Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2018

Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri

Kudus, Hari Santri 2019. Para tokoh dari berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Kudus, mendukung penguatan Kabupaten Kudus sebagai Kota Santri. Dukungan itu mengemuka dalam diskusi publik yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kudus bekerja sama dengan STAIN Kudus dan PC. Fatayat NU Kudus.

Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Berbagai Elemen Dukung Penguatan Kudus Kota Santri

Diskusi itu dihadiri antara lain KH Hamdani (Ketua Majelis Ulama Indonesia/ MUI Kudus), H Abdul Hadi (Ketua PCNU Kudus), HA. Hilal Majdi (Ketua PD Muhammadiyah), Akhwan Sukandar (DPRD Jateng), Sri Hartini (DPRD Jateng), Ilwani (DPRD Kudus), Ulwan Hakim (DPRD Kudus), Umar Ali (pengusaha), dan Saekan Muchit (STAIN Kudus).

Penanggung jawab kegiatan, H Kisbiyanto, Kudus merupakan kabupaten dengan beragam julukan yang melekat. Mulai dari sebutan Kota Wali karena keberadaan dua makam anggota Walisongo, yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria, hingga Kota Jenang.

Kudus itu unik. Satu kabupaten yang menyandang banyak julukan. Selain dikenal sebagai Kota Wali dan Kota Jenang, juga dikenal dengan Kota Santri, Kudus Kretek, Kota Dagang, dan lainnya, katanya.

Hari Santri 2019

Akan tetapi dalam pertemuan dengan tokoh lintas sektoral itu, lebih menekankan Kudus sebagai Kota Santri. Menurut Kisbiyanto, Santri merujuk pada religiusitas dan berbasis pada nilai-nilai keagamaan.

Religiusitas dan nilai-nilai keagamaan ini, termasuk ciri menonjol hingga Kabupaten Kudus menyandang predikat Kota Santri. Kudus jadi jujugan para generasi muda untuk memperdalam agama, dengan banyaknya pesantren yang berdiri. Sehingga predikat Kudus Kota Santri menjadi penguat atas berbagai predikat lain yang melekat, paparnya. (Red: Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019

Hari Santri 2019 Makam, Budaya, Halaqoh Hari Santri 2019

Selasa, 27 Februari 2018

MWCNU Semin Pilih Kepengurusan periode 2012-2017

Gunungkidul, Hari Santri 2019. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Semin menggelar konferensi di Komplek Pondok Pesantren Al-Jauhar Sunan Pandanaran Dusun Tlepok Desa Semin Kecamatan Semin Kabupaten Gunungkidul, Ahad (22/4).?

Konferensi kali ini bertemakan “Menjalin Persaudaraan Untuk Membangun Kesadaran Bermasyarakat Berbangsa Dan Bernegara Yang Rohmatan Lil ‘ Alaminn.” Acara ini dibuka langsung oleh Camat semin.?

MWCNU Semin Pilih Kepengurusan periode 2012-2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Semin Pilih Kepengurusan periode 2012-2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Semin Pilih Kepengurusan periode 2012-2017

Selain itu Pengurus Muhammadiyah serta berbagai kalangan pemerintahan Kecamatan Semin baik sipil maupun militer Juga ikut serta dalam acara pembukaan konferensi tersebut. Konferensi MWCNU Semin Ke 10 ini diikuti 150 peserta dari PRNU se-Kecamatan Semin, Pengurus MWCNU Kecamatan Semin masa khidmat 2007-2012 dan dari PCNU Kabupaten Gunungkidul.

Hari Santri 2019

“Rencananya acara pelantikan pengurus terpilih ? MWCNU Kecamatan Semin masa khidmat 2012-2017 akan dilaksanakan Pengajian Akbar yang Insyaallah akan dihadiri oleh Al-Habib Syeikh Bin Abdul Qodir Assegaf pada bulan Juni 2012,” tutur Mulyadi selaku Ketua panitia.

Dalam pemilihan Rais Syuriyah dilakukan dengan musyawarah yang memilih KH Mustajib Muhyi. Pemilihan Ketua Tanfidziyah juga dilakukan dengan musyawarah dan berhasil memilih Mulyadi ? sebagai Ketua Tanfidziyah MWCNU Semin Periode 2012 – 2017.

Hari Santri 2019

Untuk penyempurnaan kepengurusan dibentuk Badan Formatur yang terdiri dari wakil Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama’ Kabupaten Gunungkidul, KH Mustajib Muhyi Sebagai Rois Syuriah terpilih, Mulyadi dan dibantu oleh 11 anggota yang terdiri dari wakilPengurus MWCNU demisioner dan ranting NU se-Kecamatan Semin.

Redaktur ? ? ? : Syaifullah Amin

Kontributor : ? Khairul Rasyid

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Olahraga, Budaya, Santri Hari Santri 2019

Sabtu, 10 Februari 2018

Warga NU Perlu Tingkatkan Budaya Tulis

Jakarta, Hari Santri 2019
Budaya tulis harus mulai dilakukan warga dan tokoh NU, bukan sekadar budaya lisan, karena tradisi tulis inilah yang merupakan bukti kongkrit peran kyai dalam mengembangkan umat dan masyarakat di sekitarnya.

Demikian diungkapkan, pekerja Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Supriyadi, dalam acara diskusi? pengelolaan manajemen kearsipan dilingkungan PBNU, yang diselenggarakan NU. Online, Jumat (19/8). Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua PBNU, Abdul Aziz Ahmad, segenap badan otonom NU dan pengurus kesekretariatan PBNU.

"Melalui tradisi tulisan maka semua pikiran, kebijakan, fatwa atau gerak langkah para kyai akan tercatat dan terekam dengan baik, sehingga informasi yang diperoleh lebih akurat dan kredibel," ungkapnya.

Perlunya kesadaran meningkatkan tradisi tulis para tokoh NU, lanjut alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) ini? karena Nahdlatul Ulama dan segenap tokoh-tokohnya yang amat beragam memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan republik ini, sehingga segala yang telah dilakukannya memiliki nilai sejarah yang tinggi dan ini harus diketahui oleh generasi yang akan datang."Karena ilmu pengetahuan sepenuhnya dapat ditelusuri dari sejarah, jadi kalau sampai NU tidak memiliki dokumentasi yang baik, dikhawatirkan literatur tentang NU akan sulit dilacak," tuturnya.

Dikatakan Supriyadi, selama ini, data-data kearsipan NU yang masuk masih sedikit, ketimbang yang dilakukan Muhammadiyah. NU, lanjutnya, hanya sekali menyerahkan arsip yakni ketika gedung PBNU pindah. "Meskipun data itu masih bisa terselamatkan, namun jumlahnya masih sangat sedikit dibanding kekayaan atmosfir intelektualitas NU yang sangat beragam," ujar lelaki kelahiran Surabaya ini.

Ketika ditanyakan mungkinkah NU memiliki kearsipan sendiri, dia mengatakan bisa saja itu dilakukan, tetapi membutuhkan dana yang besar, ketelitian dan investasi yang mahal. Namun, secara tekhnis bisa dilakukan, sepanjang bisa dikelola dengan baik dan mengerti bagaimana mengelolanya. "Bisa saja NU melakukan itu, karena ada juga beberapa lembaga swasta yang melakukan fungsi-fungsi kearsipan, seperti indoarsip dan lainnya," katanya.

Namun dia juga mengingatkan apabila tradisi tulisan sudah dimulai dikembangkan maka perlu dicarikan solusi untuk mengelolanya dengan baik dan benar sehingga secara tekhnis mudah ditemukan dan informasi yang penting dapat dilestarikan dengan baik.

Dalam diskusi kedua dari empat diskusi yang direncanakan oleh Hari Santri 2019, terungkap lebih dari 25 km data berupa kertas jika dijejer memanjang, 1 juta data photo, ribuan data dalam bentuk CD, mikro film, kaset dan jutaan data lain yang terkumpul sejak? tahun 1602-2005 yang dimiliki Arsip Nasional Republik Indonesia. (cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Budaya, Kiai Hari Santri 2019

Warga NU Perlu Tingkatkan Budaya Tulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Perlu Tingkatkan Budaya Tulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Perlu Tingkatkan Budaya Tulis

Rabu, 07 Februari 2018

"Kiai Kampung" Korea Bahas Pendirian PCI NU Korsel

Seoul, Hari Santri 2019. Bertempat di Mushola An Noor Daejon, 300 km selatan Seoul, pada tanggal 23 Desember 2012 lalu telah dilaksanakan silaturahim dan muktamar Ikatan Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (IKBNU). 

Kiai Kampung Korea Bahas Pendirian PCI NU Korsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Kampung Korea Bahas Pendirian PCI NU Korsel (Sumber Gambar : Nu Online)

"Kiai Kampung" Korea Bahas Pendirian PCI NU Korsel

Acara ini dihadiri sekitar 40 orang yang terdiri dari pengurus IKBNU dan para kiai perwakilan mushola di seluruh semenanjung Korea. Pemilihan tempat di Daejon adalah disamping banyak Nahdliyin yang mukim di kota ini, juga secara geografis terletak di tengah Negara Korea sehingga memudahkan peserta muktamar dari daerah lain. 

Agenda muktamar selain silaturahim juga pemantapan organisasi IKBNU. Secara ringkas jalannya muktamar ini didahului dengan lailatul ijtima’ di malam sebelumnya, kemudian pagi harinya acara inti muktamar. 

Hari Santri 2019

Acara inti meliputi pembukaan, Tilawatil Quran dan shalawat oleh Ustadz Hisak Nissa. Sambutan ketua takmir Mushola An Noor Daejon oleh Abdullah Syukri, sambutan dari Komunitas Muslim Indonesia (KMI) oleh Ustadz Syamsul Arifin, sambutan dan pemantapan organisasi oleh Ketua IKBNU Fahmi Arif Tsani, dan diakhiri dengan mau’idhah keaswajaan oleh Kiai Iskandar Dzulkarnain yg juga wakil ketua IKBNU. 

Hari Santri 2019

Informasi berhaji dari Korea juga disampaikan oleh Haji Sholih, salah seorang Nahdliyin yg berhaji tahun ini. Dalam muktamar ini seluruh peserta secara aklamasi menyatakan dukungannya bahwa IKBNU adalah wasilah organisasi untuk diajukan menjadi Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Korea.

Ikhtiar yang dilakukan adalah akan segera dilakukan pengusulan ke PBNU. Berdasar AD/ART Nahdlatul Ulama hasil Muktamar Makassar, untuk mendirikan sebuah PCI diusulkan minimal oleh 40 warga Nahdliyin setempat. Syarat tersebut tidak terlalu sulit bagi IKBNU Korea, mengingat WNI yang bermukim sebagai diplomat, pekerja, dan pelajar sudah mencapai lebih dari 35,000 dan mayoritas adalah Nahdliyin. 

Di samping itu, disepakati bahwa istilah-istilah keorganisasian dalam kepengurusan IKBNU disesuaikan seperti yang ada di PCI NU sehingga ketika nantinya PCI terbentuk, tidak perlu lagi perombakan struktural yang besar. Silaturahim kiai kampung dan muktamar IKBNU ini secara kesuluruhan berlangsung sukses. Suhu dingin di bawah 0 derajat di musim dingin tidak mengurangi semangat dan kehangatan penuh kekeluargaan sesama Nahdliyin yg hadir. 

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Fahmi Arif Tsani

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Pendidikan, Budaya Hari Santri 2019

Minggu, 28 Januari 2018

Tiga Jenis Jenggot

Pada sebuah forum, Kiai Masdar berkali-kali menyebut jenggot dengan kesan negatif. Jenggot adalah aksesoris orang-orang kolot. Jenggot adalah tren pencitraan kaum salafi yang tidak keren.

Di sela kerumunan jamaah, samar-samar terlihat kiai NU berjenggot menatapnya serius. Khusyuk menyimak. Tapi sorot matanya ganjil.

Tiga Jenis Jenggot (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Jenis Jenggot (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Jenis Jenggot

Kiai Masdar akhirnya sadar, pernyataannya soal ”jenggot” masih butuh syarah. Segera ia menyusuli ceramahnya, ”Jenggot itu tsalatsatu anwa’in (jenggot terdiri dari tiga jenis).”

Hari Santri 2019

”Pertama, jenggot biologis. Jenggotnya orang-orang yang memang dari sono-nya ditakdirkan berjenggot,” katanya.

”Kedua, jenggot ideologis. Itu jenggot paksaan. Karena keyakinan, meski cuma tiga helai juga dipaksa tumbuh. Terus terakhir, jenggot gabungan idiologis-biologis,” tambah Kiai Masdar.

”Nah, jenggot yang saya maksud tadi itu jenggot kedua dan ketiga ini. Kalau jenggotnya NU itu sih biologis. Jadi nggak termasuk!” ujar Kiai Masdar yang tidak berjenggot ini sembari tersenyum. (Mahbib Khoiron)

Hari Santri 2019

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Humor Islam, Budaya, Amalan Hari Santri 2019

Minggu, 21 Januari 2018

Hamzah Haz Jadi Penjamin Sayyid Agil

Jakarta, Hari Santri 2019
Mantan Wakil Presiden Hamzah Haz turut menjadi penjamin bagi penangguhan penahanan Sayid Aqil al Munawwar. Menurut M. Assegaf, pengacara Sayid, surat kesediaan Hamzah sebagai penjamin ditandatangani Sabtu (2/7).

Selain Hamzah, Forum Silaturrahmi Alim Ulama Lampung sejumlah 46 orang, dari ponpes Al Muasabah Banten, dan dari Pondok Pesantren Jepara juga memberikan jaminan serupa. "Kami cari yang berpengaruh," kata Assegaf kepada pers, Senin (4/7). Karena itu, lanjutnya, ia akan menagih kesediaan bekas Ketua Pemuda Pancasila Yapto Suryosumarno.

Dalam kesempatan itu, Assegaf juga menyatakan bahwa korupsi dana abadi umat (DAU) Rp 700 milar yang dituduhkan kepada Aqil tidak masuk akal. Sebab, DAU yang terkumpul sejak Sayyid Agil menjabat Menteri Agama adalah sebesar Rp 465 miliar ditambah Rp 11 milyar hasil dari efisiensi. "Tidak berkurang, saya ada datanya dan bisa diperiksa," kata dia.

Dari dana itu, yang dipergunakan untuk membantu umat hanyalah bunganya, sebesar Rp 3 miliar per bulan. Pemakaiannya lanjut Assegaf, sudah diaporkan secara rinci kepada BPK, termasuk prosentase pos-pos yang menjadi pengeluaran.

Ditanya soal Keputusan Menteri Agama terkait pengeluaran Dana Abadi Umat, Assegaf menerangkan, telah diterbitkan secara tidak profesional. Namun, kata dia, kliennya menandatanganinya setelah paraf-paraf sudah lengkap. Menurut dia, seorang Menteri tidak dapat dituntut untuk meneliti hal-hal teknis seperti memeriksa paraf-paraf surat keputusan sudah lengkap atau belum.

Proses pembuatan keputusan semacam itu, lanjut Assegaf, sebagaimana dilembaga-lembaga yang lain dilakukan secara bottom-up. "Masak menteri meneliti kembali dari bawah? Apa gunanya ada jabatan-jabatan dibawahnya," tukasnya. (ti/cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Budaya Hari Santri 2019

Hamzah Haz Jadi Penjamin Sayyid Agil (Sumber Gambar : Nu Online)
Hamzah Haz Jadi Penjamin Sayyid Agil (Sumber Gambar : Nu Online)

Hamzah Haz Jadi Penjamin Sayyid Agil

Kamis, 04 Januari 2018

Bagaimana Seorang Menteri Diperkenalkan dan Memperkenalkan NU?

Banyak cara orang mengenal atau diperkenalkan kepada NU. Menteri Tenaga Kerja H Hanif Dhakiri mengenal NU secara langsung dari rumah, sejak ia lahir. Di rumahnya, di Salatiga, Jawa Tengah, terdapat logo dan foto tokoh-tokoh NU.

Pengalaman tersebut, ia tuturkan secara selintas kepada Abdullah Alawi dari Hari Santri 2019 selepas menjadi narasumber pada diskusi NU di “Tengah Gelombang Populisme” yang digelar Lakpesdam PBNU di Cianjur, (27/1). Berikut petikannya:

Bagaimana Seorang Menteri Diperkenalkan dan Memperkenalkan NU? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Seorang Menteri Diperkenalkan dan Memperkenalkan NU? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Seorang Menteri Diperkenalkan dan Memperkenalkan NU?

Apa pendapat Anda tentang peran NU yang kini telah berusia 91 tahun?

.

Hari Santri 2019

Di usia yang ke-91 tahun ini, NU harus tetap menjadi suluh bagi bangsa ini secara keseluruhan. Saya merasa NU sudah berada dalam track (jalan) yang benar. Bahkan dalam situasi sekarang ini. NU sudah berada pada track yang benar! NU harus tetap menjadi kelompok yang menggelorakan Islam rahmatan lil alamin yang moderat, toleran, bisa merangkul semua anak bangsa menjadi bagian yang bisa berkontribusi kepada Indonesia secara keseluruhan,” pungkasnya.



Bagaimana Anda mengingat masa kecil terkait dengan N dan U?

Hari Santri 2019

Sejak kecil kan di rumah saya? ada logo NU, dalam figura selalu ada, dalam kalendar selalu ada. Kemudian gambar-gambar tokoh NU, seperti Hadrotussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Sansoeri, dan lain-lain.

Bagaimana dengan orang tua Anda memperkenalkan NU? ?

. Orang tua menceritakan langsung soal pengalaman orang tua dulu, kakek-kakek saya dulu misalnya. Mereka mengenalkan pertama secara simbol. Ada di rumah. Komplit. Yang kedua, orang tua banyak bercerita? mengenai soal NU. Terus kemudian mereka mengajak saya ke kegiatan-kegiatan ke-NU-an.

Ada pesan orang tua untuk Anda bahwa suatu saat harus aktif di NU?

. Ya pastilah, pasti! Intinya harus mengabdi kepada NU-lah. Jadi, terjemahan orang kampung kayak abah dan ibu saya itu, mengabdi kepada bangsa dan kepada negara itu, ya mengabdi kepada NU karena di daerah basisnya di situ.

Sebagai orang tua, bagaimana Anda memperkenalkan NU kepada anak-anak?

. Saya melakukan hal yang sama dengan orang tua saya.

Bagaimana reaksi anak-anak?

. Kalau masih anak kecil kan lebih banyak bertanya apa kan? Lalu kita jelaskan. Jadi, apa yang dilakukan orang tua kepada saya, saya lakukan kepada anak saya. Satu, simbol. Kalau Anda ke rumah saya, ada logo NU, foto-foto tokoh NU, Mbah Hasyim, Gus Dur, Mbah Wahab, Mbah Bisri, ada semua di rumah saya. Kemudian buku-buku, karena saya suka buku, di rumah saya, hampir semua bacaan tentang NU semua ada. Saya kan punya banyak koleksi buku. Saya selalu ada perpustakaan, di rumah dinas, ada perpustakaan. Di rumah saya sendiri, ada perpustakaan. Di rumah orang tua saya di Salatiga, isinya banyak tentang NU, tokoh NU, dan ajaran NU, dan segala macam.

Saran untuk orang tua untuk memperkenalkan NU kepada anak-anaknya?

. Dari pengalaman pribadi, baik saya diasuh oleh orang tua, maupun saya mengasuh anak saya saat ini, menurut saya, itu tadi, di rumah anak harus diperkenalkan dengan simbol-simbol NU, dengan tokoh-tokoh NU, dengan pikiran-pikiran NU, lalu diajak terlibat di dalam kegiatan-kegiatan NU. Maka, salah satu yang suka adalah membawa anak ke kegiatan NU. Dia melihat orang dan dia akan bertanya. Jika saya mengajarkan tentang nasionalisme saya ajak nonton bola. Bukan bolanya yang penting, tapi teriakan penonton “Indonesia”, “Indonesia”itu sesuatu yang akan mudah diingat bagi anak.

Dari Nu Online: nu.or.id

Hari Santri 2019 Sholawat, Budaya, Warta Hari Santri 2019

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Hari Santri 2019 - Hari Santri Nasional dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock