Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2018

Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri

Kudus, Hari Santri 2019. Para tokoh dari berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Kudus, mendukung penguatan Kabupaten Kudus sebagai Kota Santri. Dukungan itu mengemuka dalam diskusi publik yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kudus bekerja sama dengan STAIN Kudus dan PC. Fatayat NU Kudus.

Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri

Diskusi itu dihadiri antara lain KH Hamdani (Ketua Majelis Ulama Indonesia/ MUI Kudus), H Abdul Hadi (Ketua PCNU Kudus), HA. Hilal Majdi (Ketua PD Muhammadiyah), Akhwan Sukandar (DPRD Jateng), Sri Hartini (DPRD Jateng), Ilwani (DPRD Kudus), Ulwan Hakim (DPRD Kudus), Umar Ali (pengusaha), dan Saekan Muchit (STAIN Kudus).

Penanggung jawab kegiatan, H Kisbiyanto, Kudus merupakan kabupaten dengan beragam julukan yang melekat. Mulai dari sebutan Kota Wali karena keberadaan dua makam anggota Walisongo, yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria, hingga Kota Jenang.

Kudus itu unik. Satu kabupaten yang menyandang banyak julukan. Selain dikenal sebagai Kota Wali dan Kota Jenang, juga dikenal dengan Kota Santri, Kudus Kretek, Kota Dagang, dan lainnya, katanya.

Hari Santri 2019

Akan tetapi dalam pertemuan dengan tokoh lintas sektoral itu, lebih menekankan Kudus sebagai Kota Santri. Menurut Kisbiyanto, Santri merujuk pada religiusitas dan berbasis pada nilai-nilai keagamaan.

Religiusitas dan nilai-nilai keagamaan ini, termasuk ciri menonjol hingga Kabupaten Kudus menyandang predikat Kota Santri. Kudus jadi jujugan para generasi muda untuk memperdalam agama, dengan banyaknya pesantren yang berdiri. Sehingga predikat Kudus Kota Santri menjadi penguat atas berbagai predikat lain yang melekat, paparnya. (Red: Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Makam, Budaya, Halaqoh Hari Santri 2019

Minggu, 21 Januari 2018

Janganlah Engkau Menodai Agama!

Dalam kitab suci Al-Quran, istilah pelecehan agama memang tidak ada. Namun dalam konteks yang sama, ada istilah-istilah tertentu yang bisa dipahami sebagai padanan dari pelecehan. Adapun bahaya tindakan melecehkan itu bukan cuma mengancam mereka yang melecehkan, namun juga merugikan objek, pihak, atau orang yang dilecehkan.

Dalam buku ini, Imanuddin dan Zaenal mengidentifikasi adanya tiga kata atau istilah dalam Al-Quran yang bisa dipadankan dengan kata pelecehan. Tiga kata itu bukan cuma berkaitan dengan ajaran agama Islam secara langsung. Namun juga kisah-kisah dari berbagai zaman yang mengeksplorasi tindakan pelecehan berikut bahaya dan bencana yang mengiringinya.

Ketiga kata itu meliputi Huzuw, Laib, dan Sakhira (hlm.71). Kata Huzuw bisa dipadankan dengan kata mengolok-olok. Namun bisa juga diartikan sebagai gurauan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dengan tujuan melecehkan.

Janganlah Engkau Menodai Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)
Janganlah Engkau Menodai Agama! (Sumber Gambar : Nu Online)

Janganlah Engkau Menodai Agama!

Kata Laib bisa diartikan dengan kata bermain atau bermain-main. Namun dalam konteks pelecehan, kata ini bisa diartikan segala aktifitas yang dilakukan bukan pada tempatnya atau untuk tujuan yang tidak benar. Sementara Sakhira adalah mengejek ? (hlm.78-86). Yaitu, menjadikan suatu agama berikut ajaran dan pemeluknya sebagai bahan ejekan yang berorientasi merendahkan atau meremehkan.

Bentuk-bentuk pelecehan agama memang banyak ragamnya. Ada pelecehan yang dinyatakan secara verbal, ada pula yang non-verbal. Pelecehan yang berbentuk verbal, cenderung mudah diketahui oleh pihak yang menjadi korban pelecehan secara langsung. Namun tidak demikian pada pelecehan berbentuk non-verbal. Terkadang, malah pihak atau orang ketigalah yang justru mengetahui lebih dahulu adanya tindak pelecehan agama.

Buku ini bukan hanya menyajikan bahasan seputar pelecehan agama secara langsung. Namun juga membahas pelecehan agama yang bermula dari pelecehan terhadap ajaran, pemeluk, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan suatu agama. Karena buku ini berangkat dari wawasan Al-Quran, maka secara tidak langsung, buku ini menitik-tekankan bahasan pada larangan keras bagi umat Islam yang ingin melecehkan agama Islam maupun agama lain.

Hari Santri 2019

Sebagai bangsa Indonesia yang di dalamnya terdapat berbagai pemeluk agama dan keyakinan, sudah semestinya bagi kita untuk tetap saling menghormati dan tenggang-rasa. Khususnya seputar keberagamaan dan keberagaman. Sebab dengan menahan diri dan minat dari melecehkan agama lain, kedamaian akan mudah terbentuk dan terjaga dengan sendirinya. Selanjutnya, kita bisa beribadah dengan tenang dan nyaman sesuai agama dan keyakinan masing-masing.?





Hari Santri 2019

Info Buku

Judul ? ? ? ? ? ? ? : Jangan Nodai Agama: Wawasan Al-Quran tentang Pelecehan Agama

Penulis ? ? ? ? ? : Imanuddin bin Syamsuri, Lc. MA dan M. Zaenal Arifin, MA

Penerbit ? ? ? ? : Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Cetakan ? ? ? ? : I (pertama), 2015

Tebal ? ? ? ? ? ? ? : xviii+190 halaman

ISBN ? ? ? ? ? ? ? : 978-602-229-457-3





Peresensi

Muhammad Ghannoe

Aktif di komunitas Nandha, Bantul.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, PonPes, Pertandingan Hari Santri 2019

Jumat, 19 Januari 2018

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya

Indonesia memiliki jumlah masjid paling banyak di dunia. Ada sekitar delapan ratus ribuan masjid yang tersebar dari Sabang hingga Merauke (Kemenag RI, 2014). Uniknya, sembilan puluh sembilan persen dari keseluruhan masjid di Indonesia dibangun dan dikelola masyarakat, sementara sisanya dibangun pemerintah. Hal ini berbeda dengan masjid-masjid yang ada di beberapa negara Islam. Di Arab Saudi, Kuwait, Iran, dan lainnya, masjid dibangun pemerintah. Tidak hanya itu, imam dan marbotnya diatur dan digaji oleh pemerintah.

Pada zaman Rasulullah, masjid menjadi pusat peradaban. Masjid dijadikan sebagai tempat untuk dakwah, pendidikan, pengembangan ekonomi, dan pelayanan sosial. Bahkan, para sahabat melakukan latihan perang pun di depan masjid. Masjid benar-benar dijadikan sebagai pusat kegiatan umat Islam. 

Saat ini, sebagian besar masjid di Indonesia hanya difungsikan sebagai tempat salat saja, tidak lebih. Jika ada masjid yang dijadikan sebagai tempat pemberdayaan masyarakat, itu pun jumlahnya tidak banyak. Kenapa bisa demikian? Sesuai dengan buku Pedoman Muharrik dan Ta’mir Masjid yang disusun Lembaga Ta’mir Masjid PBNU, ada tiga hal yang menyebabkan kondisi masjid di Indonesia seperti itu. Pertama, pengelola masjid yang tidak kompeten. Untuk mengembalikan fungsi masjid sebagaimana seperti zaman Rasulullah, maka dibutuhkan pengelola masjid yang inovatif, kreatif, dan memiliki kemampuan untuk memimpin dan mengelola masjid. 

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya

Kedua, tidak dikelola dengan serius. Pengelola dan pengurus masjid belum memiliki semangat yang tinggi untuk mengurusi masjid secara optimal. Biasanya mereka disibukkan dengan aktifitas kerja masing-masing sehingga kurang begitu memperhatikan masjidnya. Sehingga ada yang menyebut kalau sebagian besar masjid di Indonesia itu la yamutu wa la yahya (tidak hidup, mati pun segan), terutama dalam hal program kegiatannya. 

Ketiga, konflik antar pengelola. Biasanya, konflik antar pengelola disebabkan oleh perbedaan pendapat dalam mengurus masjid. Yang satu menginginkan seperti itu, sementara yang satunya lagi menginginkan seperti itu. Sehingga tidak ada titik temu antar keduanya karena mementingkan ego dan keinginannya masing-masing. Kalau konflik seperti itu dibiarkan, maka masjid akan terbengkalai dan program-programnya tidak jalan.

Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy menyebutkan bahwa masjid merupakan asas utama dan terpenting dalam pembentukan masyarakat Islam. Masyarakat Islam tidak akan terbentuk secara kukuh dan rapi kecuali dengan komitmen terhadap Islam. Hal ini tidak akan bisa ditumbuhkan kecuali dengan cara memakmurkan masjid.

Memakmurkan Rumah Allah

Hari Santri 2019

Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi-Ku adalah masjid-masjid. Dan sesungguhnya yang mendatangi-Ku adalah yang memakmurkannya. Maka beruntunglah orang-orang yang bersuci di rumahnya kemudian mendatangi-Ku di rumah-Ku, maka hak-Ku adalah memberi kemuliaan kepada orang yang datang ke rumah-Ku. (Hadist Qudsi)

Berbicara tentang kemakmuran masjid, maka ada tiga hal yang seharusnya menjadi fokus perhatian. Pertama, jamaah. Seperti hadist qudsi di atas, bahwa salah satu cara untuk mengukur suatu masjid makmur atau tidak adalah dengan cara melihat jamaahnya. Jika jamaahnya banyak, maka masjid tersebut makmur. Begitupun sebaliknya. 

Kedua, program kegiatan. Kemakmuran masjid juga bisa dilihat dari variasi kegiatan yang ada. Dalam hal ini, Lembaga Ta’mir Masjid PBNU memiliki tujuh program kegiatan untuk memakmurkan masjid. (a) Menjadikan masjid sebagai pusat penyebaran paham Aswaja. (b) Tempat penyuluhan kesehatan seperti mendirikan klinik di sekitar area masjid, khitanan masal, dan lainnya. (c) Pusat keilmuan seperti pengadaan Madrasah Diniyah, Taman Pendidikan Al-Qur’an, majelis ta’lim, dan lainnya. (d) Pusat pengembangan ekonomi umat seperti pendirian koperasi. (e) Pusat dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin seperti menyelenggarakan kajian dan pengajian. (f) Pusat kepedulian sosial seperti memberikan beasiswa bagi anak yang kurang mampu. (g) Mendoakan orang wafat seperti menyelenggarakan tahlil dan istighotsah bersama.   

Hari Santri 2019

Ketiga, finansial atau keuangan. Untuk memakmurkan masjid, setidaknya harus memiliki pendanaan yang cukup. Program-program masjid yang sudah disusun tersebut bisa terlaksana dengan baik jika ada anggaran yang memadahi. Kebutuhan, sarana dan prasarana masjid juga memerlukan bujet. 

Untuk itu, harus ada langkah yang tepat untuk mewujudkan kemandirian keuangan masjid. Salah satu cara menggalang dana adalah dengan mengaktifkan Gerakan Infak Sedekah Masjid (Gismas) sebagaimana yang digagas LTM PBNU. Pengurus masjid bisa menitipkan celengan di setiap rumah di sekitar masjid dan meminta pemilik rumah untuk mengisinya minimal seribu rupiah. Kalau seandainya ini berjalan dan misalnya ada tiga ratus celengan yang disebar pengurus masjid, maka akan terkumpul sembilan juta rupiah dalam waktu satu bulan. Tentu ini tidak mudah, butuh ketekunan, keuletan, dan konsistensi daripada pengurus masjid dan warga yang dititipi celengan Gismas tersebut.

 

Muchlishon Rochmat

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Nusantara, Pertandingan Hari Santri 2019

Jumat, 12 Januari 2018

Rakernas V Lakpesdam Diakhiri dengan Pembacaan Deklarasi

Batam, Hari Santri 2019. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia NU di Asrama Haji Batam diakhiri dengan pembacaan Deklarasi Lakpesdam, Kamis (16/4) sore.

Rakernas berlangsung sejak Selasa (14/4) yang diikuti oleh 70 Pengurus Cabang Lakpesdam NU dari 21 provinsi di Indonesia. Rakernas ditutup oleh Sekretaris PWNU Kepulauan Riau Muhammad Zainuddin.

Berikut ini bunyi deklarasi yang dibacakan oleh Sekretaris PW Lakpesdam NU Kepulauan Riau Abdul Jamil:

Rakernas V Lakpesdam Diakhiri dengan Pembacaan Deklarasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas V Lakpesdam Diakhiri dengan Pembacaan Deklarasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas V Lakpesdam Diakhiri dengan Pembacaan Deklarasi

?

DEKLARASI RAKERNAS LAKPESDAM NU

Hari Santri 2019

Asrama Haji Batam, 14-16 April 2015

Lakpesdam NU sebagai lembaga pelaksana PBNU dalam bidang kajian dan pengembangan sumber daya manusia diberi mandat untuk melaksanakan kaderisasi dan pemberdayaan, kajian strategis dalam lingkungan NU. Mandat ini dihadapkan pada tantangan-tantangan ke depan yang semakin kompkeks. Liberalisasi ekonomi dan perdagangan bebas di tingkat ASEAN yang telah merambah bangsa, tak terkecuali warga Nahdliyyin, masalah-masalah keagamaan yang dihadapi komunitas Nahdliyyin dan Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) dari kelompok-kelompok intoleran dan radikal, hingga berlakunya UU Desa telah meneguhkan Khittah Lakspedam NU sebagai organisasi pengkaderan dan pengkajian dan pemberdayaan yang berkiprah di tengah masyarakat bawah dalam bidang keagamaan dan sosial (diniyah ijtima’iyyah). Oleh karena itu, Lakpesdam NU seluruh Indonesia mendeklarasikan:

Lakpesdam NU menyatakan komitmennya untuk memposisikan sebagai garda depan pengkaderan NU dengan mengukuhkan Lakpesdam NU sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat sekaligus sebagai pusat kajian strategis ke-Aswaja-an dan ke-NU-an untuk mengawal Indonesia yang berdaulat dan bermartabat demi tercapainya kesejahteraan dan kemaslahatan bangsa. Lakpesdam NU berupaya menggerakkan organisasi NU dimulai dari bawah, dari tingkat ranting dan desa-desa untuk melaksanakan agenda-agenda NU dalam bidang keagamaan maupun dalam bidang sosial-kemasyarakan dan kebangsaan. Lakpesdam NU menyatakan kesungguhan tekad untuk memperkukuh komitmen kebangsaan yang berorientasi pada kemaslahatan umat (faqih fi mashalih al-khalq) untuk memperkuat relasi masyarakat warga terhadap kepentingan berbagai pihak. Lakpesdam NU dituntut untuk menjaga kewaspadaan, membangun kepeloporan, menumbuhkan harapan, dan menjadi pemberi inspirasi dan solusi dalam mengatasi masalah-masalah agama, sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat, sekaligus mampu mempengaruhi masyarakat untuk menumbuhkan etos kerja dan semangat yang tinggi dalam meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya, baik di bidang material maupun spiritual, untuk mencapai keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara dimensi ruhiyah dan waqi’iyah. Lakpesdam NU bertekad menyiapkan kader-kader yang mengawal negara agar merevitalisasi nilai-nilai kearifan lokal dalam upaya membangun harmoni sosial yang selaras dengan pencapaian harkat kemanusiaan yang sesungguhnya dalam rangka peneguhan nilai-nilai tawassuth (moderat) dan tasamuh (toleran). Lakpesdam NU bergerak untuk mobilisasi potensi kader dan warga dalam rangka penyiapan posisi-posisi strategis untuk pencapaian politik kebangsaan yang berdaulat dan bermartabat. Lakpesdam NU berkomitmen kembai ke desa dengan bergerak memperkuat kapasitas masyarakat desa demi pencapaian nilai-nilai luhur kebersamaan dalam rangka membangun dan mensejahterakan masyarakat desa yang bermartabat,berdaulat, dan berkeadilan. Batam, 16 April 2015

Hari Santri 2019

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Lomba, Nusantara, Makam Hari Santri 2019

Jumat, 05 Januari 2018

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun

Demak, Hari Santri 2019 - Anggota maupun pengurus NU dituntut untuk selalu komitmen serta eksis memperjuangkan dan mempertahankan ideologi organisasi dalam kondisi apapun dan di manapun. Mereka juga bertanggung jawab untuk menggerakkan organisasi.

“Kita sebagai warga NU wajib memperjuangkan ajaran Ahlus Sunah wal jamaah di manapun dan sampai kapan. Kita harus melestarikan ajaran yang ditinggalkan para ulama NU,” kata pengurus LDNU Demak KH Imam Ghozali saat memberikan taushiyah pada halal bihalal yang diselenggarakan Muslimat NU di halaman Masjid Jami Ploso Desa Temuroso Kecamatan Guntur Kabupaten Demak, Ahad (14/8).

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun (Sumber Gambar : Nu Online)
Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun (Sumber Gambar : Nu Online)

Aswaja Harus Diperjuangkan Sampai Kapanpun

Kiai Ghozali mengingatkan anggota Muslimat NU sudah sewajarnya bila dalam keseharian mengamalkan ajaran Aswaja dan menyebarkannya. Hanya saja di dalam memperjuangkan itu semua harus disesuaikan dengan kemampuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam keluarga masing-masing.

“Anggota Muslimat itu wajib memperjuangkan Aswaja di tengah masyarakat, namun perjuangan panjenengan semua itu harus disesuaikan dengan kemampuan yang perlu izin dan dukungan dari keluarga terutama suami,” tegas kiai Ghozali.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Sementara itu Ketua Muslimat NU Guntur Hj Isfinadhiroh di sela-sela acara kepada Hari Santri 2019 mengatakan, pihaknya sengaja mengundang ulama NU pada acara tersebut untuk memberikan pencerahan dan motivasi pada pengurus dan anggota Muslimat NU agar semakin giat dalam berorganisasi.

“Mumpung pengurus dan anggota Muslimat NU sekecamatan ini kumpul, sengaja pak kiai rawuh-kan untuk memberikan motivasi dan pencerahan pada anggota akan kesadaran membesarkan NU,” tutur Isfinadhiroh.

Hahal bihalal ini diikuti oleh pengurus anak cabang dan ranting Muslimat NU sekecamatan Guntur. Tampak hadir pengurus MWCNU, lembaga dan banom NU tingkat kecamatan serta dihadiri warga sekitar. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam, Pesantren, Kyai Hari Santri 2019

Habis Lantunkan Al-Qur’an, Kening Ais Dicium Khofifah

Jakarta, Hari Santri 2019?

Namanya Nafisah Almais Aidiniyah. Usianya 13 tahun, tapi hadir di Kongres ibu-ibu Muslimat. Ia bukan mengikuti kongres memang, melainkan melantunkan surah An-Nisa ayat 125 di penutupan kongres di Aula Serba Guna Asrama Haji Embarkasi, Jakarta pada Sabtu (26/11).?

Ia melantunkan Al-Qur’an di hadapan Wakil Presiden RI H. Jusuf Kalla, Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, anggota Dewan Pertimbangan Presiden KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa dan ribuan pengurus Muslimat NU. ? ?

Habis Lantunkan Al-Qur’an, Kening Ais Dicium Khofifah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habis Lantunkan Al-Qur’an, Kening Ais Dicium Khofifah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habis Lantunkan Al-Qur’an, Kening Ais Dicium Khofifah

Selepas, melantunkan Al-Qur’an, ia melanjutkannya dengan mendendangkan Shalawat Nabi. Dendangannya diikuti seluruh penghuni aula.?

Ketika penutupan usai, ketika sesi foto-foto, Ais turut berfoto dengan Khofifah Indar Parawansa. Mensos RI tersebut menyempatkan diri anak siswi MTs Pembangunan UIN Jakarta kelas VII. Tak hanya Khofifah, ibu-ibu yang lain menghampirinya, memeluknya, kemudian meminta berpotret dengan Ais.

Hari Santri 2019

Seorang ibu mengungkapkan keinginannya memiliki putri sebagaimana Ais, bisa melantunkan Al-Qur’an dengan baik dan fasih.?

Nafis adalah anak sulung dari empat bersaudara. Semuanya perempuan. Ia adalah putri dari pasangan Abi Juhar seorang PNS Kanwil Kemenag Bali dan Umi Nur Hamidah, kepala sekolah TK. Keluarga mereka berlatar belakang Nahdliyin.?

Nafis bercerita, ia belajar mengaji sejak usia tiga tahun oleh ayahnya. Kemudian memperdalam ilmu bacaannya di pesantren Baitul Qurro, milik qoriah internasional, Hj. Maria Ulfa.?

Karena suaranya yang merdu dan fasih, ia kerap diundang dalam berbagai kegiatan. Ia pernah tampil di depan Menteri Agama H. Lukman Hakim Saifuddin di Bali tahun 2015. Bahkan ia pernah tampil di sebuah acara yang dihadiri menteri iagama empat negara yaitu Brunei Darussalam, Filipina, Malaysia dan Indonesia. Hari ini ia tanpil di depan Wakil Presiden RI.?

Hari Santri 2019

“Nafis merasa deg-degan saat tampil,” katanya sambil tertunduk malu.?

Dalam bidang baca Al-Qur’an, prestasinya sampai di tingkat nasional. Debutnya ? ketika di Bengkulu 2010, ia tidak mendapat prestasi apa-apa. Namun ia bisa membuktikannya menjadi yang terbaik di MTQ Batam 2014 sebagai juara pertama.?

Di bidang seni suara, ia juga berprestasi dalam menyenandungkan kasidah. Ia ? menjadi juara pertama sebagai vokalis pada kejuaraan tingkat nasional yang diselenggarakan Lembaga Seni Qasidah Indonesia (Lasqi) di Kendari, Sulawesi Tenggara. Prestasinya menurun menjadi juara harapan dua pada Musabaqoh Hifzdil Qur’an di Mataram, Nusa Tenggara Barat tahun 2016.

Prestasi itu tidak membuatnya berbangga diri, tapi tetap rendah hati. Meskipun sudah level nasional, ia tidak memilih undangan mengaji. (Nelly Korabe/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Makam Hari Santri 2019

Minggu, 24 Desember 2017

Keberhasilan Pembelajaran, Guru Berkualitas Jadi Syarat Mutlak

Jakarta, Hari Santri 2019?

Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kemenag menemukan dalam risetnya, untuk mencapai keberhasilan pembelajaran di kelas unggulan, dibutuhkan guru-guru berkualitas. Kualitas guru dilihat tidak hanya dari aspek gelar akademik yang dimiliki maupun sebagai transformer pembelajaran.

Selain kedua syarat di atas, standarisasi persyaratan lain juga harus dimiliki, yaitu guru di sekolah unggul mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikannya, memiliki pengalaman mengajar di kelas reguler dengan prestasi yang baik, memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang karakteristik peserta didik yang memilki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Keberhasilan Pembelajaran, Guru Berkualitas Jadi Syarat Mutlak (Sumber Gambar : Nu Online)
Keberhasilan Pembelajaran, Guru Berkualitas Jadi Syarat Mutlak (Sumber Gambar : Nu Online)

Keberhasilan Pembelajaran, Guru Berkualitas Jadi Syarat Mutlak

Berikutnya guru memiliki karakteristik adil, demokratis, fleksibel, humoris, menghargai, memiliki minat yang luas, perhatian pada masalah yang dihadapi anak, memiliki penampilan dan sikap yang menarik. Guru memiliki pengetahuan tentang sifat dan kebutuhan anak, memiliki keterampilan dan kemampuan berfikir tingkat tinggi.

Selanjutnya guru memiliki pengetahuan tentang kebutuhan kogintif, afektif, dan psikomotorik anak cerdas dan berbakat, ? memilikikemampuan untuk memecahkan masalah secara kreatif, memiliki kemampuan dalam menggunakan strategi mengajar, memiliki kemampuan untuk menggunakan teknik mengajar yang sesuai, dan memiliki kemampuan utnuk melakukan penelitian.

Untuk ? menjamin ? kualitas ? dan ? ketersediaan guru ? dengan ? standarisasi di ? atas, lembaga secara institusional memberlakuan sistem penilaian pada proses perekrutan guru pada kelas unggul.?

Hari Santri 2019

Proses perekrutan dilakukan baik secara tertulis (test) dan lisan (wawancara). Perekrutan juga dilakukan secara simultan, terprogram, dan terencana sehingga diperoleh hasil maksimal. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Makam Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock