Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII

(Surat Terbuka untuk Ketua Umum PB PMII 2005-2008)

Oleh: Kholilul Rohman Ahmad*


Muktamar ke-2 Partai Kebangkitan Bangsa di Semarang bulan lalu menjadi salah satu ruang strategis untuk mengkaji dinamika kontemporer gerakan mahasiswa di bawah payung Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dalam even nasional itu terjadi interaksi warga PMII antar generasi. Dunia mahasiswa yang penuh dengan idealisme ternyata tidak kemudian menanggalkan minat dalam hiruk pikuk politik praktis. Hal ini mungkin lantaran beberapa alumni PMII yang sudah menjadi politisi di Senayan sebagai wakil rakyat dari berbagai partai politik ikut nimbrung dalam pesona nostalgis itu. Tak pelak, di tengah perhelatan itu PMII memanfaatkan menggelar acara temu warga dan alumni.

Tak ayal dalam forum informal itu muncul pertanyaan tentang siapa yang dinilai kuat menjadi ketua Umum Pengurus Besar PMII menggantikan sahabat A Malik Haramain yang akan habis jabatan. “Siapa yang kira-kira kuat menggantikan Malik,” tanya salah seorang warga PMII. Tiba-tiba warga lain spontan nyelethuk: “Tergantung siapa nanti yang jadi ketua PKB.” Entah jawaban spontan itu guyonan  atau serius. Penulis husnudzon saja dengan jawaban itu dan menilainya sebagai guyonan  tanpa tendensi apa-apa. Namun penulis menangkap di balik jawaban itu tersimpan kenyataan politik bahwa di tubuh PMII telah ada yang beberapa warganya yang terkontaminasi “virus” politik praktis. Atau jawaban itu dapat ditangkap sebagai penanda bahwa realitas politik praktis telah merambah di dunia pergerakan mahasiswa.

Celethukan itu dapat diartikan dengan dua analisa. Pertama, memang sebagai guyonan. Dalam arti hal itu tidak perlu dianggap serius, terlebih ia muncul di tengah gelak tawa dan ketimpangan nasib beberapa alumni yang berhasil menjadi politisi dan tidak. Kedua, bisa jadi suara itu memang representrasi atas kenyataan yang tengah terjadi di tubuh PMII(?). Jika yang pertama menjadi kenyataan, tentu tak jadi soal. Namun jika yang kedua yang tengah menjangkiti PMII, harus dimaknai sebagai refleksi bahwa selama ini gerakan intelektualitas PMII sedang mengalami krisis.

Oleh sebab itu, jika dalam pasca kongres ke-XV ini tidak ada upaya merevitalisasi PMII kepada khittah-nya sebagai organ pergerakan mahasiswa bersama rakyat, tidak ada upaya serius mengembalikan ruh PMII sebagai pendamping rakyat, maka tamatlah riwayat PMII sebagai gerbong gerakan mahasiswa yang gagasannya selama ini dinilai senantiasa konsisten di jalur politik non partisan alias selalu berpihak kepada nasib rakyat.

Harus diakui dewasa ini, setidaknya sejak reformasi bergulir tahun 1998, kiprah PMII sebagai organ mahasiswa sejati banyak dipertanyakan, baik oleh sesama aktivis mahasiswa maupun di kalangan internal PMII sendiri. Pasalnya kecenderungan yang cukup mewabah bahwa, misalnya, seorang kader untuk bisa menjadi “orang” harus mempunyai patron yang kuat di atasnya, baik politisi senior maupun pengusaha. Seolah untuk sukses meniti karir pasca mahasiswa harus melewati jalur politik patronase seperti jaman Orde Baru. Padahal sesungguhnya dunia mahasiswa harus meninggalkan sistem patronase seperti itu karena yang lebih kuat untuk dijadikan patron adalah rakyat.

Namun kenyataan ini tak bisa disalahkan pada salah satu pihak. Sebab kenyataan politik yang menggairahkan bagi siapapun untuk cepat meniti karir juga menjangkiti organisasi mahasiswa pada umumnya. Meskipun demikian bukan berarti di dunia pergerakan mahasiswa semuanya berperilaku seperti itu.

Yogyakarta sebagai sentral pergerakan PMII sepuluh tahun silam, dalam lima tahun belakangan telah kehilangan ruhnya. Kader-kader yang sering mewarnai media massa dengan artikel-artikel kritisnya, misalnya, telah banyak mengalami kemunduran dari segi kuantitas dan kualitas. Bahkan kota-kota lain lebih sibuk bagaimana warga PMII menjadi patron alumni atau “orang kuat lain” yang sedang menjadi pejabat eksekutif maupun legislatif. Padahal menjadi kewajiban bagi PMII untuk tetap konsisten memposisikan dirinya sebagai insan kreatif di tengDari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Halaqoh, Kajian Hari Santri 2019

Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII

Selasa, 06 Februari 2018

Penghapal Al-Quran Se-Tawangharjo Gelar Semaan

Grobogan, Hari Santri 2019. Sejumlah komunitas hafidz hafidzah Nahdlatul ‘Ulama yang tegabung dalam Ikatan Persaudaraan Qori’ Qori’ah Hafidz Hafidzah (IPQOH) se-kecamatan Tawangharjo kabupaten Grobogan, Jawa Tengah melantunkan ayat demi ayat di luar kepala, Ahad (1/12).

Penghapal Al-Quran Se-Tawangharjo Gelar Semaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Penghapal Al-Quran Se-Tawangharjo Gelar Semaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Penghapal Al-Quran Se-Tawangharjo Gelar Semaan

Partisipasi masyarakat sangat tinggi. Mereka ikut menyimak ayat demi ayat al-quran yang dibacakan oleh para hafidz hafidzah. Semaan bertempat di desa Plumpungan kecamatan Tawangharjo.

“Tiap 3  bulan sekali (triwulan) kegiatan sima’atul qur’an seperti ini kita adakan. Dan alhamdulillah sudah berjalan selama 3 tahun” terang Ketua IPQOH Kiai Muhsan.

Hari Santri 2019

Salah seorang anggota IPQOH ustadz Solihin mengatakan, walaupun rumah jauh, saya berusaha untuk meluangkan waktu untuk bisa hadir dalam agenda acara seperti ini. Selain sebagai media syiar ke desa-desa, saya bisa silaturrahim dengan para hafidz yang lain dan juga masyarakat sekitar.

Supaya tidak terjadi ikhtilath (campu baur) antara lelaki dan wanita dalam satu majlis maka sebisa mungkin dipisahkan agar tidak terjadi fitnah Sehingga Jamaah Lelaki bertempat di masjid Darussalam desa Plumpungan. Sedangkan wanita menggelar semaan di kediaman Nyai Faila Sifa Sholihah, samping masjid Darussalam.

Hari Santri 2019

Di pengujung acara, ditutup tahlil yang dipimpin oleh Kiai Muhsan yang kemudian dilanjutkan do’a oleh Kiai Rifa’i Zuhdi. (Asnawi L/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Internasional, Kajian Hari Santri 2019

Jumat, 02 Februari 2018

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU

Sidoarjo, Hari Santri 2019,?

Sebanyak 35 kader penggerak Nahdatul Ulama yang berasal dari Majlis Wakil Cabang (MWCNU), Lembaga dan Banom mengikuti Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) yang diselenggarakan PCNU Sidoarjo . Kegiatan dilaksanakan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hamdaniyah, Siwalan Panji sejak Jumat 28 Februari hingga Minggu 2 Maret hari ini.?

Menurut Panitia Pelaksana, Aris Karomay, acara yang dihadiri oleh Wakil Ketua PBNU KH. Dr. As’ad Ali itu bertujuan membekali kader NU dengan berbagai wawasan ke-Aswajaan dan ideologi gerakan.?

“Diharapkan setelah mengikuti pendidikan tersebut peserta punya bekal untuk menggerakkan organisasi di lingkungannya sesuai dengan Khittoh NU,” ujar Gus Aris.

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi, 35 Peserta Ikuti PKPNU

Sebelumnya, ? panitia melakukan seleksi terhadap 49 peserta yang terdaftar melalui Test Screening secara tertulis dan interview. Alasan panitia melakukan seleksi tersebut karena banyak peserta yang berminat mengikuti pelatihan, disamping itu untuk mengetahui sejauh mana kemampuan peserta PKPNU mengetahui dan memahami tentang organisasi NU.

Dikatakan, panitia sengaja memilih tempat di Ponpes Panji (sebutan lain Ponpes Al-Hamdaniyah) karena mempunyai nilai sejarah besar bagi NU sebagai tempat Rois Akbar NU KH. Hasyim Asya’ri menimba ilmu agama. Bahkan di tempat tersebut masih terdapat kamar Mbah Hasyim yang masih dirawat oleh para santri secara turun temurun.

Hari Santri 2019

”Mudah-mudahan dari tempat ini (ponpes red;), akan melahirkan kader-kader penggerak NU yang mempunyai semangat seperti Mbah Hasyim," tambah Gus Aris.

Sementara itu, Wakil Ketua PBNU, Dr. Asad Ali berharap kepada para kader NU untuk serius belajar dan menambah pengetahuan. "Kader NU diharapkan bisa menguasai semua bidang Ilmu pengetahuan dan Teknologi, agar cita-cita besar NU dapat tercapai," jelasnya. [Aw Avendi Anwar/Mahbib]

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Kajian, AlaSantri Hari Santri 2019

Jumat, 26 Januari 2018

Sikap PBNU soal Kebijakan Penenggelaman Kapal oleh Menteri Susi

Jakarta, Hari Santri 2019. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Robikin Emhas mengatakan, tindakan penenggelaman kapal pencuri ikan yang dilakukan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Susi Pudjiastusi harus dinilai sebagai upaya pemerintah untuk menjaga kedaulatan Indonesia di bidang kelautan dan perikanan. 

Menurutnya, tindakan Menteri Susi tidak bisa dianggap sebagai bentuk pelanggaran hukum karena fungsi pemerintah di antaranya menjaga kedaulatan negara, salah satunya di bidang kelautan. 

Sikap PBNU soal Kebijakan Penenggelaman Kapal oleh Menteri Susi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sikap PBNU soal Kebijakan Penenggelaman Kapal oleh Menteri Susi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sikap PBNU soal Kebijakan Penenggelaman Kapal oleh Menteri Susi

"Dari data yang ada, pencurian kekayaan laut kita itu luar biasa tinggi," katanya di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (10/1). 

Oleh karena itu, kata Robikin, jika tindakan pembakaran dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan peringatan dan efek jera terhadap pihak asing yang melakukan pencurian ikan di laut Indonesia, maka hal tersebut (penenggelaman kapal, red) bisa dimaklumi.

Namun demikian, katanya melanjutkan, jenis hukuman penenggelaman kapal pencuri ikan di laut Indonesia ini cocok hanya untuk situasi tertentu.

Hari Santri 2019

Ketika efek berupa rasa takut itu sudah dicapai, kemudian terjadi pengurangan pencurian ikan secara signifikan, maka lebih baik gunakan cara-cara lain yang lebih bagus. 

"Saya kira bagus kalau ada gagasan dan kemudian kapal-kapal itu di proses saja dan kemudian kapal itu bisa disita dan kemudian dibagikan ke kelompok-kelompok nelayan," ujar alumnus Pesantren Miftahul Huda Gading, Malang ini. 

Menurutnya, pemerintah tinggal menerapkan hukum berupa perampasan terhadap kapal yang melanggar melalui mekanisme yang tersedia. "Dan pada akhirnya kapal dibagikan kepada nelayan. Saya kira itu jauh lebih bermanfaat," jelasnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Bahtsul Masail, Kajian Hari Santri 2019

Kamis, 25 Januari 2018

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran

Jember, Hari Santri 2019. Konflik berujung bentrokan berdarah di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Jember  yang mengakibatkan satu orang meninggal, mendapat perhatian dari Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH. Mutawakkil Alallah. 

Pengasuh Pesantren Genggong, Kraksaan, Probolingo ini langsung mengunjungi rumah duka di Puger Kulon, Kamis dini hari (12/9). Diantar Sekretaris PCNU Jember, KH. Misbahussalam, Kiai  Mutawakkil, menyatakan ikut berbela sungkawa. Selain itu ia sempat menggelar tahlilan di rumah duka. 

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran

Tidak banyak keterangan yang keluar dari lisan sang Kiai Mutawakkil, kecuali hanya himbauan agar semua pihak tenang dan tidak terpancing provokasi serta tidak boleh dendam. “Tidak perlu dendam. Tapi ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak, termasuk kepolisian,” tukasnya kepada sejumlah wartawan di Puger. 

Di tempat yang sama, KH. Misbahussalam  menyatakan bahwa PCNU Jember akan segera mengadakan rapat untuk mencari jalan keluar dari perseteruan yang telah berlangsung cukup lama itu. 

Hari Santri 2019

Menurutnya, bentrokan itu bisa dihindari jika masing-masing pihak bisa menahan diri dan tidak terprovokasi satu sama lain. “Kuncinya saling menghormati satu sama lain. Masak dengan sesama Islam tidak rukun. Wong dengan umat nonmuslim kita damai,” ujarnya. 

Kiai Misbah menambahkan, aroma bentrokan itu sebenarnya sudah tercium beberapa hari sebelum kejadian. Sebab, salah satu pihak, mengajukan izin kepada aparat untuk menggelar karnaval. Namun aparat tidak memberikan izin karena khawatir ditolak atau mendapat perlawanan dari kelompok yang kontra syi’ah. 

Hari Santri 2019

“Tapi nyatanya mereka ngotot karnaval, bahkan barikade polisi diterobos. Akhirnya terjadilah peristiwa itu,” tukasnya. 

Sementara itu, MUI Jember masih terus mengadakan pendalaman terhadap kasus itu. Menurut Wakil Ketua MUI Jember,  KH Abdullah Syamsul Arifin,  pihaknya masih mencari tahu secara detil penyebab timbulnya kerusuhan berdarah itu. “Apakah ini murni konflik internal (di Puger), ataukah memang jangan-jangan ada intervensi dan provokasi dari luar," katanya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Sunnah, Kajian Hari Santri 2019

Sabtu, 20 Januari 2018

Urgen, Amaliah NU Dibukukan dengan Argumen Ilmiah

Surabaya,Hari Santri 2019. Sebagai organisasi sosial kegamaan terbesar di tanah air bahkan di dunia, Nahdlatul Ulama harus meningkatkan kewaspadaan dengan banyaknya aliran yang bertentangan dengan manhaj NU. Tak hanya itu, mereka gencar memojokkan berbagai amaliah NU.

Menurut Rais PCNU Jember, Jawa Timur KH Muhyyiddin Abdusshomad kalangan tersebut sudah berani mengkafirkan bahkan membunuh mereka yang dianggap sesat. “Sekarang mereka berada di sekeliling kita," katanya ketika tampil sebagai pemateri pada acara Daurah Aswaja Nasional yang diselenggarakan PW Aswaja NU Center Jatim, Kamis (25/12).

Urgen, Amaliah NU Dibukukan dengan Argumen Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Urgen, Amaliah NU Dibukukan dengan Argumen Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Urgen, Amaliah NU Dibukukan dengan Argumen Ilmiah

Melihat kenyataan ini, kiai yang juga sebagai pengasuh Pondok Pesantren Nuris Jember ini mengingatkan peserta untuk tidak mengangap remeh persoalan ini. "Kita harus memikirkan bagaimana melawan dengan argumentasi dan memahami NU secara mendalam," kata Kiai Muhyidin. Bukan hanya memahami NU dalam tataran luar atau kulit saja, namun juga esensi dari ajaran dan amaliah yang selama ini dijalankan secara teguh kalangan NU.

Hari Santri 2019

"Lawan kita ini sudah pakai rudal, sedangkan kita masih memakai ketapel, bila kita tidak segera berkemas, kita akan sangat mudah dihancurkan," tandas Kiai Muhyiddin.

Dalam pandangannya, kelemahan NU sekarang ada di bidang kepenulisan. Karena ajaran-ajaran NU dan berikut amaliah yang telah mentradisi hanya dijalankan melalui warisan keturunan dan budaya setempat, dan sangat jarang yang menuliskannya dalam sebuah naskah akademis. Padahal menuliskan landasan hukum atas amalan yang telah mendarah dan mendaging tersebut sangat mendesak untuk dilakukan.

Hari Santri 2019

Karena dengan menuliskan argumentasi amaliyah tersebut sangat penting untuk menangkal pandangan kalangan yang menkafirkan. "Dengan buku pegangan tersebut nantinya akan dengan mudah mematahkan berbagai tuduhan kalangan yang membidahkan atau mengkafirkan amaliyah warga NU," katanya.

Sebagai ilustrasi, Kiai Muhyiddin mempersilahkan peserta untuk melakukan pengecekan sejumlah buku Wahabi yang beredar di sejumlah toko buku kenamaan. "Coba kita lihat misalnya buku-buku yang dibuat oleh kalangan Wahabi, sekarang banyak terpajang di toko-toko buku bertaraf  nasional seperti Togamas, Gramedia dan toko-toko lain," katanya dengan mimik serius. Baginya, hal ini sebagai bukti bahwa kalangan NU telah ketinggalan start, lanjutnya.

Lebih lanjut, Kiai Muhyiddin mengingatkan kepada seluruh peserta untuk menjadi pioner  di daerahnya masing-masing baik dengan menulis maupun dakwah bil lisan dan bila mampu mendirikan percetakan yang khusus mencetak buku-buku seputar NU.

Jumlah penerbit buku di NU, lanjut dia, sangat jarang bila dibandingkan dengan kelompok yang berseberangan. NU, masih mencoba merintis penerbitan. “Kalau sudah besar sering konflik dan bubar," katanya yang disambut tawa peserta.

Untuk itu, Kiai Muhyiddin berpesan kepada seluruh kalangan untuk bangkit mengawal Aswaja NU. Kebangkitan ini harus diawali dari generasi muda yang notabene sebagai kader penerus. "Sehingga ke depan Aswaja NU tetap berdiri tegak di bumi Nusantara," ungkapnya.

Di akhir sesi penyampaian materi, Kiai Muhyiddin membagikan beberapa tips yang harus dijalankan untuk membentengi NU yang di antaranya;  pertama, memperluas dan memperdalam pengetahuan tentang Aswaja serta meningkatkan penghayatan dan pengamalannya juga mensosialisasikannya kepada umat. Kedua, Meningkatkan keluhuran citra ajaran Ahlussunnah wal Jamaah dengan meningkatkan mutu pelaksanaan.

Ketiga, membuktikan keunggulan ajaran Aswaja dengan memperbanyak membaca dan mengkaji Kutub al-Turats. Bermusyawarah serta berdiskusi untuk menjawab persoalan yang muncul, kemudian menjadikan ajaran Aswaja sebagai solusi. Dan terakhir, perlu adanya pembagian tugas yang jelas di antara kader NU yang bertugas di wilayah politik praktis dan yang menjadi pengayom umat. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Kajian Hari Santri 2019

Rabu, 17 Januari 2018

Pengurus 14 Ranting NU di Kecamatan Dringu Dilantik Berjamaah

Probolinggo, Hari Santri 2019. Sebanyak 56 orang pengurus dari 14 Ranting NU se-Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo dilantik bersamaan, Ahad (29/1). Pelantikan ini dipimpin oleh Wakil Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo H Taufiqus Sholeh.

Pelantikan yang dilaksanakan di MTs Darul Ulum Desa Ngepoh Kecamatan Dringu ini dihadiri oleh Rais PCNU Kabupaten Probolinggo KH Jamaluddin al Hariri dan jajaran pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo, pengurus MWCNU Dringu baik jajaran lembaga maupun badan otonom (banom), Forkopimka Dringu serta tokoh agama dan tokoh masyarakat se-Kecamatan Dringu.

Pengurus 14 Ranting NU di Kecamatan Dringu Dilantik Berjamaah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus 14 Ranting NU di Kecamatan Dringu Dilantik Berjamaah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus 14 Ranting NU di Kecamatan Dringu Dilantik Berjamaah

Dalam kesempatan tersebut H Taufiqus Sholeh memberikan motivasi kepada segenap pengurus Ranting NU yang baru saja dilantik. Pengurus NU diminta agar bisa menumbuhkan kembali kecintaan pada Negara dan menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Sebagai warga NU, pengurus NU harus bisa menumbuhkan rasa cintanya kepada NU. Sebab jika sudah ada rasa cinta, maka pengurus akan mampu menjalankan roda organisasi dengan baik,” katanya.

Sementara Rais PCNU Kabupaten Probolinggo KH Jamaluddin al Hariri menyampaikan bahwa perjuangan harus selalu dilandasi dengan keikhlasan sebagaimana hal yang dilakukan oleh Rais Akbar PBNU Hadratus Syekh KH Hasyim Ashari.

Hari Santri 2019

“Contohnya dengan mengamalkan nilai-nilai dari Pancasila sebagai mana keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-27 di Situbondo tahun 1984 yaitu kembali ke khittah NU,” ungkapnya.

Hari Santri 2019

Usai dilantik, para pengurus Ranting NU se-MWCNU Kecamatan Dringu tersebut akan segera menjalankan program kerjanya masing-masing demi memberikan manfaat kepada masyarakat. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian, Lomba Hari Santri 2019

Senin, 15 Januari 2018

Peserta FSR Ini Optimis Juara, Hafal Aqidatul Awam Secara Kilat

Jombang, Hari Santri 2019 

Salah satu peserta Festival Sastra Religi (FSR) 2017, Ahmad Miftahus Sudur mengaku optimis akan mejuarai jenis lomba musabaqah hifdin nadhom Aqidatul Awam.

Semua ndhom Aqidatul Awam telah dikuasai dengan sempurna. Bahkan, santri delegasi dari Pesantren Ngalah Pasuruan ini mengaku tak butuh waktu lama untuk menghafal dan menguasai nadhom kitab Aqidatul Awam itu. 

Peserta FSR Ini Optimis Juara, Hafal Aqidatul Awam Secara Kilat (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta FSR Ini Optimis Juara, Hafal Aqidatul Awam Secara Kilat (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta FSR Ini Optimis Juara, Hafal Aqidatul Awam Secara Kilat

"Alhamdulillah sudah hafal semua mas. Saya ngafalin nadhom kitab Aqidatul Awam itu hanya satu mingguan tapi alhamdulillah hafal," katanya, Jumat (13/10).

Informasi terkait FSR 2017 yang dihelat Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar, Jombang ini diakuinya cukup mendadak. Hingga persiapan yang dilakukan para santri Pesantren Ngalah Pasuruan itu, kata Miftahus Sudur, harus ekstra.

Hari Santri 2019

Meski begitu, Miftahus Sudur menyatakan, delegasi santri dari pondoknya cukup banyak. Tiap-tiap dari mereka, lanjutnya, sudah siap berkompetisi di ajang bergengsi ini.

"Ada sekitar 12 santri dari pesantren kami. Mereka semua mempersiapkan segala sesuatunya dengan ekstra," beber dia.

Hari Santri 2019

Sebgaimana diberitakan sebelumnya, kegiatan Festival Sastra Religi 2017 ini diikuti oleh 1.384 santri dari 357 pesantren se-Jawa Timur.

"Total peserta sebanyak 1.384 santri, dari santri putra 790 dan putri 594 dari 357 pondok pesantren se-Jawa Timur," kata Koordinator Panitia Wilayah Jawa Timur, M. Subaidi Mukhtar.

Ia menjelaskan, FSR kali ini ada tiga kategori (marhalah), yakni marhalah ula, marhalah wustho dan marhalah ulya. Sementara jenis yang dilombakan adalah Qiroatul Kutub dan Hifdin Nadham.

"Beberapa kitab yang harus dibaca dan nadham yang dihafalkan peserta diantaranya Aqidatul Awam, Fathul Qarib, Ihya Ulumuddin, Imriti, Alfiyah dan Tafsir Jalalain," imbuh Wakil Ketua DPRD Jombang ini. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian Hari Santri 2019

Rabu, 10 Januari 2018

Soal IT Registrasi, Ini Penjelasan Panitia Muktamar NU

Jombang, Hari Santri 2019. Mengikuti perkembangan teknologi, pada Muktamar Ke-33 NU ini, Panitia menggunakan sistem IT/online untuk proses registrasi. Lewat web muktamar.nu.or.id, panitia menyediakan formulir online dimana calon peserta (PCNU/PWNU), media dan peninjau bisa melakukan pendaftaran online.

Soal IT Registrasi, Ini Penjelasan Panitia Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal IT Registrasi, Ini Penjelasan Panitia Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal IT Registrasi, Ini Penjelasan Panitia Muktamar NU

Media dan peninjau banyak yang mengajukan aplikasi secara online, tapi PC dan PW hanya sedikit yang mengajukan pendafataran secara online. Oleh karenanya, ID Card peserta yang bisa diproses sebelum muktamar jumlahnya tidak terlalu banyak.

“Hal itu berimbas pada riuhnya pendaftaran di ruang registrasi yang bertempat di GOR Jombang. Ribuan peserta antri penuh sesak untuk bisa mendaftarkan diri dan rombongannya,” jelas Ketua Panitia Nasional Muktamar Ke-33 NU, H Imam Aziz lewat rilis yang diterima Hari Santri 2019, Ahad, (2/8) di Jombang.

Hari Santri 2019

Namun karena sesuatu hal, lanjutnya, sistem IT registrasi sempat mengalami down sehingga mengganggu proses registrasi. Beberapa kali sistem mengalami gangguan yang berimbas pada lambatnya tim registrasi dalam memproses pengajuan calon peserta, yang membuat suasana sedikit tidak kondusif.

Imam Aziz menerankan, Problem IT akhirnya bisa ditangani, namun persoalan tak lantas otomatis teratasi. Proses pendaftaran tetap relatif lambat, yang bersumber dari kurangnya jumlah peralatan, yaitu printer dan alat laminating ID Card.?

Hari Santri 2019

Pengajuan ID Card di luar peserta, yaitu media dan peninjau di luar dugaan kami. Maka dampaknya antrian sangat lama, berjejalan dan secara psikologis mengganggu muktamirin.

Oleh karenanya, imbuh Imam, mengingat kekurangsiapan yang dilakukan panitia, kami:

1. Meminta maaf atas ketidaknyamanan muktamirin dalam melakukan proses registrasi.

2. Akan tetap melayani pendaftaran hingga tuntas sehingga memastikan seluruh peserta teregistrasi dan mendapatkan ID card. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nasional, Kajian Hari Santri 2019

Kamis, 28 Desember 2017

Berkontribusi untuk NU dengan Gerakan Nyata

Way Kanan, Hari Santri 2019 ?

Kontribusi rencana dan gerakan ekonomi yang nyata diperlukan untuk menunjang kemandirian warga Nahdlatul Ulama (NU). Demikian disampaikan kiai muda pengamal Shalawat Jibriliyah Way Kanan, Lampung, Muhammad Syahri Attamim AH, di Blambangan Umpu, Senin (4/7).

Berkontribusi untuk NU dengan Gerakan Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkontribusi untuk NU dengan Gerakan Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkontribusi untuk NU dengan Gerakan Nyata

"Saya tahu Ansor sudah lama, tapi untuk menjalin kerjasama ekonomi baru terjalin baru-baru ini. Saya sepakat warga NU dididik untuk belajar berwirausaha karena itu sangat penting," paparnya.

Pendidikan dan pendampingan ekonomi dapat menjadi inspirasi. "Tapi awal belajar jangan membahas hasil dulu, baru nanti kalau sudah berjalan sendiri bisa lebih berkembang," katanya lagi.

Syahri menilai baik, upaya gerakan dan pendampingan ekonomi seperti penjualan madu, bekam, sebagaimana dilakukan Pemuda Ansor Way Kanan.

"Jalin terus silaturahmi dengan kiai-kiai, ustadz-ustadz, dan komunitas. Dari situ bertambah jaringan, kemudian berkomunikasi membahas bagaimana arah ke depan saling mendukung. Saya pribadi dan kiai tentu akan mendukung Ansor sebagai putranya NU," katanya lagi.

Hari Santri 2019

Ia mengapresiasi gerakan kewirausahaan "halal" atau hijamah/bekam sambil beramal. "Pelaksanaan kegiatan bekam juga bisa dilakukan bergilir ke daerah-daerah lain, misalnya beberapa waktu lalu di Kecamatan Blambangan Umpu, terus ke kecamatan yang lain. Saya berharap Ansor Way Kanan terus bergerak, memberikan masukan-masukan mengenai wirausaha karena memang sangat bermanfaat," pungkasnya. (Disisi Saidi Fatah/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Tinggalkan Tiga Kali Jumat Jadi Kafir?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Yang terhormat redaksi Bahtsul Masail Hari Santri 2019. Lelaki yang tidak sholat Jumat tiga kali dihukumi kafir. Jika orang itu sholat apakah sah? Jika ia membaca syahadat, apakah Islam kembali. Mohon keterangannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Bagus Alvi).

Jawaban

Tinggalkan Tiga Kali Jumat Jadi Kafir? (Sumber Gambar : Nu Online)
Tinggalkan Tiga Kali Jumat Jadi Kafir? (Sumber Gambar : Nu Online)

Tinggalkan Tiga Kali Jumat Jadi Kafir?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan petunjuk-Nya untuk kita semua. Jumat merupakan hari ied mingguan bagi umat Islam. Sementara sembahyang Jumat merupakan sebuah kewajiban bagi mereka yang menjadi ahli Jumat seperti laki-laki, sehat, aqil, baligh, penduduk setempat, dan seterusnya sebagaimana diatur dalam kitab fikih.

Hari Santri 2019

Kewajiban sembahyang Jumat sangat kuat. Karena banyak sekali keutamaan di dalamnya. Bahkan sembahyang Jumat disinggung secara khusus dan diabadikan dalam Al-Quran pada surat Al-Jumuah.

Adapun status kufur-nifaq yang disematkan kepada mereka yang meninggalkan sembahyang Jumat tiga kali berturut-turut didasarkan pada sebuah hadits Rasulullah SAW bahwa mereka yang meninggalkan Jumat sebanyak tiga kali akan dicatat sebagai kalangan munafiq.

Hari Santri 2019

Tetapi apakah munafiq yang dimaksud ini adalah munafiq-kafir sebagaimana sebagian penduduk Madinah dan sekitarnya di zaman Rasulullah SAW atau sekadar munafiq-praktis? Ada baiknya kita melihat keterangan Al-Munawi perihal hadits tersebut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “(Siapa saja yang meninggalkan tiga Jumat tanpa udzur, maka ia akan dicatat sebagai kalangan orang-orang munafik) munafik yang dimaksud adalah kemunafikan dalam bentuk perbuatan, (bukan keyakinan). Penulis Fathul Qadir menyebutkan, sahabat-sahabat kami menyatakan bahwa shalat Jumat adalah kewajiban bahkan lebih wajib dari sembahyang Zuhur. Mereka juga menyatakan bahwa orang yang mengingkari kewajibannya menjadi kafir,” (Lihat Abdurrauf Al-Munawi, Faidhul Qadir, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, tahun 14-15 H/1994 M, juz 6, halaman 33).

Dari keterangan Al-Munawi, kita menyimpulkan bahwa sifat kemunafikan terbagi sedikitnya atas dua jenis, pertama munafik keyakinan (mereka yang memang tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya seperti banyak orang Madinah di masa Rasulullah SAW yang kerap disinggung Al-Quran); kedua munafik perbuatan (mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan rasul-Nya, hanya saja kerap melanggar agama seperti berbohong, berkhianat, melanggar janji). Mereka yang meninggalkan Jumat tiga kali itu termasuk dalam kategori kemunafikan jenis kedua.

Dengan demikian, mereka yang meninggalkan sembahyang Jumat tidak keluar dari Islam. Artinya ia tidak perlu membaca syahadat kembali sebagai pernyataan masuk Islamnya. Hanya saja ia harus bertobat kepada Allah dan beritikad kuat di dalam untuk tidak mengulangi kesalahannya. Meninggalkan sembahyang Jumat termasuk salah satu dosa besar. Karenanya agama Islam sangat mengecam keras orang-orang yang meninggalkan sembahyang Jumat tanpa ada uzur syar’i.

Merujuk pada pandangan Ahlussunnah wal Jamaah, orang beriman yang terjebak dalam dosa kecil maupun besar (misalnya meninggalkan sembahyang Jumat) tetap dihukumkan sebagai seorang yang beriman. Artinya, kalau orang seperti ini meninggal dunia, kita yang masih hidup tetap berkewajiban mengurus jenazahnya dari “a” sampai “z” seperti keterangan Syekh Al-Baijuri dalam Jauharatut Tauhid berikut ini.

? ? ?  ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ? ? ? ? ?)

Artinya, “(Kita tidak boleh mengafirkan orang lain yang seiman karena sebuah dosa), ini rincian atas penjelasan sebelumnya. Kalau dibaca dengan ‘nun’, maka artinya ‘Kita sebagai penganut Ahlussunah tidak mengafirkan orang lain.’ Kalau dibaca dengan ‘ta’, maka artinya, ‘Kamu tidak boleh mengafirkan orang lain yang seiman karena ia telah berdosa baik dosa kecil maupun dosa besar, baik ia menyadari maupun tidak menyadari bahwa itu adalah dosa.’ Tentu dengan catatan bahwa dosa itu bukan termasuk dosa yang menyebabkannya menjadi kufur seperti pengingkaran atas pengetahuan Allah terhadap hal-hal yang kecil. Kalau seseorang mengingkari itu, maka ia jatuh ke dalam kekufuran. Di samping itu ia juga tidak menghalalkan larangan Allah yang sangat maklum dalam agama seperti larangan zina. Kalau seseorang menganggap halal larangan seperti itu, maka ia telah kufur karena telah menganggap halal larangan yang hukumnya sudah terang. Ahlusunnah berbeda dengan kelompok Khawarij. Khawarij mengafirkan orang seiman yang berbuat dosa dan mereka menganggap semua dosa itu sebagai dosa besar. (Orang beriman yang meninggal dunia sementara ia belum sempat bertobat, maka [kita] serahkan saja kepada Allah),” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabaiyah, tanpa tahun, halaman 112).

Saran kami, kita sebaiknya lebih bersemangat dalam sembahyang Jumat karena selain kewajiban, di dalamnya juga terdapat banyak keutamaan. Selagi tidak ada uzur yang memberatkan, sebaiknya kita menunaikan kewajiban sembahyang Jumat.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nasional, Kajian Hari Santri 2019

Minggu, 24 Desember 2017

Mendes: Kiai Kampung Miliki Peran Strategis Membangun Desa

Palembang, Hari Santri 2019. Peran kiai kampung dan? tokoh NU di pedesaan sangat dibutuhkan untuk turut serta mendorong kebijakan terkait pembangunan desa agar bisa berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Mendes: Kiai Kampung Miliki Peran Strategis Membangun Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes: Kiai Kampung Miliki Peran Strategis Membangun Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes: Kiai Kampung Miliki Peran Strategis Membangun Desa

Demikian disampaikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar saat memberikan sambutan di depan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (28/3).

?

"Kiai-kiai kampung bisa melakukan peran itu, karena selama kiai-kiai kampung secara informal telah berperan sebagai pemimpin dan tokoh panutan bagi masyarakat sekitarnya," tandasnya.

Hari Santri 2019

Sebagai pemimpin dan tokoh panutan masyarakat di sekitarnya, kiai kampung, menurut Marwan, memiliki peran nyata dalam membantu program pembangunan desa.

Hari Santri 2019

"Pertama, dengan memberikan landasan keagamaan bahwa pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa adalah suatu ibadah jika niatnya untuk kebaikan dunia dan akhirat," ujarnya.

Selain itu, kiai kampung bisa memanfaatkan berbagai forum keagamaan untuk mengajak masyarakat mendukung dan ikut serta dalam pembangunan desa. "Forum-forum keagamaan, seperti istighotsah, pengajian, cukup efektif untuk dijadikan sebagai forum sosialisasi berbagai kebijakan tentang desa," imbuhnya.

?

Kiai kampung, lanjut Marwan, juga bisa berperan aktif dalam musyawarah desa khususnya dalam perumusan perumusan rencana pembangunan jangka pajang desa (RPJMDes), rencana kerja pemerintah desa (RKPDes), dan anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes).

"Kiai kampung juga bisa mendorong beberapa kader NU untuk menjadi tenaga pendamping desa melalui proses rekrutmen terbuka yang diselenggarakan pemerintah," ujar Menteri Marwan.

Kiai kampung yang tentunya sudah banyak mengenal tentang potensi desa, menurut Menteri Marwan, juga bisa berperan aktif dalam pemberdayaan ekonomi desa melalui pembentukan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). "Terakhir para kiai kampung juga bisa membangun silaturrahim dan sinergi dengan elemen masyarakat lainnya untuk mengawasi penggunaan dana desa agar sesuai dengan alokasinya dan mampu memberikan manfaat nyata bagi kemajuan desan dan kesejahteraan masyarakat," tandasnya.

Ia mendorong Nahdlatul Ulama sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia bersinergi dengan pemerintah untuk membantu mendorong pembangunan desa-desa mandiri dan berkelanjutan yang memiliki ketahanan social, ekonomi, dan lingkungan. Menurutnya, peran masyarakat seperti NU sangat dibutuhkan dalam mengimplementasikan UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa yang mengamanatkan bahwa pembangunan desa ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat desa.

"Dalam konteks NU, partisipasi dalam pembangunan desa mengandung tanggung jawab sosial yang besar karena warga NU yang jumlahnya mencapai 50 juta orang mayoritas tinggal di pedesaan, dan secara social ekonomi masih sangat membutuhkan pemberdayaan untuk meningkatkan kesejahteraannya," tutup Menteri Marwan. (Red: Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian, Nasional, AlaNu Hari Santri 2019

Rabu, 20 Desember 2017

PCNU Solo Kupas Paham Aswaja bersama Idrus Ramli

Solo, Hari Santri 2019. Ribuan jamaah memadati ruangan Masjid Al-Wustho Mangkunegaran Surakarta, Sabtu (28/11) malam. Mereka menghadiri acara bertajuk “Kupas Tuntas Aswaja” yang diselenggarakan PCNU Solo bekerja sama dengan Ta’mir Masjid Assegaf Solo.

Ketua pelaksana kegiatan Sofwan Faisal Sifyan menjelaskan, acara ini bertujuan untuk mengupas tuntas tentang ajaran Aswaja. “Kami akan saling berdialog mengenai bagaimana sesungguhnya paham yang dikenal dengan sebutan Sunni,” terang pengurus PCNU Sukoharjo itu.

PCNU Solo Kupas Paham Aswaja bersama Idrus Ramli (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Solo Kupas Paham Aswaja bersama Idrus Ramli (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Solo Kupas Paham Aswaja bersama Idrus Ramli

Dalam kesempatan tersebut, sebelum diadakan sesi dialog, para jamaah yang hadir mendengarkan penjelasan dua narasumber Ustadz H M Idrus Ramli dari pesantren Sidogiri dan Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi.

Hari Santri 2019

Keduanya sama-sama menjelaskan pentingnya sanad dalam mata rantai ilmu agama. “Kalau bukan karena sanad, orang akan berkata seenaknya. Sanad ini harus bersambung dari seorang guru kepada gurunya terus hingga kepada Nabi Muhammad saw,” papar Habib Alwi.

Hari Santri 2019

Sedangkan Ustadz Idrus menegaskan pentingnya keberadaan seorang guru dalam mempelajari ilmu agama. “Dalam soal ilmu agama, harus mempunyai guru serta wajib bermazhab. Sanad guru inilah yang menjadi salah satu ciri dari ajaran Aswaja,” terangnya.

Di akhir acara, dalam sesi dialog para jamaah dipersilakan untuk bertanya mengenai persoalan Aswaja. Ketua PCNU Solo A Helmy Sakdillah berharap penyelenggaran acara ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat untuk lebih mengenal ajaran Aswaja. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen, Tokoh, Kajian Hari Santri 2019

Kamis, 14 Desember 2017

Butuh Lima Senjata untuk Berjuang di IPNU-IPPNU

Sleman, Hari Santri 2019. Ahad (31/3), Balai Utari kompleks Gedung Mandala Bhakti Wanitatama Sleman menjadi saksi bisu dilantiknya jajaran pengurus Pimpinan Wilayah IPNU-IPPNU Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) periode 2012-2013.

Dalam acara tersebut, KH Asyari Abta, Rais Syuriyah PWNU DIY mendoakan para pengurus yang baru dilantik. 

Butuh Lima Senjata untuk Berjuang di IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Butuh Lima Senjata untuk Berjuang di IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Butuh Lima Senjata untuk Berjuang di IPNU-IPPNU

“Beberapa saat yang lalu, kita telah menyaksikan pelantikan pengurus baru IPNU-IPPNU DIY. Semoga mereka mendapatkan kekuatan lahir batin dan ridha Allah SWT. Sehingga, nantinya  bisa memperjuangkan apa yang menjadi cita-cita IPNU-IPPNU ke depan,” ujar KH. Asyari.

Selain mendoakan para pengurus wilayah  IPNU-IPPNU DIY yang baru, KH Asyari juga memberikan wejangan berupa lima senjata dalam berjuang di IPNU-IPPNU. 

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

“Sewaktu Allah SWT melantik Nabi Muhammad menjadi rasul-Nya, Allah membekali nabi dengan lima senjata. Lima senjata tersebutlah yang menjadikan Nabi Muhammad sukses membawa risalah kenabian, meskipun hanya 23 tahun lamanya,” ungkap KH. Asyari. 

“Senjata yang pertama adalah agungkanlah asma Tuhanmu. Artinya, jika berjuang untuk IPNU-IPPNU, niatkan untuk  beribadah. Jangan berharap mendapatkan sesuatu dari IPNU-IPPNU, tapi berikanlah sesuatu untuk kemajuan IPNU-IPPNU.”

“Kedua, sucikanlah pakaianmu. Orang-orang yang berjuang itu hatinya harus suci. Suci hatinya maupun suci perilakunya. Ketiga, jauhilah perbuatan kotor. Kebanyakan organisasi itu bubrah karena tidak adanya keterbukaan dan tidak adanya kejujuran.” 

“Keempat, Jangan mengharapkan sesuatu. Jangan berharap akan menjadi DPR setelah menjadi pengurus IPNU-IPPNU. Dan senjata yang terakhir adalah Terhadap Tuhanmu sabarlah. Artinya, sabar dalam menerima musibah apa pun,” ujar KH. Asyari panjang lebar. 

“Kalau kelima senjata itu dijalankan, Insyaallah sukses. Itulah pesan kami, lima senjata dalam berjuang di IPNU-IPPNU dan di NU,” tambah KH. Asyari yang disambut tepuk tangan oleh para hadirin.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Rokhim Bangkit 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian, Pertandingan, Nasional Hari Santri 2019

Sabtu, 09 Desember 2017

PBNU Instruksikan Konsolidasi Internal Kepengurusan

Samarinda, Hari Santri 2019. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj didampingi beberapa pengurus harian selama dua hari kemarin, 13-14 April 2012, menghadiri rapat koordinasi dari empat lembaga di dua tempat yang berbeda.

PBNU Instruksikan Konsolidasi Internal Kepengurusan (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Instruksikan Konsolidasi Internal Kepengurusan (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Instruksikan Konsolidasi Internal Kepengurusan

Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU), Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU), dan Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LBHNU) di Samarinda, Kalimantan Timur. Sementara Rakornas Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) digelar di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, JawaTimur.

Saat memberikan arahan pada pembukaan Rakornas di Samarinda, Jum’at (13/4), Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengamanatkan agar para pengurus NU se-Indonesia melakukan konsolidasi internal kepengurusan.

Hari Santri 2019

“Saya rekomendasikan agar semua jajaran pengurus, baik tingkat ranting (PR), MWC, PC, dan PW melakukan konsolidasi. Data nama-nama pengurus, mohon kirim ke PBNU. Ini tahap awal membenahi administrasi kepengurusan NU se-Indonesia,” harap Kiai Said.

Hari Santri 2019

“Kita harus tetap optimis bahwa NU akan selalu maju hingga akhir masa,” tandasnya yang direspon positif oleh hadirin. Tepuk tangan pun menggema, menambah semaraknya acara NU di Hotel ternama di Kalimantan Timur.

Sementara Ketua PBNU Saifullah Yusuf saat membuka Rakornas LKNU di Jombang, Jum’at (13/4), memimta Rakornas LKNU merumuskan tata pengelolaan lembaga kesehatan di bawah naungan NU agar lebih baik. Diharapkan NU dapat memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik untuk warganya, dan juga untuk masyarakat umum.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Hairul Anam, Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Fragmen, Kajian Hari Santri 2019

Jumat, 08 Desember 2017

Bersama Masyarakat, GP Ansor Jepara Gemakan Shalawat

Jepara, Hari Santri 2019. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, mengajak masyarakat untuk bershalawat. Kegiatan yang dilaksanakan kali ketiga itu ditempatkan di Alun-alun RS Kelet, Keling, Jepara, Ahad (17/11) siang. Sebelumnya kegiatan serupa dilaksanakan di kecamatan Nalumsari dan Mlonggo.?

Bersama Masyarakat, GP Ansor Jepara Gemakan Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Masyarakat, GP Ansor Jepara Gemakan Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Masyarakat, GP Ansor Jepara Gemakan Shalawat

Ketua PC GP Ansor Jepara, M Kholil mengatakan shalawat merupakan sarana yang mampu merekatkan ukhuwwah dan menyejukkan hati pada orang yang menghayatinya. Suasana itu terkadang merasuk jauh di relung hati sehingga membawa suasana yang indah melalui kebersamaan dengan mengumandangan shalawat secara bersama-sama.

“Dengan menyanjung kebesaran Nabi Muhammad, meneladani sifat-sifatnya dan memegang teguh sunnah-sunnahnya,” sebutnya. ?

Hari Santri 2019

Harapan dari kesejukan itu, terang Kholil, juga membawa kesejukan suasana di lingkungan masyarakat sehingga kondusifitas masyarakat Jepara selalu terjaga. “Di samping itu untuk mengembalikan ruh Ansor menolong masyarakat atas berbagai permasalahan sosial yang dihadapi,” tambahnya.

Pada putaran ketiga Ansor Bershalawat itu dibarengkan dengan pelantikan Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor se-kecamatan Keling juga santunan yatim piatu bersama Muslimat dan Fatayat NU kecamatan Keling. Jamaah pun membludak. Ditaksir sekitar 6000 jamaah yang turut hadir.

Hari Santri 2019

Komandan Satkorcab Banser Kabupaten Jepara, Arif Mustofa mengungkapkan dengan membludaknya jamaah pihaknya berkoordinasi mengenai keamanan dan ketertiban selama acara berlangsung. Karenanya, pihak Satkorcab didukung sepenuhnya Satkorcam Keling dan pasukan turun ke jalan untuk membantu keamanan lalu lintas, keamanaan pelaksanaan dan ketertiban pengunjung acara.?

Sementara itu, H Jajeri Amin selaku sekretaris PC GP Ansor mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak atas terselenggaranya acara tersebut. Khususnya kepada PW GP Ansor Jawa Tengah dan Djarum 76. “Harapan kami acara ini tidak hanya berhenti sampai disini. Ini adalah awal dari keinginan kami untuk mengajak masyarakat mencintai Rasul melalui shalawat,” katanya.

Dalam kesempatan itu, hadir para kyai, ulama dan habaib diantaranya Habib Farid Assegaf, Habib Ali Zainal Abidin, Habib Ali Al-Habsyi, Habib Luthfi (Demak) dan Habib Abu Bakar Assegaf. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian, Sejarah Hari Santri 2019

Kamis, 07 Desember 2017

Gerakan Anti-Diskriminasi Sebut Kebijakan FDS Resahkan Guru

Jakarta, Hari Santri 2019. Kontroversi kebijakan Lima Hari Sekolah yang dikeluarkan Mendikbud Muhadjir Effendy menunjukkan bahwa kebijakan Five/Full Day(s) School (FDS) tidak dasarkan pada grand design pendidikan yang baik dan kokoh.

Gerakan Anti-Diskriminasi Sebut Kebijakan FDS Resahkan Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Anti-Diskriminasi Sebut Kebijakan FDS Resahkan Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Anti-Diskriminasi Sebut Kebijakan FDS Resahkan Guru

Sama halnya dengan kontroversi kebijakan yang ditandatangani menteri-menteri sebelumnya tentang ujian nasional, kurikulum, dan sebagainya. Kondisi ini mengabsahkan pandangan sinis masyarakat selama ini, yaitu ganti menteri, ganti kebijakan.

Hal ini dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal Gerakan Anti-Diskriminasi (Gandi) Ahmad Ari Masyhuri lewat rilis yang diterima? Hari Santri 2019, Senin (21/8).

“Kebijakan-kebijakan ini bukan hanya meresahkan masyarakat, tapi juga meresahkan para guru itu sendiri. Kalau hal ini terus-menerus terjadi, sebenarnya mau dibawah ke mana masa depan pendidikan nasional ini?” tanya Ari yang juga Dosen Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Banten ini.

Mestinya, lanjut Ari, kebijakan tentang pendidikan ini harus dikaji secara komprehensif dan ditempuh melalui langkah-langkah yang sistematis, baik dari aspek substansi maupun aspek prosedur pengeluaran kebijakannya.

Hari Santri 2019

Dari aspek susbtansi, tentu pemerintah telah memiliki bank data persoalan dan desain besar pendidikan nasional. Dari aspek prosedur, tentu pemerintah telah memiliki Rencana Strategis Jangka Panjang dan Menengah, serta peta jalan kebijakan pendidikan nasional.

Hari Santri 2019

“Jadi, jangan tiba-tiba muncul sebuah kebijakan yang turun dari langit, yang tidak ada dalam bank data persoalan dan peta jalan kebijakan yang ada. Apalagi tidak ada kajian akademis yang bersumber dari data empiris, serta masukan dari para pemangku kepentingan yang ada dan sosialisasi yang serius kepada masyarakat,” papar Ari.

Oleh karena itu, menurut Ari, rencana Presiden Jokowi untuk menerbitkan Peraturan Presiden tentang Pendidikan Penguatan Karakter sebagai pengganti Permendikbud Nomor 23 tahun 2017 harus dipersiapkan secara komprehensif dan sistematis.

“Jangan sampai Perpres yang akan dikeluarkan hanya menambah kebisingan publik yang tidak penting,” tandas Ari. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian Hari Santri 2019

Sabtu, 02 Desember 2017

Orang Tua Harus Pupuk Mimpi untuk Sukseskan Anak

Banjarbaru, Hari Santri 2019. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengajak orang tua untuk "bermimpi" dan berani menggantungkan cita-cita yang tinggi untuk mendukung kesuksesan anak-anaknya di masa depan.

Orang Tua Harus Pupuk Mimpi untuk Sukseskan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang Tua Harus Pupuk Mimpi untuk Sukseskan Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang Tua Harus Pupuk Mimpi untuk Sukseskan Anak

"Ibu-ibu harus berani "bermimpi" dengan menggantungkan cita-cita yang tinggi bagi anak-anaknya," ucap mensos di depan ratusan ibu-ibu di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (19/9) dilansir Antara.

Pernyataan bernada ajakan tersebut disampaikan Mensos usai menyerahkan bantuan sosial berupa uang tunai kepada masyarakat penerima Program Keluarga Harapan di kota setempat. Mensos yang berbicara lugas dan penuh semangat sambil mengitari kursi ratusan ibu-ibu meminta agar setiap orang tua mendorong anaknya bercita-cita tinggi di masa depan.

"Di sini ada wali kota, ketua DPRD, jaksa, polisi dan PNS. Ayo siapa ibu-ibu yang ingin anaknya jadi seperti mereka," ucap mensos namun hanya sedikit dari ibu-ibu yang mengacungkan jarinya.

Menurut mensos, pihaknya sengaja mendorong ibu-ibu agar berani dalam mempersiapkan masa depan anaknya sehingga mereka mampu menjadi orang "besar" dan bermanfaat. "Kaum ibu harus didorong seperti itu sehingga mereka berani mempersiapkan masa depan anaknya. Jika tidak didorong mereka justru diam karena tipikal kaum ibu seperti itu," ujarnya.

Hari Santri 2019

Ditekankan, dorongan itu juga sebagai penyemangat agar ibu-ibu merelakan anaknya mengasah keterampilan meski jauh dari keluarga melalui program yang dicanangkan Kemensos. "Kami punya program mendidik dan melatih anak-anak lulusan SMA sederajat mengikuti pelatihan di Jepang dan Korea Selatan. Jika anaknya berminat, ibu-ibu harus rela yaa," pesan mensos.

Dikatakan mensos, pendidikan dan pelatihan yang dicanangkan kemensos direncanakan mulai bulan November 2016 dan diharapkan anak-anak keluarga penerima PKH bisa mengikutinya. "Mereka dididik dan dilatih selama 2,5 tahun di dua negara itu sehingga setelah menjalaninya diharapkan memiliki ilmu dan keahlian di berbagai bidang yang dipelajarinya," kata mensos. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Kajian Hari Santri 2019

Kamis, 16 November 2017

Mengembangkan Ilmu Pengetahuan di Pesantren adalah Bentuk Bela Negara

Jombang, Hari Santri 2019. Banyak cara yang bisa dilakukan santri sebagai bentuk bela negara. Salah satunya dengan terus mengembangkan ilmu pengetahuan di lingkungan pondok pesantren. Menurut KH Abdul Ghofar (Gus Ghofar), Sekretaris Pesantren Tebuireng, Pondok Pesantren yang juga salah satu pelopor kemerdekaan juga harus konsisten mempertahankan keutuhan negara.

Mengembangkan Ilmu Pengetahuan di Pesantren adalah Bentuk Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengembangkan Ilmu Pengetahuan di Pesantren adalah Bentuk Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengembangkan Ilmu Pengetahuan di Pesantren adalah Bentuk Bela Negara

Disamping itu, katanya, pondok pesantren juga perlu mengembangkan pengetahuan ilmiah dan sains berbasis Al-Quran. Hal itu dirasa penting karena perkembangan zaman akan terus mempersaingkan ilmu pengetahuan. Tidak terkecuali teknologi. "Karena Al-Quran merupakan sumber pengetahuan dari segala aspek," ujarnya kepada Hari Santri 2019 saat ditemui di kantornya, Selasa (15/12) lalu.

Ia menjelaskan, dalam mengisi pembangunan nasional, santri harus bisa mandiri secara ekonomi. Karena dengan tidak bergantung kepada negara untuk ekonominya, berarti santri sudah mendukung pembangunan nasional. "Memajukan ekonomi mandiri, harus dilakukan oleh santri. Dan itu termasuk salah satu bentuk bela negara," jelasnya.

Hari Santri 2019

Ia pun sudah melakukan berbagai hal untuk mendukung konsep bela negara tersebut. Salah satunya melatih dan mendorong santri berwirausaha. "Ini penting untuk bekal santri ketika akan terjun ke masyarakat. Karena dengan mandiri secara ekonomi santri berarti menunjang kemandirian perekonomian nasional," lanjutnya.

Gus Ghofar juga menerangkan, selain dengan kemandirian ekonomi para santri, pondok pesantren juga mengingatkan untuk tidak lelah mempertahankan negara. Serta terus memupuk rasa nasionalismenya. "Santri yang juga elemen di pondok pesantren harus bisa mengisi pembangunan nasional. Itu merupakan salah satu bentuk bela negara yang perlu dilakukan santri. Disamping itu, mempertahankan NKRI memang harus dilakukan oleh seluruh masyarakat, tidak terkecuali santri."

Hari Santri 2019

Baginya, menumbuhkan rasa nasionalisme para santri juga bentuk bela negara. "Yang akan dilakukan Pondok Pesantren Tebuireng segera bekerjasama dengan TNI dalam meningkatkan kedisiplinan tenaga Pembina santri di pondok. Sehingga tidak hanya mengembangkan rasa nasionalisme melalui pengetahuan dan kajian ? di pondok, tapi juga pengetahuan dari militer sebagai pelopor pertahanan nasional," ulasnya.

Ia pun berharap, kalangan pondok pesantren tetap menjadi bagian dalam pelopor mempertahankan negara. "Karena secara tidak langsung itu merupakan bentuk bela negara dari kalangan pondok pesantren," pungkas Gus Ghofar. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian, Syariah Hari Santri 2019

Senin, 13 November 2017

IPNU-IPPNU Jakarta Pusat Dilantik

Jakarta, Hari Santri 2019. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Administrasi Jakarta Pusat mengadakan pelantikan pengurus masa khidmat 2012-2014 bertempat di gedung walikota Jakarta Pusat, Senin pagi, 18 Juni 2012.

IPNU-IPPNU Jakarta Pusat Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Jakarta Pusat Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Jakarta Pusat Dilantik

Hadir dalam acara tersebut Walikota Jakarta Pusat H Saefulloh yang memberikan sambutan sekaligus nasehat kepada para pengurus IPNU-IPPNU yang baru saja dilantik agar IPNU-IPPNU benar-benar menjadi organisasi pembelajaran (learning organization). 

Sebagai organisasi yang menjadi wadah berhimpunnya para pelajar, IPNU-IPPNU Jakarta Pusat dituntut untuk senantiasa mengupgrade diri dan metode pengkaderannya sesuai dengan kondisi zaman sekarang ini. Agar para pelajar NU memiliki completing tool (kelengkapan peralatan) untuk berkompetisi dengan para kaum pelajar lainnya. Para pelajar NU kini tak boleh terstigma lagi sebagai kaum pelajar sarungan yang hanya pandai mengaji. Tapi lebih dari itu para pelajar NU harus bisa menjadi sarjana ekonomi yang pandai mengaji, sarjana tehnik yang juga pandai mengaji. Anak IPNU juga harus ada yang menjadi pengusaha yang paham ilmu agama, IPNU sekarang ini yang juga kelak harus menjadi gubernur yang dekat dengan para ulama dan berlandaskan faham ahlussunnah wal jama’ah.

Hari Santri 2019

Sambutan kedua disampaikan oleh.KH Amar Ahmad selaku ketua tanfidziyah PCNU Jakarta Pusat. Ia menyampaikan bahwa IPNU Jakarta Pusat harus menjadi standarisasi dan tolak ukur bagi cabang-cabang IPNU lainnya di Indonesia karena bagaimana tidak bahwa Jakarta Pusat merupakan sentral dari segala aktifitas negara. Menjadi anak IPNU di Jakarta Pusat tentu mempunyai tantangan tersendiri yang tidak dihadapi IPNU lainnya. Di Jakarta Pusat tidak ada pesantren yang biasanya menjadi basis IPNU selayaknya di Jawa Timur. Di Jakarta Pusat tidak ada Ma’arif atau sekolah-sekolah NU lainnya. Yang ada di Jakarta Pusat hanyalah SMA-SMA unggulan yang notabene memiliki kultur pelajar yang cenderung hedonis. Namun demikian justru itulah yang menjadi tantangan yang harus dihadapi untuk dapat mengenalakan Islam ala NU di tingkatan terendah yakni kalangan pelajar agar mereka memahami betul apa makna Islam yang rahmatan lil alamin.

Hari Santri 2019

Pelantikan Pengurus IPNU Jakarta Pusat ini dikukuhkan langsung oleh para pengurus Pimpinan Pusat baik IPNU dan IPPNU. Ahmad Rayhan selaku wakil ketua PP IPNU membacakan naskah pelantikan yang diikuti oleh 30 pengurus PC.IPNU Jakarta Pusat masa khidmat 2012-2014.  Begitu pula Margareth Aliyatul Maimunah selaku ketua umum PP IPPNU melantik langsung para pengurus PC IPPNU Jakarta Pusat yang tampak rapi dengan jas IPPNU dibalut kerudung putih.Friyadi Maulana yang terpilih menjadi ketua PC IPNU Jakarta pusat pada konferensi cabang IPNU Jakarta pusat bulan Mei lalu menggantikan Muhammad Said mengatakan

“Ber-IPNU artinya adalah berkhidmat, berkhidmat adalah mengabdi, mengabdi kepada NU, kepada para kyai, mengabdi kepada bangsa dan agama,” ujarnya setelah beberapa saat dilantik. 

Acara yang dirangkaikan dengan dialog pelajar ini mengambil tema peningkatan wawasan demokrasi di kalangan pelajar Jakarta. Tema ini dirasakan sangat penting mengingat mata pelajaran tentang demokrasi yang diajarkan di sekolah dirasakan sangat minim sehingga ada dua paradigma yang menjadi pola pikir para pelajar saat ini ketika berbicara tentang demokrasi. 

Secara teori dan realita para pelajar berbeda dalam memahami demokrasi. Mereka beranggapan bahwa demokrasi identik dengan politik, dan politik identik dengan transaksi kepentingan, berbagi kekuasaan dan lainnya. Hal inilah yang dibantah dalam pemaparan narasumber pada dialog tersebut yakni Idy Muzayyad, mantan ketua umum PP IPNU 2006-2009 dan juga Dani Setiawan, Koalisi Anti Hutang. 

Mereka menjelaskan sebagai kalangan pelajar IPNU dituntut memahami dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan berdemokrasi. Karena para pelajarlah yang seharusnya menjadi agent of controlling dan agent of change apalagi melihat perjalanan sejarah demokrasi bangsa Indonesia yang selalu dipelopori oleh para kalangan pelajar. 

Idy Muzayyad menambahkan kader IPNU di Jakarta senantiasa dapat memainkan peran pentingnya sebagai etalase IPNU yang ada di ibukota dengan membuka berbagai akses dan jaringan serta mencitrakan IPNU sebagai organisasi pelajar modern yang siap mewarisi tonggak estafet kepemimpinan bangsa. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian, Warta, Budaya Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock