Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Ajaib, Pria Berusia 101 Tahun Ditemukan Selamat Seminggu pasca Gempa

Kathmandu, Hari Santri 2019. Jika ajal belum waktunya datang. Usia senja dan tertimbun dalam reruntuhan gempa selama seminggu pun membuat Funchu Tamang, seorang kakek berusia 101 tahun tetap selamat dan hanya cedera ringan. Ia  berhasil ditarik hidup-hidup dari reruntuhan rumah yang menimbunnya, seminggu setelah gempa dahsyat menerjang Nepal.

Ajaib, Pria Berusia 101 Tahun Ditemukan Selamat Seminggu pasca Gempa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajaib, Pria Berusia 101 Tahun Ditemukan Selamat Seminggu pasca Gempa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajaib, Pria Berusia 101 Tahun Ditemukan Selamat Seminggu pasca Gempa

Funchu Tamang diselamatkan Sabtu lalu dan kini sudah berada di sebuah rumah sakit di Nuwakot, barat laut Kathmandu.  Ajaibnya, dia hanya cedera ringan, kata perwira polisi Arun Kumar Singh.

"Dia telah dibawa ke rumah sakit distrik dengan sebuah helikopter. Kondisinya stabil. Dia cedera pada pergelangan kaki kirinya. Keluarganya telah bersama dia," kata Singh seperti dilaporkan AFP.

Hari Santri 2019

Beberapa orang juga berhasil ditemukan hidup-hidup, padahal beberapa hari ditimbun reruntuhan.

Hari Santri 2019

Di antara yang ditemukan hidup-hidup itu adalah tiga wanita yang dikeluarkan dari timbunan puing-puing bagunan di Sundupalchowk yang adalah salah satu daerah paling parah terkena gempa bumi.

Salah satu wanita itu terkubur oleh tanah longsor, sedangkan dua lainnya terjebak dalam himpitan bangunan yang runtuh.

Jumlah korban tewas dalam Gempa Nepal ini sudah mencapai angka 7.000 orang, sedangkan di India dan Tiongkok telah lebih dari 100 orang, demikian AFP. (antara/mukafi niam) foto: AFP

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 IMNU, Nasional, Ubudiyah Hari Santri 2019

Rabu, 14 Februari 2018

Usai Gelar Apel Kesetiaan Pancasila, Ansor Bondowoso Konsolidasikan Kekuatan

Bondowoso, Hari Santri 2019. Setelah pagi harinya menggelar apel kesetiaan Pancasila dan NKRI di Lapangan Sekarputih Kecamatan Tegalampel, Bondowoso, Pimpanan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bondowoso kembali mengadakan acara sarasehan Kopi Darat bersama aparat pemerintah setempat di Aula PCNU Bondowoso Jalan KH Agus Salim No. 85 Belindungan Kabupaten Bondowoso Jawa Timur, Rabu (1/06) malam.

Usai Gelar Apel Kesetiaan Pancasila, Ansor Bondowoso Konsolidasikan Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Gelar Apel Kesetiaan Pancasila, Ansor Bondowoso Konsolidasikan Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Gelar Apel Kesetiaan Pancasila, Ansor Bondowoso Konsolidasikan Kekuatan

Acara bertema "Mengejawantahkan Komitmen Kesetiaan Pemuda kepada Pancasila dan NKRI" ini juga diikuti Pimpinan Cabang, Pimpinan Anak Cabang, Satkorcab Banser, Ormas Kepemudaan (OKP) dan OSIS SMA/MA se-Bondowoso.

Hari Santri 2019

Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil menjelaskan, saat ini ada berbagai kelompok, baik dari dalam maupun luar negeri yang ingin mengubah dasar NKRI. Karena itu ia meminta semua elemen bersatu melawan setiap upaya-upaya yang merongrong Pancasila dan NKRI.

Hari Santri 2019

"Bagi kami (GP Ansor) Pancasila itu adalah harga mati, NKRI adalah harga mati bagi Gerakan Pemuda Ansor dan Banser," tegasnya.

Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir mengatakan hal senada. Menurutnya, lahirnya bangsa Indonesia tidak lepas dari peranan tokoh-tokoh NU. Tak hanya menjadi penggerak dalam mempertahankan kemerdekaan, lanjut Dhafir, NU lah organisasi massa pertama yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal Bangsa Indonesia.

" Kesimpulannya, negeri ini sudah bersertifikat atas nama Pancasila dan NKRI. Dan itu sudah final," tandasnya.

Hadir pada acara sarasehan Kopi Darat Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir, Kasdim 0822 Bondowoso, Mayor Mohammad Tohir, Kasat Binmas, AKP Heru Wahyudi. (Ade Nurwahyudi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Aswaja, Nasional, AlaNu Hari Santri 2019

Rabu, 07 Februari 2018

Sampaikan Pesan Agama dengan Santun dan Jaga Kebersamaan

Surabaya, Hari Santri 2019. Menyampaikan ajaran agama harus memperhatikan kondisi masyarakat setempat dari banyak aspek. Juga jangan sampai menyampaikan hal yang menimbulkan perbedaan. Kebersamaan harus dijaga agar ukhuwah terus terawat dengan baik.

Muhammad Dawud mengingatkan hal ini pada acara Evaluasi Dengar Pendapat atau EDP yang diselenggarakan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Timur, Jumat (10/7).

Sampaikan Pesan Agama dengan Santun dan Jaga Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sampaikan Pesan Agama dengan Santun dan Jaga Kebersamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sampaikan Pesan Agama dengan Santun dan Jaga Kebersamaan

"Menyeru pesan agama hendaknya harus dengan mengedepankan kesantunan, sebagaimana telah dipesankan dalam Islam," katanya di hadapan 4 pemohon ijin radio komunitas dan televisi kabel berlangganan.?

Hari Santri 2019

Apalagi, lanjutnya, bagi para pengelola lembaga penyiaran seperti televisi maupun radio untuk bisa memilih mata acara dan program yang tidak lagi menebarkan kebencian atau perbedaan saat bersiaran.

Hari Santri 2019

Salah sorang komisioner KPID Jatim ini juga berharap sekaligus menekankan bahwa masih banyak radio dan televisi yang gemar menyiarkan materi yang menyinggung perbedaan. "Padahal materi seperti ini tidak akan selesai diperdebatkan," ungkap Sekretaris PW ISNU Jatim ini.?

Dawud juga mengkritik sejumlah lembaga penyiaran yang gemar merelay siaran dari beberapa radio kenamaan dengan tidak memperhatikan kondisi masyarakat sekitar. "Bagaimana mungkin anda merelay berita maupun tayangan dari sumber yang jelas-jelas berseberangan dengan tradisi mayoritas masyarakat sekitar," katanya.

Karenanya sangat mendesak untuk memiliki kearifan dalam menayangkan serta menyampaikan materi siaran yang mampu menjaga kebersamaan dan menghargai keberagaman di masyarakat. "Kami sangat berharap para pemohon bisa menjaga suasana kondusif di lingkungan masing-masing, apalagi telah memiliki media baik televisi maupun radio," ungkapnya.

Kegiatan EDP berlangsung sejak 8 hingga 10 Juli. Ada puluhan radio komunitas serta satu televisi kabel berlangganan yang mengajukan izin agar bisa bersiaran sesuai wilayahnya. Para pemohon harus mempresentasikan proposal yang telah diajukan di hadapan para tim penguji, pemberi masukan, serta dari komisioner KPID Jatim. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nasional, Nahdlatul, Anti Hoax Hari Santri 2019

Senin, 05 Februari 2018

Sejumlah Agenda IPNU NTB 2018

Mataram, Hari Santri 2019. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (PW IPNU NTB) menggelar rapat pleno I tahun 2018 di Aula Kantor PW NU NTB Jln Pendidikan No 6 Kota Mataram, Selasa (16/1).

Sejumlah Agenda IPNU NTB 2018 (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Agenda IPNU NTB 2018 (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Agenda IPNU NTB 2018

Rapat yang dipandu  oleh A Naufal Rachmatullah Sekretris PW IPNU NTB ini di hadiri oleh sejumlah anggota Pengurus Wilayah.

Dalam rapat ini membahas seputar internal, dari penataan cabang yang sudah purna masa baktinya hingga  kaderisasi formal yakni Latihan Kadur Utama (Lakut).

Latihan Kader Lanjut menurut Ketua PW IPNU NTB Syamsul Hadi, sudah waktunya dilaksakan mengingat beberapa cabang telah melaksakana Makesta hingga Latihan Kader Muda (Lakmud).

Hari Santri 2019

"Hal ini penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas kader," kata Syamsul. 

Lakut nantinya dilaksanakan dengan narasumber dari pusat yang merupakan Tim Instruktur Nasional. 

Hari Santri 2019

Lakut juga dilaksanakan berangkaian dengan peringatan hari lahir IPNU ke-64, 24 Feberuari 2018 mendatang.

"Insyaallah Lakut nanti juga kita rangkaikan dengan Harlah IPNU ke-64," kata alumni Fisika IKIP Mataram ini

Pada momentum harlah nantinya juga akan diadakan reuni alumni Kader Pemuda Antinarkoba yang sudah tersebar di lima kabupaten/kota se-Lombok.

"Saat ini sudah terbentuk lima ribu kader Pemuda Antinarkoba se-Pulau Lombok," jelas  Direktur  Community Participation Public ini. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nasional, Syariah Hari Santri 2019

Selasa, 16 Januari 2018

IPNU-IPPNU Kembangan Gelar Lomba Cipta Miniatur Jakarta

Jakarta, Hari Santri 2019. Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PAC IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kembangan, Jakarta Barat menggelar lomba cipta harta karya. Peserta lomba diminta membuat miniatur gedung atau monumen yang ada di Jakarta.

IPNU-IPPNU Kembangan Gelar Lomba Cipta Miniatur Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kembangan Gelar Lomba Cipta Miniatur Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kembangan Gelar Lomba Cipta Miniatur Jakarta

Perlombaan ini masuk dalam rangkaian kepemimpinan dan masa kesetiaan anggota IPNU-IPPNU Kembangan yang berlangsung selama tiga hari di pesantren Al-Washilah, Jakarta Barat, Selasa-Kamis (28-30/1).

Selain membuat miniantur, mereka juga diminta panitia untuk menjelaskan sejarah dari karya yang mereka buat. Tujuannya mengasah kreatifitas dan pengetahuan peserta pelatihan kepemimpinan.

Hari Santri 2019

Makesta yang dihadiri antara lain Ketua PC IPNU Jakbar Nahraji Zen dan Ketua PC IPPNU Jakbar Kartika Laras Panduhati diikuti oleh puluhan siswa SMA, SMK, dan MA yang ada kecamatan Kembangan dan sekitarnya.

Hari Santri 2019

Pengasuh pesantren Al-Washilah Kiai Ahmad Sanusi mengatakan, “Setiap anak muda juga pemimpin. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW.” Kiai Sanusi mengharapkan kader IPNU-IPPNU Kembangan terus melibatkan kalangan pelajar dalam aktivitas-aktivitas positif. (Yudhi Permana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nasional, Syariah Hari Santri 2019

Rabu, 10 Januari 2018

Jokowi Deklarasi Hari Santri Nasional Diiringi Shalawat Badar

Jakarta, Hari Santri 2019. Eksistensi kaum santri di Indonesia semakin diakui dengan ditetapkannya Hari Santri Nasional (HSN) oleh Presiden Joko Widodo berdasarkan Keputusan Presiden No 22 tahun 2015. Jokowi secara langsung mendeklarasikan Hari Santri di Masjid Istiqlal, 22 Oktober 2015.

Para santri yang memenuhi masjid Istiqlal sontak mengumandangkan shalawat Badar begitu Presiden Jokowi secara resmi mendeklarasikan Hari Santri Nasional.?

Jokowi Deklarasi Hari Santri Nasional Diiringi Shalawat Badar (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi Deklarasi Hari Santri Nasional Diiringi Shalawat Badar (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi Deklarasi Hari Santri Nasional Diiringi Shalawat Badar

Ribuan santri berduyun-duyun datang ke Masjid Istiqlal untuk ikut merasakan kegembiraan atas penetapan Hari Santri Nasional. Mereka datang dengan identitasnya pesantren atau sekolahnya masing-masing. Raut gembira dan bangga tampak jelas di wajah mereka.?

Jokowi menyatakan, perjuangan republik Indonesia tak terwujud jika tak ada semangat jihad. Jihad keindonesiaan dan kebangsaan untuk kemerdekaan.?

Hari Santri 2019

Ia menambahkan, perjuangan tidak akan terwujud apabila tidak ada cita-cita bersama untuk melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum.?

“Sejarah mencatat, para santri telah mewakafkan hidupnya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dan mewujudkan cita-cita. Para santri dengan caranya masing-masing bergabung dengan elemen bangsa menyusun kekuatan di daerah terpencil, mengatur stategi, mengajarkan kesadaran arti kemerdekaan,” katanya.

Hari Santri 2019

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menyebut para tokoh santri seperti KH Hasyim Asy’ari (NU), KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), KH Ahmad Hasan (Persis), KH Ahmad Syurkati (Al Irsyad), dan lainnya sebagai orang-orang yang berperan aktif dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.? “Dengan sejarah itu, saya yakin penetapan hari santri tidak akan menimbulkan sekat-sekat sosial ataupun memicu polarisasi antara santri dan non santri. Tapi sebaliknya, akan memperkuat semangat kebangsaan. Akan mempertebal cinta tanah air atau memperkokoh integrasi,” paparnya.?

Ia menambahkan, jika santri pada zaman dahulu ikut berjuang secara fisik mempertahankan kemerdekaan, maka dalam konteks saat ini, santri harus ikut memperjuangkan kesejahteraan, ilmu pengetahuan dan teknologi dan ia optimis dengan peran santri yang semakin besar bangsa Indonesia akan mampu menghadapi hambatan dan tantangan.?

“Saya percaya dengan keragaman kita sebagai bangsa, suku, agama atau budaya, melengkapi nilai-nilai untuk saling menghargai, saling menjaga tolransi dan saling memperkuat persaudaraan antar bangsa.” (Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nasional, Pondok Pesantren Hari Santri 2019

Soal IT Registrasi, Ini Penjelasan Panitia Muktamar NU

Jombang, Hari Santri 2019. Mengikuti perkembangan teknologi, pada Muktamar Ke-33 NU ini, Panitia menggunakan sistem IT/online untuk proses registrasi. Lewat web muktamar.nu.or.id, panitia menyediakan formulir online dimana calon peserta (PCNU/PWNU), media dan peninjau bisa melakukan pendaftaran online.

Soal IT Registrasi, Ini Penjelasan Panitia Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal IT Registrasi, Ini Penjelasan Panitia Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal IT Registrasi, Ini Penjelasan Panitia Muktamar NU

Media dan peninjau banyak yang mengajukan aplikasi secara online, tapi PC dan PW hanya sedikit yang mengajukan pendafataran secara online. Oleh karenanya, ID Card peserta yang bisa diproses sebelum muktamar jumlahnya tidak terlalu banyak.

“Hal itu berimbas pada riuhnya pendaftaran di ruang registrasi yang bertempat di GOR Jombang. Ribuan peserta antri penuh sesak untuk bisa mendaftarkan diri dan rombongannya,” jelas Ketua Panitia Nasional Muktamar Ke-33 NU, H Imam Aziz lewat rilis yang diterima Hari Santri 2019, Ahad, (2/8) di Jombang.

Hari Santri 2019

Namun karena sesuatu hal, lanjutnya, sistem IT registrasi sempat mengalami down sehingga mengganggu proses registrasi. Beberapa kali sistem mengalami gangguan yang berimbas pada lambatnya tim registrasi dalam memproses pengajuan calon peserta, yang membuat suasana sedikit tidak kondusif.

Imam Aziz menerankan, Problem IT akhirnya bisa ditangani, namun persoalan tak lantas otomatis teratasi. Proses pendaftaran tetap relatif lambat, yang bersumber dari kurangnya jumlah peralatan, yaitu printer dan alat laminating ID Card.?

Hari Santri 2019

Pengajuan ID Card di luar peserta, yaitu media dan peninjau di luar dugaan kami. Maka dampaknya antrian sangat lama, berjejalan dan secara psikologis mengganggu muktamirin.

Oleh karenanya, imbuh Imam, mengingat kekurangsiapan yang dilakukan panitia, kami:

1. Meminta maaf atas ketidaknyamanan muktamirin dalam melakukan proses registrasi.

2. Akan tetap melayani pendaftaran hingga tuntas sehingga memastikan seluruh peserta teregistrasi dan mendapatkan ID card. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nasional, Kajian Hari Santri 2019

Kamis, 28 Desember 2017

Tinggalkan Tiga Kali Jumat Jadi Kafir?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Yang terhormat redaksi Bahtsul Masail Hari Santri 2019. Lelaki yang tidak sholat Jumat tiga kali dihukumi kafir. Jika orang itu sholat apakah sah? Jika ia membaca syahadat, apakah Islam kembali. Mohon keterangannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Bagus Alvi).

Jawaban

Tinggalkan Tiga Kali Jumat Jadi Kafir? (Sumber Gambar : Nu Online)
Tinggalkan Tiga Kali Jumat Jadi Kafir? (Sumber Gambar : Nu Online)

Tinggalkan Tiga Kali Jumat Jadi Kafir?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan petunjuk-Nya untuk kita semua. Jumat merupakan hari ied mingguan bagi umat Islam. Sementara sembahyang Jumat merupakan sebuah kewajiban bagi mereka yang menjadi ahli Jumat seperti laki-laki, sehat, aqil, baligh, penduduk setempat, dan seterusnya sebagaimana diatur dalam kitab fikih.

Hari Santri 2019

Kewajiban sembahyang Jumat sangat kuat. Karena banyak sekali keutamaan di dalamnya. Bahkan sembahyang Jumat disinggung secara khusus dan diabadikan dalam Al-Quran pada surat Al-Jumuah.

Adapun status kufur-nifaq yang disematkan kepada mereka yang meninggalkan sembahyang Jumat tiga kali berturut-turut didasarkan pada sebuah hadits Rasulullah SAW bahwa mereka yang meninggalkan Jumat sebanyak tiga kali akan dicatat sebagai kalangan munafiq.

Hari Santri 2019

Tetapi apakah munafiq yang dimaksud ini adalah munafiq-kafir sebagaimana sebagian penduduk Madinah dan sekitarnya di zaman Rasulullah SAW atau sekadar munafiq-praktis? Ada baiknya kita melihat keterangan Al-Munawi perihal hadits tersebut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “(Siapa saja yang meninggalkan tiga Jumat tanpa udzur, maka ia akan dicatat sebagai kalangan orang-orang munafik) munafik yang dimaksud adalah kemunafikan dalam bentuk perbuatan, (bukan keyakinan). Penulis Fathul Qadir menyebutkan, sahabat-sahabat kami menyatakan bahwa shalat Jumat adalah kewajiban bahkan lebih wajib dari sembahyang Zuhur. Mereka juga menyatakan bahwa orang yang mengingkari kewajibannya menjadi kafir,” (Lihat Abdurrauf Al-Munawi, Faidhul Qadir, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, tahun 14-15 H/1994 M, juz 6, halaman 33).

Dari keterangan Al-Munawi, kita menyimpulkan bahwa sifat kemunafikan terbagi sedikitnya atas dua jenis, pertama munafik keyakinan (mereka yang memang tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya seperti banyak orang Madinah di masa Rasulullah SAW yang kerap disinggung Al-Quran); kedua munafik perbuatan (mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan rasul-Nya, hanya saja kerap melanggar agama seperti berbohong, berkhianat, melanggar janji). Mereka yang meninggalkan Jumat tiga kali itu termasuk dalam kategori kemunafikan jenis kedua.

Dengan demikian, mereka yang meninggalkan sembahyang Jumat tidak keluar dari Islam. Artinya ia tidak perlu membaca syahadat kembali sebagai pernyataan masuk Islamnya. Hanya saja ia harus bertobat kepada Allah dan beritikad kuat di dalam untuk tidak mengulangi kesalahannya. Meninggalkan sembahyang Jumat termasuk salah satu dosa besar. Karenanya agama Islam sangat mengecam keras orang-orang yang meninggalkan sembahyang Jumat tanpa ada uzur syar’i.

Merujuk pada pandangan Ahlussunnah wal Jamaah, orang beriman yang terjebak dalam dosa kecil maupun besar (misalnya meninggalkan sembahyang Jumat) tetap dihukumkan sebagai seorang yang beriman. Artinya, kalau orang seperti ini meninggal dunia, kita yang masih hidup tetap berkewajiban mengurus jenazahnya dari “a” sampai “z” seperti keterangan Syekh Al-Baijuri dalam Jauharatut Tauhid berikut ini.

? ? ?  ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ? ? ? ? ?)

Artinya, “(Kita tidak boleh mengafirkan orang lain yang seiman karena sebuah dosa), ini rincian atas penjelasan sebelumnya. Kalau dibaca dengan ‘nun’, maka artinya ‘Kita sebagai penganut Ahlussunah tidak mengafirkan orang lain.’ Kalau dibaca dengan ‘ta’, maka artinya, ‘Kamu tidak boleh mengafirkan orang lain yang seiman karena ia telah berdosa baik dosa kecil maupun dosa besar, baik ia menyadari maupun tidak menyadari bahwa itu adalah dosa.’ Tentu dengan catatan bahwa dosa itu bukan termasuk dosa yang menyebabkannya menjadi kufur seperti pengingkaran atas pengetahuan Allah terhadap hal-hal yang kecil. Kalau seseorang mengingkari itu, maka ia jatuh ke dalam kekufuran. Di samping itu ia juga tidak menghalalkan larangan Allah yang sangat maklum dalam agama seperti larangan zina. Kalau seseorang menganggap halal larangan seperti itu, maka ia telah kufur karena telah menganggap halal larangan yang hukumnya sudah terang. Ahlusunnah berbeda dengan kelompok Khawarij. Khawarij mengafirkan orang seiman yang berbuat dosa dan mereka menganggap semua dosa itu sebagai dosa besar. (Orang beriman yang meninggal dunia sementara ia belum sempat bertobat, maka [kita] serahkan saja kepada Allah),” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabaiyah, tanpa tahun, halaman 112).

Saran kami, kita sebaiknya lebih bersemangat dalam sembahyang Jumat karena selain kewajiban, di dalamnya juga terdapat banyak keutamaan. Selagi tidak ada uzur yang memberatkan, sebaiknya kita menunaikan kewajiban sembahyang Jumat.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nasional, Kajian Hari Santri 2019

Minggu, 24 Desember 2017

Mendes: Kiai Kampung Miliki Peran Strategis Membangun Desa

Palembang, Hari Santri 2019. Peran kiai kampung dan? tokoh NU di pedesaan sangat dibutuhkan untuk turut serta mendorong kebijakan terkait pembangunan desa agar bisa berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Mendes: Kiai Kampung Miliki Peran Strategis Membangun Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes: Kiai Kampung Miliki Peran Strategis Membangun Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes: Kiai Kampung Miliki Peran Strategis Membangun Desa

Demikian disampaikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar saat memberikan sambutan di depan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (28/3).

?

"Kiai-kiai kampung bisa melakukan peran itu, karena selama kiai-kiai kampung secara informal telah berperan sebagai pemimpin dan tokoh panutan bagi masyarakat sekitarnya," tandasnya.

Hari Santri 2019

Sebagai pemimpin dan tokoh panutan masyarakat di sekitarnya, kiai kampung, menurut Marwan, memiliki peran nyata dalam membantu program pembangunan desa.

Hari Santri 2019

"Pertama, dengan memberikan landasan keagamaan bahwa pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa adalah suatu ibadah jika niatnya untuk kebaikan dunia dan akhirat," ujarnya.

Selain itu, kiai kampung bisa memanfaatkan berbagai forum keagamaan untuk mengajak masyarakat mendukung dan ikut serta dalam pembangunan desa. "Forum-forum keagamaan, seperti istighotsah, pengajian, cukup efektif untuk dijadikan sebagai forum sosialisasi berbagai kebijakan tentang desa," imbuhnya.

?

Kiai kampung, lanjut Marwan, juga bisa berperan aktif dalam musyawarah desa khususnya dalam perumusan perumusan rencana pembangunan jangka pajang desa (RPJMDes), rencana kerja pemerintah desa (RKPDes), dan anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes).

"Kiai kampung juga bisa mendorong beberapa kader NU untuk menjadi tenaga pendamping desa melalui proses rekrutmen terbuka yang diselenggarakan pemerintah," ujar Menteri Marwan.

Kiai kampung yang tentunya sudah banyak mengenal tentang potensi desa, menurut Menteri Marwan, juga bisa berperan aktif dalam pemberdayaan ekonomi desa melalui pembentukan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). "Terakhir para kiai kampung juga bisa membangun silaturrahim dan sinergi dengan elemen masyarakat lainnya untuk mengawasi penggunaan dana desa agar sesuai dengan alokasinya dan mampu memberikan manfaat nyata bagi kemajuan desan dan kesejahteraan masyarakat," tandasnya.

Ia mendorong Nahdlatul Ulama sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia bersinergi dengan pemerintah untuk membantu mendorong pembangunan desa-desa mandiri dan berkelanjutan yang memiliki ketahanan social, ekonomi, dan lingkungan. Menurutnya, peran masyarakat seperti NU sangat dibutuhkan dalam mengimplementasikan UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa yang mengamanatkan bahwa pembangunan desa ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat desa.

"Dalam konteks NU, partisipasi dalam pembangunan desa mengandung tanggung jawab sosial yang besar karena warga NU yang jumlahnya mencapai 50 juta orang mayoritas tinggal di pedesaan, dan secara social ekonomi masih sangat membutuhkan pemberdayaan untuk meningkatkan kesejahteraannya," tutup Menteri Marwan. (Red: Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian, Nasional, AlaNu Hari Santri 2019

Senin, 18 Desember 2017

IPNU-IPPNU dan LDNU Trenggalek Jaring Bakat Dai Remaja

Trenggalek, Hari Santri 2019. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur bekerja sama dengan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Trenggalek menjaring dai remaja berbakat melalui kompetisi.

Kompetisi bertajuk Lomba Dai Remaja dalam rangka menyambut harlah ke-62 dan ke-61, di di aula Kantor Kemenag Kabupaten Trenggalek mulai 19 sampai dengan 21 Februari.

IPNU-IPPNU dan LDNU Trenggalek Jaring Bakat Dai Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU dan LDNU Trenggalek Jaring Bakat Dai Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU dan LDNU Trenggalek Jaring Bakat Dai Remaja

Ketua PC IPNU Trenggalek Muhammad Bangkit menyampaikan, saat ini masih sedikit dai muda berbakat di Trenggalek. Hal ini menggerakkan IPNU-IPPNU untuk menciptakannya. Terlebih dengan makin gencarnya ajaran Islam radikal yang menyusup ke sekolah-sekolah.

Hari Santri 2019

"Upaya membentengi kalangan pelajar dari ajaran radikal akan semakin efektif jika dilakukan oleh sesama pelajar. Istilahnya dari, oleh, dan untuk pelajar. Makanya materi yang dibawakan kontestan seputar Islam yang rahmatan lil alamin, toleran serta Islam yang cinta tanah air," bebernya.

Hari Santri 2019

Lomba Dai Remaja bertema "Dai Super adalah Kita-Kita" tersebut memperebutkan trofi dan sejumlah uang pembinaan. Peserta dibagi menjadi dua kategori, yaitu kategori A untuk usia 13-16,5 tahun dan kategori B untuk usia 16,5-20 tahun. Masing-masing kategori diambil 4 pemenang. Kontestan dinilai tiga juri yang terdiri dari LDNU, MUI, dan Kemenag Kabupaten Trenggalek. Tercatat, ada total 57 peserta yang mendaftar dengan rincian 36 peserta kategori A dan 21 peserta kategori B.

Sebelumnya, organisasi pelajar NU ini menggelar Lomba Catur dan Diklatama CBP. Dan sebagai puncak peringatan Harlah akan diisi dengan gema shalawat di alun-alun Trenggalek, bertepatan dengan tanggal 5 Maret ini.

Di tempat terpisah, Ketua LDNU Trenggalek H. Abd Shomad menyampaikan apresiasinya. Ia berharap dari kegiatan semacam ini akan lahir dai-dai masa depan yang aktif menyemaikan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah.

"Juara I sampai IV untuk masing-masing kelas nantinya kita berikan pembinaan lagi secara intensif, kita kader sebagai dai muda Aswaja. Ke depan, mereka dan kita minta untuk berceramah di berbagai tempat di Trenggalek", tambahnya.

Selain bekerja sama dengan LDNU, PC IPNU-IPPNU Trenggalek dalam menggelar Lomba Dai Cilik juga menggandeng beberapa instansi, antara lain Kantor Kemenag, MUI (Majelis Ulama Indonesia), dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek. (Abid/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ubudiyah, IMNU, Nasional Hari Santri 2019

Kamis, 14 Desember 2017

Butuh Lima Senjata untuk Berjuang di IPNU-IPPNU

Sleman, Hari Santri 2019. Ahad (31/3), Balai Utari kompleks Gedung Mandala Bhakti Wanitatama Sleman menjadi saksi bisu dilantiknya jajaran pengurus Pimpinan Wilayah IPNU-IPPNU Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) periode 2012-2013.

Dalam acara tersebut, KH Asyari Abta, Rais Syuriyah PWNU DIY mendoakan para pengurus yang baru dilantik. 

Butuh Lima Senjata untuk Berjuang di IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Butuh Lima Senjata untuk Berjuang di IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Butuh Lima Senjata untuk Berjuang di IPNU-IPPNU

“Beberapa saat yang lalu, kita telah menyaksikan pelantikan pengurus baru IPNU-IPPNU DIY. Semoga mereka mendapatkan kekuatan lahir batin dan ridha Allah SWT. Sehingga, nantinya  bisa memperjuangkan apa yang menjadi cita-cita IPNU-IPPNU ke depan,” ujar KH. Asyari.

Selain mendoakan para pengurus wilayah  IPNU-IPPNU DIY yang baru, KH Asyari juga memberikan wejangan berupa lima senjata dalam berjuang di IPNU-IPPNU. 

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

“Sewaktu Allah SWT melantik Nabi Muhammad menjadi rasul-Nya, Allah membekali nabi dengan lima senjata. Lima senjata tersebutlah yang menjadikan Nabi Muhammad sukses membawa risalah kenabian, meskipun hanya 23 tahun lamanya,” ungkap KH. Asyari. 

“Senjata yang pertama adalah agungkanlah asma Tuhanmu. Artinya, jika berjuang untuk IPNU-IPPNU, niatkan untuk  beribadah. Jangan berharap mendapatkan sesuatu dari IPNU-IPPNU, tapi berikanlah sesuatu untuk kemajuan IPNU-IPPNU.”

“Kedua, sucikanlah pakaianmu. Orang-orang yang berjuang itu hatinya harus suci. Suci hatinya maupun suci perilakunya. Ketiga, jauhilah perbuatan kotor. Kebanyakan organisasi itu bubrah karena tidak adanya keterbukaan dan tidak adanya kejujuran.” 

“Keempat, Jangan mengharapkan sesuatu. Jangan berharap akan menjadi DPR setelah menjadi pengurus IPNU-IPPNU. Dan senjata yang terakhir adalah Terhadap Tuhanmu sabarlah. Artinya, sabar dalam menerima musibah apa pun,” ujar KH. Asyari panjang lebar. 

“Kalau kelima senjata itu dijalankan, Insyaallah sukses. Itulah pesan kami, lima senjata dalam berjuang di IPNU-IPPNU dan di NU,” tambah KH. Asyari yang disambut tepuk tangan oleh para hadirin.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Rokhim Bangkit 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian, Pertandingan, Nasional Hari Santri 2019

Sabtu, 09 Desember 2017

Guru Besar UPI Nilai Pola Pendidikan Pesantren Sudah Tepat

Mojokerto, Hari Santri 2019. Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Asep Kadarusman menilai pola pendidikan yang dikembangkan di pondok pesantren dan madrasah NU sangat sesuai dengan pola pendidikan yang dianjurkan.

Ia menyampaikan hal tersebut pada ajang Forum Silaturahim Kongres Pergunu II di Ponpes Amanatul Ummah, Pacet Mojokerto, Kamis (27/10) pagi.

Guru Besar UPI Nilai Pola Pendidikan Pesantren Sudah Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Besar UPI Nilai Pola Pendidikan Pesantren Sudah Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Besar UPI Nilai Pola Pendidikan Pesantren Sudah Tepat

Menurut Asep, ketepatan pada pola pendidikan pesantren adalah dengan dibiasakannya para santri untuk membaca. Ia mengatakan kemampuan membaca menunjukkan kemampuan aktual peserta didik yang bersangkutan.

Selanjutnya untuk menguji hasil dari kegiatan membaca, siswa dapat diajak berdiskusi. Hal ini bermanfaat untuk menguatkan konsep yang belum pahami.

Asep memandang positif pola pendidikan pesantren lainnya yang juga sangat sesuai adalah para santri diajarkan untuk berkomunikasi yang baik dan efektif. Ia mengatakan di era globalisasi saat ini di mana kerja manusia dimudahkan oleh adanya teknologi, potensi besar yang harus dikembangkan (dan bisa dijual) selain berpikir kritis, adalah kemampuan berkomunikasi.

Hari Santri 2019

“Saya mengamati sepanjang acara ini pembawa acara (yang merupakan santri atau orang NU) dapat berkomunikasi secara lancar dan sistematis. Ini komunikasi yang baik yang perlu diteruskan,” kata Asep.

Oleh karena itu, bila berpegangan pada ICT (Information and Communication Technology), kemampuan akan bahasa asing tidak bisa ditawar-tawar dalam menghadapi era ini. Apalagi bila dihadapkan pada tantangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Sebelum menutup paparan, Asep memuji bahwa tradisi tahlilan yang dikembangkan NU, walau banyak yang tak sependapat, membuktikan bahwa tahlilan menarik hati kecil dan merupakan kebutuhan yang tak bisa dibohongi. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Nasional, Humor Islam, Tegal Hari Santri 2019

Rabu, 06 Desember 2017

Musaddeq, Inspirator Gafatar Pernah Bertobat di Hadapan Kiai Said

Jakarta, Hari Santri 2019

Mantan pemimpin Al Qiyadah yang juga mengaku sebagai nabi, Ahmad Musaddeq merupakan sumber inspirasi ajaran bagi Gafatar. Ternyata ia pernah menyatakan bertobat setelah melakukan dialog dengan KH Said Aqil Siroj pada 9 November 2007.

Musaddeq, Inspirator Gafatar Pernah Bertobat di Hadapan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)
Musaddeq, Inspirator Gafatar Pernah Bertobat di Hadapan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)

Musaddeq, Inspirator Gafatar Pernah Bertobat di Hadapan Kiai Said

Kepada Hari Santri 2019, Kiai Said menunjukkan klipping sebuah media yang menuliskan perdebatannya dengan Musaddeq, pada Jum’at, 9 November 2007. 

Kiai Said menjelaskan, perdebatannya dengan Musaddeq berlangsung panjang sampai tiga jam yang berlokasi di kantor Polda Metro Jaya. Ia mengakui orang yang mengaku sebagai nabi ini pintar dalam Al-Qur’an dan hadits, sayangnya penafsiran yang diberikan keliru. Argumen-argumen yang disampaikan Musaddeq bisa dibantahnya. Dari situlah Musaddeq menyatakan bertaubat. 

Hari Santri 2019

Tapi ternyata meskipun ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah sudah dibubarkan dan Musaddeq bertaubat dan sempat dipenjara selama empat tahun, rupanya taubatnya bukan taubatan nasuuha. Ajarannya mengalami metamorfosis menjadi Gafatar. Banyak pengikut Al-Qiyadah kemudian menjadi anggota Gafatar. 

“Mereka muncul lagi dengan bungkus sosial, ekonomi kerakyatan, menampung orang miskin, dan pengobatan gratis,” kata Kiai Said. 

Gafatar, dengan mengambil inspirasi Musaddeq, menyatakan kembali kepada millah ibrahim, mencampuradukkan antara agama Yahudi, Kristen, dan Islam. 

Kiai Said meminta agar masyarakat berhati-hati terhadap ajaran yang keluar dari mainstream Islam, apalagi sampai ingin mendirikan negara sendiri dan menyebabkan keresahan masyarakat. (Mukafi Niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Nasional Hari Santri 2019

Sabtu, 04 November 2017

Syuriyah PBNU: Jangan Ikut-Ikutan Mendukung ISIS!

Jakarta, Hari Santri 2019. Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi menyerukan kepada warga nahdliyin dan umat Islam Indonesia agar tidak ikut-ikutan mendukung gerakan Negara Islam di Irak dan Syuriah (ISIS) dan sekaligus tidak membuat perpecahan di kalangan kaum muslimin.

Syuriyah PBNU: Jangan Ikut-Ikutan Mendukung ISIS! (Sumber Gambar : Nu Online)
Syuriyah PBNU: Jangan Ikut-Ikutan Mendukung ISIS! (Sumber Gambar : Nu Online)

Syuriyah PBNU: Jangan Ikut-Ikutan Mendukung ISIS!

"Sebagai sesama muslim saya mengimbau akar kaum muslimin indonesia tidak termakan dan terprovokasi terhadap isu isis di Iraq dan Syria of Islamic State (ISIS) yang belakangan ini masuk di indonesia," katanya di Jakarta, Senin (4/8/2014).

Menurutnya, ISIS adalah fenomena Islam di Timur Tengah yang kondisinya tidak sama dengan Indonesia. "Kehati-hatian ini perlu karena selama musim reformasi ini telah terbentuk embrio-embrio kekuatan garis keras radikal baik yang bergerak melalui gerakan massa, melalui gerakan yang masuk ke sistem keindonesiaan maupun yang menggunakan cara teror," terang Mantan Ketua Umum PBNU.

Hari Santri 2019

Menurutnya, apabila embrio radikalitas ini diolah dengan bumbu isu ISIS atau perpecahan pasca pilpres, pasti meningkatkan kadar radikalitas dan kekerasan dalam gerakan transnasional yang membahayakan keselamatan kaum muslimin Indonesia dan sekaligus membayakan keutuhan NKRI .

Hari Santri 2019

"Lebih baik kita sebagai kaum muslimin berbuat melakukan strategi yang islami dan yang indonesiawi dari pada kita mengaku "kelompok paling Islam", namun menghalalkan "segala cara" karena merasa untuk kepentingan kelompoknya yang "paling islami" itu. Padahal yang demikian itu tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah," jelasnya.

Menghalalkan segala cara, kata Hasyim, bukanlah ajaran Ahlussunnah wal-Jamaah. "Yang pernah ada dalam sejarah adalah kelompok Khawarij yang boleh merusak apa saja yang bertentangan dengan kemauannya. Sekarang ini, ajaran tersebut menjelma dalam berbagai bentuk gerakan pengrusakan dengan segala manifentasinya," papar pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini.

"Dan apabila antar-kelompok kaum muslimin sampai bentrok, itulah saatnya kekuatan asing akan masuk dan merusak Islam dan Indonesia . Waspadalah," tambahnya. (Ahmad Millah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nasional, Anti Hoax, Ahlussunnah Hari Santri 2019

Minggu, 29 Oktober 2017

Asparagus Jember Diresmikan

Jember, Hari Santri 2019. Meskipun Asparagus (Asosiasi Para Gus) tidak masuk struktural Nahdlatul Ulama (NU), maupun Ma’ahid al-Islamiyah (RMI), para lora dan gus yang tergabung dalam Asparagus ini harus menjaga tradisi Islam Ala Ahlusunnah wal Jamaah di Indonesia.?

Asparagus Jember Diresmikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Asparagus Jember Diresmikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Asparagus Jember Diresmikan

Para kiai-kiai pengasuh-pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) dulu, seperti KH Hasyim Asyari, Abah KH Ahmad Sidiq dan Kiai-kiai lain, selalu bersilaturahmi dan melakukan pertemuan, sehingga hubungan baik beliau selalu terus terjaga.

Disamping ? melakukan diskusi Agama, sosial, kemasyarakatan, juga membahas soal Nahdlatul Ulama, hingga persoalan kebangsaan. Motto Asparagus “Menjalin Silaturahmi dan Menjaga Tradisi” seiring tujuan itu. Sehingga tradisi baik ini harus dilanjutkan, karena kiai masa depan adalah Lora dan Gus Sekarang.

Demikian disampaikan Mohammad Balya Firjaun Barlaman (Putra sulung mantan Rais ‘Aam PBNU 1984-1991, Almagfullah KH Ahmad Sidiq), ketika meresmikan Aspirasi para Lora dan Gus (Asparagus) Kabupaten Jember, Sabtu (17/9) di Ponpes Darus Solah Tegal Besar.

Hari Santri 2019

Kiai yang akrab dipanggil Gus Firjaun ini, yakin bahwa ratusan lora dan Gus yang hadir dalam pertemuan malam itu di ponpes yang didirikan Gus Yus tersebut, mayoritas adalah warga Nahdlyin, sebagai pewaris para kyiai, sudah seharusnya melestarikan tradisi yang dilakukan para kyai pendahulunya.?

Pengasuh Pesantren Al-Falah Ploso Kediri ini juga optimistis, keberadaan ratusan anggota Asparagus di kabupaten Jember Jawa Timur ini akan mampu menjadi pelopor penggerak Nahdlatul Ulama dan menjaga tradisi Islam Ala Ahlussunnah Waljamaah khususnya di Jember dan di Indonesia.

Hari Santri 2019

Sebagai penutup Gus Firjaun berharap agar Asparagus mampu tegak lurus, sebab jika terjebak dalam politik praktis, dia kawatir akan berjarak. “Jika yang lain terkotak, Asparaguslah yang harus bisa menjadi juru damainya. Semua demi kemaslahatan umat,” saran putra.

Menurut Lora Rodi, salah-satu penggagas, bahwa awal terbentuknya Asparagus ini di Kabupaten Jombang, lalu diilkuti didaerah-daerah lain “Di Kabupaten Banyuwangi juga sudah terbentuk, Untuk di Jember baru malam ini dilaunching,” ujarn Pengasuh Ponpes Al Azhar Muktisari, Sumbersari.

Adapun kegiatan yang akan dilakukan Para lora dan gus menurutnya, lebih diarahkan kepada kegiatan keagamaan, sosial dan kemasyarakatan. “Kami kumpul hanya ingin para Lora dan Gus ini bersatu dan berdiskusi untuk kemaslahatan umat, bukan kepentingan lain,” jelasnya. (Khoerus/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tegal, RMI NU, Nasional Hari Santri 2019

Sabtu, 14 Oktober 2017

Konfercab NU Yaman Terapkan Sistem Ahlul Halli wal Aqdi

Tarim, Hari Santri 2019. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman menerapkan sistem Ahlul Halli pada pemilihan pemimpin baru dalam Konferensi Cabang Istimewa Ke-3. Penentuan rais syuriah dan ketua tanfidhiyah dilakukan oleh tim formatur yang terdiri dari utusan beberapa organisasi di Yaman.

Tim formatur terdiri dari para ketua organisasi seperti PPI, AMI Al Ahgaff, FLP Yaman, dan organisasi kedaerahan seperti OPISI (Sumatera), Pajajaran (Jawa Barat & Banten), PPJJ (Jawa Tengah), Keramat Jatim, Fosmaya (Madura), dan Roudlotul Banjariyyin.

Sidang pleno yang dipimpin Rais Syuriah PCINU Yaman Nuril Izza Muzakki ini sebelumnya memunculkan dua kandidat rais Syuriah, yaitu Hasan Bashri Hayy dan Muhammad Gufron, dan dua kandidat ketua tanfidhiyah, yakni H M Thohir Uzt dan Abdul Rahman Malik.

Konfercab NU Yaman Terapkan Sistem Ahlul Halli wal Aqdi (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab NU Yaman Terapkan Sistem Ahlul Halli wal Aqdi (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab NU Yaman Terapkan Sistem Ahlul Halli wal Aqdi

Pemilihan yang diagendakan hanya 15 menit berjalan alot hingga molor sampai satu jam. Namun forum akhirnya memutuskan dan menetapkan Hasan Bashri Hayyi sebagai Rais Syuriah PCINU Yaman dan Abdul Rahman Malik sebagai Ketua Tanfidhiyah PCINU Yaman masa khidmah 2015-2016.

Hari Santri 2019

Pemilihan ketua yang digelar di Auditorium Kampus Universitas Al Ahgaff, Tarim, Rabu malam (11/15) waktu setempat itu berlangsung dalam sidang pleno ketiga. Sebelumnya telah dilaksanakan sidang laporan pertanggungjawaban (LPJ) pengurus demisioner dan sidang soal program PCINU ke depan.

Hari Santri 2019

"Laporan pertanggungjawaban merupakan hasil realisasi program selama satu periode berdasarkan lajnah dan lembaga yang ada di PCINU Yaman," tutur Nuril. Lajnah dan lembaga itu meliputi Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengemembangan Sumber Daya Manusia), LDNU (Lembaga Dakwah NU), LMI-NU (Lembaga Media dan Informasi NU), LTNNU (Lanjah Talif wa Nasyr NU) dan LBMNU (Lajnah Bahtsul Masail NU).

Acara pada malam itu disambung dengan peluncuran buku karya aktivis NU Yaman "Membumikan Maqashid Syariah" dan kitab "Mighnathisul Afrah fi Adiyatin Nikah". Acara semakin meriah dengan pengumuman pemenang Lomba Menulis Artikel Islam (LMAI) PCINU Yaman yang digelar sejak 30 Desember 2014. Hadiah berupa uang tunai, piagam penghargaan, dan buku “Wisata Religi di Negeri Para Wali” karya LTN-NU diberikan kepada tiga juara terbaik.

Rangkaian acara Konferensi Cabang Istimewa ini dimulai sejak Ahad (8/2) dengan agenda seminar tentang ISIS, bahtsul masail, diskusi panel, dan kuliah umum bersama KH Yunus Roichan. (Arman Malieky/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Quote, Nasional Hari Santri 2019

Kamis, 12 Oktober 2017

Akrab dengan Tuhan

Entah karena apa, pertemuan Gus Dur dan dengan Kiai Hasyim Muzadi berlangsung kaku, tak seperti sebelum-sebelumnya.

Untuk menyegarkan suasana, Pak Syairozi (saat itu Ketua PW LP Maarif NU Jatim) mulai memancing ger-geran. Ia menceritakan kisah mengenai "pujian" sebelum shalat subuh yang biasanya dibaca di langgar-nya KH. Imron Hamzah (Rais Syuriah PWNU Jatim era 1990-an), yang khas dan unik.

Akrab dengan Tuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Akrab dengan Tuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Akrab dengan Tuhan

Kalau biasanya di langgar atau masjid orang NU sebelum subuh dibacakan pujian "La Ilaha Illa Anta, Ya Hayyu Ya Qoyyum", tapi di langgar-nya Kiai Imron Hamzah pujiannya malah berbunyi, "La Ilaha Illa Ente, Ya Hayyu Ya Qoyyum".

Mendengar kisah dari Pak Syairozi, kedua tokoh NU itu langsung tergelak. "Wah, ternyata di sana warga NU sangat akrab dengan Tuhan. Buktinya, Tuhan saja dipanggil Ente!" celetuk Gus Dur.

Hari Santri 2019

Pancingan berhasil, suasana kembali cair. (Muhammad Nuh)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 News, Nasional, Sholawat Hari Santri 2019

Sabtu, 16 September 2017

MUI Ajak Umat Gelar Aksi Damai Tolak Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

 Jakarta, Hari Santri 2019 

Majelis Ulama Indonesia mengajak umat Islam dan umat agama lain untuk melakukan demonstrasi atau aksi damai secara besar-besaran terhadap keputusan Donald Trump yang menjadikan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. 

Demikian disampaikan Ketua MUI KH Maruf Amin pada Konferensi Pers di Gedung MUI, Jakarta Pusat, Selasa (12/12).

Demonstrasi sendiri akan dilakukan pada Minggu (17/12) di Monumen Nasional (Monas) dengan melibatkan berbagai organisasi sosial keagamaan Islam, majelis taklim, majelis dzikir, dan tokoh-tokoh dari agama lain. Selain itu, MUI juga akan mengundang perwakilan Duta Besar (Dubes) dari negara-negara luar. 

MUI Ajak Umat Gelar Aksi Damai Tolak Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Ajak Umat Gelar Aksi Damai Tolak Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Ajak Umat Gelar Aksi Damai Tolak Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

"Dan kita menganggap ini bukan semata-mata soal agama tapi soal politik, soal zionis, soal penjajahan. Karena Yerusalem itu sebenarnya tempat ibadah orang Islam, orang Kristen, orang Yahudi. Dan mereka selama ini melaksanakan ibadah tidak terjadi apa-apa," terang Kiai Maruf. 

Menurut Kiai Maruf, demonstrasi ini akan menyampaikan beberapa hal, terutama upaya mendapatkan dukungan seluruh dunia terhadap keabsahan terhadap negara Palestina. Selain itu, demonstrasi ini sebagai langkah menolak klaim sepihak Donald Trump yang menjadikan Yerusalem itu sebagai ibukota Israel.

Hari Santri 2019

Mengingat sikap klaim Donald Trump yang membuat berang umat Islam dan juga umat agama lain, Kiai Makruf pun akan mengusulkan kepada bangsa-bangsa di dunia untuk melakukan berbagai langkah, baik melakukan pemboikotan atau langkah lain yang berupa sanksi jika Donald Trump tidak mau menarik keputusannya. 

"(Ini) Sebagai rasa solidaritas dan keutuhan bangsa Indonesia, umat Islam dan juga agama-agama lain," pungkasnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Santri, Bahtsul Masail, Nasional Hari Santri 2019

Kamis, 03 Agustus 2017

Obama Akui ‘Berkah’ Gus Dur Antarkan Dirinya Jadi Presiden

Jakarta, Hari Santri 2019. Daerah Menteng Jakarta Pusat telah menghasilkan dua Presiden, KH Abdurrhman Wahid atau Gus Dur (Indonesia) dan Barack Obama (Amerika Serikat). Cerita tersebut mengawali obrolan Yenny Wahid dan Obama ketika keduanya bertemu di Jakarta, Sabtu (1/7) dalam acara Kongres Disapora Indonesia.

Obama Akui ‘Berkah’ Gus Dur Antarkan Dirinya Jadi Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
Obama Akui ‘Berkah’ Gus Dur Antarkan Dirinya Jadi Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

Obama Akui ‘Berkah’ Gus Dur Antarkan Dirinya Jadi Presiden

“Saya cerita ke Obama bahwa daerah Menteng sudah menghasilkan dua Presiden, Presiden Obama dan Presiden Gus Dur. Dua-duanya di masa kecil pernah tinggal di sana,” ujar Yenny Wahid (Direktur Eksekutif Wahid Foundation) saat dikonfirmasi Hari Santri 2019, Ahad (2/7).

Menanggapi putri kedua Gus Dur tersebut, lalu Obama yang dalam acara itu mengenakan kemeja putih dibalut jas dan celana berwarna abu-abu menjawab sambil berkelakar.

“Jangan-jangan itu karena faktor airnya,” kata Yenny menirukan Obama. Keduanya pun terkekeh.

Obama mengira, ‘berkah’ Gus Dur menjadi Presiden RI menular kepadanya karena air yang diminum sama-sama berasal dari daerah yang mereka tempati ketika kecil, Menteng. Tentu saja pengakuan ini hanya sebatas kelakarnya.

Hari Santri 2019

Gus Dur terpilih menjadi Presiden RI pada tahun 1999, sedangkan Obama pertama kali terpilih mempimpin AS pada 2008-2012 hingga dua periode pada 2012-2016.

Hari Santri 2019

Seperti diketahui, Gus Dur dan Obama ketika kecil tinggal di satu kawasan yang sama, Menteng dekat daerah Matraman. Jika rumah Gus Dur bercokol di nomor 8, Obama menempati rumah nomor 20.

Selain itu, kedua Presiden ini dibuatkan patung masa kecilnya dan dua-duanya dipajang di kawasan tersebut. Obama di bekas SD-nya dan Gus Dur dipajang di Taman Amir Hamzah, depan rumah masa kecilnya dulu. Tujuan kedua patung tersebut untuk memberi inspirasi bagi anak-anak Indonesia.

Dalam kunjungan ke Indonesia kali ini, Obama mendarat pada Jumat (23/6/2017) di Bali. Setelah mengunjungi beberapa objek wisata di Bali, dia beserta keluarga mendarat di Yogyakarta, lalu ke Jakarta dan bertemu Presiden Jokowi di Istana Bogor, Jawa Barat.

 

Terakhir, Obama memberikan pidato dalam Kongres Diaspora Indonesia pada Sabtu (1/7/2017) di The Hall Kasablanka Jakarta. Pidato Obama tentang nasionalisme, toleransi, dan respect mendapat sorotan dari sejumlah media internasional. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nasional Hari Santri 2019

Rabu, 21 Juni 2017

Masjid Agung Ar-Raudlah Kraksaan dari Masa ke Masa

Probolinggo, Hari Santri 2019. Berbicara Kota Kraksaan, tidak bisa mengabaikan Masjid Agung Ar-Raudlah. Masjid yang berada di barat alun-alun Kota Kraksaan itu merupakan ikon kota yang menandai betapa relegiusitas ibukota Kabupaten Probolinggo ini.

Masjid Agung Ar-Raudlah Kraksaan dari Masa ke Masa (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Agung Ar-Raudlah Kraksaan dari Masa ke Masa (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Agung Ar-Raudlah Kraksaan dari Masa ke Masa

Tidak ada yang mengetahui pasti kapan Masjid Agung Ar-Raudlah ini didirikan. Tidak ditemukan tanggal pastinya, tempat peribadatan umat Islam itu dibangun. Hanya saja dari penuturan yang disampaikan secara turun menurun, Masjid Agung ini Kraksaan dibangun sekitar tahun 1734 oleh KH Abdul Wahab. “Beliau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Ronggo,” ujar Ketua Takmir Masjid Agung Ar-Raudlah KH Sakdullah Asy’ari, Senin (15/9).

Kiai Ronggo adalah pendiri Kota Kraksaan. Ia tercatat sebagai pejabat bupati pada masa itu. Selain masjid, rumah dinas Camat Kraksaan dan alun-alun Kota Kraksaan merupakan peninggalannya. “Dulu hanya disebut Masjid Jamik atau masjid At-taqwa,” tuturnya.

Hari Santri 2019

Masjid yang berdiri megah saat ini bukan bentuk awal. Ia telah beberapa kali mengalami renovasi. Sejak 1960 masjid ? ini direnovasi hingga empat kali. Sementara bentuknya kini merupakan renovasi besar-besaran tahun 2000.

Hari Santri 2019

Dalam cacatan, masjid direvonasi antara tahun 1960 hingga 1966 ketika Ketua Takmirnya diemban oleh Habib Hasan bin Syech Abu Bakar. Perbaikan dilakukan karena beberapa bagian bangunan sudah lapuk dimakan usia.

Kemudian tahun 1971, Pemda Merenovasi masjid ini sesuai instruksi Bupati Probolinggo H Muhammad Ishaq. Sejak itu pula, para pejabat pemkab dan Muspida mulai turut serta melaksanakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha di masjid ini bersama masyarakat sekitar. “Waktu itu takmir masjid KH Muhammad Zubaidi,” terang Kiai Sakdullah.

Memasuki tahun 1981 renovasi berikutnya dilakukan dengan memperluas bangunan masjid saat bupatinya HR Soedirman Merto Adikusumo. Setelah direnovasi, masjid ini berganti nama menjadi Ar-Raudlah. Nama itu dipakai setelah hasil riyadhah dan istikharah takmir.

Pada tahun 2000, masjid yang terletak di jalan Rengganis nomor 1 Rt 01 Rw 02 kelurahan Patokan kota Kraksaan ini dirombak total. Arsitektur masjid yang bergaya modern kolonial berganti gaya baru arsitektur. “Sebagian besar biaya pembangunan ditanggung Pemkab Probolinggo. Ada juga sodaqah dan infaq kaum muslimin,” kata Kiai yang tinggal di kelurahan Kraksaan Wetan ini.

Perombakan total ini membawa konsekuensi tersendiri. Banyak ornamen dan bagian dari masjid tersebut diganti. Ada sebagian kecil yang tersisa, di antaranya penyangga utama dari kayu jati berukuran 6 x 6 meter persegi. Sedang ukuran ketebalan kayunya sekitar 60 X 40 cm.

Kemudian ada pula beduk kecil dan mihrab untuk khotib berkutbah. “Barang-barang tersebut diyakini sebagai peninggalan Kiai Ronggo,” ungkap Kiai Sakdullah.

Sekretaris Masjid Agung Ar-Raudlah HM Nurul Yakin menambahkan, Masjid Agung Ar-Raudlah berdiri di atas tanah wakaf seluas 3.560 meter persegi. Dengan luas bangunan mencapai 250 meter persegi, masjid ini dapat menampung sekitar 2.000 jamaah.

“Untuk biaya pengelolaan mencapai sekitar Rp. 15 juta per bulan yang didapat dari amal jariyah. Setiap Jumat, pendapatan amal jariyahnya mencapai Rp. 4 juta. Selain itu, masjid juga mempunyai tanah waqaf sawah seluas ? 6 hektar. Kami juga dibantu Pemkab Probolinggo,” kata Nurul Yakin.

Pada Agustus tahun 2014 lalu, masjid kebanggan warga Kraksaan ini meraih juara tiga Masjid Agung percontohan se-Jawa Timur. Yakin mengatakan, yang dinilai dalam lomba adalah kegiatan peribadatan dan menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat yang meliputi Idaroh, Imaroh, dan Ri’ayah.

Lomba yang dimenangkan di antaranya PHBI, giat Ramadhan, pengajian tafsir, kuliah subuh, pengajian rutin, tadarus Al-Qur’an, remaja masjid, perpustakaan, koperasi, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), dan sejumlah kegiatan kemasyarakatan. “Kami hanya kalah dari masjid agung Bondowoso dan masjid agung Lamongan,” ungkap Yakin.

Untuk ke depannya, takmir masjid berencana mengembangkan pos kesehatan masjid dan toko sembako murah bagi jamaah masjid. “Itu semua untuk kemakmuran jamaah,” tutur Yakin.

Sejak kantor Pemkab Probolinggo pindah ke Kota Kraksaan, jamaah masjid meningkat. Begitu pula dengan jamaah dari luar kota yang melakukan ziarah ke makam Kiai Ronggo. Meski makam Kiai Ronggo terletak di kelurahan Sidomukti Kota Kraksaan, banyak peziarah yang menyempatkan diri singgah di masjid agung ini.

“Di masjid ini terdapat sumur peninggalan pendiri Kota Kraksaan itu. Sumur ini diyakini memiliki khasiat mujarab untuk pengobatan. Peziarah banyak berkunjung untuk mengambil air di sumur ini terutama pada Jumat Legi dini hari,” ujar Yakin, pria asal desa Rangkang Kota Kraksaan. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Ahlussunnah, Nasional Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock