akbar Marbun, Medan (Sumber Gambar : Nu Online)

Profil Ahwa: Syekh KH Ali Akbar Marbun, Medan

Syekh Ali belajar di Pesantren Musthafawiyah Purba Baru Tapanuli Selatan, salah satu pesantren tertua dan terbesar di Sumatera Utara yang didirikan oleh Syech Musthafa Husain Nasution yang pada waktu itu dipimpin oleh H Abdullah Musthafa Nasution dan guru besarnya Syech Abdul Halim Lubis.

Hari Santri 2019

Setelah belajar di Pesantren Musthafiyah selama 4 tahun, pada tahun 1969 Syech Ali Akbar Marbun menunaikan ibadah Haji ke Mekkah. Setelah menunaikan ibadah haji, Syekh Ali tinggal di Mekkah untuk belajar. Syekh Ali banyak belajar dari ulama-ulama Sunni di Mekkah, salah satunya kepada Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani.

Usai belajar di Mekkah, pada tahun 1978 Syech Ali Akbar Marbun pulang ke Medan dan mendirikan Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar.

Hari Santri 2019

Syekh KH Ali Akbar Marbun terpilih menjadi salah satu anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) di Muktamar Ke-33 NU Jombang yang dipilih oleh para Muktamirin. Setelah diadakan tabulasi, Syekh Ali mendapat suara sebanyak 246 suara. Anggota Ahwa bertugas memilih Rais Aam PBNU yang akan menahkodai NU di periode 2015-2020. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Sunnah, Meme Islam Hari Santri 2019

Jumat, 22 Desember 2017

Rais Aam: Bahtsul Masail NU Teguhkan Tradisi Ulama dalam Menentukan Hukum

Purwakarta, Hari Santri 2019. Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin menyatakan, Bahtsul Masail yang menjadi forum akademik para kiai NU dalam menentukan hukum dari sebuah persoalan merupakan upaya mengembalikan dan meneguhkan tradisi para ulama zaman dulu dalam pengambilan hukum.

Rais Aam: Bahtsul Masail NU Teguhkan Tradisi Ulama dalam Menentukan Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam: Bahtsul Masail NU Teguhkan Tradisi Ulama dalam Menentukan Hukum (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam: Bahtsul Masail NU Teguhkan Tradisi Ulama dalam Menentukan Hukum

Hal ini ia kemukakan saat memberikan pengarahan dalam kegiatan Bahtsul Masail Pra-Musyawarah Nasionak dan Konferensi Besar (Pra-Munas dan Konbes) NU 2017, di Pondok Pesantren Al-Muhajirin 3 Purwakarta, Jawa Barat pekan lalu.

Bahkan menurut Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Serang, Banten ini, para ulama zaman dulu bukan hanya berijtihad secara qauli dan manhaji (metodologis), tetapi sudah pada taraf mengkaji ulang sebuah hukum.

“Bahkan mereka sudah berani i’adzatun nadzor terhadap pendapat-pendapat yang tidak bisa diterapkan,” jelas Kiai Ma’ruf.

Hari Santri 2019

Ketua Umum MUI Pusat ini mengungkapkan, sistem pengkajian ulang bukan hanya membahas persoalan hukum inilah yang saat ini hampir sudah tidak ada di lingkungan NU.

Namun, Kiai Ma’ruf sendiri tidak memungkiri metode berpikir manhaji sudah diterapkan oleh para kiai NU sehingga ruang pengkajian ulang terhadap pendapat dan hukum bisa terus dilakukan.

“Jadi penting berpikir dengan menggunakan metode berpikir manhaji, bukan hanya qauli,” tegasnya.

Hari Santri 2019

Bahas sejumlah problem penting

Dalam kesempatan sebelum perhelatan Munas dan Konbes pada 23-25 November 2017 mendatang ini, NU membahas sejumlah persoalan penting yang perlu dibahtsulmasailkan terkait waqi’iyah (problem terkini), maudluiyah (tematik), dan qanuniyah (perundang-undangan).

Bahtsul Masail Waqi’iyah diantaranya membahas tentang investasi dana haji, hak waris anak hasil zina, hukum melempar jumroh lewat tengah malam di hari tasyriq, dan keberadaan minimarket yang mengancam pedagang kecil.

Adapun Bahtsul Masail Maudluiyah membahas persoalan hukum penggunaan lahan, ujaran kebencian, hak bagi penyandang disabilitas yang secara khusus akan disusun fiqih disabilitas, hukum penggunaan frekuensi publik, dan soal taqrir jamai serta ilhaqun nash binadzairiha dalam sistem pengambilan hukum di lingkungan NU.

Sedangkan Bahtsul Masail Qanuniyah membahas persoalan terkait RUU Pesantren dan Lembaga Pendidikan Keagamaan, RUU KUHP, Putusan MK terkait anak hasil zina yang otomatis menjadi anak angkat dalam hal pembagian waris, termasuk putusan MK soal penyematan aliran kepercayaan di KTP. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Syariah, RMI NU, Sunnah Hari Santri 2019

Sabtu, 16 Desember 2017

IPNU-IPPNU Teruskan Perjuangan NU

 Jepara, Hari Santri 2019. Usia Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) kini sudah menginjak 59 dan 58 tahun. Di usia yang semakin dewasa tersebut IPNU-IPPNU diharapkan yang akan meneruskan perjuangan NU. 

Demikian diungkapkan ketua PCNU Jepara, KH Asyhari Samsuri dalam Peringatan Maulid Nabi dan Harlah IPNU ke-59 dan IPPNU ke-58 di Gedung NU, Jalan Pemuda No.51 Jepara, Sabtu (23/2).

IPNU-IPPNU Teruskan Perjuangan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Teruskan Perjuangan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Teruskan Perjuangan NU

 

Menurut kiai Asyhari dalam hymne pelajar NU tercantum bersemilah-bersemilah tunas-tunas NU. Lagu itu menurutnya kader-kader IPNU-IPPNU adalah penerus NU di masa yang akan datang. 

Hari Santri 2019

“IPNU-IPPNU adalah harapan masa depan NU,” katanya kepada ratusan hadirin yang memadati aula gedung NU.

Hari Santri 2019

Pemuda masih menurutnya adalah yang berani mengatakan dirinya sebagai pemuda tangguh bukan malah pamer sosok bapaknya. Karenanya sebagai pemuda harus tetap berkarya dan berinovasi sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.   

 

“Nabi Muhammad adalah sosok pekerja keras. Maka IPNU-IPPNU selain menjadi generasi yang siap dalam berbagai ilmu pengetahuan juga harus bekerja keras sebagaimana Nabi,” tambah Kiai Asyhari.

 

Hal senada juga disampaikan oleh KH Mustamir Wildan. Ketua pesantren “Roudlotul Mubtaiin” Balekambang, Nalumsari mengajak kader IPNU-IPPNU jangan sampai berhenti dalam menuntut ilmu.

 

Disamping itu, kiai Mustamir juga menanggapi perspektif masyarakat yang menyatakan IPNU-IPPNU adalah biro jodoh sebagai istilah positif. Menurutnya kader IPNU yang mendapatkan kader IPPNU menjadi kekuatan yang ideal. 

“Jika ada IPNU yang mendapatkan jodoh IPPNU adalah pasangan yang ideal. Sebab mereka kelak merupakan diantara yang akan meneruskan NU,” ungkapnya.

 

Kiai Mustamir pun menegaskan kelak jika pasangan tersebut sudah memiliki anak maka orang tua bergabung di Ansor dan Fatayat. Kemudian jika sudah memiliki cucu bergabungnya di Muslimat dan NU.  

 

Sementara itu, Haryono Wibowo, staf ahli Bupati yang mewakili Bupati Jepara mengatakan IPNU-IPPNU diharapkan memberikan kontribusi untuk daerah. Haryono menyampaikan semakin merebaknya penyakit masyarakat semisal penyalahgunaan narkoba kader IPNU-IPPNU diharapkan menjadi garda depan untuk meminimalisir perilaku negatif tersebut.

 

Berkenaan dengan semakin maraknya penyebaran nyamuk demam berdarah pemuda juga memiliki peran untuk memberikan informasi kesehatan kepada masyarakat. Setidaknya dengan gerakan 3 M maupun Jumat atau Minggu bersih.  

 

Dalam kegiatan yang dihadiri ratusan peserta, Habib Ali Zainal Abidin Assegaf yang didaulat memimpin jalannya pembacaan maulid sedangkan grup rebana Ahbabul Mustofa dan Tari Sufi Jepara sebagai pengiring pembacaan shalawat. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaiful Mustaqim  

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, Sholawat, Sunnah Hari Santri 2019

Jumat, 15 Desember 2017

Jalankan dan Besarkanlah NU dengan Penuh Keyakinan!

Jakarta, Hari Santri 2019

Ketua Pengurus Cabang Lembaga Tamir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Sumedang Eman Sulaeman menyampaikan betapa pentingnya menjalankan organisasi Nahdlatul Ulama disertai dengan keyakinan. Menurutnya, keyakinan merupakan hal terpenting dalam mewujudkan tujuan serta cita-cita organisasi NU dan membesarkannya.

Jalankan dan Besarkanlah NU dengan Penuh Keyakinan! (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalankan dan Besarkanlah NU dengan Penuh Keyakinan! (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalankan dan Besarkanlah NU dengan Penuh Keyakinan!

"Yaqin. Untuk rumus keyakinan, angkanya hanya ada dua, 1 dan 0. Jika kita punya 10 cita-cita, tapi nol keyakinan, maka hasilnya 10x0 = 0. Namun ketika? kita mempunyai 3 cita-cita dan 1 keyakinan, maka hasilnya 3x1=3," ungkapnya saat memberikan materi ke-NU-an pada kegiatan Pelatihan Muharrik Masjid yang digelar PC LTMNU Sumedang, Sabtu (28/5).

Dalam kegitan yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Jauhariyah Dusun Tonjong, Desa Hariang, Kecamatan Buahdua tersebut, Eman Sulaeman mengajak pengurus masjid se-Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang untuk bersatu dalam membesarkan NU dan menjaga ajaran Ahussunnah wal Jamaah.

Hari Santri 2019

"Mari kita bersatu bersama dalam membesarkan NU. Tentunya tetap menjaga serta melestarikan tradisi dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah," ajak Eman.

Selaras dengan ketua PC LTM NU, pengurus Awan PCNU H Zainal Alimin menegaskan, "Jangan ragu untuk membesarkan organisasi Kebangkitan Ulama ini. Ketika ada orang yang membesarkan NU, ada masyarakat yang membesarkan NU, pasti orang tersebut dan daerah masyarakat tersebut akan terasa nyaman. Besarkan NU bil yaqin (dengan penuh keyakinan)!" Tegasnya.

Hari Santri 2019

Pelatihan Muharrik diikuti warga pengurus dewan kemakmuran masjid se-Kecamatan Buahdua. Hadir pula dalam kegiatan tersebut ketua PCNU H Sadulloh, ketua PC JQHNU Ustadz Ahmad Jauharudin, Ketua MWC NU Buahdua Ustadz Aceng Rukmana, kepala desa, camat serta pengurus banom dan lembaga di lingkungan MWCNU Kecamatan Buahdua. (Nahru Ulumudin/Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ulama, Sunnah Hari Santri 2019

Minggu, 10 Desember 2017

PMII Sukoharjo Peringati Satu Dasawarsa

Sukoharjo, Hari Santri 2019. Keluarga besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Sukoharjo, belum lama ini (8/5) mengadakan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-53 PMII yang dan Satu Dasawarsa PMII Sukoharjo. 

Acara yang dihadiri ratusan peserta baik pengurus, anggota, maupun para alumni tersebut diselenggarakan di Gedung Pertemuan Kantor Kelurahan Ngadirejo Kartasura Sukoharjo.

PMII Sukoharjo Peringati Satu Dasawarsa (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sukoharjo Peringati Satu Dasawarsa (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sukoharjo Peringati Satu Dasawarsa

Dalam acara yang mengusung tema "Memperteguh Peran Strategis PMII Sebagai Social Mandatory Dalam Kepemimpinan Demokrasi" ini, ketua PMII Sukoharjo, Jampit Ludiro dalam suatu orasi kebangsaan, ia mengatakan dengan lebih dari usia emas, organisasi PMII dalam level nasional telah terbukti sebagai perangkai negeri dan penjaga NKRI.

Hari Santri 2019

“Itu bagian dari bukti PMII sebagai social mandatory,” kata Mahasiswa IAIN Surakarta itu.

“Sinergitas dan kolektifitas antara kader dan alumni, juga menjadi modal penting dalam menjaga ritme gerakan,” imbuh sang ketua.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pentas monolog “Kemerdekaan” karya Putu Wijaya. Di akhir peringatan Harlah PMII ini, diadakan pemberian kenang-kenangan dari pengurus cabang untuk para mantan ketua, mulai dari periode 1 sampai periode 7.

Hari Santri 2019

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Sunnah Hari Santri 2019

Jumat, 20 Oktober 2017

Panti Sosial Harapan Remaja Peringati 30 Tahun Berdirinya

Jakarta, Hari Santri 2019. Panti Sosial Asuhan Anak “Harapan Remaja” yang dikelola oleh Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU telah berhasil menapaki sejarah dan eksis selama lebih dari 30 tahun. Syukuran atas keberhasilannya ini diabadikan dengan menerbitkan sebuah buku berjudul “Mengantar ke Pintu Gerbang”



Panti Sosial Harapan Remaja Peringati 30 Tahun Berdirinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Panti Sosial Harapan Remaja Peringati 30 Tahun Berdirinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Panti Sosial Harapan Remaja Peringati 30 Tahun Berdirinya

Peluncuran buku ini dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo pada hari Senin, 21/7) di asrama panti yang berlokasi di Jl. Tenggiri 37 Jakarta Timur dan dihadiri oleh para donator dan alumni.

Buku ini menceritakan proses berdirinya panti dan segala dinamika perjuangannya sampai perkembangannya saat ini dan visi pengembangannya di masa yang akan datang. Sejumlah data anak asuh dan alumni, program serta biografi para pendirinya juga tercantum dalam buku ini. Tak ketinggalan, foto-foto kegiatan turut menghiasi buku setebal 136 halaman ini.

Hari Santri 2019

Panti ini didirikan pada tanggal 4 Desember 1976 diatas tanah seluas 1.680 meter persegi oleh para pengurus Muslimat waktu itu seperti Ny Solichah Wahid Hasyim, Ny Solichah Syaifuddin Zuhri, Hj Soetarjih Rachmat Muylomiseno, Hj Madillah Himpuni Suparman dan Hj. Aisyah Hamid Baidlowi yang kini menjadi satu-satunya pendiri yang masih hidup.

Dimulai dengan tujuh anak binaan, kini sudah meluluskan ratusan alumni. Batas maksimal ditetapkan usia 21 tahun dengan pendidikan SLTA. Selain memperoleh pendidikan formal, tak lupa pendidikan agama wajib dijalani oleh semua anak asuh. Mereka juga mandapatkan pendidikan ketrampilan yang semuanya ditanggung oleh panti.

Hari Santri 2019

Untuk pendidikan agama, mereka mendapatkan pelajaran Al Qur’an, Hadist, Bahasa Arab, akidah, akhlaq, fiqh, tafsir dan sejarah Islam. Mereka secara temporer juga diwajibkan untuk embaca tahlil, yasin, rawi dan latihan pidato.

Mereka yang diterima harus berusia sekolah dan berstatus yatim-piatu, anak terlantar atau tidak mampu. Apabila selesai menjalani proses pembelajaran, panti mengusahakan adanya pekerjaan, mengusahakan beasiswa atau mengembalikan kepada wali atau orang tua.

Terdapat 16 orang karyawan dan 11 orang guru yang mengelola panti ini. Sementara itu anak asuh yang tinggal di asrama sebanyak 50 orang dan yang tinggal di luar asrama sebanyak 50 orang. Kini, sedang diusahakan proses pembangunan gedung Madrasah untuk tingkat ke dua.

Ketua Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU Ny Farida Salahuddin Wahid menjelaskan saat ini lembaganya sudah mengelola 102 panti asuhan, 57 rumah sakit dan klinik bersalin, 1 klinik hemodialisis, 5 panti lansia dan 16 asrama putri. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, Sunnah, PonPes Hari Santri 2019

Sabtu, 30 September 2017

PMII Banten: Satu Jiwa Kita Beraswaja

Serang, Hari Santri 2019



Pengurus PMII Rayon Ushuluddin, Rayon Dakwah, dan Rayon Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, mengadakan pelantikan, up-grading dan raker secara bersama. Acara yang bertemakan "Satu Angkatan Kita Bergantian, Satu Jiwa Kita Beraswaja" dilaksanakan bertempat di Lorong Syariah IAIN "SMH" Banten. Sabtu Malam (16/4).

PMII Banten: Satu Jiwa Kita Beraswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Banten: Satu Jiwa Kita Beraswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Banten: Satu Jiwa Kita Beraswaja

Ketua Pelaksana Abdul Raufian mengatakan bahwasanya setiap angkatan merupakan regenerasi karena memang organisasi PMII ini adalah organisasi kader.?

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Setelah prosesi pelantikan, dilanjutkan acara up-grading dengan pematerinya Tb. Nurfachrurizal yang merupakan senior dan mantan ketua rayon Ushwah, yang sekarang mulai pemekaran menjadi tiga Rayon yakni Rayon Ushuluddin, Rayon Dakwah dan Rayon Adab.

"Pelantikan ini bukan saja mengesahkan serta pengambilan sumpah pengurus, melainkan memperkenalkan Pengurus Rayon Ushuluddin, Rayon Dakwah dan Rayon Adab kepada para tamu undangan dan para senior yang datang. Agar sesama kader PMII untuk saling mengenal dan terjalin silaturahmi yang solid," ujar Hasbi Ashidiqi, Ketua Rayon Dakwah.

Acara ini pun dihadiri oleh PC PMII Kota Serang, pengurus komisariat dan pengurus rayon se-Kota Serang, dan para senior PMII Rayon IAIN "SMH" Banten. (Assiddiqie/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Sunnah, Pondok Pesantren Hari Santri 2019

Selasa, 05 September 2017

50 Perupa Ikuti Pameran “Matja” NU

Yogyakarta, Hari Santri 2019. Menjelang Muktamar ke-33 NU, panitia akan menggelar pameran seni rupa bertema Matja: Seni Wali-wali Nusantara. Pameran yang digelar di Jogja National Museum, 27 Juli-30 Juli 2015 tersebut diikuti sekitar 50 perupa.

Panitia pameran, Hasan Basri, mengatakan pameran seni rupa yang pertama kali digelar diikuti perupa Nasirun, D. Zawawi Imron, KH Mustofa Bisri, Ahmad Tohari, Lucia Hartini, Ivan Sagita, Agus Suwage, Stefan Buana, Arahmaiani, S Teddy D, Bunga Jeruk, Jeihan, Tisna Sanjaya, Entang Wiharso, Heri Dono, dan lain-lain.

50 Perupa Ikuti Pameran “Matja” NU (Sumber Gambar : Nu Online)
50 Perupa Ikuti Pameran “Matja” NU (Sumber Gambar : Nu Online)

50 Perupa Ikuti Pameran “Matja” NU

Menurut Hasan, di antara tradisi Islam Nusantara adalah menempatkan kesenian pada posisi yang mulia. Kesenian menjadi lambang kematangan rohani manusia. Seni yang bersifat luhur, baik, dan ada rasa keadilannya.

Hari Santri 2019

Dalam konteks ini, kata Hasan, NU yang didirikan para ulama dibawah pimpinan KH Hasyim Asy’ari, tidak sekadar menempatkan kesenian secara fungsional, sebagai alat dakwah. Lebih dari itu, kesenian merupakan tanda dari pencapaian keber-islam-an seseorang atau masyarakat.

“Kesenian adalah perlambang kematangan ruhani umat manusia. Semakin rendah selera seni (art taste) sebuah masyarakat menunjukkan rendahnya tingkat spiritualitas masyarakat tersebut,” katanya pada jumpa pers Jogja National Museum, Yogyakarta, Jumat, (24/7). ?

Hari Santri 2019

Pandangan semacam ini, lanjut dia, khas pandangan, pedoman, dan keyakinan (i’tiqad) Ahlusunnah Waljama’ah? (ASWAJA) mengenai kesenian.

“Imam Ghazali misalnya dalam magnum opusnya, Ihya’ Ulumuddien, menyebut orang Islam yang tidak bisa menikmati kesenian sebagai kelompok “yang kurang akal” (naaqishul ‘aql). Tatah atau alas dari pencerahan ruhani adalah kesenian, dalam istilah lain hanya kesenian yang mampu menampung bahasa ruhani sehingga sampai pada tataran kemanusiaan,” lanjutnya.

Kurator pameran, A. Anzieb, mengatakan hal itu adalah sebuah upaya kecil untuk menghadirkan kehangatan hubungan antara Islam dan seni. Bahwa, Islam Nusantara yang bersendikan pada kedaulatan, berusaha membuka segala kemungkinan untuk mewujudkan perubahan sosial tanpa memutuskan pertautan dengan masa lalu. Tidak alergi dengan perubahan, tetapi tidak percaya pada impor gagasan dan tindakan dalam mengarungi semua tantangan kehidupan.

Menurut dia, pameran seni rupa “Matja” Seni Wali-wali Nusantara” dihadirkan sebagai ekspresi sekaligus impresi berkesenian yang? terkait? dengan tradisi berkesenian Islam di Nusantara yang menempatkan kesenian sebagai asas kemasyarakatan, di mana seni menyatu dalam ritme hidup keseharian masyarakat Indonesia.

“Dalam Pameran senirupa bertema “Matja” Seni Wali-wali Nusantara” ini, selain menghadirkan hubungan yang hangat antara Islam dan seni, juga merupakan sebuah refleksi kedewasaan masyarakat Islam Nusantara mengaktualisasi diri melalui seni dan budaya yang diilhami dari gerakan asimilasi warisan Wali Songo,” pungkasnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Hadits, Khutbah, Sunnah Hari Santri 2019

Selasa, 15 Agustus 2017

Rapatkan Barisan, MWCNU Pekalongan Utara Dilantik Bareng

Pekalongan, Hari Santri 2019. Mengawali kegiatan Nahdlatul Ulama Pekalongan Utara, Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Pekalongan Utara periode 2014 - 2019, Jumat (27/3) kemarin menggelar kegiatan pelantikan bersama badan otonom di wilayahnya.

Rapatkan Barisan, MWCNU Pekalongan Utara Dilantik Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Rapatkan Barisan, MWCNU Pekalongan Utara Dilantik Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Rapatkan Barisan, MWCNU Pekalongan Utara Dilantik Bareng

Acara yang dihelat di komplek rumah dinas eks Pembantu Gubernur Pekalongan, dibarengi dengan pelantikan Pimpinan Ranting (PR) Fatayat Nu Pebean, Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU IPPNU dan Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU IPPNU STAIN Pekalongan.

Ketua MWC NU Pekalongan Utara HM. Nasir kepada Hari Santri 2019 mengatakan, kegiatan bersama dengan badan otonom ini merupakan langkah awal konsolidasi dan yang pertama kalinya dilaksanakan di wilayah Pekalongan Utara. 

Hari Santri 2019

Dikatakan, jika pada kegiatan sebelumnya berjalan sendiri sendiri, akan tetapi kali ini dicoba mengadakan kegiatan bersama ditunjang dengan kegiatan lainnya seperti jalan sehat, donor darah, bazar dan pengajian umum.

"Ini merupakan langkah awal untuk melakukan konsolidasi organisasi di wilayah Pekalongan Utara. Hal ini penting dilakukan agar warga nahdliyyin bisa bersatu padu merapatkan barisan, agar tidak mudah dirongrong oleh pihak manapun," ujarnya.

Hari Santri 2019

Dirinya selaku Ketua MWCNU berharap kepada jajaran pengurus NU dan badan otonom di wilayahnya segera melakukan konsolidasi di wilayahnya masing masing dengan memperbanyak pertemuan dan menggelar kegiatan. "Kita jangan sampai lengah terhadap upaya gerakan radikalisme di wilayah Pekalongan Utara," ungkap Nasir.

Rais Syuriyah PCNU Kota Pekalongan KH. Zainuri Zainal Mustofa sebelum melantik jajaran Pengurus MWCNU Pekalongan Utara Periode 2014 - 2019 berpesan, agar pengurus yang sudah mengucapkan baiat dan menerima Surat Keputusan (SK) langsung aktif bekerja menjalankan program programnya hingga akhir periode.

Sedangkan Katib Syuriyah PCNU Kota Pekalongan H. Romadhon Abdul Jalil meminta kepada segenap jajaran pengurus yang sudah dilantik untuk memajang naskah baiat yang berisi janji untuk mengabdi kepada NU di rumah masing masing.

Hal ini perlu dilakukan, menurut Romadhon, agar pengurus senantiasa ingat akan janjinya saat menjadi pengurus.  "Jangan sampai pengurus yang sudah berbaiat lantas lupa akan janjinya saat menjadi pengurus, maka dengan memajang naskah baiat di rumah masing masing, pengurus akan selalu ingat dan berusaha sekuat tenaga untuk menjalankan roda organisasi," ujar alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri ini.

Sementara itu, kegiatan jalan sehat warga nahdliyyin dengan mengambil start dan finish diikuti ribuan peserta dengan hadiah doorprize yang cukup banyak dari pihak sponsor. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, Sunnah, PonPes Hari Santri 2019

Minggu, 20 November 2016

Anggota Banser Siap Kawal Siak-Riau sebagai Bumi Aswaja

Siak, Hari Santri 2019

Sebanyak 105 peserta Diklatsar I Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dinyatakan lulus dan diberi tugas mengawal Kabupaten Siak, Riau sebagai bumi Aswaja (Ahlusunnah wal Jamaah) sebagaimana ketika masih berada dibawah kekuasaan Kesultanan Melayu Siak Sri Indrapura.

Anggota Banser Siap Kawal Siak-Riau sebagai Bumi Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota Banser Siap Kawal Siak-Riau sebagai Bumi Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota Banser Siap Kawal Siak-Riau sebagai Bumi Aswaja

Tugas itu secara khusus disampaikan Ketua PW Ansor Riau, Purwaji yang menjadi instruktur Diklatsar bersama Dansatkornas Banser, Alfa Isnaini, Satkorwil Banser Riau, Ibadullah SE, Slamet Riyadi, Ketua PC Ansor Siak, Agus Mudhofar, dan para kiai NU Riau.

Menurut Purwaji, dalam praktik keagamaannya, Kesultananan Siak Sri Indrapura adalah penganut paham Ahlusunnah wal Jamaah yang dibuktikan dengan masih digelarnya Haul Sultan Sultan Siak sampai sekarang ini oleh keluarga kerajaan. Ditambah lagi dengan masih eksisnya tradisi ziarah ke makam para Raja dan ulama penyebar Islam di kabupaten itu seperti Makam Raja Kecik, Makam Syech Abdurrahman, Makam Sultan Syarif Kasim, dan lainnya.

"Kabupaten Siak ini tanah Aswaja yang harus kita jaga dengan sekuat tenaga. Bentengi agama kita dan amaliyah-amaliyahnya dari serangan paham radikal yang tidak toleran dan suka mengafirkan orang lain," kata Purwaji.

Dalam pantauan PW Ansor Riau, paham Islam radikal sudah masuk ke Siak dan semakin berani menunjukkan aksi melarang amaliyah-amaliyah orang NU dan orang Siak seperti yasinan, tahlilan dan maulidan.?

Hari Santri 2019

"Padahal Kerajaan Siak dulu Aswaja tulen, dan banyak keturunan Baginda Nabi Muhammad SAW yang berdakwah dan menjadi keluarga Kerajaan Siak. Amaliyah mereka adalah Aswaja yang sama dengan apa yang diamalkan warga NU. Karena itu Ansor dan Banser harus ikut menjaganya," kata Purwaji.

Hari Santri 2019

Diklatsar Banser Siak pertama ini digelar di Pondok ? Pesantren Al-Muttaqin Desa Jati Baru, Kecamatan Bunga Raya selama tiga hari dari Jumat sampai Ahad (5-7/2/2016). Selama Diklat peserta diberi materi ke-NU-an, ke-Ansor-an, ke-Banser-an, Aswaja dan materi lapangan seperti baris-berbaris, tata upacara Banser, bela diri, serta latihan ketahanan fisik. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pertandingan, Berita, Sunnah Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock