Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Usai Gelar Apel Kesetiaan Pancasila, Ansor Bondowoso Konsolidasikan Kekuatan

Bondowoso, Hari Santri 2019. Setelah pagi harinya menggelar apel kesetiaan Pancasila dan NKRI di Lapangan Sekarputih Kecamatan Tegalampel, Bondowoso, Pimpanan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bondowoso kembali mengadakan acara sarasehan Kopi Darat bersama aparat pemerintah setempat di Aula PCNU Bondowoso Jalan KH Agus Salim No. 85 Belindungan Kabupaten Bondowoso Jawa Timur, Rabu (1/06) malam.

Usai Gelar Apel Kesetiaan Pancasila, Ansor Bondowoso Konsolidasikan Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Gelar Apel Kesetiaan Pancasila, Ansor Bondowoso Konsolidasikan Kekuatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Gelar Apel Kesetiaan Pancasila, Ansor Bondowoso Konsolidasikan Kekuatan

Acara bertema "Mengejawantahkan Komitmen Kesetiaan Pemuda kepada Pancasila dan NKRI" ini juga diikuti Pimpinan Cabang, Pimpinan Anak Cabang, Satkorcab Banser, Ormas Kepemudaan (OKP) dan OSIS SMA/MA se-Bondowoso.

Hari Santri 2019

Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil menjelaskan, saat ini ada berbagai kelompok, baik dari dalam maupun luar negeri yang ingin mengubah dasar NKRI. Karena itu ia meminta semua elemen bersatu melawan setiap upaya-upaya yang merongrong Pancasila dan NKRI.

Hari Santri 2019

"Bagi kami (GP Ansor) Pancasila itu adalah harga mati, NKRI adalah harga mati bagi Gerakan Pemuda Ansor dan Banser," tegasnya.

Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir mengatakan hal senada. Menurutnya, lahirnya bangsa Indonesia tidak lepas dari peranan tokoh-tokoh NU. Tak hanya menjadi penggerak dalam mempertahankan kemerdekaan, lanjut Dhafir, NU lah organisasi massa pertama yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal Bangsa Indonesia.

" Kesimpulannya, negeri ini sudah bersertifikat atas nama Pancasila dan NKRI. Dan itu sudah final," tandasnya.

Hadir pada acara sarasehan Kopi Darat Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir, Kasdim 0822 Bondowoso, Mayor Mohammad Tohir, Kasat Binmas, AKP Heru Wahyudi. (Ade Nurwahyudi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Aswaja, Nasional, AlaNu Hari Santri 2019

Selasa, 13 Februari 2018

Manfaat dan Mudarat Internet Sama Besar, Santri Harus Berperan!

Jakarta, Hari Santri 2019. Pada momen hari santri 2017 ini, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengingatkan para santri untuk kian peka terhadap perkembangan zaman di sekitarnya, termasuk teknologi informasi. Ia mendorong mereka untuk aktif memberikan manfaat di dunia digital.

Manfaat dan Mudarat Internet Sama Besar, Santri Harus Berperan! (Sumber Gambar : Nu Online)
Manfaat dan Mudarat Internet Sama Besar, Santri Harus Berperan! (Sumber Gambar : Nu Online)

Manfaat dan Mudarat Internet Sama Besar, Santri Harus Berperan!

“Hari ini santri juga hidup di tengah dunia digital yang tidak bisa dihindari. Internet adalah bingkisan kecil dari kemajuan nalar yang menghubungkan manusia sejagat dalam dunia maya. Ia punya aspek manfaat dan mudarat yang sama-sama besar,” ujarnya saat menyampaikan pidato pada apel akbar hari santri yang digelar di pelataran Tugu Proklamasi, Jakarta, Ahad (22/10).

Ia mengatakan, internet telah digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan dakwah Islam, tetapi juga digunakan untuk merusak harga diri dan martabat seseorang dengan fitnah dan berita hoaks.

Santri, tambahnya, perlu ‘memperalat’ teknologi informasi sebagai media dakwah dan sarana menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan serta mereduksi penggunaannya yang tidak sejalan lima filosofi syariat Islam.

Hari Santri 2019

“Yakni untuk menjaga agama (hifdhuddin), jiwa (hifdhun nafs), nalar (hifdhul aql), harta (hifdhul mal), keluarga (hifdhun nasl), dan martabat (hifdhul ‘aradl) seseorang. Kaidah fikih: al-muhâfadhah ala-l qadîmis shâlih wa-l akhdzu bi-l jadîdi-l ashlah senantiasa relevan sebagai bekal kaum santri menghadapi tantangan zaman yang terus berubah,” papar Kiai Said.

Kiai asal Cirebon ini juga mengimbau para santri untuk mentransformasikan momentum Hari Santri sebagai ajang gerakan penguatan paham kebangsaan yang bersintesis dengan keagamaan. “Spirit “nasionalisme bagian dari iman”, hubbul wathan minal iman, perlu terus digelorakan di tengah arus ideologi fundamentalisme agama yang mempertentangkan Islam dan nasionalisme,” katanya.

Apel diikuti ribuan santri dan pelajar dari berbagai daerah di Jabodetabek. Usai pembacaan teks Pancasila yang dipimpin Ketua PBNU Robikin Emhas, deklarasi ikrar santri diteriakkan secara serentak yang dipandu oleh Sekjen PBNU Ishfah Abidal Aziz.

Hadir dalam kesempatan tersebut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan sejumlah pejabat tinggi negara. (Mahbib)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Cerita Hari Santri 2019

Kamis, 01 Februari 2018

Libur Idul Fitri 2004 Menjadi Sembilan Hari

Jakarta, Hari Santri 2019
Pemerintah menetapkan hari libur nasional dan cuti bersama pada Idul Fitri 2004 menjadi sembilan hari, karena hari besar Islam itu jatuh pada tanggal 14 dan 15 November 2004, atau hari Minggu dan Senin.

Dalam kondisi demikian pemerintah memundurkan hari libur menjadi 15 dan 16 November atau Senin dan Selasa, ditambah cuti bersama selama tiga yakni 17-19 November 2004 (Rabu, Kamis dan Jumat) dan ditambah libur Sabtu dan Minggu dan Sabtu dan Minggu sebelumnya, menjadikan libur Idul Fitri 2004 menjadi sembilan hari.

Menko Kesra Jusuf Kalla mengatakan di Jakarta, Kamis, seusai menyaksikan menandatanganan surat keputusan bersama Menag, Menakertrans, dan Menpan tentang Libur Nasional dan Cuti Bersama Selama 2004 di Jakarta.

Dikatakan bahwa libur sembilan hari itu sebenarnya efektif lima hari, yakni dua hari libur resmi, tiga hari cuti bersama, dan empat hari libur Sabtu Minggu yang berlaku bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta swasta di seluruh Indonesia.

Sedangkan libur hari besar di luar hari Sabtu dan Minggu untuk tahun 2004, jumlahnya tetap 14 hari kerja dengan catatan hari libur yang jatuh pada Minggu, Selasa, Rabu, dan Kamis dipindahkan ke hari Senin, sehingga tidak mengurangi jumlah hari libur nasional yang sudah ada. Contohnya, tahun baru hijriah yang jatuh pada tanggal 22 Februari (Minggu) dipindah menjadi Senin (23/2).  

Menurut Menko Kesra, tujuan pemindahan hari libur itu agar masyarakat memiliki libur akhir pekan lebih panjang dan memberi kesempatan bersilaturahmi dengan keluarga. 

Selain itu untuk mengefisienkan agar tidak banyak karyawan yang membolos karena adanya hari kerja yang terjepit pada hari libur. Begitui pula untuk meningkatkan kunjungan wisatawan domestik.

Sementara Menpan Feisal Tamin, meminta instansi pemerintah untuk menindak atau menjatuhkan sanksi bagi karyawan yang masih membolos. Ia mengatakan bahwa dipercepatnya pengumuman hari libur tersebut untuk memudahkan para penerbit kalender  memberi tanda khusus pada hari-hari libur yang dipindahkan, sehingga tidak membingungkan masyarakat.

Pihak swasta tidak mempermasalahkan pemindahan hari libur itu karena sudah dilaksanakan sejak lama.(ant/mkf)


 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Warta, Berita Hari Santri 2019

Libur Idul Fitri 2004 Menjadi Sembilan Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Libur Idul Fitri 2004 Menjadi Sembilan Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Libur Idul Fitri 2004 Menjadi Sembilan Hari

Kamis, 25 Januari 2018

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran

Jember, Hari Santri 2019. Konflik berujung bentrokan berdarah di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Jember  yang mengakibatkan satu orang meninggal, mendapat perhatian dari Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH. Mutawakkil Alallah. 

Pengasuh Pesantren Genggong, Kraksaan, Probolingo ini langsung mengunjungi rumah duka di Puger Kulon, Kamis dini hari (12/9). Diantar Sekretaris PCNU Jember, KH. Misbahussalam, Kiai  Mutawakkil, menyatakan ikut berbela sungkawa. Selain itu ia sempat menggelar tahlilan di rumah duka. 

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran

Tidak banyak keterangan yang keluar dari lisan sang Kiai Mutawakkil, kecuali hanya himbauan agar semua pihak tenang dan tidak terpancing provokasi serta tidak boleh dendam. “Tidak perlu dendam. Tapi ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak, termasuk kepolisian,” tukasnya kepada sejumlah wartawan di Puger. 

Di tempat yang sama, KH. Misbahussalam  menyatakan bahwa PCNU Jember akan segera mengadakan rapat untuk mencari jalan keluar dari perseteruan yang telah berlangsung cukup lama itu. 

Hari Santri 2019

Menurutnya, bentrokan itu bisa dihindari jika masing-masing pihak bisa menahan diri dan tidak terprovokasi satu sama lain. “Kuncinya saling menghormati satu sama lain. Masak dengan sesama Islam tidak rukun. Wong dengan umat nonmuslim kita damai,” ujarnya. 

Kiai Misbah menambahkan, aroma bentrokan itu sebenarnya sudah tercium beberapa hari sebelum kejadian. Sebab, salah satu pihak, mengajukan izin kepada aparat untuk menggelar karnaval. Namun aparat tidak memberikan izin karena khawatir ditolak atau mendapat perlawanan dari kelompok yang kontra syi’ah. 

Hari Santri 2019

“Tapi nyatanya mereka ngotot karnaval, bahkan barikade polisi diterobos. Akhirnya terjadilah peristiwa itu,” tukasnya. 

Sementara itu, MUI Jember masih terus mengadakan pendalaman terhadap kasus itu. Menurut Wakil Ketua MUI Jember,  KH Abdullah Syamsul Arifin,  pihaknya masih mencari tahu secara detil penyebab timbulnya kerusuhan berdarah itu. “Apakah ini murni konflik internal (di Puger), ataukah memang jangan-jangan ada intervensi dan provokasi dari luar," katanya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Sunnah, Kajian Hari Santri 2019

Selasa, 23 Januari 2018

Bom Kampung Melayu, Khofifah: Warga Harap Tenang, Jangan Terpancing

Probolinggo, Hari Santri 2019. Ledakan bom di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur dinilai Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa sepertinya ada yang tidak ingin kalau negeri ini aman. Karena itu, dia berharap agar semua pihak tetap tenang, tidak terpancing secara berlebihan atas kejadian tersebut.?

Bom Kampung Melayu, Khofifah: Warga Harap Tenang, Jangan Terpancing (Sumber Gambar : Nu Online)
Bom Kampung Melayu, Khofifah: Warga Harap Tenang, Jangan Terpancing (Sumber Gambar : Nu Online)

Bom Kampung Melayu, Khofifah: Warga Harap Tenang, Jangan Terpancing

"Jangan terpancing dan jangan memancing-mancing," katanya saat menghadiri Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Rabu (24/5) malam.

Mensos menjelaskan, saat ini masyarakat begitu mudah terpancing menanggapi sesuatu hal sehingga membuat suasana semakin keruh. Menurutnya, peristiwa bom di Kampung Melayu adalah tindakan memancing respons berlebihan masyarakat oleh kelompok tertentu. "Makanya jangan terpancing," pintanya.

Selain itu, peristiwa ini semakin menguatkan peran penting ulama maupun tokoh agama untuk mengingatkan masyarakat dan generasi kita agar tak mudah terpengaruh ajakan orang atau kelompok yang ingin mengganggu ketenangan bangsa.

Hari Santri 2019

"Peran ulama, kalangan pesantren dibutuhkan untuk mengingatkan kalau ada yang mau mengganggu negeri ini, misalnya mengganti Pancasila dengan sistem khilafah. Saya mau tanya, apakah di pesantren ini ada ingin mengganti Pancasila dengan sistem khilafah?" tanya Khofifah yang dijawab "Tidak!" secara serentak oleh para santri dan hadirin.?

"Ini PR kita karena gangguan ini sering kali muncul," tegas Ketua Umum PP Muslimat NU ini.?

Terlebih, kata Khofifah, ulama maupun pesantren berperan besar atas pendirian NKRI. Dia mencontohkan KH Wahid Hasyim, salah seorang anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Hari Santri 2019

"Saya ingin sampaikan kalau Kiai Wahid Hasyim yang anggota BPUPKI dan PPKI yang akhirnya mendeklarasikan kemerdekaan, memproklamirkan kemerdekaan Indonesia," katanya.

"Kiai Wahid Hasyim adalah putra Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, ayahanda KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kalau kemudian ada anak-anak muda yang mengaku trahnya NU lalu ingin mengubah dasar negara, bentuk negara, sistem pemerintahan ini, tolong diingatkan. Inilah tugas kita."

Khofifah berharap Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani ini menjadi penguatan muhasabah untuk menjaga keutuhan NKRI. "Tonggak-tonggak penguatan NKRI adalah pesantren-pesantren yang dikomandani para kiai NU. Salah satunya pesantren ini," katanya.

Apalagi usia pesantren jauh lebih tua dari Indonesia. Khofifah merujuk banyak pesantren yang berusia 100 tahun bahkan lebih. "Tiga hari lalu saya mendatangi imtihan ke-100 pesantren Sukamiskin. Kalau imtihan ke-100 berarti usia pesantren lebih dari 100 tahun," katanya.?

Begitu juga saat ada pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan para kiai di Jatim di sela pengukuhan Rais Aam PBNU yang juga Ketua Umum MUI, KH Maruf Amin sebagai guru besar ilmu ekonomi muamalat syariah oleh UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang. Dalam pertemuan terbatas itu ada pengasuh pesantren yang pesantrennya didirikan dari tahun 1700.

"Artinya inilah pilar-pilar yang membangun semangat juang melawan penjajahan, apakah Belanda maupun Jepang pada saat itu. Hanya saja para kiai ini perannya tidak ingin di-publish. Maka banyak sekali kiai yang tidak mengajukan sebagai apakah calon pahlawan, bintang mahaputra dan seterusnya karena keikhlasannya begitu luar biasa," papar Khofifah. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu Hari Santri 2019

Sabtu, 20 Januari 2018

Urgen, Amaliah NU Dibukukan dengan Argumen Ilmiah

Surabaya,Hari Santri 2019. Sebagai organisasi sosial kegamaan terbesar di tanah air bahkan di dunia, Nahdlatul Ulama harus meningkatkan kewaspadaan dengan banyaknya aliran yang bertentangan dengan manhaj NU. Tak hanya itu, mereka gencar memojokkan berbagai amaliah NU.

Menurut Rais PCNU Jember, Jawa Timur KH Muhyyiddin Abdusshomad kalangan tersebut sudah berani mengkafirkan bahkan membunuh mereka yang dianggap sesat. “Sekarang mereka berada di sekeliling kita," katanya ketika tampil sebagai pemateri pada acara Daurah Aswaja Nasional yang diselenggarakan PW Aswaja NU Center Jatim, Kamis (25/12).

Urgen, Amaliah NU Dibukukan dengan Argumen Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Urgen, Amaliah NU Dibukukan dengan Argumen Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Urgen, Amaliah NU Dibukukan dengan Argumen Ilmiah

Melihat kenyataan ini, kiai yang juga sebagai pengasuh Pondok Pesantren Nuris Jember ini mengingatkan peserta untuk tidak mengangap remeh persoalan ini. "Kita harus memikirkan bagaimana melawan dengan argumentasi dan memahami NU secara mendalam," kata Kiai Muhyidin. Bukan hanya memahami NU dalam tataran luar atau kulit saja, namun juga esensi dari ajaran dan amaliah yang selama ini dijalankan secara teguh kalangan NU.

Hari Santri 2019

"Lawan kita ini sudah pakai rudal, sedangkan kita masih memakai ketapel, bila kita tidak segera berkemas, kita akan sangat mudah dihancurkan," tandas Kiai Muhyiddin.

Dalam pandangannya, kelemahan NU sekarang ada di bidang kepenulisan. Karena ajaran-ajaran NU dan berikut amaliah yang telah mentradisi hanya dijalankan melalui warisan keturunan dan budaya setempat, dan sangat jarang yang menuliskannya dalam sebuah naskah akademis. Padahal menuliskan landasan hukum atas amalan yang telah mendarah dan mendaging tersebut sangat mendesak untuk dilakukan.

Hari Santri 2019

Karena dengan menuliskan argumentasi amaliyah tersebut sangat penting untuk menangkal pandangan kalangan yang menkafirkan. "Dengan buku pegangan tersebut nantinya akan dengan mudah mematahkan berbagai tuduhan kalangan yang membidahkan atau mengkafirkan amaliyah warga NU," katanya.

Sebagai ilustrasi, Kiai Muhyiddin mempersilahkan peserta untuk melakukan pengecekan sejumlah buku Wahabi yang beredar di sejumlah toko buku kenamaan. "Coba kita lihat misalnya buku-buku yang dibuat oleh kalangan Wahabi, sekarang banyak terpajang di toko-toko buku bertaraf  nasional seperti Togamas, Gramedia dan toko-toko lain," katanya dengan mimik serius. Baginya, hal ini sebagai bukti bahwa kalangan NU telah ketinggalan start, lanjutnya.

Lebih lanjut, Kiai Muhyiddin mengingatkan kepada seluruh peserta untuk menjadi pioner  di daerahnya masing-masing baik dengan menulis maupun dakwah bil lisan dan bila mampu mendirikan percetakan yang khusus mencetak buku-buku seputar NU.

Jumlah penerbit buku di NU, lanjut dia, sangat jarang bila dibandingkan dengan kelompok yang berseberangan. NU, masih mencoba merintis penerbitan. “Kalau sudah besar sering konflik dan bubar," katanya yang disambut tawa peserta.

Untuk itu, Kiai Muhyiddin berpesan kepada seluruh kalangan untuk bangkit mengawal Aswaja NU. Kebangkitan ini harus diawali dari generasi muda yang notabene sebagai kader penerus. "Sehingga ke depan Aswaja NU tetap berdiri tegak di bumi Nusantara," ungkapnya.

Di akhir sesi penyampaian materi, Kiai Muhyiddin membagikan beberapa tips yang harus dijalankan untuk membentengi NU yang di antaranya;  pertama, memperluas dan memperdalam pengetahuan tentang Aswaja serta meningkatkan penghayatan dan pengamalannya juga mensosialisasikannya kepada umat. Kedua, Meningkatkan keluhuran citra ajaran Ahlussunnah wal Jamaah dengan meningkatkan mutu pelaksanaan.

Ketiga, membuktikan keunggulan ajaran Aswaja dengan memperbanyak membaca dan mengkaji Kutub al-Turats. Bermusyawarah serta berdiskusi untuk menjawab persoalan yang muncul, kemudian menjadikan ajaran Aswaja sebagai solusi. Dan terakhir, perlu adanya pembagian tugas yang jelas di antara kader NU yang bertugas di wilayah politik praktis dan yang menjadi pengayom umat. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Kajian Hari Santri 2019

Selasa, 09 Januari 2018

Prof Rahman: Yakinlah Akan Lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal Baru

Hingga hari ke-40 pascawafatnya Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh, berbagai kesaksian dari berbagai elemen masyarakat terus mengalir. Para kiai, pengurus NU, dan tokoh masyarakat telah memberikan komentar, kini testimoni mengemuka dari seorang akademisi yang lahir dari tradisi NU:Prof H Abdurrahman Mas’ud, MA PhD (54). Doktor lulusan University of California Los Angeles (UCLA) ini menceritakan pengalamannya kepada Musthofa Asrori dari Hari Santri 2019 di kantornya.

Pria kelahiran Kudus, 16 April 1960, yang sekarang menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Kapuslitbang Penda) Balitbang Kementerian Agama RI ini memiliki cerita menarik seputar perkenalannya dengan kiai yang akrab disapa Mbah Sahal itu. Berikut petikan wawancara beberapa hari lalu.

Prof Rahman: Yakinlah Akan Lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Rahman: Yakinlah Akan Lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Rahman: Yakinlah Akan Lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal Baru

Apa yang terbentuk dalam pemikiran Prof Abdurrahman Mas’ud tentang sosok Mbah Sahal?

Perkenalan dan ketertarikan saya kepada Mbah Sahal, pertama ya, saat saya mulai mengaji kepada beliau ketika kelas dua aliyah dulu. Tepatnya tahun 1978 dan 1979 di Pesantren Maslakul Huda Kajen. Dua tahun berturut-turut tiap bulan puasa saya mengaji pasanan di sana. Beliau itu ulama kharismatik, terbuka, dan juga seorang faqih. Saya masih ingat waktu itu ngaji Fathul Wahab kepada beliau. Mbah Sahal juga cepat dekat kepada santrinya, termasuk saya. Saking percayanya, misalnya, beliau memberikan ijazah kepada saya. Jadi, mula-mula saya tunjukkan kepada beliau kitab nadzaman Tsamratul Hajainiyah. Tanpa pikir panjang, beliau langsung memberikan ijazah bahwa saya sudah diakui mengaji kepada beliau. Padahal belum ngaji. Saya sampai beliau meninggal selalu berhubungan baik. Minimal setahun sekali saya sowan ke kediaman beliau. Saya merasa lebih dekat dengan beliau daripada santrinya yang lain. Padahal tidak nyantri di pondoknya. Dugaan saya, tapi Insya Allah bener, banyak santri yang nyantri di sana.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Nyantri di mana, Prof?

Saya justru mondok di pesantren Kiai Muzayyin Ngemplak (sebelah barat Kajen-red), setiap ngaji pasanan di Kajen.

Waktu mendapat gelar profesor di IAIN Semarang?

Iya, saya undang beliau. Usai penganugerahan langsung saya hampiri beliau, saya cium tangan beliau.

Bagaimana perasaan Prof saat mengetahui bahwa Mbah Sahal telah meninggal?

Saya sangat kehilangan sekali, bukan soal material tetapi moral. Ya, kita memang berhubungan dengan beliau secara moral ya. Apalagi tidak bisa memberikan penghormatan terakhir kepada beliau. Itu yang paling merasa kehilangan. Padahal biasanya, minimal tiap tahun silaturrahim ke beliau. Saya sering merasa jika ada kiai yang wafat, saya pasti sangat prihatin. Bahkan, paman saya sendiri, Kiai Ma’ruf Irsyad Kudus juga tidak bisa mengantar.

Pasca-Mbah Sahal, bagaimana NU ke depan? Tanggapan Bapak..

Suasananya mirip ketika NU dan bangsa ini ditinggal wafat Gus Dur. Di NU kan betapapun kiai itu masih menjadi tokoh sentral. Dalam penelitian saya, kiai saya sebut sebagai elite culture (kultur elit) yang menjadi imam keagamaan. Jadi, Mbah Sahal tidak diragukan lagi. Tapi, yakinlah bahwa ke depan akan lahir Mbah Sahal-Mbah Sahal baru.

Beliau dalam riset saya dikategorikan sebagai kiai yang ensiklopedis. Saya merasa tidak bisa terlepas dari bayang-bayang Mbah Sahal. Beliau itu tidak bisa diintervensi oleh pemerintah. Posisi beliau sedejarat dengan pemerintah. Jadi, pendapat beliau selalu didengar oleh pemerintah, bukan saja oleh gubernur, tetapi hingga tingkat nasional.

Artinya apa?

Sebagaimana kita tahu, dalam hadis, pemimpin yang adil dan ulama yang tidak korup maka umat akan aman.

Sekarang Mbah Sahal digantikan Gus Mus dalam kapasitasnya sebagai rais aam. Bagaimana Prof melihatnya?

Sangat pas dan tepat sekali. Saya kira Gus Mus orang yang sangat paham Mbah Sahal. Artinya, pemikiran kedua ulama ini cukup linier dan relevan dengan konteks kekinian. Saya pribadi sangat bersyukur bahwa Gus Mus bisa menggantikan beliau. Insya Allah perdamaian dan moderasi ala NU akan aman dalam kendali Gus Mus.

Berbicara tentang pendidikan Islam di Indonesia, khususnya bagi warga Nahdliyin, problem mendasarnya menurut Bapak?

Ada beberapa masalah tipikal dunia pendidikan Islam. Pertama, dikotomi keilmuan yang sudah menyejarah. Kedua, hilangnya spirit  of inquiry yang termasuk di dalamnya memudarnya tradisi rihlah fi thalabil ilmi, penelitian empiris, membaca, dan menulis. Ketiga, certificate-oriented (orientasi ijazah). Keempat, tidak mengacu pada problem solving. Kelima, common sense terlupakan. Dampaknya, kreativitas tidak menonjol. Keenam, akhlaq terbatas pada moralitas dosa, halal-haram, akhlaq sosial (social ethics) terabaikan.

Apa tawaran pemikiran prof terhadap persoalan ini?

Saya kira, perlu ditekankan adanya humanisme dalam pendidikan. Humanisme dalam pendidikan di sini adalah proses pendidikan yang lebih memerhatikan aspek potensi manusia sebagai makhluk religius dan makhluk sosial (abdullah dan khalifatullah), serta sebagai individu yang diberi kesempatan Tuhan untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya sekaligus bertanggung jawab terhadap amal perbuatannya di dunia dan akhirat. Humanisme dimaknai sebagai kekuatan atau potensi individu yang senantiasa mengembangkan diri di bawah petunjuk ilahi, untuk bertanggung jawab mengurai aneka persoalan sosial. Individu dalam pandangan ini selalu aktif dalam status proses becoming menyempurnakan diri (istikmal).

Apa pesan penting humanisme dalam pendidikan?

Humanisme mengajarkan, tidaklah etis untuk sepenuhnya menunggu Tuhan bertindak untuk menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan dan keindonesiaan dengan karut-marutnya persoalan yang tak pernah kunjung selesai. Manusia Indonesia sebagai khalifatullah fil ardl harus bertindak dengan tetap memohon petunjuk dari Allah untuk merespons dengan tepat berbagai musibah.

Bagaimana hubungan humanisme dalam pendidikan dan humanisme dalam beragama?

Tentu sangat erat hubungannya. Lihat saja, realitas kesejarahan bangsa kita menunjukkan bahwa Islam yang berkembang di Indonesia hingga hari ini adalah Islam kultural. Artinya, Islam mampu berkembang dan menjadi tradisi baru sejalan dengan dinamika budaya masyarakat. Pendekatan kultural merupakan strategi pengembangan keberagamaan yang memerhatikan keharmonisan dan kekayaan budaya lokal sebuah komunitas masyarakat.

Salah satu budaya bernuansa islami yang berkembang luas di masyarakat adalah budaya selametan atau syukuran. Budaya ini sering diidentikkan dengan masyarakat Jawa. Penyelenggaraannya pun nyaris berlangsung setiap hari, setiap even, dan searah tarikan nafas. Ketika orang akan memulai hidup baru, memasuki rumah baru, punya jabatan baru, atau sesuatu yang baru, dapat dipastikan mereka menggelar selametan itu. Termasuk juga selametan atas anugerah kehamilan mulai empat bulan, mitoni, hingga puputan,selapanan, lalu medon lemah.

Bahkan, ada lagi budaya selametan yang masih bersifat polemis di sebagian umat Islam sendiri, yakni selametan untuk orang-orang yang meninggal (3, 7, 40, 100, dan 1000 hari) yang kerap disebut tahlilan. Namun, kini sepertinya tahlilan telah menjadi milik Indonesia, bukan hanya warga Nahdliyin. Muhammadiyah pun sudah nyaman dengan ritual ini. Ketuanya saja (Din Syamsudin) sudah tahlilan kok. 

Nah, keberhasilan mengembangkan budaya lokal bernuansa Islam tersebut tidak hanya bergantung kepada kadar keimanan dan konsistensi anggota masyarakat terhadap ajaran agama, baik individu maupun kelompok. Akan tetapi, faktor pendidikan amat berpengaruh dalam pembentukan tradisi dan budaya islami tersebut.

Berbicara soal pendidikan di kalangan warga Nahdliyin, apa yang menjadi keprihatinan Bapak?

Kita tahu bahwa Nahdliyin yang tergabung dalam wadah jam’iyah NU itu lahir dari pesantren. Sementara peranan lembaga pendidikan pesantren di negeri ini sangat besar dalam membina generasi muda. Sayangnya, perhatian kepada institusi ini belum memadai. Begitu juga pada level internasional, studi mengenai dunia pesantren bisa dihitung dengan jari. Sejauh pengamatan saya, sampai detik ini baru ada tiga disertasi berbahasa Inggris yang membahas topik dunia pesantren. Pertama, The Pesantren Tradition yang ditulis pada 1980 oleh Dr Zamakhsyari Dhofier (Departement of Anthropology and Sosiology Australian National University, Canberra). Kedua, disertasi yang muncul 17 tahun kemudian, tepatnya pada Maret 1997 berjudul The Pesantren Architects and Their Socio-Religious Teachings yang saya tulis untuk mengambil gelar doktor di UCLA. Ketiga, Peaceful Jihad, disertasi sarjana AS, Prof Roland Alan Lukens-Bull dari North Florida University AS.

Artinya apa itu, Prof?

Artinya bahwa doktor di NU itu masih minim. Apalagi dibandingkan Muhammadiyah.

Tawaran konkret seorang Abdurrahman Mas’ud PhD?

Satu hal yang sejak lama saya pikirkan bahkan pernah saya tulis: "Mendoktorkan NU sekaligus Mengkiaikan Muhammadiyah". Tulisan-tulisan saya dibukukan dengan judul “Menuju Paradigma Islam Humanis.” Selama ini kan ramai soal pandangan yang mengisyarakatkan bahwa NU lebih kaya dengan pesantren berikut kiai-kiai ampuhnya, MD (Muhammadiyah, red) bangga dengan stok doktornya dari dalam maupun luar negeri. MD lebih berkualitas dan rapi dalam kinerja organisasi dan kelembagaan, sementara NU lebih solid dalam kohesi dan solidaritas sosialnya. Soal kekuasaan, jika MD lebih berhasil menjabat negara, maka NU lebih erat menjabat tangan karena tradisi musafahah begitu tinggi. Jika NU leading dengan rekayasa kulturalnya, MD leading dengan lembaga pendidikannya.

Pada tahun 1990-an, saya punya pengalaman berharga tentang hubungan dengan tokoh MD. Ya, waktu itu, Din Syamsuddin yang menjabat Ketua Pemuda Muhammadiyah Pusat, adalah roommate (teman sekamar) saya saat kuliah di UCLA Amerika Serikat. Meski kami beda secara sosio-kultural dan organisasi, kami tidak pernah terlibat dalam diskusi emosional, apalagi sampai debat kusir. Dialog kami lakukan di mana saja, mulai di kamar hingga di kantin, dengan materi beragam. Kadang juga mencakup persoalan khilafiyah NU-MD. Diskusi sering dihiasi academic-joke, yang penekanannya lebih kepada upaya mencari solusi dari perbedaan paradigma keislaman. Salah satu kesimpulan yang masih penulis ingat adalah kami tidak pernah menyangsikan status Aswaja ala NU dan MD. Mengidentifikasi diri sebagai kaum Aswaja yang sekian tahuh kuliah di Barat, kadang kami mempertanyakan adalah pengaruh cross culture (lintas budaya) terhadap pola pandangan keagamaan kami. Sungguh kami merasa masih seperti yang dulu, hanya saja selain Aswaja kami juga punya identitas tambahan: Ahlul Jam’i wal Qasri (tukang jama’ qasar shalat) lantaran waktu shalat sering bentrok jam kuliah. Hahaha... (Prof Rahman tertawa terbahak-bahak).

Dalam hati sanubari Bapak, apa ada keinginan untuk menjadi pengurus Nahdlatul Ulama? 

Pada saatnya nanti, waktu yang akan menjawabnya. Meski saya waktu kuliah di Amerika aktif di ICMI, namun saya tetap menggunakan tradisi NU dalam aktivitas ibadah maupun sosial. Pada waktu itu memang belum ada PCINU seperti sekarang ini.

Generasi muda NU yang sekarang tentu ingin seperti Bapak hingga memperoleh gelar doktor. Saran dan nasehat Prof..

Terus belajar dan belajar. Jika ingin keluar negeri, tingkatnya kemampuan Bahasa Inggris, khususnya TOEFL-nya itu. Apalagi ditambah kemampuan bahasa asing lain akan semakin membantu.

Terima kasih Prof atas wawancara dan nasehatnya.

Sama-sama. Semoga sukses. (Red: Mahbib)

 

 

Foto: Prof H Abdurrahman Masud MA PhD mencium tangan KH MA Sahal Mahfudh usai dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Sejarah dan Kebudayaan Islam IAIN Walisongo (sumber: Suara Merdeka)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, AlaNu, Warta Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock