Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu

Mojokerto, Hari Santri 2019 - Menteri Agama RI H Lukman Hakim Saifuddin atas nama pemerintah memberikan apresiasi kepada Pergunu yang telah membantu mendidik masyarakat Indonesia. Lukman berharap kerja keras para guru NU membuahkan hasil maksimal untuk melahirkan murid-murid berprestasi dan berakhlak.

“Kualitas pendidikan menjadi tujuan utama pemerintah, kami harap Pergunu bisa turut serta untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,” kata Lukman mengawali sambutannya dalam kongres yang kedua di Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Rabu (26/10).

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu

Menurut Lukman, kualitas pendidikan dari masa ke masa semakin maju. Kualitas pendidikan agama di Indonesia semakin membaik. Mulai dari kualitas kerukunan agama, kualitas lulusan madrasah atau pesantren.

“Guru menduduki tempat strategis untuk turut andil dalam membangun negeri,” terangnya.

Hari Santri 2019

Saat ini pemerintah tengah memperbaiki lagi kualitas pendidikan dengan menetapkan standard indikator, isi, proses, dan lulusan. “Pergunu itu sudah satu misi dengan Kemenag,” katanya.

Hari Santri 2019

Pendidik pesantren atau madrasah saat ini sudah diakui oleh negara dan disetarakan dengan pendidikan negeri. “Kita terus berupaya ada program-program guru. Tunjangan guru akan diupayakan di tahun 2017, telah memiliki sertifikasi sesuai ketentuan regulasi yang ada,” jelas Lukman memberikan angin segar kepada para guru madrasah.

Dengan ucapan basmalah Kongres Kedua Pergunu resmi dibuka oleh Menteri Agama RI. Hadir dalam pembukaan Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa, Pembina Pergunu H As’ad Said Ali, Ketua MUI Jawa Timur, pendiri dan pejuang Pergunu serta para pengurus Pergunu di berbagai wilayah dan cabang se-Indonesia. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, AlaSantri, Sunnah Hari Santri 2019

Senin, 12 Februari 2018

Haji Berulang Kali Menurut Kiai Ali M Yakub dan Imam Al-Ghazali

Kalau diperhatikan dari tahun ke tahun, persentase jemaah haji terus mengalami peningkatan. Dibandingkan puluhan tahun lalu, jemaah haji di masa sekarang lebih banyak. Banyaknya orang berhaji di masa sekarang tentu tidak terlepas dari mudahnya mendapatkan fasilitas haji.

Sekarang sudah banyak travel haji dan transportasi yang siap melayani keberangkatan haji. Apalagi sebagian travel menawarkan ongkos yang menggiurkan dan tidak terlalu mahal, bisa diangsur.

Haji Berulang Kali Menurut Kiai Ali M Yakub dan Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Haji Berulang Kali Menurut Kiai Ali M Yakub dan Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Haji Berulang Kali Menurut Kiai Ali M Yakub dan Imam Al-Ghazali

Mudahnya naik haji di masa sekarang ini patut kita syukuri. Kita tidak perlu lagi melakukan perjalanan berbulan-bulan untuk sampai di baitullah. Cukup duduk santai di pesawat, tunggu sekitar belasan jam, kita sudah sampai di Arab Saudi.

Hari Santri 2019

Namun, di balik kemudahan fasilitas itu ada sesuatu yang justru mengkhawatirkan menurut sebagian ulama, yaitu fenomena haji berulang kali.

Hari Santri 2019

Almarhum KH Ali Mustafa Yaqub termasuk orang yang berada di garda depan mengkritik fenomena haji berkali-kali ini. Menurutnya, lebih baik mendermakan ongkos haji itu untuk menyejahterakan kaum dhu’afa. “Af’alul muta’addi afdhalu minal qashir (ibadah sosial lebih baik daripada ibadah individual)” Itulah kalimat yang sering beliau sampaikan.

Kemunculan pendapat ini berkelindan dengan masih banyaknya problem kemiskinan dan kefakiran yang belum tuntas di negeri ini. Sehingga alangkah baiknya harta yang banyak itu digunakan untuk menyelesaikan problem ini, ketimbang beribadah haji berkali-kali. Terlebih lagi, haji kedua dan seterusnya hukumnya sunah, tidak wajib.

Kritik yang dilontarkan almarhum Kiai Ali ini sebenarnya sudah ditegaskan Imam Al-Ghazali sedari dulu. Dalam kitab Ihya Ulumuddin jilid tiga, ia menjelaskan panjang lebar terkait tipu daya. Siapa saja bisa terpedaya baik orang berilmu, sufi, maupun pemilik harta. Khusus bagi orang berharta (arbabul mal), di antara bentuk tipu dayanya adalah sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Mereka bersikeras mengeluarkan harta untuk pergi haji berulang kali dan membiarkan tetangganya kelaparan. Ibnu Mas’ud berkata, ‘Pada akhir zaman, banyak orang naik haji tanpa sebab. Mudah bagi mereka melakukan perjalanan, rezeki mereka dilancarkan, tapi mereka pulang tidak membawa pahala dan ganjaran. Salah seorang mereka melanglang dengan kendaraannya melintasi sahara, sementara tetangganya tertawan di hadapannya tidak dihiraukannya.”

Mereka menyangka dengan menghabiskan harta untuk naik haji berulang kali itu dianggap lebih mulia di sisi Allah, ketimbang mendermakan harta untuk fakir miskin. Inilah salah satu bentuk tipu daya bagi orang berharta menurut Al-Ghazali. Lebih baik kelebihan harta yang dimiliki diprioritaskan untuk membantu fakir miskin, pesantren yang terbengkalai, anak sekolah yang serba kekurangan, dan amal sosial lainnya.

Karenanya, kita perlu membuat skala prioritas dalam beribadah. Ketika di hadapkan dengan banyak peluang beribadah, pilihlah ibadah yang lebih banyak maslahatnya, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Sebagaimana dikatakan ‘Izzuddin bin ‘Abdul Salam dalam Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam, “Apabila dihadapkan dua kemaslahatan dalam satu waktu, usahakan melakukan keduanya. Bila tidak mungkin, dahulukanlah mana yang paling maslahat dan utama,” Wallahu ‘alam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Doa, Sunnah Hari Santri 2019

Jumat, 09 Februari 2018

Pengurus NU Harus Paham dan Tanggap akan Kondisi Umat

Demak, Hari Santri 2019 - Sebagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan dalam melayani mayarakat, Nahdlatul Ulama (NU) dirasa masih jauh dari harapan. Dalam menjalankan fungsinya NU harus memahami kondisi masyarakat karena demikian itu merupakan salah satu cara untuk bisa mengambil langkah-langkah positif yang dibutuhkan masyarakat.

“Kita harus tanggap dengan keadaan di sekitar kita. Kalau kita paham, kita tahu apa yang jadi kebutuhan umat,” kata Rais Syuriyah NU Demak KH Alawy Masudi saat memberikan pengarahan pada peserta Musyawarah Kerja Cabang NU Demak di Kantor NU setempat Jalan Sultan Fattah Nomor 611 Bintoro, Ahad, (22/5).

Pengurus NU Harus Paham dan Tanggap akan Kondisi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU Harus Paham dan Tanggap akan Kondisi Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus NU Harus Paham dan Tanggap akan Kondisi Umat

Kiai Alawy menambahkan, sesuai perkembangan zaman persoalan yang dihadapi NU semakin banyak dan kompleks. Maka dari itu ia meminta baik pengurus maupun kader NU harus saling melengkapi kekurangan yang dimiliki NU dikarenakan terlalu banyaknya persoalan sehingga pelayanan masyarakat tidak maksimal.

“Kami mengakui kalau NU sebagai khodimul (pelayan) umat masih jauh dari kekurangan, makanya butuh kerja sama semua pihak,” tambahnya.

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019

Di saat yang sama Ketua NU Demak mengajak peserta muskercab untuk bisa mengevaluasi kinerja yang belum maksimal, yang selanjutnya dibahas pada forum guna mencari solusi dari persoalan yang muncul di tengah tengah masyarakat.

“Melihat persoalan itu semua mari kita evaluasi, kita benahi dan kita selesaikan, yang berkaitan dengan pemerintah nanti programnya kita singkronkan.”

Sesuai pantauan Hari Santri 2019 sidang-sidang komisi banyak menyoroti dunia pendidikan dan penyakit masyarakat yang merupakan sangat dibutuhkan dan problem masyarakat.

“Yang sangat mendesak dan diharap umat adalah memberantas miras, karaoke liar, prostitusi maupun pekat lain, ini sangat merusak tatanan masyarakat,” tegas Komandan Satkorcab BAnser Demak Mustain.

Selain pengurus cabang musyawarah ini dihadiri oleh Wakil Bupati Demak H Joko Sutanto, Mustasyar NU Demak KH Nurhamid Wijaya, dan pengurus wakil cabang se-Kabupaten Demak. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Kajian Sunnah, Sunnah Hari Santri 2019

Sabtu, 03 Februari 2018

Akar Radikalisme Bermula dari Pendidikan

Jakarta, Hari Santri 2019?

Awal Mei 2017 lalu, pemerintah mengumumkan pembubaran HTI sebagai organisasi yang bertentangan dengan ideologi negara Indonesia. Hal tersebut ? berkat peran signifikan NU dan mayoritas muslim di Indonesia yang mendorong kebijakan negara agar ormas yang menolak Pancasila harus segera dibubarkan.?

Demikian disampaikan Katib Syuriyah PBNU KH M. Mujib Qulyubi pada acara Halaqah Ramadlan Dewan Pakar Pimpinan Pusat Pergunu di lantai 5 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (5/6).

Akar Radikalisme Bermula dari Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Akar Radikalisme Bermula dari Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Akar Radikalisme Bermula dari Pendidikan

Dalam menyikapi gerakan-gerakan radikal yang bertentangan dengan Ahlussunnah wal Jamaah dan ideologi negara Indonesia, Kiai Mujib berharap agar semuanya, termasuk Pergunu ikut mendukung keputusan pemerintah.?

"Pergunu harus mulai teliti dan mulai jeli bahwa pergerakan-pergerakan yang merugikan Indonesia itu memang dimulai dari pendidikan kita," kata Kiai Mujib mengingatkan.?

Begitupun dalam hal agama, ia berharap agar para guru membersihkan dan meluruskan pemahaman tentang jihad, ideologi, dan akidah yang selama ini telah ? direduksi maknanya.?

Hari Santri 2019

Dalam mensterilkan pemahaman tersebut, ia meminta ada inisiatif dari Pergunu pusat untuk membuat materi ajar ? yang berbasis harmoni. Jadi, ayat-ayat seperti jihad yang dipakai dan dijadikan pijakan kelompok radikal itu harus diurai oleh Pergunu.?

"Itu ayat yang menurut kita, dipahami dengan amat sangat salah (oleh kelompok radikal)," ujarnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Sunnah, Doa Hari Santri 2019

Kamis, 25 Januari 2018

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran

Jember, Hari Santri 2019. Konflik berujung bentrokan berdarah di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Jember  yang mengakibatkan satu orang meninggal, mendapat perhatian dari Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH. Mutawakkil Alallah. 

Pengasuh Pesantren Genggong, Kraksaan, Probolingo ini langsung mengunjungi rumah duka di Puger Kulon, Kamis dini hari (12/9). Diantar Sekretaris PCNU Jember, KH. Misbahussalam, Kiai  Mutawakkil, menyatakan ikut berbela sungkawa. Selain itu ia sempat menggelar tahlilan di rumah duka. 

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jatim: Tak Perlu Dendam, Tapi Ambil Pelajaran

Tidak banyak keterangan yang keluar dari lisan sang Kiai Mutawakkil, kecuali hanya himbauan agar semua pihak tenang dan tidak terpancing provokasi serta tidak boleh dendam. “Tidak perlu dendam. Tapi ini harus menjadi pelajaran bagi semua pihak, termasuk kepolisian,” tukasnya kepada sejumlah wartawan di Puger. 

Di tempat yang sama, KH. Misbahussalam  menyatakan bahwa PCNU Jember akan segera mengadakan rapat untuk mencari jalan keluar dari perseteruan yang telah berlangsung cukup lama itu. 

Hari Santri 2019

Menurutnya, bentrokan itu bisa dihindari jika masing-masing pihak bisa menahan diri dan tidak terprovokasi satu sama lain. “Kuncinya saling menghormati satu sama lain. Masak dengan sesama Islam tidak rukun. Wong dengan umat nonmuslim kita damai,” ujarnya. 

Kiai Misbah menambahkan, aroma bentrokan itu sebenarnya sudah tercium beberapa hari sebelum kejadian. Sebab, salah satu pihak, mengajukan izin kepada aparat untuk menggelar karnaval. Namun aparat tidak memberikan izin karena khawatir ditolak atau mendapat perlawanan dari kelompok yang kontra syi’ah. 

Hari Santri 2019

“Tapi nyatanya mereka ngotot karnaval, bahkan barikade polisi diterobos. Akhirnya terjadilah peristiwa itu,” tukasnya. 

Sementara itu, MUI Jember masih terus mengadakan pendalaman terhadap kasus itu. Menurut Wakil Ketua MUI Jember,  KH Abdullah Syamsul Arifin,  pihaknya masih mencari tahu secara detil penyebab timbulnya kerusuhan berdarah itu. “Apakah ini murni konflik internal (di Puger), ataukah memang jangan-jangan ada intervensi dan provokasi dari luar," katanya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 AlaNu, Sunnah, Kajian Hari Santri 2019

Minggu, 21 Januari 2018

Banyuwangi Kompak Larang Keras Kelompok Ekstrem Masuk

Jakarta, Hari Santri 2019. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas secara tegas melarang kelompok garis keras Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) masuk daerahnya. Ia mengatakan, pihak-pihak di Banyuwangi, baik aparat pemerintah daerah, kepolisian, TNI, organisasi keagamaan, maupun elemen masyarakat lainnya, akan kompak mencegah penyebaran ideologi radikal yang ingin masuk ke Banyuwangi.

"Posisi kami sebagai kepala daerah sangat jelas, yaitu melarang pendirian organisasi militan ISIS dan penyebaran ideologinya. Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi," ujar Anas yang juga mantan Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) tersebut dalam siaran pers, Rabu (6/8).

Banyuwangi Kompak Larang Keras Kelompok Ekstrem Masuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyuwangi Kompak Larang Keras Kelompok Ekstrem Masuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyuwangi Kompak Larang Keras Kelompok Ekstrem Masuk

Di Banyuwangi, sambung Anas, pihaknya getol menyosialisasikan nilai-nilai keagamaan yang ramah dan toleran. Radikalisme bisa meretakkan bangunan kebangsaan dan menimbulkan kerugian bagi bangsa. "Karena itu, kami rutin menggelar pertemuan yang diikuti para tokoh lintas agama. Berbagai program pembangunan juga melibatkan umat lintas agama," ujarnya.

Hari Santri 2019

Anas mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan sejumlah ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan aparat keamanan untuk mengidentifikasi adanya penyebaran radikalisme dan terorisme di Banyuwangi. Apalagi, posisi Banyuwangi cukup strategis sebagai pintu masuk maupun pintu keluar dari Bali yang selama ini kerap dijadikan lokasi sasaran aksi radikal.

Hari Santri 2019

"Alhamdulillah, sejauh ini situasi kondusif. Para tokoh agama selalu menyampaikan pesan yang sejuk dan menebarkan manfaat bagi semua umat. Kami akan merawat kebhinnekaan Indonesia dari Banyuwangi," katanya. (Mahbib Khoiron)

Foto: sebuah pertemuan lintas agama yang digelar rutin pemerintah Banyuwangi

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Nahdlatul, Sholawat, Sunnah Hari Santri 2019

Kamis, 11 Januari 2018

Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan

Oleh Achmad Sahri ?





Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan



Sebuah koran pada tanggal 7 Oktober 2016 memberitakan tujuh dari 25 santri Pondok Pesantren Langitan, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur hilang setelah perahu yang mereka tumpangi terbalik di Bengawan Solo. Sebelumnya, sejak Januari 2016, koran Tempo telah memuat dua berita tentang santri tenggelam, yaitu: Hanyut Setelah Cuci Jeroan Kurban, 3 Santri Ditemukan Tewas (14 September 2016) dan Lima Santri Tewas Tenggelam di Sungai Waduk Cangklik (20 Januari 2016).

Kabar tentang kurangnya jaminan keamanan santri saat mereka beraktivitas di lingkungan luar pondok pesantren seperti ini bisa menjadi pertimbangan yang memberatkan di tengah gencarnya gerakan “Ayo-Mondok” yang digalakkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan diamini oleh Kementerian Agama agar orang tua mau mengirimkan anaknya untuk belajar di pondok pesantren.

Hari Santri 2019

Kurikulum pondok pesantren saat ini sebenarnya sudah jauh lebih variatif daripada pesantren zaman dulu. Selain ilmu agama, santri kontemporer juga dibekali dengan ilmu dunia yang diharapkan dapat bermanfaat untuk masa depan mereka. Beberapa pesantren, sejak beberapa dekade terakhir juga membuka sekolah kejuruan atau memiliki kegiatan ekstra-kulikuler yang memungkinkan santri mereka belajar ilmu non-agama dan ketrampilan praktis lainnya seperti otomotif, tata boga, tata busana, bela diri dan sebagainya.?

Namun ketrampilan bertahan hidup di alam terbuka seperti renang dan search and rescue (SAR) di perairan (seperti bagaimana mencari dan menyelamatkan orang tenggelam) sangat minim diajarkan di pesantren, jika tidak boleh dikatakan tidak ada.

Hari Santri 2019

Anjuran tentang renang

Benarkah renang merupakan sunnah Nabi? Kalau kita telusuri, memang ada beberapa hadits Nabi SAW yang menyinggung perihal renang ini, salah satunya adalah hadits dari Jabir bin Abdillah r.a yang redaksionalnya kurang lebih: "Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah (mengingat Allah) merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang” (HR. An-Nasa’i).

Kalau kita perhatikan teks hadits tersebut, mengajarkan renang bukan termasuk perbuatan yang sia-sia. Hanya saja Rasulullah SAW tidak secara langsung memerintahkan, apalagi mencontohkan dalam bentuk perbuatan. Para ulama umumnya menyebut perintah belajar berenang merupakan perintah dari Umar bin Al-Khattab r.a yang berbunyi: “Ajari anak-anakmu berenang, memanah dan naik kuda", sehingga umumnya para ulama sampai kepada kesimpulan bahwa pada dasarnya hukum berenang adalah sesuatu yang mubah (dibolehkan).

Butuh praktik

Tidak seperti ilmu-ilmu agama yang umumnya dipelajari, dikaji dan didiskusikan dengan membedah kitab tertentu, renang apalagi search and rescue (SAR) di perairan, karena merupakan ketrampilan praktis, tidak hanya selesai pada tataran dipelajari atau dikaji di majelis atau ruang kelas. Renang dan SAR perairan memerlukan praktik dan latihan yang disiplin dan terjadwal untuk dapat dikuasai.?

Sebagai bagian dari kurikulum, jika ke depan akhirnya perlu diajarkan di pesantren, materi ajar seperti buku atau referensi juga perlu diformulasikan. Tentunya yang sejalan dengan lingkup lingkungan pesantren. Tak ketinggalan, guru ‘ngaji’ tentang renang dan SAR perairan ini juga perlu disiapkan. Guru ngaji ini selain harus memahami teknik praktis tentang renang dan SAR perairan, mereka juga harus memahami ketentuan syar’i agar berenang tidak menyalahi ketentuan syariat, seperti misalnya bagaimana menyikapi aurat.

Sulitnya realisasi praktik renang islami

Memang agak sulit untuk menerapkan praktek renang islami, dimana laki-laki dan perempuan tidak boleh bercampur dalam satu tempat, apalagi jika proses pembelajaran renang dilakukan di kolam renang umum yang tidak membedakan pengunjung berdasarkan jenis kelamin, sebab konsepnya memang dibuat untuk umum, dimana laki-laki dan perempuan dibiarkan berenang dalam satu kolam renang. Kalaupun harus dipisah, pengadaan infrasutruktur kolam renang menjadi berlipat biayanya.

Saat ini, sebagian kalangan sudah mulai sepakat paling tidak sampai ke level memisahkan tempat antara laki-laki dan perempuan sebagai syarat kebolehan. Pengaturan waktu berenang antara laki-laki dan perempuan juga sempat menjadi usulan. Tujuannya bukan sekadar terjaganya aurat, tetapi juga agar tidak terjadi campur baur antara laki-laki dan perempuan.

Satu hal lain yang juga penting adalah belajar berenang diutamakan dilakukan sejak usia dini. Setidaknya ada dua alasan yang melatarbelakanginya. Pertama, karena belajar menguasai sesuatu akan menjadi lebih mudah bila dikerjakan saat usia kanak-kanak, sehingga nasehat Umar bin Al-Khattab r.a untuk mengajarkan anak-anak kita berenang sejak kecil menjadi sangat tepat. Kedua, anak yang masih kecil belum terikat dengan aturan membuka aurat dan keharusan menjaga pandangan.

Jadi, apakah sudah saatnya santri juga perlu ‘ngaji’ renang dan search and rescue perairan? Hanya waktu yang akan menjawabnya.





Penulis adalah calon PhD Student di Marine Animal Ecology Wageningen University & Research Belanda, Alumnus Ponpes Kyai Galang Sewu, Jurang Blimbing, Tembalang, Kota Semarang, Jamaah PCI-NU Belanda, tinggal di Wageningen-Belanda

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Olahraga, Sunnah, Tegal Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock