Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII

(Surat Terbuka untuk Ketua Umum PB PMII 2005-2008)

Oleh: Kholilul Rohman Ahmad*


Muktamar ke-2 Partai Kebangkitan Bangsa di Semarang bulan lalu menjadi salah satu ruang strategis untuk mengkaji dinamika kontemporer gerakan mahasiswa di bawah payung Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dalam even nasional itu terjadi interaksi warga PMII antar generasi. Dunia mahasiswa yang penuh dengan idealisme ternyata tidak kemudian menanggalkan minat dalam hiruk pikuk politik praktis. Hal ini mungkin lantaran beberapa alumni PMII yang sudah menjadi politisi di Senayan sebagai wakil rakyat dari berbagai partai politik ikut nimbrung dalam pesona nostalgis itu. Tak pelak, di tengah perhelatan itu PMII memanfaatkan menggelar acara temu warga dan alumni.

Tak ayal dalam forum informal itu muncul pertanyaan tentang siapa yang dinilai kuat menjadi ketua Umum Pengurus Besar PMII menggantikan sahabat A Malik Haramain yang akan habis jabatan. “Siapa yang kira-kira kuat menggantikan Malik,” tanya salah seorang warga PMII. Tiba-tiba warga lain spontan nyelethuk: “Tergantung siapa nanti yang jadi ketua PKB.” Entah jawaban spontan itu guyonan  atau serius. Penulis husnudzon saja dengan jawaban itu dan menilainya sebagai guyonan  tanpa tendensi apa-apa. Namun penulis menangkap di balik jawaban itu tersimpan kenyataan politik bahwa di tubuh PMII telah ada yang beberapa warganya yang terkontaminasi “virus” politik praktis. Atau jawaban itu dapat ditangkap sebagai penanda bahwa realitas politik praktis telah merambah di dunia pergerakan mahasiswa.

Celethukan itu dapat diartikan dengan dua analisa. Pertama, memang sebagai guyonan. Dalam arti hal itu tidak perlu dianggap serius, terlebih ia muncul di tengah gelak tawa dan ketimpangan nasib beberapa alumni yang berhasil menjadi politisi dan tidak. Kedua, bisa jadi suara itu memang representrasi atas kenyataan yang tengah terjadi di tubuh PMII(?). Jika yang pertama menjadi kenyataan, tentu tak jadi soal. Namun jika yang kedua yang tengah menjangkiti PMII, harus dimaknai sebagai refleksi bahwa selama ini gerakan intelektualitas PMII sedang mengalami krisis.

Oleh sebab itu, jika dalam pasca kongres ke-XV ini tidak ada upaya merevitalisasi PMII kepada khittah-nya sebagai organ pergerakan mahasiswa bersama rakyat, tidak ada upaya serius mengembalikan ruh PMII sebagai pendamping rakyat, maka tamatlah riwayat PMII sebagai gerbong gerakan mahasiswa yang gagasannya selama ini dinilai senantiasa konsisten di jalur politik non partisan alias selalu berpihak kepada nasib rakyat.

Harus diakui dewasa ini, setidaknya sejak reformasi bergulir tahun 1998, kiprah PMII sebagai organ mahasiswa sejati banyak dipertanyakan, baik oleh sesama aktivis mahasiswa maupun di kalangan internal PMII sendiri. Pasalnya kecenderungan yang cukup mewabah bahwa, misalnya, seorang kader untuk bisa menjadi “orang” harus mempunyai patron yang kuat di atasnya, baik politisi senior maupun pengusaha. Seolah untuk sukses meniti karir pasca mahasiswa harus melewati jalur politik patronase seperti jaman Orde Baru. Padahal sesungguhnya dunia mahasiswa harus meninggalkan sistem patronase seperti itu karena yang lebih kuat untuk dijadikan patron adalah rakyat.

Namun kenyataan ini tak bisa disalahkan pada salah satu pihak. Sebab kenyataan politik yang menggairahkan bagi siapapun untuk cepat meniti karir juga menjangkiti organisasi mahasiswa pada umumnya. Meskipun demikian bukan berarti di dunia pergerakan mahasiswa semuanya berperilaku seperti itu.

Yogyakarta sebagai sentral pergerakan PMII sepuluh tahun silam, dalam lima tahun belakangan telah kehilangan ruhnya. Kader-kader yang sering mewarnai media massa dengan artikel-artikel kritisnya, misalnya, telah banyak mengalami kemunduran dari segi kuantitas dan kualitas. Bahkan kota-kota lain lebih sibuk bagaimana warga PMII menjadi patron alumni atau “orang kuat lain” yang sedang menjadi pejabat eksekutif maupun legislatif. Padahal menjadi kewajiban bagi PMII untuk tetap konsisten memposisikan dirinya sebagai insan kreatif di tengDari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Halaqoh, Kajian Hari Santri 2019

Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII

Selasa, 06 Februari 2018

Penghapal Al-Quran Se-Tawangharjo Gelar Semaan

Grobogan, Hari Santri 2019. Sejumlah komunitas hafidz hafidzah Nahdlatul ‘Ulama yang tegabung dalam Ikatan Persaudaraan Qori’ Qori’ah Hafidz Hafidzah (IPQOH) se-kecamatan Tawangharjo kabupaten Grobogan, Jawa Tengah melantunkan ayat demi ayat di luar kepala, Ahad (1/12).

Penghapal Al-Quran Se-Tawangharjo Gelar Semaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Penghapal Al-Quran Se-Tawangharjo Gelar Semaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Penghapal Al-Quran Se-Tawangharjo Gelar Semaan

Partisipasi masyarakat sangat tinggi. Mereka ikut menyimak ayat demi ayat al-quran yang dibacakan oleh para hafidz hafidzah. Semaan bertempat di desa Plumpungan kecamatan Tawangharjo.

“Tiap 3  bulan sekali (triwulan) kegiatan sima’atul qur’an seperti ini kita adakan. Dan alhamdulillah sudah berjalan selama 3 tahun” terang Ketua IPQOH Kiai Muhsan.

Hari Santri 2019

Salah seorang anggota IPQOH ustadz Solihin mengatakan, walaupun rumah jauh, saya berusaha untuk meluangkan waktu untuk bisa hadir dalam agenda acara seperti ini. Selain sebagai media syiar ke desa-desa, saya bisa silaturrahim dengan para hafidz yang lain dan juga masyarakat sekitar.

Supaya tidak terjadi ikhtilath (campu baur) antara lelaki dan wanita dalam satu majlis maka sebisa mungkin dipisahkan agar tidak terjadi fitnah Sehingga Jamaah Lelaki bertempat di masjid Darussalam desa Plumpungan. Sedangkan wanita menggelar semaan di kediaman Nyai Faila Sifa Sholihah, samping masjid Darussalam.

Hari Santri 2019

Di pengujung acara, ditutup tahlil yang dipimpin oleh Kiai Muhsan yang kemudian dilanjutkan do’a oleh Kiai Rifa’i Zuhdi. (Asnawi L/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Internasional, Kajian Hari Santri 2019

Jumat, 02 Februari 2018

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU

Sidoarjo, Hari Santri 2019,?

Sebanyak 35 kader penggerak Nahdatul Ulama yang berasal dari Majlis Wakil Cabang (MWCNU), Lembaga dan Banom mengikuti Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) yang diselenggarakan PCNU Sidoarjo . Kegiatan dilaksanakan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hamdaniyah, Siwalan Panji sejak Jumat 28 Februari hingga Minggu 2 Maret hari ini.?

Menurut Panitia Pelaksana, Aris Karomay, acara yang dihadiri oleh Wakil Ketua PBNU KH. Dr. As’ad Ali itu bertujuan membekali kader NU dengan berbagai wawasan ke-Aswajaan dan ideologi gerakan.?

“Diharapkan setelah mengikuti pendidikan tersebut peserta punya bekal untuk menggerakkan organisasi di lingkungannya sesuai dengan Khittoh NU,” ujar Gus Aris.

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU

Sebelumnya, ? panitia melakukan seleksi terhadap 49 peserta yang terdaftar melalui Test Screening secara tertulis dan interview. Alasan panitia melakukan seleksi tersebut karena banyak peserta yang berminat mengikuti pelatihan, disamping itu untuk mengetahui sejauh mana kemampuan peserta PKPNU mengetahui dan memahami tentang organisasi NU.

Dikatakan, panitia sengaja memilih tempat di Ponpes Panji (sebutan lain Ponpes Al-Hamdaniyah) karena mempunyai nilai sejarah besar bagi NU sebagai tempat Rois Akbar NU KH. Hasyim Asya’ri menimba ilmu agama. Bahkan di tempat tersebut masih terdapat kamar Mbah Hasyim yang masih dirawat oleh para santri secara turun temurun.

Hari Santri 2019

”Mudah-mudahan dari tempat ini (ponpes red;), akan melahirkan kader-kader penggerak NU yang mempunyai semangat seperti Mbah Hasyim," tambah Gus Aris.

Sementara itu, Wakil Ketua PBNU, Dr. Asad Ali berharap kepada para kader NU untuk serius belajar dan menambah pengetahuan. "Kader NU diharapkan bisa menguasai semua bidang Ilmu pengetahuan dan Teknologi, agar cita-cita besar NU dapat tercapai," jelasnya. [Aw Avendi Anwar/Mahbib]

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Kajian, AlaSantri Hari Santri 2019

Jumat, 26 Januari 2018

Sikap PBNU soal Kebijakan Penenggelaman Kapal oleh Menteri Susi

Jakarta, Hari Santri 2019. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Robikin Emhas mengatakan, tindakan penenggelaman kapal pencuri ikan yang dilakukan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Susi Pudjiastusi harus dinilai sebagai upaya pemerintah untuk menjaga kedaulatan Indonesia di bidang kelautan dan perikanan. 

Menurutnya, tindakan Menteri Susi tidak bisa dianggap sebagai bentuk pelanggaran hukum karena fungsi pemerintah di antaranya menjaga kedaulatan negara, salah satunya di bidang kelautan. 

Sikap PBNU soal Kebijakan Penenggelaman Kapal oleh Menteri Susi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sikap PBNU soal Kebijakan Penenggelaman Kapal oleh Menteri Susi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sikap PBNU soal Kebijakan Penenggelaman Kapal oleh Menteri Susi

"Dari data yang ada, pencurian kekayaan laut kita itu luar biasa tinggi," katanya di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (10/1). 

Oleh karena itu, kata Robikin, jika tindakan pembakaran dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan peringatan dan efek jera terhadap pihak asing yang melakukan pencurian ikan di laut Indonesia, maka hal tersebut (penenggelaman kapal, red) bisa dimaklumi.

Namun demikian, katanya melanjutkan, jenis hukuman penenggelaman kapal pencuri ikan di laut Indonesia ini cocok hanya untuk situasi tertentu.

Hari Santri 2019

Ketika efek berupa rasa takut itu sudah dicapai, kemudian terjadi pengurangan pencurian ikan secara signifikan, maka lebih baik gunakan cara-cara lain yang lebih bagus. 

"Saya kira bagus kalau ada gagasan dan kemudian kapal-kapal itu di proses saja dan kemudian kapal itu bisa disita dan kemudian dibagikan ke kelompok-kelompok nelayan," ujar alumnus Pesantren Miftahul Huda Gading, Malang ini. 

Menurutnya, pemerintah tinggal menerapkan hukum berupa perampasan terhadap kapal yang melanggar melalui mekanisme yang tersedia. "Dan pada akhirnya kapal dibagikan kepada nelayan. Saya kira itu jauh lebih bermanfaat," jelasnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Bahtsul Masail, Kajian Hari Santri 2019

Kamis, 25 Januari 2018

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran

Jember, Hari Santri 2019. Konflik berujung bentrokan berdarah di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Jember  yang mengakibatkan satu orang meninggal, mendapat perhatian dari Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH. Mutawakkil Alallah. 

Pengasuh Pesantren Genggong, Kraksaan, Probolingo ini langsung mengunjungi rumah duka di Puger Kulon, Kamis dini hari (12/9). Diantar Sekretaris PCNU Jember, KH. Misbahussalam, Kiai  Mutawakkil, menyatakan ikut berbela sungkawa. Selain itu ia sempat menggelar tahlilan di rumah duka. 

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran

Tidak banyak keterangan yang keluar dari lisan sang Kiai Mutawakkil, kecuali hanya himbauan agar semua pihak tenang dan tidak terpancing provokasi serta tidak boleh dendam. “Tidak perlu dendam. Tapi ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak, termasuk kepolisian,” tukasnya kepada sejumlah wartawan di Puger. 

Di tempat yang sama, KH. Misbahussalam  menyatakan bahwa PCNU Jember akan segera mengadakan rapat untuk mencari jalan keluar dari perseteruan yang telah berlangsung cukup lama itu. 

Hari Santri 2019

Menurutnya, bentrokan itu bisa dihindari jika masing-masing pihak bisa menahan diri dan tidak terprovokasi satu sama lain. “Kuncinya saling menghormati satu sama lain. Masak dengan sesama Islam tidak rukun. Wong dengan umat nonmuslim kita damai,” ujarnya. 

Kiai Misbah menambahkan, aroma bentrokan itu sebenarnya sudah tercium beberapa hari sebelum kejadian. Sebab, salah satu pihak, mengajukan izin kepada aparat untuk menggelar karnaval. Namun aparat tidak memberikan izin karena khawatir ditolak atau mendapat perlawanan dari kelompok yang kontra syi’ah. 

Hari Santri 2019

“Tapi nyatanya mereka ngotot karnaval, bahkan barikade polisi diterobos. Akhirnya terjadilah peristiwa itu,” tukasnya. 

Sementara itu, MUI Jember masih terus mengadakan pendalaman terhadap kasus itu. Menurut Wakil Ketua MUI Jember,  KH Abdullah Syamsul Arifin,  pihaknya masih mencari tahu secara detil penyebab timbulnya kerusuhan berdarah itu. “Apakah ini murni konflik internal (di Puger), ataukah memang jangan-jangan ada intervensi dan provokasi dari luar," katanya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Sunnah, Kajian Hari Santri 2019

Sabtu, 20 Januari 2018

Urgen, Amaliah NU Dibukukan dengan Argumen Ilmiah

Surabaya,Hari Santri 2019. Sebagai organisasi sosial kegamaan terbesar di tanah air bahkan di dunia, Nahdlatul Ulama harus meningkatkan kewaspadaan dengan banyaknya aliran yang bertentangan dengan manhaj NU. Tak hanya itu, mereka gencar memojokkan berbagai amaliah NU.

Menurut Rais PCNU Jember, Jawa Timur KH Muhyyiddin Abdusshomad kalangan tersebut sudah berani mengkafirkan bahkan membunuh mereka yang dianggap sesat. “Sekarang mereka berada di sekeliling kita," katanya ketika tampil sebagai pemateri pada acara Daurah Aswaja Nasional yang diselenggarakan PW Aswaja NU Center Jatim, Kamis (25/12).

Urgen, Amaliah NU Dibukukan dengan Argumen Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Urgen, Amaliah NU Dibukukan dengan Argumen Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Urgen, Amaliah NU Dibukukan dengan Argumen Ilmiah

Melihat kenyataan ini, kiai yang juga sebagai pengasuh Pondok Pesantren Nuris Jember ini mengingatkan peserta untuk tidak mengangap remeh persoalan ini. "Kita harus memikirkan bagaimana melawan dengan argumentasi dan memahami NU secara mendalam," kata Kiai Muhyidin. Bukan hanya memahami NU dalam tataran luar atau kulit saja, namun juga esensi dari ajaran dan amaliah yang selama ini dijalankan secara teguh kalangan NU.

Hari Santri 2019

"Lawan kita ini sudah pakai rudal, sedangkan kita masih memakai ketapel, bila kita tidak segera berkemas, kita akan sangat mudah dihancurkan," tandas Kiai Muhyiddin.

Dalam pandangannya, kelemahan NU sekarang ada di bidang kepenulisan. Karena ajaran-ajaran NU dan berikut amaliah yang telah mentradisi hanya dijalankan melalui warisan keturunan dan budaya setempat, dan sangat jarang yang menuliskannya dalam sebuah naskah akademis. Padahal menuliskan landasan hukum atas amalan yang telah mendarah dan mendaging tersebut sangat mendesak untuk dilakukan.

Hari Santri 2019

Karena dengan menuliskan argumentasi amaliyah tersebut sangat penting untuk menangkal pandangan kalangan yang menkafirkan. "Dengan buku pegangan tersebut nantinya akan dengan mudah mematahkan berbagai tuduhan kalangan yang membidahkan atau mengkafirkan amaliyah warga NU," katanya.

Sebagai ilustrasi, Kiai Muhyiddin mempersilahkan peserta untuk melakukan pengecekan sejumlah buku Wahabi yang beredar di sejumlah toko buku kenamaan. "Coba kita lihat misalnya buku-buku yang dibuat oleh kalangan Wahabi, sekarang banyak terpajang di toko-toko buku bertaraf  nasional seperti Togamas, Gramedia dan toko-toko lain," katanya dengan mimik serius. Baginya, hal ini sebagai bukti bahwa kalangan NU telah ketinggalan start, lanjutnya.

Lebih lanjut, Kiai Muhyiddin mengingatkan kepada seluruh peserta untuk menjadi pioner  di daerahnya masing-masing baik dengan menulis maupun dakwah bil lisan dan bila mampu mendirikan percetakan yang khusus mencetak buku-buku seputar NU.

Jumlah penerbit buku di NU, lanjut dia, sangat jarang bila dibandingkan dengan kelompok yang berseberangan. NU, masih mencoba merintis penerbitan. “Kalau sudah besar sering konflik dan bubar," katanya yang disambut tawa peserta.

Untuk itu, Kiai Muhyiddin berpesan kepada seluruh kalangan untuk bangkit mengawal Aswaja NU. Kebangkitan ini harus diawali dari generasi muda yang notabene sebagai kader penerus. "Sehingga ke depan Aswaja NU tetap berdiri tegak di bumi Nusantara," ungkapnya.

Di akhir sesi penyampaian materi, Kiai Muhyiddin membagikan beberapa tips yang harus dijalankan untuk membentengi NU yang di antaranya;  pertama, memperluas dan memperdalam pengetahuan tentang Aswaja serta meningkatkan penghayatan dan pengamalannya juga mensosialisasikannya kepada umat. Kedua, Meningkatkan keluhuran citra ajaran Ahlussunnah wal Jamaah dengan meningkatkan mutu pelaksanaan.

Ketiga, membuktikan keunggulan ajaran Aswaja dengan memperbanyak membaca dan mengkaji Kutub al-Turats. Bermusyawarah serta berdiskusi untuk menjawab persoalan yang muncul, kemudian menjadikan ajaran Aswaja sebagai solusi. Dan terakhir, perlu adanya pembagian tugas yang jelas di antara kader NU yang bertugas di wilayah politik praktis dan yang menjadi pengayom umat. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Kajian Hari Santri 2019

Rabu, 17 Januari 2018

Pengurus 14 Ranting NU di Kecamatan Dringu Dilantik Berjamaah

Probolinggo, Hari Santri 2019. Sebanyak 56 orang pengurus dari 14 Ranting NU se-Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo dilantik bersamaan, Ahad (29/1). Pelantikan ini dipimpin oleh Wakil Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo H Taufiqus Sholeh.

Pelantikan yang dilaksanakan di MTs Darul Ulum Desa Ngepoh Kecamatan Dringu ini dihadiri oleh Rais PCNU Kabupaten Probolinggo KH Jamaluddin al Hariri dan jajaran pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo, pengurus MWCNU Dringu baik jajaran lembaga maupun badan otonom (banom), Forkopimka Dringu serta tokoh agama dan tokoh masyarakat se-Kecamatan Dringu.

Pengurus 14 Ranting NU di Kecamatan Dringu Dilantik Berjamaah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus 14 Ranting NU di Kecamatan Dringu Dilantik Berjamaah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus 14 Ranting NU di Kecamatan Dringu Dilantik Berjamaah

Dalam kesempatan tersebut H Taufiqus Sholeh memberikan motivasi kepada segenap pengurus Ranting NU yang baru saja dilantik. Pengurus NU diminta agar bisa menumbuhkan kembali kecintaan pada Negara dan menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Sebagai warga NU, pengurus NU harus bisa menumbuhkan rasa cintanya kepada NU. Sebab jika sudah ada rasa cinta, maka pengurus akan mampu menjalankan roda organisasi dengan baik,” katanya.

Sementara Rais PCNU Kabupaten Probolinggo KH Jamaluddin al Hariri menyampaikan bahwa perjuangan harus selalu dilandasi dengan keikhlasan sebagaimana hal yang dilakukan oleh Rais Akbar PBNU Hadratus Syekh KH Hasyim Ashari.

Hari Santri 2019

“Contohnya dengan mengamalkan nilai-nilai dari Pancasila sebagai mana keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-27 di Situbondo tahun 1984 yaitu kembali ke khittah NU,” ungkapnya.

Hari Santri 2019

Usai dilantik, para pengurus Ranting NU se-MWCNU Kecamatan Dringu tersebut akan segera menjalankan program kerjanya masing-masing demi memberikan manfaat kepada masyarakat. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian, Lomba Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock