Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Februari 2018

NU Riyadh Wadahi Heterogenitas Ekspatriat Indonesia

Riyadh, Hari Santri 2019. Semarak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya menggema dari Nusantara saja, tetapi juga tersiar di negeri tempat lahir Beliau, Arab Saudi. Berbekal mahabbah dan harap akan syafaatnya, ekspatriat Nahdliyin yang mendiami Kota Riyadh mengadakan festival dan pengajian akbar.

NU Riyadh Wadahi Heterogenitas Ekspatriat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Riyadh Wadahi Heterogenitas Ekspatriat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Riyadh Wadahi Heterogenitas Ekspatriat Indonesia

Acara yang diadakan Jumat, (30/12) lalu tersebut juga diselenggarakan untuk memperingati Haul Ke-7 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.?

Festival yang kemudian berlanjut pengajian akbar tersebut dimulai pada pukul 20.30 waktu setempat. Acara dibuka dengan pembacaan puisi dan kisah Nabi Muhammad dengan bahasa Inggris oleh putri-putri ekspatriat Nahdliyin. Pembacaan maulid Simthud Duror kemudian menggema tak lama setelah festival usai.?

Musolli Busadin, Ketua Majelis Wakil Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (MWCINU) Riyadh dalam sambutannya mengajak seluruh nahdliyin untuk berpartisipasi dan berjuang dalam menghidupkan spirit Aswaja di Kota Riyadh.?

Hari Santri 2019

Dalam redaksi khusus, dia mengajak Nahdliyin untuk menyukseskan program madrasah diniyah yang sedang dalam tahap penggodokan. Menurutnya, MWCINU Riyadh juga berkepentingan mendirikan madrasah diniyah sebagaimana yang dilakukan oleh PCINU Arab Saudi yang bermarkas di Jeddah.?

Hadir dalam acara tersebut, Dubes Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel. Selain menceritakan kenangannya tentang Gus Dur, dalam sambutannya, Agus Maftuh menceritakan suka dukanya menjadi duta besar.?

Hari Santri 2019

Menurutnya, meskipun sudah banyak prestasi yang ditoreh olehnya bersama para staf di antaranya, menangani dan menyelesaikan kasus majikan yang tidak menggaji ekspatriat Indonesia selama 13 tahun, dan menyelesaikan kasus pekerja yang di-PHK oleh Syarikah Bin Laden; namun keberhasilan tersebut masih dianggap tidak seberapa sampai semua ekspatriat Indonesia hidup tentram.?

Menanggapi madrasah diniyah yang diinisiasi oleh MWCINU Riyadh, Agus Maftuh mendukung sepenuhnya program tersebut. Menurutnya, meskipun telah meninggalkan negaranya, ekspatriat, khususnya kalangan nahdliyin harus tetap menjaga identitasnya. Salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan mengikuti kegiatan yang diadakan oleh MWCINU di madrasah diniyah.?

Nur Hadi, mahasiswa Jami’ah al-Imam Muhammad ibn Sa’ud yang menjadi pembicara pertama pada pengajian tersebut, menyinggung keharusan MWCINU untuk menjadi wadah pemersatu ekspatriat yang heterogen.?

Sedang Ulil Abshar, mahasiswa Jami’ah al-Imam Muhammad ibn Sa’ud yang menjadi pembicara kedua menceritakan kisah masyhur Rasulullah yang mengangkat anak yang ditinggal mati syahid oleh orang tuanya. (Irza A. Syaddad/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pertandingan Hari Santri 2019

Senin, 12 Februari 2018

Ida Fauziah Desak Sediakan Website NU Bagi Pelajar

Palembang, Hari Santri 2019. Ida Fauziah, Ketua Umum Fatayat NU mendesak IPPNU-IPPNU untuk menyediakan media ke-NU-an bagi para pelajar. Ketersediaan media NU bagi pelajar menurutnya menjadi satu kebutuhan mendasar bagi pelajar-pelajar NU saat ini.

Ida Fauziah Desak Sediakan Website NU Bagi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ida Fauziah Desak Sediakan Website NU Bagi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ida Fauziah Desak Sediakan Website NU Bagi Pelajar

Ida Fauziyah menyampaikan tuntutannya dalam sebuah seminar yang dihadiri peserta kongres IPPNU-IPNU di Gedung Serbaguna Asrama Haji, jalan Kolonel H. Barlian KM.9, Kota Palembang, Ahad, (2/12) petang.

“Media seperti website yang memenuhi kebutuhan pelajar ini penting untuk digarap IPPNU dan IPNU. Kalau hal ini diabaikan, maka para pelajar akan beralih kepada website Islam radikal yang kini menjamur,” tutur Ida Fauziyah.

Hari Santri 2019

Para pelajar Indonesia saat ini, menurutnya, akan dengan mudah mengakses media online yang menyediakan kebutuhan mereka. Sayangnya, menurut Ida, media seperti digarap oleh gerakan-gerakan Islam fundamentalis.

Hari Santri 2019

“Keniscayaan itu sangat tinggi karena pelajar-pelajar itu tidak melihat adanya media Islam alternatif yang sesuai dengan visi pelajar NU,” tegas Ida di hadapan sedikitnya empat ratus peserta kongres yang menghadiri seminar.

Untuk memenuhi kebutuhan keagamaan, para pelajar hanya menemukan situs Islam garis keras di internet. Menurut Ida, IPPNU dan IPNU harus membidik sarana internet sebagai medan perjuangan visi NU.

Ida mengimbau IPPNU dan IPNU mendayagunakan media online untuk mengawal visi Islam yang rahmatan lil alamin. Kalau bukan IPPNU dan IPNU sebagai basis NU di kalangan pelajar yang memanfaatkan peluang dari teknologi-informasi, tidak mustahil para pelajar Indonesia akan terpengaruh oleh ajaran Islam garis keras yang bertebaran di internet, tegasnya.?

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pertandingan Hari Santri 2019

Selasa, 06 Februari 2018

Usai Kudus, Rapimda LTMNU Berlanjut ke Jepara

Jepara, Hari Santri 2019. Setelah rapat pimpinan daerah (Rapimda) Lembaga Tamir Masjid NU (LTMNU) sukses diadakan PCNU Kabupaten Kudus, giliran PCNU Kabupaten Jepara menggelar acara serupa, Ahad (10/3).



Usai Kudus, Rapimda LTMNU Berlanjut ke Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Kudus, Rapimda LTMNU Berlanjut ke Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Kudus, Rapimda LTMNU Berlanjut ke Jepara

Rapimda LTMNU Jepara dilaksanakan di aula PCNU setempat, Jalan Pemuda 51, Jepara, Jawa Tengah. Secara resmi acara dibuka Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Masudi.

Ketua PCNU Jepara H Asyhari Syamsuri menilai, penyelenggaraan Rapimda di "Kota Ukir" ini sangat tepat, mengingat mayoritas masjid di Jepara dikelola warga NU.

Hari Santri 2019

Asyhari berharap, melalui Rapimda LTMNU kali ini peserta akan lebih aktif memaksimalkan fungsi masjid tak hanya sebagai tempat ibadah tapi juga pembawa maslahat bagi masyarakatnya.

Hari Santri 2019

Sekurangnya 300 orang mengikuti acara konsolidasi ini, mayoritas adalah pengurus NU dari tingkat cabang hingga ranting. Sebagian lain, imam masjid, khatib, serta anggota Muslimat, Fatayat, GP Ansor, dan IPNU-IPPNU.

Turut hadir dalam kesempatan ini, Ketua PP LTMNU KH Abdul Manan A Ghani beserta jajarannya dan perwakilan Bupati Jepara, Haryono Wibowo.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pertandingan Hari Santri 2019

Kamis, 25 Januari 2018

Buya Leter, Sosok Pemegang Teguh Agama dengan Adat

Tidak banyak ulama yang mampu memahami pertautan agama dengan adat Minangkabau di Sumatera Barat. Di tengah mencuatnya Islam Nusantara yang mengakar dan tumbuh di tengah masyarakat Indonesia, di Sumatera Barat dikenal ungkapan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK).?

Ungkapan ini menempatkan bagaimana adat Minangkabau yang sudah ada di tengah masyarakat Minangkabau dapat diselaraskan dengan nilai-nilai agama Islam. Adat yang sudah duluan ada di tengah masyarakat, tidak dipertentangkan dengan Islam. Namun bagaimana ? adat tersebut dapat dijiwai dengan nilai-nilai agama. Buya Leter adalah sosok pemegang teguh perpaduan tersebut.?

Buya Leter, Sosok Pemegang Teguh Agama dengan Adat (Sumber Gambar : Nu Online)
Buya Leter, Sosok Pemegang Teguh Agama dengan Adat (Sumber Gambar : Nu Online)

Buya Leter, Sosok Pemegang Teguh Agama dengan Adat

Sosok Awan PBNU Buya Drs. H. Tuanku Bagindo Mohammad Leter, yang masuk dalam daftar 39 ulama yang diusulkan sebagai calon anggota Ahlul Halli wal Aqdi merupakan ulama Minang yang mampu memadukan adat Minang dengan nilai-nilai Islam yang ada di Sumatera Barat. ? Buya Leter kelahiran Pakandangan 16 April 1934, diangkat menjadi tuanku di Surau (Pesantren) Mato Aia, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat tahun 1971. Itu artinya ? Leter sudah diakui sebagai tamatan pesantren dan memiliki pengetahuan agama.

Sebelumnya, Buya Leter sudah belajar di Madrasah MIT Pakandangan tahun 1948. Melanjutkan pendidikan ke SMP Persatuan Guru Indonesia Bukittinggi (1948) dan menamatkannya di SMP IPP Bukittinggi tahun 1953. Masuk Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA) Negeri tahun 1956 di Yogyakarta. Dari sana, Leter menamatkan sarjana muda IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 1964 Fakultas Tarbiyah. Sedangkan sarjana lengkap diselesaikan tahun 1970 di tempat yang sama.

Hari Santri 2019

Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari kolonial Belanda, tahun 1947-1948 Leter bekerja di bengkel senjata Mobil Brigade (sekarang Brimob) di Bukittinggi. Dari sana, menjadi Tentara Pelajar (1948-1949) di Bukittinggi. Tamat SGHA, Leter diangkat menjadi PNS di Kabupaten Bengkalis, ditempatkan di Bagansiapi-api menjabat Kepala Sekolah Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) Alwashliyah (1957-1961).

Hari Santri 2019

Ketika di Yogyakarta tahun 1954, Leter turut aktif dalam pendirian Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama bersama Prof.Dr. KH Chatibul Umam (sekarang salah seorang pengurus PBNU). Di tengah sibuk menyelesaikan kuliah tahun 1966, dipanggil mengikuti wajib militer untuk SEPACAD-AD di Bandung. Setelah mengikuit latihan 6 bulan, muncul kebimbingan antara ingin meneruskan karir militer, menyelesaikan sarjana lengkap IAIN dengan kembali ke PNS. Akhirnya, melalui SK Menteri Agama, 31 Agustus 1967 ditugaskan menjadi Penilik Pendidikan Agama di Kabupaten Padangpariaman. Hanya dua bulan kemudian, Bupati Padangpariaman Mohammad Noer memintanya jadi anggota DPRDGR Padangpariaman dari Partai Nahdlatul Ulama, terpilih menjadi Wakil Ketua I DPRDGR Padangpariaman hingga 1971.

Dari Padangpariaman, Leter pindah bertugas ke Departemen Agama Sumatera Barat. Sebagai ulama, dipercaya sebagai Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar (1975-1991). Tahun 1979 Leter diminta menjadi pengurus Golkar. Leter menolak karena semua orang tahu ia dari Partai NU dulunya.

"Kalau Buya tidak masuk, tidak ada ulama di Golkar. Siapa yang akan memberikan nasehat jika dibutuhkan. Jangan-jangan orang lain yang tidak jelas keulamaannya. Setelah berkonsultasi dan restu dari tokoh NU di Sumatera Barat, saya pun bersedia. Karena tujuannya juga untuk berdakwah, menegakkan Islam Ahlussunnah Waljamaah. Ternyata langsung ditempatkan di jajaran Wakil Ketua DPD Golkar Sumatera Barat," kenang Buya Leter, yang dua periode menjadi anggota DPRD Sumatera Barat, kepadaHari Santri 2019 Selasa (14/7/2015) di kediamannya, kawasan Ulakkarang Padang.

Setelah tidak di politik, aktifitas Leter tidak pernah sepi. Berdakwah ke berbagai masjid, surau, ? majelis taklim. Belum lagi berbagai pertemuan ilmiah, seminar, pelatihan, workshop dan diskusi. Sebagai Wakil Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) periode 2005-2010, Leter semakin memiliki ruang memadukan adat Minangkabau dengan agama Islam. Leter paham betul bagaimana perpaduan adat Minang ? dan Islam sebagaimana ? ungkapan ? Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK). Dengan jejak rekam itu, nyaris tidak ada masyarakat di Sumatera Barat yang tak kenal dengan Buya Leter ini. Banyak tokoh nasional yang datang ke Sumatera Barat, Buya Leter turut mendampinginya.

Penulis buku, Tuntutan Rumah Tangga Muslim dan Keluarga Berencana ini, belakangan sering mengisi dakwah di Stasiun TVRI. "Materi yang disampaikan Buya Leter menarik, simpel dan mudah dipahami. Saya senang dan sering nonton," tutur Pengurus PP Lesbumi M. Dinal kepada Hari Santri 2019 ? beberapa waktu lalu di Jakarta.

Aktivitas organisasi yang dilalui ? Leter diantaranya, Sekretaris ? Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia Bukittinggi (1950-1952), Ketua Umum Persatuan Pelajar Sekolah Guru (PPSG) Daerah Istimewa Yogyakarta (1955-1957), Pengurus Cabang PII (Pelajar Islam Indonesia) Cabang Yogyakarta ? (1954-1956), Sekretaris Dewan Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1964-1966), Wakil Ketua Presiden MMI (Majelis Mahasiswa Indonesia) Yogyakarta (1965-1967), Ketua Koordinator Dema/Sema Universitas dan Perguruan Tinggi Islam ? DI. Yogykarta ( 1965 - 1967), Pengurus Ex. Tentara Pelajar/ Pelajar Pejuang Sumatera Tengah Komisaris Daerah Sumatera Barat (1980), Anggota LAKSUSDA Penanggulangan Bahaya Komunis Kodam III/ 17 Agustus (1981-1983), Wakil Ketua PKBI Prop. Sumatera Barat (1981-1989), Wakil Sekretaris Panitia MTQ tingkat Nasional ke XIII ? di Sumatera Barat (Padang) (1982-1983), Wakil Ketua PDK Kosgoro Prop. Sumatera Barat (1986-1991), Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Propinsi Sumatera Barat (1988-1993), Ketua Satkar Ulama Prop. Sumatera Barat ? (1994-1999), Wakil Ketua I PMI ? (Palang Merah Indonesia) Prop. Sumatera Barat ? (1994-sek.), Wakil Ketua LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran) Prop. Sumatera Barat ( 1999-sek.), Ketua Umum Ikatan Mubaligh Sumatera Barat (2002-sek.), Musytasar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatera Barat (2003 – 2004), Wakil Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatera Barat (2005 – 2010) dan sekarang Awan PBNU (2010-2015). (armaidi tanjung)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Tegal, Pertandingan Hari Santri 2019

Selasa, 23 Januari 2018

GP Ansor Waykanan Buka Lomba Menulis soal Transparansi Anggaran

Bandar Lampung, Hari Santri 2019. Setelah menyelenggarakan lomba penulisan opini bagi pelajar SMA atau sederajat se-Provinsi Lampung, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Waykanan, Lampung, kembali menggelar lomba sejenis bagi kalangan mahasiswa.

GP Ansor Waykanan Buka Lomba Menulis soal Transparansi Anggaran (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Waykanan Buka Lomba Menulis soal Transparansi Anggaran (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Waykanan Buka Lomba Menulis soal Transparansi Anggaran

Perlombaan hasil kerjasama dengan Komisi Informasi Provinsi Lampung ini mengusung tema "Perlunya APBN/APBD Terbuka untuk Publik". Ketua panitia lomba, Gatot Arifianto, mengatakan dengan kegiatan ini pihaknya mengajak generasi muda berpartisipasi dalam menciptakan transparansi publik terkait anggaran.

"Juara I lomba tersebut berhak mendapatkan hadiah uang pembinaan Rp 1 juta, juara II uang pembinaan Rp 750 ribu, juara III uang pembinaan Rp 500 ribu, dan tujuh nominasi masing-masing mendapatkan uang Rp 100 ribu," ujar Gatot di Bandar Lampung, Kamis lalu.

Hari Santri 2019

Sepuluh penulis opini terbaik berhak juga atas sertifikat, paket buku terbitan Indepth Publishing, dan voucher analisa sidik jari gratis untuk mengetahui bakat dan potensi diri dari De MOST (Motivator, Observer, Service, Totally) Fingerprint.

Selain itu, 10 karya terpilih tersebut akan ditampilkan pada portal teraslampung.com sebagai kampanye publik pentingnya mengetahui informasi penggunaan APBN/APBD. Naskah lomba bisa dikirim mulai 12 Februari hingga 24 Maret 2014. Lalu proses penjurian dilaksanakan pada 25 Maret sampai dengan 5 April 2014, dan pengumuman pemenang pada 7 April 2014.

Hari Santri 2019

"Pengumuman lomba tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan sedunia. Kami ingin dunia kecil bernama Indonesia bebas dari sakit berkepanjangan," kata Gatot lagi.

Ketua Komisi Informasi Provinsi Lampung Juniardi didampingi Ketua PC GP Ansor Waykanan Supri Iswan berharap lomba penulisan opini tersebut dapat menggugah generasi muda dalam membangun kesadaran anti terhadap korupsi dan ikut mencegah terjadinya korupsi dengan mengawasi anggaran dari pembahasan hingga realisasi.

"Korupsi menjadi isu hangat pemberitaan media massa dalam beberapa tahun terakhir. Tidak hanya di pusat, di daerah korupsi juga bermunculan seperti jamur di musim hujan, melibatkan dari pejabat tingkat bawah hingga pimpinan tertinggi baik oknum bupati maupun gubernur,” ujarnya.

Aturan Lomba

Supri lalu menambahkan, ketentuan umum lomba penulisan opini berbasis penggunaan APBD provinsi/kabupaten/kota di Lampung adalah karya berbentuk opini ditulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, sesuai ketentuan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) minimal tiga halaman dan maksimal lima halaman kuarto.

Karya opini dibuat dengan gaya ilmiah populer seperti layaknya opini di media massa (koran/majalah/media online). Karya opini tidak dibuat bab per bab seperti tata penulisan karya ilmiah untuk skripsi, tesis, atau disertasi.

Inti tulisan berupa pendapat/tesis dan analisis penulis seputar pengetahuan tentang APBN/APBD dan UU No 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) berikut implementasi dan keharusannya di lapangan.

"Lomba ini terbuka untuk mahasiswa se-Lampung. Karya yang ditulis tidak mengandung unsur SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Peserta melampirkan biodata, foto diri ukuran post card, berwarna sebanyak dua lembar. Naskah opini telah diterima panitia selambat-lambatnya pada 24 Maret 2014," kata Supri menjelaskan.

Adapun ketentuan khusus lomba penulisan opini tersebut ialah peserta diperkenankan mengirimkan maksimal tiga judul opini.

Karya tulis dikirim belum pernah dipublikasikan di media massa baik lokal maupun nasional, termasuk melalui internet. Karya cipta harus asli, bukan terjemahan maupun saduran, jiplakan atau dibuatkan oleh orang lain (bukan hasil plagiat), dan bukan hasil klaim terhadap hak cipta orang lain. Opini hasil googling atau mengambil lebih dari 30 persen bahan dari internet melalui mesin pencarian google dan sejenisnya akan langsung didiskualifikasi.

"Naskah diketik dengan page set up ukuran kuarto, huruf Times New Roman, font 12 pt, spasi 1,5," ujarnya.

Setiap peserta dikenakan biaya pendaftaran (transfer) Rp10.000 per judul opini ke nomor rekening Bank Mandiri 114-00-0943439-3 atas nama Yayasan Shuffah Blambanganumpu sebagai infak/sedekah bagi anak yatim piatu yang disalurkan melalui yayasan tersebut.

Bukti/foto kopi transfer pendaftaran wajib dilampirkan bersama naskah, biodata, surat pernyataan bahwa karya yang dikirimkan asli karyanya, serta scan/fotokopi tanda pengenal masih berlaku dikirim kepada panitia melalui email gpnsorwaykanan@gmail.com.

"Keseluruhan hasil pendaftaran peserta berikut pengunaannya akan dipublikasikan melalui mass media nasional dan lokal, cetak dan online. Panitia tidak mengambil keuntungan atas lomba tersebut. Sekretariat lomba Yayasan Shuffah Blambanganumpu (Galllery Faiz da Faiz), jalan Jenderal Sudirman No. 117 Km 2 Blambanganumpu, Waykanan, Lampung. CP 085769950346," kata Supri lagi.

Dewan juri lomba akan menilai semua karya yang masuk ke panitia berdasarkan, relevansi karya dengan tema lomba, pemakaian bahasa, kedalaman isi, kesatuan (unity).

Para juri tersebut antara lain Juwendra Ardiansyah, jurnalis senior yang juga Wakil Ketua PWNU Lampung masa khidmat 2012-2017; Juniardi (Ketua Komisi Informasi Provinsi Lampung), Yoso Muliawan (Ketua AJI Bandarlampung), Oki Hajiansyah Wahab (esais, penulis buku sekaligus kandidat Doktor Universitas Diponegoro), dan Neneng Rahmadini (Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejaksaan Negeri Blambangan Umpu). (Syailendra Arif/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Olahraga, Quote, Pertandingan Hari Santri 2019

Senin, 22 Januari 2018

RMI PBNU dan Kemenpora Matangkan Persiapan LSN 2017

Jakarta, Hari Santri 2019. Untuk mempersiapkan Liga Santri Nusantara (LSN) 2017, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bekerjsama Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) PBNU menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) LSN 2017 di Hotel Peninsula Jakarta, 14-16 Juni 2017.?

Dengan Bimtek ini, perhelatan liga sepakbola antarsantri tahun ketiga diharapkan berlangsung lancar dan lebih sukses dari tahun-tahun sebelumnya.

RMI PBNU dan Kemenpora Matangkan Persiapan LSN 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
RMI PBNU dan Kemenpora Matangkan Persiapan LSN 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

RMI PBNU dan Kemenpora Matangkan Persiapan LSN 2017

Bimtek LSN 2017 dihadiri oleh Deputi Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Raden Isnanta dan Asisten Deputi Pengembangan Olahraga Tradisional dan Layanan Khusus Bayu Rahadian. Dalam sambutannya Isnanta menyambut baik pelaksanaan Bimtek Liga Santri Nusantara dan akan menjadi tolak ukur kesuksesan pelaksanaan berikutnya.

Isnanta mengatakan, LSN yang merupakan kompetisi usia muda dilaksanakan berdasarkan pada Undang-undang ? Nomor 3 tahun 2005 tentang sistem keolahragaan nasional (SKN) yang di dalamnya disebutkan bahwa Setiap warga negara mempunyai hak yang sama.?

Hari Santri 2019

Di antaranya; untuk melakukan kegiatan olahraga, memperoleh pelayanan dalam kegiatan olahraga, memilih dan mengikuti jenis dan cabor yang sesuai bakat dan minatnya, memperoleh pengarahan dukungan, bimbingan, pembinaan dan pengembangan dalam keolahragaan, menjadi pelaku olahraga dan mengembangkan industri olaharaga.

"Sesuai bidang Deputi Pembudayaan Olahraga bahwa Liga Santri tidak hanya di harapkan juaranya tapi bagaimana pembudayaan olahraga dapat digelorakan di pondok pondok pesantren seluruh Indonesia," ungkapnya.

Hari Santri 2019

Isnanta mengatakan Liga Santri Nusantara dimaksudkan agar dunia pesantren mampu menciptakan bibit baru bahkan mencetak pemain terbaik yang profesional di dunia persepakbolaan nasional. Karena sejatinya olah raga sepak bola milik semua lapisan masyarakat.?

"Saya melihat pelaksaan Liga Nusantara 2016 sudah cukup baik, ini bisa dilihat dari pemberitaannya yang cukup massif bahkan bisa siaran langsung di Telivisi ternama, bahka semua dokumennya dapat di lihat di youtube," katanya.

Namun demikian pelaksanaan Liga Santri 2017 ini dapat ditingkatkan kepada pengelolaannya pasca kompetisi berlangsung. "Seriuskan kita dapat mendampingi pesantren-pesantren untuk terus berlatih walaupun belum LSN bergulis, jangan-jangan santri-santri berlatih saat LSN akan digulirkan," pungkasnya.

Sepak bola santri bibit potensial

Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat Rabtihah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) selaku sebagai panitia pelaksana, KH Abdul Ghoffar Rozin mengatakan, sepak bola merupakan olahraga milik seluruh masyarakat Indonesia yang dimainkan oleh seluruh kalangan.?

Termasuk munculnya Liga Santri Nusantara (LSN) merupakan entitas yang tak dapat dipasahkan antara sepakbola dan pesantren. Menurut pria yang akrab disapa Gus Rozin ini, LSN dimaksudkan agar dunia pesantren mampu menciptakan bibit baru bahkan mencetak pemain terbaik yang profesional di dunia persepakbolaan nasional. Karena sejatinya olah raga sepak bola milik semua lapisan masyarakat.

"Selain itu, LSN merupakan salah satu cara pemerintah untuk memastikan bahwa segenap komponen anak bangsa melihat dan menjadikan olahraga sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan. ? Dari proses pembentukan mental, pembentukan karakter dan watak. Kalau dalam bahasa pesantren adalah membentuk generasi berakhlaqul karimah, kuat secara spiritual, hebat dari sisi intelektual, kreatif dari sisi keterampilan," terang pria asal Pati, Jawa Tengah ini.

Gus Rozin menganggap perlu untuk kembali melendingkan Liga Santri Nusantara 2017, sebagai wadah untuk pengaktualisasian diri dalam pengembangan potensi santri di bidang sepak bola. "LSN 2017 sebagaimana tujuan tahun sebelumnya adalah media pencarian bibit sepakbola usia muda di kalangan pondok pesantren" ungkapnya saat pembukaan Bimbingan Teknis (Bimtek) di Hotel Peninsula Slipi Jakarta Utara.

Lebih lanjut Gus Rozin mengatakan LSN menjadi instrumen efektif dalam menggelorakan dan pemasalan olahraga di pondok pesantren melalui Ayo Olahraga serta menjadi media konsolidasi pondok pesantren melalui gerakan Ayo Mondok.

Liga Santri Nusantara 2017 mempunya penekanan khusus untuk perbakaikan tahun sebelumnya diantaranya adalah perbaikan tata kelola pelaksanaan kegiatan. Jadi pihaknya meminta kepada semua panitia nasional, Koordinator Region dan Panpel untuk menjadikan pelaksaan ini sebagai amanah untuk kita pegang.

Mesih menurut Gus Rozin LSN tahun ini akan didorong mempuat sisi profesional dan sisi bisnis kompetisi sehingga jika suatu saat nanti LSN tidak lagi dibiayai Negara, maka Liga Santri tetap akan bisa digulirkan. "Penting juga ke depan Liga Santri menjadi agenda resmi pembinaan organisasi induk sepakbola PSSI," harapnya disambut tepuk tangan peserta. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Ubudiyah, Pertandingan Hari Santri 2019

Minggu, 21 Januari 2018

Janganlah Engkau Menodai Agama!

Dalam kitab suci Al-Quran, istilah pelecehan agama memang tidak ada. Namun dalam konteks yang sama, ada istilah-istilah tertentu yang bisa dipahami sebagai padanan dari pelecehan. Adapun bahaya tindakan melecehkan itu bukan cuma mengancam mereka yang melecehkan, namun juga merugikan objek, pihak, atau orang yang dilecehkan.

Dalam buku ini, Imanuddin dan Zaenal mengidentifikasi adanya tiga kata atau istilah dalam Al-Quran yang bisa dipadankan dengan kata pelecehan. Tiga kata itu bukan cuma berkaitan dengan ajaran agama Islam secara langsung. Namun juga kisah-kisah dari berbagai zaman yang mengeksplorasi tindakan pelecehan berikut bahaya dan bencana yang mengiringinya.

Ketiga kata itu meliputi Huzuw, Laib, dan Sakhira (hlm.71). Kata Huzuw bisa dipadankan dengan kata mengolok-olok. Namun bisa juga diartikan sebagai gurauan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dengan tujuan melecehkan.

Janganlah Engkau Menodai Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)
Janganlah Engkau Menodai Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)

Janganlah Engkau Menodai Agama!

Kata Laib bisa diartikan dengan kata bermain atau bermain-main. Namun dalam konteks pelecehan, kata ini bisa diartikan segala aktifitas yang dilakukan bukan pada tempatnya atau untuk tujuan yang tidak benar. Sementara Sakhira adalah mengejek ? (hlm.78-86). Yaitu, menjadikan suatu agama berikut ajaran dan pemeluknya sebagai bahan ejekan yang berorientasi merendahkan atau meremehkan.

Bentuk-bentuk pelecehan agama memang banyak ragamnya. Ada pelecehan yang dinyatakan secara verbal, ada pula yang non-verbal. Pelecehan yang berbentuk verbal, cenderung mudah diketahui oleh pihak yang menjadi korban pelecehan secara langsung. Namun tidak demikian pada pelecehan berbentuk non-verbal. Terkadang, malah pihak atau orang ketigalah yang justru mengetahui lebih dahulu adanya tindak pelecehan agama.

Buku ini bukan hanya menyajikan bahasan seputar pelecehan agama secara langsung. Namun juga membahas pelecehan agama yang bermula dari pelecehan terhadap ajaran, pemeluk, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan suatu agama. Karena buku ini berangkat dari wawasan Al-Quran, maka secara tidak langsung, buku ini menitik-tekankan bahasan pada larangan keras bagi umat Islam yang ingin melecehkan agama Islam maupun agama lain.

Hari Santri 2019

Sebagai bangsa Indonesia yang di dalamnya terdapat berbagai pemeluk agama dan keyakinan, sudah semestinya bagi kita untuk tetap saling menghormati dan tenggang-rasa. Khususnya seputar keberagamaan dan keberagaman. Sebab dengan menahan diri dan minat dari melecehkan agama lain, kedamaian akan mudah terbentuk dan terjaga dengan sendirinya. Selanjutnya, kita bisa beribadah dengan tenang dan nyaman sesuai agama dan keyakinan masing-masing.?





Hari Santri 2019

Info Buku

Judul ? ? ? ? ? ? ? : Jangan Nodai Agama: Wawasan Al-Quran tentang Pelecehan Agama

Penulis ? ? ? ? ? : Imanuddin bin Syamsuri, Lc. MA dan M. Zaenal Arifin, MA

Penerbit ? ? ? ? : Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Cetakan ? ? ? ? : I (pertama), 2015

Tebal ? ? ? ? ? ? ? : xviii+190 halaman

ISBN ? ? ? ? ? ? ? : 978-602-229-457-3





Peresensi

Muhammad Ghannoe

Aktif di komunitas Nandha, Bantul.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, PonPes, Pertandingan Hari Santri 2019

Jumat, 19 Januari 2018

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya

Indonesia memiliki jumlah masjid paling banyak di dunia. Ada sekitar delapan ratus ribuan masjid yang tersebar dari Sabang hingga Merauke (Kemenag RI, 2014). Uniknya, sembilan puluh sembilan persen dari keseluruhan masjid di Indonesia dibangun dan dikelola masyarakat, sementara sisanya dibangun pemerintah. Hal ini berbeda dengan masjid-masjid yang ada di beberapa negara Islam. Di Arab Saudi, Kuwait, Iran, dan lainnya, masjid dibangun pemerintah. Tidak hanya itu, imam dan marbotnya diatur dan digaji oleh pemerintah.

Pada zaman Rasulullah, masjid menjadi pusat peradaban. Masjid dijadikan sebagai tempat untuk dakwah, pendidikan, pengembangan ekonomi, dan pelayanan sosial. Bahkan, para sahabat melakukan latihan perang pun di depan masjid. Masjid benar-benar dijadikan sebagai pusat kegiatan umat Islam. 

Saat ini, sebagian besar masjid di Indonesia hanya difungsikan sebagai tempat salat saja, tidak lebih. Jika ada masjid yang dijadikan sebagai tempat pemberdayaan masyarakat, itu pun jumlahnya tidak banyak. Kenapa bisa demikian? Sesuai dengan buku Pedoman Muharrik dan Ta’mir Masjid yang disusun Lembaga Ta’mir Masjid PBNU, ada tiga hal yang menyebabkan kondisi masjid di Indonesia seperti itu. Pertama, pengelola masjid yang tidak kompeten. Untuk mengembalikan fungsi masjid sebagaimana seperti zaman Rasulullah, maka dibutuhkan pengelola masjid yang inovatif, kreatif, dan memiliki kemampuan untuk memimpin dan mengelola masjid. 

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya

Kedua, tidak dikelola dengan serius. Pengelola dan pengurus masjid belum memiliki semangat yang tinggi untuk mengurusi masjid secara optimal. Biasanya mereka disibukkan dengan aktifitas kerja masing-masing sehingga kurang begitu memperhatikan masjidnya. Sehingga ada yang menyebut kalau sebagian besar masjid di Indonesia itu la yamutu wa la yahya (tidak hidup, mati pun segan), terutama dalam hal program kegiatannya. 

Ketiga, konflik antar pengelola. Biasanya, konflik antar pengelola disebabkan oleh perbedaan pendapat dalam mengurus masjid. Yang satu menginginkan seperti itu, sementara yang satunya lagi menginginkan seperti itu. Sehingga tidak ada titik temu antar keduanya karena mementingkan ego dan keinginannya masing-masing. Kalau konflik seperti itu dibiarkan, maka masjid akan terbengkalai dan program-programnya tidak jalan.

Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy menyebutkan bahwa masjid merupakan asas utama dan terpenting dalam pembentukan masyarakat Islam. Masyarakat Islam tidak akan terbentuk secara kukuh dan rapi kecuali dengan komitmen terhadap Islam. Hal ini tidak akan bisa ditumbuhkan kecuali dengan cara memakmurkan masjid.

Memakmurkan Rumah Allah

Hari Santri 2019

Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi-Ku adalah masjid-masjid. Dan sesungguhnya yang mendatangi-Ku adalah yang memakmurkannya. Maka beruntunglah orang-orang yang bersuci di rumahnya kemudian mendatangi-Ku di rumah-Ku, maka hak-Ku adalah memberi kemuliaan kepada orang yang datang ke rumah-Ku. (Hadist Qudsi)

Berbicara tentang kemakmuran masjid, maka ada tiga hal yang seharusnya menjadi fokus perhatian. Pertama, jamaah. Seperti hadist qudsi di atas, bahwa salah satu cara untuk mengukur suatu masjid makmur atau tidak adalah dengan cara melihat jamaahnya. Jika jamaahnya banyak, maka masjid tersebut makmur. Begitupun sebaliknya. 

Kedua, program kegiatan. Kemakmuran masjid juga bisa dilihat dari variasi kegiatan yang ada. Dalam hal ini, Lembaga Ta’mir Masjid PBNU memiliki tujuh program kegiatan untuk memakmurkan masjid. (a) Menjadikan masjid sebagai pusat penyebaran paham Aswaja. (b) Tempat penyuluhan kesehatan seperti mendirikan klinik di sekitar area masjid, khitanan masal, dan lainnya. (c) Pusat keilmuan seperti pengadaan Madrasah Diniyah, Taman Pendidikan Al-Qur’an, majelis ta’lim, dan lainnya. (d) Pusat pengembangan ekonomi umat seperti pendirian koperasi. (e) Pusat dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin seperti menyelenggarakan kajian dan pengajian. (f) Pusat kepedulian sosial seperti memberikan beasiswa bagi anak yang kurang mampu. (g) Mendoakan orang wafat seperti menyelenggarakan tahlil dan istighotsah bersama.   

Hari Santri 2019

Ketiga, finansial atau keuangan. Untuk memakmurkan masjid, setidaknya harus memiliki pendanaan yang cukup. Program-program masjid yang sudah disusun tersebut bisa terlaksana dengan baik jika ada anggaran yang memadahi. Kebutuhan, sarana dan prasarana masjid juga memerlukan bujet. 

Untuk itu, harus ada langkah yang tepat untuk mewujudkan kemandirian keuangan masjid. Salah satu cara menggalang dana adalah dengan mengaktifkan Gerakan Infak Sedekah Masjid (Gismas) sebagaimana yang digagas LTM PBNU. Pengurus masjid bisa menitipkan celengan di setiap rumah di sekitar masjid dan meminta pemilik rumah untuk mengisinya minimal seribu rupiah. Kalau seandainya ini berjalan dan misalnya ada tiga ratus celengan yang disebar pengurus masjid, maka akan terkumpul sembilan juta rupiah dalam waktu satu bulan. Tentu ini tidak mudah, butuh ketekunan, keuletan, dan konsistensi daripada pengurus masjid dan warga yang dititipi celengan Gismas tersebut.

 

Muchlishon Rochmat

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Nusantara, Pertandingan Hari Santri 2019

Selasa, 16 Januari 2018

MWCNU Tiris Barat Gencarkan Lailatul Ijtima dan Kitab Kuning

Probolinggo, Hari Santri 2019 - Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Tiris Barat (Tiba) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan pengurus Ranting NU se-Tiba menggencarkan program Langkah Kakiku (Lailatul Ijtima dalam rangka berjuang mengharap berhah dengan Kajian Kitab Kuning).

Di setiap acara lailatul ijtima’ Ranting NU, jajaran Syuriah dan LBM MWCNU Tiris Barat menyempatkan untuk berkunjung ke acara tersebut dengan jadwal pembina kitab MWCNU yang telah ditentukan. Setelah acara istighotsah selesai, giliran pembina kitab dari MWCNU untuk membaca kitab Kajian Fiqih atau Aswaja, selanjutnya digelar dialog-dialog hukum atau ke-Aswaja-an.

MWCNU Tiris Barat Gencarkan Lailatul Ijtima dan Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Tiris Barat Gencarkan Lailatul Ijtima dan Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Tiris Barat Gencarkan Lailatul Ijtima dan Kitab Kuning

“Kegiatan ini dimaksudkan untuk membekali pengurus ranting dengan kajian hukum dan Aswaja. Karena merekalah yang berinteraksi langsung dengan warga NU. Jadi dalam satu bulan pengurus MWCNU turun ke ranting dalam acara Langkah Kakiku tersebut sebanyak delapan kali, mengingat jumlah ranting yang ada sebanyak 8 ranting,” kata Ketua MWCNU Tiris Barat Imron Hamzah, Rabu (22/3).

Langkah Kakiku ini memang diprioritaskan pada pengurus ranting NU, namun juga terbuka bagi masyarakat yang berkenan mengikutinya. “Karena tujuan acara itu diadakan adalah memberi bekal pengurus Ranting NU dan mempererat serta memperkuat organisasi NU di level ranting,” jelasnya.

Hari Santri 2019

Melalui program Langkah Kakiku ini Imron Hamzah mengharapkan agar ke depannya pengurus ranting lebih memiliki kualitas dibidang keagamaan, keorganisasian dan ke-NU-an dalam menjalankan roda organisasi NU ditingkat ranting. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Pesantren, Pertandingan Hari Santri 2019

Senin, 08 Januari 2018

PMII Unila Adakan Pelatihan Jurnalisme Syiar Islam

Bandar Lampung, Hari Santri 2019. LembagaTalif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNU NU) menggelar pelatihan jurnalistik kepada PMII Universitas Lampung (Unila) di gedung PWNU Lampung, Jalan Cut Meutia, Telukbetung Utara (TbU), Sabtu (7/10).

Selain kader PMII Unila, kegiatan itu juga dihadiri oleh kader PMII Darmajaya, PMII Universitas Bandar Lampung, dan lainnya. Pelatihan yang bertajuk Mahad Shohafiyah, Jurnalisme untuk Syiar Islam, diikuti oleh 25 peserta.

PMII Unila Adakan Pelatihan Jurnalisme Syiar Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Unila Adakan Pelatihan Jurnalisme Syiar Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Unila Adakan Pelatihan Jurnalisme Syiar Islam

Jurnalis senior Fadilasari mengatakan, pelatihan ini sengaja digelar untuk menciptakan kader-kader PMII yang pandai mengaplikasikan ide dan gagasannya dalam sebuah tulisan.

"Pelatihan ini merupakan bagian dari program jangka panjang PWNU Lampung untuk menciptakan kader-kader dari keluarga besar Nahdlatul Ulama yang bisa menulis, baik menulis berita, rilis, opini, bahkan menulis buku," kata Fadilasari yang kerap disapa Ila ini dalam sambutannya.

"Kita berharap semua kader lembaga dan badan otonom bisa menulis, paling tidak untuk dirinya sendiri. Dan kebetulan hari ini menjadi kesempatan dari PMII," tambah mantan jurnalis Metro TV ini.

Ketua IKA PMII Lampung Noverisman Subing berharap kader PMII dapat menimba ilmu sebaik-baiknya dalam pelatihan ini.

Hari Santri 2019

"Siapa tahu nanti berkeinginan menjadi seorang jurnalis. Karena jadi wartawan itu enak, bisa banyak ilmu dan banyak kawan. Saya karena (dulunya) jadi wartawan, bisa jadi wakil bupati dan sekarang menjadi anggota DPRD," kata pria yang karib disapa Nover ini saat memberi sambutan dalam pembukaan pelatihan tersebut.

Sekretaris PWNU Lampung, Aryanto Munawar, bercerita tentang bagaimana kekuatan seorang jurnalis - dengan tulisannya – dapat membuat sebuah perubahan  di dunia.

"Dulu wartawan sangat sedikit dan terbelenggu dengan larangan-larangan. Tapi sekarang, wartawan sangat banyak dan bebas menuangkan isi pikirannya," kata Bang Ary – panggilan akrabnya.

Hari Santri 2019

Sayangnya, kata Bang Ary, saat ini tidak semua wartawan  berdiri dalam pondasi yang benar. Bahkan, tak sedikit yang mengorbankan idealismenya dengan materi duniawi. (Safwanto/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Jadwal Kajian, Sholawat, Pertandingan Hari Santri 2019

Selasa, 02 Januari 2018

MTQ Internasional Moskow Dimenangi Iran

Moskow, Hari Santri 2019

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Internasional ke-8 di Moskow, Rusia, telah ditutup pada Senin (8/10) kemarin dengan pemenang pertama dalam kategori tilawah adalah Mohammed Sajjad Jandami dari Iran, dan Abdullah Ali Akbar dari Kyrgyzstan pemenang pertama dalam kategori hafal Al-Qur’an.



MTQ Internasional Moskow Dimenangi Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
MTQ Internasional Moskow Dimenangi Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

MTQ Internasional Moskow Dimenangi Iran

MTQ yang diprakarsai oleh Dewan Fatwa Rusia diikuti sebanyak 60 qari’ dan qari’ah dari Rusia dan sejumlah negara seperti Iran, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Uzbekistan, Tajikistan, Ukraina, Turkey, Iran, India dan Azerbaijan ikut serta dalam lomba tersebut.

Para pemenang memperoleh hadiah uang tunai yang disediakan oleh Kedutaan Besar Arab Saudi dan Kedubes Kesultanan Oman di Moskow.

Hari Santri 2019

Menurut Ketua Dewan Hakim MTQ, Ainuddin, kategori penilaian dalam perlombaan baca kitab suci umat Islam itu adalah kefasehan tajwid (cara membaca Al-Qur’an), hafalan, tartil (lagu), dan penampilan.(ant/nur/irna)Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Cerita, Pertandingan, RMI NU Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Kamis, 14 Desember 2017

Butuh Lima Senjata untuk Berjuang di IPNU-IPPNU

Sleman, Hari Santri 2019. Ahad (31/3), Balai Utari kompleks Gedung Mandala Bhakti Wanitatama Sleman menjadi saksi bisu dilantiknya jajaran pengurus Pimpinan Wilayah IPNU-IPPNU Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) periode 2012-2013.

Dalam acara tersebut, KH Asyari Abta, Rais Syuriyah PWNU DIY mendoakan para pengurus yang baru dilantik. 

Butuh Lima Senjata untuk Berjuang di IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Butuh Lima Senjata untuk Berjuang di IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Butuh Lima Senjata untuk Berjuang di IPNU-IPPNU

“Beberapa saat yang lalu, kita telah menyaksikan pelantikan pengurus baru IPNU-IPPNU DIY. Semoga mereka mendapatkan kekuatan lahir batin dan ridha Allah SWT. Sehingga, nantinya  bisa memperjuangkan apa yang menjadi cita-cita IPNU-IPPNU ke depan,” ujar KH. Asyari.

Selain mendoakan para pengurus wilayah  IPNU-IPPNU DIY yang baru, KH Asyari juga memberikan wejangan berupa lima senjata dalam berjuang di IPNU-IPPNU. 

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

“Sewaktu Allah SWT melantik Nabi Muhammad menjadi rasul-Nya, Allah membekali nabi dengan lima senjata. Lima senjata tersebutlah yang menjadikan Nabi Muhammad sukses membawa risalah kenabian, meskipun hanya 23 tahun lamanya,” ungkap KH. Asyari. 

“Senjata yang pertama adalah agungkanlah asma Tuhanmu. Artinya, jika berjuang untuk IPNU-IPPNU, niatkan untuk  beribadah. Jangan berharap mendapatkan sesuatu dari IPNU-IPPNU, tapi berikanlah sesuatu untuk kemajuan IPNU-IPPNU.”

“Kedua, sucikanlah pakaianmu. Orang-orang yang berjuang itu hatinya harus suci. Suci hatinya maupun suci perilakunya. Ketiga, jauhilah perbuatan kotor. Kebanyakan organisasi itu bubrah karena tidak adanya keterbukaan dan tidak adanya kejujuran.” 

“Keempat, Jangan mengharapkan sesuatu. Jangan berharap akan menjadi DPR setelah menjadi pengurus IPNU-IPPNU. Dan senjata yang terakhir adalah Terhadap Tuhanmu sabarlah. Artinya, sabar dalam menerima musibah apa pun,” ujar KH. Asyari panjang lebar. 

“Kalau kelima senjata itu dijalankan, Insyaallah sukses. Itulah pesan kami, lima senjata dalam berjuang di IPNU-IPPNU dan di NU,” tambah KH. Asyari yang disambut tepuk tangan oleh para hadirin.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Rokhim Bangkit 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian, Pertandingan, Nasional Hari Santri 2019

Sabtu, 09 Desember 2017

Empat Siswa SMK Nuris praktik Kerja di Thailand

Jember, Hari Santri 2019

Empat Siswa SMK Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember, Jawa Timur, Senin (22/5) bertolak ke Thailand untuk melakukan praktik kerja lapangan. Mereka adalah Ahmad Mawardi dan Ahmad Subairi dari jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ), Aji Arifur Rahmad dari jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR), dan Nur Imam Mafatih dari jurusan Teknik Sepeda Motor (TSM).

Pelepasan keempat siswa terpilih tersebut dilakukan oleh pengasuh Pondok Pesantren Nuris di Masjid Baitun Nur, yang diramaikan oleh penampilan tim hadrah Ashabul Muhyid Nuris.

Empat Siswa SMK Nuris praktik Kerja di Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Siswa SMK Nuris praktik Kerja di Thailand (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Siswa SMK Nuris praktik Kerja di Thailand

Keempat siswa SMK Nuris tersebut akan melakukan praktik kerja di beberapa industri di Thailand hingga tanggal 14 Juni 2017. Misalnya siswa jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) akan praktik di beberapa perusahaan jaringan, sedangkan siswa jurusan Teknik Kendaraan Ringan dan Teknik Sepeda Motor (TSM) akan praktik di beberapa bengkel otomotif yang ada di negeri gajah putih tersebut.

Menurut salah seorang pengasuh pondok Pesantren Nuris, Antirogo, Jember, Gus Robith Qashidi, praktik kerja di Thailand tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan skill siswa sesuai dengan jurusannya masing-masing serta ? untuk memperluas wawasan mereka khususnya tentang budaya di Tahilnad. Dan tentu saja untuk menebar ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Hari Santri 2019

"Kami ingin santri Nuris punya wawasan global, namun tetap mempunyai jatidiri sebagai santri ? Aswaja. Karena itu, kami terus berusaha untuk mengirimkan santri-sanri Nuris ke beberapa negara Timur Tengah dan kawasan Asia," tukas Gus Robit Qashidi (Aryudi A. Razaq/Mahbib)





?

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian Islam, RMI NU, Pertandingan Hari Santri 2019

Muktamar Akan Jawab 3 Pertanyaan Pokok soal Pasar Bebas

Jakarta, Hari Santri 2019

Muktamar ke-33 NU yang dihelat di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus 2015 bakal menyoroti berbagai persoalan dan mencarikan jawabannya dari sudut pandang agama. Salah satu pokok bahasan yang diangkat adalah tentang pasar bebas (free trade).

Persoalan seputar pasar bebas masuk dalam materi diskusi Komisi Bahtsul Masail Maudlu’iyah. Komisi ini bertugas mengaji serangkaian problem dengan jawaban konseptual-tematik, tak sekadar halal-haram. Draf deskripsi masalah dan jawaban tentang hal ini telah rampung disusun melalui diskusi intensif para pakar yang terlibat dalam komisi yang diketuai Katib Syuriah PBNU KH Afifuddin Muhajir tersebut.

Dalam draf itu dijelaskan, Indonesia yang tak bisa menghindar dari sistem perdagangan global dalam waktu dekat menghadapi salah satu mekanisme perdagangan global, yakni pasar bebas. Penjualan produk antar negara tidak lagi dikenakan pajak, bea masuk atau hambatan perdagangan lainnya. Peran pemerintah kurang lebih seperti wasit yang memastikan tidak ada kecurangan, sementara aturan mainnya ditentukan oleh regulasi internasional seperti GATT (General Agreement on Tariffs and Trade), WTO (World Trade Organisation), GATS (General Agreement on Trade in Services), TRIPs (Trade Related Intellectual Property Right), TRIMs (Trade Related Invesment Measures), AoA (Agreement on Agriculture) dan sebagainya.

Muktamar Akan Jawab 3 Pertanyaan Pokok soal Pasar Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar Akan Jawab 3 Pertanyaan Pokok soal Pasar Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar Akan Jawab 3 Pertanyaan Pokok soal Pasar Bebas

Dalam konteks lokal Asia Tenggara, Negara-negara yang tergabung didalam ASEAN telah sepakat untuk memberlakukan pasar bebas yang disebut AFTA (Asean Free Trade Area) pada bulan Desember 2015. Beberapa poin kesepakatan AFTA antara lain adalah penghapusan pembatasan komoditas dan penghapusan bea masuk impor komoditas yang berada dalam kategori General Exception (GE). Di luar GE, diberlakukan CEPT- AFTA (Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area), yakni tahapan penurunan tarif dan penghapusan hambatan non-tarif. Komoditas CEPT-AFTA umumnya adalah komoditas yang terkait dengan keamanan nasional, keselamatan, atau kesehatan manusia, binatang, dan tumbuhan, serta untuk melestarikan obyek-obyek arkeologi dan budaya.

Dengan diberlakukannya AFTA, arus barang, jasa, investasi, tenaga terampil dan modal akan berputar secara bebas di antara negara ASEAN. Mereka yang memiliki daya saing tinggi akan meraup keuntungan besar, sementara yang tidak memiliki daya saing akan menjadi pasar bagi pihak lain. Berdasarkan data, Indeks Daya Saing Global (Global Competitiveness Index/GCI) Indonesia tahun 2014 berada di peringkat 34, sementara Singapura berada di peringkat 2, Malaysia di peringkat 20, dan Thailand yang berada di peringkat ke-31. Sementara Filipina berada di peringkat 52, Vietnam di peringkat 68, Laos di peringkat 93, Kamboja di peringkat 95, dan Myanmar di peringkat 134.

Hari Santri 2019

Dengan posisi ini, dapat dikatakan bahwa posisi Indonesia belum terlalu siap. Namun sekarang bukan waktunya mempertanyakan kesiapan Indonesia, karena AFTA akan dimulai beberapa bulan lagi. Pada aras inilah NU perlu tampil ambil bagian. Sebagai ormas keagamaan terbesar, NU diharapkan mampu memberikan landasasan syar’i agar penanganan pasar bebas (free trade) tetap mengacu kepada fitrah kemanusiaan. Sementera di level praksis, NU diharapkan mampu menyodorkan konsep yang mampu mengayomi warga dari serangan modal yang kian masif. ?

Dengan gambaran ini, tim khusus yang tergabung dalam Komisi Bahtsul Masail Maudlu’iyah Muktamar ke-33 NU bersepakat untuk merumuskan tiga pertanyaan, antara lain, (1) bagaimana pandangan Islam tentang pasar bebas?; (2) bagaimana keberpihakan Negara kepada rakyat dan ekonomi nasional?; dan (3) apa yang perlu dilakukan oleh NU sebagai jam’iyyah?

Selain soal pasar bebas, Komisi Bahtsul Masail Maudlu’iyah juga akan mengupas lima masalah lainnya, di antaranya metode istinbath hukum (bayani – qiyasi-maqashidi), khashaish ahlus-sunnah wal-jamaah, hutang luar negeri, hukuman mati dalam perspektif HAM, serta asas praduga tak bersalah. (Mahbib)

?

Hari Santri 2019

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian Islam, RMI NU, Pertandingan Hari Santri 2019

Jumat, 01 Desember 2017

Sewa Tenaga Badal Thawaf Ifadlah Dibolehkan

Jakarta, Hari Santri 2019. Hukum sewa tenaga untuk menggantikan jamaah haji dalam melaksanakan Thawaf Ifadlah mubah. Hukum mubah diambil dalam rangka memudahkan jamaah haji yang sudah uzur, lanjut usia, sakir keras, atau terhalang lain hal.

Hukum ini diputuskan peserta musyawarah Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) dalam bahtsul masail di Pondok Pesantren Sunan Pandaran, Sleman Yogyakarta, Selasa (2/7) malam.

Sewa Tenaga Badal Thawaf Ifadlah Dibolehkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sewa Tenaga Badal Thawaf Ifadlah Dibolehkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sewa Tenaga Badal Thawaf Ifadlah Dibolehkan

“Boleh menyewa orang lain untuk menggantikan Thawaf Ifadlah,” kata Ketua LBM PBNU KH Zulfa Musthofa membacakan hasil bahtsul masail dalam sidang pleno Bahtsul Masail Nasional PBNU, Rabu (3/7) siang.

Hari Santri 2019

Kebolehan sewa tenaga untuk Thawaf Ifadlah itu didasarkan pada pendapat Atha’ yang dikutip oleh Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’, syarhul Muhadzdzab. “Jamaah haji dalam keadaan tertentu boleh mengupah seseorang untuk menggantikannya dalam berthawaf.”

Hari Santri 2019

Isu ini diangkat dalam rangka memberikan solusi atas masalah haji beberapa tahun terakhir. Pemerintah Saudi mengambil kebijakan yang melarang pelaksanaan thawaf dengan menggunakan tandu sebagai alat bantu.

Kebijakan ini cukup menyulitkan jamaah haji. Jamaah haji yang dalam keadaan uzur, lanjut usia, atau sakit keras, terancam tidak dapat melaksanakan thawaf. Ini berimbas pada tidak sahnya ibadah haji jamaah.

Karena, Thawaf Ifadlah merupakan salah satu rukun haji yang tidak boleh ditinggalkan.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pertandingan Hari Santri 2019

Senin, 27 November 2017

Kesabaran Doa Nabi Zakaria

Doa adalah senjatanya orang mukmin. Kalimat tersebut tak lagi asing di telinga kita. Dalam keterangan lain bahkan disebutkan, doa ialah sesuatu yang disyari’atkan oleh Allah SWT lewat firmannya:

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Q.S Ghafir: 60).

Kesabaran Doa Nabi Zakaria (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesabaran Doa Nabi Zakaria (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesabaran Doa Nabi Zakaria

Doa dianalogikan dengan sebuah “senjata” sedangkan kata “senjata” dapat  dipahami dengan alat yang lazim digunakan untuk perlawanan musuh atau menyelamatkan diri. Maka jelaslah bahwa doa ialah kunci kebaikan dan keselamatan orang mukmin.

Bahkan dalam suatu hadits Nabi Muhammad SAW bersabda:  “Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah (dengan berdoa), maka Allah marah kepadanya.”

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Jelas hal ini menjadi sebuah pembeda antara Allah dengan makhlukNya. Bila seorang manusia terus-menurus dipinta, ia akan balik marah. Tetapi jika Allah tak dipinta,  justru Ia akan marah.

Berbicara tentang berdoa, tentunya berdoa memiliki tatacara yang mesti dilaksanakan, diantaranya yaitu, hendaklah berdoa diiringi kesabaran, bersungguh-sungguh, tidak tergesa-gesa dan dengan suara yang lemah lembut (tenang). Berdoa seperti itu, adalah cara berdoa yang dicontohkan oleh Nabi Zakaria As.

Nabi Zakaria adalah seorang nabi yang diutus Allah, yang tidak memiliki keturunan hingga usia telah senja. Lantaran istrinya mandul. Sebenarnya sejak memasuki gerbang pernikahan pun beliau sudah mendambakan kehadiran seorang putera. Tapi apa daya hingga rambutnya beruban, tulang belulangnya melemah, keinginannya belum jua terpenuhi.

Walau demikian, Nabi Zakaria tidak pernah putus asa untuk selalu meminta dan berdoa. Ia yakin, sekalipun istrinya juga sudah tua renta bahkan seorang yang mandul, jika Allah menghendaki, niscaya mereka akan dikaruniai anak juga.

Hingga pada suatu hari, masuklah Nabi Zakaria menemui keponakannya, Maryam, yang selalu menyepi dalam mihrab (tempat shalat). Beliau mendapati buah-buahan musim panas di kamar Maryam, padahal saat itu tengah musim hujan. Nabi Zakaria bukan main herannya. Sebab, setahunya Maryam sepanjang waktu selalu bersujud kepada Allah dan tidak diperbolehkan seorang pun masuk kecuali ia dan Maryam.

Karena heran, ia tak tahan untuk tak bertanya.

“Dari mana kau mendapatkan semua rezeki ini?”tanya Nabi Zakaria dengan heran.

“Dari Allah SWT,” jawab Maryam. “Dia memberi rezeki kepada siapa saja yang dikehendakin-Nya,” sambung Maryam.

Hati Nabi Zakari merasa dipenuhi keyakinan yang tinggi, bahwa Allah maha kuasa, tiada yang mustahil bagiNya.

Sebenarnya ada kehawatiran yang berlebih di hati nabi Allah itu, ia menghawatirkan siapa yang akan menggantikan dakwah sepeninggalannya nanti. Sehingga walaupun keadaannya begitu, Nabi Zakaria tetap menyimpan keinginan untuk memiliki keturunan yang akan mewarisi keilmuannya, pun yang akan meneruskan perjuangannya menyerukan kebenaran.

Dan nabi Zakaria pun kembali berdoa memohon dikaruniai seorang putera. Ia begitu sabar meminta walaupun sadar bahwa menurut hukum adat hal demikian sulit untuk terjadi. Tapi berkat kesabaran, keyakinan, dan kesungguhannya, Allah mengabulkan doanya.

Atas kuasa Allah, Nabi Yahya pun kemudian terlahir dari rahim istrinya. Ini bukti nyata bahwa doa mampu mendobrak ketidakmungkinan.

Lantas doa apa yang telah kita langitkan hari ini? Sebarapa  sabarkah kita menanti doa terkabul? (Zulfatul Fuadiah)

 

=====

Hari Santri 2019 mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang cerita nyata diri sendiri atau pengalaman orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pertandingan Hari Santri 2019

Jumat, 17 November 2017

Pergunu Kota Bandung Fokus Tingkatkan Mutu Guru

Bandung, Hari Santri 2019 - Sekretaris Pergunu Jawa Barat H. Saepuloh berharap agar kepengurusan Pergunu Kota Bandung masa khidmah 2016-2021 lebih fokus pada peningkatan mutu guru. Menurut dia, mutu tersebut mengarah kepada peningkatan kompetensi dan kemampuan guru dalam pembuatan karya ilmiah serta karya-karya inovatif dalam pembelajaran.

Ia menyampaikan hal tersebut pada Konferensi Cabang (Konfercab) II Persatuan Guru Nahdlatul Ulama Kota Bandung di Aula Kantor PCNU Kota Bandung pada Ahad (11/12).

Pergunu Kota Bandung Fokus Tingkatkan Mutu Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Kota Bandung Fokus Tingkatkan Mutu Guru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Kota Bandung Fokus Tingkatkan Mutu Guru

Lebih lanjut Saepuloh mengatakan bahwa kewajiban guru bukan hanya mengajar siswa di dalam kelas, melainkan untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensinya secara berkelanjutan.

Hari Santri 2019

Dalam rangka peningkatan dan pengembangan kompetensi secara berkelanjutan, guru bukan hanya mengikuti kegiatan diklat fungsional dan pertemuan ilmiah, tapi juga harus melakukan publikasi ilmiah serta membuat karya-karya inovatif dalm proses pembelajaran.? ?

Hari Santri 2019

“Di lapangan, guru-guru sangat kesulitan dalam memenuhi kewajiban pembuatan karya tulis ilmiah dan karya inovatif dam pembelajaran. Dimana kedua hal tersebut menjadi unsur penilaian yang wajib ada untuk kenaikan pangkat,” tutur H Saepuloh melalui siaran pers.

Oleh karena itu, Pergunu Kota Bandung diharapkan membuat program kerja dalam peningkatan kemampuan guru dalam publikasi ilmiah dan pembuatan karya inovatif dalam pembelajaran, baik kerja sama dengan Perguruan Tinggi ataupun dengan instansi-instansi terkait. (Red: Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pertandingan Hari Santri 2019

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima

Jakarta, Hari Santri 2019. Politik dan ekonomi yang diangkat sebagai panglima bagi masyarakat Indonesia, terbukti gagal memberikan kemaslahatan bagi mereka. Kendati demikian, mereka tidak berani mengangkat budaya sebagai panglima.

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Jadikan Budaya Sebagai Panglima

Demikian dikatakan Wakil Rais Am PBNU KH A Musthofa Bisri yang lazim disapa Gus Mus dalam pidato budaya pada malam Festival Budaya Pesantren di Balai Kartini Kavling 37, Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Sabtu (20/4) malam.

Bagi Gus Mus, budaya kesederhanaan, kebiasaan gotong royong, dan tingginya rasa persaudaraan sesama manusia, sanggup menyehatkan kembali mereka dari kemerosotan susila yang sangat meresahkan kini. Tetapi mereka mengabaikan aspek budaya.

Hari Santri 2019

Menurut Gus Mus, mereka masih berharap pada politik dan ekonomi. Padahal, politik sebagai panglima seperti di era Bung Karno telah mengantarkan masyarakat pada suatu keadaan yang mengkhawatirkan. Mereka terkotak-kotak dalam aneka warna partai. Antartetangga saling membunuh hanya karena perbedaan warna bendera partai.

Hari Santri 2019

“Kenyataan itu dikritik di zaman Suharto. Kalau politik tidak membuat perut kenyang, kenapa politik dijadikan panglima? Lalu Suharto menjadikan ekonomi sebagai panglima,” kata Gus Mus di hadapan sedikitnya 1500 kader Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor).

Ekonomi, lanjut Gus Mus, bukanlah panglima yang baik. Orde baru yang menilai pertumbuhan ekonomi sebagai capaian-capaian pembangunan, membuat erosi mental dan etika masyarakat. Perebutan sumber-sumber perekonomian, menghilangkan kesederhanaan mereka. Celakanya, materi membuat mereka sangat mencintai dunia.

Kesederhanaan sebagai harta termahal masyarakat Indonesia, didesak panglima ke pinggir. Harga diri manusia Indonesia diukur dari materi semata. Kecurigaan satu sama lain, sikap individualitas, dan kesenjangan kelas sosial yang menjurang menguat, tegas Gus Mus dalam festival yang menjadi awal rangkaian harlah ke-79 GP Ansor.

Sementara di era reformasi, mereka kembali menjadikan politik sebagai panglima. Panglima sekarang ini lebih kejam dari panglima di era Bung Karno. Karena, panglima politik era ini, memimpin setelah mereka melewati kejamnya 32 tahun ekonomi bercokol. Dengan demikian, mereka menstandarkan kemanusiaannya pada acuan materi dan kekuasaan sekaligus, tutup Gus Mus.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pertandingan, Halaqoh, Jadwal Kajian Hari Santri 2019

Pilihlah Pesantren yang Ada Kiainya!

Grobogan, Hari Santri 2019

Menyikapi semakin berkembangnya berbagai macam paham di Indonesia, Rais Syuriyah Idarah Syu’biyyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah (Jatman) Grobogan KH Masruhin Ahmad mengimbau para orang tua untuk menaruh anaknya di pesantren yang diasuh oleh seorang kiai yang jelas.

“Pondokkan anak pada pesantren yang ada kiainya!” Katanya di saat ia mengisi ceramah pada Peringatan Haul Kiai Syarqawi di Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, Ahad (23/4). Haul dihadiri sekitar 4000 hadirin.

Pilihlah Pesantren yang Ada Kiainya! (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilihlah Pesantren yang Ada Kiainya! (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilihlah Pesantren yang Ada Kiainya!

Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan tentang arti mondok bagi seorang murid thariqah atau yang biasa disebut suluk. “Ibarat tanaman, orang yang sudah baiat thariqah itu sudah punya bijinya, cara menanamnya ya lewat suluk, tawajuhan, bukan berarti jika sudah baiat sudah selesai,” jelasnya.

Hari Santri 2019

Lebih lanjut, kiai sepuh yang juga pengasuh Pesantren As Salaf Jeketro Gubug Grobogan ini mengurai tentang arti penting hubungan antara orang hidup dan mati. Ia mengisahkan Nabi Khidlir ketika menemukan sebuah dinding yang roboh di sebuah perkampungan yang kemudian ia ditegakkan kembali. “Ini karena memandang jasa orang tua kedua yatim tersebut yang shalih yang sudah mati, sedangkan anaknya masih hidup.”

Kiai Syarqowi merupakan guru Thariqah Khalidiyah Naqsyabandiyah yang mengambil sanad kepada Syaikh Sulaiman Zuhdi, guru besar Naqsyabandiyah Khalidiyyah di Jabal Abi Qubais Makkah.Kiai Syarqawi juga merupakan kawan akrab Kiai Arwani Amin, Kudus.  (Mundzir/Mahbib)



Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pertandingan Hari Santri 2019

Rabu, 15 November 2017

Diskusi Pra-Munas NU Dipusatkan di Tiga Zona

Palangkaraya, Hari Santri 2019 - Perhelatan akbar Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) yang bakal di Lombok, Nusa Tenggara Barat, 23-25 November mendatang, diawali dengan serangkaian diskusi di tiga zona.

Zona tersebut antara lain Indonesia tengah yang dipusatkan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah; Indonesia timur di Manado, Sulawesi Utara; dan Indonesia barat di Bandar Lampung, Lampung.

Diskusi Pra-Munas NU Dipusatkan di Tiga Zona (Sumber Gambar : Nu Online)
Diskusi Pra-Munas NU Dipusatkan di Tiga Zona (Sumber Gambar : Nu Online)

Diskusi Pra-Munas NU Dipusatkan di Tiga Zona

Ahad (8/10) ini, diskusi Pra-Munas dan Konbes NU digelar di Palangkaraya. Forum yang diikuti para utusan dari seluruh Pengurus Cabang NU (PCNU) dan Pengurus Wilayah NU (PWNU) se-Pulau Kalimantan ini mengangkat tema Kesenjangan Sosial dan Penguatan Ekonomi Warga.

Menurut Sekretaris Panitia, Ulil Hadrawi, diskusi Pra-Munas dan Konbes NU berikutnya akan berlangsung di Manado, 27 Oktober. Forum tersebut bakal fokus pada isu kebinekaan dan perdamaian. "Pembicaranya akan datang dari para pakar dan lintas agama," katanya.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Sementara itu, diskusi tentang penguatan organisasi menjelang satu abad NU akan menjadi pamungkas dari rangkaian diskusi Pra-Munas dan Konbes NU yang melibatkan PCNU dan PWNU dari berbagai daerah. Diskusi yang dijadwalkan pada 4 November ini diselenggarakan di Bandar Lampung.

Panitia berharap, butir-butir pikiran yang berkembang di seminar Pra-Munas dan Konbes NU menjadi bahan penting materi rekomendasi NU kepada Pemerintah agar fokus mengatasi berbagai permasalahan di republik ini, yang akan dirumuskan di Munas dan Konbes 2017 di NTB.

Rencananya Munas-Konbes NU akan dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo. Forum tertinggi NU setelah Muktamar ini akan dipusatkan di sedikitnya lima pesantren dengan mengusung tema Memperkokoh Nilai Kebangsaan melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga. (Mahbib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pertandingan Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock