Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Gus Mus: Jangan Sibuk Salahkan Orang Lain

Jakarta, Hari Santri 2019. Ulama dan budayawan, KH Achmad Mustofa Bisri, mengingatkan masyarakat agar di tengah berbagai bencana yang melanda Tanah Air dewasa ini, tidak sibuk mencari-cari kesalahan orang lain.

"Kepada semuanya-lah saya ingatkan lagi, jangan kita sibuk menyalahkan orang lain sehingga kita lupa dan tidak sempat untuk meneliti kesalahan diri sendiri," katanya usai memimpin zikir dan doa bersama usai Sholat Jumat di Masjid Istiqlal Jakarta, yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wapres Jusuf Kalla dan jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu.

Gus Mus: Jangan Sibuk Salahkan Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Jangan Sibuk Salahkan Orang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Jangan Sibuk Salahkan Orang Lain

Gus Mus, panggilan akrab Mustofa Bisri, mengatakan, bencana dan musibah yang dialami bangsa Indonesia tidak perlu dikaitkan dengan siapa pemimpinnya. Tokoh kharismatik Nahdlatul Ulama (NU) tersebut menambahkan bahwa musibah beruntun yang melanda bangsa Indonesia merupakan cobaan dari Allah.

"Karena itu, kita mohon kepada Allah, kita tidak kuat kalau cobaan itu terlalu ’keras’. Kita sekarang ini kan tidak hanya diperingatkan saja tetapi sudah disentil," kata pimpinan Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Timur.

Karena itu, selain melakukan instrospeksi, pria kelahiran Rembang, 10 Agustus 1944 itu, mengajak semua pihak untuk melakukan apa saja yang bisa dilakukan untuk kemajuan bangsa, termasuk berdoa untuk keselamatan bangsa.

Ia juga berharap, langkah yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Wapres Jusuf Kalla dan jajaran menteri kabinet tersebut bisa menjadi langkah awal untuk melakukan tobat nasional.

Hari Santri 2019

"Mudah-mudahan, di daerah-daerah kan juga sudah mulai dilakukan," kata Gus Mus yang mengaku kehadirannya di Masjid Istiqlal itu karena diundang langsung oleh Presiden Yudhoyono.

Bukan azab

Sebelumnya di tempat yang sama, Dirjen Bimas Islam Depag, Prof Dr Nasaruddin Umar MA dalam khotbah Jumat-nya, menyatakan berbagai musibah yang dialami bangsa Indonesia belakangan ini bukanlah merupakan azab atau hukuman dari Allah SWT.

Hari Santri 2019

"Berbagai musibah itu merupakan cobaan dan pembelajaran bagi bangsa Indonesia untuk menuju masa depan yang lebih baik," katanya.

Menurut dia, musibah yang terjadi di Indonesia lebih bernuansa positif untuk menambah keimanan. "Hikmahnya bisa juga sebagai pencuci perbuatan dosa sehingga di akherat bisa lebih ’ringan’," katanya.

Dalam khutbahnya, Nasarudin juga mengajak umat untuk bersikap bijak dalam menghadapi setiap musibah serta senantiasa meminta pertolongan kepada Allah atas musibah yang terjadi.

"Hamba yang sejati tidak pernah berburuk sangka pada Allah dan tidak pernah mencari "kambing hitam", tapi belajar dan mengambil hikmah dibalik musibah itu," katanya. (ant/mad)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul Ulama, Santri Hari Santri 2019

Ribuan Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Pawai Santri Sidoarjo

Sidoarjo, Hari Santri 2019 - Ribuan Nahdliyin dari unsur siswa-siswi di bawah naungan LP Maarif NU Sidoarjo dari tingkat MI, MTs, MA, perguruan tinggi mengikuti pawai santri yang digelar oleh Pemkab Sidoarjo di alun-alun setempat, Ahad (23/10). Pawai ini juga diikuti oleh seluruh banom dan lembaga NU Sidoarjo.

Dengan antusias mereka mengikuti kegiatan tersebut. Meski hujan deras sempat mengguyur wilayah Sidoarjo, namun itu tak menyurutkan semangat warga kota udang untuk menyukseskan peringatan Hari Santri 2016.

Ribuan Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Pawai Santri Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Pawai Santri Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Pawai Santri Sidoarjo

Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah mengatakan, acara pawai santri ini terselenggara atas peran serta umat Islam di Sidoarjo dalam rangka membangun Kabupaten Sidoarjo yang lebih baik. Pawai santri ini merupakan rangkaian acara untuk memperingati Hari Santri.

"Semoga kegiatan ini bisa bermanfaat dan mendapatkan ridho dari Allah SWT. Mudah-mudahan Sidoarjo menjadi kabupaten yang mandiri, inovatif, sejahtera, dan berkelanjutan," kata pria yang akrab disapa Abah Ipul itu.

Hari Santri 2019

Ia berpesan kepada para santri agar senantiasa meningkatkan ilmu pengetahuan. Pasalnya, santri memiliki peran serta dan kontribusi dalam pembangunan khususnya di Kabupaten Sidoarjo.

Hari Santri 2019

Abah Ipul juga mengajak warga Sidoarjo khususnya umat Islam untuk bersama-sama membangun Sidoarjo menjadi kabupaten yang lebih baik lagi.

"Santri harus terus meningkatkan ilmu pengetahuan, olah kerja, dan memperkokoh ekonomi dengan baik untuk meningkatkan produktivitas di Sidoarjo," pesan Abah Ipul. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 PonPes, Nahdlatul Ulama, Nusantara Hari Santri 2019

Kamis, 22 Februari 2018

Begini Cara Gus Dur Membangun Papua

Jakarta, Hari Santri 2019. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar menjelaskan, pembangunan yang dilakukan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di tanah Papua bukan saja pada pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga menekankan kepada pembangunan manusia atau masyarakat Papua.

Begini Cara Gus Dur Membangun Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Cara Gus Dur Membangun Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Cara Gus Dur Membangun Papua

Pria yang akrab disapa Cak Imin menegaskan, Gus Dur dalam pembangunan Papua juga memperhatikan konteks sejarah Papua.

"Membangun Papua tidak bisa lepas dari sejarah Papua," kata Cak Imin saat memberikan sambutan dalam acara diskusi “Gus Dur, Papua, dan Paradigma Pembangunan di Graha Gus Dur” di Jakarta, Rabu (26/7).

Gus Dur, imbuh Cak Imin, berusaha untuk membangun kembali kepercayaan diri masyarakat Papua. Salah satu upaya yang dilakukan Gus Dur adalah dengan mengganti nama Irian dengan Papua.

Hari Santri 2019

"Ketika Gus Dur merubah Irian menjadi Papua banyak perdebatan," jelasnya.

Selain itu, lanjut dia, Gus Dur juga menekankan dialog dan menampung aspirasi masyarakat Papua seperti memperbolehkan masyarakat Papua untuk mengibarkan Bendera Bintang Kejora.

Hari Santri 2019

"Gus Dur membolehkan Bendera Bintang Kejora dikibarkan (di Papua) tetapi tingginya di bawah Bendera Merah Putih," terangnya.

"Ketika ditanya (soal kebolehan mengibarkan Bendera Bintang Kejora, Gus Dur menjawab dengan enteng: persatuan sepak bola saja boleh mengibarkan bendera klub," lanjut Cak Imin.

Cak Imin menilai, Gus Dur meletakkan manusia di atas segala-galanya. Oleh karena itu, Gus Dur membangun Papua dengan membangun manusianya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Cerita, Nahdlatul Ulama Hari Santri 2019

Selasa, 13 Februari 2018

160 RPK Ansor Lampung, Bantu Pemerintah Stabilkan Harga Sembako

Bandar Lampung, Hari Santri 2019. Gerakan Pemuda Ansor Lampung terus berkomitmen menunjukan kecintaan dan pengabdiannya bagi ? bangsa Indonesia. Upaya tersebut diwujudkan melalui pendirian Rumah Pangan Kita (RPK) di 15 kabupaten/kota di daerah itu.

"Setiap Pimpinan Cabang Pemuda Ansor di kabupaten atau kota masing-masing akan memiliki 10 RPK. 10 lagi pimpinan wilayah, jadi total ada 160 RPK yang kami miliki," ujar Ketua PW GP Ansor Lampung, Hidir Ibrahim, Jumat, di Bandar Lampung (16/6).

160 RPK Ansor Lampung, Bantu Pemerintah Stabilkan Harga Sembako (Sumber Gambar : Nu Online)
160 RPK Ansor Lampung, Bantu Pemerintah Stabilkan Harga Sembako (Sumber Gambar : Nu Online)

160 RPK Ansor Lampung, Bantu Pemerintah Stabilkan Harga Sembako

RPK merupakan salah satu program Perum Bulog untuk mendistribusikan pangan dalam penugasan menjaga stabilisasi harga nasional. GP Ansor Lampung memantapkan diri mengambil RPK berbekal pengalaman penyelenggaraan pasar murah di 15 kabupaten/kota pada Ramadhan 1438 H ini.

"Sabtu 17 Juni 2017, bertempat di PW GP Ansor Lampung, Jalan Raden Gunawan II, Rajabasa, Bandar Lampung, kami akan menandatangani nota kesepahaman dengan Bulog menindaklanjuti arahan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor yang menginisiasi gerakan kewirausahaan yang Insya Allah berdampak positif bagi masyarakat," kata Hidir lagi.

Hari Santri 2019

RPK Ansor di Lampung nantinya akan menyediakan komoditi seperti telur, bawang putih, terigu, gula pasir, beras dan minyak goreng dengan harga relatif lebih rendah dari umumnya.

"Upaya ini adalah keharusan dilakukan kader Ansor. Untuk menggerakkan organisasi membutuhkan kreativitas dan kemauan. Itulah jalan yang harus ditempuh setiap organisatoris," papar dia lagi.

Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto menyambut baik upaya pimpinan wilayah mendorong kemandirian kader.

"Ini jalan menunjukkan jati diri organisasi dengan harakah atau gerakan, bukan wacana atau sekedar omong kosong sehingga kami bisa menegaskan dengan perbuatan, bahwa Ansor merupakan organisasi yang bermanfaat bagi masyarakat dengan segala kekurangannya," kata pemilik gelar adat Lampung Ratu Ulangan itu.

Hari Santri 2019

Di Way Kanan, imbuh aktivis Gusdurian itu menambahkan, RPK tersebar di lima kecamatan dan beberapa kampung. Satu dikelola PAC Way Tuba, lalu PAC Negeri Besar tiga RPK. Selanjutnya di PAC Banjit, Negeri Agung dan Pakuan Ratu masing-masing dua RPK. Total sepuluh RPK.

"Melalui RPK ini, kami ingin menegaskan Ansor Untuk Masyarakat. Karena kami ialah organisasi action, bukan organisasi fashion," kata Gatot. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul Ulama Hari Santri 2019

Jumat, 26 Januari 2018

Lima Program Pokok Ketua Baru IPNU-IPPNU Jepara

Jepara, Hari Santri 2019

Zainal Muttaqin terpilih menjadi ketua baru Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan dan Vida Amalia sebagai ketua baru Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Jepara masa khidmah 2016-2108.

Zainal Muttaqin, ketua PC IPNU Jepara terpilih saat dihubungi Hari Santri 2019, Senin (10/10/16), menyampaikan visi-misi kepengerusan mendatang. Pertama, melanjutkan PR besar IPNU-IPPNU yakni mengaktifkan kembali ranting-ranting sebagaimana yang diprogramkan oleh PCNU Jepara untuk semua Banom.

Lima Program Pokok Ketua Baru IPNU-IPPNU Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Program Pokok Ketua Baru IPNU-IPPNU Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Program Pokok Ketua Baru IPNU-IPPNU Jepara

Kedua, kata sekretaris bidang kaderisasi PC IPNU Jepara masa khidmah 2014-2016 ini, menumbuhkembangkan potensi kader di semua lini mulai dari ranting, komisariat hingga anak cabang dengan melaksanakan program kaderisasi pendidikan Makesta dan Lakmud.

Hari Santri 2019

“Ketiga, mensantrikan pelajar dan mempelajarkan santri,” lanjut Zainal, Wakil Ketua II PAC IPNU Welahan 2014-2016 itu.

?

Hari Santri 2019

Keempat, mengembangkan para kader muda yang lebih berkah, bermanfaat dan bisa memberikan sumbangsih perjuangan di setiap lini di tingkatannya masing-masing. Terakhir, mengajak para pelajar dan pemuda untuk sadar organisasi sebagai bekal untuk menatap masa depan yang lebih baik.

Zainal dan Vida terpilih dalam Konfercab XXV IPNU-IPPNU Jepara yang berlangsung di Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang Desa Gemiring Lor, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara, Sabtu-Ahad (08-9/10). Zainal memperoleh 22 suara, disusul Ahmad Suyudi dengan perolehan 14 dan M. Miqdad Sya’roni dengan 11 suara. Sedangkan Vida Amalia terpilih menjadi ketua IPNU Cabang Jepara secara aklamasi.

Sementara itu, M. Khoironi, Ketua demisioner IPNU Cabang Jepara 2014-2016 berharap IPNU-IPPNU ke depan mampu melanjutkan program-program yang telah dirintis sebelumnya yang baik dan mampu berinovasi serta memperkuat organisasi dan kaderisasi.

Juga mampu mengawal pendirian ranting, komisariat dan PAC. “Kami juga berharap IPNU-IPPNU ke depan mampu menangkap isu-isu pelajar, pendidikan serta pendampingan kepada pelajar lebih intens lagi,” papar Khoironi.

Guru MTs Al-Faizin Guyangan, Bangsri Jepara itu membeberkan hampir semua program departemen dan lembaga sudah terlaksana dengan baik. Di antaranya adalah kaderisasi. “Masa khidmah sebelumnya ada 10 PAC sekarang ada peningkatan 14 PAC aktif. Ini peningkatan yang harus dijaga terus eksistensinya,” harapnya. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

? ? ? ? ?


Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul Ulama, Meme Islam, AlaSantri Hari Santri 2019

Minggu, 21 Januari 2018

Meminang Keberanian

Robiatul Adawiyah

Bahagia tak layak menjadi jaminan

Meminang Keberanian (Sumber Gambar : Nu Online)
Meminang Keberanian (Sumber Gambar : Nu Online)

Meminang Keberanian

Bila bahagia masih menjadi sebuah kemungkinan

Kemungkinan hidup yang saling bergantungan.

Hidup adalah keberanian.

Hari Santri 2019

Keberanian hujan dengan sejuta alasan

Tanpa tahu yang berada dalam gendongan

Yang berada ditepi jalan.

Hari Santri 2019

Seperti gula,

Manis

Larut

Dan mengendap dalam gelas.

Wujudnya tak lagi menarik

Namun rasa adalah penggoda

Darinya keberanian tercipta.

Sementara,

Memandu jalannya kenangan

Tak menuntutmu untuk memberi

Dan lekas tuk disudahi.

Sebab, lelaki separas apapun

Tak akan menarik jika terluka.

Menimang-nimang kenangan

Sungguh membuatku kerepotan

Kenangan menjadi tumpukan bergilir

Dan air mata hanya akan terus mengalir.

Kenangan menjadi sangat luber.

Semua orang sibuk merawat dan menghias kenangan.

Sayangnya, kenangan tak bisa diganti orangnya

Dan tak bisa diubah rasanya.

Jakarta, April 2017

Penulis adalah kader PMII Az-Ziyadah, peserta kelas menulis Hari Santri 2019. Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul Ulama, Cerita, Habib Hari Santri 2019

Sabtu, 09 Desember 2017

Tingkatkan Kualitas SDM NU, Muktamar Rumuskan 3 Bidang Prioritas

Jakarta, Hari Santri 2019. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) merancang program dengan memprioritaskan pada bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Terbukti di dalam Sidang Komisi Program Muktamar Ke-33 NU yang berlangsung di Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang, Selasa (4/8) lalu, PBNU membentuk 3 badan khusus yang bergerak di bidang-bidang tersebut.

Tingkatkan Kualitas SDM NU, Muktamar Rumuskan 3 Bidang Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Kualitas SDM NU, Muktamar Rumuskan 3 Bidang Prioritas (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Kualitas SDM NU, Muktamar Rumuskan 3 Bidang Prioritas

Tiga badan khusus yang dimaksud yaitu Badan Pelaksana Bidang Kesehatan NU (BPKB-NU), Badan Penyelenggara Pendidikan Ma’arif NU (BP2M-NU), dan Badan Perekonomian NU (BPNU).

Ketua Komisi Program, H Yahya Ma’shum saat itu menerangkan, bahwa kelembagaan Badan Khusus terdiri dari Dewan Pengurus dan dan Pelaksana (eksekutif). Dewan Pengurus ditunjuk (berdasarkan keahlian dibidangnya), disahkan PBNU, Tingkat Provinsi ditunjuk oleh PWNU, di Kabupaten/Kota oleh PCNU dan disahkan oleh Dewan Pengurus.

Hari Santri 2019

Tiga Badan Khusus ini merupakan upaya realisasi dari salah satu program dasar yang dirancang PBNU, yaitu Program Pengembangan Kualitas SDM NU. Adapun program dasar lain yang dirancang, yakni Program Penguatan dan Penyebaran Aswaja NU; Program Peningkatan Kesejahteraan dan Keadilan Warga (bergerak di sektor perekonomian, ketenagakerjaan, serta pendidikan dan perlindungan hukum), dan Program Penguatan Organisasi, Kelembagaan, dan Jaringan.

Hari Santri 2019

Dalam pemaparannya di hadapan sekitar 450 PCNU yang hadir dalam Sidang Komisi Program, Yahya Ma’shum menjelaskan, bahwa Badan Khusus bertanggung jawab langsung kepada PBNU, hubungan koordinatif dan konsultatif dalam menjalankan mandat yang diberikan oleh PBNU.

“Ruang lingkup tanggung jawab Badan Khusus meliputi penyelenggaraan, pengelolaan, pengembangan, dan atau pendirian masing-masing 3 bidang tersebut,” jelas Yahya yang juga Ketua PP Lakpesdam NU ini.

Adapun, lanjutnya, tanggung jawab 3 Badan Khusus tersebut adalah:

1. BPKB-NU: menangani Rumah Sakit, Klinik, Balai Pengobatan, Rumah Bersalin, pelayanan pencegahan, tindakan dan rehabilitasi, serta melakukan advokasi bidang kesehatan.

2. BP2M-NU: menangani Lembaga Pendidikan Formal dan Non-Formal yang terdiri dari bidang Pendidikan Madrasah/Sekolah, bidang Pendidikan Tinggi, dan bidang PAUD, TK, TPA.

3. BPNU: menangani lembaga ekonomi berbasis komunitas, Induk Koperasi NU, BMT-NU, Himpunan Saudagar NU, dan Asosiasi Perekonomian tertentu.

Dalam sidang yang juga dipimpin oleh Ketua PP LP Ma’arif NU, H Arifin Djunaidi dan salah satu Ketua PBNU, H Iqbal Sulam ini, Muktamirin banyak memberikan kritikan, usulan, pandangan, dan pendapatnya terhadap program-program yang telah dipaparkan. Namun demikian, suasana sidang berlangsung kondusif. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News, Nahdlatul Ulama, Jadwal Kajian Hari Santri 2019

Jumat, 08 Desember 2017

Teks dan Karakter Islam Nusantara

Oleh Mahrus eL-Mawa* Fenomena kekerasan atas nama agama, baik secara personal maupun institusional, hingga saat ini tidak dapat diterima umat manusia, terutama umat yang beragama dengan cinta, damai, dan kearifan (love, peace and wisdom). Islam sebagai agama yang mengedepankan rahmatan lil alamin dimanapun, sudah pasti menolak kekerasan tersebut.

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang dilahirkan sejak 1926 untuk memberikan kedamaian umat Islam Indonesia, terutama dalam menjalankan tradisi dan ritual keagamaan, hingga saat ini. NU telah merumuskan beberapa prinsip dalam hal mengantisipasi persoalan sosial keagamaan, yaitu tasamuh (toleran), tawazun (seimbang/harmoni), tawasut (moderat), ta’adul (keadilan), dan amar ma’ruf nahi munkar.

Teks dan Karakter Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Teks dan Karakter Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Teks dan Karakter Islam Nusantara

Seiring dengan fenomena kekerasan atas nama agama oleh kelompok Islam tertentu tersebut, dan merasa dirinya yang paling benar pemahaman keislamannya, dimanapun, menjadikan NU yang akan melaksanakan Muktamarnya ke-33 perlu menegaskan kembali jati diri Islam Nusantara.

Hari Santri 2019

Gagasan Islam Nusantara merupakan salah satu pemikiran yang khas untuk Indonesia dari dulu dan saat ini. Secara historis, berdasarkan data-data filologis (naskah catatan tulis tangan), keislaman orang Nusantara telah mampu memberikan penafsiran ajarannya sesuai dengan konteksnya, tanpa menimbulkan peperangan fisik dan penolakan dari masyarakat.

Contohnya, ajaran-ajaran itu dikemas melalui adat dan tradisi masyarakat, makanya

terdapat ungkapan di Minangkabau adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Lalu, pada saat itu di Buton terdapat ajaran martabat tujuh dari tasawuf menjadi bagian tak terpisahkan dari undang-undang kesultanan Buton. Hal serupa di Jawa, baik melalui ajaran Walisongo ataupun gelar seorang raja dengan menggabungkan tradisi lokal dan tradisi Arab, seperti Senopati ing Alogo Sayyidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa.

Hari Santri 2019

Dengan demikian, praktik Islam Nusantara mampu memberikan kedamaian umat manusia. Pada saat itu di Nusantara, baik kepulauan Jawa, Sumatera, Sulawesi dan sekitarnya para ulama dalam hal menuliskan ajarannya juga mempunyai tradisi akulturatif dan adaptif. Strategi dakwah tersebut tertulis dalam berbagai aksara dan bahasa sesuai dengan wilayahnya. Di Jawa terdapat aksara carakan, dan pegon dengan bahasa Jawa, Sunda, atau Madura, yang diadaptasi dari aksara dan bahasa Arab. Di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, terdapat aksara Jawi dengan bahasa Melayu, dan aksara/bahasa lokal sesuai sukunya, Bugis, Batak, dst.

Jelas sekali, ada kekhasan dalam Islam Nusantara pada soal adaptasi dan akulturasi aksara/bahasa. Hal serupa juga dalam hal sosialisasi ajaran Islam yang disampaikan secara praktis di masyarakat, terdapat adaptasi seni dan budaya lokal.

Wacana Islam Nusantara untuk saat ini acapkali diadaptasikan sebagai Islam Asia Tenggara (rumpun Melayu), dan belakangan menjadi Islam Indonesia. Beberapa buku menunjukkan hal itu, Azyumardi Azra (Edisi Revisi, 2004), Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII [The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle Eastern and Malay Indonesia ‘Ulama in the Seventeeth and Eighteenth Centuries (KITLV, 2004)],? L.W.C. van den Berg (1989), Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara [terjemahan dari Le Hadhramaut Et. Les Colonies Arabes Dans L’Archipel Indien], Ahmad Ibrahim, dkk. (1989), Islam di Asia Tenggara [Readings on Islam in Southeast Asia], Slamet Muljana (2005), Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara; Kedua buku terakhir tersebut merupakan beberapa bukti bahwa Islam Asia Tenggara itu Islam Nusantara dengan rumpun Melayu, dan Islam Nusantara itu Islam Indonesia. Baru belakangan muncul beberapa karya dengan Islam Indonesia, seperti Michael Laffan (2011), The Makings of Indonesian Islam (Orientalism and the Narraration of a Sufi Past).? ?

Membicarakan Islam Nusantara bukan sekadar mengungkap kesejarahan Islam sebelum kaum asing menjajah (mempengaruhi) sejumlah wilayah di Nusantara, tetapi juga mengungkap kaitan ajaran Islam dengan tradisi lokal yang berbeda dengan tradisi Islam mainstream dari asalnya, Arab, terutama di Indonesia. Berkaitan dengan itu, jurnal Tashwirul Afkar edisi no. 26 Tahun 2008 tentang Islam Nusantara barangkali dapat menjadi bacaan awalnya.

Islam Nusantara juga dikenal dengan Islam Sufistiknya, hal itu bisa dilihat dalam karya Alwi Shihab, Akar Tasawuf di Indonesia (2009) dan buku Miftah Arifin, Sufi Nusantara: Biografi, Karya Intelektual dan Pemikiran Tasawuf (2013). Tentu saja, Islam Nusantara bukan hanya tasawuf, tetapi semua aspek ajaran Islam, seperti fiqh, tauhid, al-Qur’an, al-Hadis, dst.

Para ulama Nusantara dan karya-karyanya juga sudah dibuat daftarnya secara ringkas oleh Nicholas Heer (2008) dengan judul A Concise Handlist of Jawi Authors and Their Works. Diantara ulama Nusantara yang dikenal dengan Ahlussunah wal jamaah itu Syekh Ihsan ibn Muhammad Dahlan al-Jamfasi al-Kadiri dengan judul kitab Irsyad al-Ikhwan fi Bayan Ahkam Syurb al-Qahwah wa al-Dukhan, dan Siraj al-Talibin fi Syarh Minhaj al-Abidin; Muhammad As’ad ibn Hafid al-Jawi, an-Nubzah al-Saniyah fi al-Qawaid al-Nahwiyah (1304/1886); Muhammad Sa’id ibn Muhammad Tahir Riau, Kitab ‘Iqd al-Jawhar fi Mawlid al-Nabi al-Azhar (1327/1909); Muhammad ibn (?) Salih ibn ‘Umar al-Samarani, Hadis al-Mi’raj, dst.

Adapun ulama-ulama yang sudah masyhur lainnya juga tercatat dengan baik, seperti Hamzah al-Fansuri al-Jawi, Syekh an-Nawawi al-Bantani al-Jawi, Syekh Abd ar-Rauf al-Singkili al-Jawi, Abd al-Samad al-Falimbani al-Jawi, Kiai Bisri Mustofa dengan Tafsir Pegon, al-Ibriz, dst.

Islam Nusantara, diakui atau tidak, masih dianggap sebagai Islam pinggiran (periferal) oleh para orientalis. Sekalipun bantahan terhadap anggapan seperti itu sudah dilakukan juga oleh islamolog, seperti A.H. Johns. Bahkan Johns (1965) pernah meneliti karya ulama tasawuf Nusantara Tuhfatul Mursalah ila ruh al-nabi dalam salinan bahasa dan aksara Jawa, dengan judul The Gift Addressed to the Spirit of the Prophet.

Karya-karya ulama Nusantara dalam bahasa lokal tersebut untuk penyebaran Islam merupakan salah satu dari kelebihan dan kekhasan Islam Nusantara, selain dari pemahaman moderatnya. Moderasi itu dengan cara akomodasi tradisi lokal dalam pemahaman keislamannya, seperti tahlilan, muludan, sedekah laut, mitoni, dst. yang selama ini hanya milik Islam tradisional Indonesia. Tradisi Islam Nusantara yang sudah berkembang tersebut ternyata juga berkembang di negara Timur Tengah, seperti Maroko, Yaman dan sekitarnya.

Moderasi Islam Nusantara ternyata dapat dilihat bukan hanya pada pengembangannya melalui akulturasi budaya semata, tetapi juga ketika Islam awal masuk ke Nusantara melalui suatu proses kooptasi damai yang berlangsung selama berabad-abad. Tidak banyak terjadi penaklukan secara militer, pergolakan politik, atau pemaksaan struktur kekuasaan dan norma-norma masyarakat dari luar negeri (Ahmad Ibrahim, dkk: 2).

Dengan demikian, melalui Islam Nusantara tidak perlu dengan gerakan paramiliter, kekerasan, penindasan, atau bentuk radikalisme lainnya, seperti yang dikembangkan organisasi Islam tertentu yang sedang marak belakangan ini.

Dengan demikian pribumisasi Islam Gus Dur sungguh sangat tepat untuk Islam Nusantara. Salah satu warisan Islam Nusantara, selain pesantren adalah naskah kuno (manuskrip). Naskah kuno ini dapat menjadi ciri khas lain dari Islam Nusantara, terutam pada aspek bahasa dan aksaranya. Pegon dan Jawi tidak pernah digunakan oleh orang Islam dimanapun, kecuali bangsa kepulauan Nusantara.

Karena itu, apabila terdapat naskah kuno berbahasa Jawa dengan aksara Arab di perpustakaan Jerman, Belanda, Perancis, Italia, dst, dapat dipastikan naskah itu berasal dari Nusantara (lihat, Henri Chamberl-Loir dan Oman Fathurrahman (1999), Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia Sedunia. Adapun di dalam negeri, berbagai katalog naskah dari daerah-daerah seperti Buton, Yogyakarta, Jawa Barat, Aceh, dst. Secara khusus, terdapat sebuah buku tentang Direktori Edisi Naskah Nusantara (1999).

Kajian terhadap naskah kuno tersebut saat ini sedang berkembang pesat, tidak hanya di perguruan tinggi umum (UI, UGM, UNPAD, dst) tetapi juga lembaga kementerian agama RI (Litbang, UIN, IAIN, dst.). Bahkan, beberapa pesantren dan keluarga keraton sebagai pemilik naskah kuno tersebut sudah dilibatkan menjadi peneliti, pengkaji, dan pemelihara naskah secara professional. Pengkaji naskah Nusantara ini bahkan menyebut studinya dengan nama filologi Nusantara.

Studi naskah di Nusantara memang tidak dapat disamakan dengan filologi di Eropa, Barat, atau latin dimana asal usul filologi berkembang. Begitupun kajian naskah Nusantara tidak dapat disamakan dengan studi filologi di Arab (ilmu tahqiq). Karena itu, Nusantara mempunyai kekhasannya sendiri, termasuk naskah-naskah di daerah. Kajian naskah di wilayah yang besar cakupannya, seperti Jawa, Melayu atau Batak, ternyata juga memunculkan filologi tersendiri, maka lahirlah filologi Jawa, filologi Melayu, dan filologi Batak.

Kajian naskah semacam itu, terutama naskah keagamaan Islam, mengingatkan penulis pada gagasan Gus Dur tentang pesantren sebagai sub-kultur dan pribumisasi Islam. Pesantren sebagai warisan Islam Nusantara hari ini juga mempunyai kontribusi besar terhadap dinamika filologi Nusantara, karena di pesantren juga mempunyai kekhasan sendiri yang berbeda dengan filologi Jawa dst. Karena itu, penulis juga pernah mengusulkan perlunya kajian filologi pesantren. Terlebih lagi, apabila dikaitkan dengan pribumisasi Islam dari Gus Dur, maka semakin lengkaplah kajian Islam Nusantara itu.

Berangkat dari catatan-catatan tersebut, kiranya, “Mengapa Islam Nusantara”, baik dari sisi historis maupun untuk kepentingan saat ini, dapat disingkat sebagai berikut:

1. Ajaran Islam Nusantara, baik dalam bidang fikih (hukum), tauhid (teologi), ataupun tasawuf (sufism) sebagian telah diadaptasi dengan aksara dan bahasa lokal. Sekalipun untuk beberapa kitab tertentu tetap menggunakan bahasa Arab, walaupun substansinya berbasis lokalitas, seperti karya Kyai Jampers Kediri.

2. Praktik keislaman Nusantara, seperti tahlilan, tujuh bulanan, muludan, bedug/kentongan sesungguhnya dapat memberi kontribusi pada harmoni, keseimbangan hidup di masyarakat. Keseimbangan ini menjadi salah satu karakter Islam Nusantara, dari dulu dan saat ini atau ke depan.

3. Adat yang tetap berpegang dengan syari’at Islam itu dapat membuktikan praktik hidup yang toleran, moderat, dan menghargai kebiasaan pribumi, sehingga ajaran Ahlus sunnah wal jamaah dapat diterapkan.? Tradisi yang baik tersebut perlu dipertahankan, dan boleh mengambil tradisi baru lagi, jika benar-benar hal itu lebih baik dari tradisi sebelumnya.

4. Manuskrip (catatan tulisan tangan) tentang keagamaan Islam, baik babad, hikayat, primbon, dan ajaran fikih, dst. sejak abad ke-18/20 merupakan bukti filologis bahwa Islam Nusantara itu telah berkembang dan dipraktikkan pada masa lalu oleh para ulama dan masyarakat, terutama di komunitas pesantren.

5. Tradisi Islam Nusantara, ternyata juga trdapat keserupaan dengan praktik tradisi Islam di beberapa Negara Timur Tengah, seperti Maroko dan Yaman, sehingga Islam Nusantara dari sisi praktik bukanlah monopoli NU atau umat Islam Indonesia semata, karena jejaring Islam Nusantara di dunia penting dilakukan untuk mengantisipasi politik global yang terkesan bagian dari terorisme global.

6. Karakter Islam Nusantara, seperti disebut sebelum ini, tidaklah berlebihan jika dapat menjadi pedoman berfikir dan bertindak untuk memahami ajaran Islam saat ini, sehingga terhindar dari pemikiran dan tindakan radikal yang berujung pada kekerasan fisik, dan kerusakan alam.

7. NU sebagai organisasi yang dilahirkan untuk mengawal tradisi para ulama Nusantara, terutama saat keemasannya, Walisongo, penting kiranya untuk tetap mengawal dan menegaskan kembali tentang Islam Nusantara, yang senantiasa mengedapkan toleran, moderat, kedamaian dan memanusiakan manusia.

Selamat dan Sukses Muktamar NU ke-33, semoga benar-benar dapat merumuskan secara teoritis dan praktis tentang Islam Nusantara, sehingga dapat diaktualisasikan secara nyata di tengah masyarakat, dan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, khususnya bagi umat Islam Indonesia.

Catatan pendek ini sebagai pengantar diskusi Halaqah pra-Muktamar NU ke-33 di PBNU, “Mengapa Islam Nusantara?”, diselenggarakan kerja sama Gus Durian, Panitia Muktamar dan Pasca Sarjana STAINU Jakarta, 10 April 2015. Draft only.

*Mahrus eL-Mawa, teman Belajar Mahasiswa Pasca Sarjana STAINU Jakarta dan IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Saat ini, sedang menulis disertasi tentang filologi naskah Cirebon di FIB UI.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tokoh, Nahdlatul Ulama, Humor Islam Hari Santri 2019

Rabu, 06 Desember 2017

Jama’ah Masjid Darussalam Pati Tahlilkan Ribuan Arwah

Pati, Hari Santri 2019. Ada yang menarik menjelang Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW yang dihelat di Masjid Darussalam Grogolan-Dukuhseti-Pati, Jawa Tengah, Selasa (19/5) malam. Pasalnya, sejak usai jamaah dzuhur terdengar nama ribuan arwah dibacakan oleh panitia.

Jama’ah Masjid Darussalam Pati Tahlilkan Ribuan Arwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jama’ah Masjid Darussalam Pati Tahlilkan Ribuan Arwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jama’ah Masjid Darussalam Pati Tahlilkan Ribuan Arwah

Menurut Ketua Panitia Isra’ Mi’raj M Anwar Syafi’i, pembacaan nama arwah dilakukan bergantian oleh sejumlah anggota panitia. “Nama-nama arwah tersebut sengaja kami bacakan pakai pengeras suara demi syiar. Paling tidak, ahli waris juga bahagia nama keluarganya yang telah wafat disebut dalam majlis tahlil ini,” ujarnya.

Tiap nama yang ditahlilkan, lanjut Anwar, keluarga menitipkan uang sebesar 2000 rupiah kepada panitia. “Hingga sore ini, dana yang masuk sudah 8 juta lebih. Kalau 2000 perorang, berarti ada empat ribuan arwah yang ditahlilkan. Seperti tahun lalu, menjelang Maghrib masih ada saja warga mengirim nama leluhurnya,” ungkap Anwar.

Hari Santri 2019

Anwar Syafii menambahkan, tahlil akbar ini telah dimulai sejak tiga tahun silam. “Ini tahun keempat. Tiap tahun selalu naik jumlahnya, baik arwah maupun keluarga yang mendaftarkannya,” ujar Anwar.

Selain tahlil akbar, lanjut Anwar, kegiatan tahunan tersebut juga memberikan santunan kepada para yatim piatu yang dikemas dalam pengajian umum. “Pengajian malam ini akan dihadiri KH Mahrus Ali dari Jepara,” katanya.

Hari Santri 2019

Di tempat terpisah, Imam Masjid Darussalam KH Ali Makhtum Salam menyatakan, kegiatan Isra Mi’raj diinisiasi Majlis Ta’lim Al-Istiqomah yang beranggotakan jamaah masjid Darussalam.

“Majlis ta’lim ini merupakan organisasi pengajian kitab tiap malam Selasa yang dirintis oleh Bapak (KH Abdussalam-red). Lalu, diteruskan Kiai Suyuthi A Hannan, kakak sepupu saya. Setelah beliau sakit-sakitan, saya diminta melanjutkan,” ujar Kiai Makhtum.

Pengajian kitab kuning, lanjutnya, telah dimulai saat Almaghfurlah KH Abdussalam masih hidup. Mbah Salamun, sapaan akrab Kiai Abdussalam, biasa memimpin pengajian dengan berbagai macam kitab, antara lain Majmuah al-Syariah al-Kafiyah li al-Awam karya KH Sholeh Darat Semarang.

Sementara itu, Koordinator Majlis Ta’lim Al-Istiqomah Masjid Darussalam Ahmad Ahsin mengatakan, nanti malam ada 35 anak yatim piatu yang akan diberi santunan. “Dana santunan, diambil dari sumbangan para donatur. Bukan dari dana pemasukan tahlil akbar,” tandasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Nahdlatul Ulama, Hadits Hari Santri 2019

Mbah Muqoyyim, Kiai Rakyat Pendiri Buntet Pesantren

Cirebon, Hari Santri 2019. Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putra Buntet Pesantren menggelar bedah buku Sang Kyai Rakyat karya Bintang Irianto. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional dan Hari Pahlawan.

Bedah buku yang digelar di aula MANU Putra pada Sabtu (12/11) menghadirkan penulisnya dan pemerhati sejarah Buntet H Farid Wajdi sebagai pembandingnya. Kegiatan ini dipandu guru bahasa Arab MANU Putra, R. M. Zidni Ilman.

Mbah Muqoyyim, Kiai Rakyat Pendiri Buntet Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Muqoyyim, Kiai Rakyat Pendiri Buntet Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Muqoyyim, Kiai Rakyat Pendiri Buntet Pesantren

Buku tersebut berkisah tentang perjalanan hidup Mbah Muqoyyim, pendiri Pondok Buntet Pesantren. Dia merupakan cucu dari Ki Lebeh Mangku Negara Warbita yang merupakan santri Sultan Demak Abdul Fatah. Ki Lebeh juga pernah nyantri ke Sunan Ampel, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

Hari Santri 2019

Ki Lebeh memiliki anak bernama Abdul Hadi dari pernikahannya dengan Nyi Gede Kerangkeng. Abdul Hadi yang disebut juga Anjasmara ini menikah dengan Anjasmani dan lahirlah Muqoyyim kecil.

Mbah Muqoyyim menggantikan ayahnya Abdul Hadi sebagai kadi di Keraton Kanoman. Namun pada akhirnya, ia keluar, meletakkan jabatannya karena VOC sudah mempengaruhi kebijakannya.

Hari Santri 2019

“Kiai Muqoyyim meletakkan jabatannya sebagai kadi dan keluar dari Keraton Kanoman dikarenakan VOC sudah mengubah dan mengganggu kebijakan-kebijakan keagamaan dan tradisi dengan menggunakan aturan-aturan mereka,” tulis Bintang dalam makalahnya.

Dari situlah, Mbah Muqoyyim kemudian mendirikan Pondok Buntet Pesantren pertama kali di Cimarati, Dawuhan Sela, Desa Buntet, sekitar 500 Meter dari Buntet Pesantren saat ini. Tak berapa lama, banyak orang berdatangan untuk mengaji berbagai ilmu ke Mbah Muqoyyim. Namun pesantrennya itu diketahui oleh Belanda.

Khawatir akan mengobarkan pemberontakan, Belanda pun menyerangnya. Tiba di pesantren, Belanda tak mendapati siapa pun di sana. Mbah Muqoyyim dan seluruh santrinya sudah mengetahui rencana penyerangan tersebut sehingga Mbah Muqoyyim berkelana lagi. Pesantren yang sudah tak berpenghuni itu lalu dibakar oleh Belanda.

Seusai berkelana ke berbagai daerah, yakni Tuk Cirebon, Pemalang, dan Aceh, Mbah Muqoyyim kembali lagi ke Buntet atas permintaan tamu dari kesultanan Cirebon untuk mengatasi penyakit yang mewabah di Cirebon. Mbah Muqoyyim mengajukan dua syarat untuk itu, yakni dipulangkannya kembali Pangeran Kanoman dan penguasa mendirikan masjid di wilayah Cirebon.

Dua syarat itu langsung dikabulkan Belanda. Akhirnya, ia kembali ke Buntet dan merintis kembali pesantren yang sempat ditinggalkannya selama beberapa tahun.

Para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Hal ini ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang mengalir ke moderator. (Syakir Niamillah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul Ulama, Ubudiyah Hari Santri 2019

Selasa, 05 Desember 2017

Aminuddin Ma’ruf Ketum PB PMII 2014-2016

Jakarta,Hari Santri 2019. Aminuddin Ma’ruf terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia periode 2014-2016 pada Kongres Jambi yang berlangsung 30 Mei sampai 10 Juni 2014.

Amin, kader PMII yang diusung Cabang Jakarta Timur tersebut menyelesaikan S1 di Universitas Negeri Jakarta dan melanjutkan S2 di Universitas Trisakti. Di PB PMII sebelumnya ia dipercaya sebagai Ketua Biro Pemberdayaan Ekonomi.

Aminuddin Ma’ruf Ketum PB PMII 2014-2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Aminuddin Ma’ruf Ketum PB PMII 2014-2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Aminuddin Ma’ruf Ketum PB PMII 2014-2016

Salah seorang pengurus PB PMII, Abdul Malik, menceritakan proses pemilihan di kongres tersebut. Menurut dia, awalnya yang mencalonkan diri menjadi ketua umum sekitar 15 orang. Setelah beberapa calon mengundurkan diri, 5 kandidat maju pada putaran pertama.

Hari Santri 2019

Kata Malik, pada putaran pertama itu Muammarullah Umam mendapat 51 suara, Aminuddin Ma’ruf 38,? Abdul Aziz 7, Zaini Mustakim 41, Jabidi Ritonga 35, Miftahul Aziz 45. Sementara pada putaran kedua Aminuddin 102, Muammarullah Umam 74, Miftahul Aziz 64.? ?

Hari Santri 2019

“Aminuddin terpilih secara demokratis pada kongres tersebut,” kata Abdul Malik melalui telpon Selasa (10/6). (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Hikmah, Nahdlatul Ulama Hari Santri 2019

Rabu, 29 November 2017

Terkait Identitas Karyawan, Sarbumusi: Holcim Jangan Ganggu Keberagaman Buruh

Jakarta, Hari Santri 2019. Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (DPP K-Sarbumusi NU) meminta manajemen PT Holcim Indonesia menghormati keberagaman kepercayaan buruh sejalan dengan konstitusi yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Presiden DPP K-Sarbumusi NU, Syaiful Bahri Anshori, di Jakarta, Selasa (16/5) menegaskan, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan tegas menjamin keamanan dalam menjalankan kehidupan beragama dalam suatu negara yang bersifat non religus.

Terkait Identitas Karyawan, Sarbumusi: Holcim Jangan Ganggu Keberagaman Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)
Terkait Identitas Karyawan, Sarbumusi: Holcim Jangan Ganggu Keberagaman Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)

Terkait Identitas Karyawan, Sarbumusi: Holcim Jangan Ganggu Keberagaman Buruh

"Selain itu negara yang berlandaskan hukum tidak melarang dan mengatur-ngatur hubungan personal kepercayaan dan keberagamaan warga negaranya sendiri," kata dia lagi.?

Ia melanjutkan, Pasal 29 ayat 1 dan 2 menegaskan, negara berdasarkan atas ketuhanan yang Maha Esa dan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.

"Saudara Cornelius Arianto Wibisono yang mempunyai riwayat berganti agama atas kesadaran dan kehendak sendiri wajib dihormati oleh siapapun dan oleh apapun. Dengan agama dan kepercayaan yang sekarang, tidak boleh dilanggar oleh siapapun termasuk oleh manajemen PT Holcim Indonesia. Ia bebas untuk menjalankan dan melaksanakan kewajiban agamanya," tegas Syaiful didampingi Sekretaris Jenderal Eko Darwanto.

Hari Santri 2019

DPP K-Sarbumusi NU mengecam keras tindakan Direktur O & HR PT Holcim Indonesia memaksa Arianto untuk menikmati daging hewan yang menurut agama dan kepercayaannya sekarang haram hukumnya.

Hal itu, kata Syaiful menambahkan, menjadi bentuk pelanggaran serius dan pelanggaran HAM yang nyata atas Konstitusi Negara Republik Indonesia sebagai mana tercantum dalam Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Hari Santri 2019

"Yang bersangkutan selaku unsur pimpinan seharusnya tidak melontarkan pernyataan yang menyinggung cara beragama buruh di PT Holcim Indonesia. ? Jangan membuat agama menjadi bagian isu dan persoalan dalam hubungan industrial. Secara keseluruhan, keberagamaan buruh tidak bisa di intervensi oleh manajemen atau pihak manapun," kata dia lagi.

Berkaitan dengan hal tersebut, DPP K-Sarbumusi NU menuntut Presiden Direktur PT Holcim Indonesia untuk membuat tim investigasi terhadap Direktur O & HR atas penghinaan dan penistaan yang dilakukan terhadap saudara Cornelius Arianto Wibisono, dan ? bila terbukti melanggar agar diberhentikan dari perusahaan.

"Kami meminta Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia untuk segera menurunkan pengawas terhadap manajemen PT Holcim Indonesia atas pelanggaran SARA dalam hubungan industrial," kata Syaiful lagi.

DPP K-Sarbumusi NU menuntut Presiden Direktur PT Holcim Indonesia agar mengembalikan nama baik dan posisi hubungan industrial saudara Cornelius Arianto Wibisono terkait pelanggaran hubungan industrial dengan dilakukan Pemutusan Hubungan Kerja tanpa Perjanjian Kerja Bersama PT Holcim Indonesia dan prosedur kontitusi peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

"Kami meminta Kepala Kepolisian Republik Indonesia untuk melakukan investigasi dan penyelidikan terkait isu SARA yang dilontarkan Direktur O & HR PT Holcim Indonesia, apa itu ketidaksengajaan atau merupakan kebijakan yang terstruktur," demikian kata Syaiful Bahri Anshori. (Gatot Arifianto/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, Cerita, Nahdlatul Ulama Hari Santri 2019

Rabu, 08 November 2017

Kiai Said: Politik itu Panas, Tugas Agama Bikin Adem

Jakarta, Hari Santri 2019. Kepentingan sesaat dari sekelompok orang kerap membuat politik cenderung memanas karena segala cara dilakukan untuk meraih kekuasaan. Hal ini menjadi perhatian Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj terutama dalam perhelatan Pilkada DKI Jakarta yang selama ini cukup memicu gejolak hingga skala nasional.

Kiai Said: Politik itu Panas, Tugas Agama Bikin Adem (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: Politik itu Panas, Tugas Agama Bikin Adem (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: Politik itu Panas, Tugas Agama Bikin Adem

Menurutnya, panasnya percaturan politik yang berpotensi memecah belah bangsa memerlukan langkah positif dari berbagai pemimpin agama untuk bersatu karena yang bisa membuat adem di tengah panasnya politik adalah agama.

“Politik itu panas, tugas agama membuat adem,” ujar Kiai Said dalam Seruan Moral Ormas Keagaman terkait Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, Senin (17/4) di Gedung PBNU Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Said didampingi para pemimpin lintas agama menyerukan kepada masyarakat Jakarta untuk tetap tenang dan memilih sesuai hati nurani pada Rabu 19 April 2017 besok.

Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini juga menegaskan kepada para pasangan calon dan pendukungnya agar saling percaya dan menghormati apapun hasilnya nanti.

Hari Santri 2019

“Percayakan proses demokrasi kepada KPU, Bawaslu, dan DKPP. Apapun hasilnya nanti, semua harus menghormati dan siapapun yang dinyatakan menang, hal itu adalah kemenangan seluruh warga DKI Jakarta,” tegas Kiai Said.

Hari Santri 2019

Dalam pertemuan itu, para pemimpin lintas agama menelorkan 5 butir seruan moral untuk masyarakat Jakarta dan bangsa Indonesia secara umum. Berikut 5 butir seruan moral itu:

1. Tetap bersikap tenang, tidak takut, dan berpikir jernih dalam menyikapi keadaan. Kita wajib mendukung segala upaya pemerintah untuk mensukseskan Pilkada DKI Jakarta putaran ke-2 serta menjaga keamanan dan kedamaian demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. Mengingat pentingnya Pilkada DKI Jakarta putaran ke-2 untuk masa depan bangsa, maka kami mengajak kepada seluruh umat beragama yang mempunyai hak pilih, memberikan prioritas waktu untuk datang ke TPS-TPS dan menggunakan hak pilihnya. Setiap warga negara yang baik, wajib berpartisipasi dalam Pilkada ini sebagai suatu wujud pengorbanan yang nyata bagi masa depan bangsa.

3. Dalam menentukan pilihan sesuai dengan suara hati setiap umat beragama harus mengedepankan nilai-nilai Kebangsaan dan Kebhinekaan yang diharapkan memberi makna positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

4. Mari kita terus berdoa agar Tuhan selalu menjaga bangsa dan negara kita agar para pemimpinnya senantiasa diberi hidayah dan terang kebijaksanaan sehingga melalui proses ini kita bersama-sama dapat menuju Indonesia yang semakin adil, makmur dan beradab.

5. Mari kita semua menjaga dan menjamin masa tenang yang sedang berlangsung seraya menghindari berbagai bentuk intimidasi serta politisasi agama.

Hadir dalam pertemuan tersebut di antaranya, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, Ketua KWI Uskup Agung Jakarta MGR. I. Suharyo, Ketua Umum PGI Pdt. Henriette T. Hutabarat Lebang, Ketua Umum NSI Maha Pandita Utama Suhadi Sendjaja, Ketua Umum PHDI Wisnu Bawa Tenaya, Ketua Umum MATAKIN Uung Sendana, Sekjen LPOI Luthfi Attamimi, serta perwakilan dari Mabes Polri. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul Ulama Hari Santri 2019

Kamis, 19 Oktober 2017

NU Serang Ngaji Kitab Kuning Keliling

Serang, Hari Santri 2019. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Serang, Banten, mengagendakan pengajian kitab kuning keliling ke pengurus NU tingkat kecamatan (MWC), Ranting, dan pesantren-pesantren di Kota Serang.

NU Serang Ngaji Kitab Kuning Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Serang Ngaji Kitab Kuning Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Serang Ngaji Kitab Kuning Keliling

Menurut Ketua PCNU Kota Serang KH Matin Sarqowi, kegiatan tersebut adalah menimba dari semangat Syekh Nawawi Al-Bantani, seorang ulama besar, guru-guru kiai Nusantara yang juga pengarang mumpuni kitab kitab kuning.

Di samping itu, sambung kiai pengasuh Pesantren Al-Fathaniyah dengan 350 santri putra-putri tersebut, Kota Serang dengan luas  ilayah 266,74 km persegi, didukung sekitar 3000 pesantren salaf yang berkultur NU.

Hari Santri 2019

“Jadi, sangat mungkin dilakukan,” katanya, ketika dihubungi Hari Santri 2019 selepas dilantik menjadi Ketua PCNU Kota Serang periode 2012-2017, di Serang, Sabtu (22/12).

Hari Santri 2019

Kegiatan tersebut merupakan perwujudan dari NU sebagai organisi dakwah kepada masyarakat luas. “Serang itu sangat kental NU, tapi kultur.”

Dengan kegiatan tersebut, kiai berusia 41 tahuu tersebut berharap pesantren-pesantren yang berkultur NU, juga paham NU secara organisasi.

Selain itu, Kiai Matin akan melakukan konsolidasi internal di organisasi dengan memperbaiki administrasi dan menajemen; membuka jaringan untuk kader-kader NU Kota Serang. Juga akan membidik bidang ekonomi sebagai pemberdayaan warga Nahdliyin.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Santri, Nahdlatul Ulama, Pahlawan Hari Santri 2019

Rabu, 11 Oktober 2017

PCINU Jerman Kaji Konsep Politik Quraish Shihab

Berlin, Hari Santri 2019. Di Minggu kedua Ramadhan 1434 H, Sabtu, 20 Juli 2013, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman kembali menggelar acara pengkajian. Acara bertempat di kediaman Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Berlin Agus Rubiyanto.?

Topik yang diangkat kali ini adalah Konsep Politik dalam Perspektif Islam: Kajian Pemikiran Prof. Quraish Shihab. Pembicara pengkajian adalah Munirul Ikhwan Lc MA, Alumni Universitas Al-Azhar Kairo dan Universitas Leiden yang sekarang menjadi kandidat doktor Studi Islam di Freie Universität Berlin.?

PCINU Jerman Kaji Konsep Politik Quraish Shihab (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Jerman Kaji Konsep Politik Quraish Shihab (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Jerman Kaji Konsep Politik Quraish Shihab

Acara pengkajian selain dimaksudkan untuk mendiskusikan topik-topik keislaman dan keindonesiaan, juga untuk mempererat silaturrahim warga Indonesia di Berlin dan sekitarnya.?

Hari Santri 2019

Acara dimulai pada puku 20.10 waktu Berlin dan dihadiri oleh sekitar 40 orang warga Indonesia di Berlin, baik dari kalangan mahasiswa maupun unsur masyarakat lainnya. Acara ini juga terhubung dengan jaringan online (www.nujerman.de) yang tangani oleh Anggit Prashida selaku koordinator IT PCINU Jerman. Tujuannya agar bisa diikuti peserta dari luar Berlin, bahkan dari negara-negara lain di luar Jerman.?

Hari Santri 2019

Dalam pemaparannya, Munir menjelaskan bahwa Prof Quraish Shihab merupakan mufassir (ahli tafsir) Al-Qur’an terkenal asal Indonesia. Ia menulis banyak buku, salah satunya yang kemudian menjadi karya monumental adalah Tafsir al-Misbah. ? Quraish Shihab berpendapat bahwa Al-Qur’an hanya mengatur secara detil dan tegas urusan aqidah dan hal-hal yang tidak mengalami perubahan atau perkembangan. Sementara itu, dalam hal-hal yang mengalami perubahan dan perkembangan, Al-Qur’an hanya memberikan garis-garis besar sebagai petunjuk bagi keberlangsungan perubahan itu sendiri. Oleh karena itu, Qurasih Shihab menekankan perlunya memahami wahyu ilahi Al-Qur’an secara kontekstual dan tidak semata-mata terpukau pada makna tekstual agar pesan-pesan yang terkandung di dalamnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.?

Menurut Munir, Quraish Shihab mendiskusikan politik berangkat dari kata hukm dalam Al-Qur’an yang pada mulanya berarti “menghalangi atau melarang dalam rangka kebaikan.” Ayat seperti “inil hukmu illa lillahi” (hukum, putusan, itu hanya milik Allah) yang sering dijadikan dalil oleh kelompok Islam tertentu untuk menegaskan agenda mereka tentang kewajiban untuk mendirikan negara khilafah, menurut Quraish Shihab, tidak senada dengan konteks ayat tersebut berbicara. Penggunaan kata itu dalam surat al-An’am ayat 56-57, misalnya, berbicara dalam konteks ibadah. Sedangkan kata yang sama pada surat Yusuf ayat 40 tentang mengesakan Allah dan Surat Yusuf ayat 67 tentang kewajiban berusaha dan menyerahkan putusan hanya kepada Allah.?

Lebih lanjut menurut Munir, Quraish Shihab cenderung memasukkan urusan politik pada urusan shura (permufakatan). Khilafah adalah salah satu bentuk sistem pemerintahan yang pernah dikenal sejarah kaum Muslim, namun bukan satu-satunya sistem yang wajib diadopsi oleh umat Islam di generasi selanjutnya. Quraish Shihab menegaskan argumennya dengan tidak adanya petunjuk yang pasti dari teks agama, dan bukti historis proses suksesi yang berbeda pada 4 khalifah (Abu Bakar, Umar Ibn Khathab, Usman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi Thalib) setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Setelah pemaparan dilanjutkan dengan tanya-jawab, baik dengan peserta yang datang langsung ke acara pengkajian maupun peserta yang terhubung dengan jaringan online. Hamzah Ritchi, kandidat doktor bidang Sistem Informasi dari Humbolt Universität Berlin menanyakan bahwa ada kelompok Islam tertentu yang menganggap agama (Islam) itu mengatur setiap detail permasalahan. Munir menjawab bahwa menurut Quraish Shihab dalam masalah aqidah dan ibadah mahdhah (langsung) agama mengatur secara langsung, sedangkan untuk masalah mu’amalah yang bervariasi dan selalu mengalami perubahan, agama memberikan prinsip-prinsip umum dengan menghormati praktek dan tradisi dalam masyarakat, selama hal-hal tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip umum agama.

Acara Pengkajian ditutup pada pukul 21.21 waktu Berlin dan dilanjutkan dengan buka-puasa bersama, sholat Maghrib dan diskusi informal seputar pengalaman riset, publikasi dan pengalaman sehari-hari hidup jauh dari tanah air.?

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Quote, Nahdlatul Ulama Hari Santri 2019

Kamis, 05 Oktober 2017

Gus Dur Ajarkan Kesederhanaan Sejak Dini

Jakarta, Hari Santri 2019. Membicarakan sosok Gus Dur memang selalu menarik. Banyak orang yang terkesan dengan Presiden Republik Indonesia keempat itu. Ada yang menyebut Gus Dur sebagai guru bangsa, tokoh reformasi, pembela kaum minoritas, dan mungkin masih banyak lagi julukan bagi Gus Dur, tergantung kesan masing-masing orang.

Gus Dur Ajarkan Kesederhanaan Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Ajarkan Kesederhanaan Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Ajarkan Kesederhanaan Sejak Dini

Namun seperti apakah kesan keluarga, terutama putri-putrinya?

“Jarang ketemu,” tutur Alissa Wahid, putri pertama Gus Dur, mengawali perbincangan Sabtu, (19/12/2015) saat mengisi acara bincang tentang Gus Dur di Radio NU Jakarta.

Hari Santri 2019

Alissa mengatakan setiap anak punya banyak memori dengan orangtuanya. “Kalau untuk saya, karena saya lahir di Jombang, Gus Dur belum mengalami problem yang parah dengan penglihatannya, jadi saya mengalami saat Gus Dur naik skuter dari pondok pesantren di Denayar saat Gus Dur mengajar ke Tebuireng.”?

Hari Santri 2019

Alissa yang sengaja diundang untuk wawancara dengan Radio NU, menceritakan banyak hal lagi tentang sosok ayahnya. Alisa lahir tidak jauh dari saat Gus Dur kembali dari Timur tengah. Saat itu mereka tinggal di Jombang. Gus Dur sudah dikenal sebagai salah satu aktivis, yang diundang ke mana-mana dan banyak bepergian. “Gus Dur waktu itu hidup dari menulis dan mengisi seminar, jadi income nggak pasti. Kadang ada kadang enggak,” kata Alisa.

Dalam situasi seperti itu, Sinta Nuriyah Wahid, istri Gus Dur, membantu ekonomi keluarga dengan berjualan kacang rebus dan es mambo.

Kesederhanaan kepada putri-putrinya ditanamkan sejak dini oleh Gus Dur. “Waktu kecil, kami hidup di lingkungan pesantren yang enggak terlalu banyak godaan belanja,” kata Alissa yang murah senyum itu.

Keadaan agak berubah. Karena aktivitas Gus Dur lebih banyak di Jakarta, Gus Dur pun memboyong keluarganya ke Jakarta.

“Waktu itu saya berumur delapan tahun, penglihatan Gus Dur mulai bermasalah.”

Setelah di Jakarta, keluarga Gus Dur mulai dihadapkan pada dunia konsumerisme. Alissa mendapatkan uang saku saat SMP sebesar empat puluh ribu per bulan. Tetapi biasanya tanggal 20 sudah dipinjam oleh Gus Dur.

“Kamu masih punya uang nggak?” kata Alissa menirukan Gus Dur.

“Masih, Pak.”

“Masih ada berapa?”?

“Lima belas ribu.”

“Sini tak utang dulu.”

Maka sisa uang saku Alissa dipinjam lagi oleh Gus Dur.

Akan tetapi hal-hal semacam itu sangat dimengerti oleh Alissa dan putri-putri Gus Dur yang lain. Pengertian semacam itu justru tertanam sangat kuat. Karena Gus Dur tidak pernah menceramahi harus begini harus begitu, jangan begini jangan begitu. Gus Dur mengajarkan itu melalui keteldanan dalam kehidupan sehari-hari. Itu sebabnya keluarga Gus Dur tidak bersifat konsumtif, karena membiasakan merasa tidak terlalu membutuhkan. (bersambung)

(Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News, Nahdlatul Ulama Hari Santri 2019

Selasa, 26 September 2017

Cerita Serda Rizki Adam Saat Dirinya Nyantri

Jakarta, Hari Santri 2019. Banyak cerita menarik dalam kegiatan Pelayaran Santri Bela Negara, mulai dari tingkatan humor sampai serius. Pelayaran yang memakan waktu satu minggu, 20-26 November 2015 dari Jakarta Surabaya dan Surabaya Jakarta meninggalkan banyak kesan dan pesan. Sebagai santri, mencintai tanah air adalah keharusan, begitu pula dengan membelanya.

Cerita Serda Rizki Adam Saat Dirinya Nyantri (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Serda Rizki Adam Saat Dirinya Nyantri (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Serda Rizki Adam Saat Dirinya Nyantri

Salah satu cerita adalah tentang anak buah kapal (ABK) KRI Banda Aceh. Namanya, Serda Rizki Adam, ia bercerita bahwa melihat anak-anak bersarung mengingatkannya pada masa lalunya. Di pondok pesantren Raudlatul Muta’alim, Bangil Pasuruan Jawa Timur, Adam Belajar kitab Aqidatul Awam, Ta’limul Muta’alim, Arba’in Nawawi, Mushtholah Al-Hadits dan kitab dasar lainnya. “Tahun lalu sebelum masuk tentara, saya seperti mereka, santri,” ungkapnya

Sampai saat ini, Adam mengatakan masih sering membuka kitab-kitab yang dipelajari dari kiai. Belajar kitab-kitab agama mampu menentramkan hati. Lebih lanjut, mengatakan bahwa dirinya juga sering melakukan puasa senin-kamis. Bahkan pada saat pendaftaran tentara pun, ia melakukan puasa.

Hari Santri 2019

TNI kelahiran Bangil ini mengatakan di rumah Pasuruan banyak ijazah lomba-lomba baca al-Quran yang didapat saat mondok. Kesemua pengetahuan ilmu agama berkat dorongan orang tua menaruh belajar di pondok pesantren. “Keberuntungan ini tidak dimiliki oleh semua TNI, untuk itu tiap kali cuti saya sering berkunjung pada kiai pesantren,” ujarnya.

Hari Santri 2019

Lebih lanjut, Adam berpesan kepada para santri untuk tetap belajar agama serta menambah jiwa nasionalisme dalam membela negara. “Selalu tawadhu’ dan ingat kepada Allah serta Nabi Muhammad dimanapun berada,” imbuhnya.

Di Komando Lintas laut Militer (Kolinlamil) Tanjung Priuk, Jakarta Utara, serda Rizki Adam adalah anggota grup rebana Kolinlamil. Saat kegiatan pelayaran santri bela negara, Serda Adam diberi kesempatan memimpin shalawat bersama para santri. (Faridur Rohman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul Ulama, Pondok Pesantren Hari Santri 2019

Sabtu, 09 September 2017

Kapan Nikah?

Menjelang mudik Lebaran, Dulkirom, seorang anggota Banser, dak-dik-duk menghadapi pertanyaan “kapan nikah?” dari segenap pintu rumah kerabat yang bakal ia kunjungi. Baginya, usia 34 tahun belum ijab-qabul adalah aib, bahkan bid’ah bagi sekelompok orang.

Benar. Serangan yang ia khawatirkan pun tiba.

Kapan Nikah? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapan Nikah? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapan Nikah?

“Kapan nikah, Nak?” Pertanyaan meluncur dari Pak Leknya (paman).

“Wah, KUA Lebaran gini masih tutup, Pak Lek,” jawabnya ngeles.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Pertanyaan serupa muncul dari anggota keluarga lain dan sahabat-sahabatnya dan dijawab dengan alasan yang sama. Terus berulang dari pintu ke pintu hingga sembilan kali.

“Terus kalau KUA sudah buka, tanggal berapa mau kawin?” Tanya salah satu bibinya.

Jawaban tak mungkin sama. Sambil melirik saudara sepupunya, si Banser sok berkonsultasi, “Enaknya, punya rumah dulu atau mobil dulu ya sebelum nikah?”

“Kalau menurutku, ya mesti punya calon dulu,” balas rekannya sambil ngelonyor. (Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, Nahdlatul Ulama, News Hari Santri 2019

Senin, 04 September 2017

PBNU Luncurkan Badan Halal

Jakarta, Hari Santri 2019. PBNU bersama PT Pegadaian dan PT Sucofindo meluncurkan Badan Halal Nahdlatul Ulama (BHNU) di gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (6/2). Badan ini berwenang memberikan jaminan halal untuk berbagai produk yang beredar.

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dilakukan Ketua PBNU Prof H Maksum Mahfudz, Dirut Pegadaian Suwhono, dan Dirut Sucofindo Arief Safari. Turut hadir Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekjen PBNU H Marsyudi Syuhud, dan Bendum PBNU H Bina Suhendra.

PBNU Luncurkan Badan Halal (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Luncurkan Badan Halal (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Luncurkan Badan Halal

Kang Said, sapaan akrab KH Said Aqil Siroj, mengatakan, pendirian BHNU merupakan cita-cita lama yang tumbuh dari aspirasi para pelaku usaha dan konsumen di kalangan Nahdliyin.

Hari Santri 2019

”Alhamdulillah, begitu kita tawarkan ke Rais Aam (PBNU) KH Sahal Mahfudh yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), beliau setuju,” imbuhnya.

Hari Santri 2019

Menurut Kang Said, BHNU didirikan untuk melindungi kepentingan konsumen dan pelaku usaha di Indonesia, terutama dari kalangan menengah ke bawah. Diakui, sertifikasi halal selama ini masih tergolong mahal sehingga tidak menguntungkan pengusaha kecil dalam persaingan pasar.

Namun, lanjutnya, BHNU sama sekali tak berniat menyaingi lembaga sertifikasi halal yang sudah ada, seperti MUI. PBNU hanya ingin memberi pelayanan dan kenyamanan yang lebih mudah demi kesejahteraan masyarakat banyak.

Arief mengaku bangga dengan kepercayaan yang diberikan PBNU pada Sucofndo. Pihaknya siap melakukan uji laboratorium terhadap sejumlah produk, termasuk inspeksi ke perusahaan untuk melihat langsung proses produksi yang dijalankan.

Sucofindo, demikian Arief, akan melakukan pola subsidi silang. Sebagian biaya sertifikasi halal dari usaha besar atau menengah akan digunakan untuk membantu sebagian biaya sertifikasi halal usaha kecil dan rumah tangga.

”Sedangkan sebagian lagi biaya sertifikasi halal usaha kecil dan rumah tangga diharapkan dapat dibantu dari dana CSR BUMN lainnya melalui PKBL BUMN,” tambahnya.

Suwhono mengungkapkan, Pegadaian merasa bersyukur dapat berkontribusi dalam BHNU. Sebab, pada dasarnya perusahaan yang pimpin didirikan untuk berpihak kepada masyarakat menengah ke bawah.

Prosesi peluncuran ini juga disertai penyerahan secara simbolik sertifikat halal oleh BHNU kepada 100 pengusaha mikro. Penerimaan sertifikat diwakili Agus Susanto dari Peternakan Ciangsana, Cibubur, Bogor.

BHNU adalah unit kerja di bawah PBNU yang berdiri sebagai implementasi atas rekomendasi Musyawarah Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2012 di Pondok Pesantren Kempek Cirebon. Melalui SK No. 220/A.II.04/12/2012, PBNU mengesahan badan sertifikasi halal ini.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul Ulama, Ulama, Pemurnian Aqidah Hari Santri 2019

Kamis, 03 Agustus 2017

Bupati dan Wabup Jombang Kompak Minta Doa Kiai

Jombang, Hari Santri 2019. Menghadapi tahun baru 2015, Bupati Nyono Suharli dan Wakil Bupati Hj Mundjidah Wahab kompak mendatangi sejumlah kiai sepuh. Hal ini dilakukan untuk minta doa agar pemerintahan kota santri berjalan lebih baik dari tahun sebelumnya.

Bupati dan Wabup Jombang Kompak Minta Doa Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati dan Wabup Jombang Kompak Minta Doa Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati dan Wabup Jombang Kompak Minta Doa Kiai

"Silaturahim ini juga untuk menyongsong tahun 2015 yang optimis, serta agar mendapat keberkahan dan kelancaran dalam menjalankan roda pemerintahan di kota santri Jombang ini. Doa dan dukungan ulama sepuh modal untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat," tutur Bupati Nyono Suharli usai bertemu Ketua MUI, KH Cholil Dahlan Rejoso Peterongan Jombang, Jumat (2/1).

Dalam kunjungannya, Bupati Nyono tidak sendiri, bersama wakil bupati Hj Mundjidah Wahab serta beberapa pejabat, bupati mendatangi satu persatu rumah para ulama kharismatik di Jombang ini. "Sudah selayaknya kami yang datang ke rumah beliau beliau untuk meminta doa dan dukungan dalam mengemban amanat rakyat selama 5 tahun ke depan," imbuhnya.

Hari Santri 2019

Ulama yang pertama didatangi adalah kediaman pengasuh Ponpes Sunan Ampel, KH Taufiqurrahman. Selanjutnya  orang nomor satu di Jombang ini melanjutkan ke kunjungannya ke rumah KH Djamaludin Ahmad di Desa Sambong Dukuh. Pengasuh Pesantren Muhibbin yang juga dikenal sebagai ulama Thoriqot Syadziliyah ini memiliki santri ribuan dan sangat kharismatik.

Usai dari kediaman KH DjamaludinAhmad, selanjutnya rombongan menuju ke kediaman KH Dimyati Romli di Ponpes Rejoso Peterongan. KH Dimyati merupakan Mursyid Thoriqot Qodiriyah wan Naqsyabandiyah dengan jumlah pengikut puluhan ribu.

Hari Santri 2019

Silaturahim berakhir di Kediaman KH Cholil Dahlan yang menjabat sebagai Ketua MUI Kabupaten Jombang yang juga di komplek Ponpes Rejoso Peterongan. "Semoga pemerintahan Jombang yang dipimpin bupati Nyono dan bu Mundjidah berjalan lancar, dan bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan baik," tutur KH Cholil mendoakan. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Sholawat, Nahdlatul Ulama Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock