Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Antara Kematangan Pikiran dan Kedalaman Spiritual

Surabaya, Hari Santri 2019. Ketua I Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur Hasanudin Tiro menyatakan, arus globalisasi yang ditandai derasnya arus informasi dan teknologi adalah suatu tantangan besar bagi kaum terpelajar dan pergerakan. Generasi muda selain harus mempunyai kematangan pikiran juga harus mempunyai kedalaman spiritualnya

Maka pihaknya selaku ketua I PKC PMII Jatim segera menggelar Sekolah Kader Wilayah (SKW). Yang mana SKW ini adalah kaderisasi non-formal tertinggi di tingkat PMII Jawa timur dan merupakan sebuah Pelatihan Integral ke-materi-an, ke-fasilitator-an, kedisiplinan dan keagamaan.

Antara Kematangan Pikiran dan Kedalaman Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)
Antara Kematangan Pikiran dan Kedalaman Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)

Antara Kematangan Pikiran dan Kedalaman Spiritual

“Sekolah kader wilayah (SKW) adalah pelatihan non-formal PKC PMII Jatim

Hari Santri 2019

Sebuah pelatihan integral antara pematerian, kedisiplinan dan keagamaan. Globalisasi yang ditandai dengan derasnya  gelombang informasi dan teknologi sudah berkembang sedemikian rupa,” terangnya saat di temui Hari Santri 2019, Kamis (10/1) di kantor PKC PMII Jawa Timur.

Hari Santri 2019

Tantangan ini harus kita hadapi dengan mempersiapkan genersi Bangsa yang tidak hanya maju di bidang intelektual tapi juga kematangan jiwa dan kedalaman spiritual,” lanjutnya.  

Adapun out put dari Sekolah Kader Wilayah (SKW) adalah lahirnya idiolog-Idiolog handal yang dimiliki oleh pengurus cabang PMII di seluruh jawa timur. Yang kemudian dapat meneruskan kaderisasi di tingkat daerah masing-masing.

“Adapun kegiatan ini out putnya adalah lahirnya ideolog dan tim pelatih inti di masing2 cabang PMII se Jawa Timur,” tuturnya.

Ketika dikonfirmasi lebih lanjut pihaknya saat ini sedang menggodong rencana kegiatan tersebut karena kegiatan ini butuh waktu dan tenaga yang sangat ekstra maka dibutuhkan kekuatan dan fikiran yang cukup. bulan depan tanggal 13 Februari sudah dapat dilaksanakan. 

"Insyaallah 13 Februari 2013 sudah siap semuanya saat ini kita sedang menggodonk rangkain kegiatan tersebut, termasuk input pakar, mempersiapkan ketentuan peserta, dan buku-buku yang harus dibaca oleh calon peserta dalam kegiatan tersebut," pungkasnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Anang Romli

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba Hari Santri 2019

Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII

(Surat Terbuka untuk Ketua Umum PB PMII 2005-2008)

Oleh: Kholilul Rohman Ahmad*


Muktamar ke-2 Partai Kebangkitan Bangsa di Semarang bulan lalu menjadi salah satu ruang strategis untuk mengkaji dinamika kontemporer gerakan mahasiswa di bawah payung Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Dalam even nasional itu terjadi interaksi warga PMII antar generasi. Dunia mahasiswa yang penuh dengan idealisme ternyata tidak kemudian menanggalkan minat dalam hiruk pikuk politik praktis. Hal ini mungkin lantaran beberapa alumni PMII yang sudah menjadi politisi di Senayan sebagai wakil rakyat dari berbagai partai politik ikut nimbrung dalam pesona nostalgis itu. Tak pelak, di tengah perhelatan itu PMII memanfaatkan menggelar acara temu warga dan alumni.

Tak ayal dalam forum informal itu muncul pertanyaan tentang siapa yang dinilai kuat menjadi ketua Umum Pengurus Besar PMII menggantikan sahabat A Malik Haramain yang akan habis jabatan. “Siapa yang kira-kira kuat menggantikan Malik,” tanya salah seorang warga PMII. Tiba-tiba warga lain spontan nyelethuk: “Tergantung siapa nanti yang jadi ketua PKB.” Entah jawaban spontan itu guyonan  atau serius. Penulis husnudzon saja dengan jawaban itu dan menilainya sebagai guyonan  tanpa tendensi apa-apa. Namun penulis menangkap di balik jawaban itu tersimpan kenyataan politik bahwa di tubuh PMII telah ada yang beberapa warganya yang terkontaminasi “virus” politik praktis. Atau jawaban itu dapat ditangkap sebagai penanda bahwa realitas politik praktis telah merambah di dunia pergerakan mahasiswa.

Celethukan itu dapat diartikan dengan dua analisa. Pertama, memang sebagai guyonan. Dalam arti hal itu tidak perlu dianggap serius, terlebih ia muncul di tengah gelak tawa dan ketimpangan nasib beberapa alumni yang berhasil menjadi politisi dan tidak. Kedua, bisa jadi suara itu memang representrasi atas kenyataan yang tengah terjadi di tubuh PMII(?). Jika yang pertama menjadi kenyataan, tentu tak jadi soal. Namun jika yang kedua yang tengah menjangkiti PMII, harus dimaknai sebagai refleksi bahwa selama ini gerakan intelektualitas PMII sedang mengalami krisis.

Oleh sebab itu, jika dalam pasca kongres ke-XV ini tidak ada upaya merevitalisasi PMII kepada khittah-nya sebagai organ pergerakan mahasiswa bersama rakyat, tidak ada upaya serius mengembalikan ruh PMII sebagai pendamping rakyat, maka tamatlah riwayat PMII sebagai gerbong gerakan mahasiswa yang gagasannya selama ini dinilai senantiasa konsisten di jalur politik non partisan alias selalu berpihak kepada nasib rakyat.

Harus diakui dewasa ini, setidaknya sejak reformasi bergulir tahun 1998, kiprah PMII sebagai organ mahasiswa sejati banyak dipertanyakan, baik oleh sesama aktivis mahasiswa maupun di kalangan internal PMII sendiri. Pasalnya kecenderungan yang cukup mewabah bahwa, misalnya, seorang kader untuk bisa menjadi “orang” harus mempunyai patron yang kuat di atasnya, baik politisi senior maupun pengusaha. Seolah untuk sukses meniti karir pasca mahasiswa harus melewati jalur politik patronase seperti jaman Orde Baru. Padahal sesungguhnya dunia mahasiswa harus meninggalkan sistem patronase seperti itu karena yang lebih kuat untuk dijadikan patron adalah rakyat.

Namun kenyataan ini tak bisa disalahkan pada salah satu pihak. Sebab kenyataan politik yang menggairahkan bagi siapapun untuk cepat meniti karir juga menjangkiti organisasi mahasiswa pada umumnya. Meskipun demikian bukan berarti di dunia pergerakan mahasiswa semuanya berperilaku seperti itu.

Yogyakarta sebagai sentral pergerakan PMII sepuluh tahun silam, dalam lima tahun belakangan telah kehilangan ruhnya. Kader-kader yang sering mewarnai media massa dengan artikel-artikel kritisnya, misalnya, telah banyak mengalami kemunduran dari segi kuantitas dan kualitas. Bahkan kota-kota lain lebih sibuk bagaimana warga PMII menjadi patron alumni atau “orang kuat lain” yang sedang menjadi pejabat eksekutif maupun legislatif. Padahal menjadi kewajiban bagi PMII untuk tetap konsisten memposisikan dirinya sebagai insan kreatif di tengDari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Halaqoh, Kajian Hari Santri 2019

Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Saatnya Menyeriusi Intelektualitas PMII

Senin, 29 Januari 2018

Menteri Kominfo: Tabayun, Tabayun, Tabayun!

Jakarta, Hari Santri 2019

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengingatkan agar prinsip tabayun (kejelasan) terhadap informasi yang diperoleh di dunia maya harus dikedepankan. Ia menekankan prinsip tersebut di tengah fenomena informasi yang lebih cenderung mementingkan kecepatan daripada ketepatan.

Menteri Kominfo: Tabayun, Tabayun, Tabayun! (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Kominfo: Tabayun, Tabayun, Tabayun! (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Kominfo: Tabayun, Tabayun, Tabayun!

"Saat ini pengguna medsos banyak ingin menjadi yang pertama memberikan informasi yang belum tentu valid. (Lakukan) nomor 1 tabayun, nomor 2 tabayun, nomor 3 tabayun. Jangan sampai jempol kita lebih cepat dari pikiran kita. Dicerna dulu informasi yang didapat," katanya pada Silaturahmi Nasional I yang dilaksanakan oleh Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman Majelis Ulama Indonesia (LPBKI-MUI) di Hotel Santika TMII Jakarta, Jumat (8/12).

Menteri Rudiantara menjelaskan, teknologi adalah sesuatu yang netral. (Hal) yang membuat teknologi menjadi hal positif ataupun negatif adalah penggunanya. Ia mengumpamakan teknologi seperti pisau yang bila digunakan di dapur untuk memasak maka akan bermanfaat. Dan sebaliknya jika digunakan untuk kejahatan maka akan membawa hal negatif.

Hari Santri 2019

Dalam perkembangannya saat ini, pemerintah tidak menutup mata terhadap efek-efek negatif yang muncul dari perkembangan teknologi khususnya internet. Pemerintah terus berupaya meminimalisir konten-konten negatif dengan beberapa strategi diantaranya melalui pemblokiran media sosial ataupun website yang mengandung konten negatif.

"Delapan ratus ribu situs sudah diblok oleh pemerintah berdasarkan laporan masyarakat," terangnya di depan para stakeholders konten keislaman dari seluruh Indonesia.

Hari Santri 2019

Dalam mengambil kebijakan pemblokiran, lanjut Rudiantara, pihaknya selalu menggandeng stakeholders terkait termasuk para kiai dan ulama. Hal ini dilakukan agar dalam pelaksanaan kebijakan tidak menimbulkan gejolak yang dapat melahirkan efek-efek negatif.

Peran ulama dinilai sangat penting dalam memberikan pedoman sekaligus mengarahkan umat dalam beraktivitas di dunia maya khususnya medsos. Sehingga muncullah fatwa No. 24 tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial yang terus disosialisasikan oleh Kemenkominfo. (Muhammad Faizin/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Internasional Hari Santri 2019

Kamis, 25 Januari 2018

Kemenpora Apresiasi Turnamen Futsal GP Ansor Tangerang

Tangerang, Hari Santri 2019

Sebagai upaya meningkatkan semangat olahraga dan menggali potensi pemuda, Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Tangerang menyelenggarakan kompetisi futsal di Sport Club Citra Raya, Tangerang, Banten. Acara ini digelar dalam rangka menyambut hari lahir ke-82 GP Ansor.

Kemenpora Apresiasi Turnamen Futsal GP Ansor Tangerang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenpora Apresiasi Turnamen Futsal GP Ansor Tangerang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenpora Apresiasi Turnamen Futsal GP Ansor Tangerang

Kali ini GP Ansor Kabupaten Tangerang mengangkat tema “Mewujudkan Soliditas dengan Menjungjung Tinggi Sportivitas”. Tujuan utamanya adalah sebagai sarana konsolidasi dan koordinasi di antara kader GP Ansor Kabupaten Tangerang.

Acara tersebut dibuka Teguh Raharjo selaku Deputi 3 bidang Pengelolaan Pembinaan Sentra dan Sekolah Khusus Olahraga Kemenpora, Ahad (17/4), mewakili Menpora Imam Nahrawi yang berhalangan hadir.

Hari Santri 2019

Dalam sambutanya Teguh Raharjo memberikan apresiasi yang tinggi kepada GP Ansor yang telah menginisiasi kegiatan tersebut. Ia berharap ke depan GP Ansor mampu membuat turnamen profesional dalam skala provinsi atau bahkan nasional.

“Kemenpora menyambut baik dan siap bekerjasama dengan GP Ansor untuk mengelar kompetisi-kompetisi olahraga dengan skala yang lebih besar,” tuturnya.

Hari Santri 2019

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Tangerang Khoirun Huda menyampaikan bahwa turnamen futsal ini digelar dalam rangka mencari bibit-bibit kader yang memiliki keterampilan dalam olahraga futsal.

“Saya akan dorong agar ini bisa menjadi kegiatan rutin dan semoga kita dapat menggelar turnamen profesional,” imbuh pria yang pernah menjadi Direktur Sekolah Demokrasi ini.

Turnamen yang diikuti 32 tim futsal GP Ansor se-Kabupaten Tangerang berlangsung semarak. Selain ratusan kader GP Ansor dan Banser, turut hadir juga anggota DPRD Provinsi Banten H. Ade Awaludin, Ketua PW GP Ansor Banten H Imron, Ketua DPD KNPI Cucu Abdurrosyid, dan Kabid Olahraga Disporabudpar Kabupaten Tangerang Iratmoko.

Sementara anggota DPRD Banten Ade Awaludin menyampaikan, GP Ansor mesti menjadi organisasi pemuda yang dinamis, senantiasa hadir dalam setiap momentum pembangunan. “Saya kira turnamen futsal ini menjadi bagian ikhtiar GP Ansor menggali dan menyalurkan bakat anak-anak muda Tangerang,” ucapnya.

Senada dengan Ade, Ketua DPD KNPI Cucu Abdurrosid yang juga Kabid Pemuda Disporabudpar Kabupaten Tangerang menegaskan pentingnya menggali potensi dan mengarahkan pemuda Tangerang untuk menjadi pemuda-pemuda yang memiliki keahlian, karakter kedisiplinan, dan sportivitas yang tinggi. “Pemuda Tangerang harus memiliki daya saing dan skill yang andal agar dapat berkhidmat dan membawa nama baik Tangerang,” jelasnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Hikmah, Sejarah, Lomba Hari Santri 2019

Rabu, 17 Januari 2018

PC IPNU-IPPNU Kabupaten Demak Resmi Dilantik

Demak, Hari Santri 2019. PC IPNU-IPPNU Kabupaten Demak masa khidmah 2015-2017 resmi dilantik, Ahad (5/4) pagi. Acara berlangsung di Gedung NU Kabupaten Demak lantai 3. Kegiatan tersebut mengusung tema “Membangun Sinergi, Perkuat Organisasi dan Kaderisasi”.?

PC IPNU-IPPNU Kabupaten Demak Resmi Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
PC IPNU-IPPNU Kabupaten Demak Resmi Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

PC IPNU-IPPNU Kabupaten Demak Resmi Dilantik

Pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua PW IPNU Jawa Tengah, Amir Musthofa Zuhdi dan Ketua PW IPPNU Jawa Tengah, Umi Sangadah.

Ketua PC IPNU Demak, Abdul Halim dalam sambutannya mengungkapkan, pihaknya memohon partisipasi semua pihak, baik kader, alumni, serta Banom NU, untuk senantiasa bergandengan tangan agar apa yang menjadi visi organisasi dapat terwujud dengan semaksimal mungkin.

Hari Santri 2019

“Sebagaimana tema yang telah kami ambil, kita harus bersinergi serta memperkuat organisasi dan kaderisasi, karena tantangan globalisasi sekarang ini harus bisa kita jawab dengan aksi-aksi riil kita semua untuk masyarakat,” ujarnya.?

Senada dengan Halim, Ketua PC IPPNU, Istiqomah mengatakan, sinergitas dan satu komando harus tetap terjaga demi keberlangsungan organisasi sehingga kejayaan bisa diraih.

Hari Santri 2019

Sementara itu, Amir Musthofa Zuhdi mengatakan, kepada PC IPNU-IPPNU Kabupaten Demak, pihaknya memohon kerja sama dan peran aktif untuk mengembangkan organisasi serta kaderisasi IPNU-IPPNU di Provinsi Jawa Tengah ini.

Selain itu, Drs H Moh Dachirin Said, SH, MSi, Bupati Demak dalam sambutannya yang disampaikan Kabag Kesra Pemkab Demak Anang Badrul Kamal berharap PC IPNU-IPPNU Demak benar-benar mewujudkan langkah nyata guna menanggulangi serangan paham radikalisme serta fundamentalisme yang notabene mengancam keutuhan NKRI.

Adapun dr H Masyhudi AM, M.Kes yang mewakili Ir Musyadad Syarif, Ketua PCNU Demak yang berhalangan hadir karena mengawal kegiatan Bahtsul Masail di Dempet Demak mengungkapkan, ada dua poin yang menjadi hal penting dalam berorganisasi yaitu pembangunan kompetensi dan jaringan (networking).?

“Silakan kembangkan dan qona’ah-lah dalam berorganisasi terlebih untuk perjuangkan tegaknya Aswaja NU di Demak ini,” tegas pria yang juga Direktur RSI Sultan Agung Semarang ini.

Dalam acara pelantikan ini, turut hadir Ketua LP Ma’arif NU Demak, Sa’dullah, Kapolres Demak yang diwakili Kasat Binmas Budiono, Kodim 0716 Demak yang diwakili Koramil Demak Kota Kapten Inf ? Eko Juhartono, Ketua GP Ansor Demak H Abdurrahman Kasdi, Lc. Msi, serta perwakilan kader IPNU-IPPNU dari tingkat ranting/komisariat/anak cabang se-Kabupaten Demak, dan juga perwakilan OKP. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pahlawan, Lomba, Khutbah Hari Santri 2019

Orang Gila dan Krisis Multidimensional

Orang gila, yaitu orang yang sudah tidak mempunyai pikiran normal layaknya manusia pada umumnya terdapat di seluruh negara di dunia. Bahkan persoalan orang gila ini menjadi perhatian pemerintah dan sebagian elemen masyarakat.

Saat itu santri bernama Kartono telah menyelesaikan ujian di pondok pesantrennya. Ia pun hendak pulang ke kampung halamannya karena aktivitas pondok sementara diliburkan beberapa hari usai menggelar ujian.

Orang Gila dan Krisis Multidimensional (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang Gila dan Krisis Multidimensional (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang Gila dan Krisis Multidimensional

Ia pulang bersama teman santri sekampungnya bernama Muhtarom. Di sepanjang perjalanan mereka bercerita apa saja terkait pengalaman mereka, termasuk fenomena orang gila yang sering mereka jumpai di daerah sekitar pondok pesantren.

Dalam hitungan Kartono, ada sebanyak 59 orang gila sepanjang jalan di daerah sekitar pondok. 

“Kamu menghitung apa dari tadi?” tanya Muhtarom.

Hari Santri 2019

“Ini Rom, saya sedang menghitung orang gila yang mungkin merupakan dampak dari krisis multidimensional yang terjadi di negeri kita, jumlahnya yang saya hitung ada 59 orang,” jawab Kartono.

“Kok beda, dalam hitungan saya jumlah orang gila mencapai 70,” sergah Muhtarom.

“Masa? Selisih satu orang. Lah terus satu orang itu siapa Rom?” 

“Ya, kamu.....!” jawab Muhtarom sambil ngakak. (Fathoni)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Doa, Habib Hari Santri 2019

Pengurus 14 Ranting NU di Kecamatan Dringu Dilantik Berjamaah

Probolinggo, Hari Santri 2019. Sebanyak 56 orang pengurus dari 14 Ranting NU se-Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo dilantik bersamaan, Ahad (29/1). Pelantikan ini dipimpin oleh Wakil Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo H Taufiqus Sholeh.

Pelantikan yang dilaksanakan di MTs Darul Ulum Desa Ngepoh Kecamatan Dringu ini dihadiri oleh Rais PCNU Kabupaten Probolinggo KH Jamaluddin al Hariri dan jajaran pengurus PCNU Kabupaten Probolinggo, pengurus MWCNU Dringu baik jajaran lembaga maupun badan otonom (banom), Forkopimka Dringu serta tokoh agama dan tokoh masyarakat se-Kecamatan Dringu.

Pengurus 14 Ranting NU di Kecamatan Dringu Dilantik Berjamaah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus 14 Ranting NU di Kecamatan Dringu Dilantik Berjamaah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus 14 Ranting NU di Kecamatan Dringu Dilantik Berjamaah

Dalam kesempatan tersebut H Taufiqus Sholeh memberikan motivasi kepada segenap pengurus Ranting NU yang baru saja dilantik. Pengurus NU diminta agar bisa menumbuhkan kembali kecintaan pada Negara dan menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Sebagai warga NU, pengurus NU harus bisa menumbuhkan rasa cintanya kepada NU. Sebab jika sudah ada rasa cinta, maka pengurus akan mampu menjalankan roda organisasi dengan baik,” katanya.

Sementara Rais PCNU Kabupaten Probolinggo KH Jamaluddin al Hariri menyampaikan bahwa perjuangan harus selalu dilandasi dengan keikhlasan sebagaimana hal yang dilakukan oleh Rais Akbar PBNU Hadratus Syekh KH Hasyim Ashari.

Hari Santri 2019

“Contohnya dengan mengamalkan nilai-nilai dari Pancasila sebagai mana keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-27 di Situbondo tahun 1984 yaitu kembali ke khittah NU,” ungkapnya.

Hari Santri 2019

Usai dilantik, para pengurus Ranting NU se-MWCNU Kecamatan Dringu tersebut akan segera menjalankan program kerjanya masing-masing demi memberikan manfaat kepada masyarakat. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian, Lomba Hari Santri 2019

Jumat, 12 Januari 2018

Rakernas V Lakpesdam Diakhiri dengan Pembacaan Deklarasi

Batam, Hari Santri 2019. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia NU di Asrama Haji Batam diakhiri dengan pembacaan Deklarasi Lakpesdam, Kamis (16/4) sore.

Rakernas berlangsung sejak Selasa (14/4) yang diikuti oleh 70 Pengurus Cabang Lakpesdam NU dari 21 provinsi di Indonesia. Rakernas ditutup oleh Sekretaris PWNU Kepulauan Riau Muhammad Zainuddin.

Berikut ini bunyi deklarasi yang dibacakan oleh Sekretaris PW Lakpesdam NU Kepulauan Riau Abdul Jamil:

Rakernas V Lakpesdam Diakhiri dengan Pembacaan Deklarasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas V Lakpesdam Diakhiri dengan Pembacaan Deklarasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas V Lakpesdam Diakhiri dengan Pembacaan Deklarasi

?

DEKLARASI RAKERNAS LAKPESDAM NU

Hari Santri 2019

Asrama Haji Batam, 14-16 April 2015

Lakpesdam NU sebagai lembaga pelaksana PBNU dalam bidang kajian dan pengembangan sumber daya manusia diberi mandat untuk melaksanakan kaderisasi dan pemberdayaan, kajian strategis dalam lingkungan NU. Mandat ini dihadapkan pada tantangan-tantangan ke depan yang semakin kompkeks. Liberalisasi ekonomi dan perdagangan bebas di tingkat ASEAN yang telah merambah bangsa, tak terkecuali warga Nahdliyyin, masalah-masalah keagamaan yang dihadapi komunitas Nahdliyyin dan Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) dari kelompok-kelompok intoleran dan radikal, hingga berlakunya UU Desa telah meneguhkan Khittah Lakspedam NU sebagai organisasi pengkaderan dan pengkajian dan pemberdayaan yang berkiprah di tengah masyarakat bawah dalam bidang keagamaan dan sosial (diniyah ijtima’iyyah). Oleh karena itu, Lakpesdam NU seluruh Indonesia mendeklarasikan:

Lakpesdam NU menyatakan komitmennya untuk memposisikan sebagai garda depan pengkaderan NU dengan mengukuhkan Lakpesdam NU sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat sekaligus sebagai pusat kajian strategis ke-Aswaja-an dan ke-NU-an untuk mengawal Indonesia yang berdaulat dan bermartabat demi tercapainya kesejahteraan dan kemaslahatan bangsa. Lakpesdam NU berupaya menggerakkan organisasi NU dimulai dari bawah, dari tingkat ranting dan desa-desa untuk melaksanakan agenda-agenda NU dalam bidang keagamaan maupun dalam bidang sosial-kemasyarakan dan kebangsaan. Lakpesdam NU menyatakan kesungguhan tekad untuk memperkukuh komitmen kebangsaan yang berorientasi pada kemaslahatan umat (faqih fi mashalih al-khalq) untuk memperkuat relasi masyarakat warga terhadap kepentingan berbagai pihak. Lakpesdam NU dituntut untuk menjaga kewaspadaan, membangun kepeloporan, menumbuhkan harapan, dan menjadi pemberi inspirasi dan solusi dalam mengatasi masalah-masalah agama, sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat, sekaligus mampu mempengaruhi masyarakat untuk menumbuhkan etos kerja dan semangat yang tinggi dalam meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya, baik di bidang material maupun spiritual, untuk mencapai keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara dimensi ruhiyah dan waqi’iyah. Lakpesdam NU bertekad menyiapkan kader-kader yang mengawal negara agar merevitalisasi nilai-nilai kearifan lokal dalam upaya membangun harmoni sosial yang selaras dengan pencapaian harkat kemanusiaan yang sesungguhnya dalam rangka peneguhan nilai-nilai tawassuth (moderat) dan tasamuh (toleran). Lakpesdam NU bergerak untuk mobilisasi potensi kader dan warga dalam rangka penyiapan posisi-posisi strategis untuk pencapaian politik kebangsaan yang berdaulat dan bermartabat. Lakpesdam NU berkomitmen kembai ke desa dengan bergerak memperkuat kapasitas masyarakat desa demi pencapaian nilai-nilai luhur kebersamaan dalam rangka membangun dan mensejahterakan masyarakat desa yang bermartabat,berdaulat, dan berkeadilan. Batam, 16 April 2015

Hari Santri 2019

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Nusantara, Makam Hari Santri 2019

Kamis, 11 Januari 2018

Ini Revolusi Mental Menurut Kasatkornas Banser

Jakarta, Hari Santri 2019

Kasatkornas Banser H Alfa Isnaeni, di Pesantren Al Hamid, Jakarta Timur, Selasa (21/11) menegaskan, revolusi mental telah dilakukan kader inti Pemuda Ansor dengan jelas meski dengan beragam resiko.

Ini Revolusi Mental Menurut Kasatkornas Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Revolusi Mental Menurut Kasatkornas Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Revolusi Mental Menurut Kasatkornas Banser

"Indonesia dengan ideologi Pancasila bagi kami sudah clear, jelas. Sehingga jangan pernah ragukan kecintaan kami kepada negara ini," ujar Kasatkornas kepada sejumlah pejabat Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Revolusi mental bagi pemuda Nahdlatul Ulama (NU), tegas Kasatkornas, ialah mengajak mental masyarakat Indonesia untuk bisa sejalan dengan Pancasila, bukan malah ingin menggantinya.

Hari Santri 2019

"Mental Ansor dan Banser adalah mental Pancasila, bukan mental khilafah, bukan pula mental  Partai Komunis Indonesia," tegas Kasatkornas.

Ia menegaskan, tidak akan pernah kader-kader Ansor dan Banser membubarkan pengajian yang benar-benar pengajian.

Hari Santri 2019

"Kita tidak pernah melakukan pembubaran pengajian. Yang kita bubarkan atau tepatnya kita tolak ialah orasi politik jualan khilafah berkedok pengajian. Begitu ditolak merasa dizalimi Banser," kata dia lagi.

Ulama-ulama NU seperti KH Asad Syamsul Arifin telah menegaskan jika Pancasila merupakan ijtihad dalam membuktikan watak rahmatan lil alamin untuk Indonesia.

Adapun KH Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asyari menerima Pancasila sebagai ideologi bangsa sehubungan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan konsep tauhid dalam Islam.

Bagi Indonesia, Pancasila sudah cukup, seperti halnya rukun Islam berjumlah lima, syahadat, mendirikan salat, zakat, puasa dan berhaji bila mampu.

Dan itu tak perlu ditambah dagangan politik mengatasnamakan Islam yang malah tidak memberi kontribusi positif bagi negara, demikian H Alfa Isnaeni dalam sambutan kegiatan Fasilitasi Pelatihan Revolusi Mental Bagi Pemuda digelar Kemenpora melalui Pusat Pembentukan Pemuda dan Olahraga Nasional (PPON) Kemenpora. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba Hari Santri 2019

Penguasaan Kebutuhan Pokok sebagai Strategi Dakwah para Wali

Salah satu faktor keberhasilan para penyebar agama Islam di Pulau Jawa periode awal, khususnya Wali Songo, adalah kealiman. Namun, selain modal penguasaan ilmu keislaman yang mumpuni, mereka juga memiliki pemahaman dan kecakapan yang tinggi tentang aspek-aspek budaya, politik, dan ekonomi yang berlaku pada suatu masyarakat yang dihadapinya. Dengan penguasaan aspek-aspek itu semua, mereka bisa secara dinamis mengenalkan agama Islam lewat beragam cara yang dianggap tepat dan efektif, jadi tidak melulu menggunakan model ceramah saja, misalnya.

Salah satu dari strategi penyebaran Islam di Jawa oleh para Wali pada abad ke14-15 yang mengagumkan ialah mereka berusaha menguasai aspek-aspek yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat seperti mata air dan bahan-bahan makanan (yang dipadukan dengan pendekatan lainnya seperti mengakomodasi tradisi agama lama yang tidak bertentangan). Dewasa itu para Wali sudah menyadari bahwa dengan menguasai dua aspek itu yang kemudian manfaatnya dirasakan oleh masyarakat, akan menjadi daya tarik tersendiri sehingga rakyat yang kala itu beragama Hindu tertarik untuk masuk Islam.

Penguasaan Kebutuhan Pokok sebagai Strategi Dakwah para Wali (Sumber Gambar : Nu Online)
Penguasaan Kebutuhan Pokok sebagai Strategi Dakwah para Wali (Sumber Gambar : Nu Online)

Penguasaan Kebutuhan Pokok sebagai Strategi Dakwah para Wali

Sudah menjadi semacam aksioma, bahwa kebutuhan pokok yang paling vital di masyarakat mana pun tak lain adalah bidang pangan dan air. Tidak kecuali di wilayah Majapahit waktu itu saat para Wali mulai melaksanakan misinya dalam menyebarkan agama Islam, soal pangan dan air pada masa menjelang runtuhnya Majapahit juga menjadi kebutuhan prioritas rakyat Majapahit.

Menurut Sejarahwan Agus Sunyoto dalam karyanya berjudul "Sunan Ampel Raja Surabaya", kebutuhan akan air di Jawa ternyata juga begitu penting sebab mereka yang telah menguasai air dapat dipandang sebagai telah melakukan penguasaan atas masyarakat seluruhnya, yang hal itu setidaknya telah dibuktikan dengan sejarah kelahiran kerajaan-kerajaan di Jawa sejak masa Airlangga membangun Kahuripan. Sementara pada masa kesuraman Majapahit yang disibukkan dengan kemelut sekitar suksesi setelah wafatnya Hayam wuruk, persoalan air yang menyangkut kebutuhan masyarakat malah terabaikan. Bendungan-bendungan dan irigasi terlantar tanpa perawatan dan sering menjadi pangkal penyebab perkelahian antar petani dalam pembagian air.

Hari Santri 2019

Dalam analisa Ketua Lesbumi NU ini, bahwa Kenyataan yang terkait dengan terabaikannya sektor pengairan di atas pada gilirannya lalu dilihat oleh para penyebar Islam dan dijadikan inspirasi perjuangan yang selaras dengan perjuangan Rasulullah Saw. Oleh sebab itu, tiap kali orang mendatangi tempat-tempat pemukiman penyebar Islam, baik di Ampel Denta, Giri kedhaton, Sendang, Drajat, Bonang, Demak, Kudus, Muria, hingga Gunung Jati, akan selalu menjumpai keberadaan sumber air yang dimanfaatkan masyarakat sekitar. Sehingga dengan menguasai sumber-sumber air, praktis masyarakat sekitar menjadi sangat tergantung.

Berikutnya tentang penguasaan bahan makanan. Agus Sunyoto menyebutkan bahwa pedagang-pedagang muslim yang sudah menghuni pesisir utara Jawa sejak abad ke-11 dalam koloni-koloni kecil, dengan terjadinya perubahan arus perdagangan akibat mundurnya kekuatan maritim Majapahit, menjadi semakin berkembang pengaruhnya. Bandar-bandar di utara pulau Jawa menjadi tempat penimbunan beras yang khususnya disediakan bagi keperluan para pedagang.

Hari Santri 2019

Proses penimbunan beras tempo itu pada dasarnya tidak bergeser dari pola tradisional, yakni para bangsawan setempat dan pegawai-pegawai keraton yang berwenang mengurusi penyerahan beras para petani di tanah pedalaman merupakan tengkulak tengkulak yang memonopoli sirkulasi beras dan bahan yang lain. Akibat monopoli para bangsawan dan para pegawai keraton ini, maka proses pemelaratan terhadap masyarakat petani makin meningkat. Sebagai akibatnya terjadi kesenjangan sosial yang sangat tajam dimana para bangsawan dan pegawai keraton yang korup makin kaya, sementara rakyat di pedesaan makin melarat.

Dalam keadaan yang demikian itu, kelas pedagang muslim sebagai kelas menengah mendadak menjadi tumpuan harapan bagi rakyat miskin yang tertindas. Ajaran Islam yang bersifat sosial seperti infaq, shodaqoh, dan zakat, dalam tempo singkat menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh penduduk yang miskin akibat sustem sosial dan perang yang tak kunjung usai.

Dengan demikian para penyebar Islam abad ke-14 dan ke-15 terutama Wali Songo telah menempatkan diri sebagai penolong bagi masyarakat miskin karena telah menguasai kebutuhan pokok manusia yaitu air dan bahan makanan. Maka tidak mengherankan bila cara dakwah partisipatif seperti itu membuahkan hasil berupa berbondong-bondongnya masyarakat dalam memeluk Islam yang semula beragama Hindu. (M Haromain)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba Hari Santri 2019

Jumat, 29 Desember 2017

Pemerintah Bubarkan HTI, IPNU Banyuwangi Kirim Karangan Bunga

Banyuwangi, Hari Santri 2019



Langkah tegas pemerintah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sebagaimana yang diumumkan oleh Menteri Koordinator Politik dan HAM Wiranto segera disambut antusias oleh warga Indonesia yang mencintai NKRI dan Pancasila sepenuh hati. Salah satunya Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Banyuwangi.

Pemerintah Bubarkan HTI, IPNU Banyuwangi Kirim Karangan Bunga (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Bubarkan HTI, IPNU Banyuwangi Kirim Karangan Bunga (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Bubarkan HTI, IPNU Banyuwangi Kirim Karangan Bunga

IPNU Banyuwangi yang dengan tegas menganggap NKRI dan Pancasila sebagai bentuk final bagi bangsa Indonesia, mengirimkan rangkaian karangan bunga kepada beberapa kantor instansi pemerintahan. "Ini sebagai bentuk apresiasi kami terhadap langkah tegas pemerintah terhadap Ormas yang mengancam keutuhan NKRI dan tegaknya Pancasila," tutur Ketua PC IPNU Banyuwangi Yahya Muzakki, Senin (8/5).

Lebih lanjut, Yahya mengatakan, keberadaan ormas anti Pancasila selama ini, cukup meresahkan karena telah memprovokasi anak-anak usia sekolah.?

"Kami yang bergerak di sekolah, kerap menemukan kader-kader HTI yang tidak segan membenarkan tindak terorisme yang terjadi di Indonesia karena menganggap negara ini, adalah negara thogut (penyembah syetan). Hanya karena bukan khilafah. Jelas ini bahaya," terangnya.

Selama ini, IPNU sendiri terus melakukan pendampingan kepada para pelajar dalam memperkuat nasionalismenya. "Kami aktif menggelar kelas kebangsaan di beberapa sekolah untuk memberikan penjelasan tentang nasionalisme dan Pancasila sebagai sesuatu yang Islami. Tidak harus khilafah, tapi dengan Pancasila pun, Indonesia bisa disebut negara islami," tambahnya.

Hari Santri 2019

Dengan adanya pelarangan aktivitas HTI di Indonesia, Yahya menghimbau kepada para pelajar yang telah terlanjur bergabung ke HTI untuk segera kembali ke cara beragama yang mengakui Pancasila sebagai ideologi negara yang tak bertentangan dengan Islam.

Hari Santri 2019

"Untuk bisa menjadi umat Islam yang kaffah, tidak harus dengan khilafah. Jika kita mau belajar agama yang benar seperti halnya di pesantren atau bisa bergabung di IPNU," ajaknya.

Beberapa instansi pemerintahan yang mendapatkan karangan bunga adalah Kantor Polres Banyuwangi, Kodim 0825 Banyawungi, dan Lanal Banyuwangi. "Kami sengaja memilih instansi militer, karena ini simbol penjaga NKRI," pungkasnya (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Habib, Lomba Hari Santri 2019

Minggu, 24 Desember 2017

Asad Said Ali: Pluralisme Indonesia Berbeda dengan Barat

Jakarta, Hari Santri 2019. Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali menyatakan pluralisme yang diterapkan di Indonesia berbeda nilai dengan pluralisme yang ada di dunia Barat. Jika diabaikan, perbedaan itu akan membawa bangsa ini ke arah yang bertentangan dengan khazanah budaya sendiri.

Asad Said Ali: Pluralisme Indonesia Berbeda dengan Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Asad Said Ali: Pluralisme Indonesia Berbeda dengan Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Asad Said Ali: Pluralisme Indonesia Berbeda dengan Barat

Hal itu disampaikan Asad saat menjadi pembicara kunci dalam dialog kebangsaan bertajuk “Menelisik Masa Depan Indonesia, Indonesia dalam Perspektif Sakralitas Budaya” di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (30/10)

Menurutnya, sejak awal kebhinekaan di Nusantara tidak terlepas dari nilai-nilai solidaritas, tujuan hidup dan persatuan bangsa. Sikap ini berbeda dengan pluralisme Barat yang cenderung didominasi unsur individualisme dalam pengejawantahannya.

Hari Santri 2019

Karena itu, As’ad mengingatkan segenap elemen bangsa untuk lebih memperhatikan kenyataan ini. Selain sebagai cermin kemandirian budaya, pluralitas jenis ini juga termasuk penghargaan pada tradisi yang dimiliki.

“Jadi bagaimana pluralitas diarahkan menjadi kebersamaan,” katanya.

Hari Santri 2019

Wakil Ketua Umum PBNU juga menyinggung beberapa kesalahan cara pandang sejumlah orang dalam melihat kelompok tradisional di Indonesia, seperti NU. “Masih banyak yang mengatakan NU itu antiBarat, menolak modernitas, padahal tidak,” ujarnya.

Dia menegaskan, NU merupakan kelompok yang menjunjung tinggi tradisi, namun tidak menutup diri dengan masukan luar yang relevan dan baik untuk bangsa ini. Prinsip ini selaras dengan kaidah fiqh al-muhafadhah alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara unsur lama yang masih baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik).

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis    : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Cerita Hari Santri 2019

Selasa, 19 Desember 2017

Raih Doktor Setelah Kupas Kepemimpinan Perempuan di Pesantren

Pamekasan, Hari Santri 2019. Kualitas dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pamekasan, Jawa Timur, terus dipertajam. Saat ini, jumlah doktor yang mengabdi di dalamnya sudah 22 orang. Menyusul doktor ke-23, Dr. Hj. Mariatul Qibtiyah Harun AR.

Raih Doktor Setelah Kupas Kepemimpinan Perempuan di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Raih Doktor Setelah Kupas Kepemimpinan Perempuan di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Raih Doktor Setelah Kupas Kepemimpinan Perempuan di Pesantren

Dosen tetap program studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah STAIN Pamekasan tersebut, menjalani ujian terbuka disertasi, Kamis (4/12) di UIN Sunan Ampel Surabaya. Bu Maria, begitu ia akrab disapa, mampu mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji yang diketuai Prof. Dr. H. Abd. A’la Basyir.

Dalam disertasinya, Bu Maria mengupas tuntas seputar kepemimpinan perempuan. Ia menggali peran perempuan dalam jejaring kekuasaan di pondok pesantren Aqidah Usymuni Tarate, desa Pandian, kecamatan/kabupaten Sumenep.

Hari Santri 2019

Dalam penelitiannya, Bu Maria menggunakan pendekatan kualitatif yang mengungkap dan menformulasikan data lapangan dalam bentuk narasi verbal yang utuh dan mendiskripsikan realitas aslinya untuk kemudian data tersebut dianalisis. Jenis penelitiannya, berkatagori penelitian kasus.

Bu Maria, dalam disertasinya, mengetengahkan peran dua perempuan yang mampu memimpin serta memajukan pesantren secara baik, yaitu Aqidah Usymuni dan Dewi Kholifah. Keduanya dapat menunjukkan jejaring kuasa perempuan untuk menembus ruang yang didominasi laki-laki. Dua sosok perempuan tersebut mempunyai kekuatan (power) dan strategi atau taktik yang tidak banyak dimiliki perempuan lain.

Hari Santri 2019

Tak hanya itu, peran kepemimpinan Aqidah Usymuni dan Dewi Khalifah juga diungkap secara gamblang. Peran keduanya cukup inovatif: mengembangkan manajemen pesantren; mengembangkan pendidikan baik formal, informal, dan non formal; pemberdayaan perempuan melalui NGO; dan aktif dalam politik praktis.

Tipologi dan hasil kepemimpinan perempuan di pesantren Aqidah Usymuni, tidak luput dari bidikan Bu Maria. Diketahui, kepemimpinan Aqidah Usymuni dan Dewi Khalifah adalah kepemimpinan kharismatik dan kolektif.

Sedangkan hasil atau dampak kepemimpinan perempuan, dalam penelitian Bu Maria, mengarah pada tiga hal:? kesadaran masyarakat tentang keadilan gender, membentuk sikap dan perilaku mandiri, dan membentuk keharmonisan sosial masyarakat.

Penelitian yang kemudian diterjemahkan ke dalam wujud disertasi oleh Bu Maria tersebut, tampak sangat ‘matang’. Sebab, selain keasliannya sudah teruji, juga diperkuat dengan 228 referensi. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ahlussunnah, Pemurnian Aqidah, Lomba Hari Santri 2019

Minggu, 17 Desember 2017

Doa Setelah Aktivitas Ngaji Ilmu

Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim dan muslimah, terlebih lagi menuntut ilmu agama yang kerap disebut aktivitas “ngaji ilmu”. Sebelum dan sesudah mengaji, kita dianjurkan berdoa agar Allah SWT membuka dan memudahkan pemahaman kepada kita.

Kita juga berharap Allah SWT menjaga ingatan atas ilmu yang telah kita hafal dan pahami. Berikut ini doa yang dianjurkan dibaca usai mengaji ilmu.

Doa Setelah Aktivitas Ngaji Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Setelah Aktivitas Ngaji Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Setelah Aktivitas Ngaji Ilmu

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hari Santri 2019

Subhânallâh walhamdu lillâhi wa lâ ilâha illallâh wallâhu akbar ‘adada kulli harfin kutiba aw yuktabu abadal âbidîn wadahrad dâhirîn.

Artinya, “Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan yang disembah selain Allah, Allah Tuhan Maha Besar sebilangan huruf dari huruf-huruf yang telah tertulis atau lagi akan tertulis selama-lamanya dan bertahun-tahun adanya,” (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta). (Alhafiz K)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Pesantren, Sholawat Hari Santri 2019

Selasa, 12 Desember 2017

Shinta Nuriyah Ulang Tahun

Jakarta, Hari Santri 2019. Mantan Ibu Negara Nyai Hj. Shinta Nuriyah hari ini, Sabtu (9/3) merayakan hari ulang tahun yang ke-65. Dalam acara ulang tahun ini beberapa acara digelar di Pesantren untuk Pemberdayaan Perempuan atau Puan Amal Hayati, seperti Atraksi Egrang dan perkusi, pengobatan gratis dan pembagian sembako untuk masyarakat sekitar.

Puan Amal Hayati menggandeng Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) untuk memberikan layanan pemeriksaan dan pengobatan gratis kepada Masyarakat. Sementara atraksi egrang dan perkusi ditampilkan oleh komunitas Tanoker dari Jember Jawa Timur.

Shinta Nuriyah Ulang Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Shinta Nuriyah Ulang Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Shinta Nuriyah Ulang Tahun

Kepada masyarakat yang hadir, Shinta Nuriyah menyampaikan terima kasihnya dan meminta doakan agar keberkahan dan manfaat dapat dilimpahkan Allah khususnya kepada bangsa Indonesia. Shinta berharap perjalanan bangsa Indonesia ke depan dapat lebih baik dan lebih bermartabat.

Hari Santri 2019

"Saya berterima kasih kepada Allah SWT atas nikmat yang dikaruniakan, khususnya kepada saya pribadi. semoga Allah juga senantiasa memberkati kita semua dan seluruh bangsa Indonesia," tutur Shinta yang lahir pada tanggal 8 Maret 1948 di Jombang ini.

Hari Santri 2019

Sementara itu, koordinator Pelayanan Masyarakat LKNU dr. Makky menyatakan kegiatan ini dilaksanakan oleh LKNU dalam rangka pengabdian masyarakat. Pengobatan gratis seperti ini juga sering dilakukan LKNU di berbagai tempat.

"LKNU sebagai bagian tak terpisahkan dari NU berusaha terus mengabdi untuk bangsa, khususnya warga NU. Kami berharap pengabdian kami, sesedikit apa pun dapat bermanfaat dan terus berlanjut demi tegaknya bangsa yang lebih baik," tutur Makky.

Acara yang digelar dari pagi hingga sore hari ini diikuti oleh saratusan warga sekitar Ciganjur dan kolega Shinta Nuriyah dari dalam dan luar negeri.

Penulis : Syaifullah Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Daerah, Lomba, Fragmen Hari Santri 2019

Kamis, 07 Desember 2017

Pengetahuan Saja Tak Jamin Indonesia Maju

Jakarta, Hari Santri 2019. Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi berpendapat, masa depan Indonesia tidak bisa hanya diandalkan kepada meningkatnya jumlah kaum intelektual di Tanah Air. Pasalnya, negeri ini lebih membutuhkan kaum bermoral tinggi.

Pengetahuan Saja Tak Jamin Indonesia Maju (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengetahuan Saja Tak Jamin Indonesia Maju (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengetahuan Saja Tak Jamin Indonesia Maju

”Sarjana hukum sangat banyak tapi hukum tetap dinjak-injak. Ahli hukum tapi kena hukuman. Sarjana ekonomi juga banyak tapi pengangguran selalu ada di mana-mana. Banyak juga yang ahli pendidikan namun tidak punya karakter,” katanya pada peringatan haul Syaikh Abdul Qadir al-Jailani di Pesantren As-Sholihin al-Abror Cilincing, Jakarta Utara, (24/2).

Hasyim mengatakan, ilmu pengetahuan harus disertai moralitas yang digali dari ketaatan beragama. Al-Qur’an mengingatkan, sebutan ulama hanya untuk hamba-hamba yang takut dan taat (khasy-yah). Inilah yang membedakan antara ulama dan panggilan kiai, tuan guru, buya, atau sejenisnya.

Hari Santri 2019

Menurut pengasuh Pondok Pesantren al-Hikam Depok ini, sekarang Indonesia sedang mengalami krisis orang-orang pintar yang berdedikasi, amanah, dan jujur. Selain hukum, ekonomi, dan pendidikan, keadaan ini juga banyak terjadi dalam politik.

Dengan mudah, lanjut Hasyim, calon pejabat menghalalkan cara-cara haram demi meraih kursi kekuasaan. Masyarakat juga dinilai kian permisif, bahkan kadang mendukung, kebobrokan moral para politisi ini karena turut memperoleh kenikmatan meskipun sesaat.

Hari Santri 2019

”Lha, yang mau dicari itu pemimpin atau pemain. Kalau pemimpin maka akan menghasilkan pimpinan, tapi kalau pemain akan menghasilkan permainan,” terangnya.

Karena itu, Hasyim mengimbau umat Islam untuk memperbaiki diri baik pada segi etos kerja ataupun ketaatan beragama. ”Indonesia ini tidak kekurangan orang pinter, tapi kekurangan orang bener,” tuturnya.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pendidikan, Ulama, Lomba Hari Santri 2019

Rabu, 06 Desember 2017

Hadapi Ideologi Garis Keras, Ansor Majalengka Jaga Kekompakan

Majalengka, Hari Santri 2019. Keluarga Besar Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Majalengka, Jawa Barat, Ahad? (10/8) kemarin menggelar kegiatan Silaturrahim dan Halal Bihalal yang dihadiri oleh jajaran dewan penasihat, mantan ketua cabang,? pengurus cabang dan anak cabang se-Kabupaten Majalengka yang bertempat? di sekretariat PAC Ansor Sindangwangi.

Dalam sambutanya ketua Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Majalengka Ahmad Khotib, S.Ag menyampaikan ucapan terima kasih kepada para mantan ketua, para alumni Ansor dan jajaran penasehat atas perjuanganya selama ini sehingga? Ansor Banser Majalengka bisa eksis sampai sekarang.

Hadapi Ideologi Garis Keras, Ansor Majalengka Jaga Kekompakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Ideologi Garis Keras, Ansor Majalengka Jaga Kekompakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Ideologi Garis Keras, Ansor Majalengka Jaga Kekompakan

Disampaikan juga bahwa kepada seluruh kader Ansor dan Banser diwajibkan mengikuti kaderisasi baik pelatihan kader dasar (PKD) dan dan Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Banser yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Hari Santri 2019

Acara silaturrahim sekaligus diisi dengan deklarasi penolakan terhadap faham dan gerakan? Islamic State Of Irak and Suriah (ISIS) karena jelas-jelas menodai Islam dan bisa merongrong keutuhan NKRI, dan diinstruksikan kepada seluruh kader dari jajaran pengurus cabang sampai tingkat ranting untuk mewaspadai gerakan ISIS dan bila menemukan gerakan yang mencurigakan untuk segera melaporkan kepada kepolisian setempat. Deklarasi disampaikan oleh Ketua PC GP Ansor, Satkorcab Banser dan Dewan Penasehat? Ansor.

Hari Santri 2019

Selaku jajaran penasehat Drs. Arifin Muslim, MM.? dalam sambutanya berpesan kepada seluruh kader agar selalu menjaga kekompakan antar kader dan konsisten menjaga aqidah ahlusunnah waljama’ah annahdiyah dari rongrongan ideologi-ideologi? yang? menodai Islam dan ideologi-ideologi yang menngancam keutuhan NKRI.

Sebagai acara penutup dilakukan musofahah antar kader yang ditutup dengan do’a. (Aris Prayuda/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Cerita Hari Santri 2019

Selasa, 05 Desember 2017

Bertemu di Jakarta, Alumni Suriah Jamin Tak Terlibat ISIS

Jakarta, Hari Santri 2019. Para alumni beberapa perguruan tinggi dan ma’had di Suriah yang berasal dari Indonesia akan mengadakan pertemuan di Jakarta, Sabtu (28/3) besok. Dalam keterangannya kepada Hari Santri 2019, mereka menjamin tidak ada satu pun alumni yang terlibat dalam kelompok radikal ISIS yang berpusat di Suriah dan Irak.

Pertemuan alumni akan diadakan di Puncak Bogor dimulai Sabtu pagi dan akan berlangsung sampai Ahad. Para alumni dari luar kota sebelumnya akan menginap di Pondok Pesantren Al-Kenaniyah Pulomas, Jakarta Timur.

Bertemu di Jakarta, Alumni Suriah Jamin Tak Terlibat ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Bertemu di Jakarta, Alumni Suriah Jamin Tak Terlibat ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Bertemu di Jakarta, Alumni Suriah Jamin Tak Terlibat ISIS

Menurut Ketua Panitia H Fathir Hambali, pertemuan alumni diadakan rutin setiap tahun. “Ini pertemuan keempat. Tahun kemarin pertemuan diadakan di Surabaya,” katanya.

Menurut Fathir, saat ini ada sekitar 150 alumni Suriah yang ada di Indonesia. Mereka belajar sejak tahun 1990-an. di beberapa kapus dan ma’had seperti Universitas Damaskus, Universitas Abu Nur, Ma’had Fatah dan beberapa ma’had di Damaskus.

Hari Santri 2019

Sementara mahasiswa dan santri yang saat ini masih mengenyam pendidikan di Suriah hanya berjumlah sekitar 20 orang. “Mereka terpusat di Damaskus dan dijamin steril dari ISIS, karena ISIS tidak menjangkau wilayah Ibukota,” katanya.

Terkait pergerakan ISIS yang menjadi isu global saat ini, menurut Fathir, para alumni dipastikan tidak akan bergabung dengan kelompok daulah khilafah Irak dan Suriah itu.

“Mereka belajar dari ulama Ahlussunnah wal Jamaah dan mengikuti empat madzhab seperti Indonesia. Jadi secara ideologis apa yang kita pelajari sangat berbeda dengan apa yang dikembangkan dan diyakini kelompok ISIS yang suka kekerasan, suka mengkafirkan,” katanya.

Menurut Fathir yang juga Ketua Alumni Suriah di Indonesia, beberapa karya ulama Suriah yang dipelajari oleh para alumni saat ini sudah menjadi bahan kajian di pesantren-pesantren di Indonesia dan sudah diterima oleh para kiai, seperti karya-karya Syekh Al-Buthi dan Syekh Wahbah Zuhaili.

Hari Santri 2019

Ditambahkan, warga Indonesia yang mungkin bergabung dengan ISIS bukan mahasiswa atau santri alumni Suriah. “Yang paling mungkin bergabung adalah mereka yang baru belajar agama lalu dicuci otaknya dan diajak bergabung,” katanya.

“Kita juga perlu mengingatkan bahwa ISIS bukan persoalan agama, tetapi persoalan politik yang dibawa ke agama,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

Foto: Beberapa alumni Suriah menyambut kehadiran Syekh Wahbah Zuhaili di Indonesia tahun 2014 lalu

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaSantri, Internasional, Lomba Hari Santri 2019

Aminuddin Ma’ruf Ketum PB PMII 2014-2016

Jakarta,Hari Santri 2019. Aminuddin Ma’ruf terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia periode 2014-2016 pada Kongres Jambi yang berlangsung 30 Mei sampai 10 Juni 2014.

Amin, kader PMII yang diusung Cabang Jakarta Timur tersebut menyelesaikan S1 di Universitas Negeri Jakarta dan melanjutkan S2 di Universitas Trisakti. Di PB PMII sebelumnya ia dipercaya sebagai Ketua Biro Pemberdayaan Ekonomi.

Aminuddin Ma’ruf Ketum PB PMII 2014-2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Aminuddin Ma’ruf Ketum PB PMII 2014-2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Aminuddin Ma’ruf Ketum PB PMII 2014-2016

Salah seorang pengurus PB PMII, Abdul Malik, menceritakan proses pemilihan di kongres tersebut. Menurut dia, awalnya yang mencalonkan diri menjadi ketua umum sekitar 15 orang. Setelah beberapa calon mengundurkan diri, 5 kandidat maju pada putaran pertama.

Hari Santri 2019

Kata Malik, pada putaran pertama itu Muammarullah Umam mendapat 51 suara, Aminuddin Ma’ruf 38,? Abdul Aziz 7, Zaini Mustakim 41, Jabidi Ritonga 35, Miftahul Aziz 45. Sementara pada putaran kedua Aminuddin 102, Muammarullah Umam 74, Miftahul Aziz 64.? ?

Hari Santri 2019

“Aminuddin terpilih secara demokratis pada kongres tersebut,” kata Abdul Malik melalui telpon Selasa (10/6). (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Hikmah, Nahdlatul Ulama Hari Santri 2019

Senin, 04 Desember 2017

Muslimat NU Probolinggo Gelar Festival Bakat dan Minat Siswa PAUD dan TK/RA

Probolinggo, Hari Santri 2019. Dalam rangka pra hari lahir (harlah) ke-71 Muslimat NU, Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo menggelar Festival Bakat dan Minat Siswa PAUD dan TK/RA se-Kabupaten Probolinggo dan Kota Probolinggo, Jum’at (7/4/2017).

Kegiatan yang digelar di halaman SD Unggulan Rohmatul Ummah Desa Kropak Kecamatan Bantaran Kabupaten Probolinggo ini mengambil tema Satukan Langkah Membangun Negeri Menjaga NKRI.

Muslimat NU Probolinggo Gelar Festival Bakat dan Minat Siswa PAUD dan TK/RA (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Probolinggo Gelar Festival Bakat dan Minat Siswa PAUD dan TK/RA (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Probolinggo Gelar Festival Bakat dan Minat Siswa PAUD dan TK/RA

Festival dikemas dalam 3 kegiatan lomba meliputi lomba mewarnai, puisi dan tartil. Kegiatan diikuti lebih dari 300 peserta tersebar dari 11 kecamatan ? Kabupaten Probolinggo dan 5 kecamatan Kota Probolinggo.

Suparno dari Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Bantaran mengungkapkan bahwa kegiatan semacam ini sangat bagus sebagai motivasi bagi peserta didik untuk mengembangkan bakat dan minatnya. “Diharapkan pada tahun mendatang jenis lomba yang diadakan dapat ditambah,” harapnya.

Setelah melalui penilaian dari dewan juri, lomba mewarnai dimenangkan oleh RA Intisyarul Ulum Kota Probolinggo. Sedangkan lomba tarti dimenangkan oleh RA Nawa Kartika Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo.

Hari Santri 2019

Dalam sambutan Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Nurayati menyampaikan bahwa pada awalnya RA lahir dari ibu-ibu Muslimat, namun saat ini RA seolah jauh dari Muslimat. “Harapannya agar kedepan Muslimat NU dapat membina RA,” katanya.

Sementara Sekretaris PCNU Kabupaten Probolinggo Khairul Ishaq meminta agar semua lembaga senantiasa menjaga agar ajarannya tidak melenceng dari aqidah Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja). “Mari bersama-sama menjaga kualitas dan kuantitas agar lembaga RA ini selalu berpedoman kepada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah,” ajaknya.

Sementara Katib PCNU Kabupaten Probolinggo KH Masrur Nashor memberikan apresiasi atas terselenggaranya festival bakat dan minat siswa PAUD dan TK/RA degan harapan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.?

“Lomba semacam ini sangat bermanfaat sekali dalam pembentukan karakter anak sebagai calon generasi muda bangsa yang akan datang. Kami berharap agar tahun mendatang perlu dikembangkan lomba-lomba yang memotivasi peserta didik cinta pada NU seperti lomba mengenal tokoh-tokoh NU,” katanya. (Syamsul Akbar/Mukafi Niam)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock